Anda di halaman 1dari 4

Kasus Quality Metal Service Center

Management Control System Anthony, Govindanrajan


1. Apakah usulan investasi modal dijelaskan dalam Lampiran 3 salah satu
yang
menarik
untuk
Pusat
Kualitas
Layanan
Logam?
Ya, tujuan perusahaan adalah untuk keuntungan maksimum, dan sebagai
Elizabeth Barret disarankan, dapat membantu perusahaan untuk membuat
lebih banyak keuntungan. Jadi usulan investasi modal dijelaskan dalam
Lampiran 3 adalah yang menarik bagi QMSC.
2. Apakah Ken Richards harus mengirimkan usulan tersebut kepada
kantor pusat untuk disetujui?
Ken perlu mengirim proposal ini ke kantor pusat untuk persetujuan, karena
usulan ini baik untuk perusahaan dan dapat membuat banyak keuntungan bagi
perusahaan. Dan alasan lain adalah, karena belanja modal yang dibutuhkan
lebih dari $ 10.000 dan semua keputusan sewa modal yang dibutuhkan
memerlukan persetujuan dari perusahaan.
3. Beri komentar tentang kegunaan umum dari ROA sebagai dasar untuk
mengevaluasi kinerja manajer distrik. Dapatkah ukuran kinerja ini dibuat
lebih efektif?
Pengukuran kinerja keuangan perusahaan dengan ROA menunjukkan
kemampuan atas modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva yang
dimiliki untuk menghasilkan laba. ROA memberikan ide tentang bagaimana
manajemen yang efisien dalam menggunakan aset untuk menghasilkan laba.
ROA dapat dihitung sebagai Penghasilan Bersih / Total Aset. Untuk
membuatnya lebih efektif QMSC dapat menggunakan: beberapa perhitungan
untuk mengukur kinerja seperti EVA.
4. Apakah masalah yang mungkin dapat muncul dalam sistem semacam
ini? Apa rekomendasi Anda untuk mengatasinya?
Return on asset (ROA) merupakan bentuk yang paling mudah dari analisis
profitabilitas dalam menghubungkan laba bersih (EBIT) yang dilaporkan
terhadap total aktiva.
Praktik-praktik yang mungkin dilakukan para manajer untuk menggunakan
aktiva lebih efisien dan mendapatkan jumlah aktiva baru yang tepat adalah
manajer lebih hati-hati dalam menggunakan aktiva untuk operasi perusahaan
karena untuk menjaga rasio agar tetap tinggi. Misalnya jika laba bersih

perusahaan tinggi tetapi total aktiva juga tinggi maka ROA yang dihasilkan
akan lebih kecil dibandingkan jika jumlah aktiva perusahaan tidak terlalu
tinggi.
Dasar pengukuran kinerja perusahaan dengan ROA belum merupakan dasar
yang terbaik karena pengukuran kinerja ini masih ada kelemahan-kelemahan
antara lain:
a. Angka-angka yang diperoleh dari perhitungan ROA tidak bisa berdiri
sendiri, rasio-rasio tersebut akan berarti jika ada perbandingan dengan
perusahaan sejenis yang mempunyai tingkat resiko yang hampir sama atau
dibandingkan dengan rasio industri, disamping itu juga diperlukan analisa
kecendrungan dari tiap-tiap rasio dengan tahun sebelumnya (Time Saries).
b. ROA mengabaikan adanya biaya modal, sehingga sulit untuk mengetahui
apakah suatu perusahaan telah menciptakan nilai atau tidak.
c. Pengukuran kinerja dengan menggunakan ROA membuat manajer divisi
memiliki kecenderungan untuk melewatkan project-project yang menurunkan
divisional ROA, meskipun sebenarnya proyek-proyek tersebut dapat
meningkatkan tingkat keuntungan perusahaan ecara keseluruhan.
d. Manajemen juga cenderung untuk berfokus pada tujuan jangka pendek dan
bukan tujuan jangka panjang. Sebuah project dalam ROA dapat meningkatkan
tujuan jangka pendek, tetapi project tersebut mempunyai konsekuensi negatif
dalam jangka panjang. Yang berupa pemutusan beberapa tenaga penjualan,
pengurangan budget pemasaran, dan pengguaaan bahan baku yang relatif
murah sehingga menurunkan kualitas produk dalam jangka panjang.
Rekomendasi untuk mengatasi hal tersebut adalah perusahaan disamping
menggunakan ROA sebagai penilaian kinerja juga dapat menggunakan
penilaian kinerja dengan Economic Value Added atau lebih dikenal dengan
sebutan EVA. EVA adalah pengukuran kinerja keuangan perusahaan yang
dihitung dengan cara mengurangkan net operating profit after tax dengan cost
of capital. EVA merupakan indikator tentang adanya penciptaan nilai dari
suatu investasi, EVA yang positif menandakan perusahaan berhasil
menciptakan nilai (Create Value) bagi pemilik perusahaan ini sejalan dengan
tujuan memaksimalkan nilai perusahan.

5. Pada saat menghitung laba distrik, apakah harus ada biaya untuk pajak
pendapatan? Haruskah overhead perusahaan dialokasikan ke distrik?
Haruskah laba dihitung berdasarkan biaya historis atau biaya
penggantian? Evaluasi hal ini dari sudut pandang pengaruh motivasi distrik

manajer.
Pada saat menghitung laba distrik harus ada biaya untuk pajak pendapatan
sejumlah tarif pajak dikalikan dengan pendapatan yang dihasilkan masingmasing distrik karena agar semua distrik terdapat pembebanan biaya pajak
untuk
pendapatannya.
Laba tidak harus dihitung berdasarkan biaya historis atau biaya penggantian,
namun hal ini perlu dihitung jika distrik memerlukan suatu laporan untuk
mengevaluasi kinerjanya dan untuk perencanaan di masa yang akan datang.
Dengan cara ini, manajer distrik akan mengetahui perbandingan biaya historis
dari tahun ke tahun sehingga manajer akan termotivasi untuk meminimalkan
biaya dan memaksimalkan laba dari tahun ke tahun yang akan datang.

6. Apakah sistem yang sekarang ini dapat memotivasi distrik untuk


membuat keputusan yang konsisten dengan strategi perusahaan? Jika
tidak, buatlah rekomendasi yang spesifik untuk memperbaiki sistem
tersebut!
Menurut kelompok kami, sistem yang sekarang ini masih diperlukan
pembaharuan karena dari perhitungan bonus dapat terlihat bahwa bonus
insentif tanpa proyek baru justru lebih rendah dibandingkan dengan bonus
insentif tanpa proyek baru. Hal ini dapat menyebabkan manajer distrik tidak
termotivasi untuk membuat keputusan yang konsisten dengan strategi
perusahaan
karena
bonus
yang
dihasilkan
lebih
rendah.
Rekomendasi untuk memperbaiki sitem tersebut adalah dengan menambahkan
konsep penilaian kinerja EVA.
https://www.scribd.com/doc/291600191/Makalah-SPM