Anda di halaman 1dari 3

6.

4 Sistem Dua Fase


Kurva yang ditunjukkan pada Diagram PT dibawah ini menunjukkan batas-batas fase
untuk zat murni.

Transisi fase pada temperatur dan tekanan terjadi ketika salah satu kurva ini bersilangan
dan sebagai hasil nilai molar atau spesifik dari sifat ekstensif termodinamika yang berubah
secara tiba-tiba. Sehingga volume molar atau spesifik dari uap jenuh pada T dan P sama. Hal ini
benar untuk energi dalam, entalpi, dan entropi. Pengecualiannya pada energi Gibbs molar atau
molar, untuk zat murni tidak berubah selama transisi fase seperti mencair, penguapan, atau
sublimasi. Pertimbangkan liquid murni pada kesetimbangan dengan uapnya pada sebuah silinder
piston pada temperatur T dan tekanan uap Psat. Ketika sejumlah liquid menguap pada T dan P
konstan, persamaan 6.6. diaplikasikan untuk menurunkan proses hingga d(nG) = 0. Karena
jumlah mol konstan, maka dG = 0, dan ini membutuhkan energi Gibbs molar atau spesifik dari
uap.
Umumnya, untuk dua fase dan dari spesies yang murni yang berada dalam kesetimbangan
G = G
Dimana G dan G merupakan energi Gibbs molar atau spesifik untuk tiap fase.
Persamaan Claypeyron yang ditampilkan pada subbab 4.2 mengikuti persamaan ini. Jika
temperatur dari sistem dua fase diubah, kemudian juga harus terjadi perubahan pada hubungan
antara tekanan uap dan temperatur jika dua fase terus-menerus berada dalam kesetimbangan.
Persamaan untuk perubahan ini :
dG = dG

mensubstitusikan dG dan dG pada persamaan 6.10 menghasilkan:


V dPsat - S dT = V dPsat - S dT
Ini dapat disusun ulang menjadi :

Perubahan entropi

dan perubahan volume

merupakan perubahan yang terjadi ketika

sejumlah zat murni diubah dari fase dan pada T dan P kesetimbangan. Integrasi persamaan
6.8 untuk perubahan ini menghasilkan panas laten dari perubahan fase :
Sehingga

dan menghasilkan :

yang merupakan persamaan Claypeyron. Untuk kasus perubahan fase dari liquid l ke uap v,
maka ditulis

Pengaruh Temperatur terhadap Tekanan Uap Liquid.


Persamaan Claypeyron merupakan hubungan termodinamika secara eksak, yang memberikan
hubungan penting antar sifat pada fase yang berbeda. Ketika mengaplikasikan pada perhitungan
panas laten penguapan, ini digunakan untuk mengetahui hubungan tekanan uap vs temperatur.
Seperti dinyatakan pada persamaan 6, plot ln P vs 1/T menghasilkan garis yang hampir lurus :

Dimana A dan B merupakan konstanta untuk zat tertentu. Persamaan ini memberikan pendekatan
kasar dari hubungan tekanan uap untuk seluruh range temperatur dari triple point hingga critical
point. Persamaan Antoine, yang lebih memuaskan untuk penggunaan secara umum, memiliki
bentuk :

Kelebihan utama dari persamaan ini adalah harga dari konstanta A, B dan C tersedai untuk
banyak zat. Tiap set konstanta valid untuk range temperatur tertentu dan tidak bisa digunakan
diluar range temperatur. Tekanan uap yang akurat untuk range temperatur yang besar
membutuhkan persamaan yang lebih kompleks. Persamaan Wagner merupakan salah satu
persamaan terbaik, yang mengukur penurunan tekanan uap sebagai fungsi penurunan temperatur.

Dimana

dan A,B,C,D merupakan konstanta.

Sistem Liquid/Uap Dua Fase


Ketika suatu sistem terdiri dari liquid jenuh dan uap jenuh yang berada dalam kesetimbangan,
total harga sifat ekstensif dari dua fase tersebut merupakan jumlah total sifat dari fase-fase
tersebut. Untuk volume, hubungannya adalah:
nV = nlVl + nvVv
dimana V merupakan volume sistem pada basis molar dan total mol adalah n nl + nv. Membagi
persamaan diatas dengan n akan menghasilkan:
V = xlVl + xvVv
Dimana xl dan xv merupakan fraksi liquid dan uap. Karena xl = 1 - xv, maka:
V = (1-xv)Vl + xvVv
Pada persamaan ini sifat V, Vl, dan VV merupakan nilai dengan satuan molar ataupun massa.
Fraksi molar ataupun massa dari sistem xv disebut quality. Hubungan ini dapat ditulis secara
umum:
M = (1-Xv)Ml + xvMv
Dimana M merupakan H, U, S, atau V.