Anda di halaman 1dari 7

Faktor yang Mempengaruhi Ketidakstabilan Lereng

Faktor-faktor penyebab lereng rawan longsor meliputi faktor internal(dari tubuh lereng
sendiri) maupun faktor eksternal (dari luar lereng), antara lain: kegempaan, iklim (curah hujan),
vegetasi, morfologi, batuan/tanah maupun situasi setempat (Anwar dan Kesumadharma, 1991;
Hirnawan, 1994), tingkat klembaban tanah (moisture), adanya rembesan, dan aktifitas geologi
seperti patahan (terutama yang masih aktif), rekahan dan liniasi (Sukandar, 1991). Proses
eksternal penyebab longsor yang dikelompokkan oleh Brunsden (1993, dalam Dikau et.al., 1996)
diantaranya adalah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Pelapukan (fisika, kimia dan biologi)
Erosi
penurunan tanah (ground subsidence)
deposisi (fluvial, glasial dan gerakan tanah)
getaran dan aktivitas seismic
jatuhan tepra
perubahan rejim air
Pelapukan dan erosi sangat dipengaruhi oleh iklim yang diwakili olehkehadiran hujan di

daerah setempat, curah hujan kadar air (water content; %) dan kejenuhan air (saturation; Sr, %).
Pada beberapa kasus longsor, hujan sering sebagai pemicu karena hujan meningkatkan kadar air
tanah yang menyebabkan kondisi fisik/mekanik material tubuh lereng berubah. Kenaikan kadar
air akan memperlemah sifat fisik-mekanik tanah dan menurunkan Faktor Kemanan lereng.
Penambahan beban di tubuh lereng bagian atas (pembuatan/peletaka bangunan, misalnya
dengan membuat perumahan atau villa di tepi lereng atau di puncak bukit) merupakan tindakan
beresiko mengakibatkan longsor. Demikian juga pemotongan lereng pada pekerjaan cut &fill,
jika tanpa perencanaan dapat menyebabkan perubahan keseimbangan tekanan pada lereng.
Penyebab lain dari kejadian longsor adalah gangguan-gangguaninternal, yaitu yang
datang dari dalam tubuh lereng sendiri terutama karena ikutsertanya peranan air dalam tubuh
lereng; Kondisi ini tak lepas dari pengaruh luar, yaitu iklim yang diwakili oleh curah hujan.
Jumlah air yang meningkat dicirikan oleh peningkatankadar airtanah, derajat kejenuhan, atau
muka airtanah.Kenaikan air tanah akan menurunkan sifat fisik dan mekanik tanah dan
meningkatkan tekanan pori (m) yang berarti memperkecil ketahananan geser dari massa lereng
(lihat rumus Faktor Keamanan). Debit air tanah juga membesar dan erosi di bawah permukaan

Kondisi tersebut menyebabkan berubahnya keseimbangan tekanan dalam tubuh lereng. 1996) dan di Sindangwanggu. Gempa atau Getaran Banyak kejadian longsor terjadi akibat gempa bumi. 1985) akibat getaran dan di Cadas Pangeran. Hujan dapat meningkatkan kadar air dalam tanah dan lebih jauh akan menyebabkan kondisi fisik tubuh lereng berubah-ubah. Gempa bumi Tes di Sumatera Selatan tahun 1952 dan di Wonosobo tahun 1924. Kenaikan kadar air tanah akan memperlemah sifat fisik-mekanik tanah (mempengaruhi kondisi internal tubuh lereng) dan menurunkan Faktor Kemanan lereng. %). Gempa di India dan Peru (2000) juga menyebabkan longsor. Ketidakseimbangan Beban di Puncak dan di Kaki Lereng Beban tambahan di tubuh lereng bagian atas (puncak) mengikutsertakan peranan aktifitas manusia.(piping atau subaqueous erosion) meningkat. lebih jauh ketahanan massa tanah akan menurun.Kondisi lingkungan geologi fisik sangat berperan dalam kejadian gerakan tanah selain kurangnya kepedulian masyarakat karena kurang informasi ataupun karena semakin merebaknya pengembangan wilayah yang mengambil tempat di daerah yang mempunyai masalah lereng rawan longsor. w. C. Di jalur keretaapi Jakarta-Yogyakarta dekat Purwokerto tahun 1947 (Pangular. terutamamemandang aspek estetika belaka.. 1990). getaran kendaraan pun ikut ambil bagian dalam kejadian longsor. juga di Assam 27 Maret 1964 menyebabkan timbulnya tanah longsor (Pangular. 1989. Vegetasi / Tumbuh-tumbuhan . Majalengka tahun 1990 (Soehaimi. selain morfologi dan sifat fisik/mekanik material tanah lapukan breksi. 1985). Sr. Irian Jaya tahun 1987 (Siagian. Demikian juga di Jayawijaya. D. Cuaca / Iklim Curah hujan sebagai salah satu komponen iklim. maka keamanan lerengakan menurun. B. A. misalnya dengan membuat perumahan (real estate) atau villa di tepi-tepi lereng atau di puncakpuncak bukit merupakan tindakan ceroboh yang dapat mengakibatkan longsor. et.Pendirian atau peletakan bangunan. Akibatnya lebih banyak fraksi halus (lanau) dari masa tanah yang dihanyutkan. dalam Tadjudin. Sumedang bulan April. akan mempengaruhi Kadar air (water content. %) dan kejenuhan air (Saturation.Sejalan dengan kenaikan beban di puncak lereng.al. 1995.

Naiknya Muka Airtanah Kehadiran air tanah dalam tubuh lereng biasanya menjadi masalah bagikestabilan lereng. Penyebab lain dari kejadian longsor adalah gangguan internal yang datang dari dalam tubuh lereng sendiri terutama karenaikutsertanya peranan air dalam tubuh lereng.Akibatnya lebih banyak fraksi halus (lanau) dari masa tanah yang dihanyutkan. Bentuk lereng bergantung pada proses erosi juga gerakan tanah dan pelapukan. atau muka airtanah. dimana kedua bagian tersebut besar pengaruhnya terhadap penilaian suatu bahan kritis.Letak atau posisi penutup tanaman keras dan kerapatannya mempengaruhi Faktor Keamanan Lereng. kimia dan biologi. Salah satunya dengan menbuat Peta Kemiringan Lereng (Peta Kelas Lereng). E. yaitu iklim (diwakili oleh curah hujan) yang dapat meningkatkan kadar air tanah.Hilangnya tumbuhan penutup.Penghanyutan makin meningkat dan akhirnya terjadilah longsor. terutama pada material tanah (soil). derajat kejenuhan. Kemiringan Lereng Lereng adalah kenampakan permukan alam disebabkan adanya beda tinggi apabila beda tinggi dua tempat tesebut di bandingkan dengan jarak lurus mendatar sehingga akan diperoleh besarnya kelerengan. Bila dimana suatu lahan yang lahan dapat merusak lahan secara fisik. sehingga akan membahayakan hidrologi produksi pertanian dan pemukiman. Penanaman vegetasi tanaman keras di kaki lereng akan memperkuat kestabilan lereng. Leeng merupakan parameter topografi yang terbagi dalam dua bagian yaitu kemiringan lereng dan beda tinggi relatif.Dalam kondisi tersebut berperan pula faktor erosi. sebaliknya penanaman tanaman keras di puncak lereng justru akan menurunkan Faktor Keamanan Lereng sehingga memperlemah kestabilan lereng. dapat menyebabkan alur-alur padabeberapa daerah tertentu. Kondisi ini tak lepas dari pengaruh luar. Dengan pendekatan rumus “Went-Worth” yaitu pada peta topografi yang menjaadi dasar pembuatan peta kemiringan lereng dengan dibuat . Kenaikan muka air tanah meningkatkan tekanan pori (m) yang berarti memperkecil ketahanan geser dari massa lereng. Kenaikan muka air tanah juga memperbesar debit air tanah dan meningkatkan erosi di bawah permukaan (piping atau subaqueous erosion). Kehadiraran air tanah akan menurunkan sifat fisik dan mekanik tanah. ketahanan massa tanah akan menurun.

Dengan mengetahui jumlah konturnya dan perbedaan tinggi kontur yang memotong garis horizontal tersebut. Bentuk lereng cekung. 1. Berbagai Cara Analisis Kestabilan Lereng . Metode Lingkaran. b. 2. biasanya terjadi pada daerah-daerah lereng vulkanik yang disusun oleh material-material vulkanik halus atau bidang longsoran (landslide). 3. Bentuk lereng lurus. Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV Kelas V =<8% = 8 – 15 % = > 15 – 25 % = > 25 – 45 % = > 45 % Bentuk lereng merupakan cerminan proses geomorfologi eksogen atau endogen yang berkembang pada suatu daerah dan secara garis besar dapat dibedakan menjadi : Bentuk lereng cembung. Metode wentworth. biasanya terjadi pada daerah-daerah yang disusun oleh materialmaterial batuan lunak atau bidang longsoran (slump). A.grid atau jaring-jaring berukuran 1 cm kemudian masing-masing bujur sangkar dibuat garis horizontal. e. Menggunakan Kompas Geologi Kelas Kemiringan Lereng antara lain: a. Bentuk lereng lurus. c. Bentuk lereng cekung. d. dapat ditentukan : kemiringan atau sudut lereng dengan menggunakan rumus S (%)=[((n-1)×Ci)/(D ×Ps)] Mencari Kontur Interval dengan menggunakan rumus Ci=1/2000×Ps Mencari Panjang Diagonal dengan menggunakan rumus D² = √(a^2+b^2 ) Dalam mengukur kemiringan lereng dapat dilakukan dengan cara: Metode Blong (1972). Bentuk lereng cembung. biasanya terjadi pada daerah-daerah yang disusun oleh material-material batuan yang relatif keras atau sisa-sisa gawir sesar atau bidan longsoran (mass wasting) yang telah tererosi pada bagian tepi atasnya.

Cara Fellenius dan Bishop menghitung Faktor Keamanan lereng dan dianalisis kekuatannya. cara komputasi dan . Stereonet. Cara pengamatan visual adalah cara dengan mengamati langsung di lapangan dengan membandingkan kondisi lereng yang bergerak atau diperkirakan bergerak dan yang yang tidak. 3. 1989). 3.Cara ini dipakai bila tidak ada resiko longsor terjadi saat pengamatan.Hubungan Nilai Faktor Keamanan Lereng dan Intensitas Longso : NILAI FAKTOR KEAMANAN KEJADIAN / INTENSITAS LONGSOR F kurang dari 1. 2. cara grafik (Pangular. meningkat sejalan peningkatan konsolidasi (sejalan dengan waktu) atau dengan kedalaman d.07 Longsor terjadi biasa/sering (lereng F antara 1. Cousins dan Morganstren). cara ini memperkirakan lereng labil maupun stabil dengan memanfaatkan pengalaman di lapangan. efektif untuk beberapa kasus pembebanan c.25 labil) Longsor pernah terjadi (lereng kritis) . Cara ini dilakukan untuk material homogen dengan struktur sederhana. Cara grafik adalah dengan menggunakan grafik yang sudah standar (Taylor. berkurang dengan meningkatnya kejenuhan air (sejalan dengan waktu) atau terbentuknya tekanan pori yang berlebih atau terjadi peningkatan air tanah. Janbu. Sarma. Berdasarkan penelitian-penelitian yang dilakukan dan studi-studi yang menyeluruh tentang keruntuhan lereng. tergantung dari pengalaman seseorang. Material yang heterogen (terdiri atas berbagai lapisan) dapat didekati dengan penggunaan rumus (cara komputasi). Tabel 2.Cara analisis kestabilan lereng banyak dikenal. sperti yang diperlihatkan pada Tabel. Cara komputasi adalah dengan melakukan hitungan berdasarkan rumus (Fellenius. Cara ini kurang teliti. misalnya diagram jaring Schmidt (Schmidt Net Diagram) dapat menjelaskan arah longsoran atau runtuhan batuan dengan cara mengukur strike/dip kekar-kekar (joints) dan strike/dip lapisan batuan. 1985) sebagai berikut : 1. maka dibagi 3 kelompok rentang Faktor Keamanan (F) ditinjau dari intensitas kelongsorannya (Bowles. Bishop modified dan lain-lain). Dalam menghitung besar faktor keamanan lereng dalam analisis lereng tanah melalui metoda sayatan. Bishop. tetapi secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu: 1. pada dasarnya kunci utama gerakan tanah adalah kuat geser tanah yang dapat terjadi : a. hanya longsoran yang mempunyai bidang gelincir saya yang dapat dihitung. Janbu. tak terdrainase b. cara pengamatan visual 2. Hoek & Bray.07 sampai 1. Menurut Bowles (1989).Cara ini mirip dengan memetakan indikasi gerakan tanah dalam suatu peta lereng.

Pemotongan lereng atau cut. merupakan kajian yang paling baik untuk mengenal kondisi suatu lereng. mencegah dan menanggulangi dampak negatif serta meningkatkan dampak positif.Kendati demikian. b. Upaya Pengelolaan Lingkungan Pengelolan lingkungan dimaksudkan untuk mengurangi.F diatas 1. dan sebagainya. . Membuat ‘bronjong’. Mengurangi beban di puncak lereng dengan cara : Pemangkasan lereng. biasanya digabungkan dengan pengisian/pengurugan atau fill di kaki lereng. Menanam vegetasi dengan daun lebar di puncak-puncak lereng sehingga evapotranspirasi meningkat. b.Diharapkan mengenai lereng rawan longsor dapat dikenal lebih jauh lagi sehingga dapat mengantisipasi kekuatan dan keruntuhan suatu lereng. Kadar airtanah dan mua air tanah biasanya muncul pada musim hujan. Pembuatan undak-undak. penanaman vegetasi dan kondisi kegempaan/getaran terhadap tubuh lereng. tidak semua faktor-faktor tersebut dapat dikendalikan kecuali dikurangi. batu-batu bentuk menyudut diikatkan dengan kawat. peletakan beban. pencegahan dengan cara : a. Air hujan yang jatuh akan masuk ke tubuh lereng (infiltrasi). Membuat beberapa penyalir air (dari bambu atau pipa paralon) di kemiringan lereng dekat ke kaki lereng. dan sebagainya. bentuk angular atau menyudut lebih kuat dan tahan lama dibandingkan dengan bentuk bulat. Infiltrasi dikendalikan dengan cara tersebut.Kajiannya didasari pula oleh studi kelayakan teknik atau studi geologi yang mencakup geologi teknik. dinding penahan atau retaining wall harus didesain terlebih dahulu). c. Menambah beban di kaki lereng dengan cara : Menanam tanaman keras (biasanya pertumbuhannya cukup lama).Dengan demikian pendekatan dalam menangani lereng rawan longsor selain didasari oleh hasil rekomendasi studi kelayakan teknik atau studi geologi. sehingga muka air tanah turun. Secara umum pencegahan/penanggulangan lereng longsor adalah mencoba mengendalikan faktor-faktor penyebab maupun pemicunya. Membuat dinding penahan (bisa dilakukan relatif cepat. Pengaruh kenaikan kadar air. mekanika tanah dan hidrogeologi. juga didasari pula oleh pengelolaan lingkungannya. d. Gunanya adalah supaya muka air tanah yang naik di dalam tubuh lereng akan mengalir ke luar.25 Longsor jarang terjadi (lereng relatif stabil) B. D. Hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan kondisi fisik dan mekanik perlu diketahui pula. Mencegah lereng jenuh dengan airtanah atau mengurangi kenaikan kadar air tanah di dalam tubuh lereng. C. Beberapa cara pencegahan atau upaya stabilitas lereng a.

Cara yang sama untuk mengurangi pemasukan atau infiltrasi air hujan ke tubuh lereng. Peliputan rerumputan. selain itu peliputan rerumputan jika disertai dengan desain drainase juga akan mengendalikan run-off. E. .Penanaman vegetasi dan peliputan rerumputan juga mengurangi air larian (run-off) sehingga erosi permukaan dapat dikurangi.c. Mengendalikan air permukaan Mengendalikan air permukaan dengan cara membuat desain drainase yang memadai sehingga air permukaan dari puncak-puncak lereng dapat mengalir lancar dan infiltrasi berkurang.