Anda di halaman 1dari 56

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular bakterial yang disebabkan oleh kuman
TB (Mycobacterium tuberculosis), yang sebagian besar menyerang paru-paru. TB
ditularkan melalui udara dalam bentuk droplet dari tenggorokan dan paru-paru penderita
TB paru aktif. Seseorang hanya perlu menghirup beberapa bakteri tersebut untuk
terinfeksi. Pada orang sehat, infeksi dengan mycobacterium tuberculosis tidak
menimbulkan gejala. Gejala TB paru aktif adalah batuk, terkadang disertai sputum dan
darah, nyeri dada, kelemahan, berkurangnya berat badan, demam, dan keringat pada
malam hari.1
TB merupakan penyebab kematian terbesar kedua setelah HIV/AIDS yang
disebabkan agen infeksius singuler. Tahun 2013, 9 juta orang telah terinfeksi TB dan 1,5
juta meninggal karena TB. Diperkirakan sebanyak 95% kasus kematian karena TB terjadi
pada Negara dengan penghasilan rendah-menengah. Pada tahun 2013, 550.000 anak
terinfeksi TB, dan 80.000 anak meninggal karena TB. Jumlah orang yang terinfeksi
penyakit telah mengalami penurunan. Death rate TB menurun 45% dari 1990-2013. 37
juta orang selamat dari TB karena diagnosis dan pengobatan dari 2000-2013.1
Menurut WHO (World Health Organization), prevalensi TB paru tahun 2013
sebesar 297 per 100.000 penduduk. Sedangkan target MDGs 2015 untuk TB sebesar 222
per 100.000 penduduk. Indonesia menduduki peringkat ke empat dengan tingkat TB
tertinggi di dunia setelah China, India dan Afrika Selatan. 1
Pada tahun 2013 di Indonesia ditemukan jumlah kasus baru BTA positif (BTA+)
sebanyak 196.310 kasus, menurun bila dibandingkan kasus baru BTA+ yang ditemukan
tahun 2012 yang sebesar 202.301 kasus. Provinsi dengan prevalensi Tb paru berdasarkan
diagnosis tertinggi yaitu Jawa Barat sebesar 0,7%, DKI Jakarta dan Papua masing-masing
sebesar 0,6%..3
Sejak tahun 1993, WHO menyatakan bahwa TB merupakan kedaruratan global bagi
kemanusiaan. Sejak tahun 1990, WHO dan IUATLD (International Union Against
Tuberculosis and Lung Disease) mengembangkan strategi pengendalian TB yang dikenal
sebagai strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) yang dilaksanakan di
seluruh fasyankes (fasilitas pelayanan kesehatan) terutama puskesmas yang di
1

integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. Fokus utama DOTS adalah penemuan dan
penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. WHO
memperluas strategi DOTS menjadi 6 strategi sebagai berikut: 1) Mencapai,
mengoptimalkan, dan mempertahankan mutu DOTS, 2) Merespon masalah TB-HIV,
MDR-TB dan tantangan lainnya, 3) Berkontribusi dalam penguatan sistem kesehatan, 4)
Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta, 5)
Memberdayakan pasien dan masyarakat, 6) Melaksanakan dan mengembangkan
penelitian.2
Adapun Program Strategi Nasional STOP TB dengan Visi Menuju Masyarakat
Bebas Masalah TB, Mandiri dan Berkeadilan, dengan Misi 1) Meningkatkan
pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani dalam pengendalian
TB, 2) Menjamin ketersediaan pelayanan TB yang paripurna, merata, bermutu, dan
berkeadilan, 3) Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya pengendalian TB, 4)
Menciptakan tata kelola program TB yang baik. Program ini bertujuan untuk menurunkan
angka kesakitan dan kematian akibat TB dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan
kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sasaran strategi nasional
pengendalian TB adalah mengacu pada rencana strategis kementerian kesehatan dari
tahun 2009 sampai tahun 2014 yaitu menurunkan prevalensi TB dari 235 per 100.000
penduduk menjadi 224 per 100.000 penduduk. Prevalensi TB di DKI Jakarta sebesar
1.032 per 100.000 penduduk. Sasaran keluarannya adalah meningkatkan persentase kasus
baru TB paru (BTA positif) yang ditemukan dari 73% menjadi 90%; meningkatkan
persentase keberhasilan pengobatan kasus baru TB paru (BTA positif) mencapai 88%;
meningkatkan persentase provinsi dengan CDR di atas 70% mencapai 50%; dan
meningkatkan persentase provinsi dengan keberhasilan pengobatan di atas 85% dari 80%
menjadi 88%.4
Dalam laporan evaluasi ini, kinerja Puskesmas Kelurahan (PKL) Pluit akan
dievaluasi mengenai upaya penanggulangan TB berdasarkan program nasional yang
sudah ditetapkan.
1.2. Tujuan Evaluasi Program Penanggulangan TB
1.2.1

Tujuan umum:
Untuk

menilai

kinerja

Puskesmas

Kelurahan

Pluit

dalam

program

penanggulangan TB paru periode November 2013 Oktober 2014.

1.2.2

Tujuan Khusus

1. Mengetahui gambaran pelaksanaan dan pencapaian program penanggulangan


TB paru di Puskesmas Kelurahan Pluit periode November 2013-Oktober 2014.
2. Menilai masukan, proses, keluaran dan dampak, umpan balik dan lingkungan
dari program penanggulangan penyakit TB paru di Puskesmas Kelurahan Pluit
periode November 2013-Oktober 2014.
3. Mengetahui kendala dalam pelaksanaan program penanggulangan TB paru di
di Puskesmas Kelurahan Pluit periode November 2013-Oktober 2014.
4. Mencari dan mengusulkan alternatif solusi untuk masalah yang dihadapi
dalam pelaksanaan program penanggulangan TB paru di Puskesmas
Kelurahan Pluit periode November 2013-Oktober 2014.

Grafik 1.1. Alur Kinerja Penanggulangan TB di di Puskesmas Kelurahan Pluit


Pasien datang dan mendaftarkan
diri di loket pendaftaran,
membayar biaya registrasi, dan
mendapat nomor antrian

Pasien masuk ke Balai


Pengobatan Umum

Pasien dengan gejala :


demam, batuk lebih dari 2-3
minggu atau batuk darah, sesak
napas, nyeri dada, berat badan
menurun, dan malaise

SUSPEK PENDERITA TB

Pencatatan di form
TB.06

PENEGAKAN DIAGNOSIS

Dewasa

Anak ( 15 tahun)

Memberikan rujukan untuk


pemeriksaan BTA

Melakukan skoring

Form
TB.0555

Tes Mantoux di ruang tindakan


(hasil dinilai 3 hari setelah tes)
Pemeriksaan BTA di laboratorium

Form TB.04 dicatat oleh


petugas lab.

Hasil Pemeriksaan BTA


Form TB.02
Sebagai kartu
Pindah
Data
ke
Berobat
Pasien
Form TB.01

Mulai Pengobatan
Intensif dan Lanjutan

Semua yang tertulis di TB.01 akan


dipindahkan ke form TB.03 dan
4
Pemberian
antibiotik
dilaporkan
per 3 non
bulan ke PKC
OAT selama
maksimal 14 hari
Penjaringan

Hasil Test Mantoux

Hasil Pemeriksaan BTA

BTA (+)

BTA (-)

Pemeriksaan Penunjang:
-

Radiografi
PCR

Hasil pemeriksaan dibawa dan


diperlihatkan kepada dokter lalu
dilakukan skoring akhir atau diagnosis

BUKAN TB

Dewasa :
BTA (+) atau
BTA (-) Penunjang (+)
Anak : skoring 6
DIAGNOSIS TB

Mulai pengobatan TB

Pemberian antibiotik non OAT


selama 14 hari
Pindah data ke
Form TB.01

Form TB. 02
sebagai Kartu
Pasien

Semua yang tertulis di TB.01


direkapitulasi di Form TB.03 dan
dilaporkan setiap 3 bulan

Tersangka Penderita TB
(Suspek TB)

Grafik 1.2. Alur Pemeriksaan Laboratorium Suspek TB Dewasa di Puskesmas


Kelurahan Pluit

Periksa dahak Sewaktu, Pagi, Sewaktu (SPS)

Pemeriksaan Rontgen Dada

Grafik 1.3. Alur Pemeriksaan Laboratorium TB Dewasa dalam pengobatan tahap


intensif di Puskesmas Kelurahan Pluit
Hasil BTA:

Tahap Intensif

- -

Penderita baru BTA + Penderita Kambuh, gagal, putus berobat dengan BTA +
atau BTA dengan RO +

Kategori
Kategori
1:
2:
2 bulan HRZE
2 bulan
setiap HRZES
hari
setiap hari dan dilanjutkan dengan 1 bulan HRZE setiap hari

Hasil BTA:

+ - Evaluasi Pengobatan dengan pemeriksaan sputum BTA

BTA +

BTA -

Sisipan 1 bulan RHZE kemudian evaluasi sputum BTA

BTA -

Hasil
BTA
+ BTA:
+++
++-

Tahap Lanjutan
MDR TB

Kategori 1:
4 bulan 3x HR per minggu/
4 bulan HR per minggu /
4 bulan HE per minggu

Kategori 2:
5 bulan 3x HRE per minggu /
5 bulan 1x HRE per minggu

Grafik 1.4. Skoring Kriteria Diagnosis TB pada Anak menurut Pedoman Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis
Parameter

Kontak TB

Tidak Jelas

serumah

Laporan keluarga:

Laporan keluarga:

BTA negatif atau

BTA positif

tidak jelas
Uji tuberculin

Negatif

Positif (indurasi

(Mantoux test)

10mm, atau
5mm pada
imunosupresi)

Berat Badan /

KMS: dibawah

Gizi buruk (BB /

Status Gizi

garis merah

Usia <60%)

Demam tanpa

BB/ Usia < 80%


2 minggu

sebab yang jelas


Batuk

3 minggu

Pembesaran

1 cm, jumlah >1,

kelenjar getah

tidak nyeri

bening
Pembengkakan

Terdapat

sendi
Foto toraks

pembengkakan
Kesan TB

Normal / Tidak
jelas

Diagnosis TB ditegakkan bila total skor 61

Grafik 1.5. Alur Pengawas Menelan Obat (PMO)


8

andatangani formulir persetujuan pengobatan TB paru yang berisi persetujuan tertulis dari pasien u

Pasien diminta memilih PMO dengan syarat PMO sebagai berikut:


Dikenal, dipercaya, disegani dan dihormati oleh penderita
Tinggal dekat penderita
Sukarela dan bersedia dilatih dan mendapat penyuluhan bersama penderita

Calon PMO diberikan penjelasan mengenai tugas umum PMO (Lampiran)

PMO yang dipilih harus disetujui oleh petugas, pasien dan calon PMO
(form persetujuan PMO)

Data PMO
(nama, alamat, nomor yang dapat dihubungi)
Form TB 01

Grafik 1.6. Alur Konseling pasien TB dalam Pengobatan


Identifikasi pasien (Status TB 01)

Persiapan konseling
(Register pengobatan)

Pelaksanaan konseling

Grafik 1.7. Alur Program Promosi Kesehatan


Identifikasi sasaran
(data, masalah, kelompok resiko tinggi tertular) FORM TB 01

Desain penyuluhan
(jadwal, metode, lokasi, sasaran , alat bantu)
Laporan perencanaan kegiatan

Pelaksanaan penyuluhan
(via telepon, daftar hadir, notulen)

Monitoring dan evaluasi


(Laporan Kegiatan)

10

Grafik 1.8. Alur Kunjungan Rumah


Pasien terdiagnosis TB

Keterlambatan Pasien mengambil obat:


Merencanakan Kunjunga
Terlambat >3 hari dari tanggal yang di tentukan (fase awal) Jadwal kunjunga
Terlambat > 7 hari dari tanggal yang di tentukan ( fase lanjutan)
1.
(Monitoring harian pengambilan
obat, TB 01)

Kunjungan rumah untuk melacak


(Jadwal kunjungan, catatan

Menghubungi melalui telepon untuk mengingatkan jadwal pengambilan obat pasien

Mengisi checklist pelacakan ko


(Check list pelacakan kasus, catata
Apabila masih belum datang atau tidak dapat dihubungi maka dilakukan kunjungan rumah

Pengisian checklist kunjungan rumah DO dan penyuluhan kepada pasien beserta PMO dan keluarg
Suspek
TB pasien
akan mengikuti alur diagno
Checklist kunjungan rumah DO, form
TB 01

Mengevaluasi ketepatan pengambilan obat oleh pasien dan PMO nya


Monitoring harian

11

Grafik 1.9. Alur Pengembangan pelatihan Petugas TB

Petugas Dinkes, Sudinkes menghubungi petugas khusus TB di puskesmas kecamatan penjaringa

Petugas khusus TB mencari petugas baru di Puskesmas kelurahan

Petugas Dinkes, Sudinkes memberikan pelatihan TB kepada petugas baru

Petugas TB baru di puskesmas kelurahan

12

BAB II
KERANGKA EVALUASI
2.1. Kerangka Evaluasi
LINGKUNGA

MASUKA

PROSES

KELUARA

DAMPAK

UMPAN

Diagram 2.1. Kerangka Evaluasi

Keterangan
1. Input
Variabel
Tenaga

Indikator
1. Dokter umum

Tolak Ukur Keberhasilan


Terdapat minimal 1 orang dokter
umum jadwal pelayanan hari SeninSabtu, pukul 07.00-16.00

2. Perawat/Petugas TB

Terdapat

minimal

perawat/Petugas

TB

jadwal

pelayanan hari Senin-Sabtu, pukul


07.00-16.00
3. Petugas Administrasi

Terdapat minimal 1 orang petugas


administrasi

jadwal

pelayanan

jadwal pelayanan hari Senin-Sabtu,

5. Kader TB

pukul 07.00-16.00

Ada kader TB yang bertanggung


jawab atas pasien TB di wilayah
Puskesmas Kelurahan Pluit.

Dana

1. Berasal dari APBD dan APBN

Terdapat laporan dana dan yang


13

2. Mencukupi dan turun sesuai

turun sesuai jadwal

jadwal
Sarana

1. Medis
Inventaris:

berasal dari APBD dan APBN


Dana yang ada mencukupi dan

Sarana medis tersedia:


Inventaris

Termometer
Stetoskop
Masker
Timbangan
OAT

Ada dan mencukupi


Ada dan mencukupi
Ada dan mencukupi
Ada dan mencukupi
Ada dan mencukupi,

mutu

terjamin

2. Non Medis:
Form TB UPK (TB.01,

TB.02,

TB.03,

TB.04,

TB.05,

TB.06,

TB.09,

TB.10)
Sarana penyuluhan

dan

edukasi TB
Materi penyuluhan
Pamflet TB
Poster TB

Tempat penyuluhan

Ruangan Poli TB

Sarana non medis tersedia:


Ada dan mencukupi

Ada dan mencukupi


Ada dan mencukupi
Ada dan mencukupi tertempel di
pada dinding Poli TB, BPU, dan

Ruang tunggu
Ada untuk individu, kelompok,

umum
Ada dan tersedia, tertata rapi
dan bersih dengan ventilasi yang
baik.

Metode

1. Medis:
Alur Kinerja

Penanggulangan TB
Alur Pemeriksaan

Metode medis dijalankan:


Dilaksanakan menurut Grafik

Laboratorium Suspek TB

Dewasa
Alur Pemeriksaan Lab TB
Dewasa Pengobatan

1.1
Dilaksanakan menurut Grafik
1.2

Dilaksanakan menurut Grafik


1.3
14

Intensif
Diagnosis TB Anak

Dilaksanakan menurut Grafik


1.4

2. Non medis:

Alur

Obat (PMO)
Alur Konseling Pasien TB

Dalam Pengobatan
Alur Program Promosi

Kesehatan
Alur Kunjungan Rumah

Pelacakan kasus
Alur
Pengembangan

Pengawas

Minum

Dilaksanakan menurut Grafik

1.5
Dilaksanakan menurut Grafik

1.6
Dilaksanakan menurut Grafik

1.7
Dilaksanakan menurut Grafik

1.8
Dilaksanakan menurut Grafik
1.9

Pelatihan Petugas TB
2. Proses:
Variabel
Perencanaan

Indikator
Promosi Kesehatan:

Tolak Ukur Keberhasilan


Direncanakan

Penyuluhan

Identifikasi

sasaran

(data,

masalah,

kelompok resiko tinggi tertular)


Desain penyuluhan (jadwal, metode, lokasi,
sasaran, alat bantu)
Pelaksanaan penyuluhan (via telepon, daftar
hadir, notulen)
Monitoring dan evaluasi (Laporan kegiatan)

Individu: minimal 6 kali selama masa


pengobatan terhadap penderita/PMO pada
saat mereka datang mengambil obat. Materi:
Penyebab TBC, cara penularan, gejala-gejala
penyakit TBC, Bahaya TBC, Pengobatan dan
cara minum obat, evaluasi pengobatan,
keluhan yang mungkin timbul dan cara
mengatasi, cara pencegahan penular.

Kelompok: 1x/bulan terhadap kelompok


penderita / PMO/ TOMA. Materi: Sama

15

seperti penyuluhan individu & gambaran


TBC di Indonesia, peran PMO dalam
kesembuhan penderia, peran TOMA dalam
penemuan dan pencegahan penyebaran TBC.

Masyarakat

umum:

2x/tahun

terhadap

masyarakat umum dengan materi yang tela


direncanakan

dapat

sesuai

dengan

penyuluhan individual dan kelompok

Pelacakan kasus
(Kunjungan rumah)

Direncanakan pada pasien dengan keterlambatan


mengambil obat

Fase Awal: Terlambat > 3 hari dari


tanggal yang ditentukan

Fase Lanjutan: Terlambat > 7 hari dari


tanggal yang ditentukan

Menghubungi

melalui

telfon

untuk

mengingatkan, bila masih belum datang,


dilakukan kunjungan rumah.
Melakukan checklist kunjungan rumah dan
penyuluhan

pasien

beserta

PMO

Keluarga
Pengorganisasi

an

Hierarki Pembagian
tugas

yang

Ada dan dilakukan

jelas

antara tenaga medis


dan non medis di
Puskesmas
Kelurahan Pluit
Pelaksanaan

Kinerja

Dilaksanakan menurut Grafik 1.1

Penanggulangan TB
Pemeriksaan

Dilaksanakan menurut Grafik 1.2

Dilaksanakan menurut Grafik 1.3

Laboratorium Suspek

TB Dewasa
Pemeriksaan Lab TB

16

dan

Dewasa Pengobatan
Dilaksanakan menurut Grafik 1.4
Dilaksanakan menurut Grafik 1.5

Obat (PMO)
Konseling Pasien TB

Dilaksanakan menurut Grafik 1.6

Dalam Pengobatan
Program
Promosi

Dilaksanakan menurut Grafik 1.7

Kesehatan
Kunjungan

Dilaksanakan menurut Grafik 1.8

Pelacakan kasus
Pengembangan

Dilaksanakan menurut Grafik 1.9

Ada dan dilakukan Pencatatan dan

Rumah

Pelatihan Petugas TB

Pencatatan dan

Intensif
Diagnosis TB Anak
Pengawas
Minum

Pelaporan

Pencatatan

dan

pelaporan form

TB

pelaporan form

di UPK

TB di UPK (TB.01,

TB.02, TB.03, TB.04, TB.05, TB.06,


TB.09, TB.10) sesuai dengan Pedoman
Nasional Penanggulangan Tuberkulosis

Pengawasan

Monitoring dan
supervisi

Ada dan dilakukan monitoring dan


supervisi laporan-laposan form TB setiap
3

bulan.

Laporan

dari

puskesmas

kelurahan dilaporkan kepada Puskesmas


Kecamatan.
3. Keluaran:
Variabel
Cakupan

Indikator
Indikator Program TB UPK
Angka Keberhasilan

Tolak Ukur Keberhasilan


Angka tolak ukur indikator
Tidak ada tolak ukur

Pengobatan (Success Rate


= SR)
Indikator proses UPK

Angka Penjaringan Suspek


Proporsi Pasien TB BTA

(+) diantara Suspek


Proporsi Pasien TB Baru

Tidak ada tolak ukur


5-15%

65%

BTA Positif diantara


17

Semua Pasien TB Paru

Tercatat/Diobati
Proporsi Pasien TB anak
Angka Konversi

(Conversion Rate)
Angka Kesembuhan (Cure
Rate)

15%
80%

85%

4. Lingkungan:
Variabel
Lingkungan

Indikator

Lokasi

Tolak Ukur Keberhasilan


Lokasi mudah dijangkau

Fisik

dengan berjalan kaki dan

Lingkungan

Transportasi

kendaraan umum
Transportasi

didapat, cepat dan murah


Fasilitas kesehatan lainnya

bisa bekerja sama


Rumah dengan ventilasi

Fasilitas kesehatan lain

Keadaan perumahan penduduk

Pendidikan

mudah

dan pencahayaan yang baik

Non-fisik

Pendidikan tidak menjadi


faktor penghambat

Sosial ekonomi

terlaksananya program
Sosial ekonomi tidak
menjadi faktor penghambat

Agama

terlaksananya program
Agama tidak menjadi
faktor penghambat
terlaksananya program.

5. Umpan Balik:
Variabel
Umpan
Balik

Indikator
Tolak Ukur Keberhasilan
1. Pertemuan 1x/bulan (mini lokakarya) Ada dan dilakukan
dengan Puskesmas mengenai laporan
kegiatan.
- Menganalisis jalannya kegiatan TB
- Menentukan prioritas masalah tidak
18

terpenuhinya target
- Menentukan solusi yang mampu
dilaksanakan.
2.2. Kerangka Konsep
Alur pemikiran dalam evaluasi ini adalah sebagai berikut :
1. Mencari data mengenai indikator kegiatan program (keluaran) yang ditemukan di
Puskesmas Kelurahan Pluit Periode November 2013-Oktober 2014. Data-data ini
kemudian akan dibandingkan dengan target atau indikator menurut standar yang
ada.
2. Mencari data-data primer dan sekunder yang diambil dari form TB01, TB02,
TB03, TB04, TB05, TB06, TB09 dan wawancara dengan penanggung jawab
Program Penanggulangan TB.
3. Membandingkan data yang didapat dengan indikator yang telah ditetapkan. Jika
terdapat perbedaan maka akan diangkat sebagai masalah.
4. Merumuskan masalah-masalah yang ada dan mengurutkan prioritas masalah
dengan memberikan pembobotan pada tiap masalah lalu mencari akar penyebab
masalah tersebut.
5. Mencari pemecahan masalah yang sesuai, konkrit dan realistis untuk dapat
disarankan dan dilakukan oleh puskesmas.
2.3. Definisi Operasional
Adapun definisi-definisi yang perlu diketahui untuk menyamakan persepsi dalam
penegakan diagnosis dan hasil pengobatan pasien TB adalah sebagai berikut 2:
A. Klasifikasi Pasien Berdasarkan Riwayat Pengobatan Pasien
1. Baru

Pasien yang belum diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang
dari satu bulan (4 minggu)

2. Kambuh (relapse)

Pasien

tuberkulosis

yang

sebelumnya

pernah

mendapatkan

pengobatan

tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis


kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur)
3. Pengobatan setelah putus berobat (default)

19

Pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA
positif.

4. Gagal (failure)

Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif
pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan

5. Pindahan (transfer in)

Pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk
melanjutkan pengobatannya.

B. Hasil Pengobatan Pasien TB BTA Positif


1. Sembuh

Pasien telah menyelesaikan pengobatan secara lengkap dan pemeriksaan dahak


ulang hasilnya negatif pada akhir pengobatan (AP) dan pada satu pemeriksaan
sebelumnya.

2. Pengobatan lengkap

Pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak ada
hasil pemeriksaan dahak ulang pada AP dan pada satu pemeriksaan sebelumnya.

3. Meninggal

Pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun.

4. Putus berobat / Default

Pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa
pengobatannya selesai.

5. Gagal

Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif
pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.

6. Pindah

Pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil
pengobatannya tidak diketahui.

2.4. Indikator
Indikator-indikator yang akan digunakan dalam menilai kinerja puskesmas adalah
sebagai berikut 2:
1. Angka Penjaringan Suspek
jumlah suspek yang diperiksa x 100.000
jumlah penduduk

20

Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100.000 penduduk pada
suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. Angka ini digunakan untuk mengetahui upaya
penemuan pasien dalam wilayah tersebut dengan memperhatikan kecenderungannya
dari waktu ke waktu (triwulan/tahunan). Jumlah suspek yang diperiksa bisa didaptkan
dari buku daftar suspek (TB06). Pada FASYANKEN yang tidak mempunyai wilayah
cakupan penduduk, misalnya RS, BP4, atau dokter prakter swasta, indicator ini tidak
dapat dihitung.
2. Proporsi pasien TB BTA (+) di antara suspek yang diperiksa dahaknya
jumlah TB BTA (+)
jumlah suspek TB yang diperiksa

x 100%

Persentase pasien BTA (+) yang ditemukan di antara seluruh suspek yang diperiksa
dahaknya. Angka ini menggambarkan mutu proses penemuan, diagnosis pasien, serta
kepekaan menetapkan kriteria suspek. Angka ini berkisar 5 15%.Jika < 5% dapat
disebabkan oleh penjaringan suspek terlalu longgar atau ada masalah dalam
pemeriksaan laboratorium (negatif palsu). Bila angka > 15%bisa disebabkan karena
penjaringan terlalu ketat atau hasil pemeriksaan laboratorium positif palsu.
3. Proporsi pasien TB paru BTA (+) di antara semua pasien TB paru tercatat/diobati
jumlah TB BTA (+) (baru & kambuh
jumlah semua diagnosis TB

x 100%

Persentase pasien TB paru BTA (+) di antara semua pasien TB paru yang tercatat.
Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien TB yang menular. Angka ini
sebaiknya 65%. Bila angka rendah, dapat disebabkan oleh mutu diagnosis rendah
atau kurang memberikan prioritas penemuan pasien yang menular.
4. Proporsi Pasien TB Paru yang mendapatkan pengobatan
jumlah pasien TB yang berobat
jumlah semua diagnosis TB

x 100%

Proporsi pasien TB yang mendapatkan pengobatan diantara semua pasien yang


terdiagnosis menderita TB.Indikator ini menggambarkan tingkat partisipasi pasien
yang menderita TB untuk menjalani program pengobatan.Idealnya semua pasien yang
21

terdiagnosis menderita TB mengikuti program pengobatan.Angka yang rendah


menunjukkan kurangnya usaha untuk memfasilitasi dan memotivasi penderita TB
untuk berobat.
5. Angka Konversi (Conversion Rate)
jumlah konversi
x 100%
jumlah pasien TB paru BTA (+) yang mendapat pengobatan
Persentase pasien baru TB paru BTA (+) yang mengalami perubahan menjadi BTA (-)
setelah masa pengobatan intensif. Indikator ini berguna untuk mengetahui secara
cepat hasil pengobatan dan pengawasan langsung menelan obat. Angka ini sebaiknya
80%.
6. Angka Kesembuhan (Cure Rate)
jumlah pasien TB paru BTA (+) yang sembuh
jumlah pasien TB paru BTA (+) yang diobati

x 100%

Angka yang menunjukkan persentase pasien baru TB paru BTA (+) yang sembuh
setelah selesai masa pengobatan di antara pasien baru TB paru BTA (+) yang tercatat.
Di Fasyenkes, indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB.01, yaitu dengan cara
mereview seluruh kartu pasien baru BTA (+) yang mulai berobat dalam 9-12 bulan
sebelumnya, kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh setelah selesai
pengobatan. Angka ini sebaiknya 85%.namun tetap perlu diperhatikan pasien dengan
hasil pengobatan lengkap, meninggal, gagal, default, dan pindah. Angka default tidak
boleh lebih dari 10%, angka gagal tidak boleh lebih dari 4% untuk daerah yang belum
ada masalah resistensi obat, dan tidak boleh lebih besar daro 10% untuk daerah yang
sudah ada angka resistensi obat.
7. Proporsi pasien TB anak di antara seluruh pasien TB
jumlah diagnosis TB anak
x 100%
jumlah semua diagnosis TB (dewasa + anak)
Persentase pasien TB anak (< 15 tahun) di antara seluruh pasien TB tercatat. Angka
ini berkisar 15%. Jika terlalu besar, kemungkinan terjadi overdiagnosis.
8. Angka keberhasilan pengobatan
Jumlah pasien baru TB BTA positif (sembuh+pengobatan lengkap)
Jumlah pasien baru TB BTA positif yang diobati

x100%
22

Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan presentase pasien baru TB paru
BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan
lengkap) diantara pasien baru TB paru BTA positif yang tercatat. Dengan demikian
angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan
lengkap.

BAB III
ANALISIS SITUASI
3.1 Data Umum
3.1.1

Data Demografis
Pada tahun 2013, Jumlah penduduk Jakarta Utara sekitar 1.687.672 jiwa, dan
Jumlah penduduk di Kecamatan Penjaringan adalah 289.928 jiwa.

5.6

Kecamatan

Penjaringan memiliki luas wilayah 45,41 km2 dan terdiri dari lima kelurahan, yaitu
Kelurahan Penjaringan, Pejagalan, Pluit, Kapuk Muara, dan Kamal Muara.7
Kelurahan Pluit luasnya 771,19 Ha seluruhnya merupakan tanah negara yang
dikelola oleh PT. Jakarta Propertindo ( D / h PT. Pembangunan Pluit Jaya ) dan Dinas
Perikanan Peternakan dan Kelautan Propinsi DKI Jakarta. 7
Kelurahan Pluit terdiri dari 20 RW, 245 RT dengan total jumlah penduduk pada
tahun 2013 adalah 47.128 jiwa. Jumlah KK di Kelurahan Pluit sebanyak 16.297 KK.
Jumlah ini merupakan 16.2% dari penduduk Kecamatan Penjaringan dan 2.79% dari
penduduk Jakarta Utara. (1.4%). Dari 20 RW, RW 1, RW11, dan RW 21 masuk dalam
kategori RW kumuh. Puskesmas Kelurahan Pluit berada di RW 21 sehingga berada di
RW kumuh kelurahan Pluit. 7
3.1.2

Data Lokasi dan Transportasi


Keadaan wilayah sekitar Puskesmas Kelurahan Pluit termasuk wilayah yang padat

penduduk. Puskesmas ini terletak didepan SD Negri Pluit 03, dan keadaan didepan
Puskesmas selalu ramai. Akses relatif mudah dan transportasi mudah didapatkan.
Sebagian besar pasien yang berobat datang dengan menggunakan angkutan umum seperti
becak, ojek, angkot atau kopaja dan berjalan kaki. Hanya sebagian kecil yang membawa
kendaraan pribadi.
3.2 Data Khusus
23

3.2.1

Data Fasilitas Kesehatan di Kelurahan Pluit tahun 2013


Tabel 3.2 Data Sarana dan Prasarana Kesehatan di wilayah Kelurahan Pluit 2013
No
1
2
6
8

Jenis Sarana dan Prasarana


Rumah Sakit
Puskesmas
Dokter Praktek
Klinik Paru

Banyaknya
0
1
54
1

Sumber : Laporan Tahunan Kelurahan Pluit 20137

Tidak ada Rumah Sakit di wilayah Kelurahan Pluit, namun ada beberapa
Rumah Sakit Swasta dalam wilayah Kecamatan Penjaringan yang tidak jauh dari
Kelurahan Pluit. Hanya ada satu Puskesmas di Kelurahan Pluit, yaitu Puskesmas
Pluit. Ada 54 Dokter Praktek di Wilayah Kelurahan Puskesmas Ada sebuah Klinik
Paru dalam wilayah Kelurahan Pluit. Sehingga banyak dari masyarakat yang berobat
penyakit paru-paru ke klinik tersebut.
3.2.2

Data Mobilitas Penduduk Kelurahan Pluit


Banyak penduduk dari Kelurahan Pluit yang merupakan penduduk musiman. Yang

dimaksud dengan penduduk musiman adalah, penduduk yang hanya datang dan tinggal di
Kelurahan Pluit untuk sementara waktu kemudian kembali ke wilayah asalnya, atau ke
wilayah lain. Kebanyakan penduduk musiman tersebut tinggal di daerah empang dalam
RW 21, dimana Puskesmas Kelurahan Pluit berada, yang juga merupakan daerah kumuh.
3.2.3

Data Peran Serta Masyarakat


Tidak ada kader khusus TB di Kelurahan Pluit. Ada satu penanggung jawab Program

Penanggulangan TB di Puskesmas Kelurahan Pluit yaitu perawat puskesmas. Perawat


tersebut juga bertanggung jawab atas program-program lain seperti kusta, dan UKS.
Seringkali terjadi keterlambatan dalam kunjungan rumah, dan program promosi
kesehatan (penyuluhan) yang tidak berjalan dengan baik karena tidak ada bantuan dari
Kader TB. Selama ini, tidak ada Kader TB di wilayah Kelurahan Pluit karena tidak ada
dana yang dialokasikan kepada pembentukan kader TB.
Program PMO untuk setiap pasien TB yang berobat ke Puskesmas Kelurahan Pluit
sudah berjalan dengan baik. Kepada setiap pasien diadakan 1 PMO yang dikenal pasien,
tinggal dekat dengan pasien, serta sukarela dan bersedia untuk dilatih dan mendapat
penyuluhan bersama penderita.

24

3.2.4

Data faktor-faktor yang berhubungan dengan Program Penanggulangan TB di


wilayah Kelurahan Pluit (2012)
Tabel 3.5 Faktor-faktor yang yang mempengaruhi berhubungan dengan Program
Penanggulangan TB di wilayah Kelurahan Pluit (2012)

Insidensi TB per 100.000 penduduk


Prevalensi TB per 100.000 penduduk
Case Specific Death Rate
Case Detection Rate
3.2.5

Kecamatan

DKI Jakarta

Nasional

Penjaringan
127
327
0,78%
85,4%

112
97
1,03%
83,5%

189
213
1,14%
82,4%

Pasien suspek TB dewasa di Puskesmas Kelurahan Pluit periode November


2013-Oktober 2014
Tabel 3.6 Suspek TB Dewasa di Puskesmas Kelurahan Pluit periode November
2013-Oktober 2014
Suspek
Suspek yang periksa dahaknya

Hasil

Jumlah

BTA (+)
BTA (-)

6
17

13.33%
37.78%

22

48.89%

45

100%

Suspek yang tidak periksa dahaknya


Total
Sumber: TB 03 dan TB 06 periode November 2013-Oktober 2014

Kriteria suspek TB paru menurut Pedoman Nasional Penanggulangan TB


merupakan pasien dengan gejala utama batuk berdahak selama 2-3 minggu atau
lebih yang dapat disertai dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah,
batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan
menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang
lebih dari satu bulan. Setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala tersebut
diatas dianggap sebagai suspek pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak
secara mikroskopis langsung.1
Jumlah suspek penderita TB dalam Puskesmas Kelurahan Pluit periode
November 2013-Oktober 2014 adalah 45 orang. Jumlah suspek yang diperiksa
dahaknya sebanyak 23 orang (51.1%). Pasien yang diperiksa dahaknya
mendapatklan hasil BTA positif sebanyak 6 orang dan pasien yang diperiksa
dahaknya dan mendapatkan hasil BTA negatif sebanyak 17 orang. Terdapat pula
25

pasien yang tidak diperiksa dahaknya atau yang hasilnya tidak kembali sebanyak
22 orang (48.89%). Dari 6 orang dengan hasil periksa dahak BTA positif, semua
pasien kembali ke Puskesmas Kelurahan Pluit untuk mendapatkan pengobatan.
3.2.6

Follow-up Suspek TB Paru dengan hasil pemeriksaan dahak pertama BTA (-)
setelah diberikan Antibiotik spektrum luas
Tabel 3.7 Follow-up Suspek TB Paru dengan hasil pemeriksaan dahak pertama
BTA (-) setelah diberikan Antibiotik spektrum luas
Follow-up setelah terapi
AB spektrum luas
Perbaikan (P)
Tidak Perbaikan (TP)
Tidak Kembali (TK)
Total

Jumlah

12
2
3
17

70.59%
11.76%
17.65%
100%

Dari 17 pasien dengan pemeriksaan dahak pertama BTA (-), setiap pasien
diberikan pengobatan dengan Antibiotika spectrum luas non-OAT selama 14 hari,
kemudian setelah 14 hari dievaluasi lagi. Ditemukan ada 12 pasien (70.59%) yang
mengalami perbaikan sehingga tidak didiagnosis sebagai TB, 3 pasien (17.65%)
yang tidak kembali untuk evaluasi, dan 2 pasien (11.76%) yang tidak mengalami
perbaikan. Dari 2 pasien yang tidak mengalami perbaikan, dilakukan pemeriksaan
dahak lagi, dimana ditemukan keduanya tetap BTA (-). Kemudian kepada kedua
pasien tersebut dilakukan pemeriksaan penunjang foto torak, dimana ditemukan
gambaran khas TB, sehingga kedua pasien tersebut didiagnosa dengan TB paru
BTA (-).
3.2.7

Pasien TB paru dewasa baru yang terdiagnosis di Puskesmas Kelurahan Pluit


periode November 2013-Oktober 2014
Tabel 3.8 Pasien yang terdiagnosis TB Paru dewasa baru di Puskesmas Kelurahan
Pluit periode November 2013-Oktober 2014
Tipe

Diagnosis TB

Pasien
Pasien

BTA (+)

Baru

Berobat di PKL Pluit


Tidak berobat

Jumlah

75%

0%
26

BTA ()dengan Penunjang(+)

Berobat di PKL Pluit


Tidak berobat

Total Pasien TB paru dewasa

25%

0
8

0%
100%

Sumber: TB01 & TB04 periode November 2013-Oktober 2014

Standard untuk diagnosis penyakit TB pada Puskesmas Kelurahan Pluit


mengikuti International Standards for Tuberculosis Care 2010. Jumlah pasien TB di
Puskesmas Kelurahan Pluit periode November 2013- Oktober 2014 adalah 8 pasien.
Jumlah pasien TB paru BTA(+) adalah 6 orang dan jumlah pasien TB paru BTA (-)
dengan hasil rontgen positif adalah 2 orang. Pasien TB paru BTA positif memiliki
persentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien TB paru BTA negatif yaitu
75% dibandingkan dengan 25%. Semua pasien TB paru di Puskesmas Kelurahan Pluit
periode November 2013-Okober 2014 adalah pasien baru dan tidak ada pasien dalam
kriteria pengobatan TB ulang.
3.2.8 Pasien TB paru BTA (+) dewasa yang mengalami konversi setelah 2 bulan
pengobatan (akhir fase intensif) di Puskesmas Kelurahan Pluit periode
November 2013- Oktober 2014
Tabel 3.9 Pasien TB Paru BTA (+) Dewasa yang Konversi pada Akhir Fase Intensif di
Puskesmas Kelurahan Pluit periode November 2013- Oktober 2014
Hasil Pemeriksaan Dahak di akhir fase intensif

Jumla

h
Selesai fase intensif
-

Konversi
Tidak Konversi

Belum selesai fase intensif


Total

83.33%

0
1
6

0%
16.67%
100%

Sumber: TB01& TB04 periode November 2013-Oktober 2014

Berdasarkan Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, konversi


dinilai dengan melakukan pemeriksaan BTA ulang pada pasien baru BTA positif
setelah menyelesaikan tahap intensif pengobatan. Dari 6 pasien TB paru dewasa
dengan hasil BTA (+) yang berobat di Puskesmas Kelurahan Pluit, 5 pasien
mengalami konversi setelah fase intensif dan tidak ada pasien yang tidak mengalami
konversi setelah fase intensif. Sedangkan ada satu pasien yang belum melewati fase
intensif.
27

3.2.9

Suspek TB anak di Puskesmas Kelurahan Pluit periode November 2013Oktober 2014


Tabel 3.10 Suspek TB Anak di Puskesmas Kelurahan Pluit periode November
2013- Oktober 2014
Jumlah

Diagnosis TB paru ditegakkan

100%

Tidak terdiagnosis TB paru

0%

Total

100%

Suspek TB Anak

Sumber: TB01 periode November 2013-Oktober 2014

Jumlah seluruh suspek TB anak adalah 6 orang dan pada semua suspek
dilakukan perhitungan dengan sistem skoring. Pada seluruh anak yang dicurigai
menderita TB dilakukan tes Mantoux dan pemeriksaan pencitraan untuk menentukan
besarnya skor penderita. Terdapat 6 orang (100%) anak yang memiliki skor 6 dan
mendapatkan pengobatan di Puskesmas Kelurahan Pluit.
3.2.10 Hasil pengobatan pasien TB paru di Puskesmas Kelurahan Pluit periode
November 2013 Oktober 2014
Tabel 3.11a Hasil Pengobatan TB Paru Dewasa di Puskesmas Kelurahan Pluit
periode November 2013-Oktober 2014
Diagnosis TB

Hasil

Jumlah

1
0
2
1
0
0
4

25%
0%
50%
25%
%
0%
100%

Sembuh
Lengkap

0
0

0%
0%

Default
Pindah
Meninggal
Gagal

0
0
0
0
0

0%
0%
0%
0%
100%

Pengobatan
Sembuh
Lengkap
Default
Pindah
Meninggal
Gagal

BTA (+)

Total BTA (+)


BTA ()
Penunjang (+)

Total BTA (-)

Sumber: TB01,TB03 periode November 2013-Oktober 2014

28

Dari total 8 pasien dengan BTA (+), terdapat 1 pasien yang sembuh (25%)
setelah menyelesaikan pengobatan, dan 2 pasien yang default (50%), dan 1 pasien
yang pindah (25%).

Terdapat pula 4 pasien yang yang tengah dalam proses

pengobatan tahap intensif maupun lanjutan sehingga tidak dimasukan dalam


perhitungan. Dari total 2 pasien dengan BTA (-) Penunjang (+), keduanya masih
dalam proses pengobatan fase intensif sehingga tidak dimasukan ddalam perhitungan.
Tabel 3.11b Hasil Pengobatan TB Paru Anak yang berobat di Puskesmas Kelurahan Pluit
periode November 2013-Oktober 2014
Jumlah

Lengkap
Pindah

4
1

100%

Total

100%

Hasil Pengobatan

0%

Sumber: TB01 periode November 2013-Oktober 2014

Dari total 6 pasien anak yang terdiaognosa dengan TB menurut skoring di


Puskesmas Kelurahan Pluit periode November 2013-Oktober 2014, ada 4 yang telah
melewati pengobatan lengkap, 1 pasien yang pindah. Sedangkan ada 1 pasien yang masih
dalam proses pengobatan sehingga tidak dimasukan dalam perhitungan.

3.3 Metode Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 17 21 November 2014 di Puskesmas
Kelurahan Pluit.
Tabel 3.11. Jenis Data, Cara Pengambilan, dan Variabel yang Didapat
Jenis data

Cara

Variabel

pengambilan
DATA PRIMER
Observasi lapangan

Melakukan

Tenaga medis dan non-medis

pengamatan

Sarana medis dan non-medis

dan

Metode medis dan non-medis

pencatatan

Pengorganisasian
29

Kartu Pengobatan Pasien Melihat


TB (TB.01)
Formulir

dokumen
Pemeriksaan

Dahak (TB.05)

dan

melakukan
pencatatan

Pencatatan dan pelaporan program TB

Lingkungan pemukiman warga dan

sekitar puskesmas
Jumlah pasien baru TB paru BTA +
Kategori obat yang dipilih
Hasil pemeriksaan dahak masing-

masing pasien
Jumlah pasien yang diobati
Jumlah pasien TB paru kambuh,

pindahan atau defaulter


Hasil pengobatan
Jumlah pasien TB paru usia anak (<15
tahun)

Koordinator

Program Wawancara

Tipe dan klasifikasi penyakit TB


Program penanggulangan TB Paru dan

kegiatannya di Puskesmas
Sumber daya manusia

penanggulangan TB
Metode medis, pelaksanaan medis,

Penanggulangan TB (Sr.
Diana)

program

dan pelatihan dokter dalam program


penanggulangan

TB

Paru

di

Puskesmas Kecamatan
Struktur organisasi, sistem pencatatan
dan

pelaporan

serta

pengawasan

progam TB
Pemantauan dan evaluasi progam TB
Evaluasi dan motivasi yang diberikan

selama proses konseling


Penyuluhan TB di Puskesmas
Kunjungan ke rumah untuk penemuan
kasus baru dan penilaian kepatuhan

berobat
PMO dan Kader
Lingkungan fisik dan non fisik
Masalah yang dihadapi dalam

program
DATA SEKUNDER
Data umum

Laporan Tahunan

Melihat

Data

demografi

dan

kependudukan
30

Kelurahan Pluit 2013

dokumen

dan

wilayah Kelurahan Pluit

melakukan
pencatatan
Data Khusus

Form

Register

Kabupaten/

TB Melihat
Kota dokumen

(TB.03)

dan

Jumlah pasien TB yang mendapat


pengobatan

melakukan

Kategori pengobatan pasien

pencatatan

Jumlah pasien TB paru usia anak (


15 tahun)yang mendapat pengobatan

Jumlah pasien baru TB paru BTA (+)

Jumlah pasien baru TB paru BTA (-)


dan rontgen (+)

Hasil pemeriksaan dahak masingmasing pasien

Jumlah pasien TB paru kasus baru,


kambuh, defauler, gagal, pindahan

Form

Daftar

Suspek

Jumlah pasien TB paru yang konversi


setelah fase intensif

(TB.06)

Jumlah pasien TB paru dengan hasil


pengobatan sembuh, lengkap, default,
pindah, meninggal

Kecocokan pendataan

Hasil pemeriksaan dahak masingmasing pasien

Kecocokan pendataan

31

BAB IV
PERUMUSAN MASALAH
Tabel 4.1. Perumusan Masalah
Perumusan masalah diambil berdasarkan indikator di Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis. Berikut hasil perbandingan antara keluaran dan target:
Keluaran

Rincian

Angka Penjaringan Suspek

Tidak

dapat

diukur

Hasil

Target

Masalah

26,09%

5-15%

(+)

75%

65%

(-)

karena

periode waktu indikator tidak


sesuai dengan periode waktu
laporan evaluasi program
Proporsi pasien TB paru BTA = 6 x 100%
23
positif diantara suspek yang
diperiksa dahaknya
Proporsi Pasien TB Paru BTA = 6
+ di antara Semua Pasien TB

x 100%

8
32

Paru Tercatat
Proporsi pasien

TB

anak = 6 x 100%

42,86

Berkisar

(+)

diantara seluruh pasien TB


Angka Konversi (Conversion

14
= 5 x 100%

%
100%

15%
80%

(-)

Rate
Angka Kesembuhan (Cure

5
= 1 x 100%

25%

85%

(+)

50%

10%

16.67%

Tidak ada

Rate)

Perlu diperhatikan
Angka default

= 2 x 100%
4

Angka pindah
= 1 x 100%

Angka Keberhasilan
Pengobatan

4
=1 x100%
4

tolak ukur

BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Perumusan Masalah
Berdasarkan data keluaran, masalah program TBC di Puskesmas Kelurahan Pluit adalah
sebagai berikut:
1. Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara suspek yang diperiksa dahaknya
adalah 26.09% (A) (target 5-15%)
2. Proporsi pasien TB anak diantara seluruh pasien TB adalah 42.86% (B) (target
15%)
3. Angka kesembuhan (Cure Rate) adalah 25% (C) (target 85%) dengan
memperhatikan angka default adalah 50%, (target 10%), dan angka pindah
25% (tidak ada target)
5.2 Prioritas Masalah
Prioritas masalah dinilai dengan sistem skoring yang akan menggambarkan
seberapa penting masalah yang diangkat. Adapun parameter yang digunakan adalah
sebagai berikut :

33

1.

Besarnya masalah, dilihat dari kesenjangan antara pencapaian dan

target :
- Skor 1 : 0-19,99%
-

Skor 2
Skor 3
Skor 4
Skor 5

: 20-39,99%
: 40-59,99%
: 60-79,99%
: 80-100%
Besarnya masalah dihitung dengan rumus
G =(kesenjangan)
EO
G = Gap
E = Expected (target yang ingin dicapai)
O = Output (data yang diperoleh di lapangan)

2. Berat ringannya akibat yang ditimbulkan oleh masalah tersebut :


-

Skor 1
Skor 2
Skor 3
Skor 4
Skor 5

: Tidak ada pengaruh terhadap masyarakat (tidak berat)


: Ragu-ragu antara 1-3
: Cukup berpengaruh terhadap masyarakat (kurang berat)
: Ragu-ragu antara 3-5
: Sangat berpengaruh terhadap masyarakat (berat sekali)

3. Kemampuan sumber daya (tenaga, biaya, waktu) untuk mengatasi masalah tersebut:
-

Skor 1
Skor 2
Skor 3
Skor 4
Skor 5

: Tidak dapat mengatasi


: Ragu-ragu antara 1-3
: Kurang dapat mengatasi
: Ragu-ragu antara 3-5
: Dapat mengatasi

4. Keuntungan sosial yang diperoleh (kecendungan masyarakat untuk melaksanakan


program):
-

Skor 1
Skor 2
Skor 3
Skor 4
Skor 5

: Keuntungan sosial rendah (tidak menarik masyarakat)


: Ragu-ragu antara 1-3
: Keuntungan sosial sedang (cukup menarik masyarakat)
: Ragu-ragu antara 3-5
: Keuntungan sosial tinggi (sangat menarik masyarakat)

5.3 Penjelasan sistem skoring


1. Besarnya masalah yang ditimbulkan
A. Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara suspek yang diperiksa
dahaknya adalah 26.09% (A) (target 5-15%)

Gap: 26.09% - 15% = 11.09% (skor 1)

B. Proporsi pasien TB anak diantara seluruh pasien TB adalah 42.86% (B)


(target 15%)
34

Gap: 42.86% - 15% = 27.86% (skor 2)

C. Angka kesembuhan (Cure Rate) adalah 25% (C) (target 85%) dengan
memperhatikan angka default adalah 50%, (target 10%), dan angka pindah
25% (tidak ada target)

Gap Cure Rate: 85% - 25% = 60% (skor 4)


o Gap default: 50%-10% = 40% (skor 3)

2. Berat ringan akibat yang ditimbulkan masalah tersebut


A. Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara suspek yang diperiksa dahaknya
adalah 26.09% (target 5-15%)
Indikator ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sanpai diagnosis
pasien, serta kepekaan menetapkan kriteria suspek. Angka yang terlalu tinggi
dibandingkan target disebabkan oleh 1) penjaringan yang terlalu ketat atau 2)
masalah dalam pemeriksaan laboratorium seperti hasil positif palsu. Di Puskesmas
Kelurahan Pluit angka proporsi ini tinggi karena banyak diantara suspek (22 dari
45 suspek) yang telah terdeteksi dan dirujuk untuk pemeriksaan sputum BTA tidak
kembali memeriksakan dahaknya sehingga angka suspek TB yang diperiksa
menjadi berkurang (23 dari 45 suspek), dimana angka BTA (+) adalah 6 pasien.
Penjaringan suspek di Puskesmas Kelurahan Pluit mengikuti Pedoman
Nasional Penanggulangan TB, dan sudah terlaksana dengan baik. Hal yang
menimbulkan angka indikator ini meningkat adalah karena banyak dari suspek
yang tidak memeriksakan dahaknya.
Dari 22 suspek yang tidak diperiksakan tersebut, masih ada kemungkinan ada
yang menderita TB Paru, namun tidak terdiagnosis, sehingga menularkan
penyakitnya ke orang yang disekitarnya tanpa diketahui, dan hal ini menjadi
masalah karena meningkatkan penularan TB Paru.
Sedangkan, untuk penilaian positif palsu dalam pemeriksaan laboratorium
tidak dapat dinilai di Puskesmas Kelurahan Pluit karena tidak memiliki
fasilitasnya. Dengan adanya kejadian positif palsu, dapat menyebabkan
peningkatan angka resistensi obat TB dan merugikan pasien akibat konsumsi OAT
yang rutin dan dapat menimbulkan berbagai efek samping. (Skor 5).
B. Proporsi pasien TB anak diantara seluruh pasien TB adalah 42.86% (target 15%)
35

Proporsi pasien TB anak menjadi salah satu indikator untuk menggambarkan


ketepatan diagnosis TB pada anak. Gejala TB pada anak yang seringkali tidak
khas, tergantung sistem imun anak dan kesulitan atau keterbatasan untuk
memeriksa seorang anak, sehingga diagnosis TB pada anak lebih sulit
dibandingkan pada orang dewasa.
Pada Puskesmas Kelurahan Pluit, proporsi pasien TB melebihi target. Hal ini
dapat menjadi masalah karena mencerminkan keadaan overdiagnosis. Pelayan
kesehatan pada Puskesmas Kelurahan Pluit mendiagnosa TB pada anak
menggunakan sistem skoring yang dilaksanakan dengan baik. Angka tinggi pada
indikator ini kemungkinan tinggi karena memang tingginya angka TB anak di
Puskesmas Kelurahan Pluit. Ada kemungkinan terjadi overdiagnosis karena
mantoux dapat memberikan hasil positif pada pasien tidak TB yang telah
mendapatkan vaksin BCG saat bayi. Overdiagnosis apat menyebabkan peningkatan
angka resistensi obat TB, terutama pada ank dan merugikan pasien akibat
konsumsi OAT yang rutin dan dapat menimbulkan berbagai efek samping. (skor:4)
C. Angka kesembuhan (Cure Rate) adalah 25% (target 85%) dengan memperhatikan
angka default adalah 50%, (target 10%), dan angka pindah 25% (tidak ada target)
Indikator ini dipakai untuk mengetahui hasil pengobatan pasien dengan TB
Paru BTA positif. Dengan tidak tercapainya target juga meningkatkan risiko TBMulti Resistant Drug (MDR) yang akan lebih sulit untuk diobati. Angka
kesembuhan yang rendah dapat dipengaruhi oleh banyaknya default atau pasien
yang gagal atau pasien yang meninggal ataupun pindah.
Di Puskesmas Kelurahan Pluit, terdapat 1 pasien yang kembali memeriksakan
dahaknya pada akhir pengobatan dan dinyatakan sembuh (25%), sedangkan 1
pasien masuk dalam kategori pindah (25%) karena pasien pindah rumah namun
mengaku akan meneruskan pengobatan di wilayah baru. Ada juga 2 pasien masuk
dalam kategori default karena setelah fase intensif selesai (50%), pasien tersebut
waktu

dilakukuan

kunjungan

kerumahnya

tidak

ada

di

tempat

tanpa

pemberitahuan. Masalah ini seringkali terjadi karena banyak penduduk di


Kelurahan Pluit yang merupakan penduduk musiman dengan tingkat pendidikan
rendah. Hal ini menunjukkan rendahnya kesadaran pasien tentang pentingnya
penyelesaian pengobatan TB untuk menurunkan resiko terjdinya TB-MDR.(Skor5)

36

3. Kemampuan sumber daya untuk mengatasi masalah


A. Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara suspek yang diperiksa dahaknya
adalah 26.09% (target 5-15%)
Menurut Pedoman Nasional Penanggulangan TB, angka proporsi pasien TB paru
BTA (+) di antara suspek yang diperiksa dahaknya dapat menjadi tinggi karena
penjaringan suspek yang terlalu ketat maupun hasil positif palsu. Namun di
Puskesmas Kelurahan Pluit, terdapat banyak suspek (48.89%%) yang tidak telah
dirujuk untuk melakukan pemeriksaan dahak, namun tidak kembali dengan hasil
pemeriksaannya. sehingga mengakibatkan jumlah suspek yang diperiksa dahaknya
berkurang dan berujung pada angka proporsi yang besar. Hal ini dapat dicegah,
apabila petugas kesehatan yang menyaring suspek TB terlebih dahulu mengedukasi
pasiennya mengenai pentingnya pemeriksaan dahak dalam pemberantasan TB
nasional serta membantu mengatasi hambatan yang mungkin dialami pasien untuk
melakukan pemeriksaan dahak. Penanggung jawab juga dapat melakukan
kunjungan rumah untuk menyelidiki penyebab pasien tidak kembali, hal tersebut
belum dilakukan. Namun keinginan dari suspek TB untuk kembali memeriksakan
dahaknya adalah suatu faktor yang berada di luar kendali. (Skor 4)
B. Proporsi pasien TB anak diantara seluruh pasien TB adalah 42.86% (target 15%)
Secara keseluruhan, Puskesmas Kelurahan Pluit memiliki fasilitas yang
memadai untuk menunjang diagnosis TB, dan dokter-dokter penyedia layanan
kesehatan primer di poli umum juga telah mendapatkan pelatihan yang memadai.
Tetapi memiliki keterbatasan tidak adanya fasilitas tes Mantoux. Suspek TB anak
akan dirujuk ke Puskesmas Kecamatan Penjaringan, atau Rumah Sakit lainnya
untuk melakukan tes Mantoux kemudian kembali membawa hasil sekaligus
melakukan skoring TB anak. Penanggung jawab TB dan dokter umum Puskesmas
Kelurahan Pluit mengaku mengikuti table sistem skoring secara baik. Jadi memang
kemungkinan angka TB anak di wilayah Puskesmas Kelurahan Pluit memang
tinggi. (skor:3)
C. Angka kesembuhan (Cure Rate) adalah 25% (target 85%) dengan memperhatikan
angka default adalah 50%, (target 10%), dan angka pindah 25% (tidak ada target)
Kesembuhan pasien TB ditentukan oleh pemeriksaan dahak dengan hasil
negatif pada akhir pengobatan dan satu pemeriksaan sebelumnya. Permasalahn
37

yang timbul pada wilayah Puskesmas Pluit adalah bahwa banyak dari penduduknya
merupakan penduduk musiman. Sehingga banyak yang datang dan pergi tanpa
pemberitahuan. Hal ini terjadi pada pasien TB sehingga angka default menjadi
tinggi (50%), yang akhirnya mengakibatkan angka kesembuhan yang menurun.
Angka kesembuhan yang rendah dapat berdampak buruk karena meningkatkan
jumlah TB MDR, yang dapat ditularkan ke masyarakat yang lebih luas.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memasukan kedalam
modul penyuluhan untuk mengedukasi pasien pada saat dengan baik apabila Ia
akan pindah tempat, Ia bisa diberikan obat dengan jumlah selama Ia pergi, atau Ia
dapat meregister di tempat yang memberikan pelayanan bagi pasien TB di wilayah
barunya. Edukasi ini dapat dilakukan bersamaan dengan kunjungan rumah,ataupun
edukasi individual saat pasien datang ke Puskesmas untuk mengambil obat.
Edukasi ini juga dapat diberikan kepada PMO dari pasien. (Skor 4)
4. Keuntungan sosial yang diperoleh
A. Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara suspek yang diperiksa dahaknya
adalah 26.09% (target 5-15%)
Salah satu penyebab dari angka proporsi yang besar di Puskesmas
Kelurahan Pluit adalah banyaknya suspek yang tidak melakukan pemeriksaan
dahak dan kembali membawa hasil dahaknya. Pada umumnya, penyebab tidak
kembalinya pasien tersebut tidak diselidiki oleh penanggunga jawab program
penanggulangan TB. Jika suspek TB yang diperiksa dahaknya lebih banyak,
maka penyakit TB yang dapat terdeteksi lebih banyak dan risiko penularan dapat
dicegah. (Skor 4)
B. Proporsi pasien TB anak diantara seluruh pasien TB adalah 42.86% (target 15%)
Bila memang terjadi overdiagnosis pada anak-anak yang didiagnosa
dengan TB anak pada Puskesmas Kelurahan Pluit. Dengan menurunkan angka
overdiagnosis, dapat diturunkan angka resistensi obat TB dan efek samping dari
OAT jangka panjang pada anak. Namun ada kemungkinan angka ini memang
tinggi karena memang jumlah TB anak di wilayah Puskesmas Kelurahan Pluit
memang tinggi, memang baik dapat terdiagnosa dan diobati. (skor :4)

38

C. Angka kesembuhan (Cure Rate) adalah 25% (target 85%) dengan memperhatikan
angka default adalah 50%, (target 10%), dan angka pindah 25% (tidak ada
target)
Angka kesembuhan yang tinggi memberikan keuntungan pada pasien
yang menderita TB berupa terbebas dari penyakit, kualitas hidup meningkat,
kemungkinan terjadi kekambuhan kecil dan masyarakat di sekitar tidak mendapat
risiko penularan. Kepatuhan pasien TB sendiri berpengaruh dalam angka
kesembuhan, sehingga pasien TB menjadi sadar bahwa TB merupakan penyakit
yang dapat sembuh dengan pengobatan teratur, sehingga pasien post berobat
OAT dapat memotivasi dan memberikan semangat untuk berobat teratur demi
kesembuhan pasien baru. (Skor 5)
5.4 Menentukan Prioritas Masalah menurut Parameter
Tabel 5.1 Prioritas Masalah menurut Parameter
dari

A
1

B
2

C
4

kesenjangan antara pencapaian dan target


Berat ringannya akibat yang ditimbulkan
Dapat ditanggulangi dengan sumber daya

5
4

4
3

5
4

yang ada
Keuntungan sosial
Total Skoring

5
15

5
14

5
18

Besarnya

Parameter
masalah
dihitung

Dari penentuan prioritas maka masalah yang mendapat prioritas utama adalah angka
kesembuhan (Cure Rate) lebih rendah dari target, yakni 25% (target 85%) dengan
memperhatikan angka default adalah 50%, (target 10%), dan angka pindah 25% (tidak
ada target)

39

5.5 Menentukan Penyebab Masalah dihubungkan dengan Prioritas Masalah


Jenis
Petugas TB

Kendala
INPUT
Petugas TB (Penanggung jawab program TB) berjumlah 1 orang (sesuai standar)
namun merangkap sebagai perawat puskesmas serta penanggung jawab program

Kader TB

lain (Kusta, UKS).


Tidak ada Kader TB di wilayah Kelurahan Pluit karena tidak ada dana yang
dialokasikan kepada pembentukan kader TB.

Penyuluhan

PROSES
Direncanakan penyuluhan individual untuk diadakan setiap jumat saat pasien

individual

mengambil obatnya oleh penanggung jawab program TB, namun tidak ada
susunan materi yang jelas seperti pada indikator. Tidak ada materi mengenai dapat
berobat ke layanan pengobatan TB di daerah lain bila pindah tempat. Seringkali
pula pasien datang mengambil obat sendiri tanpa didampingi PMO, sehingga

Penyuluhan

PMO tidak mendapat penyuluhan untuk membantu kesembuhan pasien.


Direncanakan penyuluhan kelompok penderita setiap bulan, namun tidak ada

kelompok

rancangan materi seperti tertera di indikator. Karena hanya ada satu petugas TB
yang sibuk, penyuluhan kelompok hanya dilaksanakan sekitar 2 kali/tahun dengan

Penyuluhan

topik yang tidak menentu.


Tidak ada perencanaan untuk diadakan penyuluhan kepada masyarakat, namun

masyarakat

terkadang dilakukan penyuluhan kepada masyarakat pasien di Puskesmas


Kelurahan Pluit di ruang tunggu oleh dokter muda dengan topik yang tidak

Pelacakan

menentu, sekitar 2x/tahun.


Pelacakan kasus berupa kunjungan rumah direncanakan untuk dilakukan 3 hari

kasus

setelah pasien

(kunjungan

pengobatan lanjutan tidak datang untuk mengambil obatnya. Namun karena

rumah)

Penanggung jawab TB hanya 1, yaitu merupakan satu-satunya perawat puskesmas

dalam pengobatan awal, dan 7 hari setelah pasien dalam

dan penanggung jawab program lain dan tidak ada kader khusus TB maka
terkadang dapat sampai 2-3 minggu baru dilakukan kunjungan kerumah pasien
yang tidak kembali mengambil obatnya pada waktu yang ditentukan, dan karena
penduduk Kelurahan Pluit banyan yang merupakan penduduk musiman, seringkali
ditemukan pasien sudah tidak ada di lokasi tanpa pemberitahuan.

40

5.6 Pohon Masalah


Angka kesembuhan kurang dari target yang tetapkan

kunjungan rumah)
Kurangnya
olehperencanaan
petugas TB terhadap
dan pelaksanaan
pasien yang
penyuluhan
terlambat
individual,
mengambil
kelompok,
obat maupun ma

uti alur kunjungan


Tidak
rumah
adayang
susunan
telahmateri
ditetapkan
khusus
Pedoman
yang jelas
Nasional
untukPenanggulangan
penyuluhan individu,
TB (Grafik
kelompok
1.8)

las untuk penyuluhan individu dan kelompok pasien dan PMO TB, dan mengikutsertakan materi bag
rumah sesuai dengan alur yang telah ditetapkan di Pedoman Nasional Penanggulangan TB (Grafik 1

Masalah

Akar masalah

Penyeselaian masalah
41

5.7 Pemecahan Masalah


1. Menyusun materi yang jelas untuk penyuluhan individu dan kelompok pasien
dan PMO TB, dan mengikutsertakan materi bagaimana cara untuk meneruskan
pengobatan walapun pindah wilayah.
Pelaksana

Petugas program penanggulangan TB dan dokter Puskesmas

Waktu

Kelurahan Pluit.
Individu (pasien dan PMO): Minimal 6 kali selama masa pengobatan
Kelompok (penderita/PMO/TOMA): 1 kali/bulan

Tempat
Materi

Masyarakat: 2x/tahun
Poli TB dan aula/ruang tunggu Puskesmas Kelurahan Pluit
Materi tentang TB:

Penyebab TB

Cara penularan TB

Gejala-gejala penyakit TBC


42

Bahaya TB

Pengobatan: Cara minum obat, evaluasi pengobatan, keluhan


yang mungkin timbul akibat obat

Cara pencegahan penularan

+ materi khusus kelompok:

Gambaran TB di Indonesia

Peran PMO dalam kesembuhan penderita

Peran TOMA dalam penemuan dan pencegahan penyebaran


TB.

+ materi khusus untuk pasien:

Bagaimana cara untuk melanjutkan pengobatan TB di


wilayah lain (karena banyak penduduk Kelurahan Pluit

Sasaran

adalah penduduk musiman).


Individu: Pasien dan PMO
Kelompok: Penderita/PMO/TOMA

Tujuan

Masyarakat: Umum/pasien Puskesmas Kelurahan Pluit


Meningkatkan pengetahuan pasien TB, PMO , dan masyarakat akan

Cara

penyakit TB dan pentingnya menyelesaikan pengobatan TB


Petugas TB dan dokter Puskesmas Kelurahan Pluit menyusun
jadwal pelaksanaan promosi/penyuluhan kesehatan tentang TB
dan pengobatan TB dengan menentukan topik materi untuk

setiap penyuluhan.
Petugas TB mempersiapkan tempat dan kesepakatan tempat

terlaksananya promosi/penyuluhan kesehatan TB


Petugas TB dan dokter Puskesmas Kelurahan Pluit menyiapkan
berbagai media komunikasi untuk membantu penyampaian
materi seperti PowerPoint slideshow, flipchart, poster, dan

pamflet.
Petugas TB melakukan sosialisasi acara promosi/penyuluhan
TB melalui:
-

Informasi di Puskesmas pada saat pengambilan obat

Poster dan pamflet

Informasi yang di perantarai kader, ketua RT, ketua RW

Petugas TB dan dokter puskesmas mengenal pasien agar


43

tercipta relasi baik untuk memperlancar bimbingan dan dapat


menangani bila ada masalah.
2. Melakukan penyesuaian pelaksanaan kunjungan rumah sesuai dengan alur yang
telah ditetapkan di Pedoman Nasional Penanggulangan TB (Grafik 1.8)
Pelaksana
Waktu

Petugas TB Puskesmas Kelurahan Pluit


Saat pasien terlambat mengambil obat

Tempat
Materi

Pengobatan awal: 3 hari

Pengobatan lanjutan: 7 hari


Rumah Pasien TB yang berobat di Puskesmas Kelurahan Pluit
Pada pasien dengan keterlambatan mengambil obat

Fase Awal: Terlambat > 3 hari dari tanggal yang ditentukan

Fase Lanjutan: Terlambat > 7 hari dari tanggal yang


ditentukan

Menghubungi melalui telfon untuk mengingatkan jadwal


pengambilan obat pasien
Apabila masih belum datang, atau tidak dapat dihubungi, maka
dilakukan kunjungan rumah.
Pengisian checklist kunjungan rumah DO dan penyuluhan
kepada pasien beserta PMO dan keluarga
Sasaran
Tujuan

Mengevaluasi ketepatan pengambilan obat pasien dan PMO.


Pasien TB yang berobat di Puskesmas Kelurahan Pluit
Meningkatkan angka kesembuhan dari pasien TB yang berobat di

Cara

Puskesmas Kelurahan Pluit.


Bekerja sama dengan kepala Puskesmas untuk mengingatkan
petugas TB untuk melakukan penyesuaian pelaksanaan kunjungan
rumah sesuai dengan alur yang telah ditetapkan di Pedoman
Nasional Penanggulangan TB (Grafik 1.8)

44

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Dari hasil keluaran evaluasi kinerja Program Penanggulangan TB di Puskesmas
Kelurahan Pluit periode November 2013-Oktober 2014, masih ditemukan beberapa
indikator keluaran yang tidak memenuhi target.
Dari sistem skoring didapatkan masalah yang diprioritaskan adalah rendahnya
angka kesembuhan (Cure Rate) yaitu 25% (target 85%) dengan memperhatikan angka
default adalah 50%, (target 10%), dan angka pindah 25% (tidak ada target). Hal ini
dapat disebabkan oleh kurangnya pelaksanaan pelacakan kasus berupa kunjungan rumah
kepada pasien yang terlambat mengambil obat TB sesuai jadwal yang ditentukan untuk
memeriksa kepatuan berobat, edukasi, dan motivasi kesembuhan penderita. Sehingga,
angka

kesembuhan

rendah

karena

banyak

pasien

yang

tidak

menuntaskan

pengobatannya. Selain itu karena tidak adanya susunan materi khusus yang jelas untuk
penyuluhan individu maupun kelompok, dan pelaksanaan dari penyuluhan yang kurang
baik, sehingga kurang pengetahuan dan kesadaran pasien dan PMO tentang pentingnya
pengobatan TB yang tuntas.
45

6.2. Saran
Beberapa saran yang diajukan untuk meningkatkan angka kesembuhan antara lain:
1. Menyusun materi yang jelas untuk penyuluhan individu dan kelompok pasien
dan PMO TB, dan mengikutsertakan materi bagaimana cara untuk meneruskan
pengobatan walapun pindah wilayah.
2. Melakukan penyesuaian pelaksanaan kunjungan rumah sesuai dengan alur
yang telah ditetapkan di Pedoman Nasional Penanggulangan TB (Grafik 1.8)
Dengan pelaksanaan metode penyelesaian masalah yang telah dianjurkan,
diharapkan akan terjadi peningkatan angka kesembuhan, dimana pasien akan mengerti
pentingnya pengobatan TB secara tuntas, sehingga terjadi pemutusan rantai penularan
TB yang kemudian dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat TB serta
mencegah terjadinya kasus MDR-TB di Kelurahan Pluit.

DAFTAR PUSTAKA
1. "Tuberculosis." WHO. World Health Organization, Oct. 2014. Web. 14 Nov. 2014.
<http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs104/en/>.
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis. Jakarta; 2011. 3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
tahun 2013. Jakarta; 2013.
3. Profil Kesehatan Indonesia 2013
4. Strategi Nasional Pengendalian TB di Indonesia 2010-2014
5. Seksi PMKES SUDINKES JAKUT. Jumlah Kasus TB paru dan Angka Penemuan
Kasus menurut Kecammatan Kabupaten Jakarta Utara. Jakarta;2012.
6. Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan Penjaringan. Jakarta;2012.
7. Laporan tahunan Puskesmas Kelurahan Pluit
8. International Standard for Tuberculosis Care. 3rd ed. N.p.: World Health
Organisation, 2014. TB CARE 1 USAID, 2014. Web.
9. Model Intervensi Untuk Menurunkan Drop Out TBC. 2nd ed. Vol. 1. N.p.: Dinas
Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, 2005. Print. Pedoman Penanggulangan Drop Out
TBC Di Puskesmas.

46

Lampiran 1
Hasil Wawancara dengan Sr. Diana selaku koordinator Program Penanggulangan TB
Puskesmas Kelurahan Pluit
Program penanggulangan TB serta kegiatannya
Program penanggulangan TB di Puskesmas Kelurahan Pluit sebagai berikut:
Untuk menjaring suspek, dilakukan dengan pasif dengan promosi aktif oleh petugas di
Balai Pengobatan Umum. Kemudian pasien yang dianggap suspek yang ditandai dengan
gejala klinis, dilakukan rujukan pemeriksaan laboratorium (dahak SPS) atau pencitraan di
Puskesmas Kecamatan Penjaringan untuk menunjang penegakkan diagnosis. Untuk pasien
anak, akan di lakukan penilaian skoring TB anak dan membuat rujukan test Mantoux ke
Puskesmas Kecamat Penjaringan atau Rumah Sakit. Pasien akan diminta kembali ke BPU
membawa hasil labnya untuk ditegakkan suatu diagnosis. Setelah diagnosis tegak, pasien
diberikan pengobatan TB dan jadwal kontrol untuk mengambil obat yang biasanya adalah
setiap minggu hari jumat. Pasien diminta memeriksa dahak ulang setelah pengobatan masa
intensif, bulan ke-5 dan setelah selesai pengobatan. Kategori pengobatan yang diberikan
telah disesuaikan dengan pedoman nasional.
Sumber daya manusia pada program penanggulangan TB

47

Dalam Puskesmas Kelurahan Pluit, penanggung jawab program penanggulangan TB


adalah perawat yang merangkap sebagai petugas penanggulangan Kusta dan UKS. Jam kerja
rutin setiap Senin sampai Sabtu pukul 07.00-16.00 WIB
Dana untuk program penanggulangan TB
Dana diperoleh dari BOP (Bantuan Operasional Puskesmas) dan dana mencukupi.
Metode

medis,

pelaksanaan

medis

dan

pelatihan

dokter

dalam

program

penanggulangan TB
Untuk metode medis, pelaksanaan medis sesuai dengan Pedoman Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis. Pelatihan dokter dan petugas kesehatan setiap tahun ada,
tetapi sifatnya bergilir. Pelatihan oleh Puskesmas Kecamatan tidak rutin, tetapi hanya sesuai
kebutuhan.
Pemantauan dan evaluasi program penanggulangan TB
Rapat pemantauan dan evaluasi sebenarnya rutin di lakukan oleh Puskesmas Kelurahan Pluit
setiap bulan, tetapi tidak selalu membahas tentang penanggulangan TB.
Data mengenai strategi PMO dan kader
Setiap pasien didampingi oleh PMO yang merupakan kerabat paling dekat dan berpengaruh
dengan pasien. PMO juga mendapatkan penyuluhan mengenai TB. Kader belum ada yang
aktif untuk membantu penanggulangan TB.
Masalah dan kendala dalam program
Kendala yang dihadapi adalah masyarakat banyak yang merupakan penduduk musiman dan
kurang peka terhadap pentingnya tuntas pengobatan TB, sehingga seringkali terjadi kasus
default, dimana saat dilakukan kunjungan kerumah pasien, pasien sudah tidak ada di tempat
tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

48

49

Lampiran 2
Data yang diperoleh dari Puskesmas Kelurahan Pluit
Tabel 1: data masukan yang didapatkan dari Puskesmas Kelurahan Pluit
Variabel
Tenaga

Indikator
1. Dokter umum
2. Perawat/Petugas TB

Data yang ada


Terdapat 1 dokter umum di BPU dengan jadwal

pelayanan hari Senin-Sabtu, pukul 07.00-16.00


Terdapat 1 perawat yang juga merangkap
sebagai petugas TB, Kusta, UKS dengan jadwal

3. Petugas Administrasi

pelayanan hari Senin-Sabtu, pukul 07.00-16.00


Terdapat 1 orang petugas administrasi dan
jadwal pelayanan hari Senin-Sabtu, pukul

4. Kader TB

Dana

1. Berasal dari APBD dan APBN


2. Mencukupi dan turun sesuai
jadwal

Sarana

APBD dan APBN


Dana yang ada mencukupi dan turun sesuai
namun

tidak

ada

dana

untuk

pembentukan Kader TB.


Sarana medis tersedia:

Inventaris:

Inventaris

Termometer
Stetoskop
Masker
Timbangan
OAT
4. Non Medis:
Form TB UPK (TB.01,

Puskesmas Kelurahan Pluit


Terdapat laporan dana dan yang berasal dari

jadwal,

3. Medis

TB.02,

TB.03,

TB.04,

TB.05,

TB.06,

TB.09,

TB.10)
Sarana

07.00-16.00
Tidak terdapat Kader Khusus TB di wilayah

penyuluhan

dan

edukasi TB
o Materi penyuluhan
o Pamflet TB
o Poster TB

Ada dan mencukupi


Ada dan mencukupi
Ada dan mencukupi
Ada dan mencukupi
Ada dan mencukupi
Sarana non medis tersedia:
Ada dan mencukupi

Ada dan mencukupi


Ada dan mencukupi
Ada dan mencukupi tertempel pada dinding

Poli TB, BPU, dan Ruang tunggu


Ada untuk individu, kelompok, dan umum.
50


Metode

o Tempat penyuluhan
Ruangan Poli TB

2. Medis:
Alur Kinerja

Ada, tertata rapi dan bersih dengan ventilasi


yang baik.

Metode medis dijalankan:


Dilaksanakan menurut Grafik 1.1

Penanggulangan TB
Alur Pemeriksaan

Dilaksanakan menurut Grafik 1.2

Dilaksanakan menurut Grafik 1.3

Dilaksanakan menurut Grafik 1.4

Dilaksanakan menurut Grafik 1.5

Laboratorium Suspek TB

Dewasa
Alur Pemeriksaan Lab TB
Dewasa Pengobatan

Intensif
Diagnosis TB Anak

2. Non medis:

Alur

Obat (PMO)
Alur Konseling Pasien TB

Dilaksanakan menurut Grafik 1.6

Dalam Pengobatan
Alur Program Promosi

Dilaksanakan menurut Grafik 1.7

Kesehatan
Alur Kunjungan Rumah

Dilaksanakan menurut Grafik 1.8

Pelacakan kasus
Alur
Pengembangan

Dilaksanakan menurut Grafik 1.9

Pengawas

Minum

Pelatihan Petugas TB

Tabel 2: Data Proses yang didapatkan dari Puskesmas Kelurahan Pluit


Variabel
Perencanaan

Indikator
Promosi Kesehatan:

Data yang ada

Penyuluhan
o Individu:

o Direncanakan penyuluhan individual, namun


tidak ada susunan materi yang jelas seperti
pada indikator. Tidak ada materi mengenai
dapat berobat ke layanan pengobatan TB di
didaerah lain bila pindah tempat.
51

o Kelompok:

o Direncanakan

penyuluhan

kelompok

penderita setiap bulan, namun tidak ada


rangangan materi seperti tertera di indikator.
o Tidak direncanakan penyuluhan kepada

o Masyarakat:

masyarakat umum mengenai TB

Pelacakan kasus

Direncanakan pada pasien dengan keterlambatan

(Kunjungan rumah)

mengambil obat

Fase Awal: Terlambat > 3 hari dari


tanggal yang ditentukan

Fase Lanjutan: Terlambat > 7 hari dari


tanggal yang ditentukan

Direncanakan untuk menghubungi melalui


telfon untuk mengingatkan, bila masih belum
datang, dilakukan kunjungan rumah.
Direncanakan

melakukan

checklist

kunjungan rumah dan penyuluhan pasien


beserta PMO dan Keluarga
Pengorganisasi

Hierarki pembagian tugas

an

Hierarki Pembagian tugas yang jelas antara


tenaga medis dan non medis di Puskesmas
Kelurahan Pluit

Pelaksanaan

Kinerja Penanggulangan

Dilaksanakan menurut Grafik 1.1

TB
Pemeriksaan Lab Suspek

Dilaksanakan menurut Grafik 1.2

TB dewasa
Pemeriksaan

Dilaksanakan menurut Grafik 1.3

Dilaksanakan menurut Grafik 1.4


Dilaksanakan menurut Grafik 1.5
Dilaksanakan menurut Grafik 1.6

dewasa

Lab

TB

pengobatan

intensif
Diagnosis TB anak
Pengawas Minum Obat
Konseling Pasien TB
dalam pengobatan

Direncanakan penyuluhan individual untuk


52

Program

diadakan setiap jumat saat pasien mengambil

Promosi

obatnya oleh penanggung jawab program

Kesehatan (Penyuluhan)

TB, namun tidak ada susunan materi yang


jelas seperti pada indikator. Tidak ada materi
mengenai

dapat

berobat

ke

layanan

pengobatan TB di daerah lain bila pindah


tempat.

Seringkali

pula

pasien

datang

mengambil obat sendiri tanpa didampingi


PMO,

sehingga

PMO

tidak

mendapat

penyuluhan untuk membantu kesembuhan


pasien. Direncanakan penyuluhan kelompok
penderita setiap bulan, namun tidak ada
rangangan materi seperti tertera di indikator.
Karena hanya ada satu petugas TB yang
sibuk,

penyuluhan

kelompok

hanya

dilaksanakan sekitar 2 kali/tahun dengan


topik yang tidak menentu. Tidak ada
perencanaan untuk diadakan penyuluhan

Pelacakan

kasus

kepada

(Kunjungan Rumah)

masyarakat,

namun

terkadang

dilakukan penyuluhan kepada masyarakat


pasien di Puskesmas Kelurahan Pluit di
ruang tunggu oleh dokter muda dengan topik
yang tidak menentu, sekitar 2x/tahun.

Pengembangan Pelatihan

Karena Penanggung jawab TB hanya 1, yaitu


merupakan satu-satunya perawat puskesmas

Petugas TB

dan tidak ada kader khusus TB maka


terkadang dapat sampai 2 minggu baru
dilakukan kunjungan kerumah pasien yang
tidak kembali mengambil obatnya pada
waktu yang ditentukan.

Dilaksanakan menurut Grafik 1.9 untuk


53

pengembangan pelatihan petugas TB yang


pertama, namun tidak ada pelatihan ulangan
Pencatatan dan

Pelaporan

Pencatatan dan pelaporan


form

TB

di

untuk penyegaran materi secara rutin.


Ada dan dilakukan

UPK

(TB.01, TB.02, TB.03,


TB.04,

TB.05,

TB.06,

TB.09,

TB.10)

sesuai

dengan

Pedoman

Nasional
Penanggulangan
Pengawasan

Tuberkulosis
Monitoring dan

Ada dan dilakukan

supervisi laporan-laposan
form TB setiap 3 bulan.
Laporan dari puskesmas
kelurahan dilaporkan
kepada Puskesmas
Kecamatan.
Tabel data keluaran yang didapatkan dari Puskesmas Kelurahan Pluit telah dijabarkan di
BAB IV
Tabel 3: Tabel data lingkungan yang didapatkan dari Puskesmas Kelurahan Pluit
Variabel
Lingkungan Fisik

Indikator
Lokasi

Transportasi

Data yang ada


Lokasi mudah dijangkau dengan berjalan

kaki dan kendaraan umum


Transportasi mudah didapat, cepat dan

murah
Fasilitas kesehatan lainnya bisa bekerja

sama
Masih

Fasilitas kesehatan lain

Keadaan
penduduk

perumahan

banyak

terdapat

rumah-rumah

kumuh dengan pencahayaan dan ventilasi


yang buruk di Kelurahan Pluit, khususnya
di daerah empang
54

Lingkungan Non-

Pendidikan

fisik

Pasien yang berkunjung ke Puskesmas


Kelurahan Pluit kebanyakan yang
berpendidikan rendah (dibawah tingkat

Sosial ekonomi

SMA)
Kebanyakan pasien yang berkunjung ke
Puskesmas Kelurahan Pluit tingkat sosial
ekonomi menengah-rendah, dan banyak

Agama

penduduk musiman yang sering pindah.


Agama tidak menjadi faktor penghambat
terlaksananya program

Tabel 4: Data umpan balik yang didapatkan dari Puskesmas Kelurahan Pluit
Variabel
Umpan Balik

Pertemuan

Indikator
1x/bulan

dengan

Puskesmas

mengenai

laporan

Data yang ada


Dilakukan

kegiatan.
- Menganalisis jalannya kegiatan TB
- Menentukan prioritas masalah tidak
terpenuhinya target
- Menentukan solusi yang mampu
dilaksanakan.

55

56