Anda di halaman 1dari 40

COARCTATIO AORTAE (CA

)
PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA)

Oleh:
1. Arifah Novia Ziyada NIM 1423101010
2. Santi Rahayu
NIM 142310101027
3. Hermawan Sudiono NIM 14231010

COARCTATIO AORTAE (CA)
Pengertian
Coarctation aorta adalah suatu kondisi bawaan yang
umumnya ditandai oleh penyempitan dari aorta,
pembuluh darah utama meninggalkan jantung yang
biasanya terjadi pada titik dimana duktus arteriosus
tersambung dengan aorta dan aorta membelok ke bawah.
Epidemiologi
Prevalensi dari koarktasio aorta di negara – negara Asia
mencapai 2% lebih rendah dibanding negara – negara di
Eropa dan Amerika Utara. Kelainan ini lebih sering terjadi
pada laki – laki dibanding perempuan dengan
perbandingan 2 : 1 dan sekitar 25% pasien dikaitkan
dengan kelainan katup aorta

Etiologi
 Resiko terjadinya coarctatio aortae meningkat pada
beberapa keadaan genetik, seperti sindroma Turner
 Coarctatio aortae juga berhubungan dengan kelainan
bawaan pada katup aorta (misalnya katup
bikuspidalis)
 Kelainan ini ditemukan pada 1 dari 10.000 orang.
Biasanya terdiagnosis pada masa kanak-kanak atau
dewasa dibawah 40 tahun

TANDA DAN GEJALA
a. Pada remaja

 Pusing
 Pingsan
 Kram tungkai pada saat melakukan aktivitas
 Tekanan darah tinggi yang terlokalisir (hanya pada
tubuh bagian atas)
 Kaki atau tungkai teraba dingin
 Kekurangan tenaga
 Sakit kepala berdenyut
 Perdarahan hidung
 Nyeri tungkai selama melakukan aktivitas

biasanya ditemukan secara kebetulan Palpasi : raba arteri radialis dan femoralis secra bersamaan  Pada arteri radialis lebih kuat  Pada arteri femoralis teraba lebih lemah Auskultasi :  Terdengar bisng koartasio pada punggung yang merupakan bising obtruksi  Jika lumen aorta sangat menyempit terdengar bising kontinue pada aorta. .b. Pada bayi  Pada bayi dapat terjadi gagal jantung  Umumnya tidak ada keluhan.

Sebelum lahir Coarctatio Aortae dapat terjadi sebagai obstruksi jukstaduktal tersendiri atau atau hipoplasia tubuler aorta transversum mulai pada salah satu pembuluh darah kepala atau leher dan meluas ke daerah duktus (koartasio preduktal).PATOFISIOLOGI a. VSD). Seringkali kedua komponem ada. . Dirumuskan bahwa koartasio dimulai pada kehidupan janin pada adanya kelainan jantung yang menyebabkan aliran darah melalui katup aorta berkurang (misalnya. katup aorta biskupid.

seperti dilakukan selama kehidupan janin. Namun shunt dari kanan kekiri duktus akan bermanifestasi sebagai sianosis diferensial dengan ekstremitas atas merah (pink) dan ekstremitas bawah biru (sianosis). darah ventrikel kanan terejeksi melalui duktus untuk memasuk aorta desenden.b. dan perbedaan tekanan darah mungkin tidak membantu dalam membuat diagnosis. nadi p emoralis dapat teraba. . Setelah lahir pada koartosio jukstaduktal tersendiri. Pada umur beberapa hari pertama. Pada keadaan ini. pada koartasio justadukal yang lebih berat atau bila ada hipoplasia arkus transversum. duktus arterius paten dapat berperan melebarkan area aorta justadukal dan memberi perbaikan obstruksi sementara. Perfusi tubuh bagian bawah kemudian tergantung pada curah ventrikel kanan. Sebaiknya. darah aorta asendens akan menggalir melalui segmen sempit untuk mencapai aorta desendens. walaupun akan menghasilkan hipertensi dan hipertrofi ventrkel kiri. Pada bayi ini terjadi shunt duktus dari kiri kekanan dan mereka tidak sianosis.

Perdarahan otak 2. Endokarditis .KOMPLIKASI & PROGNOSIS Coarctatio aortae adalah penyakit dengan prognosis yang kurang baik. Ruptur aorta 3.  Kompliksi Coarctatio Aortae antara lain: 1.

3. m a ka det ek si aw a la bis a memb antu . karena bia sanya t elah ada sejak lah ir. . E kokard i og r a fi . 2. Namun. M ag n e t i c Re s o n an c e Im a g i n g ( M R I ) d a d a   d a n c o m p u te d tom o g r a p h y. Ro n tg e n d ad a. jika s eseo rang m em ilik i ko ndisi ya ng m eningkatkan resiko erja dinya koa rta sio ao rt a.PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN Pengobatan 1. a t au m em iliki r iw aya t keluarg a dengan penya kit jant ung kongenit al. m isalnya sindro m a Turner at au kelainan jant ung lainnya. Pencegahan C oarct at io ao rt ae t idak dapa t dic egah.

PATHWAY  Pleace_chech .

video_CA .

.

2001. (Suriadi. Perbandingan pada anak perempuan dan laki-laki adalah 2:1 . Rita Yuliani. yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta tang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah.PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA) Pengertian Patent Duktus Arteriosus adalah kegagalan menutupnya ductus arteriosus (arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu pertama kehidupan. 235) Epidemiologi Patetnt Ductus Arteriosus adalah cacat jantung congenital yang paling serimg ditemukan atau 8-10% dari seluruh cacat jantung congenital.

U m ur ibu l ebih da r i 4 0 t a hun. Ibu m e m i n u m oba t. La hir de n ga n kela in a n ba w a a n y a ng l a in. Ana k y a n g l a h ir sebel um ny a m ender ita pe ny a kit j a n tu n g ba w a a n . 1 0 9) . Fa kt or G en eti k : 6. Fa kt or P r en a t a l : 1. 20 0 1 . 3. 2. Ibu a l ko hol ism e . (B uku A ja r Keper a w a ta n Ka rdi ov a skuler . 8.oba t a n pe nena ng a ta u ja m u b. 9. 4. Pusa t Ke seha ta n Ja n tu n g da n Pem bu lu h D a r a h Na siona l H a r a pa n Ki ta . 7. Ibu m e n der it a pen y a ki t infe ksi : Rube ll a . 5. Ay a h / Ibu m en der i ta peny a ki t ja nt ung ba w a a n. Kela ina n krom osom se per t i Si ndrom D ow n.ETIOLOGI a . Ibu m e nder ita pen y a k it D ia be tes M el lit us (D M ) y a n g m e m er lu ka n i nsu li n .

Anak tampak sakit. 3.  Jika PDA memiliki lub ang yang bes ar. maka semakin s ed ikit d arah y ang meng a lir d an s emakin halus b uny i murmur yang terd eng ar.TANDA DAN GEJALA  PDA ya ng kecil d ap at d ike ta hui jika p ad a p emeriksaan dengan stetoskop terd eng ar murmur (s uatu b unyi jantung ekstra y ang terd erng ar jika d arah menyembur melalui lub ang yang semp it). 5. d enga n gejala berup a: 1. 2. maka d arah d alam jumlah ya ng b esar akan memb anjiri p aru-paru. tid a k mau menyusu b er a t b adanny a tid ak berta mb ah b er kering at kes ulitan dalam bernafas d enyut jantung y ang cepat. . S ema kin kec il lubangnya. 4.

Tekana n na di yang lebar (lebih da ri 25 m m H g) 4. Machin ery m ur-mur persist en (s isto lik . Apnea 8. paling nyata t erdenga r d i tepi sternum k iri a tas) 3. m udah lela h 7. Tekanan nadi besar (w at er ham m er pulses) / N adi m enonjo l dan meloncat -loncat. In fek si saluran nafas berulang . kem udia n m enet a p. Pada bayi prematur 1. Nasal fl aring 10. Tachypnea 9. 6. ujung jar i hiperem ik 5. Takhikardia (denyut a pek s lebih da ri 170). Kadan g-kadang terda pat t anda -tan da gaga l jant ung 2. Ret rak si dad a 11. Resiko endokarditis da n o bstruk si pem buluh dar ah pulm o nal. Hipo ksemia .

melintasi ke duktus ke arteri pulmonalis (left to right shunt)  darah kembali bersirkulasi melalui paru & turun ke atrium kiri ventrikel kiri sehingga memenuhi pembuluh paru-paru. darah mulai mengalir dari aorta. persamaan tersebut juga pada resistensi dalam aorta dan arteri pulmonalis.PATOFISIOLOGIS Duktus arteriosus adalah pembuluh darah yang menghubungkan aliran darah pulmonal ke aliran darah sistemik dalam masa kehamilan (fetus). . Pada saat lahir resistensi dalam sirkulasi pulmonal dan sistemik hampir sama. Hubungan ini (shunt) ini diperlukan oleh karena sistem respirasi fetus yang belum bekerja di dalam masa kehamilan tersebut.

penurunan jumlah trombosit • Hiperkalemia (penurunan keluaran urin) • Aritmia • Gagal tumbuh .KOMPLIKASI & PROGNOSIS 1. Komplikasi PDA antara lain : • endokarditis • obstruksi pembuluh darah pulmonal • CHF (gagal jantung kongestif) • Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur) • Enterokolitis nekrosis • Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas atau displasia bronkopulmoner) • Perdarahan gastrointestinal (GI).

Prognosis PDA antara lain :  jika PDA relatif kecil. gejala yang ditimbulkan pada jantung kemungkinan dapat berkembang  Tindakan dengan mengunakan pengobatan dapat diandalkan dalam beberapa situasi. dengan sedikit efek samping  Pembedahan dapat membawa beberapa resiko yang signifi kan pada jantung .

Analisis gas darah arteri . Foto toraks juga menyerupai kelainan VSD 3. EKG serupa dengan kelainan VSD 2. Melalui pemeriksaan ekho 2-D dan Doppler dapat divisualisasi adanya PDA dan besarnya shunt 4.PENGOBATAN 1. Kateterisasi jantung 6. Ekhokardiograf 5.

.PENCEGAHAN  Meskipun tidak ada pencegahan yang dikenaluntuk PDA. untuk ibu hamil perlu dan penting untuk mencegah kelahiran premature dan factor resiko PDA serta pola hidup dan makan yang memenuhi gizi.

PATHWAY Pleace_check .

VIDEO_PAD .

 Kaji pola makan. aktivitas terbatas) 2. Kaji adanya hiperemia pada ujung jari 5. . bunyi jantung tambahan (machinery mur-mur). edera tungkai. hepatomegali. tugas perkembangan anak. koping keluarga dan penyesuaian keluarga terhadap stress. Riwayat keperawatan : respon fi siologis terhadap defek (sianosis. nafas cepat. kebiasaan anak. koping yang digunakan. pola pertambahan berat badan 6. respon keluarga terhadap penyakit anak. retraksi.ASUHAN KEPERAWATAN COARCTATIO AORTAE Pengkajian 1. Kaji adanya tanda-tanda gagal jantung. sesak nafas. 3. Kaji adanya hipoksia kronis : Clubbing fi nger 4. Pengkajian psikososial meliputi : usia anak.

2. . Penurunan Curah jantung b.d kongesti pulmonal.Diagnosa Keperawatan 1. Gangguan pertukaran gas b.d malformasi jantung.

membran mukosa. clubbing) . warna dan kehangatan kulit 2.Intervensi Keperawatan                         Penurunan Curah jantung b. nadi perifer.d malformasi jantung. Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung. Tujuan : Mempertahankan curah jantung yang adekuat Intervensi : 1. Tegakkan derajat sianosis (sirkumoral.

 Berikan pengobatan untuk menurunkan afterload 6. dengan menggunakan teknik pencegahan bahaya toksisitas. dan hepatomegali) 4. oliguria. periorbital edema. tachypnea. mudah lelah. Kolaborasi pemberian digoxin sesuai order. 5. sesak. takikardi. Berikan diuretik sesuai indikasi . Monitor tanda-tanda CHF (gelisah.3.

 Gangguan pertukaran gas b. Monitor kualitas dan irama pernafasan 2. Berikan istirahat yang cukup 5. Hindari anak dari orang yang terinfeksi 4. Berikan nutrisi yang optimal 6. Atur posisi anak dengan posisi fowler 3. Tujuan : Mengurangi adanya peningkatan resistensi pembuluh darah Intervensi : 1.d kongesti pulmonal. Berikan oksigen jika ada indikasi .

dan memiliki keyakinan bahwa orang tua memiliki peranan penting dalam keberhasilan pengobatan. . mendiskusikan rencana pengobatan. Anak akan menunjukkan tanda-tanda tidak adanya peningkatan resistensi pembuluh paru • 3.Kriteria Hasil • 1. Anak akan menunjukkan tanda-tanda membaiknya curah jantung • 2. Anak akan tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan berat dan tinggi badan • 4. Anak akan mempertahankan intake makanan dan minuman untuk mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan • 5. Orang tua akan mengekspresikan perasaannya akibat memiliki anak dengan kelainan jantung.

CI ruangan.Implementasi Setelah perencanaan penulis mengacu pada tahap implementasi. tersedianya alat-alat serta adanya bimbingan dari perawat ruangan. Pada tahap ini penulis melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun sebelumnya faktor yang mendukung terlaksananya implementasi keperawatan dianatranya: peran keluarga yang mendukung. pembimbing dari akademik. serta adanay peran dokter yang menentukan diagnosa menurut medis .

Evaluasi Dari hasil diagosa didapatkan ternyata ada kesenjangan antara teori dan kenyataan di lapangan. hal ini dapat dilihat dari perbandingan antara diagnosa teori dan diagnosa yang ada di lapangan .

PATENT DUCTUS ARTERIOSUS Pengkajian Anamnesa Identitas Keluhan Utama Riwayat penyakit sekarang Riwayat penyakit terdahulu Riwayat penyakit keluarga Riwayat Psikososial .

Pengkajian fi sik Pernafasan  B1 (Breath) Kardiovaskuler B2 ( Blood) Persyarafan B3 ( Brain) Perkemihan B4 (Bladder) Pencernaan B5 (Bowel) Muskuloskeletal/integument B6 (Bone) .

Diagnosa Keperawatan 1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan sirkulasi pulmonal yang terganggu . Penurunan curah jantung berhubungan dengan malforasi jantung 2.

Kriteria Hasil Anak akan menunjukkan tanda-tanda membaiknya curah jantung Anak akan menunjukkan tanda-tanda tidak adanya peningkatan resistensi pembuluh paru Anak akan mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat  Status nutrisi terpenuhi.berat badan normal.jumlah Hb dan albumin normal Orang tua tampak tenang . nafsu makan klien timbul kembali.orangtua berpartisipasi dalam proses perawatan Cairan tubuh normal .orang tua tidak bertanyatanyalagi.

takikardi.  Berikan pengobatan untuk menurunkan afterload  Berikan diuretik sesuai indikasi . oliguria. clubbing)  Monitor tanda-tanda CHF (gelisah. warna dan kehangatan kulit  Tegakkan derajat sianosis (sirkumoral. dengan menggunakan teknik pencegahan bahaya toksisitas. membran mukosa.  Tujuan : Mempertahankan curah jantung yang adekuat  Intervensi : Mandiri  Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung.INTERVENSI Penurunan Curah jantung b. sesak. tachypnea. dan hepatomegali)  Kolaborasi  Pemberian digoxin sesuai order. nadi perifer. periorbital edema. mudah lelah.d malformasi jantung.

nadi perifer. Tujuan : Mengurangi adanya peningkatan resistensi pembuluh paru: Intervensi : Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung.Gangguan pertukaran gas b. warna dankehangatan kulit Atur posisi anak dengan posisi fowler Hindari anak dari orang yang terinfeksi Berikan istirahat yang cukup Kolaborasi: Berikan oksigen jika ada indikasi untuk deteksi dini terjadinya gangguan pernapasan .d kongesti pulmonal.

Implementasi Pada tahap ini penulis melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun sebelumnya. pembimbing dari akademik. tersedianya alat-alat serta adanya bimbingan dari perawat ruangan. faktor yang mendukung terlaksananya implementasi keperawatan dianatranya: peran keluarga yang mendukung. CI ruangan. . serta adanay peran dokter yang menentukan diagnosa menurut medis.

Evaluasi Dari hasil diagosa didapatkan ternyata ada kesenjangan antara teori dan kenyataan di lapangan. hal ini dapat dilihat dari perbandingan antara diagnosa teori dan diagnosa yang ada di lapangan .

THANKS .