Anda di halaman 1dari 27

KELAINAN KULIT PADA PENDERITA DABETES MELITUS

KELAINAN KULIT PADA PENDERITA DABETES MELITUS


Diabetes mellitus merupakan suatu kondisi yang sering disertai dengan manifestasi
pada kulit. Manifestasi yang muncul pada kulit pun dapat bermacam-macam
bentuknya. Adanya efek metabolik didalam mikrosirkulasi dan berubahnya susunan
kolagen dikulit mengakibatkan banyak kelainan yang mungkin terjadi pada kulit
penderita DM. Diperkirakan bahwa 30% dari pasien dengan diabetes mellitus akan
mengalami masalah kulit pada tahap tertentu sepanjang perjalanan penyakit
mereka.
Kadar gula kulit
Kadar gula kulit (glukosa kulit) merupakan 55% dari kadar gula darah atau glukosa
darah pada orang biasa. Pada penderita diabetes, rasio kadar glukosa kulit
meningkat sampai 69-71% dari glukosa darah yang sudah meninggi. Pada penderita
yang sudah diobatipun rasionya melebihi 55%.
Glukosa kulit berkonsentrasi tinggi di daerah intertriginosa (lipatan seperti ketiak,lipat
paha, intergluteal, lipat payudara, antara jari tangan atau kaki) dan interdigitalis. Hal
tersebut mempermudah timbulnya dermatitis, infeksi bakterial (terutama furunkel)
dan infeksi jamur (terutama kandidiosis). kandidosis sering di temukan sebagai
kolpitis. Keadaan ini dinamakan diabetes kulit (skin desease)
Pruritus
Pruritus pada diabetes mellitus merupakan keluhan yang sering terdengar, tetapi
tidak selalu ada. Sensasi tersebut tidak hanya disebabkan oleh hiperglikemi, tetapi
juga iritabilitas ujung-ujung saraf dan kelainan-kelainan metabolik dikulit.
Pruritus terutama berlokalisasi pada daerah anogenital (pruritus ani/vulvae/skroti)
dan daerah-daerah intertriginosa (terutama submama pada wanita dengan
adipositas). Kadar glikogen pada sel-sel epitel kulit dan vagina meningkat, hingga
menimbulkan diabetes kulit. Keadaan tersebut merupaka faktor predisposisi
timbulnya dermatiis, kandidosis, dan furunkolosis.
Acanthosis Nigricans
Acanthosis Nigricans merupakan salah satu lesi Kulit Non-Spesifik Pada Diabetes
Mellitus selain pruritus, sehingga keadaan ini bisa di jumpai pada keluhan penyakit
yang lainnya. Acanthosis Nigricans adalah merupakan kehitaman yang ada pada
kulit atau hiperpigmentasi kulit pada daerah lipatan tubuh. Biasanya terjadi pada
ketiak, belakang leher, lipatan tangan dan pusar.
Acanthosis Nigricans ditandai oleh adanya penebalan kulit seperti beludru yang
berwarna kehitaman pada daerah ketiak, lipat paha dan leher bagian belakang.
Karakteristik dari acanthosis nigricans yaitu plak hiperpigmentasi, hyperkeratosis
dan terjadi simetris. Warna gelap adalah karena penebalan keratin yang
mengandung epitel superfisial.
Meskipun lesi umumnya asimtomatik, mereka bisa menyakitkan, berbau busuk, atau
maserasi. Karena kelainan ini merupakan lesi yang nonpesifik dari diabetes, maka
Acanthosis Nigricans dapat pula ditemukan pada efek samping obat tertentu
(misalnya, asam nikotinat, kortikosteroid), dan di berbagai masalah endocrinopathies

(misalnya, acromegaly, sindrom Cushing, leprechaunism) dan juga sebagai tanda


paraneoplasm (terutama pada kanker lambung).
Tinggi kadar plasma insulin diperkirakan untuk berkontribusi pada pengembangan
acanthosis nigricans. Hal ini terjadi karena jumlah insulin yang tidak berikatan
dengan reseptornya meningkat sehingga insulin banyak berikatan dengan reseptor
yang mirip dengan reseptor insulin sehingga terjadi resistensi insulin, yang kemudian
tumbuh jaringan baru yang menyebabkan penebalan kulit dan perubahan warna
(hiperpigmentasi).
Pengobatan yang paling efektif adalah perubahan gaya hidup. Penurunan berat
badan dan olahraga dapat mengurangi resistensi insulin. Acanthosis nigricans
adalah reversibel dengan penurunan berat badan jika dilihat sebagai komplikasi dari
obesitas. Jika lesi tidak menunjukkan gejala, mereka tidak memerlukan pengobatan.
Salep yang mengandung asam salisilat atau retinoat dapat digunakan untuk
mengurangi lesi lebih tebal di daerah maserasi ataupun dapat dilakukan tindakan
laser.

akantosis nigrans tampak plak hiperpigmentasi dan hyperkeratosis

Acanthosis Nigricans pada lipatan ketiak

nigricans acanthosis pada lipatan leher

plak hiperpigmentasi dari nigricans acanthosis, biasanya diperkirakan berhubungan


dengan tingginya tingkat sirkulasi insulin.
Dermopati Diabetikum
Dermopathy diabetes adalah suatu kondisi kulit yang ditandai gambaran klinis lesi
coklat terang atau kemerahan, oval atau bulat, patch bersisik sedikit menjorok paling
sering muncul pada tulang kering. Dermopati Diabetikum ini tidak spesifik untuk
diabetes, dimana sekitar 20% dari orang nondiabetes menunjukkan lesi serupa. Pria
lebih sering terkena dari pada wanita, dan usia rata-rata adalah 50 tahun.
Lesinya juga dapat terjadi pada lengan, dibagian samping depan dan bawah kaki.
Kelainannya dimulai dengan papul-papul kecil dan plak yang kecil berwarna merah
memudar. Kemudian lesi dapat berkembang menjadi banyak (multiple), bilateral,
berbatas tegas, bulat atau oval, skar dangkal yang hiperpigmentasi dan atau macula
hiperpigmentasi atropik yang bersisik halus pada daerah pretibial.
Penyebab pasti dermopathy diabetes tidak diketahui, tetapi mungkin berhubungan
dengan diabetes neuropatik (saraf) dan komplikasi vascular (pembuluh darah) , studi
telah menunjukkan kondisi yang terjadi lebih sering pada pasien diabetes dengan
retinopati (kerusakan retina mata), neuropati (saraf / kerusakan sensorik) dan
nefropati (kerusakan ginjal), selain itu gambaran bercak-bercak tibial pada
dermopathy diabetes juga diperkirakan muncul karena respon trauma panas, dingin
atau trauma tumpul pada pasien diabetes.

Tidak ada pengobatan khusus untuk penyakit kulit. Kondisi ini cenderung sembuh
dengan sendirinya menjadi bekas luka depresi.

Dermopati Diabetikum dengan gambaran klinis lesi Bulat atau oval,Warna coklat
kemerahan, Awalnya bersisik tapi kemudian mendatar dan menjadi menjorok

Dermopati Diabetikum Umumnya terjadi pada kedua tulang kering, selain itu juga
dapat ditemukan pada Lengan, Anterior paha, Lateral kaki

Dermopathy diabetes cenderung terjadi pada pasien yang lebih tua atau mereka
yang telah menderita diabetes selama setidaknya 10-20 tahun

Penyebab pasti dermopathy diabetes tidak diketahui, tetapi mungkin berhubungan


dengan diabetes neuropatik (saraf) dan komplikasi vascular (pembuluh darah)
ataupun akibat trauma
Necrobiosis Lipoidica Diabeticorum ( NLD)
Necrobiosis lipoidica adalah gangguan degenerasi kolagen dengan respon
granulomatosa, penebalan dinding pembuluh darah, dan penumpukan lemak. Ini
juga merupakan kelainan non spesifik, sebab dapa ditemukan pada penyaki lain.
Kejadiannya adalah 0,3% pada penderita diabetes, dan sangat jarang di nonpenderita diabetes.
NLD mirip dengan dermopathy diabetes. Perbedaannya adalah bahwa tempat yang
sedikit, namun lebih besar dan lebih dalam. Gambaran klinisnya berupa bercakbercak numuler yang nyeri atau plak eritem dengan warna kuning pada bagian
central yang menandakan akumulasi dari lipid. Lesi secara perlahan dapat
membesar. Dengan bentukkan plak yang irreguler, tepi lesi terkadang sedikit
meninggi dan kulit disekitar lesi berwarna merah kebiruan, dengan pembuluh darah
yang menonjol (telangiectasia)
Biasanya NLD paling sering berlokasi pada kedua tungkai, pretibial, bagian medial
maleolus dan 15 % terdapat di tangan, pergelangan tangan, badan, wajah dan kulit
kepala dimana NLD dapat menyebabkan atropi dan allopesia.
Patogenesis dari NLD belum diketahui secara pasti. Ada pendapat yang
menghubungkan mikroangiopati diabetikum yang berkaitan dengan neuropati
dengan terjadinya NLD. Biopsi kulit dapat dilakukan untuk mengkonfirmasikan
diagnosis. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan reaksi inflamasi granulomatous
sekitar kolagen yang hancur. Hal ini dikenal sebagai necrobiosis atau collagenolyis.
Terapi pada NLD ditujukan untuk menghambat perkembangan proses penyakit.
Terapi yang digunakan yaitu dengan steroid topical krim potensi tinggi atau steroid
intralesional injeksi pada daerah yang aktif. Krim steroid telah diketahui
menyebabkan penipisan kulit, jadi jika digunakan, yang terbaik adalah dengan
membungkus daerah dengan kain.

Dalam beberapa kasus resisten, aspirin, chloroquine (Aralen), dan siklosporin


( Sandimmune, Neoral) telah digunakan dengan beberapa keberhasilan.
Bagian bawah kaki harus dilindungi dari trauma. Pasien harus disarankan untuk
menghindari hal yang berpotensi menimbulkan trauma seperti olahraga tertentu dan
mereka harus mengenakan stoking selutut atau bantalan tulang kering untuk
perlindungan.

Necrobiosis lipoidica dengan klinis berupa lesi bulat, oval atau tidak teratur. Pusat
patch menjadi mengkilap, pucat, menipis, dengan pembuluh darah yang menonjol
(telangiectasia)

Necrobiosis lipoidica diperlukan pemeriksaan biopsi, dengan gambaran


histopatologik menunjukkan reaksi inflamasi granulomatous sekitar kolagen hancur.
Hal ini dikenal sebagai necrobiosis atau collagenolyis.

Necrobiosis Lipoidica Diabeticorum, penyebabnya


berhubungan dengan mikroangiopati diabetikum

belum

diketahui

diduga

Necrobiosis Lipoidica Diabeticorum. Terapi yang digunakan yaitu dengan steroid t


opical krim potensi tinggi atau steroid intralesional injeksi
Granuloma Annulare
Bentuk lesinya berupa plaque anular yang berwarna merah seperti daging, atau
papul-papul berwarna merah kecoklatan dengan susunan bilateral dapat terjadi pada
tubuh bagian atas, leher, lengan, dan kadang pada kaki.
Etiologi dari penyakit ini belum diketahui secara pasti. Kelainan ini umumnya terkena
pada kulit anak-anak, remaja atau dewasa muda (usia kurang dari 30 tahun).
Keadaan ini juga ditemukan pada penyaki lain selain diabetes melitus.
Diagnosa dilakukan dengan biopsi untuk menentukan penyebab ruam. Biopsi
menunjukkan degenerasi necrobiotic karakteristik kolagen dermal dikelilingi oleh
reaksi inflamasi. Selain dengan biopsi, juga dilakukan pemeriksaan dengan KOH
10% untuk membedakan antara annulare granuloma dan infeksi jamur.
Karena annulare granuloma biasanya tidak menimbulkan gejala, pengobatan
mungkin tidak dibutuhkan kecuali untuk alasan kosmetik. Terapi yang disarankan

adalah kortikosteroid intralesi dan topical (5 mg/mL acetonide triamcinolone) dan


niacinemide 500 mg 3 kali dalam sehari, penggunaanya dimonitor karena dapat
meningkatkan kadar gula darah. Obat lain yang digunakan pada kasus yang lebih
berat adalah dapsone dan Psoralen-Ultraviolet A (PUVA) tiga kali dalam seminggu.

Granuloma annulare, dengan klinis lesinya berupa plaque anular yang berwarna
merah seperti daging, atau papul-papul berwarna merah kecoklatan dengan
susunan bilateral

Granuloma Annulare, penyebabnya tidak diketahui dan dijumpai pada kulit anakanak, remaja atau dewasa muda.

Granuloma annulare, dapat dicegah dengan melindungi daerah-daerah dari


matahari dengan membatasi paparan. Dan didiagnosa dengan uji KOH dan biopsi

Granuloma annulare on the elbow. Terapi dengan kortikosteroid intralesi dan topical
dan niacinemide
Bula Diabetikum
Diabetes bula, juga dikenal sebagai bullosis diabeticorum dengan adanya bentuk
lepuh blister yang besar, longgar, tanpa rasa nyeri dan non-inflammatoris, sering
terjadi pada ekstremitas bawah tapi terkadang juga bisa ditemui pada tangan dan
jari.
Penyebab terbentuknya bula diabetikum belum diketahui secara pasti. Bula
biasanya muncul secara secara tiba-tiba dan kelainan ini bukan akibat dari trauma
maupun infeksi. Diabetes bula tampaknya lebih sering terjadi pada pria daripada
wanita d an terjadi antara usia 17-84 tahun.
Sering terjadi pada pasien yang memiliki diabetes yang berlangsung lama, diabetes
type 1 atau dengan komplikasi diabetes ganda dengan neuropati perifer. Diagnosis
diferensial meliputi epidermolisis bulosa acquisita, porfiria cutanea tarda, bulosa
pemfigoid, bulosa impetigo, lecet koma, dan eritema multiforme.
Terdapat 2 tipe bula diabetikum yaitu intraepidermal dan subepidermal. Bula
intraepidermal terdiri dari cairan jernih, steril, nonhemorragik, dan umumnya sembuh
sendiri dalam waktu 2 sampai 5 minggu tanpa skar atropi. Tipe bula subepidermal
memiliki ciri yang sama dengan bula intraepidermal hanya saja kadang-kadang tipe
subepidermal berupa bula hemorragik dan penyembuhannya menimbulkan skar
atropi.
Diabetes bula biasanya spontan sembuh dalam 2-6 minggu. Pengobatan terdiri dari
aspirating lecet dan menerapkan petroleum jelly atau salep antibiotik topikal untuk
mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah infeksi sekunder

Bullosis diabeticorum dengan klinis bentuk lepuh blister yang besar, longgar, tanpa
rasa nyeri dan non-inflammatoris

Bula Diabetikum yang tanpak mengelupas. Bula atau melepuh ini terjadi secara
spontan pada kaki dan tangan pasien diabetes. Biasanya pada diabetes kronis.

Diabetic bullae, terdiri atas bentuk bula intraepidermal dan bula subepidermal

Bullosis Diabeticorum, biasanya dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan


KUTANEOUS INFEKSI PADA DIABETES MELLITUS
Neuropati sensorik, penyakit vaskular aterosklerotik, dan hiperglikemia semua
mempengaruhi pasien diabetes untuk terjadinya infeksi pada jaringan kulit dan soft
tissue.
Pasien dengan diabetes yang berlangsung lama atau kronis cenderung memiliki
mikrovaskuler dan penyakit makrovaskular dengan perfusi jaringan yang dihasilkan
miskin dan peningkatan risiko infeksi. Selain itu, kemampuan kulit untuk bertindak
sebagai penghalang terhadap infeksi tidak terjadi akibat adanya neuropati diabetes
sehingga memungkinkan penderita tidak sadar telah terjadi cedera atau luka.
Adanya Hiperglikemia dan asidemia juga memperburuk gangguan dalam kekebalan
humoral dan leukosit polimorfonuklearBeberapa infeksi kutaneus yang terjadi pada
penderita diabetes melitus :
Infeksi Kandida
Diabetes mellitus dan infeksi kandidiasis adalah dua hal yang saling berhubungan,
dimana Diabetes mellitus dapat menyebabkan terjadinya infeksi kandidiasis dan
sebaliknya infeksi kandidiasis juga dapat memperparah keadaan Diabetes mellitus.
Oleh karena itu, penanggulangannya harus berkesinambungan.
Perlche adalah tanda klasik diabetes pada anak-anak, dan infeksi kandida lokal
dari alat kelamin perempuan (kandidiasis vulva-vaginalis), pada pria berupa Candida
balanitis, balanoposthitis, dan intertrigo dapat menyajikan petunjuk tanda-tanda
memiliki hubungan yang kuat dengan diabetes
Infeksi kandidiasis vulva-vaginalis merupakan masalah yang sering menimpa wanita
yang mengidap diabetes. Hal ini merupakan penyebab tersering timbulnya pruritus
vulva selama glukosuria. Klinisnya dapat berupa eritem pada vulva, yang dapat
disertai fissure dengan atau tanpa satelit pustul. Vaginitis biasanya ditunjukkan
dengan adanya discharge berwarna putih. Pengobatan tradisional melibatkan
menormalkan gula darah, mengobati baik vagina dan vulva dengan obat topikal.
Karena pasien ini sering memiliki reservoir Candida dalam usus besar, nistatin oral

juga dapat diberikan. Pilihan lain untuk kandidiasis vagina oral satu dosis 150 mg
flukonazol.
Kandidiasis oral sering ditemukan pada penderita diabetes mellitus yang tidak
terkontrol. Secara klinis kandidiasi oral memberikan gambaran berwarna putih, ada
bagian eritematous, daerah dengan fissure terutama pada sudut mulut atau patch
berwarna putih pada buccal dan palatum.pengobatan mungkin tergantung pada
normalisasi gula darah dan penggunaan obat anti candida atau anti jamur.
Selain itu infeksi juga dapat terjadi pada kaki dan tangan, misalnya Candida
paronychia yang umumnya terjadi pada diabetes merupakan Candida paronychia
kronik dan biasanya melibatkan tangan tetapi mungkin terjadi pada kaki. Sering
dimulai pada lipatan kuku lateral tanpak eritema, bengkak, dan pemisahan lipat dari
batas lateral kuku. Infeksi lebih lanjut dapat mengakibatkan keterlibatan lipatan kuku
proksimal dan pemisahan kutikula dari kuku.
Dermatofitosis
Diabetes mellitus dikenal sebagai faktor predisposisi terjadinya infeksi dermatofita
meskipun hal ini tidak umum yang melibatkan kuku dan area intertriginosa.
Infeksi dangkal yang umum disebabkan oleh
mentagrophytes , dan Epidermophyton floccosum
onikomikosis atau tinea pedis perlu untuk dipantau
menjadi pelabuhan masuk kuman untuk infeksi. Hal
pasien dengan komplikasi neurovaskular dan intertrigo.

Trichophyton rubrum, T
. Pada pasien diabetes,
dan dirawat, karena dapat
ini terutama berlaku untuk

Gangren Pada Diabetes


Kelainan tungkai bawah karena diabetes disebabkan adanya gangguan pembuluh
darah, gangguan saraf, dan adanya infeksi. Gangren adalah kerusakan dan
kematian jaringan pada tubuh yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian
tubuh yang terkena terputus karena berbagai faktor. Ganggren diabetikum biasanya
terlihat dijari kaki, atau tangan, kadang-kadang ditempat yang terkena (daerah sacral
dan trokhanter)
Ada tiga jenis gangren: gangrene kering, basah atau gas. Gangren kering adalah
salah satu yang paling sering mempengaruhi orang-orang dengan diabetes.
gangren kering terjadi karena kendala atau memperlambatnya aliran darah ke organ
atau bagian dari tubuh yang terpengaruh.
Adapun gejalanya berupa rasa sakit, dingin, jika ada luka sukar sembuh karena
aliran darah ke bagian tersebut sudah berkurang. Nadi kaki sukar diraba, kulit pucat
atau kebiru-biruan, kemudian dapat menjadi gangren/jaringan busuk, kemudian
terinfeksi dan kuman tumbuh subur, hal ini akan membahayakan pasien karena
infeksi bisa menjalar ke seluruh tubuh (sepsis).
Gangren diabetik merupakan dampak jangka lama arteriosclerosis dan emboli
trombus kecil. Angiopati diabetik hampir selalu juga mengakibatkan neuropati perifer.

Neuropati diabetik ini berupa gangguan motorik, sensorik dan autonom yang
masing-masing memegang peranan pada terjadinya luka kaki.
Faktor predisposisi terbentuknya gangren diabetikum ini adalah trauma ringan,
infeksi lokal, atau tindakan lokal (misalnya ekstraksi kuku). Gangren terutama terlihat
pada penderita yang berusia setengah tua atau lebih.
Gangren sering menyebar begitu cepat sehingga tidak dapat dihentikan dengan
antibiotik saja. Jaringan yang telah rusak oleh gangren tidak dapat diselamatkan,
oleh karena itu sebelum jaringan tersebut rusak atau mengalami kematian
pengobatan masih dapat dilakukan (dengan antibiotik), namun jika jaringan yang
mengalami ganggren atau kematian, maka tindakan debridemen dan amputasi
merupakan langkah penatalaksanaan yang di tempuh.

Gangren Pada Diabetes, merupakan ganggren kering

Gangren Diabetes, disebabkan adanya gangguan pembuluh darah, gangguan saraf,


dan adanya infeksi

Gangrene Diabetes, merupakan dampak jangka lama arteriosclerosis dan emboli


trombus kecil

Gangrene Diabetes, pengobaannya dapat dengan menggunakan antibiotik, dan jika


terdapat jaringan nekrotik , maka dilakukan nekrotomi dan debridemen.
Infeksi bakteri
Infeksi pyoderma seperti impetigo, folikulitis, carbuncles, furunkulosis, ecthyma, dan
erisipelas bisa lebih parah dan meluas pada pasien diabetes. Terapi terdiri dari
kontrol diabetes yang memadai dan, jika perlu, terapi antibiotik sistemik yang
memadai, infeksi lebih membutuhkan antibiotik intravena.
Beberapa infeksi bisa serius dan memerlukan perhatian segera medis misalnya.
carbuncles, yang merupakan infeksi bakteri mendalam folikel rambut (abses) dan
selulitis yang merupakan infeksi kulit yang mendalam. Selulitis sering muncul
sebagai, merah panas dan lembut pembengkakan kaki.
Erythrasma, disebabkan oleh Corynebacterium minutissimum , terjadi dengan
frekuensi yang meningkat pada pasien diabetes obesitas. Daerah intertriginosa
adalah tempat yang terkena dampak utama. Erythrasma klinisnya sebagai lesi
eritoskuama, patch hiperpigmentasi dengan perbatasan aktif. Dengan lampu Wood,
fluoresensi karakteristik karang terlihat. Pengobatan terdiri dari eritromisin topikal

atau sistemik, atau keduanya. Pencegahan berkeringat, gesekan maserasi, dan


dapat membatasi kemungkinan terkena infeksi ini
Infeksi pseudomonas, juga dapat nampak pada pasien diabetes, terutama pada
pasien yang tua. Biasanya infeksi yang terjadilah adalah Otitis eksternal maligna
yang merupakan infeksi saluran telinga eksternal oleh Pseudomonas, dengan
gambaran klinis berupa nyeri pada saluran telinga eksternal dan discharge
purulenMANIFESTASI LAPISAN DERMAL KULIT DIABETES MELLITUS
Diabetic Thick Skin (kulit tebal)
Berdasarkan banyak pengamatan, penderita diabetes memiliki kulit yang lebih tebal
daripada pasien non-diabetik. Ada 3 bentuk dari diabetik thick skin yaitu : perubahan
kulit seperti scleroderma pada jari dan punggung tangan yang berkaitan dengan
persendian ; gambaran klinis yang tidak tampak tapi penebalan kulit dapat diukur
dan dibandingkan dengan kontrol ; scleredema adult.
Penebalan kulit pada dorsum tangan terjadi pada 20% sampai 30% dari semua
pasien diabetes, terlepas dari jenis diabetes. Prevalensi sindrom tangan diabetes
bervariasi dari 8% menjadi 50%, ini dimulai dengan kekakuan sendi interphalangeal
metacarpophalangeal dan proksimal dan berkembang untuk membatasi mobilitas
sendi. Duyputen contracture (atau penebalan fasia palmaris) lebih lanjut dapat
mempersulit sindrom tangan diabetes.
Diabetic thick skin syndrome, secara klinis tampak sebagai pengerasan kulit,
dikaitkan dengan diabetik neuropathy, dan terjadi secara independent tidak
tergantung pada tingkat keparahan penyakit yang mendasarinya, usia pasien, atau
regimen terapi. Bertentangan dengan pola non-penderita diabetes, ketebalan kulit
dapat meningkatkan dengan usia
Skleredema pada Diabetes.
Skleredema adultorum pada diabetes merupakan sindrom yang di tandai dengan
adanya penambahan ketebalan kulit terutama pada bagian punggung dan leher
pada penderita paruh baya, kelebihan berat badan, yang tidak mengontrol dengan
baik diabetes tipe II nya.
Scleredema diabeticorum ditandai dengan penebalan dari kulit leher posterior dan
punggung atas, kadang-kadang meluas ke daerah deltoid dan lumbar, sering
dengan penurunan sensitivitas terhadap rasa sakit dan sentuhan. Scleredema terjadi
pada 2,5% sampai 14% dari penderita diabetes dan kadang-kadang sulit dibedakan
dengan scleredema karena penyakit Buschke, yang merupakan gangguan langka di
mana daerah penebalan kulit terjadi, terutama pada wajah, lengan, dan tangan,
sering setelah infeksi saluran pernapasan atas. Tidak ada pengobatan yang efektif
dikenal untuk scleredema diabeticorum.
Yellow Skin (Kulit kuning)
Orang dengan diabetes sering memiliki rona kuning pada kulit, yang biasanya sering
terlihat pada telapak tangan dan telapak kaki, karena pada daerah-daerah tersebut
jarang pigmen melanocytic.
Akibat berkurangnya kemampuan metabolisme hepatic dari karotenoid, sekitar 10 %
dari penderita diabetes yang kronik mengalami perubahan warna kulit kekuningkuningan (yellowish discoloration) yang dikenal sebagai aurantiasis.

Namun ada juga pendapat bahwa salah satu kemungkinan penyebab kulit kuning
mungkin glikosilasi produk akhir. Hal ini diketahui bahwa protein yang memiliki waktu
perputaran yang lama, seperti kolagen kulit, menjalani glikosilasi dan menjadi
kuning. Suatu produk glikosilasi canggih yang telah diidentifikasi, 2 - (2-furoyl) -4 (5)
- (2-furanil)-1H-imidazol, dimana produk ini memiliki rona kuning yang
jelas.VASKULAR MANIFESTASI DARI DIABETES MELLITUS
Diabetes angiopathy
Angiopati diabetik merupakan bentuk angiopathy berhubungan dengan diabetes
mellitus. Angiopathy sendiri adalah istilah umum untuk penyakit dari pembuluh darah
(arteri , vena , dan kapiler ). Diabetes angiopaty merupakan komplikasi kornis dari
diabetes melitus
Ada dua jenis angiopathy: macroangiopathy dan microangiopathy
Makroangiopati
Makroangiopati merupakan angiopathy pembuluh darah besar . Penderita diabetes
memiliki insiden dan prevalensi yang lebih tinggi pada penyakit pembuluh darah
besar, dan memungkinkan terjadinya infark miokard dan stroke pada usia yang jauh
lebih muda daripada non-diabetes
Kelainan pembuluh darah besar (atherosclerosis) juga dapat terjadi pada
ekstremitas bawah dan mengakibatkan atropi kulit, kerontokan rambut, dingin pada
kaki, distropi kuku, dan lain-lain. Risiko relatif penyakit pembuluh besar dalam
populasi yang paling tinggi untuk perempuan daripada laki-laki pada penderita
diabetes
Langkah pertama untuk terjadinya makroangipathy adalah rusaknya sel endotel oleh
karena pengaruh lemak atau oleh karena pengaruh tekanan darah. Keadaan ini
diikuti oleh melekatnya dan berkumpulnya sel-sel platelet. Kejadian ini berlangsung
lebih cepat dibandingkan dengan non diabetes. Platelet ini mempunyai pengaruh
stimulasi terhadap proliferasi otot polos. Sel otot dari tunika media akan
berproliferasi kedalam tunika intima dan kedalam lumen dari pembuluh Clot
ataupun plaque yang terbentuk akan terdiri dari deposit-deposit lemak, platelets,
dan sel otot.
Mikroangiopati
Mikroangiopati merupakan komplikasi kronik yang mengenai pembuluh darah kecil
(arteri kecil, arteriola, venula dan kapiler). Klinisnya dapat berupa hemorragik,
eksudat, devaskularisasi pada area yang terkena.
Lesi yang terutama pada angiopathy dan merupakan tanda dari diabetik vascular
disease adalah penebalan dari membrana basalis kapiler. Penebalan ini semakin
nyata bila perjalanan penyakit diabetes semakain lama, dan mungkin ada hubungan
dengan tingkat kontrol terhadap gula darah, walaupun penyataan ini masih
memerlukana penelitian lebih lanjut. Sebagian besar pembuluh darah mengalami
penebalan membrana basalis. Patologis yang pasti tentang terjadinya penebalan
membrana basalis ini belum diketahui. Tetapi telah dapat ditunjukkan bahwa
membrana basalis yang menebal ini permaebilitasnya meningkat terhadap cairan
dan protein. Hal ini akan menghalangi masuknya leukosit lebih jauh ke dalan cairan
interstitial dan akan menyebabkan menurunnya pertahanan terhadap infeksi bakteri.

Selain itu juga penebalan membran basalis pembuluh darah ini juga akan
menyebabkan terjadinya stenosis aliran darah, yang akibatnya akan menyebabkan
kondisi iskemik dan berakhir pada nekrosis jaringan sekitarnya.
Keadaan pada diabetes melitus yang berhubungan dengan penyakit mikrovaskuler
menyebabkan kebutaan (diabetik retinopaty), gagal ginjal (diabetik nefropati), dan
neuropati,
Williamson menyatakan bahwa hanya satu mekanisme untuk terjadinya angiopathy,
baik makroangiopathy ataupun mikroangiopathy, yaitu meningkatnya permeabilitas
membran dari pembuluh darah besar dan pembuluh darah kecil.
Forsham menyatakan bahwa akibat langsung dari hiperglikemia yang berlama-lama
akan mengakibatkan terjadinya penebalan pada membrana basalis pada otot-otot
kapiler baik pada skeletal maupun pada coronary capiler.
Red Skin and Rubeosis Facei
Rubeosis facei merupakan keadaan dimana di jumpai kulit muka dan daerah mata
yang memerah atau flushed face yang di jumpai pada sekitar 3% to 59% dari
penderita diabetes melitus.
Kemerahan pada kulit wajah dan daerah mata yang dikenal dengan rubeosis facei
ini terjadi karena pembengkakan atau dilatasi dari pleksus vena dangkal atau vena
superfisial akibat dari microangiopathy fungsional(viskositas darah meningkat).
Karena variasi normal dalam kulit, tanda ini sulit untuk digunakan sebagai penanda
microangiopathy fungsional. Pada orang pirang dan berambut merah kulitnya akan
lebih berwarna merah karena pada kulit orang tersebut jumlah melainnya sangat
sedikit sehingga mengaburkan eritema atau kemerahan yang muncul.
Warna kemerahan pada kulit wajah ini selain mungkin disebabkan oleh
microangiopathy fungsional, juga karena efek sensitivitas matahari, atau dehidrasi.
Kontrol Ketat glukosa mungkin memperbaiki penampilan rubeosis facei, karena tidak
ada pengobatan yang spesifik untuk keadaan ini.
Pigmented Purpura
Purpura diabetikum adalah suatu kondisi kulit pada ekstremitas bagian bawah yang
merupakan hasil dari ekstravasasi sel darah merah dari pleksus vascular superficial.
Kelainan ini ditandai dengan macula kecil sampai patch, multiple yang berwarna
coklat kemerahan sampai orange. Kelainan ini sering diderita pada pasien diabetik
usia tua.
Diperkirakan bahwa sekitar satu-setengah dari orang dengan kondisi ini juga
memiliki dermopathy diabetes. Dalam sebagian besar pasien, dekompensasi jantung
dengan edema pada kaki diperkirakan menjadi faktor pencetus bagi purpura.
Periungual telangiectasia
Penyakit mikrovaskuler adalah komplikasi utama dari diabetes mellitus. Pada tingkat
kapiler, hal ini dapat disebabkan masalah struktural (dinding kapiler misalnya
menebal) dan masalah fungsional (viskositas darah meningkat).
Periungual telangiectasia adalah warna kemerahan disekitar daerah lipatan kuku,
dimana warna merah itu disebabkan oleh darah yang terdapat didalam pembuluh

darah akibat kapiler yang berdilatasi / teleagiectasia yang dekat dengan permukaan
kulit pada daerah lipatan kuku
Lesi dari telangiectasia periungual, muncul sebagai merah, melebar atau dilatasi
kapiler, yang mudah terlihat dengan mata telanjang dan merupakan hasil dari
hilangnya loop kapiler dan pelebaran kapiler yang tersisa. Periungual telangiectasia
lebih banyak dijumpai pada penderita Diabetes melitus type I.
Dilatasi Vena mikrosirkulasi periungual tampaknya menjadi indikator yang sangat
baik terjadinya microangiopathy fungsional (viskositas darah meningkat). Perubahan
struktural daerah ini mungkin diwakili oleh tortuositas (gambaran berkelok-kelok)
vena.
Penyakit Jaringan ikat juga dapat melibatkan telangiectases periungual, meskipun
lesi secara morfologis berbeda. Dalam diabetes, telangiectasia periungual sering
dikaitkan dengan eritema kuku lipat, disertai dengan nyeri jari dan "regged" kutikula.
Erupsi Xanthoma
Xanthoma diabetikorum tampak sebagai papul bulat berwarna kuning kemerahmerahan dan kadang- kadang disertai talangikekstatis atau dilatasi kapiler serta
dapat menimbulkan rasa gatal. beberapa xanthomas bisa bergabung dan
membentuk xanthomas tuberous
Kondisi ini dapat terjadi ketika trigliserida yang kaya lipoprotein naik ke tingkat yang
sangat tinggi. Resistensi terhadap insulin yang parah membuat sulit bagi tubuh
untuk membersihkan lemak dari darah.
Tempat predelesinya ialah bokong, siku, dan lutut. xantoma terutama terlihat pada
wanita berusia 20-50 tahu dengan obesitas. Trauma merupakan fakor predisposisi.
Erupsi Xanthoma terjadi pada 0,1% dari pasien diabetes. Fitur histologis utama
adalah pembentukan sel busa dalam dermis superfisial yang dicampur dengan
infiltrat limfositik dan neutrophilic.
Pengobatan untuk erupsi xanthomatosis terdiri dari mengendalikan tingkat lemak
dalam darah. Letusan kulit akan hilang selama beberapa minggu. Obat yang
mengendalikan berbagai jenis lemak dalam darah (obat penurun lipid) mungkin juga
diperlukan.
Xanthelasma
Xanthelasma merupakan bentuk xanthoma yang paling sering dijumpai.
Xanthelasma adalah kumpulan kolesetrol di bawah kulit dengan batas tegas
berwarna kekuningan biasanya di sekitar mata seperti benjolan, sehingga sering
disebut xanthelasma palpebra.
Xanthelasma atau plaque kekuningan yang sering ditemukan di dekat canthus
bagian dalam kelopak mata, terutama sering ditemukan di kelopak mata atas
daripada di kelopak mata bawah. Benjolan tersebut berwarna kuning atau putih,
berbentuk datar atau bergelombang dan lembut jika disenntuh.
Selain pada mata, mereka dapat ditemukan pada, lutut siku, dan telapak tangan.
Xanthelasma mungkin terlihat seperti jerawat, tetapi ketika ditekan tidak ada nanah
yang keluar.

Xanthelasma tersusun atas sel-sel xanthoma. Sel-sel ini merupakan histiosit dengan
deposit lemak intraseluler terutama dalam retikuler dermis atas. Lipid utama yang
disimpan pada hiperlipidemia dan xanthelasma normolipid adalah kolesterol.
Kebanyakan kolesterol ini adalah yang teresterifikasi.
KELAINAN KUKU PADA DIABETES MELLITUS
Oychomycosis dan paronikia
Kelainan pada kuku biasanya berupa oychomycosis dan paronikia biasanya
ditemukan ditangan tapi juga dapat ditemukan pada kaki. Infeksi biasanya mulai
pada daerah lateral kuku sebagai eritem, bengkak, dan terpisah antara pinggiran
kuku ke bagian lateral kuku. Kemudian infeksi lebih lanjut memberikan gambaran
pada kuku bagian proksimal dan memisahkan antara kutikula dan kuku. Adanya
pelembab yang terperangkap pada celah-celah tadi mengakibatkan jamur tumbuh
semakin pesat dan memperberat inflamasi yang terjadi. Pada saat itu dapat
terbentuk discharge purulen di tempat tersebut. diagnosa infeksi jamur dapat
ditegakkan dengan pengambilan sample discharge lalu dilakukan pengecatan
dengan KOH.
Yellow nails atau kuku kuning
Pasien lansia diabetes tipe 2 cenderung memiliki kuku kuning. Prevalensi dari kuku
kuning akibat diabetes 40% sampai 50% pada pasien dengan diabetes tipe 2 telah
dilaporkan, tetapi kadang-kadang kuku kuning juga ditemukan pada orang lanjut usia
normal (tanpa diabetes) dan pada pasien dengan onikomikosis, jadi ini bukan
kelainan spesifik dari diabetes.
Perubahan warna kuning pada diabetes paling jelas di ujung distal dari kuku hallux.
Terjadinya kuku kuning ini mungkin berhubungan dengan produk akhir dari
glikosilasi, mirip dengan proses terjadinya warna kuning pada kulit diabetes,
meskipun hal ini belum dikonfirmasi ataupun bisa juga berhubungan dengan
gangguan mikrosirkulasi ke kuku dan matriks kuku.
MANIFESTASI KUTANEUS DARI KOMPLIKASI DIABETES
Diabetic foot atau kaki diabetes
Kaki diabetik adalah kelainan pada tungkai bawah yang merupakan komplikasi
kronik diabetes mellitus. Suatu penyakit pada penderita diabetes pada bagian kaki,
terjadi karena terjadinya kerusakan saraf, pasien tidak dapat membedakan suhu
panas dan dingin, rasa sakit pun berkurang. Diabetes yang menderita neuropati
dapat berkembang menjadi luka, parut, lepuh, atau luka karena tekanan yang tidak
disadari akibat adanya insensitivitas. Apabila cedera kecil ini tidak ditangani, maka
akibatnya dapat terjadi komplikasi dan menyebabkan ulserasi dan bahkan amputasi
Kaki diabetik disebabkan oleh neuropati ( berkurangnya sensasi rasa nyeri
setempat), sirkulasi darah dan tungkai yang menurun dan kerusakan endotel
pembuluh darah (Angiopaty) dan berkurangnya daya tahan tubuh terhadap infeksi.
Selain ketiga faktor diatas,ada faktor lain lain yang merupakan faktor resiko
terjadinya kaki diabetes, yaitu :
Faktor risiko demografis (usia, jenis kelamin, etnik, situasi sosial ), Faktor risiko
perilaku (ketrampilan manajemen diri sendiri sangat berkaitan dengan adanya

komplikasi kaki diabetik. Ini berhubungan dengan perhatian terhadap kerentanan.)


Faktor risiko lain (Ulserasi terdahulu (inilah faktor risiko paling utama dari ulkus),
Berat badan, Merokok
Diabetic gustatory sweating
Diabetic gustatory sweating adalah suatu keadaan patologik yang ditandai dengan
keluarnya keringat yang berlebihan saat makan yang tidak berhubungan dengan
udara panas ataupun akibat makanan yang pedas, keadaan ini disebabkan karena
adanya kerusakan pada urat syaraf di area wajah karena degenerasi aksonal saraf.
Urat syaraf menjadi terlalu sensitif dalam menerima rangsangan dan menghasilkan
keringat yang membanjir setiap kali makan.
Diabetic gustatory sweating ditandai dengan keringat seperti mengalir tanpa henti
dari wajah, leher, dan area batas tumbuh rambut di kepala. Keadaan ini
berhubungan dengan neuropaty dan nefropaty.
Pengobatan yang efektif terdiri dari antikolinergik oral, clonidine, dan topikal
glycopyrrolate. Gustatory sweating diabetic mungkin dapat mengatasi transplantasi
postrenal menunjukkan adanya etiologi peran nefropati.
Oral Lichen planus
Oral lichen planus merupakan penyakit inflamasi kronik yang terkait immune dimana
etiopathologinya belum diketahui secara pasti. Faktor seperti stres, latarbelakang
genetik, beberapamaterial dental, obat-obatan, agen penginfeksi, atau kaitannya
dengan kelainan system immune dikatakan sebagai pencetus dari lesi ini
Hubungan antara diabetes dan lichen planus khususnya oral lichen planus telah
banyak diteliti. Namun, sebagian besar studi dilakukan untuk meneliti prevalensi dari
diabetes milletus pada pasiendengan lichen planus namun tidak untuk sebaliknya.
Selain itu banyak penelitian yang dibuat tanpa membedakan tipe diabetesnya.
Dalam satu studi yang dilakukan oleh Petrou-Amerikanou et al didapatkan bahwa
prevalensi oral lichen planus lebih banyak ditemui pada pada pasien diabetes tipe
1dibanding control, namun tidak pada pasien diabetes tipe 2.
Secara klinis, oral lichen planus terlihat dalam bentuk garis putih retikular. Secara
klinis dan histopatologis lichen planus dan lesi lichenoid akibat reaksi obat sangat
sulit untuk dibedakan, meskipun demikian sejumlah besar eosinofil, parakeratosis
dan inflamasi perivaskuler di sekitar bagian tengah dan dalam pleksus kulit terlihat
pada lesi lichenoid akibat reaksi obat dan pada umumnya tidak pada lichenplanus.
Lesi oral lichen planus biasanya bilateral, dan atropic serta lesierosinya biasanya
sensitive dan terasa sangat sakit. Lesi ini lebihsering terlihat pada mukosa bukal,
lidah dan gingival serta jarang sekali terjadi di palatum, mukosa bibir,dan dasar
mulut.
KOMPLIKASI KULIT AKIBAT PENGOBATAN DIABETES MELITUS
Sulfonilurea yang hipoglikemik
Obat ini dapat menimbulkan reaksi alergi, misalnya pruritus, eritema, urtika, bahkan
dermatitis generalisata dengan debris. Biasanya reaksi timbul setelah 2-3 pekan.
Kadang-kadang timbul foto-sensitisasi (foto-dermatitis bulosa) atau purpura.
Generasi pertama sulfonil urea.

Kebanyakan reaksi kulit terhadap obat hipoglikemik oral telah dilaporkan dengan
generasi pertama sulfonilurea (misalnya, klorpropamid, tolbutamid [Orinase]).
Antara 1% dan 5% dari pasien yang meminum generasi pertama sulfonilurea
mengalami reaksi kulit dalam 2 bulan pertama pengobatan. Letusan makulopapular
adalah reaksi yang paling umum dan sering menghilang dengan penghentian obat.
Reaksi kulit lainnya adalah eritema umum, urtikaria, erupsi lichenoid, eritema
multiforme exsudativum, dermatitis eksfoliatif, eritema nodosum, dan reaksi
fotosensitifitas.
Generasi kedua sulfonil urea
Generasi kedua sulfonilurea seperti Glipizide (Glucotrol) dan glimepiride (Amaryl)
juga telah dikaitkan dengan reaksi kulit. Reaksi yang paling sering dikaitkan dengan
Glipizide yaitu photosensitivity, ruam, urtikaria, dan pruritus. Ini dilaporkan kurang
sering terjadi pada glimepiride.
Senyawa Biguanidin
Obat ini dapat menyebabkan reaksi-raksi dermatologik, tetapi jauh lebih jarang
daripada reaksi-reaksi dalam alat cerna.
Insulin
Obat ini dapat menyebabkan lipodistrofi, obesitas, reaksi-reaksi alergik (biasanya
urtika) atau kadang-kadang juga keloid. Lipodistrofi hipertrofi menimbulkan
penonjolan yang menyerupai lipoma tidak nyeri. Penonjolan akan menghilang dalam
beberapa pekan atau bulan, bila pemberian insulin dihentikan. Lipodistrofi atrofik
tampak sebagai kulit yang lekuk dan atrofik. Kelainan tersebut jarang mengalami
regresi spontan.
Alergi insulin mungkin bersifat lokal atau sistemik dan biasanya terjadi dalam bulan
pertama dari terapi insulin. Gambaran alergi lokal berupa Eritematosa atau nodul
pruritus, urtikaria pada tempat suntikan, mungkin muncul segera, dalam 15 menit
sampai 2 jam setelah injeksi, atau tertunda dengan onset 4 atau lebih jam setelah
injeksi. Gambaran reaksi alergi sistemik insulin dapat berupa utikaria umum dan
jarang terjadi syok anafilatik. Pada alergi lokal biasanya tidak memerlukan
pengobatan karena resolusi spontan, sedangkan alergi sistemik dapat diatasi
dengan penghentian insulin untuk bentuk lain dari terapi atau mungkin memerlukan
desensitisasi.
Metformin (Glucophage)
Obat antihyperglycemic biguanide-derivatif, adalah obat pilihan pertama oral pasien
diabetes tipe 2. Efek samping yang dilaporkan termasuk Dermal psoriatiform erupsi
obat, eritema multiforme exsudativum, dan vasculitis leukocytoclastic. Pedoman
Obat Letusan Litt ini memberikan risiko reaksi fotosensitifitas terhadap metformin
sebagai 1% sampai 10% tapi tidak ada referensi untuk mengutip pernyataan ini.
Eritema, eksantema, pruritus, urtikaria dan juga telah dilaporkan sebagai efek
samping dari metformin.
Acarbose (Precose)

Acarbose (Precose) adalah obat yang minimal diserap dari usus: hanya sekitar 1%
dari dosis mencapai aliran darah, dengan demikian jarang menyebabkan efek
samping.
menurut penelitian melaporkan kasus acarbose menyebabkan terjadinya eritema
multiforme. Obat-induced stimulasi limfosit dan uji tes patch untuk acarbose negatif.

2.1. Pityriasis versicolor


2.1.1. Definisi
Pityriasis versicolor
adalah infeksi jamur superfisial pada kulit yang disebabkan oleh Malassezia furfur
atau Pityrosporum orbiculare dan ditandai dengan adanya makula di kulit, skuama
halus dan disertai rasa gatal. Infeksi ini bersifat menahun, ringan dan biasanya tanpa
peradangan. Pityriasis versicolor biasanya mengenai wajah, leher, badan, lengan
atas, ketiak, paha, dan lipatan paha. (Madani A, 2000) Penyakit ini terutama terdapat
pada orang dewasa muda, dan disebabkan oleh ragi Malassezia, yang merupakan
komensal kulit normal pada folikel pilosebaseus. Ini merupakan kelainan yang biasa
didapatkan di daerah beriklim sedang, bahkan lebih sering lagi terdapat di daerah
beriklim tropis. Alasan mengapa multipikasi ragi tersebut sampai terjadi dan dapat
menimbulkan lesi kulit pada orangorang tertentu belum diketahui.(GrahamBrown,
2005)
2.1.2. Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah Malassezia furfur, yang dengan pemeriksaan
morfologi dan imunoflorensi indirek ternyata identik dengan Pityrosporum orbiculare.
(Madani A, 2000). Prevalensi Pityriasis versicolorlebih tinggi (50%) di daerah tropis
yang bersuhu hangat dan lembab. (Radiono, 2001)
2.1.3. Epidemiologi
Pityriasis versicolor
adalah penyakit universal tapi lebih banyak dijumpai
di daerah tropis karena tingginya temperatur dan kelembaban. Menyerang hampir
semua umur terutama remaja, terbanyak pada usia 1640 tahun. Tidak ada
perbedaan antara pria dan wanita, walaupun di Amerika Serikat dilaporkan bahwa
Universitas
Sumatera
Utara
6
penderita pada usia 2030 tahun dengan perbandingan 1,09% pria dan 0,6%
wanita. Insiden yang akurat di Indonesia belum ada, namun diperkirakan 4050%
dari populasi di negara tropis terkena penyakit ini, sedangkan di negara subtropis
yaitu Eropa tengah dan utara hanya 0,51% dari semua penyakit jamur. (Partogi,
2008)
Pityriasis versicolor
dapat terjadi di seluruh dunia, tetapi penyakit ini lebih
sering menyerang daerah yang beriklim tropis dan sub tropis. Di Mexico 50%
penduduknya menderita penyakit ini. Penyakit ini dapat terjadi pada pria dan
wanita, dimana pria lebih sering terserang dibanding wanita dengan perbandingan
3 : 2. (Amelia, 2011)
2
.1.4. Cara Penularan
Sebagian besar kasus
Pityriasis versicolor
terjadi karena aktivasi
Malassezia furfur
pada tubuh penderita sendiri (autothocus flora), walaupun
dilaporkan pula adanya penularan dari individu lain. Kondisi patogen terjadi bila
terdapat perubahan keseimbangan hubungan antara hospes dengan ragi sebagai
flora normal kulit. Dalam kondisi tertentu

Malassezia furfur
akan berkembang ke
bentuk miselial, dan bersifat lebih patogenik. Keadaan yang mempengaruhi
keseimbangan antara hospes dengan ragi tersebut diduga adalah faktor lingkungan
atau faktor individual. Faktor lingkungan diantaranya adalah lingkungan mikro
pada kulit, misalnya kelembaban kulit. Sedangkan faktor individual antara lain
adanya kecenderungan genetik, atau adanya penyakit yang mendasari misalnya
sindrom Cushing atau malnutrisi. (Radiono, 2001)
2.1.5. Patogenesis
Pityriasis versicolor
timbul bila
Malassezia furfur
berubah bentuk menjadi
bentuk miselia karena adanya faktor predisposisi, baik eksogen maupun endogen.
(Partogi, 2008)
1.
Faktor eksogen meliputi suhu, kelembaban udara dan keringat,
(Budimulja, 2001). Hal ini merupakan penyebab sehingga
Pityriasis
versicolor
banyak di jumpai di daerah tropis dan pada musim panas di
Universitas
Sumatera
Utara
7
daerah subtropis. Faktor eksogen lain adalah penutupan kulit oleh pakaian
atau kosmetik dimana akan mengakibatkan peningkatan konsentrasi CO2,
mikroflora dan pH. (Partogi, 2008)
2.
Sedangkan faktor endogen meliputi malnutrisi, dermatitis seboroik,
sindrom cushing, terapi imunosupresan, hiperhidrosis, dan riwayat
keluarga yang positif. Disamping itu bias juga karena Diabetes Melitus,
pemakaian steroid jangka panjang, kehamilan, dan penyakit penyakit
berat lainnya yang dapat mempermudah timbulnya
Pityriasis versicolor.
(Partogi, 2008)
Patogenesis dari makula hipopigmentasi oleh terhambatnya sinar matahari
yang masuk ke dalam lapisan kulit akan mengganggu proses pembentukan
melanin, adanya toksin yang langsung menghambat pembentukan melanin, dan
adanya asam azeleat yang dihasilkan oleh
Pityrosporum
dari asam lemak dalam
serum yang merupakan inhibitor kompetitf dari tirosinase. (Partogi, 2008)
2
.1.6. Diagnosa Banding
Diagnosa banding
Pityriasis versicolor
adalah :
a.
Dermatitis seboroik,

b.
Sifilis stadium II,
c.
Pityriasis rosea
,
d.
Psoriasis vulgaris
e.
Vitiligo,
f.
Morbus Hansen tipe Tuberkoloid,
g.
Eritrasma,
h.
Pityriasis Alba
i.
Hipopigmentasi pascainflamasi.
(Madani A, 2000)
.
2.1.7. Gambaran Klinis
Kelainan kulit
Pityriasis versicolor
sangat superfisial dan ditemukan
terutama di badan. Kelainan ini terlihat sebagai bercakbercak berwarnawarni,
bentuk tidak teratur sampai teratur, batas jelas sampai difus. Bercakbercak
Universitas
Sumatera
Utara
8
tersebut berfluoresensi bila dilihat dengan lampu Wood. Bentuk papulovesikular
dapat terlihat walaupun jarang. Kelainan biasanya asimtomatik sehingga
adakalanya penderita tidak mengetahui bahwa ia berpenyakit tersebut.
(Budimulja, 2002)
Kadangkadang penderita dapat merasakan gatal ringan, yang merupakan
alasan berobat. Pseudoakromia, akibat tidak terkena sinar matahari atau
kemungkinan pengaruh toksis jamur terhadap pembentukan pigmen, sering
dikeluhkan penderita. (Budimulja, 2002). Penderita pada umumnya hanya
mengeluhkan adanya bercak/makula berwarna putih (hipopigmentasi) atau
kecoklatan (hiperpigmentasi) dengan rasa gatal ringan yang umumnya muncul
saat berkeringat, (Radiono, 2001).
Bentuk lesi tidak teratur dapat berbatas tegas atau difus. Sering didapatkan
lesi bentuk folikular atau lebih besar, atau bentuk numular yang meluas
membentuk plakat. Kadangkadang dijumpai bentuk campuran, yaitu folikular
dengan numular, folikular dengan plakat ataupun folikular, atau numular dan
plakat. (Madani A, 2000)
Pada kulit yang terang, lesi berupa makula cokelat muda dengan skuama
halus di permukaan, terutama terdapat di badan dan lengan atas. Kelainan ini
biasanya bersifat asimtomatik, hanya berupa gangguan kosmetik. Pada kulit gelap,
penampakan yang khas berupa bercakbercak hipopigmentasi. Hilangnya pigmen
diduga ada hubungannya dengan produksi asam azelaik oleh ragi, yang

menghambat tironase dan dengan demikian mengganggu produksi melanin. Inilah


sebabnya mengapa lesi berwarna cokelat pada kulit yang pucat tidak diketahui.
Variasi warna yang tergantung pada warna kulit aslinya merupakan sebab
mengapa penyakit tersebut dinamakan
Versicolor
. (GrahamBrown, 2005)
2
.1.8. Diagnosis
Selain mengenal kelainankelainan yang khas yang disebabkan oleh
Malassezia fulfur
diagnosa
Pityriasis versicolor
harus dibantu dengan
pemeriksaanpemeriksaan sebagai berikut:
1.
Pemeriksaan langsung dengan KOH 10%.
Universitas
Sumatera
Utara
9
Pemeriksaan ini memperlihatkan kelompokan sel ragi bulat berdinding
tebal dengan miselium kasar, sering terputusputus (pendekpendek), yang akan
lebih mudah dilihat dengan penambahan zat warna tinta Parker blueblack atau
biru laktafenol. Gambaran ragi dan miselium tersebut sering dilukiskan sebagai
meat ball and spaghetti
. (Radiono, 2001).
Bahanbahan kerokan kulit diambil dengan cara mengerok bagian kulit
yang mengalami lesi. Sebelumnya kulit dibersihkan dengan kapas alkohol 70%,
lalu dikerok dengan skalpel steril dan jatuhannya ditampung dalam lempeng
lempeng steril pula. Sebagian dari bahan tersebut diperiksa langsung dengan
KOH% yang diberi tinta Parker Biru Hitam, Dipanaskan sebentar, ditutup dengan
gelas penutup dan diperiksa di bawah mikroskop. Bila penyebabnya memang
jamur, maka kelihatan garis yang memiliki indeks bias lain dari sekitarnya dan
jarak jarak tertentu dipisahkan oleh sekatsekat atau seperti butirbutir yang
bersambung seperti kalung. Pada
Pityriasis versicolor
hifa tampak pendek
pendek, bercabang, terpotongpotong, lurus atau bengkok dengan spora yang
berkelompok. (Trelia, 2003)
2.
Pemeriksaan dengan Sinar Wood
Pemeriksaan dengan Sinar Wood,dapat memberikan perubahan warna
pada seluruh daerah lesi sehingga batas lesi lebih mudah dilihat. Daerah yang
terkena infeksi akan memperlihatkan fluoresensi warna kuning keemasan sampai
orange. (Trelia, 2003)
2
.1.9. Pengobatan
Pengobatan
Pityriasis versicolor
dapat diterapi secara topikal maupun

sistemik. Tingginya angka kekambuhan merupakan masalah, dimana mencapai


60% pada tahun pertama dan 80% setelah tahun kedua. Oleh sebab itu diperlukan
terapi, profilaksis untuk mencegah rekurensi:
Universitas
Sumatera
Utara
11
kedaan yang bertahan lama ini janganlah dianggap sebagai suatu kegagalan
pengobatan. (GrahamBrown, 2005)
2
.1.10. Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya Pityriasis versicolor dapat disarankan
pemakaian 50% propilen glikol dalam air untuk pencegahan kekambuhan. Pada
daerah endemik dapat disarankan pemakaian ketokonazol 200 mg/hari selama 3
bulan atau itrakonazol 200 mg sekali sebulan atau pemakaian sampo selenium
sulfid sekali seminggu. (Radiono, 2001)
Untuk mencegah timbulnya kekambuhan, perlu diberikan pengobatan
pencegahan, misalnya sekali dalam seminggu, sebulan dan seterusnya. Warna
kulit akan pulih kembali bila tidak terjadi reinfeksi. Pajanan terhadap sinar
matahari dan kalau perlu obat fototoksik dapat dipakai dengan hatihati, misalnya
oleum bergamot atau metoksalen untuk memulihkan warna kulit tersebut.
(Madani A, 2000)
2.1.11.
Prognosis
Prognosisnya baik dalam hal kesembuhan (Radiono, 2001) bila
pengobataan dilakukan menyeluruh, tekun dan konsisten. Pengobatan harus di
teruskan 2 minggu setelah fluoresensi negatif dengan pemeriksaan lampu Wood
dan sediaan langsung negatif. (Partogi, 2008)