Anda di halaman 1dari 8

AUDIT ENERGI SEKTOR MAKANAN

DI PT. PABRIK GULA RAJAWALI II
UNIT PABRIK GULA JATITUJUH
MAJALENGKA, JAWA BARAT

DISUSUN OLEH
Abdul Rahman
Ervina Fitriana Bekti
Robbirodhya Islam

Politeknik Negeri Bandung
2016

Industri gula merupakan salah satu dari 10 jenis industri yang paling banyak menggunakan energi (Ditjen Listrik dan Pengembangan Energi dalam Indrayana. Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatan efisiensi penggunaan energi adalah dengan melakukan konservasi energi. 1986). logam dasar. industri dan perdagangan gula dunia (termasuk Indonesia) diperkirakan sudah mengalami titik balik awal tahun 2000-an.2 Tujuan Penelitian Mendapatkan nilai tingkat efisiensi penggunaan energi pada proses produksi gula kristal putih di pabrik swerta mendapatkan berbagai peluang konservasi energi melalui perbaikan sistem dan teknologi proses produksi. Sepuluh industri tersebut adalah pupuk. pemintalan. BAB II .3 juta orang. Bahkan pada awal 2006. Setelah mengalami masa suram pada akhir 1990-an yang diindikasikan dengan semakin menurunnya produksi gula dan reendahnya tingkat harga gula. tenun.6 %. kertas. Studi yang yang dilakukan secara global sejak awal tahun 1970-an.2005).2001). Mrnunjukan bahwa konservasi energi dapat dilakukan melalui penerapan manajemen energi I. Salah satu indikator kebangkitan industri gula dunia adalah kecenderungan kenaikan harga semenjak tahun 2004. Industri gula berbasis tebu merupakan salah satu sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu petani dengan jumlah tenaga kerja yang terlibatsekitar 1. harga gula pada tahun 2004 menjadi USS 240/ton.BAB 1 I. Berdasarkan data Kedutaan Besar Amerika Serikat dalam Anonim (2006). tepatnya Februari 2006. Jika pada tahun 2003 harga gula putih di London masih sekitar USS 200/to . Dengan luas areal sekitar 350 ribuha pada periode 2000-2005. Penggunaan Energi primer di Indonesia mengalami peningkatan pertumbuhan pertahun yang cukup signifikan yaitu mencapai 8. Adanya peningkatan produksi pertanian dami memenuhi kebutuhan pangan masyarakat (Goswani. Gula juga merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat dan sumberkalori yang relatif murah (Anonim.1 Latar Belakang Gula Merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia. semen. Konservasi Energi merupakan kegiatan pengurangan atau penghematan penggunaan energi tanpa mengurangi produktivitas produksi. kayu lapis gula dan otomotif. harga gula sudah di atas USS 420/ton.

1990).1993).3 meter dan diameter 1.2 Tinjauan Pustaka Tebu merupakan monocotyleddon yang termasuk dalam ordo Glumaceate famili Graminae.3 – 7. TEBU(CANE) STASIUN PEMERASAN (MILL SECTION) AMPAS STASIUN PEMBANGKITAN UAP STASIUN PEMURNIAN (BOILER SECTION NIRA (CLARIFCATION SECTION) .I. Rumus sukrosa tidak memperlihatkan sifat mereduksi. namun mempuyai daun yang tersusun dalam dua baris.1996).4-7. Sakarosa dikenal dalam masyarakat luas sebagai gula. Tanaman Tebu dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 2. Batangnya tidak mempunyai cabang. kelompok Andropogon dan genus Sacharum. campuran glukosan dan fruktosa (50-50)disebut gula invert. II. Ruas batangdibatasi oleh buku –buku ‘yang merupakan tempat kedudukan daun dan setiap ketiak daun terdapat mata tunas (Anonim. misalnya dengan larutan fehling.sukrosa) di Indonesia adalah tebu (saccaharum ogcinarum) yang termasuk keluaga Graminaea (Moerdokusumo.1992).7 cm (Anonim. Sacharum Officinarum merupakan salah satu tanaman dalam genus Sacharum yang paling banyak dibudidayakan sebab kandungan sukrosanya paling tinggi dan kandungan seratnya rtendah (Davies. Tanaman tebu tumbuh dengan akar yang tebal dan padat. Tebu berhabitus rumputdan tumbuh bergerombol membentuk rumpun (Jones.1985). Sakarosa atau sukrosa adalah suatu zat disakarida yang pada hidrolisa menghasilkan glukosa dan fruktosa.2 Gula dan proses produksinya Bahan baku utama gula (Sakarusa. gula pasir atau gula putih.

NIRA MENTAH SUSU KAPUR BLOTONG NIRA JERNIH STASIUN PENGUAPAN (EVAPORATION SECTION) NIRA KENTAL STASIUN MASAKAN RAW (RAW BOILING SECTION) MASAKAN RAW STASIUN PUTERAN RAW (RAW CURING SECTION) TETES GULA A (RAW SUGAR) A A SUS KAPUR GAS CO2 BLOTONG STASIUN PEMURNIAN LIQUOR (PURIFICATION SECTION) LIQUOR JERNIH STASIUN MASAKAN RAFINASI (REFINERY BOILING SECTION) STASIUN PEMURNIAN STASIUN PUTERAN LIQUOR RAFINASI (REFINERY (PURIFICATION CURING SECTION) SECTION) .

Campuran tersebut krmudian dimurnikan dengan belerang dioksida. Setelah cukup murni. yang selanjutnya menurunkan kandungan gulanya (Moerdokusumo. tebu akan menurun kualitasnya karena proses respirasi berjalan terus atau terjadi penguraian sukrosa. 2006) Setelah ditebang. 2002) Pertama – tama materi mentah (tebu) dihancurkan dan diperas. Cairan yang terbentuk (nira) kemudian ditambahkan bahan tambahan (biasanya digunakn kalsium oksida) untuk menghilangkan ketidakmurnian. tebu seyogianya secepat mungkin diangkut ke pabrik untuk segera digiling dalam waktu 24 jam. cairan (nira kental) didinginkan dan di kristalasikan (biasanya sambil diaduk) untuk memproduksi gula yang dapat dituang ke cetakan. sarinya dikumpulkan dan disaring. Sebuah mesin sentrifugal juga dapat digunakan pada proses kristalisasi (Anonim. Apabila lebih lama ditahan.1 Tahapan proses pengolahan gula rafinasi dari nira tebu (LP IPB.GULA RAFINASI STASIUN PENYELESAIAN (FINISHING SECTION) GUDANG GULA (SUGAR WAREHOUSE) Gambar 2. sedimen dan sampah yang mengambang kemudian dapat di pisahkan. Campuran yang terbentuk kemudian dididihkan. Perhitungan rendemen nyata yang diperoleh dilakukan dengan rumus: rendemen nyata= Bobot Hablur x 100 Bobot trbu . 1993) Angka rendemen yang digunakan untuk mrnghitung hasil di pabrik gula adalah rasio antara hasil gula kristal (hablur) dengan bobot tebu yang digiling (tebu) yang desibut rendemen nyata.

filter cake (blotong) atau molases (tetes) (LP IPB. Kehilangan gula selama proses kemungkinan terbawa dalam bagase (ampas). selama proses terjadi kehilangan gula yang sangat dipengaruhi oleh efisiensi pabrik gula. Kenyataanya.Dari perhitungan ini berarti gula yang diperoleh adalah hanya gula yang dihasilkan dalam bentuk kristal selama satu periode proses. 2002) Mulai Persiapan Pengumpulan data lapangan Data/informasi: Survey dan wawancara Analisa permasalahan utama Identifikasi tahapan proses yang dapat diefisienkan Penyusunan alternatif proses yang lebih efisien Analisa alternatif terpilih Layak ? Sejarah dan Perkembangan Perusahaan Rekomendasi tidak .

Jatununggul dan Jatitujuh di Jawa Barat. Pada tanggal 23 Juni 1975. Survei ke beberapa daerah di seluruh wilayah Indonesia dimulai pada tahun 1972. PG Jatitujuh merupakan pabrik gula pertama yang dibangun dalam rangka usaha pemerintah tadi. Hal ini sesuai dengan kondisi Indonesia dewasa ini. antara lain di Hutan Loyang. . Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah meningkatkan output pabrik gula lama dengan merehabilitasi pabrik tersebut. Surat Keputusan Dirjen Kehutanan No. pemerintsh Indonesia mengadakan kerjasama dengan Bank Dunia yang kemudian membentuk ISS (Indonesia Sugar Study) dalam usahanya untuk mencapai swasembada gula. di samping penyehatan dari PNP XIV yang berada di Privinsi Jawa Barat. Penanaman tebu pada lahan kering pada dasarnya memerlukan penggarapan tanah secara mekanisasi.Pemerintah Indonesia terus berusaha meningkatkan produksi gula untuk memenuhi swasembada gula. Selain itu. imana areal sawah berpengairan tidak dibernarkan untuk pengembanganperluasan tanaman tebu. Menteri Pertanian yang mengeluarkan Surat Keputusan No 795/Mentan/VI/1975 tentang izin prinsip pendirian PG Jatitujuh di Jatitujuh yang kemudian dikenal dengan nama “Proyek Gula Jatitujuh”. 2033/DJ/J/1975 dikeluarkan pada tanggal 10 Juli 1975 yang berisikan dasar-dasar pengaturan lebih lanjut pelaksanaan SK Mentan tersebut diatas. Areal lahan kering atau tadah hujan-lah yang masih memiliki potensi untuk dikembangkan secara besar-besaran. dilakukan juga pendirian pabrik-pabrik gula baru melalui pengembangan perluasan areal tanaman tebu pada lahan tanah kering atau tadah hujan. Pada tahun 1971. Salah satu programnya adalah mencari areal baru yang berorientasi pada lahan kering.