Anda di halaman 1dari 13

Efficient Market Hypothesis

Makalah Disajikan sebagai Salah Satu Tugas Matakuliah


Manajemen Keuangan Lanjutan

Anggota Kelompok:
Marisa Naysila

120110110030

Ajie Kristanto

120110140062

Rizki Aditya Pratama 120110140091


Vioni Hanifa

120110140094

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Padjajaran
2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat kehendakNya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Mata Kuliah Manajemen Keuangan
Lanjutan mengenai Effcicient Market Hypothesis.
Kami juga tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen yang
memberikan kami tugas ini sehingga kami dapat lebih memahami materinya.
Semoga makalah ini dapat memberikan banyak informasi dan bermanfaat untuk kita
semua. Mohon maaf bila masih terdapat kekurangan. Kritik dan saran kami terima untuk
memperbaiki kesalahan kami.

Bandung,

April 2016

Penulis

DAFTAR ISI

BAB I: PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang

1.2 Identifikasi Masalah

BAB II: PEMBAHASAN

2.1 Pengertian EMH 2


2.2 Bentuk Pasar Efisien

2.3 Pengujian Efisiensi Pasar 4


2.4 Anomali Pasar

BAB III: KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

BAB I: PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini perkembangan pasar modal semakin pesat. Jumlah perusahaan yang
listing di Bursa Efek Indonesia semakin banyak dari tahun ke tahun. Investor pun
semakin hari semakin banyak pilihan saham untuk berinvestasi. Banyak pula kejadian dan
pengumuman yang mengejutkan pasar.
Pengumuman yang mengejutkan pasar sering mempengaruhi harga saham-saham
yang beredar di pasar modal. Harga saham di pasar sendiri pun tidak hanya dipengaruhi
oleh pengumuman tersebut. Ada informasi lain yang mempengaruhi pembentukan harga
saham di pasar. Kejadian yang berlawanan dengan keadaan pasar pun sering terjadi.
Makalah ini akan membahas hal-hal tersebut.
1.2 Identifikasi Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Efficient Market Hypothesis?
2. Apa saja bentuk efisiensi pasar?
3. Bagaimana pengujian terhadap bentuk efisiensi pasar?
4. Apa yang dimaksud dengan anomali pasar?

BAB II: PEMBAHASAN

2.1.

Pengertian EMH
Efficient market hypothesis (EMH) adalah sebuah hipotesis yang menyatakan
bahwa harga dari sebuah surat berharga menggambarkan secara lengkap ketersediaan
informasi tentang surat berharga tersebut. Informasi mengenai saham tidak harus
terbatas pada berita tentang keuangan, informasi tentang politik, ekonomi, dan
peristiwa sosial dikombinasikan dengan bagaimana investor mengartikan informasiinformasi tersebut apakah informasi itu rumor atau benar akan terefleksikan pada
harga saham. Informasi sangat penting dalam pasar saham karena investor berharap
dengan mendapatkan informasi yang lebih maka dapat mengungguli pasar dimana
investasi dilakukan.
Dalam mempelajari konsep pasar efisien, perhatian kita akan diarahkan pada
sejauh mana dan seberapa cepat informasi tersebut dapat mempengaruhi pasar yang
tercermin dalam perubahan harga sekuritas. Haugen (2001) dalam Gumanti dan Utami
(2002) membagi kelompok informasi menjadi tiga, yaitu (1) informasi harga saham
masa lalu (information in past stock prices), (2) semua informasi publik (all public
information), dan (3) semua informasi yang ada termasuk informasi orang dalam (all
available information including inside or private information). Masing-masing
kelompok informasi tersebut mencerminkan sejauh mana tingkat efisiensi suatu pasar

2.2.

Bentuk Pasar Efisien


Bentuk pasar efisien ada tiga, yaitu weak, semi strong, dan strong. Masingmasing ketiga bentuk efisiensi pasar berikut ini mengasumsikan jenis informasi yang
berbeda dalam merefleksikan harga saham.
a. Efisien dalam bentuk lemah (weak)
Pasar efisien dalam bentuk lemah berarti semua informasi di masa lalu
(historis) akan tercermin dalam harga yang terbentuk sekarang. Oleh
karena itu, informasi historis seperti harga dan volume perdagangan tidak
bisa lagi digunakan untuk memprediksi perubahan harga di masa yang
akan datang, karena sudah tercermin pada harga saat ini. Implikasinya,
investor tidak bisa memprediksi nilai pasar sekuritas di masa mendatang
dengan menggunakan data historis.
Jika hipotesis pasar bentuk lemah terpenuhi, dan akibatnya harga adalah
bebas (independen) dari bentuk harga saham historis, maka dapat

dikatakan bahwa perubahan-perubahan harga akan mengikuti kaedah jalan


acak (random walk), dimana pengujian hanya dilakukan terhadap
perubahan harga secara historis. Random walk adalah konsep statistik yang
memprediksi bahwa output berikutnya dalam suatu urutan tidak tergantung
pada output sebelumnya.
b. Efisiensi dalam bentuk setengah kuat (semi strong)
Pasar efisien dalam bentuk setengah kuat berarti harga pasar sekuritas saat
ini mencerminkan semua informasi historis ditambah informasi yang
dipublikasikan saat ini (seperti earning, dividen, pengumuman stock split,
dan sebagainya).
Pada pasar efisien bentuk setengah kuat, abnormal return hanya terjadi di
seputar pengumuman suatu peristiwa sebagai gambaran dari respons pasar
terhadap pengumuman tersebut. Suatu pasar dapat dikatakan efisien
setengah kuat bila informasi direspon oleh pasar dengan cepat.
c. Efisiensi dalam bentuk kuat (strong)
Pasar efisien dalam bentuk kuat menyatakan bahwa harga pasar sekuritas
saat ini mcerminkan semua informasi baik informasi historis, informasi
dipublikasikan saat ini, dan informasi yang tidak terpublikasi (hanya dapat
diakses oleh orang dalam perusahaan).
Misalnya, salah satu anggota direktur perusahaan telekomunikasi PT.
Telkom Indonesia Tbk. mengetahui sebuah rencana akuisisi atau
pengambil-alihan

terhadap

PT.

Indosat

Tbk.

Informasi

tersebut

dimanfaatkan oleh Direktur dengan menyuruh istri atau anaknya atau


teman dekatnya untuk membeli saham PT. Telkom Indonesia Tbk.,
sebelum informasi atau rencana akuisisi tersebut diberitakan atau menjadi
milik umum. Hal ini dapat dikatakan sebagai suatu perdagangan dengan
orang dalam (insider trading), adanya penggunaan kelebihan informasi
untuk membeli saham atau melakukan suatu perdagangan. Bila bentuk
pasar efisien kuat memang ada, maka dipercaya bahwa keluarga dekat
Direktur tersebut tidak akan memperoleh abnormal returns. Sebaliknya,
bilamana keluarga Direktur tersebut mendapatkan abnormal return, maka
dikatakan bahwa pasar belum berbentuk efisiensi kuat. Perlu dicatat di sini
bahwa perdagangan dengan menggunakan informasi orang dalam atau
tepatnya perdagangan oleh orang dalam (insider trading) tidak dibenarkan
2.3.

dan dilarang.
Pengujian Efisiensi Pasar

Pengujian terhadap hipotesis pasar efisien dapat dibagi menjadi tiga kelompok
berdasarkan klasifikasi hipotesis yang akan diuji. Untuk menguji efisiensi pasar
bentuk lemah, dapat dilakukan tes prediktibilitas return. Pengujian efisiensi pasar
bentuk setengah kuat dapat dilakukan dengan metode event studies. Sedangkan untuk
menguji hipotesis pasar efisien dalam bentuk kuat dapat dilakukan dengan pengujian
private information.
a. Statistical Test dan Trading Rules
Perubahan harga saham dalam pasar efisien harus bersifat independen
atau tidak terikat satu sama lain. Statistical test salah satu metode yang
digunakan dalam pengujian bentuk pasar efisien lemah (weak).
Statistical test sendiri terdiri dari dua tahap, yaitu serial correlation
test dan signs test. Serial correlation test mengukur korelasi diantara
perubahan harga saham-saham dengan lag waktu tertentu, sedangkan
signs test mengklasifiksikan setiap perubahan harga saham dengan sign
nya.
b. Event Studies (Studi Peristiwa)
Event Studies merupakan penelitian yang mengamati dampak dari
pengumuman informasi terhadap harga sekuritas. Penelitian event studies
biasanya berkaitan dengan seberapa cepat suatu informasi yang masuk ke
pasar berpengaruh pada harga saham.
Ada tahapan-tahapan dalam melakukan pengujian dengan event
studies, yang dijabarkan sebagai berikut.
(1) Mengumpulkan sampel, berupa perusahaan-perusahaan yang
mempunyai pengumuman yang mengejutkan pasar (event) dan
dapat menyebabkan perubahan harga, seperti pengumuman
perusahaan yang akan melakukan merger, penerbitan saham baru,
stock split, dan sebagainya.
(2) Mengidentifikasi hari pengumuman atau event
(3) Periode analisis dibagi menjadi dua, yaitu periode estimasi dan
periode

pengamatan.

Periode

estimasi

digunakan

untuk

menghitung expected return, sedangkan periode pengamatan


digunakan untuk menghitung actual return dan abnormal return.
Periode estimasi dan peridode pengamatan biasanya dihitung
dalam hari.

Gambar 2: Ilustrasi pembagian periode analisis

Misalnya, penelitian dilakukan selama 11 hari. 11 hari tersebut


dibagi menjadi 5 hari sebelum event untuk periode estimasi
(ditandai dengan H-5, H-4, dan seterusnya sampai H-1), 1 hari
untuk event, dan 5 hari setelah event untuk periode pengamatan
(ditandai dengan H+1, H+2, dan seterusnya sampai H+5).
(4) Menghitung actual return masing-masing sampel setiap hari
selama periode pengamatan.
(5) Menghitung abnormal return, yang dihitung dengan mengurangkan
actual return dengan expected return. Secara matematis, rumus
menghitung abnormal return dapat ditulis sebagai berikut.
ARit = Rit E(Rit)
Dimana ARit = abnormal return rate sekuritas i pada waktu t
Rit = actual return sekuritas i pada waktu t
E(Rit) = expected return sekuritas i dalam waktu t
(6) Menghitung rata-rata abnormal return semua sampel setiap hari.
(7) Mempelajari dan mendiskusikan hasil yang diperoleh. Data yang
diperolah kemudian diolah menjadi informasi dan disiumpulkan
dampak pengumuman terhadap perubahan harga yang terjadi.
c. Pengujian Private Information
Pengujian private information meliputi pengujian apakah pihak
insider perusahaan dan kelompok investor tertentu yang dianggap
mempunyai akses informasi lebih baik, dapat memperoleh abnormal retun
lebih tinggi dibandingkan dengan return pasar lainnya.
Pihak-pihak yang disebut insider adalah direktur, manajer,
karyawan, atau pemegang sham yang dianggap bisa mendapatkan
informasi yang sesungguhnya mengenai perusahaan yang tidak dapat
dilakukan oleh pihak lainnya. Pihak insider ini bisa memperolah informasi
sebelum informasi tersebut dipublikasikan. Dengan demikian, mereka

akan dapat memanfaatkan kemudahan akses informasi tersebut untuk


memperoleh abnormal return.

2.4.

Anomali Pasar
Hipotesis pasar efisien telah menjadi konsep yang dapat diterima dibidang
keuangan, namun pada kenyataannya beberapa penelitian menunjukkan adanya
kejadian yang bertentangan yang disebut anomali pasar.
Jones (1996) (dalam Jogiyanto, 2000) mendefinisikan anomali pasar (market
anomaly) sebagai teknik atau strategi yang tampaknya bertentangan dengan
pasarefisien. Overreaction hypothesis merupakan reaksi yang berlawanan dengan
kondisi normal. Overreaction hypothesis memprediksikan sekuritas yang masuk
kategori loser dan biasanya mempunyai return rendah justru akan mempunyai
abnormal return yang tinggi (Sukmawati dan Daniel, 2002). Kebalikannya, sekuritas
yang biasanya mempunyai return yang masuk kategori winner justru akan
mempunyai abnormal return yang rendah.
Hal ini disebabkan adanya pengaruh perilaku investor yang memberikan bobot
yang berlebihan untuk informasi terkini dalam memprediksikan apa yang akan terjadi
di masa yang akan datang. Jika investor memberikan bobot yang berlebihan untuk
informasi terbaru maka investor akan cenderung bereaksi berlebihan terhadap
informasi. Hipotesis reaksi berlebihan bersandar pada asumsi perilaku pasar bereaksi
berdasarkan penekanan pada informasi terakhir dalam melakukan koreksi pada
periode berikut. Apabila pemodal mendasarkan pada informasi terakhir, maka
pemodal akan cenderung overreact terhadap pengumuman. Secara psikologis, pelaku
pasar akan bereaksi lebih dramatis terhadap informasi yang jelek.
Ada beberapa jenis anomali pasar, yang akan dijelaskan sebagai berikut.
a. Earnings Announcements
Standardization factor
Actual Quarterly EarningsPredicted Quarterly Earnings
SUE =
adjust for

= Unexpected earnings/standard error of the estimate


b. Price earning (P/E) Effect
Price earning (P/E) Effect adalah anomali dimana saham dengan P/E
rendah menunjukkan risk adjusted return yang lebih tinggi dibandingkan
dengan saham yang memiliki P/E tinggi (Jones, 1996). Anomali ini
pertama kali ditemukan oleh Basu pada tahun 1977 dan 1983.
c. Size Effect

Size effect adalah anomali dimana risk adjusted return dari perusahaan
ukuran kecil lebih tinggi dari perusahaan ukuran besar (Jones, 1996).
Anomali ini ditemukan oleh Banz (1981) dan Reinganum (1981).
d. January Effect
January Effect merupakan kecenderungan terjadinya kenaikan harga
saham pekan pertama bulan Januari. Adanya kenaikan harga ini didorong
oleh aktivitas investor untuk kembali menyusun portofolionya setelah
mereka "terbenam" selama liburan akhir tahun. Permintaan investor yang
meningkat terhadap instrumen keuangan inilah yang menyebabkan harga
mengalami kenaikan.
Ada beberapa asumsi mengenai terjadinya January Effect. January Effect
terjadi karena adanya keinginan perusahaan untuk terlihat lebih baik yang
tercermin dalam laporan keuangan tahunan, sehingga manajer perusahaan
menjual saham-saham yang dianggap mempunyai nilai kecil pada akhir
tahun dan akan membelinya kembali pada awal tahun. Penyebab lain
return lebih tinggi pada bulan Januari diantaranya terletak pada adanya
pajak, biaya transaksi, kenaikan resiko pada bulan Januari ketika
perusahaan menerbitkan laporan tahunan dan sebagainya.
Beberapa hipotesis ini tidak konsisten dengan keberadaan pasar modal
yang efisien dan nampaknya belum satu hipotesispun yang mampu
menjelaskan fenomena tersebut.
Bagaimana efek psikologis dari adanya anomali pasar? Efek psikologis,
pelaku pasar membuat persepsi atau opini krisis atau peristiwa yang terjadi melebihi
keyakinan terhadap ekspektasi nilai fundamental yang dimiliki secara intrinsik dengan
berbagai pendekatan yang lazim kita lakukan (seperti Discounted Free cash Flow,
Relative valuation maupun pendekatan Real Options). Sebagai akibatnya, pergerakan
pasar terlihat tidak rasional (irrasional) dan bahkan memunculkan sejumlah anomalianomali baru yang relatif sulit untuk dijelaskan dengan persepsi fundamental
(rational perception, Efficient market Hypothesis).
Sebagai contohnya, pada saat Bursa saham AS (Dow Jones) mengalami
penurunan yang tajam, maka secara psikologis, penurunan tersebut dapat berdampak
pada penurunan tajam bursa-bursa di kawasan termasuk Bursa di Indonesia, kendati
secara fundamental banyak informasi fundamental yang positif bagi saham-saham di
Jakarta (seperti kenaikan laba bersih, informasi pembagian dividen, informasi).

BAB III: KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.


1. Efficient Market Hypothesis adalah sebuah hipotesis yang menyatakan bahwa
harga dari sebuah surat berharga menggambarkan secara lengkap ketersediaan
informasi tentang surat berharga tersebut.
2. Ada tiga bentuk pasar efisien, yaitu weak, semi strong, dan strong.
3. Pengujian efisiensi pasar bentuk weak dilakukan dengan pengujian statistic dan
trading rules. Pengujian efisiensi pasar bentuk semi strong dilakukan dengan
metode event studies. Pengujian efisiensi pasar bentuk strong dilakukan dengan
metode private information.
4. Ada beberapa bentuk anomali pasar, yaitu Earnings Announcement, P/E Effect,
Size Effect, dan January Effect.

DAFTAR PUSTAKA

Jones, Charles P., dkk. 2009. Investment: Analysis and Management (An Indonesian
Adaptation). Jakarta:Penerbit Salemba Empat