Anda di halaman 1dari 16

Teori keagenan (Agency theory) merupakan basis teori yang mendasari praktik bisnis

perusahaan yang dipakai selama ini. Teori tersebut berakar dari sinergi teori ekonomi, teori
keputusan, sosiologi, dan teori organisasi. Prinsip utama teori ini menyatakan adanya hubungan
kerja antara pihak yang memberi wewenang (prinsipal) yaitu investor dengan pihak yang
menerima wewenang (agensi) yaitu manajer, dalam bentuk kontrak kerja sama yang disebut
”nexus of contract”.
Perbedaan “kepentingan ekonomis” ini bisa saja disebabkan ataupun menyebabkan
timbulnya informasi asymmetri (Kesenjangan informasi) antara Pemegang Saham (Stakeholders)
dan organisasi. Diskripsi bahwa manajer adalah agen bagi para pemegang saham atau dewan
direksi adalah benar sesuai teori agensi.
Jensen dan Meckling dalam Isnanta (2008), menyatakan bahwa teori keagenan
mendeskripsikan pemegang saham sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Manajemen
merupakan pihak yang dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi kepentingan
pemegang saham. Untuk itu manajemen diberikan sebagian kekuasaan untuk membuat
keputusan bagi kepentingan terbaik pemegang saham. Oleh karena itu, manajemen wajib
mempertanggungjawabkan semua upayanya kepada pemegang saham. Karena unit analisis
dalam teori keagenan adalah kontrak yang melandasi hubungan antara prinsipal dan agen, maka
fokus dari teori ini adalah pada penentuan kontrak yang paling efisien yang mendasari hubungan
antara prinsipal dan agen.
Untuk memotivasi agen maka prinsipal merancang suatu kontrak agar dapat
mengakomodasi kepentingan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak keagenan. Kontrak yang
efisien adalah kontrak yang memenuhi dua faktor, yaitu :
1. Agen dan pinsipal memiliki informasi yang simetris artinya baik agen maupun majikan
memiliki kualitas dan jumlah informasi yang sama sehingga tidak terdapat informasi
tersembunyi yang dapat digunakan untuk keuntungan dirinya sendiri
2. Risiko yang dipikul agen berkaitan dengan imbal jasanya adalah kecil yang berarti
agen mempunyai kepastian yang tinggi mengenai imbalan yang diterimanya.
Pada kenyataannya informasi simetris itu tidak pernah terjadi, karena manajer berada
didalam perusahaan sehingga manajer mempunyai banyak informasi mengenai
perusahaan, sedangkan prinsipal sangat jarang atau bahkan tidak pernah datang ke

Di samping itu. Maka terjadilah Creative Accounting yang menyalahi aturan. dimana tindakan ini dapat merugikan prinsipal. Makin tinggi laba. maupun perekayasaan kinerja perusahaan. harga saham dan makin besar deviden. Teori agensi mengasumsikan bahwa semua individu bertindak atas kepentingan mereka sendiri. maka tindakan agen pun sangat sulit untuk diamati. yang kesemuanya berdampak pada besarnya nilai aktiva dalam Neraca yang “mempercantik” laporan keuangan . baik memanfaatkan aset perusahaan untuk kepentingan pribadi. karena verifikasi sangat sulit dilakukan. Hal ini menyebabkan kontrak efisien tidak pernah terlaksana sehingga hubungan agen dan prinsipal selalu dilandasi oleh asimetri informasi. Sehingga bila tidak ada pengawasan yang memadai maka sang Agen dapat memainkan beberapa kondisi perusahan agar seolah-olah target tercapai. Karena perbedaan kepentingan ini masing-masing pihak berusaha memperbesar keuntungan bagi diri sendiri. Sedang para agen disumsikan menerima kepuasan berupa kompensasi keuangan dan syarat-syarat yang menyertai dalam hubungan tersebut. Capitalisasi expense yang tidak semestinya.perusahaan sehingga informasi yang diperoleh sangat sedikit. maka Agen dianggap berhasil/berkinerja baik sehingga layak mendapat insentif yang tinggi. Agen sebagai pengendali perusahaan pasti memiliki informasi yang lebih baik dan lebih banyak dibandingkan dengan prinsipal. Agen menginginkan kepentingannya diakomodir dengan pemberian kompensasi/bonus/insentif/remunerasi yang “memadai” dan sebesar-besarnya atas kinerjanya. Principal menilai prestasi Agen berdasarkan kemampuannya memperbesar laba untuk dialokasikan pada pembagian deviden. Permainan tersebut bisa atas prakarsa dari Principal ataupun inisiatif Agen sendiri. Pemegang saham sebagai principal diasumsikan hanya tertarik kepada hasil keuangan yang bertambah atau investasi mereka di dalam perusahaan. Sebaliknya Agen pun memenuhi tuntutan Principal agar mendapatkan kompensasi yang tinggi. membuka peluang agen untuk memaksimalkan kepentingannya sendiri dengan melakukan tindakan yang tidak semestinya atau sering disebut disfunctional behaviour. Principal menginginkan pengembalian yang sebesar-besarnya dan secepatnya atas investasi yang salah satunya dicerminkan dengan kenaikan porsi deviden dari tiap saham yang dimiliki. Dengan demikian. misal: adanya piutang yang tidak mungkin tertagih yang tidak dihapuskan. Pengakuan penjualan yang tidak semestinya.

Kesamaannya. kedua. menekankan perbedaan aspek pada agenda riset pada umumnya. terdapat 3 model hubungan agensi yaitu The Principal-Agent Model. Kecenderungan pengurus lebih memilih melaksanakan kepengurusan sesuai dengan keinginannya. Atau bisa juga dengan melakukan income smoothing (membagi keuntungan ke periode lain) agar setiap tahun kelihatan perusahaan meraih keuntungan. ketiganya memahami ketentuan dan penyebab hilangnya efisiensi yang diciptakan oleh divergensi antara perilaku kerjasama dan kepentingan individu. The Rochester Model. menekankan perbedaan sumber-sumber divergensi perilaku kerjasama dan kepentingan individu. kedua. pertama. ketiganya menganalisa dan memahami implikasi perbedaan proses pengendalian menghindari hilangnya efisiensi pada masalah agensi. Pengembangan akuntansi kontemporer salah satunya adalah digunakannya Agency Theory dalam menjustifikasi akuntansi positif. derivasi optimalisasi hubungan kerja dan memahami bagaimana hubungan kerja yang meringankan masalah agensi. pemodelan berhati-hati yang mendasari konteks ekonomi yang menyebabkan timbulnya masalah agensi. keempat. Namun. kelima. ketiga. Pengurus yang dipercayakan menjadi perpanjangan tangan keluarga mahasiswa untuk mengelolah organisasi menjadi agen yang idealnya mampu mengakomodasi semua kepentingan keluarga.walaupun bukan nilai yang sebenarnya. pertama. The Transaction Cost Economics Model. Artinya dalam kerangka umum model hubungan agensi memperlihatkan bahwa . Sedangkan perbedaannya. Contoh lain Agency theory sebenarnya juga dapat dipahami dalam lingkup lembaga kemahasiswaan. Menurut Baiman (1990). sedangkan dari pihak prinsipal boleh jadi memanfaatkan kepentingan pribadi atau golongannya sendiri (self-interest) karena memiliki keunggulan kekuasaan (discretionary power). padahal kenyataannya merugi atau laba turun. terkadang pengurus lembaga kemahasiswaan tak mampu menjalankan ini dengan baik. Kepentingan keluarga menjadi terabaikan. Ketiganya memiliki dua kerangka kesamaan dan dua perbedaan. komparasi hasil-hasil untuk melakukan observasi praktik model yang dipakai dan menganalisanya. Salah satu hipotesis dalam teori ini adalah bahwa manajemen dalam mengelolah perusahaan cenderung lebih mementingkan kepentingan pribadinya daripada meningkatkan nilai perusahaan. Contoh nyata yang dominan terjadi dalam kegiatan perusahaan dapat disebabkan karena pihak agensi memiliki informasi keuangan daripada pihak prinsipal (keunggulan informasi).

Kontrol pemegang saham kepada manajer Biaya yang menyertai hubungan agensi Menghindari dan meminimalisasi biaya agensi Hubungan agensi ini memotivasi setiap individu untuk memperoleh sasaran yang harmonis. Faktor luar seperti karasteristik industri. Mudahnya. Hubungan keagenan ini merupakan hubungan timbal balik dalam mencapai tujuan dan kepentingan masing-masing pihak yang secara eksplisit dan sadar memasukkan beberapa penekanan seperti: 1. praktek kompensasi.manajer melakukan maksimasi expected utility agar dapat mempengaruhi desain kontrak kerja mereka. Terdapat tiga masalah utama dalam hubungan agensi. pesaing. Bentuk ekstrim (extreme ways) dari agency theory sendiri sebenarnya adalah ketika hubungan agensi dijadikan mekanis-matematis untuk kepentingan legitimasi kepentingan “mutualis insklusif“. Pemilik dan manajer secara bersama dibatasi biaya atas masalah agensi. Strategi yang dijalankan perusahaan dalam memenangkan kompetisi global Ditegaskan oleh Watts (1992) bahwa hubungan agensi kaitannya dengan laporan keuangan perusahaan sangat dipengaruhi oleh kepentingan pasar dan politik. yaitu : 1. dan menjaga kepentingan masing-masing antara agen dan principal. Tetapi bila konsep kekayaan dipandang sebagai bentuk trilogi. maka ada proses trust yang masuk dalam mekanisme hubungan. daripada mendekat pada model positivist yang lebih empiris tetapi . trust yang didasari oleh cinta dan saling berbagi. tetapi dengan cinta. pasar tenaga kerja. saling berbagi dan kebermaknaan hidup. Dua tokoh utama (principal dan agent) dalam interaksi bisnis tersebut sebenarnya mengarah pada kepentingan yang sama. 2. Gagasan ini memang mirip seperti model principal-agent yang lebih teoritis dan perlu diuji secara empiris. yaitu wealth (kekayaan). bila konsep kekayaan hanya dipandang sebagai bentuk ekonomi semata. Kebutuhan principal akan memberikan kepercayaan kepada manajer dengan imbalan atau kompensasi keuangaN 2. maka yang terjadi adalah konflik kepentingan di atas hubungan kooperatif. 3. Budaya organisasi yang berlaku dalam perusahaan 3. Cinta akan tetap memberi kemanfaatan materi. sehingga memerlukan insentif untuk mendesain kontrak yang mengurangi secara efisien masalah agensi. Hubungan agensi dengan demikian tidak dibangun dari akar self-interest. manajerial dan isu-isu legal 4.

Burdett dapat memberikan rekomendasi kepada dewan direksi. Dalam rangka memotivasi para manajer dan pemegang saham agar berperilaku dalam sikap yang memajukan tujuan perusahaan. diantaranya: 1. Oknum yang terbukti bersalah tidak berhak lagi mendapatkan “penghargaan” sehingga dapat menimbulkan efek “kapok” bagi yang lain agar tidak berani mencoba-coba. maka ada beberapa hal yang harus dilakukan. Hal ini harus diiringi dengan sosialisasi dan implementasi (enforcement) tanpa ada pengecualian yang tidak masuk akal 2. Siapapun yang telah memenuhi syarat mempunyai kesempatan yang sama dan adil untuk “terpilih”. Disinilah peran profesionalisme dikedepankan 3.akan mereduksi konsep teoritis yang sebenarnya penting seperti juga ditegaskan oleh Eisenhardt (1989). Akuntabilitas dan Transparansi setiap “proses bisnis” dalam organisasi agar memungkinkan monitoring dari setiap pihak sehingga penyimpangan yang dilakukan oknum-oknum dapat diketahui dan diberikan sangsi tanpa kompromi. Terpilih artinya walaupun pejabat lain diatasnya tidak “berkenan” dengan orang tersebut. Penyusunan Standar yang jelas mengenai siapa saja yang pantas menjadi apa baik untuk jabatan fungsional maupun struktural ataupun untuk posisi tertentu yang dianggap strategis dan kritis. Hal yang sama juga diperlakukan pada pegawai/pejabat . Diadakan tes kompetensi dan kemampuan untuk mencapai suatu jabatan tertentu dengan adil dan terbuka. tetapi karena ia yang terbaik maka tidak ada alasan logis untuk menolaknya ataupun memilih yang orang lain. Oknum-oknum tersebut harus diumumkan pada publik dan tindakan apa yang telah diambil untuk menciptakan kontrol agar tidak terjadi “permainan” sehingga oknum-oknum tersebut bisa lolos dari sangsi yang berat. yaitu : • Penilaian terhadap kinerja manajer dibuat dengan kontrak yang jelas sehingga memotivasi agen bekerja dengan kepentingan terbaik principal • Principal memberikan pilihan rencana insentif jangka pendek dan jangka panjang dan agen diberikan keleluasan dengan batasan yang menguntungkan kepentingan para pemegang saham Untuk mencegah kemungkinan terjadinya konflik tersebut.

pinjaman. juga diumumkan untuk memberi efek “IDOL” sehingga ditiru oleh pegawai/pejabat lainnya. lingkungan kerja. Agent termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya. Agency theory memiliki asumsi bahwa masing-masing individu semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent. Defenisi Earning Manjemen Scott (2003:369) mendefinisikan earning management sebagai ''the choice by a manager of accounting policies so as to achieve some specific objective" yang artinya pilihan yang dilakukan oleh manajer dalam menentukan kebijakan akuntansi untuk mencapai beberapa tujuan tertentu. Hal inilah yang mengakibatkan adanya ketidakseimbangan informasi yang dimiliki oleh principal dan agent. dan perusahaan secara keseluruhan. Konflik kepentingan semakin meningkat temtama karena principal tidak dapat memonitor aktivitas manajemen sehari-hari untuk memastikan bahwa manajemen bekerja sesuai dengan keinginan pemegang saham (pemilik). Earning Management A.yang berprestasi. yaitu manajemen perusahaan. Pihak principal termotivasi mengadakan kontrak untuk menyejahterakan dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat. dalam mengelola perusahaan. Konsep earning management menggunakan pendekatan teori keagenan (agency theory) yang menyatakan bahwa "praktek earning management dipengaruhi oleh konflik antara kepentingan manajemen (agent) dan pemilik (principal) yang timbul karena setiap pihak berusaha untuk mencapai atau mempertimbangkan tingkat kemakmuran yang dikehendakinya". Agent mempunyai lebih banyak informasi mengenai kapasitas diri. Dalam hubungan keagenan. Akhirnya. akuntansi menjadi alat yang powerfull untuk memberikan keuntungan yang sebesar-besarnya kepada pemilik modal di satu sisi. juga dapat memberikan manfaat injeksi modal dan investasi yang makin besar dan linier kepada agen dari pemilik modal. principal tidak memiliki informasi yang cukup tentang kinerja agent. antara lain dalam hal memperoleh investasi. maupun kontrak kompensasi. . selain diberi reward.

Berdasarkan definisi-definisi di atas maka earning management adalah suatu usaha atau upaya mengatur pendapatan atau keuntungan untuk kepentingan-kepentingan tertentu yang dilandasi oleh faktor-faktor ekonomi tertentu. mempengaruhi keputusan pelaku pasar modal. menghindari biaya politik. artinya earning management memberi fleksibilitas bagi manajer untuk melindungi diri dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Earning Management . Adanya asumsi bahwa individu-individu bertindak untuk memaksimalkan dirinya sendiri. Dengan demikian. ataupun untuk mempengaruhi hasil kontraktual yang bergantung pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan. Menurut Healy dan Wahlen menyatakan bahwa earning management terjadi ketika para manajer menggunakan keputusannya dalam pelaporan keuangan dan dalam melakukan penyusunan transaksi untuk mengubah laporan keuangan baik untuk menimbulkan gambaran yang salah bagi stakeholder tentang kinerja ekonomis perusahaan. utang. 2. Salah satu bentuk tindakan agent tersebut adalah yang disebut sebagai earning management. Memandang earning management dari perspektif kontrak efisien. Ada dua cara memahami earning management yaitu sebagai berikut: 1. mengakibatkan agent memanfaatkan adanya asimetri informasi yang dimilikinya untuk menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui principal. manajer mungkin dapat mempengaruhi nilai pasar perusahaannya melalui earning management. dan kos politik. Memandang earning management sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimalkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi. Menurut Watt dan Zimmerman tujuan yang akan dicapai oleh manajemen melalui earning management meliputi: mendapatkan bonus dan kompensasi lainnya. B. Asimetri informasi dan konflik kepentingan yang terjadi antara principal dan agent mendorong agent untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya kepada principal* terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan pengukuran kinerja agent.Ketidakseimbangan informasi inilah yang disebut dengan asimetri informasi.

Earning management for bonus purposes Menyatakan bahwa manajer akan meningkatkan net income perusahaan untuk memaksimalkan bonus yang mereka terima. Kontrak antara manajer dengan perusahaan Dalam hal ini perusahaan memberi kebebasan bagi manajer untuk melakukan earning management dengan tujuan agar target perusahaan dapat tercapai. Kontrak antara perusahaan dengan kreditur Kontrak hutang antara perusahaan dengan kreditur pada awal kontrak telah ditentukan adanya persyaratan-persyaratan tertentu antara perusahaan dengan kreditur. yaitu: a. Oleh sebab itu untuk menghindari adanya penalties perusahaan cenderung meningkatkan pendapatan. Adanya pelanggaran pada persyaratan kontrak akan menyebabkan perusahaan lerkena penalties. 3. manajemen diperbolehkan memilih dan menerapkan metode-metode akuntansi. simply because their activities touch large numbers of people. (Scott 2001)'7/K// managers would opportunistically manage net income so as to maximize their bonuses under their firm's compensation plan. This would entail. for example accounting practices and procedures to minimize reported . Hal ini menjadi penyebab utama manajer melakukan earning management. ”This is the case for very large firms. Menurut Scott (2003:377) beberapa motivasi yang mendorong manajemen melakukan earning management antara lain sebagai berikut: Menurut Scott (2001). b.Berdasarkan pertimbangan biaya dan manfaat. Such firms may want to manage earnings so as to reduce their visibility'. Political motivation Perusahaan besar yang sebagian besar kegiatan usahanya menyentuh masyarakat pada umumnya cenderung mengurangi laba yang dilaporkan untuk mengurangi political cost. Other contractual motivations Ada 2 tujuan untuk menggambarkan earning management dari sisi kontrak. Untuk mencapai tujuannya perusahaan menawarkan bonus bagi prestasi manajer yang dapat mencapai target perusahaan." 2. motivasi-motivasi yang mendorong earning management adalah: 1.

taxation should not play a major role in earning management decisions in general. to increase their bonuses." 6.income. or postpone." 5. Consequently. being fired. thereby reducing firm's room to manouvre. Taxation Motivation Pajak penghasilan adalah mungkin mempakan motivasi yang paling nyata untuk earning management. Initial Public Offering ( IPO ) IPO adalah peristiwa dimana untuk pertama kalinya suatu perusahaan menjual atau menawarkan sahamnya kepada khalayak ramai (public) di pasar modal.. Hal tersebut dilakukan agar saham yang ditawarkan pada publik bernilai ." 4. Hal ini dilakukan agar bonus yang mereka terima pada saat pengundiiran diri/pension dapat meningkat. (Scott 2001) "The bonus plan hypothesis predicts that CEOs approaching retirement would be particular)/ likely to engage in a strategy of income maximation. Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan agar pajak penghasilan yang dibayarkan perusahaan semakin kecil. Menurut Scott “Income taxation is perhaps the most obvious motivation for earning management..." Disamping itu CEO yang tidak menampilkan kinerja yang bagus pada perusahaan cenderung melindungi diri dengan meningkatkan pendapatan atau laba agar tidak diperhentika dari pekerjaannya. Changes of Chief Executive Officer (CEO) CEO yang mengundurkan diri atau pensiun cenderung membuat kondisi perusahaan terlihat bagus dengan meningkatkan pendapatan atau laba. taxation authorities tend to impose their own accounting rules for calculation of taxable income. (Scott 2001 )"Similarly CEOs of poorly performing firms may income-maximize to prevent.. However.. Penetapan harga dasar penawaran (offerings price) beberapa saham suatu perusahaan yang untuk pertama kalinya menawarkan sahamnya ke publik (gopublic) merupakan hal yang tidak mudah untuk dilakukan karena ketetapan harga penawaran dalam pasar perdana akan konsekuensi langsung terhadap kesejahteraan pemilik lama (issuer).. Perusahaan go public cenderung menampilkan kondisi perusahaan yang sehat sehingga mendorong manajemen untuk memanage pendapatan dengan meningkatkan laba perusahaan..

atau makna transaksi dalam pelaporan keuangan dengan melakukan pemilihan metode akuntansi dan accounting judgment. kelika kondisi buruk yang tidak menguntungkan tidak dapat dihindari pada periode tersebut. (Scott 2001) “ Presumbly. Bentuk ini mengakui adanya biaya pada periode yang akan datang sebagai kerugian pada periode berjalan." C. If reported earnings are managed to a number that represents management's best estimate of persistent earning power. jumlah. share will quickly reflect this inside information." 7. Bila pemsahaan hams melaporkan laba yang tinggi. Oleh sebab itu perusahaan cenderung menaikkan pendapatan/laba agar dapat menampilkan kesan positif. This raises the possibility that managers of the firms going public may manage the earnings reported in their prospectuses in the hope of receiving a higher price for their shares. manajer dipaksa untuk melaporkan laba yang tinggi. Taking a bath Terjadinya taking a bath pada periode stress atau reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru. To communicate information to investor Manajemen perusahaan selalu menyajikan informasi yang bagus mengenai prospek perkembangan perusahaan di masa yang akan datang agar investor tertarik untuk menanamkan modalnya. For example. and the market realizes this. Menurut Scott (2003:383) berbagai pola yang sering dilakukan manajer dalam earning management adalah: 1. Pola Dalam Earning Management Banyak cara yang dapat dilakukan oleh manajer untuk mempengaruhi waktu. (Scott 2001)'Wow it is management that typically has the best information about future earning prospects.tinggi. financial accounting information included in the prospectus is a useful information source. Untuk itu manajemen hams menghapus beberapa aktiva dan membebankan perkiraan biaya yang . Hughes (1986) shows analytically that information such as net income can be useful in helping to signal firm value to investors. konsekuensinya manajer akan menghapus aktiva dengan harapan laba yang akan datang dapat meningkat.

contoh: mengubah metode depresiasi aktiva tetap yaitu dari metode depresiasi angka tahun ke metode depresiasi garis lurus. Pertama yaitu memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi. Hal ini dilakukan dengan meratakan laba yang dilaporkan untuk tujuan pelaporan eksternal. Income minimization Bentuk ini mirip dengan "taking a bath". Perencanaan bonus yang didasarkan pada data akuntansi mendorong manajer untuk memanipulasi data akuntansi tersebut guna menaikkan laba untuk meningkatkan pembayaran bonus tahunan. 4. Pada saat profitabilitas perusahaan sangat tinggi dengan maksud agar tidak mendapat perhatian secara politis. Income maximization Tindakan ini bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar. mempercepat atau menunda pengeluaran promosi . terutama bagi investor karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil. Perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian hutang mungkin akan memaksimalkan pendapatan.akan datang pada saat ini serta melakukan clear the desk* sehingga laba yang dilaporkan di periode yang akan datang meningkat. Kedua yaitu mengubah metode akuntansi. tetapi lebih sedikit ekstrim. biaya iklan dan pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan. antara lain: estimasi tingkat piutang tak tertagih. Ketiga yaitu menggeser periode biaya atau pendapatan. Income smoothing Bentuk ini mungkin yang paling menarik. kebijakan yang diambil dapat berupa penghapusan atas barang modal dan aktiva tak berwujud. Teknik untuk merekayasa laba dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok. Jadi tindakan ini dilakukan pada saat laba menurun. 2. yakni dilakukan sebagai alasan politis pada periode laba yang tinggi dengan mempercepat penghapusan aktiva tetap dan aktiva tak berwujud dan mengakui pengeluaranpengeluaran sebagai biaya. estimasi kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud. Perubahan metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi. hasil akuntansi untuk biaya eksplorasi. 3. estimasi biaya garansi. misalnya: mempercepat atau menunda pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan sampai periode akuntansi berikutnya.

Sebagai contoh. Earning management merupakan fenomena yang sukar dihindari karena fenomena ini hanya dampak dari penggunaan dasar akrual dalam penyusunan laporan keuangan. Contohnya adalah merubah metode pencatatan dari LIFO menjadi FIFO. yang tunduk pada suatu standar atau prinsip akuntansi yang berlaku umum. Discretionary accrual adalah pengakuan akrual laba atau beban yang bebas tidak diatur dan merupakan pilihan kebijakan manajemen. Dan alasan ini adalah bahwa standar akuntansi tentang konsistensi mencegah terjadinya perubahan kebijakan akuntansi sesering mungkin. maka besar kemungkinan dalam periode tersebut perusahaan dinyatakan mengalami rugi. Jika laporan rugi laba disusun dengan dasar kas. pembelian aktiva tetap secara tunai senilai seratus juta rupiah mesti dibebankan sebagai biaya pada periode saat pembelian aktiva tersebut. dengan dasar kas. Kedua. basis akrual dipilih dengan tujuan untuk menjadikan laporan keuangan lebih informatif yaitu laporan keuangan yang benar-benar mencerminkan kondisi yang sebenarnya. akrual yang ditujukan untuk menjadikan laporan . dimana transaksi akrual memiliki pengaruh terhadap pendapatan dan biaya namun tidak tampil pada arus kas. dengan mengubah kebijakan akuntansi. mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tidak dipakai. menjual investasi sekuritas untuk memanipulasi tingkat laba. Pendekatan lain yang digunakan dalam mengendalikan net income : Pertama. sedangkan non discretionary accrual adalah pengakuan akrual laba yang wajar. Dasar akrual disepakati sebagai dasar penyusunan laporan keuangan karena dasar akrual memang lebih rasional dan adil dibandingkan dasar kas.sampai periode akuntansi berikutnya. Alasannya adalah manajemen harus menjelaskannya dalam disclosure pada laporan keuangan tahunan. Jadi pada dasarnya. mempercepat atau menunda pengiriman produk ke pelanggan. Contoh: amortisasi dan depresiasi adalah sepenuhnya dikuasai oleh perusahaan dalam hal menentukan masa manfaatnya sehingga perusahaan dapat mengatur besarnya pembebanan pada biaya sesuai keinginan manajemen dalam rangka mencapai hasil akhir pada net income yang diinginkan. manajemen juga dapat menentukan net income yang diinginkan. meskipun aktiva tersebut akan bermanfaat bagi perusahaan selama 10 tahun. dengan mengendalikan transaksi-transaksi akrual. Terdapat dua konsep akrual yaitu: discretionary accrual dan non discretionary accrual. namun hasrat manajemen untuk melaksanakan hal ini tidak sekuat accrual items. Sayangnya.

Kajian mengenai motivasi pasar modal ini telah dilakukan oleh Prihandini (2003) yang menyatakan bahwa motivasi dilakukannya earning management karena alasan pasar modal lebih banyak disebabkan oleh adanya anggapan umum bahwa angka-angka akuntansi. Selain itu peningkatan laba perusahaan juga akan menarik minat investor di pasar untuk menanamkan modalnya karena investor beranggapan bahwa perusahaan tersebut memiliki kinerja yang optimal sehingga mampu memberikan tingkat pengembalian yang tinggi. Hubungan ini akan memicu manajer untuk memainkan angka laba sehingga dapat meningkatkan harga saham perusahaan. khususnya laba merupakan salah satu sumber informasi penting yang digunakan oleh investor dalam menilai harga saham dan para pemegang saham dalam menilai kinerja manajemen. skema kompensasi manajemen dihubungkan dengan kinerja perusahaan yang disajikan dalam laba akuntansi yang dilaporkan.yang sesuai fakta ini sedikit dapat digerakkan (tuned) sehingga dapat mengubah angka laba yang dihasilkan. fluktuasi dalam kinerja manejemen dapat mengakibatkan inlervensi pemilik untuk mengganti manajemen dengan cara . Adanya fenomena tersebut. D. Reaksi Pasar Modal (Harga Saham) terhadap Earning Management Motivasi pasar modal bermula dari kecenderungan meningkatnya harga saham perusahaan jika kinerja perusahaan meningkal. yang ditandai dengan peningkatan angka laba. Tindakan manajer yang ingin memaksimalkan kemakmuran dan kesejahteraan ekonomi para pemegang saham dengan meningkatkan harga saham perusahaan ini akan dinilai baik oleh pemegang saham. Karena alasan ini. Peningkatan harga saham akan menyenangkan para pemegang saham karena investasi yang mereka lakukan telah berkembang. Perkembangan ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan harga saham saat ini dibandingkan dengan harga saham pada saat pertama kali mereka beli. Brayshaw dan Eldin (1989) mengungkapkan dua alasan mengapa manajemen diuntungkan dengan adanya praktik perataan laba: pertama. maka tidak mengherankan kalau ada sebagian manajer berusaha untuk membuat laporan keuangannya nampak baik dengan maksud untuk mempenganihi kinerja harga saham jangka pendek. maka diduga manajer perusahaan melakukan praktek earning management. karena itu seliap fluktuasi dalam laba akan berpengaruh langsung terhadap kompensasinya dan kedua.

Sedangkan non-discretionary accruals adalah sebaliknya. Perusahaan dapat melakukan pencatatan kapan piutang tersebut dihapuskan. Pendekatan ini berasumsi bahwa komponen non-discretionary accruals cenderung stabil sepanjang waktu. Dengan melakukan peraiaan laba maka perusahaan akan mampu mengendalikan abnormal return yang terjadi kelika laba diumumkan. Dengan menampilkan laba yang relatif stabil diharapkan akan meningkatkan persepsi pihak eksternal mengenai kinerja manajemen perusahan tersebut. Discretionary accruals adalah pengakuan akrual laba/ beban yang bebas tidak diatur dan mempakan pilihan kebijakan manajemen. mesin .pengambilalihan alau penggantian manajemen secara langsung. Jika informasi laba yang diumumkan merupakan good news bagi investor maka harga saham akan meningkat dan memberikan abnormal return yang besar bagi investor sehingga hal tersebut menarik perhatian investor lain untuk berinvestasi di perusahaan tersebut. pengakuan akrual laba yang wajar yang tunduk pada suatu standar/ prinsip akuntansi yang berlaku secara umum. pada periode buku sekarang atau pada tohun buku berikutnya. Salah satu kelebihan dari pendekatan total accruals adalah pendekatan tersebut berpotensi untuk dapat mengungkapkan cara-cara untuk menurunkan atau menaikkan keuntungan. E. Total accruals terdiri dari discretionary accruals (karena kebijakan manajemen) dan nondiscretionary accruals. karena cara-cara tersebut kurang mendapat perhatian untuk diketahui pihak luar. sehingga yang layak untuk dipertimbangkan adalah komponen discretionary accruals. Ancaman penggantian ini mendorong manajemen untuk membuat laporan kinerja yang sesuai dengan keinginan pemilik. Investor menilai kinerja manajemen dan kondisi perusahaan melalui laporan laba rugi. Cara Menentukan Adanya Earning Management Dalam menentukan ada atau tidaknya tindakan earning management dapat dideteksi melalui pendekatan total accruals. Telapi jika informasi laba tersebut merupakan bad news maka harga saham akan lurun dan menyebabkan investor melepas alau menarik inveslasinya dari perusahaan tersebut. Contoh: satu fakta yang sama dapat dilaporkan dengan cara yang berbeda. dimana total accruals (non-kebijakan manajemen) digunakan sebagai proxy dari discretionary accruals karena discretionary accruals tidak mudah diobservasi oleh para pemakai laporan keuangan. Contoh: pada akhir tahun buku perusahaan mengetahui bahwa suatu piutang tertentu tidak dapat ditagih.

Seperti disebutkan. Akan tetapi kebijakan akuntansi untuk membuat laporan keuangan lebih informatif kepada pengguna . antara lain : 1. misalnya melalui pemilihan metode akuntansi atau estimasi untuk memberikan sinyal yang memadai agi penilaian kinerja perusahaan. Menurut Healy (1999). Kita harus berhati-hati untuk tidak selalu menafsirkan bukti manajemen laba untuk bonus. Sisi ”Buruk” Managemen Laba Sisi buruk managemen laba. kita dapat mempertimbangkan sisi baik dari manajemen laba baik dari kontraktor dan perspektif pelaporan keuangan. Manajer disisi lain. manajemen laba mengaburkan informasi kinerja ekonomis perusahaan karena ada kondisi dimana manajer perusahaan memiliki akses informasi secara langsung sementara sebagian stakeholder tidak. Ada sebagian informasi yang tidak tersampaikan ke stakeholder. mencerminkan kinerja perusahaan sesungguhnya. F. Oleh karena non-discretionary accruals merupakan akrual wajar. maka diinginkan untuk memberikan manajer beberapa kemampuan untuk mengelola pendapatan di dalam menghadapi kontak lengkap dan kaku. dan alasan-alasan politik sebagai buruk. Perbedaan metode/ perbedaan estimasi tersebut akan menghasilkan nilai akhir (laba) yang sedikit berbeda.yang sama dapal didepresiasikan dengan dua metode yang berbeda (garis lurus/ saldo menurun) atau dengan dua estimasi umur ekonomis yang berbeda. memang dapat menggunakan kebijakan untuk membuat laporan keuangan lebih informatif. G. Berdasarkan kontrak yang efisien. Manajemen laba bisa menjadi alat untuk menyampaikan informasi kepada pasar. dan apabila dilanggar akan mempengaruhi kualitas laporan keuangan (tidak wajar) maka non-discretionary accruals ini tidak relevan dalam objek penelitian ini. sehingga harga saham dapat lebih mencerminkan prospek masa depan perusahaan. Sisi ’Baik” Managemen Laba Alasan lain untuk perkembangan manajemen laba adalah bahwa ada "baik" sisi untuk itu. Oleh karena itu bentuk akrual yang dianalisis dalam penelitian ini adalah bentuk discretionary accruals yang merupakan akrual tidak normal dan menipakan pilihan kebijakan manajemen. Dari perspektif kontrak sejauh mana laba manajemen bisa baik berhubungan dengan kontrak yang efisien versus oportunistik bentuk teori akuntansi positif. perjanjian hutang.

Yang dimaksud dengan stakeholder adalah pemegang saham. Moral Hazard menimbulkan Agency cost Contoh : pada saat ada pemeriksaan maka manajemen akan bersikap baik sedang pd saat tanpa ada pemeriksaan maka manajemen lebih bersikap negativ atau kurang baik. terutama untuk perusahaan yang menggunakan angka akuntansi untuk penilaian kinerja secara mutlak. apakah tindakan manajer melakukan manajemen laba tidak akan menyesatkan pemakai laporan keuangan. Manajer dengan kinerja keuangan yangburuk dan perusahaan dengan laba rendah lebih mudah melakukan tindakan tidak etisdibandingkan manajer dengan kinerjakeuangan baik dan perusahaan dengan laba. 2. Ditinjau dari legalitas. Apalagi karena laba merupakan komponen penting yang dipantau para pemakai laporan keuangan. Menilai etis atau tidaknya manajemen laba dapat dilihat dari sudut pandang pencapaian keseimbangan antara kepentingan individu (manajer) dengan kewajiban terhadap pihakpihak yang terkait dengan perusahaan (stakeholder). pelanggan. • Biaya Audit / External : Monitoring Cost • Pengembangan Teknologi : Abbonding Cost .tidak masuk dalam definisi. Penilaian tersebut hanya dapat dilakukan kalau manajer melakukannya secara sadar. Tekanan persaingan untuk menghasilkan laba yang tinggi bisa menyebabkan perilaku tidak etis. Kontroversi muncul ketika manajemen laba dikaitkan dengan moral/etika. pemasok. kreditur dan investor. tidak ada yang dilanggar karena pemilihan metode akuntansi tidak melanggar standar akuntansi yang berlaku di samping merupakan kewenangan manajer untuk memilih metode akuntansi yang akan dipakai. artinya menyadari implikasi jangka panjang yang ditimbulkan. karyawan.