Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN TUTORIAL

BLOK PERAWATAN KURATIF DAN REHABILITATIF
KEDOKTERAN GIGI IV

SKENARIO 3
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Tutorial
Blok Perawatan Kuratif dan Rehabilitatif IV
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember
Disusun oleh:
Kelompok Tutorial IV
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Karina Saraswati Ichwani
Fitriana Wadianur
Rada Kusnadi
Khurin In Salamatul Ummah
Nurin Fajar Zhafarina
Melisa Novitasari
M. Maulana Akbari
Anastasia Okta Erisha
Nurinta Virgiani Andiasti

(131610101006)
(131610101017)
(131610101021)
(131610101031)
(131610101035)
(131610101036)
(131610101059)
(131610101091)
(131610101095)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER

1 | Page

2016DAFTAR ANGGOTA KELOMPOK
Tutor

: drg. Budi Yuwono, M.Kes.

Ketua

: Nurinta Virgiani Andiasti

(131610101095)

Scriber Papan

: M. Maulana Akbari

(131610101059)

Scriber Meja

: Anastasia Okta Erisha

(131610101091)

Anggota

:

2 | Page

1. Karina saraswati Ichwani

(131610101006)

2. Fitriana Wadianur

(131610101017)

3. Rada Kusnadi

(131610101021)

4. Khurin In Salamatul Ummah
5. Nurin Fajar Zhafarina

(131610101031)
(131610101035)

6. Melisa Novitasari

(131610101036)

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga
kami dapat menyelesaikan tugas tutorial. Laporan ini disusun untuk memenuhi hasil diskusi
tutorial kelompok IV pada skenario ketiga.
Penulisan makalah ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu
penyusun ingin menyampaikan terimakasih kepada:
1. drg. Budi Yuwono, M.Kes. selaku tutor yang telah membimbing jalannya diskusi tutorial
kelompok IV Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember dan telah memberikan
masukan yang membantu bagi pengembangan ilmu yang telah kami dapatkan.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini. Dalam
penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penyusun harapkan dalam
perbaikan–perbaikan di masa mendatang demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini
dapat berguna bagi kita semua.

Jember, 24 April 2016

Penyusun

3 | Page

...1 1.29 4 | Page .2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………...9 BAB III PEMBAHASAN………………………………………………. 28 Daftar Pustaka…………………………………………………………….DAFTAR ISI Cover…………………………………………………………………………….iii Daftar Isi…………………………………………………………………………..iv Skenario 3….......i Daftar anggota kelompok……………………………………………………….....2 Rumusan Masalah………………………………………………….....1 Latar Belakang………………………………………………………….18 BAB IV KESIMPULAN…………………………………………………..ii Kata Pengantar………………………………………………………………….…………………………………………………………………….v BAB I PENDAHULUAN 1...

Pada gigi 27 menunjukkan fraktur pada akar palatal. Di samping itu pada gigi 25 terdapat karies permukaan akar pada bagian bukal dan gigi penyangga 27 tampak adanya resesi gingiva dan karies permukaan akar pada bagian bukal dan palatal. radiolucent pada bagian apikal gigi dan resorbsi tulang alveolar sampai 2/3 panjang akar gigi. 5 | Page . Penderita menginginkan penggantian gigi tiruan tersebut. Secara klinis gigi 25 dan 27 merupakan retainer dengan desain extracoronal retainer berupa porcelain fused to metal dan pontic pada gigi 26 dengan tipe ridge lap pontic.SKENARIO 3 KEGAGALAN PERAWATAN GIGI TIRUAN TETAP Ibu Akhmad 49 tahun merasakan ketidaknyamanan karena adanya kegoyangan gigi tiruan tetap pada rahang atas kiri. Tampak adanya pengelupasan lapisan estetik (lapisan porcelain) pada oklusal retainer gigi 25. Retainer dan pontic dihubungkan dengan connector tipe fixed-fixed bridge. Berdasarkan hasil pemeriksaan foto panoramik dan periapikal yaitu pada gigi 25 menunjukkan post perawatan endodontik dengan pemasangan pasak. radiolucent berbatas jelas pada apikal gigi dan tampak fraktur pada retainer. Keadaan ini telah dirasakan 3 hari yang lalu setelah mengunyah makanan.

BAB I PENDAHULUAN 1. Telah dikembangkan beberapa jenis gigi tiruan sehubungan dengan perbaikan fungsi kunyah dan kenyamanan untuk mengunyah bagi pasien. dan estetik serta menyebabkan perubahan lingir alveolar.1 Latar Belakang Kehilangan gigi akan menyebabkan gangguan fungsi fonetik. penyakit periodontal. penggunaan gigitiruan tetap (GTT) di kalangan masyarakat sudah sangat populer untuk menggantikan gigi yang hilang. 6 | Page . kerusakan gigi. Dan bila keadaan ini terus berlanjut. Jaringan penyangga gigi terdiri dari gingiva. bone loss. Oleh karena itu. agar suatu GTT dapat bertahan untuk jangka waktu yang lama di dalam mulut. maka pemeliharaan jaringan periodontal harus dilakukan agar gigi alami yang digunakan sebagai gigi penyangga juga dapat dipertahankan. Tujuan utama perawatan gigi geligi dengan GTT adalah mempertahankan dan memelihara kesehatan gigi geligi yang masih ada beserta seluruh sistem pengunyahan supaya dapat berfungsi dengan baik dan tetap sehat. Hal ini dikarenakan GTT memiliki konstruksi yang baik dan hanya menutupi sedikit jaringan penyangga sehingga lebih nyaman untuk digunakan serta terpasang secara cekat di dalam mulut. Dengan terjadinya kehilangan beberapa gigi alami dari lengkung gigi. ligamentum periodontal dan sementum. tulang alveolar. dan status kesehatan gigi dan mulut. Agar perawatan GTT berhasil. mastikasi. Kelainan yang mungkin timbul akibat hilangnya gigi yang tidak segera diganti adalah resorbsi tulang alveolar. perubahan dimensi vertikal. maka gigi yang telah hilang itu harus digantikan dengan menempatkan gigi tiruan pada bagian dari lengkung gigi yang telah kehilangan gigi. maka yang harus dipertimbangkan diantaranya pertimbangan faktor periodontal dari gigi-gigi penyangga. Dewasa ini. akan terjadi disorientasi dari sendi temporomandibula yang dapat menimbulkan rasa nyeri. Sisa makanan yang terus tertimbun dapat mengakibatkan bau mulut. dan jika tidak segera diganti dengan gigitiruan maka dapat menyebabkan bergesernya gigi alami ke ruang bekas gigi yang hilang. Secara umum gigit iruan dapat dibedakan atas gigi tiruan lepasan dan gigi tiruan tetap. Tanggalnya gigi dapat mengakibatkan kemampuan menelan dan mencerna makanan berkurang. Kelemahan dan tidak adanya koordinasi dari lidah akan menyebabkan terjadinya retensi makanan di bagian bukal mulut.

Penyebab dari kegagalan gigi tiruan tetap: 1) Faktor Biologis a. Sementara pada pemasangan GTT yang tidak sesuai. pasien merasa tidak nyaman dalam pemakaian GTC tersebut dan adanya kerusakan pada jaringan pendukungnya. 1. sementum. dan kelainan pada gingiva. Karies pada gigi penyangga 7 | Page .2 Bagaimana penatalaksanaan dari kegagalan gigi tiruan tetap sesuai dengan kasus di skenario dan penatalaksanaan rencana perawatan pada kegagalan gigi tiruan tetap selanjutnya? Step 1 1. Step 2 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa penyebab dari kegagalan gigi tiruan tetap? 2. Apa perawatan lanjutan sesuai kasus pada skenario dan pertimbangannya? 3. Bagaimana pencegahan dari kegagalan gigi tiruan tetap? Step 3 1. Masalah yang banyak dijumpai adalah masih ditemukannya ketidakpuasan dari pasien. tulang alveolar. Hal ini karena kurang maksimalnya upaya pengguna GTT untuk membantu menjaga kesehatan jaringan mulutnya setelah pemakaian GTT.2. Faktor lain yang timbul dari awal prosedur perawatan GTC serta kemungkinan dari pembuatannya yang tidak memenuhi syarat-syarat biologis.2.1 Apa saja macam dan penyebab dari kegagalan gigi tiruan tetap? 1. menyebabkan timbulnya karies atau kelainan-kelainan jaringan penyangga seperti kelainan pada ligamentum periodontal.Kenyataan ini mutlak harus diperhatikan oleh para dokter gigi untuk membuat diagnosis dan rencana perawatan yang tepat untuk gigi dan jaringan penyangganya dengan restorasi cekat pada umumnya dan GTT pada khususnya. Panoramik : Foto rontgen meliputi seluruh rongga mulut.

Halini dapat berupa kerusakan periodontal yang menyeluruh di rongga mulut yang mungkin berhubungan dengan drifting gigi atau mungkin terlokalisasi pada abutment jembatan. dan kegoyangan gigi. pembentukan poket. rasa sakit spontan atau kelainan periapikal yang terdeteksi pada gambaran radiografi.Pengurangan gigi yang berlebihan . Penyebab: . Penyebab : - Instruksi tidak adekuat pada prosthesis hygiene atau pasien dengan implementasi rendah Protesa yang menghalangi oral hygiene yang baik o Adaptasi marginal buruk o Permukaan axial over kontur o Konektor terlalu besar sehingga membatasi embrasur pada servikal o Kontak pontik yang besar pada puncak edentolous o Protesa dengan permukaan yang kasar sehingga menyebabkan akumulasi plak 8 | Page . Penyebab : - Tepi retainer yang terlalu panjang Tepi retainer yang terbuka Kerusakan atau keausan pada retainer Oral hygiene yang buruk Kesalahan pemilihan retainer b.Trauma oklusal . Degenerasi pulpa Saat pemeriksaan pasien mengeluhkan adanya sensitivitas pada gigi abutment pasca insersi gigi tiruan jembatan. keterlibatan daerah furkasi.Karies pada gigi penyangga merupakan kegagalan biologis yang paling umum. baik secara langsung pada margin dari retainer atau tidak langsung dengan di tempat lain pada gigi dan menyebar ke permukaan casting atau mungkin disebabkan karena kegagalan sementasi. Kerusakan jaringan periodontal Pemeriksaan klinis menunjukkan adanya resesi gingiva.Keterlibatan semen c. Karies dapat mempengaruhi jembatan dalam beberapa cara.Panas yang berlebih pada saat preparasi .

kontak yang terbuka. Retainer yang longgar menyebabkan kerusakan yang cepat dari gigi abutment. maka preparasi - diperluas untuk menutupi defek.Appabila area tersebut tidak dapat diakses maka gigi tersebut harus diekstraksi. Mobilitas tiap bagian akan menyebabkan kegagalan tersebut. Apabila perforasi terletak lebih ke oklusal ligamen periodontal. kegoyangan gigi.Jumlah gigi abutment kurang d. 2) Kegagalan mekanis a. b.Fraktur koronal 9 | Page .Trauma oklusi . Pasien mungkin menyadari kelonggaran atau sensitivitas terhadap suhu atau permen. fraktur cusp.. kertas artikulasi. . e. Fraktur gigi . f. rasa nyeri pada saat di perkusi. c. Perforasi gigi Lubang pasak atau pasak yang digunakan dalam restorasi dengan pin retained - yang teletak salah dapat menyebabkan perforasi lateral. Masalah oklusal Kegagalan gigi tiruan jembatan yang berhubungan dengan masalah oklusal dapat ditandai dengan adanya facet yang besar. dan keterlibatan nyeri pada otot-otot pengunyahan. Fraktur konektor Rangka jembatan atau konektor yang kaku seperti patutan yang disolder dapat patah. Apabila perforasi meluas ke ligamen periodontal maka dilakukan bedah periodontal untuk menghaluskan atau menempatkan restorasi pada area perforasi. yang harus dibedakan dari gejala serupa yang disebabkan oleh kebersihan atau periodontal masalah mulut yang buruk. atau malam indikator oklusal. juga mungkin ada rasa tidak enak yang berulang dan bau. Kehilangan retensi Hal ini terjadi akibat pengaruh beban oklusi yang tidak seimbang pada bagian lain dari gigi tiruan jembatan. tetapi perlu diperiksa juga gangguan oklusi dengan palpasi jari. Intrusi gigi pendukung Intrusi gigi pendukung dapat terjadi karena perubahan yang terjadi dimana posisi gigi pendukung menjauhi bidang oklusal.

Fraktur akar Fraktur akar sering terjadi pada gigi yang mengalami trauma. Gigi tiruan jembatan yang lepas dari penyangga Gigi tiruan jembatan yang lepas dari gigi penyangga dapat terjadi karena sebagai berikut : . Fraktur juga dapat disebabkan karena preparasi gigi yang berlebihan sehingga menyebabkan struktur gigi tidak mampu untuk menahan beban oklusal. sehingga lentur dan patah pada porselen. Pengecoran logam yang terlalu tipis tidak cukup mendukung porselen. Sebagian besar fraktur porcelain fused to metal dapat dikaitkan dengan karakteristik desain yang tidak tepat dari kerangka logam atau masalah yang berhubungan dengan oklusi. e. finishing atau aplikasi dari porselen dapat menyebabkan kontaminasi logam. Restorasi all ceramic umumnya gagal karena kekurangan dalam preparasi gigi atau adanya gaya oklusal yang berat. yang mengarah ke kegagalan. Kegagalan penyemenan juga dapat terjadi karena teknik sementasi yang buruk. maka harus diekstraksi dan dibuatkan protesa baru. Fraktur porselen Fraktur porselen terjadi baik dengan logam keramik dan restorasi all ceramic. Fraktur juga dapat terjadi selama perawatan endodontik akibat preparasi yang berlebihan. dan kekuatan kohesif semen yang terbatas. porselen yang tidak didukung oleh logam dalam porcelain fused to metal mungkin patah karena kegagalan kohesif dalam porselen. f. Sudut yang tajam atau sudut tajam atau daerah yang sangat kasar dan tidak teratur di atas area pelapisan bertindak sebagai titik konsentrasi tegangan yang menyebabkan penjalaran retak dan patah keramik. Apabila fraktur akar terletak jauh dibawah tulang alveolar. Namun kelemahan utama dari semen resin yaitu perembesan H 2O yang menyebabkan peningkatan tekanan pada interface yang bertindak sebagai ruang hidrolik.Adanya torsi atau ungkitan 10 | P a g e . Penanganan yang tidak tepat dari alloy selama pengecoran. Semen resin dianggap paling kuat. d.Fraktur koronal dapat disebabkan karena karies pada gigi abutment. Kegagalan penyemenan Kegagalan penyemenan dapat disebabkan karena melonggarnya retainer karena retensi mekanis yang tidak memadai sebagai kekuatan adhesi kimia.

yang menghasilkan warna jaringan lunak yang tidak wajar atau bentuk yang estetis tidak dapat diterima b. Salah satunya adalah gigi tiruan konvensional yakni removable partial denture dengan desain pendukung gigi tiruannya adalah gigi asli (tooth borne). Untuk cengkram digunakan jenis cengkram 3 jari pada gigi 28. Di samping itu. sehingga pencocokan warna tidak dapat diterima. Ketidakcocokan warna Ketidakcocokan warna disebabkan oleh sebagai berikut : - Ketidakmampuan operator untuk mencocokkan gigi alami pasien dengan - tersedia warna porselen. Hilangnya facing (porcelain) Hilangnya facing atau lapisan estetik dapat disebabkan karena kurangnya retensi. dan pemberian rest oklusal pada gigi 24. Pembuatan alternatif lain dapat terjadi jika memperhatikan pertimbangan kondisi gigi dan jaringan lunak sekitarnya.- Kesalahan teknik penyemenan (bahan semen kurang baik atau pengadukan - yang kurang sempurna) Terlarutnya semen karena terbukanya tepi restorasi Gigi penyangga goyang Gigi penyangga mengalami karies Kesalahan dalam pemilihan retainer Restorasi tidak akurat 3) Kegagalan estetis a. perubahan dari kerangka logam. 2. gigi alami mengalami perubahan warna yang tidak terjadi - dalam porselen. Pilihan warna yang tidak memadai karena metamerism. Bentuk margin atau bentuk serviks dari protesa dapat meningkatkan akumulasi plak. hal ini dikarenakan tidak adanya multi treatment pada GTSL konvensional. Pengurangan gigi tidak cukup atau kegagalan untuk karena bentuk yang salah - atau desain kerangka yang menampilkan logam. menyebabkan inflamasi gingiva. Pada overdenture sebelumnya perlu dilakukan perawatan 11 | P a g e . half jackson pada gigi 16. Kelebihan dari GTSL yaitu : - Harga lebih murah. maloklusi dan pengolahan bahan pelapis yang salah serta keausan bahan. dapat dilakukan pencabutan pada gigi 25 dan 27. Sebelum pembuatan GTSL konvensional.

sehingga menambah - biaya perawatan. Secara teknis lebih sederhana dan tidak diperlukan preparasi yang dapat melukai 3. jika menggunakan overdenture. gigi yang dipertahankan dan menyisakan permukaan akar akan lebih berisiko terjadinya karies sekunder jika tidak ada OH yang baik - serta penutupan yang sempurna pada akar yang terkespos. Usaha pencegahan yang dilakukan terhadap kegagalan gigi tiruan jembatan adalah: a. b. dari gingiva pasien. Dokter gigi mengetahui dengan baik prosedur perawatannya c. Resiko karies yang tinggi. Pasien menjaga oral hygiene dengan baik agar tidak ada akumulasi plak 12 | P a g e . Mengetahui pemilihan jumlah dan distribusi gigi pendukungPemilihan jumlah dan distribusi gigi pendukung yang baik dapatmengurangi resiko terjadinya kegagalan gigi tiruan jembatan.endodontik karena mengurangi mahkota klinis gigi asli. Berpotensi terjadinya pendarahan pada gingiva. Pembersihan dapat mudah dilakukan karena desain yang lepas-pasang dan dapat - dibersihkan sebelum ataupun sesudah penggunaan. idealnya dua pendukung digunakan untuk satu pontik yangterletak pada ujung-ujungnya. Hukum Ante tetapmerupakan acuan utama untuk menentukan distribusi jumlah gigi yang tepat padagigi tiruan jembatan.

Mahasiswa mampu mengetahui. Mahasiswa mampu mengetahui. memahami dan menjelaskan penatalaksanaan dari kegagalan gigi tiruan tetap sesuai dengan kasus di skenario dan penatalaksanaan rencana perawatan pada kegagalan gigi tiruan tetap selanjutnya 13 | P a g e .Step 4 Kegagalan Perawatan Gigi Tiruan Tetap Karies Promotif (DHE) Fraktur Discomfotation Kelainan Jaringan Penyangga Preventif Kuratif Ekstraksi Retreatment PSA Kehilangan Perlekatan Pembuatan Protesa Baru Step 5 1. memahami dan menjelaskan macam dan penyebab dari kegagalan gigi tiruan tetap 2.

vulva. Pelestarian Jaringan mulut yang masih tinggal Pemakaian geligi tiruan berperan dalam mencegah atau mengurangi efek yang timbul karena kehilangan gigi. 3. artinya ia mampu kembali mengucapkan kata-kata dan berbicara dengan jelas. Komponen GTT :  gigi penyangga (abutment) yaitu gigi asli atau akar gigi yang digunakan untuk  menyangga GTT retainer yaitu mahkota yang dilekatkan pada gigi penyangga. 2. Peningkatan Fungsi Bicara / Fonetik Alat bicara dibagi dalam dua bagian. Mencari Keserasian oklusi Harus ada keserasian geligi terhadap sendi temporomandibula. Alat bicara yang tidak lengkap dan kurang sempurna dapat mempengaruhi suara penderita. terutama bagi lawan bicaranya. Ini terjadi kalau mandibula dapat menutup langsung dalam oklusi sentris tanpa danya kontak prematur mandibula. 5. atau terselipnya makanan di bagian yang tidak bergigi 4.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Kesulitan bicara dapat timbul. pontik yaitu bagian GTT yang menggantikan gigi yang hilang  konektor yaitu yang menghubungkan retainer dengan pontik Menurut Prayitno (dalam Taqwim 2008). Dalam hal ini geligi tiruan dapat meningkatkan dan memulihkan kemampuan bicara. misalnya pasien yang kehilangan gigi depan atas dan bawah. tujuan dari perawatan gigi tiruan jembatan yaitu : 1. Jadi terdapat keserasian antara geligi dengan sendi dan otot kunyah. bibir. bagian yang bersifat statis. meskipun hanya bersifat sementara. tali suara dan mandibula. Keadaan seperti ini disebut keserasian oklusi. palatum dan tulang alveolar. Perbaikan dan Peningkatan Fungsi Pengunyahan Jika ada gigi yang hilang otomatis pola kunyah terganggu. yaitu lidah. Pencegahan Migrasi Gigi 14 | P a g e . biasanya digunakan dengan pontik yang didesain untuk memenuhi fungsi dan juga estetika dari gigi yang hilang tersebut.1 Gigi Tiruan Tetap Pengertian Gigi Tiruan Tetap (GTT) adalah gigi tiruan yang menggantikan satu atau lebih gigi yang hilang yang dilekatkan pada gigi asli. yaitu gigi. Pertama. Kedua yang bersifat dinamis.

karena pasien berusaha menghindari kontak prematur ini. Bila perlekatan periodontal gigi-gigi ini kuat. Dengan demikian terbukalah kesempatan makanan terjebak disitu. misal penyiar tv atau guru dan lainlain. Terutama berhubungan dengan profesi penderita yang harus selalu berhadapan dengan khalayak ramai. 15 | P a g e . Walaupun beban oklusal sekarang berkurang. tetapi tetap ingin memperbaiki penampilan wajahnya. susunan. Pemulihan Fungsi Estetik Alasan utama seorang pasien mencari perawatan prostodontik biasanya karena masalah estetik. Pembuatan restorasi pada kasus seperti ini menjadi rumit dan perlu waktu lama. baik yang disebabkan hilangnya. sepanjang penampilan wajahnya tidak terganggu. Bila overerupsi ini sudah demikian hebat sehingga menyentuh tulang alveolar pada rahang lawannya. apalagi bila sebelumnya sudah ada penyakit periodontal. Akhirnya gigi jadi goyang dan miring.Bila sebuah gigi dicabut atau hilang. maka akan terjadi kesulitan untuk pembuatan protesa di kemudian hari. sehingga mudah terjadi akumulasi plak interdental. dalam jumlah besar sekalipun. 6. Keadaan ini memperburuk kondisi periodontal. Peningkatan Distribusi Beban Kunyah Hilangnya sejumlah besar gigi mengakibatkan bertambah beratnya beban oklusal pada gigi yang masih tinggal. Manfaat Psikologik Terutama kehilangan gigi depan dapat membawa dampak psikologik pada penderita yaitu karena estetika terganggu. Membiarkan ruang bekas gigi begitu saja akan mengakibatkan pula terjadinya overerupsi gigi antagonis dengan akibat serupa. 8. berubah bentuk. Overerupsi gigi pada keadaan tertentu dapat pula mengakibatkan terjadinya kontak oklusi premature atau interfernsi oklusal. warna maupun berjejalnya gigi geligi. Hal ini menjurus kepada peradangan jaringan periodontal serta dekalsifikasi permukaan proksimal gigi. Migrasi seperti ini pada tahap selanjutnya menyebabkan renggangnya gigi lain. beban berlebih tadi akan menyebabkan abrasi berlebih pula pada permukaan oklusal/insisal atau merusak restorasi yang dipakai. Penderita dengan gigi depan malposisi. biasanya dibuatkan suatu geligi tiruan imidiat yang dipasang langsung segera setelah pencabutan gigi. Perubahan pola ini mungkin saja menyebabkan disfungsi otot kunyah. gigi tetangganya dapat bergerak memasuki ruang kosong tadi. 7.pr otr usif atau berjejal dan tak dapat diperbaiki dengan perawatanort odontik. Nampaknya banyak sekali pasien yang dapat menerima kenyataan hilangnya gigi. Pola kunyah jadi berubah. terutama ke labial untuk gigi depan atas.

d. Rata-rata permukaan-permukaan ini dikurangi 0. Paralisme dinding aksial : Makin paralel makin kuat Pengerucutan preparasi dinding aksial 3-5 derajat Bila sudut > 5 derajat makin mudah lepas Bila sudut < 3 pada waktu penyemenan semen tidak dapat keluar : Pencetakan Teknik Pencetakan / retraksi gingiva: periksa keadaan gigi & karingan lunak sekitarnya harus sehat.5 sampai 1 mm. Permukaan-permukaan tersebut sebaiknya memiliki kemiringan 5 derajat ke arah permukaan oklusal Langkah II : a. Jurusan pemotongan harus sesuai dengan arah jurusan masuk mahkota. Langkah III : a. Cara Retraksi gingiva: 1.2.2 Perawatan Gigi Tiruan Tetap Tahap 1 : Preparasi Gigi Penyangga Langkah I : a. Retraksi gingiva adalah Usaha pendorongan gingiva gigi penyangga ke arah lateral dengan maksud agar tepi akhir preparasi gigi dapat tercetak dengan baik. bebas dari radang tepi preparasi harus rapi. Daerah preparasi keringkan 16 | P a g e . c. dimulai pada marginal ridge. Langkah IV: Mengurangi permukaan oklusal Dengan bur intan bentuk buah pir pada airotor dan buang substansi gigi 0. Penggerindaan ini menghasilkan suatu permukaan dinding yang lurus rata sampai ke permukaan gusi. Untuk mendapatkan retensi gesekan (trictional retention) yang cukup.5 mm dari permukaan oklusal. Bagian 2/3 gingiva dngan kemiringan 5 derajat. Tahap 3 : Pengecekan hasil preparasi. Pengurangan permukaan lingual Gunakan bur turpedo sampai diperoleh bentuk chamfer. Tahap 2 a. penggerindaan bertujuan untuk menghilangkan kecembungan permukaan bukal dan undercut dan diperoleh bentuk chamfer. bagian 1/3 oklusal sebaiknya melengkung ke dalam untuk menyesuaikannya dengan permukaan lingual. Mengurangi permukaan bukal Menggunakan bur turpedo. Mengurangi permukaan mesial dan distal Gunakan bur intan untuk membuat chamfer. Anestesi lokal agar tidak ngilu saat preparasi b. b. Lingir tepi dihilangkan seluruhnya tapi bila tidak permukaan yang dipreparasi sebaiknya mengikuti konfigurasi tonjol aslinya. a.

Kemudian cetakkan kedalam mulut pasien Cor cetakan dengan hard stone. hue (merah atau kuning). Aduk light body. b. letakkan didasar sendok cetak yang tujuannya untuk menstabilkan kedudukan sendok cetak didalam mulut. Cara Mencetak: 1. 6. 17 | P a g e . Bahan cetak double impression dengan tenik one stage/ phase (direct)  Putty (kotak) : aduk bahan putty. 2. masukkan kedalam injeksi kemudian injeksikan ke gigi yang telah dipreparasi pada mulut pasien. Setelah preparasi selesai. 8. chroma(kepekatan warna).2. 4. Masukkan cetakan putty tadi ke dalam mulut. Tahap 4 : Pemilihan warna gigi Sesuai dengan warna gigi tetangga dengan bantuan pedoman warna (shade guide) untuk menentukan value (tingkat warna gelap ke terang). setelah homogen masukan ke dalam injeksi kemudian injeksikan ke gigi yang telah dipreparasi tadi. Setelah keras keluarkan dari mulut pasien. Tahap 5 : Temporary Bridge Dilakukan wax up pada work model untuk proses Bridge. Pada bagian anterior gigi yang dipreparasi tidak perlu dicekungkan. 7. 5. kemudian aduk light body yang terdiri dari basa dan katalis. ambil perbandingan 1:1 rubber base : katalis lalu aduk hingga warna berubah hijau. lalu letakkan pada dasar sendok cetak dan pada daerah yang telah dipreparasi  harus dicekungkan untuk menyediakan bahan yang kedua. Bahan double impression dengan teknik two phase Aduk bahan putty sampai homogen letakkan ke sendok cetak. Selanjutnya lakukan wax up pada model kerja untuk proses bridge. maka pasien dipasangkan mahkota sementara. 3. kemudian dilakukan pemilihan warna gigi yang sesuai dengan gigi asli. setelah homogen. Benang direndam dengan bahan kimia selama 2 menit Potong benang 5 cm seperti U Tempatkan melingkar pada gigi penyangga Tekan benang ke dalam celah gusi dengan plastis instrumen Penekanan dimulai dari mesio-proksimal terus palatal akhirnya ke distal Kembali ke permukaan bukal sampai mesio proksimal Potong kelebihan benang. sisanya pada   bagian yang dicekungkan tadi. Setelah mengeras ambil sendok cetak tersebut dari mulut pasien. setelah rata masukkan ke dalam mulut pasien tanpa melepas crown sementara.

Posisi harus sejajar dengan jarum pentul. Penanaman pin (bentuk retensi lingkaran). b. Pengisian gips keras (sampai linggir alveolar). Direct . Setelah penyemenan selesai. Indirect : lebih dari 1 x kunjungan Cetakan 1 isi dengan gips (model) . e. Pelindungan pulpa Stabilitas kedudukan Fungsi oklusal Mudah dibersihkan Tepi retainer yang tepat (tidak menyebabkan peradangan mukosa) Kekuatan dan retensi Estetis (terutama pada gigi depan) Bahan : ethil metacrylate. isi cetakan 1 dengan self curing akrilik. Tusukkan jarum pentul pada posisi bukkal atau labial dan palatal atau lingual gigi yang telah dipreparasi dengan posisi tegak lurus. 2. Tandai lebar masing-masing gigi. 3. Penentuan letak pin. Pembuatan Die : bagian dari model kerja yang slicing untuk dapat dibuka dan dipasangkan lagi pada model yang bertujuan untuk membuat mahkota terutama bagian proksimal Cara Kerja : 1. sisasisa semen dihilangkan sebab dapat mengiritasi jaringan lunak. f. 3. cetakan 2 (isi dengan gips/model 2) .   Pencetakan gigi yang telah dipreparasi dengan bahan rubber base (silicon). Tahap 6 : Proses Laboratorium Proses laboratorium a. masukkan catakan 1 ke dalam mulut (pada gigi yang dipreparasi) 2. 4. tandai lebar gigi (bagian proximal). c.  Sisa gips dibuat bulatan-bulatan kecil 18 | P a g e . tanamkan pin. methyl metacrilate Cara pembuatan: 1. kemudian di preparasi. g. lalu preparasi . Dicampur sedikit vaselin untuk mengurangi kekuatan semen dan akan mempermudah pembongkaran kembali nantinya.Jembatan sementara yang baik adalah mampu memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Penyemenan jembatan sementara : dengan semen zinc oxide eugenol yang cukup tebal. lalu masukkan cetakan 1 pada model 2. d. epimine resin.  Setelah gips keras. lebih dari 1 x kunjungan Cetak gigi sebelum preparasi.

pola malam harus mencapai kontak yang baik. 2. Jika pola malam berkontak berlebihan maka untuk koreksinya taburkan bedak. Lepaskan pola malam dari dai. b. 5. 3.  Olesi permukaan gigi dengan vaselin menggunakan kuas kecil. trimming tepat di bawah servikal dengan kedalaman 1 mm. 5. letakkan pada ujung pin. Boxing dan pembuatan basis  Dengan menggunalan base plate wax setelah cetakan di boxing. Gips mengeras. Periksa hubungan dengan gigi tetangga. Pembuatan Model/ pola malam mahkota/ bridge & pembuatan pontik: Pembuatan pola malam (retainer dan pontik) diusahakan: 1.  Ambil wax merah (bulatkan). lalu siapkan kontak bentuk garis antara logam dengan mukosa labial/bukal berbentuk cembung atau lurus. Pada bridge. Pada bridge bentuk pola pontik sesuai dengan bentuk anatomis gigi yang digantikan. Kontak oklusal merata dengan gigi lawan 2. sifatnya self cleansing Cara kerja : 1. Penanaman dalam Kuvet (Flasking) Cara kerja : 19 | P a g e . Pengurangan dimensi buko-palatal untu mengurangi beban kunyah (long span bridge) Pembuatan pontik : dengan jenis ridge lap pontik dengan bahan kombinasi metal keramik (porselen fused to metal). Oleskan permukaan preparasi pada die dengan air sabun. lepaskan jarum pentul dengan menggunakan bur bulat. Panaskan malam. 7. 6. tunggu sampai kering. Prossesing Mahkota dan Bridge 1. letakkan pada model kerja. Trimming die  Menggunakan bur bulat. buat lekukan setengah lingkaran. dengan bantuan sonde. c. 4. Gunakan lekron untuk mengukir mahkota atau bridge. Penggergajian  Buat pola : garis dengan pensil pada model di sisi mesial dan distal gigi yang diperbaiki  Gergaji sampai batas gips keras 7. 6. sambungkan pontik dengan gigi penyangga.

 Pasang dan tutup kuvet atas lalu press. kontak proksimal antara tepi mahkota jaket dengan gigi sebelahnya 20 | P a g e . tunggu keras. Try in bridge yang harus diperhatikan adalah keadaan estetis (warna dan bentuk). rubbercup.  Olesi model malam dengan gips menggunakan kuas. dipres agar tidak lepas. dan mengkilatkan mahkota (stone bur.  Pasang kuvet atas dan isi dengan gips.  Dinginkan permukaan kuvet. 4. 6. 3. dibuka lalu wax dihilangkan dengan mengalirkan air  panas. Polishing  Menghaluskan. sambil mengetok kuvet. Pengisian akrilik (Prossesing)  Kuvet dalam keadaan dipress dimasukkan ke dalam wadah perebusan  Polimerisasi dengan cara direbus 1 jam 5. tutup dengan kuvet atas. Model malam atau die ditanamkan di tengah kuvet bawah yang telah diisi   gips putih dengan bagian labial menghadap ke atas. wax harus sudah tidak ada lagi dalam permukaan gips. Membuka kuvet (Deflasking)  Keluarkan model (dai) dengan tang potong gips atau gergaji kecil. Permukaan gips dihaluskan. 7. Pengisian aklirik yang sudah diaduk. Permukaan gips dan model malam diolesi vaselin sebagai separating medium. Tutup bagian atas aklirik dengan selopan atau plastic. Finishing  Membersihkan sisa aklirik dengan bur protesha (cardide bur. Setelah kuvet dibuka. press lalu buka dan potong kelebihan aklirik dengan pisau model. melicinkan. Mengeluarkan malam (Wax Elimination) Cara kerja :  Kuvet direbus utnuk mengeluarkan malam atau kuvet yang dipres dan gips sudah mengeras.  Gips yang masih melekat dibersihkan dengan brush. disc bur) dan kertas pasir. wool bur dengan bubuk pumis) Tahap 7 : Pemasangan / insersi dan penyemenan 1. 2. Pengisian aklirik (Packing)  Ruangan cetakan model malam (mould) dan sekitarnya diolesi Could   Mould Seal (CMS) tunggu kering.

Macam dan penyebab kegagalan gigi tiruan tetap a) Perasaan tidak nyaman (discomfort ) Perasaan tidak nyaman saat menggunakan GTJ dapat ditimbulkan karena adanya :  Kontak prematur oklusi yang tidak sesuai  Penimbunan sisa makanan di bagian retainer ataupun pontik (pada celah – celah gigi atau embrasur)  Tekanan yang terlalu berat atau tidak ada kontak 21 | P a g e . Penyemenan Bridge a. 2. cara mengaduk ZnPO4 :  Letakkan powder dan liquid pada glass plate 1:1  Aduk sengan semen spatel.dan tidak boleh menekan gingiva serta pemeriksaan kontak oklusal dan kontak marginal. 2. powder mencapai liquid sedikit demi  sedikit hingga homogen Siap masuk ke dalam crown apabila semen ditarik sudah terbentuk  benang dan tidak putus Semenkan ada gigi penyangga dengan ditekankan dan pasien disuruh menggigit kapas  Setelah semen mengeras bersihkan sisa semen  Periksa oklusi sebelum pasien pulang  Operator perlu memberi tahu cara membersihkan jembatan tersebut. Kegagalan sementasi Jemabaatn patah secara mekanikal Iritasi dan resesi gingiva Kelainan jaringan periodontal Karies Nekrosis pulpa BAB III PEMBAHASAN 1. 4. 6. Kegagalan yang mungkin terjadi : 1. 3. Menggunakan zinc phospat cement. Instruksi untuk memelihara gigi tiruan jembatan yang telah dipasangkan :  Penyikatan yang baik ( tekanan ringan dan sikat yang lunak)  Pemakaian dental floss. Mahkota bridge dibersihkan dan disterilkan lalu dikeringkan . gigi yang akan dipasangi mahkota bridge juga dikeringkan b. oral irigating & alat pembersih lainnya yangberfungsi untuk membersihkan daerah yang sukar terlihat (daerah interdetal/ dasar pontik) Tahap 8 : kontrol Kontrol dilakukan untuk mengatahui kesalahan atau kegagalan dalam perawatan. 5. 3.

kertas 22 | P a g e . Hanya pontik. Kemudian dibuat mahkota lapis porcelen dengan kunci yang melewati mesial ke distal yang tepat masuk pada bar dan disemen dengan semen fosfat. dkk. 1994). Malam untuk mengganti bagian yang hilang dapat membantu memperlihatkan gangguan oklusi yang terjadi. Penyemenan yang dilakukan pada GTJ yang kurang tepat dapat mengakibatkan tarikan atau dorongan pada gigi penyangga. tetapi perlu diperiksa juga gangguan oklusi dengan palpasi jari (selagi oklusi). Apabila facing telah terkikis atau hilang. Komposit merupakan bahan utama untuk perbaikan tambahan dan tersedia screw pin repair kit. b. Kadang – kadang rangka pontik yang ada dapat diasah menjadi bentuk bar yang bebas dari gigi oklusi sekurang – kurangnya 1 mm. d) Kegagalan mekanis Kegagalan mekanis anatara lain dapat disebabkan karena fraktur konektor dan retainer yang longgar. sebaiknya oklusi diperiksa dengan cermat. Mobilitas tiap bagian akan menyebabkan kegagalan tersebut.  shock termis maupun rasa sakitpada daerah servikal gigi b) GTJ lepas dari gigi penyangga GTJ yang terlepas dari penyangga dapat terjadi karena :  Torsi atau ungkitan  Kesalahan teknik penyemenan (bahan semen yang kurang baik atau pengadukan      yang kurang sempurna) Terlarutnya semen karena terbukanya tepi restorasi Gigi penyangga goyah Gigi penyangga mengalami karies Kesalahan dalam pemilihan retainer Restorasi tidak akurat c) Hilangnya facing (porcelen) Hilangnya facing atau lapisan estetik dapat disebabkan karena :  Kurangnya retensi  Perubahan bentuk dari kerangka logam  Maloklusi  Pengolahan bahan pelapis yang salah dan keausan bahan Hilangnya facing ini dapat diperbaiki dengan cara : a. (Allan. Retainer atau pontik.  Fraktur konektor Rangka jembatan atau konektor yang kaku seperti pertutan yang disolder dapat patah..

1994). mungkin penderita meras tidak enak. tetapi biasanya jembatan memerlukan preparasi untuk jalan masuk (Allan. Biasanya perlu mencari tamabahan gigi – gigi abutment yang lebih sesuai atau mempertimbangkan protesa lepasan (Allan. seringkali dimungkinkan untuk melakukan perawatan endodontik dengan baik. Kadang – kadang tambalan servical cukup dalam mengatasi masalah ini. Jembatan dpata digerakkan secara manual ke atasa dan ke bawah. Sebaliknya. Karies pada abutment ini disebabkan karena :  Tepi retainer yang terlalu panjang  Tepi retainer terbuka  Kerusakan atau keausan pada retainer  Oral hygiene yang buruk  Kesalahan pemilihan retainer f) Pulpa (Endodontik) Perawatan endodontik mungkin diperlukan pada gigi yang sebelumnya vital sewaktu jembatan dibuat. Maslah ini memerlukan pengeluaran jembatan dan analis kegagalan (Allan. atau malam indicator oklusal. kemungkina hal ini telah dirasakan penderita. Untuk memperbaiki hal ini. mungkin jemabatan harus dibuat kembali  Retainer yang longgar Jika salah satu retainer longgar pada abutment.. dkk. 1994). Juga sebagaimana biasa. dkk.. dkk. atau jika gigi abutment vital. 1994). perlu dilakukan sondasi disekeliling tepi perifer semua retainer. berarti jembatan menahan beban terlalu besar karena oklusi taumatis atau kekuatan yang tidak memadai pada pemilihan gigi – gigi abutment. g) Struktur pendukung (periodontik) Sebaiknya hal ini ditelusuri dalam hubungannya dengan keadaan umum periodontal. Jika terjadi nekrosis pulpa karena karies. 1994). dan terlihat saliva keluar masuk pada sambungan.artikulasi. jembatan perlu dikeluarkan dnan dilakuakan pembuangan semua jaringan karies (Allan. dkk. jika struktur gigi masih sehat.. 23 | P a g e . Pemeriksaan dilakukan pada semua jembatan dengan mencari adanya lubang di retainer logam dan dilakukan sondasi untuk menemukan karies yang sering terjadi. karena adanya kebocoran cairan.. Jika baik. melalui jalan masuk kavitas pada retainer jembatan (dan bahkan digunakan pasak penguat bila diinginkan). terutamapada karies dpat terlihat. e) Karies pada abutment (gigi penyangga) Mungkin penderita tidak menyadarai adnya karies dibawah retainer.

1 Penatalaksanaan dari kegagalan gigi tiruan tetap sesuai dengan kasus di skenario: Perawatan lanjutan yang dilakukan pada skenario tersebut adalah Gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) karena kondisi gigi 25 dan 27 yang sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Sifat termis 24 | P a g e . resesi gingiva dan karies permukaan akar pada bagian bukal dan palatal. Mekanis  Memiliki daya tahan abrasi yang baik  Modulus elasticitysama dengan enamel dan dentin 4. radiolucent berbatas jelas pada apikal. Atas dasar diatas perawatan lanjutan yang dilakukan pada kasus diskenario adalah Gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) dengan dilakukan perawatan pendahuluan dengan ekstraksi gigi 25 dan 27. Kelarutan  Bahan tersebut harus tahan terhadap saliva ( tidak larut dalam saliva) 3. Sedangkan pada gigi 27 terdapat adanya fraktur pada akar palatal. Pada gigi tersebut sudah tidak dapat dipertahankan lagi dikarenakan sudah dilakukan perawatan endodontik berupa pemasangan pasak yang sudah menunjukan kegagalan berupa gambaran radiolucent berbatas jelas di apikal yang berarti sudah terjadi infeksi lagi pada gigi tersebut.2.2 Penatalaksanaan rencana perawatan pada kegagalan gigi tiruan tetap selanjutnya: A. 2. resorbsi tulang alveolar sampai 2/3 panjang akar gigi. 2. tampak fraktur pada retainer dan karies permukaan akar pada gigi 25. Gigi tersebut jelas sudah tidak dapat dipertahankan dikarenakan kondisinya yang sangat parah. Perawatan yang dapat dilakukan pada gigi tersebut adalah ekstraksi dan tidak dapat lagi dijadikan gigi abutment pada GTJ. Perawatan bahan Syarat-syarat bahan secara umum adalah memiliki aspek: 1. Perawatan yang dapat dilakukan jika gigi ingin dipertahankan adalah dengan endodontik bedah dimana dilakukan apeks reseksi namun jika dilakukan apeks reseksi. Biologis  Non iritan  Non toksik  Kariostatik 2. gigi tersebut sudah tidak dapat dijadikan abutment Gigi tiruan jembatan GTJ kembali karena rasio apeks dan mahkotanya kurang dari persyaratan. radiolucent pada bagian apikal gigi. Pada gigi 25 menunjukan post perawatan endodontik dengan pemasangan pasak.

keuntungan yang lain adalah logam dan emas tidak korosif dan tidak berkarat. Koefisien muai panas sama dengan enamel dan dentin. All porcelain bridge Bahan porselen adalah bahan yang sangat populer saat ini. All metal bridge Gigi tiruan permanen yang terbuat dari logam atau emas mempunyai kekuatan yang sangat bagus bahkan dapat bertahan sampai bertahun-tahun. Keberhasilan atau gagalnya gigi tiruan cekat tergantung pada beberapa factor diantarnya meliputi:  25 | P a g e Kondisi mulut pasien . Perawatan pendahuluan Perawatan pendahuluan adalah tindakan yang dilakukan terhadap gigi. 4. Macam – macam bahan gigi tiruan : 1.Harganya pun murah tetapi tampilan menarik.Biasanya diindikasikan pada gigi posterior dan kontraindikasinya adalah gigi abutmen yang digunakan mempunyai ketebalan dentin yang kecil. 5. Memiliki estetika yang sangat baik dan cukup kuat untuk dapat disemen dengan semen gigi tradisional. dalam rangka mempersiapkan mulut untuk menerima gigi tiruan. In Ceram (keramik bridge) Terbuat dari porselen alumina yang sangat tangguh.Kekurangan dari bahan porselen ini bersifat rapuh dan sehingga tidak dapat diasah dan tidak dapat diletakkan pada permukaan kunyah gigi belakang. 2. jaringan lunak maupun keras.Kekuatannya lebih besar daripada akrilik tetapi tidak sekuat logam. namun mudah berubah warnanya. 3. Tetapi gigi tiruan dari bahan logam dan emas tampilan warnanya sangat berbeda dengan gigi asli. Kelebihannya adalah pilihan gradasi warna yang sangat estetis dan permukaannya mengkilat. Kelebihan dari bahan akrilik warnanya dapat disesuaikan dengan gigi asli. B.Bahan porselen sulit dibedakan dengan gigi yang asli. All acrylic bridge Bahan akrilik biasanya digunakan untuk pembuatan mahkota jaket sementara (menunggu mahkota jaket permanen). Kombinasi (porselen dan metal) Porcelain fuse to metal adalah jenis hibrida antara mahkota logam dan mahkota porselen.

Hal ini berguna untuk mendapatkan jaringan yang sehat pada gigi yang ada sehingga dapat memberikan dukungan dan fungsi yang baik untuk gigi tiruan. pembuatan dan pelaksanaan persiapan didalam mulut yang teliti adalah sangat mendasar. 2. seperti tambalan menggantung. yaitu: o o o o o Menghilangkan kalkulus Menghilangkan pocket periodontal Memperbaiki tambalan yang tidakbaik. Keuntungan dari perencanaan. Tindakan-tindakan yang berhubungan dengan perawatan jaringan pendukung gigi abutment. Tindakan Prostetik Setelah semua gigi penyangga dan jaringan pendukungnya dievaluasi tahap berikutnya adalah pembuatan gigi tiruan cekat yang baru. Setelah dilakukan perawatan pendahuluan yang baik. prognosa yang baik untuk suatu restorasi. Preparasi yang tepat akan mengarahkan gaya pengunyahan. karena gigi tiruan dapat bertindak sebagai pengganti fungsi gigi yang hilang dan mengembalikan kesehatan jaringan mulut. sehingga desain gigi tiruan akan mendukung satu sama lain. yang menjamin kesehatan gigi dan jaringan pendukungnya. Gaya yang seimbang dan didistribusikan dengan sesuai dapat membantu mempertahankan struktur rongga mulut yang masih ada dan restorasi. Antara lain : o Penambalan gigi yang karies o Pembuatan inlay. C. Menghilangkan gangguan oklusal Mengevaluasi keadaan jaringan periodontal gigi abutment secara radiografi juga perlu dilakukan untuk menilai apakah gigi tersebut masih dapat digunakan sebagai penyangga atau tidak. juga untuk menciptakan kondisi oklusi normal. Akhirnya keadaan ini dapat menghasilkan ramalan. Keadaan periodontal gigi abutment Tujuan perawatan pendahuluan selain untuk mengadakan sanitasi mulut. dsb 3. Pemilihan desain Pertimbangan Pemilihan Desain Dasar Gigi Tiruan Cekat 26 | P a g e . barulah dapat dilakukan pengambilan cetakan pada pasien untuk pembuatan gigitiruan. Perawatan ini meliputi: 1. Tindakan Konservasi Sebelum merencanakan gigitiruan harus diketahui perbaikan yang akurat terhadap gigi-gigi yang ada.

27 | P a g e .1. Desain Retainer a. b. Extra Coronal Retainer Yaitu retainer yang meliputi bagian luar mahkota gigi. dapat berupa: 1) Full Veneer Crown Retainer  Indikasi: • Tekanan kunyah normal/besar • Gigi-gigi penyangga yang pendek • Intermediate abutment pasca perawatan periodontal • Untuk gigi tiruan jembatan yang pendek maupun panjang  Keuntungan • • • Indikasi luas Memberikan retensi dan resistensi yg terbaik Memberikan efek splinting yg terbaik  Kerugian: • Jaringan gigi yg diasah lebih banyak • Estetis kurang optimal (terutama bila terbuat dari all metal) 2) Partial Veneer Crown Retainer  Indikasi : • Gigi tiruan jembatan yang pendek • Tekanan kunyah ringan/normal • Bentuk dan besar gigi penyangga harus normal • Salah satu gigi penyangga miring  Keuntungan • Pengambilan jaringan gigi lebih sedikit • Estetis lebih baik daripada FVC retainer  Kerugian: • Indikasi terbatas • Kesejajaran preparasi antar gigi penyangga sulit • Kemampuan dalam hal retensi dan resistensi kurang • Pembuatannya sulit (dlm hal ketepatan). Intra Coronal Retainer Yaitu retainer yang meliputi bagian dalam mahkota gigi penyangga.

Desain Pontik a.  Indikasi: • Gigi penyangga yang telah mengalami perawatan syaraf • Gigi tiruan pendek • Tekanan kunyah ringan • Gigi penyangga perlu perbaikan posisi/inklinasi  Keuntungan: • Estetis baik • Posisi dapat disesuaikan  Kerugian: • Sering terjadi fraktur akar 2. Bentuk: • Onlay • Inlay MO/DO/MOD  Indikasi: • Gigi tiruan jembatan yang pendek • Tekanan kunyah ringan atau normal • Gigi penyangga dengan karies kelas II yang besar • Gigi penyangga mempunyai bentuk/besar yang normal  Keuntungan: • Jaringan gigi yang diasah sedikit • Preparasi lebih mudah • Estetis cukup baik  Kerugian: • Indikasi terbatas • Kemampuan dlm hal retensi resistensi kurang • Mudah lepas/patah c. Dowel retainer Adalah retainer yang meliputi saluran akar gigi. Berdasarkan bahan Berdasarkan bahan pembuatan pontik dapat diklasifikasikan atas: 28 | P a g e . dengan sedikit atau tanpa jaringan mahkota gigi dengan syarat tidak sebagai retainer yang berdiri sendiri.

dasar pontik tidak berkontak samasekali dengan linggir alveolus sehingga terdapat ruangan/jarak antara dasar pontik dengan linggir alveolus (1-3 mm). dan permukaan dasar pontik cembung dalam segala aspek.  Kombinasi Logam dan Akrilik Pada kombinasi logam dan akrilik ini. yang setara dengan alloy emas tipe III. akrilik hanya berfungsi sebagai bahan estetika sedangkan logam yang memberi kekuatan dan dianggap lebih dapat diterima oleh gingival sehingga permukaan lingual/palatal dan daerah yang menghadap gusi dibuat dari logam sedangkan daerah labial/bukal dilapisi dengan akrilik. Dibandingkan dengan pontik lainnya. Berdasarkan hubungan dengan Jaringan Lunak 1) Pontik Sanitary Pada pontik ini.. Pontik Ridge Lap 29 | P a g e .  Pontik porselen Pontik jenis ini merupakan pontik dengan kerangka dari logam sedangkan seluruh permukaannya dilapisi dengan porselen.  Kombinasi Logam dan Porselen Pontik ini merupakan kombinasi logam dan porselen dimana logam akan memberikan kekuatan sedangkan porselen pada jenis pontik ini memberikan estetis.Alloy ini memiliki kekuatan dan kelenturan yang cukup sehingga tidak mudah menjadi patah atau berubah bentuk (deformasi) akibat tekanan pengunyahan. Pontik porselen mudah beradaptasi dengan gingival dan memberikan nilai estetik yang baik untuk jangka waktu yang lama. b. pontik akrilik lebih lunak dan tidak kaku sehingga membutuhkan bahan logam untuk kerangkanya agar mampu menahan daya kunyah / gigit..  Pontik akrilik Pontik akrilik adalah pontik yang dibuat dengan memakai bahan resin akrilik. Pontik logam Logam yang digunakan untuk membuat pontik pada umumnya terdiri dari alloy.

letak dan fungsinya dikenal istilah: 1. Terdapat 2 macam konektor. Single abutment hanya mempergunakan satu gigi penyangga 2. Dasar dari pontik berbentuk konkaf sehingga akan sulit melakukan pembersihan.Hal ini mengakibatkan estetis pada bagian labial/bukal lebih baik. sisa makanan masih mudah masuk ke bawah dasar pontik dan sulit untuk dibersihkan. Konektor (Connector) Merupakan bagian dari gigi tiruan jembatan yang menghubungkan pontik dengan retainer. Pontik jenis ini biasanya diindikasikan untuk jembatan anterior dan posterior. dan mudah dibersihkan pada bagian palatal. yakni: 1. Non Rigid Connnector 4. pontik ini dipasang segera setelah dilakukannya pencabutan dan pada pembuatan ini tidak menggunakan restorasi provisional. 4) Pontik Saddle Pontik ini menutup seluruh edentulous ridge dan merupakan bentuk pontik yang konturnya paling mirip dengan gigi asli. Pontik ini dibuat dengan cara bagian dasar pontik masuk ke dalam soket gigi yang baru dicabut kira-kira 2 mm. Double abutment bila memakai dua gigi penyangga 3. Terminal abutment 5. pontik dengan pontik atau retainer dengan retainer sehingga menyatukan bagianbagian tersebutuntuk dapat berfungsi sebagai splinting dan penyalur beban kunyah. Multiple abutment bila memakai lebih dari dua gigi penyangga 4.Bagian labial/bukal dari dasar pontik berkontak dengan linggir alveolus sedangkan bagian palatal menjauhi linggir ataupun sedikit menyentuh mukosa dari linggir. 3.Walaupun demikian menurut beberapa hasil penelitian. Penyangga (Abutment) Sesuai dgn jumlah. 2) Pontik Conical Root Pontik conical root biasanya diindikasikan untuk jembatan imediat yang dibuatkan atas permintaan pasien yang sangat mengutamakan estetis dalam kegiatan sehari-hari. Intermediate/pier abutment 30 | P a g e . Rigid connector 2.

Double splinted 31 | P a g e . Splinted abutment 7.6.

Penggunaan gigi tiruan tetap dapat mengalami kegagalan. biasanya digunakan dengan pontik yang didesain untuk memenuhi fungsi dan juga estetika dari gigi yang hilang tersebut.BAB IV KESIMPULAN Gigi Tiruan Tetap (GTT) adalah gigi tiruan yang menggantikan satu atau lebih gigi yang hilang yang dilekatkan pada gigi asli. perawatan lanjutan yang dilakukan pada skenario tersebut adalah gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) karena kondisi gigi 25 dan 27 yang sudah tidak dapat dipertahankan lagi. di antaranya: a) b) c) d) e) f) g) h) i) Perasaan tidak nyaman (discomfort ) GTJ lepas dari gigi penyangga Hilangnya facing (porcelen) Kegagalan mekanis Fraktur konektor Retainer yang longgar Karies pada abutment (gigi penyangga) Pulpa (Endodontik) Struktur pendukung (periodontik) Untuk kasus pada skenario. 32 | P a g e .

Hal 571-580. W. Louis: C.DAFTAR PUSTAKA Andajani. Lindahl. Deepak. Volume 1. Cunningham.V. and Johnston. J. 9th ed. Mosby Company. Penanggulangan Kerusakan Gigi yang Parah dengan Gigi Tiruan Tumpang. A. T. 1959:169-77. Ilmu Geligi Rancangan Pembuatan. Hal: 271-285. Jakarta : EGC 33 | P a g e Tiruan Jembatan: Pengetahuan Dasar dan .D. Birmingham: Churcill Livingstone. Fixed and Removable Prosthodontics. 1980. Volume 2. 1964.W. Bandung: Yabina. Removable Denture Prosthetis.M.F. 1993. 1994. Prajitno. Ewing JE. 1995. Majalah Kedokteran Gigi. 4th ed. Removable Partial Prosthodontics. D.B Saunders Company. hal 115 Dykema. MMcCracken’s. 1998. Fixed Partial Prosthesis. 1978. Philadelphia. 2003. Nallaswamy. McGraw-Hill Book Company Inc. R. Jakarta: Majalah Ilmiah Kedokteran Gigi Usakti. 2nd ed. Herman. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers.London.Toronto: W. Walmsley. St. Textbook of Prostodontics. E.W. C. Modern practice in removable partial prosthodontics. H.L. Barclay.R. Philadelphia: Lea & Febinger.