Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

PRODUKSI TERNAK POTONG DAN KERJA

Oleh:
Kelompok 1
Bunga Anadesta Hanri Putri
Muammad Nasirudin
Natalian Adven Nugroho
Aghnia Azka Amalia
Afif Setyadi
Mety Rachmasari
Regina Ikmanila

23040113140053
23040113140076
23040114130042
23040114130044
23040114130056
23040114140064
23040114190073

PROGRAM STUDI S1 AGRIBISNIS


FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016

LEMBAR PENGESAHAN
Kelompok
: IB (Satu B)
Jurusan
: S1 Agribisnis
Tanggal Pengesahan :
Mei 2016
Menyetujui,
Koordinator Kelas
Produksi Ternak Potong dan Kerja

Asisten Pembimbing

Christian Budi Listianto


NIM. 23010113130179

Robert Kussetiyawan
NIM. 23010113130194
Ketua Laboratorium
Produksi Ternak Potong dan Perah

Prof. Ir. Agung Purnomoadi, M.Sc., Ph.D.


NIP. 19630504 198703 1 003

No
1

Hasil Praktikum
Analisis Bahan Kering (BK) Pakan
Konsentrat
Rumput Lapangan

: 91,78 %
: 18,64 %

Pembahasan
Berdasarkan hasil praktikum bahan pakan yang diberikan ke ternak adalah

Keterangan
Lampiran 1

konsentrat dan rumput lapangan. Kadar bahan kering dari rumput lapangan
sebesar 18,64% dan kadar bahan kering dari konsentrat sebesar 91,78%.
Kandungan kadar bahan kering rumput lapangan masih di bawah standar dan
kandungan kadar bahan kering konsentrat sudah sesuai standar. Hal ini sesuai
dengan pendapat Nugroho (2012) yang menyatakan bahwa Bahan Kering (BK)
konsentrat 84 - 89% dan rumput lapangan 26 38%. Faktor yang mempengaruhi
dalam bahan kering yaitu kandungan air pada pakan dan kelembaban pada
tempat pengambilan hijauan. Hal ini sesuai dengan pendapat Imran (2012)
menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil analisis bahan kering

Pertumbuhan dan Perkembangan

pakan adalah kandungan air pakan dan tempat pengambilan hijauan.


Berdasarkan praktikum pada sapi 1 diketahui bobot awal 363,5 kg dan

bobot akhir 359,75 kg. Sapi 1 mengalami penurunan bobot badan harian sebesar

Sapi 1
Bobot Awal
Bobot Akhir
PBBH
- Sapi 2
Bobot Awal
Bobot Akhir
PBBH

: 363,5 kg
: 359,75 kg
: -0,53 kg

0,53. Hal ini sangat tidak sesuai dengan standar PBBH sapi Peranakan Limousin
menurut Yulianto dan Saparinto (2014) yang menyatakan bahwa rata-rata
pertambahan bobot badan harian (PBBH) sapi Peranakan Limousin

: 277 kg
: 280 kg
: 0,43 kg

adalah

sebesar 0,8 - 1,6 kg per hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Edy, et al. (2005),
yang menyatakan bahwa rata - rata pertambahan bobot badan sapi Peranakan
Limousin adalah 0,88 kg per hari sedangkan sapi PO 0,78 kg/hari. Penurunan
bobot badan harian sapi tersebut dikarenakan sapi sedang dalam masa laktasi,
sehingga hampir sebagian besar pakan yang dikonsumsi diubah menjadi susu.
Hal ini sesuai dengan pendapat Sangbara (2011) yang menyatakan bahwa pada
masa laktasi, bobot badan akan mengalami penurunan, karena sebagian zat-zat
makanan yang dibutuhkan untuk pembentukan susu diambil dari tubuh sapi.

Lampiran 4

No

Hasil Praktikum

Pembahasan
Berdasarkan praktikum pada sapi 2 yang telah dilakukan, diperoleh hasil

Keterangan

yaitu bobot awal 277 kg dan bobot akhir 280 kg. Pertambahan bobot badan
harian (PBBH) sebesar 0,43 kg. Pertambahan bobot badan 0,43 pada sapi PO
masih kurang optimal karena standar rata-rata PBBH sapi PO sebesar 0,7 kg.
Hal ini sesuai dengan pendapat Edy, et al. (2005), yang menyatakan bahwa rata
rata pertambahan bobot badan sapi Peranakan Ongole adalah sebesar 0,78 kg per
hari. Faktor - faktor yang mempengaruhi PBBH diantaranya adalah faktor
lingkungan. Hal ini sesuai dengan pendapat Astuti (2004) yang menyatakan
bahwa faktor lingkungan pengelolaan sangat mempengaruhi produktifitas ternak
yang meliputi berbagai aspek, diantaranya: pakan, kesehatan, kandang dan
sebagainya. Pakan yang cukup secara kuantitas dan kualitas akan mendukung
efisiensi produksi sapi.
3

Pengamatan Fisiologi Ternak


Sapi 1
Suhu Rektal
Denyut Nadi
Frekuensi Nafas
- Sapi 2
Suhu Rektal
Denyut Nadi
Frekuensi Nafas

Berdasarkan praktikum diperoleh hasil bahwa suhu rektal, denyut nadi,

frekuensi nafas sapi. Pengamatan fisiologi ternak sapi 1, peranakan limosin


:38 C
:27 kali/menit
:58 kali/menit
o

:37,8oC
:20 kali/menit
:62 kali/menit

masing-masing adalah 38oC, 58 kali/menit, 27 kali/menit dan 58 kali/menit dan


sapi 2 peranakan Ongole masing-masing 37,8oC, 62 kali/menit dan 20
kali/menit. Suhu rektal dalam kisaran normal, denyut nadi lebih rendah dari
kisaran normal dan frekuensi nafas lebih tinggi dari kisaran normal. Hal ini
sesuai dengan pendapat Utomo et al., (2009) yang menyatakan bahwa kisaran
normal untuk suhu rektal, denyut nadi dan frekuensi nafas secara berturut-turut
adalah 38,5-39,5oC, 60-70 kali/menit dan 10-30 kali/menit. Faktor yang
mempengaruhi denyut nadi yaitu suhu lingkungan, kesehatan ternak, tingkah
laku ternak dan kualitas pakan yang tinggi dapat mempengaruhi rendahnya

Lampiran 11

No

Hasil Praktikum

Pembahasan
denyut nadi pada sapi limousin dan PO. Meningkatnya frekuensi pernafasan

Keterangan

disebabkan karena ternak mengalami cekaman panas, yang dipengaruhi oleh


suhu udara dan kelembaban tinggi. Ditambahkan oleh Mauladi (2009) bahwa
faktor yang mempengaruhi frekuensi pernafasan adalah ukuran tubuh, umur,
aktivitas ternak, suhu lingkungan, kebuntingan, kegelisahan, kondisi kesehatan
4

Pengamatan Fisiologi Lingkungan

dan posisi ternak.


Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa rata-rata suhu udara dalam

Mikroklimat

kandang sebesar 28,160C dengan kelembaban 39,03%. Suhu dan kelembaban

Waktu
06.00
12.00
18.00
21.00
Rata-Rata

Suhu (0C)
26,28
33,51
26,71
26,14
28,16

Rh (%)
43,57
17,28
47,14
48,14
39,03

Suhu (0C)
26,85
32
26,85
26,14
27,96

Rh (%)
44,71
25,57
46,14
45,85
40,56

Darmanto (2009) bahwa suhu dan kelembaban normal pada kandang yaitu
kisaran antara 60-70%. Sedangkan suhu rata-rata pada lingkungan luar kandang
sebesar 27,960C dan kelembaban 40,56%. Suhu dan kelembaban pada luar
kandang termasuk standar normal. Abidin (2006) menambahkan bahwa pada

Sapi 1
PBBH
Konsumsi total BK
Konversi Pakan

80%. Fisiologi lingkungan sangat berpengaruh terhadap produktifitas ternak.


Suhu dan kelembaban yang tinggi dan tidak sesuai dengan suhu ideal dapat
menjadikan ternak mengalami cekaman panas yang menimbulkan stres pada
ternak. Yani dan Purwanto (2006) berpendapat dapat ada empat unsur mikro
yang dapat mempengaruhi produktifitas ternak secara langsung yaitu suhu,
kelembaban udara, radiasi matahari, curah hujan.
Berdasarkan praktikum diperoleh hasil konversi pakan yaitu 16,11 kg dan

Evaluasi Pemberian Pakan


-

tersebut termasuk dalam keadaan normal. Hal ini sesuai dengan pendapat

kondisi sapi yang optimal suhu dan kelembaban yang dibutuhkan kisaran 60-

Makroklimat
Waktu
06.00
12.00
18.00
21.00
Rata-rata

Lampiran 12

16,02 kg yang artinya dalam membentuk 1 kg bobot badan, ternak


: -0,53 kg/hari
: 8,54 kg
: 16,1132 kg

membutuhkan pakan sebesar 16.11 kg dan 16,02 kg. Hasil ini menunjukkan
bahwa konversi pakan melebihi standart yaitu 8,56-13,29. Ini sesuai dengan

Lampiran 3

No

Hasil Praktikum
Efisiensi Pakan
: -6,20%

Sapi 2
PBBH
Konsumsi total BK
Konversi Pakan
Efisiensi Pakan

Pembahasan
pendapat Yulianto (2014) bahwa konversi pakan untuk sapi yang baik yaitu

Keterangan

8,56-13,29. Faktor yang mempengaruhi konversi pakan yaitu lingkungan,


: 0,43kg/hari
: 6,89 kg
: 16,02 kg
: 6.24%

kondisi ternak, dan daya cerna. Hal ini sesuai dengan pendapat Amien et al.
(2013) bahwa faktor yang mempengaruhi konversi pakan yaitu kondisi ternak,
daya cerna, bangsa, jenis kelamin, kualitas dan kuantitaf pakan.
Berdasarkan praktikum diperoleh hasil bahwa efisiensi pakan yaitu -6,20%
dan 6,24%. Hasil ini menunjukkan bahwa efisiensi pakan tidak sesuai dengan
standart yaitu 7,25%-11,29%. Ini sesuai dengan pendapat Siregar (2001) bahwa
efisiensi pakan pada sapi potong yaitu sekitar 7,25%-11,29%. Faktor yang
mempengaruhi efisiensi pakan adalah kualitas pakan yang baik dan bobot badan
ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Pond et al. (2005) bahwa faktor yang
mempengaruhi efisiensi pakan antara lain kualitas pakan ternak, umur ternak,

Daya Cerna

dan bobot badan ternak.


Berdasarkan hasil praktikum diperoleh daya cerna sapi 1 yaitu 52,92%

Sapi 1

sedangkan daya cerna sapi 2 yaitu 59,65%. Untuk membantu proses pencernaan,

Bobot Feses dalam BK : 4,02 kg


Hasil Daya Cerna
: 52,92%
Sapi 2

konsentrat diberikan dulu sebelum hijauan dengan selang waktu 1 jam. Fungsi

Bobot Feses dalam BK : 2,78kg


Hasil Daya Cerna
: 59,65%

Lampiran 9

dari pemberian konsentrat sebelum hijauan untuk mengaktivasi kerja mikroba


pada rumen sehingga proses fermentasi rumen berjalan dengan maksimal. Hal
tersebut sesuai dengan pendapat Koddang (2008) yang menyatakan bahwa
peningkatan daya cerna akibat pemberian konsentrat dapat merangsang
pertumbuhan mikroba rumen sehingga aktivitas pencernaan fermentatif
meningkat.

Feed Cost per Gain


Sapi 1

Berdasarkan hasil praktikum diperoleh feed cost pada sapi A adalah Rp


82.755,-/kg sedangkan feed cost per gain pada sapi B adalah Rp 75.581,-/kg

Lampiran 10

No

Hasil Praktikum
Konsumsi Segar
- Hijauan
: 31,08 kg
- Konsentrat
: 3 kg
Harga Hijauan
: Rp 1.000,-/kg
Harga Konsentrat : Rp 2.000,-/kg
Hasil FC
: Rp 82.755,-/kg

Keterangan

badan. Pada sapi A hanya dalam bentuk feed cost karena terjadi penurunan
bobot badan yang menyebabkan perhitungan feed cost per gain menjadi negatif.
Pakan terdiri dari hijauan dan konsentrat. Harga hijauan Rp 1.000,-/kg
sedangkan harga konsentrat Rp 2.000,-/kg. Pemberian konsentrat lebih sedikit
dari hijauan karena faktor harga yang lebih mahal dibandingkan hijauan.

Sapi 2

Pembahasan
untuk setiap biaya pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg bobot

Konsumsi Segar
- Hijauan
- Konsentrat
Harga Hijauan
Harga Konsentrat
Hasil FC/G

Perhitungan feed cost per gain harus dilakukan dengan cermat untuk
: 22,24kg
: 3 kg
: Rp 1.000,-/kg
: Rp 2.000,-/kg
: Rp 75.581,-/kg

menghindari kerugian pada peternak sapi karena biaya pakan merupakan bagian
penting dan memerlukan banyak biaya karena pada peternakan sapi potong
peternak perlu menaikan bobot badan sapi yang tinggi dengan menekan harga
seminimal mungkin. Hal tersebut didukung oleh pendapat Muyasaroh et al.
(2015) yang menyatakan bahwa biaya pakan harus diperhitungkan karena 70%
dari biaya total usaha penggemukan sapi potong. Untuk menekan biaya feed cost
per gain seminimal mungkin dapat dilakukan dengan memformulasi ransum.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Munawaroh et al. (2015) yang menyatakan
bahwa untuk mendapatkan feed cost per gain serendah mungkin maka pemilihan
bahan pakan harus semurah mungkindan tersedia secara kontinyu atau dapat
menggunakan limbah pertanian.

Evaluasi Perkandangan
Tipe Kandang : Konvensional
Cara Penempatan Ternak: tail to tail

Berdasarkan hasil praktikum, diketahui bahwa tipe kandang yang


digunakan adalah kandang tipe ganda sistem konvensional dimana sapi yang
ditempatkan terdiri dari dua baris dengan menggunakan sekat pemisah. Menurut
Siregar (2007), tipe kandang dibedakan menjadi dua yakni kandang tipe tunggal
dan kandang tipe ganda. Kandang tipe tunggal memiliki bentuk atap tunggal
atau terdiri dari satu baris kandang, sedangkan kandang tipe ganda memiliki

Lampiran 14

No

Hasil Praktikum

Pembahasan
bentuk atap ganda atau dua baris yang saling berhadapan. Kandang dilengkapi

Keterangan

dengan palung tempat pakan dan tempat minum. Atap kandang terbuat dari
genting. Fungsi atap yaitu untuk menghalangi atau mengurangi masuknya air
hujan dan sinar matahari serta membantu mempertahankan suhu kandang agar
relatif stabil. Dinding kandang terbuat dari tembok yang setengah terbuka
sehingga udara mudah masuk dan keluar kandang. Hal ini sesuai dengan
pendapat Yulianto dan Cahyo (2011) yang menyatakan bahwa sebaiknya
kandang di daerah tropis tidak menggunakan dinding tertutup penuh, tetapi
dalam keadaan setengah terbuka sehingga udara bebas mudah keluar masuk.
Lantai kandang terbuat dari semen sehingga permukaannya keras, rata dan tidak
licin sehingga ternak merasa nyaman serta tidak berbahaya bagi ternak dan
peternak.
Cara penempatan ternak adalah stall ganda tail to tail yaitu penempatan
sapi yang saling bertolak belakang. Di antara kedua baris atau jajaran sapi
terdapat jalur untuk jalan. Macam-macam penempatan sapi pada kandang tipe
ganda yaitu tail to tail dan face to face. Hal ini sesuai dengan pendapat Yulianto
dan Cahyo (2011) yang menyatakan bahwa tipe penempatan sapi ada 3 yaitu ; 1)
stall tunggal, 2) stall ganda face to face, dan 3) stall ganda tail to tail. Kelebihan
penempatan sapi secara tail to tail ini adalah mudah dalam pembersihan feses.
Hal ini sesuai dengan pendapat Prihanto (2009) yang menyatakan bahwa tipe
kandang tail to tail bertujuan untuk mempermudah saat membersihkan feses dari
9

Carrying Capacity

Produksi Lahan per Tahun (BS) :

kandang ini.
Berdasarkan perhitungan, diketahui nilai carrying capacity untuk sapi 1
sebanyak 31 UT dan sapi 2 sebanyak 45 UT yang merupakan suatu lahan

Lampiran 13

No

Hasil Praktikum
1.001.000 kg
Produksi Lahan per Hari (BS) :
2,742,47 kg
Produksi per Hari dalam BK :
510,92 kg
Hasil CC
:
a. Sapi 1 : 31 UT
b. Sapi 2 : 45 UT

Pembahasan
hijauan untuk mendukung kebutuhan hijauan pakan ternak selama satu tahun.

Keterangan

Artinya lahan seluas 7 ha mampu mensuplai kebutuhan hijauan ternak sebanyak


31 dan 45 Unit Ternak dalam satu tahun. Perhitungan carrying capacity perlu
dilakukan agar kita mampu memprediksi apakah padang hijauan yang ada
mampu memenuhi kebutuhan ternak dalam satu tahun. Arditya (2010)
menyatakan bahwa manfaat dari penghitungan carrying capacity yaitu dapat
memprediksikan apakah lahan hijauan yang tersedia mampu memenuhi
kebutuhan ternak selama satu tahun. Faktor yang dapat mempengaruhi carrying
capacity antara lain jarak dengan sumber air, iklim, dan kondisi lahan. Hal ini
diperkuat oleh pendapat Nusi (2011) bahwa faktor yang mempengaruhi carrying
capacity adalah luas area, kondisi tanah, iklim dan keadaan ekologi padang
rumput.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 2006. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media Pustaka. Jakarta


Amien, I., Nasich, M., dan Marjuki. 2013. Pertambahan Bobot Badan dan Konversi Pakan Sapi Limousin Cross Dengan Pakan Tambahan Probiotik. Jurnal
Ilmu Peternakan. 2 (1) : 1- 10. Fakultas Peternakan. Universitas Brawijaya. Malang.
Arditya, D. W. 2010. Pengaruh Penggunaan Bahan Pakan Konsentrat Sumber Protein Terhadap Konsumsi Pakan, Pertambahan Bobot Badan dan Konversi
Pakan pada Domba Ekor Gemuk. Skripsi Sarjana Peternakan. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.

Astuti, M. 2004. Potensi dan Keragaman Sumber Daya Genetik Sapi Peranakan Ongole (PO). Lokakarya Nasional Sapi Potong tahun 2004: Fakultas
Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Darmanto, Dede. U. E. 2009. Respon fisiologis domba ekor tipis jantan yang diberi pakan rumput (Brachiaria humidicola) dan kulit singkong pada level
yang berbeda. Departemen ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan dan Pertanian Bogor, Bogor. Skripsi Sarjana Peternakan.
Edy R, Anna S. I dan Sularno D, 2005. Penampilan Produksi Sapi Peranakan Ongole dan Sapi Peranakan Ongole x Limousin Yang Mendapat Pakan Rumput
Gajah dan Ampas Bir. Makalah Seminar Nasional. Jurusan Peternakan Universitas Diponegoro.
Imran. 2012. Pertumbuhan pedet sapi Bali lepas sapi yang diberi rumput lapangan dan disuplement asi daun turi (Sesbania grandiflora). Jurnal IlmuTernak
dan Tanaman. 2 (2): 55-60.
Koddang. 2008. Pengaruh tingkat pemberian konsentrat terhadap daya cerna bahan kering dan protein kasar ransum pada sapi bali jantan yang mendapatkan
rumput raja (pennisetum purpurephoides) ad-libitum. J. Agroland. 15 (4) : 343-348.
Mauladi, A. H. 2009. Suhu tubuh, frekuensi jantung dan nafas induk sapi friesien holstein bunting yang divaksin dengan vaksin avian influenza H5N1.
Institut Pertanian Bogor. Bogor. Skripsi Sarjana Kedokteran Hewan.
Munawaroh, et al. 2015. Pengaruh pemberian fermentasu complete feed berbasis pakan lokal terhadap konsumsi, konversi pakan, dan feed cost kambing
bligon jantan. Buletin Peternakan. 39 (3) : 167-173.
Muyasaroh, Siti et al. 2015. Income over feed cost penggemukan sapi oleh kelompok sarjana membangun desa (SMD) di kabupaten Bantul dan Sleman.
Buletin Peternakan. 39 (3) : 205-211.
Nugroho, S.S. 2012. Pengaruh penggunaan konsentrat dalam bentuk pelet dan mashpada pakan dasar rumput lapangan terhadap palatabilitas dan kinerja
produksi kelinci jantan. Jurnal Ilmu Peternakan.3 (36) : 169-173.
Nusi, M., R. Utomo dan Soeparno. 2011. Pengaruh penggunaan tongkol jagung dalam complete feed dan suplementasi undegraded protein terhadap
pertambahan bobot badan dan kualitas daging pada sapi peranakan ongole. Buletin Peternakan. 35 (3) : 173-181.
Pond, W.G., D.C. Church, K. R. Pond and P. A. Schoknecht. 2005. Basic Animal Nutrition and Feeding. Animal Feed Science and Technology Journal.
(1) : 91-109.

11

Prihanto. 2009. Manajemen Pemeliharaan Induk Laktasi di Peternakan Sapi Perah CV. Mawar Mekar Sari Farm Kabupaten Karanganyar. Universitas
Sebelas Maret. Surakarta. Skripsi Sarjana Pertanian.

Sangbara, Yoshephina. 2011. Pengaruh Periode Laktasi Terhadap Produksi Susu Sapi Perah Fries Holland Di Kabupaten Engkareng. Universitas Hasanudin:
Makasar. Skripsi Sarjana Peternakan.
Siregar, S. B. 2001. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya, Jakarta.
Siregar, Sori Basya. 2007. Penggemukan Sapi. Jakarta : Penebar Swadaya.
Utomo, B., D.P. Miranti dan G.C. Intan. 2009. Kajian termoregulasi sapi perah periode laktasi dengan introduksi teknologi peningkatan kualitas pakan.
Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 13-14 Agustus 2009. 263-268.
Yani, A. Dan B. P. Purwanto. 2006. Pengaruh iklim mikro terhadap respon fisiologis sapi peranakan Fries Holland dan modifikasi lingkungan untuk
meningkatkan produktivitasnya. Media Peternakan 29 (1) : 34-46
Yulianto, P. dan Cahyo S. 2014. Beternak Sapi Limousin. Penebar Swadaya, Jakarta.
Yulianto, P. dan Cahyo S. 2011. Penggemukan sapi potong hari per hari 3 bulan panen. Penebar Swadaya, Jakarta.