Anda di halaman 1dari 8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Titrasi
Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan
dengan

konsentrasi

yang

diketahui

dan

diperlukan

untuk

bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang


akan dianalisis. Basa dialirkan ke dalam mula-mula dengan agak
cepat, kemudian perlahan-lahan dan akhirnya setetes demi
setetes sampai tetes terakhit tunggal mengakibatkan indikator
berubah warna (Keenan, dkk, 1984 : 422-423).
Reaksi asam dan basa yang sama kekuatannya, akan
menghasilkan larutan netral. Asam dan basa yang bereaksi dapat
keduanya kuat maupun lemah. Reaksi asam dan basa dengan
kekuatan berlainan akan menghasilkan larutan asam lemah atau
basa lemah, bergantung pada kekuatan asam konjugat dan basa
konjugat yang dihasilkan. Larutan asam lemah akan diperoleh
jika asam yang dihasilkan itu lebih kuat daripada basa yang
dihasilkan. Sebaliknya jika basa yang dihasilkan lebih kuat
daripada asam yang dihasilkan, akan diperoleh larutan basa
lemah. Terlepas dari reaksi asam-basa semacam itu lazim dirujuk
sebagai reaksi penetralan (Keenan, dkk, 1984 : 421).
Asam mengandung atom hidrogen yang dapat mengion,
yang biasanya diidentifikasi dengan cara penulisan rumus asam
itu. Atom H yang dapat mengion dituliskan terpisah dari atom H
lainnya dalam rumus, baik dengan menuliskannya dulu pada

rumus molekulnya atau dengan mengindikasikan dimana atom


ini dijumpai pada molekul. Jadi, satu atom H dalam molekul asam
asetat dapat mengion dan tiga atom H lainnya tidak. Zat yang
rumusnya mengindikasikan gabungan ion OH- dengan kation
biasanya adalah basa kuat, contohnya NaOH. Mengidentifikasi
basa lemah biasanya diperlukan persamaan kimia untuk reaksi
ionisasi (Petrucci, dkk, 1984 : 148).
Meskipun istilah penetralan lazim digunakan untuk reaksi
apa saja antara asam dengan basa, tak selalu akan dihasilkan
larutan yang benar-benar netral. Memang larutan netral hanya
diperoleh bila asam dan basa itu sama kuatnya. Bobot ekuivalen
dan larutan normal penting dalam reaksi asam basa. Secara
khas, bobot ekuivalen suatu asam ialah bobot yang menyediakan
1 mol proton, yakni 6,022 x 10 23 proton, kepada suatu basa.
Bobot ekuivalen asam sulfat adalah 49,0 g dan bobot ekuivalen
natrium hidroksida adalah 40,0 g (Keenan, dkk,

1984 :

420-421).
Asam-asam dan basa-basa tertentu dapat mempunyai
lebih dari satu bobot ekuivalen, bergantung pada reaksi yang
dijalani. Persamaan berimbang untuk reaksi yang sebenarnya
terjadi harus selalu diperhatikan dalam menghitung bobot
ekuivalen. Berdasarkan reaksi kimia khas yang dipergunakan
dalam tiap kasus, reaksi penetralan didefenisikan sebagai reaksi
dimana kuantitas asam dan basa yang ekuivalen bereaksi.
Umumnya, dengan penetralan diartikan bahwa semua proton
yang tersedia dari asamnya dan semua ion hidroksida dari

basanya bereaksi untuk membentuk air. Normalitas suatu larutan


asam atau basa didefenisikan sebagai jumlah ekuivalen zat
terlarut per liter larutan (Keenan, dkk, 1984 : 421-422).
Prosedur analitis yang melibatkan titrasi dengan larutanlarutan yang konsentrasinya diketahui disebut anlisis volumetri.
Analisis larutan asam dan basa, titrasi melibatkan pengukuran
yang seksama volume-volume suatu asam dan suatu basa yang
tepat saling menetralkan. Suatu indikator, seperti lakmus atau
fenolftalein ditambahkan kepada asam yang akan dititrasi yang
mengakibatkan

perubahan

warna.

Perubahan

warna

itu

merupakan tanda bahwa sejumlah basa telah ditambahkan yang


ekuivalen dengan banyaknya asam (Keenan, dkk,

1984 : 423).

Menurut Chadijah (2012 : 176), reaksi yang terjadi antara


analit dan titran dalam analisa volumetri harus memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut:
1. Reaksi harus sederhana, mudah dituliskan dengan suatu
persamaan

reaksi.

Analit

harus

dapat

bereaksi

secara

kuantitatif dengan titran.


2. Reaksi harus dapat terjadi dengan cepat (bila perlu tambahkan
katalisator atau suhu tinggi)
3. Saat titik ekuivalen, harus terjadi perubahan baik sifat fisik
maupun sifat kimia dalam larutan yang cukup jelas.
4. Indikator harus dapat memberikan ketentuan (perubahan
warna, struktur) yang jelas pada saat tercapainya titik
ekuivalen.

Seringkali dalam proses titrasi diperlukan penambahan


sejumlah

titran

berlebih

sehingga

melampaui

titik

akhir,

selanjutnya klebihan titran dititrasi kembali dengan larutan yang


telah diketahui konsentrasinya. Proses titrasi demikian dikenal
dengan titrasi balik. Berdasarkan jenis reaksinya, maka metode
titrimetri dapat dibagi menjadi 4 golongan yaitu : asidialkalimetri, kompleksometri, oksidimetri dan titrasi pengendapan
(Chadijah, 2012 : 176-177).
B. Asidimetri dan Alkalimetri
Asidimetri adalah titrasi terhadap larutan basa bebas dan
larutan garam terhidrolisis dari asam lemah. Larutan standarnya
asam. Sedangkan alkalimetri adalah titrasi terhadap larutan
asam bebas dan larutan garam terhidrolisis dari basa lemah.
Larutan standarnya basa. Asidi-alkalimetri didasarkan pada
reaksi asam basa atau prinsip netralisasi. Metode ini cukup luas
penggunaannya untuk menetapkan kuantitas analit asam atau
basa. Titran umumnya berupa larutan standar asam kuat atau
basa kuat, misalnya larutan asam klorida (HCl) dan larutan
natrium hidroksida (NaOH) (Chadijah, 2012 : 177).
Titrasi asam-basa sering disebut asidimetri-alkalimetri.
Kata metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu, proses
atau seni mengukur. Jadi asidimetri dapat diartikan penentuan
kadar suatu asam dalam larutan dan alkalimetri dapat diartikan
penentuan kadar suatu basa dalam suatu larutan. Asidimtrialkalimetri menyangkut titrasi asam atau basa diantaranya :
asam kuat-basa kuat, asam

kuat-basa lemah,

asam lemah-

basa kuat, asam kuat-garam dari asam lemah dan basa kuatgaram dari basa lemah (Chadijah, 2012 : 179).
C. Indikator
Indikator pH merupakan zat yang dapat berubah warna apabila pH
lingkungannya berubah. Indikator pH dapat dibedakan menjadi indikator satu
warna dan indikator dua warna. Indikator satu warna adalah yaitu indikator yang
mempunyai satu macam warna seperti fenolftalein yang hanya akan berwarna
merah bila dalam lingkungan basa. Indikator dua warna adalah indikator yang
mempunyai dua warna, yaitu warna asam dan warna basa (Padmaningrum,
2006 : 4).
Tabel 2.1 Sifat beberapa indikator asam-basa yang penting.
No.

Nama Indikator

Warna asam

Warna basa

Trayek pH

1.

Cresol red

merah

kuning

0,2-1,8

2.

Thymol blue

merah

kuning

1,2-2,8

3.

Bromophenol blue

kuning

biru

3,0-4,0

4.

Methyi orange

merah

orange

3,1-4,4

5.

Congo red

biru

merah

3,0-5,0

6.

Bromocresol green

kuning

biru

3,8-5,4

7.

Methyl red

merah

kuning

4,2-6,3

8.

Bromocresol purple

kuning

ungu

5,2-6,8

9.

Litmus

merah

biru

5,0-8,0

10.

Bromothymol blue

kuning

biru

6,0-7,6

11.

Phenol red

kuning

merah

6,8-8,4

12.

Cresol red

kuning

merah

7,2-8,8

13.

Thymol blue

kuning

biru

8,0-9,6

14.

Fhenoltalein

Tak berwarna

merah

8,3-10
10,1-12,0

15.

Alizarin yellow R

kuning

Orange/mera
h

Sumber: David Harvey, (2000).Modern Analytical Chemistry hal.289


D. Natrium Hidroksida
Perhitungan kualitas zat dalam titrasi didasarkan pada
jumlah pereaksi yang tepat saling menghabiskan dengan zat
tersebut, sehingga berlaku:
Jumlah ekuivalen analit = Jumlah ekuivalen pereaksi
Atau
(V x N)analit = (V x N)pereaksi
Maka jumlah pereaksi harus diketahui dengan teliti sekali,
sebagai berat gram ataupun sebagai larutan dengan konsentrasi
dan

volume.

Larutan

yang

diketahui

dengan

tepat

konsentrasinya dan dipakai sebagai pereaksi dalam arti ini


disebut larutan baku. Larutan NaOH dipakai untuk titrasi asam
berulang kali, tetapi NaOH tidak dapat diperoleh dalam keadaan
sangat murni. Konsentrasi tepatnya tidak dapat dihitung dari
berat NaOH yang ditimbang dan volume larutan yang dibuat,
walaupun kedua-duanya dilakukan dengan cermat. Larutan NaOH
ini

distandarisasi

atau

dibakukan,

yakni

ditenntukan

konsentrasinya yang setepatnya atau sebenarnya. Cara mudah

untuk standarisasi ialah dengan titrasi, misalnya larutan NaOH


itu dipakai sebagai titrant untuk menitrasi suatu larutan bahan
baku primer (Chadijah, 2012 : 179-180).
Normalitas

larutan

akan

terpengaruh

jika

indikator

fenolftalein dipergunakan, ketika CO2 diabsorpsi oleh sebuah


larutan standar NaOH. Demikian pula campuran dari karbonat
dan hidroksida, atau karbonat dan bikarbonat, dapat ditentukan
melalui titrasi yang menggunakan indikator fenolftalein dan metil
oranye.biasanya, ion karbonat dititrasi sebagai basa dengan
sebuah titran asam kuat. Fenolftalein dengan skala pH 8,0
sampai 9,6 adalah indikator yang cocok untuk titik akhir
pertama, karena pH sebuah larutan NaHCO3 adalah 8,35. Metil
oranye dengan skala pH 3,1 sampai 4,4 cocok untuk titik akhir
titrasi yang kedua (Day dan Underwood, 1999 : 181-182).
E. Natrium karbonat (Na2CO3) dan natrium bikarbonat
(NaHCO3)
Campuran dari karbonat dan bikarbonat, atau karbonat dan
hidroksida dapat dititrasi dengan HCl standar sampai kedua titik
akhir tercapai. NaOH ternetralisasi secara lengkap pada titik
akhir fenolftalein, Na2CO3 ternetralisasi setengah, dan HCO 3belum berekasi sama sekali. Dari titik akhir fenolftalein sampai
metil oranye, bikarbonat akan dinetralisasi. Hanya sedikit titran
yang diperlukan oleh NaOH untuk berunah dari pH 8 menjadi 4
(Day dan Underwood, 1999 : 182).
Larutan garam tidak selalu bereaksi netral bila garamgaram dilarutkan dalam air. Fenomena ini disebabkan karena

10

sebagaian dari garam berinteraksi dengan air, karena itu


dinamakan hidrolisis. Akibatnya, ion hidrogen atau ion hidroksil
tertinggal dengan berlebihan dalam larutan, dan larutan itu
sendiri masing-masing menjadi asam atau bersifat basa. Garam
dari asam lemah dan basa kuat, bila dilarutkan adalam air
menghasilkan larutan yang bereaksi basa. Sebab-sebanya adalah
karena anion bergabung dengan ion hidrogen membentuk asam
lemah yang sangat sedikit berdisosiasi, sehingga ion hidroksil
tertinggal dalam larutan (Svehla, 1990 : 42).