Anda di halaman 1dari 42

PENGEMBANGAN EVALUASI DAN PROSES PEMBELAJARAN FISIKA

Perbandingan Penilaian, Asesmen, Pengukuran dan Testing, Bentuk dan
Jenis Asesmen, Fungsi Penilaian, Validitas, Reliabilitas,
Bias dan Standart Error

Oleh :
ERNITA SUSANTI
NIM. 15175009
Pendidikan Fisika (S2) Kelas A
Dosen:
Prof. Dr. Festiyed, M.S
Dr. Djusmaini Djamas, M.Si

PENDIDIKAN FISIKA (S2)
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang senantiasa
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Perbandingan Penilaian, Asesmen, Pengukuran dan
Testing, Bentuk dan Jenis Asesmen, Fungsi Penilaian, Validitas, Reliabilitas, Bias
dan Standart Error” yang dibimbing oleh Ibu Prof. Dr. Festiyed, M.S dan Ibu Dr.
Hj. Djusmaini Djamas. Penulis menuliskannya dengan mengambil dari beberapa
sumber baik dari buku maupun dari internet dan membuat gagasan dari beberapa
sumber yang ada tersebut. Penulis berterima kasih kepada beberapa pihak yang
telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Penulis juga menyadari bahwa
makalah yang penulis tulis ini masih banyak kekurangan. Karena itu sangat
diharapkan bagi pembaca untuk menyampaikan saran atau kritik yang
membangun demi tercapainya makalah yang lebih baik.

Padang,

Februari 2016

Penulis

1

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
A.
B.
C.
D.

Latar Belakang .....................................................................................
Tujuan Penulisan ..................................................................................
Ruang Lingkup ....................................................................................
Manfaat Penulisan ...............................................................................

1
2
2
2

BAB II KAJIAN TEORI................................................................................ 3
A.
B.
C.
D.
E.

Tes.........................................................................................................
Pengukuran...........................................................................................
Penilaian...............................................................................................
Evaluasi.................................................................................................
Bias dan Standar Error..........................................................................

3
10
12
20
24

BAB III PEMBAHASAN............................................................................... 28
A. Perbandingan Evaluasi, Penilaian, Pengukuran dan Tes...................... 28
B. Hubungan Evaluasi, Penilaian, Pengukuran, dan Tes .......................... 29
C. Perbandingan Teori dengan Fakta di Lapangan.................................... 32
BAB IV KESIMPULAN................................................................................. 38
A. Kesimpulan...........................................................................................` 38
B. Saran..................................................................................................... 38
DAFTAR PUSTAKA

...............................................39

2

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Evaluasi merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dalam sistem
pendidikan saat ini. Dapat diketahui bahwa evaluasi memiliki peran yang penting
yaitu sebagai alat ukur kulitas pendidikan. Selain dari istilah evaluasi, dikenal pula
beberapa istilah lainnya yaitu penilaian, pengukuran dan tes, ketiga istilah ini
tidak asing bagi bagi guru. Diantra ketiga istilah tersebut tes merupakan istilah
yang paling akrab dengan guru. Hal ini disebabkan karena tes sering dipakai oleh
guru untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik. Penilaian pencapaian
kompetensi merupakan proses sistematis dalam mengumpulkan, menganalisis dan
menginterpretasi informasi untuk menentukan sejauh mana peserta didik telah
mencapai tujuan pembelajaran. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No. 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan, penilaian
pencapaian

kompetensi

pada

jenjang

pendidikan

dasar

dan

menengah

dilaksanakan oleh pendidik, satuan pendidikan, Pemerintah dan/atau lembaga
mandiri. Penilaian pencapaian kompetensi oleh guru dilakukan untuk memantau
proses, kemajuan, perkembangan pencapaian kompetensi peserta didik sesuai
dengan potensi yang dimiliki dan kemampuan yang diharapkan secara
berkesinambungan. Penilaian juga dapat memberikan umpan balik kepada guru
agar dapat menyempurnakan perencanaan dan proses pembelajaran. Tes sering
dipertukarkan pemakainnya oleh guru dengan konsep pengukuran hasil belajar.
Dengan demikian perlu adanya upaya untuk memperkenalkan kepada guru
pengertian dan esensi tentang konsep evaluasi, penilaian, pengukuran dan tes yang
sesungguhnya. Sehingga tidak terjadinya pertukaran pemakaian oleh guru. Selain
dari itu dengan pemahaman tersebut juda dapat mendukung keberhasilan guru
dalam melaksanakan penilaian pembelajaran di dalam kelas.
Oleh karena itu penulis pada makalah ini akan dibahas mengenai
perbandingan penilaian, asesmen, pengukuran dan testing, bentuk dan jenis
asesmen, fungsi penilaian, validitas, reliabilitas, bias dan standart error serta
hubungan antara evaluasi, penilaian, pengukuran dan tes.

1

pengukuran dan tes.2 B. reliabilitas. reliabilitas. validitas. penilaian. validitas. penilaian. . reliabilitas. maka penulisan makalah ini diiharapkan dapat menambah ilmu dan wawasan tentang perbandingan penilaian. bentuk dan jenis asesmen. bias dan standart error serta hubungan antara evaluasi. Manfaat Penulisan Sesuai dengan tujuan. pengukuran dan testing. bentuk dan jenis asesmen. asesmen. pengukuran dan testing. C. pengukuran dan tes. fungsi penilaian. pengukuran dan testing. fungsi penilaian. bias dan standart error serta hubungan antara evaluasi. asesmen. penilaian. bias dan standart error serta hubungan antara evaluasi. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan dapat dirumuskan permasalahan dalam penulisan makalah ini yaitu bagaimana perbandingan penilaian. bentuk dan jenis asesmen. Tujuan Penulisan Merujuk pada rumusan masalah maka tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui perbandingan penilaian. pengukuran dan tes. fungsi penilaian. D. asesmen. validitas.

BAB II 3 .

Menurut Rusli (2000: 21) tes adalah sebuah instrumen yang dipakai untuk memperoleh informasi tentang seseorang atau objek. Jenis-jenis Tes Menurut A. Muri (2005: 110) secara sedehana beberapa pengklasifikasian tes adalah sebagai berikut: a. Istilah ini kemudian digunakan dalam bidang psikologi yaitu suatu cara untuk menyelidiki seseorang. Tes pada umumnya digunakan untuk meningkatkan pembelajaran. Pengertian Testing Istilah tes diambil dari kata testum suatu pengertian dalam bahasa Perancis kuno yang berarti piring untuk menyisihkan logam-logam mulia. Melalui tes guru dapat mendeteksi berhasil tidaknya pembelajaran yang telah dilakukan. Adapun defenisi tes menurut Arikunto (2009: 52) tes adalah alat atau prosedur yang digunkan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana. Melalui tes guru dapat mendeteksi peserta didik yang sudah menguasai dan yang belum menguasai pembelajaran. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan tes adalah sebuah instrumen yang berisi himpunan pertanyaan digunakan untuk mengukur dan memperoleh informasi di bidang pendidikan. tes dapat dbedakan atas dua kelompok 1) Physical test (tes fisik) . harus ditanggapi. Sedangkan menurut Sudaryono (2012: 101) tes merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab. Penyelidikan tersebut dilakukan mulai dari pemberian tugas kepada seseorang untuk menyelesaikan suatu masalah tertentu. dengan cara dan aturan yang sudah ditentukan. Tes 1. atau tugas yang harus dilaksanakan oleh orang yang dites.4 KAJIAN TEORI A. Tes digunakan untuk mengukur sejauh mana seorang peserta didik telah menguasai pelajaran yang disampaikan terutama meliputi aspek pengetahuan dan keterampilan. Dari segi yang diukur. Melalui tes guru dapat memperoleh informasi tentang berhasil tidaknya peserta didik dalam menguasai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. 2. Selanjutnya Anas (2007: 67) menyatakan bahwa tes adalah cara (yang dapat dipergunakan) atau prosedur (yang perlu ditempuh) dalam rangka pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan.

baik dengan tulisan tangan maupun menggunakan komputer. seperti tes buatan guru atau tes lokal d. dapat berupa kemampuan dan pencapaian/ prestasi. Dari segi hakekat pengukuran itu sendiri. b. 3) Tes perbuatan Tes perbuatan mengacu pada proses penampilan seseorang dalam melakukan sesuatu unit kerja. 2) Tes lisan Tes lisan dilakukan dengan pembicaraan atau wawancara tatap muka antara guru dan murid. tes dapat ditujukan untuk mengetahui: 1) Maximum performance test Tes yang disusun untuk mengetahui penampilan maksimum dari seseorang. . Dari segi baku/ tidaknya. 2) Typical performance Tes yang disusun dengan tujuan untuk mengetahui penampilan dari seseorang yang bersifat khas dalam situasi rutin atau dalam situasi normal.5 Dilakukan untuk mengukur dan menilai karakteristik fisik seseorang. Dari segi bentuk soal dan kemungkinan jawabannya. c. Tes essay ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan dalam menjelaskan atau mengungkapkan suatu pendapat dalam bahasa sendiri 2) Tes objektif Tes objektif adalah tes yang disusun sedemikian rupa dan telah disediakan alternatif jawabannya. tes dapat dibedakan atas: 1) Tes standar adalah tes yang telah diakui riliabelitas dan validitasnya. sehingga mengerjakan soal atau menjawab ujian pada kertas ujian secara tertulis. mengorganisasikan sendiri jawaban tiap pertanyaan itu dengan bahasa sendiri. e. tes dapat dibedakan atas: 1) Tes essay Tes Essay adalah tes yang disusun dalam bentuk pertanyaan terstruktur dan peserta didik menyusun. Tes perbuatan mengutamakan pelaksanaan perbuatan peserta didik. Dari segi bentuk pelaksanaannya. 2) Tes yang belum standar. tes dapat dibedakan atas: 1) Tes tertulis Tes tertulis dalam pelaksanaannya lebih menekankan pada penggunaan kertas dan pensil sebagai instrumen utamanya. 2) Phychological test (tes psikologis) Dilakukan untuk mengetahui karakteristik psikologis seseorang.

emosi.6 f. 3. maka tes dapat dibedakan atas: 1) Tes formatif Tes Formatif. tes dapat dibedakan atas: 1) Tes verbal Tes yang didalam menjawab pertanyaan. 2) Tes kelompok Tes yang diberikan kepada lebih dari satu orang atau sejumlah orang pada suatu waktu. Dari tingkat kesukaran. Jika dikaitkan dengan fungsi tes di sekolah. baik dalam bentuk tertulis maupun percakapan 2) Tes non verbal Tes yang diberikan kepada responden yang tidak mamp menulis dan membaca menggunakan bahasa. Dari segi kepada tes diberikan. 2) Tes kekuatan Tes yang diberikan memilki tingkat kesukaran yang lebih tinggi. fisik dan lain-lain yang mengganggu kegiatan belajarnya g. yaitu tes yang diberikan untuk memonitor kemajuan belajar selama proses pembelajaran berlangsung 2) Tes sumatif Tes Sumatif diberikan dengan maksud untuk mengetahui penguasaan atau pencapaian peserta didik dalam bidang tertentu. tes dapat dibedakan atas: 1) Tes kecepatan Tes yang memiliki tingkat kesukaran rendah dan peserta didik harus menjawab tes tersebut dalam waktu yang terbatas. tes dapat dibedakan atas: 1) Tes individual Tes yang dberika pada seorang peserta didik pada satu waktu atau tes yang diberikan secara perorangan. h. Tes sumatif dilaksanakan pada tengah atau akhir semester 3) Tes penempatan Tes penempatan adalah tes yang diberikan dalam rangka menentukan jurusan yang akan dimasuki peserta didik atau kelompok mana yang paling baik ditempati atau dimasuki peserta didik dalam belajar 4) Tes diagnostik Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mendiagosis penyebab kesulitan yang dihadapi seseorang baik dari segi intelektual. menggunakan bahasa. Ciri-ciri Tes yang Baik . lebh teknis dengan waktu terbatas. Dari penggunaan bahasa. i.

b. Sedangkan menurut . validitas suatu instrumen merujuk pada ketepatan suatu instrumen mengukur apa yang ingin diukur. kedua penganalisaan yang dilakukan dengan mendasarkan kenyataan empiris. Oleh karena itu. yaitu memiliki: Validitas. berdasarkan materi yang disampaikan dalam pembelajara dan diharapkan dikuasai oleh peserta didik. Valid Suatu tes dikatakan valid apabila tes itu betul-betul mampu mengukur dan menilai apa yang ingin diukur dan atau dinilai.) Validitas konstruk Menurut A. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan validitas isi adalah validitas yang dilihat dari isi tes tersebut mewakili yang akan diukur. afektif maupun psikomotor.7 Menurut Arikunto (2009:57). Objektivitas. Praktikabilitas. Pertama dilakukan dengan jalan berpikir secara rasional menggunakan logika. Validitas logis sama dengan analisis kualitatif terhadap sebuah soal. baik yang berhubungan dengan aspek-aspek kognitif. Validitas sebuah tes dibedakan menjadi dua yaitu validitas empiris dan validitas logis. Ekonomis. Reliabilitas. Sedangkan menurut Sumarna (2004: 50) validitas adalaah suatu konsep yang berkaitan dengan sejauh mana tes telah mengukur apa yang seharusnya diukur. Sedangkan menurut Sudaryono (2012: 140) validitas isi adalah validitas yang dilihat dari segi isi tes itu sendiri sebagai alat ukur hasil belajar yaitu sejauh mana tes tersebutdapat mewakili secara representatif terhadap keseluruhan materi.) Validitas isi Menurut A. Sedangakan menurut A. Penganalisaan terhadap tes dapat dilakukan dengan dua cara. sebuah tes dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memenuhi persyaratan tes. yaitu untuk menentukan berfungsi tidaknya suatu soal berdsarkan kriteria yang ditentukan. baik melalui uji coba maupun melalui tes atau pengukuran yang sesungguhnya. Sedangkan validitas empiris ditentukan berdasarkan data hasil ukur instrumen yang bersangkutan. Muri (2005: 65) validitas isi dipandang dari segi alat ukur itu sendiri. Muri (2005: 60) tes yang baik hendaklah memenuhi bebrapa syarat sebagai berikut: a. 1) Pengujian validitas tes secara rasional a. Muri (2005: 65) validitas konstruk adalah merupakan konsep atau pemikiran cerdas tentang suatu objek.

Reliabel Suatu tes yang baik harus valid dan reliabel.8 Sumarna (2004: 53) validitas konstruk mengandung arti bahwa suatu alat ukur dikatakan valid apabila telah cocok dengan konstruksi teoritik dimana tes itu dibuat. afektif maupun psikomotor. konsistensi. Misalnya.) Validitas Bandingan (concurent validity) Validitas concurrent. Sedangkan menurut Sudaryono (2012: 144) validitas ramalan adalah suatu kondisi yang menunjukkan seberapa jauh sebuah tes telah dapat dengan secara tepat menunjukkan kemampuannya untuk meramalkan apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. 2) Pengujian tes secara empiris a. membandingkan hasil tes dari soal yang sedang dicari validitasnya dengan hasil tes dari soal standar.berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan validitas ramalan adalah validitas yang dapat meramalkan dan memprediksikan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang b. Suatu tes yang valid adalah reliabel. tetapi suatu tes yang reliabel belum tentu valid.) Validitas ramalan (predictive validity) Menurut Sumarna (2004: 54) suatu tes dikatakan memiliki validitas ramalan. Menurut A. Jika terdapat korelasi yang positif antara kedua tes tersbut. atau stabilitas hasil instrumen pengukuran yang dilakukan. apabila mempunyai keampuan untuk memprediksikan apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. berarti soal tes yang dibuat mempunyai validitas concurrent. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan suatu tes memiliki validitas konstruk apabila tes tersebut dapat mengukur setiap aspek berpikir baik itu aspek kognitif. . Muri (2005: 61) reliabelitas suatu instrumen menunjuk kepada ketetapan. apabila tes tersebut mempunyai kesesuaian dengan hasil pengukuran lain yang dilaksanakan saat itu. Menurut Sumarna (2004: 56) salah satu cara untuk menentukan validitas alat ukur adalah dengan menggunakan korelasi product moment dengan simpangan yang dikemukakan oleh Person seperti berikut: r xy = ∑ xy √(∑ x 2)(∑ y 2 ) b.

d. selama aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum berubah. Norma alat ukur ditentukan oleh tujuan yang ingin dicapai. penyusunan kisi-kisi soal bertujuan untuk merumuskan setepat mungkin ruang lingkup. Norma Norma dapat diartikan sebagai patokan. c. mudah dapat diartikan dalam pengolahannya sedangkan murah merujuk kepada biaya pelaksanaannya. 4. kriteria atau ukuran yang digunakan untuk menentukan standar minimal batas lulus peserta ujian. Praktis Suatu tes dikatakan praktis apabila biaya alat ukur itu mudah dan murah. Objektif Objektif alat ukur menunjuk kepada kesamaan skor atau diagnosis yang diperoleh dari data yang sama apabila dilakukan oleh penskor/ penilai dengan kualitas yang sama. 2) Menyusun kisi-kisi soal. Langkah-langkah Menyusun Tes Dalam merencanakan dan menyusun tes agar diperoleh tes yang baik. serta dapat diamati dan dapat di ukur. e.9 Sedangkan menurut Sudaryono (2012: 155) suatu tes hanya dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama. Pengembangan spesifikasi tes Spesifikasi tes adalah suatu ukuran yang menunjukkan keseluruhan kualitas tes dan ciri-ciri yang harus dimiliki oleh tes yang akan dikembangkan. tekanan dan bagian-bagian . Dengan kata lain penilai harus manilai apa adanya tanpa dipengaruhi oleh apapun. Dapat disimpulkan suatu tes dapat dikatakan reliabel apabila tes tersebut relatif memberikan hasil yang sama. adapun tahap yang dilakukan yaitu: a. diperoleh hasil pengukuran yang relatif sama. harus jelas dan dapat dimengerti. bersifat menguraikan hasil belajar. Hal yang perlu diperhatikan adalah dalam pengembangan spesifikasi tes adalah: 1) Menentukan tujuan. mengandung kata kerja yang jelas (kata kerja operasional). tujuan pembelajaran yang baik hendaklah berorientasi kepada peserta didik.

e. untuk soal objektif dapat diketahui melalui uji coba atau dapat juga diperkirakan berdasarkan berat ringannya beban penyeleaian soal tersebut 5) Merencanakan banyak soal 6) Merencanakan jadwal penerbitan soal b. tujuan evaluasi. ditinjau dari segi isi/materi. yaitu menguji validitas soal yang bertujuan untuk mencermati apakah butir-butir soal yang disusun sudah tepat untuk mengukur tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan. kegiatan ini sangat penting jika soal yang dibuat akan dibakukan. 4) Merencanakan tingkat kesukaran soal. 3) Memilih tipe soal. Pengujian butir-butir soal secara empiris. Muri (2005: 12) pegukuran dalam proses pembelajaran merupakan suatu prosedur penerapan angka atau simbol terhadap . Menurut A. Penelaahan soal.10 tes sehingga perumusan tersebut dapat menjadi petunjuk yang efektif bagi penyusun tes. d. Arikunto dan Jabar (2004: 3) menyatakan pengukuran (measurement) sebagai kegiatan membandingkan suatu hal dengan satuan ukuran tertentu sehingga sifatnya menjadi kuantitatif. Penganalisisan hasil uji coba Menyusun kembali butir setelah uji coba dengan membuang butir yang jelek dan menata butir yang baik B. skoring. kriteria dan psikologis. dalam memilih tipe soal perlu diperhatikan kesesuaian antara tipe soal dengan materi. c. penyelenggaraan tes. Pengertian Pengukuran Secara sederhana pengukuran dapat diartikan sebagai kegiatan atau upaya yang dilakukan untuk memberikan angka-angka pada suatu gejala atau peristiwa. pengelolaan hasil evaluasi. sebab soal merupakan wakil dari pendidik yang hadir dihadapan peserta didik oleh karena itu penulisan soal membutuhkan bahasa yang lugas dan tidak berbelitbelit. Pengukuran 1. serta ketersediaan dana dan kepraktisan. sehingga hasil pengukuran akan selalu berupa angka. atau benda. Penulisan soal Dalam menulis soal diperlukan kemampuan untuk membahas gagasan dalam bahasa verbal yang jelas dan mudah dipahami maksudnya.

yaitu: a. atau benda. Hasilnya dinyatakan secara kuantitatif artinya. Perbandingan antara atribut yang di ukur dengan alat ukurnya.easuring that characteristic. bukan sesuatu itu sendiri b. the characteristic is measurable. sehingga hasil pengukuran akan selalu berupa angka. Selain itu menurut Endang (2008:4) pengukuran dapat diartikan sebagai kegiatan atau upaya yang dilakukan untuk memberikan angka-angka pada suatu gejala atau peristiwa. Sedangkan menurut Ebel (dalam Zainal 2012: 3) mengemukakan: Measurement is process of assigning numbers to the individual members of objects or persons for the purpose of indicating differences among them in the degree to which they possess the characteristic being measured. Karakteristik Pengukuran Menurut Saifuddin Azwar (2010: 4-6) karekteristik dari pengukuran. . If any Characteristic of persons or things can be defined clearly enough so observed differences between them wuth respect to this characteristic can beb consistenly verified. hasil pengukuran berwujud angka c. Hasilnya bersifat deskriptif. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan pengukuran adalah kegiatan membandingkan suatu hal dengan ukuran tertentu dengan memberikan angka-angka untuk melihat tingkatan pencapaian peserta didik. maksudnya hanya sebatas memberikan angka yang tidak diinterpretasikan lebih jauh. A more refined type of measurement involves comparison of some characteristic of a thing with a preestablished standard scale for . Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan dimana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu. maksudnya apa yang di ukur adalah atribut atau dimensi dari sesuatu.11 suatu objek atau kegiatan maupun kejadian sesuai dengan aturan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat AlAnkabut ayat 2-3 (٤٩)‫نقندءر نخنلقننهاه نشقيءء هكنل إبننها نخنلقننهاه بب‬ Artinya : Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (Al Qamar: 49 2.

mutu program pendidikan atau mutu kurikulum. Penilaian 1. Meyeluruh berarti bahwa penilaian tidak hanya ditujukan pada penguasaan salah satu bidang saja. mutu input dan produk atau tentang penguasaan peserta didik berkenaan dengan sesuatu yang telah diajarkan padanya.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab I pasal 1 ayat 17 dikemukakan bahwa “penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik”. asesmen dapat diartikan sebagai proses untuk mendapatkan informasi dalam bentuk apapun yang dapat digunakan untuk dasar pengambilan keputusan tentang peserta didik baik yang menyangkut kurikulumnya. Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan penilaian (Assesmen) adalah . Menurut Depdikbud 1994 penilaian adalah suatu kegiatan untuk memberikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil yang telah dicapai peserta didik”. Muri (2005: 13) Assesmen dapat diartikan sebagai proses pengumpulan informasi yang digunakan untuk mengambil keputusan tentang kebijakan pendidikan. Secara umum. Selain itu menurut A. karena banyak informasi yang dibutuhkan. Sedangkan dalam PP. tetapi mencakup aspek pengetahuan. Dalam perkembangannya Assesmen digunakan terhadap semua aspek dalam bidang pendidikan.12 Dari ketiga karakteristik tersebut dapat dikemukakan bahwa pengukuran merupakan pengambilan keputusan yang menghasilkan sebuah angka tetapi angka yang diberikan tidak memberikan interpretasi lebih jauh. iklim sekolah maupun kebijakan-kebijakan sekolah. tetapi tidak dapat dikumpulkan melalui pengukuran. mutu proses pendidikan. mutu pendidikan. Pengertian Penilaian Istilah penilaian merupakan alih bahasa dari istilah assessment bukan dari istilah evaluation. C. keterampilan dan sikap. program pembelajarannya. Selanjutnya menurut Suharsimi (2009: 3) penilaian adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk dan bersifat kualitatif.

Sedangkan Kunandar (2013: 35) menjelaskan pengertian asesmen otentik yaitu: kegiatan menilai peserta didik yang menekankan pada apa yang seharusnya dinilai.13 proses penggumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik dengan ukuran baik dan buruk yang dilakukan secara menyeluruh. Penilaian yang digunakan mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan kurikulum. Penilaian yang digunakan dalam kurikulum 2013 menekankan pada keadaan nyata yang dilakukan peserta didik pada saat pembelajaran berlangsung atau biasa disebut dengan penilaian otentik. Prinsip umum dalam penilaian hasil belajar oleh guru adalah sebagai berikut: 1) Valid Penilaian harus mengukur objek yang seharusnya diukur dengan menggunakan jenis alat ukur yang tepat atau sahih (valid). baik proses maupun hasil dengan berbagai instrument penilaian yang disesuaikan dengan tuntutan kompetensi yang ada di Standar Kompetensi (SK) atau Kompetensi Dasar (KD) dan Kompetensi Inti (KI) Berdasarkan peryataan diatas dapat disimpulkan asesmen otentik adalah penilaian belajar yang merujuk pada situasi nyata yang sesuai dengan tuntutan kompetensi yang ada dan dapat menilai semua aspek dalam pembelajaran 2. Artinya. Apabila alat ukur tidak memiliki kesahihan yang dapat dipertanggungjawabkan. Prinsip-prinsip Penilaian Menurut Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 prinsip penilaian oleh guru meliputi prinsip umum dan prinsip khusus. ada kesesuaian antara alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran. 2) Mendidik . maka data yang masuk salah sehingga kesimpulan yang ditarik juga besar kemungkinan menjadi salah. Menurut Mueller dalam Abidin (2012: 168) penilaian otentik adalah: suatu penilaian belajar yang merujuk pada situasi atau konteks dunia “nyata” yang memerlukan berbagai macam pendekatan untuk memecahkan masalah yang memberikan kemungkinan bahwa satu masalah bisa mempunyai lebih dari satu macam pemecahan.

sehingga keputusan tentang keberhasilan peserta didik jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan. maka ukuran-ukuran keberhasilan pembelajaran akan dapat diketahui secara jelas dan terarah. 6) Berkesinambungan Penilaian harus dilakukan secara terus-menerus atau berkesinambungan dari waktu ke waktu. afektif. yang mencakup aspek kognitif. Dengan berpijak pada kompetensi ini. sikap. untuk mengetahui secara menyeluruh perkembangan peserta didik. Penilaian harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan untuk memotivasi peserta didik yang berhasil (positive reinforcement) dan sebagai pemicu semangat untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang berhasil (negative reinforcement).14 Penilaian harus memberikan sumbangan positif pada pencapaian hasil belajar peserta didik. sehingga keberhasilan dan kegagalan peserta didik harus tetap diapresiasi dalam penilaian. dan psikomotorik serta berdasarkan pada strategi dan prosedur . sehingga kegiatan dan unjuk kerja peserta didik dapat dipantau melalui penilaian. dapat menyebabkan menurunnya motivasi belajar peserta didik. tanpa membeda-bedakan jenis kelamin. latar belakang budaya. Oleh karena itu. Sebab ketidakadilan dalam penilaian. 4) Adil dan obyektif Penilaian harus mempertimbangkan rasa keadilan dan objektivitas peserta didik. 5) Terbuka Penilaian hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagai kalangan (stakeholders) baik langsung maupun tidak langsung. tanpa ada rekayasa atau sembunyi-sembunyi yang dapat merugikan semua pihak. 3) Berorientasi pada kompetensi Penilaian harus menilai pencapaian kompetensi peserta didik yang meliputi seperangkat pengetahuan. dan berbagai hal yang memberikan kontribusi pada pembelajaran. 7) Menyeluruh Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh. karena merasa dianaktirikan. dan ketrampilan/nilai yang terefleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.

3) Berkaitan dengan kemampuan peserta didik. 4) Berbasis kinerja peserta didik. yaitu pada setiap kali satuan pembelajaran atau subpokok bahasan berakhir atau dapat diselesaikan. 7) Memberi kebebasan peserta didik untuk mengkonstruksi responnya. 9) Mengembangkan kemampuan berpikir divergen. minat dan tingkat penguasaan peserta didik dalam pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan 9) Edukatif. Sedangkan prinsip khusus dalam penilaian hasil belajar oleh guru berisikan prinsip-prinsip penilaian autentik sebagai berikut. 10) Menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembelajaran. dan keterampilan. 6) Menekankan pada kegiatan dan pengalaman belajar peserta didik. 13) Terkait dengan dunia kerja. 8) Menekankan keterpaduan sikap.15 penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar peserta didik yang dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pihak. 1) Materi penilaian dikembangkan dari kurikulum. pengetahuan. Jenis-jenis Penilaian a. 14) Menggunakan data yang diperoleh langsung dari dunia nyata. . 8) Bermakna Penilaian diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak. 15) Menggunakan berbagai cara dan instrumen. 2) Bersifat lintas muatan atau mata pelajaran. Hasil penilaian hendaknya mencerminkan gambaran yang utuh tentang prestasi peserta didik yang mengandung informasi keunggulan dan kelemahan. penilaian dilakukan untuk kepentingan dan kemajuan peserta didik dalam belajar. sudah sejauh manakah peserta didik telah terbentuk (sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan) setelah mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. 5) Memotivasi belajar peserta didik. 3. Penilaian formatif biasanya dilaksanakan di tengah-tengah pembelajaran. Penilaian hendaknya mudah dipahami dan dapat ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Peilaian Formatif Menurut Anas (2007: 71) penilaian formatif adalah penilaian hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui. 11) Menghendaki balikan yang segera dan terus menerus. 12) Menekankan konteks yang mencerminkan dunia nyata. Untuk itu.

Penilaian Sumatif Menurut Anas (2007: 23) penilaian sumatif adalah penilaian yang dilaksanakan setelah sekumpulan proses pembelajaran selesai diberikan. dan digunkana untuk memperbaiki proses pembelajaran. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahawa penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan pada akhir proses pembelajaran selama periode tertentu misalnya penilaian di akhir semester untuk mengetahui hasil yang dicapai oleh peserta didik. Pelaksanaan . Penilaian Diagnostik Penilaian diagnostik adalah penilaian yang bertujuan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan peserta didik serta faktor-faktor penyebabnya. b. melalui penilaian formatif peserta didik dapat mengetahui butir-butir soal mana yang belum dikuasai dan soal mana yang telah dipahami dengan baik. Sedangkan menurut Ngalim (2006:26-27) penilaian sumatif adalah penilain yang dilakukan untuk memperoleh data/informasi sampai dimana penguasaan/pencapaian belajar peserta didik selama periode tertentu.16 Sedangkan menurut Ngalim (2006: 26) penilain formatif adalah penilaian yang dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh feed back. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwasa penilaian formatif adalah penilaian yang dilakukan pada saat berlangsungnya proses pembelajaran atau setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan/topik agar peserta didik dan guru memperoleh informasi (feedback) mengenai kemajuan yang telah dicapai Adapun manfaat penilaian formatif bagi guru dan bagi peserta didik adalah sebagai berikut: 1) Bagi guru. c. Adapun tujuan utama dari penilaian sumatif ini adalah untuk menentukan nilai yang melambangkan keberhasilan peserta didik setelah mereka menempuh program pengajaran dalam jangka waktu tertentu. antara lain: (1) guru mengetahui sejauh mana pembelajaran dikuasai oleh peserta didik (2) guru dapat memperkirakan hasil penilaian sumatif 2) Manfaat bagi peserta didik. yakni seberapa jauh peserta didik telah mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum. Dengan kata lain penilaian dilaksanakan setelah seluruh pokok pembelajaran selesai diajarkan.

Hasil dari penilaian ini digunakan untuk menentukan nilai rapor kenaikan kelas dan keberhasilan belajar peserta didik. d.17 penilaian diagnostik bertujuan untuk keperluan bimbingan belajar. Diagnostik. sehingga peserta didik mengalami kesulitan. Penempatan. d. dan mendeteksi kebutuhan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. hambatan atau gangguan dalam proses pembelajaran. pengetahuan dan keterampilan pada setiap kegiatan penilaian selama proses pembelajaran dalam satu semester. untuk mengetahui masalah-masalah yang dialami atau mengganggu peserta didik. Penialain Penempatan Penilaian penempatan adalah penilaian yang dilaksanakan untuk mengetahui keterampilan prasyarat yang diperlukan bagi suatu proses pembelajaran dan penguasaan pembelajaran sebelum memulai kegiatan belajar. untuk mengetahui keadaan peseta didik sepintas termasuk keadaan seluruh pribadinya sehingga peserta didik dapat ditempatkan pada . memantau hasil belajar. menemukan kesulitan-kesulitan dalam proses pembelajaran. 4. remedial. Soal -soalnya disusun sedemikian rupa agar dapat ditemukan jenis kesulitan belajar yang dihadapi oleh peserta didik. Adapun fungsi dari penilaian adalah sebagai berikut: a. Sumatif. c. Tujuan utama penilaian ini adalah untuk mengetahui apakah peserta didik telah memiliki keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mengikuti suatu program pembelajaran. Hasil penilaian ini digunakan untuk memberikan pembelajaran remedial dan perbaikan RPP serta proses pembelajaran yang dikembangkan oleh guru untuk pertemuan berikutnya. satu tahun pembelajaran. b. untuk menentukan keberhasilan belajar peserta didik pada akhir suatu semester. Penilaian ini berorientasi kepada kesiapan peserta didik untuk menghadapi pembelajaran baru dan kecocokan program belajar dengan kemampuan peserta didik. Formatif. Fungsi Penilaian Menurut Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 penilaian hasil belajar oleh pendidik memiliki fungsi untuk memantau kemajuan belajar. atau massa pendidikan di satuan pendidikan. untuk memperbaiki kekurangan hasil belajar peserta didik dalam sikap.

c. kesanggupan. c. tengah semesteran. Diagnostik. 6. bertujuan untuk mengetahui taraf hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik setelah melakukan program pembeljaran dalam satu semester. penilaian bertujuan untuk: a. Menetapkan ketuntasan penguasaan kompetensi belajar peserta didik dalam kurun waktu tertentu. Teknik dan Instrumen Penilaian . dan masa studi satuan pendidikan. minat. Penempatan bertujuan untuk menempatkan peserta didik pada tempatnya yang sebenar-benarnya berdasarkan bakat. Formatif. serta keadaan diri peserta didik sehingga peserta didik tidak mengalami hambatan dalam mengikuti pelajaran atau setiap program bahan yang disajikan guru serta menempatkan peserta didik dalam situasi belajar mengajar yang tepat baginya. yaitu harian.18 posisinya. Misalanya peserta didik yang berbadan kecil tidak ditempatkan di belakang agar tidak mengalami kesulitan dalam pembelajaran. 5. Menetapkan program perbaikan atau pengayaan berdasarkan tingkat penguasaan kompetensi bagi mereka yang diidentifikasi sebagai peserta didik yang lambat atau cepat dalam belajar dan pencapaian hasil belajar. Memperbaiki proses pembelajaran pada pertemuan semester berikutnya. dan keterampilan yang sudah dan belum dikuasai seorang/sekelompok peserta didik untuk ditingkatkan dalam pembelajaran remedial dan program pengayaan. b. akhirtauhn atau akhir program pembelajaran pada suatu unit pendidikan tertentu. b. Mengetahui tingkat penguasaan kompetensi dalam sikap. Adapun tujuan penilaian menurut Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 penilaian hasil belajar oleh pendidik memiliki tujuan untuk: a. bertujuan untuk membantu kesulitan atau mengatasi hambatan yang dialami peserta didik waktu mengikuti kegiatan pembelajaran pada suatu bidang study atau keseluruhan program pembelajaran d. pengetahuan. satu tahunan. Sumatif. satu semesteran. bertujuan pengambilan keputusan terhadap hambatan-hambatan yang dialami sehingga secara dini dapat mengadakan perbaikan yang mendukung kelancaran pencapaian tujuan program. Tujuan Penilaian Berdasarkan jenisnya. kemampuan. d.

2) Penilaian diri. Penilaian diri digunakan untuk memberikan peguatan terhadap kemajuan proses belajar peserta didik 3) penilaian teman sebaya Penilaian teman sebaya atau antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi 4) penilaian jurnal. Penilaian Kompetensi Pengetahuan Penilaian kompetensi pengetahuan dapat dilakukan melalui tes tertulis. dan keterampilan. penilaian produk. penilaian diri. penilaian teman sebaya dan penilaian jurnal. baik yang terkait dengan mata pelajaran maupun secara umum. tanya jawab dan percakapan serta penugasan. Penilaian kompetensi keterampilan dapat dilakukan dengan unjuk kerja/kinerja/praktik. Instrumen yang digunakan antara lain daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik yang hasil akhirnya dihitung berdasarkan modus. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk menilai sikap peserta didik. 1) Observasi. observasi terhadap diskusi. pengetahuan. selama dan di luar proses pembelajaran mata pelajaran b. antara lain melalui observasi. dan tertulis . Jurnal merupakan kumpulan rekaman catatan guru dan/atau tenaga kependidikan di lingkungan sekolah tentang sikap dan perilaku positif atau negatif. Penilaian Kompetensi Sikap Sikap berhubungan dengan ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup seseorang. portofolio. Penilaian Kompetensi Keterampilan Kompetensi keterampilan terdiri atas keterampilan abstrak dan keterampilan kongkret. Penilaian yang dilakukan dengan cara merekam sikap dan perilaku keseharian peserta didik melalui pengamatan dengan menggunakan format yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati. penilaian projek. c. Adapun teknik dan istrumen penilaian yang dapat dilakukan adalah: a.19 Kurikulum 2013 menerapkan penilaian autentik untuk menilai kemajuan belajar peserta didik yang meliputi sikap.

kata evaluasi berasal dari bahasa inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran. bukan penilaian. maka istilah yang tepat yang digunakan adalah penilaian. Evaluasi . Selain itu evaluasi juga dapat dipandang sebagai proses merencanakan. Secara garis besar dapat dikatakan evaluasi adalah pemberian nilai terhadap kualitas sesuatu. Muri (2005: 27) evaluasi pendidikan adalah proses untuk mengambarkan. untuk menilai pekembangan peserta didik dalam proses pembelajaran dilaksanakanlah evaluasi pendidikan. memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat keputusan-keputusan. misalnya hasil belajar. istilah yang tepat untuk menilai sistem pembelajaran tersebut adalah evaluasi. maupun assesment. evaluasi adalah suatu tindakan atau langkah mengukur (membandingkan sesuatu dengan satu ukuran dan bersifat kuantitatif) dan menilai (mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk dan bersifat kualitatif). Jika hal yang ingin dinilai suatu beberapa bagian/komponen pembelajaran. Menurut A. Evaluasi 1. bukan evaluasi. Jika hal yang ingin dinilai adalah sistem pembelajaran. misalnya semua komponen pembelajaran. Sedangkan menurut Anas (2007: 2). Pengertian Evaluasi Menurut bahasa. Dalam hubungan dengan kegiatan pembelajaran. selain itu evaluasi memiliki arti yang lebih luas dan lebih komprehensif dari pada pengukuran. Menurut Arikunto (2009:3). penilaian lebih terfokus pada aspek tertentu yang merupakan bagian dari ruang lingkup tersebut. Menurut Anas (2007:1). Menurut Zainal (2012: 3) evaluasi memiliki ruang lingkup yang lebih luas dari pada penilaian. Sedangkan menurut Menurut Hamzah (2012: 3) evaluasi adalah proses pemberian makna atau keteapan kualitas hasil pengukuran dengan cara membandingkan angka hasil pengukuran tersebut dengan kriteria tertentu Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan evaluasi merupakan suatu tindakan untuk mengukur dan menilai dan membandingkan hasil penilaian tersebut dengan kriteria tertentu.20 D. evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. mengumpulkan informasi yang berguna untuk penetapan alternatif-alternatif keputusan di bidang pendidikan.

Kontinuitas Evaluasi tidak boleh dilakukan secara incidental karena pembelajaran itu sendiri adalah suatu proses yang kontiniu. kepala sekolah. Oleh sebab itu. guru harus berlaku adil tanpa pilih kasih. c. Kooperatif Dalam kegiatan evaluasi hendaknya guru bekerja sama dengan semua pihak. dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan. Misalnya. 2. evaluasi pun harus dilakukan secara kontiniu. Adil dan Objektif Dalam melaksanakan evaluasi. e. termasuk dengan peserta didik itu sendiri. kewajiban manusia dalam berikhtiar. selain itu evaluasi pendidikan adalah usaha untuk memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) bagi penyempurnaan pendidikan. sesama guru. seperti orang tua peserta didik. Kata adil dan objketif memang mudah diucapkan. tetapi sulit dilaksanakan. jika objek evaluasi adalah peserta didik. Meskipun demikian. guru harus mengambil seluruh objek itu sebagai hasil evaluasi. Semua peserta didik harus diberlakukan sama “tanpa pandang bulu”. Prinsip-prinsip Evaluasi Menurut Zinal (2012: 30) untuk memperoleh hasil evaluasi yang baik.21 pendidikan adalah proses atau kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan. b. maka kegiatan evaluasi harus bertitik tolak dari prinsip-prinsip umum ssebagai berikut: a. Komprehensif Dalam melakukan evaluasi terhadap suatu objek. Dapat disimpulkan evaluasi pendidikan adalah kegiatan mengumpulkan informasi untuk menentukan kemajuan pendidikan dan penyempurnaan pendidikan. Hal ini dimaksudkan agar semua pihak merasa puas dengan hasil evaluasi. maka seluruh aspek kepribadian peserta didik itu harus dievaluasi. Praktis . Hasil evaluasi yang diperoleh pada suatu waktu harus senantiasa dihubungkan dengan hasil-hasil pada waktu sebelumnya sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas yang berarti tentang peserta didik. d.

Evaluasi program dibagi dalam lima jenis sebagai berikut: a. baik oleh guru itu sendiri yang menyusun alat evaluasi maupun orang lain yang menggunakan alat tersebut. diperlukan perbandingan antara jumlah biaya. Evaluasi Perencanaan dan Pengembangan Hasil evaluasi sangat diperlukan untuk mendesain program pembelajaran. tingkat keefektifan dan efisiensi. Sasaran utamanya adalah memberikan bantuan tahap awal dalam penyusunan program pembelajaran. bukan penilaian hasil belajar. Evaluasi efisiensi-ekonomis Evaluasi dimaksudkan untuk menilai tingkat efisiensi pelaksanaan program pembelajaran. tenaga dan waktu yang diperlukan dalam suatu program pembelajaran dengan program lainnya e. Hasil evaluasi ini sangat baik untuk mengetahui kemungkinan pemborosan sumber-sumber dana dan waktu pelaksanaan pembelajaran sehingga dapat dihindarkan. b. c.22 Praktis mengandung arti mudah digunakan. Evaluasi dampak Evaluasi ini dimaksudkan untuk memeriksa apakah dampak program pembelajaran. 4. d. Jenis-jenis Evaluasi Pembelajaran Menurut Zainal (2012: 33) evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran merupakan evaluasi program. 3. pelaksanaan program. Dampak ini dapat diukur berdasarkan kriteria keberhasilan sebagai indikator ketercapaian tujuan program pembelajaran. dampak program. monitoring pelaksanaan. seperti perencanaan program. Evaluasi program komprehensif Evaluasi ini dimaksudkan untuk menilai program pembelajaran secara menyeluruh. Untuk itu. Evaluasi monitoring Evaluasi ini dimaksudkan untuk memeriksa apakah program pembelajaran mencapai sasaran secara efektif dan apakah program pembelajaran terlaksana sebagaimana mestinya. Fungsi Evaluasi Pembelajaran .

maka program pendidikan tersebut jangan dulu diberikan. g.23 Evaluasi memiliki fungsi yang cukup luas. evaluasi berfungsi untuk membantu guru dalam menempatkan peserta didik pada kelompok tertentu sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya masing-masing serta membatu guru dalam usaha memperbaiki proses pembelajarannya. Evaluasi berfungsi untuk mengetahui kedudukan peserta didik dalam kelompok. mereka masih mempunyai sikap moral heteronom yang masih membutuhkan orang dewasa sebagai pedomannya. . Jika peserta didik sudah dianggap siap. Evaluasi membantu guru dalam memberikan bimbingan dan seleksi. baik dalam rangka menentukan jenis pendidikan. Bias Bias adalah sebuah penyajian bahan yang dipenuhi prasangka. c. jurusan. Secara didaktis-metodis. b. Bias juga berarti kesalahan yang konsisten dalam memperkirakan sebuah nilai. Secara adminstratif. f. tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Peserta didik adalah manusia yang belum dewasa. pejabat pemerintah yang berwenang. karena akan mengakibatkan hasil yang kurang memuaskan. sedang atau kurang pandai e. fungsi evaluasi adalah sebagai berikut: a. Secara Psikologis: peserta didik selalu butuh untuk mengetahui sejauh mana kegiatan yang telah dilakukan sesuai yang hendak dicapai. Evaluasi berfungsi untuk mengetahui taraf kesiapan peserta didik dalam menempuh program pendidikannya. Adapun tipe bias adalah sebagai berikut. mereka pada umumnya tidak berpegang kepada pedoman yang berasal dari luar dirinya. Mampu dalam arti bahwa peserta didik dapat berkomunikasi dan beradaptasi terhadap seluruh lapisan masyarakat dengan karakteristiknya. Menurut Zainal (2013: 16) secara menyeluruh. apakah dia termasuk anak yang pandai. Bias dan Standar Error Measurement 1. evaluasi berfungsi untuk memberikan laporan tentang kemajuan peserta didik kepada orang tua. maupun kenaikan kelas. Secara sosiologis: evaluasi berfungsi untuk mengetahui apakah peserta didik sudah cukup mampu untuk terjun ke masyarakat. kepala sekolah guru-guru E. d. Dalam menentukan sikap dan tingkah lakunya.

Selain itu sampel juga harus memiliki komposisi yang mencerminkan komposisi populasi. Faktor seperti lokasi. Dalam kasus ini tentu akan lebih baik mengukur seluruh mahapeserta didik di ruang kelas (populasi). Kelompok mahapeserta didik ini dijadikan sampel oleh peneliti tersebut. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya bias sampel adalah ukuran sampel dan seleksi sampel dimana ukuran sampel yang digunakan harus cukup besar agar dipeoleh nilai ratarata yang baik. usia. kebangsaan. pengukuran harus dilakukan seteliti mungkin. Untuk mengevaluasi teknik pengumpulan data. dan lingkungan hidup dapat mempengaruhi data yang dikumpulkan. etnisitas. Contoh pengaruh lingkungan yang . tapi dari satu. Bias pengukuran Bias pengukuran berhubungan dengan metode masalah pengumpulan data.24 a. Para pemain basket umumnya berbadan tinggi sehingga bila mereka dijadikan sampel. Ada beberapa mahapeserta didik yang ikut pertandingan basket sehingga harus pulang lebih awal. Contoh pengukuran yang tidak akurat adalah pengukuran tinggi dimana tinggi orang diukur tidak dari nol. Akibatnya pengukuran menghasilkan nilai lebih tinggi dari realitas. Bias sampel Bias sampel terjadi apabila sampel yang digunakan tidak mewakili populasi atau tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Contoh bias seleksi sampel adalah sebagai berikut: seorang peneliti ingin menemukan tinggi rata-rata mahapeserta didik di ruang kelas. akibatnya muncul rata-rata yang lebih tinggi dari sebenarnya ada bila kita mengukur populasi secara keseluruhan. apakah metode pengumpulan data yang dipilih telah sesuai sehingga data yang dikumpulkan merupakan yang paling mewakili kenyataan. gender. b.

Standard Error Measurement Kesalahan pengukuran (errors of measurement) adalah perbedaan antara nilai sesungguhnya dari suatu pekerjaan seseorang dan nilai yang diperoleh oleh orang tersebut. Jika pada suatu tes memuat butir-butir yang memihak kelompok tertentu.25 menyebabkan bias pada pengukuran tinggi adalah mengukur tinggi orang yang memakai sepatu akibatnya hasil pengukuran juga tidak sesuai dengan realitas. Faktor-faktor tersebut terjadi secara kebetulan. untuk mengindikasikan suatu tes adil bagi semua golongan atau tidak. jenis kelamin. DTF). dapat digunakan keberfungsian tes diferensial (Differential Test Functioning. 2. Adanya butir bias ini mengakibatkan suatu tes bersifat diskriminatif atau memihak pada kelompok tertentu yang penyebabnya dapat ditinjau dari berbagai segi. misalnya ras (etnik). wilayah. keributan di tempat tes atau keadaan subjek tes yang tidak begitu sehat. DIF). yang merupakan faktor pengganggu sehingga kemudian menjadikan kesalahan pada hasil tes tersebut. hasil yang diakibatkan oleh faktor-faktor tersebut pun bermacam-macam. Keberfungsian tes diferensial ini merupakan hal yang penting bagi suatu perangkat soal karena DTF dapat menentukan apakah suatu tes adil bagi semua kelompok peserta tes atau tidak. maka kemungkinan terjadinya kesalahan tersebut pun menjadi bermacam-macam. Selain itu. misalnya. terkadang dapat . Accidental/Chance Errors Kesalahan-kesalahan ini terjadi kapan saja. dan lain-lain. Kesalahan pengukuran disebabkan oleh hal-hal berikut : a. Berbagai teknik atau metode pendeteksian DIF telah banyak ditemukan dan digunakan. Selain keberfungsian butir diferensial. istilah bias pada suatu butir dikenal sebagai Differential Item Functioning (DIF) atau keberfungsian butir diferensial. budaya. Dalam pengukuran pendidikan. maka tes tersebut dikatakan memuat bias atau mengandung keberfungsian butir diferensial (Differential Item Functioning.

dan lain sebagainya. moral yang tidak pantas. kecenderungan personal. Systematic/Biased Errors Kesalahan yang disebabkan dari pemikiran yang tercemar. yaitu: 1) Tipe I : Test-centered Errors Kesalahan yang terdapat dalam tes atau instrumen yang digunakan. 2) Tipe II : Subject-centered Errors Segala faktor yang berhubungan dengan subjek tes. dan lain sebagainya. b.1 malah menulis 0. kemauan. Terdapat 3 tipe dalam kesalahan ini. yaitu: 1) Tipe I Kesalahan yang terjadi karena kekeliruan yang diperbuat oleh penguji. 2) Tipe II Kesalahan yang muncul karena kecerobohan. Misalnya. kekeliruan penguji dalam membaca test manual. motivasi. 3) Tipe III Kesalahan yang tidak dapat dihindari. Hal ini dikarenakan perilaku manusia di pengaruhi oleh banyak sekali faktor internal maupun eksternal yang mana . Misalnya. kekeliruan penguji yang seharusnya menulis 0. Misalnya. terlalu banyaknya para penguji menyebabkan adanya ketidaknyamanan sehingga mempengaruhi hasil yang diperoleh.01 saat menghitung hasil.26 meningkatkan atau juga menurunkan hasil yang didapat. 3) Tipe III : Assessment Errors Kebanyakan terjadi karena faktor situasi. apakah itu kesehatan. Terdapat 3 tipe dalam kesalahan ini. Contoh: adanya item dalam tes yang bersifat kultural sehingga memunculkan hasil yang berbeda pada subjek yang berasal dari daerah yang berbeda.

tetap saja terdapat faktor-faktor yang tidak terkontrol.27 meskipun saat tes banyak faktor yang dikontrol oleh penguji. f. c. Personal Errors Kesalahan yang berkaitan dengan subjektivitas seseorang. Constant Errors Kesalahan yang muncul karena perbedaan antara “internal qualities” dan “internal abilities”. Hal ini membuktikan bahwa nilai tes seseorang dalam sebuah tes “mental abilities” juga tergantung pada kemampuan orang tersebut dalam membaca. . Variable Errors Kesalahan yang disebabkan oleh ketidakmurnian yang muncul berkaitan dengan adanya perbedaan alasan dan faktor situasi. e. Interpretative Errors Kesalahan ini terjadi berkaitan dengan kesalahan dalam menginterpretasi hasil dari suatu tes. d. Misalnya 4 orang yang berada dalam mobil memberi jawaban berbeda ketika membaca spedometer.

memotivasi. membimbing dan pengambilan keputusan. Baik tes maupun pengukuran keduanya terkait dan menjadi bagian dari istilah evaluasi. diagnosa. Perbandingan Evaluasi. penempatan. umpan balik. Adapun perbedaan evaluasi. maka penilaian sudah termasuk didalamnya. Penilaian. Sementara itu evaluasi memiliki ruang lingkup yang lebih luas dari pada penilaian. tes mengharuskan subjek untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas. pengukuran dan tes daapt dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Meski begitu terdapat perbedaan antara pengukuran penialain dan evaluasi. misalnya hasil belajar.selain itu perbedaan antara tes dengan pengukuran. Apabila berbicara tentang evaluasi. sedangkan evaluasi mencakup keseluruhan dari luang lingkup tersebut. Selanjutnya tes adalah cara yang digunakan atau prosedur dalam rangka pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan yang berisi himpunan pertanyaan. bukan penilaian. Mengukur merupakan kegiatan membandingkan sesuatu dengan satu ukuran tertrntu. misalnya semua komponen pembelajaran. Penilaian. remedial. Perbandingan Evaluasi. istilah yang tepat untuk menilai sistem pembelajaran tersebut adalah evaluasi. Penilaian lebih terfokus pada aspek tertentu yang merupakan bagian dari ruang lingkup tersebut. Jika hal yang ingin dinilai beberapa bagian/ komponen pembelajaran. tes. penilaian dan evaluasi dalam pendidikan berperan dalam seleksi. Jika hal yang ingin dinilai adalah sistem pembelajaran. Dengan demikian pengukuran bersifat kuantitatif. Pengukuran dan Tes No Pembeda Evaluasi Penilaian Pengukuran Tes 1 Defenisi Kegiatan yang Pengambilan Membandingkan Sejumlah alat meliputi dua keputusan suatu hal dengan yang dgunakan unsur yaitu berdasarkan ukuran tertentu untuk mengukur mengukur dan ukuran baik dan dengan menilai buruk memberikan 28 . maka istilah yang tepat yang digunakan adalah penilaian. sementara itu pengukuran tidak selalu menuntut jawaban atau mengerjakan tugas.28 BAB III PEMBAHASAN A. penilaian. Pengukuran dan Tes Pengukuran.

Pengukuran dan Tes 29 . manajemen pendidikan.29 No Pembeda Evaluasi Kuantitafif kualitatif Berupa keputusan Penilaian 2 Sifat dan Kualitatif 3 Hasil 4 Cakupan penilaian Dalam cakupan lebih luas atau menyeluruh 5 Keberpiha kan Lebih berpihak kepada evaluator 6 Fungsi Untuk mengetahui proses pelaksanaan program pendidikan. Penilaian. kompetensi lulusan. dan tenaka kependidikan Pengukuran angka-angka Kuantitatif Tes Tes atau non tes Deskripsi Berupa skor dan Berupa hasil tes bersifat kualitatif angka atau lembar kerja Dalam cakupan Dalam cakupan Hanya yang lebih yang lebih digunakan sempit sempit untuk sekali proses pengukuran Lebih berpihak Berpihak pada Berpihak pada kepada peserta didik dan peserta didik kepentingan guru dan guru peserta didik Untuk Untuk melihat Mendeteksi memperbaiki tingkatan berhasil hasil belajar dan pencapaian tidaknya cara belajar peserta didik pembelajaran peserta didik yang telah dilakukan B. Hubungan antara Evaluasi.

objektif dan praktis. beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.Hubungan antara evaluasi. . Sebuah tes dikatakan baik apabila tes tersebut valid. pengukuran dan tes dapat di gambarkan seperti gambar di bawah ini. Hasil dari testing berupa hasil tes atau lembar kerja. Evaluasi Penilaian Pengukuran Tes Gambar 1. reliabel. Seperti yang dijelaskan dalam Surat AL Baqarah ayat 31 yang berbunyi: Artinya : Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya. Hubungan Evaluasi. kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orangorang yang benar!" Selanjunya dijelaskan dalam surat Al Baqarah ayat 33 yang berbunyi: Artinya: Allah berfirman: "Hai Adam. Penilaian. Pengukuran dan Tes Berdasarkan gambar diatas tes merupakan sebuah instrumen yang berisi himpunan pertanyaan yang digunakan untuk mengukur kemampuan seorang individu." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu. Kemudian proses untuk mengukur kemampuan individu tersebut disebut dengan testing. penilaian.

siapa di antara kalian yang lebih baik amalannya. Seperti firman Allah dalam Surat Al. dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. kemudian Allah melakukan tes terhadap pengetahuan yang diberikan kepada nabi Adam mengenai apa yang telah di pelajarinya. Dia adalah Al ‘Aziz (Maha Perkasa) Al Ghafur (Maha Pengampun) . Langkah selanjutnya adalah penilaian.Mulk ayat 2 yang berbunyi: Artinya : (Allah-lah) yang menciptakan kematian dan kehidupan supaya Dia menguji kalian. pengukuran merupakan proses membandingkan hasil tes dengan standart ukuran tertentu. Pengukuran bersifat kuantitatif karena hasil dari perbandingan menghasilkan angka-angka atau skor. Sama halnya dengan peserta didik yang melakukan proses pembelajaran. dan dia telah menciptakan segala sesuatu. dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya).Furqan ayat 2 yang berbunyi: Artinya: yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. dan Dia tidak mempunyai anak. Setalah itu dilakukan pengukuran. Dalam melakukan pengukuran adanya kemungkinan terjadinya keslahan-kesalahn pengukuran yang disebabkan oleh beberapa faktor. proses penggumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik dengan ukuran baik dan buruk yang dilakukan secara menyeluruh yang berupa angka tersebut. kemudi mereka diberikan tes untuk mengukur kemampuan mereka. bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" Berdasarkan kedua ayat di atas Allah memberikan pengetahuan kepada nabi Adam.Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu. Seperti firman Allah dalam Surat AL.

dengan sedikit ketakutan. yaitu Artinya : Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran Penilaian bersifat kualitatif dikarenakan hasil dari penilaian berupa deskripsi. iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). evaluasi adalah pengambilan keputusan atas hasil penilaian.Baqarah ayat 155 yang berbunyi: Artinya : Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu. Seperti yang di jelaskan dalam surat Al. kekurangan harta." Kemudian dilakukan evaluasi. sumatif. penempatan dan penilan diagnostik. . Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.Selain itu dalam surat Al-Qamar ayat 49 juga di jelaskan bahwa segala sesuatu diciptakan berdasarkan ukuran. naik atau tidak." Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya. penilaian yang dilakukan berupa penilaian formatif. jiwa dan buah-buahan. Selain itu dalam surat An Naml ayat 40 juga di jelaskan. Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar. apakah individu tersebut lulus atau tidak. maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia. Penilaian dilakukan untuk memperbaiki hasil belajar dan cara belajar peserta didik. Artinya : Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip. kelaparan.

1 6 1. Allah memberikan cobaan dan kenikmatan kepada manusia untuk melakukan penilaian kepada manusia.1 Menunjukkan contoh besaran turunan kemudian memberikan satuan SI yang sesuai Mengklasifikasi kan dua sistim satuan SI Indikator soal No soal Peserta didik dapat menjelaskan pengertian besaran fisika Peserta didik dapat menjelaskan pengertian satuan Peserta didik dapat menyebutkan 7 besaran pokok dan satuannya masing-masing Peserta didik dapat menjelaskan pengertian besaran turunan Peserta didik dapat mencontohkan beberapa besaran turunan beserta satuannya 1 Peserta didik dapat mengelompokkan satuan – satuan kedalam satuan Bentuk soal Uraian Spesifikasi soal C1 2 C1 3 C2 4 C1 5 C2 6 C2 .Berdasarkan kedua ayt di atas.1 Menunjukkan 7 besaran pokok dan satuannya dalam SI Mendefinisikan besaran turunan 5 1. adapun tes yang digunakan dalam pembelajaran berupa tes essay sebagai berikut: Kisi-kisi Soal No Kd Indikator pencapaian Mendefinisikan besaran fisika 1 1. Apakah mereka akan berubah menjadi maanusia yang lebih baik atau tidak Dapat disimpulan bahwa evaluasi dapat dilakukan dengan baik dan benar apabila menggunakan informasi yang diperoleh melalui penilaian dan pengukuran yang menggunakan tes sebgai alat ukurnya. C.1 4 1.1 2 1. Perbandingan Teori dengan Fakta di Lapangan Berdasarkan observasi yang telah dilakukan di SMPN 6 Bukittinggi. apakah setelah mereka diberikan cobaan mereka akan bersabar dan apakah setelah diberi kenikmatan mereka akan beryukur kepada Allah atau tidak.1 Mendefinisikan satuan 3 1.

No Kd 7 1. Tuliskan tujuh macam besaran pokok dan satuannya masing-masing ke dalam tabel di bawah ini! Besaran pokok Satuan dalam SI /MKS 1.1 9 1. 7. Apakah yang dimaksud dengan satuan baku? Beri dua contohnya! . 4. 2. 5.1 10 1. Tuliskan lima contoh besaran turunan dan satuaannya masing-masing! 6.1 Indikator pencapaian Indikator soal MKS dan CGS Peserta didik dapat menjelaskan pengertian satuan baku dan tidak baku serta dapat memberikan contohnya Menentukan Peserta didik mampu nama menunjukkan nama besaran.8 C1 9 C3 10 C2 11-20 C3 1. Apakah pengertian dari besaran fisika? 2. 4. Apakah yang dimaksud dengan satuan? 3. 6.1 8 1. Apakah yang dimaksud dengan besaran turunan? 5.nilai besaran. 3.nilai besaran dan besaran dan satuan besaran pada suatu satuan besaran contoh wacana Menyebutkan 3 Peserta didik dapat syarat penetapan menjelaskan 3 syarat satuan SI penetapan satuan SI Mendefinisikan satuan baku dan tidak baku serta contohnya Melakukan pengkonfersian satuan Peserta didik dapat meng hitung hasil konfersi satuan yang satu ke satuan yang lainnya SOAL Jawablah soal-soal dibawah ini dengan ! No soal Bentuk soal Spesifikasi soal 7. Jelaskan dua sistem satuan SI! 7.

km = ....... hg = ...4 km = ........8. mg 15........mm² KUNCI JAWABAN No SOAL Skor ............ 24 menit = ........... mg 17.. dag = ........ 1500 sekon = ......... Akibatnya keempat ban mobil tersebut mendapat gaya pengereman sebesar 100 N...... Diameter ban mobil tersebut adalah 76 cm........... Apakah yang dimaksud dengan satuan tidak baku? Beri dua contohnya! 9...2 jam = ....menit = .......... 1..gr = ..... cg = ... 0................... Tekanan udara rata-rata ban mobil tersebut adalah 30 Pa. 5 m = ......... 0.menit = .3 m² = ........... dan satuaannya dari wacana tersebut! 10.. Tentukanlah besaran pokok... m = ................ cm = ... Sebuah mobil Formula 1 bergerak dengan kecepatan 250 km/jam.dam =.. Tuliskan 3 syarat satuan digolongkan dalam Sistim Internasional! 11........ dm 14. mm 13..............sekon = . km = .... 1.......... besaran turunan... mm 12.......jam 19........... mg 16. hg = ..jam 18......sekon 20.... Tiba-tiba mobil tersebut direm.. dm = ...... gr = .. 6 m = ..cm² = ....... 80 dag = .............5 kg = . 30 gr = .

tekanan(Pa) .005 km = 500 cm = 5000 mm 6 m = 0.4 jam 1. artinya mudah dibuat dan diperbanyak untuk keperluan sehari-hari 5 m = 0.contohnya : meter.5 kg = 1500 gr = 15 hg = 1500000 mg 30 gr = 3 dag = 30 gr = 30000 mg 80 dag = 800 gr = 8 hg = 800000 mg 0.contohnya : jengkal.1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Segala sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka dan satuan Pembanding dalam pengukuran Besaran Lambang Satuan Lambang besaran satuan Panjang L Meter m Massa M Kilogram Kg Waktu T Sekon s Suhu T Celcius K Kuat arus I Ampere A Intensitas cahaya Θ Candela cd Jumlah zat N Mol Mol Besaran yang satuannya diturunkan dari satuan besaran pokok Besaran Luas Volume Kecepatan Percepatan Masa jenis Lambang besaran L V V A Ρ Satuan Meter persegi Meter kubik Meter/Sekon Meter/sekon kuadrat Kilogram/meter kubik Lambang satuan m2 m3 m/s m/s2 Kg/m3 MKS(meter. gaya(N) Bersifat Internasional .kilogram Satuan yang apabila digunakan hasilnya belum tentu sama.sekon) Satuan yang apabila digunakan oleh siapapun hasilnya tetap sama dan sudah diakuai di seluruh dunia.4 km = 40 dam = 400 m = 4000 dm 1. artinya tidak dapat berubah dalam keadaan apapun Mudah ditiru.006 km = 60 dm = 600 mm 0.gram. artinya dapat digunakan diseluruh duni Bersifat Tetap.sekon) dan CGS(centimeter.4 jam 1500 sekon = 25 menit = 0.2 jam = 12 menit = 720 sekon 24 menit = 1440 sekon = 0.kilogram.3 m² = 13000 cm² = 1300000 mm² 2 2 7 2 5 2 2 2 4 3 3 3 3 3 3 3 2 2 .hasta Besaran pokok : diameter(cm) Besaran turunan : kecepatan(km/jam) .

karena belum dapat mengukur semua tujuan pembelajaran Setelah dilakukan tes yang di berikan kepada peserta didik memberikan hasil yang tidak jauh berbeda Tes yang di berikan memiliki sistem penskoran yang telah di tetapkan oleh penilai. Perbandingan Teori dengan Fakta Lapangan No Perbandingan Teori 1 Pengembangan Tujuan pembelajaran yang spesifikasi tes berorientasi kepada peserta didik Menyusun kisi-kisi soal untuk merumuskan setepat mungkin ruang lingkup tes Memilih tipe soal yang sesuai dengan materi Merencanakan tingkat kesukaran soal Merencanakan banyak soal 2 Penulisan soal Bahasa yang digunakan lugas dan tidak berbelit-belit 3 Penelaahan soal Valid Reliabel Objektivitas Praktis 4 5 Pengujian butir soal secara empiris Penganalisaan hasil uji coba Untuk menjamin bahwa tes layak sebagai sebuah alat ukur Menyusun kembali butir setelah uji coba dengan membuang butir yang jelek dan menata butir yang baik Lapangan Tujuan pembelajaran sudah berorientasi kepada peserta didik Kisi-kisi soal sudah di buat berdasarkan indikator pencapaian pembelajaran Soal yang diberika sudah sesuai dengan materi Tingkat kesukaran soal tidak terlalu beragam.Adapun perbandingan tes yang ada di lapangan dengan teori adalah sebagai berikut: Tabel 2. Soal yang di berikan di sesuaikan dengan waktu pelaksanaan tes Bahasa yang digunakan tidak berbelit-belit. kecuali pada soal no 9 Tes yang digunakan belum valid. sehingga kemungkinan terjadinya subjektivitas sangat kecil Tes yang digunakan cukup mudah dan murah untuk dilaksanakan Tidak di lakukan Soal yang terlalu sulit di buang dan yang baik digunkan untuk remedial. .

BAB IV PENUTUP A. penialain. Langkah selanjutnya adalah penilaian. pengukuran dan tes agar tidak tejadi kesalahan dalam melakukan proses tersebut. Kemudian dilakukan evaluasi. pengukuran dan tes merupakan bagian dari rangkaian pendidikan. penialain. pengukuran dan tes sangat penting dalam pembelajaran. naik atau tidak. apakah individu tersebut lulus atau tidak. Jadi guru sebagai pelaksana pendidikan di sekolah harus memiliki pemahaman mengenai evaluasi. proses penggumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik dengan ukuran baik dan buruk yang dilakukan secara menyeluruh yang berupa angka tersebut. evaluasi adalah pengambilan keputusan atas hasil penilaian. B. Saran Evaluasi. 38 . Pengukuran bersifat kuantitatif. penialain. Setalah itu dilakukan pengukuran. Maka kegiatan evaluasi. pengukuran merupakan proses membandingkan hasil tes dengan standart ukuran tertentu. Kesimpulan Tes merupakan sebuah instrumen yang berisi himpunan pertanyaan yang digunakan untuk mengukur kemampuan seorang individu.

Hamzah. Dasar-dasar dan Teknik Evaluasi Pendidikan. Padang: UNP Anas. Analisis Validitas. Sudijono. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2000.DAFTAR PUSTAKA A. Tanggerang: Graha Ilmu Suharsimi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Zainal. Penyusunan Skala Psikologi. A & Jabar. Dasar-dasar Evaluasi Pembelajaran. 2007. Jakarta: Bumi Aksara Suharsimi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Edisi 7. Yusuf. Pengantar Evaluasi Pendidikan. 2012. Azwar. Peraturan Pemerintah No 104 tentang Penilaian hasil belajar oleh pendidik Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan menengah Rusli Lutan. Jakarta: Bumi Kasara Sumarna. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Purwanto. Edisi 2. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013. 2004. Jakarta: Rajawali Press M. 2012. Jakarta: Bumi Aksara Kunandar. Pengukuran dan Evaluasi Penjaskes. 2005. Muri. Arikunto. 2004. 2010. Una. Bandung: PT Remaja Rosda Karya 39 . Bandung: PT Remaja Rosdakarya Saifuddin. Sudaryono. 2009. Dasar-dasar evaluasi pendidikan (edisi revisi). Bandung: Remaja Rosda Karya. 2012. Reliabilitas dan Interpretasi Hasil Tes. Ngalim. Evaluasi Pembelajaran. 2006. Arifin. Supranata. Assesment Pembelajaran. 2013.