Anda di halaman 1dari 4

AHL SUNNAH WA AL-JAMAAH DITINJAU DARI ASPEK HISTORIS

Oleh ; James Al-Harokiyy

Sebab-Sebab Perpecahan Umat


Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, konsentrasi umat terpecah menjadi tiga, aahlul bayt sibuk
mengurusi jenazah Nabi, Abu Bakar dan muhajirin yang lain sibuk mengumumkan kepada umat muslim
dipelosok Negeri akan kematian Nabi, sedangkan Sahabat Anshor berkumpul diTsaqifah bani Saidah untuk
memilih Khalifah, mereka memilih Saad bin Ubadah (seorang gegeden Anshor) menjadi khalifah.
Kemudian proses pengangkatan khalifah oleh Sahabat Anshor sampai ke telinga Abu Bakar, maka
berangkatlah Abu Bakar dan Umar beserta kaum Muhajirin ke Tsaqifah bani Saidah untuk mengklarifikasi
keberadaan khalifah. Disitu terjadilah perdebatan sengit antara pihak Muhajirin dan Anshor tentang siapa
yang harus menjadi Khalifah, sampai-sampai Sahabat Anshor membuat tesis minna amirun waminkum
amirun ( kami punya pemimpin dan kalian punya pemimpin) tapi tesis tersebut dipatahkan oleh Abu Bakar
dengan argumentasi Hadits Nabi al-imamah min Quraisyin (bahwa Pemimpin harus dari Quraisy).
Akhirnya semua sepakat bahwa Khalifah harus dari Muhajirin (Quraisy) dan pilihan jatuh pada Abu Bakar.
Adapun konflik terbesar pada zaman Abu Bakar adalah memerangi orang pembangkang membayar
zakat dan orang Murtad. Sepeninggal Abu Bakar maka Umarlah yang menjadi Khalifah, pada masa ini tidak
ada konflik berarti dalam tubuh umat islam. Kemudian setelah Umar dibunuh oleh Abu Lulu lah maka
beliau digantikan oleh Utsman bin Affan, pada masa inilah petaka besar umat islam dimulai dengan prokontra terhadap Khalifah karena kebijakannya yang bersifat Nepotis, sehingga Utsman dibunuh oleh para
Demonstran, setelah Utsman terbunuh maka terjadilah kontroversi tentang siapakah yang membunuh
Khalifah? Juga kontroversi tentang apakah harus diangkat Khalifah sebelum mengusut pembunuh Utsman?
Ataukah diusut terlebih dahulu siapa pembunuh Utsman baru setelah itu diangkat Khalifah?
Pendapat yang harus mengangkat Khalifah terlebih dahulu dipelopori oleh Ali bin Abi tolib dengan
Argumentasi bahwa pembunuhan terhadap Utsman itu terorganisasi maka harus diusut secara sistematis dan
terorganisasi pula oleh Khalifah. Sedangkan pendapat yang harus mengusut terlebih dahulu dipelopori oleh
Muawiyah bin Abi Supyan (Gubernur Syam) yang masih keluarga Utsman dari Bani Umayah dengan
Argumentasi karena pembunuhan terhadap Utsman bersifat Terorganisasi, maka tidak boleh buang-buang
waktu dalam mengusutnya karena nanti musuh akan mempersiapkan strategi lain. Pertentangan yang
berlarut-larut antara Ali dan Muawiyah sehingga Siti Aisyah (istri rosul) juga menuntut untuk menindak
pembunuh Utsman, maka terjadilah Perang Jamal, dalam perang jamal kemenangan ada di pihak Ali.
Adapun puncak dari konflik antara Ali dan Muawiyah adalah Perang Siffin , dalam perang ini Ali hampir
menang, tapi dengan taktik muslihat Amru bin Ash maka terjadilah proses tahkim (Arbitrase) yang mana
substansi dari isi Tahkim adalah Ali harus menyerahkan jabatan ke Khalifahan kepada Muawiyah.
Efek dari Tahkim adalah umat terpecah menjadi tiga golongan yaitu satu Jumhur (yang mengakui
hasil Tahkim dan mengakui Muawiyah sebagai Khalifah), dua syiah (yaitu pengikut setia Ali) dan ketiga
Khawarij (orang yang keluar dari kelompok Ali kemudian mengkufurkan kelompok Ali dan Muawiyah).
Dengan adanya tiga kelompok ini maka pemerintahan Muawiyah menjadi tidak stabil karena kekuasaannya
dirongrong oleh kaum Khawarij dan kaum syiah maka dalam rangka stabilisasi keadaan, Muawiyah
melontarkan tesis tentang Qodar yang berbunyi Hadza biqodoihi waqodarihi waridohu wain lam yardo lam
yaqo ( kata muawiyah : ini Aku jadi Khalifah dan Ali turun dari khalifah atas ketentuan Allah dan Ridhonya,
kalau Allah tidak rido maka tidak akan terjadi), dengan pernyataan politik diatas pergolakan sedikit demi
sedikit bisa diredam, kemudian paham ini dikembangkan pertama kali oleh Al-Jad ibnu Dirham dan
dipopulerka oleh Jahm bin Sofwan dari khurasan dengan nama Jabariyah.12v
Faham diatas (Jabariyah) di counter oleh Muhammad bin Ali Al-Hanafiyah (beliau adalah putra
sayidina Ali dari istri kedua yaitu Haulah binti Jafar al-Hanafiyah) sebagai anti tesis, dengan pernyataan
terkenalnya La Qodo wala Qodar afalul ibad minal ibad (tidak ada Qodo dan tidak ada Qodar perbuatan
manusia dari manusia), kemudian faham ini diteruskan oleh Mabad al-Juhani dan Ghailam ad-Dimasyqi

dengan pernyataanya la qodo wala qodar afalul ibad minal ibad wal amru unuf (tidak ada Qodo dan tidak
ada Qodar perbuatan manusia dari manusia bahkan Allah tidak tahu manusia akan berbuat apa, Allah baru
tahu setelah dilakukan oleh manusia ) lalu Mabad dan Ghailam ini dikenal sebagai pendiri Qodariyah,
pernyataan Mabad dan Ghailam diatas di modernisir oleh Washil bin Atho (pendiri Muktazilah) dengan
pernyataannya la qodowala qodar afalul ibad minal ibad bal wawlohu yalam (tidak ada Qodo dan tidak
ada Qodar perbuatan manusia dari manusia tapi Allah tahu).
Kaum Khawarij sebagaimana diatas mereka mengkufurkan Ali dan Muawiyah beserta orang yang
melakuka dosa besar, kata mereka orang yang melakukan dosa besar akan masuk neraka,. Lalu faham
Khawarij ini di tolak oleh faham bahwa semua yang ada hukumnya ditangguhkan kepada mahkamah
Allah, dengan statement terkenal mereka la hukma illa lillah (tidak ada hukum kecuali hukum Allah) maka
mereka menangguhkan menghukumi sesuatu didunia dan mereka menyerahkan semuanya kepada Allah,
faham ini terkenal dengan nama Murjiah.
Setelah kita mengetahui aliran dalam islam maka pertanyaannya
Waljamaah berada?

sekarang,

dimana

Ahlusunnah

SEJARAH AHLUSUNNAH WALJAMAAH (ASWAJA)


Islam Aswaja adalah islam yang mengikuti ajaran Nabi dan Sahabatnya (ma ana alaihi waashabi) .
jadi menurut kita kemunculan Aswaja sebagai ajaran berbarengan dengan munculnya islam itu sendiri yang
diajarkan oleh Nabi dan dipraktekan oleh Sahabat kemudian di ikuti oleh Tabiin dan dilanjutkan oleh Tabiittabiin, tapi pada waktu itu belum terdengar nama Ahlusunnah Wal Jamaah secara eksplisit, kalau misalkan
ada, niscaya Abu Hanifah (yang mengarang kitab Alfiqhul Akbar yang berisi Tauhid Ahlusunah Waljamaah)
dan Syakh Hasan Basri memakainya.
Sedangkan Aswaja sebagai sebuah nama dan Madzhab itu dipopulerkan oleh Abu Hasan al-Asyari,
ia ada pada zaman Al-Mutawakil Alawloh (khalifah Abasiyah ke 10) yang diposisikan sebagai anti tesis dari
dominasi Rasionalisme Muktazilah, karena pada zaman Dinasti Abasiyah khusunya masa pemerintahan
Harun, al mamun, mutasim sampai waksik, muktazilah menjadi madzhab Negara dan mereka memaksakan
pemikirannya kepada khalayak yang puncaknya ditandai dengan tragedy mihnah , tapi pada zaman alMutawakil keadaan berbalik dan Aswaja yang mendapat sokongan dari pemerintah, oleh karena itu aliran
yang paling berkembang didunia adalah Ahlusunnah Wal Jamaah (dengan berbagai versinya)

ASPEK DOKTRINAL
Aswaja sebagai Madzhab
Syakh Muhammad Hasyim Asyari dalam kitab Risalah Ahlusunnah waljamaah nya menyatakan bahwa
Aswaja adalah attoriqotul mardiyah al maslukah salakaha rosulullah saw waman tabiahu ( aliran yang
diridoi yang dijalankan oleh rosul dan pengikutnya), kemudian dalam Qonun Asasi NU, beliau menyatakan
bahwa Aswaja dalam ber Aqidah mengikuri al-Asyari dan al-Maturidi, dalam berfiqih mengikuti
madzahibul arbaah yaitu Hanafi, Maliki, SyafiI dan Hambali, dalam bertasauf mengikuti Junaedi AlBagdadi dan Al-Gozali. Pernyataan Mbah Hasim diatas sejalan dengan pernyataan ulama-ulama Mutaakhirin
(sesudah tahun lima ratus). Adapun menurut Mutaqodimin rumusannya agak berbeda bisa dilihat dalam
alfarqu bainal firoq yang dikarang oleh Abdul Qohir bin Tohir al-Bagdadi beliau hidup di paruh abad ke
empat.
Kemudian Al-Bagdadi dalam alfarqu bainal firoq menjelaskan ada 15 hal yang disepakati oleh Aswaja dan
sesatlah orang yang menyalahinya.
1. dalam masalah Ushuludin menetapkan substansi ilmu ada yang khusus dan ada yang umum
2. mengetahui pencipta alam dan sifat-sifat dzatnya
3. mengetahui kebaruan alam

4. mengetahui sifat azaliayah


5. mengetahui asma dan sifat allah
6. mengetahui adilnya Allah serta Hukumahnya
7. mengetahui Rosul-Rosul dan Nabi-Nabinya
8. mengetahui Mukjizat Nabi dan Karomah Wali
9. mengetahui hal yang disepakati dalam syariat islam
10. mengetahui Hukum amar,nahyi dan taklif
11. mengetahui kepanaan selain Allah dan pertanggungjawaban manusia di hari akhir
12. khilafah, imamah dan syarat pemerintahannya
13. mengetahui hukum-hukum islam secara global
14. menegtahui hukum-hukum wali dan stratifikasi imam-imam yang disucikan Allah
15. mengetahui hukum-hukum memerang orang kufur dan ahli ahwa.

Ahlusunnanh Wal Jamaah sebagai Manhajul Fikri


Dalam perkembangannya Aswaja sebagai madzhab mengalami kejumudan dan dirasa sulit menjawab
kompleksitas problematika masa kini maka para pemikir kontemporer seperti Prof. Dr. KH. Said Agil Siradj,
MA melakukan rekontruksi terhadan rumusan Aswaja yang asalnya hanya dipahami sebagai madzhab
(diantaranya rumusan mbah Hasyim) menjadi Aswaja sebagai Manhajul Fikri (metodologi berfikir) dengan
salah satu Argumentasinya tidak mungkin ada madzhab diatas madzhab (makudnya tidak mungkin ada
madzhab aswaja diatas madzhab fiqh, tauhid dan tasauf) bahkan dalam salah satu makalahnya, beliau
menyatakan bahwa rumusan definisi Aswajanya Mbah Hasyim itu memalukan karena mengatakan Aswaja
adalah berfiqih madzhab yang empat, beraqidah asyari-maturidi, tasauf gozali-albagdadi secara mantiqi
itu bukan defines,i karena syarat tarif (definisi) itu harus jami-mani (jelas cakupannya dan jelas
batasannya). Maka beliau merumuskan definisi Aswaja sendiri . Ahlusunnah waljamaah hiya manhajul
fikriddini asyamil ala syuunil hayati wamuqtadoyatiha alqoim alam asas tawasuth, tawajun, tasamuh wal
Itidah (Aswaja ialah Metodologi Berfikir keagamaan yang meliputi seluruh Aspek kehudupan yang berdiri
diatas dasar Moderat, berimbang, Toleran dan Proporsional).
Pemikiran diatas didasari oleh kenyataan sejarah, bahwa yang membedakan pola fikir Aswaja dengan yang
lainnya adalah sikapnya yang toleran (seperti tidak mengkafirkan orang yang masih melaksanakan solat) dan
moderat (seperti menengahi konsepsi qodo qodar antara pemikiran Qodariyah dan Jabariyah)
Moderat, seimbang, Proporsional dan Toleran itu digunakan dalam segala aspek baik dalam Aspek:
1. Tauhid; dalam tauhid Aswaja memproporsikan mana yang harus menggunakan dalil Aqli dan mana
yang harus menggunakan dalil Naqli.
2. Fiqih; dalam fiqih Aswaja sangat Moderat dalam menengahi dominasi Nash dan Royu, contohnya
Imam SyafiI dalam mengistinbath hukum pertama melihat Nalam Nash kalau tidak ada maka
memakai Qiyas
3. Tasauf; dalam tasauf Aswaja memposisikan secara berimbang antara memakai hasil Mukasyafah dan
hasil Bayan (al-Quran wal Hadist)
4. Politik; dalam berpolitik Aswaja tidak Ekstreme tidak seperti Syiah yang Guluw yang mengkafirkan
Abu Bakar, Umar dan Utsman. Dalam berpolitik Aswaja tidak Otoriter seperti konsep imamahnya
Syiah tapi Aswaja menegedepankan Musyawarah.

5. Sosial Kemasyarakatan;
6. Dan lain-lain
Walhasil, menurut K.H.Said Agil Siradj siapapun yang berfikir Moderat, berimbang, Proporsional dan
Toleran maka dia adalah Aswaja.
Manhajul fikri liahli sunnah wal jamaah
Rumusan Aswaja KH.Said Agil dinilai sangat naf karena masih global dan tidak aplikatif bahkan
menempatkan watak (karakter) berfikir Aswaja sebagai Manhaj berfikir , selain itu terjadi liberalisasi Aswaja
sehingga Aswaja tidak akan punya identitas dan akan melebur dengan golongan lain, karena kiai Said
mengungkapkan dalam buku Tasauf Sebagai Kritik Sosial bahwa syiah dan muktazilah itu masih termasuk
islam dan termasuk Aswaja, dengan Argumentasi syiah, muktazilah dan ahlusunah sama secara konsepsional
dalam masalah Uluhiyah (ketuhanan), Nubuwah (kenabian) dan samiyat ( yang didengar/hal diluar logika
seperti adanya surga, neraka, dll)
Oleh karena itu KH.Hamdun Ahmad mencoba membuat elaborasi baru tentang Aswaja dengan nama
manhajul fikri liahli sunnah wal jamaah supaya tercapainya almuhafadotu alal qodimissolih wal akhdu
biljadidil aslah dengan cara mempertahankan identitas Aswaja sebagai Madzhab yang mana itu warisan
intelektual masa lalu yang masih baik dan mencoba mendinamisir Aswaja dengan cara mengembangkan
Manhajul Fikrinya, tapi Manjahul Fikri
( Pola Fikir/metodologi berfikir) nya tidak terlepas dari watak berfikir Aswaja yaitu tasamuh, taadul,
tawazun, dan tawasuth.
Rumusan Manhajul Fikri Lil ahli Sunnah Wal Jamaah