Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kelahiran seorang bayi merupakan saat yang membahagiakan bagi orang tua,
terutama bila bayi yang lahir dalam keadaan sehat. Keadaan atau kesehatan bayi
baru baru lahir sangat dipengaruhi oleh proses kehamilan yang sehat, diharapkan
akan melahirkan bayi yang sehat. Salah satu indikator untuk mengetahui 31 per
1000 kelahiran hidup. (Human Development Report 2012) Hasil survei Demografi
dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, menunjukkan bahwa sekitar 43% kematian
bayi dibawah usia satu tahun terjadi pada 28 hari pertama kehidupan. Lebih dari
tiga perempat dari kematian ini disebabkan oleh 3 penyebab utama, yaitu kesulitan
bernafas saat lahir atau asfiksia, infeksi dan komplikasi lahir premature dan berat
badan lahir rendah. (BKKBN, 2013)
Setiap tahun di dunia diperkirakan lahir sekitar 20 juta bayi dengan berat badan
lahir rendah (BBLR). Menurut Departemen Kesehatan (2007) angka kematian
sepsis neonatorum cukup tinggi 13-50% dari angka kematian bayi baru lahir. Salah
satu penyebab bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah lahir kurang bulan
(premature). Megingat banyaknya masalah pada bayi premature dan masih tinggi
angka kejadiannya, maka perlu penanganan yang memadai untuk mencegah
terjadinya masalah premature maupun komplikasi lebih lanjut.
Menurut WHO prevalensi BBLR 15% dari seluruh kelahiran di dunia.
Prevalensi BBLR 90% lebih sering terjadi di Negara-negara berkembang atau
negara dengan sosio-ekonomi rendah. Secara global sekitar 1/6 bayi lahir dengan
BBLR (BB<2.500 gram) yang mendasari meningkatnya faktor risiko kematian
neonatal. (Millis, 2012 dalam Indah, 2013)
Indonesia merupakan negara berkembang, namun di dalamnya masih banyak
masalah dalam beberapa aspek di bidang kesehatan khususnya BBLR. Salah
satunya masalah besar dalam negeri yang berkembang ini, serta menjadi masalah
yang utama dan merupakan penyebab kematian bayi. Hal tersebut perlu
mendapatkan perhatian khusus, mengingat perannya sangat penting dalam
penurunan angka terjadinya BBLR dan penurunan angka kematian bayi.
(Widiyaningsih, 2011) Presentase BBLR di Indonesia tahun 2013 (10,2%) lebih

2012) Selain itu. karena pusat pernapasan belum sempurna. kehamilan ganda.2%). umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.rendah dari tahun 2010 (11. hipertensi. Bayi dengan BBLR memiliki daya tahan yang lebih rendah. 2012) Bayi berat badan lahir rendah dapat disebabkan dari factor ibu dan janin. (OECD dan WHO. perdarahan antepartum. 2002 dalam Setyowati 2009) Bayi berat lahir rendah merupakan masalah penting dalam pengelolaannya karena mempunyai kecenderungan kearah peningkatan terjadinya infeksi. ketuban pecah dini. Selain itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami gangguan mental dan fisik pada usia tumbuh kembang.Sowwan. hipoglikemia yang dapat menyebabkan kematian.9%) dan terendah di Sumatra Utara (7. sehingga membutuhkan biaya prawatan yang tinggi. 2013) Negara Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 7-14% bayi yang dilahirkan dengan BBLR. 2012) Berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu factor risiko yang berkontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada masa perinatal. 2011) Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) berisiko 20 kali lebih besar meninggal selama masa pertumbuhan jika dibandingkan dengan berat badan lahir normal. Kelompok bayi berat lahir rendah yang dapat diistilahkan dengan kelompok resiko tinggi karena pada bayi berat lahir rendah menunjukkan angka kematian dan kesehatan yang lebih tinggi dengan berat bayi lahir cukup. (OECD dan WHO. (M. 2006 dalam Santi. kesukaran mengatur nafas tubuh sehingga mudah untuk menderita hipotermia. Presentase BBLR tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Tengah (16. (Riskesdas. Selain itu bayi dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) mudah terserang komplikasi tertentu seperti icterus. penyakit jantung. Bayi BBLR sangat mempengaruhi pertumbuhan dan kecerdasan anak.2013) Masalah yang dihadapi BBLR diantarannya adalah kebutuhan oksigen tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan normal. (Widyaningsih. Sedangkan factor dari ibu antara lain riwayat kelahiran premature sebelumnya. infeksi dan malnutrisi. jarak dua kehamilan yang terlalu dekat.1%). hidramnion. (Anonim. kelainan uterus. angka kematian bayi cenderung meningkat seiring dengan peningkatan insiden BBLR di suatu negara. (Prawirohardjo. Faktor dari janin antara lain cacat bawaan. sehingga mudah terkena infeksi. sebagai salah satu factor yang mempengaruhi angka kematian bayi. Bayi berat lahir rendah memerlukan pemberian makanan yang khusus dengan alat penetes obat atau pipa karena refleks .

2013) Orang tua dengan BBLR yang dirawat di NICU juga mengalami kecemasan tinggi dan perasaan tidak berdaya.menelan dan menghisap yang lemah. Sebagian besar wanita mengalami gangguan emosional setelah melahirkan. Penanganan BBLR harus dilakukan dalam ruang perawatan khusus dan mendapatkan perawatan secara intensif. 2013) Perawatan BBLR di NICU berdampak perpisahan antara ibu dengan bayinya. 2013) Sebuah penelitian juga menyebutkan bahwa ibu dengan BBLR yang dirawat di NICU mengalami depresi. Wereszczak. sehingga kesempatan ibu untuk kontak dengan bayinya menjadi terbatas. 2006 . (Proverawati&Ismawati. Singer. Melnyk. 2010 dalam Suyami. Pinelli. (Milles.43 dalam Dewi Purwanti. marah dan cemas dengan kondisi bayinya yang dapat memburuk sewaktu-waktu. tetapi juga dengan lingkungan NICU. (Cusson. (Saleha 2009. (Obeidat.2005) Orang tua yang bayinya dirawat di NICU tidak hanya menyesuaikan dengan komplikasi yang tidak terduga pada bayinya. h. 2006 . kecemasan dan disfungsi pola pengasuhan. 2005 dalam Suyami.60) kecemasan merupakan suatu keadaan emosional yang tidak menyenangkan yang ditandai dengan rasa ketakutan serta gejala fisik yang menegangkan yang tidak diinginkan. Bentuk gangguan postpartum yang umum adalah depresi. Kelahiran seorang anak menyebabkan tantangan mendasar terhadap struktur interaksi keluarga yang sudah terbentuk. 2013) Menurut Davies (2009. kehilangan control terhadap perawatan kesehatan untuk bayinya. 2006) Hal ini ditunujkkan dengan orang tua kesulitan berinteraksi. stres. 2005 . kurang pengetahuan bagaimana berinteraksi dengan bayinya selama dalam perawatan. 2009 dalam Suyami. Kehangatan BBLR harus diperhatikan. h. 2005 . Ibu merasa bersalah. 2005 dalam Suyami. depresi. oleh karenanya BBLR sangat membutuhkan perhatian dan perawatan intensif untuk membantu mengembangkan fungsi optimum bayi. sehingga diperlukan peralatan khusus untuk memeperoleh suhu yang hamper sama dengan suhu dalam Rahim. (Pilliteri. sedih frustasi. mudah marah dan frustasi serta emosional. (Rapacki. 2011) . kecemasan. Perawatan secara intensif pada neonatal dilakukan di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU).

ibu mampu merawat bayinya dan kecemasan ibu berkurang. Berdasarkan Azwar 1983 dalam Susilo 2011 menyatakan bahwa edukasi adalah unsur program kesehatan dan kedokteran yang didalamnya terkandung rencana untuk mengubah perilaku perseorangan dan masyarakat dengan tujuan untuk membantu tercapainya program pengobatan. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang yang telah diutarakan oleh penulis diatas. 2011) Dari latar belakang tersebut penulis tertarik meneliti apakah ada pengaruh pemberian edukasi terhadap kecemasan ibu dengan BBLR di RSUD Pandan Arang Boyolali. Penatalaksanaan untuk bayi dengan berat badan lahir rendah dengan melakukan tindakan intevensi. Maka dari itu. rehabilitasi. pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan. Ibu yang mempunyai bayi dengan berat badan lahir rendah dan bayinya dirawat di NICU mengalami kecemasan terhadap bayinya. menunjukkan prevalensi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang khusunya di Indonesia. ibu yang mempunyai bayi berat badan lahir rendah perlu diberikan edukasi agar pengetahuan ibu tentang kondisi bayinya bertambah. B. (Azwar 1983 dalam Susilo. salah satunya dengan cara memberikan edukasi kepada ibu dengan bayi berat badan lahir .Telah di jelaskan pada penelitian sebelumnya. Kejadian BBLR di sebabkan karena multi faktor salah satunya adalah kurang pengetahuan ibu saat hamil. bahwa ibu yang mempunyai bayi dengan berat badan lahir rendah dan bayinya di rawat di NICU mengalami kecemasan terhadap bayinya. Bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki dampak pada pertumbuhan dan perkembangannya seperti bayi belum dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan daya tahan tubuh bayi masih rendah.

b. Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Untuk mengetahui tingkat kecemasan ibu sebelum diberi intervensi/ edukasi c. MANFAAT PENELITIAN 1. Pemberian edukasi ini diharapkan dapat mengurangi tingkat kecemasan yang dialami oleh ibu yang memilki bayi dengan berat badan lahir rendah. Untuk mengetahui tingkat kecemasan ibu sesudah diberi intervensi/ edukasi D. dengan judul “Pengaruh Edukasi Terhadap Tingkat Kecemasan Dan Tingkat Efikasi Diri Ibu Dalam Merawat BBLR”. desain penelitian menggunakan quasi experimental pretest-posttest with control group. Bagi peneliti Penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut tentang BBLR serta diharapkan mampu mengembangkan teori penelitian lebih bervariatif dan variabel lebih luas bagi peneliti selanjutnya. Karena ibu yang memilki bayi berat badan lahir rendah mengalami kecemasan maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian “Apakah edukasi dapat mempengaruhi kecemasan pada ibu dengan BBLR?“ C. E. Bagi profesi keperawatan Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi materi para perawat khususnya perawat di NICU untuk memberikan edukasi kepada ibu dengan BBLR. Untuk mengetahui karakteristik responden b. Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya di bidang keperawatan. Analisa data dengan uji Wilcoxon dan ujia Chi Square. Suyami (2013). 2. Tujuan Khusus a. 2. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa . Tujuan Umum Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui apakah edukasi dapat mempengaruhi kecemasan ibu dengan BBLR. Bagi Institusi Pendidikan a) Penelitian ini diharapkan dapat sebagai data untuk penelitian selanjutnya b) Sebagai penambah wawasan bagi para mahasiswa untuk lebih mengembangkan pengetahuan tentang bayi berat badan lahir rendah c.rendah. KEASLIAN PENELITIAN 1. Praktis a. TUJUAN PENELITIAN 1.

isi edukasi dan tempat penelitian di RSUD Pandan Arang Boyolali. Desain dalam pengumpulan sampel dengan Purposive Sampling.047 berarti < atau <0. teknik pengambilan sampel.05). Penelitian ini mengguanakan jenis penelitian Pra eksperiment dengan pendekatan one group pretest-posttest.285 maka dapat diakatakan bahwa hubungan dukungan social keluarga terhadap tingkat kecemasan ibu primipara dalam merawat bayi berat badan lahir rendah (BBLR) memiliki kekuatan hubungan rendah namun nilai koefisien korelasinya positif maka bisa dikatakan semakin tinggi dukungan keluarga.05). Instrument penelitian menggunakan kuesioner HRSA (Hamilton Rate Scale Anxiety) dan analisa data menggunakan independent T-test. tingkat kecemasan semakin rendah. esain penelitian menggunakan deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Dewi Purwanti (2011). dengan judul “Dukungan Sosial Keluarga Dan Hubungan Dengan Kecemasan Ibu Primipara Dalam Merawat Bayi Berat Badan Lahir Rendah”. .kelompok control ada perbedaan yang bermkna pada tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan edukasi (p value<0. sedangkan pada kelompok intervensi tidak ada perbedaan yang bermkana pada tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan edukasi (p value>0. 2. Pada penelitian ini koefisiensi korelasi spearman rank didapatkan nilai sebesar 0. Analisa data menggunakan uji korelasi sperman rank.05 sehingga dapat disimpulkan Ha gagal ditolak yang berarti ada hubungan yang signifikan antara dukungan social keluarga dan tingkat kecemasan ibu primipara dalam merawat bayi berat badan lahir rendah (BBLR). Hasil Penelitian menunjukkan hasil analisa dengan menggunakan uji korelasi spearman rank didapatkan nilai p value sebesar 0. Teknik pengambilan sampel menggunakan quota sampling. Perbedaan penelitian ini terdapat pada metode penelitian.