Anda di halaman 1dari 14

1.

Manusia Indonesia yang tertua adalah sudah ada kira-kira satu juta tahun yang
lalu, waktu dataran Sunda masih berupa daratan, dan waktu Asia Tenggara bagian
benua dan bagian kepulauan masih bersambung menjadi satu. Dataran penduduk
ini mempunyai tubuh dengan ciri-ciri masih berbeda dari manusia sekarang, dan
sisa-sisa fosilnya adalah beberapa fosil yang ditemukan di beberapa desa di daerah
lembah Bengawan Solo. Fosil-fosil itu oleh para ahli antropoligi disebut dengan
Pethecanthropus Erectus.
Manusia ini hidup dalam kelompok-kelompok kecil dari berburu dan
meramu. Alat berburunya yang terpenting adalah sebuah alat pemukul dari kayu
yang dipukulkan atau dilemparkan kepada binatang mangsanya. Sebagai alat guna
memotong-potong daging binatang yang telah dibunuh, guna mengerok kulitnya
dan sebagai kapak genggam guna memotong kayu dan guna membuat alat-alat
yanglain, dipakai olehnya suatu gumpal batu yang telah diperjatam pada satu sisi.
Kecuali itu tulang-tulang binatang dan tanduk rusa juga dipergunakan olehnya
sebagai peralatan untuk berbagai macam pekerjaan, dan untuk mencari dan
meramu akar-akar untuk dimakan.
Perkembangan selanjutnya, kira-kira 11.000 SM., manusia-manusia tadi
mengembangkan kemampuan dan kebudayaannya sehingga menghasilkan pola
hidup yang berbeda. Mereka menyebar ke berbagai arah di seluruh penjuru negeri
dan mulai hidup dalam kelompok-kelompok kecil di daerah muara-muara sungai
di mana mereka hidup dari usaha menangkap ikan di sungai, dari meramu
tumbuh-tumbuhan dan akar-akaran dan dari berburu di hutan belukar. Tempat
tinggal mereka berupa perkampungan-perkampungan yang terdiri dari sederet
rumah-rumah kecil yang dibuat dari bahan-bahan yang ringan. Rumah-rumah itu
sebenarnya hanya merupakan kemah atau tadah-angin saja, yang didirikan
menempel pada dinding dari suatu karang yang menengkuap, atau pada dinding
dari suatu gua yang besar. Kemah-kemah dan tadah-angin-tadah angin di bawah
karang atau gua tadi adalah tempat untuk tidur dan berlindung saja, sedangkan
tempat di mana mereka masak dan makan, di mana mereka duduk untuk
mengobrol dengan keluarga mereka, di mana mereka bermain-main dengan anakanak mereka, dan di mana mereka mengadakan pesta-pesta, adalah di halaman
terbuka di tepan kemah-kemah tadi.hewan-hewan yang mereka buru adalah rusa,
binatang-binatang kecil dan burung di hutan, atau menangkap ikan di sungai,
hanya dengan tongkat pukul atau tombak kayu.
Gelombang selanjutnya adalah munculnya manusia Indonesia dengan
bentuk fisik yang memiliki ciri Mongoloid. Orang-orang ini sudah mengenal
kepandaian bercocok tanam, sungguhpun tanpa irigasi. Mereka bercocok tanam di
ladang yang mereka buka dengan cara memotong dan membakar bagian-bagian
dari hutan. Dnengan pengolahan tanah yang minim, ialah sekedar mencangkul
saja, mereka menanam keladi dan ubi jalar. Kalau ladang-ladang yang mereka
tanami tanpa pengolahan tanah dan irigasi itu, kehabisan zat-zatnya dan hilang
kesuburannya, mereka pindah ke lain tempat di hutan, yang mereka buka algi
dengan cara menebang dan membakar. Sebagai alat, kapak digunakan untuk
menebang pohon dan sebagai cangkul untuk mengolah tanah, mereka pakai

sebuah alat berbentuk bujur sangkar pada penampangnya. Kapak-kapak serupa itu
diasah sampai mengkilat dan diikat kepada sebuah tangkai kayu dengan rotan.
Gelombang ini diperkirakan berlangsung selama masa 3000-1000 SM.
Meskipun tadi sudah dikatakan bahwa masa ini adalah masa manusia
Indonesia berkemampuan bercocok tanam, namun mereka masih belum mengenal
padi. Sebuah pertanyaan penting perlu diajukan di sini, yakni dari mana dan kapan
manusia Indonesia mengenal pertanian dan cara menanam padi? Menurut para
ahli, padi pertama kali ditanam di Burma. Mula-mula tanaman ini ditanam dengan
sistem ladang, lalu dibawa ke arah timur, ke arah Cina Selatan, melalui lembah
Sungai Yangtze, yang sejajar dengan sungai Mekhong. Dalam proses persebaran
itu padi mulai ditanam dengan teknik irigasi yang sudah dikenal oleh suku-suku
bangsa seperti yang kita kenal sekarang ini. Orang Indonesia mengenal
kepandaian menanam padi adalah akibat pengaruh dari bangsa-bangsa yang juga
membawa kepandaian membuat benda-benda perunggu, atau bangsa-bangsa yang
datang sesudah itu. Namun, kepandaian menanam padi di sawah itu sudah dikenal
paling sedikit oleh penduduk Jawa, sebelum pengaruh keubdayaan Hindu datang
dalam abad ke-4 Masehi.
Gelombang selanjutnya, yang tentu saja harus disebutkan di sini dan
menandai berakhirnya masa prasejarah di Indonesia, adalah kepandaian membuat
benda-benda perunggu. Benda-benda itu bisa berupa nekara (genderang
perunggu); alat-alat berupa kapak perunggu dengan beraneka warna bentuk, besar,
kecil, pendek, lebar, bulat; alat perunggu berupa cendrasa; bejana-bejana
perunggu tempat abu orang meninggal; perhiasan-perhiasan berupa gelanggelang, manik-manik; kaling; cincin-cincin dari perunggu; arca-arca perunggu;
mata uang; juga alat-alat besi. Benda-benda itu bisa ditemukan Sumatra, Jawa
dan Nusa Tenggara, khususnya Bali, Sangean (Sumbawa), Rote, Leti, Selayar,
Kei, Alor, Timor dan di Irian Jaya (Sentani).
Kepandaian membuat perunggu itu biasanya berdampingan dengan
perkembangan peradaban yang mendasarkan kepada masyarakat kota. Di Asia
Tenggara zaman purbakala, kota itu biasanya merupakan pusat kerajaan dan
istana, pusat kompleks pemujaan dan pusat-pusat pemujaan. Masyarakat kota-kota
dengan suatu sistem pemerintahan yang lebih luas dari pemerintahan desa dapat
kita perkirakan berkembang di Asia Tenggara. Banyak dari negara-negara tertua di
benua Asia Ternggara yang berkembang di lembah-lembah daerah hilir sungaisungai besar itu terpengaruh oleh unsur-unsur kebudayaan Cina, sedangkan
kebudayaan-kebudayaan dalam negara-negara tertua di Indonesia terpengaruh
oleh unsur-unsur kebudayaan yang terjadi karena percampuran antara
kebudayaan-kebudayaan pribumi dan unsur-unsur Cina.
Baru kemudian sejak abad ketiga dan keempat Masehi, mulailah tampak
pengaruh unsur-unsur kebudayaan yang berasal dari India, ialah unsur-unsur
kebudayaan yang dibawa ke Asia Tenggara dengan persebaran agama Hindu dan
Budha ke daerah itu. Dengan persebaran agama Hindu dan Budha mulailah suatu
babak baru dalam sejarah kebudayaan bangsa-bangsa di Asia Tenggara pada
umumnya dan di Indonsia pada khususnya, karena pengaruh itu membawa suatu
kepandaian baru kepada mereka, yakni kepandaian menulis. Dengan itu juga
berhentilah abad-abad prehistori, dan mulailah abad-abad histori atau abad-abad

sejarah bangsa Indonesia (Koetjaraningrat, 1990: 3-21).

2. Pada masa antara abad ke-4 atau 5 hingga abad ke-15, terdapat banyak sekali
kerajaan Hindu-Budha yang berdiri dan runtuh. Masa ini adalah masa di mana
Indonesia sebagai bangsa mendapat pengaruh kuat dari India dan Cina. Kerajaankerajaan tersebut adalah sebagai berikut:
Kerajaan Kutai (di Kalimantan Timur). Berdasarkan prasasti yang berupa 7 yupa
(tiang batu), dapat diketahui bahwa raja Mulawarman adalah keturunan dari raja
Aswawarman keturunan dari Kudungga. Raja Mulawarman menurut prasasti
tersebut mengadakan kenduri dan memberi sedekah kepada para Brahmana, dan
para Brahmana membangun yupa itu sebagai tanda syukur dan terima kasih
terhadap sang raja yang dermawan. Dari upacara-upacara yang ada, masyarakat
kerajaan ini menganut Hindu.
Tarumanegara (pesisir utara Jawa Barat). Sekitar tahun 400-500 Masehi di Jawa
Barat terdapat kerajaan dengan rajanya bernama Purnawarman. Berdasarkan
catatan Prasasti Tugu, para tahun kekuasaan raja Purnawarman yang ke-22, sungai
Gomati yang panjangnya 6122 busur ( 12 km) digali dalam 21 hari, di samping
sungai yang sudah ada, yaitu sungai Bekasi. Pekerjaan ditutup dengan pemberian
1000 ekor lembu kepada para brahmana.
Sungai yang digali itu kemungkinan sekali adalah terusan untuk membantu
pengaliran air sungai Bekasi di musim hujan, agar tidak ada banjir yang dapat
merusak daerah kanan kirinya. Usaha memperhatikan kepentingan rakyat ini
dalam tahun pemerintahannya yang ke-22 memberi kesan, bahwa Purnawarman
adalah raja yang berhasil menciptakan suasana damai dan tenteram di dalam
lingkungan kerajaannya.
Sriwijaya (di Sumatra Utara). Pada abad ke-7 muncul suatu kerajaan di Sumatra,
yaitu kerajaan Sriwijaya, di bawah kekuasaan Syailendra. Hal ini termuat dalam
prasasti Kedukan Bukit Siguntang dekat Palembang yang bertarikh 605 Saka atau
683 M., dalam bahasa Melayu Kuno dan huruf Pallawa. Kerajaan itu adalah
kerajaan maritim yang mengandalkan kekauatan lautnya, kunci-kunci lalu lintas
laut di sebelah barat dikuasainya seperti selat Sunda (686 M), kemudian selat
Malaka (775 M). Pada zaman ini kerajaan Sriwijaya merupakan suatu kerajaan
besar yang cukup disegani di kawasan Asia Selatan. Perdagangan dilakukan
dengan mempersatukan dengan pedagang pengrajin dan pegawai raja yang disebut
Tuha An Vatakvurah sebagai pengawas dan pengumpul semacam koperasi
sehingga rakyat mudah untuk memasarkan barang dagangannya.
Demikian pula dalam sistem pemerintahannya terdapat pegawai pengurus
pajak, harta benda kerajaan, rokhaniwan yang menjadi pengawas teknis
pembangunan gedung-gedung dan patung-patung suci sehingga pada saat itu
kerajaan dalam menjalankan sistem pemerintahannya tidak lepas dari nilai
ketuhanan.
Agama dan kebudayaan dikembangkannya dengan mendirikan suatu
universitas agama Budha, yang sangat terkenal di negara lain di Asia. Banyak
musafir dari negara lain misalnya dari Cina terlebih dahulu di universitas tersebut

terutama tentang agama Budha dan bahasa Sansekerta sebelum melanjutkan


studinya ke India. Malahan banyak guru-guru besar tamu dari India yang
mengajar di Sriwijaya misalnya Dharmakitri. Cita-cita tentang kesejahteraan
bersama dalam suatu negara telah tercermin pada kerajaan Sriwijaya tersebut,
yaitu berbunyi marvuat vanua Criwijaya iddhayatra subhiksa (suatu cita-cita
negara yang adil dan makmur).
Kalingga (Jawa Tengah). Sejak tahun 674, kerajaan ini diperintah oleh seorang
raja perempuan bernama Sima. Pemerintahannya sangat keras, tapi berdasarkan
kejujuran mutlak. Tak ada seorang pun yang berani melanggar hak dan kewajiban
orang lain. Diceritakan bahwa sang raja sengaja meletakkan kantong berisi emas
di tengah jalan, dan tak ada orang yang punya pikiran untuk mengambilnya,
sampai tiga tahun kemudian putra mahkota secara kebetulan menyentuhnya
dengan kakinya. Segera sang raja memutuskan hukuman mati bagi putranya.
Keputusan ini dapat dicegah oleh para menteri, namun hukuman tetap harus
dijatuhkan. Karena kakinya yang salah, yaitu menyentuh sesuatu yang bukan
miliknya, maka kakinya itulah yang dipotong.
Kisah lain menyebutkan bahwa pada tahun 664 telah datang seorang
pendeta bernama Hwi-ning di kerajaan ini dan tinggal di situ selama 3 tahun.
Dengan bantuan pendeta Kalingga, Jnanabadra, dia menerjemahkan berbagai
kitab suci agama Budha Hinayana.
Airlangga (di Jawa Timur). Raja Airlangga membangun bangunan keagamaan
dan asrama, dan raja ini memiliki sikap toleransi dalam beragama. Agama yang
diakui oleh kerajaan adalah agama Budha, agama Wisnu dan agama Syiwa yang
hidup berdampingan secara damai. Menurut Prasasti Kelagen, Raja Airlangga
telah mengadakan hubungan dagang dan bekerja sama dengan Benggala, Chola
dan Champa. Demikian pula, Airlangga mengalami penggemblengan lahir dan
batin di hutan dan tahun 1019 para pengikutnya, rakyat dan para brahmana
bermusyawarah dan memutuskan untuk memohon Airlangga bersedia menjadi
raja, meneruskan tradisi istana. Demikian pula menurut prasasti Kelagen, pada
tahun 1037, raja Airlangga memerintahkan untuk membuat tanggul dan waduk
demi kesejahteraan pertanian rakyat.
Majapahit (di Jawa Timur). Pada tahun 1293, berdirilah kerajaan Majapahit yang
mencapai zaman keemasan pada pemerintahan raja Hayam Wuruk dengan
Mahapatih Gajah Mada yang dibantu oleh laksamana Nala dalam memimpin
armadanya untuk menguasai Nusantara. Wilayah kekuasaan Majapahit semasa
jayanya itu membentang dari semenanjung melayu (Malaysia sekarang) hingga
Irian Barat melalui Kalimantan utara.
Pada waktu itu, agama Hindu dan Budha hidup berdampingan dengan
damai dalam satu kerajaan. Empu Prapanca menulis Negarakertagama (1365).
Dalam kitab tersebut telah terdapat istilah Pancasila. Empu Tantular mengarang
buku Sutasoma, dan di dalamnya bisa dijumpai seloka persatuan nasional, yaitu
Bhineka Tunggal Ika yang berbunyi lengkap: Bhineka Tunggal Ika Tan Hana
Dharma Mangrua, artinya: walaupun berbeda namun satu jua adanya sebab
tidak ada agama yang memiliki Tuhan yang berbeda. Hal ini menunjukkan
adanya realitas kehidupan agama pada itu, yaitu agama Hindu dan Budha. Bahkan
salah satu bawahan kekuasaannya yaitu Pasai justru telah memeluk agama Islam.

Toleransi positif dalam bidang agama dijunjung tinggi sejak masa bahari yang
silam.
Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Mahapatih Gajah Mada dalam sidang
Ratu dan Menteri-menteri di paseban keprabuan Majapahit pada tahun 1331, yang
berisi cita-cita mempersatukan seluruh nusantara raya sebagai berikut: Saya baru
akan berhenti berhenti puasa makan pelapa, jikalau seluruh nusantara takluk di
bawah kekuasaan negara, jikalau Gurun, Seram, Tanjung, Haru, Pahang,
Dempo, Bali, Sunda, Palembang dan tumasik telah dikalahkan.
Selain itu, dalam hubungannya dengan negara lain raja Hayam Wuruk
senantiasa mengadakan hubungan bertetangga dengan baik dengan kerajaan
Tiongkok, Ayodya, Champa dan Kamboja. Menurut prasasti Brumbung (1329),
dalam tata pemerintahan kerajaan Majapahit terdapat semacam penasehat seperti
Rakryan I Hino, I Sirikan, dan I Halu yang bertugas memberikan nasihat kepada
raja.
Majapahit menjulang dalam arena sejarah kebangsaan Indonesia, dan
banyak meninggalkan nilai-nilai yang diangkat dalam nasionalisme negara
kebangsaan Indonesia 17 Agustus 1945. Kemudian, disebabkan oleh faktor
keadaan dalam negeri sendiri seperti perselisihan dan perang saudara pada
permulaan abad ke-15, maka sinar kejayaan majapahit berangsur-angsur mulai
memudar dan akhirnya mengalami keruntuhan pada abad ke-16 (1520). Masa ini
dikenal dengan Sinar Hilang Kertaning Bumi (Kartodirdjo, 1975).
Semua itu adalah nama-nama, berikut sedikit penjelasan mengenai
sejarahnya, kerajaan Hindu-Budha yang pernah berdiri dan jaya di Indonesia.
Kesemuanya menunjukkan adanya pengaruh yang datang dari India, tidak hanya
di bidang keagamaan, tapi juga dalam bidang politik, sosial-ekonomi, dan
kebudayaan.
Satu cacatan penting perlu ditambahkan bahwa masyarakat Indonesia
adalah masyarakat yang sangat terbuka terhadap kebudayaan di luar dirinya
sehingga sangat mudah sekali melakukan asimilasi. Namun, justru dengan proses
asimilasi ini identitas yang dimiliki tidak dengan sendirinya luntur atau hilang
karena terhegemoni oleh pendatang, akan tetapi justru malah semakin terbentuk,
dan memberi sumbangan terhadap apa yang sekarang dikenal dengan sebutan
kebudayaan Nusantara.
3. Islam datang ke Indonesia melalui empat jalur: (1) Jazirah Arab, (2) Gujarat,
India, (3) Persia, dan (4) Cina, baik melalui perdagangan, pemukiman maupun
pelarian dari negeri asal. Hingga saat ini belum bisa ditentukan, dari manakah di
antara keempat jalur islamisasi itu yang pertama kali datang ke Indonesia. Namun,
karena proses Islamisasi yang memakan waktu panjang hingga berabad-abad,
hanya bisa dipastikan bahwa di daerah-daerah pesisir banyak pemukimanpemukiman kaum Muslim dari keempat daerah tersebut.
Dengan berkembangnya perdagangan rempah-rempah di laut-laut
Nusantara menyebabkan timbulnya suatu lapisan pedagang yang makmur dan
suatu aristokrasi pelabuhan yang kuat. Waktu kekuatan Sriwijaya mundur, kirakira dalam abad ke-13, sejajar dengan naiknya kekuasaan negara-negara di Jawa

Timur, perdagangan di Nusantara bagian barat rupa-rupanya jatuh di tangan


beberapa negara bangsa-bangsa asing, yakni pedagang-pedagang dari Parsi dan
Gujarat, yang eaktu itu rupa-rupanya mulai memeluk agama Islam. Hal ini juga
berlangsung di tempat-tempat lain di Asia Tenggara, yakni Cheng-La di
Muangthai dan Laos sekarang dan Champa di Vietnam Tengah sekarang.
Pada kisaran akhir abad ke-14 atau awal abad ke-15, bertepatan dengan
mundurnya kekuatan maritim kerajaan Majapahit, beberapa tempat strategis
berhasil melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit dan mendirikan kerajaannya
sendiri yang independen. Lokasi-lokasi ini, yang pada umumnya adalah lokasi
yang paling intens berhubungan dengan para pedagang asing itu, dapat
mempergunakan pedagang-pedagang itu untuk kepentingan mereka sendiri dan
dengan demikian sepanjang abad ke-15 berkembang menjadi negara-negara pantai
yang dapat merongrong kekuasaan Majapahit di pedalaman. Demikianlah, maka
kemudian timbul antara lain kerajaan Malaka di semenanjung Melayu, Negara
Aceh di ujung utara Sumatra, negara Banten di Jawa Barat, dan Negara Demak di
pantai utara Jawa Tengah, dan kemudian negara Goa di Sulawesi Selatan.
Oleh karena proses Islamisasi awal ini merupakan inisiatif dari para
pedagang dari Gujarat atau Parsi, sedangkan corak keberislaman di dua tempat itu
bercorak mistik dan tasawuf, maka bisa disimpulkan dengan segera bahwa Islam
yang mereka tanamkan di bumi pertiwi adalah Islam dengan corak yang sama. Hal
ini bisa dilihat dengan sangat gamblang dalam Nuruddin ar-Raniri di Sumatra dan
Syekh Siti Jenar di Jawa. Agama Islam dengan corak demikian pula yang
disebarkan oleh penyiar-penyiar yang dalam folklore Jawa dikenal dengan sebutan
wali, dan di dalam kepercayaan rakyat dianggap sebagai orang-orang keramat.
Di daerah-daerah yang belum amat terpengaruh oleh kebudayaan Hindu,
agama Islam mempunyai pengaruh yang mendalam dalam kehidupan penduduk di
daerah yang bersangkutan. Demikian keadaannya misalnya di Aceh, di Banten di
Pantai Utara Jawa, dan di Sulawesi Selatan. Adapun lain-lain daerah di Sumatra
seperti Sumatra Timur, Sumatra Barat, dan Pantai Kalimantan, mengalami proses
pengaruh yang sama. Sebaliknya, di daerah-daerah di mana pengaruh kebudayaan
Hidu itu kuat dan telah mengembangkan suatu corak tersendiri seperti di Jawa
Tengah dan Jawa Timur, agam Islam dirobah menjadi suatu agama yang kita kenal
dengan sebutan agama Jawa. Adapun orang yang menganut ajaran-ajaran dan
syariah agama Islam secara taat, disebut dalam bahasa Jawa orang Islam santri.
Tentu saja orang Islam Santri itu tidak hanya ada di daerah pesisir di Jawa Tengah
dan Jawa Timur saja, namun ada juga tersebar di seluruh Jawa, hanya saja ada
daerah-daerah di mana orang Santri itu hanya merupakan suatu minoritas, seperti
misalnya di daerah Yogyakarta, Surakarta, Madiun, dan lain-lain.
4. orang Eropa masuk ke Indonesia pertama kali adalah melalui aktivitas
perdagangan-perdagangan. Gelombang pertama, para pedagang dari Portugis
memasuki lautan Nusantara pada abad ke-16 setelah negara Portugal berhasil
menaklukkan Malaka pada tahun 1511. Malaka adalah sebuah lokasi yang amat
strategis karena merupakan pintu gerbang perlintasan keluar-masuknya laut
Nusantara dari barat ke timur dan sebaliknya. Meski begitu, orang Portugis tidak
bisa lama menguasai daerah ini karena bangsa Eropa lainnya juga berdatangan

berlayar sampai daerah Nusantara untuk berdagang rempah-rempah. Demikianlah


datang orang Belanda, orang Spanyol dan orang Inggris. Bangsa-bangsa ini
bersaing satu sama lain untuk dapat melakukan monopoli perdagangan rempahrempah, hingga akhirnya orang Belandalah dengan usaha dagangnya (VOC) yang
berhasil menduduki tempat-tempat yang paling strategis, yakni kepulauan Maluku
Tengah (Banda, Ambon, Seram). Kemudian mereka berhasil memaksakan
monopoli perdagangan rempah-rempah dari kerajaan Banten, sedangkan Malaka
dapat mereka rebut dari tangan orang Portugis pada tahun 1641. sebelumnya,
orang Belanda telah membangun sebuah benteng dan kota pelabuhan yang kuat di
sebuah tempat yang mereka sebut Batavia, Jakarta sekarang, pada tahun 1619.
dengan benteng itu orang Belanda bisa menjaga monopolinya atas rempah-rempah
dari Banten dan melakukan hubungan pelayaran antara Maluku dan Malaka.
Sebaliknya, benteng Batavia ini dianggap sebagai sebuah ancaman oleh
Mataram yang berpusat di daerah pedalaman Jawa Tengah. Dalam rangkaian
peperangan yang kemudian timbul antara Mataram dan orang Belanda di Batavia,
Mataram tidak dapat melawan teknologi persenjataan Belanda yang lebih unggul,
sedangkan secara politis mereka dirongrong oleh campur tangan Belanda dalam
suatu rangkaian peristiwa perselisihan internal mengenai pergantian raja. Pada
tertengahan abad ke-18, dengan perjanjian Gianti pada tahun 1755, Mataram
pecah dalam tiga kerajaan kecil, yang sebagai kerajaan-kerajaan boneka harus
tunduk kepada perusahaan dagang Belanda.
Pada akhir abad ke-18, perusahaan dagang Belanda, VOC mundur,
sehingga terpaksa dinyatakan bangkrut pada tahun 1799. Dengan demikian semua
miliknya di Nusantara diambil alih oleh kerajaan Belanda dan dengan itu daerahdaerah koloni VOC menjadi jajahan negara Belanda.
Pada saat pengambilalihan pada abad ke-18 itu, belum semua daerah yang
sekarang menjadi wilayah negara Republik Indonesia itu dikuasai Belanda.
Banyak daerah lain di luar Jawa baru kemudian sepanjang abad ke-19 dan
permulaan abad ke-20, direbut oleh mereka. Bengkulu, misalnya, baru ditukarkan
dengan Singapura dari Inggris pada suatu perjanjian diplomatik di London antara
Belanda dan Inggris pada tahun 1824; daerah Minangkabau baru dapat dikuasai
oleh Belanda setelah mereka berhasil ikut campur tangan dalam Perang Padri pada
tahun 1837; tanah Batak yang sudah dimasuki oleh orang Belanda sejak tahun
1841, baru dapat mereka kuasai sepenuhnya sewaktu mereka menaklukkan orang
Batak Toba pada tahun 1883; Lombok yang sudah mulai dimasuki sejak 1843,
baru dapat dikuasai penuh sesudah suatu peperangan sengit pada tahun 1894; Bali
yang sudah mulai dimasuki pada tahun 1814, baru dapat dikuasai penuh sesudah
pertempuran di Bandung pada tahun 1906; sedangkan Aceh baru dapat dikuasai
penuh oleh Belanda setelah perang yang berlangsung hampir 30 tahun lamanya
antara tahun 1873 dan 1903.
Pusat-pusat kekuasaan pemerintahan Belanda merupakan kota-kota
pemerintahan, seperti kota propinsi, kota kabupaten dan kota distrik. Kota-kota itu
kecuali berbeda dalam hal besar-kecilnya, pada umumnya punya pola yang sama.
Pusat kota merupakan lapangan (alun-alun) yang dikelilingi oleh gedung-gedung
penting, yakni rumah dan kantor kepala kota, mesjid, penjara, rumah gadai, dan
beberapa kantor lainnya; kemudian ada kampung Cina yang berupa toko-toko

barang kelontong, pasar, dan beberapa pertukangan dan industri kecil yang
memberi pelayanan kepada penduduk kota.
Dalam kota-kota pusat pemerintahan itu, terutama yang ada di Jawa,
Sulawesi Utara, dan di Maluku, berkembanglah dua lapisan sosial. Pertama,
adalah kaum buruh yang telah meninggalkan pekerjaan tani dan bekerja dengan
tangan dalam berbagai macam lapangan pertukangan, sebagai pelayan di rumah
tangga orang pegawai atau pedagang-pedagang Tionghoa, atau sebagai buruh
dalam perusahaan dan industri kecil. Kedua, adalah lapisan masyarakat dari
kalangan pegawai (di Jawa disebut dengan priyayi), yang bekerja di belakang
meja tulis. Dalam lapisan masyarakat kedua ini, pendidikan Barat di sekolahsekolah dan kemahiran dalam bahasa Belanda menjadi syarat yang utama untuk
naik kelas sosial.
Di beberapa kota di Jawa dan di beberapa daerah lain di Indonesia telah
mulai berkembang pula sejak satu abad yang lalu, suatu golongan orang pedagang
Indonesia yang dapat menempati sektor-sektor dalam ekonomi Indonesia di
tingkat menengah, yang belum atau tidak diduduki oleh orang-orang Tionghoa,
seperti kerajinan tangan, batik, tenun, rokok kretek dan lain-lain, namun suatu
golongan pedagang dan usahawan pribumi yang kuat dengan suatu gaya hidup
dan kebudayaan yang dapat terasa pengaruhnya pda lain-lain golongan di
Indonesia, belum pernah berkembang. Hingga saat ini, kebudayan dengan
mentalitas pegawai negeri masih amat berpengaruh terhadap kehidupan
kebudayaan Indonesia.
Tingkat perdagangan menengah dan perantara (distributor) dalam zaman
kolonial Belanda adalah dikuasai oleh orang Tionghoa dan keturunan orang
Tionghoa, yang mulai masuk ke Indonesia dalam jumlah bedar sejak abad ke-17
dan 18. Orang-orang ini mendapat kedudukan dalam perdagangan perantara dan
tengkulak, yang menghubungkan perdagangan tingkat bawah dalam ekonomi
pedesaan dengan pedagang besar dalam rangka ekonomi ekspor inernasional yang
berada di tangan orang Belanda. Banyak orang Tionghoa juga dimasukkan oleh
orang Belanda, terutama pada abad ke-18, untuk dipekerjakan sebagai kuli dan
buruh dalam pertambangan-pertambangan dan perkebunan orang Belanda.
Dengan struktur ekonomi seperti diuraikan di atas, rakyat pribumi yang
sebagian besar hidup di desa-desa tetap berada dalam keadaan miskin dan tidak
ikut terseret dalam proses perkembangan dan kemajuan ekonomi luar biasa yang
dialami oleh kaum penjajah Belanda itu. Hal ini berlangsung sejak paruh abad ke19 yang lalu. Pada saat yang sama, dalam keadaan miskin itu, rakyat Indonesia,
terutama di Jawa, di mana kekuasaan Belanda paling mantap, mengalami proses
kenaikan jumlah penduduk dengan suatu laju yang luar biasa cepat.
Berkat politik etis yang ditelorkan oleh Belanda di Indonesia,
berkembanglah sistem pendidikan sekolah-sekolah. Pengaruh kebudayan Eropa ke
dalam kebudayaan Indonesia yang bersifat positif adalah pengaruh ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan orang Indonesia. Meski apresiasi
terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi masih tetap terbatas pada suatu bagian
kecil saja dari rakyat Indonesia, namun kesadaran mengenai pentingnya hal itu
untuk kemajuan sudah mulai ada pada suatu kalangan yang luas di negeri ini.
Selanjutnya, perlu disebutkan suatu pangaruh kebudayaan Eropa yang juga

masuk ke dalam kebudayaan Indonesia adalah agama katolik dan Protestan


(terutama dari aliran Calivinisme). Agama-agama tersebut biasanya disiarkan
dengan sengaja oleh organisasi-organisasi penyiaran agama (missie untuk agama
Katolik dan zending untuk agama Protestan) yang semuanya bersifat swasta.
Penyiaran dilakukan terutama di daerah-daerah dengan penduduk yang belum
pernah mengalami pengaruh agama Hindu dan Budha, atau yang belum memeluk
agama Islam. Daerah-daerah itu adalah misalnya Irian Jaya, Maluku Tengah dan
Selatan, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara dan pedalaman Kalimantan.
5. Dalam kamus ilmu politik, nasionalisme berasal dari akar kata Natie. Kata ini
kemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi Nation yang berarti
masyarakat manusia yang bentuknya diwujudkan oleh sejarah. Kesatuan bahasa
adalah salah satu sifat dari nation, begitupun juga kesatuan daerah. Sifat lainnya
adalah: kesatuan hidup ekonomis, hubungan ekonomis, kesatuan keadaan jiwa
yang terlukis dalam kesatuan kebudayaan.
Sedangkan nasionalisme adalah kesadaran diri yang meningkat dan
yangdiujudkan oleh kecintaan yang melimpah pada negeri dan bangsa sendiri
dan kadang-kadang disertai akibat mengecilkan arti dan sifat bangsa-bangsa
lain.
Dalam sejarahnya, nasionalisme dikembangkan dan diteorisasikan oleh
beberapa pemikir, khususnya di Eropa. Para pemikir ini kemudian berpengaruh
terhadap kebangkitan dan kemunculan nasionalisme di Indonesia.
Pertama, tentu saja adalah Ernest Renan yang gagasannya tentang bangsa
kemudian dia tuangkan dalam bukunya, Qu'est ce qui'une nation? (Apakah
Bangsa Itu?). Menurut Renan, bangsa adalah jiwa, suatu asas kerohanian, yang
ditimbulkan oleh (1) kemuliaan bersama di waktu lampau, yang dari aspek ini
bangsa dapat disebut sebagai suatu hasil historis; dan (2) keinginan untuk hidup
bersama (le desir de vivre ensemble) di waktu sekarang. Jadi suatu persetujuan
atau solidaritas besar dalam bentuk tetap mempergunakan warisan dari masa
lampau tersebut bagi waktu sekarang dan seterusnya.
Kedua, terdapat Otto Bauer yang juga berusaha menjawab pertanyaan
apakah bangsa itu? Dalam rumusannya, Otto Bauer menjawab bahwa eine
Nation ist eine aus schicksalsgemeischaft erwachsene charaktergemeinschaft
(suatu bangsa adalah suatu masyarakat ketertiban yang muncul dari masyarakat
yang senasib).
Ketiga, adalah teori Geopolitik yang menyatakan bahwa sebuah bangsa
merupakan persatuan darah-dan-tanah. Teori ini amat berpengaruh terhadap
nasionalisme dan pergerakan kemerdekaan di Indonesia, terutama sebagaimana
terlihat dalam pidato Bung Karno dalam sidang BPUPKI 1945 menjelang
kemerdekaan Indonesia (Hardjosatoto, 1985: 42-54).
Mengenai kapan pertama kali munculnya kesadaran akan nasionalisme di
dalam bangsa Indonesia sendiri, para sejarahwan berbeda pendapat mengenai hal
ini. Namun, sebetulnya tanda-tanda kemunculan itu bisa dilacak hingga R. A.
Kartini, yakni dalam surat-suratnya yang kemudian diterbitkan di Belanda dengan
judul Van duistornis tot licht (Tirtoprodjo, 1961: 7-8).

Perkembangan nasionalisme berkembang dan terpupuk dalam bentuk


munculnya organisasi-organisasi di Indonesia. Organisasi-organisasi itu ada yang
berupa organisasi kepelajaran, seperti Indische Vereniging (Perhimpunan Hindia,
1908) yang kemudian berubah menjadi Indonesche Vereniging (Perhimpunan
Indonesia, 1922) dan Boedi Oetomo (1908); ada pula yang berupa organisasi
pemuda, seperti Jong Java (1915), Jong Sumatranen Bond (1917), Jong Minahasa
(1918), Jong Ambon dan Jong Celebes; ada pula yang berupa perserikatan sekerja,
seperti Syarekat Dagang Islam (1911) yang kemudian menjadi Syarekat Islam,
Vereniging van Spooren Tramweg Personeel (1912) dan Perserikatan Pegawai
Pegadaian Bumiputera (1916); beberapa perkumpulan partai, seperti Indische
Partij yang didirikan oleh Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi
Surjaningrat pada tahun 1911, Partai Nasional Indonesia, Partai Komunis
Indonesia, Indische Sociale Democratische Partij, dan lain-lain.
Selain itu, muncul pula organisasi-organisasi perempuan, seperti Putri
Mardika (1912), Wanudijo Utomo, Sarekat Perempuan Islam Indonesia, dan lainlain. Lalu terdapat pula organisasi-organisasi yang bergerak di bidang keagamaan,
seperti Muhammadiah (1912), Ahmadiyah-Lahore dan Ahmadiyah-Kadian,
Nahdlatul Ulama, dan lain-lain (Pringgodigdo, 1991).
6.
7. Pancasila adalah philosofische grondslag, kata Bung Karno pada pidato
pertama tentang Pancasila, 1 Juni 1945adalah sebuah fondasi filosofis (Alam,
2000: 9-34). Negeri Indonesia dibangun di atas fondasi ini. Ibarat sebuah
bangunan, Negara Indonesia berdiri di atas sebuah fondasi yang bernama
Pancasila ini. Kokohnya bangunan Negara Indonesia ini bergantung pada fondasi
yang menyokongnya tersebut.
Dalam sidang BPUPKI yang dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 1945,
Muhammad Yamin mengusulkan di hadapan para peserta sidang sebuah dasar
negara yang terdiri atas lima hal, yaitu:
1. Peri Kebangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Kesejahteraan Rakyat
Selain itu, Muhammad Yamin juga mengajukan usul secara tertulis yang
juga terdiri atas lima hal, yaitu:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Persatuan Indonesia
3. Rasa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Usulan ini diajukan pada hari pertama dari sidang BPUPKI, tanggal 29
Mei 1945. Kemudian pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mengajukan usul
mengenai calon dasar negara yang terdiri atas lima hal, yaitu:

1. Nasionalisme (Kebangsaan Indonesia)


2. Internasionalisme (Perikemanusiaan)
3. Mufakat atau Demokrasi
4. Kesejahteraan Sosial
5. Ketuhanan yang Berkebudayaan
Kelima hal ini oleh Bung Karno diberi nama Pancasila. Lebih lanjut Bung
Karno mengemukakan bahwa kelima sila tersebut dapat diperas menjadi Trisila,
yaitu:
1. Sosio nasionalisme
2. Sosio demokrasi
3. Ketuhanan
Berikutnya tiga hal ini menurutnya juga dapat diperas menjadi Ekasila
yaitu Gotong Royong (Alam, 2000).
Pada sidang pertama ini, para anggota BPUPKI sepakat untuk membentuk
sebuah panitia kecil yang bertugas menampung usul-usul yang masuk dan
memeriksanya serta melaporkan kepada sidang pleno BPUPKI. Tiap-tiap anggota
diberi kesempatan mengajukan usul secara tertulis paling lambat sampai dengan
tanggal 20 Juni 1945. Anggota panitia kecil ini terdiri atas delapan orang, yaitu:
1. Ir. Soekarno
2. Ki Bagus Hadikusumo
3. K.H. Wachid Hasjim
4. Mr. Muh. Yamin
5. M. Sutardjo Kartohadikusumo
6. Mr. A.A. Maramis
7. R. Otto Iskandar Dinata
8. Drs. Muh. Hatta
Pada tanggal 22 Juni 1945 rapat gabungan antara Panitia Kecil dengan
para anggota BPUPKI menghasilkan persetujuan dibentuknya sebuah Panitia
Kecil Penyelidik Usul-Usul/Perumus Dasar Negara, yang terdiri atas sembilan
orang, yaitu:
1. Ir. Soekarno
2. Drs. Muh. Hatta
3. Mr. A.A. Maramis
4. K.H. Wachid Hasyim
5. Abdul Kahar Muzakkir
6. Abikusno Tjokrosujoso
7. H. Agus Salim
8. Mr. Ahmad Subardjo
9. Mr. Muh. Yamin
Panitia Kecil yang beranggotakan sembilan orang ini pada tanggal itu juga
melanjutkan sidang dan berhasil merumuskan calon Mukadimah Hukum Dasar,
yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Piagam Jakarta.
Pada sidang BPUPKI kedua, tanggal 10-16 juli 1945, mencapai hali
perumusan rancangan Hukum Dasar. Dan pada tanggal 9 Agustus dibentuk Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Selanjutnya, pada tanggal 15 Agustus
1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, dan sejak saat itu Indonesia

kosong dari kekuasaan. Keadaan tersebut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya


oleh para pemimpin bangsa Indonesia, yaitu dengan memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945. Sehari setelah proklamasi
kemerdekaan PPKI mengadakan sidang, dengan acara utama (1) mengesahkan
rancangan Hukum Dasar dengan preambulnya (Pembukaannya) dan (2) memilih
Presiden dan Wakil Presiden.
Untuk pengesahan Preambul, terjadi proses yang cukup panjang. Sebelum
mengesahkan Preambul, Bung Hatta terlebih dahulu mengemukakan bahwa pada
tanggal 17 Agustus 1945 sore hari, sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan, ada
utusan dari Indonesia bagian Timur yang menemuinya. Intinya, rakyat Indonesia
bagian Timur mengusulkan agar pada alinea keempat preambul, di belakang kata
ketuhanan yang berbunyi dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi
pemeluk-pemeluknya dihapus. Jika tidak maka rakyat Indonesia bagian Timur
lebih baik memisahkan diri dari negara RI yang baru saja diproklamasikan. Usul
ini oleh Muh. Hatta disampaikan kepada sidang pleno PPKI, khususnya kepada
para anggota tokoh-tokoh Islam, antara lain kepada Ki Bagus Hadikusumo, KH.
Wakhid Hasyim dan Teuku Muh. Hasan. Muh. Hatta berusaha meyakinkan tokohtokoh Islam, demi persatuan dan kesatuan bangsa.
Oleh karena pendekatan yang terus-menerus dan demi persatuan dan
kesatuan, mengingat Indonesia baru saja merdeka, akhirnya tokoh-tokoh Islam itu
merelakan dicoretnya dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi
pemeluk-pemeluknya di belakang kata Ketuhanan dan diganti dengan Yang
Maha Esa. Adapun bunyi pembukaan UUD 1945 adalah sebagai berikut
UNDANG-UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
PEMBUKAAN
(Preambule)
Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab
itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan
peri-kemanusiaan dan perikeadilan. Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan
Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa
mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara
Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan de-ngan didorongkan oleh
keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat
Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian daripada itu untuk
membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidup-an bangsa, dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadil-an
sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu
Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan
Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada
Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan
Indonesia dan Ke-rakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial

bagi seluruh rakyat Indonesia.

Alam, Wawan Tunggul. 2000. Bung Karno Menggali Pancasila (Kumpulan


Pidato). Jakarta: Gramedia.
Hardjosatoto, Suhartoyo. 1985. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia, Suatu
Analisa Ilmiah. Yogyakarta: Liberty.
Pringgodigdo, A.K. 1991. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. Jakarta: Dian
Rakyat.
Tirtoprodjo, Susanto. 1961. Sedjarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta: PT.
Pembangunan.
Sukmono, R. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta:
Kanisius.
Kartodirdjo, Sartono. 1975. Sejarah Nasional Indonesia II: Jaman Kuno (1 M1500 M). Jakarta: Balai Pustaka
Koentjaraningrat. 1990. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Bandung:
Penerbit Djambatan.