Anda di halaman 1dari 61

Analisis Kuantitatif Metode Konvensiona

TUGAS
KIMIA FARMASI ANALITIK II
Disusun ole:
Dhini Indryani ( A. 082. OO58)
Fitriyani
Metti Ria Yulistina (A. 082. 0068)
Vivih Risnawati ( A. 082. 0071)
Ryandi

TU
l
Metode Analisis Titrimetri
Prinsip umum :
Analisis dengan metode titrimetri didasarkan pada reaksi kimia seperti
aA + tT
 produk
Dimana a molekul analit, A, bereaksi dengan t molekul pereaksi T. Pereaksi T, yang
disebut titran, ditambahkan secara kontinyu, biasanya dari sebuah buret, dalam wujud larutan
yang konsentrasinya diketahui yang disebut dengan larutan standar, dan prosesnya disebut
dengan standarisasi. Penmbahan titran dilakukan sampai jumlah T secara kimiawi sama dengan
yang telah ditmbahkan kepada A. selanjutnya dikatakan titik ekivalen dari titrasi yang telah
dicapai.
Adapun penggolongan untuk metode titrimetri :
1. Asam-basa. Ada sejumlah besar asam dan basa yang dapat ditentukan oleh titrimetri. Jika HA
mewakili asam yang akan ditentukan oleh B yang mewakili basa, reaksinya adalah sebagai
berikut :
HA + OH-  A- + H2O
Dan
B + H3O+  BH+ + H2O
Titran umumnya adalah larutan standar dari elektrolit kuat, seperti natrium hidroksida dan
asam klorida.
Titrasi asam-basa ini prinsipnya adalah netralisasi dimana pH asam (biasanya berkisar antara
1 – 6) dinetralkan oleh pH basa (berkisar antara 8 – 14) dengan demikian dalam prosesnya terjadi
perubahan pH yang signifikan. Sehingga secara garis besar untuk titrasi asam basa ini dapat
digolongkan menjadi 3 :

a. Titrasi Asam Kuat-Basa Kuat.
Asam dan basa kuat terurai sempurna dalam larutan berair. Oleh karena itu, pH pada berbagai
titik selama titrasi dapat dihitung langsung dari jumlah stoikiometri asam dan basa yang
dibiarkan bereaksi. Pada titik ekivalen, pH ditentukan oleh tingkat terurainya air. Pada 25°C pH
air murni adalah 7,00.
Indicator yang digunakan pada titrasi ini biasanya indicator yang memiliki range pH yang
cukup luas, karena pada saat titrasi ini dilakukan terjadi perubahan range pH yang cukup
signifikan. Biasanya indicator yang dipakai adalah fenolftalein, bromotymol blue, Metil merah.
b. Titrasi Asam Lemah-Basa Kuat.
Karena terurai sedikit dalam air, sehingga bila dilakukan pembacaan dengan
menggunakan kurva titrasi tampak pada asam lemah ini pH nya mulai meningkat dengan cepat
saat basa pertama kali basa ditambahkan, laju peningkatan melambat seiring dengan
meningkatnya konsentrasi B- (bila asam lemah tersebut dimisalkan HB). Larutan tersebut
dikatakan sebagai tersangga didaerah ini, dimana laju peningkatkan pH lambat. Setelah titik
paruhnya, pH perlahan-lahan meningkat lagi sampai terjadi perubahan besar pada titik ekivalen.
c.

Titrasi Bebas Air (TBA).
Pada titrasi ini pelarut asam merupakan pelarut yang lebih baik dari air, karena air adalah
produk dari reaksi titrasi, dan lebih lanjut air terdapat dalam jumlah berlebih. Jadi sampai tingkat
tertentu air bersifat asam sehingga bersaing dengan asam yang hendak kita titrasi dan mencegah
reaksi titrasi berjalan hingga selesai kecuali asam itu sendiri cukup kuat.
Adapun pendapat lain yaitu, Titrasi bebas air adalah suatu titrasi yang tidak mengunakan
air sebagai pelarut, tetapi digunakan pelarut organik. Titrasi ini dilakukan pada zat asam atau
basa lemah seperti halnya asam-asam organik atau alkoloida. Alkoloida sukar larut dalam air
juga kurang reaktif dalam air, seperti misalnya garam-garam amina dimana garam-garam
dirombak dulu menjadi basa bebas yang larut dalam air. Pelarut yang biasa digunakan dibagi atas
dua golongan yaitu pelarut protolitis dan pelarut amfiprotolitis.

2. Oksidasi-reduksi (redoks). Reaksi kimia yang melibatkan oksidasi-reduksi dipergunakan secara
luas dalam analisis titrimetrik. Sebagai contoh, besi dengan tingkat oksidasi +2 dapat dititrasi
dengan sebuah larutan standar dari serium(IV)sulfat:
Fe2+ + Ce4+  Fe3+ + Ce3+
Unsure pengoksidasi lainnya sering dipergunakan sebagai titran adalah kalium permanganate,
KMnO4 reaksinya dengan besi dalam larutan asam adalah
5Fe2+ + MnO4- + 8H+  5Fe3 + Mn2+ + 4H2O
3.

Argento-metri (pengendapan), pengendapan dari kation perak dengan anion halogen
dipergunakan secara luas dalam prosedur titrimetri. Reaksinya adalah sebagai berikut :
Ag+ + X-  AgX(S)
o Parameter yang diamati
Pengendapan pada senyawa golongan halogen atau pseudo halogen, ( I, Cl, Br, F, SCN ).
o Dikenal 4 metode :
Mohr : K2CrO4 sebagai indikator, merupakan titrasi langsung dengan perak nitrat sampai
membentuk warna merah jingga.

Volhard : Ferro Amonium sulfat srbagai indikator, merupakan titrasi tidak langsung
dimana ion halida diendapkan dengan AgNO3 berlebih dan kelebihan AgNO3 dititrasi kembali
dengan tiosianat.
Fajans : Eosin sebagai indikator, merupakan titrasi langsung dengan peak nitrat.
Budde : merupakan titrasi langsung dengan perak nitrat untuk penentuan barbiturat
menggunakan kekeruhan sebagai titik akhir titrasi.
4. Pembentukan kompleks, contoh dari reaksi dimana terbentuuk kompleks yang stabil antara ion
perak dan sianida :
Ag+ + 2CN-  Ag(CN2)Reaksi ini adalah dasar dari metode liebig untuk penetapan sianida. Pereaksi organic tertentu,
seperti asam etilenadiaminatetraasetat (EDTA), membentuk kompleks stabil dengan beberapa
ion logam dan digunakan secara luas untuk penentuan titrimetrik dari logam-logam ini.
Penggunaan buffer / larutan penyangga pH diperlukan selama titrasi ini karena, pada saat
pembentukan senyawa kompleks antara EDTA dengan logam terjadi pelepasan 2H + yang dapat
mengubah pH sehingga mengganggu kepada pembentukan senyawa kompleks nya.
Persyaratan untuk reaksi yang dipergunakan dalam analisis titrimetrik.
1. Reaksi tersebut harus diproses sesuai persamaan kimiawi tertentu. Seharusnya tidak ada reaksi
sampingan.
2. Reaksi tersebut harus diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekivalensi. Cara lain untuk
mengatakannya adalah bahwa konstanta kesetimbangan dari reaksi tersebut haruslah amat besar.
Jika persyaratan ini dipenuhi, akan terjadi akan terjadi perubahan yang besar dalam konsentrasi
analit (atau titran) pada titik ekivalensi.
3. Harus tersedia beberapa metode untuk menetukan kapan titik ekivalensi tercapai. Harus tersedia
beberapa indicator atau metode instrumental agar analisis dapat menghentikan penambahan dari
titran.
4. Diharapkan reaksi tersebut berjalan cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan dalam beberapa
menit. (R.A. Day, Jr., A.L. Underwood, 1998)
Metode Gravimetri
Prinsip umum.
Suatu metode analysis gravimetric biasanya didasarkan pada reaksi kimia seperti,
aA + rR  AaRr
dimana a molekul analit, A, dan r molekul reagennya R. produknya yakni AaRr biasanya
merupakan sutau substansi yang sedikit larut yang bias ditimbang setelah pengeringan, atau bisa
dibakar menjadi senyawa lain yang komposisinya diketahui, untuk kemudiann ditimbang.
Sebagai contoh, kalsium bias ditetapkan dengan cara gravimetric melalui pengendapan kalsium
oksalat dan pembakaran oksalat tersebut menjadi kalsium oksida.
Ca2 + C2O4-  CaC2O4 (S)
CaC2O4 (S)  CaO (S) + CO2 (g) + CO (g)
Biasanya reagen R ditambahkan secar berlebih untuk menekan kelarutan endapan.
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk metoda gravimetric :
1. Proses pemisahan hendaknya cukup sempurna sehingga kuantitas analit yang tak terendapkan
secara analitis tak dapat dideteksi (biasanya 0,1 mg atau kurang, dalam menetapkan penyusunan
utama dari suatu makro).

Sedangkan reaksi redoks dengan elektroda Pt atau elektroda inert dapat digunakan pada titrasi redoks. namun jika tersangkut elektroda gelas. A. Dari grafik itu dapat diperkirakan titik akhir titrasi. muatan dari 1 mol electron. Reaksi-reaksi yang berperan dalam pengukuran titrasi potensiometri yaitu reaksi pembentukan kompleks reaksi netralisasi dan pengendapan dan reaksi redoks. misalnya dalam hal larutan keruh atau bila daerah kesetaran sangat pendek dan tidak cocok untuk penetapan titik akhir titrasi dengan indikator (Rivai. Selain itu. Reaksi netralisasi terjadi pada titrasi asam basa dapat diikuti dengan elektroda indikatornya elektroda gelas.500 C. mempunyai kenaikan yang tajam di sekitar titik kesetaraan. Bila tidak. Kedua titrasi potensiometrik. adalah 96. Zat yang ditimbang hendaknya mempunyai susunan yang pasti dan hendaknya murni atau sangat hamper murni. 1990). 1994). Underwood. Dalam banyak hal. akan diperoleh hasil yang galat. Pada reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan. Satu volt adalah ggl yang diperlukan untuk memberikan satu joule (J) energy pada sebuah muattan listrik sebesar satu coulomb (C). Dengan demikian. disebut faraday. Tetapan ionisasi harus kurang dari 10-8. Karena pH meter ini telah menjadi demikian biasa. elektroda acuan yang potensialnya tetap konstan selama pengukurandan elektroda indicator yang potensialnya merespons perubahan aktivitas dalam larutan uji. seseorang memasang sel galvani yang tegangannya bergantung kepada aktivitas analit. 1 V = 1 J/C Harus diingat bahwa muatan sebuah electron adalah 1.L. suatu potensiometer sederhana dapat digunakan. kurva titrasi yang diperoleh dengan menggambarkan grafik potensial terhadap volume pentiter yang ditambahkan. maka pH meter ini dipergunakan untuk semua jenis titrasi. Jr. dan hasil pengamatan digambarkan pada suatu kertas grafik terhadap volum titran untuk diperoleh suatu kurva titrasi. Cara potensiometri ini bermanfaat bila tidak ada indikator yang cocok untuk menentukan titik akhir titrasi. (R. perkembangannya kearah titik ekivalen dikaji dengan memonitor tegangan sel yang tergantung pada aktivitas salah satu reaktan atau pada suatu perbandingan seperti aFe2+l aFe3+ yang berubah selama titrasi. potensial diukur setelah penambahan titran secara berurutan. Sel selam yang selalu memiliki dua elektroda. Day. Titik akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapkan volume pada mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan titran. 1998) Proses titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan bantuan elektroda indikator dan elektroda pembanding yang sesuai. pertama potensiometri langsung. satuan untuk arus. K2Cr2O7. Gaya gerak listrik (ggl) diukur dalam satuan volt dan disebut sebagai voltase atau potensial dari sel tersebut. bahkan apabila penggunaannya tidak diwajibkan (Basset. Co(NO3)3) membentuk lapisan logam-oksida yang harus dibebaskan dengan reduksi secara katoda dalam larutan encer (Khopkar.2.. Metode Potensiometri Potensiometri secara singkat dapat dibagi kepada dua.A. endapan yang terbentuk akan membebaskan ion terhidrasi dari larutan. Oksidator kuat (KMnO4. sehingga berbagai logam dapat dititrasi dengan EDTA.60 x 10 -19 C dan 1 C/s adalah satu ampere (A). Umumnya digunakan elektroda Ag dan Hg. . Sel galvanic adalah sel dimana reaksi kimia muncul secara spontan. 1995). Dalam titrasi secara manual. melepaskan energy listrik yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. maka akan digunakan pH meter khusus.

yaitu fase bergerak dan fase diam. ada 2 (dua) klasifikasi dalam kromatografi. Pada kromatografi gas fasa geraknya berupa gas. sebagian akan diserap (absorb) sebagian akan direfleksikan dan akan mengenai detektor. suhu. prinsipnya spot pada KLT disinari oleh cahaya UV.Sehingga hal yang harus diperhatikan dalam potensiometri adalah :    Parameter Yang didapat pH larutan. . Elektroda hidrogen digunakan sebagai elektroda baku (Standard hydrogen elektrode. perbedaan potensial Biasanya digunakan 1. Suhu pengamatan/percobaan 25ºC. sedangkan pada kromatografi cairan. fasa geraknya berbentuk cairan. selanjutnya molekul akan kembali kekeadaan dasar dengan mengemisikan (floresensi) dan akan ditangkap oleh detektor. Mekanisme lain sinar yang mengenai spot akan diserap oleh molekul untuk tereksitasi. Klasifikasi kromatografi Berdasarkan jenis fasa gerak yang digunakan. 3. KROMATOGRAFI Kromatografi adalah metode pemisahan yang berkaitan dengan perbedaan dalam keseimbangan distribusi dari komponenkomponen sampel di antara dua fase yang berbeda. SHE) 2. Biasanya digunakan untuk mengukur logam yang dapat melepaskan/menangkap electron Densitometri Prinsipnya mengukur densitas dari spot misalnya pada KLT. yaitu kromatografi gas dan kromatografi cairan. Kadar larutan yang dapat digunakan untuk pengukuran tidak lebih dari 1 molar.

Hidrogen atau Nitrogen. Untuk beberapa senyawa berpendar. biasanya disemprot dengan larutan ninhidrin. yang pertama. 1. Kemudian pelarut akan merangkak membasahi kertas secara perlahan akibat kapilaritas. Zat yang terlarut dari campuran asli akan bergerak sepanjang kertas dengan kecepatan yang berbeda-beda membentuk sederetan noda-noda yang terpisah. untuk asam amino. 1959) Untuk komponen instrumen kromatografi secara garis besar hanya dibagi kepada tiga bagian. salah satu fasa tersebut adalah suatu lapisan stationer dengan permukaan yang luas. dan pelarut akan bergerak kebawah dikarenakan kapilaritas yang dibantu dengan gaya gravitasi. (A. Detector. Kromatografi Kertas Kromatotografi kertas secara garis besar di bagi menjadi dua berdasarkan posisi kertas sebagai penyangganya. Dimana zat yang akan dianalisa dilarutkan kedalam pelarut yang sesuai dengan posisi pelarut dan zat yang terlarut berada didasar ruangan yang kedap dengan kertas untuk kromatografi menggantung diatas ruangan dengan permukaan dasar kertas yang tercelup kedalam larutan. kromatografi kertas yang menurun. tabung itu sendiri terbuat dari tembaga atau baja tahan karat. Kromatografi Gas – Cair (GLC) Fase gerak GLC biasanya adalah Helium. Kertas ini dianalogkan dengan suatu kolomyang mengandung fasa diam berair. Jika noda tersebut berwarna maka bisa langsung diamati. biasanya dengan spektrofotometri. Sistem gas pembawa juga berisi saringan molekuler untuk membuang air dan kotoran lainnya. Tabung untuk kolom GLC biasanya bebrbentuk U maupun spiral untuk menghemat tempat. 2. bisa terlihat pada saat kertas diletakan dibawah lampu ultra-violet. dimana komponen-komponen yang dipisahkan didistribusikan di antara dua fasa. yaitu reagen yang bereaksi dengan gugus asam amino untuk menghasilkan warna ungu. noda-noda tersebut dapat dipotong-potong dengan gunting.Skema pengelompokkan kromatografi Analisa denganMetode Kromatografi Definisi keulemans : Kromatografi adalah suatu metode pemisahan fisik. 3. Sebelum diisi kedalam kolom. Cairan ini harus stabil dan nonovolatil pada temperature kolom. Fasa gerak dalam pembawa yang cocok. Setelah pelarut membasahi kertas dan memindahkan zat yang terlarutnya di hamper sepanjang kertas. dilindi dari kertas oleh pelarut yang tepatdan larutan tersebut di periksa dengan tekhnik yang tepat. maka pita (kertas) tersebut disisihkan. kemudian zat tersebut dipartisikan diantara air ini dan pelarut organic bergerak dengan mudah bercampur . padatan tersebut diimpregnasi dengan cairan yang diinginkan yangberperan fasa stationer sebenarnya. Jika noda tidak berwarna maka harus ditemukan dengan cara lain. Fase stationer (dalam kolom). adalah kromatografi kertas yang menaik. yang lainnya hanya fluida yangmengalir lembut di sepanjang landasan stationer. Untuk analisa kuantitatif. Keulemans. Pilihan gas pembawa terutama tergantung pada karakteristik detector. dikeringkan dan diperiksa. I. M. tabung tersebut berisi padatan halus dengan permukaan yang luas dan relative inert namun padatan itu sebenarnya hanya sebuah penyangga mekanik unutk cairan. kertas di kaitkan pada cawan yang mengandung pelarut yang terletak diatas ruangan. dan harus sesuai untuk pemisahan tertentu. Kolom dalam GLC biasanya diletakan dalam oven dengan temperature konstan. Kedua.

Injektor (Cara masuknya sampel) Sebagian besar kromatografi gas dilengkapi dengan jenis injector yang bisa memasukkan cairan langsung ke dalam kolom menggunakan jarum suntik. Tipe injektor yang digunakan tergantung jenis kolom yang dipakai. detektor dan sistem data. adsorpsi dan ikatan hydrogen. dan oleh karena itu kertas juga dapat bertindak sebagai penukar ion. Karena dalam prosesnya (pembuatan kertas) gugus hidroksil dan gugus yang mudah terionisasi dimasukan kedalam selulosa selama proses pengoprasian pembuatan bubur kayu dan pengelantangan kertas.dengan air. GC Parameter : Kromatograf gas terdiri dari gas pembawa. . Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan alat yang dinamakan Splitter. Sampel yang dimasukkan harus memiliki reproducibly. kolom. injektor. misalnya. Tetapi interaksi antara zat terlarut dengan penyangga berselulosa bias saja terlibat.

Tipe Kolom dan Pengoperasian KoloM Kolom dimana pemisahan terjadi. yaitu : secara isotermal (temperatur konstan) dan temperatur terprogram (variabel peningkatan temperatur dan waktu ditahan pada temperatur konstan).Sebagian besar sistem kolom modern terbuat dari gelas atau paduan silika. memiliki dua tipe dasar yaitu Kolom kemasan konvensional dan Kolom kapiler atau Kolom tabung terbuka.sepertistainless steel. Kolom konvensional dibuat dari material pendukung yang dilapisi fase diam dari berbagai pembebanan yang dikemas di dalam kolom. a. Kolom kapiler terdiri dari tabung kapiler panjang yang didalamnya dilapisi dengan fase diam (fase diam dapat juga direkatkan langsung pada permukaan silika).Batas temperatur maksimum dan minimum dipengaruhi stabilitas dan karakter fisik fase diam. gelas dan paduan silika. temperatur kolom dijaga konstan. Paduan silika sangat mudah pecah sedangkan lapisan polimer tersebut bertindak sebagai pelindungnya. Kolom dapat dioperasikan dengan dua cara . tembaga. Sebagian besar kolom kapiler terbuat dari paduan silika yang dilapisi polimer di bagian luarnya.Injektor pada kolom konvensional dan kolom kapiler Kolom Kolom dapat dibuat dari berbagai jenis material. Batas bawah ditentukan oleh titik beku . Operasi Isotermal Pada operasi isotermal. aluminium.

analisa kuantitatif dengan daerah puncak (daerah puncak adalah konsentrasi ). b. dan pemilihan kondisi operasi optimum alat kromatografi. Memungkinkan untuk menentukan garis tengah puncaksecara akurat.dan batas atas ditentukan oleh “bleed” dari fase diam. Fase diam harus stabil secara termal melewati range temperatur yang lebar. Kestabilan aliran sangat diperlukan untuk mencapai stabilitas hasil detektor yang baik yang ditunjukan pada garisbawah/baseline datar yang stabil. yaitu detektor integral dan differensial. b.Detektor differensial banyak digunakan dalam kromatografi. Informasi yang diperoleh dari kromatogram digunakan sebagai dasar untuk analisis kualitatif sementara. Sebuah oven massa rendah mengijinkan pendinginan dan pemanasan cepat dari kolom yang dapat ditahan sampai 1oC dari temperatur yang diperlukan. Respon detektor yang ditampilkan secara grafik adalah kromatogram diferensial. Semakin kecil jumlahnya semakin jelas identifikasinyadibanding dengan menggunakan detektor tipe integral. Tidak bergantung pada kondisi operasi. Mudah perawatannya f. d. Mempunyai sensitifitas yang tinggi untuk mengenali unsur dalam bentuk gas. Mempunyai volume internal yang kecil (resolusi puncak) g.25oC sampai 20oC. Secara umum pada mode operasional ini. c. Kromatogram Kromatogram differensial yang pada dasarnya terdiri dari deretan puncak-puncak sekarang mempunyai keuntungan sebagai berikut : a. seperti : kecepatan alir. c. Respon terhadap konsentrasi bahan/larutan dalam fase bergerak ditampilkan dalam sekejap. satu untuk pemisahan komponen dan yang lain untuk melawan “bleed”. Mempunyai respon yang cepat untuk menghindari gugusanpuncak h. temperature oven dikendalikan oleh sebuah program yang dapat mengubah tingkatan pemanasan yang terjadi antara 0. Mempunyai respon yang linear terhadap jumlah unsur dengan cakupan yang luas. Operasi temperatur terprogram (TPGC) Pada kromatografi gas temperatur terprogram. Ada dua tipe detektor. (1 volume terlarut : 1000 volume pelarut) b. Mempunyai stabilitas baseline yang baik. Pemisahan parsial langsung bisa dilihat jelas. Bleed dapat diganti dengan menjalankan dua kolom yang identik secara tandem. injektor dioperasikan 30oC diatas temperatur komponen dengan titik didih maksimum (kolom kemasan konvensional). Detektor Sebuah detektor yang ideal seharusnya: a. Pada operasi temperatur terprogram diperlukan pengendali aliran untuk memastikan kesetabilan aliran gas. Murah dan dapat dipercaya. . Bleed adalah fase diam masuk ke detektor. e.

dan pelarut hidrokarbon. 3. Larutan methanol 80 % dengan cara memipet larutan methanol 40 ml lalu dimasukkan dalam labu ukur 50 ml kemudian tambah aquades sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan. dengan menggunakan detektor ionisasi nyala dan detektor menangkap elektron (yang memiliki kepekaan sangat tinggi) kromatografi gas kuantitatif dapat menentukan bahan hadir pada konsentrasi sangat rendah studi polusi. Larutan dihomogenkan . 2.Kromatogram Diferensial   Aplikasi Pemisahan dan analisis multi komponen campuran seperti minyak esensial. Pengolahan data dan penyajian hasil. 1. 2. Pengembangan pemisahan dan produksi dari kromatogram. Penyusunan sampel. Prosedur kerja Langkah kerja pembuatan larutan: 1. pekerjaan forensik dan analisis umum jejak. Analisis Kuantitatif Ada tiga tahapan penting dalam analisis GC. Karena kadarnya 100 % maka larutan tersebut murni ethanol tanpa campuran aquades. Larutan methanol 100 % dengan cara memipet larutan methanol 50 ml. Hakekatnya.

Menganalisis larutan menggunakan GC dengan cara pengoperasian sebagai berikut: 1. kolom. Klik DINJ. 20 % 2. Buka tabung gas pada nitrogen 5. Larutan dihomogenkan Prosedur pengoperasian GC 1. Nyalakan komputer 7. Larutan dihomogenkan 5. Tancapkan steker 2. Klik DINJ . Tekan tombol On pada GC 6. Buka tabunggas hidrogen 4. 40 %. DVID. Larutan methanol 60 % dengan cara memipet larutan methanol 30 ml lalu dimasukkan dalam labu ukur 50 ml kemudian tambah aquades sampai tanda garis. Klik advanced 12. Larutan dihomogenkan 4. Larutan methanol 40 % dengan cara memipet larutan methanol 20 ml lalu dimasukkan dalam labu ukur 50 ml kemudian tambah aquades sampai tanda garis. Genaral 13. User ID tidak usah diisi langsung Ok 10.3. Menghomogenkan larutan sampel 3. Larutan methanol 20 % dengan cara memipet larutan 10 ml lalu dimasukan dalam labu ukur 50 ml kemudian tambah aquades sampai tanda garis. Klik dua kali pada GC solution 8. Klik angka satu 9. Klik Ok 11. Membuat larutan methanol 100 %. Tutup kran tabung kompresor 3. 80 %. 60 %.

Kolom tempat diisi diatas temperatur pelarut. Klik Stop 28. 18. Klik DFID. Klik TEMP diisi harus diatas temperatur kolom atau diatas temperatur injection. 31. Untuk melihat data klik GC Solution. dirubah dengan diturunkan 32. TEMP didisi temperatur dari analit yang mau diuji 17. Masukkan sampel dengan cara disuntikkan dengan SYRING. Klik general. Save Method File As 23. Klik Save 25. Matikan suhu kolom diusahakan dibuat sama dengan suhu kamar. klik Post run 30. isi semua kolom dengan tanda V 21. Klik sistem ON. agar tidak terjadi kondensasi 20. TEMP. Klik download 22. suhu kolom dikurangi 33. Klik kolom. setelah sampel masuk tekan Start pada GC. Flow diisi tergantung proses pemisahan 15.14. TEMP dikurangi . 26. Klik File. Klik DFID 19. Klik kolom 16. Klik Hold Time diisi waktu penahanan dengan temperatur pilihan sampel yang diuji. keluar grafik dengan lama waktu sesuai yang ada pada isian Hold Time 27. alat dicabut. Pada layar komputer muncul menu AC Quire. Klik YesA 29. Klik DINJ. File Name 24. GC hidup pada layar komputer tertulis Not ready. tunggu sampai warna kuning hilang.

keluarkan semua udara yang ada. 37.34.D. Cabut steker 41. Tekan tombol OFF pada GC 38. Sensitif (dengan detektor T.I. F. Download 35. Kromatografi Gas akan memisahkan campuran-campuranyang mengandung banyak komponen dengan perbedaan titik didih rendah. Baik pada analisa kualitatif dan kuantitatif g. Keunggulan GC Keuntungan-keuntungan dari Kromatografi Gas antara lain : a. tunggu sampai ada bunyi. Cari pendingin. ppb)Volume yang diperlukan sangat kecil ( 1 – 10 ��l ) d. . Tutup gas nitrogen 43. Klik sistem OFF. Buka tabung kompresor. tunggu warna kuning pada layar 36.Kuantitatif ( daerah puncak adalah konsentrasi zat) kelemahan GC GC hanya bisa mendeteksi jumlah senyawanya dan hanya digunakan untuk bahan yang barwujud cair. Mudah dioperasikan dan tekniknya terpercaya.C.D. File Open Method File komputer hilang.D.E. Analisis cepat (biasanya 10 -15 menit) c. pestisida. Shut down komputer 40. f. gasgas dan steroid-steroid e. Hasilnya mudah ditafsirkan Puncak kromatogram . Tutup gas hidrogen 42. Bisa dipakai untuk menganalisis berbagai macamcampuran.C.Kualitatif ( dengan retensi waktu ) . b. Close semua 39. hidrokarbon. obat. ppm. low ppm.

Prinsip kerja Prinsip dari HPLC ini adalah dinamika dan migrasi dengan meggunakan dua fasa. Detektor dapat juga memberikan informasi karakteristik lainnya (yaitu UV / Vis data spektroskopi untuk analit jika demikian dilengkapi). dan laju alir fase gerak. HPLC menggunakan berbagai jenis fase diam (biasanya.Karbohidrat . sebuah pompa yang bergerak fase mobile (s) dan analit melalui kolom. hidrofobik rantai karbon jenuh). dan detektor yang menyediakan waktu untuk karakteristik retensi analit itu. HPLC) adalah bentuk kromatografi kolom sering digunakan dalam biokimia dan kimia analitik untuk memisahkan.Protein .dimana penyerapan semakin baik jika molekul berada pada bentuk terkecil sehingga pemisahan semakin baik. HPLC biasanya digunakan untuk senyawa untuk yang berberat molekul tinggi dan tidak menguap.HPLC Parameter HPLC Kromatografi cair kinerja tinggi (atau kromatografi cair tekanan tinggi. rasio / komposisi pelarut (s) yang digunakan. waktu retensi analit bervariasi tergantung pada kekuatan interaksi dengan fase stasioner.Asam organic . Beberapa sampel yang dapat dianalisis dengan HPLC : -Asam amino . dan menghitung senyawa berdasarkan polaritas istimewa mereka dan interaksi dengan fase diam kolom itu.Hidrokarbon aromatic .Vitamin -Seyawa lain berberat molekul tinggi dan titik didih tinggi. mengidentifikasi. .

Berapa analit diperlambat tergantung pada sifat analit dan pada . Mosi analit melalui kolom diperlambat oleh bahan kimia tertentu atau interaksi fisik dengan fase diam karena melintasi panjang kolom.Operasi sampel yang akan dianalisis dapat digunakan dalam volume kecil untuk aliran fasa mobile.

Biasanya beberapa molekul zat terlarut cebderung berdifusi sepanjang gradient konsentrasi. pelarut yang umum digunakan adalah kombinasi miscible air atau cairan berbagai organik (yang paling umum adalah metanol dan asetonitril). Lalu setelah itu senyawa bergerak keluar masuk dengan difusi dimana semua fasa gerak telah terjerembap kedalam fasa diam. Selain difusi eddy masih ada difusi longitudinal. Besarnya kontribusi difusi eddy dari pelebaran pita mestinya bergantung pada ukuran partikel isian. Difusi eddy adalah factor yang timbul akibat penggandaan lintasan untuk suatu aliran gas melalui suatu kolom yang berisi partikel-partikel dengan berbagai bentuk dan ukuran yang diatur secara tak beraturan. Air mungkin mengandung buffer atau garam untuk membantu pemisahan komponen analit. Ketika partikel tersebut mengalir melalui saluran-saluran di antara partikel-partikel packing. Waktu di mana elutes analit tertentu (yang keluar dari ujung kolom) disebut waktu retensi. Diagram alir HPLC .lalu kembali ke fasa gerak lebih cepat dan mengikuti aliran untuk keluar dari kolom. menyebabkan resolusi ditingkatkan dalam kromatogram yang dihasilkan. waktu retensi dalam kondisi tertentu dianggap cukup unik mengidentifikasi karakteristik dari suatu analit tertentu.dan keseragaman distribusi dalam kolom tersebut.sehingga suatu pita yang bergerak akan melebar dan akan meningkatkan panjang waktu yang dibutuhkan untuk mengelusi pita dari kolom.secar umum proses yang terjadi adalah sebagai berikut: Sampel dimasukkan ataupun dicampurkan biasanya dengan cara di-injeksikan. Lalu molekul melakukan penetrasi .kemudian dimulailah penyebaran molekul yang disebabkan oleh difusi eddy.komposisi fase stasioner dan mobile. Dan ditunjukkan dengan kromatogram.bentuknya. Setelah keluar senyawa didieteksi oleh detector yaitu konsentrasinya yang dihubungklan bersama fungsi waktu. Pada kromatografi. Penggunaan partikel kemasan ukuran lebih kecil kolom (yang menciptakan backpressure lebih tinggi) meningkatkan kecepatan linier komponen memberikan sedikit waktu untuk meredakan dalam kolom. atau senyawa seperti asam trifluoroacetic yang bertindak sebagai agen pasangan ion.

4-DNPHz diekstraksi dengan larutan dan ditentukan kandungan dengan memakai HPLC (kromatografi cairan bertekanan tinggi). dan/atau GC/MS(kromatografi gas/spektometri massa). Waktu retensi diukur berdasarkan waktu dimana sampel diinjeksikan sampai sampel menunjukkan ketinggian puncak yang maksimum dari senyawa itu. Sesudah pengambilan contoh. Sebuah kotak gel silika dilapisi dengan reagen 2. tidak sama halnya dengan kromatografi gas. Injeksi sampel Injeksi sample seluruhnya terjadi otomatis. Senyawa-senyawa yang berbeda memiliki waktu retensi yang berbeda. aldehid bereaksi dengan reagen untuk menghasilkan derivatifnya 2.4dinitrofenilhidrazon (2. Karena proses ini meliputi tekanan.4-DNPHz) (lihat gambar bawah). Waktu retensi Waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk bergerak melalui kolom menuju detektor disebut sebagai waktu retensi.4-dinitrofenilhidrazin (2. Dipermukaan absorben ini.4-DNPH) dipakai untuk pengambilan sampel. derivatif 2. waktu retensi akan sangat bervariasi dan bergantung pada:  tekanan yang digunakan (karena itu akan berpengaruh pada laju alir dari pelarut)  kondisi dari fase diam (tidak hanya terbuat dari material apa. Untuk beberapa senyawa.Pengambilan sampel Pengambilan sample aldehida di udara dikemukakan sebagai salah satu contoh. NPD/GC (detektor fosfor nitrogen/ kromatografi gas). tetapi juga pada ukuran partikel) .

Pompa ini menghasilkan tekanan sekitar 400 atm .tidak ada pengotor -Sesuai dengan detector dan sampel -Tidak bereaksi dengan wadah -Harga murah dan mudah mendapatkannya . Noise muncul jika sampel kita ataupun pelarut yang kita gunakan belum pure.belum murni dari pengotorpengotor yang mungkin tidak sengaja masuk kedalamnya. Kromatogram Kromatogram menunjukkan hasil yang didapat. Bukan dengan bentuk lainnya.jadi ada beberapa criteria yang harus dipenuhi fasa gerak : -Murni. Namun dalam kromatogram kita menemukan beberapa puncak kecil atau yang mengganggu dan disebut denga noise. Fasa gerak dalam HPLC memegang peranan penting karena sangat akan mempengaruhi kepada pemisahan.karena bentuk tersebut menandakan pemisahan dilakukan dengan sangat baik. Kromatogram yang diinginkan adalah kromatogram yang lurus tinggi dengan lebar sekecil mungkin. Jumlah cahaya yang diserap akan bergantung pada jumlah senyawa tertentu yang melewati melalui berkas pada waktu itu. Metode umum yang mudah dipakai untuk menjelaskan yaitu penggunaan serapan ultra-violet. Keunggulan HPLC Beberapa keunggulan HPLC dibanding alat lain: • HPLC dilengkapi dengan adanya pompa. komposisi yang tepat dari pelarut  temperatur pada kolom Detektor Ada beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang telah melewati kolom.

• HPLC memiliki keunggulan kolom.  Metode Berdasarkan pada prinsip absorbsi cahaya oleh atom.untuk mengalirkan eluen dengan tekanan tinggi dan konstan sehingga memperingan kerja kolom dan juga pemisahansehingga waktu lebih sedikit. pada pompa dikenal dua system dalam teknik pemisahan yaitu isokratik dan gradient. tergantung pada sifat unsurnya. Jumlah atom natrium yang tereksitasi dari keadaan azas (3s) ke keadaan tereksitasi 3p adalah kecil (misal pada suhu 2500oK).6 mm sehingga dapat memberikan permukaan kontak yang lebih luas diman mempengaruhi sempurnanya pemisahan yang semakin baik. dan yang perlu diingat adalah kolom HPLC dapat digunakan kembali dengan cara direnerasi dengan mencucinya hingga bersih dengan pelarut yang sesuai. dan sinar yang diserap biasanya sinar tampak atau ultraviolet. HPLC memiliki beberapa detector misalnya: Detector ultraviolet Detector fluorometrik Detector elektrokimia Kelemahan HPLC Mahal Pelarutnya khusus untuk analis SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM (SSA) Spektrofotometriserapan atom didasarkan pada penyeerapan energi sinar oleh atom-atom netral. Dan panjang kolom HPLC adalah 150-250 mm.namun gradient lebih berisifat akurat karena masing-masing pompa mengatur laju alir larutan yang berbeda. Dengan menyerap suatu energi.38 x 10-16 energi/derajat Kelvin) T : Suhu dalam derajat (Kelvin) Ej : Selisih energi (dalam erg) antara keadaan tereksitasi dengan keadaan azas Nj : Jumlah atom dalam keadaan tereksitasi . Dimana kolom HPLC ini lebih pendek dan lebih kecil dibanding GC misalnya. Hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan persamaan Bolztman : = exp (- ) k : Tetapan Bolztman (1. Atom-atom akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu. Diameter untuk internal kolom HPLC ≤ 4. Temperatur nyala harus sangat tinggi. Keberhasilan analisis dengan SSA ini tergantung pada proses eksitasi dan cara memperoleh garis eksitasi yang tepat. maka atom akan memperoleh energi maka suatu atom pada keadaan dasar dapat ditingkatkan energinya ke tingkat eksitasi. • HPLC mempunyai detector yang amat sangat sensitive dan peka.

4p dst).3 nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 4p Garis-garis spektrum serapan atom yang timbul karena serapan sinar yang menyebabkan eksitasi dari azas ke salah satu tingkat energi yang lebih tinggi disebut garis-garis resonansi (resonansi line). Maka secara aksperimental dapat diperoleh puncak-puncak serapan sinar oleh atom-atom Na dengan panjang gelombang : 589 nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 3p 589. Hal ini menyebabkan terjadinya pelebaran garis puncak serapan. Penyerapan sinar oleh senyawaa mwnnghasilkan pita-pita panjang gelombang yang lebar karena di dalam suatu molekul. akibatnya akan terjadi pelebaran garis puncak serapan. Pada pelebaran tekanan terjadi tabrakan antar atom sehingga menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan dalam tingkat energi azas dari atom-atom bersangkutan. atom Na akan mampu menyerap sinar dengan panjang gelombang yang sesuai dengan transisi dari tingkat azas ke salah satu tingkat energi elektron tereksitasi yang lebih tinggi (3p.  Pelebaran Dopler (Dopler broadening) dan pelebaran tekanan (Pressure broadening)  Melebarnya garis-garis spektrum serapan atom disebabkan 2 peristiwa. Pada SSA.5 nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 3p 330.28 nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 4p 330. Hal ini disebabkan karena serasinya proses transisi. 3d. yaitu : Pelebaran Dopler dan pelebaran tekanan.No : Jumlah atom dalam keadaan azas Pj : Jumlah keadaan kuantum dengan energi yang sama pada keadaan tereksitasi Po : Jumlah keadaan kuantum dengan energi yang sama dalam keadaan azas  Pengukuran absorban pada spektrofotometri serapan atom  Lebar garis spektra serapan atom Di dalam nyala. Pelebaran Dopler terjadi karena atom-atom yang menyerap sinar itu (dalam nyata) bergerak dengan cepat terhadap sumber sinar (lampu katoda berongga). disamping tingkat-tingkat energi elektron terdapat juga tingkat-tingkat energi vibrasi dan rotasi yang disuperposisikan pada tiap-tiap energi elektron tersebut. Untuk bekerja pada panjang gelombang ini . panjang gelombang garis absorbsi resonansi identik dengan garis-garis emisinya.

Tanpa nyala (flameless) .0020. Katoda berbentuk silinder berongga yang terbuat dari logam atau dilapisi dengan logam tertentu. Alat yang dapat digunakan untuk mengubah sampel menjadi uap atom-atom. Jelaslah pada SSA diperlukan suatu sumber radiasi yang mengemisikan sinar pada panjang gelombang yang tepat sama dengan panjang gelombang emisinya. a. Nyala (flame) Untuk mengubah sampel yang berupa padatan atau cairan menjadi bentuk uap atomnya. Propana-udara dipilih oleh logam-logam alkali karena suhu nyala yng lebih rendah akan mengurangi banyaknya ionisasi.diperlukan suatu monokromator celah yang dapat menghasilkan lebar puncak sekitar 0. Satu lampu disunakan untuk satu usur.005nm. Lampu ini terdiri atas tabung kaca tertutup yang mengandung suatu katoda dan anoda. Suhu yang dapat dicapai oleh nyala tergantung pada gas-gas yanng digunakan. yakni dengan menggunakan sumber sinar lampu katoda beronngga. Sumber nyala yang paling banyak digunakan adalah campuran asetilen sebagai bahan pembakar dan udara sebagai pengoksidasi. Instrumen SSA  Sumber sinar Yang biasa digunakan adalah lampu katoda berongga (hallow cathode lamp). yaitu : nyala (flame) dan dengan tanpa nyala (flameless). dan juga berfungsi untuk atomisasi. b.  Tempat sempel Sampel yang dianalisis harus diuraikan menjadi atom-atom netral yang masih dalam keadaan asas.

Sejumlah sampel diambil sedikit dan diletakkan di dalam tabung grafit. Biasanya digunakan tabung penggandaan foton (photomultiplier tube).  Analisis kuantitatif dengan SSA Sampel harus dalam bentuk larutan. Yang memberikan respon terhadap radiasi resonansi dan radiasi kontinyu b.  Monokromator Monokromator dimaksudkan untuk memisahkan dan memilih panjang gelombang yang digunakan dalam analisis. Disamping sistem optik. yaitu : a. Ada 2 cara yang digunakan dalam sistem deteksi : a. Yang hanya memberikan respon terhadap radiasi resonansi  Readout Readout merupakan suatu alat penunjuk atau dapat juga diartikan sebagai sistem pencatatan hasil. dalam monokromator juga terdapat suatu alat yang digunakan untuk memisahkan radiasi resonansi dan kontinyu yang disebut dengan chopper. Sampel dilarutkan dalam suatu asam c. Ada beberapa cara untuk melarutkan sampel. larutan yang akan dianalisis harus sangat encer. Langsung dilarutkan dengan pelarut yang sesuai b. Pencatatan hasil dilakukan dengan suatu alat yang telah terkalibrasi untuk pembacaan suatu transmisi atau absorbsi. stabil.  Detektor Digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang melalui tempat pengatoman. Pada umumnya waktu dan suhu pemanasan tanpa nyala dilakukan dengan cara terprogram. Sistem pemanasan melalui 3 tahap : pengeringan (drying). Hasil pembacaan dapat berupa angka atau berupa kurva dari suatu recorder yang menggambarkan absorbansi atau intensitas emisi. Sampel dilarutkan dalam suatu basa atau dilebur dahulu dengan basa kemudian hasil leburan dilarutkan dalam pelarut Larutan yang dihasilkan harus jernih. dan tidak mengganggu zat-zat yang akan dianalisis. kemudian dipanaskan dengan sistem elektris dengan cara melewatkan arus listrik pada grafit. . pengabuan (ashing). pengatoman (atomising).Pengatoman dapat dilakukan dalam tungku dari grafit seperti tungku yang dikembangkan oleh Masmann.

Disarankan absorbansi sampel tidak melebihi dari absorbansi baku tertinggi dan tidak kurang dari absorbansi baku terendah. Kuantifikasi dengan kurva baku (kurva kalibrasi) SSA bukan merupakan metode analisis yang absolut.1. Cara yang dikerjakan hanya dengan mengukur absorbansi larutan baku (Ab) dengan konsentrasi tertentu (Cb) pada satu konsentrasi saja. Kurva kalibrasi dalam SSA dibuat dengan memasukkan sejumlah tertentu konsentrasi larutan dalam sistem dilanjutkan dengan pengukuran. 2. Suatu perbandingan dengan kurva merupakan metode yang umum. Kuantifikasi dengan cara perbandingan langsung Cara ini hanya boleh dilakukan jika telah diketahui bahwa kurva baku hubungan antara konsentrasi dengan absorbansi merupakan garis lurus dan melewati titik nol. Kadar sampel (Cs) dihitung dengan rumus : Cs = Ab : Absorbansi baku As : Absorbansi sampel Cb : Konsentrasi baku Cs : Konsentrasi sammpel x Cb . lalu dibaca juga absorbansi larutan sampel (As).

d. b. Keuntungan cara ini adalah konsentrasi bakuu mendekati konsentrasi sampel sehingga akan diperoleh presisi dan akurasi yang baik. Gangguan-gangguan pada Spektrofotometri Serapan Atom Gangguan-gangguan (interference) pada SSA adalah peristiwa-peristiwa yang menyebabkan pembacaan absorbansi unsur yang dianalisi menjadi lebih kecil atau lebih besar dari nilai yang sesuai dengan konsentrasinya dalam sampel. Dibuat masing-masing 2 buah larutan baku yang konsentrasinya sedikit lebih rendah dan lebih tinggi dari konsentrasi sampel. Gangguan-gangguan yang dapat terjadi diantaranya : 1. 2. maka metode standar adisi seringkali digunakan. karenanya pada kasusu ini diperlukan pencampuran matriks dengan baku. yaitu absorbansi oleh molekul-molekul yang tidak terdisosiasi di dalam nyala. Gangguan oleh absorbansi yang disebabkan bukan oleh absorbansi atom yang dianalisis.3. akibatnya panjang gelombang pita yang mengabsorbsi dapat . Gangguan oleh penyerapan non-atomik (non atomic absorption) SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET DAN TAMPAK (VISIBEL) Penyerapan (absorbsi) sinar uv dan sinar tampak pada umumnya dihasilkan oleh eksitasi elektron-elektron ikatan. Jika matriks tidak diketahui atau bervariasi dari satu ke yang lain. c. Penggunaan nyala / suhu atomisasi yangn lebih tinggi Penambahan senyawa penyangga Pengekstraksian unsur yang akan dianalisis Pengekstraksian gugus atau ion penggannggu 4. Gangguan tersebut dapat diatasi dengan cara : a. Kuantifikasi dengan cara dua baku Merupakan adaptasi dari cara 1 dan 2. Gangguan yang berasal dari matriks sampel yang dapat mempengaruhi banyaknya sampel yang mencapai nyala. 3. 4. Gangguan kimia yang dapat mempengaruhi jumlah / banyaknya atom yang terjadi di dalam nyala. Cara standar adisi (cara penambahan baku) Kebanyakan analisis dilakukan pada sampel yang tidak identik dengan standar dalam larutan air.

Penyerapan oleh transisi elektron d dan f dari molekul kompleks. Ikatan phi ( ). b. Elektron bukan ikatan (elektron n = non bonding elektron). dan pelarut. Non bonding elektron ini biasanya terdapat disekitar atom N. Elektron sigma (α). Aspek kuantitatif Dalam aspek kuantitatif. resonansi magnet inti. Ada 3 mcam penyerapan energi uv dan sinar tampak. orbital phi terjadi kerena tumpang tindih (overlapping) 2 orbital atom p. yaitu : 1. Penyerapan karena perpindahan muatan Aspek Kualitatif dan Kuantitatif Spektrofotometri UV-Vis 1. a. O. disebut non bonding elektron karena elektron tersebut tidak ikut serta dalam pembentukan ikatan kimia dalam suatu molekul. dan halogen. Penyerapan oleh transisi elektron ikatan dan elektron anti ikatan (elektron sigma (α). yang semuanya dapat diperbandingkan dengan data yang sudah dipublikasikan. 2. Aspek kualitatif Spektrofotometri uv-vis dapat digunakan untuk analisiis kualitatif dengan menggabungkannya dengan spektrofotometri IR. dan spektrofotometri masa. elektron phi (π). efek pH. Kekuatan radiasi juga mengalami penurunan dengan . orbital elektron yang menyebabkan terjadinya ikatan tunggal.dihubungkan dengan ikatan yang mungkin ada dalam suatu molekul. S. Serapan dapat terjadi jika foton / radiasi yang mengenai cuplikan memiliki energi yang sama dengan energi yang dibutuhkan untuk menyebabkan terjadinya perubahan tenaga. c. 2. intensitas. Data yang diperoleh spektrofotometri uv-vis adalah panjang gelombang maksimal. dan elektron yang tidak berikatan atau non bonding elektron (n)). suatu berkas radiasi dikenakan pada larutan sampel dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarannya. 3.

yaitu :  Sinar yang digunakan dianggap monokromatis  Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang luas yang sama  Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang lain dalam larutan tersebut  Tidak terjadi fluoresensi atau fosforisensi  Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan Analisis kuantitatif dengan metode spekttrofotometri uv-vis digolingkan menjadi 3 macam pelaksanaan pengerjaan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam analisis spektrofotometri UV-Vis Ada tahapan-tahapan yang harus diperhatikan. sehingga konsentrasi masing-masing komponen dapat dihitung. dan absorbansi masing-masing larutan diplotkan terhadap konsentrasinya maka suatu garis lurus akan teramati sesuai dengan persamaan A = abc. Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vis . a. sehingga diperoleh 2 persamaan hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi pada 2 panjang gelombang. Analisis 2 campuran secara bersama-sama (analisis multi komponen) Bila diinginkan pengukuran 2 buah senyawa secara bersama-sama secara spektrofotometri. Dalam hukum Lambert-Beer tersebut ada beberapa pembatasan. Analisis komponen tunggal Jika absorbansi suatu seri konsentrasi larutan diukur pada panjang gelombang. Dua buak kromofor yang berbeda akan mempunyai kekuatan absorbsi cahaya yang berbeda pula pada satu daerah panjang gelombang. yitu . a. b. suhu. Pengukuran dilakukan pada masing-masing larutan pada 2 panjang gelombang. akibatnya konsetrasi masing-masing larutan pada 2 panjang gelombang.adanya penghamburan dan pemantulan cahaya. akan tetapi penurunan karena hal ini sangat kecil dibandingkan dengan proses penyerapan. diantaranya . Hukum Lambert-Beer menyatakan bahwa intensitas yang diteruskan oleh larutan zat penyerap berbanding lurus dengan tebal dan konsentrasi larutan. maka dapat dilakukan pada 2 panjang gelombang yang mana masing-masing komponen tidak saling mengganggu atau gangguan dari komponen lain paling kecil. kondisi pelarut yang sama .

Untuk memilih panjang gelombang maksimal. Anjuran ini berdasarkan bahwa kesalahan dalam membaca T adalah 0. Pemilihan panjang gelombang Panjang gelombang yang digunakan harus mempunyai absorbansi maksimal. Waktu operasional (operating time) Cara ini bisa digunakan untuk pengukuran hasil reaksi atau pembentukan warna. karena :  Pada panjangg gelombang maksimal kepekaannya maksimal. Waktu operasional ditentukan dengan mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan absorbansi larutan.2 sampai 0. dilakukan dengan membuat kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu. Masingmasing absorbansi larutan dengan berbagai konsentrasi diukur. Pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan Absorban yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0. Hal ini perlu dilakukan.  Jika dilakukan pengukuran berulang maka kesalahan yang disebabkan pemasangan ulang panjang gelomabang akan kecil sekali. c.005 atau 0. kemudian dibuat kurva yang merupakan hubungan antara absorbansi (y) dengan konsentrasi (x). bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi tersebut hukum Lambert-Beer akan terpenuhi. e. Tujuannnya adalah untuk mengetahui waktu pengukuran yang stabil. d.2 atau 15% sampai 70% jika dibaca sebagai transmitan.  Disekitar panjanng gelombang maksimal.5% (kesalahan fotometrik). sehingga perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar. Pembuatan kurva baku Dibuat seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis dengan berbagai konsentrasi.  Instrumentasi Spektrofotometer UV-Vis .Hal ini perlu dilakukan jika senyawa yang dianalisis tidak menyerap pada daerah tersebut. Cara yang digunakan adalah dengan mengubah menjadi senyawa lain atau direaksikan dengan senyawa tertentu b.

monokromator. lampu deuterium digunakan untuk daerah uv pada panjang gelombang 190-350 nm. Sumber-sumber lampu. i. . lampu halogen kuarsa atau lampu tungsten digunakan untuk daerah visibel pada panjang gelombang 350-900 nm. digunakan untuk mendispersikan sinar kedalam komponen-komponen panjang gelombang yang selnjutnya akan dipilih oleh celah (slit). Optik-optik. dapat didesain untuk memecah sumber sinar melewati 2 kompartemen. dan seperti pada spektrofotometer berkas ganda (double beam). pemancaran kembali sinar oleh molekul yang telah menyerap energi sinar trjadi dalam waktu yang sangat singkat setelah penyerapan (10-8 detik). ii. Fluororesensi berasal dari transisi antara tingkat-tingkat energi elektronik singlet dalam suatu molekul. iii. FLUOROMETRI Ada 2 peristiwa fluoresensi. dan sistem optik. Komponen-komponennya meliputi sumber-sumber sinar. yaitu fluoresensi dan fosforisensi. Yang paling sering digunakan sebagai blanko dalam spektrofotometri adalah semua pelarut yang digunakan untuk melarutkan sampel atau pereaksi. Pada fluoresensi. Monokromator.Spektrofotometer yang sesuai untuk pengukuran di daerah spektrum uv dan sinar tampak terdiri atas suatu sistem optik dengan kemampuan menghasilkan sinar monokromatis dalam jangkauan panjang gelombang 200-800 nm. suatu larutan blanko dapat digunakan dalam satu kompartemen untuk mengkoreksi pembacaan atau spektrum sampel. Monokromator berputar sedemikian rupa sehingga kisaran panjang gelombang dilewatkan pada sampel sebagai scan instrumen melewati spektrum.

Fosforesensi berasal dari transisi antara tingkat-tingkat energi elektronik triplet ke singlet dalam suatu molekul. . Hal ini terjadi akibat kelebihan energi vibrasi yang dimiliki akan segera dilepaskan sebagai akibat tabrakan-tabrakan antara molekul-molekul tersebut dengan molekul-molekul pelarut. 4. 2. akan terjadi pemancaran kembali sinar oleh molekul yang telah menyerap energi sinar trjadi dalam waktu yang relatif lebih lama (10-4 detik). Proses Deaktivasi Proses deaktivasi dapat dibedakan menjadi 2. maka sampel harus dibuat dalam konsentrasi rendah untuk mencegah terjadinya penyerapan radiasi yang tidak seragam ini. Deaktivasi yang tanpa melalaui pemancaran sinar dapat berupa : 1. pengarh oksigen terlarut. quantum yield). 3. Konversi ke dalam (internal conversion). Lintasan antar sistem (intersystem crossing). maka sinar yang mengenai sampel akan diabsorbsi oleh lapisan pertama larutan dan hanya sedikit radiasi yang diserap oleh oleh bagian lain sampel pada jarak yang lebih jauh. misalnya berubah dari singlet ke triplet atau sebaliknya.Pada fosforesensi. merupakan perpindahan energi vibrasi dan molekul yang tereksitasi. pemadaman sendiri (self quenching) dan penyerapan sendiri. Konversi ke luar (exsternal conversion). Analisis Kuantitatif Dengan Fluoresensi Supaya suatu molekul berfluoresensi. yaitu : hasil kuantum (efisiensi kuantum. maka molekul tersebut harus menyerap radiasi. pengaruh pH. Jika konsentrasi senyawa yanng menyerap radiasi tersebut sangat tinggi. merupakan perpindahan energi dari proses interaksi molekul-molekul lain. merupakan pembalikan arah spin elektron yang tereksitasi. Ada beberapa variabel yang berpengaruh pada fluoresensi dan fosforesensi. pengaruh pelarut. yang mana suatu molekul akan pindah dari tingkat energi elektronik lebih tinggi ke tingkat elektronik yang lebih re3ndah tanpa pemancaran sinar. pengaruh suhu. Karena hal ini tidak diinginkan. pengaruh kekakuan struktur. merupakan suatu perpindahan tingkat energi. Pengendoran vibrasi. yaitu : tanpa pemancaran sinar dan dengan pemancaran sinar.

Emisi lampu xenon terdistribusi pada kisaran penjang gelombang yang luas. sedangkan emisi lampu merkuri memberikan intensitas yang sangat tinggi pada daerah panjang gelombang tertentu. Jika suatu senyawa tidak berfluoresensi secara intrinsik. Metode lain adalah dengan prosedur pengkoplingan atau penggabungan reaksi antara molekul obat dengan reagen fluorometrik yang sesuai membentuk spesies berfluoresensi yang disebut dengan fluorofor. hidrolisis. Besarnya konsentrasi dalam sampel dapat dihitung dengan memasukkan intensitas fluoresensi sampel ke dalam kurva baku. Sumber sinar harus sangat intens dan sangat stabil karena intensitas fluoresensi berbanding langsung dengan Io. Selain itu.Prosedur analisis kuantitatif dapat dilakukan dengan membuat kurva baku. Ada 3 keuntungan analisis fluorometri dan fosforimetri dibandingkan dengan spektrofotometri absorbsi. . Beberapa senyawa asing dapat menurunkan nilai efektif ϕ karenanya juga menurunkan sensitifitas senyawa-senyawa yang berfluoresensi. Lampu merkuri dan xenon merupakan sumber radiasi yang paling sering digunakan. dan dengan dehidrasi menggunkan asam kuat. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kondisi analisis untuk baku dan sampel harus sama. Penekanan / pengurangan intensitas fluoresensi ini disebut dengan pemadaman (quencing). sehingga sangat sesuai untuk radiasi eksitasi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk merubah senyawa menjadi berfluoresen adalah dengan metode induksi kimia seperti radiasi dengan UV. yaitu : fluorometri lebih peka. prosedur analisis juga dapat dilakukan dengan membandingkan secara langsung antara intensitas fluoresensi baku dengan intensitas fluorsensi sampel. dan pada fluorometri gangguan spektral dapat dikurangi dengan cara merubah panjang gelombang eksitasi atau emisi. Kurva baku yang menyatakan hubungan antara intensitas fluoresensi dengan konsentrasi baku tertentu disiapkan dengan larutan baku murni yang sudah diketahui konsentrasinya. yaitu diantara 254-366 nm. maka senyawa tersebut harus diubah menjadi senyawa yang berfluoresensi untuk dapat dianalisis. fluorometri lebih selektif. Sistem Instrumentasi Peralatan pada fluoresensi dan fosforesensi dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : fluorometer penyaring dan spektrofluorometer.

yang disebut titran. yaitu satu monokromator digunakan untuk panjang gelombang eksitasi dan yang lainnya digunakan untuk panjang gelombang emisi. Wadah sampel dari kuarsa harus digunakan pada panjang gelombang di bawah 320 nm. Sinar fluoresen diemisikan ke segala arah oleh sampel. Alat spektroflurometer mempunyai 2 monokromator. Wadah sampel yang berasal dari gelas sudah cukup untuk analisis. Pemilihan ini dilakukan oleh oleh penyaring eksitasi (excitation filter). Pereaksi T. dan prosesnya disebut dengan standarisasi.Untuk memperoleh spesifik eksitasi dan mengurangi sesatan sinar. dalam wujud larutan yang konsentrasinya diketahui yang disebut dengan larutan standar. biasanya dari sebuah buret. Sinar eksitasi selanjutnya melewati tempat sampel. Beberapa sinar yang ditransmisikan akan dihamburkan (scattered) dalam arah ini dan sinar yang tidak diharapkan ini akan dihilangkan dengan penyaring fluoresensi kedua yang dipilih sedemikian rupa sehingga penyaring kedua ini akan mentransmisikan secara maksimal. A. ditambahkan secara kontinyu. bereaksi dengan t molekul pereaksi T. Beberapa pelarut juga ada yang berfluoresensi sehingga harus dilakukan pemilihan secara cermat. maka dipilih pita radiasi yang sempit dari radiasi yang diemisikan oleh sumber sinar. Penmbahan titran dilakukan sampai jumlah T secara kimiawi sama dengan . Analisis Kuantitatif Metode Konvensional Metode Analisis Titrimetri Prinsip umum : Analisis dengan metode titrimetri didasarkan pada reaksi kimia seperti aA + tT  produk Dimana a molekul analit.

pH perlahan-lahan meningkat lagi sampai terjadi perubahan besar pada titik ekivalen. selanjutnya dikatakan titik ekivalen dari titrasi yang telah dicapai. Titrasi asam-basa ini prinsipnya adalah netralisasi dimana pH asam (biasanya berkisar antara 1 – 6) dinetralkan oleh pH basa (berkisar antara 8 – 14) dengan demikian dalam prosesnya terjadi perubahan pH yang signifikan.00. Adapun penggolongan untuk metode titrimetri : 1. pH ditentukan oleh tingkat terurainya air. Titrasi ini dilakukan pada zat asam atau basa lemah seperti halnya asam-asam organik atau alkoloida. Indicator yang digunakan pada titrasi ini biasanya indicator yang memiliki range pH yang cukup luas. dan lebih lanjut air terdapat dalam jumlah berlebih. Asam dan basa kuat terurai sempurna dalam larutan berair. Pada titik ekivalen. Pada 25°C pH air murni adalah 7. Pada titrasi ini pelarut asam merupakan pelarut yang lebih baik dari air. c. Larutan tersebut dikatakan sebagai tersangga didaerah ini. Jika HA mewakili asam yang akan ditentukan oleh B yang mewakili basa.(bila asam lemah tersebut dimisalkan HB). Titrasi Bebas Air (TBA). Pelarut yang biasa digunakan dibagi atas dua golongan yaitu pelarut protolitis dan pelarut amfiprotolitis. Asam-basa.yang telah ditmbahkan kepada A. karena air adalah produk dari reaksi titrasi. Setelah titik paruhnya. Adapun pendapat lain yaitu. seperti natrium hidroksida dan asam klorida. bromotymol blue. laju peningkatan melambat seiring dengan meningkatnya konsentrasi B. seperti misalnya garam-garam amina dimana garam-garam dirombak dulu menjadi basa bebas yang larut dalam air. Jadi sampai tingkat tertentu air bersifat asam sehingga bersaing dengan asam yang hendak kita titrasi dan mencegah reaksi titrasi berjalan hingga selesai kecuali asam itu sendiri cukup kuat. Alkoloida sukar larut dalam air juga kurang reaktif dalam air. tetapi digunakan pelarut organik. pH pada berbagai titik selama titrasi dapat dihitung langsung dari jumlah stoikiometri asam dan basa yang dibiarkan bereaksi.+ H2O Dan B + H3O+  BH+ + H2O Titran umumnya adalah larutan standar dari elektrolit kuat. Karena terurai sedikit dalam air. b. karena pada saat titrasi ini dilakukan terjadi perubahan range pH yang cukup signifikan. Oleh karena itu. Biasanya indicator yang dipakai adalah fenolftalein. Titrasi bebas air adalah suatu titrasi yang tidak mengunakan air sebagai pelarut. . Sehingga secara garis besar untuk titrasi asam basa ini dapat digolongkan menjadi 3 : a. Titrasi Asam Lemah-Basa Kuat. reaksinya adalah sebagai berikut : HA + OH. Titrasi Asam Kuat-Basa Kuat. Ada sejumlah besar asam dan basa yang dapat ditentukan oleh titrimetri. dimana laju peningkatkan pH lambat. Metil merah. A. sehingga bila dilakukan pembacaan dengan menggunakan kurva titrasi tampak pada asam lemah ini pH nya mulai meningkat dengan cepat saat basa pertama kali basa ditambahkan.

1. F. Pembentukan kompleks. Argento-metri (pengendapan). merupakan titrasi langsung dengan peak nitrat. (R. Reaksi tersebut harus diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekivalensi. akan terjadi akan terjadi perubahan yang besar dalam konsentrasi analit (atau titran) pada titik ekivalensi. 4. 1998) . 3.A. ( I. Br. Reaksi kimia yang melibatkan oksidasi-reduksi dipergunakan secara luas dalam analisis titrimetrik. membentuk kompleks stabil dengan beberapa ion logam dan digunakan secara luas untuk penentuan titrimetrik dari logam-logam ini. Budde : merupakan titrasi langsung dengan perak nitrat untuk penentuan barbiturat menggunakan kekeruhan sebagai titik akhir titrasi. 4. Pereaksi organic tertentu. AgX(S) o Parameter yang diamati Pengendapan pada senyawa golongan halogen atau pseudo halogen. Jr. seperti asam etilenadiaminatetraasetat (EDTA). Reaksi tersebut harus diproses sesuai persamaan kimiawi tertentu. Cara lain untuk mengatakannya adalah bahwa konstanta kesetimbangan dari reaksi tersebut haruslah amat besar. 2.2. merupakan titrasi langsung dengan perak nitrat sampai membentuk warna merah jingga. besi dengan tingkat oksidasi +2 dapat dititrasi dengan sebuah larutan standar dari serium(IV)sulfat: Fe2+ + Ce4+  Fe3+ + Ce3+ Unsure pengoksidasi lainnya sering dipergunakan sebagai titran adalah kalium permanganate. Volhard : Ferro Amonium sulfat srbagai indikator. Sebagai contoh. Harus tersedia beberapa indicator atau metode instrumental agar analisis dapat menghentikan penambahan dari titran. Fajans : Eosin sebagai indikator. Oksidasi-reduksi (redoks). contoh dari reaksi dimana terbentuuk kompleks yang stabil antara ion perak dan sianida : Ag+ + 2CN. Harus tersedia beberapa metode untuk menetukan kapan titik ekivalensi tercapai. Penggunaan buffer / larutan penyangga pH diperlukan selama titrasi ini karena. SCN ). merupakan titrasi tidak langsung dimana ion halida diendapkan dengan AgNO3 berlebih dan kelebihan AgNO3 dititrasi kembali dengan tiosianat..+ 8H+  5Fe3 + Mn2+ + 4H2O 3. pengendapan dari kation perak dengan anion halogen dipergunakan secara luas dalam prosedur titrimetri. Cl. o Dikenal 4 metode : Mohr : K2CrO4 sebagai indikator. Ag(CN2)Reaksi ini adalah dasar dari metode liebig untuk penetapan sianida. Jika persyaratan ini dipenuhi. Underwood. A.L. Persyaratan untuk reaksi yang dipergunakan dalam analisis titrimetrik. sehingga titrasi dapat dilakukan dalam beberapa menit. Reaksinya adalah sebagai berikut : Ag+ + X. Seharusnya tidak ada reaksi sampingan. Diharapkan reaksi tersebut berjalan cepat. KMnO4 reaksinya dengan besi dalam larutan asam adalah 5Fe2+ + MnO4. Day. pada saat pembentukan senyawa kompleks antara EDTA dengan logam terjadi pelepasan 2H + yang dapat mengubah pH sehingga mengganggu kepada pembentukan senyawa kompleks nya.

kalsium bias ditetapkan dengan cara gravimetric melalui pengendapan kalsium oksalat dan pembakaran oksalat tersebut menjadi kalsium oksida. 2. dan r molekul reagennya R. Day. Metode Potensiometri Potensiometri secara singkat dapat dibagi kepada dua. Ca2 + C2O4. disebut faraday. produknya yakni AaRr biasanya merupakan sutau substansi yang sedikit larut yang bias ditimbang setelah pengeringan. satuan untuk arus. Sel galvanic adalah sel dimana reaksi kimia muncul secara spontan. Sebagai contoh.A. akan diperoleh hasil yang galat. Selain itu. kurva titrasi yang diperoleh dengan menggambarkan grafik potensial terhadap volume pentiter yang ditambahkan. 1 V = 1 J/C Harus diingat bahwa muatan sebuah electron adalah 1.Metode Gravimetri Prinsip umum.1 mg atau kurang. atau bisa dibakar menjadi senyawa lain yang komposisinya diketahui.500 C. muatan dari 1 mol electron. Zat yang ditimbang hendaknya mempunyai susunan yang pasti dan hendaknya murni atau sangat hamper murni. Kedua titrasi potensiometrik. elektroda acuan yang potensialnya tetap konstan selama pengukurandan elektroda indicator yang potensialnya merespons perubahan aktivitas dalam larutan uji. melepaskan energy listrik yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. untuk kemudiann ditimbang. (R. aA + rR  AaRr dimana a molekul analit.L. Satu volt adalah ggl yang diperlukan untuk memberikan satu joule (J) energy pada sebuah muattan listrik sebesar satu coulomb (C). Dalam titrasi . Suatu metode analysis gravimetric biasanya didasarkan pada reaksi kimia seperti. dalam menetapkan penyusunan utama dari suatu makro). Jr. Proses pemisahan hendaknya cukup sempurna sehingga kuantitas analit yang tak terendapkan secara analitis tak dapat dideteksi (biasanya 0. 1998) Proses titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan bantuan elektroda indikator dan elektroda pembanding yang sesuai. pertama potensiometri langsung. Dengan demikian. A. perkembangannya kearah titik ekivalen dikaji dengan memonitor tegangan sel yang tergantung pada aktivitas salah satu reaktan atau pada suatu perbandingan seperti aFe2+l aFe3+ yang berubah selama titrasi. Bila tidak. CaC2O4 (S) CaC2O4 (S)  CaO (S) + CO2 (g) + CO (g) Biasanya reagen R ditambahkan secar berlebih untuk menekan kelarutan endapan. Dari grafik itu dapat diperkirakan titik akhir titrasi.. Cara potensiometri ini bermanfaat bila tidak ada indikator yang cocok untuk menentukan titik akhir titrasi. Titik akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapkan volume pada mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan titran. adalah 96. Underwood. mempunyai kenaikan yang tajam di sekitar titik kesetaraan. 1995). Gaya gerak listrik (ggl) diukur dalam satuan volt dan disebut sebagai voltase atau potensial dari sel tersebut. Persyaratan yang harus dipenuhi untuk metoda gravimetric : 1.60 x 10 -19 C dan 1 C/s adalah satu ampere (A). A. misalnya dalam hal larutan keruh atau bila daerah kesetaran sangat pendek dan tidak cocok untuk penetapan titik akhir titrasi dengan indikator (Rivai. Sel selam yang selalu memiliki dua elektroda. seseorang memasang sel galvani yang tegangannya bergantung kepada aktivitas analit.

KROMATOGRAFI Kromatografi adalah metode pemisahan yang berkaitan dengan perbedaan dalam keseimbangan distribusi dari komponenkomponen sampel di antara dua fase yang berbeda. K2Cr2O7. Elektroda hidrogen digunakan sebagai elektroda baku (Standard hydrogen elektrode. Umumnya digunakan elektroda Ag dan Hg. namun jika tersangkut elektroda gelas. 1990). prinsipnya spot pada KLT disinari oleh cahaya UV. Oksidator kuat (KMnO4. SHE) 2. sehingga berbagai logam dapat dititrasi dengan EDTA. yaitu fase bergerak dan fase diam. bahkan apabila penggunaannya tidak diwajibkan (Basset. maka akan digunakan pH meter khusus. endapan yang terbentuk akan membebaskan ion terhidrasi dari larutan. perbedaan potensial Biasanya digunakan 1. Biasanya digunakan untuk mengukur logam yang dapat melepaskan/menangkap electron Densitometri Prinsipnya mengukur densitas dari spot misalnya pada KLT. potensial diukur setelah penambahan titran secara berurutan. Karena pH meter ini telah menjadi demikian biasa. Mekanisme lain sinar yang mengenai spot akan diserap oleh molekul untuk tereksitasi. 1994). Tetapan ionisasi harus kurang dari 10-8. sebagian akan diserap (absorb) sebagian akan direfleksikan dan akan mengenai detektor. dan hasil pengamatan digambarkan pada suatu kertas grafik terhadap volum titran untuk diperoleh suatu kurva titrasi. suhu. Sedangkan reaksi redoks dengan elektroda Pt atau elektroda inert dapat digunakan pada titrasi redoks. Klasifikasi kromatografi . maka pH meter ini dipergunakan untuk semua jenis titrasi. suatu potensiometer sederhana dapat digunakan.secara manual. Kadar larutan yang dapat digunakan untuk pengukuran tidak lebih dari 1 molar. Reaksi netralisasi terjadi pada titrasi asam basa dapat diikuti dengan elektroda indikatornya elektroda gelas. Pada reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan. 3. Dalam banyak hal. selanjutnya molekul akan kembali kekeadaan dasar dengan mengemisikan (floresensi) dan akan ditangkap oleh detektor. Reaksi-reaksi yang berperan dalam pengukuran titrasi potensiometri yaitu reaksi pembentukan kompleks reaksi netralisasi dan pengendapan dan reaksi redoks. Suhu pengamatan/percobaan 25ºC. Co(NO3)3) membentuk lapisan logam-oksida yang harus dibebaskan dengan reduksi secara katoda dalam larutan encer (Khopkar. Sehingga hal yang harus diperhatikan dalam potensiometri adalah :    Parameter Yang didapat pH larutan.

yang lainnya hanya fluida yangmengalir lembut di sepanjang landasan stationer. 3. M. ada 2 (dua) klasifikasi dalam kromatografi. Sebelum diisi kedalam kolom. (A.Berdasarkan jenis fasa gerak yang digunakan. tabung tersebut berisi padatan halus dengan permukaan yang luas dan relative inert namun padatan itu sebenarnya hanya sebuah penyangga mekanik unutk cairan. Fasa gerak dalam pembawa yang cocok. adalah kromatografi kertas yang menaik. Dimana zat yang akan dianalisa dilarutkan kedalam pelarut yang sesuai dengan posisi pelarut dan zat yang terlarut berada didasar ruangan yang kedap dengan kertas untuk kromatografi menggantung diatas . tabung itu sendiri terbuat dari tembaga atau baja tahan karat. Keulemans. 1959) Untuk komponen instrumen kromatografi secara garis besar hanya dibagi kepada tiga bagian. Pada kromatografi gas fasa geraknya berupa gas. fasa geraknya berbentuk cairan. Kromatografi Gas – Cair (GLC) Fase gerak GLC biasanya adalah Helium. Kolom dalam GLC biasanya diletakan dalam oven dengan temperature konstan. Sistem gas pembawa juga berisi saringan molekuler untuk membuang air dan kotoran lainnya. yaitu kromatografi gas dan kromatografi cairan. 1. I. salah satu fasa tersebut adalah suatu lapisan stationer dengan permukaan yang luas. yang pertama. dimana komponen-komponen yang dipisahkan didistribusikan di antara dua fasa. 2. sedangkan pada kromatografi cairan. Detector. Tabung untuk kolom GLC biasanya bebrbentuk U maupun spiral untuk menghemat tempat. Hidrogen atau Nitrogen. Kromatografi Kertas Kromatotografi kertas secara garis besar di bagi menjadi dua berdasarkan posisi kertas sebagai penyangganya. dan harus sesuai untuk pemisahan tertentu. Fase stationer (dalam kolom). padatan tersebut diimpregnasi dengan cairan yang diinginkan yangberperan fasa stationer sebenarnya. Skema pengelompokkan kromatografi Analisa denganMetode Kromatografi Definisi keulemans : Kromatografi adalah suatu metode pemisahan fisik. Cairan ini harus stabil dan nonovolatil pada temperature kolom. Pilihan gas pembawa terutama tergantung pada karakteristik detector.

injektor. bisa terlihat pada saat kertas diletakan dibawah lampu ultra-violet. kolom. kromatografi kertas yang menurun. dikeringkan dan diperiksa. Untuk analisa kuantitatif. kertas di kaitkan pada cawan yang mengandung pelarut yang terletak diatas ruangan. maka pita (kertas) tersebut disisihkan. yaitu reagen yang bereaksi dengan gugus asam amino untuk menghasilkan warna ungu. Jika noda tersebut berwarna maka bisa langsung diamati. adsorpsi dan ikatan hydrogen. Kertas ini dianalogkan dengan suatu kolomyang mengandung fasa diam berair. GC Parameter : Kromatograf gas terdiri dari gas pembawa. Jika noda tidak berwarna maka harus ditemukan dengan cara lain. Kemudian pelarut akan merangkak membasahi kertas secara perlahan akibat kapilaritas. dan pelarut akan bergerak kebawah dikarenakan kapilaritas yang dibantu dengan gaya gravitasi.ruangan dengan permukaan dasar kertas yang tercelup kedalam larutan. Injektor (Cara masuknya sampel) Sebagian besar kromatografi gas dilengkapi dengan jenis injector yang bisa memasukkan cairan langsung ke dalam kolom menggunakan jarum suntik. Kedua. biasanya disemprot dengan larutan ninhidrin. biasanya dengan spektrofotometri. noda-noda tersebut dapat dipotong-potong dengan gunting. dan oleh karena itu kertas juga dapat bertindak sebagai penukar ion. Setelah pelarut membasahi kertas dan memindahkan zat yang terlarutnya di hamper sepanjang kertas. misalnya. untuk asam amino. dilindi dari kertas oleh pelarut yang tepatdan larutan tersebut di periksa dengan tekhnik yang tepat. Karena dalam prosesnya (pembuatan kertas) gugus hidroksil dan gugus yang mudah terionisasi dimasukan kedalam selulosa selama proses pengoprasian pembuatan bubur kayu dan pengelantangan kertas. Untuk beberapa senyawa berpendar. detektor dan sistem data. kemudian zat tersebut dipartisikan diantara air ini dan pelarut organic bergerak dengan mudah bercampur dengan air. Zat yang terlarut dari campuran asli akan bergerak sepanjang kertas dengan kecepatan yang berbeda-beda membentuk sederetan noda-noda yang terpisah. Tetapi interaksi antara zat terlarut dengan penyangga berselulosa bias saja terlibat. Tipe injektor yang digunakan tergantung .

yaitu : secara isotermal (temperatur konstan) dan temperatur terprogram (variabel peningkatan temperatur dan waktu ditahan pada temperatur konstan). Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan alat yang dinamakan Splitter. Sampel yang dimasukkan harus memiliki reproducibly.sepertistainless steel. Kolom kapiler terdiri dari tabung kapiler panjang yang didalamnya dilapisi dengan fase diam (fase diam dapat juga direkatkan langsung pada permukaan silika). Paduan silika sangat mudah pecah sedangkan lapisan polimer tersebut bertindak sebagai pelindungnya. Kolom dapat dioperasikan dengan dua cara . Tipe Kolom dan Pengoperasian KoloM Kolom dimana pemisahan terjadi. Kolom konvensional dibuat dari material pendukung yang dilapisi fase diam dari berbagai pembebanan yang dikemas di dalam kolom. Operasi Isotermal . tembaga. a. gelas dan paduan silika. Sebagian besar kolom kapiler terbuat dari paduan silika yang dilapisi polimer di bagian luarnya.jenis kolom yang dipakai. aluminium. memiliki dua tipe dasar yaitu Kolom kemasan konvensional dan Kolom kapiler atau Kolom tabung terbuka.Sebagian besar sistem kolom modern terbuat dari gelas atau paduan silika. Injektor pada kolom konvensional dan kolom kapiler Kolom Kolom dapat dibuat dari berbagai jenis material.

Pada operasi isotermal, temperatur kolom dijaga konstan.Batas temperatur maksimum dan
minimum dipengaruhi stabilitas dan karakter fisik fase diam. Batas bawah ditentukan oleh titik
beku
dan batas atas ditentukan oleh “bleed” dari fase diam. Bleed adalah fase diam masuk ke detektor.
Secara umum pada mode operasional ini, injektor dioperasikan 30oC diatas temperatur
komponen dengan titik didih maksimum (kolom kemasan konvensional).
b. Operasi temperatur terprogram (TPGC)
Pada kromatografi gas temperatur terprogram, temperature oven dikendalikan oleh sebuah
program yang dapat mengubah tingkatan pemanasan yang terjadi antara 0,25oC sampai 20oC.
Sebuah oven massa rendah mengijinkan pendinginan dan pemanasan cepat dari kolom yang
dapat ditahan sampai 1oC dari temperatur yang diperlukan. Pada operasi temperatur terprogram
diperlukan pengendali aliran untuk memastikan kesetabilan aliran gas. Kestabilan aliran sangat
diperlukan untuk mencapai stabilitas hasil detektor yang baik yang ditunjukan pada
garisbawah/baseline datar yang stabil. Fase diam harus stabil secara termal melewati range
temperatur yang lebar. Bleed dapat diganti dengan menjalankan dua kolom yang identik secara
tandem, satu untuk pemisahan komponen dan yang lain untuk melawan “bleed”.
Detektor
Sebuah detektor yang ideal seharusnya:
a. Mempunyai sensitifitas yang tinggi untuk mengenali unsur dalam bentuk gas. (1 volume
terlarut : 1000 volume pelarut)
b. Mempunyai respon yang linear terhadap jumlah unsur dengan cakupan yang luas.
c. Tidak bergantung pada kondisi operasi, seperti : kecepatan alir.
d. Mempunyai stabilitas baseline yang baik.
e. Mudah perawatannya
f. Mempunyai volume internal yang kecil (resolusi puncak)
g. Mempunyai respon yang cepat untuk menghindari gugusanpuncak
h. Murah dan dapat dipercaya.
Ada dua tipe detektor, yaitu detektor integral dan differensial.Detektor differensial banyak
digunakan dalam kromatografi. Respon terhadap konsentrasi bahan/larutan dalam fase bergerak
ditampilkan dalam sekejap. Respon detektor yang ditampilkan secara grafik adalah kromatogram
diferensial.

Kromatogram
Kromatogram differensial yang pada dasarnya terdiri dari deretan puncak-puncak sekarang
mempunyai keuntungan sebagai berikut :
a. Memungkinkan untuk menentukan garis tengah puncaksecara akurat.
b. Pemisahan parsial langsung bisa dilihat jelas.
c. Semakin kecil jumlahnya semakin jelas identifikasinyadibanding dengan menggunakan
detektor tipe integral.

Informasi yang diperoleh dari kromatogram digunakan sebagai dasar untuk analisis kualitatif
sementara, analisa kuantitatif dengan daerah puncak (daerah puncak adalah konsentrasi ), dan
pemilihan kondisi operasi optimum alat kromatografi.

Kromatogram Diferensial

Aplikasi
Pemisahan dan analisis multi komponen campuran seperti minyak esensial, dan pelarut
hidrokarbon. Hakekatnya, dengan menggunakan detektor ionisasi nyala dan detektor menangkap
elektron (yang memiliki kepekaan sangat tinggi) kromatografi gas kuantitatif dapat menentukan
bahan hadir pada konsentrasi sangat rendah
studi polusi, pekerjaan forensik dan analisis umum jejak.
Analisis Kuantitatif
Ada tiga tahapan penting dalam analisis GC,
1. Penyusunan sampel.
2. Pengembangan pemisahan dan produksi dari kromatogram.
3. Pengolahan data dan penyajian hasil.
Prosedur kerja
Langkah kerja pembuatan larutan:
1. Larutan methanol 100 % dengan cara memipet larutan methanol 50 ml. Karena kadarnya
100 % maka larutan tersebut murni ethanol tanpa campuran aquades. Larutan
dihomogenkan.
2. Larutan methanol 80 % dengan cara memipet larutan methanol 40 ml lalu dimasukkan
dalam labu ukur 50 ml kemudian tambah aquades sampai tanda garis. Larutan
dihomogenkan

3. Larutan methanol 60 % dengan cara memipet larutan methanol 30 ml lalu dimasukkan
dalam labu ukur 50 ml kemudian tambah aquades sampai tanda garis. Larutan
dihomogenkan
4. Larutan methanol 40 % dengan cara memipet larutan methanol 20 ml lalu dimasukkan
dalam labu ukur 50 ml kemudian tambah aquades sampai tanda garis. Larutan
dihomogenkan
5. Larutan methanol 20 % dengan cara memipet larutan 10 ml lalu dimasukan dalam labu
ukur 50 ml kemudian tambah aquades sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan

Prosedur pengoperasian GC
1. Membuat larutan methanol 100 %, 80 %, 60 %, 40 %, 20 %
2. Menghomogenkan larutan sampel
3. Menganalisis larutan menggunakan GC dengan cara pengoperasian sebagai berikut:
1. Tancapkan steker
2. Tutup kran tabung kompresor
3. Buka tabunggas hidrogen
4. Buka tabung gas pada nitrogen
5. Tekan tombol On pada GC
6. Nyalakan komputer
7. Klik dua kali pada GC solution
8. Klik angka satu
9. User ID tidak usah diisi langsung Ok
10. Klik Ok
11. Klik advanced
12. Klik DINJ, kolom, DVID, Genaral
13. Klik DINJ

Pada layar komputer muncul menu AC Quire. Klik YesA 29.14. Klik download 22. Klik kolom. klik Post run 30. Klik DFID 19. Untuk melihat data klik GC Solution. TEMP didisi temperatur dari analit yang mau diuji 17. Klik Hold Time diisi waktu penahanan dengan temperatur pilihan sampel yang diuji. Klik Save 25. suhu kolom dikurangi 33. 18. agar tidak terjadi kondensasi 20. GC hidup pada layar komputer tertulis Not ready. tunggu sampai warna kuning hilang. Klik DINJ. setelah sampel masuk tekan Start pada GC. Klik general. alat dicabut. Masukkan sampel dengan cara disuntikkan dengan SYRING. Klik TEMP diisi harus diatas temperatur kolom atau diatas temperatur injection. Klik File. Klik DFID. 26. Klik kolom 16. Klik sistem ON. keluar grafik dengan lama waktu sesuai yang ada pada isian Hold Time 27. Kolom tempat diisi diatas temperatur pelarut. dirubah dengan diturunkan 32. TEMP. TEMP dikurangi . Flow diisi tergantung proses pemisahan 15. 31. Klik Stop 28. File Name 24. isi semua kolom dengan tanda V 21. Save Method File As 23. Matikan suhu kolom diusahakan dibuat sama dengan suhu kamar.

ppm. File Open Method File komputer hilang.Kualitatif ( dengan retensi waktu ) .Kuantitatif ( daerah puncak adalah konsentrasi zat) kelemahan GC GC hanya bisa mendeteksi jumlah senyawanya dan hanya digunakan untuk bahan yang barwujud cair.D. b. Shut down komputer 40. . pestisida.D. tunggu sampai ada bunyi. Baik pada analisa kualitatif dan kuantitatif g. Keunggulan GC Keuntungan-keuntungan dari Kromatografi Gas antara lain : a. keluarkan semua udara yang ada.C.I. obat. Tutup gas hidrogen 42. tunggu warna kuning pada layar 36. hidrokarbon. ppb)Volume yang diperlukan sangat kecil ( 1 – 10 ��l ) d.C. Download 35.E. Buka tabung kompresor. Cabut steker 41. Mudah dioperasikan dan tekniknya terpercaya. Kromatografi Gas akan memisahkan campuran-campuranyang mengandung banyak komponen dengan perbedaan titik didih rendah. Tutup gas nitrogen 43. Analisis cepat (biasanya 10 -15 menit) c. low ppm. Tekan tombol OFF pada GC 38. gasgas dan steroid-steroid e. Close semua 39. f. Hasilnya mudah ditafsirkan Puncak kromatogram .D. Sensitif (dengan detektor T. Cari pendingin. 37. Bisa dipakai untuk menganalisis berbagai macamcampuran. F.34. Klik sistem OFF.

Detektor dapat juga memberikan informasi karakteristik lainnya (yaitu UV / Vis data spektroskopi untuk analit jika demikian dilengkapi).Protein . dan laju alir fase gerak. HPLC biasanya digunakan untuk senyawa untuk yang berberat molekul tinggi dan tidak menguap. HPLC) adalah bentuk kromatografi kolom sering digunakan dalam biokimia dan kimia analitik untuk memisahkan. mengidentifikasi. HPLC menggunakan berbagai jenis fase diam (biasanya.Asam organic . dan menghitung senyawa berdasarkan polaritas istimewa mereka dan interaksi dengan fase diam kolom itu. Beberapa sampel yang dapat dianalisis dengan HPLC : -Asam amino . dan detektor yang menyediakan waktu untuk karakteristik retensi analit itu.Vitamin -Seyawa lain berberat molekul tinggi dan titik didih tinggi. .HPLC Parameter HPLC Kromatografi cair kinerja tinggi (atau kromatografi cair tekanan tinggi. rasio / komposisi pelarut (s) yang digunakan. hidrofobik rantai karbon jenuh). waktu retensi analit bervariasi tergantung pada kekuatan interaksi dengan fase stasioner. sebuah pompa yang bergerak fase mobile (s) dan analit melalui kolom. Prinsip kerja Prinsip dari HPLC ini adalah dinamika dan migrasi dengan meggunakan dua fasa.Hidrokarbon aromatic .dimana penyerapan semakin baik jika molekul berada pada bentuk terkecil sehingga pemisahan semakin baik.Karbohidrat .

Mosi analit melalui kolom diperlambat oleh bahan kimia tertentu atau interaksi fisik dengan fase diam karena melintasi panjang kolom.Operasi sampel yang akan dianalisis dapat digunakan dalam volume kecil untuk aliran fasa mobile. Berapa analit diperlambat tergantung pada sifat analit dan pada .

Setelah keluar senyawa didieteksi oleh detector yaitu konsentrasinya yang dihubungklan bersama fungsi waktu. Difusi eddy adalah factor yang timbul akibat penggandaan lintasan untuk suatu aliran gas melalui suatu kolom yang berisi partikel-partikel dengan berbagai bentuk dan ukuran yang diatur secara tak beraturan.lalu kembali ke fasa gerak lebih cepat dan mengikuti aliran untuk keluar dari kolom.dan keseragaman distribusi dalam kolom tersebut. Lalu setelah itu senyawa bergerak keluar masuk dengan difusi dimana semua fasa gerak telah terjerembap kedalam fasa diam.komposisi fase stasioner dan mobile. Dan ditunjukkan dengan kromatogram. Waktu di mana elutes analit tertentu (yang keluar dari ujung kolom) disebut waktu retensi. atau senyawa seperti asam trifluoroacetic yang bertindak sebagai agen pasangan ion. Diagram alir HPLC . menyebabkan resolusi ditingkatkan dalam kromatogram yang dihasilkan.sehingga suatu pita yang bergerak akan melebar dan akan meningkatkan panjang waktu yang dibutuhkan untuk mengelusi pita dari kolom. pelarut yang umum digunakan adalah kombinasi miscible air atau cairan berbagai organik (yang paling umum adalah metanol dan asetonitril). Pada kromatografi. Ketika partikel tersebut mengalir melalui saluran-saluran di antara partikel-partikel packing. Lalu molekul melakukan penetrasi . Besarnya kontribusi difusi eddy dari pelebaran pita mestinya bergantung pada ukuran partikel isian. Penggunaan partikel kemasan ukuran lebih kecil kolom (yang menciptakan backpressure lebih tinggi) meningkatkan kecepatan linier komponen memberikan sedikit waktu untuk meredakan dalam kolom.bentuknya. waktu retensi dalam kondisi tertentu dianggap cukup unik mengidentifikasi karakteristik dari suatu analit tertentu.secar umum proses yang terjadi adalah sebagai berikut: Sampel dimasukkan ataupun dicampurkan biasanya dengan cara di-injeksikan. Air mungkin mengandung buffer atau garam untuk membantu pemisahan komponen analit. Biasanya beberapa molekul zat terlarut cebderung berdifusi sepanjang gradient konsentrasi. Selain difusi eddy masih ada difusi longitudinal.kemudian dimulailah penyebaran molekul yang disebabkan oleh difusi eddy.

Karena proses ini meliputi tekanan. Waktu retensi diukur berdasarkan waktu dimana sampel diinjeksikan sampai sampel menunjukkan ketinggian puncak yang maksimum dari senyawa itu. Dipermukaan absorben ini. Waktu retensi Waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk bergerak melalui kolom menuju detektor disebut sebagai waktu retensi.4-DNPH) dipakai untuk pengambilan sampel. dan/atau GC/MS(kromatografi gas/spektometri massa). NPD/GC (detektor fosfor nitrogen/ kromatografi gas). Injeksi sampel Injeksi sample seluruhnya terjadi otomatis. Sebuah kotak gel silika dilapisi dengan reagen 2. Sesudah pengambilan contoh.Pengambilan sampel Pengambilan sample aldehida di udara dikemukakan sebagai salah satu contoh. Untuk beberapa senyawa.4-DNPHz diekstraksi dengan larutan dan ditentukan kandungan dengan memakai HPLC (kromatografi cairan bertekanan tinggi). tidak sama halnya dengan kromatografi gas.4-dinitrofenilhidrazin (2.4-DNPHz) (lihat gambar bawah).4dinitrofenilhidrazon (2. tetapi juga pada ukuran partikel) . aldehid bereaksi dengan reagen untuk menghasilkan derivatifnya 2. derivatif 2. waktu retensi akan sangat bervariasi dan bergantung pada:  tekanan yang digunakan (karena itu akan berpengaruh pada laju alir dari pelarut)  kondisi dari fase diam (tidak hanya terbuat dari material apa. Senyawa-senyawa yang berbeda memiliki waktu retensi yang berbeda.

Bukan dengan bentuk lainnya. Namun dalam kromatogram kita menemukan beberapa puncak kecil atau yang mengganggu dan disebut denga noise. Jumlah cahaya yang diserap akan bergantung pada jumlah senyawa tertentu yang melewati melalui berkas pada waktu itu. Kromatogram Kromatogram menunjukkan hasil yang didapat.jadi ada beberapa criteria yang harus dipenuhi fasa gerak : -Murni. Noise muncul jika sampel kita ataupun pelarut yang kita gunakan belum pure. Keunggulan HPLC Beberapa keunggulan HPLC dibanding alat lain: • HPLC dilengkapi dengan adanya pompa.tidak ada pengotor -Sesuai dengan detector dan sampel -Tidak bereaksi dengan wadah -Harga murah dan mudah mendapatkannya .belum murni dari pengotorpengotor yang mungkin tidak sengaja masuk kedalamnya. Pompa ini menghasilkan tekanan sekitar 400 atm . Metode umum yang mudah dipakai untuk menjelaskan yaitu penggunaan serapan ultra-violet. Kromatogram yang diinginkan adalah kromatogram yang lurus tinggi dengan lebar sekecil mungkin. Fasa gerak dalam HPLC memegang peranan penting karena sangat akan mempengaruhi kepada pemisahan.karena bentuk tersebut menandakan pemisahan dilakukan dengan sangat baik. komposisi yang tepat dari pelarut  temperatur pada kolom Detektor Ada beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang telah melewati kolom.

Keberhasilan analisis dengan SSA ini tergantung pada proses eksitasi dan cara memperoleh garis eksitasi yang tepat.namun gradient lebih berisifat akurat karena masing-masing pompa mengatur laju alir larutan yang berbeda.untuk mengalirkan eluen dengan tekanan tinggi dan konstan sehingga memperingan kerja kolom dan juga pemisahansehingga waktu lebih sedikit. pada pompa dikenal dua system dalam teknik pemisahan yaitu isokratik dan gradient. Jumlah atom natrium yang tereksitasi dari keadaan azas (3s) ke keadaan tereksitasi 3p adalah kecil (misal pada suhu 2500oK).  Metode Berdasarkan pada prinsip absorbsi cahaya oleh atom. • HPLC mempunyai detector yang amat sangat sensitive dan peka. Hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan persamaan Bolztman : = exp (- ) k : Tetapan Bolztman (1.38 x 10-16 energi/derajat Kelvin) T : Suhu dalam derajat (Kelvin) Ej : Selisih energi (dalam erg) antara keadaan tereksitasi dengan keadaan azas Nj : Jumlah atom dalam keadaan tereksitasi . maka atom akan memperoleh energi maka suatu atom pada keadaan dasar dapat ditingkatkan energinya ke tingkat eksitasi. dan sinar yang diserap biasanya sinar tampak atau ultraviolet. tergantung pada sifat unsurnya. Dengan menyerap suatu energi.6 mm sehingga dapat memberikan permukaan kontak yang lebih luas diman mempengaruhi sempurnanya pemisahan yang semakin baik. dan yang perlu diingat adalah kolom HPLC dapat digunakan kembali dengan cara direnerasi dengan mencucinya hingga bersih dengan pelarut yang sesuai. Dimana kolom HPLC ini lebih pendek dan lebih kecil dibanding GC misalnya. Atom-atom akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu. • HPLC memiliki keunggulan kolom. HPLC memiliki beberapa detector misalnya: Detector ultraviolet Detector fluorometrik Detector elektrokimia Kelemahan HPLC Mahal Pelarutnya khusus untuk analis SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM (SSA) Spektrofotometriserapan atom didasarkan pada penyeerapan energi sinar oleh atom-atom netral. Diameter untuk internal kolom HPLC ≤ 4. Dan panjang kolom HPLC adalah 150-250 mm. Temperatur nyala harus sangat tinggi.

Hal ini disebabkan karena serasinya proses transisi.No : Jumlah atom dalam keadaan azas Pj : Jumlah keadaan kuantum dengan energi yang sama pada keadaan tereksitasi Po : Jumlah keadaan kuantum dengan energi yang sama dalam keadaan azas  Pengukuran absorban pada spektrofotometri serapan atom  Lebar garis spektra serapan atom Di dalam nyala. atom Na akan mampu menyerap sinar dengan panjang gelombang yang sesuai dengan transisi dari tingkat azas ke salah satu tingkat energi elektron tereksitasi yang lebih tinggi (3p.28 nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 4p 330. 4p dst). akibatnya akan terjadi pelebaran garis puncak serapan. Hal ini menyebabkan terjadinya pelebaran garis puncak serapan. panjang gelombang garis absorbsi resonansi identik dengan garis-garis emisinya.3 nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 4p Garis-garis spektrum serapan atom yang timbul karena serapan sinar yang menyebabkan eksitasi dari azas ke salah satu tingkat energi yang lebih tinggi disebut garis-garis resonansi (resonansi line). Pelebaran Dopler terjadi karena atom-atom yang menyerap sinar itu (dalam nyata) bergerak dengan cepat terhadap sumber sinar (lampu katoda berongga). Penyerapan sinar oleh senyawaa mwnnghasilkan pita-pita panjang gelombang yang lebar karena di dalam suatu molekul. yaitu : Pelebaran Dopler dan pelebaran tekanan.5 nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 3p 330. disamping tingkat-tingkat energi elektron terdapat juga tingkat-tingkat energi vibrasi dan rotasi yang disuperposisikan pada tiap-tiap energi elektron tersebut. Maka secara aksperimental dapat diperoleh puncak-puncak serapan sinar oleh atom-atom Na dengan panjang gelombang : 589 nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 3p 589.  Pelebaran Dopler (Dopler broadening) dan pelebaran tekanan (Pressure broadening)  Melebarnya garis-garis spektrum serapan atom disebabkan 2 peristiwa. 3d. Pada pelebaran tekanan terjadi tabrakan antar atom sehingga menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan dalam tingkat energi azas dari atom-atom bersangkutan. Untuk bekerja pada panjang gelombang ini . Pada SSA.

b. Tanpa nyala (flameless) . dan juga berfungsi untuk atomisasi. yaitu : nyala (flame) dan dengan tanpa nyala (flameless). Jelaslah pada SSA diperlukan suatu sumber radiasi yang mengemisikan sinar pada panjang gelombang yang tepat sama dengan panjang gelombang emisinya. Alat yang dapat digunakan untuk mengubah sampel menjadi uap atom-atom. Propana-udara dipilih oleh logam-logam alkali karena suhu nyala yng lebih rendah akan mengurangi banyaknya ionisasi. Katoda berbentuk silinder berongga yang terbuat dari logam atau dilapisi dengan logam tertentu. a. Instrumen SSA  Sumber sinar Yang biasa digunakan adalah lampu katoda berongga (hallow cathode lamp).diperlukan suatu monokromator celah yang dapat menghasilkan lebar puncak sekitar 0. Satu lampu disunakan untuk satu usur. yakni dengan menggunakan sumber sinar lampu katoda beronngga. Nyala (flame) Untuk mengubah sampel yang berupa padatan atau cairan menjadi bentuk uap atomnya. Suhu yang dapat dicapai oleh nyala tergantung pada gas-gas yanng digunakan. Sumber nyala yang paling banyak digunakan adalah campuran asetilen sebagai bahan pembakar dan udara sebagai pengoksidasi.0020. Lampu ini terdiri atas tabung kaca tertutup yang mengandung suatu katoda dan anoda.005nm.  Tempat sempel Sampel yang dianalisis harus diuraikan menjadi atom-atom netral yang masih dalam keadaan asas.

yaitu : a.  Detektor Digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang melalui tempat pengatoman. Sejumlah sampel diambil sedikit dan diletakkan di dalam tabung grafit. Biasanya digunakan tabung penggandaan foton (photomultiplier tube). dalam monokromator juga terdapat suatu alat yang digunakan untuk memisahkan radiasi resonansi dan kontinyu yang disebut dengan chopper. pengabuan (ashing). Ada 2 cara yang digunakan dalam sistem deteksi : a. kemudian dipanaskan dengan sistem elektris dengan cara melewatkan arus listrik pada grafit. Yang hanya memberikan respon terhadap radiasi resonansi  Readout Readout merupakan suatu alat penunjuk atau dapat juga diartikan sebagai sistem pencatatan hasil. Langsung dilarutkan dengan pelarut yang sesuai b. Pada umumnya waktu dan suhu pemanasan tanpa nyala dilakukan dengan cara terprogram. larutan yang akan dianalisis harus sangat encer. Hasil pembacaan dapat berupa angka atau berupa kurva dari suatu recorder yang menggambarkan absorbansi atau intensitas emisi. Ada beberapa cara untuk melarutkan sampel. Sampel dilarutkan dalam suatu basa atau dilebur dahulu dengan basa kemudian hasil leburan dilarutkan dalam pelarut Larutan yang dihasilkan harus jernih.Pengatoman dapat dilakukan dalam tungku dari grafit seperti tungku yang dikembangkan oleh Masmann. stabil. Sampel dilarutkan dalam suatu asam c. Pencatatan hasil dilakukan dengan suatu alat yang telah terkalibrasi untuk pembacaan suatu transmisi atau absorbsi. Sistem pemanasan melalui 3 tahap : pengeringan (drying).  Analisis kuantitatif dengan SSA Sampel harus dalam bentuk larutan. pengatoman (atomising). Yang memberikan respon terhadap radiasi resonansi dan radiasi kontinyu b. dan tidak mengganggu zat-zat yang akan dianalisis. Disamping sistem optik.  Monokromator Monokromator dimaksudkan untuk memisahkan dan memilih panjang gelombang yang digunakan dalam analisis. .

1. Disarankan absorbansi sampel tidak melebihi dari absorbansi baku tertinggi dan tidak kurang dari absorbansi baku terendah. Kurva kalibrasi dalam SSA dibuat dengan memasukkan sejumlah tertentu konsentrasi larutan dalam sistem dilanjutkan dengan pengukuran. Suatu perbandingan dengan kurva merupakan metode yang umum. Kuantifikasi dengan kurva baku (kurva kalibrasi) SSA bukan merupakan metode analisis yang absolut. lalu dibaca juga absorbansi larutan sampel (As). Cara yang dikerjakan hanya dengan mengukur absorbansi larutan baku (Ab) dengan konsentrasi tertentu (Cb) pada satu konsentrasi saja. Kadar sampel (Cs) dihitung dengan rumus : Cs = Ab : Absorbansi baku As : Absorbansi sampel Cb : Konsentrasi baku Cs : Konsentrasi sammpel x Cb . Kuantifikasi dengan cara perbandingan langsung Cara ini hanya boleh dilakukan jika telah diketahui bahwa kurva baku hubungan antara konsentrasi dengan absorbansi merupakan garis lurus dan melewati titik nol. 2.

c. 2. karenanya pada kasusu ini diperlukan pencampuran matriks dengan baku. Keuntungan cara ini adalah konsentrasi bakuu mendekati konsentrasi sampel sehingga akan diperoleh presisi dan akurasi yang baik. Gangguan tersebut dapat diatasi dengan cara : a. 4. Gangguan oleh absorbansi yang disebabkan bukan oleh absorbansi atom yang dianalisis. Gangguangangguan yang dapat terjadi diantaranya : 1. Gangguan kimia yang dapat mempengaruhi jumlah / banyaknya atom yang terjadi di dalam nyala. yaitu absorbansi oleh molekul-molekul yang tidak terdisosiasi di dalam nyala. Penggunaan nyala / suhu atomisasi yangn lebih tinggi Penambahan senyawa penyangga Pengekstraksian unsur yang akan dianalisis Pengekstraksian gugus atau ion penggannggu 4. b. Dibuat masing-masing 2 buah larutan baku yang konsentrasinya sedikit lebih rendah dan lebih tinggi dari konsentrasi sampel.3. Jika matriks tidak diketahui atau bervariasi dari satu ke yang lain. d. maka metode standar adisi seringkali digunakan. 3. Gangguan oleh penyerapan non-atomik (non atomic absorption) SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET DAN TAMPAK (VISIBEL) . Kuantifikasi dengan cara dua baku Merupakan adaptasi dari cara 1 dan 2. Cara standar adisi (cara penambahan baku) Kebanyakan analisis dilakukan pada sampel yang tidak identik dengan standar dalam larutan air. Gangguan yang berasal dari matriks sampel yang dapat mempengaruhi banyaknya sampel yang mencapai nyala. Gangguan-gangguan pada Spektrofotometri Serapan Atom Gangguan-gangguan (interference) pada SSA adalah peristiwa-peristiwa yang menyebabkan pembacaan absorbansi unsur yang dianalisi menjadi lebih kecil atau lebih besar dari nilai yang sesuai dengan konsentrasinya dalam sampel.

Penyerapan oleh transisi elektron d dan f dari molekul kompleks. a. Data yang diperoleh spektrofotometri uv-vis adalah panjang gelombang maksimal. dan elektron yang tidak berikatan atau non bonding elektron (n)). O.Penyerapan (absorbsi) sinar uv dan sinar tampak pada umumnya dihasilkan oleh eksitasi elektron-elektron ikatan. dan pelarut. Elektron bukan ikatan (elektron n = non bonding elektron). 2. Serapan dapat terjadi jika foton / radiasi yang mengenai cuplikan memiliki energi yang sama dengan energi yang dibutuhkan untuk menyebabkan terjadinya perubahan tenaga. disebut non bonding elektron karena elektron tersebut tidak ikut serta dalam pembentukan ikatan kimia dalam suatu molekul. Non bonding elektron ini biasanya terdapat disekitar atom N. b. dan spektrofotometri masa. Ada 3 mcam penyerapan energi uv dan sinar tampak. efek pH. orbital phi terjadi kerena tumpang tindih (overlapping) 2 orbital c. 2. S. Ikatan phi ( ). Aspek kuantitatif Dalam aspek kuantitatif. resonansi magnet inti. suatu berkas radiasi dikenakan pada larutan sampel dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarannya. yaitu : 1. Penyerapan karena perpindahan muatan Aspek Kualitatif dan Kuantitatif Spektrofotometri UV-Vis 1. Aspek kualitatif Spektrofotometri uv-vis dapat digunakan untuk analisiis kualitatif dengan menggabungkannya dengan spektrofotometri IR. Elektron sigma (α). Penyerapan oleh transisi elektron ikatan dan elektron anti ikatan (elektron sigma (α). 3. akibatnya panjang gelombang pita yang mengabsorbsi dapat dihubungkan dengan ikatan yang mungkin ada dalam suatu molekul. orbital elektron yang menyebabkan terjadinya ikatan tunggal. elektron phi (π). dan halogen. Kekuatan radiasi . yang semuanya dapat diperbandingkan dengan data yang sudah dipublikasikan. atom p. intensitas.

dan absorbansi masing-masing larutan diplotkan terhadap konsentrasinya maka suatu garis lurus akan teramati sesuai dengan persamaan A = abc.juga mengalami penurunan dengan adanya penghamburan dan pemantulan cahaya. b. Hukum Lambert-Beer menyatakan bahwa intensitas yang diteruskan oleh larutan zat penyerap berbanding lurus dengan tebal dan konsentrasi larutan. yaitu :  Sinar yang digunakan dianggap monokromatis  Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang luas yang sama  Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang lain dalam larutan tersebut  Tidak terjadi fluoresensi atau fosforisensi  Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan Analisis kuantitatif dengan metode spekttrofotometri uv-vis digolingkan menjadi 3 macam pelaksanaan pengerjaan. maka dapat dilakukan pada 2 panjang gelombang yang mana masing-masing komponen tidak saling mengganggu atau gangguan dari komponen lain paling kecil. Dalam hukum Lambert-Beer tersebut ada beberapa pembatasan. Pengukuran dilakukan pada masing-masing larutan pada 2 panjang gelombang. yitu . akan tetapi penurunan karena hal ini sangat kecil dibandingkan dengan proses penyerapan. a. suhu. sehingga diperoleh 2 . kondisi pelarut yang sama . Dua buak kromofor yang berbeda akan mempunyai kekuatan absorbsi cahaya yang berbeda pula pada satu daerah panjang gelombang. Analisis 2 campuran secara bersama-sama (analisis multi komponen) Bila diinginkan pengukuran 2 buah senyawa secara bersama-sama secara spektrofotometri. akibatnya konsetrasi masing-masing larutan pada 2 panjang gelombang. Analisis komponen tunggal Jika absorbansi suatu seri konsentrasi larutan diukur pada panjang gelombang.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam analisis spektrofotometri UV-Vis Ada tahapan-tahapan yang harus diperhatikan. Waktu operasional (operating time) Cara ini bisa digunakan untuk pengukuran hasil reaksi atau pembentukan warna. sehingga perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar. d. karena :  Pada panjangg gelombang maksimal kepekaannya maksimal. sehingga konsentrasi masing-masing komponen dapat dihitung. Hal ini perlu dilakukan.persamaan hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi pada 2 panjang gelombang.  Jika dilakukan pengukuran berulang maka kesalahan yang disebabkan pemasangan ulang panjang gelomabang akan kecil sekali. c. Untuk memilih panjang gelombang maksimal. a.  Disekitar panjanng gelombang maksimal. dilakukan dengan membuat kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu. diantaranya . Waktu operasional ditentukan dengan mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan absorbansi larutan. Cara yang digunakan adalah dengan mengubah menjadi senyawa lain atau direaksikan dengan senyawa tertentu b. Pembuatan kurva baku . Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vis Hal ini perlu dilakukan jika senyawa yang dianalisis tidak menyerap pada daerah tersebut. Pemilihan panjang gelombang Panjang gelombang yang digunakan harus mempunyai absorbansi maksimal. Tujuannnya adalah untuk mengetahui waktu pengukuran yang stabil. bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi tersebut hukum Lambert-Beer akan terpenuhi.

Monokromator berputar sedemikian rupa sehingga kisaran panjang gelombang dilewatkan pada sampel sebagai scan instrumen melewati spektrum. digunakan untuk mendispersikan sinar kedalam komponen- komponen panjang gelombang yang selnjutnya akan dipilih oleh celah (slit). e. kemudian dibuat kurva yang merupakan hubungan antara absorbansi (y) dengan konsentrasi (x). lampu halogen kuarsa atau lampu tungsten digunakan untuk daerah visibel pada panjang gelombang 350-900 nm. Yang paling sering digunakan sebagai blanko dalam spektrofotometri adalah semua pelarut yang digunakan untuk melarutkan sampel atau pereaksi FLUOROMETRI . ii.Dibuat seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis dengan berbagai konsentrasi. monokromator. iii. i. dapat didesain untuk memecah sumber sinar melewati 2 kompartemen. Masing-masing absorbansi larutan dengan berbagai konsentrasi diukur.5% (kesalahan fotometrik). dan seperti pada spektrofotometer berkas ganda (double beam). Pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan Absorban yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0.  Instrumentasi Spektrofotometer UV-Vis Spektrofotometer yang sesuai untuk pengukuran di daerah spektrum uv dan sinar tampak terdiri atas suatu sistem optik dengan kemampuan menghasilkan sinar monokromatis dalam jangkauan panjang gelombang 200-800 nm. lampu deuterium digunakan untuk daerah uv pada panjang gelombang 190-350 nm. Monokromator. Komponenkomponennya meliputi sumber-sumber sinar. Anjuran ini berdasarkan bahwa kesalahan dalam membaca T adalah 0. dan sistem optik.2 sampai 0. suatu larutan blanko dapat digunakan dalam satu kompartemen untuk mengkoreksi pembacaan atau spektrum sampel. Optik-optik. Sumber-sumber lampu.2 atau 15% sampai 70% jika dibaca sebagai transmitan.005 atau 0.

2. pengaruh pelarut. Hal ini terjadi akibat kelebihan energi vibrasi yang dimiliki akan segera dilepaskan sebagai akibat tabrakan-tabrakan antara molekul-molekul tersebut dengan molekul-molekul pelarut. yang mana suatu molekul akan pindah dari tingkat energi elektronik lebih tinggi ke tingkat elektronik yang lebih re3ndah tanpa pemancaran sinar. Pada fosforesensi. Konversi ke luar (exsternal conversion). Deaktivasi yang tanpa melalaui pemancaran sinar dapat berupa : 1. Konversi ke dalam (internal conversion). merupakan perpindahan energi vibrasi dan molekul yang tereksitasi. yaitu fluoresensi dan fosforisensi. pemadaman sendiri (self quenching) dan penyerapan sendiri. yaitu : tanpa pemancaran sinar dan dengan pemancaran sinar.Ada 2 peristiwa fluoresensi. pengaruh suhu. merupakan pembalikan arah spin elektron yang tereksitasi. Pengendoran vibrasi. merupakan suatu perpindahan tingkat energi. Fosforesensi berasal dari transisi antara tingkat-tingkat energi elektronik triplet ke singlet dalam suatu molekul. Lintasan antar sistem (intersystem crossing). quantum yield). merupakan perpindahan energi dari proses interaksi molekul-molekul lain. Fluororesensi berasal dari transisi antara tingkat-tingkat energi elektronik singlet dalam suatu molekul. Proses Deaktivasi Proses deaktivasi dapat dibedakan menjadi 2. pengaruh pH. pemancaran kembali sinar oleh molekul yang telah menyerap energi sinar trjadi dalam waktu yang sangat singkat setelah penyerapan (10-8 detik). 4. akan terjadi pemancaran kembali sinar oleh molekul yang telah menyerap energi sinar trjadi dalam waktu yang relatif lebih lama (10-4 detik). pengaruh kekakuan struktur. Ada beberapa variabel yang berpengaruh pada fluoresensi dan fosforesensi. . 3. yaitu : hasil kuantum (efisiensi kuantum. Pada fluoresensi. pengarh oksigen terlarut. misalnya berubah dari singlet ke triplet atau sebaliknya.

Besarnya konsentrasi dalam sampel dapat dihitung dengan memasukkan intensitas fluoresensi sampel ke dalam kurva baku. Jika konsentrasi senyawa yanng menyerap radiasi tersebut sangat tinggi. fluorometri lebih selektif. . maka senyawa tersebut harus diubah menjadi senyawa yang berfluoresensi untuk dapat dianalisis. Kurva baku yang menyatakan hubungan antara intensitas fluoresensi dengan konsentrasi baku tertentu disiapkan dengan larutan baku murni yang sudah diketahui konsentrasinya. maka molekul tersebut harus menyerap radiasi. Jika suatu senyawa tidak berfluoresensi secara intrinsik. yaitu : fluorometri lebih peka. prosedur analisis juga dapat dilakukan dengan membandingkan secara langsung antara intensitas fluoresensi baku dengan intensitas fluorsensi sampel. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk merubah senyawa menjadi berfluoresen adalah dengan metode induksi kimia seperti radiasi dengan UV. Ada 3 keuntungan analisis fluorometri dan fosforimetri dibandingkan dengan spektrofotometri absorbsi. hidrolisis. Prosedur analisis kuantitatif dapat dilakukan dengan membuat kurva baku.Analisis Kuantitatif Dengan Fluoresensi Supaya suatu molekul berfluoresensi. dan dengan dehidrasi menggunkan asam kuat. Metode lain adalah dengan prosedur pengkoplingan atau penggabungan reaksi antara molekul obat dengan reagen fluorometrik yang sesuai membentuk spesies berfluoresensi yang disebut dengan fluorofor. maka sampel harus dibuat dalam konsentrasi rendah untuk mencegah terjadinya penyerapan radiasi yang tidak seragam ini. Selain itu. Karena hal ini tidak diinginkan. Beberapa senyawa asing dapat menurunkan nilai efektif ϕ karenanya juga menurunkan sensitifitas senyawa-senyawa yang berfluoresensi. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kondisi analisis untuk baku dan sampel harus sama. Penekanan / pengurangan intensitas fluoresensi ini disebut dengan pemadaman (quencing). maka sinar yang mengenai sampel akan diabsorbsi oleh lapisan pertama larutan dan hanya sedikit radiasi yang diserap oleh oleh bagian lain sampel pada jarak yang lebih jauh.

maka dipilih pita radiasi yang sempit dari radiasi yang diemisikan oleh sumber sinar. Alat spektroflurometer mempunyai 2 monokromator. Sinar fluoresen diemisikan ke segala arah oleh sampel. Wadah sampel yang berasal dari gelas sudah cukup untuk analisis. Wadah sampel dari kuarsa harus digunakan pada panjang gelombang di bawah 320 nm. sehingga sangat sesuai untuk radiasi eksitasi. Beberapa pelarut juga ada yang berfluoresensi sehingga harus dilakukan pemilihan secara cermat. Emisi lampu xenon terdistribusi pada kisaran penjang gelombang yang luas. Untuk memperoleh spesifik eksitasi dan mengurangi sesatan sinar. yaitu diantara 254-366 nm. Beberapa sinar yang ditransmisikan akan dihamburkan (scattered) dalam arah ini dan sinar yang tidak diharapkan ini akan dihilangkan dengan penyaring fluoresensi kedua yang dipilih sedemikian rupa sehingga penyaring kedua ini akan mentransmisikan secara maksimal. Pemilihan ini dilakukan oleh oleh penyaring eksitasi (excitation filter).dan pada fluorometri gangguan spektral dapat dikurangi dengan cara merubah panjang gelombang eksitasi atau emisi. Lampu merkuri dan xenon merupakan sumber radiasi yang paling sering digunakan. Sinar eksitasi selanjutnya melewati tempat sampel. yaitu satu monokromator digunakan untuk panjang gelombang eksitasi dan yang lainnya digunakan untuk panjang gelombang emisi . Sumber sinar harus sangat intens dan sangat stabil karena intensitas fluoresensi berbanding langsung dengan Io. Sistem Instrumentasi Peralatan pada fluoresensi dan fosforesensi dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : fluorometer penyaring dan spektrofluorometer. sedangkan emisi lampu merkuri memberikan intensitas yang sangat tinggi pada daerah panjang gelombang tertentu.