Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

Dermatitis Kontak Iritan
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Kepanitraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa

Pembimbing :
dr. Hiendarto, Sp.KK
Disusun oleh :
MESIWISANI
1420221124

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN
ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
“VETERAN” JAKARTA
2016

LEMBAR PENGESAHAN
REFERAT

Dermatitis Kontak Iritan
Disusun dan diajukan untuk memenuhi persyaratan tugas

.KK DERMATITIS KONTAK IRITAN Definisi Dermatitis kontak adalah dermatitis yang disebabkan oleh bahan/substansi yang menempel pada kulit. Februari 2016 Telah dibimbing dan disahkan oleh.Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa Oleh : Mesiwisani 1420221124 Ambarawa. Hiendarto. Dokter pembimbing dr. Sp.

dan jenis kelamin. melainkan secara perlahan – lahan hingga pada sutau saat kerusakannya . pajanan (waktu dan frekuensi) lingkungan ( tekanan mekanis. Faktor – faktor pencetus terjadinya DKIK berhubungan dengan zat iritan. ras. jadi kerusakan kulit terjadi langsung tanpa didahului proses sensitisasi. suhu dan kelembaban ) . Dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan reaksi peradangan nonimunologik pada kulit yang disebabkan oleh kontak dengan faktor eksogen maupun endogen. deterjen. Penyebab DKI kumulatif biasanya bersifat multifaktorial. Sebaliknya dermatitis kontak alergik terjadi pada seseorang yang telah mengalami sensitisasi terhadap suatu allergen. keduanya bersifat akut maupun kronis. Dermatitis iritan merupakan reaksi peradangan kulit nonimunologik. minyak dan pelumas.2 Etiologi Zat yang menyebabkan DKI akut adalah zat yang cukup iritan untuk menyebabkan kerusakan kulit bahkan dalam satu pajanan.maupun biologik) dan faktor endogen memegang peranan penting pada penyakit ini. Zat – zat ini tidak cukup toksik untuk mneimbulkan kerusakan kulit pada satu kali pajanan.Dikenal 2 macam dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergik. Epidemiologi Dermatitis kontak iritan dapat diderita oleh semua orang dari berbagai golongan umur. Hal ini disebabkan antara lain oleh banyak penderita yang tidak datang berobat dengan kelainan ringan. yaitu terhadap zat – zat iritan lemah seperti : air. fisik. basa pekat. mampu menimbulkan inflamsi.1 Ada yang membagi dermatitis kontak iritan menjadi 2 kategori mayor yaitu DKI akut dan DKI kumulatif. namun sulit untuk diketahui jumlahnya. zat oksidator dan reduktor kuat.arut lemah. zat pe. Data epidemiologi penderita dermatitis kontak iritan sulit didapat. Sedangkan pada DKI kumulatif (DKIK) kerusakan terjadi setelah beberapa kali pajanan pada lokasi kulit yang sama . Mencakup di dalamnya adalah asam pekat. cairan pelarut kuat. Jumlah penderita dermatitis kontak iritan diperkirakan cukup banyak. Faktor eksogen berupa bahan-bahan iritan (kimiawi.

aureus memerlukan PH antara 6 – 6. penyakit kulit yang telah ada. Terdapat perbedaan PH untuk pertumbuhan setiap jenis bakteri. polarisasi. Kandungan zat iritan juga penting dalam meningkatkan iritasi. Larutan deterjen memiliki PH 9.5 meski beberapa peneliti berpendapat bahwa PH kulit berkisar antara 6 -7. Penderita atopi rentan terhadap efek iritasi zat iritan. perkembangan tingkat iritasi tiap individu berbeda –beda. Umumnya . akan tetapi jika digunakan sesuai aturan. lokasi anatomis yang terpajan dan profesi). Kondisi kulit yangd emikian tidak menjadi sarana yang baik bagi pertumbuhan mikroflora yang penting untuk menjaga lapisan matel asam.aureus membutuhkan PH 7. misalnya S. sedangkan P. etnis.5 untuk pertumbuhannya. Oklusi meningktkan kadar air strtaum korneum sehingga menurunkan fungsi efisiensi sawarnya. Kisaran PH kulit natara lain ditentukan oleh adanya mantel asam yaitu lapisan tipis yang ditinggalkan oleh keringat dan bersifat asam. waktu aplikasi serta durasi pajanan. ionisasi. volum. PH dan kelarutan. kulit normal tidak akan teriritasi. Hal ini mengakibatkan peningkatkan absorpi perkutan zat – zat yang larut dalam air. Suhu yang dingin saja dapat menurunkan kelenturan lapisan tanduk. Pengaruh lingkungan . Bakteri anggota mikroflora kulit memerlukan PH tertentu untuk dapat melaksanakan pertumbuhan optimum.5 dan jika digunakan berulang –ulang selama beberapa hari PH kulit akan naik menjadi 8.5. Kebanyakn produk pemersih kulit di pasaran dapat mneyebabkan efek iritasi primer jika digunakan berulang –ulang atau berlebihan. seperti kelembaban yang rendah dan suhu yang dingin. sehingga menyebabkan retaknya stratum korneum. jenis kelamin.serta bergantung pada faktor predisposisi yaitu karakteristik individu ( umur. merupakan faktor penting dalam menurunkan kadar air stratum korneum. waktu pajanan yang lama dan volum yang besar meningkatkan penetrasi. Faktor zat iritan mencakup sifat fisik dan kimia zat tersebut seperti : ukuran molekul. Saat terpajan dengan iritan yang sama dengan kondisi yang sama pula. Kulit normal memiliki PH berkisar sekitar 5. Faktor – faktor yang berpengaruh terhadap kerentanan individu meliputi : .Sedangkan faktor pajanan meliputi : konsentrasi . atopi.

dan bersifat iritan lemah. Asia. Pembersihan kulit yang berlebihan dengan deterjen dapat meneybabkan DKI kumulatif pada iundividu yang memiliki faktor predisposisi kelompok beresiko ini yaitu para petugas kebersihan. - Jenis Kelamin Kerentanan kulit terhadap iritasi tidak berbeda antar jenis kelamin. sodium lauril sulfat. - Dermatitis yang telah ada dan dermatitis atopi Penderita atopi rentan terhadap efek iritasi. - Ras Individu berkulit gelap seperti orang Afrikan dan Hispanik. Lokasi dengan rekativitas tertinggi adalah paha. catering. 3 Patogenesis . petugas dry cleaning dan pekerja logam Secara umum. Dikatakan bahwa kulit berwarna ( Afrika. mencapai tingkat terendah saat decade keenam. aktivitas wet work mudah memicu terjadinya DKI.- Umur dan lokasi Kerentanan kulit terhadap efek iritasi zat iritan menurun seiriing dengan usia. Penelitian menunjukkan bahwa iritabilitas kulit terhadap sodium lauril sulfat mencapai puncaknya selama masa kanak – kanak dan menurun selama dewasa. Trans-epidermal water loss ( TEWL) lebih tinggi pada subjek dengan riwayat dermatitis setelah terpajan deterjen. Abnormalitas sawar kulit atopi dari menurunnya ambang iritasi merupakan faktor penyebab kerentananya terhadap iritasi - Profesi Deterjen merupakan pembersih kulit yang seting digunakan oleh seluruh pekerja industri . penata rambut. konstruksi. punggung atas dan lengan bawah. Hispanik ) memiliki fungsi sawar yang lebih rentan dibandingkan dengan kulit putih. begitu pula terhadap zat kimia dan sinar ultra violet. Akan tetapi penelitina menunjukkan bahwa kulit wanita cenderung lebih mudah terkena iritasi selama periode prementruasi. pekerja industri kimia. Hal ini disebabkan oleh penurunan fungsi sawar. memperlihatkan respon iritasi yang lebih besar terhadap surfaktan. petugas rumahs akit.

AA dirubah menadi prostaglandin (PG) dan leukotriene (LT). menginduksi ekspresi molekul adesi sel dan pelepasan sitokin.Kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi atau fisis. panas. Pada kontak dengan iritan. Keruskan membrane mengaktifkan fosfolipase dan melepaskan asam arakidonat (AA). yang menimbulkan stimulasi autokrin dan proliferasi sel tersebut. mitokondria. atau komponen inti. dan PAF. Bahan iritan merusak lapisan tanduk. dan inositidan (IP3). suatu sitokin proinflamasi yang dapat mengaktifasi sel T. makrofag dan granulosit. dan meningkatkan permebilitas vaskular sehingga memermudah transudasi komplemen dan kinin. PG dan LT juga bertindak sebagai kemoatraktan kuat untuk limfosit dan nutrofil. diasilgliserida (DAG). PG dan LT mengiduksi vasodilatasi. edema. denaturasi keratin. DAG dan second messangers lain menstimulasi ekspresi gen dan sintesis protein. dimulai denga kerusakan stratum korneum olh karena delipidasi yang menyebabkan desikasi dan kehilangan fungsi sawarnya. Keratinosit juga membuat molekul permukaan HLA-DR dan adesi intrasel-1 (ICAM-1). IL-1 mengaktifkan sel T-penolong mengeluarkan IL-2 dan mengekspresi reseptor IL-2. sehingga memperkuat perubahan vaskular. sehingga mempermudah kerusakan sel di bawahnya oleh iritan. Kebanyakan bahan iritan (toksin) merusak membrane lemak (lipid membrane) keratinosit. nyeri. Renteta kejadian tersebut menimbulkan gejala peraadangan klasik di tempat terjadinya kontak di kulit erupa eritema. dan mengubah daya ikat air kulit. Gambaran Klinis . misalnya interleukin-1 (IL-1) dan granulocyte-macrophage colony stimulatunf factor (GMCSF). Bahan iritan lemah akan menimbulkan kelainan kulit setelah berulang kali kontak. menyingkirkan lemak lapisan tanduk. bila iritan kuat. LT dan PG lain. serta mengaktifasi sel mas melepaskan histamine. tetapi sebagian dapat menembus membrane sel dan merusak lisosom. keratinosit juga melepaskan TNF–a. platelet activating factor = PAF) .

Dermatitis Kontak Iritan Akut Pada DKI. 1. Selain itu juga banyak hal yang mempengaruhi sebagaimana yang disebutkan sebelumnya. diikuti dengan resolusi lengkap. pembentukan dermatitis akut biasanya sembuh segera setelah pajanan. kulit terasa pedih atau panas.6 Bentuk DKI Akut seringkali menyerupai luka bakar akibat bahan kimia. 1.2 Berdasarkan penyebab tersebut dan pengaruh faktor tersebut. rasa tersengat) mungkin hanya satusatunya manifestasi. Rasa sakit dapat terjadi dalam beberapa detik dari pajanan.. Luas kelainanya sebatas daerah yang terkena dan berbatas tegas. DKI ini jarang timbul dengan gambaran eksematousa yang sering timbul pada dermatitis kontak. Pada beberapa kasus tidak biasa. 1. kerusakan kulit oleh bahan iritan terjadi hanya dalam satu kali pajanan. vesikel atau bula. dermatitis kontak iritan dibagi menjadi sepuluh macam.Dermatitis kontak iritan dibagi tergantung sifat iritan.8 . sedang iritan lemah memberi gejala kronis. Pada DKI akut. bulla besar atau lepuhan. dermatitis kontak iritan dapat timbul beberapa bulan setelah pajanan. Spektrum perubahan kulit berupa eritma hingga vesikel dan bahan pajanan bahan yang dapat membakar kulit dapat menyebabkan nekrosis. gejala subyektif (rasa terbakar.7 Pada beberapa individu. eritema. Ada yang membagi dermatitis kontak iritan menjadi 2 kategori mayor yaitu DKI akut dan DKI kumulatif.2 Secara klasik. Iritan kuat memberikan gejala akut. dengan asumsi tidak ada pajanan ulang – hal ini dikenal sebagai “decrescendo phenomenon”.

2. pada awalnya terlihat eritemadan soreya sudah menjadi vesikel atau bahkan nekrosis .2. biasanya lebih sering terkena pada tangan. minggu. gejala obyektif tidak muncul hingga 8-24 jam atau lebih setelah pajanan.1 Contohnya adalah dermatitis yang disebabkan oleh bulu serangga yang terbang pada malam hari (dermatitis venenata). 1.1. Sehingga waktu dan rentetan pajanan merupakan faktor yang paling penting. Dermatitis kontak iritan kronis ini merupakan dermatitis kontak iritan yang paling sering ditemukan.7 Sebaliknya.Gambar 2 : DKI akut akibat penggunaan pelarut industri. Dermatitis Kontak Iritan Lambat (Delayed ICD) Pada dermatitis kontak iritan akut lambat. gambaran kliniknya mirip dengan dermatitis kontak iritan akut. Dikutip dari kepustakaan [7] 2. Gejala berupa kulit kering. Disebabkan oleh iritan lemah (seperti air. skuama. dan lambat laun akan menjadi hiperkertosis dan dapat terbentuk fisura jika kontak terus berlangsung. bulan.2 3.2 Gambar 3 : DKI kronis akibat efek korosif dari semen Dikutip dari kepustakaan [7] .1. penderita baru merasa pedih pedih esok harinya. eritema. bahkan tahun. dll) dengan pajanan yang berulang-ulang. detergen. sabun.7 Kelainan kulit baru muncul setelah beberapa hari. Dermatitis Kontak Iritan Kronis (DKI Kumulatif) Juga disebut dermatitis kontak iritan kumulatif.

pustul. skuama. Reaksi Traumatik (DKI Traumatik) Reaksi traumatik dapat terbentuk setelah tauma akut pada kulit seperti panas atau laserasi. namun penderita mengeluh gatal.2 7. 1 Penyakit ini ditandai dengan perubahan sawar stratum korneum tanpa tanda klinis (DKI subklinis). dan biasanya terlokalisasi di dorsum dari tangan dan jari. oleh karena itu lebih banyak ditemukan pada tangan dibandingkan dengan bagian lain dari tubuh (contohnya: tukang cuci.1. Secara klinik gejala mirip dengan dermatitis numular. kerusakan kulit terjadi tanpa adanya inflamasi. juru masak.2. montir bengkel.2 4. Reaksi Iritan Secara klinis menunjukkan reaksi akut monomorfik yang dapat berupa skuama. Pada dermatitis kontak iritan kumulatif. Pada tingkat awal dari iritasi kulit. biasanya dimulai dari sela jari tangan dan kemudian menyebar ke bagian dorsal dan telapak tangan. rasa tersengat.6 Gejala umum yang dirasakan penderita adalah rasa terbakar. serta erosi.1.1.7 5. Pada ibu rumah tangga.7 DKI kumulatif sering berhubungan dengan pekerjaan.1.6 6. Reaksi iritasi dapat sembuh. namun perubahan kulit terlihat secara histologi. akan terjadi eritema. . rasa terbakar. tukang kebun. vesikel. beberapa menit setelah terpajan dengan iritan. Biasanya hal ini terjadi pada orang yang terpajan dengan pekerjaan basah. papul dan vesikel. gatal.2 Pada proses penyembuhan.Distirbusi penyakit ini biasanya pada tangan. menimbulkan penebalan kulit atau dapat menjadi DKI kumulatif. penata rambut). atau rasa tersengat. biasanya dimulai dari ujung jari (pulpitis). Biasanya terjadi pada tangan dan penyembuhan sekitar 6 minggu atau lebih lama. kuli bangunan. Dermatitis Kontak Iritan Noneritematous Juga disebut reaksi suberitematous. eritema. Iritasi suberitematous ini dihubungkan dengan penggunaan produk dengan jumlah surfaktan yang tinggi. Dermatitis Kontak Iritan Subyektif (Sensory ICD) Kelainan kulit tidak terlihat.

dan skuama ikhtiosiform merupakan gambaran klinik dari reaksi ini.6 10.2 8. Tipe ini dapat dilihat pada pasien dermatitis atopy maupun pasien dermatitis seboroik. serta setelah penggunaan beberapa kosmetik. Dikutip dari 9. Asam laktat biasanya menjadi iritan yang paling sering menyebabkan penyakit ini. fisura. Dikutip dari kepustakaan [22] . dimana secara klinis dapat berupa eritema. kepala dan leher.8 Gambar 5 : DKI Gesekan.1. Gatal yang hebat. Dermatitis Kontak Iritan Akneiform kepustakaan [8] Disebut juga reaksi pustular atau reaksi akneiform. seperti oli. Dermatitis Asteatotik Biasanya terjadi pada pasien-pasien usia lanjut yang sering mandi tanpa menggunakan pelembab pada kulit. Dermatitis Kontak Iritan Gesekan (Friction ICD) Terjadi iritasi mekanis yang merupakan hasil dari mikrotrauma atau gesekan yang berulang. skuama. DKI Gesekan dapat hanya mengenai pinggiran-pinggiran dan ujung jemari tergantung oleh tekanan mekanik yang terjadi.6 DKI Gesekan dapat hanya mengenai telapak tangan dan seringkali terlihat menyerupai psoriasis dengan plakat merah menebal dan bersisik.1. kulit kering.Biasanya terjadi di daerah wajah. tetapi tidak gatal.6 Gambar 7: DKI Asteatotik. Biasanya dilihat setelah pajanan okupasional. dan dapat berkembang beberapa hari setelah pajanan.6 DKI Gesekan berkembang dari respon pada gesekan yang lemah. Reaksi ini memiliki lesi pustular yang steril dan transien. dan gatal pada daerah yang terkena gesekan.1. halogen.6. Secara klinis.1. metal.

Anamnesis Anamnesis yang detail sangat dibutuhkan karena diagnosis dari DKI tergantung pada anamnesis mengenai pajanan yang mengenai pasien. kriteria dignosis primer untuk DKI sebagai berikut: 9-14 .Onset dari gejala terjadi dalam beberapa menit sampai jam untuk DKI akut. dimana reaksi - inflamasinya terjadi 8-24 jam setelah pajanan. Anamnesis yang dapat mendukung penegakan diagnosis DKI (gejala subyektif) adalah:9 . DKI lambat dikarakteristikkan oleh causa pajanannya. Pemeriksaan Penunjang.Tampakan kulit berlapis.Bentuk sirkumskrip tajam pada kulit . DKI akut lebih mudah diketahui karena munculnya lebih cepat sehingga penderita lebih mudah mengingat penyebab terjadinya. DKI kronis timbul lambat serta mempunyai gambaran klinis yang luas.Rasa tebal di kulit yang terkena pajanan C.Makula eritema. B. Selain anamnesis. sehingga kadang sulit dibedakan dengan DKA. rasa terbakar.Pasien mengklain adanya pajanan yang menyebabkan iritasi kutaneus . rasa tersengat. atau melepuh . DKI kumulatif terjadi akibat pajanan berulang dari - suatu bahan iritan yang merusak kulit.Diagnosis Diagnosis dermatitis kontak iritan didasarkan atas anamnesis yang cermat dan pengamatan gambaran klinis yang akurat. Ruam kulit biasanya sembuh setelah bahan iritan dihilangkan. Onset dari gejala dan tanda dapat tertunda hingga berminggu-minggu ada DKI kumulatif (DKI Kronis). Tidak ada pemeriksaan spesifik untuk mediagnosis dermatitis kontak iritan. seperti benzalkonium klorida (biasanya terdapat pada cairan disinfektan). hiperkeratosis. dan rasa tidak nyaman akibat pruritus yang terjadi. juga perlu dilakukan beberapa pemeriksaan untuk lebih memastikan diagnosis DKI. Pemeriksaan Fisis Menurut Rietschel dan Flowler. kering. Terdapat beberapa . atau fisura predominan setelah terbentuk vesikel .2 A. Penderita merasakan sakit.

tes yang dapat memberikan indikasi dari substansi yang berpotensi menyebabkan DKI. maka dapat didiagnosis sebagai DKI.14 1.9 3. Pada DKI akut (oleh iritan primer). Tidak ada spesifik tes yang dapat memperlihatkan efek yang didapatkan dari setiap pasien jika terkena dengan bahan iritan. biasanya merupakan hasil dari efek berbagai iritans. Pemeriksaan IgE Peningkatan imunoglobulin E dapat menyokong adanya diathetis atopic atau riwayat atopi.9 4. Konsentrasi yang digunakan harus tepat. Pada keadaan berat kerusakan epidermis dapat meimbulkan vesikel atau bula. dapat memberikan hasil negatif palsu oleh karena tidak adanya reaksi. Jika hasilnya didapatkan ruam kulit yang membaik. dan akhirnya terjadi nekrosis epidermal. Pemeriksaan KOH Dapat dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui adanya mikology pada infeksi jamur superficial infeksi candida. Dermatitis kontak iritan dalam beberapa kasus.9 .7 Pemeriksaan patch tes digunakan untuk pasien kronis. Dan jika terlalu tinggi dapat terinterpretasi sebagai alergi (positif palsu). Eksositosis di epidermis diikuti spongiosis dan edema intrasel. dan kemabali dilakukan pemeriksaan pada 48 jam berikutnya. Patch tes dilepas setelah 48 jam. Di dalam vesikel atau bula ditemukan limfosit dan neutrofil. 5. Pemeriksaan Histopatologik Gambaran histopatologik dermatitis kontak iritan tidak karakteristik. Patch Test Patch test digunakan untuk menientukan substansi yang menyebabkan kontak dermatitis dan digunakan untuk mendiagnosis DKA. dalam dermis terjadi vasodilatasi dan sebukan sel mononuclear di sekitar pembuluh darah dermis bagian atas. 1. Jika terlalu sedikit.9 2. pemeriksaan ini tergantung tempat dan morfologi dari lesi. hasilnya dilihat dan reaksi positif dicatat. Untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kultur Bakteri Kultur bakteri dapat dilakukan pada kasus-kasus komplikasi infeksi sekunder bakteri. dengan dermatitis kontak yang rekuren.

5. dan melakukan substitusi dalam hal ini. didapatkan hasil positif untuk alergen yang telah diujikan.10 Pada patch tes. dan keluhan utama pada penderita DKA adalah gatal pada daerah yang terkena pajanan.19 Penatalaksanaan Penatalaksanaan dari dermatitis kontak iritan dapat dilakukan dengan melakukan dengan memproteksi atau menghindakan kulit dari bahan iritan. pada DKA. pada seluruh kaki terlihat kulit menebal. Selain itu. pemeriksaan IgE pada penderita dengan suspek DKI dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan diagnosis dermatitis atopi. disertai dengan gatal yang umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak. Sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga penderita.2. Gambaran lesi secara klinis muncul pada pajanan selanjutnya setelah interpretasi ulang dari antigen oleh sel T (memori). terdapat sensitasi dari pajanan/iritan.11 2.11 . prinsip pengobatan penyakit ini adalah dengan menghindari bahan iritan. 3. Tinea Pedis Merupakan penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk.4. Dermatitis Atopi Merupakan keadaan radang kulit kronis dan residif. rambut. dan sensitifitasnya berkisar antara 70 – 80%. Bagian tepi lesi lebih aktif (lebih jelas tanda-tanda peradangan) daripada bagian tengah.Diagnosa Banding 1. misalnya stratum korneun pada epidermis.8. melakukan proteksi (seperti penggunaan sarung tangan).6 Oleh karena itu. dan bersisik serta eritema yang ringan terutama di tempat yang terdapat lesi. mengganti bahan-bahan iritan dengan bahan lain.1. dan kuku yang disebabkan oleh jamur dermatofitosis. Pada tinea pedis. khususnya bentuk mocassin foot. terdiri atas macam-macam effloresensi kulit. Penderita bisa merasa gatal dan kelainan berbatas tegas. Dermatitis Kontak Alergi Berbeda dengan DKI.

persisten. dan secara klinis antihistamin biasanya diresepkan untuk mengobati beberapa gejala simptomatis. 60 mg dosis inisial. beberapa strategi pengobatan yang dapat dilakukan pada penderita dermatitis kontak iritan adalah sebagai berikut: 1. Anastesi dan Garam Srontium (Iritasi sensoris) Lidokain. dan antiseptik juga digunakan. Kompres dingin dengan Burrow’s solution Kompres dingin dilakukan untuk mengurangi pembentukan vesikel dan membantu mengurangi pertumbuhan bakteri. mungkin dianjurkan pemberian prednison pada 2 minggu pertama. prokain. infeksi diobati dengan menggunakan antibiotik oral untuk mencegah perkembangan selulit dan untuk mempercepat penyembuhan. namun pada penggunaan yang lama dari corticosteroid dapat menimbulkan kerusakan kulit pada stratum korneum. 5 Garam strontium juga dilaporkan dapat menekan depolarisasi neural pada hewan. Antibiotik dan antihistamin Ketika pertahanan kulit rusak. glukokortikoid topikal. dan mungkin dapat menjadi pengobatan yang potensial untuk dermatitis kontak iritan.5 2. mungkin memiliki peranan yang penting dalam evolusi.12 Pada pengobatan untuk DKI akut yang berat. Sedangkan antihistamin mungkin dapat mengurangi pruritus yang disebabkan oleh dermatitis akibat iritan.12 Kompres ini diganti setiap 2-3 jam. Glukokortikoid topikal Efek topical dari glukokortikoid pada penderita DKI akut masih kontrofersional karena efek yang ditimbulkan. Secara klinis.5 4. dan resolusi dari dermatitis akibat iritan. hal tersebut berpotensial untuk terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri. tapi hal ini masih dipelajari. dan beberapa anastesi lokal yang lain berguna untuk menurunkan sensasi terbakar dan rasa gatal pada kulit yang dihubungkan dengan dermatitis iritan oleh karena penekanan nosiseptor.5.7 3. emolien. Secara bersamaan.5 5. Kationik Surfaktan . Perubahan pH kulit dan mekanisme antimikroba yang telah dimiliki kulit. Terdapat percobaan klinis secara acak mengenai efisiensi antihistamin untuk dermatitis kontak iritan. dan setelah dilakuan studi.Selain itu. garam ini berpotensi dalam mengurangi sensasi iritasi yang dihubungkan dengan DKI. dan di tappering 10mg.

juga pada penderita atopi. imunosupresan yang lain mungkin lebih berguna. Fototerapi dan Radioterapi Superfisial Fototerapi telah berhasil digunakan untuk tatalaksana dermatitis kontak iritan.5 6. glukokortikoid kerja singkat seperti prednisolon. Tetapi. hal ini mungkin disebabkan oleh ketakutan terhadap kanker karena radioterapi. Penalataksanaan ini jarang digunakan pada praktek terbaru. Modalitas yang tersedia adalah fototerapi photochemotherapy ultraviolet A (PUVA) dan ultraviolet B. Obat yang sering digunakan adalah siklosporin oral dan azadtrioprim. khususnya pada tangan.2 . Emolien Pelembab yang digunakan 3-4 kali sehari adalah tatalaksana yang sangat berguna.1. Emolien dengan perbandingan lipofilik : hidrofilik yang tinggi diduga paling efektif karena dapat menghidrasi kulit lebih baik.Surfaktan kationik benzalklonium klorida yang iritatif dapat meringankan gejala dalam penatalaksanaan iritasi akibat anion kimia. Keadaan ini sering terjadi pada DKI kronis yang penyebabnya multifaktor. dimana penyinaran dilakukan bersamaan dengan penggunaan fotosensitizer (soralen oral atau topical). Sedangkan radioterapi superfisial dengan sinar Grentz juga dapat digunakan untuk menangani dermatitis pada tangan yang kronis. Imunosupresi Oral Pada penatalaksanaan iritasi akut yang berat.5 8.5 7. pada penyakit kronik. Menggunakan emolien ketika kulit masih lembab dapat meningkatkan efek emolien. dapat membantu mengurangi respon inflamasi jika dikombinasikan dengan kortikosteroid topikal dan emolien. tidak boleh digunakan untuk waktu yang lama karena efek sampingnya.5 Prognosis Prognosisnya kurang baik jika bahan iritan penyebab dermatitis tersebut tidak dapat disingkirkan dengan sempurna. Oleh karena itu.

David JL. Lowel AG. Amy SP. Stephen IK.DAFTAR PUSTAKA 1. Barbara AG. 7th ed. 2008. . Fitzpatrick’s Dermatology in general medicine.p. Wolff K. editors. New York: McGraw – Hill.396-401.

Aisah S. Contact Dermatitis. Dermatology an Illustrated Colour Text Third Edit.130-33. editors.on. Coulson I. Dermatofitosis. In: : Chew AL and Howard IM. editors.2008. Basihir SJ.. Grawkrodjer. Sularsito.946-54 12. In: Djuanda A.gov/medlineplus/ency/article /000869. In: Chew AL and Howard IM. [Online] 2009 [cited 2011 January 9]:[1 screen]. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Treatment Of Irritant Contact Dermatitis. Germany: Springer-Verlag Berlin Heidelberg. Mochtar H. Available from: URL: http://nlm. editors. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. 2006. Loffer H and Isaak E. Germany: Springer-Verlag Berlin Heidelberg. Anonim. Wolff C.A dan Suria Djuanda.2002. Chew AL and Howard IM.5-8 7.htm 10. New York: McGraw – Hill.p. 2005.p. Unandar. Budimulja. Irritant Dermatitis. London: British Journal of Dermatology. 2006.p. editors.p. Grand SS.p. editors. editors.92-3.401-6 . In: Djuanda A. [cited 2011 January 9]:[30 screens]. British: Crurchill Livingstone. Ten Genotypes Of Irritant Contact Dermatitis. Aisah S.p. Primary Prevention Of Irritant Contact Dermatitis. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.461-5 6.30-1 5. Available from: URL:http://wsiat.htm 9.ca/english/mlo/allergic. 2008. Fitzpatrick’s Color Atlas & Synopsis Of Clinical Dermatology 5th ed. Richard AJ. S. 2008. Guidelines For The Managemen Of Contact Dermatitis: An Update. and English J.p. 2008 USU e-Repository 2009 4. David J. Levin C. 2008. editors. and Maibach HI. Bourke J. 11. Dermatitis Kontak Iritan. 8.nih. and Dick S. [Online]. Germany: SpringerVerlag Berlin Heidelberg. Dermatitis. Partogi D. Irritant Dermatitis. editors. 3. editors. Mochtar H. Irritant Dermatitis. In: : Chew AL and Howard IM. editors. Allergic Contact Dermatitis Versus Irritant Contact Dermatitis. 2006.