Anda di halaman 1dari 4

NAMA

: PUTRI INDAH SARI


NIM
: 01021381419173
MATA KULIAH
: TEORI EKONOMI MAKRO
TANGGAL : 23 NOVEMBER 2015

BAB 13
Penawaran Agregat dan Tradeoff Jangka- pendek antara Inflasi dan Pengangguran
Tiga Model Penawaran Agregat
Bentuk persamaan penawaran agregat jangka pendek ialah : Y =

e
+ ( P P ),

> 0, persamaan ini menyatakan bahwa output menyimpang dari tingkat alamiah, bila tingkat
harga menyimpang dari tingkat harga yang diperkirakan.
Contohnya pada produsen gandum, Perhatikan keputusan seorang produsen gandum, yang
pendapatannya berasal dari menjual gandum dan menggunakan pendapatan ini untuk membeli
barang dan jasa. Jumlah gandum dia pilih produksi bergantung pada harga gandum relatif
terhadap harga barang dan jasa lain di perekonomian. Jika harga relatif gandum tinggi, ia bekerja
keras dan memproduksi gandum lebih banyak. Jika harga relatif gandum rendah, ia lebih
memilih bekerja lebih sedikit dan memproduksi gandum lebih sedikit. Masalahnya adalah ketika
petani membuat keputusan produksinya, ia tidak tahu harga relatif gandum. Ia tahu harga
nominal gandum, tapi tidak harga setiap barang lain di perekonomian. Ia mengestimasi harga
relatif gandum menggunakan ekspektasinya atas tingkat harga keseluruhan. Jika ada kenaikan
tiba-tiba pada tingkat harga, petani tidak tahu apakah itu perubahan harga keseluruhan atau
hanya harga gandum. Biasanya, ia berasumsi itu kenaikan harga relatif dan karenanya akan
meningkatkan produksi gandum. Kebanyakan pemasok cenderung membuat kesalahan ini.
Ringkasnya, pikiran bahwa output berbeda dari tingkat alaminya ketika tingkat harga berbeda
dari tingkat harga yang diharapkan.
Model Harga-Kaku : Model ini menekankan bahwa perusahaan tidak secara instan
menyesuaikan harga yang mereka tetapkan dalam merespons perubahan permintaan.
Kadang harga ditetapkan oleh kontrak jangka-panjang antara perusahaan dan konsumen.
Model Upah kaku
: menunjukkan implikasi dari upah nominal kaku pada penawaran
agregat.
Model Informasi-Tak Sempurna : semua upah dan harga bebas menyesuaikan diri untuk
menyeimbangkan penawaran dan permintaan. Pada model ini, kurva penawaran agregat
jangka-pendek dan jangka-panjang berbeda karena kesalahan persepsi temporer tentang
harga.
Kurva Philip menyatakan bahwa inflasi tergantung pada inflasi yang diharapkan, penyimpangan
pengangguran dari tingkat alamiah, dan guncangan penawaran. Menurut kurva Philip para
pembuat kebijakan yang mengendalikan permintaan agregat menghadapi tradeoff jangka pendek
antara inflasi dan pengangguran. Dua kekuatan yang dapat mengubah tingkat inflasi yaitu
pengangguran siklis berimplikasi pada inflasi tarikan permintaan, dan guncangan penawaran
yang berimplikasi pada inflasi dorongan biaya.
Ekspektasi Rasional membuat asumsi bahwa orang mengggunakan secara optimal
semua informasi yang tersedia tentang kebijakan pemerintah saat ini, untuk meramalkan
masa depan.jika orang membentuk ekspektasi mereka secara rasional, maka inflasi akan
memiliki inersia lebih kecil daripada kelihatannya.
Hipotesis tingkat alamiah : Fluktuasi permintaan agregat mempengaruhi output dan
kesempatan kerja hanya dalam jangka pendek.Dalam jangka panjang, perekonomian
kembali ke tingkat output,kesempatan kerja,dan pengangguran yang dijelaskan oleh
model klasik.
SUMBER

: MAKROEKONOMI, N.GREGORY MANKIW

NAMA
: PUTRI INDAH SARI
NIM
: 01021381419173
MATA KULIAH
: TEORI EKONOMI MAKRO
TANGGAL : 23 NOVEMBER 2015
BAB 15
Utang Pemerintah
Besarnya Utang Pemerintah
Ketika pemerintah mengeluarkan lebih banyak daripada mengumpulkan melalui pajak, ia
memiliki defisit anggaran, yang didanai dengan meminjam dari sektor swasta. Utang pemerintah
adalah akumulasi semua defisit tahunan yang lalu.

Contoh kenaikan utang pemerintah tahun 1980an sewaktu Ronald Reagen terpilih
sebagai presiden, Ketika Ronald Reagan menjadi presiden tahun 1980, ia ingin
mengurangi pajak dan meningkatkan pengeluaran militer. Kebijakan ini, berpadu
dengan resesi parah karena kebijakan moneter ketat, memulai periode panjang
defisit anggaran yang semakin tinggi. Kenaikan utang pemerintah selama 1980-an
memprihatinkan para pembuat kebijakan.

Defisit anggaran pemerintah sama dengan belanja pemerintah dikurangi pendapatan pemerintah,
yang lalu sama dengan jumlah utang baru pemerintah perlu keluarkan untuk membiayai
operasinya. Masalah ukuran standar defisit anggaran seperti Memodifikasi nilai riil utang publik
yang ada untuk merefleksikan inflasi saat ini., Mengurangi aset pemerintah dari utang
pemerintah., Mencakup kewajiban yang tidak dihitung yang saat ini terhindar dari deteksi dalam
sistem akuntansi., Menghitung defisit anggaran yang disesuaikan secara siklis (cyclicallyadjusted budget deficit), berdasar pada estimasi bagaimana belanja pemerintah dan pendapatan
pajak jika perekonomian beroperasi pada tingkat alami output dan kesempatan kerjanya.
kita bisa lihat bagaimana perdagangan internasional mempengaruhi perubahan kebijakan. Ketika
tabungan nasional turun, orang meminjam dari luar negeri, menyebabkan defisit perdagangan.
Ini juga menyebabkan dolar berapresiasi. Model Mundell- Fleming menunjukkan bahwa
apresiasi dan lalu turunnya ekspor neto mengurangi dampak ekspansif jangka-pendek dari
perubahan fiscal
Pandangan Ricardian (ekuivalensi Ricardian) atas Utang Pemerintah Konsumen melihat-ke
depan beranggapan bahwa pajak lebih rendah sekarang berarti pajak lebih tinggi nantinya,
membuat konsumsi tidak berubah. Pemotongan pajak hanyalah penundaan pajak Ketika
pemerintah meminjam untuk membayar belanjanya saat ini ( G lebih tinggi), konsumen rasional
melihat ke depan pada pajak masa depan yang dibutuhkan untuk mendukung utang ini. Satu
argumen dari pandangan tradisional adalah masyarakat miopia : mereka melihat penurunan pajak
sebagai alasan untuk meningkatkan konsumsi mereka karena kemakmuran baru ini. Pendukung
pandangan tradisional berpendapat konsumsi saat ini lebih penting daripada pendapatan seumur
hidup untuk konsumen yang menghadapi batasan peminjaman, yang merupakan batas berapa
banyak seseorang bisa meminjam dari bank atau lembaga-lembaga keuangan lain.
Ada tiga alasan mengapa kebijakan fiskal optimal suatu waktu membutuhkan defisit atau surplus
anggaran yaitu, 1) Stabilisasi 2) Tax smoothing(surplus anggaran) 3) Redistribusi
intergenerasi(menggeser beban pajak). Dampak Fiskal pada Kebijakan Moneter Salah satu cara
pemerintah mendanai defisit anggaran adalah mencetak uang, kebijakan yang mengarah pada
inflasi lebih tinggi.

SUMBER

: MAKROEKONOMI, N.GREGORY MANKIW

NAMA
: PUTRI INDAH SARI
NIM
: 01021381419173
MATA KULIAH
: TEORI EKONOMI MAKRO
TANGGAL : 23 NOVEMBER 2015
BAB 14
Kebijakan Moneter dan Kebijakan Fiskal
Kebijakan moneter merupakan kebijakan bank sentral atau otoritas moneter dalam bentuk
pengendalian terhadap banyaknya jumlah uang yang beredar untuk mencapai perkembangan
kegiatan perekonomian yang diinginkan. Kegiatan perekonomian yang dimaksud adalah
kestabilan perekonomian makro yang tercermin dalam kestabilan harga (rendahnya laju inflasi),
membaiknya perkembangan out put riil (pertumbuhan ekonomi) serta cukup luasnya kesempatan
kerja yang tersedia.
Tujuan Kebijakan Moneter, meliputi :
Memelihara stabilitas harga ; Kebijakan moneter mempunyai sasaran untuk
menyeimbangkan penawaran dan permintaan uang agar tidak terjadi kelebihan
atau kekurangan uang yang dapat berakibat pada keguncangan harga
Mendukung pertumbuhan ekonomi yang rill dan mantap ; Mantapnya kegiatan
investasi dan usaha peningkatan produksi merupakan prasyarat tercapainya
pertumbuhan ekonomi yang mantap.
Mendukung tercapainya tingkat pengangguran yang rendah ; Pengangguran yang
tinggi merupakan musuh setiap perekonomian. Setiap negara berusaha melakukan
kebijakan untuk menguranginya, antara lain dengan kebijakan moneter.
kebijakan moneter terhadap inflasi yaitu Mengurangi, menaikan suku bunga dan membatasi
kredit. Sedangkan kebijakan moneter terhadap pengangguran yaitu menambah penawaran uang,
mengurangi atau menurunkan suku bunga dan menyediakan kredit khusus untuk kegiatan
tertentu.
Contoh diantara kebijakan moneter adalah kebijakan diskonto: kebijakan diskonto yang
pernah dilakukan oleh Bank Indonesia adalah menaikkan Suku Bunga Indonesia (SBI)
mencapai diatas60% per tahun padabulan Juli sampai dengan September1998. Kebijakan
tersebut ditujukan untuk meredam inflasi akibat krisismoneter diakhir tahun 1997.
Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah dengan cara menaikkan
atau menurunkan pendapatan negara atau belanja negara dengan tujuan untuk mempengaruhi
tingkat pendapatan nasional. Melalui kebijakan fiskal, pengeluaran agregat dapat ditambah
sehingga akan meningkatkan pendapatan nasional dan tingkat penggunaan tenaga kerja. Pada
dasarnya, kebijakan fiskal atau kebijakan anggaran dapat dinilai dari dua aspek, yaitu :
a) Aspek kuantitatif, artinya berhubungan dengan jumlah uang yang harus ditarik dan
dibelanjakan.
b) Aspek kualitatif, artinya berhubungan dengan peningkatan jenis-jenis pajak, pembayaran, dan
subsidi.
Kebijakan fiscal terhadap inflasi yaitu Menambah pajak dan mengurangi pengeluaran
pemerintah. Sedangkan kebijkan fiscal terhadap pengangguran yaitu Mengurangi pajak dan
menambah pengeluaran pemerintah. Menaikkan jumlah pajak dan jenis pajak.
Contoh kebijakan fiscal yaitu :

Mewajibkan kepemilikan NPWP (nomor pokok wajib pajak)

Melakukan penghematan pengeluaran negara

Melakukan pinjaman negara, misalnya dengan mengeluarkan obligasi pemerintah.


SUMBER

: MAKROEKONOMI, N.GREGORY MANKIW

NAMA
: PUTRI INDAH SARI
NIM
: 01021381419173
MATA KULIAH
: TEORI EKONOMI MAKRO
TANGGAL : 23 NOVEMBER 2015

SUMBER

: MAKROEKONOMI, N.GREGORY MANKIW

Anda mungkin juga menyukai