Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saliva merupakan sekresi eksokrin mukoserous berwarna bening dengan
sifat sedikit asam yang dihasilkan dan disekresikan oleh tiga pasang kelenjar
saliva yaitu kelenjar parotis, submandibularis, dan sublingualis. Semua kelenjar
ludah atau saliva mempunyai fungsi untuk membantu mencerna makanan dengan
mengeluarkan suatu sekret yang disebut “salivia” (ludah atau air liur).
Pembentukan kelenjar ludah dimulai pada awal kehidupan fetus (4 - 12 minggu)
sebagai invaginasi epitel mulut yang akan berdiferensiasi ke dalam duktus dan
jaringan asinar. Saliva terdapat sebagai lapisan setebal 0,1-0,01 mm yang melapisi
seluruh jaringan rongga mulut.
Saliva diproduksi secara berkala dan susunannya sangat tergantung pada
umur, jenis kelamin, makanan saat itu, intensitas dan lamanya rangsangan, kondisi
biologis, penyakit tertentu dan obat-obatan. Saliva memiliki peran yang sangat
penting, yaitu : melicinkan dan membasahi rongga mulut sehingga membantu
proses mengunyah dan menelan makanan, membasahi dan melembutkan makanan
menjadi bahan sehingga mudah ditelan dan dirasakan, membersihkan rongga
mulut dari sisa-sisa makanan dan kuman, mempunyai aktivitas antibacterial dan
sistem buffer, membantu proses pencernaan makanan melalui aktivitas enzim
ptyalin (amilase ludah) dan lipase ludah, berpartisipasi dalam proses pembekuan
dan penyembuhan luka karena terdapat faktor pembekuan darah dan epidermal
growth factor pada saliva, jumlah sekresi air ludah dapat dipakai sebagai ukuran
tentang keseimbangan air dalam tubuh, serta membantu dalam berbicara
(pelumasan pada pipi dan lidah).
1.2 Skenario
Kualitas dan Kuantitas Saliva
(drg. Yani Corvianindya Rahayu M.KG)
Kinanti, mahasiswi FKG akan melakukan penelitian tentang saliva. Ada 2 subyek
kategori sampel yang akan diteliti, yaitu anak-anak dengan kondisi sehat dan
kondisi kebutuhan khusus. Saat pengambilan sampel saliva subyek dengan
1

diagnosa dokter cerebral palsy, Kinanti agak sedikit kesulitan karena pasien
dengan kebutuhan khusus ini gerakan tubuh tak terkoordinasi dengan baik,
gerakan otot berlebihan saat beraktivitas, pengerutan otot wajah, air liur menetes,
dan secara psikis lebih sensitif. Penelitian ini akan membahas tentang kualitas dan
kuantitas saliva dengan melihat perbedaan saliva pada subyek dengan kondisi
sehat dibandingkan dengan subyek dengan kondisi keutuhan khusus. Sampel
saliva yang didapat merupakan whole saliva. Masing-masing sampel saliva akan
diukur volmenya, dihitung kecepatan sekresinya, dan dilihat perbedaan derajat
keasaman (pH) dan viskositasnya.
1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimana mekanisme dari sekresi saliva?
2. Bagaimana kualitas dan kuantitas dari saliva?
3. Faktor - faktor apa saja yang mempengaruhi sekresi saliva?
4. Apa saja fungsi dari saliva?
5. Bagaimana kondisi saliva pada anak berkebutuhan khusus (kelainan)?
1.4 Tujuan Masalah
1. Memahami dan mengetahui mekanisme dari sekresi saliva
2. Memahami dan mengetahui kuantitas dan kualitas dari saliva normal
(komposisi, pH, volume, kecepatan aliran, dan viskositas saliva)
3. Memahami dan mengetahui faktor - faktor yang mempengaruhi sekresi
saliva
4. Memahami dan mengetahui fungsi dari saliva
5. Memahami dan mengetahui kondisi (kualitas dan kuantitas) saliva pada
anak berkebutuhan khusus.

BAB II
2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Saliva
Whole Saliva atau saliva total adalah campuran kompleks cairan dari
kelenjar saliva, lipatan gingiva, transudat mukosa oral, mukus, rongga hidung,
faring, bakteri yang tidak melekat, sisa makanan, deskuamasi sel epitel, sel darah
dan produk kimia. Saliva adalah cairan yang terdiri atas sekresi yang berasal dari
kelenjar saliva dan cairan sulkus gingiva. 90% dari saliva dihasilkan oleh kelenjar
saliva

mayor

yang

terdiri

atas

kelenjar

parotis,

submandibula,

dan

sublingual.18,19 Sekitar 10% dihasilkan oleh kelenjar saliva minor dimukosa
mulut (lingual, labial, bukal, palatinal, glossopalatinal). Sekresi saliva dihasilkan
sebagai serus (kelenjar parotis), mukus (kelenjar minor), atau campuran yaitu
serus dan mukus (kelanjar submandibula dan sublingual). Saliva memainkan
peranan penting dalam homeostatis karena dapat mempertahankan keseimbangan
ekosistem dalam rongga mulut.
Sekresi saliva adalah refleks yang dimediasi oleh saraf. Volume dan jenis
saliva yang disekresi dikendalikan oleh sistem saraf otonom. Kelenjar menerima
inervasi dari saraf parasimpatis dan simpatis. Pusat saliva parasimpatis terletak
pada medula oblongata yang terbagi atas 3 bagian, yaitu superior nuklei
salivatorius, inferior nuklei salivarius dan zona intermediet. Bagian superior
nuklei (CN VII) terhubung dengan kelenjar submandibula dan sublingual,
sedangkan inferior nuklei (CN IX) mempersarafi kelenjar parotid.
Serabut saraf simpatis yang menginervasi kelenjar saliva berasal dari
ganglion servikalis superior dan beriringan dengan arteri yang mensuplai arteri
karotis eksterna yang memberikan suplai darah pada kelenjar parotis dan bersama
arteri lingualis memberikan suplai darah ke submandibula, serta bersama dengan
arteri fasialis yang mensuplai darah ke kelenjar sublingualis.

2.2 Histologi, Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Saliva

3

kelenjar saliva dapat dibagi dalam dua kelompok besar yairu kelenjar saliva mayor dan kelenjar saliva minor.2. Menurut struktur anatomi dan letaknya. 2. dan sublingualis (5%). Saliva pada manusia terdiri atas sekresi kelenjar parotis (25%). Saliva terdiri dari cairan encer yang mengandung enzim dan cairan kental yang mengandung mukus. kimiawi (manis. Kelenjar saliva mensekresi saliva ke dalam rongga mulut.1 Kelenjar Saliva Mayor Kelenjar saliva ini merupakan kelenjar saliva terbanyak dan ditemui berpasang–pasangan yang terletak di ekstraoral dan memiliki duktus yang sangat panjang. asam. asin dan pahit). Rangsangan ini dapat berupa rangsangan mekanis (mastikasi). Masing–masing kelenjar mayor ini menghasilkan sekret yang berbeda–beda sesuai rangsangan yang diterimanya. Kelenjar-kelenjar saliva mayor terletak agak jauh dari rongga mulut dan sekretnya disalurkan melalui duktusnya kedalam rongga mulut. psikis (emosi dan stress). submandibularis (70%). Kelenjar saliva mayor dan minor menghasilkan saliva yang berbeda-beda menurut rangsangan yang diterimanya.Kelenjar saliva merupakan suatu kelenjar eksokrin yang berperan penting dalam mempertahankan kesehatan jaringan mulut. 2. kelenjar saliva mayor dapat dibagi atas tiga tipe yaitu parotis. neural.2. submandibularis dan sublingualis. Menurut struktur anatomis dan letaknya.1 Kelenjar Parotis Anatomi: 4 . dan rangsangan sakit.1.

Duktus ini berjalan menembus pipi dan bermuara pada vestibulus oris pada lipatan antara mukosa pipi dan gusi dihadapkan molar dua atas. Histologi:  Kelenjar ini dibungkus oleh jaringan ikat padat dan mengandung sejumlah besar enzim antara lain amylase. vena retromandibular dan nervus fasialis yang menembus dan melalui kelenjar ini. dari sini ada septa jaringan ikat termasuk kelenjar dan membagi kelenjar menjadi lobulus yang kecil. Kelenjar ini meluas ke lengkung zygomatikum di depan telinga dan mencapai dasar dari muskulus masseter. Fisiologi:  Kelenjar parotis menghasilkan suatu sekret yang kaya akan air yaitu serous.  Kelenjar parotis memiliki suatu duktus utama yang dikenal dengan duktus Stensen. 5 . Kelenjar ini dikelilingi oleh kapsula jaringan ikat yang tebal. bermuara kedalam vestibulum rongga mulut berhadapan dengan gigi molar kedua atas.  Kelenjar ini terbungkus oleh suatu kapsul yang sangat fibrous dan memiliki beberapa bagian seperti arteri temporal superfisialis. Kelenjar parotis secara khas dipengaruhi oleh mumps yaitu parotitis epidemika. lisozim. aldolase.  Letak kelenjar berpasangan ini tepat di bagian bawah telinga terletak antara prosessus mastoideus dan ramus mandibula. dan kolinesterase. Kelenjar ini merupakan kelenjar terbesar dibandingkan kelenjar saliva lainnya. fosfatase asam. Kelenjar parotis mempunyai sistem saluran keluar yang rumit sekali dan hampir semua duktus ontralobularis adalah duktus striata.  Saluran keluar yang utama yaitu duktus parotidikius steensen terdiri dari epitel berlapis semu.  Kelenjar parotis adalah kelenjar tubuloasinosa kompleks. yang pada manusia adalah serosa murni.

karena itu disebut mukoserosa. 2.3 Kelenjar Sublingual Anatomi: 6 .  Saliva pada manusia terdiri atas 70% sekresi kelenjar submandibularis. Baik kapsula maupun jaringan ikat stroma berkembang baik pada kelenjar submandibularis. tetapi saluran ini pendek karena itu tidak banyak dalam sajian. Fisiologi:  Kelenjar submandibularis menghasilkan 80% serous (cairan ludah yang encer) dan 20% mukous (cairan ludah yang padat).2. Histologi:  Kelenjar ini terdiri dari jaringan ikat yang padat.1. Saliva pada manusia terdiri atas 25% sekresi kelenjar parotis.  Di dalam kelenjar ini terdapat arteri fasialis yang melekat erat dengan kelenjar ini. sebaliknya duktus striata berkembang baik dan panjang.  Kelenjar submandibularis merupakan kelenjar yang memproduksi air liur terbanyak. Terdapat duktus interkalaris.  Pada proses sekresi kelenjar ini memiliki duktus Wharton yang bermuara di ujung lidah.  Kelenjar ini teletak di dasar mulut di bawah ramus mandibula dan meluas ke sisi leher melalui bagian tepi bawah mandibula dan terletak di permukaan muskulus mylohyoid.  Saluran keluar utama yaitu duktus submandibularis wharton bermuara pada ujung papila sublingualis pada dasar rongga mulut dekat sekali dengan frenulum lidah. dibelakang gigi seri bawah.1. yang pada manusia terutama pada kelenjar campur dengan sel-sel serosa yang dominan.2.2 Kelenjar Submandibularis Anatomi:  Kelenjar ini merupakan kelenjar yang berbentuk seperti kacang dan memiliki kapsul dengan batas yang jelas.  Kelenjar submandibularis adalah kelenjar tubuloasinosa kompleks. 2.

masing-masing mempunyai muara sendiri. Sel-sel serosa yang sedikit hampir seluruhnya ikut membentuk demilune. Kelenjar ini terletak antara dasar mulut dan muskulus mylohyoid merupakan suatu kelenjar kecil diantara kelenjar– kelenjar mayor lainnya. Kelenjar minor hanya menyumbangkan 5% dari pengeluaran ludah dalam 24 jam. Kelenjar saliva minor dapat ditemui pada hampir seluruh epitel di bawah rongga 7 . Kelenjarkelenjar ini diberi nama berdasarkan lokasinya atau nama pakar yang menemukannya.  Saliva pada manusia terdiri atas 5% sekresi kelenjar sublingualis.  Kelenjar ini tidak memiliki kapsul yang dapat melindunginya.  Kapsula jaringan ikat tidak berkembang baik. tetapi kelenjar ini lobular halus biasanya terdapat 10-12 saluran luar yaitu duktus sublingualis. Fisiologi:  Kelenjar sublingualis menghasilkan sekret yang mucous dan konsistensinya kental. 2. Duktus interkalaris dan duktus striata jaringan terlihat. Histologi:  Kelenjar sublingualis adalah kelenjar tubuloasinosa dan kelenjar tubulosa kompleks. kadang-kadang keduanya menjadi satu.2 Kelenjar Saliva Minor Kebanyakan kelenjar saliva minor merupakan kelenjar kecil-kecil yang terletak di dalam mukosa atau submukosa. Saluran keluar yang lebih besar yaitu duktus sublingualis mayor bartholin bermuara pada karunkula sublingualis bersama-sama dengan duktus wharton. Pada manusia kelenjar ini adalah kelenjar campur meskipun terutama kelenjar mukosa karena itu disebut seromukosa.2. yang bermuara kesepanjang lipatan mukosa yaitu plika sublingualis.  Duktus utama yang membantu sekresi disebut duktus Bhartolin yang terletak berdekatan dengan duktus mandibular dan duktus Rivinus yang berjumlah 8-20 buah.

2.2. kelenjar saliva minor secara keseluruhan menghasilkan sekret yang mukous kecuali kelenjar lingual tipe Van Ebner.2. c.4 Kelenjar Palatinal Kelenjar ini ditemui di sepetiga posterior palatal dan di palatum molle. Kelenjar ini dapat dilihat secara visual dan dilindungi oleh jaringan fibrous yang padat. psikologis dan kognitif 8 . 2.5 Kelenjar Lingual Kelenjar ini dikelompokkan dalam beberapa tipe yaitu : a. Kelenjar anterior lingual Lokasi kelenjar ini tepat di ujung lidah. Kelenjar posterior lingual Dapat ditemukan pada sepertiga posterior lidah yang berdekatan dengan tonsil.2. b.4 sangat membantu didalam pencernaan ptyalin. kelenjar ini serupa dengan kelenjar labial. Banyak ditemui pada midline dan memiliki banyak duktus. 2.2. Kelenjar lingual Van Ebner Kelenjar ini dapat di temukan di papila sirkumvalata.2.2. 2.0-7. 2.2. Kelenjar ini terdiri dari beberapa unit sekresi kecil dan melewati duktus pendek yang berhubungan langsung dengan rongga mulut.mulut.3 Cerebral Palsy Cerebral palsy adalah kelainan yang disebabkan oleh kerusakan otak yang mengakibatkan kelainan pada fungsi gerak dan koordinasi. Saliva yang dihasilkan mempunyai pH antara 6.1 Kelenjar Glossopalatinal Lokasi dari kelenjar ini berada dalam isthimus dari lipatan glossopalatinal dan dapat meluas ke bagian posterior dari kelenjar sublingual ke kelenjar yang ada di palatum molle.2 Kelenjar Labial Kelenjar ini terletak di submukosa bibir. Selain kelenjar saliva minor tidak memiliki kapsul yang jelas seperti layaknya kelenjar saliva mayor. 2.2.2.2.3 Kelenjar Bukal Kelenjar ini terdapat pada mukosa pipi.

sikap ataupun bentuk tubuh. “Cerebral Palsy” adalah berbagai perubahan gerakan atau fungsi motor tidak normal dan timbul sebagai akibat kecelakaan. cerebral palsy diklasifikasikan menjadi enam. gerakan-gerakan tidak terkontrol. sebagai akibat dari prematuritas atau asfiksia neonatorum. yaitu cerebral yang berasal dari kata cerebrum yang berarti otak dan palsy yang berarti kekakuan”. Dan. terdapat pada kaki. tangan. Istilah cerebral palsy dimaksudkan untuk menerangkan adanya kelainan gerak. atau penyakit susunan syaraf yang terdapat pada rongga tengkorak”. luka. lengan. gangguan koordinasi yang disertai dengan gangguan psikologis dan sesnsoris yang disebabkan oleh adanya kerusakan atau kecacatan pada masa perkembangan otak. 2006:118). yaitu: a. cerebral palsy dapat diartikan gangguan fungsi gerak yang diakibatkan oleh kecelakaan. cerebral palsy berarti kekakuan yang disebabkan karena sebab-sebab yeng terletak di dalam otak. Menurut Yulianto (Abdul Salim. “cerebral palsy terdiri dari dua kata. Dari pengertian tersebut di atas. b. 2007: 178-182). Athetosis. atau penyakit susunan syaraf yang terdapat pada rongga tengkorak. Sesuai dengan pengertian di atas. istilah cerebral palsy diperkenalkan pertama kali oleh Sir William Osler (Mohamad Efendi: 2006). anak yang mengalami kekakuan otot atau ketegangan otot. atau otot-otot wajah yang lambat bergeliat-geliut tibatiba dan cepat. 2007:170). luka. Ini sesuai dengan teori yang disampaikan dalam The American Academy of Cerebral Paslsy (Mohammad Efendi. Spasticity. 9 . merupakan salah satu jenis cerebral palsi dengan ciri menonjol. menyebabkan sebagian otot menjai kaku. cerebral palsy dapat diartikan sebagai kekakuan yang disebabkan oleh sesuatu yang ada di otak.sehingga mempengaruhi proses belajar mengajar. Jadi menurut arti katanya. Istilah cerebral palsy dipublikasikan pertama oleh Willam Little pada tahun 1843 dengan istilah “cerebral diplegia”. Dalam teori yang lain menurut Soeharso (Abdul Salim. gerakan-gerakan lambat dan canggung.

d. Pada kecepatan 0. Campuran. ditandai dengan adanya otot yang sangat kaku.5 ml/menit sekitar 95% saliva disekresi oleh kelenjar parotis 10 .5 sampai 1. dengan irama tetap. Tremor. otot terlalu tegang diseluruh tubuh. demikian juga gerakannya. yang disebut dengan campuran anak yang memiliki beberapa jenis kelainan cerebral palsy. BAB III PEMBAHASAN 3. ditandai dengan adanya gerakan-gerakan yang kecil tanpa disadari. ia mengalami kesulitan untuk memulai duduk dan berdiri. e.1 Mekanisme Sekresi Saliva Pengeluaran saliva sekitar 0.1 sampai 4 ml/menit. Ataxia. Lebih mirip dengan getaran. ditandai gerakan-gerakan tidak terorganisasi dan kehilangan keseimbangan. Tergantung pada tingkat perangsangan. kecepatan aliran bervariasi dari 0. cenderung menyerupai robot waktu berjalan tahan-tahan dan kaku.5 liter per hari.c. f. Rigiditi. Jadi keseimbangan buruk.

membaui. Refleks saliva sederhana (tidak terkondisi) terjadi sewaktu kemoreseptor atau reseptor tekanan di dalam rongga mulut berespons terhadap adanya makanan. dan mekanisme yang berperan berbeda. Pada refleks saliva didapat (terkondisi). Rangsangan parasimpatis.(saliva encer) dan kelenjar submandibularis (saliva kaya akan musin). keduanya meningkatkan sekresi saliva. atau mendengar suatu makanan yang lezat dapat memicu pengeluaran Saliva melalui refleks ini (Sherwood. Selain sekresi yang bersifat konstan dan sedikit tersebut. respon simpatis dan parasimpatis di kelenjar saliva tidak saling bertentangan. misalnya pada keadaan stres (Sherwood. bahkan tanpa adanya rangsangan yang jelas. 2000). pengeluaran saliva terjadi tanpa rangsangan oral. tetapi jumlah. 2001). Stimulasi simpatis. sisanya disekresi oleh kelenjar sublingual dan kelenjar-kelenjar di lapisan mukosa mulut (Despopoulos dan Silbernagl. menyebabkan pengeluaran saliva encer dalam jumlah besar dan kaya enzim. Baik stimulasi simpatis maupun parasimpatis. 2001). atau tidak terkondisi. Pusat saliva kemudian mengirim impuls melalui saraf otonom ekstrinsik ke kelenjar saliva untuk meningkatkan sekresi saliva. yang berperan dominan dalam sekresi saliva. Tindakan-tindakan gigi mendorong sekresi saliva walaupun tidak terdapat makanan karena adanya manipulasi terhadap reseptor tekanan yang terdapat di mulut. Sekresi basal ini penting untuk menjaga agar mulut dan tenggorokan tetap basah setiap waktu (Sherwood. Tidak seperti sistem saraf otonom di tempat lain. atau terkondisi. 2001). melihat. Sekresi saliva yang bersifat spontan dan kontinu. Sewaktu diaktifkan. menghasilkan volume saliva yang jauh lebih sedikit dengan konsistensi kental dan kaya mukus. mulut terasa lebih kering daripada biasanya selama keadaan saat sistem simpatis dominan. disebabkan oleh stimulasi konstan tingkat rendah ujung-ujung saraf parasimpatis yang berakhir di kelenjar saliva. dan (2) refleks saliva didapat. Karena rangsangan simpatis menyebabkan sekresi saliva dalam jumlah sedikit. di pihak lain. reseptor-reseptor tersebut memulai impuls di serat saraf aferen yang membawa informasi ke pusat saliva di medula batang otak. Hanya berpikir. 11 . sekresi saliva dapat ditingkatkan melalui dua jenis refleks saliva yang berbeda: (1) refleks saliva sederhana. karakteristik.

2 Kualitas dan Kuantitas Saliva Normal 3. Komponen Organik Saliva terdiri dari banyak komponen organik dengan fungsi berbeda. 2012). Amilase adalah enzim pencernaan yang terutama diproduksi oleh kelenjar parotis dan submandibular. ion dan air. glukosa. 1995).2.Jalur saraf parasimpatis untuk mengatur pengeluaran saliva terutama dikontrol oleh sinyal saraf parasimpatis sepanjang jalan dari nukleus salivatorius superior dan inferior batang otak (Guyton dan Hall. Obyek-obyek lain dalam mulut dapat menggerakkan refleks saliva dengan menstimulasi reseptor yang dipantau oleh nervus trigeminal (V) atau inervasi pada lidah dipantau oleh nervus kranial VII. Selain itu. Anatomidan Fisiologi untuk Pemula. atau X. ureum dan amoniak. jugasekresimukus yang lebih kental dan lebih sedikit yang mengandung glikoprotein (musin). Komponen saliva yang paling utama adalah protein. yaitu 98% air dan mengandung enzim amilase serta berbagai jenis ion (natrium. seperti reaksi enzimatis. dankalium). lipid. IX. Stimulasi parasimpatis akan mempercepat sekresi pada semua kelenjar saliva. Komponen organik saliva adalah: 1) Amilase Amilase merupakan protein saliva konsentrasi tinggi.Jakarta: EGC. 2006. protein kaya prolin. pelapisan permukaan jaringan. musin dan imunoglobulin (Amerongen. 1991). 2009). Protein yang secara kuantitatif penting adalah amilase. 3. asam amino. perlindungan terhadap jaringan gigi dan kontrol pertumbuhan jaringan (Bradley.1 Komposisi Saliva Saliva terutama terdiri dari sekresi serosa. klorida. (Sloane Ethel. sehingga menghasilkan produksi saliva dalam jumlah banyak (Martini. Tortora dan Derrickson. 2008). bikarbonat. Amilase mengubah tepung kanji dari glikogen menjadi kesatuan 12 . Saliva terdiri dari beberapa komponen sebagai berikut : 1. terdapat komponen lain seperti asam lemak.

. 1995). lisozim berasal dari kelenjar parotis. 2) Immunoglobulin Immunoglobulin terlibat pada sistem penolakan fisik dan agen antibakteri. terdiri dari hidrogen peroksida. tiosanat dan laktoproksidase (Rensburg. pengatur interaksi antara epitel permukaan dengan lingkungan luar dan perangkap bakteri. Aktivitas antibakteri SIgA yang terdapat dalam mukosa mulut bersifat mukus dan bersifat melekat dengan kuat. kelenjar submandibular dan kelenjar sublingual (Bradley. Bakteri mulut yang diselubungi oleh SIgA lebih mudah difagositosis oleh leukosit (Amerongen. polisakarida dapat dicerna dengan mudah (Amerongen. Pada saliva. 4) Mukus Glikoprotein Mukus glikoprotein merupakan lapisan pada rongga mulut yang berfungsi dalam lubrikasi jaringan rongga mulut. 1988).karbohidrat yang lebih kecil dan akibat pengaruh amilase. 3) Protein Kaya Prolin Protein kaya prolin membentuk suatu kelas protein dengan berbagai fungsi penting yaitu mempertahankan konsentrasi kalsium di dalam saliva agar tetap konstan yang menghambat demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi (Amerongen. Sistem ini menghambat produksi asam dan pertumbuhan bakteri streptokokus dan laktobasilus yang ikut menjaga pH rongga mulut sekaligus mengurangi terjadinya karies akibat asam yang dihasilkan oleh bakteri (Grant. 1995). 1991. et al. 5) Lisozim Lisozim mempunyai fungsi proteksi terhadap bakteri yaitu berperan aktif menghancurkan dinding sel bakteri Gram positif dan sangat efektif dalam melisiskan bakteri.1995). Rensburg. sehingga antigen dalam bentuk bakteri dan virus akan melekat erat dalam mukosa mulut yang kemudian dilumpuhkan oleh SIgA. 7) Laktoferin 13 . Immunoglobulin terdiri dari sebagian besar IgA sekretorik (SIgA) dan sebagian kecil IgM dan IgG. 1991). 6) Sistem Peroksidase Peroksida berperan sebagai sistem antibakteri yang banyak hadir pada kelenjar parotis. 1991).

nitrogen dan karbon dioksida dengan jumlah yang sama dengan serum. Konsentrasi bikarbonat pada kelenjar parotis dan kelenjar submandibular meningkat dengan meningkatnya aliran saliva. fluorida. Tiosianat merupakan suatu gen antibakteri yang bekerja sama dengan sistem laktoperoksidase. ion ini menghasilkan 85% dari kapasitas bufer dalam sistem fosfat 14%. 9) Gustin Gustin berfungsi dalam proses kesadaran pegecap (Amerongen. Komponen Gas Pada saat pertama sekali saliva dibentuk. Komponen Anorganik Komponen anorganik yang terdapat di dalam saliva berupa ion kalsium . 1995). saliva mengandung gas oksigen yang larut. natrium. Klorida sangat penting untuk aktivitas enzimatik amilase. Kadar fluorida di dalam saliva dipengaruhi oleh konsentrasi fluorida di dalam air minum dan makanan. Selain itu terdapat gas seperti karbondioksida. Zat-zat Aditif di Rongga Mulut 14 . HCO3. 8) Laktoperoksidase Laktoperoksidase menkatalisis oksidasi tiosanat menjadi hipotiosianat yang mampu menghambat pertumbuhan dan pertukaran zat bakteri (Amerongen. tetapi pada saat saliva mencapai rongga mulut banyak karbon dioksida yang lepas. natrium dan kalium memiliki konsentrasi tertinggi. yang diperlukan bagi pertumbuhann bakteri (Amerongen. 1981). 4. kalium. Dalam saliva yang dirangsang. Bikarbonat adalah ion bufer terpenting dalam saliva.Laktoferin merupakan hasil produksi sel epitel kelenjar dan leukosit PMN yang mempunyai efek bakterisid yang merupakan salah satu fungsi proteksi terhadap infeksi mikroorganisme ke dalam tubuh manusia (Roth dan Calmes. 2. klorida. 1991). Dari kation yang terdapat di dalam saliva. 1991). Kalium dan fosfat yang terkandung dalam saliva sangat penting untuk remineralisasi email.magnesium. 3. Ini memperlihatkan bahwa konsentrasi karbon dioksida cukup tinggi dan hanya dapat dipertahankan pada larutan yang memiliki tekanan didalam kelenjar duktus. 1991). Laktoferin juga mengikat ion ion Fe³+. NH4. nitrogen dan oksigen (Rensburg.

pH saliva tidak terstimulasi memiliki nilai rata-rata 6. leukosit dan dietary substance.5 ml/5 menit.2.2 pH Saliva Kapasitas dapar dan pH saliva dapat dipengaruhi oleh susunan kuantitatif dan kualitatif elektrolit dalam saliva itu sendiri.5-5.9. Untuk 15 . Pada saat tidur.26 Volume saliva dipengaruhi oleh berbagai faktor.7 dalam rentang berada di antara 6. sedangkan konsentrasi bikarbonat pada saliva terstimulasi cukup besar. akan tetapi menjadi bercampur dengan saliva didalam rongga mulut. Dalam kondisi normal. 3. paling tinggi hanya mencapai 50% dari kapasitas dapar total. Konsentrasi bikarbonat pada saliva yang tidak terstimulasi tidak begitu besar.5 liter.Merupakan berbagai substansi yang tidak ada didalam saliva pada saat saliva mengalir dari dalam duktus. Perbandingan antara asam dan konjugasi basanya. Yang termasuk kedalam zat-zat aditif yaitu mikroorganisme. 3. 3.3 Volume Sekresi Saliva Saliva memegang peranan penting dalam mempertahankan kesehatan rongga mulut dan proses biologis yang terjadi di dalam rongga mulut. rendah 3. terutama konsentrasi bikarbonat saliva.4 sampai dengan 6. Volume rata-rata saliva yang dihasilkan perhari berkisar 1-1. termasuk derajat hidrasi.2.0 ml/5 menit. mencapai 85% dari keseluruhan kapasitas dapar saliva. Volume saliva dengan stimulasi yang normal berkisar lebih dari 5.4 Kecepatan Aliran Saliva Kecepatan aliran saliva menunjukkan variasi diurnal dengan kecepatan tertinggi terjadi pada saat siang hari dan kecepatan terendah pada saat tidur. akan menentukan nilai pH dan kapasitas dapar saliva. kelenjar saliva mayor sebenarnya tidak mengeluarkan saliva.2.0 ml/5 menit dan hiposalivasi kurang dari 3. posisi tubuh dan terpaparnya cahaya matahari.

dan obat-obatan.5-2 ml/menit. Beberapa faktor yang berperan dalam mempengaruhi kecepatan aliran saliva saat tidak terstimulasi adalah derajat hidrasi. konsentrasi berbagai komponen dalam saliva juga dapat dipengaruhi oleh kecepatan aliran saliva. Musin ini berasal dari sel-sel asinar kelenjar saliva dan tidak dijumpai di dalam sel-sel asinar serus dan sel-sel asinar duktus. pemaparan terhadap cahaya. ukuran kelenjar saliva. Kecepatan aliran saliva dapat mempengaruhi aksi proteksi saliva. pengunyahan. kemampuan saliva dalam membersihkan rongga mulut terhadap susbtrat makanan kariogenik akan menurun. Selain 16 . Dengan demikian. Sementara itu. indera penciuman dan pengecapan. 3. Stimulasi kelenjar saliva melalui pengunyahan dapat meningkatkan kecepatan aliran saliva sehingga mendukung pembersihan makanan dari mulut.4 ml/menit ketika saliva tidak terstimulasi.5 Viskositas Saliva Viskositas saliva dipengaruhi oleh musin karena adanya glikoprotein bermolekul tinggi di dalamnya. faktor emosi-psikis.30. posisi tubuh. asupan makanan. fosfor. jumlah dapar di dalam saliva juga akan menurun sehingga kemampuan saliva dalam menetralisasi asam organik yang terbentuk dari fermentasi gula juga akan berkurang. Faktorfaktor yang dapat mempengaruhi kecepatan aliran saliva saat terstimulasi adalah asal stimulus.2. ritme biologis. stimulasi sebelumnya. muntah. jika kecepatan aliran saliva rendah. dan sekret IgA berbanding terbalik dengan kecepatan aliran saliva. semakin cepat karbohidrat dapat dibersihkan dari dalam rongga mulut serta semakin efektif saliva dalam mengurangi demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi gigi. Selain itu. Semakin cepat aliran saliva.menjaga lubrikasi mukosa di dalam rongga mulut pada malam hari. dan bikarbonat berbanding lurus dengan kecepatan aliran saliva. dan usia. Selain itu. Konsentrasi amilase. yaitu berada dalam rentang 1. sedangkan konsentrasi kalium. kecepatan aliran saliva ketika terstimulasi akan meningkat. kecepatan aliran saliva berada dalam rentang 0. Dalam keadaan normal. tubuh hanya memanfaatkan saliva yang dikeluarkan oleh kelenjar saliva minor. natrium. merokok. klorida.

mempermudah artikulasi. dan pedas. musin juga berfungsi dalam mempermudah penelanan dan angkutan makanan. Sedangkan dalam keadaan berfungsi. Faktor kimiawi yaitu melalui rangsangan seperti asam. serta melindungi mukosa terhadap infeksi bakteri dengan pembentukan lapisan lendir yang sukar ditembus dan dirusak oleh bakteri-bakteri. Faktor Psikis yaitu stress yang menghambat sekresi saliva. viskositas saliva sebaiknya dalam keadaan kental dan dapat mengalir agar dapat bertahan cukup lama di dalam rongga mulut. Faktor neuronal yaitu melalui sistem syaraf autonom baik simpatis maupun parasimpatis. viskositas saliva sebaiknya dalam keadaan encer dan dapat mengalir agar dapat memberikan lubrikasi yang baik di dalam rongga mulut.3 Faktor – faktor yang Mempengaruhi Sekresi Saliva Beberapa faktor mempengaruhi sekresi saliva dengan merangsang kelenjer Saliva melalui cara-cara berikut : 1. 5. 4. contoh : bolus yang asam atau asin 3. Rangsangan rasa sakit. Dalam keadaan istirahat. contoh : adanya bolus dalam mulut 2. asin. 3. Sedangkan makanan yang kaya akan protein memiliki efek yang dapat 17 . Diet (makanan) Adanya material eksogen berupa karbohidrat yang dapat difermentasi dengan cepat seperti gula dapat menurunkan kapasitas dapar saliva sehingga metabolisme bakteri dalam menghasilkan asam akan meningkat.mempengaruhi viskositas saliva. pahit. ginggivitis. manis. dan pemakaian 6. membasahi permukaan gigi dan mukosa sehingga terhindar dari kekeringan. misalnya oleh radang. protesa yang dapat menstimulasi sekresi saliva. Faktor mekanis yaitu dengan mengunyah makan yang keras atau permen karet. contoh : mencium/memikirkan makanan.

Namun sistem fosfat ini tidak berperan besar terhadap kapasitas dapar pada keadaan saliva terstimulasi karena konsentrasi fosfat menurun pada kecepatan aliran 18 . Penurunan kapasitas dapar saliva Penurunan kapasitas dapar dapat terjadi pada orang tua. Sedangkan pada kapasitas dapar dan pH saliva yang terstimulasi. yaitu:  Bikarbonat Bikarbonat merupakan ion dapar terpenting di dalam saliva dan ion ini akan menentukan sebagian besar kapasitas dapar dan derajat asam saliva. ion ini menghasilkan 85% dari keseluruhan kapasitas dapar saliva. Kapasitas dapar saliva berperan dalam menetralisasi asam plak. 7. Pada saliva terstimulasi. Sistem fosfat menghasilkan 15% dari keseluruhan kapasitas dapar saliva. dan pengguna obat-obatan tertentu. kemudian nilai ini bervariasi setelahnya. dan dalam kurun waktu 30-60 menit kemudian akan kembali turun. 8. penderita penyakit sistemik.meningkatkan kapasitas dapar saliva melalui pengeluaran zat-zat basa seperti amonia. ¼ jam setelah stimulasi keduanya memiliki nilai paling tinggi. Selain itu. Besarnya kapasitas dapar dalam saliva tergantung oleh beberapa faktor. Ritme biologis (irama siang-malam) Kapasitas dapar dan pH saliva yang tidak terstimulasi memiliki nilai terendah pada saat tidur dan nilai tertinggi saat segera setelah bangun. kapasitas dapar dan sekresi saliva pada wanita biasanya lebih rendah dibandingkan pada pria.  Kalsium dan fosfat Ion kalsium dan fosfat menjaga saturasi saliva terhadap mineral gigi. Oleh karena itu. ion-ion ini penting dalam melindungi gigi terhadap perkembangan karies.

4 Fungsi Saliva Saliva berkontribusi untuk menghasilkan kinerja tubuh yang efisien dan keadaan umum yang baik. fungsi-fungsi tersebut antara lain: 1) Fungsi digestive Dalam sistem pencernaan saliva berperan dalam: a. penelanan.  Urea Kandungan urea di dalam saliva dapat digunakan oleh mikroorganisme di dalam rongga mulut untuk menghasilkan amonia.saliva yang tinggi. Menghancurkan (katabolisme) zat tepung b. Kandungan protein di dalam saliva hanya merupakan tambahan sekunder pada kapasitas dapar saliva melalui efek alkali dan penghancuran enzimatik terhadap bakteri di dalam rongga mulut. Produksi amonia ini dapat menetralkan hasil akhir metabolisme bakteri sehingga pH dapat meningkat.  Protein Konsentrasi protein di dalam saliva hanya 1/30 dari plasma sehingga terlalu sedikit asam amino yang dapat memberi efek dapar yang signifikan pada pH normal di rongga mulut. Taste 19 . pembentukan bolus makanan. Lubrikasi  Dilakukan oleh glikoprotein  Memfasilitasi proses pengunyahan. dan berbicara  Berfungsi menjaga mukosa membrane dari kekeringan dan mulai mengalami parakeratinasi. 3. ataupun keratinasi c. Sistem fosfat memberikan kapasitas dapar paling signifikan pada saat saliva tidak terstimulasi dan di awal pemaparan asam.

Hampir 90% berasal dari saliva parotid . serta kandungan amonia dan urea dalam saliva dapat menyangga dan menurunkan pH yang terjadi saat bakteri plak sedang memetabolisme gula.Kandungan air di saliva makanan dapat dirasakan oleh reseptor gustatory dan reaksi pencernaan dapat dimulai. 1987). Lysozyme .menyerang (lisis) dinding sel bakteri gram positif .lebih resisten terhadap proteolisis oleh bacterial enzim dibandingkan IgA . thiocynate. 4) Aksi higienis  Kelenjar saliva (mukus) sangat berperan penting dalam mempertahankan kesehatan jaringan rongga mulut  Kelenjar saliva (seperti kelenjar keringat di kulit) juga membantu deskuamasi sel epitel oral 20 .0 (Ganong. sehingga kapasitas bufer saliva pun meningkat. lactoperoxidase.terutama ada pada saliva kelenjar parotid . 2) Fungsi antibacterial Substansi-substansi yang terdapat pada bakteri yang memiliki sifat antibakteri antara lain : a. Peroksidase . Kapasitas bufer dan pH saliva erat hubungannya dengan kecepatan sekresinya. Selain itu. Peningkatan kecepatan sekresi saliva mengakibatkan naiknya kadar natrium dan bikarbonat saliva.terdiri dari hidrogen peroksida.mencegah kolonisasi/perlekatan bakteri b. penurunan pH plak sebagai akibat ulah organisme akan dihambat (Kidd and Bechal.menghambat produksi asam dan pertumbuhan mikroorganisme c.bekerjasama dengan thiocynate dan lactoperoxidase 3) Aksi pembufferan Sistem bufer asam karbonat-bikarbonat. . Secretory IgA (sIgA) . 1995). Peningkatan kapasitas bufer dapat melindungi mukosa rongga mulut dari asam yang terdapat pada makanan saat muntah. Sistem bufer saliva membantu mempertahankan pH rongga mulut sekitar 7.

maka produksi saliva akan menurun yang mengakibatkan mulut menjadi kering. yang dapat meningkatkan remineralisasi lesi. Setelah orang tersebut minum air keseimbangan air pulih kembali sehingga produksi saliva kembali normal. Terkadang bisa terjadi ujung duktus tersumbat atau karena trauma misalnya bibir sering tergigit secara tidak sengaja. kalsium. sehingga air liur menjadi tertahan tidak dapat mengalir keluar dan menyebabkan 21 pembengkakan (mucocele). Komposisi saliva : flouride. dan ion fosfat.lesi karies 7) Keseimbangan Air Berperan dalam terjadinya dehidrasi. Apabila cairan tubuh berkurang. terutama dari kelenjar submandibula. karena tidak dibatasi oleh sel epitel. 3. Aksi enzimatik : peroksidae dan sistem lisozim d. dan dasar mulut. Mucocele bukan kista. IX dan faktor platelet  Saliva. .1 MUCOCELE Mucocele adalah Lesi pada mukosa (jaringan lunak) mulut yang diakibatkan oleh pecahnya saluran kelenjar liur dan keluarnya mucin ke jaringan lunak di sekitarnya. Aksi mekanis : membersihkan permukaan gigi b. Mucocele terjadi karena pada saat air liur kita dialirkan dari kelenjar air liur ke dalam mulut melalui suatu saluran kecil yang disebut duktus. Membersihkan debris-debris makanan 5) Koagulasi Darah dan Perbaikan Jaringan  Waktu pembekuan dikurangi oleh adanya saliva dari protein-protein yang sama terhadap faktor pembekuan VII. Aksi immunologi : dengan cara mensekresikan IgA c. Mucocele dapat terjadi pada bagian mukosa bukal. anterior lidah.4. mempercepat kecepatan kontraksi luka 6) Penghambat Karies Gigi Penghambatan karies oleh saliva melalui beberapa aksi berikut : a.5 Kelainan pada Kelenjar Saliva 2.

atau pukulan di wajah. Mucocele Juga dapat disebabkan oleh obat-obatan yang mempunyai efek mengentalkan ludah. Terkadang salah satu saluran ini terpotong. termasuk langit-langit dan dasar mulut. atau mucocele.Mucocele juga dapat terjadi jika kelenjar ludah terluka. Ludah kemudian mengumpul pada titik yang terpotong itu dan menyebabkan pembengkakan. Manusia memiliki banyak kelenjar ludah dalam mulut yang menghasilkan ludah. Pembengkakan dapat juga terjadi jika saluran ludah (duct) tersumbat dan ludah mengumpul di dalam saluran. misalnya bibir yang sering tergigit pada saat sedang makan. Gambaran Klinis       Batas tegas Konsistensi lunak Warna transluscent Ukuran biasanya kecil Tidak ada keluhan sakit Kadang-kadang pecah. Langkah-langkah cara mendiagnosis ranula adalah : 22 . Akan tetapi jarang didapati di atas lidah. Pada umumnya mucocele didapati di bagian dalam bibir bawah. Namun dapat juga ditemukan di bagian lain dalam mulut. 3iopsy. keadaan klinis dan palpasi. Ludah tesebut mengandung air. Ludah dikeluarkan dari kelenjar ludah melalui saluran kecil yang disebut duct (pembuluh). hilang tapi tidak lama kemudian akan timbul lagi Diagnosis Diagnosis mukokel bisa secara langsung dari riwayat penyakit. dan enzim. Dapat juga disebabkan karena adanya penyumbatan pada duktus (saluran) kelenjar liur minor. Etiologi Umumnya disebabkan oleh trauma 4iops.

Namun banyak juga lesi yang sifatnya kronik dan membutuhkan pembedahan eksisi. mucocele juga dapat diangkat dengan laser. ini terkadang dapat mengempiskan pembengkakan. kemudian lesi dipotong dengan teknik gunting lalu dilakukan penjahitan. Penatalaksanaan mukokel biasanya dilakukan dengan eksisimukokel dengan modifikasi teknik elips. 23 . maka tidak perlu dilakukan pembedahan. dokter gigi sebaiknya mengangkat semua kelenjar liur minor yang berdekatan.      Melakukan anamnesa lengkap dan cermat secara visual Bimanual palpasi intra & extraoral Aspirasi Melakukan pemeriksaan laboratories Pemeriksaan radiologis dengan kontras media Pemeriksaan mikroskopis. Jika berhasil. Selain dengan pembedahan. Pada saat di eksisi. pemeriksaan biopsy/PA Differential Diagnosa Differential diagnosis dari mukokel adalah sebagai berikut :      Adenoma Pleomorfik Suatu nodula keras kebiru-biruan Kista Nasolabial Suatu nodula berfluktuasi pada palpasi Kista Implantasi Penatalaksanaan Mucocele adalah lesi yang tidak berumur panjang. dan dilakukan pemeriksaan mikroskopis untuk menegaskan Biopsy dan menentukan apakah ada kemungkinan tumor kelenjar liur. yaitu setelah pemberian anesthesi lokal dibuat dua insisi elips yang hanya menembus mukosa. bervariasi dari beberapa hari hingga beberapa minggu. dan dapat hilang dengan sendirinya. Beberapa dokter saat ini ada juga yang menggunakan menggunakan injeksi Kortikosteroid sebelum melakukan pembedahan.

sehingga melalui rupture ini air liur keluar menempati jaringan disekitar saluran tersebut. Langkah-langkah cara mendiagnosis ranula adalah : 24 . Selain terhalangnya aliranliur.2 RANULA Etiologi Dan Patogenesis Ranula terbentuk sebagai akibat normal melalui duktus ekskretorius major yang membesar atau terputus atau terjadinya rupture dari saluran kelenjar terhalangnya aliran liur yang sublingual (duktus Bartholin) atau kelenjar submandibuler (duktus Wharton). Gambaran Klinis Bentuk dan rupa kista ini seperti perut kodok yang menggelembung keluar (Rana=Kodok)      Dinding sangat tipis dan mengkilap Warna translucent Kebiru-biruan Palpasi ada fluktuasi Tumbuh lambat dan expansif Diagnosis Diagnosis mukokel bisa secara langsung daririwayat penyakit. ranula bisa juga terjadi karena trauma dan peradangan. keadaan klinis dan palpasi.2. Bila letaknya didasar mulut. milohiodeusdan Bila kista menimbulkan menerobos pembengkakan dibawah otot submandibular.4. jenis ranula ini disebut ranulaSuperfisialis. ranula jenisini disebut ranula Dissecting atau Plunging. Ranulamirip dengan mukokel tetapi ukurannya lebih besar.

4. biasanya disebabkan oleh batu yang menghalangi atau hyposecretion kelenjar. Setelah itu dilakukan eksisi pada atap lesisesuai dengan batas penjahitan kemudian lesi ditutup dengan tampon. Sedangkan Sialadenitis kronis nonspesifik merupakan akibat dari obstruksi duktus karena sialolithiasis atau radiasi eksternal atau mungkin 25 .3 SIALADENITIS Sialadenitis adalah infeksi bakteri dari glandula salivatorius. Proses inflamasi yang melibatkan kelenjar ludah disebabkan oleh banyak faktor etiologi. 2.      Melakukan anamnesa lengkap dan cermat Secara visual Bimanual palpasi intra & extraoral Punksi dan aspirasi Melakukan pemeriksaan laboratories Pemeriksaan radiologis dengan kontras media Pemeriksaan mikroskopis.Biasanya menggunakan anestesi blok lingual ditambah denganinfiltrasi regional. pemeriksaan biopsy/PA Differential Diagnosa - Kista Dermoid Kista dermoid yang tampak sebagai suatu pembengkakan jaringan lunak dalam mulut - Batu kelenjar liur (sialolit) Penatalaksanaan Penatalaksanaan ranula biasanya dilakukan dengan caramarsupialisasi ranula atau pembuatan jendela pada lesi. Keterlibatannya dapat bersifat unilateral atau bilateral seperti pada infeksi virus. Di sekitar tepi lesi ditempatkan rangkaianjahitan menyatukan mukosa perifer dengan mukosa lesi danjaringan dasar lesi. Proses ini dapat bersifat akut dan dapat menyebabkan pembentukan abses terutama sebagai akibat infeksi bakteri. Kemudian dilakukan juga drainase denganpenekanan lesi.

Gejala Umum Meliputi gumpalan lembut yang nyeri di pipi atau di bawah dagu. pasien dengan sindrom Sjögren. pijat berulang pada kelenjar. Dalam beberapa kasus. koli. Terdapat tiga kelenjar utama pada rongga mulut. Evaluasi USG atau computed tomography (CT) akan pembentukan abses kontraindikasi. dan antibiotik intravena. organisme lain meliputi Streptococcus. Remaja dan dewasa muda dengan anoreksia juga rentan terhadap gangguan ini. menggigil dan malaise (bentuk umum rasa sakit). submandibular. Organisme yang merupakan penyebab paling umum pada penyakit ini adalah Staphylococcus aureus. Sebuah saluran kemudian ditempatkan di atas kelenjar dan luka tertutup. dan pada mereka yang melakukan terapi radiasi pada rongga mulut. Sialadenitis paling sering terjadi pada kelenjar parotis dan biasanya terjadi pada pasien dengan umur 50-an sampai 60-an. demam. pada pasien sakit kronis dengan xerostomia.yang disebabkan dari berbagai agen menular dan gangguan imunologi. dan sublingual. drainase paling menunjukkan apakah Sialography baik merupakan dilakukan dengan mengangkat penutup parotidectomy standar dan kemudian menggunakan hemostat untuk membuat beberapa bukaan ke dalam kelenjar.spesifik. Etiologi Sialadenitis biasanya terjadi setelah obstruksi hyposecretion atau saluran tetapi dapat berkembang tanpa penyebab yang jelas. dimungkinkan 26 . dan berbagai bakteri anaerob. Penatalaksanaan Perawatan awal harus mencakup hidrasi yang memadai. kebersihan mulut baik. tersebar di arah umum dari syaraf wajah.Insisi dan telah terjadi.diantaranya adalah kelenjar parotis. terdapat pembuangan pus dari glandula ke bawah mulut dan dalam kasus yang parah.

adalah mustahil untuk menentukan adanya pembentukan abses awal berdasarkan pemeriksaan fisik saja. biasa diunakan pada kelenjar dari bibir bawah. mulut kering. Untuk mendapatkan sampel biopsi. Jadi. Penatalaksanaan Mulut yang kering dapat dibantu dengan minum air yang banyak dan perawatan gigi yang baik untuk menghindari kerusakan pada gigi. kerusakan gigi. Prosedur biopsi kelenjar saliva bibir bawah diawali dengan anastesi lokal kemudian dibuat sayatan kecil dibagian dalam bibir bawah. kesulitan menelan. Hal ini juga untuk diingat bahwa fluktuasi kelenjar parotis tidak terjadi sampai fase sangat terlambat karena beberapa investasi fasia dalam kelenjar. dan infeksi pada kelenjar parotis bagian dalam pipi. mulut luka dan pembengkakan.4 SJORGEN SYNDROME Sjorgen syndrome merupakan suatiupenyakit auto imun yang ditandai oleh produksi abnormal dari extra antibodi dalam darah yang diarahkan terhadap berbagai jaringan tubuh.4. 27 .untuk melakukan aspirasi jarum yang dipandu CT atau USG-pada abses parotis. Ini merupakan suatu penyakit autoimun peradangan pada kelenjar saliva yang dapat menyebabkan mulut kering dan bibir kering Diagnosis Peradangan kelenjar saliva dapat dideteksi dengan radiologic scan. juga dapat dilihat dengan berkurangnya kemampuan kelenjar saliva memproduksi air liur. 2. Gejala Gejala dari sjorgen syndrome antara lain. penyakit gingiva. yang dapat membantu menghindari prosedur operasi terbuka. Dapat juga didiagnosis dengan cara biopsi.

karena penyakit ini kadang-kadang penyakit ditemukan pada anggota keluarga lainnya.5 SIALORRHEA Sialorrhea adalah suatu kondisi medis yang detandai dengan menetesnya air liur atau sekresi saliva yang berlebihan. Hal ini juga ditemukan lebih umum pada orang yang memiliki penyakit autoimun lainnya seperti lupus eritematous sistemik. ada dukungan ilmiah yang menyatakan bahwa penyakit ini adalah penyakit turunan atau adanya faktor genetik yang dapat memicu terjadinya sjorgen syndrome. Pada tahap awal dapat diberikan obat. Obatobatan ini harus dihinari oleh orang yang berpenyakit jantung. Penatalaksanaan Pengobatan dan perawatan sialorrhea biasanya tergantung pada sumber penyebabnya. dll. Penyebab Penyebab sjorgen syndrome tidak diketahui. 2. Perawatan tambahan untuk gejala mulut kering adalah obat resep untuk menstimulasi air liur seperti pilocarpine dan ceuimeline. Penyebab Penyebab dari sialorrhea dapat bevariasi berupa gejala dan gangguan neurologis. Apabila disebabkan oleh efek samping obat-obatan maka penanggulangannya hanya sebatas mengatur kelebihan sekresi saliva. infeksi atau keracunan logam berat dan insektisida serta efek samping dari obat-obatan tertentu. dan glukoma. autoimun penyakit tiroid. asma.Kelenjar dapat dirangsang dengan menghisap tetesan air lemon tanpa gula atau gliserin pembersih. jika terjadi dalam jangka 28 . diabetes.4.

1992). 2. Obat-obatan dengan pengaruh anti β-adrenergik (yang disebut β-bloker) terutama akan menghambat sekresi saliva mukus (Amerongen.berasal dari dua kata. Xerostomia merupakan gejala dari bermacam-macam kondisi kesehatan (Amerongen. Gangguan pada sistem saraf pusat dan perifer dapat mempunyai akibat bagi kecepatan sekresi saliva. 2. 2008. Kesehatan umum yang menurun Kesehatan umum yang menurun pada beberapa penderita dapat menyebabkan berkurangnya sekresi kelenjar saliva yang dapat meningkatkan resiko terhadap radang mulut. Scully. 1992). misalnya berkeringat yang berlebihan. 29 .4. 2008). Beberapa penyebab xerostomia adalah sebagai berikut: 1. 1992). Gangguan-gangguan ini dapat timbul karena berbagai sebab.5 Definisi dan Penyebab Xerostomia Xerostomia secara harfiah berarti ”mulut kering”. obat-obatan dengan pengaruh antikolinergik akan menghambat paling kuat pengeluaran saliva.1ml/menit adalah menurun (Greenberg dkk. Oleh karena sekresi air dan elektrolit terutama diatur oleh sistem saraf parasimpatis. 1992).waktu yang lama dapat dilakukan operasi dengan mengangkat satu atau lebih glandula salivarius mayor. seperti sklerosis multipel. Obat-obatan Obat-obatan yang memblokade sistem saraf akan menghambat sekresi saliva. diare yang lama atau pengeluaran urin yang melampaui batas (Amerongen. xeros yang berarti kering dan stoma yang berarti mulut. Gangguan sistem saraf Sekresi saliva terutama terdapat di bawah pengaturan hormonal dan diatur oleh neuronal baik oleh sistem saraf otonom parasimpatis maupun simpatis. Laju aliran saliva keseluruhan yang tidak terstimulasi <0. 3. Terdapat kurang lebih 400 jenis obat-obatan yang dapat menyebabkan xerostomia. Kelainan saraf yang diikuti gejala degenerasi. juga akan mengakibatkan menurunnya sekresi saliva (Amerongen.

juga ada komponen emosional. 7. juga dapat memberi efek kering pada mulut. Fisiologi Sensasi mulut kering yang subyektif terjadi setelah pembicaraan yang berlebihan dan selama berolahraga. untuk kondisi neoplastik di kepala dan leher. penyumbatan muara pembuangan oleh batu saliva. Gangguan kelenjar saliva Gambaran penyakit dengan sel-sel asinar dan sel-sel duktus kelenjar saliva yang berkurang atau mengecil. anti parkinson. Sebagian besar efek xerogenik dari obat-obatan tersebut bersifat sementara (Bartels. 4. diuresis. Sebagian besar orang mengalami sensasi mulut kering sebelum melakukan tanya jawab yang penting atau sebelum berpidato (Gayford dan Haskell. 2005). atau pada iradiasi mantel atau iradiasi tubuh total (TBI) sebelum transplantasi sel induk haematopoietic (transplantasi tulang sumsum) (Scully. aplasi atau hipoplasi kelenjar saliva mayor pembawaan. Agenisis dari kelenjar saliva 30 . 2008). Penyinaran daerah kepala-leher Gangguan fungsi kelenjar saliva setelah penyinaran dengan sinar ionisasi pada daerah kepala-leher sudah banyak diketahui. 1990). antikolinergik. berbicara atau menyanyi. seperti. 1992). tumor. Pada keadaan ini ada dua faktor yang ikut berperan. yang merangsang terjadinya efek simpatik dari sistem saraf otonom dan menghalangi sistem saraf parasimpatik.Golongan-golongan utama dari obat-obatan tersebut adalah antihistamin. Pada perawatan untuk kanker mulut. anti psikotik. 5. 6. Bernafas melalui mulut yang terjadi pada saat olah raga. anti hipertensi. mengakibatkan penurunan sekresi saliva. dan sedatif. 1992). antidepresan. atropi kelenjar saliva karena ketuaan atau penyinaran. anti anorexia. Selain itu. radang kelenjar saliva (Amerongen. sehingga menyebabkan berkurangnya aliran saliva dan mulut menjadi kering. penyakit autoimun. Jumlah dan keparahan kerusakan jaringan kelenjar saliva tergantung dosis dan lamanya penyinaran (Amerongen.

Pada orang dewasa terdapat berbagai macam penyebab. dari penyimpangan keadaan hidung. dan berbagai upaya harus dilakukan untuk menghindari faktor-faktor yang dapat 31 . Karena penyumbatan hidung Pada anak-anak.1 Perawatan Xerostomia Segala penyebab yang mendasari xerostomia harus diperbaiki. 9. dimana hal ini akan menurunkan produksi saliva dan mengubah komposisinya (Hasibuan. perubahan atropi pada kelenjar saliva seiring dengan pertambahan usia. Mukosa yang kering menyebabkan pemakaian gigi tiruan tidak menyenangkan. polip hidung atau hipertropi rinitis. 1990). Penyakit harus mengenai kedua kelenjar parotid secara bergantian. dan dengan tegangan permukaan yang berkurang untuk retensi gigi tiruan atas dalam menahan tekanan kunyah. Penyakit kelenjar saliva Selain sindrom sjogren. trauma dapat berlangsung terus (Gayford dan Haskell. Semua keadaan tersebut menyebabkan pasien bernafas dari mulut. 1990). 1990). atau kesulitan dalam mempergunakan gigi tiruan. Hasil sialograf menunjukkan cacat yang besar dari kelenjar saliva (Gayford dan Haskell. penyakit-penyakit kelenjar saliva jarang menimbulkan xerostomia. 8.4.5. tetapi kadang-kadang pasien memang mempunyai keadaan mulut yang kering sejak lahir.Sangat jarang terjadi. 10. Bila daerah pendukung gigi tiruan telah terasa nyeri. karena gagal untuk membentuk selapis tipis mukous untuk tempat gigi tiruan melayang pada permukaannya. Faktor ketuaan dan psikologi Keadaan mulut yang kering dapat terlihat berupa kesulitan mengunyah dan menelan. tanpa penyumbatan hidung (Gayford dan Haskell. 2. Menurut Hasibuan (2002). 2002). untuk dapat menimbulkan kerusakan yang menyeluruh (Gayford dan Haskell. penyebab penyumbatan hidung yang paling sering terlihat adalah pembesaran tonsil nasoparingeal (adenoid). 1990).

makanan kering seperti biskuit. larutan ini tidak berbahaya bila tertelan pasien karena dapat membantu mendorong makanan ke oesopagus. 2. besarnya pertambahan sekresi eksokrin 32 . Bibir mungkin menjadi kering dan atropik. Larutan kumur yang mengandung metil selulose 1% dapat membantu keadaan yang parah. obat-obatan (misalnya antidepresan tricyclic atau diuretik). Selain itu efek samping dari pilocarpine adalah meningkatkan pengeluaran keringat. cukup berbahaya dan tidak efektif (Gayford dan Haskell. Pada kasus yang ringan dapat dirawat dengan cara banyak minum. Minyak zaitun. juga dapat digunakan untuk pasien tertentu. Pemberian warna dan bau tertentu. 2008). gangguan pencernaan. iritis. Xerostomia juga dapat diatasi oleh beberapa obat-obatan seperti pilocarpine. cevimeline. Pilocarpine Pilocarpine adalah obat yang bersifat kolinergik dan parasimpatomimetik yang bekerja secara lebih dominan pada reseptor muskarinik dalam merangsang sekresi saliva. dan anethole trithione. vitamin E atau lip balm juga dapat membantu (Scully. Obat-obatan dengan efek parasimpatetik. Masing-masing obat tersebut memiliki mekanisme kerja serta kontra indikasi sebagai berikut: 1. Cevimeline Cevimeline adalah obat yang bersifat kolinergik dan agonis dengan daya tarik yang tinggi pada reseptor muskarinik yang terletak pada lacrimal dan epithalium glandula saliva. seperti lingkungan yang panas dan kering.meningkatkan kekeringan. minuman yang memproduksi diuresis (kopi dan teh). Larutan kumur mulut seperti gliserin dari timol juga dapat digunakan pada beberapa keadaan tertentu. rhinitis. sehingga harus terus lembab dengan menggunakan pelumas yang berbahan dasar air atau produk yang berbahan dasar lanolin (misalnya vaseline). diare. alkohol (termasuk mouthwases). hipotensi. 1990). Adapun kontra indikasinya adalah pada pasien dengan penyakit asthma. dan hipotensi. merokok. dan akan sangat membantu bagi pasien untuk selalu menyediakan segelas air di samping tempat tidurnya atau untuk membantu menelan makanan. dan gangguan penglihatan.

kelenjar submandibularis. asin.5 liter perhari e. 33 . Saliva adalah cairan kompleks yang terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar saliva mayor dan minor yang ada di mukosa mulut. Rangsangan sekresi saliva juga dianggap dapat menanggulangi xerostomia seperti mekanis (mengunyah makanan keras atau permen karet). 1992). seperti perlindungan. Semakin banyak cairan saliva yang dihasilkan.4. Bila sialogog (zat yang merangsang sekresi saliva) tidak memadai pada penderita xerostomia. selain itu cevimeline memiliki efek samping seperti pengeluaran keringat yang berlebihan. Volume sekresi saliva normal adalah 1 – 1. Ph saliva normal yaitu berkisar 6. dan mempermudah bicara dan makan (Amerongen. kimiawi oleh rangsangan rasa (asam. maka dianjurkan penggunaan pengganti saliva. BAB IV KESIMPULAN a. c. 3. stimulasi dari saliva dihasilkan dari serous sel asini. pertahanan dan pembasahan jaringan lunak dan jaringan keras mulut. Anethole trithione Anethole trithione adalah obat yang distimulasi dan disekresikan di dalam empedu juga distimulasikan pada sistem saraf parasimpatis dan dapat meningkatkan sekresi dari asetilkolin.glandula dan termasuk pertambahan pengeluaran saliva dan keringat. Hal tersebut sering kali terjadi pada malam hari. diare. 2005). Pengganti cairan untuk saliva hanya dapat menggantikan fungsi paling pokok saliva manusia. mual. neuronal (melalui sistem saraf otonom. dan efek sampingnya adalah perut terasa tidak nyaman dan adanya gas dalam perut atau usus (Bartels. dan kelenjar sublingualis.0-7. Dan saliva dengan rangsangan memiliki Ph lebih alkalin. rhinitis. Obat ini memiliki kontra indikasi yang sama seperti pilocarpine. pedas). pahit. baik simpatis maupun parasimpatis). dan gangguan penglihatan. Obat ini tidak dapat diberikan pada pasien sjogren sindrom. Tiga kelenjar saliva mayor adalah kelenjar parotis. manis. b. d. besar viskositas semakin kecil sehingga mengakibatkan cairan saliva semakin encer.

R. Ferguson. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press Dixon. Andrew D.London Guyton. Harcourt Publishers Limited. 1993. Oral Bioscience. Fisiologi Kedokteran 7th. Jakarta: Binarupa Aksara David B. Hall. Ludah dan Kelenjar Ludah Arti Bagi Kesehatan Gigi. Arthur C.DAFTAR PUSTAKA Amerogen AV. Alih Bahasa Rafiah Abyono.1999. John E. Jilid 2. 1988. St. 1981.. Buku Teks Histologi.5. Anatomi untuk Kedokteran Gigi ed. Calmes. Finn. Jakarta: Hipokrates Roth GL. Jakarta: EGC 34 . Oral Biology. 1994. 1997. Louis: CV Mosby Geneser.

Isselhard. Dorothy. BGJ. A manual of Oral Embriology and Microscopic Anatomy. John Wiley & Sons.W. brand. 1959. 2003. Rensburg. St Louis: Lea & Febiger.Unated States of America 35 .1995. Oral anatomi ksrys 3rd ed .B. Anatomy of orofacial structure. Gerard J. Oral Biology. Harry Sicher.. Tortora. St Loius: CV Mosby.1960.Philadelphia.2006. Saunders Company. America : Mosby Chapter 25 Permar.Inc. Bryan D. Principles of Anatomy and Physiology. Chicago: Quistessence Publishing Co. Pennsylvania.Inc.