Anda di halaman 1dari 18

Pneumonia dapatan masyarakat: dampak empiris terapi antibiotik tanpa

fluoroquinolone respiratori maupun sefalosforin generasi-ketiga
J. Pradelli – K. Risso – F. G. de Salvador – E. Cua – R. Ruimy – P.-M. Roger
Pedoman perawatan para pasien rawat inap yang mengidap pneumonia dapatan
masyarakat (CAP – Community-Acquired Pneumonia) mendukung penggunaan
fluoroquinolone respiratori dan/ atau sefalosporin generasi-ketiga (Ceph-3). Namun,,
terapi antibiotika spektrum-luas memiliki hubungan dengan kedauraratan bakteri
yang resisten terhadap obat. Kami menyusun suatu pedoman dimana RFQ dan Ceph3 tidak disertakan dalam rejimen pertama. Tujuan kami adalah untuk mengevaluasi
dampak dari pilihan terapeutik kita untuk menangani CAP pada jangka waktu
rawatan rumah sakit (LOS) dan tingkat kesembuhan pasien. Penelitian ini merupakan
penelitian kohort yang meneliti para pasien pengidap CAP dari bulan Juli 2005
sampai Juni 2014. Kami membandingkan para pasien yang mendapatkan dampak
positif dari penggunaan pedoman kami yang diciptakan pada tahun 2008 dengan para
pasien yang menerima penanganan antibiotik non-konsensual. Tingkat keparahan
penyakit dievaluasi melalui Indeks Tingkat Keparahan Pneumonia (PSI – Pneumonia
Severity Index). Penanganan empiris untuk PSI III terhadap V adalah suatu terapi
kombinasi asam clanuvalate-amoksilin (AMX-C) + roksitromisina (RX) atau AMX +
ofloksasin. Kepatuhan terhadap pedoman ditentukan dengan preskripsi salah satu
dari senyawa-senyawa antibiotik ini. Kebutuhan akan penanganan intensif atau
kematian ditentukan oleh hasil yang buruk/ tidak diinginkan. Diantara 1,370 pasien,
847 diantaranya ditangani dengan berpedoman pada pedoman kami (61,8%,
kelompok 1), dan 523 orang tidak mendapatkan terapi konkordan (38,2%, kelompok

p > 0. Hasil penanganan yang tidak diharapkan lebih jarang muncul di kelompok 1: 5.000 masyarakat. Pada model regresi logistik. yaitu rumah sakit pusat penanganan tersiser dengan 1. p = 0. Nilai mean LOS adalah lebih rendah pada kelompok 1: 7. file kami mengintegrasikan 28 parameter semua pasien yang dirawat yang mencakup data demografis. p < 0. Nilai mean PSI adalah sama: 82 vs 83. p = 0.9%. periode inklusi berlangsung sampai akhir Juni 2014. Pasien dan metode Populasi dan rancangan penelitian Penelitian ini merupakan suatu penelitian kohort observasional yang dilakukan di Rumah Sakit Universitas Nice.2).6 hari vs 9.20 – 2. Untuk menciptakan dasboar medis ini.005.88]. Kohort didasarkan pada dasboard medis yang dipraktekan sejak bulan Juli 2005.4% vs 9. Bekerjasama dengan software StarView. Terapi CAP tanpa penggunaan RFQ dan Ceph-3 berhubungan dengan LOS yang lebih pendek dan tingkat kesembuhan yang lebih rendah. diagnosis .85 [1.600 tempat tidur pasien dan satu Bagian Penyakit Infeksi yang melayani populasi dengan jumlah 600.1 hari.001.001. terapi konkordan memiliki hubungan dengan hasil yang diharapkan: nisbah jangkaan terlaras (AOR – Adjusted Odds Ratio) [95% interval kepercayaan (CI –confidence interval)] 1.5. pertama-tama kami menyederhanakan konklusi dari diagram-diagram apsien dengan menggunakan perencanaan sistematik dan konsensual.

Komorbiditas juga dilaporkan di dalam dasboard jika pasien mendapatkan penanganan spesifik sebelum dirawat di rumah sakit atau jika diagnosis baru didapat selama dirawat di rumah sakit. Indeks Tingkat Keparahan Pneumonia (PSI) secara spesifik dicatat untuk CAP. maka akan mudah untuk meneliti karakteristik pasien utama dan evolusi dari penyakit tertentu. Yang dimana alasan-alasan akan penggunaan terapi non-konsensual dikelompokan kedalam enam kelompok: mikrobial. Akusisi penyakit pada masyarakat dispesifikasi di dalam dasboard. Ketika software memungkinkan diagnosis atau pemilihan DRG. Akurasi data base kami diverifikasi melalui delapan langkah. . kondisi komorbid. kami menterjemahkan diagnosis akhir spesifik pada kelompok-kelompok yang terkait dengan penyakit (DRG – disease-related groups) yang ditentukan oleh lokasi infeksi. Kriteria inklusi adalah para pasien dewasa yang didiagnosa dengan CAP yang dikuatkan dengan keadaan atau istilah medis yang ada pada dasboard: pneumonia. LOS. alergi. informasi mikrobiologis terkait. CAP dengan keberadaan penyakit virus imunodefisiensi manusia (HIV) pun disertakan. dan yang lainnya. imunodepresi. pleuropneumonia. Terakhir.klinis. Analisis sebelumnya menunjukan bahwa kami perlu untuk secara spesifik memverifikasi di dalam diagram pasien akan akurasi PSI dan alasan-alasan untuk terapi antiobiotik nonkonsensual. ko-infeksi. bronchopneumonia. dan hasil pengobatan. terapi antibiotik.

dan infeksi paru pada pasien dengan penyakit granulopenia (kurang dari 1. sindrom gawat pernafasan akut. dan lain-lain. Semua diagram pasien secara retrospektif dianalisis untuk menentukan penyebab kematian. gagal organ multipel/ gagal multi organ. Hasil yang tidak diharapkan didefinisikan sebagai kondisi yang membutuhkan penanganan intensif setelah pemberian antobiotik di departemen yang kami teliti atau juga kondisi kematian. dan potensi terapi antibiotik spektrum-kecil pada pengujian antigen urinari positif untuk Legionella atau S. Penyebab kematian diklasifikasikan kedalam empat kategori. ofloksasin diberikan yang berkaitan dengan amoksilin untuk kasus CAP yang parah tanpa etiologi mikrobial yang terdokumentasikan. Secara konsensual kami memilih untuk tidak menggunakan Ceph-3 dan RFQ sebagai terapi antibiotik empiris pertama untuk menangani CAP. bronkhitis akut. pneumoniae. yang dimana sebagian dari kami . Namun. tuberkolosis.000 leukosit/ mm3).Kriteria eksklusi/ pentidaksertaan adalah infeksi nosokomial yang ditentukan oleh diagnosis yang dilakukan ≥ 48 jam setelah masuk dirawat di rumah sakit. Pedoman internal kami disusun/ dibuat pada bulan September 2008 setelah serangkaian analisis pertama dari database kami menunjukan heterogenisitas yang luas pada preskripsi antibiotik untk penanganan CAP. kondisi-kondisi komorbid. infeksi oportunistik (pneumonia pneumococcal pada konteks infeksi HIV tidak dianggap sebagai oportunistik secara alami). berkaitan dengan penyakit infeksi (rejang septik. kekurangan atau limitasi penanganan. eksaserbasi (gejala sakit mendadak) dari penyakit paru obstruktif kronis (COPD – chronic obstructive pulmonary disease).

terapi kombinasi AMX-C + RX atau AMX + ofloxacin pun digunakan. AMX diindikasikan untuk infeksi Pneumococcus dan RX untuk legionellosis. seluruh penanganan pun akan direkomendasikan jika obat yang diberikan berturut-turut disebutkan di dalam . jika lebih dari satu tindakan terapi antibiotik dilakukan. Dengan demikian. Untuk PSI III sampai IV. Ketersediaan konsensus kami didasarkan pada dokumen di ruang medis dan juga melalui penggunaan buku saku. aeruginosa dan S. dan infeksi P. aureus yang resisten terhadap penisilin pun dipertimbangkan ketika memiliki terapi antibiotik empiris. Dalam hal infeksi utama yang terdokumentasikan. Perlu diketahui. Levofloxacin merupakan obat alternatif untuk mereka yang alergi terhadap β-lactam. kami telah menggunakan AMX dosis tinggi (contohnya. Konkordan pedoman ditentukan sebagai preskripsi/ pemberian obat antibiotik yang direkomendasikan selama periode penanganan. Terapi empiris untuk PSI I dan II adalah amoksilin (AMX) atau AMX + klavulanat (AMX-C) atau roksithromycin (RX). Kami juga harus mempertimbangkan pasien pengidap CAP yang tidak pernah mendapatkan penanganan antibiotik yang cukup dan juga mereka pengidap CAP yang tidak mendapatkan keberhasilan dalam penanganan antibiotik yang cukup. tiga kali sehari. Pada kasus terakhir. 1 sampai 2 gram.berfikir bahwa obat ini adalah lebih baik daripada roxithromycin untuk melawan Legionella. tanpa mempertimbangkan rute administrasi maupun posologi (pendosisan). CT scan bagian dada dan pemeriksaan mikrobial endoskopik pun dilakukan. tergantung berat badan pasien) selama lebih dari satu dekade.

dan infeksi terdokumentasi pada 607 kasus (44. 847 pasien ditangani sesuai dengan opsi terapeutik kami (61. Data mikrobiologis juga diindikasikan . dan positif pada 6. termasuk di dalamnya COPD dan penyakit karena merokok terdistribusi secara merata dintara kelompok-kelompok pasien ini.2%. kelompok 2). Pasien dari kelompok 1 menunjukan kecenderungan terhadap infeksi HIV dan alkoholisme. 1. tingkat keparahan penyakit adalah sama di antara kelompok.8%) berbanding dengan 343/ 638 (53. penanganan empiris pertama dengan menggunakan AMX-C + RC yang dimodifikasi untuk penanganan pneumonia yang parah setelah pengidentifikasian Klebsiella pneumoniae pada sampel respiratori dengan penghilangan RX dianggap sesuai dengan pedoman kami.0%. Tabel 1 menunjukan karakteristik utama pasien. kami pun membandingkan antar pasien yang ditangani. seperti yang diindikasikan oleh PSI. Semua . kelompok 1) dibandingkan dengan 523 pasien yang tidak ditangani sesuai dengan opsi terapeutik kami (38. Kultur darah dilakukan pada 89% kasus. Juga. Dengan demikian.3%). Kami mengobservasi lebih banyak preskripsi/ pemberian antibiotik yang sesuai dengan pedoman setelah bulan September 2008.7%). Harus diingat bahwa penyakit-penyakit paru. Namun karena tujuan kita adalah untuk mencari tahu dampak dari pilihan terapeutik kita terhadap LOS dan hasil.001. p < 0. Hasil Selama periode penelitian yang berlangsung 9 tahun. sedangkan pasien dari kelompok 2 mempresentasikan penyakit tumoral dan/ atau alterasi imunitas.370 pasien pengidap CAP dirawat. 504/ 732 (68. Sebagai satu contoh.8%.pedoman internal.

penurunan imunitas tubuh (12%). Seperti yang diduga. Analisis diagram Pasien menunjukan suatu penjelasan untuk ketidakpatuhan terhadap pedoman pada 117/ 523 kasus (22. Dua belas pasien yang alergi terhadap penisilan kemudian diberikan levoflaxaci.pasien mendapatkan hal yang baik dari uji antigen pada urin. maka infeksi Pneumococcus tidak ada yang terdiagnosa. alergi (10%).1%). Diantara 95 pasien yang mendapatkan kemajuan kesehatan dari penanganan roxithromycin. terutama pada infeksi Legionella. karena penurunan imunitas (12%). aeruginosa yang tidak disertakan di dalam spektrum antibakteria secara logika berkaitan dengan terapi antibiotik yang lain. Pemberian antibiotik utama ditunjukan pada Tabel 2. Sebanyak 98 orang pasien mempresentasikan hasil yang buruk (7. S. pneumoniae merupakan patogen terisolasi paling umum pada setingan masyarakat ini dan memiliki hubungan dengan tingkat kepatuhan yang lebih tinggi pada pedoman. Alasan yang mendasari hal ini adalah data mikrobiologis (64%). koinfeksi (8%).001). kondisi komorbid (3%). . dan lainlain. Hasil yang buruk ini terjadi sebelum 48 jam menghabiskan waktu di rumah sakit untuk 26 orang pasien.4%). Penyebab kematian disebutkan pada Tabel 2. kepatuhan pada pilihan terapeutik kita memiliki hubungan dengan preskripsi satu jenis terapi (p < 0. Seperti yang diharapkan. obat ini secara uama diperuntukan untuk menangani infeksi Legionella atau patogen atipikal. P. diantaranya terdapat 26 pasien yang dipindahkan ke unit penanganan intensif (ICU) dan 72 orang lainnya meninggal.

Tidak ada hubungan antara obat antibiotik anti-Pseudomonas yang cukup dengan hasil (data tidak ditunjukan). pentidaksertaan pasien yang meninggal karena penyakit non-infeksi tidak secara signifikan memodifikasi/ merubah hasil dari analisis multivariat kami. Tabel 1. Empat belas dari 32 adalah infeksi Pseudomonas (44%) tertolong oleh obat anti-Pseudomonas sebagai terapi garis pertama. Para pasien dengan hasil yang buruk dibandingkan dengan mereka yang memrpesentasikan hasil yang bagus di dalam analisis univariat (lihat Tabel 3). Terakhir. Usia. kami pun menganalisa pasien dengan nilai LOS > 2 hari (n = 1.538 [0.262 – 0. Namun analisis multivariat menemukan tiga faktor resiko yang berkaitan dengan hasil yang tidak diharapkan.347 – 0. skor PSI merupakan faktor resiko utama yang berkaitan dengan hasil yang buruk. dan kepatuhan terhadap pilihan terapeutik kami memiliki korelasi dengan hasil yang baik/ kemajuan kesembuhan. dan 6/32 teruntungkan/ tertolong dari penanganan spesifik sebagai terapi garis kedua. p = 0. mengingat bahwa terapi antibiotik harus aktif setidaknya 48 jam sebelum secara positif berdampak terhadap prognosis. kemudian diikuti oleh infeksi P. Analisis univariat . Lebih jauh lagi. aeruginosa (Tabel 4).295): korkordan pedoman masih bersifat protektif: AOR [95% CI]: 0. Juga. p = 0.yang dimana pada umumnya berkaitan dengan infeksi pernafasan dan kondisikondisi komorbid/ penyakit-penyakit pengiring. tergantung pada kepatuhan pada pedoman internal.432 [0.001.713]. kondisi-kondisi komorbid.833].005. Komparabilitas kelompok studi. pilihan terapeutik kami muncul sebagai faktor protektif/ pelindung: AOR [95% CI]: 0. Seperti yang diduga. skor PSI. dan mikrobiologis.

8) 139 (26.945 0.5) 20 (2.8) 462 (89.4) 15 (2.5) 66 (7.9) 42 (4.2) 44 (8.0) 39 (7.1) 41 (4.943 337 (39.7) 25 (2.3 6 (0.0) 63 (12.8) 85 (10.439 0.4) 78 (8.047 0.4) 156 (30.752 0.3) 213 (25.889 0.6) <0.0) <0.0) 229 (43.1) 193 (36.681 0.402 0.079 0.001 terdokumentasikan Kultur darah yang 755 (89.4) 126 (24.9) 68 (13.001 <0.726 0.909 psikiatrik Pulmonari/ paru COPD Merokok aktif Kanker/ imunodepresi Infeksi HIV Alkoholisme Penyakit liver Gagal ginjal kronis Pneumonia aspirasi Skor PSI PSI < 3 PSI 3 PSI 4 PSI 5 Data mikrobial Infeksi yang polimikrobial Patogen bakteri utama dari sampel respiratori monomickrobial* Streptococcus pneumoniae Legionella pneumophila** Enterobacteriaceae Haemophilus influenzae Staphylococcus aeruginosa Pseudomonas aeruginosa Patogen atipikal/ tdk biasa .367 0.001 <0.9) 72 (13.Kelompok 1 Kelompok 2 Nilai p Usia (Tahun) Rasio seks (Laki-laki/ n=847 (61.8) 66 (7.6) 121 (14.7) 37 (7.1) 21 (2.4) 51 (9.5) 72 (8.45 n=523 (38.002 184 (21.2) 31 (5.9) 0.4) 83±33 193 (37.615 0.6) 47 (8.7) 35 (4.2) 41 (7.438 Perempuan) Kondisi komorbid Kardiovaskular Gagal jantung kronis Diabetes Neurologis dan/ atau 311 (36.064 0.7) 24 (4.58 0.8 %) 65±18 1.2 %) 65±19 1.788 0.9) 13 (2.4) 35 (7.9) 64 (12.8 270 (51.4) 44 (8.732 dilakukan Kultur darah positif Sampel respiratori 48 (5.2) 0.4) 11 (1.2) 257 (30.4) 212 (25.9) 65 (12.5) 16 (3.957 0.753 0.7) 111 (21.2) 82±32 307 (36.8) 78 (9.8) 0.5) 117 (13.7) 300 (35.2) 111 (13.633 0.2) 0.910 0.001 0.716 <0.4) 18 (3.96 224 (26.236 0.001 0.006 0.

5) 18 (3. aspirasi bronkhik) **Semua infeksi Legionella memiliki uji urinari antigen positif Tabel 2.0) 50 (5.9) ketiga (Ceph-3)a Amoksilin + asam 0 20 (3.Virus influenza 28 (3.0) 7 (1.3) 5 (0.0) 12 (14) 0 0 0 0 70 (13.4) 42 (8. Terapi antibiotik Kelompok 1 Kelompok 2 p-Nilai Penanganan antibiotik n=847 (61.1) n=523 (38.5) 16 (3.7) < 0.3) 77 (14. Sarana terapeutik utama pada kelompok studi.2%) 333 (63. yang mencakup 0 0 0 0 0 18 (3.8) klavulanik + FQb Ceph-3 + metrionidazole Ceph-3 + FQb FQb lain Ceph-3 +makrolidac Obat lain. bilasan bronchoalveolar. durasi rawat rumah sakit.4) 26 (4. yang disebabkan oleh terapi antibiotik yang tidak tepat.2) 94 (11.2) 214 (25.0) 39 (7.7) kombinasi dari berbagai bahan obat < 0.2) 0 0 klavulanik Roxithromycin (RX) Amoksilin + ofloxacin Amoksilin + asam 95 (11. Kami mempertimbangkan bahwa kebutuhan penanganan intensif untuk para pasien yang pada awalnya dirujuk ke bagian medis memiliki hasil yang buruk.9) 0.001 .005 *Dari prosedur isolasi standar (sputum.8%) 755 (89.001 yang tidak berubah Amoksilin Amoksilin + asam 264 (31. dan hasil.9) 0 0 0 klavulanik + RX Amoksilin + RX Levofloxacin Clarithromycin Ofloxacin Sefalosporin generasi 17 (2.

9) 28 (5. ofloxacin.7) 37 (7. Untuk CAP ini. ceftazidime 1 (2.Tamiflu Penilaian ulang antibiotik 9 (1.001 11 (1.2) 18 (51.9) 0.001 < 0. ciprofloxacin.7) b FQ=fluoroquinolone.9) diharapkan ICU Kematian Penyebab kematian Infeksi Kondisi komorbid Kekurangan/ batasan 0.3) 35 (4.5) 7 (18.8) 7.5) 14 (40.001 sakit (hari) Hasil yang tidak 46 (5.6 ± 4. moxifloxacin.0) 7 (0. levofloxacin c Antara azithromycin.001 < 0.0) 1 (2.019 penanganan Lainnya 2 (5. konsensus kami dirancang untuk membatasi penggunaan RFQ dan Ceph-3. clarithromycin d Penilaian ulang antibiotik yang menyebabkan penambahan atau pengurangan terapi antibiotik Pembahasan Infeksi bakterial multiresisten berkaian dengan tingkat yang tinggi akan kegagalan penanganan dan peningkatan morbiditas serta kematian.8 162 (30.8) 5 (13. pefloxacin.8) 24 (64.1) 15 (2.1±6. erythromycin. . cefotaxime.0) 0 yang efektif 2 pemberian antibiotik ≥3 pemberian antibiotik Durasi rawat di rumah 85 (10.4) 52 (9. Selama 15 tahun terakhir. hal yang utama pada kesehatan publik adalah penggunaan terapi antibiotik secara lebih baik/ lebih bijak untuk mengurangi prevalensi MRB ini.6) a Antara ceftriaxone.0 < 0.3) 9.

809 . yaitu LOS dan hasil/ tingkat kesembuhan pasien di rumah sakit. dan yang terpenting adalah tingkat kesembuhan pasien yang lebih baik. menghindari penggunaan Ceph-3 dan FQ sebagai penanganan empiris. seperti dicirikan oleh ketidakperluan akan penanganan ICU dan tingkat keselematan pasien yang baik. dan berfokus pada dua parameter hasil utama. Penelitian-penelitian sebelumnya telah menunjukan bahwa kepatuhan pada pedoman secara independen memiliki hubungan dengan beberapa indikator penanganan/ perawatan yang lebih baik: durasi pemberian antiobiotik parenteral yang lebih pendek. Informasi yang baru yang dihasilkan oleh penelitian kami adalah bahwa LOS yang lebih pendek dan tingkat kesembuhan pasien rawat inap yang lebih baik dapat didapat dengan terapi antibiotik yang di-simplifikasi (disederhanakan) dibandingkan dengan rekomendasi yang berlaku secara internasional. Analisis univariat.001 0. biaya yang lebih murah. hal ini dicapai ketika terapi antibiotik patuh kepada pedoman di dalam penggunaannya.57 Nilai p <0. Tabel 3: Faktor-faktor resiko yang berkaitan dengan hasil yang buruk/ tidak diharapkan. Usia (Tahun) Rasio seks (Laki-laki/ Perempuan) Kondisi komorbid Hasil yang baik Hasil yang tidak n=1.2%) 78±15 1. durasi rawat di rumah sakit yang lebih pendek.8%) diharapkan/ buruk 65±19 1.Kami mengobservasi LOS yang lebih pendek dan hasil atau tingkat kesembuhan yang lebih baik.272 (92.49 N=98 (7. Sejumlah 12 PSI tidak ditentukan.Penelitian ini mengevaluasi dampak dari pilihan terapeutik kami untuk menangani CAP.

1) 0 5 (5.481 0.1) 9 (9.6) 300 (23.7) 107 (8.111 0. aspirasi bronkhik) .381 0.2) 15 (15.0) 39 (3.5) 13 (13.001 413 (39.2) 3 (3.2) 7 (7.5) 98 (7.0) 1 (1.9) 0.3) 28 (28.5) 90 (7.6) 43 (44.0) 319 (25. bilasan/ kurasan bronchoalveolar.001 77 (6.001 standar) PSI < 3 PSI 3 PSI 4 PSI 5 Data mikrobial Kultur darah positif Sampel respiratori polimikrobial Patogen bakteri utama Streptococcus pneumoniae Legionella pneumoniae Enterobacteriaceae Haemophilus influenzae Staphylococcus aureus Pseudomonas aeruginosa Patogen atipikal Virus influenza Konkordan dengan pedoman *Mencakup hanya sampel monomikrobial saja.1) 12 (12.839 psikiatrik Pulmonari/ paru COPD Merokok aktif Kanker/ imunodepresi Infeksi HIV Alkoholisme Penyakit liver Gagal ginjal kronis Pneumonia aspirasi PSI (mean ± deviasi 340 (26.004 0.3) 55 (4.0) 484 (38.978 0.001 0.9) 16 (16.566 0.687 0.5) 42 (42.8) 173 (13.002 < 0.2) 12 (12.7) 172 (13.3) 8 (8.3) 173 (13.5) 0.7) 112 (8.4) 24 (24.1) 6 (6.7) 98 (7.123 236 (18.6) 13 (1.210 0.Kardiovaskular Gagal jantung kronis Diabetes Neurologis dan/ atau 462 (36.1) 6 (6.566 0.9) < 0.020 < 0.346 0.8) 11 (11.2) 20 (20.9) 0.6) 80 (6.139 0.0) 54 (4.3) 370 (29.062 0.0) 32 (2.2) 38 (2.583 0.2) 3 (3.015 <0.9) 21 (1.031 0.2) 19 (19.0) 46 (46.1) 2 (2.1) 5 (5.43) 119 (9.4) 80±31 23 (23.1) 45 (45.196 0. diagnosis didasarkan pada prosedur isolasi standar (analisis sputum.5) 801 (62.001 0.023 0.156 0.0) 6 (6.002 0.221 0.3) 79 (6.3) 112±33 0.

0001 AOR [95% CI] 4.347 – 0. para pasien yang mendapatkan setidaknya 2 hari penanganan antibiotik. bahkan jika di dalam “infeksi kutan” DRG mengalami penurunan dengan pengimplementasikan pedoman internal kami. aeruginosa Indeks Tingkat Keparahan Nilai p 0.002 – 1. Mengingat hasil yang lebih baik yang berkaitan dengan konkordan pedoman. Lebih penting lagi. . hasil ini didapat disamping tingkat PSI yang dibandingkan antar kelompok-kelompok dan setelah pembandingan dari kondisi-kondisi yang paling komorbid yang diketahui dapat mempengaruhi terhadap LOS dan hasil.538 [0.0088 <0.694] 1. atau setelah eksklusi pasien yang meninggal karena hal yang tidak ada kaitannya dengan infeksi respiratori/ pernafasan.035] Pneumonia Konkordan pedoman 0. Hasil yang penting ini masih diobservasi: dengan mentidaksertakan kasus-kasus yang tidak parah (PSI 1 dan 2).5 hari) sampai 2014 (9.277 [1.028 [1.441 – 12.Tabel 4. Faktor-faktor resiko akan hasil yang tidak diharapkan/ buruk pada pasien pengidap pneumonia dapatan masyarkat (CAP) dengan menggunakan analisis regresi logistik berperingkat Faktor-faktor resiko Infeksi P. hanya berfokus pada PSI 4 dan 5. hampir dari seluruh pasien dengan kondisi imunosupresif pun disertakan di dalam penelitian kami (>15% dari seluruh populasi penelitian).0055 0. database kami mengindikasikan bahwa secara global nilai mean LOS tidaklah menurun dari tahun 2005 (8. Lebih jauh lagi.833] LOS yang lebih pendek ini tidak dijelaskan oleh setiap perubahan di tim medis kami.6 hari). sedangkan struktur rumah sakit kami dan departemen di dalamnya tidaklah berubah sama sekali.

Perbedaan pertama antara pedoman kami dengan rekomendasi internasional adalah penggunaan test antigen urin yang cepat dan sistemik untuk S. yang dimana untuk mengimplementasikan proses penanganan kondisi-kondisi lokal. amoksilin merupakan penanganan terbaik untuk infeksi Pneumococcus. identifikasi patogen dan pelurusan terapi antibiotik adalah hal yang penting. Karena perkembangan resistensi terhadap antibiotik. patogen bakteri yang paling umum adalah S. Hal ini berkaitan dengan satu kematian akibat legionellosis parah pada pasien lelaki yang berusia 88 tahun dengan kanker prostat diseminata dan gagal ginjal akut. yang memiliki peningkatan resistensi antibiotik terhadap makrolida dan RFQ. pneumoniae dan L. pneumonia. sebagai bagian utama dari baksil gram-negatif yang muncul sebagai kolonisasi pernafasan atas pada evaluasi yang kami lakukan secara berturut-turut. sedangkan makrolida secara klinis sama dengan FQ untuk legionellosis. resistensi terhadap ampisilin (MIC>2 mg/L) adalah hal yang jarang di Perancis (< 1% dari pneumonia pneumococcal). . roxithromycin secara utama dipreskripsikan untuk menangani infeksi Legionella atau ketika temuan klinis dan radiologis mengindikasikan patogen atipikal/ tidak biasa. Kami berfikir bahwa hal ini dapat menjelaskan setidaknya sebagian dari penggunaan antibiotik tunggal. pada praktek klinis kami. Sebaliknya. Seperti yang didugi. pneumophilia. Pada penelitian kami. Dengan demikian. Perbedaan kedua adalah bahwa kami tidak mengobservasi kebutuhan akan Ceph-3 ataupun FQ. terutama untuk para pasien manula.Konsensus kami mempertimbangkan rekomendasi utama pertama yang ditulis pada pedoman Amerika Serikat. Praktek klinis ini memungkinkan kita untuk dapat mengoptimalkan terapi antibiotik melalui penyederhanaan.

443 pasien dan kemudian 1. Sebuah penelitian di Italia (yang melibatkan 1. Dengan demikian. Berkenaan dengan hasil kami. yang sebelumnya telah dievaluasi. jika dibandingkan dengan konsensus/ pedoman internasional. aeruginosa masih berkaitan dengan hasil yang tidak diharapkan.5%) dari infeksi ini mendapatkan dampak positif dari penggunaan terapi antibiotik tertentu. aeruginosa pun dipertimbangkan. meskipun kami memiliki rekomendasi untuk analisis bakteriologis sistemik dan pertimbangan untuk terapi antipseudomonal untuk menangani kegagalan terapeutik dari rejimen antibiotik awal. Namun. Hal ini dikarenakan pedoman kami menjelaskan poin-poin penanganan disamping terapi antibiotik. faktor-faktor resiko untuk infeksi P.Terakhir.404 pasien) menunjukan bahwa terapi antibiotik yang konsisten dengan pedoman memiliki korelasi dengan penurunan yang signifikan dalam tingkat mortalitas jika dibandingkan dengan terapi yang tidak patuh terhadap pedoman. lebih memberikan hasil yang baik dalam hal penanda hasil penanganan CAP Kami mengetahui dari dasboar medis kami bahwa tidak terdapat efek samping atau diagnosis sekunder seperti contohnya gagal jantung di kelompok 2. Hasil ini mengindikasikan . dan 20/32 (62. seperti contohnya pemeriksaan bakteri dan sarana radiologi yang tepat. pengimplementasian cara klinis untuk CAP telah terbukti dapat meningkatkan hasil atau tingkat kesembuhan yang lebih baik jika dibandingkan dengan pasien yang tidak mendapatkan pengimplementasian cara klinis. infeksi P. pertanyaan utama yang muncul adalah kenapa kepatuhan terhadap pedoman terapeutik kami yang disederhanakan. Dengan demikian.68% di dalam penelitian kami). MRSA pada sampel respiratori muncul sebagai sesuatu yang jarang pada kasus CAP di area kami (0.

karena tujuan utama kami adalah pengevaluasian terapi empiris kami untuk menanganan CAP. dan menghindari bias pemilihan data. hasil yang kami dapat tetaplah valid (data tidak ditunjukan). Kesimpulan Terapi antibiotik kami yang disederhanakan untuk menangani pneumonia dapatan masyarakat (CAP) memiliki hubungan dengan semakin pendeknya durasi rawatan pasien di rumah sakit (LOS) dan semakin rendahnya tingkat mortalitas di rumah sakit. Juga. maka tidak ada penanganan acak dan hanya mengukur tingkat mortalitas yang terjadi di rumah sakit. maka kami tidak menyertakan terapi konkordan pada pasien yang ditangani dengan Ceph-3 dan/ atau RFQ yang didasarkan pada hasil mikrobiologis. Namun. aeruginosa untuk meningkatkan tingkat keselamatan pasien. karena dilakukan di satu institusi tunggal. ketika menyertakan pasien-pasien ini di dalam kelompok terapi konkordan. Kekuatan alama penelitian kami didasarkan pada penggunaan dasboard medis yang kami miliki. Penelitian kami memiliki beberapa batasan. Data kemudian diverifikasi melalui beberapa tahap istilah-istilah medis konstan yang lebih komprehensif dan reliabel jika dibandingkan dengan data yang didapat dari database administrasi yang dirancang untuk tujuan lain. Jika hasil yang kami dapatkan dapat dikonfirmasi di dalam sebuah penelitian . Sistem pengumpulan data ini memungkinkan dapat dilakukannya analisis kohort pasien pengidap CAP.kebutuhan akan indikator-indikator lain akan infeksi P.

. maka pilihan terapeutik ini dapat menurunkan peningkatan patogen yang semakin resisten terhadap banyak obat-obatan/ antibiotik.multi-senter.