Anda di halaman 1dari 1

BAB 1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Bronkiektasis

diperkenalkan

pertama

kali

oleh

Laennec

pada

tahun

1989.

Bronkiektasis merupakan penyakit saluran napas kronik ditandai dengan dilatasi abnormal yang
permanen disertai rusaknya dinding bronkus. Biasanya pada daerah tersebut ditemukan
perubahan yang Bronkiektasis variasi termasuk di dalamnya inflamasi transmural, edema
mukosa (Bronkiestasis silindris), ulserasi (Bronkiestasis kistik) dengan neovaskularisasi dan
timbul obstruksi berulang karena infeksi sehingga terjadi perubahan arsitektur dinding bronkus
serta fungsinya.Keadaan yang sering menginduksi terjadinya Bronkiestasis adalah infeksi,
kegagalan drainase sekret, obstruksi saluran napas dan atau gangguan mekanisme pertahanan
individu. Gejala bronkiestasis meliputi batuk menahun dengan banyak dahak
yang berbau busuk , batuk darah, batuk semakin memburuk jika penderita
berbaring miring ,sesak napas yang semakin memburuk jika penderita
melakukan aktivitas , penurunan berat badan , clubbing fingers (jari-jari
tangan menyerupai tabuh genderang) , ditemukan wheezing (bunyi napas
mengi/bengek) , warna kulit kebiruan ,pucat ,hingga bau mulut.
Di seluruh dunia angka kejadian Bronkiestasis tinggi, biasanya terjadi pada negara terbelakang
atau kembang. Di negara barat, prevalensi bronkiektasis diperkirakan sebanyak 1,3%
di antara populasi. Bronkiestasis kebanyakan terjadi pada penduduk usia pertengahan sampai

lanjut, sedangkan akibat penyakit kongenital terjadi pada usia muda. Tingkat sosial ekonomi
yang rendah, nutrisi buruk, perumahan yang tidak memadai dan sulit mendapatkan fasilitas
kesehatan karena alasan finansial atau jangkauan fasilitas kesehatan mempermudah timbulnya
infeksi tersebut. Pengobatan bronkiestasis bertujuan untuk membantu mengendalikan gejala dan
mengurangi risiko infeksi paru lainnya sehingga dapat mencegah kerusakan lebih lanjut dari
saluran pernafasan..