Anda di halaman 1dari 22

INEZ TALITHA

1102013134
1. Memahami dan Menjelaskan Tentang Karsinoma Hepatoseluler
1.1. Definisi karsinoma hepatoseluler
Karsinoma Hepatoseluler adalah tumor ganas hati primer yang berasal dari
hepatosit dan penyebab kematian ke-3 akibat kanker di dunia.
Kanker hati adalah penyakit kronis pada hepar dengan inflamasi dan fibrosis
hepar yang mengakibatkan distorsi struktur hepar dan hilangnya sebagian besar
fungsi hepar. ( Gips & Willson :1989 )
Kanker hati adalah penyakit gangguan pada hati yang disebabkan karna hepatis
kronik dalam jangka panjang yang menyebabkan gangguan pada fungsi hati.
( Ghofar , Abdul : 2009 )
Kanker hati berasal dari satu sel yang mengalami perubahan mekanisme kontrol
dalam sel yang mengakibatkan pembelahan sel yang tidak terkontrol. Sel
abnormal tersebut akan membentuk jutaan kopi, yang disebut klon. Mereka tidak
dapat melakukan fungsi normal sel hati dan sel terus menerus memperbanyak
diri. Sel-sel tidak normal ini akan membentuk tumor (Anonim, 2004).
1.2. Epidemiologi karsinoma hepatoseluler
Hepatoma atau HCC meliputi 5,6% dari seluruh kasus kanker pada manusia,
menempati peringkat ke-5 pada laki-laki dan kesembilan pada perempuan
sebagai kanker tersering di dunia, serta urutan ketiga dari kanker sistem saluran
cerna setelah kanker kolorektal dan kanker lambung. Tingkat kematian
hepatoma juga sangat tinggi, di urutan kedua setelah kanker pankreas.
Angka kejadian tumor ini di Amerika Serikat hanya sekitar 2% dari seluruh
karsinoma yang ada. Sebaliknya, sekitar 80% dari kasus hepatoma di dunia
berada di negara berkembang seperti Asia Timur dan Asia Tenggara serta Afrika
Tengah yang diketahui sebagai wilayah dengan prevalensi tinggi hepatitis virus.
Di Afrika dan Asia hepatoma adalah karsinoma yang paling sering ditemukan
dengan angka kejadian 100/100.000 populasi. Setiap tahun muncul 350.000
kasus baru di Asia, 1/3nya terjadi di Republik Rakyat China. Di Eropa kasus
baru berjumlah sekitar 30.000 per tahun, di Jepang 23.000 per tahun, di Amerika
Serikat 7000 per tahun dan kasus baru di Afrika 6x lipat dari kasus di Amerika
Serikat. Lebih dari 80% pasien hepatoma menderita sirosis hati. Hepatoma biasa
dan sering terjadi pada pasien dengan sirosis hati yang merupakan komplikasi
hepatitis virus kronik. Hepatitis virus kronik adalah faktor risiko penting
hepatoma, virus penyebabnya adalah virus hepatitis B dan C. Pasien hepatoma
88% terinfeksi virus hepatitis B atau C. Tampaknya virus ini mempunyai
hubungan yang erat dengan timbulnya hepatoma.
Hepatoma jarang ditemukan pada usia muda kecuali di wilayah yang endemik
infeksi serta banyak terjadi transmisi HBV perinatal. Infeksi HBV sebagai salah
satu penyebab terpenting hepatoma banyak ditularkan pada masa perinatal atau
masa kanak-kanak kemudian hepatoma terjadi sesudah dua-tiga dasawarsa. Bayi
dan anak kecil yang terinfeksi virus ini lebih mempunyai kecenderungan

1

menderita hepatitis virus kronik daripada dewasa yang terinfeksi virus ini untuk
pertama kalinya.
Karsinoma hepatoseluler (hepatocelluler carcinoma=HCC) adalah salah satu
keganasan yang paling umum di seluruh dunia. Insiden global setiap tahunnya
ialah sekitar 1 juta kasus, dengan perbandingan laki-laki dan wanita sekitar 4:1.
Tingkat kejadian sama dengan tingkat kematian. Di Amerika Serikat, terdapat
19.160 kasus baru dan 16.780 kematian yang tercatat pada tahun 2007. Tingkat
kematian pada laki-laki di negara-negara kejadian rendah seperti Amerika
Serikat adalah 1,9 per 100.000 per tahun; di daerah-daerah dengan insidensi
menengah seperti Austria dan Afrika Selatan, angka kematian tahunan berkisar
5,1-20,0 per 100.000, dan pada daerah dengan insidensi yang tinggi seperti di
Asia (Cina dan Korea), angka kematian 23,1-150 per 100.000 per tahun (lihat
tabel 2.1).
Di Indonesia (khususnya Jakarta) HCC ditemukan antara 50 dan 60 tahun,
dengan predominasi pada laki-laki. Rasio antara kasus laki-laki dan perempuan
berkisar antara 2-6 : 1.
Daerah endemik terdapat di Cina dan sub-Sahara Afrika, yang berhubungan
dengan daerah endemik tingkat tinggi carrier hepatitis B dan kontaminasi
mycotoxin bahan pangan, biji-bijian yang disimpan, air minum, dan tanah.
Faktor-faktor lingkungan adalah penting; orang Jepang di Jepang memiliki
insidensi lebih tinggi daripada mereka yang tinggal di Hawaii, juga memiliki
insidensi yang lebih tinggi daripada mereka yang tinggal di California.
1.3. Etiologi karsinoma hepatoseluler
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor risiko yang
menyebabkan seseorang menjadi lebih mungkin menderita kanker
hepatoseluler.
Faktor Risiko
Tersering
 Sirosis dari penyebab apapun
 Infeksi kronis hepatitis B atau C
 Konsumsi etanol kronis
 Non-Alkohol
steatohepatitis
(NASH)
 Aflatoksin B1 atau mikotoksin lain

Jarang
 Sirosis bilier primer
 Hemochromatosis
 Defisiensi antitrypsin α-1
 Non-Alkohol
steatohepatitis
(NASH)
penyakit
penyimpanan
glikogen
 Citrullinemia
 Porfiria cutanea tarda
 Keturunan tyrosinemia
 Wilson's Disease

Adapun factor resiko dari HCC adalah sebagai berikut :
1.
Virus Hepatitis B (HBV)
Hubungan antara infeksi kronik HBV dengan timbulnya HCC terbukti kuat, baik
secara epidemiologis, klinis maupun eksperimental. Umur saat terinfeksi
merupakan factor resiko penting karena infeksi HBV pada usia dini berakibat

2

dan dengan demikian menyebabkan sel-sel hati menjadi bersifat kanker. Karsinogenitas HBV terhadap hati mungkin terjadi karena proses inflamasi kronik. frekuensi kanker hati berhubungan (berkorelasi) dengan frekuensi infeksi virus hepatitis B kronis. Pada pasien yang terinfeksi virus hepatitis C. Sebagai tambahan. Beberapa studi prospektif Eropa melaporkan bahwa kejadian tahunan kanker hati pada pasien virus hepatitis C yang mengidap sirosis berkisar dari 1. Infeksi virus hepatitis C (HCV) juga dihubungkan dengan perkembangan kanker hati. rata-rata waktu yang diperlukan pasien hingga mengidap kanker hati ialah ± 810 tahun. faktor-faktor risiko sehingga terjadinya kanker hati antara lain adanya sirosis. Hal ini diperkirakan karena adanya genom virus hepatitis B (kode genetik) pada daerah-daerah tertentu yang masuk ke material genetik dari sel-sel hati. meningkatnya kadar alpha-fetoprotein (suatu penanda tumor darah). konsumsi alkohol. Material genetik virus hepatitis B ini mungkin kemudian mengacaukan/mengganggu material genetik yang normal dalam sel-sel hati. dan aktivitas protein spesifik-HBV berinteraksi dengan gen hati. Pada beberapa studi retrospektif dari riwayat pasien yang memiliki hepatitis C. Mekanisme virus hepatitis C menyebabkan kanker hati tidak dimengerti dengan baik. Infeksi HCV berperan penting dalam pathogenesis HCC pada pasien yang bukan pengidap HBV. 2. material genetik virus hepatitis C tidak masuk secara langsung ke dalam material genetik sel-sel hati. Hubungan antara infeksi kronik HBV dengan timbulnya HCC terbukti kuat.4 sampai 2. peningkatan proliferasi hepatosit. Menurut beberapa penelitian. material genetik dari virus hepatitis B seringkali ditemukan menjadi bagian dari material genetik sel-sel kanker. baik secara epidemologis. Pasien yang memiliki virus hepatitis B kronis dapat berpotensi terkena HCC jika pasien tersebut memiliki faktor resiko lain. waktu rata-rata pasien yang terkena paparan virus hepatitis C untuk berpotensi menjadi kanker hati yaitu ±28 tahun. Pada pasien yang memiliki virus hepatitis B kronis dan kanker hati. klinis maupun eksperimental.5% per tahun. dan infeksi yang bersamaan dengan virus hepatitis B.akan terjadinya persistensi(kronisitas). jenis kelamin laki. Virus Hepatitis C (HCV) HCV merupakan factor resiko penting dari HCC. Pada studi yang lain. diketahui terdapat beberapa individu-individu yang terinfeksi virus hepatitis C kronis yang menderita kanker hati tanpa mengidap 3 . seperti konsumsi alkohol ataupun pasien memiliki infeksi yang bersamaan dengan infeksi virus hepatitis C kronis. pasien-pasien dengan virus hepatitis B yang memiliki risiko tinggi untuk terjadi kanker hati adalah pria-pria dengan sirosis (pembentukan jaringan parut di hati). umur yang lebih tua. integrasi HBV DNA ke dalam DNA sel pejamu. Beda halnya pada pasien yang sebelumnya telah mengidap sirosis hati dan terinfeksi virus hepatitis C pula. virus hepatitis B dan terdapat riwayat kanker hati keluarga. Meta analisis dari 32 penelitian kasus kelola menyimpulkan bahwa resiko terjadinya HCC pada pengidap infeksi HCV adalah 17 kali lipat dibandingkan dengan resiko bukan pengidap. Tidak seperti virus hepatitis B.

jagung. Jamur ini ditemukan pada makanan seperti kacangkacang tanah.sirosis. Obesitas Obesitas merupakan factor resiko utama untuk non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD). beratnya penyakit dan tingginya aktivitas profelirasi sel hati. Setiap tahun 3-5% dari penderita sirosis hati akan menderita HCC. Sirosis Hati Sirosis hati merupakan factor resiko utama HCC di dunia dan melatarbelakangi lebih dari 80% kasus HCC. 3. 4. yang ditemukan dalam makanan yang telah tersimpan dalam suatu lingkungan yang panas dan lembab. Ia diperkirakan menyebabkan kanker dengan menghasilkan perubahan-perubahan (mutasi-mutasi) pada gen p53. Diabetes Melitus (DM) DM merupakan factor resiko baik untuk penyakit hati kronik maupun untuk HCC melalui terjadinya perlemakan hati dan staetohepatis non-alkoholik (NASH). 6. Aflatoxin B1 adalah kimia yang diketahui paling berpotensi membentuk kanker hati. kacang-kacang kedelai. Akibatnya sel-sel hati terus hidup dan berproliferase tanpa dapat dikendalikan. Protein inti sendiri (suatu bagian dari virus hepatitis C) diperkirakan menghalangi proses alami kematian sel atau mengganggu fungsi dari suatu gen (gen p53) sebagai penekan tumor yang normal. peningkatan kadar alfa feto protein (AFP) serum. Ia adalah suatu produk dari suatu jamur yang disebut Aspergillus flavus. dan gandum. Prediktor utama HCC pada sirosis hati adalah jenis kelamin laki-laki. Alkohol 4 . Salah satu mekanisme hepatokarsino-genesisnya adalah kemampuan AFB1 menginduksi mutasi pada kodon 249 dari gen supresor tumor p53. DM dihubungkan dengan peningkatan kadar insulin dan insulin-like growth factors (IGFs) yang merupakan factor promotif potensial untuk kanker. dan HCC menjadi penyebab utama kematian sirosis hati. Hal ini dicurigai karena bahwa protein inti (pusat) dari virus hepatitis C adalah penyebab pengembangan kanker hati. beras. 5. Metabolit AFB1 yaitu AFB 1-2-3epoksid merupakan karsinogen utama dari kelompok aflatoksin yang mampu membentuk ikatan dengan DNA maupun RNA. khususnya non-alkoholic steatohepatitis (NASH) yang dapat berkembang menjadi sirosis hati dan kemudian dapat berlanjut menjadi HCC. Di samping itu. Aflatoxin B1 telah dilibatkan pada perkembangan kanker hati di China Selatan dan Afrika Sub-Sahara. 7. Mutasi-mutasi ini bekerja dengan mengganggu fungsi-fungsi penekan tumor yang penting dari gen. Aflatoksin Aflatoksin B1 (AFB1) merupakan mikotoksin yang diproduksi oleh jamur Aspergillus. AFB1 bersifat karsinogen.

Alkoholisme juga meningkatkan resiko terjadinya sirosis hati dan HCC pada pengidap infeksi HBV atau HCV. sel-sel hati akan mencoba untuk memperbaiki organ hati dengan cara regenerasi atau mereproduksi sel-sel baru. Sirosis yang disebabkan oleh konsumsi alkohol dalam jangka waktu lama merupakan penyebab paling umum dari kanker hati di negara-negara maju. Jadi. Senyawa tertentu dikaitkan dengan tipe-tipe lain dari kanker yang ditemukan pada hati. hepatic adenoma dapat berkembang menjadi kanker. Efek hepatotoksik alkohol bersifat dose-dependent. Hanya sedikit bukti adanya efek karsinogenik langsung dari alkohol. peminum berat alkohol (50-70 g/hari dan berlangsung lama) beresiko untuk menderita HCC melalui sirosis hati alkoholik. menyebabkan suatu kanker dari pembuluh-pembuluh darah dalam hati yang disebut hepatic angiosarcoma. Meskipun alkohol tidak memiliki kemampuan mutagenik. penyakit Wilson ) Kontrasepsi oral Senyawa kimia ( thorotrast. Sebaliknya. Contohnya. Ini adalah tumor-tumor hati yang ramah/jinak yang mungkin mempunyai potensi untuk menjadi ganas (bersifat kanker). Ini menunjukkan adanya peran sinergistik alkohol terhadap infeksi HBV maupun infeksi HCV.Hanya sedikit bukti efek karsinogenik langsung dari alcohol. 8.Meskipun alcohol tidak memiliki kemampuan mutagenic. pada beberapa individu-individu. namun hormon-hormon wanita (estrogens) dan steroid-steroid pembentuk protein (anabolic) dihubungkan dengan pengembangan hepatic adenomas. 9. terjadi suatu perubahan genetik (mutasi) yang menghasilkan kanker. PBC/sirosis bilier primer ) Penyakit hati metabolic ( hemokromatosis genetic. suatu agen kontras yang dahulu digunakan untuk pencitraan (imaging). Alkoholisme juga meningkatkan resiko terjadinya sirosis hati pada pengidap infeksi HBV atau HCV. Obat-Obat Terlarang. Selama proses regenerasi aktif inilah. defisiensi antitrypsinalfal. Obat-Obatan dan Senyawa Kimia Tidak ada obat-obat yang menyebabkan kanker hati. Mekanisme ini terjadi ketika para alkoholik menghentikan konsumsi alkoholnya. Sedangkan angka kematian pada pecandu alkoholik aktif lebih disebabkan komplikasi dari pengunaan alkohol jangka panjang seperti gagal hati. peminum berat alcohol berisiko untuk menderita HCC melalui sirosis hati alkoholik. nitrosamin. insektisida organoklorin. Acapkali penyalahgunaan alkohol merupakan prediktor bebas untuk terjadinya HCC pada pasien dengan hepatitis kronik atau sirosis akibat infeksi HBV atau HCV. sehingga asupan sedikit alkohol tidak meningkatkan resiko terjadinya HCC. pada sirosis alkoholik terjadinya HCC juga meningkat bermakna pada pasien dengan HbsAg-positif atau anti. thorotrast. vinil klorida. - Faktor Resiko Lain Penyakit hati autoimun ( hepatitis autoimun. asam tanik) Tembakau ( masih kontroversial ) Jenis kelamin laki-laki lebih rentan karena factor genetic 5 .HCV positif.

pada umumnya bersumber dari perut. pankreas. Tipe difus : secara makroskopis sukar ditentukan daerah massa tumor STADIUM PENYAKIT Stadium I : Satu fokal tumor berdiametes < 3cm yang terbatas hanya pada salah satu segment tetapi bukan di segment I hati Stadium II : Satu fokal tumor berdiameter > 3 cm. Tetapi. 1. b. Laki-laki dua kali lebih rawan terkena penyakit ini dibandingkan wanita. Kanker Hati Primer Cholangio Carcinoma . b. dapat disertai nodul – nodul kecil disekitar massa tumor biasa dengan atau tanpa sirosis. dan rektum. c.- Memiliki riwayat keluarga menderita penyakit hati atau diabetes. Kebiasaan merokok dan mengkonsumsi air yang mengandung arsenik. Kanker Hati Sekunder Kanker hati sekunder dapat muncul dari kanker hati primer pada organorgan lain. Tipe nodular : terdapat nodul – nodul tumor dengan ukuran yang bervariasi tersebar di seluruh hati. Tumor terbatas pada segement I atau multi-fokal terbatas pada lobus kanan/kiri Stadium III : Tumor pada segment I meluas ke lobus kiri (segment IV) atas ke lobus kanan segment V dan VIII atau tumor dengan invasi peripheral ke sistem pembuluh darah (vascular) atau pembuluh empedu (billiary duct) tetapi hanya terbatas pada lobus kanan atau lobus kiri hati. Secara makroskopis karsinoma hepatoseluler dibedakan atas : a.kanker yang berawal dari saluran empedu Hepatoblastoma .  atau tumor dengan invasi ke dalam pembuluh darah hati (intra hepaticvaskuler) ataupun pembuluh empedu (biliary duct) 6 .pada umumnya menyerang anak-anak atau anak yang mengalami pubertas Angiosarcoma – kanker yang jarang terjadi.4. Stadium IV : Multi-fokal atau diffuse tumor yang mengenai lobus kanan dan lobus kiri hati. bermula di pembuluh darah yang ada pada hati. batas tegas. kolon. Hepatoma (HCC) – berawal di hepatosit dan dapat menyebar ke organ yang lain. Tipe massif : biasanya di lobus kanan. Klasifikasi Karsinoma hepatoseluler Ca Hepar atau kanker hati dapat digolongkan beberapa type yaitu : a.

Trombosis Vena Porta (CT) No Yes a = Luas tumor pada hati Tabel Klasifikasi Okuda Ukuran Tumora Ascites Albumin (g/L) 2 — >50 C — — Bilirubin (mg/dL) 50% <50 + – 3 >3 3 <3 (+) (–) (+) (–) (+) (–) (+) (–) Stadium Okuda: Stadium 1= semua (-). Patofisiologi Karsinoma hepatoseluler Etiologi: -HBV -HCV -Alcohol -Aflatoxin -Obat-obatan bahan kimia -radiasi - Peningkatan perputaran sel hati yang diinduksi oleh injury Regenerasi kronik Kerusakan oksidatif DNA 7 . Jumlah Tumor Single Multiple Ukuran tumor pada Hepar yang <50 <50 menggantikan hepar normal (%)a ii.5. Tabel Klasifikasi Cancer of the Liver Italian Program (CLIP) Points Variables 0 1 i. Stadium 3 = 3 atau 4 (+). Stadium 2= 1 atau 2 (+). Nilai Child-Pugh A B iii. α-Fetoprotein level (ng/mL) <400 400 iv.   atau tumor dengan invasi ke pembuluh darah di luar hati (extra hepatic vessel) seperti pembuluh darah vena limpa (vena lienalis) atau vena cava inferior atau adanya metastase keluar dari hati (extra hepatic metastase). 1.

Perubahan genetic (perubahan kromosom.aktivasi telomerase) Transformasi malignan Menyebar melalui 4 jalur: 1. perluasan parasinusoidal 3. dan gangguan fungsi hati Penurunan berat badan dan letih : metabolit dari tumor ganas meningkat dan berkurangnya masukan makanan. Hepatoma fase subklinis Tidak terdapat gejala-gejala awal dari pasien yang didiagnosa mengidap kanker hati.invasi pertumbuhan angiogenik.6. pemeriksaan fisik menemukan hepatomegaly dibawah arcus costae tanpa nodul. biasanya gejala dari kanker hati dapat timbul setelah mencapai stadium lanjut dan telah memerlukan penanganan khusus. metastasis jauh 1. Rasa penuh di abdomen (kembung) : timbul karena massa tumor sangat besar.inaktivasi gen supresor tumor. Teraba pembengkakan local di hepar : hepatoma lobus kanan dapat menyebabkan batas atas hati bergeser ke atas. yaitu: Nyeri atau rasa tak nyaman di kuadran atas abdomen : merupakan gejala yang paling umum terjadi. biasanya digunakan sebagai penanda tumor telah membesar dan luas hati yang terkena. asites. 8 . pertumbuhan srentrifungal 2. penyebaran system vena portal 4. Hepatoma fase klinis Gejala-gejala umum dari kanker hati.aktifitas onkogenik selular. B. Manifestasi hepatoseluler Klinis Karsinoma A.

Hepatomegali Splenomegali Asites : tanda stadium lanjut Atrofi otot Perdarahan varises esophagus Peritonitis Hiperkolesterolemia Nyeri bahu belakang Udem kedua tungkai bawah Kulit gatal 9 . Anoreksia : timbul karena fungsi hati terganggu. disertai infeksi dan metabolit tumor. umumnya tidak disertai menggigil. biasanya sudah stadium lanjut.Demam : timbul karena nekrosis tumor. bisa juga karena sumbatan kanker di saluran empedu. tumor mendesak saluran gastrointestinal Konstipasi atau diare Sesak nafas Malaise Ikterus : karena gangguan fungsi hati.

10 .

Diagnosa KHS didapatkan bila ada dua atau lebih dari lima kriteria atau hanya satu yaitu kriteria empat atau lima. 4. 3. Waktu (nyeri dari kapan. maka berkembang pula cara-cara diagnosis dan terapi yang lebih menjanjikan dewasa ini. Computed Tomography Scann (CT Scann). 3. Hati membesar berbenjol-benjol dengan/tanpa disertai bising arteri. Angiography. Keluhan lain : demam.1. berapa kali). 5. mudah kenyang. terus – menerus. Magnetic Resonance Imaging (MRI). 5. yaitu: 1. Kriteria diagnosa Kanker Hati Selular (KHS) menurut PPHI (Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia). ataupun Positron Emission Tomography (PET) yang menunjukkan adanya KHS. hepatitis C. Hasil biopsi atau aspirasi biopsi jarum halus menunjukkan KHS. Minum minuman beralkohol 11 . anoreksia. Nuclear Medicine. 2.7. AFP (Alphafetoprotein) yang meningkat lebih dari 500 mg per ml.4. kadang terasa hebat apabila bergerak. 4. sudah berapa lama. badan semakin lemah. Ultrasonography (USG).8 dan pendekatan laboratorium alphafetoprotein yang akurasinya 60 – 70%(7). 2. Kanker hati selular yang kecil pun sudah bisa dideteksi lebih awal terutamanya dengan pendekatan radiologi yang akurasinya 70 – 95%1. Anamnesis 1. Riwayat penyakit : pernah terdiagnosis Hepatitis B. Peritoneoscopy dan biopsi menunjukkan adanya KHS. Rasa nyeri : tumpul. Diagnosis dan Diagnosis Banding Dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih dan maju pesat.

Hyperechoic : karena fatty metamorphosis -Tumor thrombus pada vena porta (±) Gambaran USG 12 . metotreksat. 7. sedangkan nodul yang besar biasanya heterogen. nitrofurantoin  mengakibatkan gejala mirip hepatitis kronik aktif. Pemeriksaan Penunjang 1. .6. Oleh karena sensitivitas tes ini maka setiap massa yang terdeteksi oleh ultrasonografi harus dianggap sebagai keganasan. steroid anabolik. kacang kedelai)  kemungkinan yang sudah kadaluarsa Konsumsi obat tertentu : Asetaminofen (dosis besar dan lama). immobile. isoniazid. Kesimpulannya. a. ikterik. dan terbinafin  mengakibatkan sirosis hati. kontrasepsi oral. pada USG didapat : . Ultrasonografi memberikan sensitivitas sebesar 45% dan spesifisitas 98%. asimetris. keras. Ultrasonografi Dengan ultrasonografi. sonolusensi perifer. dan peningkatan akustik posterior. Karsinoma hati sekunder memberikan gambaran berupa nodul yang diameternya kecil mempunyai densitas tinggi dan dikelilingi oleh gema berdensitas rendah. dantrolen. shifting dullness dan undulasi (+)  asites. Palpasi : Ditemukan hepatomegali. bayangan lateral yang disebabkan pseudokapsul fibrotik. Asam nikotinat. teraba massa bernodul. Danazol. normalnya suara timpani menjadi redup.Echogenitas campuran (mixed echogenicity/pola mosaik) berhubungan karena adanya nekrosis dan hipervaskuler tumor. b. Makan kacang – kacangan (kacang tanah. gambaran khas adalah pola mosaik. Pemeriksaan fisik 1. 2. Inspeksi : Perut membesar. 3. Penggunaan ultrasonografi sebagai sarana screening untuk mendeteksi tumor hati pada penderita dengan sirosis yang lanjut memberikan hasil bahwa 34 dari 80 penderita yang diperiksa menunjukkan tanda-tanda tumor ganas dan 28 di antaranya adalah KHS. c. Perkusi : Saat perkusi abdomen.Hypoechoic : tumornya solid . Gambaran ini berbentuk seperti mata sapi. testosteron  mengakibatkan tumor hati. metildopa. KHS yang masih berupa nodul kecil cenderung bersifat homogen dan hipoekoik.

ketepatan diagnostik tumor akan menjadi lebih tinggi. zat kontras ini dapat masuk ke dalam nodul tumor hati. CT-scan telah banyak digunakan untuk melakukan karakterisasi lebih lanjut dari tumor hati yang dideteksi melalui ultrasonografi. atau suatu infltrasi neoplasma yang sifatnya difus. Dengan media kontras lipoidol yang disuntikkan ke dalam arteria hepatika. Walaupun ultrasonografi lebih sensitif dari angiografi dalam mendeteksi karsinoma hati. massa yang dominan dengan lesi satelit di sekelilingnya. tetapi angiografi dapat lebih memberikan kepastian diagnostik oleh karena adanya hipervaskularisasi tumor yang tampak pada angiografi. 13 . CT-scan dan angiografi dapat mendeteksi tumor hati yang berdiameter 2 cm. Dengan melakukan arteriografi yang dilanjutkan dengan CT-scan.2. massa multifokal. CT-scan dan angiografi KHS dapat bermanifestasi sebagai massa yang soliter.

PET dapat menetapkan tingkat atau stadium kanker hati sehingga tindakan lanjut penanganan kanker ini serta pengobatannya menjadi lebih mudah. 14 . Caranya. diperlukan kriteria lain selain arterial phase enhancement untuk membedakan nodul displastik dari KHS yang kecil. Hasil studi menunjukkan sensitivitas untuk diagnosis KHS dilaporkan hanya sebesar 53% saja.3. Hal ini disebabkan karena lesi-lesi yang tidak terdeteksi tersebut kebanyakan mempunyai diameter kecil yaitu rata-rata 1. Positron Emission Tomography (PET) Salah satu teknologi terkini peralatan kedokteran radiologi adalah PET yang merupakan alat pendiagnosis kanker menggunakan glukosa radioaktif yang dikenal sebagai fluorine 18 atau Fluorodeoxyglucose (FGD) yang mampu mendiagnosa kanker dengan cepat dan dalam stadium dini. Magnetic Resonance Imaging (MRI) Magnetic resonance (MR) imaging umum digunakan secara rutin untuk screening penderita-penderita dengan sirosis. Cairan glukosa ini akan bermetabolisme di dalam tubuh dan memunculkan respons terhadap sel – sel yang terkena kanker. Di samping itu juga dapat melihat metastasis. 4. nodul displastik derajat tinggi meskipun dapat dideteksi namun terdiagnosis sebagai KHS karena adanya arterial phase enhancement. pasien disuntik dengan glukosa radioaktif untuk mendiagnosis sel – sel kanker di dalam tubuh. Sebaliknya.3 cm. Dengan demikian. Pada studi yang dilakukan oleh Krinsky dkk menguji sensitivitas dan spesifisitas dari sarana tes ini untuk KHS dan nodul displastik pada sirosis hati.

artinya hanya pada 60% – 70% saja dari penderita kanker hati ini menunjukkan peninggian nilai AFP.Gambaran PET 5. Sensitivitas Alphafetoprotein (AFP) untuk mendiagnosa KHS 60% – 70%. dan terratoma(8). dan dapat ditolerir oleh pasien dan tumor yang akan dibiopsi dapat terlihat 15 . sel yolk sac dan sedikit sekali oleh saluran gastrointestinal fetal. laktat dehidrogenase. belum bisa dipastikan hanya mempunyai kanker hati ini sebab AFP juga dapat meninggi pada keadaan bukan kanker hati seperti pada sirrhosis hati dan hepatitis kronik. Uji faal hati Karsinoma hati dapat menyebabkan terjadinya obstruksi saluran empedu atau merusak sel-sel hati oleh karena penekanan massa tumor atau karena invasi sel tumor hingga terjadi gangguan hati yang tampak pada peningkatan SGOT. alkali fosfatase. aman. kanker testis. SGPT (N : Laki-laki : 0 – 50 U/L. Spesifitas AFP hanya berkisar 60% artinya bila ada pasien yang diperiksa darahnya dijumpai AFP yang tinggi. Cara melakukan biopsi dengan dituntun oleh USG ataupun CT scann mudah. Nilai normal juga dapat ditemukan juga pada kehamilan. Kadar AFP meningkat pada 60% -70% dari pasien HCC. Aspirasi Jarum halus Biopsi aspirasi dengan jarum halus (fine needle aspiration biopsy) terutama ditujukan untuk menilai apakah suatu lesi yang ditemukan pada pemeriksaan radiologi imaging dan laboratorium AFP itu benar pasti suatu hepatoma. Alfafetoprotein Alfa-fetoprotein (AFP) adalah protein serum normal yang disintesis oleh sel hati fetal. 6. Gangguan faal hati ini tidak spesifik sebagai petanda tumor. 7. dan kadar lebih dari 400 ng/ml adalah diagnostik atau sangat sugestif untuk HCC. Tindakan biopsi aspirasi yang dilakukan oleh ahli patologi anatomi ini hendaknya dipandu oleh seorang ahli radiologi dengan menggunakan peralatan ultrasonografi atau CT scann fluoroscopy sehingga hasil yang diperoleh akurat. Rentang normal AFP serum adalah 0-20 ng/ml. Perempuan : 0 – 35 U/L). sedangkan pada 30% – 40% penderita nilai AFP nya normal.

Obat tersebut akan mengecilkan tumor.  Embolisasi Dilakukan dengan cara memasukkan kateter kedalam arteri hati lalu menyuntikkan potongan-potongan kecil berupa gel foam. 1.  Terpai paliatif Imunoterapi dengan interferon. terapi antiesterogen.  Pembedahan Pembedahan pada stadium dini merupakan pengobatan yang paling baik dan paling bisa diharapkan memberikan penyembuhan. oktreotid. kanker hati difus atau multifaktoral.  Ablasi tumor perkutan Injeksi tumor perkutan (PEI) merupakan cara terpilih untuk tumor kecil karena efikasinya tinggi. 16 . nekrosis. sirosis stadium lanjut dan penyakit penyerta lainnya. Obat yang banyak digunakan adalah 5 fluorourasil dan adriamisin. besarnya ukuran kanker.  Reseksi hepatik Dilakukan pada pasien kelompok non sirosis yang biasanya mempunyai fungsi hati normal.  Radiasi Terapi ini tidak banyak peranannya karena umumnya keganasan yang mengenai hati bersifat relatif resisten terhadap pengobatan radiasi dan sel hati yang normal peka terhadap radiasi. oklusi vaskular dan fibrosis. sehingga jelaslah hasil yang diperoleh mempunyai nilai diagnostik dan akurasi yang tinggi karena benar jaringan tumor ini yang diambil oleh jarum biopsi itu dan bukanlah jaringan sehat di sekitar tumor. Penatalaksanaan Karsinoma hepatoseluler Pemilihan pengobatan tergantung dari hasil pemeriksaan radiologi. Berikut pengobatan yang dilakukan:  Kemoterapi Prinsipnya yaitu untuk memperpanjang umur. antiandrogen. Dasar kerjanya adalah menimbulkan dehidrasi. lesi kanker serta ada atau tidaknya metastasis. spesifik lokasi kanker.jelas pada layar televisi berikut dengan jarum biopsi yang berjalan persis menuju tumor. radiasi internal dan kemoterapi arterial atau sistemik.8. Hanya dapat dilakukan bila tumor hanya pada satu lobus saja serta tidak ada tanda sirosis hati karena menimbulkan resiko tinggi. Caranya ialah dengan memberikan obat anti kanker ke dalam arteri heptika sehingga obat secara langsung masuk ke sel-sel kanker pada hati. efek samping rendah serta relatif murah. Terapi ini merupakan salah satu cara lain jika pasien tidak bisa lagi di bedah. Jika gagal akan memperburuk proses sirosis hati dan terjadi metastasis. Dilakukan pada pasien yang sudah sirosis hati dan ditemukan kerusakan hati yang sudah berkelanjutan atau hampir seluruh hati terkena kanker atau sel kanker yang masuk ke vena porta. kontra indikasinya yaitu metastasis ekstrahepatik.  Transplantasi Tindakan pemasangan organ hati dari orang lain ke tubuh seseorang.

Prognosis karsinoma hepatoseluler Sebagian besar kasus HCC berprognosis buruk karena tumor yang besar/ ganda dan penyakit hati stadium lanjut serta ketiadaan atau ketidakmampuan penerapan terapi yang berpotensi kuratif (reseksi. perdarahan saluran cerna atas. 1. kondisi umum kesehatan. fungsi hati. survival rata-rata alamiah adalah 4. transplantasi. Selain itu. derajat sirosis yang menyertai. dll. Kausa kematian umumnya adalah kegagalan sistemik. Jika tidak diterapi. Oleh karena itu. dan PEI). ada langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil. prinsip utama pencegahan kanker hati adalah dengan melakukan skrining kanker hati sedini mungkin. Pencegahan karsinoma hepatoseluler Biasanya.10.11. koma hepatic dan ruptur hati.  Melakukan vaksinasi hepatitis. ada tidaknya trombus kanker dan kapsul. Faktor yang mempengaruhi prognosis terutama ialah ukuran dan jumlah tumor. antara lain:  Menghindari rokok dan minuman beralkohol. pada stadium awal kanker ini sulit di diagnosa. Stadium tumor.9. dan intervensi spesifik mempengaruhi prognosis pasien HCC. Komplikasi karsinoma hepatoseluler    Hipertensi Hiperbilirubinemia Ensefalopati hepatic akibat penumpukan ammonia 1. metode terapi. 17 .1.3 bulan.

Syarat-syarat Pelaksanaan Transplantasi.” Tujuan Transplantasi.2. Harus dilakukan atas keinginannya sendiri tanpa tekanan atau paksaan dari siapapun. sedangkan membiarkan diri terjerumus dalam kematian (tanpa ikhtiyar) adalah perbuatan terlarang”. Tidak diperbolehkan mencangkok organ kelamin. karena membiarkan penyakit bersarang dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian. sehingga resipien (penerima organ tubuh) dapat bertahan secara sehat. sesungguhnya Allah maha penyayang kepadamu”.ca) menuturkan beberapa syarat-syarat yang membolehkan transplantasi organ. Maksudnya apabila sakit maka manusia harus berusaha secara optimal untuk mengobatinya sesuai kemampuan. Zamzami Saleh (dalam artikel Syari’ah Project. Sheikh Ahmad Kutty (dalam artikel Islam. 18 . 2009) juga menjelaskan bahwa tujuan dari transplantasi adalah “sebagai pengobatan dari penyakit karena islam sendiri memerintahkan manusia agar setiap penyakit diobati. Bisa dilakukan melalui surat wasiat atau menandatangani kartu donor atau yang lainnya. Organ yang disumbangkan tidak boleh organ vital yang mana kesehatan dan kelangsungan hidup tergantung dari itu. yaitu: a) Syarat bagi orang yang hendak menyumbangkan organ dan masih hidup: Orang yang akan menyumbangkan organ adalah orang yang memiliki kepemilikan penuh atas miliknya sehingga dia mampu untuk membuat keputusan sendiri. b) Syarat bagi mereka yang menyumbangkan organ tubuh jika sudah meninggal: Dilakukan setelah memastikan bahwa si penyumbang ingin menyumbangkan organnya setelah dia meninggal. Zamzami Saleh (dalam artikel Syari’ah Project. karena setiap penyakit sudah ditentukan obatnya. maka dalam hal ini transplantasi merupakan salah satu bentuk pengobatan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an Surat An-Nisa’ ayat 29 “Dan jangan lah kamu membunuh dirimu. Dengan demikian. Menyumbangkan organ tubuh diperbolehkan dalam islam selama hal itu dilakukan berdasarkan batasan-batasan yang telah ditentukan oleh syariat. Memahami dan menjelaskan hukum transplantasi organ menurut islam Pengertian Tansplantasi. 2009) menjelaskan bahwa “Transplantasi adalah pemindahan organ tubuh dari orang sehat atau dari mayat yang organ tubuhnya mempunyai daya hidup dan sehat kepada tubuh orang lain yang memiliki organ tubuh yang tidak berfungsi lagi. Orang yang akan menyumbangkan organ harus seseorang yang dewasa atau usianya mencapai dua puluh tahun.

Hukum tentang transplantasi sangat bermacam-macam. C. Padahal manusia tidak disuruh berbuat demikian. sedangkan pada orang yang berbeda akan punya antigen (protein khusus yang ditemukan dalam sel darah putih) yang berbeda. Organ atau jaringan yang akan disumbangkan haruslah organ atau jaringan yang ditentukan dapat menyelamatkan atau mempertahankan kualitas hidup manusia lainnya. Penolakan hamper tidak ditemukanpada allograft dari orang yang kembar.S. Sedangkan orang yang mendonorkan salah satu organ tubuhnya secara tidak langsung telah melakukan perbuatan yang membawa kepada kehancuran dan kebinasaan. 19 . Organ tubuh yang akan disumbangkan bisa juga dari korban kecelakaan lalu lintas yang identitasnya tidak diketahui tapi hal itu harus dilakukan dengan seizin hakim. sesungguhnya Allah maha penyayang kepadamu“ ( Q. sebagai berikut: Transplantasi organ ketika masih hidup. Kemudian Sir Peter Brian Medawarpada tahun 1944 membuktikan bahwa transplantasi yang dilakukan berulang-ulang dari donor yang sama mengakibatkan penolakan yang makin meninggi dari resipien. manusia hanya disuruh untuk menjaganya (organ tubuhnya) sesuai ayat di atas. Manusia tidak memiliki hak atas organ tubuhnya seluruhnya. Organ yang akan disumbangkan harus dipindahkan setelah dipastikan secara prosedur medis bahwa si penyumbang organ telah meninggal dunia. Dalil1: Firman Allah SWT “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Oleh karena itu. ada yang mendukung dan ada pula yang menolaknya.S. maka orang yang menerima suatu alat akan menganggapnya sebagai benda asing dan memberikan reaksi imuunologik (reaksi penolakan) yang sekiranyatidak diberikan obat-obatan penekan reaksi tersebut bisa merusak alat yang dipindahkan tersebut. Akibat dari Transplantasi. dalam buku Islam untuk Disiplin Ilmu Kedokteran dan Kesehatan 1) ahli bedah pada Nayo Unic yang terkenal mengemukakan bukti maha penting bahwa adanya penolakan alat pada resipien.karena pemilik organ tubuh manusia Adalah Allah swt.AlBaqarah :2:195). Hukum Transplantasi.Jika terdapat kasus si penyumbang organ belum memberikan persetujuan terlebih dahulu tentang menyumbangkan organnya ketika dia meninggal maka persetujuan bisa dilimpahkan kepada pihak keluarga penyumbang terdekat yang dalam posisi dapat membuat keputusan atas penyumbang.S.Meskipun pendonoran tersebut untuk keperluan medis (pengobatan) bahkan sekalipun telah sampai dalam kondisi darurat. dalam pembahasan ini akan menggabungkan hukum-hukum dari beberapa sumber yaitu dari Abuddin (Ed) (2006) dan Zamzami Saleh (2009). Williamson (Dolong. Maksudnya adalah bahwa Allah SWT melarang manusia untuk membunuh dirinya atau melakukan perbuatan yang membawa kepada kehancuran dan kebinasaan. dkk. Pendapat 1: Hukumnya tidak Boleh (Haram).An-Nisa’:4:29) dan Firman Allah SWT “Dan Janganlah kamu jatuhkan dirimu dalam kebinasaan dan berbuat baiklah sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik” (Q. Oleh karena itu.

Alasan Dasar Pandangan-Pandangan Transplantasi Organ. Dalil 2: Seseorang yang mendonorkan organ tubuhnya kepada orang lain untuk menyelamatkan hidupnya merupakan perbuatan saling tolong-menolong atas kebaikan sesuai firman Allah swt “ Dan saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu saling tolong monolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan” (Qs. hukumnyaharam. meskipun mengurangi atau menghilangkan penderitaan pasien. maka dipertahankan yang mendatangkan madharat yang paling besar dengan melakukan perbuatan yang paling ringan madharatnya dari dua madharat”. manusia tidak boleh mencabut nyawanya sendiri atau mempercepat kematianorang lain. karena hidup dan mati itu berada ditangan Allah SWT. meskipun dalam keadaan koma. bahkan 20 . meskipun bukan pemilik tubuhnya secara pribadi namun memiliki kehendak atas apa saja yang bersangkutan dengan tubuhnya. sedangkan perbuatan yang membawa kepada kemudlaratan merupakan perbuatan yang terlarang sesuai Hadist nabi Muhammad saw “Tidak boleh melakukan pekerjaan yang membawa kemudlaratan dan tidak boleh ada kemudlaratan” Manusia wajib berusaha untuk menyembuhkan penyakitnya dem mempertahankan hidupnya. selama tidak membawa kepada kehancuran. Oleh karena itu. karena karakter fikih dalam Islam. Dalil: Ada beberapa perintah Al-Qur’an dan Hadist yang melarang. pendapat yang muncul tak hanya satu tapi beragam dan satu dengan lainnya. Setiap insan. Dalil: Sesungguhnya perbuatan mengambil salah satu organ tubuh manusia dapat membawa kepada kemudlaratan. pada dasarnya bukanlah milik manusia tapi merupakan amanah dari Allah yang harus dijaga.Al-ma’idah 2). yaitu: “Mematahkan tulang mayat seseorang sama berdosanya dan melanggarnya dengan mematahkan tulang orang tersebut ketika ia masih hidup” Tubuh manusia adalah amanah. Transplantasi organ ketika dalam keadaan telah meninggal. sesungguhnya memindahkan organ tubuh ketika darurat merupakan pekerjaan yang mubah (boleh) dengan dalil Transplantasi organ ketika dalam keadaan koma. An-Nisa’ 29 dan al-Baqarah 95). Selama dalam pekerjaan transplantasi itu tidak ada unsur merusak tubuh mayat sebagai penghinaan kepadanya. karena itu manusia tidak memiliki hak untuk mendonorkannya kepada orang lain. Pendapat 1: Hukumnya Haram karena kesucian tubuh manusia setiap bentuk agresi atas tubuh manusia merupakan hal yang terlarang. Pendapat: Melakukan transplantasi organ tubuh donor dalam keadaan masih hidup. ditambah lagi bahwa Allah telah memberikan kepada manusia hak untuk mengambil manfa’at dari tubuhnya. Sebagaimana halnya dalam kasus-kasus lain. Diantara hadist yang terkenal. Dalil: Dalam kaidah fiqiyah menjelaskan bahwa “Apabila bertemu dua hal yang mendatangkan mafsadah (kebinasaan).Pendapat 2: Hukumnya ja’iz (boleh) namun memiliki syarat-syarat tertentu. kebinasaan dan kematian dirinya (QS. Oleh sebab itu. Pendapat 2: Hukumnya Boleh.

Dengan alasan ini pun. meski demikian ada beberapa pertimbangan lain yang bisa mengalahkan larangan itu. antara lain: a) Kesejahteraan publik (maslahah). c) Tubuh tak boleh diperlakukan sebagai benda material semata. 21 . dan alasan-alasan yang mendukung dan menentang transplantasi organ. Dalam pembahasan ini akan disampaikan beberapa pandangan yang cukup terkenal. Pandangan yang mendukung pencangkokan organ. Setiap bentuk agresi terhadap tubuh manusia dilarang. karena ada beberapa perintah yang jelas mengenai ini dalam Al-Qur’an. hukumnya haram. Ada beberapa dasar. yaitu: a) Kesucian hidup/tubuh manusia. yaitu: Pandangan yang menentang pencangkokan organ. Transplantasi organ tubuh yang dilakukan saat pendonor sakit (koma). Pencangkokan dilakukan dengan mengerat organ tubuh seseorang untuk dicangkokkan pada tubuh orang lain. Dalam kaitan ini ada satu hadis (ucapan) Nabi Muhammad yang terkenal yang sering dikutip untuk menunjukkan dilarangnya manipulasi atas tubuh manusia. disini tubuh dianggap sebagai benda material semata yang bagian-bagiannya bisa dipindah-pindah tanpa mengurangi ketubuh seseorang. (2) derajat keberhasilannya cukup tinggi ada persetujuan dari pemilik organ asli (atau ahli warisnya). Hidup dan tubuh manusia pada dasarnya adalah bukan miliknya sendiri. Kesimpulan Menurut Islam hukum transplantasi organ yaitu: 1. 2. pendonoran organ secara sukarela merupakan bentuk altruisme yang amat tinggi (tentu ini dengan anggapan bahwa si donor tak menerima uang untuk tindakannya). menurut aziz dalam beranda. Ada kewajiban yang amat kuat bagi muslim untuk membantu manusia lain khususnya sesama muslim. yaitu (1) Pencangkokan organ boleh dilakukan jika tak ada alternatif lain untuk menyelamatkan nyawa. meski menggunakan sumber-sumber yang sama. meskipun sudah menjadi mayat. Ada tiga alasan yang mendasar. ada beberapa kualifikasi yang mesti diperhatikan. Pada dasarnya manipulasi organ memang tak diperkenankan. dan karenanya dianjurkan. karena itu manusia tidak boleh untuk merusak pinjaman yang diberikan oleh Allah SWT.ada yang saling bertolak belakang. “Mematahkan tulang mayat seseorang adalah sama berdosa dan melanggarnya dengan mematahkan tulang orang itu ketika ia masih hidup” b) Tubuh manusia adalah amanah. Transplantasi organ tubuh yang dilakukan saat pendonor hidup sehat maka hukumnya haram. yaitu potensinya untuk menyelamatkan hidup manusia yang mendapat bobot amat tinggi dalam hukum Islam. tapi pinjaman dari Tuhan dengan syarat untuk dijaga. (3) penerima organ sudah tahu persis segala implikasi pencangkokan ( informed consent ) b) Altruisme.

Sylvia Anderson. Sjamsuhidajat.com/photo/hepatocellular-carcinoma-hcc 22 . http://www. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. http://www. http://www.org/2010/Abstracts/forSystemUse/papers/0139.eramuslim. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. 2007. ada yang berpendapat boleh dan ada yang berpendapat haram.radrounds.com/syariah/ 6. 2006. Jakarta : EGC 4. Bagian Farmakologi FKUI.com/article/369226-overview 8.Haram jika untuk diperjual belikan dan tidak jika dalam keadaan darurat. Price. Jakarta:FKUI 5. 2007. 2004. http://emedicine.medscape. Jakarta : EGC 3.3.wmicmeeting. Buku Ajar Patologi Edisi 7 Volume 2. Robbins. R. Transplantasi organ tubuh yang dilakukan saat pendonor telah meninggal.html 7. Jakarta : EGC 2. Patofisiologi Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit Edisi 6. Daftar Pustaka 1.