Anda di halaman 1dari 33

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kopsia merupakan tanaman yang termasuk kedalam family apocynaceae,
tanaman ini termasuk tanaman hias yang diminati banyak orang karena memiliki
bunga yang indah dan banyak serta bentuk tajuk yang rapih sehingga membuat
halaman rumah ataupun taman menjadi indah, penggemarnya bervariasi mulai
dari kalangan elit sampai kalangan bawah.
Tingginya minat masyarakat untuk menanam kopsia memacu para petani
bunga untuk berlomba membudidayakan tanaman kopsia. Ketika minat untuk
menanam tanaman ini semakin tinggi, otomatis permintaan atas bibit kopsia
sendiri akan meningkat, karena tingginya permintaan maka dibutuhkan
perbanyakan tanaman yang praktis dan cepat. Dalam membudidayakan tanaman
hias, ada beberapa cara atau teknik yang bisa dilakukan. Hasil atau keluaran yang
didapat dari setiap cara pembudidayaan tanaman hias ini adalah berbeda-beda.
Jadi dalam memilih teknik membudidayakan atau mengembangbiakkan harus
disesuaikan dengan hasil yang ingin diperoleh dan jenis tanaman yang akan
dikembangbiakan. Misalnya saja jika kita ingin memperbanyak atau
mengembangbiakkan kopsia, kita dapat menggunakan teknik biji, sambung, stek
dan cangkok. Dari beberapa cara pembiakkan yang disebutkan tersebut, teknik
sambung adalah teknik yang paling sering digunakan.
Teknik menyambung sering digunakan oleh para penggemar tanaman hias
untuk menyempurnakan keunikan tanaman hias mereka. (Yuliati & Ruwanto,
2008). Teknik sambung susu adalah salah satu dari teknik sambung yang gampang
dilakukan dan menghasilkan bibit yang banyak serta unggul, sambung susu juga
memiliki presentasi keberhasilan yang tinggi berkisar 80-90%.
Dengan memiliki kopsia yang unik dan menarik, akan menjadi kepuasan bagi
para penggemar tanaman hias. Dalam makalah ini akan membahas teknik
sambung susu pada tanaman Kopsia arborea dengan Kopsia fruticosa.

1.2. Tujuan

Untuk mengetahui cara perbanyakan tanaman secara sambung susu,


syarat pemilihan batang atas batang bawah serta hasil dari sambung susu tanaman
kopsia.

1.3.

Manfaat
Dengan melakukan penelitian teknik perbanyakan vegetatif secara

sambung susu memberikan manfaat bagi penulis didalam mengenal tanaman


kopsia dan kelebihan teknik perbanyakan kopsia secara sambung susu.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi Tanaman Kopsia


Tanaman kopsia yang paling banyak diminati adalah Kopsia Arborea
dengan Kopsia frutocosa, tanaman tersebut memiliki klasifikasi sebagai berikut,
Kingdom: Plantae (Tumbuhan), Divisi: Spermatophyta, Super divisi:
Angiospermae, Kelas : Dicotyledonae, Ordo : Gentianales, Family: Apocynaceae,
Genus: Kopsia, Species: Kopsia arborea dan Kopsia fruticosa (Dapat dilihat pada
gambar 2.1.) (Wikipedia).

Gambar 2.1. Tanaman Kopsia arborea dan Kopsia fruticosa


Penyebaran Kopsia arborea terdapat di Kepulauan Andaman dan
Nikobar, selatan Cina, Thailand, Vietnam, Semenanjung Malaysia, Borneo,
Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara Kepulauan, Sulawesi, Filipina, Queensland.
Habitat, tumbuh di berbagai hutan tipe seperti pohon bawah dan di hutan margin
pada berbagai jenis tanah, dapat tumbuh pada ketinngian 1500 mdpl. (Middleton,
2004)
Sedangkan Kopsia fruticosa penyebaranya di Burma (Tenasserim), juga
banyak dibudidayakan di Indonesia. Deskripsi asli menunjukkan tanaman berasal
dari Pegu, tapi tidak ada koleksi telah terlihat dari yang jauh di Utara.
(Middleton, 2004)

2.2.

Morfologi Tanaman Kopsia

Morfologi atau bagian bagaia tanaman dari kopsia arborea dan fruticosa
adalah sebagai berikut :
2.2.1. Kopsia Arborea
Tumbuhan berbentuk Pohon atau perdu , tinggi mencapai 14 m, diameter
batang 30 cm. Warna kulit abu-abu dan kuliat bagian dalam berwarna coklat
pucat. Anak cabang gundul. Daun Tunggal, memiliki tangkai daun sepanjang 3
10 mm, panjang dan lebar helaian daun 4.5-30,5 1.4-12,0 cm. Bunga berada di
ujung ranting. Bunga berkelamin dua, bertangkai sedang dan beraturan. Jumlah
kelopak daun dan kelopak bunga 5. Buah berdaging. Biji 1-2 biji per buah,
ukurannya kecil sampai sedang (Middleton, 2004)

Gambar 2.2. Morfologi Kopsia Arborea. A, Daun; B diseksi bunga; C, ovarium;


D, buah. Dari Hu 11985 ( A , B , C ) dan Kostermans 7673 ( D ).
Skala bar = 1 cm ( A , B , D ) ; 1 mm ( C )

2.2.2

Kopsia fruticosa
Pohon atau perdu, tinggi pohon mencapai 3 m, lebih pendek dibandingkan

degan kopsia arborea. Pertumbuhannya terbilang lambat.Warna kulit keabuabuan. Jarang memiliki anak cabang. Daun, panjang tangkai daun 5 12 mm,

panjang dang lebar helaian daub 5.4-22.0 2.5-10,2 cm. Bunganya berwana pink
atau putih dan lebih besar dibandingkan kopsia arborea. Panjang dan lebar
kelopak bunga 1,7 2,5 1.2-2.2 mm, berbentuk bulat telur atau lonjong.
Mahkota bunga sebagian besar berwarna putih atau merah muda pucat (Dapat
dilihat pada gambar 2.3.) Family Apocynacaeae ini mampu berbunga sepanjang
tahun (Middleton, 2004), Kopsia arborea berbunga pada umur 5 bulan setelah
tanam dengan perbanyakan dari biji namun bisa juga berbunga 1 tahun setelah
tanam tergantung perlakuan yang diberikan.
Gambar 2.3. Kopsia fruticosa
2.3.

Perbanyakan Vegetatif

Ada lima cara perbanyakan vegetatif buatan untuk tanaman buah yang
sudah dikenal oleh para penangkar bibit dan petani yaitu cara penyambungan,
okulasi, penyusuan, cangkok dan setek. Pada tiga cara yang pertama dikenal
adanya istilah batang bawah dan batang atas. Perbanyakan tanaman dengan biji
(generatif) terutama dilakukan untuk penyediaan batang bawah yang nantinya
akan diokulasi atau disambung dengan batang atas dari jenis unggul. Perbanyakan
dengan biji juga masih dilakukan terutama pada tanaman tertentu yang bila
diperbanyak dengan cara vegetatif menjadi tidak efisien (tanaman buah tak
berkayu). (Nugroho, et.al, 2006)
Pada dasarnya setiap komoditas mempunyai karakter sendiri dalam hal
perbanyakan bibit. Perbanyakan tanaman kopsia sebaiknya harus berasal dari
perbanyakan vegetatif. Teknik perbanyakan ini sederhana, dimana media yang
digunakan dapat diperoleh dengan mudah. Selain itu berdasarkan beberapa uji
coba perbanyakan, teknik perbanyakan dengan metode ini menempati tingkat
keberhasilan terbaik yaitu mencapai 90% (Harsono, 2000).

Namun, teknik ini akan merusak indukan tanaman yang ada dan hasil
bibit baru yang didapatkan lebih sedikit bila dibandingkan dengan teknik okulasi
misalnya. Mengamati beberapa jenis tanaman, ternyata teknik perbanyakan
sambung susu adalah jalan satu-satunya yang paling efektif dan efisien dalam
memperbanyak jumlah tanaman.
Apabila diperbanyak dari biji maka bibit yang dihasilkan tidak bersifat
unggul walaupun induknya unggul. Melalui perbanyakan vegetatif sifat asli
kopsia unggul bisa dipertahankan. Hasil perbanyakan itu kelak akan memiliki
sifat identik dengan induknya. Kelebihan bibit vegetatif yaitu selain berbuahnya
persis sama dengan induknya, bibit juga berumur genjah (cepat berbuah)
(Nugroho, et.al, 2006). Selain itu, karena induknya dipilih yang bebas hama dan
penyakit, maka bibit pun akan ikut sehat dan tidak cacat.

III. METODE PELAKSANAAN

3.1.

Tempat dan Waktu


Penelitian ini dilakukan pada tanggal 16 Februari 2016 di Pembibitan

Reintroduksi Tumbuhan Langka Kebun Raya Bogor, Jalan Ir. Juanda nomor. 13
kota Bogor Jawa Barat.

3.2.

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada sambung susu adalah silet, plastik, pisau

sambung susu, gunting tanaman, kamera dan buku. Bahan yang digunakan adalah
bibit tanaman Kopsia arborea dengan Kopsia fruticosa yang berasal dari biji dan
memiliki tinggi 80 cm dan sudah berbunga.

3.3.

Metodologi
Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan

laporan hasil praktek kerja lapang ini yaitu :


1) Observasi, merupakan pengamatan secara langsung mengenai tahapantahapan yang dilakukan dalam proses perbanyakan tanaman dengan teknik
sambung susu pada tanaman kopsia.
2) Wawancara, yakni proses pengumpulan informasi secara langsung dilakukan
melalui wawancara dengan pembimbing lapangan serta karyawan di
Reintroduksi Kebun Raya Bogor tentang perbanyakan tanaman dengan teknik
sambung susu pada tanaman kopsia.
3) Kegiatan Secara Langsung, kegiatan praktek kerja lapang ini dilakukan mulai
dari pengenalan perbanyakan tanaman dengan teknik sambung susu pada
tanaman kopsia. Seluruh kegiatan ini dilakukan sesuai dengan prosedur yang
berlaku di Kebun Raya Bogor dan juga dilakukan pengamatan dan pencatatan
data untuk membuat laporan.
4) Studi Pustaka, untuk memperkuat argumentasi dan hasil temuan dilapangan,
penulis mencari referensi pendukung dan teori berkaitan dengan materi
pembahasan agar terjadi korelasi antara teori dengan aplikasi dilapangan.

Sumber referensi yang dipakai penulis berupa buku teks, jurnal, blog dan
media informatif lainnya.
3.4.

Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan pada saat melakukan Praktek Kerja Lapang

di Kebun Raya Bogor yakni mengamati tanaman-tanaman langka dan berpotensi,


mengamati hasil-hasil pembibitan serta hasil dari perbanyakan tanaman secara
vegetatif maupun generatif.

3.5.

Kegiatan Praktek Kerja Lapang


Kegiatan yang dilakukan selama Praktek Kerja Lapang yakni

membersihkan areal pembibitan dari daun-daun setiap paginya, lalu dilanjutkan


dengan melakukan repotting atau transplanting tanaman di saung kerja
reintroduksi, setelah itu mengamati tanaman-tanaman dan membersihkannya dari
gulma serta melakukan teknik perbanyakan tanaman secara dengan tahap
pelaksanannya sebagai berikut :
1. Persiapan alat dan bahan yang akan digunakan sebagai perbanyakan
tanaman secara sambung susu.
2. Pemilihan batang bawah yang berasal dari perbanyakan generatif
3. Pemilihan batang atas sebagai pohon induk
4. Pelaksanaan perbanyakan tanaman secara sambung susu.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Sejarah Kebun Raya Bogor


Pada tahun 1811, ketika perang Napoleon di eropa, Indonesia pada waktu

itu bernama Hindia Belanda atau Nederlandsch Indie, direbut oleh Inggris dari
kekuasaan Belanda. Ketika Napoleon jatuh (1815/1816) para pemimpin negara di
Eropa membuat perjanjian, antara lain tentang pembagian wilayah kekuasaan.
Pada tahun 1816 Inggris menggembalikan kekuasaan Indonesia ke tangan
Belanda. Peperangan yang terjadi di Eropa menyebabkan Belanda mengalami
kelesuan, Kerajaan Belanda mengembangkan ilmu pengetahuan, untuk ini
dikirimlah C.Th.Elout, A.A Boykens dan G.A.G.P. Baron Van Der Capellen, ke
Indonesia dan Dr. Casper Goerge Carl Reinwardt selaku penasehat.
Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt adalah seseorang berkebangsaan
Jerman yang berpindah ke Belanda dan menjadi ilmuwan botani dan kimia. Ia lalu
diangkat menjadi menteri bidang pertanian, seni, dan ilmu pengetahuan di Jawa
dan sekitarnya. Ia tertarik menyelidiki berbagai tanaman yang digunakan untuk
pengobatan. Ia memutuskan untuk mengumpulkan semua tanaman ini di sebuah
kebun botani di Kota Bogor, yang saat itu disebut Buitenzorg (dari bahasa
Belanda yang berarti tidak perlu khawatir). Reinwardt juga menjadi perintis di
bidang pembuatan herbarium.
Pada tanggal 15 April 1817 Reinwardt mencetuskan gagasannya untuk
mendirikan Kebun Botani yang disampaikan kepada G.A.G.P. Baron Van Der
Capellen, Komisaris Jendral Hindia Belanda dan beliau akhirnya menyetujui
gagasan Reinwardt. Pada tahun 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal Godert
Alexander Gerard Philip van der Capellen secara resmi mendirikan Kebun Raya
Bogor dengan nama Lands Plantentuinte Buitenzorg. Pendiriannya diawali
dengan menancapkan ayunan cangkul pertama di bumi Pajajaran sebagai pertanda
dibangunnya pembangunan kebun itu, yang pelaksanaannya dipimpin oleh
Reinwardt sendiri, dibantu oleh James Hooper dan W. Kent (dari Kebun Botani
Kew yang terkenal di Richmond, Inggris). Pada mulanya kebun ini hanya akan
digunakan sebagai kebun percobaan bagi tanaman perkebunan yang akan
diperkenalkan ke Hindia-Belanda (kini Indonesia). Sekitar 47 hektar tanah di
sekitar Istana Bogor dan bekas samida dijadikan lahan pertama untuk kebun
botani. Reinwardt menjadi pengarah pertamanya dari 1817 sampai 1822.

Kesempatan ini digunakannya untuk mengumpulkan tanaman dan benih dari


bagian lain Nusantara. Dengan segera Bogor menjadi pusat pengembangan
pertanian dan hortikultura di Indonesia. Pada masa itu diperkirakan sekitar 900
tanaman hidup ditanam di kebun tersebut.
Pada tahun 1822 Reinwardt kembali ke Belanda dan digantikan oleh Dr.
Carl Ludwig Blume yang melakukan inventarisasi tanaman koleksi yang tumbuh
di kebun. Pelaksanaan pembangunan kebun ini pernah terhenti karena kekurangan
dana tetapi kemudian dirintis lagi oleh Johannes Elias Teysmann (1831. Dengan
dibantu oleh Justus Karl Hasskarl, ia melakukan pengaturan penanaman tanaman
koleksi dengan mengelompokkan menurut suku (familia). Teysmann kemudian
digantikan oleh Dr. Rudolph Herman Christiaan Carel Scheffer pada tahun 1867
menjadi direktur, dan dilanjutkan kemudian oleh Prof. Dr. Melchior Treub. Pada
tanggal 30 Mei 1868 Kebun Raya Bogor secara resmi terpisah pengurusannya
dengan halaman Istana Bogor. Pendirian Kebun Raya Bogor bisa dikatakan
mengawali perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Untuk perkembangan
koleksi tanaman sesuai dengan iklim yang ada di Indonesia, Kebun Raya Bogor
membentuk cabang di beberapa tempat, yaitu :
1. Kebun Raya Cibodas(Bergtuin te Cibodas, Hortus dan Laboratorium
Cibodas)di Jawa Barat, luasnya 120 Ha dengan ketinggian 1400 m, didirikan
oleh Teysman tahun 1866, untuk koleksi tanaman dataran tinggi beriklim
basah daerah tropis dan tanaman sub-tropis. Tahun 1891 Kebun ini dilengkapi
dengan Laboratorium untuk Penelitian flora dan fauna.
2. Kebun Raya Purwodadi (Hortus Purwodadi) di Jawa Timur, didirikan oleh
Van Sloten tahun 1941. Luasnya 85 Ha dengan Ketinggian 250 m, untuk
koleksi tanaman dataran rendah, iklim kering daerah tropis.
3. Kebun Raya "Eka Karya" Bedugul-Bali didirikan tahun 1959 oleh Prof. Ir.
Kusnoto Setyodiwiryo. Luasnya 159,4 Ha dengan ketinggian 1400 m, untuk
koleksi tanaman dataran tinggi beriklim kering.
4.2.

Letak Geografis Kebun Raya Bogor


Menurut subama (2006) Kebun Raya Bogor mempunyai luas 87 ha

terletak di tengah tengah kota bogor, kurang lebih 60 km dari Jakarta dengan letak
lintang 6 37 LS dan 106 32 BT. Secara administrative Kebun Raya Bogor

10

termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Bogor Tengah, Kotamadya Bogor, yang


dibatasi oleh a) Sebelah utara : Jl. Jalak Harupat, b) Sebelah selatan : Jl. Otto
Iskandar, c) Sebelah timur : Jl. Raya Pajajaran, d) Sebelah barat : Jl. Ir. H. Juanda.

Gambar 4.1 Peta Wilayah Kebun Raya Bogor

4.3.

Tanah dan Topografi


Rata-rata curah hujan 4230 mm/tahun dengan rata-rata jumlah hari 225

hari/tahun. Temperature maksimum rata-rata 30,40C dan temperature minimum


rata-rata 210C dengan kelembaban rata-rata 70%. Menurut klasifikasi Schmdi dan
Ferguson daerah ini termasuk tipe curah hujan A. Jenis tanah latosol kemerahmerahan dengan bahan induk tufolkan intermedier. Keadaan lapangan agak datar,
kecuali lokasi di tepi sungai Cisadane dengan ketinggian 250 m dpl.

4.4.

Landasan Hukum & Struktur Organisasi


Struktur Organisasi PKT Kebun Raya Bogor-LIPI sesuai dengan

Keputusan Kepala LIPI Nomor 1151/M/2001 tanggal 5 Juni 2001, sebagaimana

11

telah diperbaharui oleh keputusan Kepala LIPI Nomor 3212/M/2004, tentang


Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Pusat Konservasi
Tumbuhan Kebun Raya
Bogor

Bidang Konservasi Ex
situ

Kelompok
Jabatan
Fungsiona
l

Bagian Tata Usaha

Subbidang
Pemeliharaan Koleksi

Subbidang
Kepegawaian

Subbidang Registrasi
Koleksi

Subbidang Keuangan

Subbidang
Reintroduksi

Subbidang Umum

Subbidang Seleksi dan


Pembibitan

Subbidang Jasa dan


Informasi

UPT Balai Konservasi


Tumbuhan Kebun Raya
Cibodas

UPT Balai Konservasi


Tumbuhan Kebun Raya
Purwodadi

UPT Balai Konservasi


Tumbuhan Kebun Raya
Eka Karya Bali

Gambar 4.2. Struktur Organisasi Kebun Raya Bogor

4.4.1. Visi & Misi


Visi :
Menjadi salah satu Kebun Raya terbaik di sunia dalam bidang konservasi
tumbuhan, penelitian, pelayanan pendidikan lingkungan, dan pariwisata.

12

Adapun visi jangka pendek PKT Kebun Raya Bogor-LIPI adalah Menjadi pusat
keunggulan di bidang konservasi dan domestikasi tumbuhan Indonesia.
Misi :
Untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan, PKT Kebun Raya Bogor-LIPI
menetapkan misinya sebagai berikut :
a. Memperkuat bobot ilmiah di dalam pengelolaan koleksinya
b. Mengembangkan model pengelolaan tumbuhan secara ex situ dalam
bentuk kebun raya.
c. Meningkatkan mutu penelitian di bidang konservasi, domestikasi dan
reintroduksi tumbuhan Indonesia.
d. Meningkatkan mutu pelayanan public, termasuk mutu pendidikan
lingkungan dan penyediaan informasi ilmiah.
e. Memperkuat jaringan kerjasama dengan para pemangku kepentingan, baik
dari dalam maupun luar negeri.
f. Memperkuat manajemen kelembagaan
g. Membangun dan mengembangkan sarana prasarana yang dibutuhkan
khususnya sarana prasarana yang menunjang pelayanan public dan
penelitian.

4.4.2. Tugas
PKT Kebun Raya Bogor-LIPI memiliki tugas Melaksanakan penyiapan
bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, pemberian bimbingan teknis
penyusunan rencana dan program, pelaksanaan penelitian bidang konservasi ex
situ tumbuhan tropika serta evaluasi dan penyusunan laporan.

4.4.3. Fungsi
Fungsi PKT Kebun Raya Bogor-LIPI adalah sebagai berikut :
1. Penyiapan bahan perumusan kebijakan konservasi ex situ tumbuhan
tropika;
2. Penyusunan pedoman, pembinaan, dan pemberian bimbingan teknis
penelitian bidang konservasi ex situ tumbuhan tropika;
3. Penyusunan rencana dan program pelaksanaan penelitian bidang
konservasi ex situ tumbuhan tropika;

13

4. Pemantauan pemanfaatan hasil penelitian bidang konservasi ex situ


tumbuhan tropika;
5. Pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi bidang konservasi ex situ
tumbuhan tropika;
6. Evaluasi dan penyusunan laporan penelitian bidang konservasi ex situ;
7. Pelaksanaan urusan tata usaha

4.4.4. Sub Bidang Perbanyakan dan Reintroduksi Tumbuhan Langka


Sub bidang perbanyakan dan reintroduksi tumbuhan langka merupakan
unit baru yang terbentuk seiring dengan perubahan status UPT Balai
Pengembangan Kebun Raya menjadi Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya
Bogor pada tahun 2001. Sub bidang introduksi dan reintroduksi tumbuhan langka
terdiri dari dua unit, yaitu :
a. Unit Reintroduksi
Adapun tugas unit ini adalah :
a) Berkonsultasi dengan kelompok peneliti untuk : 1) Mengumpulkan
data tanaman langka dan tanaman berpotensi ekonomi dan 2)
Menetapkan prioritas jenis tanaman dan lokasi untuk kegiatan
reintroduksi/introduksi.
b) Melakukan koordinasi dengan unit perbanyakan tanaman untuk urusan
perbanyakan jenis-jenis tanaman prioritas.
c) Mengkoordinasi pelaksanaan program reintroduksi tanaman prioritas.
b. Unit Perbanyakan Tanaman (Introduksi)
Adapun tugas unit yaitu :
a) Melakukan koordinasi dengan unit reintroduksi untuk menetapkan
jenis-jenis tanaman yang perlu diperbanyak dan teknik
perbanyakannya.
b) Mengusahakan pembibitan yang menghasilkan bibit tanaman yang
bermutu untuk keperluan program reintroduksi tanaman langka dan
itroduksi tanaman berpotensu ekonomi serta program pelayanan jasa
(penjualan tanaman)
c) Bekerjasama dengan kelompok peneliti untuk mengembangbiakkan
teknik perbanyakan tanaman yang efektif dan efisien.

14

Gambar 4.3. Areal Reintroduksi dan Pembibitan Tumbuhan Langka


4.5.

Perbanyakan Tanaman Vegetatif dengan Cara Sambung Susu


Sambung merupakan teknik perbanyakan vegetatife-generatife dengan

cara menyambung pucuk yang berasal dari suatu tanaman induk (batang atas)
dengan tanaman induk lainnya (batang bawah). Kedua tanaman tersebut akan
digunakan batangnya untuk bahan perbanyakan sambung sesuai dengan sifat
tanaman baru yang diinginkan.
Sambung susu merupakan penyatuan dua batang tanaman yang berbeda.
Setelah terjadi penyambungan antara batang atas dan batang bawah, batang bawah
dari tanaman induk perlu dipotong sehingga mnjadi dua tanaman kembali.
Keadaannnya seolah-olah tanaman yang ukurannya lebih kecil sedand menyusu
kepada tanaman induk.
Batang atas biasanya memberikan hasil tanaman baru sesuai dengan sifat
induknya. Karena itu, pilih batang atas dari tanaman induk yang berkualitas dan
unggul. Sementara itu, peran batang bawah sebagai tempat tumbuh dan
mengambil makanan dari tanah, sehingga pilih batang bawah yang memiliki
kemampuan adaptasi yang baik terhadap berbagai kondisi tanah.
Penerapan teknologi sambung susu yang dimodifikasi para prinsipnya
adalah penyatuan batang 2 tanaman berbeda, gantungkan batang bawah kecabang
batang yang memiliki tunas air (entres). Entres disayat sampai mengenai

15

permukaan kayunya, selanjutnya persiapkan batang bawah yang disayat sama


dengan ukuran entres. Antara entres dan batang bawah memiliki batang dan
panjang sayatan yang sama. Lalu tempelkan kedua sisi yang telah disayat lalu ikat
kedua batang (sampai kedua permukaan sayatan tertutup), cara ini dinamakan
dengan teknik sambung susu secara vespa (sayat).
Modifikasi sambung susuan berhasil jika batang dikedua ujung ikatan
terlihat menggembung (2-3 bulan) lebih besar dari pada ikatan. Berarti bibit hasil
persusuan siap dipisah dari pohon induk. Pisahkan batang entres dari induknya
selanjutnya tajuk yang berasal dari biji juga dipotong sehingga menjadi satu
tanaman yang akarnya berasal dari biji dan atasnya berasal dari indk yang tua.
Selanjutnya pindahkan bibit ke polibag yang lebih besar dengan ukuran 25 x 40
cm dan disiram tiap pagi dan sore hari. Sampai berumur 3 bulan untuk siap jual
atau ditanam pada areal penanaman.
Kopsia arborea dipilih sebagai batang atas karena memiliki bunga yang
banyak dan daun lebih kecil namun tinggi kopsia arborea dapat mencapai 30 m
sedangkan kopsia fruticosa sebagai batang bawah dipilih karena dapat tumbuh
hanya sampai 3 m dan memiliki daun yang lebih besar dibandingkan kopsia
arborea.
Bentuk tajuk atau percabangan dari hasil perbanyakan sambung
tergantung pada ranting atau pucuk batang atas. Jika menggunakan ranting atau
tunas terminal, tajuk dan percabangan biasanya tumbuh intensif dan menyebar
secara seimbang. Sementara itu, jika batang atas yang digunakan berasal dari
tunas lateral, bentuk tajuk atau percabangan kemungkinan kurang intenif, bahkan
justru berkembang menyamping dan tidak menyebar dengan sempurna.
Tunas terminal merupakan tunas yang tumbuh mengarah ke atas atau
tunas yang muncul dari pucuk vertical bagian atas. Sementara itu, tunas lateral
merupakan tunas yang tumbuh mengarah ke samping. Tunas umumnya berasal
dari bagian tegah dan bawah tajuk tanaman.

4.5.1. Keunggulan dan Kekurangan Perbanyakan Sambung Susu


Perbanyakan sambung susu memiliki kelebihan dan kekurangan
diantaranya adalah :

16

1. Mampu Memperbanyak Tanaman yang Sulit Diperbanyak dengan Setek


atau Cangkok
Teknik perbanyakan sambung dapat diaplikasikan untuk berbagai jenis
tanaman. Tanaman yang dapat disambung juga bias diokulasi dan dicangkok.
Namun perbanyakan sambung tetap bias dilakukan pada tanaman yang memiliki
getah, berbeda dengan tanaman yang dicangkok. Maka dari itu teknik
perbanyakan sambung lebih fleksibel dan lebih mudah dilakukan.
2. Memperbaiki Tanaman yang Rusak
Tanaman yang sudah tumbuh agak besar kadang dapat mengalami patah
di bagian batangnya. Kondisi tersebut bisa terjadi akibat terpaan angina kencang,
tertimpa benda berukuran besar dan sebagainya. Bagian batang yang patah
tersebut ternyata masih dapat diperbaiki dengan teknik sambung.
3. Penyusuan hanya dapat dilakukan dalam jumlah sedikit atau terbatas
Tidak sebanyak sambungan atau menempel dan akibat dari penyusuan
bisa merusak tajuk pohon induk. Oleh karena itu penyusuan hanya dianjurkan
terutama untuk perbanyakan tanaman yang sulit dengan cara sambungan dan
okulasi.
4.5.2. Pemilihan Pohon Induk
Pohon induk adalah tanaman pilihan yang dipergunakan sebagai
sumber batang atas (entres), baik itu tanaman kecil ataupun tanaman besar yang
sudah produktif yang berasal dari biji atau hasil perbanyakan vegetatif (Nugroho
et al, 2006)
Gambar 4.4. Pohon Induk (Kopsia arborea)

17

Menurut Nugroho et al, (2006) persyaratan pohon induk yaitu:


1) Memiliki sifat unggul dalam produktifitas dan kualitas buah untuk
tanaman buah dan ketahanan terhadap serangan organisme penggangu
tanaman (OPT).
2) Nama varietas pohon induk dan asal-usulnya (nama pemilik, tempat
asal) harus jelas, sehingga memudahkan pelacakannya.
3) Tanaman dari biji harus sudah berproduksi untuk mengetahui
kemantapan sifat yang dibawanya.
4) Ditanam dalam kebun yang terpisah dari tanaman lain yang dapat
menjadi sumber penularan penyakit atau penyerbukan silang, terutama
untuk pohon induk yang akan diperbanyak secara generatif yaitu
diambil bijinya.
Lokasi pohon induk sebaiknya tidak jauh dengan lokasi perbanyakan
tanaman, untuk memudahkan pelaksanaan perbanyakan bibit. (Nugroho et al,
2006). Bibit kopsia yang digunakan berasal dari perbanyakan secara generatif atau
perbanyakan dengan biji dari buah pohon induk. Salah satu tujuan perbanyakan
tanaman dengan menggunakan biji adalah untuk memperoleh sifat-sifat baik
tanaman, seperti akar yang kuat, tahan penyakit, dll. Perbanyakan secara generatif
ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan-kelebihannya diantaranya
adalah (1) sistem perakarannya kuat, (2) masa produktif lebih lama, (3) lebih
mudah diperbanyak, (4) tahan penyakit yang disebabkan oleh tanah, dan (5)
memiliki keragaman genetik yang digunakan untuk pemuliaan tanaman.
Sedangkan kekurangan dari perbanyakan ini adalah (1) waktu berbunga lebih
lama, (2) anakan berbeda dengan induknya, tidak cocok untuk perbanyakan yang
membutuhkan keseragaman (Setiawan, 2012).
Saat buah matang, biji diambil dan dibersihkan, Selanjutnya biji dijemur
hingga kering. Setelah itu, biji siap disemai. Media semai adalah campuran top
soil, kompos, pupuk kandang dan sekam padi. Biji disemai dalam bak semai
dengan cara penyemaian sebagai berikut :
1. Buat lubang tanam dengan jari telunjuk atau kayu di bak semai.
2. Masukkan biji-biji yang telah kering dengan posisi miring atau horizontal
ke dalam bak semai secara berjejer.
3. Siram media semai secukupnya dengan air

18

Biji akan mulai bertunas pada umur 12-14 hari. Setelah tanaman tumbuh setinggi
15-20 cm, bibit dapat dipindahkan ke pot atau polybag yang lebih besar.

4.5.3. Pemilihan Batang Atas


Kualitas buah dari pohon induk biasanya diwarisi dari batang atas.
Karena itu, untuk menghasilkan tanaman hasil sambungan yang berkualitas,
batang atas yang akan digunakan harus memenuhi beberapa kriteria sebagai
berikut :
1. Pohon induk yang akan dijadikan batang atas harus sudah berproduksi. Hal ini
menandakan produksi tanaman telah stabil dan dapat menurunkan sifat unggul
dengan baik pada tanaman turunannya.
2. Mampu beradaptasi atau tumbuh kompak dengan batang bawahnya, sehingga
batang atas ini mampu menyatu dan dapat berproduksi dengan optimal.
3. Cabang dari pohon yang sehat, pertumbuhannya normal dan bebas dari
serangan hama dan penyakit
4. Cabang berasal dari pohon induk yang sifatnya benar-benar yang seperti kita
kehendaki, misalnya memiliki tinggi yang rendah dan berbunga cepat
4.5.4. Pemilihan Batang Bawah
Batang bawah atau rootstock atau understam adalah tanaman yang
berfungsi sebagai batang bagian bawah yang masih dilengkapi dengan sistem
perakaran yang berfungsi mengambil makanan dari dalam tanah untuk batang atas
atau tajuknya (Nugroho, et.al, 2006)
Berikut beberapa kriteria batang bawah :
1) Jenis batang bawah harus sama dengan batang atas untuk menghindari
incompatible saat penyambungan
2) Batang bawah harus sehat, vigor, dan berumur minimum tiga bulan setelah
semai.
3) Tanaman induk memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga mampu
mendukung pertumbuhan batang atas secara optimal.
4) Batang bawah harus dapat meneruskan sifat unggul batang atasnya, bahkan
diharapkan dapat berpengaruh baik untuk meningkatkan produktivitas sesuai
batang atasnya.
5) Toleran terhadap hama nematode dan penyakit, khususnya penyakit tular
tanah.

19

Perawatan batang bawah seperti pemupukan, pengendalian hama dan


penyakit, serta penyiraman perlu diperhatikan agar batang bawah tumbuh subur
dan sehat. Pertumbuhan yang subur dan sehat memudahkan pengelupasan kulit
dan kayunya, karena sel-sel kambium berada dalam keadaan aktif membelah diri.
Proses pembentukan kalus atau penyembuhan luka berlangsung dengan baik,
sehingga pada akhirnya keberhasilan sambungan atau okulasinya juga tinggi.
(Nugroho, et.al, 2006

4.5.5. Cara Kerja Metode Sambung Susu


Tahap-tahap pelaksanaan metode sambung susu kopsia adalah sebagai
berikut :
1. Pemilihan batang atas kopsia yang sehat dan terbebas dari serangan hama dan
penyakit yang telah berbunga dan berumur kurang lebih 7 bulan. (Gambar
4.5.a)
2. Pemilihan batang bawah yang bewarna sama dengan batang atas. (Gambar
4.5.b)
3. Penyayatan batang atas dengan arah miring membentuk sudut sekitar 30O dari
kuliy ke arah cambium, panjang sayatan sekitar 7 cm . (Gambar 4.5.c)
4. Sayat batang bawah dengan membentuk huruf v terbalik. Panjang sayatan
harus disesuaikan dengan batang atas. (Gambar 4.5.d)
5. Sisipkan atau tempelkan batang bawah ke dalam sayatan pada banatang atas.
Tujuannya agar bagian yang menempel lebih banyak sehingga peluang
keberhasilan sambungan menjadi lebih optimal (Gambar 4.5.e)
6. Ikat sambungan dengan melilitkan bekas sayatan menggunakan tali plastik.
Lilitan dimulai dari pangkal batang bwah menuju pucuk batang atas, lalu
kembali ke pangkal lagi, baru disimpul. (Gambar 4.5.f)
7. Beri label dengan keterangan tanggal pelaksanaan sambung susu dan siapa
yang melakukan sambung susu.

20

Gambar 4.5. Teknik Sambung Susu


Gambar 4.6 Illustrasi Sambung Susu kopsia. 1) Pengupasan batang atas dan
batang bawah, 2) Penyatuan batang atas dan batang bawah, 3)
Pengikatan batang atas dan batang bawah, 4) Hasil pengikatan, 5)
Hasil teknik sambug susu.
1. Penyayatan batang atas (A) Kopsia arborea dan batang bawah (B) Kopsia
fruticosa.
2. Penempelan/ penyatuan batang atas dan batang bawah.
3. Setelah ditempel batang atas dan batang bawah diikiat menggunakan
plastik.

21

4. Hasil pengikatan batang atas dan batang bawah.


5. Setelah sambung susu berhasil yang ditandai dengan bagian yang diikat
menggembung yang artinya telah tumbuh tunas maka potong batang.
Kopsia arborea bagian bawah setelah bagian yang dibalut dan batang atas
Kopsia fruticosa
4.5.6. Pemanenan Bibit Sambung Susu
Penyambungan yang berhasil ditandai dengan munculnya tunas baru
dibatang atas setelah 1-2 bulan tergantung pada jenis tanamannya. Biasanya,
setelah 3-6 bulan tanaman tersebut bisa dipisahkan dari tanaman induknya,
tergantung dari usia batang tanaman yang disusukan. Tanaman muda yang
kayunya belum keras sudah bisa dipisahkan setelah 3 bulan.
Pemotongan entres dilakukan setelah pertautan berhasil yang ditandai
dengan adanya pembengkakan disekitar batang yang diikat, pembengkakan terjadi
karena suplai makanan hasil fotosintesis batang atas tidak seluruhnya terangkut
sehingga tertimbun pada batang yang dihiris membentuk bengkakan. (Nugroho,
et.al, 2006)
Gambar 4.7. Proses Pemanenan Sambung Susu

Manfaat penggunaan tali plastik bening untuk mengikat sambung susuan


yaitu bahan plastik putih yang cukup transparan memungkinkan penyerapan sinar
matahari yang lebih banyak sehingga proses fotosintesis atau asimilasi CO2
berlangung lebih baik dan mampu menghasilkan fotosintat secara sempurna
sebagai substansi yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. (Wilkins, 1989;
Dwijoseputro, 1978).

22

Cara memisahkannya, potong setengah lingkar batang bawah. Jika bibit


hasil susuan tetap segar, potong setengah batang yang tersisa setelah satu minggu.
Langkah selanjutnya ganti polibag bibit dengan ukuran lebih besar. Bibit
sambungan dapat dipindahkan ke media yang lebih besar setelah 4-6 bulan.
Pemindahan bibit biasanya dilakukan dari polibag dengan ukuran diameter 10-15
cm ke media polibag berukuran diameter 20-25 cm. Proses penyatuan sambungan
susu hingga aman untuk dilepas plastiknya, berdasarkan pengamatan berkisar
antara 5-6 bulan pasca proses, selanjutnya setelah tanaman hasil sambungan susu
tumbuh dengan baik dapat dilakukan penjualan bibit tanaman kopsia tersebut.
Dengan menerapkan sistem penanaman secara vegetatif dan
menggunakan sistem teknik sambung maka akan dapat memberikan manfaat
sebagai berikut :
1. Memperbaiki kualitas dan kuantitas hasil tanaman, dihasilkan gabungan
tanaman baru yang mempunyai keunggulan dari segi perakaran dan
produksinya, juga dapat mempercepat waktu berbunga dan berbuah
(tanaman berumur genjah) serta menghasilkan tanaman yang sifat
berbuahnya sama dengan induknya.
2. Mengatur proporsi tanaman agar memberikan hasil yang lebih baik,
tindakan ini dilakukan khususnya pada tanaman yang berumah dua,
misalnya tanaman melinjo.
3. Peremajaan tanpa menebang pohon tua, sehingga tidak memerlukan bibit
baru dan menghemat biaya eksploitasi. Peremajaan total berlaku
sebaliknya.

23

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
1) Presentasi keberhasilan perbanyakan kopsia dengan cara sambung susu
ini sangat tinggi yakni berkisar 80-90%.
2) Metode perbanyakan dengan sambung susu yang dilakukan yakni
dengan melakukan pengupasan batang atas dan batang bawah lalu batang
atas dan batang bawah tersebut disatukan atau ditempel dengan cara
diikat menggunakan plastic bening , keberhasilan dari sambung susu
dapat dilihat 5 minggu dengan menggembungnya daerah yang telah
diikat, lalu setelah itu dilakukan pemisahan batang atas dengan batang
bawah.
3) Pemilihan batang atas harus sesuai dengan kriteria seperti pohon induk
yang akan dijadikan batang atas harus sudah berproduksi dan bebas dari
hama dan penyakit, sedangkan kriteria pemilihan batang bawah yaitu
batang bawah harus sehat, jenis batang bawah harus sama dengan batang
atas dan toleran terhadap hama nematode dan penyakit
4) Hasil dari sambung susu kopsia ini menghasilkan tanaman kopsia yang
tidak terlalu tinggi dan memiliki bunga yang berwarna putih.

5.2. Saran
Salah satu hal yang menjadi penyebab tingkat keberhasilan sambung susu
ini yaitu keseuaian batang atas dan batang bawah, ketidak sesuaian bisa terjadi
karena perbedaan ukuran antara batang atas dan batang bawah yang terlalu jauh.
Maka dari itu diharapakan pemilihan batang atas dan batang atas harus sesuai
ukurannya sehingga dapat meningkatkan keberhasilan penyambungan.

24

DAFTAR PUSTAKA

Agus, C., Adriyani, D. Syahbudin, A. Fauzan, A. 2014. Tanaman Langka


Indonesia . Gadjah Mada University Press : Yogyakarta
Atjung. 1974. Tumbuhan Perhiasan. Masa Baru: Bandung
Allorge, L. 1993. Kopsia teoi L.Allorge (Apocynaceae), a new Malayan species.
Acta Bot. Gallica 140: 9799.
Allorge, L., and L. E. Teo. 1986. A new Kopsia from Malaysia (Apocynaceae).
Phytologia 59: 9394
Endress, M. E., dan Bruyns. 2000. A revised classification of the Apocynaceae s.l.
Botanical Review, 66(1): 156
Gunawan, Endang. 2014. Perbanyakan Tanaman . Agromedia Pustaka: Jakarta
Graf, A.B. 1992. Hortica A Color Cyclopedia of Garden Flora . Roehers
Company Publisher: USA
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Yayasan Sarana Wanajaya.
Jakarta
Ismiyati, Sutarto. 1994. Teknik Perbanyakan Vegetatif pada Tanaman Hias
Semak, Perdu dan Pohon. Info Hortikultura, 1(2) : 49
Maris, Imelda. 1984. Prospek dan Aspek Pengembangan Tanaman Hias. Makalah
Kursusu Praktis Pertamanan dan Pengelolaan Hortikultura. Group Pecinta
Lingkungan Hidup Senat KMFP UNPAD: Bandung.
Middleton, D.J. 2004. A revision of Kopsia (Apocynaceae: Rauvolfioideae).
Harvard Pap. Bot. 9: 89-142.
Prastowo N, J.M. Roshetko. 2006. Tehnik Pembibitan dan Perbanyakan Vegetatif
Tanaman Buah. World Agroforestry Centre (ICRAF) dan Winrock
International. Bogor, Indonesia.
Rahardja, P C dan Wahyu Wiryanta. 2003. Aneka Cara Memperbanyak Tanaman,
AgroMedia Pustaka: Jakarta.
Ratnasari Juwita. 2007. Galeri Tanaman Bunga Hias. Penebar Swadaya: Depok

25

Redaksi AgroMedia. 2007. Kunci Sukses Memperbanyak Tanaman. AgroMedia


Pustaka: Jakarta
Rukmana, Rahmat. 1997. Teknik Perbanyakan Tanaman Hias. Kanisius:
Yogyakarta
Shu, R.M. 1995. Kopsia Blume. Flora of China 16: 162163. 1995.
Timmerman-Van Der Sleesen, E. H. L. 1959. Preliminary revision of the
Malaysian species of the genus Kopsia (Apocynaceae). Fl. Malesiana
Misc. Records. 1: 115.

26

LAMPIRAN

27

Lampiran 1. Jadwal Kerja Praktek Kerja Lapang di Pusat Konservasi Tumbuhan


Kebun Raya Bogor
No Hari/Tanggal
1
Senin /

1 Feb 2016

Selasa /

untuk konfirmasi magang serta melakasanakan

pembekalan PKL di Gedung Konservasi Lantai 2


Menemui Bapak Mujahidin selaku pengarah untuk

magang bagi mahasiswa


Bertemu dengan Bapak Mujahidin untuk pembagian

tugas magang
Konfirmasi magang di bagian Reintroduksi dan

Pembibitan Tumbuhan Langka


Pengenalan dan pengarahan dari pembimbing PKL

yakni Bapak Rubono dan staff


Membersihkan gulma di sekitaran jalan
Membuat media tanam
Transplanting tanaman Hopea nigra, Shorea guiso,

Hopea bancana, lalu melakukan penataan


Istirahat,sholat dan makan
Membersihkan halaman dari daunan
Transplanting tanaman Canarium indicum, Canarium

asperum, Shorea guiso, dan Dilemia phippinensis.


Istirahat,sholat dan makan
Senam pagi
Membersihkan halaman
Melakukan sambung pucuk pada Durio kutejensis dan

Durio zibetinus.
Repoting Puteria cainito

2 Feb 2016

Rabu /
3 Feb 2016

Khamis /
4 Feb 2016

Jumat /
5 Feb 2016

Kegiatan
Datang ke Kebun Raya Bogor dan menemui Ibu merry

Lampiran 1. Lanjutan
No

Hari/Tanggal

Kegiatan

28

Selasa /
9 Feb 2016

Rabu /
10 Feb 2016

Menyapu halaman
Repoting Shorea siminis, Mangifera caisea

Membersihkan halaman
Membersihkan gulma
Repoting Kopsia arborea
Transplanting Calophylum soulatri, Dillenia
philliphinensis, Hopea nigra, Parkia trimoriana,
Persea Americana, Planchonia valida, Pouteria

Khamis /

11 Feb 2016
Jumat /
12 Feb 2016

10

Senin /
15 Feb 2016

11

Selasa /
16 Feb 2016

cainito.
Membersihkan halaman
Transplanting Kopsia arborea

Senam pagi
Membersihkan halaman
Melakukan okulasi Durio kutejensis (Durian

Kalimantan) dan Durio zibetinus (Durian montong)


Melakukan stek jambu air ( Sysygium aqoyum)
Membersihkan halaman
Repoting Mangifera caesia
Menindahkan tanaman dari FAK ke saung kerja
Membersihkan halaman
Melakukan sambung susu pada tanaman Kopsia

arborea dan Kopsia fruticosa


Membuat label dan melanbeli tanaman Hopea nigra
dan Burahol cauliflorus.

Lampiran 1. Lanjutan
No Hari/Tanggal
12 Rabu /

13

17 Feb 2016

Kegiatan
Membersihkan halalaman
Penataan Mangifera similis
Membersihkan gulma
Membuat media cangkok dari akar kadaka

Khamis /

Membersihkan halaman

29

18 Feb 2016

14

Jumat /
19 Feb 2016

Membuat media tanam


Mencabuti gulma
Transplanting Shorea leprosula
Melakukan sambung akar pada tetrastigma
Senam pagi
Melakukan cangkok pada berbagai tanaman langka
yakni Amresia nobilis, Baccaurea dulcis, Citrus
maxima, Alstonia scholaris, Intsia bijuga,

15

Senin /

Cinnamomum iness, Manilkara achras.


Memetik daun tanaman untuk diuji kandungan

fitokimianya di laboratorium
Memanen buah dari tanaman Dictyoneura obtusa
Membersihkan halaman
Penataan tanaman Horsfielda iryaghedhi
Repoting tanaman bintaro (Cerbera manghas)
Membersihkan areal pembibitan
Penataan tanaman Hopea basilanica
Repoting tanaman Mangifera caesia dan Cerbera

manghas
Membersihkan areal pembibitan
Repoting Cerbera manghas dan Mangifera caesia

22 Feb 2016
16

Selasa /
23 Feb 2016

17

Rabu /
24 Feb 2016

18

Khamis /
25 Feb 2016

Lampiran 3. Photo-Photo Kegiatan di Pusat Konservasi Kebun Raya Bogor


Kegiatan

Keterangan
Lokasi Magang

30

Pembersihan gulma di pot-pot


tanaman dan jalanan areal
pemibitian

Pembuatan media untuk


tanaman yang akan di
transplanting, repoting maupun
pembibitan

Melakukan repoting dan


transplanting pada tanaman

Kegiatan

Keterangan
Melakukan perbanyakan tanaman
secara stek pada tanaman jambu air

31

Membuat label dan melakukan


pelabelan pada tanaman

Melakukan perbanyakan tanaman


dengan cara cangkok pada beberapa
tanaman

Melakukan sambung susu pada


tanaman durian

Kegiatan

Keterangan

32

Melakukan Sambung susu pada


tanaman kopsia

Merapikan tanaman pada plot


masing masing

Berfoto bersama para staff

33