Anda di halaman 1dari 60

MODUL PRAKTIKUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI

S1 TEKNIK TELEKOMUNIKASI

FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO
UNIVERSITAS TELKOM
BANDUNG
2016

LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI
FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO
UNIVERSITAS TELKOM

STRUKTUR ORGANISASI LABORATORIUM ELEKTRONIKA
KOMUNIKASI
2015-2016
Pembina laboratorium

: Mochamad Yana Hardiman,S.T,M.T.

Koordinator Asisten

: Primadie Anandhias Putra

1101120108

Divisi Praktikum

: Melina

1101120214

Divisi Alat

Desi Dwi Prihatin

6305130079

Intan Sulviyani

6305130037

: Octavian Putera Kesuma Sugeng

1101120136

Achmad Caesar Triaputra

1101120265

Fadila Rahmadany

6305130047

Divisi Administrasi

: Ratnawati Bernita

6305134124

Divisi HRD

: Falih Adan

1101124311

Mutia Henarta
Divisi Riset

1101120104

: Rheza Egha Dwi Rendra Graha

1101120239

Nanda Aldira Fakhri

1101120097

Devi Ayu Nurmalinda

1101134481

Dimas Setriyo Wahyudi

1101134478

Riza Yusron

1101130193

Niken Salma Nabila

1101140211

Mengetahui,
Pembina Laboratorium Elektronika Komunikasi

Mochamad Yana Hardiman,S.T,M.T.
10840740-3

Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016
1

LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI
FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO
UNIVERSITAS TELKOM

TATA TERTIB PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Semua praktikan WAJIB menggunakan seragam Telkom University
2. Kelengkapan praktikum meliputi kartu praktikum, modul praktikum, dan jurnal praktikum.
3. Praktikum dilaksanakan selama 2,5 jam sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
4. Praktikan harus hadir 10 menit sebelum pelaksanaan praktikum dimulai.
5. Keterlambatan praktikan di atas 20 menit, akan menyebabkan praktikan tidak diperbolehkan
mengikuti kegiatan praktikum pada modul berjalan.
6. Praktikan dapat melaksanakan praktikum setelah mendapatkan instruksi dari Asisten
Praktikum.
7. Di dalam Ruangan Laboratorium. Praktikum dilarang :
- Makan, minum, dan merokok
- Membuat kegaduhan didalam ruangan
- Mengubah konfigurasi Software/Hardware
- Meninggalkan ruangan tanpa seijin Asisten Praktikum
- Telepon/SMS tanpa seijin Asisten Praktikum
- Segala tindakan yang tidak pantas dilakukan selama praktikum berlangsung
8. Apabila Praktikan melanggar aturan 1 sampai dengan 7 diatas, maka Praktikan akan
dikenakan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.
9. Pelaksanaan Praktikum dibagi menjadi 4 shift/hari :
-

SHIFT 1 : 06.30 – 09.00

-

SHIFT 2 : 09.30 – 12.00

-

SHIFT 3 : 12.30 – 15.00

-

SHIFT 4 : 15.30 – 18.00

Untuk hari jumat shift 2 dimulai pukul 09.00 dan shift 3 dimulai pukul 13.00 serta shift 4
dimulai pukul 16.00.
10.

Tidak ada Praktikum Susulan, kecuali :
-

Kegiatan Kemahasiswaan

Surat dari BK atau Wadek I

-

Sakit

-

Pengajuan praktikum susulan ditujukan ke LABORAN bukan ke Laboratorium

SURAT KETERANGAN DIRAWAT

ataupun PRODI.

Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016
2

Praktikan dapat mengidentifikasi jenis filter dari gambar respon frekuensi yang tergambar pada osiloskop dan spectrum analyzer. 1 Kit praktikum Filter 2. 1 Spectrum Analyzer 5. dan dapat menganalisis karakteristik masing masing filter tersebut. 1 Function Generator 3. f0 . Praktikan dapat membedakan respon frekuensi yang dihasilkan oleh filter Butterworth dan Chebychev. fr . 4. 2 Probe 6. Dasar teori : - Resonator Resonansi adalah suatu kondisi dimana rangkaian dieksitasi dengan frekuensi naturalnya. Peralatan yang digunakan : 1. Tujuan : 1. Jumper C. ini menyebabkan nilai |H(jω)| mencapai nilai minimum dan maksimum. B.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM MODUL I PRAKTIKUM ELKOM RESONATOR DAN FILTER A. 3. Praktikan mampu membedakan karakteristik yang dimiliki filter aktif maupun pasif sehingga mengerti kapan harus memakai masing masing filter. 2. 1 Osiloskop 4. fc Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 3 . Praktikan dapat memahami konsep perancangan dan transformasi filter. Nilai |H(jω)| merupakan respon frekuensi yang direpresentasikan sebagai perbandingan output respon Y(jω) terhadap input sinusoidal X(jω) atau yang lebih dikenal dengan fungsi transfer dan domain jω: Frekuensi yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi disebut dengan frekuensi resonansi (ω0). atau sering digunakan juga.

meredam secara significant diluar frekuensi yang diinginkan. Suatu rangkaian dikatakan beresonansi ketika tegangan terpasang V dan arus yang dihasilkan I berada dalam kondisi satu fasa. Kita telah mempelajari bahwa XL dan XC bergantung pada frekuensi f dari arus bolakbalik (AC). Rangkaian yang memiliki nilai seperti itu disebut dengan rangkaian resonansi. impedansi rangkaian Z menjadi sama dengan hambatan R karena R tidak bergantung pada f.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM Fungsi rangkaian Resonator yaitu untuk memilih / meloloskan sinyal pada frekuensi tertentu. Jika XL=XC. Rangkaian LC parallel dapat dimodelkan sebagai ideal band pass filter : - Induktor ideal - Kapasitor ideal - Bebandibuka / ‘open’ Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 4 .

dsb. Filter pasif merupakan filter yang komponennya terdiri dari resistor. filter SSB. 2. filter-filter elektromagnetik dan filter kristal piezoelektrik. yaitu: 1. Selain itu masih ada lagi seperti filter Surface Acaustic Wave(SAW). misalnya pada up-down converter.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM - Filter Filter merupakan suatu rangkaian yang digunakan untuk menyaring daerah frekuensi kerja tertentu dimana hanya frekuensi yang diinginkan yang dapat diteruskan. b. filter RF. sehingga hanya komponen C saja yang tertinggal.Dengan kata lain LPF memperlemah tegangan keluaran untuk semua frekuensi diatas frekuensi cut-off dan tetap untuk tegangan dibawah frekuensi cut-off. Filter aktif merupakan filter yang komponennya terdiri dari penguat operasional. b. HPF (High Pass Filter) Filter ini berfungsi meloloskan frekuensi diatas frekuensi cut-off dan meredam semua frekuensi di dibawahnya. resistor dan kapasitor. sedangkan diluar frekuensi tersebut akan diredam. dimana semua komponen sinusoidalnya dihilangkan. filter sinyal audio. Frekuensi pemisah antara frekuensi yang diinginkan dan yang tidak diinginkan disebut frekuensi cut-off. kapasitor dan induktor.707 volt dari tegangan maximum yang diinginkan atau nilainya sama saat redaman mencapai nilai -3dB. Filter menurut komponen penyusun rangkaiannya : a. Contoh filter yang paling sederhana adalah pada rangkaian penyearah. untuk merancang duplekser. Dimana besarnya frekuensi cut-off adalah 0. c. Filter berdasarkan batas frekuensi yang ingin dilewatkannya : a. LPF (Low Pass Filter) Filter ini berfungsi meloloskan frekuensi dibawah frekuensi cut-off dan meredam semua frekuensi di atasnya.Dan HPF akan memperlemah tegangan keluaran untuk Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 5 . Filter analog banyak digunakan dalam sistem komunikasi. PENGGOLONGAN FILTER Filter digolongkan dalam dua bagian.

3. Filter menurut bentuk frekuensi terhadap gain : a. Oleh karena itu BSF merupakan kebalikan dari BPF. Penjelasan selengkapnya baca buku referensi lainnya. Dari selisih ini band pass filter dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu Wideband dan Narrowband. Filter Butterworth Pendekatan Butterworth didasari pada asumsi bahwa keperluan untuk mendapatkan respon rata pada daerah frekuensi sekitar nol dipandang lebih penting daripada daerah lainnya. Dari selisih ini band pass filter dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu Wideband dan Narrowband. Selisih antara frekuensi cut-off atas dan frekuensi cut-off bawah disebut dengan Bandwidth (BW). Sehingga HPF berlawanan dengan LPF. BSF (Band Stop Filter) Filter ini berfungsi meredam frekuensi diantara frekuensi cut-off bawah dan frekuensi cut-off atas dan meloloskan semua frekuensi lainnya. Gambar 1. c.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM semua frekuensi dibawah frekuensi cut-off dan tetap untuk tegangan diatas frekuensi cut-off.1 Respon Filter Butterworth Gambar 1. d. BPF (Band Pass Filter) Filter ini berfungsi meloloskan frekuensi diantara frekuensi cut-off bawah dan frekuensi cut-off atas dan meredam semua frekuensi diluarnya.2 Respon Filter Chebyshev Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 6 . Penjelasan selengkapnya baca buku referensi lainnya.

Akibatnya. tetapi mengijinkan adanya ripple pada passband. sebuah filter dengan spesifikasi tertentu seperti: . passband pada respon frekuensi akan mengalami lipatan (ripple) dan pada transision band akan terjadi slope yang lebih tajam.redaman pada saat frekuensi stop band (AS) . Cocok digunakan untuk keperluan yang lebih mementingkan ketajaman slope.frekuensi cut-off (ωC) .3 Perbandingan Respon Frekuensi Butterworth dan Chebyshev Selain kedua bentuk respon frekuensi diatas. PERANCANGAN FILTER PASIF Dalam perancangan filter pasif. Respon seperti ini disebut pendekatan Chebychev atau Equal-Ripple.frekuensi stop band (ωS) .resistansi beban (RL) . Filter Chebyshev Jika pole-pole Butterwoth (ternormalisasi) digeser kearah kanan dengan cara mengalikan bagian real (-α) dengan suatu konstanta kc<1. terdapat juga bentuk respon lain yaitu: filter Bessel dan filter Eliptic. Penjelasan selengkapnya baca di buku.resistansi sumber (RS) . Perbandingan antara respon filter pendekatan Butterworth dengan pendekatan Chebyshev secara grafis adalah sebagai berikut : A [dB] 0 -R Butterworth hh -3 Chebyshev 0 1/cosh B 1 Gambar 1.frekuensi tengah (ωO)pada BPF/BRF Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 7 .LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM b. maka posisi pole tersebut akan berada dalam lintasan elips.

Menentukan spesifikasi filter yang diinginkan. frekuensi cut-off . bagan di bawah ini adalah langkah umum merancang sebuah filter. dapat berupa besarnya penguatan. frekuensi stop band yang digunakan dan besarnya nilai ripple yang diizinkan. analisis dan perhitungan karena frekuensi yang digunakan biasanya sangat tinggi. yaitu : Orde Filter -> Harga Komponen Spesifikasi. Oleh karena itu. terdapat dalam tabel dibawah ini: Note: ω’C = frekuensi cut-off ternormalisasi ωSA = frekuensi stop-band atas ω’S = frekuensi stop-band ternormalisasi ωSB = frekuensi stop-band bawah ωCA = frekuensi cut-off atas ωCB = frekuensi cut-off bawah Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 8 .LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM . bagan perancangan filter pasif di atas dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Nomalisasi Transformasi LPF Denormalisasi Gambar rangkaian sebenarnya Merujuk pada buku.nilai ripple yang diinginkan (r). Adapun cara untuk normalisasi frekuensibeberapa filter. b. Normalisasi frekuensi untuk mempermudah perancangan. khusus untuk filter chebyshev.

Kemudian kita dapat merangkai komponen yang telah kita dapatkan dari tabel tersebut.1TabelNormalisasi Filter Pasif Filter Spesifikasi Awal LPF Ternormalisasi  'C  'S S C C S 1 rad/s BW S  SA   SB  BWC CA  CB BWC CA  CB  BWS SA  SB c. Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 9 . Dari hasil normalisasi maka akan didapat nilai frekuensi stop band ternormalisasi.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM Tabel1. tahap selanjutnya menentukan komponen L dan C. Setelah mendapatkan orde filter . Menentukan orde filter. Menentukan harga komponen induktor dan kapasitor. d. Orde filter akan didapat dengan cara melihat kurva redaman vs kurva frekuensi ternormalisasi.didapatkan nilai komponen-komponen C dan L. Dari orde filter dan perbandingan Rs dan Rl dengan melihat tabel Prototype Element Value .

Nilai-nilai yang telah didapatkan merupakan nilai komponen untuk filter LPF saja . Tabel1.BPF. Jika diinginkan filter yang lain perlu dilakukan transformasi ke filter yang diinginkan (HPF.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM e. khusus untuk LPF bisa langsung ke tahap berikutnya (denormalisasi).2 TabelTransformasiFilter Pasif Filter Transformasi LPF Ternormalisasi Keterangan LHPF  1 HPF denormalisa C LPF C HPF  1 si LLPF  Komponen seri pada LPF diubah menjadi LBPF(=LLPF) diseri dengan BPF denormalisa  si CBPF(=LLPF)  Komponen paralel pada LPF diubah menjadi LBPF(=CLPF) diparalel dengan CBPF(=CLPF)  Komponen seri pada LPF diubah menjadi LBSF(=LLPF) BSF denormalisa diparaleldengan  si CBSF(=LLPF)  Komponen paralel pada LPF diubah menjadi LBSF(=CLPF) diseri dengan CBSF(=CLPF) Note: Untuk filter LPF tidak mengalami proses transformasi. Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 10 .BSF). Proses transformasi.

LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM f. Adapun cara denormalisasi dapat dilakukan seperti tabel dibawah ini : Tabel 1.3 Tabel Denormalisasi Filter Pasif Filter Rangkaian filter Nilai Komponen C 'n 2f C RL C Nn  LPF LNn  RL L ' n 2f C LNn  RL L ' n 2f C HPF C Nn  Parallel LNn  C Nn  Denormalisasi C ke-n C’n = nilai C ternormalisasi ke-n RL L'n 2B RL = nilai resistansi B 2f O C 'n RL normalisasi 2 LNn  RL B 2 2f O L'n C Nn  Paralel CNn = nilai C 'n 2f C RL BPF Seri Keterangan LNn  C 'n 2RL B RL B 2 2f O L'n C Nn  C 'n 2RL B LNn  RL L'n 2B f C = frekuensi cut-off f O = frekuensi tengah  f CB . f CA  B = bandwidth 3-dB BSF Seri C Nn  B 2f O C 'n RL 2 Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 11 .Untuk mendapatkan nilai komponen yang sebenarnya perlu dilakukan denormalisasi. Denormalisasi.

68 F Komponen yang lain dapat dicari seperti langkah di atas.diperoleh n=5    Maka dapat dilihat harga komponen prototype filter : Prototype LPF : Denormalisasi : 0.03639 pF L2 = 0.496.104 2?.30. pada frekuensi 400MHz mengalami redaman sebesar 60dB. Rancang Filter LPF BT dengan frekuensi cut off 100MHz. Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 12 .108 = 23.5  Orde Filter : Lihattable orde .  Gambar rangkaian sebenarnya (note : setiap komponennya menggunakan harga setelah didenormalisasi).103 = 0.686 C1 = 2?.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM CONTOH SOAL 1.3.108 . dimana (Rl =30 KΩ dan Rs= 15KΩ ) ! Solusi :  Normalisasi : fs fc = 41 = 4 . RS RL = 0.

Kemudian pasang probe positif Function Generator pada input filter dan probe positif Osiloskop pada output filter.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM PROSEDUR PRAKTIKUM FILTER 1. Atur keluaran generator sinyal sehingga pada osiloskop terlihat (Vp-p)nya ± 10 volt. Hidupkan Function Generator dan Osiloskop. Catat kondisi ini! Kondisi awal : Tegangan Vp-p = ± 10 saat Frekuensi = 10 kHz 3. Pasangkan probe positif Function Generator dengan probe positif Osiloskop dan probe negative Function dengan probe Negatif Osiloskop. pasangkan probenya. Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 13 . Kemudian kalibrasi. Kedua probe negative dihubungkan ke Ground. 2.

Lakukan percobaan dengan mengambil ± 7 sampel nilai frekuensi (antara 200kHz-2MHz) untuk semua filter (filter 1. Ikuti intruksi asisten untuk dapat mengisi tabel dengan tepat dan cepat.4 dan 5..707 (catat hasil perkalian ini). 5. Setelah semua data pada tabel filter 1 terisi...  fcut-off = .. Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 14 ..... lalu cari nilai frekuensi yang memiliki besar Vp-pnya hasil perkalian tadi...2. Gambar grafik respon amplitude masing-masing filter pada tempat yang telahdisediakanyang telahditampilkanpada Spectrum Analyzer. lalu kalikan Vp-p tersebut dengan 0.4 dan 5)...... Untuk mengisi kolom beda phasa ΔΦ dapat dilakukan dengan menggunakan cara sebagai berikut : Beda Fasa dihitung dengan rumus : ΔΦ = ( T.F) x 360o dimana : ΔT = Selisih perioda sinyal keluaran terhadap sinyal masukan F = Frekuensi sinyal masukan 8...3. 7. kemudian carilah frekuensi cutoff filter 1 dengan cara : cari Vp-p paling besar yang terdapat pada filter 1 (caranya tanya asisten). Inilah nilai frekuensi cutoffnya.. X 0. Catat data-data yang diperlukan pada tabel filter 1.. kHz 6. Lakukan langkah 2 sampai 4 untuk filter 2.3..LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM 4.. (Vco) = .707 = .

meliputi: linearitas. Mengetahui dan memahami istilah-istilah yang berhubungan dengan penguat. 5. Tujuan 1. Osiloscope 4. efisiensi. Memahami konsep penguatan secara umum. Mengamati dan menganalisa bentuk sinyal penguat kelas A dan AB. Kit praktikum Penguat Daya 2. Probe C. B. penguat adalah sistem yang memperbesar dan menguatkan amplitudo sinyal input. DC Power Supply 3. Penguat secara umum Penguat secara harfiah diartikan dengan sistem yang membuat jadi kuat. Mengamati pengaruh matching impedansi terhadap transfer daya. distorsi. 2. Penguat daya yaitu penguat yang menguatkan daya dari sinyal masukan. Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 15 . dan AB.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM MODUL II PRAKTIKUM ELKOM PENGUAT DAYA DAN OSILATOR A. Dasar teori 1. Function Generator 5. 4. Pada kenyataannya semua penguat adalah penguat daya karena tegangan tidak akan ada tanpa adanya daya kecuali jika impedansinya tak terhingga. Multimeter 6. Peralatan yang digunakan 1. Dalam bidang elektronika. dan crossover. fidelity. Menganalisa linearitas penguatan transistor kelas A. 3.

LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI
FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO
UNIVERSITAS TELKOM

Gambar 2.1 arus colector : (a) Penguat A (b) Penguat B (c) Penguat
Ada kalanya sinyal input yang dikuatkankemudian terdistorsi karena berbagai sebab,
sehingga bentuk sinyal keluarannya menjadi cacat. Dari sinilah muncul istilah fidelity yang
menunjukkan seberapa mirip sinyal input yang dikuatkan dengan sinyal keluarannya

Sistem penguat dikatakan memiliki fidelitas yang tinggi (highfidelity), jika sistem tersebut
mampu menghasilkan sinyal keluaran yang bentuknya persis sama dengan sinyal input. Di
sisi lain, efisiensi juga harus diperhatikan. Efisiensi dinyatakan dengan besaran persentase
dari power output dibandingkan dengan power input. Sistem penguat dikatakan memiliki
tingkat efisiensi tinggi (100 %) jika tidak ada rugi-rugi pada proses penguatannya yang
terbuang menjadi panas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat praktikum nanti adalah
kita bermain pada frekuensi tinggi yaitu frekuensi FM, sehingga untuk mendapatkan sinyal
yang cukup bagus harus disesuaikan dengan impedansi matchingnya.

2. Garis beban

Setiap penguat mempunyai ekivalensi rangkaian DC dan ekivalansi rangkaian AC.
Oleh karena itu, penguat mempunyai dua garis beban yaitu beban AC dan beban DC. Untuk
operasi sinyal kecil, lokasi titik Q tidak begitu diperhitungkan.Namun untuk penguat sinyal
besar, lokasi titk Q harus berada di tengah - tengah garis beban AC untuk mendapatkan
maksimum sinyal keluaran. Terdapat dua garis beban yaitu :

Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016
16

LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI
FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO
UNIVERSITAS TELKOM

2.1 Garis beban DC
Gambar (a) Voltage Divider Based (VDB) amplifier. Titik Q dapat digeser posisinya
dengan cara mengganti nilai R2. Jika nilai R2 sangat besar atau R2>>, transistor akan berad
pada kondisi saturasi sehingga :

(2.1)
Apabila nilai R2 sangat kecil R2<<, transistor akan berada pada kondisi cutoff sehingga besar
tegangannya :

(2.2)
2.2

Garis Beban AC
Gambar (c) adalah ekivalen rangkaian VDB. Perhatikan pada gambar rangkaian (c).

Emitor terhubung dengan ground dan besar Rc rangkaian ekivalen lebih kecil di bandingkan
Rc rangkaian VDB gambar a. Oleh karena itu, ketika masukan sinyal adalah tegangan AC

maka titik operasinya akan mengikuti kurva beban AC. Oleh karena itu besar arus peak-topeak sinusoidal dan tegangan ditentukan oleh garis beban AC.

Gambar 2.2 (a) VDB amplifier (b) garis beban DC (c) AC rangkaian ekivalen
(d) Garis beban AC

Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016
17

LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI
FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO
UNIVERSITAS TELKOM

Gambar (d) menunjukan titk operasi saturasi dan cutoff garis beban AC berbeda
dengan garis beban DC. Karena nilai beban collector dan emitter AC lebih kecil
dibandingkan beban DC maka garis beban AC lebih rendah dari garis beban DC. Titik
perpotongan garis beban AC dan DC terletak pada titik Q.

3. Pemotongan (clipping) sinyal besar

Ketika titik berada di tengah garis beban, sinyal AC yang besar akan mengalami
perpotongan akibat garis beban AC. Pada gambar (a) Ketika sinyal AC meningkat maka
terjadi perpotongan pada daerah cutoff. Jika titik Q naik seperti gambar (b), sinyal besar akan

mendrive transistor ke daerah saturasi. Hal ini menyebabkan perpotongan pada daerah
saturasi. Perpotongan sinyal pada daerah cutoff dan saturasi haruslah dihindari dikarenakan
dapat merusak sinyal keluaran. Desain yang paling ideal untuk penguat adalah ketika titik Q
berada di tengah – tengah garis beban sehingga didapatkan nilai maksimum peak-to-peak
tanpa terjadi pemotongan.

Gambar 2.3 (a) cutoff clipping (b) saturasi clipping (c) optimum Q point

Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016
18

AB dan B Menurut titik kerjanya penguat diklasifikasikan menjadi penguat klas A. C . B. Gambar 2. AB.4 titik Q penguat A.D dan masih banyak lagi. meliputi Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 19 . Titik kerja (titik Q) yaitu titik pada garis beban yang menggambarkan keadaan transistor saat tidak ada sinyal masukan.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM 4. Akan tetapi yang akan di bahas dalam praktikum modul ini. Macam-macam penguat daya Penguat daya diklasifikasikan menurut titik kerjanya.

4) Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 20 .LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM Penguat Kelas A  Penguat dengan letak titik Q ditengah . Disipasi daya merupakan besarnya daya yang hilang dan berubah menjadi panas.3) Efisiensi : (2.5 (a) rangkaian kelas A (b) Karakteristik sinyal keluaran Power gain didapatkan berdasarkan rumus : (2.tengah garis beban   Linieritasnya paling bagus   Efisiensi 25% karena banyaknya daya terbuang di transistor   Disipasi daya tertinggi terjadi saat tidak ada sinyal masukan.   Arus bias lebih besar dari magnitude sinyal arus   Konduksi sebesar 360  o Gambar 2.

Karena letak titik Q penguat kelas B di titik cut-off maka untu satu transistor hanya bisa menguatkan setengah siklus dari sinyal masukan.6 (a) Rangkaian AC ekivalen (b) Distorsi crossover (c) kurva transfer karakteristik penguat B Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 21 .LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM Penguat Kelas B  Letak titik Q berada didaerah cut-off garis beban   Lineritas kurang baik   Efisiensi 50%   Terdapat crossover (cacat penyebrangan) yang terjadi karena adanya tegangan bias pada transistor basis emitor. Sehingga saa sinyal masuka belum sebesar tegangan on maka  transistor basis emitor tidak akan menghasilkan sinyal keluaran.   Konduksi sebesar 180o  Gambar 2.   Untuk mencegah terjadinya pemotongan sinyal maka dilakukan konfigurasi push pull.

LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM Penguat Kelas AB Gabungan penguatan A dan B   Konduksi lebih besar dari 180o tetapi lebih kecil dari 360o   Menggunakan dua transistor   Letak titik Q berada diantara penguat kelas A dan B   Linieritas paling jelek   Efisiensi sekitar 75%   Terdapat pemotongan sinyal <180o   Pada penguat pushpull terdapat 2 transistor yang bekerja secara bergantian   Pada penguat pushpull terjadi fenomena gumming (penggemukan sinyal)  (c) Gambar 2.7 (a) rangkaian penguat B (b) kurva karakteristik penguat AB (c) overlaping sinyal keluaran penguat kelas AB Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 22 .

Persiapan dan Pengujian a. Out ke Probe Osiloskop. RP in dengan RS Out. Ukur RS dan RP pada kit dengan cara : . Catatan : Rs = 0 (Potensiometer di putar ke kanan) Rp = ∞ (Potensiometer diputar ke kiri) 3. function generator. RP in dengan RS Out. (-) Multimeter ke Rs Out Pengukuran Dilakukan sesuai Rp dan Rs yang diminta. Out ke Probe Osiloskop. power supply. Multimeter. Sambungkan VCC ke Power Supply +9 Volt  Impedance matching output dan Pengamatan Daya maksimum Penguat daya Kelas A 1. P1 ke Probe Function Generator. Sambungkan P3 dengan RS In. Atur VPP IN = 5 volt pada function generator dengan nilai keluaran vpp di osiloskop. (-) Multimeter ke Ground .Untuk Rp : (+) Multimeter ke Rp In. Penguat daya kelas AB 1. Dan hubungkan probe kedua ke osiloskop untuk kalibrasi juga. P2 ke Probe Function Generator. Siapkan kit penguat daya. b. 3.Untuk Rs : (+) Multimeter ke Rs In.Untuk Rs : (+) Multimeter ke Rs In. Setelah mengukur RP dan RS. (-) Multimeter ke Rs Out dan sesuai RS dan RP yang diinginkan. Ukur RS dan RP pada kit dengan cara : . Sambungkan P4 dengan RS In. 2. c. 4. Setelah mengukur RP dan RS. Atur Frekuensi = 1000 kHz pada function generator. f. dan 2 probe untuk osilator dan function generator. Hubungkan probe pertama ke osiloskop untuk kalibrasi.Untuk Rp : (+) Multimeter ke Rp In. Catat hasil Vpp dari penguat daya A. (-) Multimeter ke Ground .LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM PROSEDUR PRAKTIKUM PENGUAT DAYA 1. 2. Hidupkan Power Supply dan lihat pada Osiloskop. Hubungkan probe pada osiloskop dengan probe pada function generator d. Hidupkan Power Supply dan lihat Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 23 . e.

LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM pada Osiloskop. Tapi banyak menggunakan frekuensi. 3. Tekan tombol auto pada osiloskop. Catat hasil Vpp penguat daya A maupun penguat daya AB.  Transfer Daya Maksimum  Penguat Daya A dan Penguat daya AB 1. Atur frekuensi menggunakan function generator sesuai tabel yang diminta. 4. Catat hasil Vpp dari penguat daya AB. 2. Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 24 . Langkah-langkah untuk mencari Transfer daya maksimum adalah seperti mencari pengamatan daya maksimum.

Menggunakan feedback. Osiloskop 2. R-C) sebagai resonator penghasil gelombang sinusoidal.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM OSILATOR A. c. Menggunakan rangkaian resistansi negatif Secara umum rangkaian osilator L-C (Induktor-Kapasitor) adalah sebagai berikut: + Vi Z1 AC Vo Z2 Z3 Gambar 4. B. yaitu: a. Probe C. Praktikan dapat mengetahui karakteristik dari berbagai jenis Osilator. Praktikan dapat merancang Osilator. Kit praktikum osilator 5.Hubungan antara osilator dengan penguat daya yaitu: osilator adalah rangkaian penguat daya yang memiliki output yang tidak stabil. Tujuan a. Kabel penghubung (jumper) 6. Peralatan yang digunakan 1. DasarTeori Osilator merupakan suatu rangkaian yang dapat menghasilkan sinyal keluaran secara periodik setiap waktu. osilator menggunakan komponen feedback (L-C. Power Supply/ Catu daya 3. Praktikan dapat memahami prinsip kerja Osilator. Sinyal periodik yaitu sinyal yang terus berulang setiap waktu tertentu.1 Rangkaian generik osilator L-C Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 25 . Dengan kata lain rangkaian ini mampu membangkitkan sinyal keluaran AC dengan sinyal masukan DC. Ada 2 metode pembangkitan pada osilator. b. b. Multimeter 4.

sehingga: Vo  Vi  Vo  → Vo  Vi . ) (4-4) Supayastabil : 1  A. A.Rangkaian mempunyai penguatan negatif dengan feedback  . )  Vi .:  Vo A  Vi (1  A.hal ini menunjukan bahwa magnitudenya adalah 1. Fasanya : 1800 (dan kelipatannya) Jika A   >1 : Berosilasi tapi tidak linier (sinyal akan mengalami cacat) dan berprinsip menguatkan  Jika A   <1 : Tidak terjadi osilasi (berhenti) dan berprinsip melemahkan. Magnitude : A  = 1 2.  0 → A    1 . → Vo (1  A.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM Gambar 4. (4-1) dan (4-2) ke (4-3).  Jika Vo merupakan tegangan tertentu (tidak = 0) maka 1  A   0  A    1  Sehingga syarat osilasi (kriteria Barkhausen):  1. fasanya 180 0  ( ) dan kelipatannya. Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 26 . A  V .2 Rangkaian prinsip osilator Prinsip osilator dengan menggunakan metode feedback negatif.  Tegangan feedback : V f    Vo (4-1)  Tegangan output : Vo  A  V (4-2) Dari gambar 4. A  Vo . didapat : V  Vi  V f (4-3) Kemudian substitusikan pers. maka diperoleh A pers.2.

Ro : hambatan dalam op amp  Beban mempunyai impedansi Z p  Z 2 // Z1  Z 3   Penguatan tegangan: A  Vo  Zp Z p  Ro (4-5) Vo Vi (4-6)  Vi  Av . dengan Av merupakan penguatan inverting (4-7) Av  Z p  Dari pers. maka didapat: A  Av  Z p Z p  Ro  (4-8) Z p  Ro Av  Z 2 ( Z1  Z 3 ) Z 2  Z1  Z 3 Ro  Z 2 Z1  Z 3  Penguatan umpan balik (feedback):   Vi Vo (4-9) (4-10) Vo Z3 Vi Z2 Z1 +  Vi   Z1 Z1  Vo     Z1  Z 3  Z1  Z 3 (4-11) Dari pers.3. rangkaian osilator dengan komponen feedback  Av : penguatan op amp. (4-8). (4-5) ke pers. (4-9) dan (4-11) didapat nilai hubungan A dan β: A   Av  Z1  Z 2  1 Z1  Z 2  Z 3 R o  Z 2 Z1  Z 3  (4-12) Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 27 . (4-6) dan (4-7) didapat hubungan: A    Substitusikan pers.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM  Kondisi yang dipilih : mula-mula A   > 1 untukmemicu osilasi kemudian pilih A   = 1 supaya keluarannya linier - Vi Vo Ro AC + Z3 Vo Z2 Z1 Z1 Z2 Z3 Gambar 4.

yaitu: Z1  jX 1 . imajiner  0 jRo  X 1  X 2  X 3   X 2  X 1  X 3  (4-14) Dari pers (4-14). nilai imajiner = 0. X 2   Jika X 3 kapasitif:2 komponenlainnya induktif  X 1 . Bentuk umum osilator L-C  Untuk komponen-komponen Z1.Komponen-komponen Z1. Tabel4. Z2. Z 3  jX 3 . Z 2  jX 2 . dan Z3 Osilator Z1 Z2 Z3 Colpitts C1 C2 L Hartley L1 L2 C Clapp C1 C2 seri LC3 Kristal C1 C2 Kristal Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 28 . X 2  A   Av  X 1  1 X 1  X 3  Av   X 1  X 3 X 2 C1   X1 X 1 C2 (4-16)  L   atau 2  L1   (4-17) Gambar 4. maka: X 1  X 2  X 3  0  X 2   X 1  X 3  (4-15)  Jika X 3 induktif:2 komponenlainnya kapasitif  X 1 . (4-12).LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM  Jika Impedansi yang digunakan adalah reaktansi murni (kapasitif/induktif).1.4. j 2  1  Substitusikan pers. maka didapat: A    (4-13)  Av  X 1  X 2  1 real . Z2. (4-13) ke pers.1. dan Z3dapat dilihat pada tabel 4.

osilator dengan metode feedback dapat juga menggunakan komponen R-C.C  2 L 1 2   C1  C 2  (4-18) 2. salah satunya yaitu osilator Wien-Bridge. Osilator Colpitts 1 f=  C . Osilator Hartley f= 1 2 C ( L1  L2 ) (4-19) 3. Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 29 . Osilator Clapp 1 f=  C .C  2 LC3  1 2   C1  C 2  (4-20) 4. Osilator Kristal f = 1 2 LCs = fs (4-21) Selain menggunakan komponen L-C.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM Ada beberapa jenis osilator yaitu: 1.

8. Osilator Wien-Bridge dengan 2 resistor penguatan Untuk mencari frekuensi osilasinya.5. Gambar 4.6. Gambar 4. maka dapat dicari dengan memodifikasi rangkaian seperti gambar 4.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM Gambar 4.7. Osilator Wien-Bridge Osilator Wien Bridge mengunakan 2 jaringan R-C pada terminal positif op amp untuk membentuk sinyal keluaran yang berosilasi. di bawah ini: Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 30 . Osilator Wien-Bridge dengan 2 jaringan R-C Penguatan sinyal dilakukan oleh 2 resistor pada terminal negatif op-amp (inverting input).

LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM Gambar 4. Non-inverting op amp Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 31 . Modifikasi osilator Wien-Bridge Pada rangkaian modifikasi ini. sehingga dengan memakain rumus penguatan inverting op amp didapat nilai penguatan (G). sehingga didapat pers (4-22): V0 ( s)  V1 ( s)  Z 2 ( s) Z1 (s)  Z 2 (s) (4-22) Sedangkan nilai Z1 ( s) dan Z 2 ( s) harus didapat dari nilai R dan C yang sama besar: Z1 ( s)  R  1 s C (4-23) 1 s C Z 2 ( s)  1 R s C R.8. penguatan loop-nya dapat dicari dengan melakukan pembagian tegangan. yaitu: Gambar 4.9. (4-24) Penguatan pada rangkaian osilator ini adalah penguatan inverting.

secara keseluruhan. maka bagian real-nya sama dengan nol: 1  2  R2  C 2  0 (4-28) Sehingga frekuensi osilasinya adalah: f = 1 2RC (4-29) Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 32 . (4-24). maka didapat: V0 ( s)  G  VS ( s)  s  RC s2  R2  C 2  3 s  R  C 1 (4-25) Sekarang kita dapat pers. maka pers (4-26) akan menjadi: T ( s)  j   R  C  G (1    R 2  C 2 )  3  j    R  C 2 (4-27) Jika kita menginginkan pergeseran fasanya nol. dan (4-25) ke pers (4-22). yaitu: T ( s)  V0 ( s) s  RC G  2 2 2 VS ( s ) s  R  C  3  s  R  C  1 (4-26) Substitusikan nilai s dengan jω.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM G V1 ( s) R  1 2 VS ( s ) R1 (4-25) Dengan mensubstitusikan pers (4-23).

Matikan power supply. f. Nyalakan power supply dan tekan tombol Auto pada osiloskop.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM PROSEDUR PRAKTIKUM OSILATOR 1. g. Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 33 . power supply. 4. Lihat frekuensi keluaran dan tegangan keluaran pada osiloskop kemudian lakukan pengambilan data. Hubungkan kabel jumper power supply pada posisi ground ke port GND pada modul. Hubungkan ujung probe merah ke port OUTPUT Colpitts dan ujung probe hitam ke port GND. Select untuk memilih kapasitor mana yang akan digunakan dalam rangkaian. b. 3. dan kabel jumper. d. Pengujian Modul Osilator Colpitts a. f. Matikan power supply. Hubungkan kabel jumper power supply pada tegangan +9 Volt ke port VCC+ pada modul. c. Gunakan Cap. Hubungkan ujung probe merah ke port OUTPUT Wien Bride dan ujung probe hitam ke port GND. Nyalakan power supply dan tekan tombol Auto pada osiloskop. c. Nyalakan power supply dan tekan tombol Auto pada osiloskop. Pengujian Modul Osilator Digital a. e. Kalibrasi Alat Ukur 2. c. b. d. Siapkan modul osilator. dan ground power supply ke port GND pada modul. Hubungkan kabel jumper power supply pada tegangan +5 Volt ke port VCC+ pada modul. Hubungkan kabel jumper power supply pada tegangan +5 dan –5 Volt ke port VCC+ dan VCC . Hubungkan ujung probe merah ke port OUTPUT Digital dan ujung probe hitam ke port GND. Pengujian Modul Osilator Wien Bridge a.pada modul. e. dan ground power supply ke port GND pada modul. b. Lihat frekuensi keluaran dan tegangan keluaran pada osiloskop kemudian lakukan pengambilan data.

Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 34 . Lihat frekuensi keluaran dan tegangan keluaran pada osiloskop kemudian lakukan pengambilan data. e. Matikan power supply.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM d.

Prinsip dasarnya adalah dua buah sinyal masuk ke suatu rangkaian non linier yang menghasilkan frekuensi-frekuensi lain (terjadi pergeseran frekuensi) selain frekuensi dua buah sinyal masukan tersebut dengan amplituda tertentu.Kabel penghubung (jumper) 6.Osiloskop 3. Mengamati dan memahami cara kerja mixer dioda berimbang. Mengamati dan mengukur sinyal pada port-port mixer dengan menggunakan Spektrum Analyzer. 2. pencampur BJT. Tujuan 1. Perolehan (Kehilangan) Konversi adalah perbandingan antara daya sinyal keluaran (IF) dengan daya sinyal masukan (RF). Function Generator 2. B. DasarTeori Mixer adalah rangkaian atau sub sistem yang memiliki dua input dengan frekuensi f1 dan f 2 dan 1 output dengan frekuensi  f1  f2  f1  f2  atau dengan kata lain mixer berfungsi untuk mengalikan sinyal.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM MODUL III PRAKTIKUM ELKOM MIXER DAN PLL A.Kit praktikum mixer 5. Mengamati dan mengukur bentuk-bentuk sinyal pada port-port mixer dengan menggunakan Osiloskop.Power Supply/ Catu Daya 4. Probe C. Peralatan Yang Digunakan 1. Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 35 . 3. Beberapa istilah yang digunakan untuk menjelaskan penampilan mixer : 1. dan pencampur dengan IC 1496.

1 Mixer Diode Berimbang Tunggal Cara Kerja Rangkaian : Frekuensi-frekuensi masukannya adalah fRF dan fLO dan frekuensi keluarannya adalah fIF. kalau a lebih positif dari b dan sama sekali mati selama ½ siklus yang lain VRF berada antara titik c dan d. tegangan osilator local berada dititik a dan b. sehingga Vo akan sama dengan nol. Tegangan VLO dimisalkan cukup besar untuk menghidupkan dioda-dioda selama ½ siklus. Sedangkan kalau Vab negatif maka keempat dioda akan OFF sehingga titik c dan d akan terpisah sehingga Vo akan sama dengan VRF jika Rs pada sumber VRF diabaikan. Isolasi adalah besarnya redaman dalam dB sinyal masukan mixer pada sinyal keluaran mixer 4. Harmonic intermodulation Distortion adalah Distorsi yang disebabkan oleh karena frekuensi harmonik yang dikeluarkan oleh mixer akibat sinyal masukan tertentu Ada beberapa jenis mixer yaitu : 1. Mixer dioda berimbang Tunggal c D1 D3 + VLO(t) VRF(t) a b R VO(t) - D2 D4 d Gambar3. 3. Daerah Dinamis adalah daerah amplitudo dimana mixer dapat bekerja tanpa berkurangnya penampilan 5. Dengan begitu dioda bekerja sebagai penyambung (switch) yang akan menghubungkan dan memutuskan c dan d secarabergantian dan periodik. Sehingga kalau Vab positif dan lebih besar dari tegangan antara kedua kutub dioda pada saat dioda ON. Gambaran Derau (Noise Figure) adalah besarnya rapat spektral daya noise relatif yang dibangkitkan oleh perangkat mixer. maka titik c dan d akan terhubung. Dioda berimbang Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 36 .LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM 2. Untuk pencampur pada penerima maka beban akan ditala pada frekuensi fIF . sehingga akan menapis komponen frekuensi yang tidak diinginkan . Dimisalkan juga bahwa VLO jauh lebih besar dari VRF sehingga VLO dapat mengendalikan keadaan dioda setiap saat.

2 Output Mixer DiodaBerimbang Tunggal 2. Penekanan carrier sangat bergantung pada level input carrier. karena dalam dioda berimabng tunggal jika dioda ON maka ON semua.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM tunggal menghasilkan keluaran berupa Supres Carrier. sehingga bentuk sinyalnya akan menyerupai sinyal info. Berikut merupakan gambar sistem kerja pada sinyal input output pada Mixer Dioda Berimbang Tunggal.21 Volt fs : 1 KHz Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 37 . Mixer dengan IC MC1496 Mixer dengan IC MC1496 ini. dan untuk mendapatkan sinyal suppressed carrier yang optimum. pada datasheet IC MC 1496 ini telah dirancangkan spesifikasi sebagai berikut : Vc : 60 mVrms = 0. menghasilkan sinyal keluaran sinyal suppressed carrier dan meminimalkan sideband palsu dari sinyal suppressed carrier. Gambar3. Rangkaian ini dirancang untuk menekan sinyal carrier seminimal mungkin sehingga yang dimunculkan di keluaran adalah sinyal info . dan jika dioda OFF maka semuanya OFF.04 Volt fc : 500 KHz Vs : 300 Vrms = 0.

3konfigurasi pin IC MC 1496 Gambar3.5 Bentuk keluaran mixer Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 38 .4 Mixer dengan IC MC1496 Output dari rangkaian ini dapat diambil dari pin 6 dan 12 baik gain sinyal ataupun balanced. Gambar3. Berikut merupakan bentuk keluaran dari rangkaian ini.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM Gambar3.

Setelah frekuensi dan amplitudonya sesuai. atur frekuensi dan amplitudo di function generator lalu lihat perubahan nilainya pada osiloskop.48 Volt Untuk melakukan kalibrasi.6 merupakan tampilan sinyal info saat dikalibrasi. 2.9 Hz Amplitudo : 6. Note untuk mixer dioda berimbang tunggal : Pergunakan dua buah terminal untuk mencolok alat ukur. Kalibrasi frekuensi dan amplitude sinyal carrier. spesifikasinya adalah : Frekuensi : 64. sesuaikan dengan spesifikasi diatas. sesuaikan dengan spesifikasi diatas. 3. hubungkan probe positif function generator pada port Info Signal In pada kit mixer diode berimbang tunggal dan probe negatif function generator kebagian port Ground (GND) pada kit.Gambar 3. hubungkan probe positif function generator pada port Carrier Signal + pada kit mixer dioda berimbang tunggal dan probe negative function generator kebagian portCarrier Signal . hubungkan probe positif function generator 1 dengan probe positif osiloskop dan probe negatif function generator dengan probe negatif osiloskop.58 Volt Untuk melakukan kalibrasi. & pastikan terminal untuk mencolokkan function generator (sebagai sinyal carrier) terpisah dengan alat ukur lainnya. MIXER Mixer Dioda Berimbang Tunggal Kalibrasi frekuensi dan amplitude sinyal info. karena akan membuat ground menjadi tidak stabil Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 39 . spesifikasinya adalah : Frekuensi` : 1. Amati hasil keluaran dari mixer dioda berimbang tunggal tersebut. hubungkan probe positif function generator 2 dengan probe positif osiloskop dan probe negatif function generator dengan probe negative osiloskop.02KHz Vpp : 3.Setelah frekuensi dan amplitudonya sesuai. Melihat hasil keluaran mixer diode berimbang tunggal. lalu hubungkan probe positif osiloskop pada bagian Modulated Signal Out pada kit dan probe negatif osiloskop kebagian port Ground (GND) pada kit.pada kit mixer dioda berimbang tunggal. Setelah sinyal info dan carrier diinputkan. atur frekuensi dan amplitudo di function generator lalu lihat perubahan nilainya pada osiloskop.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM PROSEDUR PRAKTIKUM 1.

12 merupakan tampilan sinyal keluaran mixer Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 40 .Gambar 3. a.32 KHz Vpp : 2. d. hubungkan probe positif function generator 2 dengan probe positifosiloskopdan probe negatif function generator dengan probe negative osiloskop. spesifikasinya adalah : Frekuensi : 57. hubungkan probe positif function generator pada port Info Signal In pada kit mixer IC MC1496 dan probe negatif function generator kebagian port Ground (GND)pada kit. e. atur frekuensi dan amplitudo di function generator lalu lihat perubahan nilainya pada osiloskop.68 Volt Untuk melakukan kalibrasi. Setelah sinyal info dan carrier diinputkan. hubungkan probe positif function generator 1 dengan probe positif osiloskopdan probe negatif function generator dengan probe negative osiloskop. spesifikasinya adalah : Frekuensi : 1. atur frekuensi dan amplitudo di function generator lalu lihat perubahan nilainya pada osiloskop. lalu hubungkan probe positif osiloskop pada bagian port + Signal Out pada kit dan probe negative osiloskop kebagian port . diperlukancatuan -9 Volt dan 12 Volt.Setelah frekuensi dan amplitudonya sesuai.2 Volt Untuk melakukan kalibrasi.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM 2. Melihat hasil keluaran mixer IC MC1496.Untuk itu. b. Untuk mixer dengan IC MC 1946. Kalibrasi frekuensi dan dan amplitude sinyal carrier. hubungkan probe positif function generator pada port Carrier Signal In pada kit mixer IC MC1496 dan probe negatif function generator kebagian port Ground (GND) pada kit. Amati hasil keluaran dari mixer IC MC1496 tersebut. Kalibrasi frekuensi dan dan amplitude sinyal info. hubungkan catuan -9 volt dari power supply dengan menggunakan jumper ke port -9V pada kit danhubungkancatuan 12 volt dari power supply dengan menggunakan jumper ke port +12V pada kit.Setelah frekuensi dan amplitudonya sesuai. Mixer dengan IC 1496 Memberikan catuan pada kit. Hubungkan pula ground dari power supply ke port GND pada kit. sesuaikan dengan spesifikasi diatas.Signal Out.1 KHz Vpp : 17. sesuaikan dengan spesifikasi diatas.

karena akan membuat ground menjadi tidak stabil. & pastikan terminal untuk mencolokkan osiloskop terpisah dengan alat ukur lainnya. Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 41 .LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM Note untuk mixer IC MC1496: Pergunakan dua buah terminal untuk mencolok alat ukur.

Locked-range. demodulation. 2. Dasar teori Phase Lock Loop (PLL) merupakan sistem tertutup membentuk feedback negatif dengan sinyal feedback digunakan untuk mengunci (lock) frekuensi dan phasa keluaran terhadap frekuensi dan phasa sinyal input. Praktikan dapat mengamati dan memahami lock-range pada PLL. C. dan mixer merupakan salah satu penyusun phase detector sehingga dengan kata lain mixer adalah bagian dari PLL PLL digunakan untuk filtering. 4. Praktikan dapat melakukan pengukuran dan pengaturan free-running frequency pada PLL. signal detection. perlahan-lahan frekuensi diturunkan sehingga pada harga frekuensi tertentu PLL akan terkunci pada frekuensi tersebut. Praktikan dapat mengukur frekuensi capture maksimum dan minimum. dan aplikasi lainnya. Kit praktikum elektronika Komunikasi PLL. Cara mencarinya yaitu dalam keadaan PLL Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 42 . 2. Kabel penghubung (jumper). kontrol kecepatan motor. Adalah frekuensi keluaran VCO pada kondisi tidak ada sinyal masukan. Frekuensi operasi maksimum adalah frekuensi tertinggi sinyal masukan dimana lingkar(lup) masih dapat terkunci. Adalah kawasan atau daerah frekuensi dimana lingkar dapat bertahan terkunci. Frekuensi operasi minimum adalah frekuensi terendah sinyal masukan dimana lingkar-lup masih dapat menguncinya. Beberapa parameter dalam PLL antara lain : 1. 2. Daerah ini dibatasi oleh frekuensi operasi minimum dan maksimum. 3. Multimeter digital. 4.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM PHASE LOCK LOOP A. Cara mencarinya dengan mengubah frekuensi sinyal masukan dari kondisi PLL tidak terkunci (dari frekuensi tinggi sehingga PLL tidak terkunci). 5. tetapi banyak tersusun dari komponen analog dan digital. frequency modulation. Praktikan dapat mengamati cara kerja PLL sebagai pensintesis frekuensi. PLL dapat berupa analog atau digital. Tujuan 1. Catu daya DC 3. Biasanya nilainya pada frekuensi tengah. Osiloskop. Hubungan antara PLL dengan mixer adalah di dalam PLL terdapat rangkaian phase detector . B. Peralatan yang digunakan 1. penggeser frekuensi (frequency synthesis). Free-running frequency.

Dan jika sudut fase meningkat dari nol ke 180 maka tegangan dc akan menurun menuju harga minimum. 4. Gambar 1. Salah satu contoh tipe kurva karakteristik detector fase digambarkan pada gambar 1. keluaran tegangan dc adalah harga rata. Pertengahannya pada free-running frequency 3. Dengan kata lain.rata dari maksimum dan minimum. Ketika sinyal – sinyal ini memasuki detector fase pada gambar 1.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM tidak terkunci sinyal masukan dinaikan dari frekuensi paling rendah (sehingga PLL tidak terkunci) dinaikan perlahan-lahan sehingga PLL mulai terkunci. Untuk lebih jelasnya maka dapat digambarkan sebagai berikut : Cara kerja PLL : 1.b. dimana ketika beda sudut fasenya nol. maka tegangan dc yang dihasilkan akan maksimum.c. Jadi jika sudut fasenya berubah maka tegangan dc-nya juga berubah. Adalah selang waktu transient dari PLL sampai mencapai kondisi terkunci. Capture range. Simpangan frekuensi disekitar free-running frequency dimana lingkaran masih mampu mengunci sejak memulai. Ketika susut fase 90 derajat.a mengilustrasikan beda sudut fase antara dua sinyal sinusoidal. Pada dasarnya sebuah detector fase adalah merupakan mixer yang dioptimasi untuk digunakan pada frekuensi sinyal masukan yang sama. karena besarnya tegangan dc yang dihasilkan tergantung dari beda sudut fase antara kedua sinyal masukan. karena frekuensinya nol. Tracking range. Detektor Fasa Andaikan kita memiliki mixer dengan masukan yang frekuensinya sama (misal 50 KHz dan 50 KHz). Itu dikenal sebagai phase detector atau phase comparator. biasanya sejauh setengah lock-range. Lock-up time. Capture-range < Lock-range 5. maka keluaran pencampur merupakan tegangan dc. Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 43 . Karena selisih frekuensinya nol. maka akan dihasilkan tegangan dc. tegangan dc akan keluar dari pencampur ketika frekuensi sinyalsinyal masukannya sama. Adalah simpangan maksimum yang diijinkan dari jaraknya ke free running frequency.

kenaikan tegangan kendali dc akan menyebabakan penurunan frekuensi keluaran VCO. VCO [Voltage Controlled Oscillator] Sesuatu yang penting diingat tetntang VCO adalah sebagai berikut : Sebuah masukan tegangan dc akan mengendalikan frekuensi keluaran.b Vdc Vmak Vmak + Vmin 2 Vmin 0 90 180 fase Gambar 1.a Sin (t+) VDC PHASE DETECTOR Sin (t) Gambar 1.c 2. Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 44 .LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM  Gambar 1. Dalam percobaan ini.

LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM fVCO ff Vdc Gambar 2 Ketika tegangan dc pada gambar 2 meningkat. Masukan yang lain datang dari keluaran VCO. Oleh karena detector fase memilki dua sinyal masukan dengan frekuensi yang sama. Sistem umpan balik akan mengunci frekuensi VCO pada frekuensi masukannya. frekuensi keluaran VCO akan sama dengan fx. Hanya frekuensi selisih saja yang dilewatkan oleh LPF Tegangan dc ini kemudian akan mengendalikan frekuensi keluaran dari VCO. dan frekuensi jumlahnya. Keluaran dc Sinyal Masukan fx PHASE DETECTOR LOW PASS FILTER VCO Keluaran Terkunci fx (a) Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 45 . Ini akan menghilangkan frekuensi – frekuensi dasar dari masukan.a adakah merupakan blok diagram dari sebuah PLL. Keluaran detector fase ditapis dengan LPF. Ketika system bekerja secara benar. sama dengan frekuensi masukan. penaikkan frekuensi akan berbanding lurus dengan kenaikan level tegangan dc (gambar 2). frekuensi – frekuensi harmonik (kelipatan dari frekuensi dasar). PLL [Phase Locked Loop] Gambar 3. Sebuah sinyal masukan dengan frekuensi fx adalah salah satu masukan ke detector fase. 3. Dengan kata lain. maka sudut fase antara kedua sinyal masukan ini akan menentukan besarnya tegangan keluaran dc. Secara tipikal. maka frekuensi pada sinyal keluaran akan meningkat. tegangan dc akan mangendalikan frekuensi osilator.

dan ini menyebabkan frekuensi keluaran VCO akan menurun sampai sama dengan frekuensi masukannya. fasornya secara lambat akan menurun dan sudut fasanya akan bertambah. Sekarang tegangan dc yang keluar dari detektor fase akan bertambah. fasornya akan berputar cepat dan sudut fase bertambah. Di pihak lain. diberikan dengan persamaan : BL = fmax . Tegangan dc yang lebih rendah akan memaksa frekuensi keluaran VCO untuk meningkat sampai dengan fx. Mode Free Running Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 46 . Sebagai contoh.fmin Di mana fmax dan fmin adalah frekuensi keluaran VCO maksimum dan minimum. maka frekuensi keluaran VCO akan mengikutinya. PLL secara otomatis mengoreksi/mengontrol frekuensi keluaran VCO dan sudut fasenya. a.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM INPUT INPUT   vco INPUT  vco (b) (c) vco (d) Jika frekuensi masukan berubah. jika frekuensi masukan menurun. jika frekuensi VCO dapat membawa dari 40 KHz sampai 60 KHz. VCO akan mengikuti frekuensi masukan ini dan keluaran akan terkunci akan sama dengan fx. seperti yang ditunjukkan pada gambar 3. Dengan kata lain.d. Sebagai contoh. jika frekuensi masukan fx meningkat sedikit. maka daerah pengunciannya (lock-range) adalah sama dengan : BL  60 KHz  40 KHz  20 KHz Sekali PLL terkunci. maka frekuensi masukan fx dapat membawa frekuensi dari 40 KHz sampai 60 KHz. Lock range (daerah penguncian) BL adalah daerah frekuensi VCO yang dihasilkan. Ini berarti tegangan dc keluar dari detector fase akan menurun.

Di lain pihak. Capture-range adalah selalu lebih sempit dibanding lock-range dan ini berhubungan dengan frekuensi cutt-off dari LPF. maka frekuensi keluaran VCO akan menurun. Sehinggga kalau frekuensi cut-off filter semakin tinggi maka tegangan keluaran dc filter akan semakin rendah. Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 47 . Hal ini dapat diketahui dari karakteristik VCO. Keluaran detector fasa ini kemudian dilewatkan filter. Frekuensi keluaran VCO hanya akan ditentukan oleh komponen penyusun osilatornya saja yaitu R1 dan C1. maka PLL akan bekerja dalam mode free running. Frekuensi cut-off yang lebih rendah akan mengakibatkan capturerange yang lebih sempit. Jadi secara tidak langsung frekuensi cut-off filter akan mempengaruhi capture-range. dan jika tegangan dc masukannya diperkecil.range. jumlah dan selisih dari sinyal-sinyal masukannya. c. Rumus untuk capture range adalah : BC  f 2  f1 dimana f 2 1 dan f1 adalah frekuensi tertinggi dan terendah agar PLL dapat mengunci sinyal masukan. jadi tidak dipengaruhi oleh tegangan pengendali dc. b. di mana keluaran detector fasa ini terdiri dari komponen. Dan hasil pemfilteran ini diumpankan ke VCO sebagai masukan. sinyal masukan dc VCO berasal dari keluaaran detector fasa. Detektor fasa sifatnya seperti mixer. Capture dan Lock Range Asumsikan PLL bekerja dalam mode free-running atau tidak terkunci. Dalam bentuk ini maka keluaran dari VCO disebut free-running frequency. yaitu band frekuensi yang berpusat pada free-running frequency.komponen frekuensi asli. dan kalau frekuensi cutoff semakin rendah maka teganagn dc keluaran akan semakin tinggi. IC PLL MC 4046 IC PLL MC 74HC4046A dari Motorola adalah sebuah IC dengan 16 pin yang dapat dihubungkan dengan komponen ekstrenal untuk membentuk PLL. PLL akan terkunci pada frekuesni masukannya jika frekuensi masukannya itu berada pada daerah capture. maka frekuensi keluaran VCO akan semakin meningkat. dimana jika tegangan masukan dc-nya semakin besar.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM Jika masukan detector fase tidak ada.

dan kapasitor pewaktu eksternal C1A dan C1B dihubungkan dengan pin 6 dan 7. Ini adalah dua komponen yang menentukan free-running frequency dari VCO dan range frekuensi VCO dan diberikan dengan persamaan sebagai berikut (diambil dari data library PLL MC74HC4046A) : 3 VCOIN I CONST R1   2Vdd I CONST R 2  R1 R2 fo  2 CEXT (Vdd  3 * undershoot ) d. PLL Sebagai Modulator FM dan AFC [Automatic Frequency Control] Sinyal Masukan fx Sfm(t) PHASE DETECTOR LOW PASS FILTER S VCO fv S(t) info Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 48 .LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM Gambar 4 memperlihatkan diagram blok sederhana. Resistor pewaktu eksternal R1.2 dihubungkan dengan pin 11 dan 12 terhadap ground.

maka frekuensi osilasi akan berubah. Keluaran LPF akan memuat sinyal perubahan fv oleh lingkungan sebagai sinyal koreksi. Tegangan ini memilki frekuensi yang sama dengan frekuensi sinyal pemodulasi. tegangan yang berfluktuasi atau berubah-ubah akan keluar melalui LPF. Rangkaian PLL kemudian dioperasikan sebagai strip IF lengkap. fv fi VCO f. Demodulasi atau deteksi FM dapat diperoleh secara langsung dengan menggunakan rangkaian PLL. pembatas. berarti fv dipengaruhi s(t) dan lingkungannya. maka sinyal keluaran dari keluaran FM adalah akan sama dengan musik juga. sfm(t). Sinyal FM PHASE DETECTOR LOW PASS FILTER Vo(t) Sfm(t). Jika kapasitansi berubah secara sinusoidal pada frekuensi 1 KHz. dan demodulator sebagaimana dipakai dalam penerima FM. Jika Switch S – ON. dengan menganggap komponen VCO stabil tidak dipengaruhi oleh lingkungan. maka hasil penyaringan atau tegangan keluaran LPF-nya adalah tegangan keluaran demodulasi yang diinginkan. Tapi jika tak stabil. e. Jika frekuensi tengah PLL dirancang pada frekuensi sinyal FM. PLL Sebagai Pensintesis Frekuensi Pensintesis frekuensi dapat dibangun dengan menggunakan PLL seperti pada gambar berikut ini Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 49 . Sebagai hasilnya. VCO akan mengikuti perubahan frekuensi masukannya. keluaran DC sekarang menyatakan keluaran demodulasi FM. Ini banyak digunakan dalam penerima FM. PLL Sebagai Demodulator FM / Diskriminator Gambar di bawah ini memperlihatkan sebuah osilator LC dengan sebuah kapasitor variable sebagai penala. OSILATOR LC Ketika sinyal FM dimasukkan sebagai masukan pada PLL.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM Jika Switch S-OFF. Perubahan nilainya sebanding dengan perubahan frekuensi sinyal masukannya. Jika sinyal pemodulasi adalah musik. dengan frekuensi fv yang hanya dipengaruhi oleh sinyal informasi s(t) saja. maka frekuensi pemodulasinya adalah 1 KHz. Sinyal FM. Jika kapasitansi berubah. Dengan kata lain. sebagai masukan VCO yang berupa sinyal informasi s(t) ditambah sinyal koreksi dari keluaran LPF yang menyebabkan seolah-olah harga fv dipengaruhi oleh s(t) saja.

Sinyal masukan dapat berupa kristal terbilan pada frekuensi f1 dengan menghasilkan keluaran VCO pada Nf1 jika lingkar dalam mkondisi mulai terkuknci pada frekuensi dasar (ketika fo = f1).LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM : Sebuah pembagi frekuensi disisipkan antara keluaran VCO dengan masukan detector fasa sehingga sinyal lingkar menuju detector fasa pada frekuensi fo ketika output VCO adalah Nfo. Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 50 . Ini hanya diperlukan untuk mengatur kembali fo menuju daerah capture-range dan lock-range. lingkar tertutup kemudian menghasikan sinyal Nf1 pada keluaran VCO pada keadaan terkunci. Selama rangkaian PLL pada kondisi terkunci. Karena VCO hanya bisa berubah –ubah pada daerah yang terbatas dari frekuensi tengahnya. Keluaran ini adalah kelipatan dari frekuensi sinyal masukan(referensi) selama lingkar dalam keadaan terkunci. maka diperlukan untuk mengubah frekuensi VCO ketika harga pembagi diubah. frekuensi keluaran VCO akan secara pasti N kali frekusnsi masukannya.

LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 51 .

2. 3.8 10.4 3.6 9.2 7. Pengukuran ini dilakukan dengan cara memberikan tegangan masukan VCO dengan jarak 0. Diagran blok pengukuran seperti pada gambar dibawah ini : Tegangan Searah VCO Osiloskop Frequency Counter Voltmeter Diagram Blok Pengukuran VCO Data Pengukuran VCO (pin a dan pin b di hubung singkat) No. 3. 3.1 Volt dan mencatat frekuensi keluaran VCO. 1.0 6. 1.6 4. 2. 2. 2.6 Frekuensi (KHz) Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 52 .8 5. 2. 3. VCO Pengukuran kestabilan VCO dilakukan untuk menentukan daerah tegangan kontrol untuk menentukan frekuensi yang diinginkan dan menentukan besarnya faktor penguatan VCO atau sensitifitas modulasi. 1.2 2.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM PROSEDUR PRAKTIKUM PHASE LOCK LOOP 1.4 8.4 13. Tegangan Input (V) 1.0 11. 1.2 12.

3. b. Free Running Frequency a. 4. Keluaran Filter LPF a. Hubungkan pin b dan pin c. Proses PLL Prosedur : a. sehingga masukan DC pada VCO berasal dari keluaran detector phasa. Keluaran Filter LPF 3. Gambarkan kurva kelinieran VCO b.0 Tabel 1. Ukurlah tegangan DC (dengan voltmeter digital) pada keluaran Filter LPF (pin 3) untuk frekuensi referensi (osilator lokal) masukan 400 Hz. Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 53 . dengan cara :  Hubung singkat pin a dan pin b  Putar variable resistor dengan trimmer  Ukur keluaran Tegangan DC dengan multimeter (pin a) b.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM 14. Hitung faktor penguatan VCO 2. Atur variable resistor pada pin 8 sehingga diperoleh free running frequency sebesar 250 KHz 4. Catat tegangan dc pada table 3. Beri tegangan DC pada masukan VCO sebesar 3 volt. Ulangi langkah a untuk frekuensi yang lain pada table 4 Frekuensi (Hz) Vdc 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000 Tabel 2. Kelinieran VCO a.8 15.

Hitung berapa pembagi yang diperlukan agar keluaran VCO 250 KHz dengan referensi 400 Hz d. Amati keluaran Loop Filter  Gambar : +V t -V Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 54 .. Amati keluaran Phase Detector  Gambar : +V t -V g.... (pin 1) c. Amati keluaran VCO  Frekuensi : . Buatlah programable divider sesuai dengan pembagi yang diinginkan e.... Atur variable resistor pada pin 7 sehingga diperoleh frekuensi referensi sebesar 400 Hz..LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM b..  Gambar: +V t -V f..  Duty Cycle : .

.. -V Ulangi untuk nilai Frekuensi Referensi dan Free Running Frekuensi yang lain ! k.... Aturlah Keluaran VCO dengan frekuensi referensi 400 Hz sehingga keluarannya mempunyai frekuensi 250 KHz KHz (sebagai frekuensi pembawa) b..LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM h.. bandingkan dengan sinyal masukan pemodulasinya... d. Amati untuk nilai frekuensi informasi yang berbeda-beda : Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 55 ... Amati keluaran Programable Divider  Frekuensi : ...  Duty Cycle : . Hubungkan Generator Sinyal dengan sinyal ‘kotak’ (sebagai sinyal informasi) dengan frekuensi 20 KHz dan amplitudo ……… pada masukan modulator FM (pada pin 3 VCO)..  Gambar : +V t j. PLL Sebagai Modulator FM a.  Duty Cycle : .. Analisa data yang diperoleh ! 5...... Amati keluaran Pembagi 2  Frekuensi : ... Amati sinyal keluaran modulator FM yang berupa gelombang FM pada pin 4 VCO. c.  Gambar : +V t -V i.....

20 2. 160 9. 60 4. 40 3. 180 10. 100 6. 140 8. Frekuensi Informasi (KHz) 1. 120 7. 200 Gambar keluaran modulator FM Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 56 .LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM No. 80 5.

LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM Tabel 3 6. Set Frekuensi referensi pada 400 Hz. PLL sebagai pensintesis frekuensi a. b. Ukurlah Frekuensi Output VCO pada posisi divider 00 0000 0000 0000 No PEMBAGI 1 10 2 100 3 200 4 300 5 400 6 500 7 600 8 700 9 800 10 900 11 1000 FREKUENSI (VCO) Tabel Pesintesa Frekuensi Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 57 .

6. 2. 4. 7.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM PROSEDUR PRAKTIKUM PLL 1. negatif ke GND)  Putar variabel resistor pada trimmer 2 untuk mendapatkan besar tegangan yang diinginkan Looping PLL  Atur input tegangan VCO sebesar 3 volt dan frekuensi 250 KHz  Hubungkan pin B dengan pin C sehingga inputan VCO berasal dari keluaran detector phasa  Ubah besar pembagi sesuai tabel pada jurnal Programmable Divider  Hubungkan Out programmable divider dengan osiloskop  Ubah besar pembagi sesuai tabel pada jurnal Keluaran Pembagi Dua  Hubungkan Out Pembagi dua dengan osiloskop  Ubah besar pembagi sesuai tabel pada jurnal Detektor Phasa Hubungkan Out detektor phasa dengan osiloskop Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 58 . Oscillator Lokal  Hubungkan kit PLL dengan power supply sebesar 5 volt  Hubungkan Out X’tal dengan osiloskop  Atur variabel resistor dengan trimmer 1 hingga mendapatkan frekuensi referensi sebesar 400 Hz  Gambarkan sinyal keluaran Free Running  Hubungkan pin A dengan pin B  Hubungkan Out VCO dengan osiloskop  Ukur besar tegangan DC menggunakan multimeter (positif ke pin A. negatif ke GND) menjadi sebesar 3 volt dengan memutar variabel resistor dengan trimmer 2  Atur besar frekuensi free running menjadi 250 KHz dengan memutar variabel resistor dengan trimmer 3 Voltage Control Osilator (VCO)  Atur besar tegangan input VCO sesuai tabel pada jurnal  Gunakan multimeter (positif ke pin A. 3. 5.

Analisa PLL sebagai modulator FM untuk setiap frekuensi informasi yang berbeda ! Bagaimana caranya PLL yang merupakan sebuah osilator bisa menjadi modulator FM ? Jelaskan jawaban anda ! 6. Analisa hasil keluaran LPF untuk setiap perbedaan frekuensi ! 3. 8.LABORATORIUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS TELKOM ANALISA 1. Jika osilator kristal yang tersedia adalah osilator kristal 25 KHz. Jika perlu gunakan programmable counter sebagai frequency divider. Bandingkan antara free running frekuensi yang diperoleh dari hasil percobaan dengan hasil perhitungan (gunakan rumus di modul praktikum !) ! 4. Sebutkan komponen apa saja yang anda gunakan dalam setiap blok rancangan anda ? Jelaskan mengapa anda menggunakan komponen tersebut! Laboratorium Elektronika Komunikasi 2015/2016 59 . Rancanglah sebuah PLL sebagai pensintesa frekuensi beserta spesifikasinya untuk membangkitkan sinyal sinus dengan frekuensi terendah 88 MHz dan frekuensi tertinggi 108 MHz (kenaikan frekuensi setiap 200 KHz / sweep generator). Analisa PLL sebagai pesintesa frekuensi ! 7. Analisa kurva kelinieran VCO dan hitung faktor penguatan ? 2. Analisa setiap keluaran blok pada PLL dalam proses PLL ! Mengapa bisa terjadi demikian ? Jelaskan! 5.