Anda di halaman 1dari 19

B A B II

LANDASAN TEORITIS
2.1 Konsep dan Pengertian Belajar
Belajar merupakan aktivitas yang melibatkan banyak faktor.Faktor-faktor tersebut
saling berhubungan sehingga menjadi kompleks.Definisi yang tepat tentang belajar menjadi
semakin rumit, namun demikian dengan sudut pandang yang beragam para ahli pendidikan
telah mencoba memberikan definisi tentang belajar. Winkel (Darsono, 2000: 4) menyatakan
bahwa, Belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis dalam interaksi aktif subyek dengan
lingkungan dan menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman,
keterampilan dan sikap yang bersifat menetap.
Pendapat senada dikemukakan oleh Garrett (Rasyad, 2003: 29) yang menyatakan
bahwa, Belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu lama melalui
latihan maupun pengalaman yang membawa kepada perubahan diri dan perubahan cara
mereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. Pengertian belajar selanjutnya dikemukakan
oleh Slameto (2003: 57) yang menyatakan bahwa, Belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan secara menyeluruh sebagai hasil pengalaman anak itu sendiri dalam berinteraksi
dengan lingkungan. Dari sudut pandang lain, Ahmadi (2003: 81) menyatakan bahwa,
Belajar adalah suatu proses,bukan suatu hasil. Oleh karena itu, belajar berlangsung secara
aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk perubahan untuk mencapai tujuan.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang
membawa perubahan tingkah laku berupa pengetahuan pada diri anak sehingga terjadi
perubahan-perubahan yang lebih baik dari yang dicapai sebelumnya. Perubahan terjadi
karena adanya usaha anak yang sengaja dilakukan untuk mencapai tujuan.Salah satu
carauntuk mengetahui bahwa untuk mencapai tujuan tersebut sudah dicapai atau belum maka
pengetahuan anak dapat dilihat melalui tes yang diberikan oleh gurunya.

2.2 Prestasi Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya


2.2.1

PengertianPrestasiBelajar
Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar,

karena prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai oleh peserta didik dari suatu kegiatan
belajar. Darmadi (2009: 100) menyatakan bahwa,Prestasi belajar adalah sebuah kecakapan
atau keberhasilan yang diperoleh seseorang setelah melakukan sebuah kegiatan dan proses
belajar sehingga dalam diri seseorang tersebut mengalami perubahan tingkah laku sesuai
dengan kompetensi belajarnya.
Dalam

proses

pendidikanprestasidapatdiartikansebagaihasildari

prosesbelajarmengajaryakni, penguasaan, perubahanemseosional, atauperubahantingkahlaku


yang dapatdiukurdengantestertentu (Abdullah, 2008: 13). SedangkanmenurutHaryati (2008:
43), Prestasibelajarmerupakan hasil usaha yang dilakukan dan menghasilkan perubahan
yang dinyatakan dalam bentuk simbol untuk menunjukkan kemampuan pencapaian belajar
dalam waktu tertentu.
Dari pengertian diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa prestasi belajar
merupakan hasil yang telah dicapai murid, yaitu perubahan tingkah laku yang dinyatakan
dalam bentuk angka yang diperoleh darihasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran yang
telah dipelajari. Ini berarti bahwa prestasi merupakan suatu ukuran berhasil tidaknya seorang
siswa setelah mengikuti pelajaran tertentu termasuk pelajaranmatematika.
2.2.2

Faktor-Faktor yang MempengaruhiPrestasiBelajar


Prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari

dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal).Faktor yang berasal dari diri sendiri
meliputi faktor jasmaniah, faktor psikologis, dan faktor kematangan fisik maupun
psikis.Sedangkan faktor yang berasal dari luar dirinya meliputi faktor sosial (lingkungan

keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan lingkungan masyarakat), faktor


budaya, faktor lingkungan fisik, dan faktor lingkungan spiritual.
a. Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam individu yang bersangkutan
denganseluruh pribadi baik fisik maupun mental. Faktor ini dibagi menjadi dua faktor
yaitu:
a.

Faktor fisiologis
Faktor-faktor fisiologis yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah
sebagai berikut:
i.

Kesehatan jasmani
Kesehatan jasmani sangat mempengaruhi dalam proses belajar mengajar,
anak didik yang mengalami kekurangan fisik akan mengalami kesulitan dalam
belajar. Adapun cacat jasmani yang mungkin ada pada anak didik diantaranya
adalah tuli, bisu dan sebagainya.
Cacat yang telah disebut di atas, jika salah satunya ada pada anak didik
maka sianak akan terganggu dalam proses belajar dan merasa minder sehingga dia
akan tertinggal dalam belajar.

ii.

Kesehatan rohani
Kesehatan rohani juga sangat penting dan berpengaruh dalam proses
belajar, dapat kita lihat bahwa kegiatan yang disebut berpikir dalam prosesnya
sangat berkait dengan kemampuan kecerdasan siswa. Kecerdasan sangat
dipengaruhi oleh kegiatan belajar, jika siswa lemah dalam berpikir maka akan
mengalami kesulitan dalam proses belajar. Kegiatan belajar siswa banyak
tergantung pada faktor ingatan dan perasaan.

b.

Faktor psikologis

Jika seseorang anak yang mengalami gangguan psikologis dalam belajar akan
mengganggu kebahagiaan fisik yang pada akhirnya berpengaruh pada prestasi belajar
siswa. Faktor psikologis adalah faktor yang mempengaruhi kejiwaan. Adapun faktor
ini antara lain:
a. Intelegensi
Intelegensi merupakan kecerdasan yang dimiliki oleh setiap individu yang
sangat berpengaruh terhadap kemajuan belajar, cepat tidaknya suatu permasalahan
dapat dipecahkan tergantung kemampuan intelegensinya.Winkel (Darsono, 2000:
529)menyatakanbahwa, "Intelegensi atau kemampuan intelektual menunjukkan
peranan yang sangat penting khususnya terpengaruh kuat terhadap tinggi
rendahnya prestasi yang dicapai oleh siswa, kenyataan ini semakin nampak dalam
prestasi pada bidang studi yang menuntut banyak berpikir.
b. Bakat
Bakat dapat diartikan sebagai kemampuan bawaan seseorang yang perlu
dilatih dan dikembangkan agar lebih tertuju. Menurut Slameto (2003:57),Jika
bahan pelajaran yang dipelajari dengan bakatnya maka hasil belajarnya lebih baik
pula.
Bakat juga merupakan salah satu faktor yang besar pengaruhnya terhadap
pemahaman dalam mencapai prestasi yang lebih baik bagi siswa. Kalau
sebaliknya siswa tidak mengembangkan bakat yang ada pada dirinya maka sedikit
demi sedikit bakat itu akan hilang dengan sendirinya.
c. Minat
Minat merupakan keinginan untuk belajar. Jika siswa tidak berminat pada
pelajaran maka siswa tersebut tidak memahami dengan baik pelajaran yang
disajikan, sehingga tidak berhasilnya proses belajar seperti yang diharapkan.

Menurut Sumardi (2004: 184),Jika seseorang tidak berminat untuk mempelajari


sesuatu maka tidak dapat diharapkan bahwa ia akan berhasil dengan baik dalam
mempelajari hal tersebut.
d. Motivasi
Motivasi berasal dari kata motif yang diartikan sebagai daya penggerak
yang telah menjadi aktif (Sardiman,2001: 71). SementaraituDalyono (2005: 55)
memaparkan bahwa, Motivasi adalah daya penggerak/pendorong untuk
melakukan sesuatu pekerjaan, yang bisa berasal dari dalam diri dan juga dari
luar.
Dari pendapat para ahli diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa motivasi
merupakan dorongan terhadap seseorang untuk melakukan sesuatu motivasi akan
mempengaruhi

seseorang

dalam

melakukan

sesuatu

untuk

mencapai

tujuan.Motivasi sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan dalam belajar. Apabila


motivasi belajar kuat maka semangat belajar pun tinggi, sebaliknya apabila
motivasi belajar lemah maka semangat belajar pun rendah. Dengan demikian
motivasi adalah suatu faktor yang mempengaruhi belajar.
b. Faktor Ekstern
Faktor ekstern merupakan faktor yang timbul dari luar diri siswa yang
mempengaruhi kegiatan belajar siswa. Slameto (2003: 2) membagi faktor ekstern kepada
tiga bagian sebagai berikut:
1. Faktor keluarga
Keluarga merupakan tempat yang pertama bagi seorang anak dalam
pembentukan moral serta tingkah laku sehari-hari dan juga memberi ketenangan dan
kegembiraan anak untuk menjalani hidup selanjutnya. Siswa yang belajar akan

menerima pengaruh dari keluarga berupa cara orang tua mendidik relasi antara
keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.
Orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya, maka anak berpikir
bahwa orang tua saja tidak mau tahu tentang belajarnya, tidak pernah memberikan
dorongan untuk belajar.Apapun yang terjadi dalam belajar misalnya memperoleh nilai
jelek, orang tua tidak pernah menanyakan atau memperhatikan.
2. Faktor sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai peranan
penting dalam usaha meningkatkan potensi siswa dan sekolah mempunyai tujuan
sehingga dapat mendorong siswa untuk belajar lebih giat.
Lingkungan sekolah ditentukan oleh beberapa faktor, metode mengajar yang
tidak sesuai dengan materi yang diajarkan akan mengakibatkan siswa cepat bosan.
Ketidaklengkapan sarana dan prasarana mengakibatkan
gangguandalammencapaitujuan pendidikan sebagaimana yang
diharapkan.Kemampuan guru sangat dituntut dan memegang peranan penting dalam
usaha meningkatkan prestasi dan keberhasilan siswa.Kurikulum yang baik, interaksi
antara guru dan siswa harus terlihat akrab.
3. Faktor masyarakat
Diantara faktor-faktor masyarakat yang banyak mempengaruhi prestasi belajar
siswa adalah media, pergaulan siswa dan kegiatan siswa dalam masyarakat. Rahayu
(2002: 6) mengatakan ada empat faktor, yaitu:
1.
Mess media, misalnya bioskop, TV, majalah, radio dan lain-lain.
2.
Teman bergaul.
3.
Aktivitas dalam masyarakat.

4.
Corak kehidupan lingkungan masyarakat yang jelek, misalnya lingkungan
penjudi, prostitusi dan pencuri.

2.3 Sikap Siswa Dalam Belajar


2.3.1 Pengertian Sikap
Menurut Muhibbin (2011: 132),Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif
berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons (response tendence) dengan cara yang
relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun
negatif.
Menurut Djaali (2008:114),Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak berkenaan
dengan objek tertentu. Sikap bukan tindakan nyata (overt behavior) melainkan masih bersifat
tertutup (covert behavior).Menurut Robert R.Gabe (Siskandar, 2008:440), Sikap
merupakan kesiapan yang terorganisir yang mengarahkan atau mempengaruhi tanggapan
individu terhadap obyek.
Definisi sikap yang telah dikemukakan di atas, masih umum dan bersifat teoritis. Hal
ini menimbulkan kesulitan dalam pengukurannya, oleh sebab itu Show dan Wright (Azwar,
2000: 5) menyatakan bahwa, Sikap memiliki referensi atau kelas referensi yang spesifik dan
membatasi konstruksi sikap komponen afektif saja. Lebih jauh mereka mengemukakan,
aspek afektif ini mendahului tingkah laku dan didasarkan pada proses kognitif.
Menurut Azwar, sikap terdiri atas 3 komponen yang saling menunjang yaitu:
1.

Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh


individu pemilik sikap. Komponen kognitif berisi kepercayaan stereotipe yang
dimiliki individu mengenai sesuatu dapat disamakan penanganan (opini), terutama
apabila menyangkut masalah isu atau problem yang kontroversial.
2.
Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek
emosional. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai
komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruhpengaruh yang mungkindapat mengubah sikap seseorang. Komponen afektif
disamakan dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.

3.

Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu


sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang. Komponenkonatif berisi tendensi
atau kecenderungan untuk bertindak / bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara
tertentu.
Dari

semuapengertian

yang

atasdapatdiambilsebuahpengertiantentangsikap,
danpenilaianseseorangterhadapsuatuobyek,

di

ungkapan

yaitusikapadalahpenerimaan,
situasi,

konsep,

di
tanggapan,

orang

lain

maupundirinyasendiriakibathasildari proses belajarmaupunpengalaman di lapangan yang


menyebabkanperasaansenang (positif/sangatpositif) atautidaksenang (negatif/sangatnegatif).
2.3.2

Tingkatan Sikap
Menurut Silverius (Riyono, 2005:11), sikap meliputi lima tingkat kemampuan yaitu:

a. Menerima (Receiving)
Tingkat ini berhubungan dengan kesediaan atau kemauan siswa untuk ikut dalam
suatu fenomena atau stimulus khusus,misalnya dalam kegiatan pembelajaran di
kelas.Kata-kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk rumusan indikatornya
adalah menanyakan, menyebutkan, mengikuti, dan menyeleksi.
b. Menanggapi/Menjawab (Responding)
Pada tingkatan ini, siswa tidak hanya menghadiri suatu fenomena tetapi juga
bereaksi terhadapnya.Kata-kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk rumusan
indikatornya adalah menjawab, berbuat, melakukan, dan menyenangi.
c. Menilai (Valuing)
Tingkat ini berkenaan dengan nilai yang dikenakan siswa terhadap sesuatu obyek
atau fenomena tertentu.Tingkat ini berjenjang mulai dari hanya sekedar penerimaan
sampai pada tingkat komitmen yang lebih tinggi.Kata-kata kerja operasional yang dapat
digunakan untuk rumusan indikatornya adalah membedakan, mempelajari, dan membaca.
d. Organisasi (Organization)

Hasil belajar pada tingkat ini berkenaan dengan organisasi suatu nilai
(merencanakan suatu pekerjaan yang memenuhi kebutuhannya).Kata-kata kerja
operasional yang dapat digunakan untuk rumusan indikatornya adalah menyiapkan,
mempertahankan, mengatur, menyelesaikan, dan menyusun.
e. Karakteristik dengan suatu nilai atau kompleks nilai
Hasil belajar pada tingkat ini meliputi banyak kegiatan, tapi penekanannya lebih
besar diletakkan pada kenyataan bahwa tingkah laku itu menjadi ciri khas atau
karakteristik siswa tersebut. Kata-kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk
rumusan indikatornya adalah menerapkan, membenarkan cara pemecahan masalah, dan
sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas maka dalam penelitian ini tingkatan sikap siswa terhadap
pembelajaran matematika dijabarkan sebagai berikut:
1. Pada tingkat pertama (menerima), sikappositifsiswadapat
dilihatdarikesediaansiswauntukmengikutipembelajaranmatematika di kelas.
2. Padatingkatkedua (menanggapi), siswa yang
bersikappositifakancenderungmenyenangipembelajaranmatematika di kelas.
3. Padatingkatketiga (menilai), siswa yang
bersikappositifakanberusahauntukmempelajarimaterimatematikalebihdalamlagi.
Sebagaicontohmempelajarimaterimatematikasaat di rumah.
4. Padatingkatkeempat (organisasi), siswa yang
bersikappositifakanberusahamenyelesaikanmasalah / soal-soalmatematika yang
adasecaramaksimalwalaupunsoal-soaltersebuttergolongsangatsulit.
5. Padatingkatkelima (karakteristik), siswa yang
bersikappositifterhadappembelajaranmatematikaakanberusahamenerapkanpengetahua
nnyadalammemecahkanmasalahpada kehidupanseharihariataudapatberpikirkritisdalammenghadapisegalahal.

2.3.3

Pengukuran sikap

Instrumen yang akandigunakandalampenelitianiniadalahskalasikap. Menurut Bloom


(Annisa, 2011: 20) dalampengajaranmatematikadikenalduakategoriskalasikapyaituInterest
and AttitudedanAppreciation.Kategoripertamamencakup lima dimensiafektif, yaitu:
1.

AttitudeyaitutingkatkecenderunganpositifatauBegative
yang berhubungandengansuatuobjekpsikologis.

2.

Interestatauminatyaitukecenderunganmenghayatisuatuo
bjekuntukmengenalobjektersebut.

3.

Motivation
(motivasi)
yaitukekuatan
yang
adadidalamdiriseseorang yang mendorong orang tersebutuntukmelakukanaktivitas
aktivitastertentuuntukmencapaisuatutujuan.

4.

Anxietyyaitukecemasanseseorang yang disebabkanoleh


rasa ketidakmampuannyadalammemecahkansuatupermasalahan.

5.

Self
conceptyaitupandanganindividuterhadapdirinyasendiri
sangatdipengaruhiolehanggapandanpendapatdari orang lain.

yang

Kategorikeduadibedakanatastigadimensi, yaitu:
1.

Extrinsic Appreciationadalahaktivitas
berasaldariluardiriindividu.

yang

timbulakibatdaridorongan

yang

2. Intrinsic
Appreciationadalahaktivitas
timbulkarenaadanyadorongandaridalamdiriindividuitusendiri.

yang

3. Operational
Appreciationadalahbentukperbuatanintelektual
mungkinterjadiselama proses berpikir.

yang

Beberapaaspeksikap yang berhubungandenganpenelitianini, yaitu:


a.

Keyakinan
Kategorikeyakinandirancanguntukmengukurkepercayaandirisiswadankonsepkinerj
amerekadalammatematika.Contohnyasiswayakindapatmempelajarimatematikadenganbaik

tidakmerasagugupdantertekansaatbelajarmatematika,

dapatmemecahkanmasalahmatematikatanpabanyakkesulitan,
danpercayapadadirisendirisaatmengerjakansoalmatematika.
b.

Nilai
Nilaidarikategorimatematikadirancanguntukmengukurkeyakinansiswapadarelevan
si, kegunaandannilaimatematikadalamkehidupanmerekasekarangdan di masa depan.
Contohnyadenganmemahamimatematikaadakeyakinanuntukmendapatkanpekerjaan yang
layak,
danberusahamemperdalampengetahuantentangmatematikamisalnyamengikutikursusmate

c.

matika di luarsekolah.
Kenikmatan
Kenikmatandarikategorimatematikadirancanguntukmengukursejauh

mana

siswamenikmatipelajaranmatematikadankelasmatematika.Contohnyasenangmengikutipel
ajaranmattematikadanmengerjakanlatihansoalmaupuntugasmatematikatepatwaktu.
d.

Motivasi
Kategori motivasi ini dirancang untuk mengukur minat dalam matematika dan
keinginan untuk melanjutkan studi dalam matematika.Contohnya siswa merasa tertantang
jika guru memberikan soal matematika yang sulit, danmerasa penting untuk mendapatkan
penilaian ataupun penghargaan atas latihan soal atau tugas matematika.

2.3.4

Sikap Matematika

Menurut Arcavi (2006: 2), Sikap matematika adalah kecenderungan intelektual


terhadap matematika dan pemecahan masalah, termasuk perspektiftentang apa matematika
dan aktivitas matematika.Khalik (2006: 2) menjelaskan bahwa,Sikap matematika adalah
faktor afektif yang sangat penting dalam menentukan perilaku siswa dalam pemikiran
matematika dan pemecahan masalah karena upaya siswa dalam pemikiran matematis
tergantung pada bagaimana mereka tertarik dalam pemecahan masalah atau pelajaran.
Definisi sikap matematika juga dikemukakan oleh Katagiri(2006: 13), yang
menegaskan bahwa ,Mathematical thinking seperti sebuah sikap, di dalamnya dapat
dinyatakan sebagai keadaan "mencoba untuk melakukan" atau "bekerja untuk melakukan"
sesuatu. Hal ini tidak terbatas pada hasil yang diwakili oleh tindakan, seperti dalam
"kemampuan untuk melakukannya," atau "bisa melakukan" atau "tidak bisa melakukan"
sesuatu.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat kita pahami bahwa sikap matematika
merupakan suatu kencenderungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu
aktifitas pemecahan masalah matematika. Perubahan sikap seorang siswa dapat diamati
dalam proses pembelajaran. Dalam konteks pemecahan matematika dan aktivitas matematika
maka sikap matematika dapat diukur pada empat dimensi pengukuran sikap yang disintesis
berdasarkan definisi-definisi di atas yaitu:
1.
2.
3.
4.

Memahami masalah dan tujuan serta substansi masalah dengan jelas secara
mandiri
Mencoba mengambil tindakan logis
Mencoba untuk mengekspresikan hal-hal dengan jelas dan ringkas
Mencoba mencari penyelesaian yang lebih baik.

2.4 Tingkat Pendidikan Orang Tua


2.4.1 Pengertian Pendidikan
Menurut Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 14 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 yang dimaksud pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik

secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Menurut Ihsan (2003: 05), pendidikan dapat diartikan sebagai:
1. Suatu proses pertumbuhan yang menyesuaikan dengan lingkungan;
2. Suatu pengarahan dan bimbingan yang diberikan kepada anak dalam
pertumbuhannya;
3. Suatu usaha sadar untuk menciptakan suatu keadaan atau situasi tertentu yang
dikehendaki oleh masyarakat;
4. Suatu pembentukan kepribadian dan kemampuan anak dalam menuju kedewasaan.
2.4.2

Tingkat Pendidikan Orang Tua


Tingkat atau jenjang pendidikan adalah tahap pendidikan yang berkelanjutan yang

ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tingkat kerumitan bahan


pengajaran dan cara menyajikan bahan pengajaran (Ihsan, 2003: 18). Jenjang pendidikan
sekolah terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan
menengah. Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI)
atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah
Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat (Undang-undang No. 20 Tahun 2003
Pasal 17 tentang Sistem PendidikanNasional). Menurut Ihsan (2003: 22),Pendidikan dasar
adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan keterampilan, menumbuhkan sikap
dasar yang diperlukan dalam masyarakat, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti
pendidikan menengah.
Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.Pendidikan menengah
terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan
menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang
sederajat (Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 18 tentang Sistem Pendidikan Nasional).

Pendidikan menengah adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik menjadi anggota
masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal-balik dengan
lingkungan sosial budaya, dan alam sekitar, serta dapat mengembangkan kemampuan lebih
lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan (Ihsan, 2003: 23).
Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang
mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang
diselenggarakan oleh pendidikan tinggi. Perguruan Tinggi dapat berbentuk akademi,
politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas (Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Pasal
19 dan 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Menurut Undang-Undang No.2 tahun 1999, pengukuran tingkat pendidikan formal
digolongkan menjadi 4 (empat) yaitu:
1.
2.
3.
4.

Tingkat pendidikan sangat tinggi, yaitu minimal pernah menempuh pendidikan tinggi
Tingkat pendidikan tinggi, yaitu pendidikan SLTA/sederajat
Tingkatan pendidikan sedang, yaitu pendidikan SMP/sederajat
Tingkat pendidikan rendah, yaitu pendidikan SD/sederajat
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan tingkat pendidikan orang tua adalah

tingkat pendidikan menurut jenjang pendidikan yang telah ditempuh, melalui pendidikan
formal di sekolah berjenjang dari tingkat yang paling rendah sampai tingkat yang paling
tinggi, yaitu dari SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi.
2.5 Hubungan Tingkat Pendidikan Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa
Menurut Slameto(2003: 60-64), Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari
keluarga berupa: cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah,
keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan. Orang tua
yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi memiliki sumber daya yang cenderung
lebih besar, baik pendapatan, waktu, tenaga, dan jaringan kontak, yang memungkinkan
mereka untuk terlibat lebih jauh dalam pendidikan anak. Dengan demikian, pengaruh tingkat

pendidikan orang tua pada prestasi terbaik siswa mungkin direpresentasikan sebagai
hubungan yang dimediasi oleh interaksi antara proses dan variabel status.
Literatur juga menunjukkan bahwa tingkat pendidikan berpengaruh terhadap
pengetahuan orangtua, keyakinan, nilai, dan tujuan tentang pengasuhan, sehingga berbagai
perilaku orang tua berkaitan langsung dengan prestasi sekolah anak-anak.Sebagai contoh,
tingkat pendidikan yang lebih tinggi dapat meningkatkan fasilitas orang tua untuk terlibat
dalam pendidikan anak-anak mereka, dan juga memungkinkan orang tua untuk memperoleh
model keterampilan sosial dan strategi pemecahan masalah yang kondusif bagi sekolah untuk
keberhasilan anak-anak. Dengan demikian, siswa yang orang tuanya memiliki tingkat
pendidikan yang lebih tinggi mungkin memiliki hal untuk kesempurnaannya belajar,
keyakinan akan kemampuan yang lebih positif, orientasi kerja yang kuat, dan mereka
mungkin menggunakan strategi belajar yang lebih efektif daripada anak-anak dengan orang
tua yang memiliki tingkat pendidikan lebih rendah.
Sementara banyak teori para ahli dan peneliti yang berpendapat bahwa siswa yang
memahami makna prestasi telah memiliki dasar-dasar yang cukup baik dalam proses
sosialisasi, seperti belajar melalui pengamatan permodelan orangtuanya, yang lain
berpendapat bahwa melalui kualitas pribadi mereka, anak-anak aktif terhadap bentuk
pengasuhan yang mereka terima. Orang tua mensosialisasikan anak-anak mereka, tetapi anakanak juga mempengaruhi orang tua mereka.Orang tua dengan tingkat pendidikan yang lebih
tinggi juga memungkinkan untuk lebih percaya diri pada kemampuan mereka dalam
membantu anak-anak mereka belajar. Dengan tingkat keyakinan tersebut maka diperkirakan
akan berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan akademis anak-anak.
2.6 Tingkat Pendapatan Orang Tua
Dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan yang lainnya setiap orang
memerlukan pekerjaan. Dengan bekerja mereka akan memperoleh pendapatan. Apabila

pendapatan tersebut dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari dan mencukupi kebutuhan


rumah tangga lainnya, maka keluarga tersebut dikatakan makmur. Pendapatan adalah semua
penghasilan yang didapat oleh keluarga baik berupa uang ataupun jasa. Setiap orang berhak
untuk mencari nafkah dalam upaya untuk mencukupi kebutuhan hidup sehingga pendapatan
dapat mempengaruhi seseorang untuk mengejar apa yang mereka cita-citakan.
Untuk masyarakat yang mempunyai penghasilan yang kecil, hasil dari pekerjaannya
hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Untuk keluarga yang berpenghasilan menengah
mereka lebih terarah kepada pemenuhan kebutuhan pokok yang layak seperti makan,
pakaian, perumahan, pendidikan dan lain-lain. Sedangkan keluarga yang berpenghasilan
tinggi dan berkecukupan mereka akan memenuhi segala keinginan yang mereka inginkan
termasuk keinginan untuk menyekolahkan anak mereka ke jenjang pendidikan yang lebih
tinggi (Karsidi, 2008:34).
Di dalam menyekolahkan anak, masyarakat membutuhkan pembiayaan yang tidak
sangat kecil sehingga membutuhkan suatu pengorbanan sehingga pendidikan itu dianggap
sebagai suatu investasi di masa depan. Menurut Schultz(Soenarya,2000: 31), Pembiayaan
yang dialokasikan untuk pendidikan tidak semata-semata bersifat konsumtif, tetapi lebih
merupakan suatu investasi dalam rangka meningkatkan kapasitas tenaga kerja untuk
menghasilkan barang dan jasa.Pendidikan di sekolah merupakan salah satu bagian investasi
dalam rangka meningkatkan kemampuan sumber daya manusia.
Investasi yang dilakukan masyarakat dalam dunia pendidikan tidak lepas dari
pengaruh pendapatan yang diperoleh sebagai akibat dari pekerjaan yang mereka jalani.
Berdasarkan penggolongannya, Badan Pusat Statistik (BPS, 2008) membedakan pendapatan
menjadi 4 golongan adalah:
1. Golongan pendapatan sangat tinggi, adalah jika pendapatan rata-rata lebih dari Rp.
3.500.000,00 per bulan
2. Golongan pendapatan tinggi adalah jika pendapatan rata-rata antara Rp. 2.500.000,00
s/d Rp. 3.500.000,00 per bulan

3. Golongan pendapatan sedang adalah jika pendapatan rata-rata antara Rp. 1.500.000,00
s/d Rp. 2.500.000,00 per bulan
4. Golongan pendapatan rendah adalah jika pendapatan rata-rata 1.500.000,00 per bulan
Menurut Lipton (Rustiadi,

2007: 99) ,Meskipun secara historis negara Asia

mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi sebagian (proportion) dari
masyarakat perdesaan masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan dan jumlahnya
tidak banyak berkurang. Kemudian secara umum dia menyimpulkan bahwa di dalam
ekonomi telah terjadi misalokasi sumber daya antara kawasan perkotaan dan wilayah
perdesaan yang dia sebut sebagai urbanbiased. Kita ketahui bahwa jumlah penduduk
perdesaan lebih banyak jika dibandingkan dengan penduduk kota, namun bentuk
permukiman penduduk perdesaan lebih tersebar, lebih miskin, tidak berpikiran inovatif dan
kurang terorganisasi dengan baik dibanding dengan penduduk kota. Sebagai akibatnya terjadi
bias dalam alokasi sumber daya yang tercermin dalam kepincangan antara wilayah perdesaan
dan kawasan perkotaan yang secara ekonomi tidak efisien. Keadaan tersebut menyebabkan
kurangnya investasi dilakukan di wilayah perdesaan sebagai akibat dari transfer sumber daya
yang berlebihan ke arah kota-kota yang tercermin dari kurangnya fasilitas jasa-jasa umum
yang disediakan kepada masyarakat perdesaan yang miskin.
Kecenderungan umum juga terlihat dari terkonsentrasinya fasilitas umum yang
berlokasi pada pusat administrasi pemerintahan lokal, sedangkan di dalam wilayah perdesaan
yang jauh dan miskin bahwa fasilitas-fasilitas seperti sekolah, puskesmas, penyuluh pertanian
sering tidak dapat menjangkau. Kalaupun fasilitas tersebut ada, tetapi ketersediaannya sangat
tidak mencukupi, yang menyebabkan sangat jauhnya perjalanan murid-murid pergi ke
sekolah dan jarang dikunjungi penyuluh pertanian, sehingga produktivitas mereka rendah.
Berdasarkan uraian di atas, pendapatan masyarakat antara satu sama lain berbedabeda tergantung jenis/profesi pekerjaan yang dilakukan sehingga variasi tingkatan
pendapatannya dapat berbeda-beda. Pendapatan yang dihasilkan dari pekerjaan yang

dilakukan ada yang dibayarkan per hari, mingguan atau bulanan sehingga pendapatan inilah
yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup baik keperluan makan atau
keperluan lain seperti untuk keberlanjutan pendidikan anak yang merupakan suatu investasi
untuk masa depan.
2.7 Hubungan Tingkat Pendapatan Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa
Pendidikan memerlukan biaya, tenaga dan waktu yang cukup untuk berhasil,
disamping potensi fisik dan mental yang dimiliki. Biaya pendidikan yang dimaksud di sini
adalah biaya pendidikan formal, ketika biaya ini tidak dipenuhi pada saat diperlukan maka
akan berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan kemajuan belajar anak.
Pernyataan di atas cukup beralasan mengingat untuk dapat mengembangkan
kecerdasan dan intelegensi anak dibutuhkan antara lainpemenuhan gizi yang cukup dan
tersedianya fasilitas belajar yang memadai. Pada golongan penghasilan kecil, biaya yang
dialokasikan untuk itu relatif kecil pula atau bahkan tidak sama sekali. Sebagaimana yang
dikatakan oleh Mulyanto (2005: 68)bahwa,Golongan yang berpenghasilan kecil adalah
golongan yang memperoleh pendapatan sebagai imbalan terhadap kerja mereka yang
jumlahnya jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan kebutuhan pokoknya.Jadi bagaimana
mungkin memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain bila kebutuhan pokok pun sulit dipenuhi.
Sementara itu orang tua sendiri akan mengalami tekanan yang bersifat fundamental,
sehingga tidak dapat memberikan dorongan dan dukungan bagi keberhasilan pendidikan
anak-anaknya. Lain halnya dengan orang tua yang perekonomiannya mapan, maka sang anak
akan mendapatkan kesempatan yang lebih luas dalam mengembangkan berbagai kesempatan
yang tidak dapat ia kembangkan apabila tidak ada alat-alatnya. Hubungan sosial antara orang
tua dan anak akan berlainan coraknya apabila orang tua hidup dalam keadaan ekonomi yang
serba cukup, sebab orang tua kurang mengalami tekanan yang sifatnya fundamental.

Oleh karena itu dapat dipahami bahwa siswa dengan penghasilan orang tua yang besar
akan mempunyai kesempatan lebih besar untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Sedangkan
bagi siswa dengan tingkat penghasilan orang tua rendah maka kesempatan untuk itu relatif
sempit.