Anda di halaman 1dari 33

ASKEP MATERNITAS-ABORTUS

December 10, 2012 by Ns. Andy Armyanto,S.Kep


BAB I
TINJAUAN TEORI

1. A. Definisi
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelu
kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar
kandungan.
(Sarwono, P. 2002)
Berakhirnya kehamilan sebelum anak dapat hidup di dunia luar disebut abortus. Anak baru
mungkin hidup di dunia luar kalau beratnya telah mencapai 1000 gram atu umur kehamilan 28
minggu. Ada juga yang mengambil sebagai batas untuk abortus berat anak yang kurang dari 500
gram. Jika anak yang lahir beratnya antara 500 dan 999 gram disebut partus immaturus.
(Fakultas Kedokteran UNPAD)
Abortus dapat dibagi menjadi sebagai berikut:
1. Abortus spontan (terjadi dengan sendiri, keguguran); merupakan kurang lebih 20% dari
semua abortus.
2. Abortus provokatus (disengaja, digugurkan); 80% dari semua abortus.
a)

Abortus provokatus artificialis atau abortus terapeutikus

Abortus provokatus artificialis adalah pengguran kehamilan, biasanya dengan alat-alat dengan
alasan bahwa kehamilan membahayakan membawa maut bagi ibu, misalnya karena ibu
berpenyakit berat.
Abortus provokatus pada hamil muda dibawah 12 minggu dapat dilakukan dengan pemberian
prostaglandin atau kuretase dengan penyedotan (vacum) atau dengan sendok kuret.

Pada hamil yang tua diatas 12 minggu dilakukan histerektomi, juga dapat disuntikkan garam
hipertonis (20%) atau prostaglandin intra-amnial. Indikasi untuk abortus terapeutikus misalnya:
penyakit jantung (jantung rheumatic), hipertensi esentialis, karsinoma serviks.

b)

Abortus provokatus kriminalis.

Abortus provokatus kriminalis adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang syah dan
dilarang oleh hukum.

Secara klinis masih ada istilah-istilah sebagai berikut:


1) Abortus imminens (keguguran mengancam). Abortus baru mengancam dan masih ada
harapan untuk mempertahankannya.
2) Abortus incipiens (keguguran berlangsung). Abortus ini sudah berlangsung dan tidak dapat
dicegah lagi.
3) Abortus inkompletikus (keguguran tidak lengkap). Sebagian dari buah kehamilan telah
dilahirkan tapi sebagian (biasanya jaringan plasenta masih tertinggal didalam rahim.
4) Abortus kompletikus (keguguran lengkap). Seluruh buah kehamilan telah dilahirkan
dengan lengkap.
5)
Missed abortion (keguguran tertunda). Missed abortion adalah keadaan dimana janin telah
mati sebelum minggu ke-22, tetapi tertahan didalam rahim selama 2 bulan atau lebih setelah
janin mati.
6) Abortus habitualis (keguguran berulang-ulang). Ialah abortus yang telah berulang dan
berturut-turut terjadi; sekurang-kurangnya tiga kali berturut-turut.

1. B. Etiologi
Walaupun terjadinya abortus habitualis berturut-turut mungkin kebetulan, namun wajar untuk
memikirkan adanya sebab dasar yang mengakibatkan peristiwa berulang ini. Sebab dasar ini
dalam kurang lebih 40% tidak diketahui; yang diketahui, dapat dibagi dalam tiga golongan:
1. Kelainan pada zigote

Agar bisa menjadi kehamilan, dan kehamilan itu dapat berlangsung terus dengan selamat, perlu
adanya penyatuan antara spermatozoon yang normal dengan ovum yang normal pula.
Kelainan genetik pada suami atau istri dapat menjadi sebab kelainan pada zigote dengan akibat
terjadinya abortus. Dapat dikatakan bahwa kelainan kromosomal yang dapat memegang peranan
dalam abortus berturut-turut, jarang terdapat. Dalam hubungan ini dianjurkan untuk menetapkan
kariotipe pasangan suami istri apabila terjadi sedikit-sedikitnya abortus berturut-turut tiga kali,
atau janin yang dilahirkan menderita cacat.

1. Gangguan fungsi endometrium yang menyebabkan gangguan implantasi ovum yang


dibuahi dan gangguan dalam pertumbuhan mudigah.
Malfungsi endometrium yang mengganggu implantasi dan mengganggu
pertumbuhannya.

mudigah dalam

Di bawah pengaruh estrogen, endometrium yang sebagian besar hilang pada waktu haid, timbul
lagi sesudah itu, dan dipersiapkan untuk menerima dengan baik ovum yang dibuahi. Sesudah
ovulasi glikogen yang terhimpun dalam sel-sel basal endometrium memasuki sel-sel dan lumen
kelenjar-kelenjar dalam endometrium, untuk kelak dibawah pengaruh alkalin fosfatase diubah
menjadi glukose. Di samping zat hidrat arang tersebut dibutuhkan pula protein, lemak, mineral,
dan vitamin untuk pertumbuhan mudigah.
Faktor-faktor yang dapat mengakibatkan gangguan dalam pertumbuhan endometrium adalah :
a)

Kelainan hormonal

Pada wanita dengan abortus habitualis, dapat ditemukan bahwa fungsi glandula tiroidea kurang
sempurna. Oleh sebab itu pemeriksaan fungsi tiroid pada wanita-wanita dengan abortus berulang
perlu dilakukan; pemerikasaan ini hendaknya dilakukan diluar kehamilan. Selain itu gangguan
fase luteal dapat menjadi sebab infertilitas dan abortus muda yang berulang. Gangguan fase
luteal dapat menyebabkan disfungsi tuba dengan akibat transfor ovum terlalu cepat, motilitas
uterus yang berlebihan dan kesukaran dalam nidasi karena endometrium tidak dipersiapkan
dengan baik.
b)

Gangguan nutrisi

Penyakit-penyakit yang mengganggu persediaan zat-zat makanan untuk janin yang sedang
tumbuh dapat menyebabkan abortus. Anemia yang berat, penyakit menahun dan lain-lain akan
mempengaruhi gizi penderita.
c)

Penyakit infeksi

Penyakit infeksi menahun yang dapat menjadi sebab kegagalan kehamilan ialah luwes. Disebut
pula mikoplasma hominis yang ditemukan di serviks uteri, vagina dan uretra. Penyakit infeksi
akut dapat menyebabkan abortus yang berturut-turut.
d)

Kelainan imunologik

Inkomtabilitas golongan darah A, B, O, dengan reaksi antigen-antibodi dapat menyebabkan


abortus berulang, karena pelepasan histamin mengakibatkan vasodilatasi dan peningkatan
fragilitas kapiler. Inkomtabilitas karena Rh faktor dapat menyebabkan abortus berulang, tetapi
hal itu biasanya menyebabkan gangguan pada kehamilan diatas 28 minggu.
e)

Faktor psikologis

Dibuktikan bahwa ada hubungan antara abortus berulang dan keadaan mental, akan tetapi
sebelum terang sebab musababnya. Yang peka terhadap terjadinya abortus ialah wanita yang
belum matang secara emosional dan sangat mengkhawatirkan risiko kehamilan; begitu pula
wanita yang sehari-hari bergaul dalam dunia pria dan menganggap kehamilan sebagai suatu
beban yang berat.
Dalam hal-hal tersebut diatas, peranan dokter untuk menyelamatkan kehamilan sangat penting.
Usaha-usaha dokter untuk mendapatkan kepercayaan pasien, dan menerangkan segala sesuatu
kepadanya, sangat membantu.

1. Kelainan anatomik pada uterus yang dapat menghalangi berkembangnya janin


didalamnya dengan sempurna.
Kelainan bawaan dapat menjadi sebab abortus habitualis, antara lain hipoplasia uterus, subseptus
uterus bikornis dan sebagainya. Akan tetapi pada kelainan bawaan seperti uterus bikornis,
sebagian besar kehamilan dapat berlangsung terus dengan baik. Walaupun pada abortus
habitualis perlu diselidiki dengan histerosalpingografi, apakah ada kelainan bawaan, perlu
diperiksa pula apakah tidak ada sebab lain dari abortus habitualis, sebelum menganggap kelainan
bawaan uterus tersebut sebaga sebabnya.
Diantara kelainan-kelainan yang timbul pada wanita dewasa terdapat laserasi serviks uteri yang
luas, tumor uterus khususnya mioma, dan serviks uteri yang inkompeten. Pada laserasi yang
cukup luas, bagian bawah uterus tidak dapat memberi perlindungan pada janin dan dapat menjadi
abortus, biasanya pada inkompeten; pada kehamilan 14 minggu atau lebih ostium uteri internum
perlahan-lahan membuka tanpa menimbulkan rasa nyeri dan ketuban mulai menonjol. Jika
keadaan dibiarkan, ketuban pecah dan terjadi abortus. Mioma uteri, khususnya berjenis sub
mukus, dapat mengganggu implantasi ovum yang dibuahi atau pertumbuhannya didalam cavum
uteri.

1. Patofisiologi
Patofisiologi terjadinya keguguran mulai dari terlepasnya sebagian atau seluruh jaringan plasenta
yang menyebabkan perdarahan sehingga janin kekurangan nutrisi dan O2 .bagian yang terlepas
dianggap benda asing, sehingga rahim berusaha untuk mengeluarkan dengan kontraksi.
Pengeluaran tersebut dapat terjadi spontan seluruhnya atau sebagian masih tertinggal yang
menyebabkan berbagai penyakit. Oleh karena itu, keguguran memberikan gejala umum sakit
perut karena kontraksi rahim, terjadi perdarahan, dan disertai pengeluaran seluruh atau sebagian
hasil konsepsi.
Bentuk perdarahan bervariasi diantaranya:
1. sedikit-sedikit dan berlangsung lama
2. sekaligus dalam jumlah yang besar dapat disertai gumpalan
3. akibat perdarahan tidak menimbulkan gangguan apapun; dapat menimbulkan syok, nadi
meningkat, tekanan darah turun, tampak anemis dan daerah ujung (akral) dingin.

Bentuk pengeluaran hasil konsepsi bervariasi:


1. umur kehamilan dibawah 14 minggu dimana plasenta belum terbentuk sempurna,
dikeluarkan seluruh atau sebagian hasil konsepsi.
2. diatas 16 minggu, dengan pembentukan plasenta sempurna dpat didahului dengan
ketuban pecah diikuti pengeluaran hasil konsepsi, dan dilanjutkan dengan pengeluran
plasenta berdasarkan proses persalinannya dahulu disebutkan persalinan immaturus.
3. hasil kosepsi tiak dikeluarkan lebih dari 6 minggu, sehingga terjadi ancaman baru dalam
bentuk gangguan pembekuan darah.

Berbagai bentuk perubahan hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan dapat terjadi:
1. mola karnosa: hasil konsepsi menyerap darah, terjadi gumpalan seperti daging.
2. mola tuberosa: amnion berbenjol-benjol, karena terjadi hematoma antara amnion dan
karion
3. fetus kompresus: janin mengalami mumifikasi, terjadi penyerapan kalsium, dan tertekan
sampai gepeng.

4. fetus papiraseus: kompresi fetus berlangsung terus, terjadi penipisan, laksna kertas.
5. blighted ovum: hasil konsepsi yang dikeluarkan tidak mengandung janin, hanya benda
kecil yang tidakberbentuk.
6. missed abortion: hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan lebih dari 6 minggu.

1. Pathway

2. E. Penatalaksanaan Kuretase
1. Persiapan Sebelum Tindakan
a)

Pasien

1)
cairan dan selang infus sudah terpasang, perut bawah dan lipat paha sudah dibersihkan
dengan air dan sabun.
2)

Uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi kardiopulmoner.

3)

Siapkan kain alas bokong dan penutup perut bawah.

4)

Medikamentosa

Analgetika (pethidin 1-2 mg/kg BB, ketamin HCI 0,5 mg/kg BB, tramadol 1-2 mg/kg BB)

Sedatifa (diazepan 10 mg)

Atropin sulfat 0,25-0,50 mg/kg

5)

Larutan antiseptik (povidon iodin 10%).

6)

Oksigen dengan regulator.

7)

Instrumen :

Cunam tampon: 1

Klem ovum (foersters/fenster clemp) lurus : 2

Sendok kuret pasca persalinan : 1

Spekulum sims atau L dan kateter karet : 2 dan 1

Tabung ml dan jarum suntik no 23 (sekali pakai) : 2

b)

Penolong (operator dan asisten)

1)

Baju kamar tindakan, apron, masker dan kacamata pelindung : 3 set

2)

Sarung tangan DTT/steril : 4 pasang

3)

Alas kaki (sepatu atau boot karet) : 3 pasang

4)

Instrumen :

Lampu sorot : 1

Mangkok logam : 2

Penampung udara dan jaringan : 1

1. Tindakan
a)

Instruksikan asisten untuk memberikan sedative dan analgetik.

b)

Bila penderita tidak berkemih, lakukan kateterisasi (lihat prosedur kateteresasi).

c)
Setelah kandung kemih dikosongkan, lakukan pemeriksaan bimanual. Tentukan besar
uterus dan bukaan serviks.
d)

Bersihkan dan lakukan dekontaminasi sarung tangan dengan larutan klorin 0,5%.

e)

Pakai sarung tangan DTT/steril yang baru.

f)
Pasang spekulum sims atau L, masukkan bilahnya secara vertikal kemudian putar ke
bawah.
g)
Pasang spekulum sims berikutnya dengan jalan memasukkan bilahnya secara vertikal
kemudian putar dan tarik ke atas sehingga porsio tampak dengan jelas.

h)
Minta asisten untuk memegang spekulum atas dan bawah, pertahankan pada posisinya
semula.
i)
Dengan cunam tampon, ambil kapas yang telah dibasahi dengan larutan antiseptik,
kemudian bersihkan lumen vagina dan poriso. Buang kapas tersebut dalam tempat sampah yang
tersedia, kembalikan cunam ke tempat semula.
j)
Ambil klem ovum yang lurus, jepit bagian atas porsio (perbatasan antara kuadran atas kiri
dan kanan atau pada jam 12).
k)

Setelah porsio terpegang baik, lepaskan spekulum atas.

l)
Pegang gagang cunam dengan tangan kiri, ambil sendok kuret pasca persalinan dengan
tangan kanan, pegang diantara ibu jari dan telunjuk (gagang sendok berada pada telapak tangan),
kemudian masukkan hingga menyentuh fundus.
m) Minta asisten untuk memegang klem ovum, letakkan telapak tangan pada bagian atas
fundus uteri (sehingga penolong dapat merasakan tersentuhnya fundus oleh ujung sendok kuret).
1. Memasukkan lengkung sendok kuret sesuai engan lengkung cavum uteri kemudian
laukan pengerokan dinding uterus bagian depan searah dengan jarum jam, secara
sistematis.
2. Masukkan ujung sendok sesuai dengan cavum lengkung uteri setelah sampai fundus,
kemudian putar 180 derajat, lalau bersihkan dinding belakang uterus. Kemudian
keluarkan jaringan yang ada.
n)
Kembalikan sendok kuret ke tempat semula, gagang klem ovum dipegang kembali oleh
operator.

o) Ambil kapas (dibasahi larutan antiseptik) dengan cunam tampon, bersihkan darah
dan jaringan pada lumen vagina.

p)

Lepaskan jepitan klem ovum pada porsio.

q)

Lepaskan spekulum bawah.

r)
Lepaskan kain penutup perut bawah, alas bokong dan sarung kaki masukkan ke dalam
wadah yang berisi larutan klorin 0,5%.
s)

Bersihkan cemaran darah dan cairan tubuh dengan larutan antiseptik.


1. Dekontaminasi
2. Cuci Tangan Sebelum Pasca tindakan

3. Perawatan Pasca tindakan

1. F. Data Fokus

Perdarahan

Serviks
Tertutup

Uterus
Sesuai dengan gestasi

Gejala / tanda
Kram perut bawah
Uterus lunak

Sedikit membesar dari


normal

Limbung atau pingsan


Nyeri perut bawah
Nyeri goyang porsio

Bercak hingga
sedang

Massa adneksa
Cairan bebas intra abdomen
Tertutup atau
terbuka

Lebih kecil dari usia


gestasi

Sedikit atau tanpa nyeri perut


bawah
Riwayat ekspulsi hasil
konsepsi

Sedang hingga
Terbuka
masif atau banyak

Sesuai usia kehamilan

Kram atau nyeri perut bawah


Belum terjadi ekspulsi hasil
konsepsi

Kram atau nyeri perut bawah


Ekspulsi sebagian hasil
konsepsi

Terbuka

Lunak dan lebih besar


dari usia gestasi

Mual atau muntah


Kram perut bawah
Sindroma mirip pre eklampsia
Tak ada janin keluar jaringan
seperti anggur

1. G. Pengkajian
1. Riwayat Obstetri
a)

Riwayat menstruasi

Menarche
Siklus
Lama
Banyak
Warna
Bau
Flour albous
HPHT
Disminorhe
b)

Riwayat kehamilan

c)

Riwayat kehamilan sekarang

HPL

ANC

Keluhan

TT

d)

Riwayat kontrasepsi
1. Riwayat perkawinan

2. Pola kebiasaan sehari-hari


a)

Nutrisi

Sebelum hamil
Selama hamil
b)

Eliminasi

Sebelum hamil
Selama hamil
c)

Istirahat

Sebelum hamil
Selama hamil

d)

Aktifitas

Sebelum hamil
Selama hamil
e)

Pola hubungan sexualitas

Sebelum hamil
Selama hamil

f)

Personal hygiene

Sebelum hamil
Selama hamil
1. Riwayat psikososial
2. Data spiritual

1. Data Objektif
1
2
3
4

Keadaan umum
Kesadaran
TTV
TB
BB sebelum hamil
LILA
BB setelah hamil
Pemeriksaan fisik
a)
Muka
b)

Mata

c)

Genetalia

Status obstetri
a)
Inspeksi
Muka
Perut
Vulva
b)

Palpasi

Abdomen / TFU
7

Pemeriksaan dalam
Servik

Pemeriksaan penunjang
Hb

1. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus yang berlebihan


2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya distribusi darah ke
seluruh tubuh.
3. Resti infeksi berhubungan dengan tindakan invasif
4. Berduka berhubungan dengan kehilangan calon anak

1. Nursing Care Plan

No

Diagnosa

Nyeri berhubungan dengan


1. kontraksi uterus yang
berlebihan

Tujuan

Intervensi

Setelah diberikan asuhan keperawatan


selama 2 x 2 jam diharapkan klien dapat
mengontrol nyeri yang dibuktikan dengan
Criteria hasil :

Klien menyatakan nyeri hilang/


terkontrol

Ekspresi wajah tidak menunjukkan


rasa menahan sakit

Kualitas nyeri menunjukkan skala 03

Perilaku relaksasi

TD 120/80 130/90 mmHg

Nadi 90x/ menit

Pola nafas efektif 24x/ menit

Berikan informasi dan petunjuk


antisipasi mengenai penyebab
ketidaknyamanan dan intervensi

Evaluasi tekanan
darah (TD) dan nadi.
Perhatikan perubahan
perilaku (bedakan
antara kegelisahan
karena nyeri atau
kehilangan darah
akibat dari proses
pembedahan.

Ubah posisi klien,


kurangi rangsangan
yang berbahaya dan
berikan gosokan
punggung anjurkan
penggunaan teknik
pernafasan dan
relaksasi dan distraksi
(rangsangan jaringan
kutan)

yang tepat

Gangguan perfusi jaringan


2. berhubungan dengan
berkurangnya distribusi
darah ke seluruh tubuh.

Setelah diberikan asuhan keperawatan


selama 2 x 2 jam diharapkan klien dapat
menunjukkan perfusi aekuat, sesuai dengan
bukti tanda vital atsbil, nadi teraba,
pengisian kapiler baik, mental biasa,

Palpasi kandung
kemih, perhatikan
adanya rasa penuh,
memudahkan
berkemih periodic
setelah pengangkatan
kateter indwelling.

Anjurkan penggunaan
dengan penyokong.

Lakukan latihan nafas


dalam, spirometri
intensif dan batuk
dengan menggunakan
prosedur-prosedur
tepat, 30 menit setelah
pemberian analgesic.

Panatau tanda vital;


palpasi nadi perifer
dan perhatikan
pengisian kapiler;kaji
keluaran atau

keluaran urin adekuat secara individual dan


bebas edema.

karakteristik urine,
evaluasi perubahan
mental.

Inspeksi balutan dan


pembalut prineal,
perhatikan warna,
jumlah dan bau
drainase. Timbang
pembalut dan
bandingkan dengan
berat yang kering, bila
pasien mengalami
perdarahan hebat.

Ubah posisi pasien


dan dorong batuk
sering dan latihan
nafas dalam.

Hindari posisi fowler


tinggi dan tekanan di
bawah lutut atau
menyilangkan kaki.

Bantu/instruksikan
latiha kaki dan telapak
dan ambulas sesegera
mungkin.

Periksa tanda hormo.


Perhatikan eritema,
pembengkakan
ekstremitas, atau

keluhan nyeri dad


tiba-tiba pada dispnea.
Kolaborasi

Resti infeksi berhubungan


3. dengan tindakan invasif

Berikan cairan IV,


produk drah sesuai
indiaksi.

Pekaikan stoking anti


emboli.

Bantu/dorong
penggunaan spirometri
insentif.

indikaror keadekuatan
perfusi sistematik.
Kebujtuhan caran/
darah, dan terjadinya
komplikasi.

Infeksi balutan
abdominal terhadap
eksudat/ rembesan.
Lepaskan balutans
sesuai indikasi

Setelah diberikan asuhan keperawatan


selama 4 x 24 jam diharapkan klien dapat
menerapkan teknik kontrol infeksi yang
dibuktikan dengan criteria hasil:

Suhu 37 C

Poal nafas efektif 24x/ menit

Tidak terdapat nyeri tekan

Luka bekas dari drainase dengan


tanda awal penyembuhan

Tidak terdapat kemerahan

Anjurkan dan gunakan teknik


mencuci tangan dengan cermat dan
pembuangan pangalas kotoran
pembakut parineal dan linen
terkontaminasi dengan tepat

Tinjau ulang Hb/Ht prenatal:


perhatikan adanya kondisi yang
mempredisposisikan klien pada
infeksi pasca operasi

Dorong dan masukan


cairan oral dan diet
tinggi protein, Vit C
dan besi

Kaji suhu, nadi, dan


jumlah sel darah putih

Kaji lokasi dan


kontraktivitas uterus,
perhatikan perubahan
involusi/ adanya nyeri
tekan uterus yang
ekstrim

Kolaborasi:

Berikan infuse
antibiotic profilaksi
dengan detil pertama
biasanya diberikan
segera setelah
pengekleman tali
pusat dan 2 dosis lagi
masing-masing
berjarak 6 jam.

Dapatkan kultur darah,


vagina dan urin bila
infeksi dicurigai

Berduka berhubungan
4. dengan kehilangan calon
anggota keluarga

Berikan antibiotic
khusus untuk untuk
proses infeksi yang
diidentifikasi.

Setelah dilakukan asuhan keperawatan


Mandiri
selama 1 x 24 jam diharapkan klien mampu
menerima keadaan yang sebenarnya tentang
1. Kaji status emosional
kematian anaknya yang dibuktikan dengan :
1. mengidentifikasi dan menunjukkan
perasaan secara cepat
2. menunjukkan perkembangan melalui
proses duka
3. menikmati masa sekarang dan
rencana untuk masa depan, hari
demi hari

1. Sediakan waktu untuk


mendengarkan pasien.
Dorong ekspresi
perasaan bebas, tidak
berdaya dan keinginan
untuk mati
2. Kaji potensial untuk
berdiri

1. Ikutsertakan orang
terdekat dalam diskusi
dan aktifitas sampai
pada tingkat yang
mereka inginkan

1. Berikan sentuhan atau


pelukan bebas sesuai
penerimaan individu

Kolaborasi
1. Rujuk pada sumbersumber lain sesuai
indikasi, misalnya
special klinik,
perawat, pekerja
social.
2. Bantu dengan atau
rencanakan dengan
spesifik sesuai
kebutuhan (misalnya
instruksi lanjutan
(untuk menentukan
status kode atau
keinginan untuk
hidup), membuat
wasiat pengaturan
pemakaman)

Kasus 27
Anda saat ini bertugas di ruang post natal, terdapat klien Ny. I 34 tahun. Status pernikahan
kawin. Dx medis abortus habitualis in komplit. Masuk RS sejak 26 Juni 05. pengkajian
dilakukan tanggal 27 Juni 05. status obstetri G4 P0 A4. riwayat haid klien menarche usia 16
tahun. Haid terakhir 3 bulan yang lalu, siklur teratur 28 hari klien mengeluh sedih terhadap hal
yang menimpanya. Riwayat perkawinan 14 tahun. Kini klien direncanakan untuk tindakan
kuretase nanti sore. TD 120/70 mmHg, N 84 x/menit, RR 24x/menit dan T 36,90C. Nyeri hebat di
perut bawah skala 4, mulas mulas bertambah jika bergerak, berkurang bila klien tiduran.
Keluaran darah pervaginam 100 cc/3 jam. Klien mengaku bingung dengan penyakitnya yang
selalu mengalami keguguran dan menanyakan pada anda bagaimana tentang penyakitnya
tersebut. Klien paham dengan tindakan yang akan dilakukan tetapi tetap cemas dengan tindakan
tersebut. Ekspresi wajah klien selama menunggu tampak berkeringat banyak, sesekali mendesis
nyeri.
1. Rencanakan NCP pada klien tersebut !
2. Apa intervensi anda dan bagaimana evaluasinya ? (kaitkan dengan data berikut)

Dari evaluasi lebih lanjut klien menyatakan dengan nafas dalam yang diajarkan perawat nyeri
berkurang sekitar skala 3. Td 120/70 mmHg, RR 24 x/menit dan T 36,90C. Ekspresi wajah masih
cemas setelah dilakukan penyuluhan tentang penyakitnya. Klien bertanya apa yang dapat
dilakukannya agar dia mempertahankan kehamilannya bila dia hamil lagi. Kapiler refill < dari 2
detik, nadi kuat teratur. Klien dapat kooperatif dengan perawat. Klien banyak berdzikir untuk
menghilangkan kesedihannya.

1. A.

Pengkajian.

Data Subyektif
1. Biodata

Biodata klien
Nama
Umur
Agama
Pendidikan
Suku /bangsa
Pekerjaan
Alamat

: Ny.I
: 34 tahun
: Islam
: SMU
: Jawa/ Indonesia
: Ibu rumah tangga
: Mijen ungaran

Biodata penanggung jawab


Nama
Umur
Agama
Pendidikan
Suku/ bangsa
Pekerjaan
Alamat

: Tn.T
: 40 tahun
: Islam
: SMU
: Jawa/ Indonesia
: Swasta
: Mijen ungaran

1. Alasan datang

: Ibu ingin memeriksa kehamilannya

2. Keluhan utama

: Ibu merasakan nyeri pada perut bawah dan keluar

bercak-bercak darah sejak kemarin.


1. Riwayat kesehatan
a)

Riwayat kesehatan

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit kronik seperti : Hipertensi, DM, Asma,
Jantung, TBC.
b)

Riwayat kesehatan masa lalu

Ibu tidak sedang menderita penyakit kronik seperti : Hipertensi, DM, Asma, Jantung, TBC,
abortus berulang.
c)

Riwayat kesehatan keluarga

Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menurun/ turunan seperti
hipertensi,DM, Asma, Jantung,dan tidak mempuyai keturunan kembar.
1. Riwayat Obstetri
a)

Riwayat menstruasi

Menarche
Siklus
Lama
Banyak

: 12 tahun
: 28 hari
: 7 hari
: 100

Warna
Bau
Flour albous
HPHT
Disminorhe
b)

: Merah segar
: Amis
: Kadang-kadang
: 30 Januarai 2006
: Tidak pernah

Riwayat kehamilan

Abortus berulang selama 4 kali


c)

Riwayat kehamilan sekarang

G4 P0 A4, UK

: 12 minggu 3 hari.

HPL

: 6 November 2006

ANC

: Belum pernah

Keluhan

: IM I

TT

: 1x capeng

Ibu tidak mengkonsumsi obat-obatan

Ibu tidak mempunyai kebiasaan buruk seperti : merokok, minum-minuman keras dan lainlain yang mengganggu janin.
d)

Riwayat kontrasepsi

Ibu belum pernah memakai kontrasepsi


setelah melahirkan ibu ingin memakai alat kontrasepsi (Pil KB)
1. Riwayat perkawinan
Menikah 1x
Lama perkawinan 14 tahun
Umur waktu menikah : 20 tahun, Suami : 24 tahun
1. Pola kebiasaan sehari-hari
a)

Nutrisi

Sebelum hamil

Makan 3x sehari, porsi nasi, sayur, lauk.

Minum 5-6 gelas/hari air putih dan teh


Selama hamil

Makan 3x/sehari, porsi setengah nasi sayur, lauk.


Minum 5-6 gelas/ hari air putih dan susu

b)

Eliminasi

Sebelum hamil
Selama hamil
c)

Istirahat

Sebelum hamil
Selama hamil

d)

Ibu dapat melakukan pekerjaanya sendiri tanpa bantuan


Ibu dapat melakukan pekerjaanya kadang-kadang dengan
bantuan

Pola hubungan sexualitas

Sebelum hamil
Selama hamil

f)

Tidur malam 8 jam jarang terbangun


Tidur siang 1-1,5 jam.
Tidur malam 8 jam jarang terbangun
Tidur siang kadang-kadang

Aktifitas

Sebelum hamil
Selama hamil
e)

BAB 1x/hari konsistensi lunak, kuning kecoklatan


BAK 3-4x/hari konsistensi lunak, kuning kecoklatan .
BAB 2x/hari konsistensi lunak, kuning kecoklatan .
BAK 4-5x/hari, warna kuning jernih

3x/minggu
2-3x/ minggu

Personal hygiene

Sebelum hamil
Selama hamil

Mandi 2x/minggu, gosok gigi 3x/hari, keramas 1x/2 hari


Mandi 2x/hari, gosok gigi3x/hari, keramas 1x/2hari.

1. Riwayat psikososial

Emosi ibu stabil, hubungan ibu dengan tetangga dan masyarakat sekitar terjalin dengan baik, ibu
cemas dengan keadaan kehamilan.
1. Data spiritual
Sebagai pemeluk agama islam ibu rajin menjalankan sholat 5 waktu.

Data Objektif
1
2
3

Keadaan umum
Kesadaran
TTV
TD
N
R
S
TB
BB sebelum hamil
LILA
BB setelah hamil
Pemeriksaan fisik
d) Muka

: Sedang
: Composmentis

e)

Mata

: Konjungtifa tidak pucat, seclera tidak kuning

f)

Genetalia

: Tidak terdapat oedem, tidak terdapat varises

: 120/70 mmHg
: 84x/menit
: 24x/menit
: 36,9C
: 157 cm
: 48 kg
: 24 cm
: 52 kg
: Berkeringat banyak, mendesis nyeri

Ststus obsteri
a)
Inspeksi
Muka

: Tidak terdapat closma gravidarum

Perut

: Tidak terdapat strie gravidarum

Vulva

: Keluar darah dari jalan lahir

b)

Palpasi

Adomen
7

: Uterus teraba lunak, terdapat nyeri tekan


perut bawah, TFU teraba agak keras

pada

Pemmeriksaan dalam
Servik

: Tertutup

Pemeriksaan penunjang
Hb

1. B.

No

1.

2.

: 14 gr%

ANALISA DATA

Data

Etiologi

DS : klien mengeluh sedih


terhadap hal yang menimpanya

Krisis situasional

DS : klien mengaku bingung


dengan penyakitnya yang selalu
mengalami keguguran

Krisis situasional

MK

Berduka

Cemas

DO : ekspresi wajah klien selama


menunggu tampak berkeringat
banyak
DS :
3.
P : bertambah jika bergerak
Berkurang bila klien duduk
R : nyeri di perut bawah

Kontraksi uterus yang


berlebihan
Gangguan rasa nyaman:
nyeri

Skala nyeri : 4
Klien merasa mulas-mulas
DO : klien sesekali mendesis nyeri

1. C.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus yang
berlebihan
2. Cemas berhubungan dengan krisis situasional
3. Berduka berhubungan dengan krisis situasional

1. D.

No

NURSING CARE PLAN

Diagnosa

Nyeri berhubungan dengan


1. kontraksi uterus yang
berlebihan

Tujuan

Intervensi

Setelah diberikan asuhan keperawatan


selama 2 x 2 jam diharapkan klien dapat
mengontrol nyeri yang dibuktikan dengan
Criteria hasil :

Klien menyatakan nyeri hilang/


terkontrol

Ekspresi wajah tidak menunjukkan


rasa menahan sakit

Evaluasi tekanan darah


(TD) dan nadi. Perhatik
perubahan perilaku
(bedakan antara
kegelisahan karena nyer
atau kehilangan darah
akibat dari proses

Kualitas nyeri menunjukkan skala 03

Perilaku relaksasi

TD 120/80 130/90 mmHg

Nadi 90x/ menit

Pola nafas efektif 24x/ menit

Berikan informasi dan petunjuk


antisipasi mengenai penyebab
ketidaknyamanan dan intervensi
yang tepat

pembedahan.

Ubah posisi klien, kuran


rangsangan yang
berbahaya dan berikan
gosokan punggung
anjurkan penggunaan
teknik pernafasan dalam
dan relaksasi dan distrak
(rangsangan jaringan
kutan)

Palpasi kandung kemih,


perhatikan adanya rasa
penuh, memudahkan
berkemih periodik setel
pengangkatan kateter
indwelling.

Anjurkan penggunaan
dengan penyokong.

Lakukan latihan nafas


dalam, spirometri intens
dan batuk dengan
menggunakan prosedurprosedur tepat, 30 meni
setelah pemberian
analgesic.

Cemas berhubungan dengan Setelah diberikan asuhan keperawatan


selama 2 x 3 jam diharapkan klien dapat
2. krisis situasional
mengatasi ansietas yang dibuktikan dengan
Criteria hasil :

Klien mengungkapkan rasa takut


dari masalah

Klien mengungkapkan rasa ansietas


berkurang

Menggunakan mekanisme koping


yang tepat.

Menunjukkan TTV normal

Kaji respon psikologis kejadian dan


ketersediaan system pendukung.

Tetap bersama klien dan tetap bicara


perlahan, tunjukkan empati.

Beri penguatan aspek


positif dari ibu

Anjurkan klien atau


pasangan mengungkapk
dan mengekspresikan
perasaan

Dukung atau arahkan


kembali mekanisme
koping yang
diekspresikan

Berduka berhubungan
3. dengan kehilangan calon
anggota keluarga

Berikan masa privasi,


kurangi rangsang
lingkungan.

Setelah dilakukan asuhan keperawatan


Mandiri
selama 1 x 24 jam diharapkan klien mampu
menerima keadaan yang sebenarnya tentang
Kaji status emosional
kematian anaknya yang dibuktikan dengan :
1. mengidentifikasi dan menunjukkan
perasaan secara cepat
2. menunjukkan perkembangan melalui
proses duka
3. menikmati masa sekarang dan
rencana untuk masa depan, hari
demi hari

Sediakan waktu untuk


mendengarkan pasien.
Dorong ekspresi perasa
bebas, tidak berdaya da
keinginan untuk mati

Kaji potensial untuk


berdiri

Ikutsertakan orang
terdekat dalam diskusi
dan aktifitas sampai pad
tingkat yang mereka
inginkan

Berikan sentuhan atau


pelukan bebas sesuai
penerimaan individu

Kolaborasi

Rujuk pada sumbersumber lain sesuai


indikasi, misalnya speci
klinik, perawat, pekerja
social.

Bantu dengan atau rencanakan


dengan spesifik sesuai kebutuh
(misalnya instruksi lanjutan
(untuk menentukan status kode
atau keinginan untuk hidup),
membuat wasiat pengaturan
pemakaman)

1. B.

No

IMPLENTASI dan EVALUASI

Tanggal

Diagnosa

Implementasi

1.

27 Juli 2005

Gangguan rasa nyaman 1)


Mengajarkan klien tehnik non S : - Klien menyata
: Nyeri
farmakologis untuk mengurangi nyeri
yaitu tehnik relaksasi
- Klien dapat melak
mengurangi rasa ny

O : TD : 120/80 mm
2)
Mengajarkan tehnik untuk nafas
dalam untuk mengurangi nyeri
RR : 20x/menit
N : 80x/menit
3)
Membanu ibu untuk
meningkatkan rasa nyaman dengan
mengambil data klien tentang
karakteristik nyeri

A : Teratasi sebagia

P : - Ulangi penguk

- Evaluasi rentang n

- Berikan lingkunga

2.

27 Juli 2005

Cemas

4)
Mengukur TD, RR dan nadi
setiap 1-2 menit

- Berikan instruksi

1)
Pantau suhu dan nadi dengan
rutin sesuai indikasi

S : - Klien kelihatan
tampak kering

O : Kemerahan (+)
(-)
2)
Catat karakteristik balutan dan
luka

A : Jahitan mulai m

P : berikan pendidik
luka bekas insisi pem

3.

27 Juli 2005

Berduka

S:
1. Membantu klien untuk
mengidentifikasi reaksi awal
terhadap adanya suatu
kehilangan

Klien mengatakan a
setiap akan pergi tid

Klien mengungkapk
2. Mendukung ekspresi perasaan
tentang kehilangan
O : klien kelihatan l

3. Membantu untuk
mengidentifikasi strategi
koping

A : kaji perasaan kli


telah diajarkan

P : bantu klien meng


4. Anjurkan klien untuk minum
susu sebelum mau tidur

DAFTAR PUSTAKA

Didik Tjindarbumi, Dkk. 2001. Pencegahan, Diagnosis Dini, Dan Pengobatan Penyakit Kanker.
Yayasan Kanker Indonesia : Jakarta.

Doengoes, M. Rencana Perawatan Maternitas / Bayi, Egc : Jakarta. 2001.

Suzanne C. Smeltzer. Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth. Edisi 8. Jakarta : Egc.

www.medicastore.com