Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Kejadian gawat darurat dapat diartikan sebagai keadaan dimana seseorang
membutuhkan pertolongan segera karena apabila tidak mendapatkan pertolongan dengan
segera maka dapat mengancam jiwanya atau menimbulkan kecacatan permanen. Keadaan
gawat darurat yang sering terjadi di masyarakat antara lain keadaan seseorang yang
mengalami henti napas, henti jantung, tidak sadarkan diri, kecelakaan, cedera, misalnya
patah tulang, kasus stroke, kejang, keracunan, dan korban bencana. Unsur penyebab
kejadian gawat darurat antara lain karena terjadinya kecelakaan lalu lintas, penyakit,
kebakaran maupun bencana alam. Kasus gawat darurat karena kecelakaan lalu lintas
merupakan penyebab kematian utama d daerah perkotaan ( Media Aeculapius, 2007 ).
Menurut American Hospital Association (AHA) dalam Herkutanto (2007), keadaan
gawat darurat adalah suatu kondisi dimana berdasarkan respon dari pasien, keluarga
pasien, atau siapa pun yang berpendapat pentingnya membawa pasien ke rumah sakit
untuk diberi perhatian/tindakan medis dengan segera.
Berdasarkan Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), pasal 2 setiap dokter harus
senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi yang
tertinggi yaitu sesuai dengan perkembangan IPTEK kedokteran, etika umum, etika
kedokteran, hukum dan agama, sesuai tingkat/jenjang pelayanan kesehatan dan situasi
setempat. Rumah sakit di indonesia memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan
pelayanan gawat darurat 24 jam sehari dimana Dalam pelayanan gawat darurat tidak
diperkenankan untuk meminta uang muka sebagai persyaratan pemberian layana. Dapat
dilihat bagaimana pentingnya pengetahuan mahasiwa sebagai seorang calon dokter dalam
melakukan penatalaksaan awal kegawatdaruratan yang sering ditemukan kasusnya dalam
melaksanakan tugas.

1.2 TUJUAN
a. Mengetahui tentang obstruksi total dan parsial
b. Mengetahui tentang tanda kegawatdaruratan jalan nafas
c. Mengetahui prosedur pembahasan jalan nafas
d. Mengetahui sistem rujukan
1

BAB II
PEMBAHASAN

Skenario 1
Seorang anak laki-laki umur 5 tahun dibawa oleh ibunya ke IGD karena tersedak biji
rambutan. Pada pemeriksaan fisik terlihat keadaan umum anak tersebut terlihat sesak, pucat
dan kebiruan. Oleh dokter yang sedang bertugas langsung dilakukan tindakan pembebesan
jalan nafas dan bantuan pernafasan sebelum di konsul ke dokter ahli.
2.1.
2.2.

2.3.

Step 1
Step 2
a. Anak 5 tahun  IGD  tersedak biji rambutan
b. Keadaan umum : sesak, pucat, kebiruan
c. Tindakan pembebesan jalan nafas dan bantuan pernafasan
Step 3
a. Bagaimana cara pembebasan jalan nafas pada kasus di skenario?
b. Bagaimana proses tersedak menyebabkan kebiruan?
c. Organ organ apa saja yang dapat terganggu?
d. Bagaimana cara melakukan penilaian untuk menentukan kasus pada skenario?
e. Berapa waktu yang dibutuhkan apabila terjadi penyumbatan sehingga
menyebabkan kematian batang otak?
f. Mengapa harus dikonsul ke ahli? Indikasi untuk apa?
g. Tindakan pada skenario disebut apa? Dan apakah berlaku untuk semua golongan
umur?
h. Apa penyebab gangguan jalan nafas?
i. Tindakan lanjutan setelah pembebesan jalan nafas?
Jawab:
a. Manual  back blow  anak badan ditelungkupkan kepala lebih rendah daripada
mulut supaya terbuka dan punggung dipukul di antara scapula.
b. Sianosis  karena hipoksia jaringan (kekurangan O2)akibat sumbatan jalan
nafas (obstruksi)
c. Organ pernapasan atas  laring
Paru, jantung, otak
d. Pernapasan  frekuensi pernafasan  apakah normal/tidak?  tidak normal
apakah ada obstruksi?  jika ada apakah parsial atau total?  dilihat dari adanya
suara hambatan dari mana sumbatannya
2

Sumbatan total juga bisa terjadi secara perlahan (insidious) yang diawali dari sumbatan parsial terlebih dahulu. 2. Obstruksi total dan parsial .5. Seperti halnya pada korban saat makan kemudian tertelan benda asing (makanan) yang menyumbat jalan napas secara tiba-tiba. 2011). Sistem rujukan Step 6 - 2. h. Step 7 a. Step 4 b o h s p m e b p i e a n s o a n d t k n a u a r s o n a u a s g l a jk i a / s rs s n a i i n a l n g n a g a t n 2.6. maka akan terjadi sumabatan total akut.4.e. Sumbatan karena benda asing pada jalan napas sering disebut dengan istilah Foreign Body Airway Obstruction (FBAO) (YAGD 118. Tiga menit Jika tanda dan gejala tidak hilang pada penanganan awal Back blow  untuk anak 1 tahun Faktor eksterna : benda asing Faktor interna : infeksi  penyempitan i.Obtruksi total Korban jika mengalami sumbatan total itu bisa dalam keadaan sadar maupun tidak sadar. misalnya adanya akumulasi darah di jalan napas yang tidak ditangani dengan segera. i i a i Step 5 Mahasiswa mampu menjelaskan tentang. Korban sadar yang tersedak biasanya dapat ditangani dengan cepat jika orang yang 3 . Tanda kegawatdaruratan jalan nafas c. Prosedur pembebasan jalan nafas d.7. Circulation : denyut nadi. tekanan darah 2. a. f. Obtruksi total dan parsial b. g.

Kemudian dorong dengan cepat dari arah dalam keatas (Proehl. Setelah itu tekan yang kuat pada daerah perut korban dengan cepat dari arah dalam keatas. maka posisi kita adalah berlutut atau mengangkangi paha klien. kita lingkarkan ke pinggang korban. 1999) Sumbatan juga bisa terjadi pada anak dan bayi. Lengan kiri kita diatas lengan kanan atau sebaliknya sesuai dengan kekuatan tangan dengan posisi dibawa PX dan diatas umbilicus korban. Jika ditemukan kasus seperti ini. tidak dapat bersuara. jika korban mengangguk berarti korban mempunyai sumbatan di jalan napas. lakukan sapuan jar  Aktifkan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu  Cek nadi. Sumbatan jalan napas bisa terjadi pada anak. Tangan kiri yang melekat pada perut korban dikepalkan dan tangan kanan berada diatas tangan kiri kita. harus segera ditanyakan pada korban “apakah anda tersedak?”. Jika posisi korban supinasi dan tidak sadar. Sedangkan pada bayi 65% terjadi karena adanya aspirasi cairan. 4 . jika tidak teraba lakukan resusitasi jantung paru Cara melakukan Heimlich maneuver dengan posisi korban berdiri atau duduk adalah tangan kita. Tanda-tanda korban yang FBAO antara lain korban akan kesulitan bernapas. batuk yang tidak bersuara. Angka kematiannya pun cukup tinggi yaitu sekitar 90% pada anak < 5 tahun. Posisi tangan kita berada dibawah prosesus xipoideus (PX) dan diatas umbilicus korban. sianosis bahkan tidak dapat bernapas. Segera lakukan teknik membebaskan jalan napas dari sumbatan benda asing.ada disekitarnya mengenali tanda-tanda kegawatan yang timbul saat korban tersebut tersedak. yaitu pada orang dewasa dengan cara:  Lakukan Heimlich maneuver pada korban sampai benda asing keluar  Jika benda terlihat. Selain itu juga bisa terlihat korban akan memegang lehernya. karena anak cenderung mempunyai kebiasaaan untuk memasukkan apapaun yang ada berserakan dilantai ke mulut anak seperti makanan kecil. Korban kita buat sedikit roboh kedepan. Kunci keberhasilan dalam penanganan korban yang tersumbat benda asing adalah tanda-tanda bahwa korban tersebut tersumbat jalan napasnya oleh benda asing.

Seperti halnya suara “Gurgling” yang timbul karena adanya cairan dijalan napas seperti akumulasi darah. Sedangkan pada bayi yang masih sadar. Selain itu adanya sumbatan parsial juga menimbulkan berbagai suara tergantung dengan penyebabnya. tetapi sulit bernapas. Selain itu ada suara “Snoring” yang timbul seperti suara mengorok yang biasanya bisa terjadi pada korban yang tidak sadar yang 5 . biarkan korban secara fisiologis membersihkan jalan napasnya sendiri dengan batuk (YAGD 118. mainan kecil dan lain sebagainya. Caranya back blows dan chest thrust pada bayi adalah: bayi posisi pronasi diatas lengan bawah tangan kanan kita. Dan saat melakukan ventilasi. Dilakukan sampai benda asing keluar (Proehl. dam masih bisa bersuara.permen. pastikan bendanya sudah tidak menyumbat jalan napas. maka lakukan resusitasi jantung paru (RJP). 2011). maka korban tidak dapat batuk dan bersuara. jangan dilakukan apapun. Lakukan chest thrust dengan posisi jari setingkat dibawah nipple bayi dan jari tengah dan manis disternum bayi untuk memberikan tekanan saat chest trust. Jika sumbatan ringan. korban masih bisa bernapas. Hal ini biasa diatasi dengan cara penghisapan atau disebut juga suction. Jika sumbatannya berat. aspirasi lambung dan lain-lain. Sapuan jari tidak direkomendasikan jika benda tidak tampak pada faring karena hal ini akan mendorong benda tersebut masuk kedalam orofaring dan menyebabkan kerusakan pada organ tersebut (Proehl. Kemudian posisi bayi dirubah ke posisi supinasi. Pegang rahang bayi untuk menopang kepala bayi dengan tangan kanan. 1999). bisa dilakukan back blowssebanyak 5 kali yang diikuti dengan 5 x chest thrust berulang-ulang sampai benda keluar atau jatuh tidak sadar. Tanda yang bisa dikenali. 1999). Sumbatan yang berat pada anak dapat dilakukan penatalaksanaan dengan Heimlich maneuver sampai benda tersebut keluar. Jika bayi tidak sadar dan nadi tidak teraba. sekret. maka anak masih dapat batuk dan bersuara. - Obstruksi Parsial Pada obstruksi parsial. jika sumbatannya ringan pada anak. dengan tangan kiri menopang kepala dan leher bayi yang ditempatkan diatas paha kita. Lakukan back blow dengan tumit tangan kiri kita dengan kuat di antara tulang belikat korban sebanyak 5 kali.

diagnosis dan penatalaksanaan terhadap masalah yang mendasarinya. Tanda kegawatdaruratan jalan nafas Periksa tanda kegawatdaruratan dalam 2 tahap:  Tahap 1: Periksa jalan napas dan pernapasan. anemia berat. Kirimkan sampel darah untuk pemeriksaan golongan darah dan cross-match bila anak mengalami syok.  Setelah memberikan pertolongan kegawatdaruratan.  Lakukan pemeriksaan laboratorium kegawatdaruratan (darah lengkap. Tenaga kesehatan profesional yang berpengalaman harus melanjutkan penilaian untuk menentukan masalah yang mendasarinya dan membuat rencana penatalaksanaannya. 2011). Hal ini bisa diatasi secara manual atau dengan alat untuk menahan lidah jatuh ke belakang. tetapi jangan menunda penanganan. gula darah. kejang. Hal ini bisa diatasi dengan kolaborasi trakeostomi (YAGD 118. Tetap tenang dan kerjakan dengan tenaga kesehatan lain yang mungkin diperlukan untuk membantu memberikan pertolongan. atau diare dengan dehidrasi berat. lanjutkan segera dengan penilaian. atau perdarahan yang cukup banyak. malaria). Suara ini juga bisa terjadi jika korban terjadi patah tulang rahang bilateral. Bila didapatkan tanda kegawatdaruratan:  Panggil tenaga kesehatan profesional terlatih bila memungkinkan.  Tahap 2: Segera tentukan apakah anak dalam keadaan syok. karena pada anak yang sakit berat seringkali memerlukan beberapa tindakan pada waktu yang bersamaan.menyebabkan lidah jatuh ke belakang. 6 . b. bila terdapat masalah segera berikan tindakan untuk memperbaiki jalan napas dan berikan napas bantuan. tidak sadar. Edema bisa terjadi jika terkena luka bakar dan radang. Ada juga suara “Crowing atau Stridor” yang disebabkan karena penyempitan larink atau trakea akibat adanya edema atau bisa juga desakan neoplasma.

mengingat bahwa korban mungkin memiliki lebih dari satu cedera dan beberapa korban akan membutuhkan perhatian dari pada yang lain 4. Persiapan 2. Primary survey (ABCDE) 4. Pemantauan dan re-evaluasi berkesinambungan 9. Resusitasi 5. dalam mengevaluasi. Secondary survey. 8 melaksanakan. 2004) : 1. Meningkatkan pemulihan Seseorang yang memberikan penatalaksanaan awal harus : 1. Tambahan terhadap secondary survey 8. Tambahan terhadap primary survey dan resutisasi 6. oleh karena itu diperlukan adanya suatu cara yang mudah dilaksanakan. Mencegah kondisi menjadi lebih buruk 3. waktu sangat penting. Mengkaji sesuatu 2. Humphries. Tidak menunda pengiriman korban ke Rumah Sakit sehubungan dengan kondisi serius Pada penderita trauma. Penanganan definitif 7 . Memberikan penanganan yang cepat dan adekuat.Kegawatdaruratan secara umum dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang dinilai sebagai ketergantungan seseorang dalam menerima tindakan medis atau evaluasi tindakam operasi dengan segera. Proses ini dikenal sebagai initial aassesment (penilaian awal) dan meliputi (ATLS. Mempertahankan hidup 2. Triase 3. Hal ini merupakan metode penanganan yang telah diuji sampai korban dipindahkan ke Rumah Sakit atau lokasi dimana keterampilan dan peralatan yang layak tersedia (Skeet. Penatalaksanaan awal diberikan untuk : 1. dan menyediakan terapi pada pasien-pasien dengan trauma yang tidak dapat di duga sebelumnya serta penyakit lainnya (Stone. Berdasarkan definisi tersebut the American College of Emergency Physicians states dalam melakukan penatalaksanaan kegawatdaruratan memiliki prinsip awal. 1995). pemeriksaan head to toe dan anamnesis 7. Memnentukan diagnosis untuk setiap korban 3. Penatalaksanaan awal dalam kegawatdaruratan merupakan aplikasi terlatih dari prinsip-prinsip penanganan pada saat terjadinya kecelakaan atau dalam kasuskasus penyakit mendadak dengan menggunakan fasilitas-fasilitas atau bendabenda yang tersedia pada saat itu. 2008).

tetapi cegah hipotermia Airway Airway manajemen merupakan hal yang terpenting dalam resusitasi dan membutuhkan keterampilan yang khusus dalam penatalaksanaan keadaan gawat darurat.Penatalaksanaan awal pada primary survey dilakukan pendekatan melalui ABCDE yaitu : A:Airway. menjaga airway dengan kontrol servikal (cervical spinecontrol) B: Breathing. dapat dianggap bahwa jalan nafas bersih. Kematian-kematian dini karena masalah airway seringkali masih dapat dicegah. Penilaian bebasnya airway dan 8 . fraktur manibula atau maksila. dan progresif dan/atau berulang. fraktur laring atau trakea. menjaga pernafasan dengan ventilasi C: Circulation dengan kontrol perdarahan (hemorrage control) D: Disability. chin 10 lift. oleh karena itu hal pertama yang harus dinilai adalah kelancaran jalan nafas. Pada penderita yang dapat berbicara. 2010). Gangguan airway dapat timbul secara mendadak dan total. Adanya gerakan motorik yang tak bertujuan. membuka baju penderita. Dalam hal ini dapat dimulai dengan melakukan chin lift atau jaw thrust. Jika pasien tidak mampu dalam mempertahankan jalan nafasnya. atau melakukan penyisipan airway orofaringeal serta nasofaringeal (Walls. Menurut ATLS 2004. walaupun demikian penilaian terhadap airway harus tetap dilakukan. Penderita dengan gangguan kesadaran atau Glasgow Coma Scale sama atau kurang dari 8 biasanya memerlukan pemasangan airway definitif. jaw thrust. Usaha untuk membebaskan jalan nafas harus melindungi vertebra servikal. status neurologis E: Exposure/environmental control. patensi jalan nafas harus dipertahankan dengan cara buatan seperti : reposisi. dan dapat disebabkan oleh : - Kegagalan mengetahui adanya kebutuhan airway Ketidakmampuan untuk membuka airway Kegagalan mengetahui adanya airway yang dipasang secara keliru Perubahan letak airway yang sebelumnya telah dipasang Kegagalan mengetahui adanya kebutuhan ventilasi Aspirasi isi lambung Bebasnya jalan nafas sangat penting bagi kecukupan ventilasi dan oksigenasi. perlahan – lahan dan sebagian. fraktur tulang wajah. yang meliputi pemeriksaan jalan nafas yang dapat disebabkan oleh benda asing. mengindikasikan perlunya airway definitif.

pasien dibaringkan dalam posisi terlentang dan horizontal. Posisi ini dipertahankan sambil berusaha dengan - memberikan inflasi bertekanan positif secara intermittena (Alkatri. 9 . cairan muntah atau benda asing. selama melakukan prosedurprosedur ini harus dilakukan imobilisasi segaris (in-line immobilization) (ATLS. Tangan lain diletakkan pada dahi depan pasien sambil mendorong menekan ke belakang. Kepala diekstensikan dengan cara meletakkan satu tangan di bawah leher pasien dengan sedikit mengangkat leher ke atas. Chin lift Jari . Bentuk sumbatan seperti ini dapat dengan segera diperbaiki dengan cara mengangkat dagu (chin lift maneuver). atau dengan mendorong rahang bawah ke arah depan (jaw thrust maneuver). Manuver ini berguna pada korban trauma karena tidak membahayakan penderita dengan kemungkinan patah ruas rulang leher atau mengubah patah tulang tanpa cedera spinal menjadi patah tulang dengan cedera spinal. 2007). Ibu jari tangan yang sama. dagu dengan hati – hati diangkat.jemari salah satu tangan diletakkan bawah rahang. Tindakan-tindakan yang digunakan untuk membuka airway dapat menyebabkan atau memperburuk cedera spinal. yang kemudian secara hati – hati diangkat ke atas untuk membawa dagu ke arah depan. Bila penderita mengalami penurunan tingkat kesadaran. Oleh karena itu. kecuali pada pembersihan jalan napas dimana bahu dan kepala pasien harus direndahkan dengan posisi semilateral untuk memudahkan drainase lendir. Maneuver chin lift tidak boleh menyebabkan hiperekstensi leher. maka lidah mungkin jatuh ke belakang. secara bersamaan. ibu jari dapat juga diletakkan di belakang gigi seri (incisor) bawah dan. 2004) Teknik-teknik mempertahankan airway : - Head tilt Bila tidak sadar. Airway selanjutnya dapat dipertahankan dengan airway orofaringeal (oropharyngeal airway) atau nasofaringeal (nasopharingeal airway). dan menyumbat hipofaring. dengan ringan menekan bibir bawah untuk membuka mulut.baik-tidaknya pernafasan harus dikerjakan dengan cepat dan tepat.

Setelah ujung pipa mengenai palatum durum putar pipa ke arah 180 drajat.- Jaw thrust Penolong berada disebelah atas kepala pasien. Kedua tangan pada mandibula. Hal ini dilakukan dengan cara menyesuaikan ukuran pipa oro-faring dari tragus (anak telinga) sampai ke sudut bibir. Kemudian mandibula diangkat ke atas melewati molar pada maxila (Arifin. jari kelingking dan manis kanan dan kiri berada pada angulus mandibula. jari tengah dan telunjuk kanan dan kiri berada pada ramus mandibula sedangkan ibu jari kanan dan kiri berada pada mentum mandibula. Kemudian dorong pipa dengan cara melakukan jaw thrust dan kedua ibu jari tangan menekan sambil mendorong pangkal pipa oro-faring dengan hati-hati sampai bagian yang keras dari pipa berada diantara gigi atas dan bawah. lengkungannya menghadap ke atas (arah terbalik). Periksa dan pastikan jalan nafas 10 . - Oropharingeal Airway (OPA) Indikasi : Airway orofaringeal digunakan untuk membebaskan jalan napas pada pasien yang kehilangan refleks jalan napas bawah (Kene. 2007). Masukkan pipa orofaring dengan tangan kanan. Kemudian pilih ukuran pipa orofaring yang sesuai dengan pasien. lalu masukkan ke dalam rongga mulut. davis. Teknik : Posisikan kepala pasien lurus dengan tubuh. 2012). terakhir lakukan fiksasi pipa orofaring.

dengar. rekatkan plester sampai ke pipi pasien (Arifin. Pilihlah ukuran pipa naso-faring yang sesuai dengan cara menyesuaikan ukuran pipa nasofaring dari lubang hidung sampai tragus (anak telinga). lengkungannya menghadap ke arah mulut (ke bawah). dengar). Masukkan pipa naso-faring dengan cara memegang pangkal pipa nasofaring dengan tangan kanan. Patikan jalan nafas sudah bebas (lihat. rasa) ( Arifin. Pipa nasofaring diberi pelicin dengan KY jelly (gunakan kasa yang sudah diberi KY jelly). Masukkan ke dalam rongga hidung dengan perlahan sampai batas pangkal pipa. 2004). 2012) - Nasopharingeal Airway Indikasi : Pada penderita yang masih memberikan respon. airway nasofaringeal lebih disukai dibandingkan airway orofaring karena lebih bisa diterima dan lebih kecil kemungkinannya merangsang muntah (ATLS. 11 .bebas (Lihat. Teknik : Posisikan kepala pasien lurus dengan tubuh. Fiksasi pipa oro-faring dengan cara memplester pinggir atas dan bawah pangkal pipa. 2012). rasa.

Lihat (look). 2004): a. mendengar adanya suara pernafasan pada kedua sisi dada. Karren. Ketidakmampuan mempertahankan airway yang bebas dengan cara – cara yang lain c. Faktor yang paling menentukan dalam pemilihan intubasi orotrakeal atau nasotrakeal adalah pengalaman dokter. Ketidakmampuan mempertahankan oksigenasi yang adekuat dengan Pemberian oksigen tambahan lewat masker wajah Intubasi orotrakeal dan nasotrakeal merupakan cara yang paling sering digunakan. melihat naik turunnya dada yang simetris dan pergerakan 2. 3. Dengar (listen). Adanya apnea b. Kebutuhan untuk melindungi airway bagian bawah dari aspirasi darah atau vomitus d. 1992) : 1. dan airway surgical (krikotiroidotomi atau trakeostomi). 12 . Ketidakmampuan melakukan intubasi trakea merupakan indikasi yang jelas untuk melakukan airway surgical. dinding dada yang adekuat. Ancaman segera atau bahaya potensial sumbatan airway e. Kedua teknik tersebut aman dan efektif apabila dilakukan dengan tepat. Adanya kemungkinan cedera servikal merupakan hal utama yang harus diperhatikan pada pasien yang membutuhkan perbaikan airway. merasa adanya hembusan nafas.- Airway definitif Terdapat tiga jenis airway definitif yaitu : pipa orotrakeal. Penentuan pemasangan airway definitif didasarkan pada penemuanpenemuan klinis antara lain (ATLS. jaga agar jalan nafas tetap terbuka dan periksa dengan cara (Haffen. Rasa (feel). Adanya cedera kepala yang membutuhkan bantuan nafas (GCS < 8) f. pipa nasotrakeal. Apabila pernafasan membaik.

Holt. Pastikan jalan nafas bebas (lihat. yang menghasilkan CO2 yang harus dikeluarkan secara terus-menerus (Sherwood. dengar. sementara tanaga kanan digunakan untuk memegang bag (kantong) reservoir sekaligus pompa nafas bantu (squeeze-bag) 13 . dan akhirnya kematian (Hagberg. Apabila pernafasan tidak adekuat. rasa) i. Sel-sel tubuh memerlukan pasokan konstan O2 yang digunakan untuk menunjang reaksi kimiawi penghasil energi. gunakan dengan kedua tangan bersama-sama (tangan kanan dan kiri memegang mandibula dan sungkup muka bersama-sama) h. oksigen diperoleh dengan bernafas dan diedarkan dalam aliran darah ke seluruh tubuh (Smith. teknik ini lebih efektif apabila dilakukan oleh dua orang dimana kedua tangan dari salah satu petugas dapat digunakan untuk menjamin kerapatan yang baik (ATLS. Davis. 2005). Menjamin terbukanya airway merupakan langkah awal yang penting untuk pemberian oksigen. Airway yang baik tidak dapat menjamin pasien dapat bernafas dengan baik pula (Dolan. Barth. Pilihlah ukuran sungkup muka yang sesuai (ukuran yang sesuai bila sungkup muka dapat menutupi hidung dan mulut pasien. ibu jari dan telunjuk memegang dan memfiksasi sungkup muka e. tidak ada kebocoran) c. Kegagalan dalam oksigenasi akan menyebabkan hipoksia yang diikuti oleh kerusakan otak. Jari kelingking tangan kiri penolong diposisikan pada angulus mandibula. ventilasi dengan menggunakan teknik bagvalve-face-mask merupakan cara yang efektif. 2007). Cara melakukan pemasangan face-mask (Arifin. Gerakan tangan kiri penolong untuk mengekstensikan sedikit kepala pasien f. 2001). jari manis dan tengah memegang ramus mandibula. 2004). Bila yang digunakan AMBU-BAG. 2008). Posisikan kepala lurus dengan tubuh b.- Breathing Oksigen sangat penting bagi kehidupan. Pastikan tidak ada kebocoran dari sungkup muka yang sudah dipasangkan g. 2007). maka tangan kiri memfiksasi sungkup muka. Oksigenasi yang memadai menunjukkan pengiriman oksigen yang sesuai ke jaringan untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Bila kesulitan. efektivitas ventilasi dapat dinilai secara klinis (Buono. 2012): a. Pada keadaan normal. Letakkan sungkup muka (bagian yang lebar dibagian mulut) d. disfungsi jantung.

penyebab lain harus dicari. 14) di ICR II linea - midclavicularis Massive haemotoraks : Pemasangan Chest Tube d. palpasi. open pneumotoraks dimana keadaan-keadaan tersebut harus dapat dikenali pada saat dilakukan primary survey. massive haemotoraks. 2012): - Memberikan oksigen dengan kecepatan 10 – 12 L/menit Tension pneumotoraks : Needle insertion (IV Cath No. perkusi dan auskultasi pada toraks. Penilaian awal tersebut dilakukan untuk menilai apakah terdapat keadaankeadaan seperti tension pneumotoraks.Sedangkan apabila pernafasan tidak membaik dengan terbukanya airway. Open pneumotoraks : Luka diututp dengan kain kasa yang diplester pada tiga sisi (flutter-type valveefect) Buka leher dan dada sambil menjaga imobilisasi leher dan kepala Tentukan laju 14 . Bila ditemukannya keadaan-keadaan tersebut maka resusitasi yang dilakukan adalah ( Sitohang. Penilaian harus dilakukan dengan melakukan inspeksi.

yang berukuran besar. femoralis dan a. distensi vena leher. ekspansi toraks simetris atau tidak.Jika teraba pulsasi pada arteri radial. warna kulit dan nadi (ATLS. dan tanda-tanda cedera Perkusi toraks untuk menentukan redup atau hipersonor Auskultas toraks bilateral 18 Pulse oxymeter dapat digunakan untuk memberikan informasi tentang saturasi oksigen dan perfusi perifer penderita. Pulse oxymeter adalah metoda yang noninvansif untuk mengukur saturasi oksigen darah aterial secara terus menerus (ATLS. cari : deviasi trakea. karotis (kanan kiri). pemakaian otototot tambahan. 15 . untuk kekuatan nadi. 3. dan segera dihentikan bila ditemukan dengan cara menekan pada sumber perdarahan baik secara manual maupun dengan menggunakan perban elastis. 1992): . Oleh karena itu penting melakukan penilaian dengan cepat status hemodinamik dari pasien. Karren. 2. Kemudian lakukan pemberian larutan Ringer laktat sebanyak 2 L sesegera mungkin (ATLS. 2004). maka secara cepat kita dapat memperkirakan tekanan darah dengan meraba pulsasi (Haffen.2004). maka tekanan darah minimal 80 - mmHg sistol Jika teraba pulsasi pada arteri brachial. 1. Circulation Perdarahan merupakan penyebab kematian setelah trauma (Dolan. Warna kulit Wajah yang keabu-abuan dan kulit ektremitas yang pucat merupakan tanda hipovolemia. kecepatan dan irama. maka tekanan darah minimal 60 mmHg sistol 19 Perdarahan eksternal harus cepat dinilai. maka tekanan darah minimal 70 - mmHg sistol Jika teraba pulsasi pada arteri carotid. Dalam keadaan darurat yang tidak tersedia alat-alat. yakni dengan menilai tingkat kesadaran. 2008). 2004). Tingkat kesadaran Bila volume darah menurun perfusi otak juga berkurang yang menyebabkan penurunan tingkat kesadaran. Holt. Bila terdapat gangguan sirkulasi harus dipasang sedikitnya dua IV line. Nadi Pemeriksaan nadi dilakukan pada nadi yang besar seperti a.dan dalamnya pernafasan Inspeksi dan palpasi leher serta toraks. maka tekanan darah minimal 70 - mmHg sistol Jika teraba pulsasi pada arteri femoral.

ukuran dan reaksi pupil.Disability Menjelang akhir primary survey dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis secara cepat. Tidak memberikan respon Menilai “best verbal response” penderita (skor 5-1) Perhatikan apakah - penderita : a. Fleksi abnormal (decorticated) e. dan dapat dilakukan pada saat survey sekunder (Jumaan. 2008). AVPU. Tanda-tanda lateralisasi dan tingkat (level) cedera spinal (ATLS. Mengucapkan kata-kata tetapi tidak dalam bentuk kalimat d. Membuka mata jika diberi rangsangan nyeri (dengan menekan ujung - kuku jari tangan) d. Mengerang (mengucapkan kata -kata yang tidak jelas artinya) e. Melakukan gerakan sesuai perintah b. Ektensi abnormal (decerebrate) f. semakin jelek kesadaran) Penurunan tingkat kesadaran perlu 16 . Disorientasi atau bingung c. sedangkan GSC (Glasgow Coma Scale) merupakan metode yang lebih rinci dalam mengevaluasi status neurologis. yaitu: A : Alert V : Respon to verbal P : Respon to pain U : Unrespon GSC (Glasgow Coma Scale) adalah sistem skoring yang sederhana - untuk menilai tingkat kesadaran pasien. Orientasi baik dan mampu berkomunikasi b. Cara cepat dalam mengevaluasi status neurologis yaitu dengan menggunakan AVPU. Menghindar terhadap rangsangan nyeri d. Tidak memberikan respon Menilai “best motor respon” penderita (skor 6-1) Perhatikan apakah penderita : a. diperintah atau dibangunkan c. Membuka mata jika dipanggil. 20 2004). Tidak memberikan respon Range skor : 3-15 (semakin rendah skor yang diperoleh. Dapat melokalisasi rangsangan nyeri c. Membuka mata spontan b. Hal yang dinilai adalah tingkat kesadaran. Menilai “eye opening” penderita (skor 4-1) Perhatikan apakah penderita : a.

dikirimkan ke laboratorium atau fasilitas penunjang diagnostik rujukan guna mendapat pemeriksaan laboratorium atau fasilitas penunjang diagnostik yang tepat. Pengiriman spesimen atau penunjang diagnostik lainnya a. 3.diperhatikan pada empat kemungkinan penyebab (Pre-Hospital Trauma Life Support Commitee 2002) : . Dokter Asisten Spesialis / Residen Senior dapat ditempatkan di Rumah Sakit Kabupaten / Kota yang membutuhkan atau Kabupaten yang belum mempunyai dokter spesialis.Gangguan atau kelainan metabolik Exposure Merupakan bagian akhir dari primary survey.Pengaruh obat-obatan dan alkohol . Sistem Informasi Rujukan Informasi kegiatan rujukan pasien dibuat oleh petugas kesehatan pengirim dan di catat dalam surat rujukan pasien yang 17 . Selanjutnya selimuti penderita dengan selimut kering dan hangat. Sistem rujukan Kegiatan yang mencangkup dalam sistem rujukan 1. Pengiriman pasien Pengiriman pasien rujukan harus dilaksanakan sedini mungkin untuk perawatan dan pengobatan lebih lanjut ke sarana pelayanan yang lebih lengkap.Penurunan oksigenasi atau/dan penurunan perfusi ke otak . penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya.Trauma pada sentral nervus sistem . Kegiatan menambah pengetahuandan ketrampilan bagi Dokter umum. Bidan atau Perawat dari Puskesmas atau Rumah Sakit Umum Kabupaten / Kota dapat berupa magang atau pelatihan di Rumah Sakit Umum yang lebih lengkap. pengawasan pengobatan dan perawatan termasuk rehabilitasi selanjutnya.Unit pelayanan kesehatan yang menerima rujukan harus merujuk kembali pasien ke sarana kesehatan yang mengirim. Rumah Sakit atau laboratorium lainnya boleh dikonfirmasi ke laboratorium yang lebih mampu untuk divalidasi hasil pemeriksaan pertama. b. untuk mendapatkan 2. c. Pemeriksaan: Bahan Spesimen atau penunjang diagnostik lainnya yang dirujuk. 4. Sebagian Spesimen yang telah di periksa di laboratorium Puskesmas. Pengalihan pengetahuan dan keterampilan Dokter Spesialis dari Rumah Sakit dapat berkunjung secara berkala ke Puskesmas. kemudian nilai pada keseluruhan bagian tubuh. ruangan yang cukup hangat dan diberikan cairan intra-vena yang sudah dihangatkan untuk mencegah agar pasien tidak hipotermi. Periksa punggung dengan memiringkan pasien dengan cara log roll. Pemeriksaan Konfirmasi.

Informasi balasan hasil pemeriksaan bahan / spesimen yang dirujuk dibuat oleh pihak laboratorium penerima dan segera disampaikan pada pihak pengirim dengan menggunakan format yang berlaku di laboratorium yang bersangkutan. diagnosa. tujuan rujukan penerima. waktu dan tempat kehadiran jenis spesialisasi yang diminta. nama dan identitas pasien. tanggal dan jam pengiriman. tanggal. nama dan identitas pasien asal spesimen dan diagnos klinis. Surat Permintaan Tenaga Ahli). tanggal. jenis/ bahan spesimen dan nomor spesimen yang dikirim. tanggal pengambilanspesimen. ASKES atau JAMSOSTEK. asal institusi dan nomor 18 . Informasi pengiriman spesimen dibuat oleh pihak pengirim dengan mengisi Surat Rujukan Spesimen. perihal Permintaan Tenaga Ahli dan menyebutkan jenis spesialisasinya. tujuan rujukan penerima. Surat Balasan Rujukan). Surat Rujukan Spesimen). ASKES atau JAMSOSTEK. tindakan dan obat yang telah diberikan. termasuk pemeriksaan penunjang. (Lihat format R/3. status pasien keluarga miskin (gakin) atau non gakin termasuk umum. yang berisikan antara lain: nomor surat. hasil diagnosa setelah dirawat. yang berisikan antara lain : nomor surat.dikirimkan ke dokter tujuan rujukan. yang berisikan antara lain : nomor surat. pemeriksaan fisik. kemajuan pengobatan dan keterangan tambahan yang dipandang perlu. yang berisikan antar lain : nomor surat. (lihat format R/1/a. status pasien keluarga miskin (gakin) atau non gakin termasuk umum. maksud keperluan tenaga ahli diinginkan dan sumber biaya atau besaran biaya yang disanggupi. nama dan identitas pasien. Informasi permintaan tenaga ahli / dokter spesialis dapat dibuat oleh Kepala Puskesmas atau Rumah Sakit Umum Kab/Kota yang ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota atau oleh Dinas Kesehatan Kab/ Kota yang ditujukan ke Dinas Kesehatan Provinsi dengan mengisi Surat Permintaan Tenaga Ahli. kondisi pasien saat keluar dari perawatan dan follow up yang dianjurkan kepada pihak pengirim pasien. tanggal. (Lihat format R/2. Informasi balasan rujukan dibuat oleh dokter yang telah menerima pasien rujukan dan setelah selesai merawat pasien tersebut mencatat informasi balasan rujukan di surat balasan rujukan yang dikirimkan kepada pengirim pasien rujukan. jenis pemeriksaan yang diminta. ASKES atau JAMSOSTEK. tujuan rujukan penerima. Surat Rujukan Pasien). status pasien keluarga miskin (gakin) atau non gakin termasuk umum. Informasi petugas yang mengirim. merawat atau meminta tenaga ahli selalu ditulis nama jelas. resume hasil anamnesa. (Lihat format R/1/b.

Adapun alur pelaporan rujukan akan mengikuti alur pelaporan yang berlaku. Keterbukaan antara pihak pengirim dan penerima untuk bersedia memberikan informasi tambahan yang diperlukan masing-masing pihak melalui media komunikasi bersifat wajib untuk keselamatan pasien.telepon atau handphone yang bisa dihubungi pihak lain. Pencatatan dan Pelaporan sistem informasi rujukan menggunakan format RL. 19 . spesimen dan alih pengetahuan medis.4 untuk laporan rujukan puskesmas (lihat lampiran).1 yang baku untuk Rumah Sakit dan format R.

1 Kesimpulan Kegawatdaruratan secara umum dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang dinilai sebagai ketergantungan seseorang dalam menerima tindakan medis atau evaluasi tindakam operasi dengan segera. Penatalaksanaan awal diberikan untuk : 1. Meningkatkan pemulihan 20 . Penatalaksanaan awal dalam kegawatdaruratan merupakan aplikasi terlatih dari prinsip-prinsip penanganan pada saat terjadinya kecelakaan atau dalam kasus-kasus penyakit mendadak dengan menggunakan fasilitasfasilitas atau benda-benda yang tersedia pada saat itu.BAB III PENUTUP 3. Mencegah kondisi menjadi lebih buruk 3. Mempertahankan hidup 2.

5. (2002 ). Gordian. Delp & manning. Jakarta: EGC..Emergency room liability. Marcus. Australia : Elsevier. 6. (2006). A. 3. M.DAFTAR PUSTAKA 1. Primary trauma care standard edition. (2004) . Oxford : Primary Trauma Care Foundation. 2. (2009). Dr. ISBN 0-95-39411-0-8. Ikatan Ahli Bedah Indonesia. AR. W. Advance Trauma Life Support for Doctors.Djamil Padang. Douglas. Fulde. Djamil Padang. 4. Penerjemah Edisi ketujuh. Diklat RSUP Dr. Major diagnosis fisik .M. Holder. Pelatihan Penanggulangan Penderita Gawat darurat (PPGD). 21 . RSUP. (2000). Wilkinson. JAMA. Emergency medicine 5th edition. Skinner.