Anda di halaman 1dari 9

PENGUKURAN KINERJA SEKTOR PUBLIK DIBIDANG EDUKASI

Atifah Laillani (F1315017)
Deshinta Kartika Sari (F1315030)
Fiftah Farida
Hendra Surya Pratama (F1315049)
Novia Andini Murti (F1315067)
Ridho Hasan Umar (F1315078)
Jurusan Akuntansi Transfer S1
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Sebelas Maret

Abstrak
Sistem pengukuran kinerja dan studi evaluasi digunakan untuk meningkatkan transparansi,
memperkuat akuntabilitas, dan mendukung kebijakan manajemen dalam pengambilan keputusan dan
kadang-kadang digunakan untuk meningkatkan kinerja program publik. Selama ini, di berbagai
negara, sistem akuntabilitas pendidikan lebih banyak dikembangkan oleh pemerintah pusat. Sistem
pengukuran kinerja di sektor pendidikan sangatlah sulit. Indonesia memiliki sistem pendidikan yang
bergantung pada pemerintah pusat yang dinilai kurang efektif, sedangkan pemerintah pusat tidak
mengetahui secara riil apa yang terjadi di lapangan. Pemerintah daerah dinilai lebih tepat jika ikut
terlibat dalam menentukan sistem pendidikan serta penyusunan suatu laporan pengukuran kinerja.
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya akuntabilitas dalam pengukuran kinerja
pemerintah Indonesia dibidang pendidikan, mengetahui masalah-masalah yang timbul dalam
pengukuran kinerja ini, serta memberikan rujukan kebijakan yang telah diterapkan di Colorado AS
dalam pembuatan system laporan yang terintegrasi di bidang pendidikan. Salah satu cara untuk
penyajian laporan penilaian di bidang pendidikan yang memberikan informasikan dalam suatu web
atau aplikasi yang nantinya dapat diakses langsung oleh masyarakat. Sebagai contoh yaitu
SchoolView di Colorado yang berdesain jejaring sosial.

Kata Kunci: Akuntabilitas, Pengukuran Kinerja, Pendidikan, Sentralisasi, dan
Desentralisasi
Latar Belakang
Pengukuran kinerja dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam pemerintahan
secara langsung melalui partisipasi masyarakat dalam proses evaluasi dan secara tidak
langsung dengan meningkatkan persepsi masyarakat mengenai kinerja pemerintah. Untuk
mencapai hal ini praktek pengukuran kinerja saat ini harus ditingkatkan menjadi lebih
sistematis dan terintegrasi di seluruh instansi(K. Yang, 2006). Mencapai dan mempertahankan
tingkat kepercayaan yang tinggi masyarakat sangat penting untuk pemerintahan yang
demokratis. Penurunan kepercayaan selama beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa
pemerintahan memerlukan pembelajaran tanpa henti mengenai beberapa masalah lama yang
akan tetap belum terselesaikan dan masalah baru yang akan muncul. Untuk membuat
pengukuran kinerja yang lebih relevan, maka harus direformasi agar tercipta akuntabilitas.

1996). Pentingnya pengukuran kinerja memiliki akuntabilitas maka disini kami penulis membahas tentang pengukuran kinerja sektor publik di bidang edukasi di Indonesia berdasarkan jurnal dan litertur serta membandingkannya dengan pengukuran kinerja sektor publik bidang pendidikan di negara maju seperti di Amerika( Colorado). Sistem pengukuran kinerja dan studi evaluasi digunakan untuk meningkatkan transparansi.Salah satu strategi adalah untuk belajar dari evaluasi masyarakat.pengukuran kinerja saat ini cenderung untuk mengevaluasi efisiensi dan efektivitas operasi manajerial atau hasil program. Namun. 1996). dan analisis organisasi. penerapan sistem akuntabilitas terpusat seperti perlu diperkuat dengan sistem akuntabilitas di daerah. 1996). 1996). sistem akuntabilitas pendidikan lebih banyak dikembangkan oleh pemerintah pusat. Bureau dan pembuat teori administrasi publik sebagian besar mengasumsikan bahwa pendekatan yang tepat untuk pengambilan keputusan yang efektif adalah rasionalitas. di berbagai negara. Taylor berpendapat untuk pembentukan standar kinerja yang obyektif itu melalui penyelidikan sistematis yang ketat(Thomas & Susan. Sebaliknya. Faktor eksternal biasanya tidak terkontrol sehingga menjadi tidak relevan. kebijakan analisis. mengabaikan respon politik dan keadilan sosial. Dalam konteks negara besar seperti Indonesia. serta memberikan rujukan kebijakan yang telah diterapkan di Colorado AS dalam pembuatan system laporan yang terintegrasi di bidang pendidikan. dan mendukung kebijakan manajemen dalam pengambilan keputusan dan kadang-kadang digunakan untuk meningkatkan kinerja program publik. Pemerintah kota meneliti "ide" menekankan penyelidikan dan penentuan fakta melalui survei administratif (Dahlberg. 1966) dalam(Thomas & Susan. Tujuan Tujuan dari pembuatan paper ini adalah untuk mengetahui pentingnya akuntabilitas dalam pengukuran kinerja pemerintah Indonesia dibidang pendidikan. Bureau. 1996). lembaga atau tindakan unit secara terkoordinasi. memperkuat akuntabilitas. seperti Taylor. mengetahui masalahmasalah yang timbul dalam pengukuran kinerja ini. sebagaimana juga Amerika yang terdiri dari beberapa negara bagian. Dalam mengembangkan standar efisiensi. Indikator biasanya dirancang berdasarkan keahlian profesional tanpa masukan masyarakat dan digunakan untuk memantau individu. Pembahasan Pengukuran Kinerja Pengukuran kinerja pemerintah modern dapat ditelusuri dari peralihan abad sebelumnya dan perubahan manajemen ilmiah(Thomas & Susan. menolak cara intuitif untuk mendefinisikan kinerja(Thomas & Susan. Namun. seperti evaluasi program.. Taylor tidak puas dengan hanya menjelaskan mengenai pekerjaan. bureau menekankan rasionalitas dalam pengambilan keputusan dengan mengembangkan metode ditingkatkan untuk mengevaluasi pilihan alternatif administrasi(Thomas & Susan. 1996). Dengan demikian. Selama ini. Tujuan dari administrasi publik adalah pemanfaatan yang paling efisien dari sumber daya pada saat pelepasan . Taylor tertarik dalam penelitian untuk meningkatkan kinerja(Thomas & Susan.

jika ada hubungan yang kuat antara anggaran. dan sumber daya dan mengubah anggaran menjadi "kontrak untuk performance” (Schick. 1996). Banyak negara sedang berusaha untuk menghubungkan tujuan.pejabat dan karyawan (Thomas & Susan. Penganggaran akan hanya sepenuhnya menyadari potensi penuh jika memiliki dukungan dan keterlibatan manajemen puncak. Pada 1980-an. output dan hasil. 1990) dalam (Thomas & Susan. pengetatan anggaran. Secara bersama-sama. para pejabat Australia dapat mengalihkan dana dari staf untuk komputer tanpa persetujuan Parlemen. 1990) dalam (Thomas & Susan. Australia menggunakan pendekatan berbasis kinerja desentralisasi pengelolaan keuangan di bawah naungan dua reformasi pemerintahan utama: Program Manajemen Keuangan Peningkatan (FMIP) dan Manajemen Program dan Penganggaran(PMB) (Schick. 1996). 1996). 1996).” Tidak mengherankan. Sistem akuntabilitas di daerah dipandang sebagai bagian penting (koherensi . 1996). para pejabat lebih akuntabel untuk kinerja program mereka (Hodsell. Awal teori administrasi publik dan praktisi kemudian difokuskan pada pengukuran kinerja. 1992) dalam (Thomas & Susan. dan jika operasi dalam lingkungan pusat dan manajerial yang mendukung (Thomas & Susan. The Urban Institute menekankan prosedur pemantauan berkala dan umpan balik terus-menerus yang baik dengan biaya-efektif dan tepat waktu. Pada saat yang sama sumber daya untuk memenuhi tren ini terbatas karena iklim ekonomi. Butt (1987: 5) dalam (Thomas & Susan. 1996). dan mendorong untuk mencapai efisiensi membangkitkan upaya mencari metode praktis pengumpulan dan analisis data kinerja (Hatry. Akuntabilitas Dibidang Pendidikan Akuntabilitas disekolah nantinya akan membantu dalam pengukuran kinerja disekolah(Suratno. laporan HM Treasury didefinisikan anggaran sebagai: sarana penyampaian nilai uang terhadap latar belakang dari tujuan. 1996). Urban Institute membantu mengembangkan sistem pengukuran diarahkan kebutuhan pejabat setempat(Thomas & Susan. 1996). Akuntabilitas Di Sektor Publik Selama tahun 1970-an. hasil. 2005). 1996). usaha internasional ada untuk meningkatkan sistem pengukuran kinerja (Thomas & Susan. 1996). Sebagai contoh. misalnya. tekanan dari warga menuntut akuntabilitas. Misalnya. sasaran dan target (Thomas & Susan. Di Inggris. 1977) dalam (Thomas & Susan. 1996) menulis: “Situasi di Inggris adalah bahwa permintaan untuk banyak layanan dan program-program yang disediakan oleh sektor publik meningkat karena tren ekonomi dan sosial di mana organisasi memiliki kontrol. sistem akuntabilitas berbasis kinerja didirikan dalam pertukaran untuk meningkatkan fleksibilitas belanja (Thomas & Susan. Namun. 1996). pengembangan dan penerapan ukuran kinerja adalah fitur penting dari Management Initiative Keuangan (FMI) (Thomas & Susan.

Aspek ini penting karena pada dasarnya secara teoretis pemerintah pusat mengalami kesulitan dalam mengembangkan dan menerapkan sistem akuntabilitas terpusat (Suratno. (2003) tersebut menekankan pentingnya integrasi sistem akuntabilitas pendidikan dari tingkat pusat hingga ke sekolah. Prinsip dan Indikator Sistem Akuntabilitas Pendidikan di Tingkat Daerah McAdam et al. 2) lebih cermat dalam memperbaiki sistem akuntabilitasnya dalam mengukur kinerja sekolah dari berbagai bidang dan dengan berbagai cara.dan integrasi) dari sistem akuntabilitas tingkat negara bagian atau bahkan tingkat pusat (federal) (McAdam et al. kasus Ujian Nasional sudah berada di tataran politik praktis dari sistem akuntabilitas terpusat (Suratno. Namun demikian. Seperti halnya pemerintah. Aspek lain dari keuntungan menerapkan sistem akuntabilitas di tingkat daerah adalah keluwesan/fleksibilitas (Suratno. (2003) dalam (Suratno. 2005). Sistem Akuntabilitas Pendidikan: Sentralisasi dalam Desentralisasi Sistem akuntabilitas di tingkat daerah dipandang penting (Suratno. dan 3) menyesuaikan akuntabilitas lokal secara komparatif sebagai dasar peningkatan kinerja secara berkelanjutan. Tidak mengherankan jika hingga saat ini seringkali muncul polemik. hal yang belum banyak dikaji adalah bagaimana sistem akuntabilitas tersebut dilaksanakan di tingkat daerah yang menjadi ujung tombak pengelolaan dan evaluasi terhadap pelaksanaan sistem akuntabilitas di tingkat sekolah (Suratno. 2003) dalam (Suratno. Selama ini telah banyak dikaji tentang aspek-aspek sistem akuntabilitas di tingkat pusat sebagaimana terlihat berbagai aturan terkait dengan standar (misalnya PP No. 2005). 2005). yaitu: 1) memfokuskan pada prioritas lokal. 2005). 2005). 2005). McAdam et al. Di sinilah peran sistem akuntabilitas sekolah di tingkat daerah yang memiliki peran strategis dalam memastikan pelaksanaan pendidikan sekolah berlangsung dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan (aspek koherensi) (Suratno.. 2005). Dalam hal ini. Di sinilah fleksibilitas memainkan peran dalam menyeimbangkan tensi politik seperti itu (Suratno. Namun demikian. 2005). banyak hal yang dapat dilakukan oleh sistem akuntabilitas tingkat daerah. 2005) mengidentifikasi empat prinsip dasar: . negosiasi dan kompromi tentang pencapaian standar sebagaimana terlihat dari perkembangan pelaksanaan Ujian Nasional (Suratno. 2005). Permasalahannya adalah apa yang sebaiknya dilakukan oleh dinas pendidikan untuk membentuk sistem tersebut dan apa pertimbangan yang mendasarinya(Suratno. Temuan McAdam et al. 2005). (2003) dalam (Suratno. pemda dan sekolah pun berada dalam lingkungan politik tertentu dan menghargai kondisi yang stabil (Suratno. 2005). 2005). pemda dan sekolah kiranya lebih mampu untuk memelihara sistemnya secara luwes dalam menentukan standarnya secara cermat serta memiliki kesempatan untuk memperluas capaian yang diharapkan melampaui standar minimal pemerintah pusat (Suratno. Artinya. 2005). 2005) berpendapat bahwa setidaknya terdapat tiga keuntungan dari sistem akuntabilitas tingkat daerah. 19/2005 tentang Standar Pendidikan Nasional) (Suratno.

Rating sekolah mencerminkan sejumlah informasi yang luas tentang sekolah yang dicantumkan dalam satu atau dua kalimat (Suratno. Namun demikian. Berdasarkan prinsip akuntabilitas tersebut. Seluruh siswa dinilai di setiap tingkat setiap tahunnya dengan menggunakan tes standar yang dirancang sedemikian rupa sejalan dengan muatan kurikulum yang berlaku. baik positif maupun negatif. 2. 2005). penilaian dengan pendekatan CRT di tingkat pemerintah daerah/dinas pendidikan belum banyak digunakan (Suratno. 4. Indikator rating atau ranking sekolah berkaitan dengan Prinsip Kedua dan Keempat (Suratno. Penilaian pencapaian siswa dengan menggunakan beberapa cara sejalan dengan Prinsip Ketiga (Suratno. Dengan menggunakan berbagai pendekatan penilaian kiranya lebih mengukur kinerja secara akurat daripada menggunakan satu pendekatan pengukuran saja (Suratno. perangkat yang bermanfaat bagi orang tua dan masyarakat untuk memahami lebih lengkap tentang akuntabilitas sekolah (Suratno. 2005). McAdams et al. Akuntabilitas memiliki konsekuensi. 2. Sistem rating dan ranking memudahkan dinas pendidikan untuk melihat perkembangan dari segi angka atau kata yang merangkum keseluruhan tingkatan kinerja yang dicapai sekolah (Suratno. 3. penghargaan dan atau sanksi. ragam penilaian terhadap pencapaian belajar siswa. 2005). Di Indonesia. 2005). (2003) dalam (Suratno. School report card biasanya menyediakan informasi lengkap dalam tiga-lima halaman laporan yang cukup memakan waktu untuk memahaminya (Suratno. tingkat kinerja dan tren peningkatan. dan intervensi. Instrument seperti record card memang bersifat informatif. lima indikator akuntabilitas yang terindentifikasi adalah: 1. 2005). bersifat valid dan reliable. 2005). Jika CRT tidak memungkinkan maka dapat digunakan penilaian NRT yang bersifat lebih murah. 2005). report card tidak dapat digunakan untuk membuat rating dan ranking sekolah (Suratno. 2003) dalam (Suratno. ujian nasional menggunakan CRT yang dikembangkan oleh BSNP (Suratno. Di Amerika. 2005).1. 2005). 2005). Ketika hanya report card yang digunakan. Sekolah merupakan unit utama dari akuntabilitas. 4. Selama ini. 2005). pemberdayaan sekolah dan kapasitas sekolah dan dinas pendidikan dalam mencapai kinerja tertinggi. 2005). Sistem akuntabilitas daerah berkaitan dengan teori aksi komprehensif yang mencakup unsurunsur reformasi berbasis standar. 2005) mengidentifikasi beberapa indikator kunci yang dapat memandu pengembangan teknis dari sistem akuntabilitas pendidikan di tingkat daerah. Ke depannya sangat dimungkinkan setiap daerah mengembangkan CRT . 2005). 5. rating atau ranking sekolah. untuk sekolah maupun setiap orang di dalam sistem. 3. indikator kinerja tambahan. Penilaian dapat dimulai dengan CRT berdasarkan standar konten dan proses (Suratno. beberapa negara bagian menggunakan instrumen SAT9 untuk kepentingan akuntabilitas sebelum California Standard Test berhasil dikembangkan (McAdams et al.. kiranya cukup sulit untuk membandingkan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya dan kurang memungkinkan untuk membuat urutan ranking sekolah (Suratno.

Untuk mengukur kinerja siswa memang tidak hanya menggunakan pendekatan CRT maupun NRT saja (Suratno. Hal yang sama juga berlaku bagi sekolah yang dapat mempertahankan kinerjanya dari tahun ke tahun (Suratno. 2005). tingkat pendaftaran dan indikator lainnya (Suratno. Indikator kinerja tambahan. 2005). 2005). Baik sekolah yang berkinerja baik dan belum baik memerlukan insentif baik untuk memelihara maupun untuk meningkatkan kinerja (Suratno. Sebagai contoh. 2005).. 2010). 2005). 2005). pencapaian belajar siswa sebaiknya menjadi faktor pengukuran utama dari kinerja sekolah (Suratno. Karena itu. Contoh ini menunjukkan rating di bawah standar dengan status upaya yang baik dalam mencapai standar (Suratno. Model Pertumbuhan di Colorado . Contohnya adalah tingkat kenyamanan sekolah. 2005). Jika daerah juga dapat memiliki perangkat NRT maka ia dapat digunakan sebagai pelengkap penilaian CRT (Suratno. dan tesnya bersifat gratis (Suratno. 2010). misalnya ujian sekolah. kualitas guru atau persepsi orang tua terhadap sekolah (Supovitz et al. 2003) dalam (Suratno. Namun demikian. 2000) dalam (Suratno. walaupun terdapat upaya yang dilakukan dimana mungkin dapat mencapai standar dalam tiga tahun ke depan (McAdams et al.. 2005). jika sistem akuntabilitas menargetkan sekolah untuk mencapai 75% passing standard untuk memperoleh rating yang dapat diterima maka sekolah yang kurang berkinerja mencapai angka di bawah itu. tetapi cukup ujian di tingkat daerah. 2005).sebagaimana ditunjukkan oleh pengalaman negara bagian California di Amerika (Suratno. Penggunaan CRT memiliki beberapa keuntungan karena CRT dapat disesuaikan dengan pengembangan lanjutan dari standar minimal pusat yang menjadi standar optimal yang dikembangkan daerah (Suratno. Tingkat kinerja dan tren peningkatan merupakan bagian dari Prinsip Kedua. 2005). pengukuran tambahan yang relevan juga penting (Suratno. Sistem Pendidikan Pengukuran Kinerja dibidang pendidikan tentunya akan lebih terintegrasi jika terdapat sistem yang bisa merangkum semua pengukuran kinerja menjadi satu (Wenning & Betebenner. 2005). Dalam hal ini. tingkat kelulusan. 2010). 2005). 2005). 2005). Jika ini dapat dilakukan maka sebenarnya tidak perlu lagi dilakukan ujian nasional. Hal itu bisa dilakukan dengan membuat sistem secara online sehingga semua pengukuran kinerja yang dilakukan bisa terintegrasi menjadi satu (Wenning & Betebenner. Dinas pendidikan sebaiknya memilih dan menentukan indikator kinerja yang mencerminkan prioritas daerah (Suratno. 2005). Salah satu contoh bisa dilihat di Departemen Pendidikan Colorado (Wenning & Betebenner. dinas pendidikan sebaiknya dapat mengukur keduanya karena sistem akuntabilitas memerlukan ‘the buy in’untuk stakeholders (Suratno. Departemen Pendidikan Colorado(CDE) mendukung dan melayani 178 kabupaten sekolah yang mendidik lebih dari 800. Pendekatan lainnya dapat digunakan.000 siswa di seluruh negara bagian (Wenning & Betebenner. 2010). sekolah tersebut perlu diberikan reward berupa insentif lanjutan untuk peningkatan kinerja lebih lanjut.

2010). 2010). Colorado mengumpulkan jutaan elemen data pada sekolah dari kinerja ke lokasi untuk siswa dan demografi sekolah (Wenning & Betebenner. Dengan model tersebut. CDE tahu itu cara pengukuran yang tepat untuk mengubah penggunaan data pendidikan seluruh negara bagian. membantu mengubah data menjadi informasi yang berguna untuk berbagai macam stakeholder pendidikan (Wenning & Betebenner. CDE memulainya dengan cara bergerak menjauh dari model tradisional perusahaan dalam penggunaan data (Wenning & Betebenner. 2010). beberapa orang memiliki akses untuk data ini. SchoolView adalah web yang unik 2. 2010). di mana Colorado mencapai cakupan yang luas untuk data dan instruksional longitudinal dalam sistem yang digunakan untuk perbaikan (Wenning & Betebenner. Website platform . alat analisis yang melacak pertumbuhan akademik dan sejarah prestasi masing-masing siswa (Wenning & Betebenner. tahun-tahun diskusi pertumbuhan siswa. 2010). khususnya kemahiran pada penilaian negara dan kesiapan tenaga kerja atau postsecondary (Wenning & Betebenner. Kemunculan SchoolView Terinspirasi oleh Web 2. Hasilnya adalah SchoolView. 2010). 2010). 2010).CDE dan NCIEA ingin mengembangkan model diskusi tahunan secara kontinyu terhadap status mahasiswa. 2010). grafik. CDE juga ingin melampaui spreadsheet data tradisional dan grafik HTML dengan visualisasi data dinamis untuk membuat data menjadi hidup dan menginspirasi pengguna untuk menjelajahi dan berkolaborasi selama informasi akhirnya mengubah pemahaman orang tentang pendidikan (Wenning & Betebenner. CDE memutuskan untuk menerapkan filsafat. Daripada berfokus terutama pada tujuan perakitan data (dan mengharapkan data untuk berbicara sendiri). dan teknologi ini terkait untuk visualisasi data dan komunikasi. Hal ini memungkinkan para pemangku kepentingan untuk menggunakan data yang lebih efisien (Wenning & Betebenner. CDE terfokus pada mendapatkan data yang benar untuk orang-orang yang benar (Wenning & Betebenner. tetapi membutuhkan cara untuk mengubah data ini ke informasi dan pengetahuan yang diperlukan untuk mengaktifkan transformasi (Wenning & Betebenner. CDE dapat bekerja untuk mengembangkan sebuah sistem dalam mendapatkan data untuk meningkatkan program-program pendidikan di seluruh negara bagian pada personil yang benar secara tepat waktu (Wenning & Betebenner. dan peta (Wenning & Betebenner. Untuk melakukannya.0 revolusi user berpusat pada desain dan jaringan sosial . Model berfokus pada apakah pertumbuhan masing-masing siswa tersebut cukup untuk mencapai dan mempertahankan tingkat prestasi yang diinginkan. 2010). Menggunakan model. 2010). dan mereka yang melakukan masih tidak memiliki kemampuan untuk melihat dan memastikan siswa dan sekolah tertentu mengapa kinerjanya membaik sementara yang lain tidak (Wenning & Betebenner. 2010). Tapi secara historis. Dua organisasi ini memulai dengan menciptakan Pertumbuhan Model Colorado. 2010).0 platform yang memungkinkan semua stakeholder dari kunci orang tua untuk pemimpin sekolah dalam pembuatan kebijakan untuk melihat dan membandingkan data kinerja pendidikan di seluruh negara bagian menggunakan visual. desain.

kabupaten. SchoolView bertujuan untuk menyediakan informasi bagi siswa. Dengan menghubungkan data tingkat mikro dengan makro. atau kabupaten adalah melakukan hubungan terhadap orang lain di negara bagian tersebut (Wenning & Betebenner. disiplin. nilai. termasuk (Wenning & Betebenner. Implementasi sistem akuntabilitas pendidikan di tingkat daerah ini juga memerlukan suatu sistem yang mudah diakses serta masyarakat dapat berperan langsung dalam pemberian masukan pada . stakeholder dapat mengadakan sekitar satu Platform dan seperangkat indikator untuk membahas pendidikan kinerja (Wenning & Betebenner. kelas. 2010). dan tingkat negara bagian yang terhubung (Wenning & Betebenner. c. audio. Evaluasi efektivitas dan kembali pada investasi tindakan spesifik. d. 2010). Segala proses belajar dan hasil yang dicapai siswa nantinya akan dikomunikasikan dinas pendidikan.menawarkan beberapa kemudahan untuk digunakan oleh alat visualisasi data untuk membuatnya sederhana bagi pengguna untuk memahami bagaimana seorang anak. b. maka harus direformasi agar tercipta akuntabilitas. Kesimpulan Sistem pengukuran kinerja di sektor pendidikan sangatlah sulit. 2010). karena sekolah adalah unit akuntabilitas. kepala sekolah. atau video. Perencanaan pembelajaran. dan mengintegrasikan data instruksional dengan data spesifik siswa. seperti formatif dan penilaian sumatif. sekolah. Sistem akuntabilitas di daerah dipandang sebagai bagian penting (koherensi dan integrasi) dari sistem akuntabilitas tingkat negara bagian atau bahkan tingkat pusat. Sistem akuntabilitas daerah dapat digunakan untuk meningkatkan mutu pembelajaran. orang tua. 2010). dengan dukungan real-time analisis dan pelaporan. seperti kehadiran. Untuk membuat pengukuran kinerja yang lebih relevan. sekolah. dan akumulasi kredit. Model Pertumbuhan dan Colorado SchoolView menghubungkan pemangku kepentingan yang berbeda di sekitar indikator umum dari pertumbuhan individu siswa .menggambarkan bagaimana tindakan dan kinerja individu. serta pencapaian siswa adalah hal utama yang harus diukur. Analisis informasi. Seluruh siswa melakukan tes tiap tahunnya dan sekolah melakukan penilaian yang jujur akan hal itu. Pengumpulan informasi. 2010). Platform diciptakan untuk melayani kelompok pengguna yang berbeda dengan kebutuhan informasi yang berbeda (Wenning & Betebenner. guru. untuk memberikan indikator peringatan dini risiko siswa dari kegagalan pendidikan (Wenning & Betebenner. orang tua. dan pekerjaan siswa di format grafis. 2010): a. dan masyarakat menggunakan Bahasa yang mudah dipahami sehingga informasi ini dapat digunakan untuk pengukuran kinerja nantinya. SchoolView juga mempromosikan masalah kolaboratif pemecahan dan perencanaan tindakan. dan administrator untuk ditindaklanjuti ke sistemik dengan mengelola perbaikan instruksional terus menerus.

S. The Performance-Trust Link : Implications for Performance Measurement. E. 1–12. . (Florida S. Yang. & Betebenner. H. Improving Educational Accountability in Colorado. Thomas. T. & Susan. D. Hal seperti inilah yang dibutuhkan oleh penyedia pelayanan publik khususnya di sektor pendidikan. dan timbul rasa percaya pada pelayanan publik. Y. R.. Prinsip-prinsip Akuntabilitas Sekolah: Pengembangan Sistem Akuntabilitas di Dinas Pendidikan. (www. Inovasi harus dimiliki oleh Pemerintah guna menyampaikan kinerja mereka kepada masyarakat sehingga masyarakat ikut berpartisipasi langsung dalam pengawasan kegiatan pelayanan publik. M. university).. (1996). thepublicmanager. Suratno.org). Referensi K. Public sector performance measurement. D. (2005). (2006).pelayanan publik di sektor pendidikan ini. Wenning. Sebagai contoh yaitu SchoolView di Colorado yang berdesain jejaring sosial. (2010).