Anda di halaman 1dari 18

ACARA I

PENGUKURAN LAJU INFILTRASI
ABSTRAKSI
Praktikum Pengukuran Laju Infiltrasi dilaksanakan pada hari Selasa,
16 Februari 2016 di Laboratorium Agrohidrologi dan halaman Stasiun
Meteorologi
Fakultas
Pertanian,Universaitas
Gadjah
Mada,
Yogyakarta. Alat dan bahan yang digunakan adalah dua buah
infiltrometer tabung konsetrik (tabung dalam dan tabung luar),
penggaris, ember, stopwatch, selang, dan air. Karena cuaca tidak
mendukung maka digunakan data sekunder pengukuran laju
infiltrasi. Pada praktikum ini bertujuan untuk mengadakan
pengukuran laju infiltrasi dan mempelajari faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Infiltrasi merupakan perjalanan air ke dalam
tanah sebagai akibat adanya gaya gravitasi dan gaya kapiler. Pada
praktikum ini untuk mengukur laju infiltrasi digunakan infiltrometer
dengan tabung konsentrik, meteran atau penggaris, ember, dan
stopwacth. Sedangkan
sebagai
bahannya
adalah
air
kran.
Pengukuran laju infiltrasi dilakukan dengan mengukur kehilangan air
di permukaan tanah dengan meteran. Pengukuran dilakukan dengan
selang waktu tertentu. Adanya vegetasi mempengaruhi besarnya laju infiltrasi. Laju
infiltrasi pada tanah tanpa vegetasi lebih besar daripada laju infiltrasi pada tanah
bervegetasi. Perubahan kemampuan tanah dalam menyerap air dari permukaan, terlihat
berbeda nyata pada interval waktu ke 10 menit, dengan nilai rerata pada daerah vegetasi
sebesar 2.8 dan rerata pada daerah tanpa vegetasi sebesar 1.67.
Kata kunci : Infiltrasi, vegetasi, non vegetasi.

I.

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Air
makhluk

merupakan
hidup

kebutuhan

lainnya.

Untuk

pokok

bagi

menjamin

manusia

dan

keberlangsungan

kehidupan di bumi, makhluk hidup baik manusia, hewan dan
tumbuhan

mutlak

membutuhkan

air

sebagai

kebutuhan

primernya.Tidak ada kehidupan makhluk yang tidak terkait
langsung atau tidak langsung dengan sumberdaya air. Tanpa air,
mikroorganisme yang mendekomposisi bahan organik tidak akan
pernah ada, demikian pula tidak akan pernah ada siklus materi
dan energi, dengan demikian tanpa air tidak akan pernah ada
kompleksitas ekosistem. Sehingga dapat dipastikan bahwa jika
tidak ada air, maka kehidupan diatas permukaan bumi ini akan
terancam kepunahan.
Pengukuran laju infiltrasi di lapangan ini, dimaksudkan
untuk mengetahui berapa kecepatan dan besaran masuknya

1

maka dapat diduga seberapa besar kebutuhan air yang diperlukan oleh suatu jenis tanah pada suatu luasan tertentu untuk membasahinya. 2 . Tujuan Tujuan pada praktikumm ini adalah untuk mengadakan pengukuran laju infiltrasi dan mempelajari factor-faktor yang mempengaruhinya. sejak dari kondisi kering lapangan (dengan rekahan-rekahan yang bersifat khusus bagi tiap jenis tanah) hingga keadaan yang kebutuhan airnya menjadi konstan.atau meresapnya air ke dalam tubuh tanah. Upaya untuk mengamati atau menguji sifat ini diharapkan mampu memberikan gambaran tentang kebutuhan air irigasi yang diperlukan bagi suatu jenis tanah untuk jenis tanaman tertentu pada suatu saat. Data laju infiltrasi ini juga dapat digunakan untuk menduga kapan suatu aliran permukaan akan terjadi bila suatu jenis tanah telah menerima sejumlah air tertentu baik melalui curah hujan ataupun irigasi dari suatu tandon air di permukaan tanah. B. Dari gejala proses infiltrasi yang pada umumnya mula-mula cepat kemudian melambat dan disusul dengan kondisi konstan.

Air juga bergerak ke semua arah.2005). Kemudian air tanah akan bergerak ke lapisan yang paling dalam.II. Apabila tanah yang kering terkena hujan. Kecepatan infiltrasi biasanya dinyatakan dalam satuan-satuan yang sama seperti intensitas presipetasi (mm/jam). TINJAUAN PUSTAKA Infiltrasi adalah bagian presipitasi yang terserap oleh tanah mineral dimana harga maksimum atau potensialnya adalah presipitasi efektif. Laju infiltrasi dengan jelas tidak dapat melebihi intensitas presipitasi di atas tanah gundul. Infiltrasi biasanya memberikan tambahan kepada limpasan langsung (aliran cepat). Kecepatan gerakan air sangat berkurang bila terjadi peralihan dari aliran permukaan ke aliran bawah permukaan. Infiltrasi adalah masuknya air dari permukaan ke dalam tanah. kandungan lengas tanah di permukaan meningkat mencapai kapasitas lapangan. 1990). Di atas kapasitas lapangan perkolasi bergerak lambat melalui pori-pori berukuran 10-50 µm dan pengatusa terjadi dengan cepat melaui pori-pori berukuran > 50 µm (Sutanto. 3 . Di hutan nilainya tidak dapat melebihi intensitas presipitasi efektif (Lee.

permeabilitas. pemadatan tanah oleh manusia dan hewan akibat traffic line oleh alat olah. kuat tanah pada karakteristik menggunakan dan pengembangan yang berbeda dari tanah dan teluk mereka Meskipun terkenal bahwa permukaan jenis dan sifat-sifat tanah.faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi adalah tekstur tanah. kondisi perakaran tumbuhan baik akar aktif maupun akar mati (bahan organik). 2005). semakin besar volume pori tanah. kekasaran permukaan tanah. semakin tinggi akumulasi bahan organik tanah maka laju infiltrasi akan semakin besar (Asdak. Pengetahuan tentang sumber dan pola variasi dalam proses ini dan pengendali mereka faktor sangat penting untuk memahami dan pemodelan hidrologi fungsi sebelumnya kosistem telah setengah menunjukkan bahwa gersang Penelitian setengah gersang Mediterania lereng berperilaku sebagai mosaik generasi limpasan dan infiltrasi morfometri patch lereng. kadar air atau lengas tanah. kadar air tanah dan vegetasi. Semakin rendah nilai kerapatan massa (bulk density) tanah. penyumbatan pori tanah mikro oleh partikel tanah halus seperti bahan endapan dari partikel liat. topografi atau kemiringan lahan. 1995). struktur tanah. semakin besar daya serap akar. kualitas air yang akan terinfiltrasi serta suhu udara tanah dan udara sekitar (Kodoatie dan Roestam. seperti infiltrasi dan limpasan sangat bervariasi dalam ruang dan waktu. Proses hidrologi di daerah semi kering. proporsi udara yang terdapat dalam tanah.Faktor. Beberapa faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi laju infiltrasi adalah tinggi genangan air di atas permukaan tanah dan tebal lapisan tanah yang jenuh. kerapatan massa (bulk density). 4 . tergantung litologi. Bila ditinjau dari sudut vegetasi maka semakin besar penetrasi akar. dan semakin remah tanahnya maka laju infiltrasi akan semakin besar. pemadatan tanah oleh curah hujan. intensitas hujan.

seperti jenis vegetasi dan cover. antara lain. III. mengganggu permukaan-vented pori-pori. Yogyakarta. residu and dan Arshad.Universaitas Gadjah Mada. METODOLOGI Praktikum Pengelolaan Air untuk Pertanian acara 1 dengan judul Pengukuran Laju Infiltrasi dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 16 Februari 2016 di Laboratorium Agrohidrologi dan halaman Stasiun Meteorologi Fakultas Pertanian. 2011). dan kedalaman tanah. penutup kerak. penutup batu fragmen. Infiltrasi tanah berhubungan langsung dengan jangka panjang-stabilitas struktural CT dan NT sistem dapat mengubah bulk density. and Contreras. 2011). stabilitas agregat. tanah kandungan karbon organik. Alat dan bahan yang digunakan adalah 5 . porositas total dan kadar karbon organik dengan demikian mengubah stuktur tanah dan tanah berbagai faktor yang mempengaruhi kapasitas penyimpanan air dan transmisi air sifat-sifat operasi budidaya tanah di CT sistem kompak tanah di bawah zona. meningkatkan meningkatkan penyegelan istirahat turun permukaan dari (Azooz. dapat mempengaruhi proses limpasan infiltrasi interaksi pewaris dan kepentingan relatif dalam mendorong hidrologi perilaku masih belum jelas (Yan Li.

Langkah tersebut diulangi hingga infiltrasi konstan. Praktikum ini dilaksanakan pada dua daerah pengamatan yaitu daerah dengan vegetasi dan non vegetasi. Infiltrasi konstan apabila pada tiga kali pengamatan selisih antara h1 dan h2 adalah konstan. Kemudian tabung infiltrometer bagian luar dan dalam ditekan masuk kedalam tanahsecara bergantian hingga kedalaman 10 cm dari permukaan tanah. data yang diperoleh diolah dengan interpolasi sehingga didapatkan nilai laju infiltrasi setiap interval waktu. Setelah itu. air ditambahkan hingga mencapai tinggi awal. Penurunan air pada tabung berdasarkan interval waktu pengamatan yang dicatat sebagai h2 diamati dan dicatat hingga laju infiltrasi air ke dalam tanah. penggaris. selang. Infiltrometer tabung konsentrik diletakan di atas permukaan tanah yang datar dengan posisi tegak lurus permukaan tanah. Waktu pengukuran dicatat dan diamati interval waktu setiap 5 menit. Setelah itu. IV. Apabila tanah dalam tabung hampir habis.dua buah infiltrometer tabung konsetrik (tabung dalam dan tabung luar). ember.Kemudian. HASIL PENGAMATAN 6 . penggaris diletakan kedalam tabung infiltrometer. Tabung diperhatikan agar tidak miring dan tidak merusak permukaan ketika dimasukan ke tanah. stopwatch. dan air. tabung diisi dengan air hingga menggenang pada ketinggian tertentu dan dicatat sebagai h1.

90 0.3 121.0 12 21 4.40 9.0 288.0 1 11.0 150.70 1.40 13.9 125.8 140.10 0 450.90 0.30 8.90 0.70 0 176.09 0 175.90 0.70 2.80 11.40 9.10 0 288.80 1.9 12 37 10.7 13 7 8.30 1.20 0 212.30 11.40 0 282.50 2.90 1.3 106.7 11 5 9.33 0 176.0 12 2 10.20 0 11 Contoh Perhitungan Laju Infiltrasi: Laju infiltrasi = {( H x 10) x 60} / t 7 .6 12 45 8.20 0 115.00 7.80 4.70 12.90 0.84 5 175.20 0.7 12 65 10.60 12.60 1.80 12.30 2.60 1.70 1.50 13.50 2.00 8 206.80 0 178.Tabel 1.90 0.70 7 204.60 0. Tabel pengukuran infiltrasi.0 123.30 1.80 5.50 3.76 2 181.70 0.50 9.40 6.80 9.00 0.40 4.24 0 177.9 14 9 7.40 0 340.5 112.4 110.20 2 180.80 0 229.40 0.3 12 55 5.00 0 179.00 8 220.10 7.70 2.6 132.80 6.30 2.60 7.30 11.00 5 213.4 13 13 7.40 11.70 7.30 0.2 121.94 1 180.40 11.60 1.30 13.00 0.4 12 29 3.8 120.80 1.00 12.50 6.70 9.70 9.50 7.0 120.2 11 75 7.70 2.50 9.00 10.40 5 240.50 13.00 0 201.41 5 178.70 11.0 12 17 6.0 60.80 1 208.0 120.00 5.40 0.70 13.8 10 3 9.50 2 181.67 2 187.40 10.50 0.60 7.10 0 175.40 5.60 7.00 0 233.40 13.50 10. laju infiltrasi dan interpolasi Waktu kumula tif Tinggi Air Vegetasi Non Vegetasi Infiltrasi H1-H2 H1-H2 Vegeta non laju Infiltrasi Vegeta non Interpol Vegeta n H1 H2 H1 H2 si vegetasi si vegetasi si veg 360.

Sedangkan adanya gaya kapiler akan menyebabkan air yang masuk bergerak kesembarang arah. sebagai aliran antara (interflow) menuju danau ataupun sungai. tepatnya dilaksanakan di stasiun meteorologi (AWS) Fakultas Pertanian. Dengan adanya gaya grafitasi.model aliran seperti ini biasanya dikenal dengan sebutan perkolasi menuju air tanah (Bambang. maka akan mengakibatkan air yang masuk bergerak ke arah yang lebih rendah dari pada daerah asal. Di dalam tanah nantinya air ini akan mengalir dengan arah yang lateral. Gerakan air didalam tanah melalui pori-pori tanah. yaitu gaya grafitasi dan gaya kapiler. Hal tersebutlah yang menyebabkan pada praktikum acara 1 ini di gunakan data sekunder sebagai data golongan. 2010). Aliran air ini terihat bergerak secara vertikal.H = H1-H2 (dalam mm) H = infiltrasi Perhitungan laju infiltrasi pada tanah vegetasi dengan waktu kumulatif 1 menit = {((11 – 10. PEMBAHASAN Laporan praktikum pengelolaan air untuk pertanian acara 1 tentang infiltasi dilakukan diluar laboratorium. akan sangat di pengaruhi oleh dua buah gaya. Pada saat pelaksanaan praktikum ternyata terdapat kendala cuaca yang menyebabkan praktikan tidak dapat mengambil data pengukuran infiltrasi.6 x 10) x 60} / 1 = 360 mm/jam V. Infiltrasi merupakan aliran air ke dalam tanah melalui permukaan tanah.4) x 10) x 60} / 1 = {(0. 8 .

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai laju infiltrasi air ke dalam tanah paling tinggi ditunjukkan oleh daerah dengan kondisi berupa adanya vegetasi. Gaya tersebut secara perlahan akan menurun dengan bertambanya kelembaban tanah. setelah di basahi.air kapiler akan selalu bergerak dari daerah yang basah menuju daerah yang kering. seperti lempungan dari pada tekstur tanah yang berbutir kasar seperti jenis tanah pasiran. Apabila pada tanah yang kering. Selain itu. air akan terinfiltrasi melalui permukaan tanah. Hal ini menyebabkan penurunan laju infiltrasi 9 . Semakin basah bagian atas tanah yang kering akan menyebabkan menurunnya kemampuan gaya kapiler pada tanah tersebut. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh gaya grafitasi dan gaya kapiler pada permukaan tanah. Hal ini terjadi karena pada tanah yang kering atau tanah yang vegetasinya rendah atau bahkan sampai tak bervegetasi mempunyai gaya kapiler lebih besar dari pada tanah basah.Grafik laju infiltrasi terhadap waktu pada kondisi lahan dengan vegetasi dan lahan tanpa vegetasi. gaya kapiler akan bekerja lebih kuat pada tanah-tanah dengan tekstur berupa butiran halus. Grafik Laju Infiltrasi 350 300 250 200 laju infiltrasi (mm/jam) 150 100 50 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 waktu Vegetasi non vegetasi Gam bar 1.

selain itu dengan adanya seresah-seresah ini. maka kemampuan tanah mengikat airnya menjadi meningkat. Hal tersebut terjadi karena pada daerah atau wilayah dengan vegetasi tinggi akan memiliki seresah-serah berupa ranting atau daun yang nantinya akan menjadi bahan organik. Menurut Bambang (2010). Jika digambarkan kondisi yang terjadi. Ketika tanah menjadi basah gaya kapiler berkurang yang akan mengakibatkan laju infiltrasi menurun. maka yang terjadi adalah pada saat aliran air dipermukaan berkurang. Kemudian dengan adanya penutup tanah ini akan menurunkan efek negatif dari tingginya 10 . apabila tanah dalam kondisi kering ketika infiltrasi terjadi.(Bambang. ketika terjadi hujan dengan intensitas yang cukup tinggi akan menyebabkan tanah yang pada awalnya memiliki agregat yang besar-besar lama kelamaan akan terurai atau hancur menjadi agregat yang lebih kecil. Selain itu pada lahan yang vegetasinya rendah. hal ini karena seresah tanaman memiliki sifat mengikat air lebih tinggi (3x) (Cheema et all. Sedangkan pada tanah dengan kondisi vegetasinya baik kemampuan untuk menyimpan air akan sangat tinggi ketimbah tanah yang vegetasinya lebih rendah. sampai akhirnya kapasitas infiltrasi mencapai suatu nilai konstan yang sangat di pengaruhi oleh grafitasi dan laju perkolasi. Seresah-seresah ini memiliki sifat menjaga suhu pada permukaan tanah sehingga menurunkan sifat gaya kapiler. aliran air karena pengaruh grafitasi akan tetap mengisi pori-pori tanah. 2010).. Berdasarkan pemaparan pustaka di atas. hasil yang didapat yang telah di tampilkan dalam bentuk grafik menunjukkan kesamaan dengan teori. kapasitas infiltasi akan naik atau tinggi karena kedua buah gaya yang mengakibatkan air masuk ke dalam tanah bekerja (kapiler dan grafitasi). Dengan terisinya pori-pori tanah ini akan menyebabkan laju infiltrasinya akan berkurang sampai akhirnya mencapai suatu titik tertentu dan akhirnya menjadi konstan. 2011).

57 0. Pada uji T ketika nilai p-value lebih kecil dari pada nilai alpha maka pada menit tersebut.63 0. Pengujian varian ini dilakukan untuk mengetahui apakah dalam praktikum ini sudah terdapat homogenitasnya atau belum hal tersebut dapat dilihat dari nilai p-value yang lebih besar daripada nilai alfanya. Pada praktikum ini selain melihat variabel lingkungan berupa daerah vegetasi dan daerah non vegetasi. Tabel rerata infiltrasi Waktu 1 2 Tabel infiltrasi vegetasi non vegetasi 0. praktikum ini juga memperhatikan waktu dimana laju interpolasi ini terjadi sangat signifikan pada daerah yang bervegetasi maupun daerah yang non vegetasi. Tabel 2. Hal ini yang menyebabkan laju infiltrasi pada daerah yang punya vegetasi lebih tinggi daripada daerah yang tak bervegetasi.Hal tersebut dapat diketahui dengan melihat nilai p-value yang muncul. selisih nilai yang di tunjukkan pada daerah yang punya vegetasi dan non vegetasi berbeda nyata secara matematik (statistka).curah hujan yang dapat merusak agregat tanah.33 uji t Ns Ns 11 . pada daerah yang bervegatasi dengan daerah yang tidak bervegetasi perbedaannya atau selisih nilai yang muncul berbeda nyata atau tidak (signifikan / not signifikan). Kemudian untuk lebih dalam di lakukan pengujian T hal ini dilakukan untuk mengetahui pada tiap-tiap menit. selisih yang di munculkan tidak berbeda nyata secara matematik (statistika). Cara yang dapat digunakan untuk mengetahui hal itu adalah dengan cara melakukan pengujian varian dan uji T. jika nilai p-value lebih tinggi maka.20 0. Agar lebih jelas maka akan di tampilkan tabel hasil analisis rerata infiltrasi.

selisih yang terlihat antara daerah vegetasi dengan daerah non vegetasi selisih yang di tunjukkan sangat besar yaitu (0. 0.37). fungsinya untuk melihat homogenitas dalam pengambilan sampel.4 8 10 1.23 2.Nilai tersebut menunjukkan bahwa dalam praktikum ini pada menit pertama data yang didapat sudah homogen. 0.1868) dimana hal itu artinya pada menit ke 2 antara daerah vegetasi dengan daerah tanpa vegetasi tidak terjadi perubahan yang signifikan secara 12 . pengujian varian juga dilakukan untuk mengetahui apakah data yang didapatkan sudah homogen atau belum.25). dimana hal tersebut terlihat dari nilai p-value yang lebih besar dari pada alpha (5%). nilai p-vaue dalam pengujian varian menunjukkan nilai sebesar (p-value. Secara nilai.Karena data tersebut sudah homogen maka pengujian di lanjutkan dengan pengujian T untuk menentukan selisih nilai yang dimunculkan pada rerata infiltrasi pada daerah dengan vegetasi dan tanpa vegetasi apakah ada pengaruh yang signifikan atau tidak.Hal tersebut di tunjukkan dengan nilai p-value pada uji T yang lebih besar dari pada nilai alpha yaitu (p-value.80 1. 0. Pada menit kedua.50 1.67 Ns Ns S* Data-data yang didapat pada tiap-tiap waktu pengukuran di uji dengan mengetahui menggunakan besar kecilnya perangkat pengaruh lunak lingkungan R. Kemudian dilanjutkan dengan uji T.1802).10 1. 0. yang berarti data yang didapat pada menit kedua sudah homogen.07 2.Berdasarkan hasil pengujian didapatkan hasil sebesar (pvalue.Pada menit pertama.Akan tetapi setelah di uji T ternyata nilai selisih yang ditunjukkan tersebut secara matematis (statistika) tidak menunjukkan adanya pengaruh yang tidak signifikan antara daerah dengan vegetasi ataupun daerah tanpa vegetasi. untuk terhadap pengujian ini dilakukan pengujian varian.3913). Berdasarkan hasil pengujian didapatkan nilai (p-value.

yang artinya pada menit ke empat.09375) yang artinya data yang digunakan sudah cukup homogen. dimana selisih yang muncul tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap nilai infiltrasi. dimaana nilai (p-vaue. 0. homogen. Hal tersebut menjadi pembuktian bahwa pada tanah yang basah kemampuan gaya kapiler akan menurun.3253) untuk uji varian yang artinya data yang digunakan dalam praktikum ini pada menit ke delapan. kemudian dilanjutkan dengan uji T. 0. 0.7828).01316) yang artinya pada menit kesepuluh antara daerah vegetasi dengan daerah non vegetasi terdapat perubahan yang signifikan secara matematik (statistika).57).2575) dimana secara matemtik (statistika) nilai tersebut tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan antara infiltrasi pada daerah dengan vegetasi maupun daerah tanpa vegetasi.13) tapi hal itu secara matematis (statistika) memiliki arti. 0. sekalipun pada daerah vegetasi dengan non vegetasi terdapat selisih sebesar (0. sekalipun selisih antara daerah vegetasi dan non vegetasi cukup besar (0.8804) untuk uji variannya. dimana hal ini menunjukkan data yang di dapat atau di peroleh sudah homogen. 0. pada menit kedua selisih nilai infiltrasinya sangat besar (0. dimana nilai sebesar (p-value. sehingga menimbulkan gaya grafitasi yang menjadi dominan untuk menarik air masuk 13 . nilai selisih antara daerah dengan vegetasi dan tanpa vegetasi.Selanjutnnya data di yang lakukan diambil pengujian sudah dengan mengguakan uji T dimana pada menit ke delapan nilai (p-value. nilai (p-value. Terakhir pada menit kesepuluh.matematik (statistika) padahal jika dilihat. Sedangkan pada menit ke delapan nilai (p-value. 0.Kemudian di lanjut dengan melakukan uji T dimana nilai (p-value.3). Pada menit ke empat pengujian yang sama juga dilakukan.

Intensitas hujan. 14 . Penyumbatan oleh butir haus. dalam upaya membasahinya. kemampuan infiltrasi awal akan lebih rendah (disebabkan gradien hisapan yang lebih rendah) dan semakin cepat tercapainya laju akhir yang tetap. Sejak dari kondisi kering lapangan hingga keadaan yang kebutuhan airnya menjadi konstan. 2011). Akibatnya laju infiltrasi pada tanah dengan vegetasi lebih rendah dibandingkan tanpa vegetasi. yang umumnya tergantung kondisi air awal. Tanaman penutup. Pemampatan oleh hujan.kedalam tanah. Laju infiltrasi pada awalnya relatif tinggi. yang diperlukan oleh suatu jenis tanah pada suatu daerah tertentu. Keunggulan memiliki data hasil pengukuran ini dapat digunkan ntuk tujuan perencanaan irigasi dan konservasi tanah dan air (Nurmegawati. lalu kemudian mulai melambat dan disusul dengan kondisi konstan. sehingga keadaan tanah relatif lebih lembab dibandingkan yang tanpa adanya vegetasi. Adanya vegetasi berarti permukaan tanah ternaungi.  Kondisi penutupan permukaan tanah dengan vegetasi. maka dapat dimunculkan dugaan tentang seberapa besar kebuthan air. Menurut FAO (2010) dalam management water 1 2 3 4 5 6 7 irrigation dimana laju infiltrasi dapat di pengaruhi oleh: Kedalaman genangan dan tebal lapis jenuh.  Kandungan air awal. Semakin basah tanah pada awalnya. Adapun faktor – faktor yang dapat mempengaruhi laju infiltrasi adalah:  Waktu dari saat hujan atau irigasi. kemudian berkurang dan akhirnya mencapai laju yang tetap yang merupakan sifat profil tanah tersebut. Topografi. Dari gejala proses infiltrasi yang pada umumnya mula-mula cepat. Kelembaban tanah.

 Terdapatnya lapisan penghambat di dalam profil tanah. Kerak permukaan bekerja sebagai pembatas hidraulik atau gangguan yang mencegah infiltrasi. Selain itu adanya vegetasi menyebabkan kelembaban awal tanah tinggi. Atau dengan kata lain disini terdapat gaya kapiler yang menahan air.  Kondisi permukaan tanah. 15 . Bila permukaan tanah dipadatkan dan profil tanah ditutupi kerak permukaan yang memiliki keterhantaran lebih rendah. Bila permukaan tanah bersifat sarang dan mempunyai struktur terbuka. Kondisi dimana laju infiltrasi pada tanah bervegetasi lebih rendah dibandingkan tanah tanpa vegetasi karena pada tanah bervegetasi air tidak langsung turun ke dalam tanah. Dengan mengetahui besarnya laju infiltrasi kita dapat memprediksikan atau mengetahui besarnya erosi tanah yang terjadi terutama akibat dari run of. jika laju infiltrasi lebih kecil dari run of maka kemungkinan erosi yang terjadi juga semakin tinggi. Semakin tinggi keterhantaran hidraulik jenuh tanah. Air yang ada mampu mengisi pori-pori disekitarnya tidak langsung turun ke bawah. Akibatnya walau infiltrasi lambat air akan tetap masuk dan tersimpan dalam tanah. kemampuan infiltrasi awal akan lebih besar dibandingkan tanah yang seragam. laju infiltrasi akan lebih rendah dibandingkan tanah yang tidak memiliki lapisan kerak (seragam). Selain itu adanya vegetasi akan mengurangi jumlah air yang terbuang akibat aliran permukaan. Lapisan – lapisan yang berbeda dalam hal tekstur dan struktur dari tanah di atasnya bisa menghambat gerakan air selama infiltrasi. Keterhantaran hidraulik. maka kemampuan infiltrasi tanah akan semakin tinggi. Selain itu laju infiltrasi dapat juga digunakan pada pengairan (irigasi) sehingga kita dapat memprediksikan berapa air yang terbuang (efisiensi air).

kegiatan biologi dan unsur organik.Bagi pertanian rendahnya laju infiltrasi ini menguntungkan. Perubahan kemampuan tanah dalam menyerap air dari permukaan. Pada usaha pertanian idealnya selain gaya gravitasi gaya kapiler juga berperan agar air mampu mengisi pori-pori tanah sehingga nantinya air dapat dimanfaatkan oleh tanaman VI. 16 . 2. 3. KESIMPULAN 1. Hal ini karena air dengan laju infiltrasi tinggi air akan langsung turun ke bawah tanpa mengisi pori-pori disekitarnya. Laju infiltrasi pada tanah tanpa vegetasi lebih besar daripada laju infiltrasi pada tanah bervegetasi. dengan nilai rerata pada daerah vegetasi sebesar 2.8 dan rerata pada daerah tanpa vegetasi sebesar 1. persediaan air awal. jenis dan kedalaman seresah dan tajuk penutup tanah atau tumbuhan bawah lainnya. Kondisi ini juga biasa terjadi pada tanah pasir dimana dalam infiltrasi gaya gravitas yang banyak berperan. terlihat berbeda nyata pada interval waktu ke 10 menit. Adanya vegetasi mempengaruhi besarnya laju infiltrasi. Besarnya infiltrasi dipengaruhi oleh tekstur dan struktur tanah.67.

J dan Roestam sjarif. Cheema.ht m>.Yogyakarta. Jounal of Soil. 2010. University Press. Chow. Stromwater. Yogyakarta. 17 .org/docrep/r4082e/r4082e00. C. 1Introduction to Irrigation. 1995. 2010.. Bambang.Yogyakarta .I. Kodoatie. Irrigaton Water Management: Training Manual No.Andi. A.<http://www. Beta Offset. Hansson. T. 2011.DAFTAR PUSTAKA Asdak. R. Hidrologi dan Pengelolahan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada. 2005. Hidrologi Terapan. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. and D.fao. FAO. Diakses pada tanggal 21 februari 2016.

18 . Jurnal Hidrolitan. Xiao-Yan Li . Hutan. Sutanto.Soil infiltration and hydraulic conductivityunderlong-term no-tillage and conventional tillage systems. Yogyakarta.Rachman. R. 2005. Azooz and M. Hidrologi University Press. Journal of Catena 86 : 98 – 109.Controls of infiltration–runoff processes inMediterranean karst rangelandsin SE Spain. 2011. 2011.2: 87-95.A'Arshad. Journal of soil science 1 : 143 – 152. Infiltrasi pada hutan di sub DAS Sumani bagian Hulu Kayu Aro Kabupaten Solok. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Vol. Yogyakarta: Gadjah Mada Nurmegawati. H. 1990. Kanisius. 2011.Lee. Sergio Contreras. R.