Anda di halaman 1dari 7

JUDICIAL REVIEW

UU NO.8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN
KONSUMEN
Di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah “MTPUU”
Dosen Pengampu “Isnawati, S.H.,M.h

Di susun oleh :

NPM

1. Liny Haryuda

13.076
.

Konsumen selalu dikonstruksikan dalam kerangka konsumtif.BAB I PENDAHULUAN Pembangunan dan perkembangan perekonomian di Indonesia khusunya dibidang perindustrian dan perdagangan telah menghasilkan berbagai variasi barang dan/atau jasa yang dapat dikonsumsi. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian. kualitas yang tidak layak jual atau karena tidak adanya informasi yang benar mengenai suatu produk. Akibatnya. Pengaruh arus globalisasi dan perdagangan bebas yang didukung oleh kemajuan tekhnologi komunikasi dan informasi telah memperluas ruang gerak arus transaksi barang. Ungkapan “Konsumen adalah raja” semestinya diinterpretasikan secara kritis. cenderung menjadi korban dalam hubungan jual beli dengan produsen Banyak contoh pengaduan konsumen terkait dengan produk yang dihasilkan pelaku usaha. dimana produk-produk tersebut tidak memenuhi standar kesehatan. dimana konsumen berada pada posisi yang lemah. . Disisi lain kondisi diatas dapat pula mengakibatkan kedudukan pelaku usaha dan konsumen menjadi tidak seimbang. Hal mana menjadi konsekuensi logis bahwasannya barang-barang yang beredar tersebut ada yang merugikan konsumen karena tidak terpenuhinya kondisi barang yang layak untuk dikonsumsi oleh konsumen. baik didalam negeri sendiri maupun yang masuk dari luar negeri.

seperti oleh Badan Perlindungan Konsumen Nasional.BAB II PEMBAHASAN Banyak keuntungan yang diperoleh konsumen dengan diundangkannya UUPK. diaturnya pembentukan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) maupun Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN). Di antaranya adalah dijaminnya hak-hak dasar konsumen secara eksplisit. sesungguhnya memiliki kelemahan yang sifatnya merugikan konsumen. seharusnya pasal 19 ayat (2) menentukan bahwa pemberian ganti kerugian dapat berupa pengembalian uang dan/atau penggantian barang atau jasa yang setara nilainya dan/atau perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan dapat diberikan sekaligus kepada konsumen (bersifat kumulatif). Kemudian melihat pada ketentuan pasal 19 ayat (2) . Hak atas informasi dalam UU ini bersifat sangat terbatas pada hak informasi tentang kondisi dan jaminan barang atau jasa (Pasal 4). Oleh karena itu. Namun. ternyata masih banyak pula sisi lemah dari UUPK itu sendiri. padahal konsumen telah menderita kerugian bukan hanya kerugian atas harga barang tetapi juga kerugian yang timbul dari biaya perawatan kesehatan. Misalnya saja akses informasi mengenai hasil penelitian terhadap barang/jasa yang menyangkut keselamatan konsumen. Dalam pasal tersebut konsumen hanya mendapatkan salah satu bentuk penggantian kerugian yaitu ganti kerugian atas harga barang atau hanya berupa perawatan kesehatan. terutama dalam hal konsumen menderita suatu penyakit. Artinya bahwa rumusan antara perkataan “setara nilainya” dengan .

. Sehingga apabila kerugian itu menyebabkan sakitnya konsumen.“perawatan kesehatan” dalam rumusan pasal tersebut tidak hanya menggunakan frasa “atau” melainkan “dan/atau”. maka selain mendapat penggantian harga barang juga mendapatkan perawatan kesehatan. walaupun secara nyata konsumen yang bersangkutan telah menderita kerugian. Apabila ketentuan ini dipertahankan. Dalam pasal 19 ayat (3). terdapat juga kelemahan lainnya yang menentukan bahwa pemberian ganti kerugian dalam tenggang waktu 7 (Tujuh) hari setelah transaksi. maka konsumen yang mengonsumsi barang di hari kedelapan setelah transaksi tidak akan mendapatkan penggantian ganti kerugian dari pelaku usaha. Hal ini tentu dapat menjadi dasar pertimbangan bagi Hakim dalam memutuskan bentuk ganti kerugian yang harus ditanggung oleh pelaku usaha apabila perkara tersebut dibawa ke pengadilan. Seharusnya tenggang waktu pemberian ganti kerugian kepada konsumen adalah 7 (Tujuh) hari setelah terjadinya kerugian dan bukan 7 (Tujuh) hari setelah transaksi sebagaimana rumusan yang ada sekarang.

BAB VI TANGGUNG JAWAB PELAKU USAHA PASAL 19 . dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.jelas. h. dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa. b. g. ganti rugi dan/atau penggantian. e. d. Hak untuk mendapat kompensasi . Hak untuk di dengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan. Hak untuk mendapatkan advokasi. apabila barang dan/atau jasa yang di terima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebgaimana mestinya. i. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen. f. perlindungan. Hak mengakses informasi mengenai hasil penelitian terhadap barang dan/atau jasa yang menyangkut keselamatan konsumen. dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/jasa. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen Pasal 4 tentang Hak Konsumen Hak konsumen adalah : a. Hak untuk di perlakukan atau di layani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. c. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang di janjikan. Hak atas kenyamanan. Hak atas informasi yang benar. j. Hak hak yg di atur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.BAB III JUDICIAL REVIEW UU No.

BAB IV PENUTUP 1.(1) Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan. dan atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan (2) Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang setara nilainya dan/atau perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. (3) Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah terjadinya kerugian. pencemaran. (4) Pemberian ganti rugi sebagaimana di maksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsure kesalahan. (5) Ketentuan sebagaiman di maksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen. Kesimpulan .

2. Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) telah secara tegas mengatur mengenai tanggung jawab pelaku usaha terhadap produk/barang cacat yang menimbulkan kerugian bagi konsumen. Sebagai contoh mengenai pengaturan batas waktu pemberian ganti kerugian yaitu 7 (Tujuh) hari setelah transaksi. Disamping itu. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen baik dalam pengaturan pasal maupun penjelasannya sudah cukup maju. Saran Selain dari hal-hal yang dipandang sebagai langkah maju dalam penegakan hukum perlindungan konsumen terkait tanggung jawab pelaku usaha terhadap produk cacat diatas. terdapat pula kelemahan-kelemahan dalam beberapa pasal yang mengatur tentang tanggung jawab pelaku usaha yang perlu disempurnakan. Hal mana terlihat dari cakupan materinya yang lebih luas dan lebih memberikan perlindungan yang maksimal bagi konsumen. UUPK juga telah memberikan kemudahan bagi konsumen dalam mengajukan gugatan ganti kerugian terhadap pelaku usaha (Produsen). pemberian ganti kerugian harus dapat diberika secara kumulatif yaitu selain mendapat penggantian harga barang juga mendapatkan perawatan kesehatan . Yang seharusnya 7 (tujuh) hari setelah kerugian dialami konsumen. dimana gugatan diajukan di tempat konsumen berdomisili. Undang-Undang No.Secara umum. sehingga pelaku usaha wajib menaatinya. Selain itu terkait ketentuan pasal 19 ayat (2). Pertanggungjawaban tersebut dapat dilakukan melalui mekanisme hukum pidana dan perdata atas dasar Wanprestasi dan Perbuatan Melanggar Hukum.