Anda di halaman 1dari 6

A.

Judul
:
PERILAKU DAN KEKUATAN
BERTULANG

LENTUR

BALOK T MENERUS BETON

B. Penulis :
Ono Guspari dan Dicky R. Munaf; Staf pengajar Jurusan Teknik Sipil, Institut
Teknologi Bandung
C. Latar belakang :
Beton merupakan bahan yang banyak digunakan pada struktur, sehingga dalam
perkembangannya teknologi beton mnegalami perkembangan yang cukup pesat
Penggunaan bahan tambah sebagai bahan subtitusi semen seperti abu terbang (fly ash)
terak nikel (nickel slag) merupakan limbahn industri yang telah diteliti penggunaannya
sebagai pengganti agregat pada beton mampu menghasilkan beton mutu tinggi, yaitu
kekutan sampai 66 MPa.
Perilaku struktur yang menggunakan bahan terak nikel belum sepenuhnya
dipelajari. sebagaimana biasa suatu struktur beton akan bekerjasama dengan tulangan
baja membentuk beton bertuilang. Balok beton bertulang, sebagai elemen struktur yang
sering dijumpai dalam aplikasinya di lapangan merupakan elemen yang cukup besar
peranannya dalam memikul beban, terutama untuk memikul beban lentur. Akan tetapi,
pada umumnya balok tidak bekerja sendiri, pelat lantai yang di cor monolit
denganbalok akan ikut memikul beban tersebut. Dalam SKSNI T-15-1991-03 telah
dijelaskan bahwa balok yang menyatu dengan pelat alnati akan berinteraksi menahan
beba yang menjadi satu kesatuan pada penampangnya membentuk huruf T tipikal,
sehingga balok ini dinamakan balok T. dengan demikian pengkajian kekutanaa lentur
balok T merupakan suatu topic yang perlu diteliti, apalagi untuk material yang relaltir
baru seperti Terak nikel, yang dalam hal ini ditinjau balok T dengan tiga tumpuan
D. Perumusan Masalah :
Peneliti ingin mengkaji karakteristik kekuatan lentur balok T dengan kuat tekan tinggi
yang menggunakan tiga material yang berbeda, yaitu
1. Specimen pertama balok –T dengan menggunakan agregat alami (BFA) dengan
kuat tekan fc’ = 68.5 MPa.
2. Specimen kedua balok-T dengan menggunakan agregat kasar nickel slag
(BAKTN) dengan kaut tekan fc’ = 60.5 MPa.
3. Specimen ketiga balok-T yang terbuat dari beton normal (BN) dengan kuat tekan
fc’ = 29.5 MPa.
terak nikel (nickel slag) dengan pembebanan lentur.

Spesimen Dalam perencanaan benda uji disesuaikan dengan peralatan dan kemampuan pembebanan yang ada di laboratorium.E. dengan memakai standar SK SNI T-15-1991-03 maka dirancang dimensi ketiga balok seperti gambar dibawah ini : Gambar. 3.5% dari berat semen. Agregat Agregat yang digunakan terdiri dari dua macam. Abu terbang (fly ash) 4. Bahan yang digunakan : 1. Baja tulangan Baja tulangan ynag digunakan BJTD 39 (fy = 390 MPa) untuk tulangan diameter 13 mm dan BJTP 24 (fy 240 MPa) untuk tulangan diameter 6 mm. Ketiga benda uji direncanakan dengan dimensi yang sama. terak nikel digunkaan pada balok BAKTN sedangkan agregat batu lama digunakan pada balok BFA dan BN. Super Plasticizer Super plasticizer digunakan untuk pembuatan beton BAKTN dan BFA dengan jenis Sikament NN dengan dosis 1. Benda Uji Panjang balok : 2 x 1500mm Lebar badan balok : 100 mm Lebar sayap : 200 mm Tinggi balok : 150 mm Tebal sayap : 50 mm Tulangan yang dipakai : Tulangan lentur (tarik) BJTD : φ 13 mm Tulangan lentur (tekan) BJTP : φ 6 mm Tulangan geser BJTP : φ 6 mm . agregat kasar. dan agregat halus menggunakan jenis yang sama. Metode penelitain yang dilakukan oleh peneliti adalah Eksperimental. Semen Semen yang digunakann dalam penelitian ini adalah semen tipe I dengan merk dagang TIGA RODA. 5. 2.

misalnya pada kondisi first cracking. seperti gambar dibawah ini: Gambar Setting alat yang digunakan Pelaksanaan Pengujian Balok Pembebanan yang dilakukan secara bertahap dengan kecepatan pembebanan 0. Peralatan : Seperangkat alat yang digunakan pada pengujian balok. dan pembacaan data pada data logger diambil setiap kenaikan beban 2KN untuk kondisi normal dam untuk kondisi-kondisi tertentu data diambil lebih rapat. yield and ultimate.Penempatan beban diusahakan pada posisi yang menghasilkan kondisi paling kritis dengan tetap memperhitungkan agar keruntuhan yang akan terjadi adalah keruntuhan lentur (flexural failure). Hasil Eksperimen Kekuatan lentur balok BFA lebih besar disbanding dengan BAKTN tetapi pada sisi lain beban hancur (failure load) BAKTN lebih besar daripada BFA.003 KN/dtk. F. hal tersebut diakibatkan oleh kuat lekatan antara tulangan dan beton BAKTN lebih kuat disbanding BFA . yaitu pada jarak 850 mm dari tumpuan ujung.

pada daerah tumpuan tengah terak verttikal diawali sampai ketinggian flens.5Kn. dan secara umum perkembangan retak pada ditumpuan tengah lebih cepat dibandingkan pada posisi beban.5KN. 33.5Kn dan 35. Pada balok beton normal. banyaknya retak juag bertambah dan pertambahan ini seakan-akan bergeser denagn teratur dari posisi retak pertama kearah luar. Panjang retak pertama berkisar 3 cm sampai 5 cm dengan lebar ± 0. Pola retak pada balok . Gambar. Perkembangan lebar retakan pada tumpuan tengan dan posisi beban seiring dengan pertambahan beban.06mm. BAKTN 32 KN dan BFA 34 KN. Dengan bertambahnya beban. Berikut pola retak balok sampai balok runtuh. tepat diatas tumpuan tengah (didaerah flange). Kemudian secara serentak terjadi retak pertama serat atas balok saat beban 20. kemudian diikuti secara bersamaan penjalaran retak arah vertical/longitudinal balok sampai balok runtuh ditumpuan tersebut.Pola retak dan pola runtuh Pada semua jenis balok retak pertama terjadi pada serentak pada posisi beban. yaitu pada serat bawah penampang balok (web) dengan beban untuk BN 18 KN.

dengan demikian daerah tumpuan tengah akan menjadi titik terlemah balok. sedangkan perkembangan lebar retak pada tumpuan lebih cepat dibanding dengan pada posisi beban. Balok T akan efektif digunakan jika bagian flens tertekan. Kesimpulan 1. G. semakin tinggi mutu beton maka kuat lenturnya juga akan meningkat dan dari ketig posisi retak diatas tergolong retak jenis lentur (flexural crack) karena pola retaknya membentuk garis vertical dan hamper tegak lurus sumbu memanjang balok.4 kali kekuatan lentur beton mutu normal 2. 3. akan meningkatkan kuat lentur balok sekitar 1.2 -1. Peningkatan mutu beton. 4. sedangkan pada beton mutu tinggi penjalaran retak ditumpuan tengah selalu vertical sampai balok runtuh. setelah itu penjalaran retk terjadi bersamaan kearah horizontal dan vertical. Retak pertama selalu terjadi pada posisi dan dibawah beban dan kemudian diikuti pada tumpuan tengah.Hasil studi eksperimental. . Penjaralan retak pada beton normal diawali oleh retak vertical sampai ketebalan flens.

.Sc. Ir.D Oleh : Maruhal Mangasi Tunas Sijabat NIM : 20669/I-1/2081/03 PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2003 .TUGAS MEKANIKA KONTINUM REVIEW JOURNAL PERILAKU DAN KEKUATAN LENTUR BALOK T MENERUS BETON BERTULANG Dosen : Prof. M. Ph. Bambang Suhendro.