Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Ketuban pecah dini merupakan keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum

persalinan yaitu pada saat usia kehamilan >37 minggu. Bila ketuban pecah dini
terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu disebut ketuban pecah dini pada
kehamilan prematur (Soewarto, 2010).
Ketuban pecah dini tidak diketahui penyebabnya. Faktor resiko untuk
terjadinya ketuban pecah dini antara lain adalah infeksi, usia ibu, paritas, hormon,
riwayat ketuban pecah dini sebelumnya, ibu merokok, peregangan berlebihan
pada selaput ketuban, serta faktor-faktor lain seperti inkompetensi serviks dan
trauma (Cunningham, 2006).
Insiden ketuban pecah dini ini dilaporkan cukup banyak yaitu sekitar 6-10%
kehamilan dimana sekitar 20% kasus terjadi sebelum memasuki masa gestasi 37
minggu (Wiknjosastro, 2007). Sedangkan, insidensi KPD di RSMH Palembang
berdasarkan data yang didapat dari penelitian sebelumnya pada tahun 2009 adalah
sebesar 9,6% dari total semua kelahiran (Atthaariq, 2011).
Komplikasi yang timbul akibat ketuban pecah dini dapat mempengaruhi
kondisi ibu maupun bayi baru lahir. Komplikasi pada bayi baru lahir antara lain
hipoksia, fetal distress, dan asfiksia (Soewarto, 2010).
Asfiksia pada bayi baru lahir dapat diketahui dengan menggunakan skor
APGAR yang dinilai 1 menit dan 5 menit setelah bayi lahir lengkap (IKA UI,
2007). Asfiksia dapat terjadi karena pengaruh penekanan tali pusat akibat
oligohidramnion yang terjadi pada ketuban pecah dini. Hal ini tentunya akan
mempengaruhi nilai APGAR bayi baru lahir (Soewarto, 2010).
Berdasarkan uraian diatas, penulis ingin mengetahui bagaimana hubungan
ketuban pecah dini dengan nilai APGAR bayi lahir aterm, serta kaitannya dengan
usia ibu, jumlah gravida, jumlah paritas, riwayat abortus, berat bayi lahir dan
lamanya ketuban pecah dini dari ibu dengan ketuban pecah dini di RSUP
Dr.Mohammad Hoesin Palembang periode 1 Januari-31 Desember 2013.
1.2

Rumusan Masalah

1

3) Mengetahui faktor resiko lain yang mempengaruhi nilai APGAR bayi lahir aterm dari ibu dengan ketuban pecah dini di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr.3. 2) Mengidentifikasi nilai APGAR bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan ketuban pecah dini di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr. Tujuan Khusus 1) Mengetahui angka kejadian ketuban pecah dini di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang periode 1 Januari-31 Desember 2013? 1.4 Hipotesis H0 : Tidak ada hubungan ketuban pecah dini dan faktor-faktor resiko ibu dengan ketuban pecah dini terhadap nilai APGAR bayi lahir aterm <7 (asfiksia) di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr. 1.Mohammad Hoesin Palembang periode 1 1.3 1.Mohammad Hoesin Palembang periode 1 Januari-31 Desember 2013.Mohammad Hoesin Palembang periode 1 Januari-31 Desember 2013.1 Tujuan Penelitian Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan ketuban pecah dini dan faktor-faktor resiko ibu dengan ketuban pecah dini terhadap nilai APGAR bayi lahir aterm di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr.2 Apakah ada hubungan ketuban pecah dini dan faktor-faktor resiko ibu dengan ketuban pecah dini terhadap nilai APGAR bayi lahir aterm di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr. : Ada hubungan ketuban pecah dini dan faktor-faktor resiko ibu dengan ketuban pecah dini terhadap nilai APGAR bayi lahir aterm <7 (asfiksia) di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP .3.2 Januari-31 Desember 2013.Mohammad Hoesin Palembang periode 1 Januari-31 Desember 2013.Mohammad Hoesin Palembang periode 1 Januari-31 Desember HA 2013.

.5 Manfaat Penelitian 1) Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan serta pemahaman peneliti dan pembaca mengenai kejadian ketuban pecah dini.Mohammad Hoesin Palembang periode 1 Januari-31 Desember 2013. 2) Sebagai proses pembelajaran dan menambah pengalaman dalam melakukan suatu penelitian. 1.3 Dr.