Anda di halaman 1dari 32

Bab 1.

Pendahuluan

Latar Belakang

Tumor nasofaring adalah tumor ganas yang berasal dari sel epitel nasofaring.
Penyakit ini adalah tumor ganas yang relatif jarang ditemukan pada beberapa
tempat seperti Amerika Utara dan Eropa dengan insiden penyakit 1 per 100.000
penduduk. Tumor ganas ini lebih sering terdapat di Asia Tenggara termasuk Cina,
Hongkong, Singapura, Malaysia dan Taiwan dengan insiden antara 10 – 53 kasus
per 100.000 penduduk. Di Timur Laut India, insiden pada daerah endemik antara
25 – 50 kasus per 100.000 penduduk.Di Eskimo, Alaska, Greenland, dan Tunisia
insidennya juga meningkat yaitu 15-20 kasus per 100.000 penduduk per tahun.
Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas kepala dan leher yang
terbanyak ditemukan di Indonesia yaitu sekitar 60% dan menduduki urutan ke-5
dari seluruh keganasan setelah tumor ganas mulut rahim, payudara, getah
bening, dan kulit (Roezin, 2001).

Di Indonesia, tumor ganas ini termasuk dalam urutan pertama tumor ganas pada
kepala dan leher dengan angka mortalitas yang cukup tinggi. Jenis penyakit ini
sangat tinggi populasinya di Negara-negara Asia tertentu, sehingga
menimbulkan dugaan bahwa faktor genetic ikut berperan dalam pathogenesis
penyakit. Penyakit karsinoma nasofaring (KNF) juga memiliki gejala yang
berbeda-beda dari setiap pasien, sehingga para medik sering mengalami
kesulitan saat harus melakukan diagnosa tanpa bantuan specialis atau pakar
dalam hal ini dokter specialis penyakit Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT).

Rumusan Masalah
Apa definisi, epidemiologi, dan etiologi dari tumor nasofaring?
Bagaimana manifestasi klinik, patofisiologi, dan komplikasi & prognosis dari
tumor nasofaring?
Bagaimana penatalaksanaan dan pencegahan dari tumor nasofaring?
Bagaimana rencana asuhan keperawatan penyakit tumor nasofaring?

Tujuan
untuk mengetahui definisi dan epidemiologi tumor nasofaring
untuk mengetahui manifestasi klinik, etiologi dan patofisiologi tumor
nasofaring
untuk mengetahui pemeriksaan diagnosis dan penatalaksanaan tumor
nasofaring
untuk mengetahui rencana asuhan keperawatan penyakit tumor nasofaring

Manfaat

Dengan adanya makalah ini diharapakan dapat membantu mahasiswa untuk
mengetahui dan lebih memahami penyakit tumor nasofaring serta menentukan
rencana asuhan keperawatan yang tepat bagi penderita penyakit tumor
nasofaring.

Bab 2. Tinjauan Pustaka

2.1 Definisi

Nasofaring merupakan suatu ruangan yang berbentuk mirip kubus, terletak
dibelakang rongga hidung. Diatas tepi bebas palatum molle yang berhubungan
dengan rongga hidung dan ruang telinga melalui koana dan tuba eustachius.
Atap nasofaring dibentuk oleh dasar tengkorak, tempat keluar dan masuknya
saraf otak dan pembuluh darah.

Dasar nasofaring dibentuk oleh permukaan atas palatum molle. Dinding depan
dibentuk oleh koana dan septum nasi dibagian belakang. Bagian belakang
berbatasan dengan ruang retrofaring, fasia prevertebralis dan otot dinding

faring. Pada dinding lateral terdapat orifisium yang berbentuk segitiga, sebagai
muara tuba eustachius dengan batas superoposterior berupa tonjolan tulang
rawan yang disebut torus tubarius. Sedangkan kearah superior terdapat fossa
rossenmuller atau resessus lateral.

Nasofaring diperdarahi oleh cabang arteri karotis eksterna, yaitu faringeal
asenden dan desenden serta cabang faringeal arteri sfenopalatina. Darah vena
dari pembuluh darah balik faring pada permukaan luar dinding muskuler menuju
pleksus pterigoid dan vena jugularis interna. Daerah nasofaring dipersarafi oleh
saraf sensoris yang terdiri dari nervus glossofaringeus (N.IX) dan cabang maksila
dari saraf trigeminus (N.V2) yang menuju ke anterior nasofaring.

Kanker nasofaring adalah kanker yang berasal dari sel epitel nasofaring di
rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Kanker ini
merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak di temukan di
Indonesia. Hampir 60% tumor ganas dan leher merupakan kanker nasofaring,
kemudian diikuti tumor ganas hidung dan sinus paranasal (18%), laring (16%),
dan tumor ganas rongga mulut, tonsil, hipofaring dalam prosentase rendah.

Karsinoma Nasofaring adalah tumor ganas yang berasal dari epitel mukosa
nasofaring atau kelenjar yang terdapat di nasofaring. Carsinoma nasofaring
merupakan karsinoma yang paling banyak di THT. Karsinoma nasofaring adalah
tumor ganas yang berasal dari sel epitel yang melapisi nasofaring. Tumor ini
tumbuh dari epitel yang meliputi jaringan limfoit, dengan predileksi di Fosa
Rossenmuller pada nasofaring yang merupakan daerah transisional dimana
epitel kuboid berubah menjadi skuamosa dan atap nasofaring (Asroel, 2002).
Tumor primer dapat mengecil, akan tetapi telah menimbulkan metastasis pada
kelenjar limfe.

Pada banyak kasus, nasofaring carsinoma banyak terdapat pada ras mongoloid
yaitu penduduk Cina bagian selatan, Hong Kong, Thailand, Malaysia dan
Indonesia juga di daerah India. Ras kulit putih jarang ditemui terkena kanker
jenis ini. Selain itu, kanker nasofaring juga merupakan jenis kanker yang
diturunkan secara genetik.

Penggolongan Ca Nasofaring :

Ukuran tumor (T) T Tumor T0 Tidak tampak tumor T1 Tumor terbatas pada satu lokasi saja T2 Tumor terdapat pada dua lokalisasi atau lebih tetapi masih terbatas pada rongga nasofaring T3 Tumor telah keluar dari rongga nasofaring T4 Tumor telah keluar dari rongga nasofaring yang telah merusak tulang tengkorak atau saraf saraf otak Regional Limfe Nodes N0 Tidak ada pembesaran N1 Terdapat pembesaran tetapi homolatral dan masih bisa di gerakan N2 Terdapat pembesaran kontralateral/biltral dan masih dapat di gerakan N3 Terdapat pembesaran baik. homolateral. kontralateral. bilateral yang sudah melekat pada jaringan sekitar Metatase Jauh(M) M0 Tidak ada metatese jauh M1 Metatase jauh Stadium Tumor Nasofaring Stadium I : T1 N0 dan M0 Stadium II : T2 N0 dan M0 .

KNF dapat terjadi pada setiap usia. Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas karnisoma yang berasal dari epitel nasofaring. Selain itu. Penelitian di Taipe menjumpai umur rata-rata penderita lebih muda yaitu 25 tahun. Penemuan kasus baru KNF setiap tahun diberbagai dunia cukup bervariasi. Hal ini menunjukkan sebuah kecenderungan untuk penyakit ini apabila dikombinasikan dengan lingkungan pemicu (Nasional Cancer Institute.dilaporkan sebanyak 10-150 kasus per 100. di Cina Selatan khususnya Hong Kong dan Guangzhou.Insiden tetap tinggi untuk keturunan yang berasal Cina Selatan yang hidup di negara-negara lain. sedangkan di Israel yang mempunyai insiden KNF sedang. Insiden KNF meningkat setelah umur 20 tahun dan tidak ada lagi peningkatan insiden setelah umur 60 tahun. Kanker nasofaring tidak umum dijumpai di Amerika Serikat dan dilaporkan bahwa kejadian tumor ini di Amerika Serikat adalah kurang dari 1 dalam 100. Kasus baru yang sangat banyak ditemukan di Hongkong 1146 kasus KNF. Penelitian di 17 negara Eropa menemukan rata-rata 187 kasus baru. 2009).Stadium III : T1/T2/T3 dan N1 dan M0 atau T3 dan N0 dan M0 Stadium IVa : T4 dan N0/N1 dan M0 atau T1/T2/T3/T4 dan N2 /N3 dan M0 atau T1/T2/T3. Di sebagian provinsi di Cina.T4 dan N0/N1/N2/N3/N4 dan M1 Epidemiologi Para ahli palaentologi melakukan penelitian dan pemeriksaan sisi tulang manusia purba dan menemukan kemungkinan karsinoma nasofaring pada zaman itu. namun sangat jarang dijumpai penderita di bawah usia 20 tahun dan usia terbanyak antara 45-54 tahun. Laki-laki lebih banyak dari wanita dengan perbandingan antara 2-3 : 1. . tenggorok dan telinga. Di Rio de Janeiro ditemukan 16 kasus baru dan di Nigeria 12 kasus baru.000 (Nasional Cancer Institute. dijumpai kasus KNF yang cukup tinggi yaitu 15-30 per 100. Tumor ganas ini paling banyak mengenai etnik China terutama yang berada di China Selatan.000 penduduk. Sebagian besar penderita KNF berumur diatas 20 tahun dengan umur paling banyak antara 50-70 tahun. hanya ditemukan 3 kasus baru pada tiap tahun.000 orang per tahun. biasanya tumbuh dari fossa Rosenmuller dan dapat meluas ke hidung. 2009). Hasil pemeriksaan tersebut menunjukkan tengkorak dijumpai destruksi tulang yang dicurigai akibat komplikasi karsinoma nasofaring.

sehingga lebih rentan terhadap serangan berbagai faktor berbahaya dari lingkungan dan timbul penyakit. Faktor yang mungkin terkait dengan timbulnya kanker nasofaring adalah: Kerentanan Genetik Walaupun Ca Nasofaring tidak termasuk tumor genetik. dll) . gambaran pembelahan inti juga banyak.2. antigen membran ( MA ). Epitel nasofaring di luar tubuh bila diinfeksi dengan galur sel mengandung virus EB. Di dalam sel Ca Nasofaring dapat dideteksi zat petanda virus EB seperti DNA virus dan EBNA. EA-IgA. Virus EB (Eipstein-Barr) Metode imunologi membuktikan virus EB membawa antigen yang spesifik seperti antigen kapsid virus ( VCA ). dll. Penelitian menunjukkan bahwa kromosom pasien Ca Nasofaring menunjukkan ketidakstabilan. ditemukan epitel yang terinfeksi tersebut tumbuh lebih cepat . dengan frekuensi positif maupun ratarata titer geometriknya jelas lebih tinggi dibandingkan orang normal dan penderita jenis kanker lain. antigen nuklir ( EBNA ) . Selain itu titer antibodi dapat menurun secara bertahap sesuai pulihnya kondisi pasien dan kembali meningkat bila penyakitnya rekuren atau memburuk. alasannya adalah : Di dalam serum pasien Ca Nasofaring ditemukan antibodi terkait virus EB (termasuk VCA-IgA. Analisis korelasi menunjukkan gen HLA ( Human luekocyte antigen ) dan gen pengode enzim sitokrom p4502E ( CYP2E1) kemungkinan adalah gen kerentanan terhadap Ca Nasofaring. Virus EB memiliki kaitan erat dengan Ca Nasofaring .3 Etiologi Terjadinya Ca Nasofaring mungkin multifaktorial. antigen dini ( EA). mereka berkaitan dengan timbulnya sebagian besar Ca Nasofaring . tetapi kerentanan terhadap Ca Nasofaring pada kelompok masyarakat tertentu relatif menonjol dan memiliki fenomena agregasi familial. dan titernya berkaitan positif dengan beban tumor. proses karsinogenesisnya mungkin mencakup banyak tahap. . EBNA.

Nitrosamin juga ditemukan dalam ikan atau makanan yang diawetkan di Greenland juga pada ” Quadid ” yaitu daging kambing yang dikeringkan di Tunisia. Kontak dengan zat karsinogenik.Ras Melayu yaitu Malaysia dan Indonesia termasuk yang banyak terkena. gas kimia. lingkungan dan kebiasaan hidup. meningkatkan jumlah kasus KNF. Indonesia dan Kenya. Di Hongkong. Benzoathracene (sejenis dalam arang batubara). dan sayuran yang difermentasi (asinan) serta taoco di Cina. Keadaan sosial ekonomi yang rendah. pembakaran dupa rumah-rumah juga dianggap berperan dalam menimbulkan KNF. asap industri. asap kayu dan beberapa ekstrak tumbuhan-tumbuhan. Didalam ikan asin terdapat nitrosamin yang ternyata merupakan mediator penting. antara lain Benzopyrene.Dilaporkan virus EB di bawah pengaruh zat karsinogen tertentu dapat menimbulkan karsinoma tak berdiferensiasi pada jaringan mukosa nasofaring fetus manusia. Dikatakan bahwa udara yang penuh asap di rumah-rumah yang kurang baik ventilasinya di Cina. Ada beberapa mediator yang dianggap berpengaruh untuk timbulnya karsinoma nasofaring ialah: Zat Nitrosamin. Sering kontak dengan zat yang dianggap bersifat karsinogen yaitu zat yang dapat menyebabkan kanker. Ras dan keturunan. Kejadian KNF lebih tinggi ditemukan pada keturunan Mongoloid dibandingkan ras lainnya.Di Asia terbanyak adalah bangsa Cina. . baik yang negara asalnya maupun yang perantauan.

4 Manifestasi Klinis Gejala dan tanda yang sering ditemukan pada kanker nasofaring adalah : Gejala Dini Karena KNF bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan. Dianggap dengan adanya peradangan. jelas lebih tinggi dari keluarga di area insiden rendah. Terkait dengan kebiasaan makan ikan asin waktu kecil. 2. pada keluarga di area insiden tinggi kanker nasofaring . Penelitian akhir-akhir ini menemukan zat berikut berkaitan dengan timbulnya Ca Nasofaring : Hidrokarbon aromatik.4 benzpiren dalam tiap gram debu asap mencapai 16.83 ug. Unsur renik : nikel sulfat dapat memacu efek karsinognesis pada proses timbulnya kanker nasofaring.Radang Kronis di daerah nasofaring. di dalam air seninya terdeteksi nitrosamin volatil yang berefek mutagenik. maka diagnosis dan pengobatan yang sedini mungkin sangat diperlukan. Gejala telinga: . Golongan nitrosamin : banyak terdapat pada pengawet ikan asin. mukosa nasofaring menjadi lebih rentan terhadap karsinogen lingkungan.. Faktor Lingkungan Faktor lingkungan juga berperan penting. kandungan 3.

Sumbatan hidung Sumbatan hidung yang menetap terjadi akibat pertumbuhan tumor ke dalam rongga hidung dan menutupi koana. karena juga dijumpai pada infeksi biasa. Keluarnya darah ini biasanya berulang-ulang. Epistaksis juga sering terjadi pada anak yang sedang menderita radang. kadangkadang disertai dengan gangguan penciuman dan adanya ingus kental. 2009). jumlahnya sedikit dan seringkali bercampur dengan ingus. Keadaan ini merupakan kelainan lanjutan yang terjadi akibat penyumbatan muara tuba. 2007 dan National Cancer Institute. Cairan yang diproduksi makin lama makin banyak.Sumbatan tuba eustachius atau kataralis.Gejala ini merupakan gejala yang sangat dini. Radang telinga tengah sampai perforasi membran timpani. sehingga akhirnya terjadi perforasi membran timpani dengan akibat gangguan pendengaran. Gejala telinga dan hidung ini bukan merupakan gejala yang khas untuk penyakit ini. Gejala menyerupai pilek kronis. sehingga berwarna kemerahan. rasa berdengung kadang-kadang disertai dengan gangguan pendengaran. . sinusitis dan lainlainnya. Hal ini menyebabkan keganasan nasofaring sering tidak terdeteksi pada stadium dini (Roezin & Anida. misalnya pilek kronis. Gejala Hidung : Epistaksis Dinding tumor biasanya rapuh sehingga oleh rangsangan dan sentuhan dapat terjadi perdarahan hidung atau epistaksis. Pasien mengeluh rasa penuh di telinga. dimana rongga telinga tengah akan terisi cairan.

3-5 cm di bawah daun telinga dan tidak nyeri.Yang sering ialah pada tulang. 1988 dan Nurlita. Sel-sel kanker dapat berkembang terus. hal ini yang disebut metastasis jauh. sehingga dapat terjadi penglihatan ganda (diplopia).Bila sudah mengenai seluruh saraf otak disebut sindrom unilateral. karenanya sering diabaikan oleh pasien. seperti penjalaran tumor melalui foramen laserum akan mengenai saraf otak ke III.4. Proses karsinoma nasofaring yang lanjut akan mengenai saraf otak ke IX. Achadi. Jika ini terjadi menandakan suatu stadium dengan prognosis sangat buruk (Nutrisno . menembus kelenjar dan mengenai otot di bawahnya.2 Gejala Lanjut Pembesaran kelenjar limfe leher Tidak semua benjolan leher menandakan kekhasan penyakit ini jika timbulnya di daerah samping leher. Kelenjarnya menjadi lekat pada otot dan sulit digerakan. VI dan dapat juga mengenai saraf otak ke-V. Benjolan biasanya berada di level II-III dan tidak dirasakan nyeri. IV. yaitu suatu tempat yang relatif jauh dari nasofaring. Pembesaran kelenjar limfe leher merupakan gejala utama yang mendorong pasien datang ke dokter. X. Gejala akibat perluasan tumor ke jaringan sekitar Karena nasofaring berhubungan dengan rongga tengkorak melalui beberapa lubang. dan XII jika penjalaran melalui foramen jugulare. hati dan paru. 2009). maka gangguan beberapa saraf otak dapat terjadi.2. XI. Gejala akibat metastasis Sel-sel kanker dapat ikut bersama aliran limfe atau darah. Keadaan ini merupakan gejala yang lebih lanjut. 2.Dapat juga disertai dengan destruksi tulang tengkorak dan bila sudah terjadi demikian biasanya prognosisnya buruk. Gangguan ini sering disebut dengan sindrom Jackson.5 Patofisiologi . mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring.

Karsinoma skuamosa berkeratinasi cenderung lebih agresif daripada yang non keratinasi dan tidak berdiferensiasi. Protein tersebut dapat digunakan sebagai tanda adanya EBV. tipe histologik karsinoma skuamus berkeratinasi.Prognosis buruk bila dijumpai limfadenopati.nasofaring disebabkan oleh virus eipstein barr. hipotiroidisme. dan hipoplasia struktur otot dan tulang diradiasi. seperti EBNA-1 dan LMP-1. stadium lanjut. Komplikasi ini terjadi selama atau beberapa hari setelah dilakukannya radioterapi. fibrosis dari leher dengan hilangnya lengkap dari jangkauan gerak. Prognosis juga diperburuk oleh . sehingga terjadi differensiasi dan proliferasi protein laten (EBNA-1). EBV tersebut mampu aktif dikarenakan konsumsi ikan asin yang berlebih serta pemaparan zat-zat karsinogen yang menyebabkan stimulasi pembelahan sel abnormal yang tidak terkontrol. Komplikasi dan Prognosis Komplikasi Toksisitas dari radioterapi dapat mencakup xerostomia. 2000 dan Nasir. Panhypopituitarism dapat terjadi dalam beberapa kasus. dalam hal ini terutama pada fossa Rossenmuller. kelainan gigi. Prognosis Prognosis karsinoma nasofaring secara umum tergantung pada pertumbuhan lokal dan metastasenya.Sudah hampir dipastikan ca. nasofaring. EBNA-1 adalah protein nuclear yang berperan dalam mempertahankan genom virus. Osteonekrosis dari mandibula merupakan komplikasi langka radioterapi dan sering dihindari dengan perawatan gigi yang tepat (Maqbook. Hal ini dapat dibuktikan dengan dijumpai adanya protein-protein laten pada penderita ca. Hal inilah yang memicu pertumbuhan sel kanker pada nasofaring. Mereka yang menerima bleomycin beresiko untuk menderita fibrosis paru. walau metastase limfatik dan hematogen lebih sering pada ke-2 tipe yang disebutkan terakhir.Toksisitas ginjal dapat terjadi pada pasien yang menerima cisplatin. Kehilangan pendengaran sensorineural mungkin terjadi dengan penggunaan cisplatin dan radioterapi. LMP-2A dan LMP-2B. Retardasi pertumbuhan dapat terjadi sekunder akibat radioterapi terhadap kelenjar hipofisis. 2009). Sel yang terinfeksi oleh EBV akan menghasilkan protein tertentu yang berfungsi untuk proses proliferasi dan mempertahankan kelangsungan virus didalam sel host. trismus.

usia lebih dari 40 tahun.Untuk stadium I dan II. diberikan dalam 41 fraksi 5. Jumlah radiasi untuk keberhasilan melakukan radioterapi adalah 5. Radioterapi adalah metode pengobatan penyakit maligna dengan menggunakan sinar peng-ion. Karsinoma nasofaring bersifat radioresponsif sehingga radioterapi tetap merupakan terapi terpenting. Pada limfonodi yang tidak teraba diberikan radiasi sebesar 5000 cGy. . Dosis radiasi pada limfonodi leher tergantung pada ukuran sebelum kemoterapi diberikan. makin berkurang responsnya.beberapa faktor seperti stadium yang lebih lanjut. 2006) . antara 2-4 cm diberikan 7000 cGy dan bila lebih dari 4 cm diberikan dosis 7380 cGy. ditemukan angka kegagalan respons lokal dan metastasis jauh yang tinggi. Penatalaksanaan Untuk penyakit tumor nasofaring.5 minggu Hasil pengobatan yang dinyatakan dalam angka respons terhadap penyinaran sangat tergantung pada stadium tumor. lakilaki dari pada perempuan dan ras Cina daripada ras kulit putih (Arima.Modalitas utama untuk KNF adalah radioterapi dengan atau tanpa kemoterapi. bertujuan untuk mematikan sel-sel tumor sebanyak mungkin dan memelihara jaringan sehat disekitar tumor agar tidak menderita kerusakan terlalu berat.000 sampai 7. ada beberapa terapi yang perlu dilakukan untuk mendukung pemulihan kondisi pasien diantaranya: Radioterapi Sampai saat ini radioterapi masih memegang peranan penting dalam penatalaksanaan KNF. yaitu 50% – 80%. diperoleh respons komplit 80% – 100% dengan terapi radiasi. <2 cm diberikan 6600 cGy.000 cGy. Makin lanjut stadium tumor.Angka ketahanan hidup penderita KNF dipengaruhi beberapa factor diantaranya yang terpenting adalah stadium penyakit.Sedangkan stadium III dan IV.

Kemoterapi bisa digunakan untuk mengatasi tumor secara lokal dan juga untuk mengatasi sel tumor apabila ada metastasis jauh. antara lain: Complete Response: menghilangnya seluruh kelenjar getah bening yang besar. Respon dinilai dari pengecilan tumor primer di nasofaring. paclitaxel dan docetaxel. 5-Fluorouracil.Terdapat 3 cara utama pemberian radioterapi. Progressive Disease : ukuran kelenjar getah bening membesar 25% atau lebih. yaitu: Radiasi Eksterna / Teleterapi Radiasi Interna / Brakhiterapi Intravena Setelah diberikan radiasi. tetapi pada umumnya berupa kombinasi karena dapat lebih meningkatkan potensi sitotoksik terhadap sel kanker. Tujuan kemoterapi untuk menyembuhkan pasien dari penyakit tumor ganas. Penilaian respon radiasi berdasarkan criteria WHO. Partial Response : pengecilan kelenjar getah bening sampai 50% atau lebih. Kemoterapi Secara definisi kemoterapi adalah segolongan obat-obatan yang dapat menghambat pertumbuhan kanker atau bahkan membunuh sel kanker. No Change : ukuran kelenjar getah bening yang menetap.Pemberian kemoterapi terbagi dalam 3 kategori : Kemoterapi adjuvan . Beberapa regimen kemoterapi yang antara lain cisplatin. Selain itu sel-sel yang resisten terhadap salah satu obat mungkin sensitive terhadap obat lainnya. Obatobat anti kanker dapat digunakan sebagian terapi tunggal (active single agents). maka dilakukan evaluasi berupa respon terhadap radiasi. methotrexate. Dosis obat sitostatika dapat dikurangi sehingga efek samping menurun.

Alasan utama penggunaan kemoterapi neoadjuvan pada awal perjalanan penyakit adalah untuk menurunkan beban sel tumor sistemik pada saat terdapat sel tumor yang resisten. Hasil penelitian menggunakan kombinasi cisplatin radioterapi pada kanker kepala dan leher termasuk KNF. Terapi bedah dan radioterapi sepertinya akan memberi hasil yang lebih baik jika diberikan pada tumor berukuran lebih kecil. meskipun tidak ada bukti secara makroskopis.Pemberian kemoterapi diberikan setelah pasien dilakukan radioterapi. Maksud dan tujuan pemberian kemoterapi neoadjuvan untuk mengecilkan tumor yang sensitif sehingga setelah tumor mengecil akan lebih mudah ditangani dengan radiasi. Kemoterapi neoadjuvan telah banyak dipakai dalam penatalaksanaan kanker kepala dan leher. Pada tumor dengan derajat keganasan tinggi terjadi karena tingginya resiko kekambuhan dan metastasis jauh. Cisplatin dapat bertindak sebagai agen sitotoksik dan radiation sensitizer. . Kemoterapi concurrent Kemoterapi diberikan bersamaan dengan radiasi. Tujuannya untuk mengatasi kemungkinan metastasis jauh dan meningkatkan kontrol lokal. Umumnya dosis kemoterapi yang diberikan lebih rendah. Terapi adjuvan tidak dapat diberikan begitu saja tetapi memiliki indikasi yaitu bila setelah mendapat terapi utamanya yang maksimal ternyata: Kanker masih ada.Vaskularisasi intak sehingga perjalanan ke daerah tumor lebih baik. Biasanya sebagai radiosensitizer. Jadwal optimal cisplatin masih belum dapat dipastikan. namun pemakaian sehari-hari dengan dosis rendah. menunjukkan hasil yang memuaskan. dimana biopsi masih positif. Kemoterapi sebagai terapi tambahan pada KNF ternyata dapat meningkatkan hasil terapi terutama pada stadium lanjut atau pada keadaan relaps. Kemungkinan besar kanker masih ada. Kemoterapi neoadjuvant Pemberian kemoterapi adjuvant yang dimaksud adalah pemberian sitostatika lebih awal yang dilanjutkan pemberian radiasi.

Perawatan paliatif Hal-hal yang perlu perhatian setelah pengobatan radiasi. maka pada penderita karsinoma nasofaring dapat diberikan imunoterapi. kehilangan nafsu makan dan kadang-kadang muntah atau rasa mual. .Mulut terasa kering disebabkan oleh kerusakan kelenjar liur mayor maupun minor sewaktu penyinaran. sakit kepala. rasa kaku didaerah leher karena fibrosis jaringan akibat penyinaran. Disekresi leher dilakukan jika masih terdapat sisa kelenjar pasca radiasi atau adanya kekambuhan kelenjar dengan syarat bahwa tumor primer sudah dinyatakan bersih yang dibuktikan melalui pemeriksaan radiologi. Perawatan paliatif diindikasikan langsung untuk mengurangi rasa nyeri.pemakaian 1 kali seminggu dengan dosis menengah. Gangguan lain adalah mukositis rongga mulut karena jamur. Nasofaringektomi merupakan suatu operasi paliatif yang dilakukan pada kasuskasus yang kambuh atau adanya residu pada nasofaring yang tidak berhasil diterapi dengan cara lain. Imunoterapi Dengan diketahuinya kemungkinan penyebab dari KNF adalah EBV. atau 1 kali 3 minggu dengan dosis tinggi telah banyak digunakan. Operasi Tindakan operasi pada penderita KNF berupa diseksi leher radikal dan nasofaringektomi. mengontrol gejala dan memperpanjang usia.

Asuhan Keperawatan 4. meningkatkan keadaan sosial-ekonomi dan berbagai hal yang berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan faktor penyebab. Penyuluhan mengenai lingkungan hidup yang tidak sehat. melakukan tes serologik IgA-anti VCA dan IgA anti EA bermanfaat dalam menemukan karsinoma nasofaring lebih dini (Tirtaamijaya.Pencegahan Pemberian vaksinasi pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah dengan risiko tinggi. 2009).Akhir sekali. Bab 3.1 Pengkajian 4.1. Pathways Bab 4. Penerangan akan kebiasaan hidup yang salah serta mengubah cara memasak makanan untuk mencegah kesan buruk yang timbul dari bahan-bahan yang berbahaya.1 Identitas pasien Nama Terdapat nama lengkap dari pasien penderita penyakit tumor nasofaring. Jenis Kelamin .

Amerika.88/100. ataupun Oseania. Alamat Lingkungan tempat tinggal dengan udara yang penuh asap dengan ventilasi rumah yang kurang baik akan meningkatkan resiko terjadinya tumor nasofaring serta lingkungan yang sering terpajan oleh gas kimia. Di RRC. pada pria 2. dan beberapa ekstrak tumbuh-tumbuhan. Agama Agama tidak mempengaruhi seseorang terkena penyakit tumor nasofaring.27/100. insidennya umumnya kurang dari 1/100.49/100.000. sekitar 5-10/100. asap kayu. Sebesar 2% dari kasus. dan pada wanita 1.Insiden di beberapa negara Afrika agak tinggi. Pada penelitian yang dilakukan di . asap industry. Suku Bangsa Karsinoma nasofaring jarang sekali ditemukan di benua Eropa. mortalitas rata-rata nasional hanya 1.000.000 penduduk. Usia Tumor nasofaring dapat terjadi pada semua usia dan usia terbanyak antara 4554 tahun.000 penduduk.Namun relatif sering ditemukan di berbagai Asia Tenggara dan China. walaupun karsinoma nasofaring jauh lebih sering ditemukan daripada berbagai daerah lain di dunia.000.karsinoma nasofaring adalah penderita anak dan di Guangzhou ditemukan 1% karsinoma nasofaring dibawah 14 tahun.Penyakit tumor nasofaring ini lebih banyak di derita oleh laki-laki daripada perempuan.

berjumlah sedikit dan bercampur dengan ingus. kaji tentang proses perjalanan penyakit samapi timbulnya keluhan.2 Status Kesehatan Keluhan Utama Biasanya di dapatkan adanya keluhan suara agak serak. sehingga berwarna kemerahan.medan (2008).Pasien mengeluh rasa penuh di telinga. Diagnosa Medis Diagnosa medis yang ditegakkan adalah tumor nasofaring. asap industry.tahun dan yang paling tua 77 tahun.1. faktor apa saja memperberat dan meringankan keluhan dan bagaimana cara klien menggambarkan apa yang dirasakan. rasa berdengung kadang-kadang disertai dengan gangguan pendengaran. Rata-rata umur penderita pada penelitian ini adalah 48.Terjadi pendarahan dihidung yang terjadi berulang-ulang. semua dijabarkan dalam bentuk PQRST. daerah terasanya keluhan. Penderita tumor nasofaring ini menunjukkan tanda dan gejala telinga kiri terasa buntu hingga peradangan dan nyeri. Pekerjaan Seseorang yang bekerja di pabrik industry akan beresiko terkena tumor nasofaring. Menggambarkan keluhan utama klien. 4. Riwayat Kesehatan Sekarang Merupakan informasi sejak timbulnya keluhan sampai klien dirawat di RS. Umur penderita yang paling muda adalah 21.8 tahun. kelompok umur penderita karsinoma nasofaring terbanyak adalah 50-59 tahun (29. timbul benjolan di daerah samping leher di bawah daun . kemampuan menelan terjadi penurunan dan terasa sakit waktu menelan atau nyeri dan rasa terbakar dalam tenggorok. dan asap kayu.1%). karena akan sering terpajan gas kimia.

kelompak mata klien normal. daun telinga kiri dan kanan pasien normal dan simetris. sclera anikterik. ada nyeri tekan pada telinga. perdarahan hidung.telinga. tanda-tanda radang tidak ada. Riwayat Kesehatan Dahulu Kaji tentang penyakit yang pernah dialami klien sebelumnya yang ada hubungannya dengan penyait keturunan dan kebiasaan atau gaya hidup. Sistem pendengaran Pada penderita karsinoma nasofaring. Riwayat Kesehatan Keluarga Kaji apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit tumor nasofaring maka akan meningkatkan resiko seseorang untuk terjangkit tumor nasofaring pula. reaksi terhadap cahaya baik (+/+). .3 Pemeriksaan Fisik Sistem Penglihatan Pada penderita karsinoma nasofaring terdapat posisi bola mata klien simetris. pupil mata klien isokor. otot mata klien tidak ada kelainan.1. gangguan pendengaran. 4. pergerakan bola mata klien normal namun konjungtiva klien anemis. namun fungsi penglihatan kabur. Hal ini terjadi karena pada karsinoma nasofaring. hanya bagian tertentu yang mengalami beberapa gejala yang tidak normal seperti konjungtiva klien yang anemis disebabkan klien memiliki kekurangan nutrisi dan fungsi penglihatan kabur. kornea normal. terdapat cairan pada rongga telinga. dan bisa juga menimbulkan komplikasi apabila terjadi dalam tahap yang lebih lanjut .

warna kulit tidak pucat. temperature kulit hangat suhu tubuh klien 360C. Tumor nasofaring juga bisa menyerang saraf otak karena ada lubang penghubung di rongga tengkorak yang bisa menyebabkan beberapa gangguan pada beberapa saraf otak. tingkat kesadaran pasien kompos mentis dengan Glasgow Coma Scale (GCS) E: 4. irama nafas klien teratur. Tumor nasofaring tidak menyerang peredaran darah pasien sehingga tidak akan mengganggu peredaran darah tersebut. Sistem kardiovaskular Pada sirkulasi perifer kecepatan nadi perifer klien 82 x/menit dengan irama teratur. Sistem pencernaan . M: 6. Tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK. klien mengalami batuk produktif dengan sputum kental berwarna kuning. suara nafas klien ronkhi. palpasi dada klien simetris.Hal ini terjadi akibat adanya nyeri saat menelan makanan oleh pasien dengan tumor nasofaring sehingga terdengar suara berdengung pada telinga. Sedangkan pada sirkulasi jantung. tidak ada gangguan sitem persyarafan dan pada pemeriksaan refleks fisiologis klien normal. tidak mengalami distensi vena jugularis. kecepatan denyut apical 82 x/ menit dengan irama teratur tidak ada kelainan bunyi jantung dan tidak ada nyeri dada. nafas dalam. tidak terdapat darah. namun tidak mengalami nyeri dada dan menggunakan alat bantu nafas. Sistem saraf pusat Tidak ada keluhan sakit kepala. Sistem pernafasan Jalan nafas bersih tidak ada sumbatan. pengisian kapiler 2 detik. klien tampak sesak. Jika terdapat gangguan pada otak tersebut maka pasien akan memiliki prognosis yang buruk. tidak menggunakan otot bantu nafas dengan frekuensi pernafasan 26 x/ menit. jenis pernafasan spontan. jika dalam jalan nafas terdapat sputum maka pasien akan kesulitan dalam bernafas yang bisa mengakibatkan pasien mengalami sesak nafas. Gangguan lain muncul seperti ronkhi karena suara nafas ini menandakan adanya gangguan pada saat ekspirasi. migran atau pertigo. Pada sistem ini akan sangat terganggu karena akan mempengaruhi pernafasan. perkusi dada bunyi sonor. V: 5. dan tidak ada edema.

disuria. kelainan kulit tidak ada. warna kulit pucat. hepar tidak teraba. tidak lampias. tekstur kulit baik.Keadaan mulut klien saat ini gigi caries. bising usus klien 8 x/menit. konsistensi feses lunak. inkontinensia. tidak ada nyeri perut. output 500 ml. tidak ada stomatitis lidah klien tidak kotor. dan keadaan otot baik. Sistem endoktrin Pada klien tidak ada pembesaran kalenjar tiroid. keadaan kulit baik. Sistem musculoskeletal Saat ini klien tidak ada kesulitan dalam pergerakan. . Hal ini terjadi karena tumor nasofaring tidak menyerang kalenjar tiroid pasien sehingga tidak menganggu kerja sistem endoktrin. anunia). tidak ada perubahan pola kemih (retensi urgency. kebersihan rambut bersih. sendi dan kulit serta tidak ada fraktur. warna BAK klien kuning jernih. Tumor tidak menyerang di saluran pencernaan sehingga tidak ada gangguan dalam sistem percernaan pasien. Sistem urogenital Balance cairan klien dengan intake 1300 ml. Warna pucat yang terlihat pada pasien menunjukkan adanya sumbatan yang ada di dalam tenggorokan sehingga pasien terlihat pucat. kondisi kulit daerah pemasangan infuse baik. tidak ada diare. Tidak ada kelainan pada bentuk tulang sendi dan tidak ada kelainan struktur tulang belakang. tidak ada luka. Sistem integumen Turgor kulit klien elastic. temperature kulit klien hangat. tidak ada keluhan sakit pinggang. nafas klien tidak berbau keton. Tumor nasofaring tidak sampai melebar sampai daerah urogenital sehingga tidak mengganggu sistem tersebut. tidak ada sakit pada tulang. saliva normal. abdomen lembek. tidak muntah. dan tidak ada luka ganggren. nokturia. tidak ada distensi kandung kemih. tidak terjadi konstipasi.

setelah tampak di orofaring. dan Soetjipto. . dengan atau tanpa menggunakan kateter (American Cancer Society. 2008). Tumor yang tumbuh eksofitik dan sudah agak besar akan dapat tampak dengan mudah. pemeriksaan ini dapat dilakukan. dokter menggunakan sebuah fibreoptic scope ( lentur.4 Pemeriksaan Penunjang pemeriksan kelenjar limfe leher Perhatikan pemeriksaan kelenjar limfe rantai jugularis interna.Pada pasien dewasa yang tidak sensitif. menerangi. Dua buah kateter dimasukkan masing-masing kedalam rongga hidung kanan dan kiri. pemeriksaan nasofaring Nasofaring diperiksa dengan cara rinoskopi posterior.1. uung katater tersebut dijepit dengan pinset dan ditarik keluar selanjutnya disatukan dengan masing-masing ujung kateter yang lainnya. rantai nervus aksesorius dan rantai arteri vena transversalis koli apakah terdapat pembesaran (Desen. Rinoskopi posterior tanpa menggunakan kateter Nasofaringoskopi indirek menggunakan kaca dan lampu khusus untuk menilai nasofaring dan area yang dekat sekitarnya. tabung sempit yang dimasukkan ke rongga hidung atau mulut) untuk menilai secara langsung lapisan nasofaring. 4. Rinoskop posterior menggunakan kateter Nasofaringoskopi direk.Pada tumor ini tidak menyerang otot rangka sehingga tidak ada kelainan yang mengganggu sistem musculoskeletal. 1989).

sagital koronal. juga dapat secara lebih dini menunjukkan infiltrasi ke tulang. 1989). CT Scan nasofaring merupakan pemeriksaan yang paling dipercaya untuk menetapkan stadium tumor dan perluasan tumor. Dalam membedakan antara pasca fibrosis pasca radioterapi dan rekurensi tumor. kelompok otot kunyah dan lidah kadang perlu diperiksa berulang kali barulah ditemukan hasil positif (Desen. 2011 dan Soetjipto. torus tubarius dan dinding posterior nasofaring X-ray dada Jika pasien telah didiagnosa karsinoma nasofaring. MRI juga lebih bermanfaat (Desen. sehingga lebih baik dari CT. foto polos x-ray dada mungkin dilakukan untuk menilai penyebaran kanker ke paru (American Cancer Society. Magnetic Resonance Imaging (MRI) scan MRI memiliki resolusi yang baik terhadap jaringan lunak. Pada stadium dini terlihat asimetri dari resessus lateralis. dapat serentak membuat potongan melintang. 2008). Foto Thoraks Untuk memastikan adanya destruksi pada tulang dasar tengkorak serta adanya metastasis jauh (Soetjipto. 1989).Pemeriksaan saraf cranial Ditujukan pada kecurigaan paralisis otot mata. 2008 dan American Cancer Society. . 2011) . MRI selain dengan jelas memperlihatkan lapisan struktur nasofaring dan luas lesi. CT Scan Pemeriksaan tomografi.

pasien sulit menelan makanan3. Biopsi melalui hidung dilakukan tanpa melihat jelas tumornya (blind biopsy). Pemeriksaan cuping hidung positif Kesulitan bernafas . Suara pasien ronkhi2. Biopsi nasofaring dapat dilakukan dengan 2 cara dari hidung atau dari mulut. Biopsi tumor nasofaring umumnya dilakukan dengan anestesi topikal dengan xylocain 10%. massa tumor akan terlihat lebih jelas.Kemudian dengan kaca laring dilihat daerah nasofaring. sehingga palatum mole tertarik ke atas. Cunam biopsi dimasukkan melalui rongga hidung menyulusuri konka media ke nasofaring kemudian cunam diarahkan ke lateral dan dilakukan biopsi. Biopsi dilakukan dengan melihat tumor melalui kaca tersebut atau memakai nasofaringoskop yang dimasukkan melalui mulut.Biopsi Penghapusan sel atau jaringan sehingga dapat dilihat dibawah mikroskop oleh patologi untuk memastikan tanda-tanda kanker. Biopsi melalui mulut dengan memakai bantuan kateter nelaton yang dimasukkan melalui hidung dan ujung keteter yang berada dalam mulut ditarik keluar dan diklem bersama-sama ujung keteter yang di hidung. Analisa data Data Etiologi Masalah Keperawatan DS: -DO: 1. Adanya pembengkakan pada leher sesak nafasBersihan jalan nafas tidak efektifPenumpukan lendir tumor Bersihan jalan nafas tidak efektif DS: -DO: 1. Pemeriksaan darah Untuk mengetahui adanya metastasis jauh.Demikian juga dengan keteter yang dihidung disebelahnya. Adanya bengkak pada leher2.

pasien tampak lemah Penurunan berat badan Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Anoreksia infeksi Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh . Adanya perilaku ekspresif dari pasien2. sianosis Gangguan menelan nyeri akut penekanan syaraf tumor Nyeri akut DS: -DO: 1. Kesulitan beraktivitas3. pasien kesulitan menelan makanan3.Ketidakefektifan pola nafas Penyumbatan saluran nafas tumor Ketidakefektifan pola nafas DS: -DO: 1. Penurunan berat badan pasien2.

2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan lendir yang ditandai dengan terdengarnya suara ronchi Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam jalan nafas bersih dengan kriteria:1. Posisikan klien dengan semifowler untuk memaksimalkan ventilasi2. 1. Mempunyai irama dan frekuensi pernafasan dalam rentang yang normal 1. Kaji keefektifan pengobatan yang diresepkan. sesuai dengan kebutuhan5. Inform consent kepada pasien dan keluarga 6. Mengeluarkan sekesi secara efektif3.2 Diagnosa Keperawatan Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan lendir yang ditandai dengan terdengarnya suara ronchi Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penyempitan jalan nafas oleh tumor yang ditandai dengan cuping hidung positif Nyeri akut berhubungan dengan penekanan jaringan saraf oleh tumor yang ditandai dengan adanya perilaku ekspresif Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia yang ditandai dengan penurunan berat badan. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penyempitan jalan nafas oleh tumor yang ditandai dengan cuping hidung positif Gsetelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2×24 jam pola nafas kembali efektif. Untuk mengeluarkan sputum5.4. Mengetahui pengobatan yang telah dijalankan.Lakukan pengisapan endotrakea atau nasotrakrea.4. 4. Untuk mengetahui kebutuhan yang diperlukan pasien selama perawatan.Konsultasikan dengan dokter tentang kebutuhan untuk perkusi atau peralatan pendukung. Jalan nafas bersih dan efektif2.Informasikan kepada pasien dan keluarga sebelum memulai prosedur 6.3 Intervensi Keperawatan No Diagnosa Keperawatan Keperawatan Rasional Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi 1.2.3. dengan .3.Atur pemberian O24. Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan. Untuk meningkatkan transport oksigen.

Perhatikan pergerakan dada. Memungkinkan pasien untuk berpartisipasi . Pantau kecepatan. Atur posisi pasien semi fowler 1. 3. Pantau adanya pucat dan sianosis2. irama. Anjurkan pasien untuk nafas dalam 6. Ekspresi wajah tenang. amati kesimetrisan.5. Meningkatkan relaksasi dan membantu menfokuskan kembali perhatian. klien melaporkan nyeri berkurang (skala nyeri 2-3)2. Nyeri akut berhubungan dengan penekanan jaringan saraf oleh tumor yang ditandai dengan adanya perilaku ekspresif Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam klien menunjukkan tingkat kenyamanan. 6. Kolaborasi dengan dokter dalam terapi analgesic 1.4. Berikan tindakan kenyamanan dan aktivitas hiburan.2. Cuping hidung negative3. dan penggunaan otot bantu pernafasan4. Untuk melihat adanya bunyi nafas tambahan. kedalaman dan upaya pernafasan3. Bunyi nafas tambahan tidak ada 1. Pantau bunyi pernafasan seperti mendengkur5. Minta pasien untuk menilai nyeri pada skala 0 sampai 104.3. Hasil pemeriksaan fisik normal.kriteria:1. Untuk memberi kenyamanan 7.2. dengan kriteria:1. klien mampu istirahat dan tidur3. Untuk mengetahui upaya pasien dalam nafas dalam. Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan. Pasien tidak merasa sesak lagi dengan RR 20x/menit2. Ajarkan pasien tentang teknik relaksasi untuk memperbaiki pola pernafasan 7. Untuk mengetahui tanda dan gejala yang muncul akibat tumor nasofaring. Untuk mengetahui pola nafas yang normal. Untuk mengetahui upaya pasien dalam bernafas. TTV dalam batas normal 1.2. Dorong penggunaan keterampilan manajemen nyeri3.

5. dan bervariasi yang dapat dipilih. kaji pola makan klien2.4 Evaluasi . Mengetahui perubahan berat badan pasien 4. Ciptakan lingkungan yang menyenangkan untuk makan 8.3. Untuk mengetahui tingkatan nyeri yang dialami oleh pasien4. Untuk menghindari salah persepsi pasien terhadap kebutuhan nutrisinya. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia yang ditandai dengan penurunan berat badan Setelah dilakukan tindakan keperawatan salama 4 minggu klien akan:1. nilai laboratorium dalam batas normal 1. Jenis makanan ini akan meningkatkan pemenuhan nutrisi tanpa meningkatkan stimulus pada pencernaan.3.secara aktif dan meningkatkan rasa control. Berikan makanan bergizi. Untuk mengetahui kandungan nutrisi dalam makanan. 6. 7. Kaji makanan yang disukai oleh klien. Nyeri merupakan gejala yang sering terjadi terutama dalam kanker. Memberikan pemandangan yang bagus sehingga pasien memiliki nafsu makan yang baik 8. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam menentukan kebutuhan protein untuk pasien dengan ketidakadekuatan asupan protein atau kehilangan protein4.3. meskipun respon individu berbeda. tinggi kalori. Timbang pasien pada interval yang tepat 1.2. Berikan oral hygiene 6. mempertahankan berat badan3. 7. menunjukan status nutrisi adekuat2. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi dan pentingnya bagi tubuh klien. Untuk mengetahui asupan nutrisi yang masuk dalam tubuh. Meningkatkan nafsu makan. 4. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi4.5.

tidak gelisah dan tidak meringis kesakitanA: masalah teratasi sebagianP: lanjutkan intervensi Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia yang ditandai dengan penurunan berat badan Intake nutrisi adekuat Memberikan makanan yang disukai pasien dengan porsi sedikit tapi sering S: pasien mengatakan nafsu makannya mulai meningkatO: berat badan pasien meningkatA: masalah teratasiP: hentikan intervensi BAB 5. .”O: pasien terlihat lebih tenang dan bernafas normalA: masalah teratasi sebagianP: lanjutkan intervensi Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penyempitan jalan nafas oleh tumor yang ditandai dengan cuping hidung positif Pola nafas kembali efektif Mengajarkan pasien nafas dalam dan tehnik relaksasi S: pasien mengatakan bahwa rasa sesaknya mulai berkurangO: pasien nampak lebih tenangA: masalah teratasi sebagianP: lanjutkan intervensi Nyeri akut berhubungan dengan penekanan jaringan saraf oleh tumor yang ditandai dengan adanya perilaku ekspresif Pasien menunjukkan tingkat kenyamanan Guided imagery S: pasien mengatakan nyerinya berkurangO: ekspresi pasien nampak lebih tenang.Diagnosa Keperawatan Tujuan Tindakan Evaluasi Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan lendir yang ditandai dengan terdengarnya suara ronchi Jalan nafas menjadi bersih dan efektif Mengajarkan batuk efektif dan memposisikan semi fowler S: pasien mengatakan. yaitu: adanya infeksi EBV. Banyak faktor yang di duga berhubungan dengan tumor nasofaring. “saya merasa lebih nyaman dengan posisi ini sus. PENUTUP Kesimpulan Tumor nasofaring merupakan tumor ganas nomor satu yang mematikan dan menempati urutan ke sepuluh dari seluruh tumor ganas di tubuh.

H.id/download/fk/tht-hary2.C.Pada stadium dini yang diberikan adalah penyinaran dan hasilnya baik.. Paralisis Saraf Kranial Multipel pada Karsinoma Nasofaring.usu. dan genetik. DAFTAR PUSTAKA Arima. sehingga apabila menemunkan kasus secara dini dapat segera ditangani dengan sesuai dan dapat memberikan asuhan layanan keperawatan yang tepat bagi penderita tumor nasofaring.pdf pada 17 Oktober 2014] Asroel. 2002.ac.1.usu. [diakses melalui http://library. 2006.id/download/fk/ D0400193. Penatalaksanaan Radioterapi pada Karsinoma nasofaring (KNF). Sumatra Utara: http://library.A. Saran Perawat sebaiknya mengetahui mengenai penyakit tumor nasofaring. p. Tumor nasofaing banyak ditemukan di Indonesia.Aria.pdf.ac. .faktor lingkungan.

2002.N. Nasopharyngeal Cancer Treatment.Edition 9. Nasopharyngeal Cancer Treatment. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Dengan Intervensi NIC dan Kreteria Hasil NOC.. Jakarta: EGC Herdman. M. Sri. Heather. [diakses melalui http:// www. Jakarta: FKUI .nasriyadinasir. pada17 Oktober 2014] Herawati.250-253 Nasir. Roezin & Anida. Karsinoma Nasofaring Kedokteran Islam. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga. Wilkinson. 2006.co. 2010. Tumours Of Nasopharynx. htm. Sri & Rukmini.gov/cancertopics/pdq/treatment/nasopharyngeal/Patient/page 2]. Jakarta: EGC Judith.cc/2009/12/karsinomanasofaring_20. 2013.A [diakses pada 18 Oktober 2014 melalui http://www.M. 2009. 2004.cancer.cancer. Nasopharynx Carcinoma Therapy After The Failure of Coventional Therapy. 2007. T. 2000. [diakses pada 30 Oktober 2014 melalui http://www. In:Textbook Of Ear. Karsinoma Nasofaring Dalam:Buku Ajar Telinga Hidung.orienttumor. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 20092011.com/id/Kanker_ nasofaring.[diakes melalui http://www. Jakarta: EGC Maqbook.gov/cancertopics/pdq/treatment/nasopharyngeal/HealthProfes sional/page9] National Cancer Institute.Tenggorok Kepala Dan Leher.Srinagar:Jay Pee Brothers.Edisi 6. Tenggorokan Untuk Mahasiswa Fakultar Kedokteran gigi.S. Hidung.html 18 Oktober 2014] National Cancer Institute.Fuda Cancer Hospital Guangzhou. U. 2009. China: Fuda Cancer Hospital Guangzhou.Nose And Throat Disease.

Karnisoma Nasofaring. Medan: USU Press .Universitas Sumatra Utara. 2010.