Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Seiring dengan bertambahnya kebutuhan manusia, banyak juga diciptakan

pemuas/ pemenuhan kebutuhan manusia. Untuk itu muncullah pabrik-pabrik


industri sebagai pengolah bahan mentah untuk kemudian diolah dengan
sedemikian rupa menjadi barang setengah jadi maupun barang siap pakai, untuk
selanjutnya akan dikonsumsi masyarakat. Dalam jumlah produksi yang sangat
besar tiap harinya akan menghasilkan sisa-sisa hasil dari proses pengolahan yang
tidak terpakai. Sisa-sisa inilah (limbah) bila terakumulasi dalam jangka waktu
yang lama dapat mencemari lingkungan.
Limbah B3 industry akan mencemari lingkungan apabila tidak ada
penanganan khusus. Salah satu limbah yang sangat mengancam kelestarian
lingkungan adalah limbah bahan berbahaya dan beracun. Limbah bahan
berbahaya dan beracun. Bahkan, dari dulu hingga sekarang masih banyak kasuskasus baik dalam maupun luar negeri yang dari pabrik-pabriknya menghasilkan
limbah B3 yang mencemarkan lingkungan hingga menimbulkan penyakit.
Berdasarkan hal tersebut, dalam makalah ini akan dibahas tentang kasus-kasus
pencemaran B3 yang pernah terjadi di Indonesia dan penanganannya.
1.2

Tujuan
Adapun tujuan pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan kasus-kasus pencemaran limbah bahan berbahaya dan
beracun (B3) di Indonesia.
2. Mengetahui teknik pengolahan limbah berbahaya dan beracun (B3).

1.3

Manfaat
Adapun manfaat penulisan makalah Kasus Pencemaran limbah bahan

berbahaya dan beracun (B3) adalah:


1. Dapat mengetahui kasus-kasus limbah B3 yang di wilayah Indonesia.
2. Dapat mengetahui cara pengelolaan limbah B3 yang benar..
3. Dapat meningkatkan kepedulian segala pihak terhadap lingkumgan

BAB II
ISI
2.1

Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), adalah sisa suatu usaha dan/atau
kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat
dan/atau Konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau dapat
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta
makhluk hidup lainnya.
Secara umum yang disebut limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan dari
suatu kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga, industri,
pertambangan, dan sebagainya. Bentuk limbah tersebut dapat berupa gas dan
debu, cair atau padat. Di antara berbagai jenis limbah ini ada yang bersifat
beracun atau berbahaya dan dikenal sebagai limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun (Limbah B3).
Suatu limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung bahan
berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun
tidak langsung, dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup atau
membahayakan kesehatan manusia.Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah
bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena rusak,
misalnya sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal yang
memerlukan penanganan dan pengolahan khusus. Suatu bahan yang termasuk
limbah B3 dapat diketahui secara pasti melalui uji dengan toksilogi. uji
toksikologi limbah dilakukan melalui 2 tahap, yaitu LD50 untuk menentukan sifat
akut limbah dan penentuan sifat kronis. Selain itu, bahan juga dapat dikategorikan
limbah B3 bila memiliki salah satu atau lebih karakteristik limbah B3.
2.2

Identifikasi Limbah B3
Pengidentifikasian limbah B3 digolongkan kedalam 3 kategori, yaitu:

2.2.1

Berdasarkan Sumber

1. Limbah B3 dari sumber spesifik


Limbah B3 dari sumber spesifik merupakan limbah B3 sisa proses suatu
industri atau kegiatan yang secara spesifik dapat ditentukan berdasarkan
kajian ilmiah.

2. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik


Limbah B3 dari sumber spesifik berasal bukan dari proses utamanya,
tetapi:

Kegiatan pemeliharaan alat

Pencucian

Pencegahan korosi (inhibitor korosi)

Pelarut kerak

Pengemasan
Contoh limbah B3 dari sumber tidak spesifik

3. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa, tumpahan, bekas kemasan dan


buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi

2.2.2

Berdasarkan karakteristiknya
Terdapat beberapa karakteristik limbah B3 antara lain:

mudah meledak

mudah terbakar

bersifat reaktif

beracun

menyebabkan infeksi

Karsinogenik, Mutagenik dan Teratogenik

bersifat korosif

Limbah lain yang secara uji toksikologi termasuk jenis limbah B-3.

Beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam identifikasi limbah B3


antara lain :
1. Mencocokkan jenis limbah dengan daftar jenis limbah B3 sebagaimana
ditetapkan pada lampiran 1 (Tabel 1,2, dan 3) PP 85/1999.
2. Apabila tidak termasuk dalam jenis limbah B3 seperti lampiran tersebut,
maka harus diperiksa apakah limbah tersebut memiliki karakteristik:
mudah meledak, mudah terbakar, beracun, bersifat reaktif, menyebabkan
infeksi dan atau bersifat infeksius.
3. apabila kedua tahap telah dijalankan dan tidak termasuk dalam limbah B3,
maka dilakukan uji toksikologi.

2.2.3

Berdasarkan Toksikologi
Uji toksikologi limbah B3 meliputi:
a. Sifat Akut : yaitu uji hayati untuk mengukur hubungan dosis respons
antara limbah dengan kematian hewan uji, untuk menetapkan nilai
LD50.

Penentuan sifat akut limbah dilakukan dengan uji hayati untuk


mengukur hubungan dosis-respons antara limbah dengan kematian
hewan uji didapatkan nilai LD50.

LD50 adalah dosis limbah yang menghasilkan 50% respons


kematian pada populasi hewan uji.

Bila Nilai LD50 (oral) 50 mg/kg berat badan = Limbah B3

Bila Nilai LD50 (oral) > 50 mg/kg berat badan lakukan Evaluasi
sifat Kronis

b. Sifat Kronik : yaitu uji toksik, mutagenik, karsinogenik, tera togenik


dan lain-lainnya, dengan cara mencocokan zat pence mar yang ada
dalam limbah dengan lampiran-III, berdasarkan pertimbangan faktorfaktor tertentu.
2.3 Kasus-Kasus Pencemaran Limbah B3 di Indonesia
Semakin banyak kebutuhan manusia akan konsumsi dan untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari serta memperoleh suatu barang baik barang setengah jadi
maupun barang jadi, maka semakin banyak pula didirikannya pabrik-pabrik di
berbagai daerah di dunia, misalnya saja di Indonesia.
2.3.1

Pencemaran Bahan Kimia Berbahaya dan Beracun Lepas Kendali di


Badan Sungai Citarum, Jawa Barat

Sungai Citarum di Jawa Barat, Indonesia adalah salah satu dari sungai yang paling
tercemar di negara ini. Sungai Citarum memiliki peran penting dalam
pembangunan ekonomi, tidak hanya bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya
tetapi juga bagi mereka yang tinggal ribuan km jauhnya disana. Citarum
merupakan sumber pasokan air minum bagi Provinsi padat penduduk Jawa Barat
dan Ibukota Jakarta. Daerah aliran sungai Citarum didominasi oleh sektor industri
manufaktur seperti tekstil, kimia, kertas, kulit, logam/elektroplating, farmasi,
produk makanan dan minuman, dan lainnya. Badan Pengelolaan Lingkungan
Hidup Daerah Jawa Barat (BPLHD Jabar) telah mengkonfirmasi bahwa limbah
industri jauh lebih intens dalam hal konsentrasi dan mengandung bahan-bahan
berbahaya. Sebanyak 48% industri yang diamati, rata-rata pembuangan limbahnya
10 kali melampaui baku mutu yang telah ditetapkan.

Kontaminasi bahan-bahan kimia berbahaya dan beracun industri


dibuktikan oleh sejumlah penelitian. Perhatian utama diberikan pada bahan kimia
beracun yang ditemukan di sungai, yaitu logam berat. Logam berat merupakan
elemen yang tidak dapat terurai (persisten) dan dapat terakumulasi melalui rantai
makanan (bioakumulasi), dengan efek jangka panjang yang merugikan pada
makhluk hidup.
Sebuah investigasi mengenai bioakumulasi mengungkapkan bahwa logam
berat seperti kadmium (Cd), tembaga (Cu), nikel (Ni), dan timbal (Pb) ditemukan
dalam kadar yang tinggi pada dua spesies ikan yang biasa dimakan, Oreochromis
nilotica dan Hampala macrolepidota.
Indonesia bukanlah negara satu-satunya yang sedang berjuang dengan
masalah ini. Perpindahan industri secara global dari global utara ke global
selatan membawa serta bahan-bahan kimia berbahaya dan beracun bersamanya.
Greenpeace mengungkap kaitan antara pabrik-pabrik yang menyebabkan
pencemaran air dengan bahan-bahan kimia berbahaya di sungai-sungai di Cina
(Yangtze River Delta, Pearl River Delta) dengan banyak merek pakaian ternama
di dunia. Thailand (Sungai Chaopraya) dan Filipina (Danau Laguna) juga
melaporkan kejadian serupa pada sumber air ikonik mereka. Greenpeace secara
global menyerukan kepada pemerintah dan industri untuk berkomitmen mencapai
Nol Pembuangan (bahan-bahan kimia berbahaya dan beracun) dalam satu
generasi.
a.

Sungai Citarum - Lokomotif Industri Manufaktur Indonesia


Hampir 65% industri manufaktur Indonesia terkonsentrasi di Jawa Barat,

provinsi dimana Sungai Citarum terbentang. Faktor-faktor yang menjadi


pendukung hal tersebut diantaranya adalah ketersediaan infrastruktur, tanah,
sumber daya air dan juga lokasinya yang dekat dengan Ibukota Jakarta. Beragam
industri hadir disana, diantaranya elektronik, farmasi, kulit, pengolahan makanan,
dan terutama tekstil dimana Jawa Barat juga menjadi pusat industri manufaktur
tekstil modern dan industri garmen. Daerah aliran sungai Citarum, yang
mendukung terciptanya 20% total produksi industri Indonesia22, merupakan
sumber dari 60% produksi tekstil nasional. Dimana sungai Citarum adalah sungai
yang mengalir melewati 11 (sebelas) Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Barat.

Tabel 2.1 Jenis dan jumlah industri di DAS CItarum Hulu

Sumber: BPLHD Provinsi Jawa Barat (2007)


Tabel 2.2 Distribusi Industri di DAS Citarum Terbaru

Sumber:

Direktori

Perusahaan,

PUSDATIN

Kementerian

Perindustrian (2012)

b.

Investigasi Pencemaran Limbah Industri di Sungai Citarum


1. Status sungai Citarum Saat ini
Penelitian mengenai kualitas air Sungai Citarum ini menemukan
beberapa fakta yang sangat mengkhawatirkan. Sifat-sifat air yang dianalisa
menunjukkan bahwa derajat pencemaran Sungai Citarum sudah sangat
memprihatinkan. Penelitian ini menemukan, selain bahan-bahan organik
yang biodegradable, berbagai kontaminan B3 dalam level yang sangat
memprihatinkan. Sebagian besar titik pengambilan sampel menunjukkan

bahwa berbagai limbah B3 terkandung dalam air sungai. Secara ringkas,


aktivitas industri sangat terkait dengan isu-isu sebagai berikut: (1)
keasaman, (2) kontaminan organik seperti ditunjukkan oleh nilai BOD,
COD, dan surfaktan, dan (3) logam berat.

Perubahan Keasaman Air (pH)


Seperti kasus-kasus di tempat lain, pencemaran industri yang
didominasi oleh industry tekstil menyebabkan gangguan terhadap
keasaman air, pH. Efluen limbah cair dari indutri tekstil biasanya
meningkatkan pH badan air penerima. Di sebagian besar sampling point di
Sungai Citarum, pH meningkat melebihi nilai yang ditentukan oleh baku
mutu dan kondisi ideal untuk kehidupan air. Keasaman ekstrim rendah
juga sangat mengancam kehidupan organisme hingga sangat mungkin
menghilangkan spesies-spesies sensitif perairan
Tabel 2.3 Keasaman air Sungai Citarum

Kontaminan Organik
Sangat penting dipahami bahwa aktivitas industri tekstil juga
merupakan penyumbang bahan organik yang sangat besar. Meskipun di
badan air bergabung dengan buangan dari kegiatan domestik, buangan
limbah cair industri tekstil yang mengandung bahan organic yang tinggi
turut memperburuk kualitas air sungai. Pada titik-titik sampling di sekitar
kawasan industri tekstil, nilai Biochemical oxygen demand (BOD) dan

chemical oxygen demand (COD) sangat tinggi melebihi baku mutu untuk
semua kelas air.
Dampak dari kontaminasi bahan organik sangat buruk, sebab
bahan-bahan organic mengkonsumi oksigen sampai pada level yang
mungkin membahayakan kehidupan organisme perairan. Organisme
konsumen seperti ikan-ikan, makroinvertebrata, dan zooplankton mungkin
tidak dapat bertahan pada kondisi oksigen terlarut yang rendah. Dengan
kata lain, kontaminasi bahan organik mengancam biodiversitas air.

Tabel 2.4 Status pencemaran organik Sungai Citarum

Pencemaran Logam Berat


Industri tekstil dan elektroplating pada umumnya menggunakan
elemen logam berat pada prosesnya. Tekstil adalah industri utama yang
ada di Sungai Citarum. Konsekuensinya, industri tekstil menyumbang
pencemaran logam berat paling besar. Penelitian terhadap kualitas air
Sungai Citarum menunjukkan bahwa konsentrasi beberapa logam berat

tingginya melebihi baku mutu maksimum yang dipersyaratkan baik untuk


kelas air maupun limbah cair. Di beberapa lokasi pengambilan sampel air,
krom heksavalen (Cr6+), tembaga (Cu), Zinc (Zn), timbal (Pb), merkuri
(Hg), mangan (Mn) dan besi (Fe) berada pada konsentrasi yang
membahayakan.
Konsumsi ikan yang terkontaminasi logam secara terus menerus
akan menyebabkan dampak yang sangat fatal bagi kesehatan manusia.
Logam berat merupakan kimia mematikan bagi manusia, khususnya pada
saat manusia terpapar dalam jangka waktu yang panjang. Beberapa studi
menunjukkan bahwa beberapa logam berat bersifat karsinogenik, sebagai
penyebab kanker jaringan.
Tabel 2.5 Kontaminasi logam berat pada Sungai Citarum Banyak kajian mengenai
toksisitas logam berat menunjukkan bahwa logam berat

Keterangan:
BM adalah Baku Mutu diitampilkan kriteria mutu air berdasarkan PP. No. 82 thn 2001;

Untuk baku mutu limbah


industri dapat merujuk ke Keputusan Gubernur Jawa barat No. 6 Tahun 1999.

2. Senyawa Organik Berbahaya dan Beracun


Dari 10 titik sampling, tujuh (7) sampel menjalani pengujian kandungan
bahan organic berbahaya dan beracun secara kualitatif. Kebanyakan dari sampel

tersebut berupa limbah terkonsentrasi yang berasal dari pipa/saluran pembuangan


limbah dengan tujuan untuk mendapatkan hasil deteksi yang lebih baik.
Tabel 2.6 Senyawa Organik Berbahaya

c.

Evaluasi Kebijakan Pengendalian Pencemaran Air


1. Kebijakan Reaktif
Pendekatan Kebijakan Atur dan Awasi
Secara umum, model kebijakan pengendalian pencemaran air
di Indonesia dan di daerah studi khususny Pa, masih mengandalkan
model pendekatan atur dan awasi (command and control) di mana
pemerintah menerapkan baku mutu dan persyaratan yang harus
dipatuhi oleh pelaku usaha serta melakukan pengawasan dan
penegakan hukum.

Penegakan Hukum (dalam konteks kebijakan Atur dan Awasi)


Penegakan hukum dalam kasus pencemaran air dapat dilakukan
melalui mekanisme penegakan hukum administrasi, penegakan hukum
perdata dan penegakan hukum pidana.
2. Pendekatan Preventif
Prinsip lain yang diyakini mampu mengantarkan kita pada masa
depan bebas toksik adalah Prinsip kehati-hatian (Precautionary Principle).
Perlu pergeseran paragdima dari hanya mengandalkan pengaturan pada
pembuangan akhir (end-of-pipe) menjadi pencegahan, eliminasi dan

subtitusi materi toksik di awal sumbernya dengan kata lain Produksi


Bersih.
2.3.2

Kasus Keracunan Di Lingkungan (PT Dong Woo Environmental


Indonesia - DWEI)
PT Dong Woo Environmental Indonesia (DWEI) yang berdiri pada tahun

2000 adalah suatu perusahaan dalam rangka Penanaman Modal Asing dari Korea
Selatan yang berdomisili di Kawasan Jababeka, Jl.Jababeka XIV Blok
J.Kav.WWTP Cikarang Barat Bekasi. Perusahan tersebut bergerak di bidang jasa
daur ulang limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (B3) menjadi produk dan selaku
pemengang ijin pengelolaan limbah B3 yang dikeluarkan oleh Kementrian
Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia.
PT Dong Woo sendiri kini telah ditutup dan dilarang beroperasi
dikarenakan pada 2006 banyak warga dari Kampung Kramat RT 003/03, Desa
Pasir Gombong, Kecamatan Cikarang Bekasi yang dilarikan ke RS Medika
Cikarang, RS Medirosa akibat menderita keracunan dan gangguan infeksi saluran
pernapasan atas, batuk-batuk, kepala pusing, serta muntah muntah akibat dari
pembuangan limbah B3 ( Bahan Berhaya Beracun ). Limbah B3 tersebut diduga
dari perusahaan pengolah limbah B3 PT Dong Woo Environmental Indonesia.
Sebelumnya, perusahaan ini diizinkan menjalankan usaha pengolahan limbah B3
bekerja sama dengan perusahaan Waste Management Indonesia (WMI). Dalam
operasinya perusahaan ini terbukti membuang sebagian besar limbah yang
seharusnya diolah pada lahan terbuka di Bekasi.
Sebenarnya usaha yang dilakukan oleh PT Dongwoo tersebut sangat
positif, untuk pengolahan sampah B3 dari logam berat, organik dan eletronik,
yang diperoleh dari berbagai industri Jabotabek dan dari luar Jabotabek. Namun
perlu ada upaya pengelolaan limbah yang tersisa secara baik dan tidak mencemari
lingkungan, yang saat ini belum dilakukan oleh PT Dongwoo sehingga
mengakibatkan pencemaran lingkungan. Peristiwa ini terjadi tahun 2006 yang
mengakibatkan pencemaran media lingkungan tanah seluas 1,5 ha dan berpotensi
bisa meluas.
Berdasarkan penyelidikan tersebut, maka pada tanggal 23 Juni 2007 polisi
telah menetapkan PT Dong Woo Environmental Indonesia sebagai tersangka

kasus pembuangan cairan limbah B3 yang dijerat dengan pelanggaran Undang


Undang Lingkungan Hidup. Kemudian pada tanggal 23 Maret 2008 kasus
pencemaran lingkungan oleh PT Dong Woo tersebut mulai disidangkan di
Pengadilan Negeri Bekasi. Proses persidangan kasus pencemaran lingkungan
tersebut telah berlangsung sebanyak 27 kali.
a. Bahan yang Menghasilkan Racun
Bahan yang dihasilkan dari PT Dong Woo Environmental Indonesia
DWEI, seperti Air raksa/merkuri (Hg), Kromium (Cr), Kadmium (Cd),
Timbal (Pb), Nikel (Ni), Pestisida, Arsen (As), NOx, dan lain-lain.
b. Dampak Dan Kerugian Yang Ditimbulkan
1. Dampak Lingkungan
Dampak lingkungan yang timbul adalah terdapat 9 (sembilan) titik
tempat pembuangan limbah B3 di atas lahan seluas 1,5 Hektar. Secara
visual ditemukan dengan jelas timbunan limbah B3 dan limbah cair
lainnya pada area tersebut. Selanjunta Limbah B3 tersebut menyebabkan
kualitas tanah berubah (tekstur tanah mengeras, menghitam, berbau) dan
air di lokasi tersebut berwarna hitam dan berbau. Secara fisik tercium bau
khas yang tajam menyengat dan mengganggu kesehatan masyarakat.
2. Dampak Kesehatan Dan Sosial
Dengan ditemukannya korban sebanyak 144 (seratus empat puluh
empat) warga yang dirawat inap dan rawat jalan di RS. Medika, RS.
Medirosa, dengan gejala sakit mual, pusing bahkan ada yang pingsan,
telah

mengakibatkan

masyarakat

resah

terhadap

kemungkinan

meningkatnya jumlah korban akibat timbunan limbah B3, serta aktifitas


sehari-hari masyarakat terganggu oleh adanya bau yang sangat menyengat.
3. Kerugian Materil
Akibat limbah B3 PT Dong Woo yang dibuang ke dalam
lingkungan masyarakat dan tidak dikelola secara sempurna, maka telah
menimbulkan kerugian atas kerusakan tanah milik warga yang tidak lagi
dapat digunakan oleh warga masyarakat, karena telah tercemar oleh
limbah B3. Selain itu telah menimbulkan kerugian bagi sebanyak 144

orang masyarakat berupa sejumlah biaya pengobatan rumah sakit yang


terpaksa harus ditanggung oleh warga masyarakat tersebut akibat
keracunan pencemaran limbah B3.
4. Kerugian Immateril
Mengakibatkan pencemaran udara di sekitar tempat tinggal warga
dan menyebabkan ratusan warga masyarakat mengalami gejala sakit mual,
pusing, sesak nafas dan pingsan dan menurut Hasil Visum Et Repertum
RS.Medika Cikarang dengan diagnosa nyeri ulu hati, gangguan pernafasan
atas dan gangguan pencernaan. Selain itu juga telah mengakibatkan warga
menjadi resah dan trauma atas periswa terjadinya keracunan akibat limbah
B3 yang mencemari lingkunganmasyarakat sekitar.

c. Rekomendasi Perbaikan
Beberapa rekomendasi perbaikan yang dapat disarankan kepada PT Dong
Woo Environmental Indonesia yang telah mencemari lingkungan masyarakat
adalah antara lain :
1. Tindakan Secara Administrastif
Penanggulangan secara administratif melalui pengimplemtasian
Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Nomor 32 Tahun 2009 yang
telah diberlakukan oleh Pemerintah yang harus dipatuhi oleh PT Dong
Woo Environmental. Selain itu PT Dong Woo juga harus menerapkan
standar baku mutu lingkungan sebelum limbah cair yang telah diolah
dibuang ke lingkungan, sehingga segala bahan buangan yang beracun
perlu pengolahan (treatment) terlebih dahulu sebelum dibuang ke media
lingkungan warga agar dampak terhadap lingkungan dapat dibatasi.
2. Tindakan dengan menggunakan teknologi
Penggunaan dengan cara penggunaan teknologi adalah dengan cara
membangun unit pengolahan limbah yang benar-benar berfungsi dengan
baik untuk mengolah limbah cair sebelum dibuang ke lingkungan.
3. Tindakan melalui Edukatif atau Pendidikan

Penanggulangan edukatif adalah dengan mengadakan penyuluhan


perusahaan perusahaan oleh pemerintah untuk meningkatkan kesadaran
terhadap pentingnya kesehatan lingkungan warga dan kelestarian alam.
2.3.3

10.000 Ton Limbah B3 PT Tenang Jaya Ditimbun Dekan Permukiman


Warga
Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi Jawa

Barat menemukan sebanyak 10.000 ton limbah bahan beracun berbahaya (B3)
milik PT Tenang Jaya. Limbah B3 ini ditimbun yang lokasi berdekatan dengan
kediaman warga di Kampung Cisalak, Desa Margakaya, Kecamatan, Telukjambe
Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Limbah B3 yang berasal dari batu bara ini, nantinya akan digunakan
sebagai bahan pembuatan batako. Limbah tersebut termasuk kategori fly ash dan
bottom ash. Bahaya yang ditimbulkan yaitu bisa mengganggu pernafasan hingga
menimbulkan kanker otak bila sering terhirup manusia. Maka dari itu, diarahkan
bahwa dalam waktu dekat ini, PT Tenang Jaya harus memindahkan limbah
tersebut karena membayakan kesehatan masyarakat sekitar.
Bila hujan, air limbah dapat mencemarkan sawah dan menimbulkan
pencemaran air tanah. Setelah dilakukan uji sampel air sumur milik warga,
diketahui tingkat keasaman sumur berkisar 6-7 Ph dengan kekeruhan air hingga
berwarna kuning. Masyarakat sekitar sudah lama tidak menggunakan air tanah.
Mereka membeli air minum seharga Rp 6.000 per galon.
Meski begitu, tim BPLHD Jabar belum bisa menyimpulkan penyebab
pencemaran air dilakukan oleh PT Tenang Jaya. Mengingat masih ada tiga
perusahaan lain, yang bergerak di bidang pengolahan limbah logam.
"Saat ini, sanksi yang diberikan terhadap PT Tenang Jaya adalah sanksi
administrasi, karena perusahaan menyimpan limbah B3 di tempat yang bukan
peruntukannya. Rencananya, setelah para karyawannya kembali bekerja, limbah
B3 tersebut akan diangkut ke pabrik pengolahan batako di Ciampel, Kabupaten
Karawang.

tambahkan ruuuu
2.4 Cara Pengelolaan Limbah B3 Secara Umum

Adapun cara pengolahan limbah B3 yang baik dapat dilakukan dengan


proses sebagai berikut:
1.

Proses secara fisika, meliputi: pembersihan gas, pemisahan cairan


dan penyisihan komponen-komponen spesifik dengan metode kristalisasi,
dialisa, osmosis balik, dan lain-lain

2.

Proses secara kimia, meliputi: menambahkan bahan peningkat atau


senyawa pereaksi tertentu untuk memperkecil atau membatasi pelarutan,
pergerakan, atau penyebaran daya racun limbah, sebelum dibuang.

3.

Proses secara biologi, meliputi; bioremediasi dan viktoremediasi.


Metode insinerasi (pembakaran) juga dapat diterapkan untuk memperkecil

volume B3 namun saat melakukan pembakaran perlu dilakukan pengontrolan


ketat agar gas beracun hasil pembakaran tidak mencemari udara.
BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun harus sesuai dengan

standar yang telah ditetapkan agar pencemaran lingkungan akibat limbah B3 dapat
di tanggulangi. Jika tidak, maka akan timbul dampak buruk seperti yang terdapat
pada kasus Pencemaran Bahan Kimia Berbahaya dan Beracun Lepas Kendali di
Badan Sungai Citarum, Jawa Barat, Kasus Keracunan Di Lingkungan (PT Dong
Woo Environmental Indonesia - DWEI) , 10.000 Ton Limbah B3 PT Tenang Jaya
Ditimbun Dekan Permukiman Warga,
3.2

Saran
Agar lingkungan hidup tetap terjaga kelestariannya dan untuk mencegah

atau menanggulangi pencemaran lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah


B3 perlu diperhatikan cara pengolahannya

DAFTAR PUSTAKA

Achmad,Rukaesih. 2004.Kimia Lingkungan. Jakarta: ANDI


Ashov, Ahmad B., dan Meutia H. 2012. Bahan Beracun Lepas Kendali. Jawa
Barat: Greenpeace Asia Tenggara
Herni.

2013.
Pencemaran
Limbah
B3.
https://hernichemistry.wordpress.com/2013/05/16/pencemaran-limbah-b3/.
Diakses tanggal 22 Oktober 2015.

Redaksi. 2014. Limbah B3. http://sp.beritasatu.com/home/10000-ton-limbah-b3pt-tenang-jaya-ditimbun-dekan-permukiman-warga/61680.


Diakses
Tanggal 22 Oktober 2015.
Setywati Rahayu,Suparni. 2009.Bahan Beracun da Berbahaya sebagai Pencemar
Lingkungan.(online),
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimiaindustri/limbah-industri/bahan-beracun-dan-berbahaya-sebagai-pencemarlingkungan/. Diakses tanggal 22 Oktober 2015.
Wiguna,
Prayoga.
2013.
Kasus
Kerasunan
Lingkungan.
http://www.chayoy.com/2013/08/kasus-keracunan-di-lingkungan-ptdong.html. Diakses Tanggal 22 Oktober 2015.