Anda di halaman 1dari 29

Laporan kasus ruangan

Vertigo Vestibular
Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas dalam Menjalani Kepaniteraan Klinik Senior
pada Bagian Saraf Fakultas Kedokteran Unsyiah
Oleh:
Izza Chairani
1407101030107
Pembimbing:
dr. Farida, Sp.S (K)

BAGIAN ILMUSARAF
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
RSUD dr. ZAINOEL ABIDIN ACEH
BANDA ACEH
2015

1

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan tugas presentasi kasus yang
berjudul “Vertigo Vestibular”. Shalawat dan salam penulis haturkan kepada Nabi
Muhammad SAW. yang telah membimbing umat manusia dari alam kegelapan ke
alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Penyusunan presentasi kasus ini disusun sebagai salah satu tugas dalam
menjalaniKepaniteraan Klinik Senior pada Bagian/SMF Ilmu Saraf RSUD dr.
Zainoel Abidin Fakultas Kedokteran Unsyiah Banda Aceh.
Ucapan terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kepadadr.
Farida, Sp.S (K) yang telah bersedia meluangkan waktu membimbing penulis
dalam penulisan kasus ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada para
sahabat dan rekan-rekan yang telah memberikan doronganmoral dan materil
sehingga tugas ini dapat selesai.
Akhir kata penulis berharap semoga laporan kasus ini dapat menjadi
sumbangan pemikiran dan memberikan manfaat bagi semua pihak khususnya
bidang kedokteran dan berguna bagi para pembaca dalam mempelajari dan
mengembangkan ilmu kedokteran pada umumnya dan ilmu saraf pada khususnya.
Semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita
semua, Amin.

Banda Aceh,21 Agustus 2015

Penulis

2

Setelah kecelakaan tersebut. Bila keluhan timbul.LAPORAN KASUS 1. RekamMedik : 1-05-75-34 Tanggal Pemeriksaan : 18 Agustus 2015 2. Pusing berputar sering kali mengganggu tidur dan menyebabkan pasien sulit untuk tidur. Identitas Pasien Nama : Tn. AR Umur : 46 tahun Alamat : Keuneukai Sukajaya Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Islam Suku : Aceh Pekerjaan : Pedagang No. pasien sempat tidak sadarkan diri selama kurang lebih tiga jam dan dirawat di RS Sabang. Keluhan ini bermula setelah pasien mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kepala pasien terbentur aspal. pasien merasakan seluruh benda disekitar berputar mengelilinginya. Pusing dirasakan bila pasien menggerakkan kepala ke segala arah. Pusing memberat bila pasien menggerakkan kepala secara tiba-tiba seperti saat pasien bangun dari tidur atau menolehkan dengan cepat dan berkurang bila pasien tidak menggerakkan kepala atau kepala tetap bertahan pada posisi tertentu. Pasien sempat sadar 3 . Anamnesis  Keluhan Utama Pusing berputar   Keluhan Tambahan - Nyeri kepala - Mual dan muntah Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan keluhan pusing berputar yang dirasakan sejak 1 bulan SMRS.

 Riwayat Pengobatan Pasien pernah dirawat di RS Sabang dan RSUD ZA sebelumnya. Tidak hanya itu. namun kembali tidak sadarkan diri hingga dirujuk ke RSUD ZA. kesadaran pasien mulai membaik. Terdapat riwayat mual dan muntah sebanyak satu kali setelah pasien mengalami kecelakaan.  Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada di keluarga pasien yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien.  Riwayat Penyakit Dahulu Pasien tidak memiliki riwayat trauma kepala kurang lebih satu bulan SMRS dan pasien sempat dirawat di RS Sabang dan RSUD ZA oleh karena penurunan kesadaran. Pasien juga mengeluhkan kelopak mata kanan sulit menutup dan mulut pasien miring ke kiri. 3.beberapa jam. Selama perawatan di RSUD ZA. pasien juga mengaku telinga kiri pasien mengeluarkan cairan kemerahan dan pasien sesekali sulit mendengar suara sekitar.8oC Kepala Bentuk : normocephali Wajah : simetris Mata Konjungtiva : Pucat (-/-) Sklera : Ikterik (-/-) 4 . Pemeriksaan Fisik  Pemeriksaan Umum Keadaan Umum : Kesan sakit ringan Tekanan Darah : 130/80 mmHg Nadi : 84x/menit Pernafasan : 20x/menit Suhu : 36.

Kedudukan bola mata : ortoforia/ortoforia Pupil : isokor 5mm:5mm Refleks cahaya langsung : (-/-) Refleks cahaya tidak langsung : (-/-) Telinga Selaput pendengaran : intak/perforasi Lubang : lapang Penyumbatan : -/- Serumen : +/+ Perdarahan : -/- Cairan : -/- Mulut Bibir : Sianosis (-) Lidah : Tremor (-). deviasi (-) KGB : Pembesaran (-) Kelenjar Tiroid : Pembesaran (-) Kelenjar Limfe : Pembesaran (-) Thoraks Inspeksi :Simetris (+/+) Palpasi : Stem Fremitus Lapangan Paru Atas Lapangan Paru Tengah Lapangan Paru Bawah ParuKanan Stem Fremitus Normal Stem Fremitus Normal Stem Fremitus Normal Perkusi: 5 ParuKiri Stem Fremitus Normal Stem Fremitus Normal Stem Fremitus Normal . papil atrofi (-) Tonsil : Dalam batas normal Faring : Dalam batas normal Leher Trakhea : Terletak ditengah. hiperemis (-).

Wh (-) ParuKiri Rh (-). Wh (-) Rh (-). Wh (-) Auskultasi : Thorak Belakang Inspeksi : Simetris Palpasi : Stem Fremitus Lapangan Paru Atas Lapangan Paru Tengah Lapangan Paru Bawah Perkusi: LapanganParu Lapangan Paru Atas Lapangan Paru Tengah Lapangan Paru Bawah Auskultasi: 6 .LapanganParu Lapangan Paru Atas Lapangan Paru Tengah Lapangan Paru Bawah ParuKanan Sonor Sonor Sonor ParuKiri Sonor Sonor Sonor Suara Nafas Utama Lapangan Paru Atas Lapangan Paru Tengah Lapangan Paru Bawah Paru Kanan Vesikuler Vesikuler Vesikuler Paru Kiri Vesikuler Vesikuler Vesikuler SuaraNafasTambahan Lapangan Paru Atas Lapangan Paru Tengah Lapangan Paru Bawah ParuKanan Rh (-). Wh (-) Rh (-). Wh (-) ParuKanan Normal Normal Normal ParuKiri Normal Normal Normal ParuKanan Sonor Sonor Sonor ParuKiri Sonor Sonor Sonor Suara Nafas Pokok Lapangan Paru Atas LapanganParu Tengah LapanganParuBawah ParuKanan Vesikuler Vesikuler Vesikuler ParuKiri Vesikuler Vesikuler Vesikuler Suara Nafas Tambahan Lapangan Paru Atas Lapangan Paru Tengah Lapangan Paru Bawah ParuKanan Rh (-). Wh (-) Rh (-). Wh (-) Rh (-). Wh (-) ParuKiri Rh (-). Wh (-) Rh (-). Wh (-) Rh (-). Wh (-) Rh (-). Wh (-) Rh (-).

RCTL (+/+) TRM : Kaku Kuduk (-) NervusKranialis NervusCranialis Kanan Kiri 7 . pucat (-/-)  Status Neurologis Kesadaran : E4M6V5 Mata : Pupil Isokor. bising (-) Abdomen Inspeksi : Simetris (+). reguler (-). 1 jari medial Linea Mid Clavikula Sinistra - Batas Jantung Kanan : ICS IV Linea Para Sternal Dextra Auskultasi :BJ I > BJ II. ukuran 3mm/3mm RCL (+/+). distensi (-) Palpasi : Soepel (+). nyeri tekan (-) Hati : Tidak teraba Limpa : Tidak teraba Ginjal : Ballottement (-/-) Perkusi : Timpani(+) Auskultasi : Bising usus (+) normal Ekstremitas Edema (-/-) . massa (-).Jantung Inspeksi : Iktus cordis terlihat LMCS 1 jari ke medial Palpasi : Iktus cordis teraba di ICS V LMCS 1 jari ke medial Perkusi - Batas Jantung Atas : Sela iga III sinistra - Batas Jantung Kiri : ICS V. bulat.

Nervus I Fungsi Penciuman Nervus II Visus Lapangan Pandang Melihat warna Nervus III Ukuran Bentuk Pupil Reflek Cahaya Nistagmus Strabismus Nervus III. IV. VI Lateral negatif posit Atas Bawah Medial Diplopia Nervus V Membuka Mulut Menggigit dan mengunyah Nervus VII Mengerutkan dahi Menutup Mata Menggembungkan pipi Memperlihatkan gigi Sudut bibir Nervus VIII Pendengaran Nervus IX dan X Bicara Reflek menelan Nervus XI Mengangkat bahu Memutar kepala Nervus XII Artikulasi lingualis Posisi lidah didalam Negatif Negatif 5/5 Dalam batas normal Dalam batas normal 5/5 Dalam batas normal Dalam batas normals 5mm Bulat Negatif Negatif Negatif 5mm Bulat Negatif Negatif Negatif Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Tidak ada Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Tidak ada Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Berkurang Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal mulut Menjulurkan lidah Dalam batas normal Koordinasi dan Keseimbangan 8 .

- Romberg Test : Badan menjauhi garis tengah saat menutup mata - Tandem Gait : Jalan menyimpang - Uji Enterberger : Menyimpang kearah kiri - Past-Pointing Test : Lengan menyimpang kearah kiri Badan Motorik Gerakan Respirasi : abdomino torakal Vertebralis: simetris Bentuk Columna Vertebralis : kesan simetris Sensibilitas Rasa Suhu : normal Rasa nyeri : normal Rasa Raba : normal Anggota Gerak Atas Motorik Kanan Kiri Pergerakan Kuat Kuat Kekuatan 5555 5555 Tonus positif positif Refleks Kanan Kiri Bisceps positif positif Trisceps positif positif Motorik Kanan Kiri Pergerakan Kuat Kuat Kekuatan 5555 5555 Anggota Gerak Bawah 9 .

9x106/mm3 11.1 g/dL 34% 4.8x103/mm3 145x103/mm3 0/0/85/11/4 Foto Thorax (25/6/2015) 10 CT BT KGDS Ureum Kreatinin 8’ 2’ 126 mg/dL 33 mg/dL 0.Tonus positif positif Kanan Kiri Patella positif positif Achilles positif positif Babinski negatif negatif Chaddok negatif negatif Gordon negatif negatif Oppenheim negatif negatif Klonus pada kaki negatif negatif Sensibilitas Rasa Suhu : Dalam batas normal Rasa nyeri : Dalam batas normal Rasa Raba : Dalam batas normal FungsiAutonom BAB dan BAK lancar 4. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium (25/6/2015) Hemoglobin Hematocrit Eritrosit Leukosit Trombosit Diftel 11.64 mg/dL .

CT Scan (4/7/2015) 11 .

Terapi (30/6/2015) a.Interpretasi : Thorax : Cor dan pulmo tidak tampak kelainan CT Scan Temporal Tanpa Kontras : Densitas di air cell mastoid kiri disertai fraktur di os mastoid tersebut 5. Diagnosis Diagnosa klinis : Vertigo vestibular tipe sentral Diagnosa etiologi : nervus vestibular sinistra Diagnosa topis : fraktur os mastoid sinistra Diagnosa patologis : 6. 12 . Suportif Menurunkan tekanan intrakranial :  Head up 30o-45o dengan tujuan untuk memperbaiki aliran balik vena.

Medikamentosa  Atasi peningkatan TIK dengan pemberian kortikosteroid untuk mengurangi edema serebri: injeksi dexamethasone 1 amp/12 jam.  Atasi nyeri sentral dengan pemberian parasetamol 3x500 mg. Terapi oksigen 2-4 L. monitoring nyeri dengan skala VAS. target VAS <4. namun pasien menolak untuk dilakukan tindakan removal tumor. Prognosis Quo ad vitam Quo ad Functionam Quo ad Sanactionam : Dubia ad Bonam : Dubia ad Bonam : Dubia ad Bonam 13 . Tujuan pemberian anti kejang juga merupakan terapi untuk penurunan TIK.  Atasi kejang dengan pemberian Fenitoin 3x100 mg. Kekurangan oksigen akan menyebabkan terjadinya metabolisme anaerob. sehingga akan terjadi metabolisme tidak lengkap yang akan menghasilkan asam laktat sebagai sisa metabolisme. Peninggian asam laktat di otak akan menyebabkan terjadinya asidosis laktat.  Pemberian cairan ringer laktat 20 gtt/menit untuk mempertahankan MAP  Awasi tanda-tanda vital. sebaliknya tekanan darah terlalu rendah akan mengakibatkan iskemia otak dan akhirnya juga akan menyebabkan edema dan peningkatan TIK. c. Operatif : Removal tumor. bila tekanan darah yang sangat tinggi dapat menyebabkan edema serebral. 7. b. selanjutnya akan terjadi edema otak dan peningkatan TIK.

Gejala primer yang dapat terjadi seperti vertigo atau sensasi berputar. Rata-rata kejadian vertigo terjadi pada usia 18-79 tahun. pasien mengeluh kepala pusing dengan sensai berputar. penurunan pendengaran.8% pada dewasa muda sampai 30% pada orang tua. Beberapa gejala yang dikeluhkan pasien tersebut sesuai dengan kepustakaan yang 14 . dan angka kejadian vertigo semakin meningkat sesuai dengan peningkatan umur.7. sementara kejadian pusing disertai rasa berputar sebanyak 5-10%. Pada kasus ini. Gejala sekunder dapat berupa mual. sakit kepala dan sensitivitas visual. Insiden kejadian pusing sebanyak 1. dimana seluruh benda di sekitar mengelilingi pasien. Vertigo seringkali dibarengi dengan keluhan pusing (dizziness). dan dapat pula berupa gangguan pada pendengaran seperti tinnitus atau pengurangan pedengaran. Pada kasus ini pasien berjenis kelamin laki-laki dan berusia 46 tahun. sekunder dan nonspesifik. mual dan muntah. Insiden kejadian pusing beputar lebih banyak ditemukan pada wanita dibandingkan dengan laki-laki dengan perbandingan 1:2. kelelahan. Keluhan lain. Gejalan vertigo dapat berupa gejala primer. pasien juga sempat mengeluh mual dan muntah yang dirasakan sesaat setelah pasien mengalami kecelakaan lalu lintas. ditambahkan keluhan lain berupa nyeri kepala.PEMBAHASAN Vertigo adalah halusinasi gerakan lingkungan sekitar serasa berputar mengelilingi pasien atau pasien berputar mengelilingi lingkungan sekitar oleh karena gangguan dari alat keseimbangan dalam tubuh. gejala otonom. ataksia atau ketidakstabilan dalam berjalan. Hal ini sesuai dengan kepustakaan dimana usia tersering terjadinya vertigo adalah usia 18-79 tahun dengan gejalan pusing disertai keadaan sekitar berputar mengelilingi pasien. datang dengan keluhan utama pusing berputar yang dirasakan kurang lebih 1 bulan terakhir. oscilopsia atau ilusi pergerakan dunia yang diprovokasi dengan gerakan kepala. seperti rasa sekeliling bergerak ketika pasien menggerakkan kepala dengan cepat juga dikeluhkan pasien. impulsion atau sensasi berpindah. Sementara gejala nonspesifik yang dapat terjadi berupa giddiness dan light headness. Pasien juga mengeluhkan pendengaran berkurang pada telinga kiri serta seringkali mengeluh silau bila melihat cahaya lampu. Tidak hanya itu.

Keseimbangan dibagi menjadi dua kelompok. Manifestasi klinis vertigo berupa rasa berputar. visual dan somatosensorik termasuk proprioseptor) dan musculoskeletal (otot. Keseimbangan merupakan interaksi yang kompleks dari integrasi/interaksi sistem sensorik (vestibular. sendi. antara lain sistem vestibular.menyebutkan gejala vertigo yang terjadi dapat berupa gejala primer. mata akan membantu agar tetap focus pada titik utama untuk mempertahankan keseimbangan . kognisi. pengaruh obat dan pengalaman terdahulu. basal ganglia. Labirin terletak dalam pars petrosa os temporalis dan dibagi atas koklea (alat pendengaran) dan apparatus vestibularis (alat keseimbangan). kelelahan. Sistem vestibular meliputi labirin (apparatus vestibularis). sekunder ataupun gejala nonspesifik. lingkungan. terdiri atas labirin membrane yang berisi endolimfe dan labirin tulang berisi perilimfe. atau kemampuan sesorang untuk mempertahankan kesetimbangan tubuh ketika ditempatkan dalam berbagai posis akan terganggu. Terdapat tiga sistem yang mengelola pengaturan keseimbangan tubuh. dimana kedua cairan ini mempunyai komposisi kimia berbeda dan tidak saling berhubungan. rasa berpindah atau ketidakseimbangan dalam berjalan disebabkan oleh karena gangguan dari alat keseimbangan tersebut. nervus vestibulatis dan vestibularis sentral. antara lain dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Apabila terjadi gangguan alat keseimbangan dalam tubuh. dan jaringan lunak lain) yang dimodifikasi atau diatur dalam otak (control motorik. Visual (Optik) Visual memegang peranan penting dalam sistem sensoris. Labirin yang merupakan seri saluran. dimana keseimbangan akan terus berkembang sesuai umur. Dipengaruhi juga oleh faktor lain seperti usia. cerebellum dan area asosiai) sebagai respon terhadap perubahan kondisi internal dan eksternal.Terdapat komponen-komponen pengontrol keseimbangan. yaitu keseimbangan statis berupa kemampuan tubuh untuk menjaga kesetimbangan dalam posisi tetap 2dan kesetimbangan dinamis berupa kemampuan untuk mempertahankan kesetimbangan ketika bergerak. maka fungsi kesimbangan akan terganggu. dan 15 . dan sistem optik. motivasi. sistem proprioseptik. sensorik.

Sistem vestibular bereaksi sangat cepat sehingga membantu mempertahankan kesimabangan tubuhbdengan mengontrol otot-otot postural. mereka mengontrol gerak mata. Somatosensoris Sistem somatosensoris terdiri dari taktil atau proprioseptif serta persepsi kognitif. thalamus dan korteks serebri. Mereka meneruskan pesan melalui saraf kranialis VIII ke nucleus vestbular yang berlokasi di batang otak. reticular formasi. serta sakuus. Penglihatan juga merupakan sumberutama informasi tentang lingkungan dan tempat kita berada. penglihatan memegang peran penting untuk mengidentifikasi dan mengatur jarak gerak sesuai lingkungan tempat kita erada. Sistem labyrinthine mendeteksi perubahan posisi kepala dan perceptan perubahan sudut. Informasi proprioseptif disalurkan ke otak melalui kolumna dorsalis medulla spinalis. Penglihatan muncul ketika mata menerima sinar yang berasal dari objek sesuai jarak pandang. 3. dan serebelum. Output dari nucleus vestibular menuju ke motor neuron melalui medulla spinalis.sebagai monitor tubuh selama meakukan gerakan static dan dinamik. Reseptor pada sistem vestibular meliputi kanalis semisirkularis. formation retikularis. Sistem vestibular Komponen vestibular merupakan sistem yang berfungsi penting dalam keseimbangan. control kepala. maka tubuh dapat menyesuaikan atau bereaksi terhadap perubahan bidang pada lingkungan aktivitas sehingga memberikan kerja otot yang sinergis untuk mempertahankan keseimbangan tubuh. dan gerak bola mata. Nukleus vestibular menerima input dari reseptor labyrinth. Melalui reflex vestibule-ocular. terutama ke motor neuron yang menginervasi otot-otot proksimal. Reseptor sensosris vestibular berada di dalam telinga. Reseptor dari sistem sensoriss ini disebut dengan siste labyrinthine. kumparan otot pada leher dan otototot punggung. 2. Beberapa stimulus tidak menuju nucleus vestibular tetapi ke serebelum. tetapi ada pula yang menuju ke korteks serebri melalui lemniskus 16 . Sebagian besar input proprioseptif menuju serebelum. urtikulus. terutama ketika melihat objek yang bergerak. Dengan informasi visual.

Impuls dari alat indra ini dari reseptor rba di kulit dan jaringan lain. Terdapat berbagai macam penyebab vertigo. dan somatosensorik berfungsi baik. Mabuk gerakan (motion sickness). Keadaan yang memprovokasikan hal ini antara lain duduk di jok belakang mobil.medialis dan thalamus. namun vetigo tidak hanya terjadi oleh karena suatu hal yang patologis. Mabuk gerakan akan bertambah bila sekitar individu bergerak searah dengan gerakan badan. Kesadaran akan posis berbagau bagian tubuh dalam ruang sebagian bergantung pada impuls yang datang dari alat indra dalam dan sekitar sendi. dimana sistem vestibulum. atau membaca waktu mobil bergerak. 2. mabuk gerakan ini akan terjadi bila dari pandangan sekitar (visual surround) berlawanan dengan gerakan tubuh yang sebenarnya. 1. Pada keadaan ini terdapat suatu gangguan dari keseimbangan antara kanalis semisirkuaris dan otolit. mata. b. adalah fungsi dari keadaan tanpa berat (weightlessness). Terdapat dua pembagian vertigo patologik. Beberapa keadaan yang termasuk dalam vertigo fisiologik antara lain: a. dan gejala-gejalan vegetatif. adalah suatu instabilitas objektif dari keseimbangan postural dan lokomotor oleh karena induksi visual. tetapi juga dapat terjadi secara fisiologis. yaitu: a. Vertigo Patologik Vertigo patologik merupakan keadaan vertigo yang ditimbulkan oleh karena sistem keseimbangan tidak berfungsi dengan baik. Alat indra tersebut adalah ujung-ujung saraf yang beradaptasi lambat di sinovia dan ligamentum. c. Vertigo ketinggian (height vertigo). Vertigo vestibular 17 . disertai rasa takut jatuh. Mabuk ruang angkasa (space sickness). Vertigo Fisiologik Vertigo fisiologik adalah keadaan vertigo yang ditimbulkan oleh stimulasi dari sekitar penderita. serta otot dip roses korteks menjadi kesadaran akan posisi tubuh dalam ruang.

1) Vertigo sentral. hipertensi dan jantung. merupakan keadaan vertigo yang terjadi oleh karena gangguan di batang otak atau di serrebelum. Beberapa perbedaan gejala yang dialami pada vertigo vestibular dan non vestibulat dapat dilihat pada tabel berikut. 2) Vertigo perifer. Tabel 2.Vestibular adalah salah satu organ bagian dalam telinga yang senantiasa mengirimkan informasi tentang posisi tubuh ke otak untuk menjaga keseimbangan. 2) Vertigo neurologic adalah vertigo yang disebabkan oleh gangguan neurologic. Vertigo non vestibular 1) Vertigo sistemik adalah keluhan vertigo yang disebabkan oleh karena penyakit tertentu. merupakan keadaan vertigo yang terjadi oleh karena gangguan di kanalis semisirkularis b. misalnya diabetes mellitus. 4) Vertigo psikogenik adalah vertigo yang disebabkan oleh stress atau tekanan emosional. pasien didiagnosis vertigo vestibular oleh karena adanya gangguan fungsi keseimbangan berupa gangguan pada salah satu organ bagian dalam telingan yang berfungsi mengirim informasi mengenai posisi tubuh ke otak guna mempertahankan keseimbangan. 3) Vertigo ophtalmologis adalah vertigo yang disebabkan oleh gangguan pada mata atau berkurangnya daya penglihatan.1 Perbedaan Vertigo Vestibular dan Vertigo Non Vestibular Gejala Sifat vertigo Serangan Mual/muntah Gangguan pendengaran Gerakan pencetus Situasi pencetus Vertigo Vestibular Rasa berputar Episodik + +/Gerakan kepala - Vertigo Non Vestibular Rasa melayang/hilang Keseimbangan Kontinue Gerakan objek visual Gerakan objek visual (keramaian lalu lintas) 18 . Diagnosis ini dapat ditentukan dengan membandingkan gejala yang dirasakan oleh pasien. Pada kasus.

Unterberger's stepping test 19 . Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup.Selain itu. serta pemeriksaan cardiovascular. Penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan. 1. Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan neurologis. Pemeriksaan Neurologik Pemeriksaan neurologic meliputi pemeriksaan nervus kranialis untuk mencari tandak paralisis nervus. sedangkan pasien dengan vertigo sentral memiliki instabilitas yang parah dan seringkali tidak dapat berjalan. diagnosis vertigo juga dapat dinilai dari hasil pemeriksaan fisik dan penunjang. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik.toe walking test c.1 Uji Romberg b. Romberg’s sign Pasien dengan vertigo perifer memiliki gangguan keseimbangan namun masih dapat berjalan. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). pemeriksaan kepala dan leher . tuli sensorineural. Gambar 2. Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi. mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. a. pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. dan nistagmus. Heel-to.

Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi. kepala dan badan berputar ke arah lesi. Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. Hal ini dilakukan berulangulang dengan mata terbuka dan tertutup. kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi.Pasien disuruh untuk berjalan spot dengan mata tertutup – jika pasien berputar ke salah satu sisi maka pasien memilki lesi labirin pada sisi tersebut. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram.2. Gambar 2. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan. Uji Unterberger d. kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. 20 .

Uji Tunjuk Barany Pemeriksaan untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer.Gambar 2. Fungsi Vestibuler a. hilang dalam waktu kurang dari 1 menit. nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit. bila diulangulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue) 5 21 . Sentral : tidak ada periode laten. Perifer (benign positional vertigo) : vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik. akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue). penderita dibaring-kan ke belakang dengan cepat.3. 1. dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral. kemudian kepalanya dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri. Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus. Dix-Hallpike manoeuvre Dari posisi duduk di atas tempat tidur. sehingga kepalanya meng-gantung 45º di bawah garis horisontal.

5 c. Kepala penderita diangkat ke belakang (menengadah) sebanyak 60º. Tabung suntik berukuran 20 mL dengan ujung jarum yang dilindungi oleh karet ukuran no 15 diisi dengan air bersuhu 30ºC (kirakira 7º di bawah suhu 22 . Jika pasien merasakan vertigo tanpa nistagmus maka didiagnosis sebagai sindrom hiperventilasi. Pasien diinstruksikan untuk bernapas kuat dan dalam 30 kali. Lalu diperiksa nistagmus dan tanyakan pasien apakah prosedur ersebut menginduksi terjadinya vertigo.Gambar 6. dengan demikian dapat dipengaruhi secara maksimal oleh aliran konveksi akibat endolimf). Jika nistagmus terjadi setelah hiperventilais menandakan adanya tumor pada nervus VIII. Dix-hallpike 5 b. Tes Kalori Tes ini membutuhkan peralatan yang sederhana. (Tujuannya ialah agar bejana lateral di labirin berada dalam posisi vertikal. Test hiperventilasi Tes ini dilakukan jika pemeriksaan-pemeriksaan yang lain hasilnya normal.

2 menit. Hal yang penting diperhatikan ialah membandingkan lamanya nistagmus pada kedua sisi. sehingga lamanya injeksi berlangsung ialah 20 detik. Swabach. secara lambat. SISI.badan) air disemprotkan ke liang telinga dengan kecepatan 1 mL/detik. Pemeriksaan membrane timpani untuk menemukan vesikel (misalnya herpes zoster auticus (Ramsay Hunt Syndrome) atau kolesteaatoma. Hennebert sign (vertigo atau nistagmus yangterjadi ketika mendorong tragus dan meatus akustikus eksternus pada siis yang bermasalah) mengindikasikan fistula perikimfatik. Pada penderita sedemikian 5 mL air es diinjeksikan ke telinga. Valsava maneuver (exhalasi dengan mulut dan hidung ditutup untuk meningkat tekanan melawan tuba eusthacius dan telinga dalam) dapat 23 . Bekesy Audiometry. Tes garpu tala : Rinne. 2. f. Pemeriksaan Kepala dan Leher Pemeriksaan kepala dan leher meliputi : d.6 2. yang pada keadaan normal hampir serupa. Fungsi Pendengaran a. Tone Decay. Untuk membedakan tuli konduktif dan tuli perseptif b.5 menit. e. Biasanya antara ½ . Weber. demikian juga frekuensinya (biasanya 3-5 kali/detik) dan lamanya nistagmus berlangsung dicatat. Bola mata penderita segera diamati terhadap adanya nistagmus. Setelah istirahat 5 menit. dengan demikian gendang telinga tersiram air selama kira-kira 20 detik. Bila ini juga tidak menimbulkan nistagmus. Audiometri : Loudness Balance Test. Arah gerak nistagmus ialah ke sisi yang berlawanan dengan sisi telinga yang dialiri (karena air yang disuntikkan lebih dingin dari suhu badan) Arah gerak dicatat.Lamanya nistagmus berlangsung berbeda pada tiap penderita. Bila tidak timbul nistagmus. telinga ke-2 dites. maka dapat dianggap bahwa labirin tidak berfungsi. Pada keadaan normal hal ini akan mencetuskan nistagmus yang berlangsung 2-2. dapat disuntikkan air es 20 mL selama 30 detik.

Jika ada sakade setelahnya maka mengindikasikan bahwa terdapat lesi pada vestibular perifer pada siis itu. Pada orang yang normal tidak ada saccades mengindikasikan pandangan mereka terfiksasi di objek.menyebabkan vertigo pada pasien dengan dehiscence kanalis semisirkularis anterior. g.4 Head impulses test 3. Pemeriksaan Cardiovascular Perubahan orthostatic pada tekanan darah sistolik (misalnya turun 20 mmHg atau lebih) dan nadi (misalnya meningkat 10 denyutan per menit) 24 . Head impulses test Pasien duduk tegak dengan mata terfiksasi pada objek sejauh 3 m dan diinstruksikan untuk tetap melihat objek ketika pemeriksa menolehkan kepala pasien. fistula perilimfatik atau Namun nilai diagnostic berdasarkan klinis ini masih terbatas. Dimulai denganpemeriksa menolehkan kepala pasien ke salah satu sisi pelan-pelan setelah itu pemeriksa menolehkan kepala pasien sisi lainnya horizontal 20odengan cepat. 5 Gambar 2.

Pada kasus. Kejadian ini terjadi oleh karena trauma yang dialami oleh pasien sehingga menyebabkan kerusakan dan gangguan dari sistem vestibular sebagai salah satu komponen keseimbangan. vestibular testing. Secara umum. Pemeriksaan penunjang pada vertigo meliputi tes audiometric. Secara umum. seperti pada mabuk darat dan mabuk laut 2. evalusi laboratories dan evalusi radiologis. tuli unilateral yang progresif. dan kompleks nervus VIII. Tes audiologik tidak selalu diperlukan. Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa pasien menderita vertigo vestibularis. dan periventrikular white matter. ataupun penyakit meniere 25 . Keadaan lingkungan. penyebab vertigo dapat berasal dari perifer yaitu mulai dari gangguan pada organ vestibuler sampai ke inti nervus VIII atau berasal dari sentral yaitu gangguan dari inti nervus VIII sampai korteks. didapatkan hasil pemeriksaan THT yang menyatakan adanya robekan pada membran timpani telinga kiri pasien serta dari hasil peemeriksaan CT Scan temporal yang memperlihatkan fraktur dari mastoid kiri serta penumpukan cairan di mastoid kiri. terdapat beberapa penyebab terjadinya vertigo. Namun jika diagnosis tidak jelas maka dapat dilakukan audiometrik pada semua pasien meskipun tidak mengeluhkan gangguan pendengaran. antara lain: 1.pada pasien dengan vertigo dapat menentukan masalah dehidrasi dan disfungsi otonom. ada factor resiko untuk terjadinya CVA. Pemeriksaan radiologi sebaiknya dilakukan pada pasien dengan vertigo yang memiliki tanda dan gejala neurologis. Tes ini diperlukan jika pasien mengeluhkan gangguan pendengaran. MRI kepala mengevaluasi struktur dan integritas batang otak. cerebellum. labirintis. Obat-obatan seperti penggunaan alkohol dan gentamisin 3. Kelainan telinga seperti adanya endapan kalsium pada kanalis semisirkularis atau adanya infeksi telinga bagian dalam oleh karena bakteri.

Beberapa faktor yang mempengaruhi operasi removal massa tumor iniantara lain lokasi tumor. dan bagian kanalis semisirkularis yang melebar (ampula) mengandung organ reseptor yang berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan. Sakulus dan urtikulus masing-masing mempunyai suatu penebalan atau makula sebagai mekanoreseptor khusus. vaskularisasi dan 26 . berupa tumor otak yang dapat menekan saraf vestibularis ataupun cedera kepala yang disertai cedera pada labirin. Urtikulus. Aparatus vestibular terdiri atas satu pasang organ dan tiga pasang kanalis semisirkulariss. antara lain sistem vestibular. seperti pada gangguan fungsi otak yang menyebabkan berkurangnya aliran darah ke salah satu bagian otak pada arteri vertebral dan arteri basiler. Penatalaksanaan meningioma tergantung darilokasi dan ukuran tumor itusendiri. ukuran dan konsistensi. bagian nervus vestibulokokhlearis) dan nuclei vestibularis di bagian otak. Otolith terbagi atas sepasang kantong yang disebut sakulus dan urtikulus. Labirin terletak dalam pars petrosa os temporalis dan dibagi atas koklea (alat pendengaran) dan apparatus vestibularis (alat keseimbangan). sakulus. nervus vestibulatis dan vestibularis sentral. dimana kedua cairan ini mempunyai komposisi kimia berbeda dan tidak saling berhubungan. Makula terdiri dari sel-sel rambut dan sel penyokong . Kelainan Neurologis. Terapi meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihanpertama. dan sistem optik. 6. dengan koneksi sentralnya. sakulus. kanalis semisirkularis adalan saluran labirin tulang yang berisi endolimfe. Sistem vestibular terdiri dari labirin. dan tiga kanalis sirkularis.4. Labirin yang merupakan seri saluran. Labirin membranosa terpisah dari labirin tulang oleh rongga kecil yang terisi dengan perilimfe. Terdapat tiga sistem yang mengelola pengaturan keseimbangan tubuh. bagian vestibular nervus kranialis VIII (nervus vestibularis. terdiri atas labirin membrane yang berisi endolimfe dan labirin tulang berisi perilimfe. Peradangan saraf vestibular seperti pada herpes zoster. Sistem vestibular meliputi labirin (apparatus vestibularis). 5. sistem proprioseptik. organ membranosa itu sendiri berisi endolimfe. Kelainan sirkulasi. Ketiga duktus semisirkularis terletak saling tegak lurus. Labirin terletak di dalam bagian petrosus os temporalis dan terdiri dari urtikulus.

10 Penggunaan radioterapi juga sudah sering dipakai yaitu External beam irradiation dengan 4500-6000 cGy dilaporkan efektif pada kasus meningioma reaksi subtotal. serta pemberian metronidazol (untuk organisme anaerob) ditambahkan apabila operasi direncanakan dengan pendekatan melalui mulut. Pemberian antibiotik perioperatif digunakan sebagai profilaksis pada semua pasien untuk organisme stafilokokkus. agen osmotik dapat membuat kebocoran sampai parekim otak. dan pemberian cephalosporin generasi III yang memiliki aktifitas terhadap organisem pseudomonas. dan tulanguntuk menurunkan kejadian rekurensi. Manitol yang menyebabkan penyusutan kapiler otak menyebabkan penyempitan pada endotelia junction yang digunakan untuk memungkinkan lewatnya seperti kemoterapi yang biasanya dapat masuk ke parenkim otak. selanjutnya akan mengganggu keseimbangan gradient osmotik. riwayat operasi sebelumnya dan atauradioterapi.pengaruhterhadap sel saraf. rencana operasi dan tujuannya berubah berdasarkanfaktor resiko. telinga. kasus dengan rekurensi baik yang telah dioperasi maupun tidak. Lebih jauh lagi. jaringan lunak. modalitas kemoterapi dengan regimen 27 . Tindakan operasi tidak hanyamengangkat seluruh tumor tetapi juga termasuk dura.9 Pada pasien dengan meningioma supratentorial. Sehingga terapi osmotic tidak direkomendasikan pada pasien dengan edema serebri dengan tumor. dan pada kasus rekurensi.2. pola. sinus paranasal. Namun pada edema serebri akibat tumor memiliki efek negatif karena dapat mengganggu blood brain barrier. pemberian antikonvulsan dapat segera diberikan. deksametason diberikan dan dilindungi pemberian H2 antagonis beberapa hari sebelum operasi dilaksanakan. atau mastoid. Namun pada kasus menigioma yang pasien dengan intoleransi operasi baik itu karena lokasi atau Karena kndisi umun pasien yang buruk atau pada pasien yang menolak dilakukan operasi EBI ini masih belum menunjukan keefektifitasannya. Terapi lainnya adalah kemoterapi. dan rekurensi tumor.2 Terpai dengan menggunakan larutan hipertonik seperti manitol atau gliserol sering digunakan untuk edema serebri berat setelah strok atau neurotrauma.

dengan kemajuan teknik dan pengalaman operasi para ahli bedahmaka angka kematian setelah operasi makin kecil. Kemoterapisebagai terapi ajuvan untuk rekuren meningioma atipikal atau jinak baru sedikitsekali diaplikasikan pada pasien. Pada anak-anak lebih agresif.9Namun pada pasien ini prognosis memburuk bila tidak dilakukan reseksi tumor dan juga untuk penglihatan dan penciuman prognosis fungsinya buruk. 28 . karena pengangkatantumor yang sempurna akan memberikan penyembuhan yang permanen.5%.dilaporkan survival rate lima tahun adalah 75%.antineoplasma masih belum banyakdiketahui efikasinya untuk terapi meningioma jinak maupun maligna.2.9Terapi pada pasien ini hanya berupa medikamentosa karena pasien menolak untuk melakukan operasi. tetapi terapi menggunakan regimen kemoterapi menunjukan hasil yang kurang memuaskan.9 – 8.Pada penyelidikan lebih dari 10% meningioma akanmengalami keganasan dan kekambuhannya tinggi.9 Angka kematian (mortalitas) meningioma sebelum operasi jarangdilaporkan. Diperkirakan angka kematian post operasi selama lima tahun adalah 7.2. Pada umumnya prognosa meningioma adalah baik. Pada orang dewasa survival rate-nya relatif lebih tinggi dibandingkan pada anak-anak.perubahan menjadi keganasan lebih besar dan tumor dapat menjadi sangat besar. Sebab-sebab kematian menurut laporan yaituperdarahan dan edema otak.

Treatment and Outcome. Meningiomas: Diagnosis. Lecture Notes: Neurologi. Neuro-Oncology in Pocket Companion to Neurology in Clinical Practice edisi 3. Jakarta: Pusat Penerbitan Deapartemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Indraswati E dan Suhartono G. Simadibrata KM. Black PM and Fahlbusch. Setiati S. Boston 2000 : 239 – 267 7. Hal: 593-600 29 . 2004. J. dan Pramantara IDP. Lee JH. New York. PT. 2007. Edisi kedelapan. Editor: Kall and Vecht.Daftar Pustaka 1. Meningiomas: A Comprehensive Text. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Ed IV. 2010. 1995 : 611 – 629 6. dkk. Pamir N. Edisi keempat. Erlangga 5. Setiati S. Ginsberg L. P: 36-43 10. 2010. Hal: 1392-9 9. Widjaja D. Inc. The Management of brain edema in brain tumor.. Meningioma intrakranial. Gramedia: Jakarta 4.16. Butterworth. Ever CA. Setiyohadi B. Fauiziah B. Saunders: Penssylvania 3. McMillan Publishing C. Springer-Verlag: London 2. 2005. Alwi I. Jornal Oftalmologi Indonesia. Sindroma Foster Kennedy. Inkontenensia Urin dan Kandung Kemih Hiperaktif dalam Sudoyo AW. Kaal and Charles JV. In: Brain Edema. Walter G. Hal: 92-103 8. Gilroy J. Satyanegara. 1989. 2008(6):2. Bradley. Meyer.. Tumors of the Central Nervous System in Medical Neurology edisi 2. Ilmu Bedah Saraf Satyanegara. 2009.S.. Lippincott Williams & Wilkins. Cermin Dunia Kedokteran Vol.