Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH AKUNTANSI PERPAJAKAN

“ASET TAK BERWUJUD”
Dosen Pengampu: Aviani Widyastuti SE., Ak., CA.,

Disusun oleh:
1. Chairunnisa Pratiwi Harahap
2. Chendaloka Cindewilis
3. Nasfiandri Fauziah

(201310170311266)
(201310170311267)
(201310170311270)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
MALANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1 Definisi Aset Tak Berwujud Menurut SAK-ETAP yang diatur oleh IAI (2009:76). Entitas dapat mengakui aset tak berwujud apabila: a) Kemungkinan entitas akan memperoleh manfaat ekonomi masa depan dari asset tersebut. Berikut adalah yang termasuk asset tak berwujud. maka biaya perolehannya diukur pada jumlah tercatat asset yang diberikan. asset tak berwujud adalah asset nonmoneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik. (4) goodwill. atau (b) hak atas mineral dan cadangan mineral seperti minyak. (1) hak paten. (2) hak cipta. Ciri utama asset tak berwujud ialah berupa benda yang tidak dapat dilihat dan dipegang. Menurut SAK-ETAP (2009:77). (5) waralaba (franchise).2 Nilai Perolehan Aset Tak Berwujud Aset tak berwujud dapat diperoleh dengan cara membeli dari pihak luar dan dihasilkan secara internal.dan b) Biaya perolehan asset atau nilai asset tersebut dapat diukur dengan andal. dan lain-lain. Aset tak berwujud. Apabila entitas tidak mampu menentukan nilai wajar yang andal atas asset yang diperoleh. tidak termasuk (a) efek/surat berharga.BAB II STANDAR AKUNTANSI (PSAK) DAN PERATURAN PERPAJAKAN 2. nilai asset tak berwujud dicatat sesuai dengan biaya perolehannya. gas alam dan sumber daya yang tidak dapat diperbarui. 2. (3) merek (trade mark). .

maka umur manfaatnya dianggap 10 tahun. b) Ada pasar aktif untuk asset tak berwujud. dan perubahan harga pasar dapat mengindikasikan bahwa umur manfaat asset tak berwujud telah berubah sejak tanggal periode tahunan paling kini. 2. apabila entitas tidak mampu mengestimasi umur manfaat asset tak berwujud. Penelahaan ulang atas periode dan metode amortisasi dipengaruhi oleh factor-faktor seperti perubahan pemakaian asset. yaitu asset tersebut berada di lokasi dan kondisi yang dibutuhkan untuk mampu beroperasi sesuai dengan keinginan pihak manajemen. semua asset tak berwujud dianggap mempunyai umur manfaat yang terbatas.Biaya perolehan asset tak berwujud terdiri atas: a) Harga beli. Nilai residu suatu asset tak berwujud seharusnya diasumsikan sama dengan 0. kecuali: a) Ada komitmen dari pihak ketiga untuk membeli asset tak berwujud tersebut pada akhir masa manfaatnya. Amortisasi dimulai ketika asset siap digunakan. perkembangan teknologi. Tetapi. Contoh-contoh asset tak berwujud dan asset lainnya: . nilai residu asset dapat ditentukan dengan mengacu pada harga pasar yang berlaku di pasar tersebut. Amortisasi dihentikan ketika asset dihentikan pengakuannya. Entitas harus memilih metode amortisasi yang mencerminkan pola pemanfaatan asset di masa mendatang. dan b) Biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dengan mempersiapkan asset hingga siap digunakan sesuai dengan tujuannya. maka entitas harus mengakui pengeluaran internal yang terjadi atas asset tersebut. tetapi apabila entitas tidak dapat menetapkan pola yang andal maka entitas harus menggunakan metode garis lurus. Apabila asset tak berwujud yang dihasilkan secara internal. termasuk bea impor dan pajak yang sifatnya tidak dapat dikreditkan setelah diskon dan potongan dagang.3 Umur Manfaat dan Metode Amortisasi Untuk tujuan SAK-ETAP. dan ii. terdapat kemungkinan bahwa pasar yang aktif tersebut akan tetap ada pada akhir umur manfaat asset tak berwujud. termasuk semua pengeluaran untuk aktivitas riset dan pengembangan sebagai bebabn pada saat terjadinya. dan i.

dan memelihara penghasilan. pengurusan izin-izin.4 Perpajakan Proses penyusutan asset tak berwujud dalam akuntansi dan perpajakan disebut amortisasi. Niali goodwill yang dicantumkan adalah nilai seluruh asset yang dikurangi biaya-biaya.. Adapun tariff amortisasi yang diatur dalam UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 11A ayat (2) sebagai berikut: Kelompok Masa Aset M Tak a Berwu nf Tarif Amortisasi Berdasarkan Metode Garis Lurus Saldo Menuru . tetapi tidak termasuk biaya operasional yang sifatnya rutin. pengeluaran sebelum operasi harus dikapitalisasi (sebagai biaya pra-operasi) dan kemudian diamortisasi. dan 4 dengan masa manfaat 4. distribusi. menagih. Aset tak berwujud menurut perpajakan (Penjelasan Pasal 11A ayat (1) UU PPh Nomor 36 Tahun 2008) harus diamortisasikan apabila harta itu mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun yang digunakan untuk mendapatkan. 2. prouksi.8. perusahaan tersebut tidak dapat secara otomatis mencantumkan goodwill dalam neraca. misalnya keistimewaan dalam lokasi. Goodwill Godwill adalah hak-hak istimewa yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Untuk keperluan perpajakan. 2. Biaya Pra-operasi Biaya sebelum operasi adalah pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial dan yang mempunyai manfaat lebih dari satu tahun. dan 20 tahun. dan pengalaman yang membuatnya lebih unggul daripada perusahaan lain. Contoh biaya praoperasi ini adalah biaya notaries. nama. seperti gaji karyawan. Pengeluaran rutin tersebut harus dibebankan pada saat tahun terjadinya. Oleh karena itu.2. kontribusi kepada Negara.3.16.1. beban telepon atau listrik dan beban kantor lainnya. Namun. goodwill hanya dapat dicatat sebagai harta yang dapat diamortisasi apabila goodwill tersebut diperoleh melalui pembelian perusahaan. Namun untuk penghitungan amortisasi dalam perpajakan sesuai dengan ketentuan UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 11A. asset tak berwujud dikelompokkan menjadi kelompok 1. Godwill hanya dapat dicatat dalam pembukuan apabila suatu perusahaan membeli perusahaan lain dengan harga di atas yang berlaku. biaya studi kelayakan dan biaya produksi percobaan.

yaitu bidang usaha hutan.jud a n at Kelompok 4 1 25% 50% 12.25% 12.25% 25% 6. Diatur juga untuk bidang usaha kehutanan. dan hasil hutan yang tanamannya dapat berproduksi berkali-kali dan baru .03/2008. Bulan produksi komersial adalah bulan di mana penjualan mulai dilakukan. amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh asset tak berwujud dan pengeluaran lainnya untuk bidang usaha tertentu dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran atau pada bulan produksi komersial. kawasan hutan.5% 5% 10% T a h u n Kelompok 2 8 T a h u Kelompok 3 n 16 T a h u Kelompok 4 n 20 T a h u n Menurut PMK-248/PMK.

Contoh: asset tak berwujud dengan masa manfaat yang sebenarnya adalah 5 tahun. Sedangkan. untuk pengeluaran biaya pendirian yang memiliki masa manfaat kurang 1 tahun. dapat dikapitalisasi dan diamortisasi sesuai dengan ketentuan masa manfaat dan tariff amortisasi dalam UU PPh. yaitu bidang usaha peternakan yang dapat berproduksi berkali-kali dan baru dapat dijual setelah dipelihara sejurang-kurangnya 1 tahun. Biaya pendirian dan perluasan modal dapat dibebankan sebagai biaya pada tahun pengeluaran atau diamortisasi berdasarkan metode garis lurus atau saldo menurun dengan masa manfaat sesuai dengan PAsal 11A ayat (1) UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 diatas.5 Akuntansi untuk Sumber Alam Deplesi adalah istilah yang digunakan dalam akuntansi untuk menyatakan alokasi sistematis dan rasional perolehan sumber alam. . Penentuan masa manfaat dan tariff amortisasi untuk asset tak berwujud yang masa manfaatnya tidak tercantum pada kelompok masa manfaat yang ada. Pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial (biaya oendirian) yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun. Untuk bidang usaha perkebunan tanaman keras. yaitu amortisasi. maka WP dapat menggunakan masa manfaat yang terdekat. haruslah dibebankan sekaligus pada tahun berjalan yang bersangkutan. Rumus untuk menghitung deplesi adalah: (Total Perolehan – Nilai residu/Total unit yang diestimasi = deplesi per unit Deplesi per unit x Jumlah unit yg dihasilkan & dijual = Beban deplesi per th. Perpajakan menggunakan istilah lain untuk deplesi. 2. yaitu bidang usaha perkebunan yang tanamannya dapat berproduksi berkali-kali dan baru menghasilkan setelah ditanam lebih dari 1 tahun dan bidang usaha peternakan.menghasilkan setelah ditanam lebih dari 1 tahun. maka asset tak berwujud tersebut dapat diamortisasikan dengan menggunakan kelompok masa manfaat 4 tahun.

Ketentuan ini dapat dinyatakan dengan rumus: Amortisasi per tahun= Jumlah penambangan x tanpa batasan Taksiran total produksi Amortisasi menggunakan metode satuan produksi berarti presentase amortisasi dari biaya tersebut dalam setiap tahun pajak harus sama dengan presentase penambangan atau penebangan yang dihasilkan setiap tahun.Menurut ketentuan perpajakan.000: 100. Amortisasi dengan menggunakan metode satuan produksi dapat dirumuskan sebagai berikut: Suatu konsesi pertambangan ditaksir jumlah depositnya 100. Biaya untuk memperoleh hak penambangan sumber alam selain minyak gas bumi. Presentase hasil produksi satu tahun adalah (10. Angka ini diperoleh dengan membandingkan dengan taksiran jumlah hasil produksinya. Apabila biaya untuk memperoleh hak penambangan dan hak pengusahaan hutan pada akhir masa produksi belum habis diamortisasikan. hak penambangan tersebut dalam setahun diamortisasikan sebesar 10%. Biaya untuk memperoleh hak dan/atau biaya lain-lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun dalam bidang penambangan minyak dan gas bumi dilakukan dengan menggunakan metode satuan produksi. harga perolehannya dapat diamortisasi berdasarkan metode satuan produksi dengan pembatasan sebagai berikut: 1. hasil produksi satu tahun 10.000) x 100% = 10% Dengan demikian. hak penambangan dan pengusahaan hutan termasut asset tak berwujud. maka sisa biaya tersebut tidak boleh dibebankan sekaligus sebagai biaya dalam tahun pajak yang bersangkutan. Ketentuan ini dapat dinyatakan dengan rumus: Amortisasi per tahun = Jumlah penambangan/penebangan x 20% Taksiran total produksi/deposit 2. apabila ternyata . Oleh karena itu. hak pengusahaan hutan dan hak pengusahaan sumber alam serta hasil alam lainnya seperti hak pengusahaan hasil laut yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun.000 ton.000 ton. dapat diamortisasikan dengan menggunakan metode satuan produksi presentase yang tidak lebih dari 20% setahun. Sisa tadi harus diamortisasikan setinggi-tingginya 20%. Sebaliknya.

BAB III KASUS PENERAPAN .jumlah produksi sebenarnya lebih kecil daripada jumlah cadangan yang diperkirakan sehingga masih terdapat sisa biaya untuk memperoleh hak yang belum habis diamortisasikan. Perbedaan utama antara deplesi dan amortisasi adalah nilai residu tidak dipertimbangkan dalam menghitung presentase amortisasi hak penambangan dan pengusahaan hutan. maka sisa biaya tersebut boleh dibebankan sekaligus sebagai biaya dalam tahun pajak yang bersangkutan.

 Contoh-contoh asset tak berwujud dan asset lainnya: Goodwill Biaya Pra-operasi  Proses penyusutan asset tak berwujud dalam akuntansi dan perpajakan disebut amortisasi. nilai asset tak berwujud dicatat sesuai dengan biaya perolehannya. dan lain-lain. (3) merek (trade mark). Namun untuk penghitungan amortisasi dalam perpajakan sesuai dengan ketentuan UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 11A.  Yang termasuk asset tak berwujud.3. dan b. (4) goodwill.16..  Untuk tujuan SAK-ETAP. termasuk bea impor dan pajak yang sifatnya tidak dapat dikreditkan setelah diskon dan potongan dagang. (5) waralaba (franchise).  Menurut SAK-ETAP (2009:77). . tidak termasuk (a) efek/surat berharga.8. atau (b) hak atas mineral dan cadangan mineral seperti minyak. Biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dengan mempersiapkan asset hingga siap digunakan sesuai dengan tujuannya. dan 20 tahun. apabila entitas tidak mampu mengestimasi umur manfaat asset tak berwujud. asset tak berwujud dikelompokkan menjadi kelompok 1. menagih. maka umur manfaatnya dianggap 10 tahun. dan 4 dengan masa manfaat 4. semua asset tak berwujud dianggap mempunyai umur manfaat yang terbatas. Biaya perolehan asset tak berwujud terdiri atas: a. Harga beli. Aset tak berwujud menurut perpajakan harus diamortisasikan apabila harta itu mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun yang digunakan untuk mendapatkan. (2) hak cipta. aset tak berwujud adalah asset nonmoneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik. Aset tak berwujud.2. Tetapi. Ciri utama asset tak berwujud ialah berupa benda yang tidak dapat dilihat dan dipegang. dan memelihara penghasilan. gas alam dan sumber daya yang tidak dapat diperbarui.BAB IV KESIMPULAN  Menurut SAK-ETAP. (1) hak paten.

 Menurut ketentuan perpajakan. Perpajakan menggunakan istilah lain untuk deplesi. Oleh karena itu.  Perbedaan utama antara deplesi dan amortisasi adalah nilai residu tidak dipertimbangkan dalam menghitung presentase amortisasi hak penambangan dan pengusahaan hutan. . Deplesi adalah istilah yang digunakan dalam akuntansi untuk menyatakan alokasi sistematis dan rasional perolehan sumber alam. hak penambangan dan pengusahaan hutan termasut asset tak berwujud. harga perolehannya dapat diamortisasi berdasarkan metode satuan  Amortisasi menggunakan metode satuan produksi berarti presentase amortisasi dari biaya tersebut dalam setiap tahun pajak harus sama dengan presentase penambangan atau penebangan yang dihasilkan setiap tahun. yaitu amortisasi. Angka ini diperoleh dengan membandingkan dengan taksiran jumlah hasil produksinya.