Anda di halaman 1dari 130

PERBANDINGAN KEADAAN JARINGAN PERIODONSIUM PADA ANAK

PENGGUNA SPACE MAINTAINER CEKAT DAN LEPASAN DI KLINIK
IKGA RSGMP UNIVERSITAS HASANUDDIN

SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat
mencapai gelar sarjana Kedokteran Gigi

OLEH :
MUH. TEGAR JAYA
J111 12 104

UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
MAKASSAR
2015

PERBANDINGAN KEADAAN JARINGAN PERIODONSIUM PADA ANAK
PENGGUNA SPACE MAINTAINER CEKAT DAN LEPASAN DI KLINIK
IKGA RSGMP UNIVERSITAS HASANUDDIN

SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat
mencapai gelar sarjana Kedokteran Gigi

OLEH :
MUH. TEGAR JAYA
J111 12 104

UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
MAKASSAR
2015

ii

iii

Tegar Jaya Nim : J111 12 104 Judul skripsi : Perbandingan Keadaan Jaringan Periodonsium Pada Anak Pengguna Space Maintainer Cekat dan Lepasan di Klinik Ilmu Kedokteran Gigi Anak RSGMP Universitas Hasanuddin Menyatakan bahwa judul skripsi yang diajukan adalah judul baru dan tidak terdapat di perpustakaan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin.19661121199011 003 iv . 30 Oktober 2015 Staf Perpustakaan FKG-UH Amiruddin. Makassar.SURAT PERNYATAAN Dengan ini menyatakan bahwa mahasiswa yang tercantum namanya di bawah ini : Nama : Muh. S.Sos NIP.

Deposit makanan bisa terjadi karena pemakaian alat fungsional di dalam mulut seperti alat space maintainer. Space maintainer cekat. dan sementum. Adapun hasil uji statistik Mann Whitney U Test diperoleh nilai p: 0.041 (p<0. terdapat selisih 0. Keadaan jaringan periodonsium sangat bervariasi.138. Klinik Ilmu Kedokteran Gigi Anak RSGMP Universitas Hasanuddin v . Kesimpulan.05).Perbandingan Keadaan Jaringan Periodonsium Pada Anak Pengguna Space Maintainer Cekat dan Lepasan di Klinik Ilmu Kedokteran Gigi Anak RSGMP Universitas Hasanuddin ABSTRAK Latar belakang. Salah satu faktor penting yang dapat merusak keadaan jaringan periodonsium adalah deposit makanan yang menumpuk dan melekat pada permukaan gigi. dipengaruhi oleh morfologi gigi. Dari total sampel sebanyak 27 orang. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian untuk mengetahui perbedaan keadaan jaringan periodonsium antara pengguna space maintainer cekat dan lepasan di Klinik Ilmu Kedokteran Gigi Anak RSGMP Universitas Hasanuddin.095-1. fungsi. Alat dan metode. Hal ini menunjukkan bahwa keadaan jaringan periodonsium space maintainer cekat lebih buruk dari pengguna space maintainer lepasan. Kata kunci : Jaringan periodonsium. rentang nilai positif menunjukkan bahwa nilai gingival indeks pengguna space maintainer cekat lebih besar dibanding pengguna lepasan.617. Penelitian observasional analitik dilakukan di Klinik Pedodonsi RSGMP Universitas Hasanuddin dengan total sampel sebanyak 27 orang. terdiri dari 15 orang pengguna space maintainer lepasan dan 12 orang pengguna space maintainer cekat.75 sedangkan space maintainer lepasan hanya 1. Space maintainer lepasan. ligamentum periodontal. Terdapat perbedaan kondisi jaringan periodonsium yang signifikan antara pengguna space maintainer cekat dan lepasan berdasarkan nilai gingival indeks. tulang alveolar. Terlihat nilai GI pengguna space maintainer cekat mencapai 1. Pemeriksaan dilakukan menggunakan probe periodontal WHO dan tingkat keparahan jaringan periodonsium dihitung berdasarkan indeks gingival Loe and Silness serta uji statistik Mann Whitney U Test. Hasil.13. maupun usia. Jaringan periodonsium merupakan sistem fungsional jaringan yang mendukung gigi dan terdiri dari gingiva. Selain itu rentang nilai 95% convidence interval (CI) sebesar 0.

One of the important factor that may broke the condition of periodontium tissue is food deposit that accumulated and adhered at tooth surface. function.095-1. The interval of 95% value of confidence interval (CI) is 0. Clinic Pedodonsia RSGMP Universitas Hasanuddin vi . There was significant difference periodontium tissue condition between fixed space maintainer users and removable space maintainer users based on gingival indeks value. Periodontium tissue is a functional tissue system that support tooth and consist of its tooth.041 (p<0. Key words : Periodontium tissue.05). alveolar bones. ligamentum. Fixed space maintainer. research planing to do to know the difference of periodontium tissue condition between fixed space maintainer users and removable space maintainer users in Clinic Pedodonsia RSGMP Universitas Hasanuddin Materials and methods.75 whereas removable space maintainer nis 1. and age. Analytical observational research did ini clinic Pedodonsia RSGMP Universitas Hasanuddin with 27 persons total sample divide into 15 person removable space maintainer users and 12 fixed space maintainer user. Condition of periodontium tissue is highly varied. Examination using probe periodontal WHO and the damage level count of periodontal tissue based on index of gingival Loe and Silness and the result of statistic test using Mann Whitney U Test statistic Result. Based on these data.A Comparison of Periodontium Tissue Condition Between Fixed Space Maintainer Users and Removable Space Maintainer Users in Clinic Pedodonsia RSGMP Universitas Hasanuddin ABSTRACT Background. Conclusion.617 difference both. It’s affected by tooth morphology. The result of statistic test Mann Whitney U test acquired p value : 0. periodontal and cementum. Food deposit may occur because usage of functional tools inside the mouth such as space maintainer. Removable space maintainer. Result of gingival indeks (GI) value from fixed space maintainers users is 1. The data shows the condition of periodontium tissue by fixed space maintainer users is worse than removable space maintainer users. The positive interval value shows that gingival index value of fixed space maintainers is higher than removable space maintainer users.13 with 0.138. With the 27 total sample.

Bahruddin Thalib.KATA PENGANTAR Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin vii . Sp. sebagai dosen pembimbing skripsi yang senantiasa meluangkan waktu. Nurhaedah H. Terima kasih atas bantuannya. dukungan. terutama dalam menjadi dokter gigi profesional seperti beliau.pesan moral yang sangat bermanfaat bagi kehidupan penulis kedepannya.KGA. Dr. tenaga. hidayah. drg. Galib. Tak lupa pula shalawat dan salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing umat manusia dari zaman zahiliyah menuju zaman yang terang benderang seperti saat ini. 2.Pros. Sp. M. ridho. Oleh karena itu.Kes. serta ilmunya kepada penulis. pikiran. bimbingan. semoga Allah senantiasa memberikan keselamatan dan rahmat-Nya kepada dokter serta keluarganya. serta selalu memberikan pesan. serta doa dan motivasi dari berbagai pihak. penulis mendapatkan banyak bantuan. drg. Aamin. Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat. dengan tulus hati penulis ucapkan rasa terimakasih kepada : 1. Dalam penulisan skripsi ini. dan karunia-Nya maka penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perbandingan Keadaan Jaringan Periodonsium pada Anak Pengguna Space Maintainer Cekat dan Lepasan di Klinik Ilmu Kedokteran Gigi Anak RSGMP Universitas Hasanuddin” sebagai syarat untuk mendapatkan gelar sarjana kedokteran gigi.

Kes. perawat.3. serta co-ass bagian IKGA yang selalu membantu penulis dalam mengambil data. M. drg.baiknya 5. Staf akademik serta pegawai perpustakaan FKG Unhas. mencari sampel pasien. yang telah menjadi keluarga selama awal pendidikan di FKG Unhas dan tak henti. Dr. yang selalu membantu menyediakan sarana dan fasilitas dalam pembuatan skripsi 7. yang selalu memberi semangat serta motivasi agar menyelesaikan skripsi dengan sebaik. Kedua orangtua serta keluarga besar penulis.teman Mastikasi 2012. 30 Oktober 2015 Muh. Marhamah. Seluruh staf pegawai. Teman. juga teman.teman skripsi bagian IKGA yang sudah berjuang bersama dari awal jalannya pembuatan skripsi ini. Tegar Jaya viii . Makassar.hentinya memberi semangat serta bantuan selama jalannya penelitian. selaku penasehat akademik yang senantiasa mendidik dan membimbing penulis selama pendidikan dijenjang preklinik 4. serta tak hentinya memberikan motivasi kepada penulis 6.

.............. xiii DAFTAR TABEL ......................................................................................... 5 1.......................... vii DAFTAR ISI ...........................3............................................................................................................................ Kelainan erupsi gigi ................... 6 2...............DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ....................................................................................1..... Pertumbuhan dan perkembangan basis cranium .. 7 2... Tahap erupsi gigi ...........................2.................................... iii PERNYATAAN ................. 9 2.................... 14 ix ..........................................2............................. Mandibula ................ Manfaat penelitian .....................................2...4...................................2..................1...................................1............... Pertumbuhan dan perkembangan rahang ..... ix DAFTAR GAMBAR ...................................................... xiv BAB I PENDAHULUAN 1............................................. 8 2..........1.................... Tujuan penelitian .......................................................................................................... Maksila .................................... 10 2....................................................................... 4 1..................... i HALAMAN PENGESAHAN .................................................... v KATA PENGANTAR .......................................................................... Rumusan masalah ............ Latar belakang .......................................................1...................................... 1 1......................................................................1..2......................... Pertumbuhan dan perkembangan cranium vault .............................................................................................. iv ABSTRAK .......................5.............. 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2................................. Tumbuh kembang kraniofasial .............................................................................. 12 2........2............................................. 11 2.....................................3................................................

........... 22 2................ 43 2.................................................................8.11..jenis space maintainer .............. Space maintainer lepasan.......................................1...................9.....8........... Gambaran klinis gingiva normal ..............................1.3...... 29 2..............................4...........4 Metode Johnson dan Tanaka . Erupsi yang lambat .. 47 2.... 23 2........1 Metode Moyers ..................................... Perawatan gigi anak selama penggunaan space maintainer ............ Penyebab tanggalnya gigi desidui diusia dini .............. 40 2........................................1....................9.2......................... 43 2....9..................................... Erupsi prematur ..........2.4....... 16 2..... 25 2.....................2...........................................................3 Metode Huckaba .....11.....7.... 19 2........................ 48 2................... Jenis..............................................................................................11..................4..11..............8 Pengukuran dimensi ruang .9.............. 49 2...................................2.........................5................................12......syarat space maintainer ....9.. Jaringan periodonsium ...2 Metode Nance ....1............................................................................8........................... 30 2...............9.... Tulang alveolar .................................................................................................................................. 25 2.......................... Gingiva ............................................................. 15 2........ 24 2....................... Dampak tanggal dini gigi desidui........................4.................................................................. Space maintainer cekat ...............................9.................. 42 2................... Ligamentum periodontal....... 22 2......................................10........... Sementum .......................6..8. Keuntungan dan kerugian penggunaan space maintainer ............................2.................... Waktu erupsi serta lebar mesio distal gigi ...4................................ Syarat.....3.................. 31 2................ 17 2.......... 21 2.....11.................... 19 2..4. Indikasi dan kontra indikasi penggunaan space maintainer ................................... 50 x ............................................................................. 27 2................. Space maintainer .................................

...................................... 73 BAB IV METODE PENELITIAN 4........................................................ 74 4... Klasifikasi penyakit jaringan periodonsium pada anak .. Indeks Gingiva .......... 65 2....................................................... Kriteria sampel ....15............................ 64 2..3...... 74 4........7..................................... 54 2..............17............. 67 2...2........................................................... Populasi dan sampel penelitian ..............6.................... 62 2..............7..17............................ 77 4...............3............................ 67 2................................................................................ Jenis penelitian ..........................5.... Faktor sistemik penyakit periodonsium .................13.....1.................................................................................4..... Kriteria inklusi . 65 2.......................................................................................................15...................................... Periodontal Disease Index ............1................. Gambaran mikroskopik gingiva ............. Indeks pengukuran .1...17...........15.................................... 74 4......... 58 2.........2............................ Kriteria eksklusi ..........................8...... Etiologi penyakit periodonsium ................ 76 4...........17..........1... Definisi operasional variabel ................................................................................................. 76 4......3.......... Tempat dan waktu penelitian .................................. Variabel Penelitian ..... Desain penelitian .......................7.......................................................... 74 4............. 74 4......... Waktu penelitian .................. Penanganan penyakit periodontal pada anak ............................2........... 77 xi .................... 75 4......................... Faktor lokal penyakit periodonsium . 74 4............................................................................ Metode pengambilan sampel ...14.....................18............................................3......................................... Tempat penelitian ......... 69 BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN ................................................... 59 2............. Papilla Bleeding Index................................... 76 4.............................................16........................... 52 2.......2................................................... Pengaruh alat fungsional terhadap kesehatan gingiva .1......2...........2.......

..13......................................4..............................11..13................................................................................................................................ Kesimpulan..1. 94 BAB VII PENUTUP 7.......................................... Pengolahan data .................................................................. Prosedur penelitian .............................. 77 4......................................................................................................................................................................................................................................................... 80 4...................................... 81 4........................1..................................... Jumlah sampel ........2...................................................12................................................................................... 82 BAB VI PEMBAHASAN... 112 DAFTAR PUSTAKA ................................... 78 4............. Analisis data ....................................... 77 4......................9..... Alat dan bahan penelitian .........2............... 81 4...... Alat ukur dan pengukuran ................. Jenis data..... 81 4.................................10............. 111 7.................. Uji statistik............................................ Saran .....13....... 81 BAB V HASIL PENELITIAN ............................................................3................................... 114 LAMPIRAN xii .... .13.......

1 Perkembangan kraniofasial 7 2.6 Lingual arch space maintainer 38 2.2 Erupsi gigi 14 2.3 Space maintainer band and loop 32 2.10 Jaringan periodonsium 43 2.7 Palatal arch space maintainer 39 2.11 Gingiva normal 50 2.8 SM lepasan dengan gigi tiruan sebagian 41 2.5 Distal shoe sapce maintainer 36 2.4 Space maintainer crown and loop 34 2.12 Hasil probing 66 xiii .DAFTAR GAMBAR No Teks Halaman 2.9 SM lepasan dengan gigi tiruan penuh 41 2.

5 Distribusi keluhan yang dialami sampel selama 88 penggunaan SM berdasarkan kondisi jaringan gingivanya 5.rata nilai gingival indeks berdasarkan jenis 91 kelamin.DAFTAR TABEL No Teks Halaman 2.2 Waktu erupsi dan lebar mesio distal gigi permanen 18 5. usia.2 Distribusi jenis kelamin. dan lama 84 penggunaan SM berdasarkan jenis space maintainernya 5.3 Distribusi keluhan yang dialami sampel selama 85 penggunaan SM berdasarkan jenis space maintainernya 5.6 Distribusi perawatan kesehatan gigi dan mulut yang 89 dilakukan sampel selama penggunaan space maintainer berdasarkan kondisi peradangan jaringan gingiva 5.8 Perbedaan kondisi jaringan periodonsium berdasarkan 92 nilai gingival indeks antara pengguna space maintainer cekat dan lepasan xiv . usia. jenis SM. dan lama penggunaan space maintainer 5.1 Waktu erupsi dan lebar mesio distal gigi desidui 17 2.4 Distribusi perawatan kesehatan gigi dan mulut yang 87 dilakukan sampel selama pemakaian space maintainer berdasarkan jenis space maintainernya 5.1 Distribusi sampel berdasarkan karakteristiknya 83 5.7 Distribusi rata.

Ketika gangguan tersebut muncul. estetik dan oklusi. Pada masa perkembangan. tindakan perbaikan yang diperlukan yaitu memulihkan proses normal dari perkembangan oklusi.2 Pada dasarnya lengkung gigi desidui dapat mengalami perubahan dalam ukuran dimensi rata.1 Periode gigi desidui merupakan periode yang penting dalam perkembangan anak.geligi rahang atas yang dapat mengubah posisi gigi.BAB I PENDAHULUAN 1. akibatnya perkembangan lengkung gigi anak akan menjadi kurang berkembang.1. dan pada akhirnya dimensi lengkung gigi mengalami perubahan. Latar belakang Perkembangan oklusi dari gigi desidui menuju gigi permanen merupakan suatu rangkaian kejadian yang dapat terjadi secara bertahap dan tepat waktu. hal ini disebabkan oleh adanya pergeseran dari gigi. namun apabila rangkaian ini terganggu maka akan muncul beberapa masalah yang akan mempengaruhi perkembangan oklusi dan gigi permanen.geligi rahang bawah atau sebaliknya. apabila terjadi kerusakan pada gigi anak dan tidak dapat lagi dirawat secara konservatif maka akan terjadi tanggalnya gigi desidui sebelum waktunya atau gigi penggantinya belum erupsi (premature loss). gigi desidui akan terus mengalami perubahan dimensi ukuran panjang dan lebar lengkung gigi sejalan dengan pertambahan umur dan erupsi gigi permanen.rata.2 1 . Periode pergantian dari gigi ini berpengaruh pada beberapa faktor seperti pada faktor fungsional.

ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu tahap perkembangan gigi.Perkembangan rahang anak dengan gigi. Anak dengan gigi yang tanggal sebelum waktunya sangat berpotensi terhadap terjadinya gigi berjejal. kejadian ini sering terjadi pada periode gigi bercampur yang disebabkan oleh tanggalnya gigi desidui yang terlalu cepat sedangkan gigi penggantinya belum erupsi sehingga terjadi pergeseran gigi yang ada dalam mulut dan menyebabkan ruang bagi gigi penggantinya tidak mencukupi. Beberapa tipe space maintainer yang tersedia saat ini yaitu band and loop atau modifikasi crown and loop. distal shoe. lengkung rahang. Penelitian yang dilakukan oleh Noranjo dkk. dan tingkat kooperatif pasien. kondisi psikologis. jumlah gigi yang hilang. Dalam menentukan penggunaan kedua jenis space maintainer. Space maintainer ini umumnya terdiri dari dua jenis yaitu space maintainer cekat dan lepasan. dan space maintainer lepasan. piranti ini juga memberikan dampak negatif.3 2 .1 Hilangnya ruang untuk tempat tumbuhnya gigi permanen dapat diantisipasi dengan menggunakan alat space maintainer yang fungsinya mempertahankan ruang yang ada. membuktikan bahwa dengan adanya piranti ortodontik dan protesa akan memperbanyak jumlah kandida.1 Perawatan dengan space maintainer selain memberikan dampak positif. palatal arch. mandibular lingual arch. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa perawatan ortodontik seperti space maintainer mempunyai peranan penting terhadap peningkatan dan perubahan jumlah mikroorganisme rongga mulut. tidak hanya di oklusal tetapi pada semua sisi rongga mulut. usia pasien.geligi yang lengkap tentu akan lebih baik dibanding perkembangan rahang anak dengan beberapa gigi yang telah tanggal sebelum waktunya. oklusi.

Departement of Pathological Physiology. Dampak lebih parah yang akan timbul yaitu terjadinya kegoyangan gigi hingga kehilangan gigi. sebanyak 32 pasien yang dirawat dengan piranti ortodontik cekat yang terdiri dari 11 orang perempuan dan 21 pria dengan diagnosis yang menunjukkan gejala gingivitis. berbagai penyakit periodontal dapat terjadi. terjadi resorpsi pada tulang alveolar. khususnya pada anak. Dalam penelitian ini.tanda gingivitis dan pembesaran gingiva dengan pertambahan kedalaman poket. dan sebanyak 80% dari pasien yang dirawat dengan piranti ortodontik cekat mengalami gingivitis yang merupakan manifestasi klinis dari plak.5 mm yang berfungsi mengukur kedalaman poket pada sulkus gingiva. serta kerusakan pada jaringan pendukung lainnya.5 3 .5 sampai 5. Untuk melihat prevalensi penyakit periodontal. tingkat keparahannya dapat terjadi mulai dari ringan. melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi terjadinya kelainan periodontal pada pasien dengan manifestasi klinis dari plak yang menyebabkan gingivitis dalam perawatan piranti ortodontik cekat. 5 Pada anak. hingga berat. Faculty of Medicine. Berdasarkan penelitian tersebut dapat diketahui bahwa pasien dengan perawatan piranti ortodontik cekat cenderung menunjukkan tanda. sedang. beberapa diantaranya dapat merusak dengan cepat. Masaryc University.anak dan remaja. Gingivitis yang tidak dirawat akan menjadi periodontitis dan kemudian akan terbentuk poket periodontal.5 mm dan lingkaran hitam pada 3.4 Gingivitis merupakan suatu peradangan yang terjadi pada gingiva.anak dapat digunakan standar pengukuran WHO dengan menggunakan probe ujung berbentuk bola 0.

Rumusan masalah Berdasarkan permasalahan tersebut maka hal yang harus dipertimbangkan dalam penelitian ini yaitu apakah ada perbedaan keadaan jaringan periodonsium antara anak pengguna space maintainer cekat dan lepasan di Klinik Ilmu Kedokteran Gigi Anak RSGMP Universitas Hasanuddin? 4 . kemudian dihubungkan dengan keluhan yang dialami serta kebiasaan membersihkan rongga mulut pasien selama pemakaian alat space maintainer. mereka tidak mengetahui cara membersihkan mulut dengan baik serta tidak memahami instruksiinstruksi khusus yang perlu dilakukan untuk merawat piranti space maintainer yang ada di dalam mulutnya.anak biasanya tidak begitu memahami tetantang perawatan space maintainer yang diberikan.anak yang menggunakan space maintainer.anak merupakan usia yang paling rentan terkena penyakit periodontal.Anak. 1. Berdasarkan latar belakang tersebut. terlebih lagi pada anak yang memakai piranti ortodonti karena pada usia ini anakanak belum bisa mandiri dan membutuhkan perhatian khusus dari keluarga terdekatnya mengenai perlindungan kesehatan. Maka dari itu penulis mengangkat judul yaitu perbandingan keadaan jaringan periodonsium pada anak pengguna space maintainer cekat dan lepasan di Klinik Ilmu Kedokteran Gigi Anak RSGMP Universitas Hasanuddin. penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai keadaan jaringan periodonsium pada anak.3 Anak.2.

Menambah wawasan keilmuan peneliti mengenai perbedaan space maintainer cekat dan lepasan 3.1.4. Memberikan kontribusi referensi bagi peneliti selanjutnya.3. Tujuan penelitian Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan membandingkan keadaan jaringan periodonsium antara anak pengguna space maintainer cekat dan lepasan. 5 . 2. Manfaat penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah : 1. 1. Menambah wawasan keilmuan peneliti tentang keadaan jaringan periodonsium pada anak yang menggunakan space maintainer.

sutura tulang kepala mempengaruhi besar ukuran kepala pada semua dimensi. Pertumbuhan kartilago daerah kranium terutama terjadi pada basis kranium. Sutura yang memisahkan fasial dan kranium diperkirakan tersusun sedemikian rupa sehingga pertumbuhannya akan menggerakkan fasial ke depan dan ke bawah. sutura. Basis kranium posterior akan terus meluas karena adanya spenoosipital sinkondrosis. Basis kranium posterior dimulai dari basis osipital sampai sela tursika. Pertumbuhan basis kranium anterior lebih cepat selesai dibandingkan basis kranium posterior. Semua daerah pertumbuhan kartilago berperan dalam pertumbuhan kepala.1 Tumbuh kembang kraniofasial Pertumbuhan kranium terjadi sangat cepat pada tahun pertama dan kedua setelah lahir dan lambat laun akan menurun kecepatannya. Pertumbuhan basis kranium posterior akan berhenti setelah dewasa pada saat terjadi kalsifikasi pada spenoosipital sinkondrosis. sedangkan basis kranium anterior dimulai dari sela tursika sampai nasion. Pada anak usia 4-5 tahun besarnya kranium sudah mencapai 90% kranium dewasa. daerah septum tulang.6 6 . Mekanisme pertumbuhan kartilagio. dan periosteum penting dalam pembesaran basis kranium. dan kondilus mandibula. pertumbuhan sutura.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.6 Basis kranium terbagi dua yaitu basis kranium posterior dan anterior.

tulang frontal normalnya berosifikasi pada usia 8 tahun dan pertumbuhan sutura pada daerah kranium ini tidak lagi aktif sesudah usia tersebut. Pertumbuhan sutura sangat aktif pada tahun.1.1.1.7 Pertumbuhan pada daerah ruang kranium kebanyakan sudah selesai seluruhnya pada usia 7 tahun. Fungsi utama ruang kranium adalah melindungi otak. Fields HW. Canada : Elsever . Sutura pada garis tengah antara tulang. Pada saat pertumbuhan periosteal dan endosteal akan terjadi penambahan ukuran 7 . periosteal. maupun endosteal. Contemporary orthodontics 5 ed. Pertumbuhan dan perkembangan cranium vault Ruang kranial adalah bagian kranium yang membentuk tutup kepala atau menutupi otak dan terdiri dari sejumlah tulang pipih yang terbentuk langsung melalui pembentukan tulang intramembranus tanpa didahului pembentukan cartilage. Perkembangan kraniofasial (Sumber: Proffit WR.masing. Pertumbuhan cranium vault akan sejalan dan seiring dengan pertumbuhan otak itu sendiri. semuanya ikut memainkan perannya masing. Sarver DM.Gambar 2.tahun permulaan ketika tulang. 2013) 2. termasuk pertumbuhan sutura.tulang yang sebelumnya saling terpisah pada saat bayi lahir menjadi bertumbuh bersama.

keseluruhan volume serta ketebalan tulang yang akan mengubah bentuknya. wajah. Fungsinya selain mendukung dan melindungi otak serta tulang spinal. dan regio faringeal. pertumbuhan sutura spheno-ethmoidalis. Spenoosipital sinkondrosis adalah suatu kartilago yang menghubungkan tulang spenoid dengan tulang osipital. Pertumbuhan basis kranial ke arah antero-posterior terjadi karena adanya pertumbuhan endokondral pada spenoosipital sinkondrosis.ethmoidalis. dimana pertumbuhan berjalan dengan cara berlainan. kranium akan membesar 8 .1. Sejak usia ini. melindungi persendian tengkorak. perpanjangan sinkondrosis. pergerakan kortikal yang luas serta remodeling. Pertumbuhan basis kranium mempunyai efek langsung terhadap pertumbuhan muka bagian tengah dan mandibula. Pertumbuhan basis kranium dipengaruhi oleh suatu keseimbangan yang kompleks antara pertumbuhan sutura. sebagai contoh pada tulang parietal yang relatif datar pada saat lahir akan menjadi cembung pada akhir periode pertumbuhan. dan sutura fronto.2.7 2. dimana kranium sudah mencapai 90%. Kranium yang tumbuh dengan cepat sebelum lahir akan terus tumbuh dengan cepat sampai usia satu tahun untuk tempat otak. mandibula dan sebagian maksila. kolumna vertebrata. setelah itu laju pertumbuhan menurun dan pada usia tujuh tahun. juga berguna untuk menegakkan tubuh. Pertumbuhan dan perkembangan basis kranium Basis kranium merupakan dasar kranium yang terletak di bawah otak dan merupakan batas antara kranium dan wajah.6 Basis kranium posterior akan terus meluas karena adanya spenoosipital sinkondrosis. Fungsi terpenting lainnya adalah sebagai daerah penyangga diantara otak.

dengan perlahan sampai maturitas. cavitalis paranasalis. Setiap kondisi patologis yang mempengaruhi pertumbuhan rahang bisa menimbulkan efek besar terhadap oklusi gigi.7 Lebar wajah ketika bayi lahir adalah dua pertiga besar wajah dewasa.7 2. vertikal. cavum nasi. dan kedalaman wajah adalah sepertiga kedalaman dewasa.geligi dan tulang basal yang membentuk struktur utama rahang. variasi semacam itu bisa terjadi pada ketiga bidang yaitu sagital. tinggi wajah adalah setengahnya.tulang rahang menjadi komponen basal dan alveolar bersifat artifisial karena keduanya berasal dari tulang yang sama. tetapi pembagian tersebut dapat diterima karena mengalami perkembangan dan memiliki fungsi yang berbeda. trauma.masing rahang dapat bervariasi dalam hubungannya terhadap kranium.tahun pertumbuhan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan rahang. Bertambah lebarnya rangka wajah postnatal terutama dipengaruhi oleh deposisi permukaan dan resorpsi internal pada cavitas orbitalis.2. Malformasi kongenital baik bawaan maupun dapatan. dan cavum oris. Posisi rahang juga dihubungkan dengan basis anterior kranium dan masing. Pada saat dewasa besarnya 9 . serta infeksi selama tahun. Bagian rangka wajah yang terletak di bawah bidang frankfurt adalah kirakira seperdelapan besar kranium ketika bayi lahir. Pertumbuhan dan perkembangan rahang Rahang adalah bagian dari struktur total kepala dan setiap rahang bisa mempunyai hubungan posisional yang bervariasi terhadap struktur lain dari kepala. Pembagian tulang. dan lateral.6 Rahang memiliki dua komponen yaitu tulang alveolar yang merupakan tempat gigi. Wajah berkembang ke arah depan dan bawah dalam kaitannya dengan kranium.

meningkat menjadi sepertiga besar kranium. ruang antara sutura yang terbuka diisi oleh proliferasi tulang. Pertumbuhan postnatal maksila seluruhnya terjadi dengan osifikasi intramembran karena tidak terdapat kartilago. 10 . dengan kata lain regio infraorbitalis atau bagian rangka wajah yang berhubungan dengan mastikasi tumbuh lebih besar setelah bayi lahir daripada kranium regio olfaktoris dan regio orbitalis dari wajah. Sementara maksila tumbuh ke bawah dan depan. permukaan anteriornya mengalami remodeling. Aposisi permukaan terjadi di sebelah anterior lengkung tulang maksila.pengaruh tersebut berkurang secara drastis seiring pertumbuhan sutural dan pertumbuhan permukaan intramembranosa. Oleh karena itu. pengaruh. pertumbuhan tulang cranial dan nasalseptal memberikan pengaruh signifikan terhadap pergerakan maju mundur maksila dari lahir hingga umur 7 tahun. kepala membentuk seperdelapan dari tinggi total tubuh.7 Aposisi terjadi pada kedua sisi sutura sehingga tulang tempat perlekatan maksila bertambah besar. Setelah umur 7 tahun hingga dewasa. Saat terjadi pertumbuhan maksila ke arah bawah dan depan.2. Hampir seluruh permukaan anterior maksila mengalami resorpsi kecuali daerah disekitar spina nasalis anterior. tepi posterior maksila yang merupakan daerah tuberositas mengalami aposisi sehingga menambah ruang untuk tempat erupsi gigi molar permanen. antara lahir sampai maturasi tubuh tentunya tumbuh lebih pesat. Pertumbuhan maksila terjadi melalui dua cara yaitu aposisi sutura yang menghubungkan maksila dengan kranium dan basis kranial serta remodeling tulang. Pada orang dewasa. baik pada proporsi maupun ukuran dibandingkan kepala.6 2.1. Maksila Pertumbuhan maksila dipengaruhi oleh pertumbuhan otak.

2. Pola kedua. Menurut Proffit dan Fields. terjadi resorpsi pada permukaan lingualnya. berbicara. dan alveolaris mandibula. Pembentukan prosesus alveolaris dikontrol oleh erupsi 11 .7 2. sementara ramus bertambah tinggi melalui osifikasi endokondral pada kondilus dan remodeling tulang.2. dan ekpresi wajah.otot serta gigi.dimana panjang maksila akan bertambah setelah umur dua tahun yang terjadi akibat dari tuberositas maksila dan dengan pertumbuhan sutura sepanjang tulang palatal. bagian posterior mandibula dan basis kranium tetap. koronoid dan kondilus mandibula. 2. Dagu bergerak ke bawah dan depan hanya sebagai akibat pertumbuhan kondilus dan tepi posterior ramus mandibula. mandibula juga tumbuh ke lateral melalui aposisi permukaan lateral korpus. dagu dan korpus mandibula hanya berubah sedikit sementara pertumbuhan sebagian besar terjadi pada tepi posterior ramus. pemeliharaan jalan udara. Untuk mengimbangi aposisi lateral. Pola pertama. Gerakan pertumbuhan mandibula pada umumnya dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi di maksila. pertumbuhan mandibula ada dua macam yaitu8 : 1. sementara dagu bergerak ke bawah dan ke depan. Mandibula Mandibula merupakan tulang kraniofasial yang sangat mobile dan merupakan tulang yang sangat penting karena terlibat dalam fungsi. Mandibula adalah tulang pipih berbentuk U dengan mekanisme pertumbuhan melalui proses osifikasi endokondral maupun aposisi periosteal (osifikasi intramembranous) dan di mandibula merupakan tempat melekatnya otot. Selain tumbuh ke bawah dan ke depan. Korpus mandibula bertambah panjang melalui aposisi tepi posteriornya. ramus.fungsi vital antara lain pengunyahan.

6 2. fase ini dipengaruhi oleh tumbuhnya jaringan disekitar kantong gigi.8 : 1.gigi dan resorpsi bila gigi tanggal ataupun diekstraksi. Erupsi gigi memiliki 3 tahapan. saat mahkota gigi permanen sedang terbentuk.erupsi terjadi pembentukan benih gigi. ketika gigi permanen pertama erupsi maka gigi memasuki tahapan kedua yaitu mixed dentition (tahap gigi campuran). Tahap pra. maka 12 . Tahap erupsi Tahap erupsi gigi merupakan suatu proses yang berkesinambungan dimulai dari awal pembentukan melalui beberapa tahap sampai gigi muncul ke rongga mulut. Pertumbuhan prosesus alveolaris sangat aktif selama erupsi dan berperan penting selama erupsi serta terus memelihara hubungan oklusal selama pertumbuhan vertikal maksila dan mandibula. lalu setelah gigi desidui terakhir tanggal maka terjadi fase terakhir yaitu permanent dentition (fase gigi permanen).3. namun terdapat waktu erupsi yang umum terjadi. Gigi pada kedua lengkung tidak menjadi protrusi ketika maksila dan mandibula tumbuh dan berpindah tempat karena adanya relasi interkuspal gigi. Saat melewati tahap akhir pembentukan mahkota gigi. Pada tahap erupsi terjadi pergerakan mahkota gigi yang telah terbentuk dari tempat asalnya menembus mukosa alveolar dan muncul di rongga mulut sampai berkontak dengan gigi lawannya. Selain itu. yang pertama dikenal sebagai tahapan decidous dentition dimana hanya terdapat gigi desidui dalam mulut. selanjutnya gigi akan memasuki tahap erupsi gigi yang terdiri dari dua tahap yaitu7. kemudian rahang mengalami pertumbuhan pesat di bagian lateral lalu meningkat ke arah anterior dan berlanjut ke arah posterior. Meskipun erupsi gigi muncul pada waktu yang berbeda pada setiap orang.erupsi Pada tahap pra.

Pergerakan kantong gigi bukan merupakan mekanisme erupsi karena erupsi baru terjadi ketika akar gigi mulai terbentuk. gerakannya menjadi sangat cepat dan prosesnya akan berakhir ketika mahkota gigi telah mencapai posisi oklusi fungsional dalam rongga mulut. pada tahap ini terjadi pemakaian permukaan insisal atau oklusal gigi oleh karena proses pengunyahan dan gigi tersebut berusaha mempertahankan kontak oklusal.menerus sepanjang umur seseorang dan berhenti jika gigi tersebut hilang atau dicabut. Pada tahap fungsional. Proses erupsi pada tahap ini terjadi sangat lambat. pada tahap pra. Ketika gigi menembus jaringan mukosa dalam mulut. Proses penting yang terjadi dalam tahap pra. 2.erupsi adalah resorpsi tulang alveolar serta akar gigi desidui dan juga adanya gerakan mahkota gigi menembus mukosa alveolar. akar.fungsional terjadi proses pembentukan akar gigi yang bersamaan dengan sampainya gigi pada daratan oklusal. Gigi didesak keluar sebagai hasil dari kekuatan yang berasal dari bawah seperti pertumbuhan tulang alveolar. dan hasil tarikan jaringan penghubung di sekitar ligamentum periodontal.kantong gigi yang berada dalam tulang rahang bergerak secara lambat ke arah labial maupun bukal. Gigi molar pertama permanen adalah gigi permanen yang paling pertama menembus ke luar. tekanan darah. lalu diikuti oleh gigi seri sentral bawah. erupsi terjadi setelah gigi mencapai oklusi. Tahap erupsi Tahap erupsi secara garis besar terdiri dari tahap pra. tekanan cairan dalam jaringan.fungsional dan tahap fungsional. Tahap fungsional terjadi terus. 13 .

dan vitamin (vitamin C dan D).9 Sama halnya dengan gigi permanen.4. gigi kelihatan tidak beraturan karena berada pada masa peralihan saat tanggalnya gigi desidui dan saat tumbuhnya gigi permanen. Kelainan erupsi gigi Pada umumnya erupsi gigi pertama kali muncul pada usia 6-8 bulan sesudah lahir dan seluruh gigi desidui muncul pada usia 2. Selain itu gigi desidui memiliki fungsi istimewa yaitu sebagai petunjuk bagi gigi permanen agar kelak tumbuh pada tempatnya dan menjaga pertumbuhan lengkung rahang. UK : Oxford university press . fosfat. Erupsi gigi (Sumber: Mitchell L.7 Usia anak 6-11 tahun adalah periode gigi bercampur.Gambar 2. kalsium. dan estetika. Bila gigi desidui tanggal sebelum waktunya baik karena karies ataupun dicabut. pengecapan. 2001) 2. Pada masa ini perlu perhatian dari orangtua untuk memeriksa kesehatan gigi anaknya ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali agar pertumbuhan gigi tetap terkontrol dengan baik.5 tahun yang ditandai dengan gigi molar desidui kedua yang telah mecapai kontak dengan gigi antagonisnya.2. Pembentukan struktur gigi yang sehat dan sempurna didukung oleh gizi yang cukup khususnya protein. gigi permanen yang akan 14 . An introduction to orthodontic 2nd ed. gigi desidui secara umum membantu proses pencernaan.

tumbuh tidak mempunyai petunjuk sehingga letaknya salah dan gigi permanen
tumbuh tidak pada posisi yang ideal. Selain itu gigi desidui yang telah tanggal
sebelum erupsi akan menyebabkan pertumbuhan lengkung rahang terganggu,
lengkung rahang akan menyempit sehingga tidak cukup menampung semua gigi
dalam susunan yang teratur, akibatnya susunan gigi- geligi tidak beraturan.9

2.4.1. Erupsi prematur
Gigi yang lebih cepat erupsi dapat terjadi karena faktor keturunan dan cenderung
terjadi pada anak yang memiliki berat badan tinggi pada waktu lahir. Erupsi dini dari
gigi permanen juga terlihat pada anak yang mengalami masa pubertas lebih cepat
akibat ketidaknormalan kelenjar endokrin yang menghasilkan sekresi hormon
pertumbuhan atau tiroid secara berlebih.7
Kelainan erupsi ini dapat ditandai dengan kehadiran gigi natal dan deonatal yaitu
gigi yang sudah erupsi sejak lahir atau sampai 30 hari setelah lahir. Gigi neonatal
seringkali sangat goyang karena akar yang tidak berkembang dan ditandai dengan
jaringan gusi yang sering membengkak serta terdapat ulserasi pada permukaan
ventral lidah. Untuk mengatasi ulserasi yang terjadi, cara terbaik yang dapat
dilakukan yaitu dengan menggunakan pasta carmellose sodium pada cotton bud yang
dioleskan sebelum makan.9
Salah satu contoh dari gigi yang mengalami erupsi prematur adalah natal teeth,
dimana kelainan ini dapat terjadi pada satu atau lebih gigi- geligi yang telah erupsi
pada waktu kelahiran. Gigi- geligi ini biasanya merupakan bagian dari rangkaian
yang normal dan bukan merupakan gigi supernumerari (gigi berlebih). Natal teeth
paling sering ditemukan pada regio insisivus bawah.7

15

2.4.2. Erupsi yang lambat
Terdapat beberapa kondisi yang berhubungan dengan keterlambatan erupsi gigi.
Secara umum keterlambatan ini antara lain dapat dilihat pada anak- anak yang
memiliki kromosom abnormal yaitu penderita sindrom down dan turner yang pada
beberapa kasus gigi desidui akan terus bertahan dalam rongga mulut hingga anak
berumur 15 tahun. Keterlambatan yang signifikan juga disebabkan oleh adanya
defisiensi nutrisi, hipotiroidisme, atau hipotuaitarisme pada masa anak- anak.
Hiperplasia gusi herediter bersama hipertrikosis juga menyebabkan keterlambatan
erupsi. Selain itu, pencabutan gigi molar satu desidui yang terlalu dini dapat
menyebabkan penundaan erupsi gigi permanen.9
Perawatan untuk menanggulangi gigi yang belum erupsi adalah menghilangkan
faktor etiologi, pemeliharaan ruangan, dan penarikan gigi ke arah oklusal.
Penatalaksanaan gigi yang terlambat erupsi dapat dilakukan dengan menghilangkan
faktor penyebab diantaranya yaitu dengan pengangkatan obstruksi pada gigi
supernumerari maupun odontoma, surgical exposure, dan pergerakan ortodontik
untuk gigi kaninus rahang atas yang ektopik, serta gingivektomi pada hiperplasia
gusi herediter. Adapun perawatan non-bedah yang dapat dilakukan meliputi
perawatan ortodontik dan prostodontik. Penggunaan alat ortodontik diperlukan untuk
mempertahankan ruangan yang ada sampai gigi penggantinya mencapai posisi
normal. Perawatan yang dilakukan untuk menggantikan gigi insisivus atau molar
permanen yang belum erupsi yaitu dengan pemasangan alat space maintainer.
Perawatan lainnya yang dapat dilakukan pada gangguan ini berupa perbaikan
beberapa faktor sistemik seperti terapi hormon.9

16

2.5. Waktu erupsi gigi serta lebar mesio distal gigi.
Dalam mulut biasanya ada tiga periode gigi, yaitu periode gigi- geligi desidui,
periode gigi- geligi campuran, dan periode gigi- geligi permanen. Erupsi gigi- geligi
desidui biasanya dimulai pada usia 5 atau 6 bulan. Pada umumnya gigi desidui
pertama yang muncul dalam mulut adalah dua gigi bawah bagian depan atau
insisivus satu. Waktu erupsi gigi- geligi desidui umumnya bervariasi, begitu juga
dengan lebar mesio- distal dari gigi- geligi desidui.10
Tabel 2.1 Waktu erupsi dan lebar mesio- distal gigi- geligi desidui.
Waktu erupsi (bulan)

Lebar mesiodistal (mm)

Insisivus sentral

8

6,5

Insisivus lateral

9

5,0

Kaninus

18

6,5

Molar pertama

14

7,0

Molar kedua

24

8,5

Insisivus sentral

6

4,0

Insisivus lateral

7

4,5

Kaninus

16

5,5

Molar pertama

12

8,0

Molar kedua

20

9,5

Gigi atas :

Gigi bawah :

Pada umur 6 tahun gigi- geligi permanen mulai erupsi, biasanya gigi molar
pertama atau insisivus atas. Seperti halnya pada gigi- geligi desidui, gigi- geligi

17

geligi desidui dan gigi.5 8.0 10.geligi permanen dalam waktu yang bersamaan.5 6.0 Premolar pertama 10.0 7.0 Premolar kedua 11.geligi bercampur.5 Insisivus sentral 6.5 6.distal yang bervariasi.0 7.0 7.5 7.2 Waktu erupsi dan lebar mesio. inilah yang dinamakan periode gigi.0 11.permanen memiliki waktu erupsi dan lebar mesio. Saat gigi permanen mulai erupsi maka di dalam lengkung rahang terdapat gigi.0 Premolar pertama 10.5 Insisivus lateral 8. Waktu erupsi (bulan) Lebar mesiodistal (mm) Insisivus sentral 7.0 9.5 5.5 Insisivus lateral 7.distal gigi.5 Molar pertama 6.0 6.0 Molar kedua 12.geligi permanen.5 8.5   Gigi atas : Gigi bawah : Dikutip dari : Wather’s orthodontic notes 18 .0 Molar kedua 12.5 Kaninus 11.0 Molar pertama 6.0 Premolar kedua 11.0 Kaninus 10.0 10.10 Tabel 2.

2.6. Penyebab tanggalnya gigi desidui diusia dini
Gigi desidui berperan penting dalam perkembangan rahang, erupsi gigi, maupun
pertumbuhan gigi permanen. Gigi anak yang lepas sebelum waktunya, misalnya
karena karies ataupun trauma dapat menyebabkan ruang yang tertinggal menjadi
menyempit, hal ini akan mengganggu erupsi gigi permanen dibawahnya. Tanggalnya
gigi desidui secara prematur dapat terjadi pada gigi anterior maupun pada gigi
posterior. Adapun penyebab terjadinya premature loss pada gigi desidui yaitu2,8 :
1. Garis luar fungsional tertentu dari gigi gagal dalam perkembangannya
2. Resorpsi dini dari akar gigi desidui
3. Oklusi yang tidak baik yang menyebabkan gigi goyang saat berkontak
4. Karies gigi yang besar, infeksi, maupun hal lainnya yang menyebabkan
bentuk fisiologis berubah
5. Terdapat kelainan herediter misalnya pada jaringan periodontal yang
menyebabkan gigi desidui tidak dapat bertahan pada soketnya
6. Gigi dengan kondisi abnormal karena keadaaan kurang bersih dan adanya
sulkus gingiva pada jaringan periodonsium.
7. Trauma yang terjadi karena benturan maupun terjatuh
8. Adanya penyakit atau kondisi pada rongga mulut yang menjadi penyebab
prematur ekstraksi harus dilakukan

2.7. Dampak tanggal dini gigi desidui
Gigi desidui pada daasarnya bersifat sementara namun tetap perlu dijaga
kesehatannya sehingga gigi permanen yang akan erupsi nantinya akan tumbuh
dengan baik. Jika gigi desidui tanggal terlalu cepat maka akan mempengaruhi gigi

19

permanen karena gigi permanen yang belum siap erupsi dirangsang untuk segera
tumbuh, hal tersebut bisa saja menyebabkan berbagai masalah misalnya gigi berjejal,
gigi yang keluar dari garis pertumbuhan, serta gangguan fungsi lainnya seperti
mastikasi dan artikulasi. Ada beberapa dampak yang ditimbulkan akibat hilangnya
gigi desidui secara prematur, beberapa dampak yang ditimbulkan yaitu8,11 :
1. Dampak terhadap gigi permanen
Dampak yang paling penting dari tanggalnya gigi- geligi desidui yang terlalu
dini adalah penutupan ruang pada lengkung rahang sehingga gigi penggantinya tidak
mempunyai tempat untuk bererupsi. Tanggalnya gigi desidui pada lengkung rahang
yang sempit akan menimbulkan susunan yang berjejal pada gigi penggantinya, oleh
karena itu perlu dipertimbangkan untuk melakukan pencabutan keseimbangan pada
regio berbeda atau pemasangan alat space maintainer.
2. Dampak terhadap fungsi dan kesehatan rongga mulut
Tanggalnya gigi desidui yang terlampau cepat bisa mempengaruhi fungsi
mastikasi karena dengan hilangnya gigi- geligi pada lengkung rahang maka tekanan
kunyah akan berkurang. Tanggalnya gigi anterior pada gigi desidui bisa
mempengaruhi fungsi bicara yaitu penyebutan huruf- huruf tertentu menjadi
terganggu, serta mengganggu fungsi estetik karena akan mempengaruhi penampilan
anak. Dampak lain yang ditimbulkan yaitu hilangnya daerah penimbunan makanan
dan sepsis oral, selain itu tanggalnya gigi desidui terutama gigi molar dapat
mengurangi insiden karies bagi gigi yang tersisa.

20

3. Efek psikologis terhadap anak dan orangtua
Tanggalnya gigi desidui terutama gigi anterior akan mengubah penampilan anak
sehingga menimbulkan efek psikologis yang tidak diinginkan yaitu anak- anak
menjadi kurang percaya diri dan merasa malu untuk bergaul dengan temantemannya karena giginya yang hilang. Tanggalnya gigi desidui yang terlampau cepat
juga memberikan dampak psikologis bagi orangtua karena dengan hilangnya gigi
diusia dini membuat orangtua merasa gagal dalam merawat dan mengawasi
kesehatan gigi anaknya, terutama bila orangtua sudah melakukan berbagai upaya
untuk mempertahankan gigi- geligi tersebut.
2.8. Pengukuran dimensi ruang
Pengukuran dimensi ruang diperlukan untuk memprediksi apakah gigi permanen
yang akan tumbuh mendapat tempat yang cukup pada lengkung rahang. Pengukuran
dimensi ruang merupakan metode untuk memprediksi keadaan gigi saat dewasa.
Tujuan dari pengukuran ini adalah untuk menentukan jumlah ruang yang tersedia
pada rahang untuk erupsi gigi permanen dan untuk kepentingan penyelarasan
oklusal. Terdapat tiga faktor yang perlu diperhatikan pada pengukuran dimensi ruang
yaitu ukuran seluruh gigi anterior permanen sampai gigi molar pertama permanen,
perimeter rahang, dan perkiraan perubahan perimeter rahang akibat pertumbuhan dan
perkembangan. Pengukuran dimensi ruang membantu dalam memprediksi terjadinya
gigi berjejal atau diastema yang akan terjadi saat gigi desidui digantikan oleh gigi
permanen. Pengukuran dimensi ruang yang dapat digunakan yaitu metode Moyers,
metode Nance, metode Huckaba, maupun metode pengukuran Johnson dan Tanaka.12

21

dan premolar dua berdasarkan jumlah lebar mesio distal gigi insisivus rahang bawah dengan presentase 75%. Nilai Lee way space yang normal menurut Dr.8. Lebar mesio distal dari setiap gigi. Moyers. Pengukuran ruang dapat dilakukan setelah erupsi gigi. Untuk menentukan cukupnya panjang lengkung maka jumlah dari ruang yang tersedia untuk erupsi gigi pengganti setelah gigi.geligi insisivus dua sampai mesial molar satu permanen diukur untuk mendapatkan available space. hasil dari pengukuran ini disebut lee way space.8. Metode Nance Analisa kasus gigi bercampur lainnya yang dapat digunakan yaitu menggunakan metode Nance. Metode Moyers Analisa moyers menggunakan gigi.geligi insisivus permanen rahang bawah dijumlahkan.geligi yang berdekatan).V Black.R.12 Pengukuran dimensi gigi dengan metode radiografi memerlukan kualitas gambar 22 .8 2.2.8 Setelah gigi.geligi dari segmen bukal insisivus rahang bawah.2.geligi insisivus tumbuh sempurna dilakukan pengukuran pada model studi.1 mm. Nance adalah orang pertama yang melakukan pengukuran besar gigi kaninus dan molar desidui serta besar gigi kaninus dan premolar yang belum erupsi secara radiografi.geligi insisivus diatur dalam lengkung rahang dengan baik (bila terdapat gigi. lalu digunakan daftar probabilitas pada tabel Moyers untuk memperkirakan berapa banyak ruang yang dibutuhkan untuk erupsi gigi kaninus. premolar satu.3 mm untuk rahang atas.geligi insisivus rahang bawah permanen. selanjutnya besar ruang dari distal gigi. kemudian hasil pengukuran ini dikurangi dengan hasil perkiraan besar ruang yang didapatkan dari tabel moyers.1. adalah 1. sedangkan untuk rahang bawah yaitu 3. Nance menemukan kesamaan antara besar gigi yang terlihat pada radiografi dengan standar besar mesiodistal gigi yang dikeluarkan oleh G.

Metode Huckaba Metode Huckaba pada analisa gigi bercampur menggunakan foto radiologi periapikal. m1. m1. Metode ini memerlukan gambaran radiografi yang jelas dan tidak mengalami distorsi. perbedaan ukuran jarak atau selisih gigi desidui dengan gigi permanen normalnya adalah 0.12 2. dan overlapping.3. Ketepatan metode pengukuran ini sangat bergantung pada teknik pengambilan gambar yaitu jarak target film. Menurut Nance. P1. P2 di Ro = 17 mm = 19 mm Maka gigi pengganti yang nantinya erupsi tidak akan mendapat tempat yang cukup akibatnya gigi menjadi berjejal. dan P2 serta untuk mengatasi gigi berjejal. Diperlukan radiografi foto secara vertikal agar tidak ada penyimpangan jarak kemudian dilakukan pengukuran jarak antara gigi c.8 Metode radiografi yang digunakan dalam analisis Huckaba tidak jauh beda dengan pengukuran pada metode Nance. dan m2 dengan gigi pengganti yang ada dalam foto radiografi.yang baik dan tidak kabur. seringkali sulit untuk menghindari distorsi terutama pada gigi yang panjang seperti kaninus sehingga pada akhirnya akan mengurangi tingkat akurasi. ada tidaknya distorsi pada film. m2 RA Jarak C. Selisih ukuran ruang ini disebut leeway space yang berguna untuk memberikan ruang untuk erupsi gigi C.7. kejelasan batas mahkota. Meskipun menggunakan film tunggal.12 Misalnya : Jarak gigi c. P1.9 – 1 mm untuk rahang atas dan 1.2 mm untuk rahang bawah. Distorsi gambaran radiografi pada umunya lebih sedikit terjadi pada foto periapikal dibandingkan dengan foto panoramik.8. dimana dalam prosedur perhitungan analisis 23 .

12 24 . Menurut mereka. Pada rahang bawah hasilnya ditambah 10.4.8. Metode ini juga sangat sederhana dan tidak memerlukan tabel maupun gambaran radiografi. Prosedur pengukurannya yaitu dengan memperkirakan lebar gigi kaninus yang belum erupsi dalam hubungannya dengan gigi premolar pada tabel 75% dari kemungkinan pada tabel moyers.5 mm sedangkan untuk rahang atas hasilnya ditambah 11 mm. 2.ruangnya tetap membutuhkan periapikal radiografi yang lengkap.12 Metode ini menganalisis lebar lengkung gigi dan merupakan suatu variasi dari analisa Moyers dimana tabel probabilitas masih tetap digunakan. kemudian diukur jumlah lebar insisivus permanen rahang bawah lalu dibagi dua. Metode Johnson dan Tanaka Tanaka dan Johnson mengembangkan cara lain dalam melakukan pengukuran ruang. metode ini mempunyai keakuratan yang cukup baik dengan tingkat kesalahan yang kecil. Prosedur analisis ruang pada metode Huckaba adalah sebagai berikut8 : x : x’ = y : y’ atau y’= Ukuran lebar gigi desidui dengan Ro foto x’= Ukuran lebar gigi permanen pengganti Ro foto y = Ukuran lebar gigi desidui dalam mulut atau pada model x = Ukuran ruang gigi permanen yang akan tumbuh. pengukuran dilakukan dengan menggunakan keempat gigi insisivus rahang bawah untuk memperkirakan ukuran kaninus dan premolar yang belum erupsi.

Indikasi dan kontra indikasi penggunaan space maintainer Space maintainer digunakan untuk mempertahankan ruang bekas pencabutan akan tetapi penggunaan space maintainer terkadang menimbulkan kerusakan pada jaringan lunak rongga mulut terutama pada penggunaan dalam jangka waktu yang lama. secara umum bisa dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu cekat dan lepasan.geligi premolar dan kaninus yang belum erupsi dan dikatakan berjejal apabila ada sedikit kekurangan ruangan ataupun terdapat kekurangan ruang yang banyak untuk tempat tumbuhnya gigi premolar dan kaninus yang belum erupsi.geligi dapat digolongkan dalam dua tipe yaitu tidak berjejal apabila tersedia ruangan yang berlebih atau cukup untuk tempat tumbuhnya gigi. Space maintainer Space maintainer adalah alat yang dipasang untuk mempertahankan ruang bekas gigi desidui yang mengalami premature lost atau premature extraction (pencabutan dini).Menurut Foster. 25 .3 2.9. Tipe lepasan dapat digunakan untuk periode relatif singkat yaitu kurang lebih satu tahun sedangkan untuk tipe cekat didesain dengan bagus dan tidak mengganggu jaringan rongga mulut agar dapat dipakai dalam jangka waktu yang lama yaitu kurang lebih dua tahun. gigi.8 2. Pemasangan alat ini bertujuan agar tidak terjadi penyempitan ruang akibat bergesernya gigi tetangga dan juga ekstrusi/ elongasi dari gigi antagonisnya.1.3 Ada berbagai macam tipe space maintainer yang sering digunakan.12 Indikasi dan kontra indikasi pada pemakaian space maintainer harus diperhatikan dengan baik agar perawatan dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan tanpa menimbulkan efek negatif pada jaringan sekitar.9.

Jika terjadi pergerakan kearah distal setelah tanggalnya gigi desidui secara unilateral maka pada waktu bersamaan garis vertikal rahang atas dan garis tengah rahang bawah hilang sehingga terjadi perubahan garis median. Adapun beberapa indikasi dari penggunaan alat space maintainer yaitu12.15 : 1. Gigi posterior atau anterior yang tanggal dini Tanggalnya gigi kaninus dan gigi molar desidui dapat mengakibatkan pergerakan gigi ke mesial atau distal dari gigi di sebelahnya ke ruang yang ditinggalkan akibat tanggalnya gigi tersebut. 3. 4. Hubungan antara rahang atas dan rahang bawah tidak dipengaruhi oleh hilangnya gigi. 2. Penyempitan ruang dapat terjadi selama enam bulan pertama setelah hilangnya gigi desidui dimana gigi permanen belum erupsi. sedangkan pergeseran gigi kaninus hampir tidak ada. Apabila saat dilakukan pengukuran dimensi ruang ditemukan tanda.tanda penyempitan ruang dan ruang tersebut harus dipertahankan. 5. Kebersihan mulut atau oral hygiene baik.14. 26 . misalnya jika gigi yang tanggal sebelum waktunya adalah gigi insisivus desidui maka pemasangan space maintainer tidak perlu karena pertumbuhan daerah ini ke arah transversal sangat laju. Adanya pergerakan gigi molar pertama permanen ke mesial memperkecil ruang yang diperlukan untuk erupsi premolar.Ada beberapa keadaan dimana penggunaan space maintainer tidak dapat diaplikasikan pada anak. Panjang lengkung rahang tidak mengalami pemendekan. begitu juga dengan pergeseran insisivus permanen ke distal dapat memperkecil ruang kaninus.

Kekurangan ruang yang banyak sehingga memerlukan tindakan pencabutan dan perawatan ortodontik. Kontra indikasi dari penggunaan space maintainer yaitu8. 5.9. 2. 4. juga dapat ditemukan beberapa kerugian saat perawatan diantaranya yaitu ditemukannya 27 . Pada anak yang usianya masih sangat muda sehingga sulit untuk bekerjasama dalam melakukan perawatan dengan dokter gigi. 3. Kekurangan ruang untuk erupsi gigi permanen.2. Keuntungan dan kerugian penggunaan space maintainer Alat space maintainer merupakan alat orthodonsi yang bersifat pasif dan digunakan untuk mempertahankan ruang bekas gigi desidui yang hilang terlalu awal sampai dengan saat erupsi gigi penggantinya. Penggunaan alat space maintainer selain mempunyai keuntungan terhadap perawatan yang dilakukan juga mempunyai kerugian jika digunakan tidak sesuai prosedur. Jika ada kebiasaan buruk dari anak seperti menempelkan lidah di area gigi yang hilang atau sering menghisap bibir maka dengan pemasangan space maintainer sambil mempertahankan ruang yang ada juga dapat menghilangkan kebiasaan buruk tersebut.16 : 1. Terdapat ruang yang berlebihan untuk erupsi gigi permanen. 2.3 Keuntungan mendasar yang didapatkan saat penggunaan space maintainer yaitu alat ini mampu mempertahankan proksimal dimensi yang diperlukan dan bekerja menahan desakan dari bagian mesial maupun distal gigi tetangga agar ruang yang ada dapat dipertahankan ukurannya.6. Diantara berbagai keuntungan yang ada. Gigi permanen penggantinya tidak ada (agenesis).

8 : 1. Mencegah gigi permanen yang berjejal akibat penyempitan ruang pada gigi yang akan erupsi 4. karies. Beberapa jenis space maintainer terutama yang tipe cekat membutuhkan waktu kontrol yang lebih lama 5.kelainan jaringan periodonsium. Pada beberapa jenis space maintainer harus dilakukan preparasi pada gigi penyangga sehingga mengakibatkan bentuk anatomis normal gigi berubah 4. maupun iritasi pada jaringan disekitar karena desain dari alat space maintainer yang rumit misalnya pada tipe cekat. Meningkatkan kesehatan gigi dan mulut pada anak Adapun kerugian yang ditemukan saat menggunakan space maintainer yaitu12. fungsi artikulasi/ fonetik. Menyebabkan retensi plak sehingga terjadi daerah demineralisasi. karies. Mencegah ekstrusi gigi antagonis dari gigi yang mengalami premature loss 3. dan kelainan jaringan periodonsium pada area gigi penyangga 3. Mengembalikan fungsi estetik. Kadang mengakibatkan tipping atau rotasi pada gigi penyangga 2.15 : 1.8 Adapun beberapa keuntungan penggunaan space maintainer yaitu1. serta fungsi pengunyahan yang normal 5. Mencegah hilangnya ruang pada lengkung rahang sehingga gigi dapat erupsi dengan baik dan menempati posisinya pada lengkung rahang 2.13. Menambah kepercayaan diri anak 6. Beberapa komponen alat space maintainer bisa bersifat sitotoksik karena terbuat dari logam yang disolder 6. Pada beberapa kasus ditemukan gangguan fungsi bicara dan pengunyahan 28 .

syarat space maintainer Ada berbagai syarat yang harus terpenuhi dalam pembuatan maupun pemasangan space maintainer. Oleh karena itu. 29 . Plat yang tebal dan besar akan menyita ruang gerak lidah sehingga fungsi bicara maupun mastikasi terganggu. Hal ini disebabkan karena jaringan disekitar alat menjadi mudah melakukan penyesuaian. Jenis space maintainer lepasan bilateral apabila digunakan dalam waktu yang lama tanpa kontrol yang ketat dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan rahang ke arah lateral 2. berarti alat ini harus mampu menahan desakan pada bagian distal maupun mesial agar ukuran ruang dapat dipertahankan. Alat space maintainer yang dibuat harus sederhana dan nyaman dipakai sehingga tidak mengganggu jaringan sekitar dan tidak membuat rongga mulut terasa sesak.12 : 1.benar baik agar alat tidak terlepas saat dipakai. Alat space maintainer harus mampu mempertahankan proksimal dimensi yang diperlukan. Pada jenis space maintainer lepasan. Dalam pembuatan space maintainer. ada beberapa syarat yang harus terpenuhi dalam pembuatan space maintainer diantaranya yaitu16.12 Semakin sederhana alat space maintainer maka makin disukai oleh penggunanya. selain itu juga sangat mudah dilakukan tindakan pemeliharaan.geligi misalnya pada jenis space maintainer lepasan 8. retensi harus benar. Ada beberapa jenis space maintainer yang dapat mengganggu estetik dari gigi. Alat yang kecil ada kemungkinan bisa tertelan dan dapat membahayakan pasien.7.9. kebanyakan alat hilang maupun berubah bentuk karena tidak dijaga dengan baik 9.3. Syarat.

9. dan fungsi pergerakan sendi temporomandibular joint.jenis space maintainer Ada berbagai macam tipe space maintainer yang sering digunakan. Tidak memberi tekanan abnormal pada gigi penyangga sehingga jaringan periodonsium tetap sehat begitu juga dengan keadaan tulang alveolarnya. 5.2. Didesain sederhana. 3. space maintainer lepasan tanpa band. plat yang tertanam tidak boleh berada tepat diatas mahkota gigi yang akan erupsi agar erupsinya tidak terhalang. 7. Dapat dilakukan penyesuaian atau sedikit perbaikan bila diperlukan.cekat. Tidak mempengaruhi fungsi bicara. dan mudah dibersihkan. space maintainer lepasan dengan band atau semi. Tidak boleh mengganggu erupsi gigi permanen misalnya pada pembuatan distal shoe. space maintainer fungsional. 4.4. space maintainer cekat tanpa band dengan etsa asam. space maintainer dengan band atau tanpa band. 2. dan yang terakhir space maintainer non fungsional. 8. Alat ini tidak boleh mengganggu erupsi gigi antagonisnya sehingga tidak boleh mengalami prematur kontak dengan gigi antagonis. Sedangkan jenis space maintainer lainnya yang dikemukakan oleh Finn dapat dikelompokkan menjadi 5 jenis yaitu space maintainer lepasan (removable). ekonomis. pengunyahan. 30 . secara umum Foster membaginya menjadi dua kelompok yaitu space maintainer cekat dan lepasan. Jenis. cekat (fixed) dan semi cekat (semi-fixed). Tidak boleh ada komponen alat yang tajam yang bisa mengakibatkan iritasi jaringan lunak disekitar alat. Selain itu ada klasifikasi menurut Snawder yaitu space maintainer cekat dengan band. 6.

dan yang terakhir space maintainer jenis kombinasi. hal ini mengakibatkan banyaknya terjadi kelainan baik pada gigi penyangga seperti karies. biasanya hanya sampai 1 tahun.4. lingual arch. Berbeda dengan jenis space maintainer cekat.8 Pembagian jenis space maintainer yang paling umum saat ini adalah berdasarkan tipe cekat dan lepasan. jika didesain dengan baik alat ini dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama tanpa merusak jaringan rongga mulut.12 2.space maintainer fungsional dan non fungsional. Space maintainer cekat Alat space maintainer cekat memiliki banyak kelebihan dalam hasil perawatan dibandingkan dengan space maintainer lepasan namun dalam proses pembuatannya sangat rumit dan menggunakan banyak komponen alat. space maintainer aktif dan pasif. Beberapa tipe yang umum dijumpai pada jenis space maintainer ini yaitu space maintainer band and loop. dan space maintainer palatal arch/ nance appliance. distal shoe.1. biasanya space maintainer jenis ini digunakan sampai 2 tahun.12 31 . Space maintainer lepasan bisa digunakan untuk periode yang relatif singkat. space maitainer crown and loop. pada jaringan periodonsium seperti gingivitis maupun periodontitis.9. Banyak pasien pengguna space maintainer yang mengeluhkan seringnya makanan tersangkut serta kesulitan dalam membersihkan area disekitar alat. Space maintainer tipe ini tidak dapat diubah posisinya dan juga tidak dapat dilepas apabila ingin dibersihkan.1 Space maintainer tipe cekat merupakan space maintainer yang didesain untuk mempertahankan ruang dan terpasang secara cekat di dalam mulut. dan pada jaringan lunak di sekitar alat seperti stomatitis kontak.

Sarver DM.3. Cobakan band pada 32 . Contemporary orthodontics 5 ed.13 Band and loop lebih disukai karena proses pembuatannya lebih mudah. 2013) Adapun prosedur pembuatan space maintainer band and loop yaitu1. Space maintainer band and loop (Sumber: Proffit WR.17 : 1. Band and loop space maintainer Band and loop dirancang untuk mempertahankan ruang dari tanggalnya satu gigi dalam satu kuadran. selain itu mudah diatur untuk disesuaikan dengan perubahan gigi dan proses pembuatannya lebih ekonomis. Canada: Elsever . membutuhkan waktu kerja yang singkat. Pilih stainless steel band untuk dipasang pada gigi sebelah distal pada ruangan baik molar kedua desidui maupun molar satu permanen.1.12 Gambar 2. Alat ini digunakan pada kasus tanggalnya gigi molar satu desidui dan molar dua desidui secara dini untuk mencegah migrasi ke mesial yang berhubungan dengan erupsi gigi molar satu permanen. selain itu alat ini juga digunakan pada kasus tanggalnya gigi kaninus desidui secara dini untuk mencegah pergerakan gigi insisivus lateral permanen. Fields HW. tidak perlu dilakukan anastesi terlebih dahulu untuk pemasangan band karena tidak ada preparasi yang dilakukan pada gigi.

band harus kencang untuk retensi alat supaya kokoh. Jika alat kendor maka dapat terjadi demineralisasi email dibawah band.gigi. 2. Alirkan gips yang telah dipanaskan sampai suhu 130˚C di bawah tekanan uap kemudian letakkan ke dalam cetakan dengan hati. Penghalusan dilakukan pada model kerja untuk mencegah rusaknya alat. Solder atau sambung loop pada band 6. Cobakan alat tersebut dalam mulut pasien dan diperiksa apakah alat tersebut sudah sesuai. Haluskan hasil solder dengan stone dan rubber wheel. Bentuk sebuah loop dengan kawat 0. Bersihkan dan keringkan gigi lalu isolasi dengan cotton roll dan saliva ejector. juga kasus dimana gigi abutment pernah mendapatkan perawatan endodontik dan mahkota gigi perlu dilindungi secara menyeluruh. Dengan band pada gigi.12 33 .9 mm atau 1. ambil cetakan alginate dari cetakan lengkung gigi kemudian keluarkan band dari gigi dengan menggunakan tang pencabut band selanjutnya tempatkan dengan akurat dalam cetakan sticky wax. 3. Crown and loop space maintainer Jenis space maintainer crown and loop biasa digunakan pada kasus gigi abutment bagian posterior mengalami karies yang luas dan memerlukan restorasi mahkota. 4.0 mm. 7. loop harus cukup lebar supaya premolar dapat erupsi dan tidak boleh menekan gingival. 5. 8. Berikan campuran semen polikarboksilat pada bagian dalam band lalu dudukkan dengan tekanan jari menggunakan band setter. Setelah itu buang semua kelebihan semen bila telah mengeras.hati untuk menghindari melesetnya band. 2.

edu/peddent/AtlasDemo/images/537s015. sebelum pemasangan alat terlebih dahulu dilakukan preparasi pada gigi. 2. setelah alat tersebut jadi baru kemudian ditempatkan dalam mulut pasien.14 Gambar 2.14 : a.4.washington.Untuk membuat suatu space maintainer jenis crown and loop dapat digunakan metode direk maupun indirek. Space maintainer crown and loop (Sumber: https://depts.jpg diakses pada tanggal 15 Mei 2015) Adapun prosedur pembuatan space maintainer crown and loop yaitu2. Angkat mahkota dari gigi lalu potong loop kawat di kedua tanda tersebut dan disatukan tiap ujung kawat sehingga berada pada hubungan yang sama seperti yang terdapat dalam mulut. Setelah mahkota dibuat dan dipasang pada gigi yang telah dipreparasi dalam mulut lalu bengkokkan loop kawat 0.36 mm. Tandai kawat dengan pensil putih pada bagian mesial bucal groove dan lingual groove di mahkota stainless steel. 34 . Dalam metode indirek pembuatan space maintainer harus dilakukan di laboratorium dengan menggunakan cetakan gips dari rahang yang akan digunakan. 3. Dengan metode direk alat dipasang secara langsung dalam mulut pasien tanpa menggunakan cetakan model gips. Pembuatan secara direk/ langsung 1.

Cor model dengan gips ortodontik 3.12 35 . 6. 5. Angkat alat dan satukan sekali lagi. 7. Gosok alat dalam air panas untuk menghilangkan flux yang larut dalam air lalu bersihkan bagian dalam mahkota dengan stone hijau sampai tidak ada residu yang tertinggal. b. Cetak rahang anak dengan alginat 2.036 mm lalu pasang setelah itu satukan dan solder seperti pada metode direk. 3. Alat ini dibuat dengan metode indirek pada sebagian besar kasus. 8. Pasang mahkota stainless pada gigi 4. Fungsi dari distal shoe adalah menuntun erupsi dari molar satu permanen ke posisinya yang normal dalam lengkung rahang. Distal shoe bersifat sementara dan harus diganti dengan space maintainer tipe lepasan mengikuti erupsi gigi molar permanen. Distal shoe space maintainer Distal shoe adalah pilihan space maintainer dimana molar dua desidui hilang sebelum erupsi molar satu permanen. mesial ke daerah buccal dilas untuk menahan loop kawat tetap berada pada posisinya.4. Alat tersebut kemudian dipolis. Bentuk loop kawat ukuran 0. Pembuatan secara indirek/ tidak langsung 1. Cobakan kembali alat dalam mulut anak dan periksa kedudukannya serta hubungan oklusi gingivalnya. Solder loop kawat ke mahkota lalu gunakan solder bar dan ujung karbon pada bagian yang disatukan.

Sarver DM. Canada : Elsever .12 Gambar 2.Komponen alat distal shoe adalah guide plane metal. Agar efektif guide plane harus meluas ke dalam processus alveolar sehingga berkontak dengan molar satu permanen kurang lebih 1 mm di bawah marginal ridge mesial. Pengukuran pada hasil radiografi daerah molar dengan pengukuran gaunge dapat memberikan informasi yang diperlukan untuk menetapkan panjang lempengan metal yang akan meluas ke distal (shoe).5.16 : 1. Ketika mahkota terpasang pada model gips. 4. 2013) Adapun prosedur yang dilakukan dalam pembuatan distal shoe yaitu8. Distal shoe space maintainer (Sumber: Proffit WR. 36 . Dari cetakan alginat pada lengkung rahang anak didapatkan hasil cetakan gips ortodontik. Gigi molar satu desidui yang berdampingan dengan molar dua desidui yang hilang dikecilkan dengan hati. partikel gips pada bagian dalam dibersihkan dengan cotton bud yang basah.hati dengan tapered fissure bur sehingga dapat dipasangkan suatu mahkota stainless stell. Fields HW. 2. 3. yaitu sejenis plat yang berfungsi menuntun molar permanen agar erupsi pada posisinya. Contemporary orthodontics 5 ed.

kemudian alat dipolis dan disterilkan lalu siap untuk dipasang dalam mulut pasien. pertama. panjang yang tepat dipilih dan daerah ridge pada gips digergaji atau diukir sehingga proyeksi gingival pada shoe dapat dipasang. 7. Jika shoe telah dibengkokkan. Flux adalah bahan yang digunakan untuk mencegah oksidasi dan memudahkan mengalirnya bahan solder. 37 . 8.tama dilakukan anastesi pada regio molar pasien. Setelah erupsi dari molar satu. Untuk memasang alat ini. 6. Mahkota dipasang pada tempatnya dengan shoe dipasang ke dalam jaringan di bawah permukaan ridge untuk membiarkan shoe berkontak dengan permukaan molar satu yang belum erupsi. 9. Alat ini disemen pada tempatnya dengan semen hard eugenol-based atau duralon. Alat yang telah disolder digosok dengan sikat gigi yang keras lalu dimasukkan ke dalam air panas untuk menghilangkan flux solder. Foto radiografi dilakukan pada daerah molar untuk mengetahui apakah space maintainer distal shoe berada pada posisi yang benar. 10. 11. space maintainer dilepas dan kemudian diganti dengan space maintainer jenis crown and loop atau band and loop. ujung mesial dari shoe terlebih dahulu disatukan dengan permukaan distal mahkota dan kemudian disolder dengan wire silver ukuran 25 lalu lilitkan dua kali disekitar penggunaan tadi. molar satu desidui dipersiapkan untuk mahkota dan suatu insisi dengan curved bard-parker blade dibuat pada ridge dititik distal ke margin molar satu desidui yang sesuai dengan pengukuran yang dilakukan pada hasil radiografi. Flux yang banyak harus diberikan sebelum disolder dengan menggunakan metode solder flame (nyala api) atau eletrik. Ketika pemasangan yang tepat telah dipastikan.5.

Suatu kawat baja berukuran 0. Alat ini digunakan sebagai space maintainer bilateral cekat pada rahang bawah dan bersifat pasif karena tidak dapat diatur begitu perangkat ini disemen pada gigi molar. 2001) Adapun prosedur pembuatan lingual arch space maintainer yaitu2.2 Gambar 2.12 Lingual arch terbuat dari kawat yang memanjang disekitar daerah lingual dari rahang. alat ini didesain sedemikian rupa agar kedua gigi molar tidak dapat bergeser ke arah mesial dan menutupi daerah tempat erupsi gigi premolar permanen.0. Band yang telah dicobakan pada mulut anak dikeluarkan dan ditempatkan pada model studi 3. Buat model studi rahang bawah 2.6.4.040 inchi dibentuk pada lengkungan dan meluas ke depan untuk membuat kontak dengan daerah cingulum insisivus.12 : 1. Lingual Arch Lingual arch merupakan space maintainer pilihan setelah kehilangan gigi multipel pada lengkung rahang bawah terutama jika insisivus permanen rahang bawah terlihat crowded. Lingual arch space maintainer (Sumber: Mitchell L. UK : Oxford university press .036. An introduction to orthodontic 2nd ed. 38 . kawat itu terhubung dengan kedua sisi pada gigi molar.

UK : Oxford press. kawat lingual dapat mengikuti bentuk palatum dengan diameter kawat berukuran 0. 2001) 39 .025 inchi. Palatal arch (nance aplliance) Alat ini digunakan ketika satu atau lebih molar tanggal secara dini pada rahang atas.masing band.7.4. An introduction to orthodontic 2nd ed. 5. Pada beberapa desain. 5. tipe ini biasa dinamakan transpalatal arch. Palatal arch space maintainer (Sumber: Mitchell L. Kawat ini pada bagian anterior dibatasi oleh akrilik sedangkan pada bagian posterior terhubung pada masing. pasien harus diperiksa secara periodik untuk memastikan bahwa kawat lingual tidak mengganggu erupsi dari gigi kaninus dan premolar serta tidak mengganggu area disekitar palatum.18 Pada pemakaian space maintainer jenis ini. Alat ini didesain seperti pada lingual arch kecuali pada beberapa desain di bagian anteriornya tidak menyentuh permukaan lingual pada gigi anterior atas melainkan menyebrang pada bagian palatal dan kawat tersebut langsung menghubungkan molar band di kedua regio.2 Gambar 2. Setelah alat terpasang tepat pada model studi maka selanjutnya alat diinsersikan ke dalam mulut pasien. Kawat diperluas ke posterior sepanjang 1/3 tengah dari permukaan lingual dari band molar baru kemudian alat disolder dengan baik.

Space maintainer jenis gigitiruan sebagian akrilik sering digunakan karena desainnya tidak rumit serta lebih ekonomis.2.4. Gigitiruan sebagian akrilik Alat ini dapat digunakan pada rahang atas maupun rahang bawah dimana telah kehilangan gigi bilateral lebih dari satu.satunya pilihan apabila tidak ada gigi penyangga yang sesuai dengan alat cekat. Space maintainer jenis ini memiliki konstruksi yang sederhana. Alat ini sering menjadi satu. Alat ini terbuat dari plat akrilik dan pada beberapa desain dapat ditambahkan gigi artificial untuk mengembalikan fungsi estetik maupun pengunyahan. Pembersihan gigitiruan sebagian akrilik dengan tepat sangat penting dilakukan untuk mengurangi kemungkinan berkembangnya lesi karies yang baru serta akumulasi plak yang bisa menyebabkan gingivitis.1 1. pergerakan fungsional yang baik.6 Berbagai tipe alat space maintainer lepasan tidak boleh dianjurkan untuk pasien anak yang mempunyai masalah karies dan kebersihan mulut yang buruk. selain itu alat ini juga sangat mudah untuk dibersihkan. Masalah yang sering timbul dari pemakaian ini adalah malasnya anak memakai alat sehingga fungsi space maintainer tidak tercapai secara optimal. Space maintainer lepasan Space maintainer lepasan digunakan apabila dalam satu kuadran gigi yang hilang lebih dari satu.9.6 40 . dan biaya pembuatan yang relatif murah.2. alat ini juga digunakan pada kasus tanggalnya gigi molar dua desidui sebelum erupsi gigi molar satu permanen.12 Space maintainer lepasan dapat digunakan pada rahang atas maupun rahang bawah.

Space maintainer lepasan dengan gigitiruan penuh (Sumber: http://www.12 Gambar 2.12 Pembuatan gigitiruan penuh diharapkan dapat menggantikan fungsi dari gigi desidui yang hilang.9.dentaltrendsdombivli.contempclindent. Gigitiruan harus memiliki retensi dan stabilisasi yang baik. Gigitiruan penuh Alat ini sering digunakan pada anak yang mengalami infeksi rongga mulut yang hebat sehingga harus mencabut semua giginya.com/wp-content/uploads/removableprosthodontics2. Konstruksi gigitiruan penuh akan menyebabkan penampilan yang bertambah baik dan efektif serta dapat menuntun molar satu permanen ke posisi erupsi yang tepat.org/articles/2011/2/3/images/ContempClinDent diakses pada tanggal 15 Mei 2015) 41 .Gambar 2.jpg diakses pada tanggal 15 Mei 2015) 2. Space maintainer lepasan dengan gigitiruan sebagian (Sumber: http://www. Retensi yang dimaksud yaitu ketahanan gigitiruan terhadap daya lepas saat gigitiruan diam sedangkan stabilisasi berkaitan dengan daya lepas saat alat berfungsi.8.

Jika terdapat food debris disekitar alat dalam jangka waktu yang lama maka akan terbentuk tanda garis putih (garis dekalsifikasi) yang melekat secara langsung pada permukaan email dan tidak akan hilang sampai alat lepas.9. Aplikasikan topikal florida untuk mencegah karies dan dekalsifikasi gigi 2.perawatan yang dapat dilakukan yaitu6. Gunakan sikat gigi yang lunak untuk menghilangkan sisa. Oleh karena itu untuk menghindari hal. 42 . serta rasa sakit. Pemeriksaan foto radiografi dibutuhkan untuk melihat reaksi jaringan pada pemasangan alat 4. Jika iritasi ini dibiarkan terusmenerus maka akan terjadi reaksi fibrous gingival yang permanen.alat ortodontik seperti space maintainer merupakan benda asing dalam rongga mulut anak. Lakukan pengangkatan debris dan pembersihan poket 6. Perawatan gigi anak selama penggunaan space maintainer Alat.hal tersebut maka dibutuhkan beberapa perawatan. adapun perawatan.sisa makanan serta berkumur dengan larutan chlorhexidine untuk menghindari dental plak 7. Lakukan kontrol rutin ke dokter gigi minimal tiap empat bulan sekali. Penyemenan ulang band molar dengan interval 6 bulan 3. Alat ini menempel pada jaringan dan membentuk lapisan keratinisasi dan pada berbagai kasus sering timbul iritasi dan menghasilkan inflamasi. kemerahan. Lakukan kontrol plak secara rutin dan skeling dengan hati-hati di area sekitar gigi maupun di sekitar alat space maintainer yang terdapat plak serta kalkulus 5.20 : 1.10. pembengkakan.20 Karies sering terjadi pada pemasangan space maintainer terutama pada bagian interproksimal gigi.2.

Gingiva Gingiva merupakan bagian dari jaringan periodontal yang paling luar.10. Sementum melapisi seluruh akar gigi dan ligamentum periodontal menghubungkan gigi ke tulang alveolar. dkk.11.10 Struktur jaringan periodonsium terdiri atas sementum akar. yaitu struktur yang menghubungkan gingiva dan ligamentum periodontal dengan gigi. Jaringan periodonsium (Sumber: Klaus H. 2005) 2.11. sedangkan tulang alveolar adalah bagian dari maksila dan mandibula yang membentuk dan menyokong soket gigi. Color atlas of periodontology. gingiva sering digunakan sebagai indikator jika jaringan periodontal mengalami suatu 43 . dan tulang alveolar yang membentuk suatu unit fungsional atau organ. Adapun struktur yang menyokong gigi dikenal sebagai periodontal attachment apparatus. dan tulang alveolar. Serat ligamentum periodontal terhubung dengan sementum sedalam 50-200 mikron meter. Jaringan Periodonsium Jaringan periodonsium adalah sistem jaringan fungsional yang mengelilingi gigi dan menghubungkannya dengan tulang rahang. New York : Thieme Inc . sementum. Jaringan ini meliputi gingiva.5 Gambar 2. ligamentum periodontal.1. ligamentum periodontal.2.

Gingiva di antara permukaan oral dan vestibular berhubungan satu sama lain melalui gingiva yang berada di interdental.kadang gingiva juga dapat menggambarkan keadaan tulang alveolar yang berada di bawahnya.12 Gingiva mengelilingi gigi dan meluas sampai ke ruang interdental. Pertautan mukogingival ini merupakan batas antara gingiva dan mukosa mulut lainnya.21 Gingiva merupakan bagian dari membran mukosa mulut yang melekat pada tulang alveolar serta menutupi dan mengelilingi leher gigi. Secara anatomis gingiva dibagi menjadi dua bagian yaitu gingiva cekat (attached gingiva) dan gingiva tidak cekat (unattached gingiva) yang terdiri atas gingiva bebas (free gingiva) dan marginal gingiva. Pada permukaan oral maksila tidak dijumpai pertautan mukogingival sama sekali karena gingiva berbatasan dengan membran mukosa mulut yang menutupi palatum durum yang tipenya sama dengan gingiva.kelainan. Adapun pembagian dari gingiva yaitu5. bagian gingiva yang berada di ruang interdental dipisahkan secara klinis sebagai suatu bagian khusus dari gingiva. Hal ini dapat dijumpai pada permukaan vestibular mandibula maupun maksila serta permukaan oral mandibula.23 : 44 . Pada permukaan rongga mulut.5 Untuk kepentingan klinis yang khusus. gingiva meluas dari puncak marginal gingiva sampai ke pertautan mukogingival. Mukosa mulut dapat dibedakan dengan mudah dari gingiva karena warnanya merah gelap dan permukaannya licin atau halus mengkilat. hal ini disebabkan karena kebanyakan penyakit periodontal dimulai dari gingiva.22. Hal ini disebabkan karena bagian gingiva tersebut digunakan sebagai indikator yang paling akurat untuk mengetahui terjadinya penyakit gingiva sedini mungkin. Kadang.

Dinding lateral dari margin gingiva merupakan dinding dari sulkus gingiva. Batas antara marginal gingiva dengan gingiva cekat merupakan suatu lekukan dangkal yang dinamakan free gingival groove. Unattached gingiva dimulai dari arah mahkota sampai pertautan sementoemail.hati.1. dan membuat lekukan seperti kulit kerang. Dalam arah mesio-distal margin gingiva menggambarkan suatu bentuk lengkungan dan melengkung ke arah apikal (scalloped). Free gingival groove ini berjalan sejajar dengan margin gingiva dan dalam keadaan normal free gingival groove ini dapat dipakai sebagai petunjuk dasar sulkus gingiva. Gingiva cekat ini melekat erat ke sementum mulai dari sepertiga bagian akar ke periosteum tulang alveolar. Unattached gingiva (free gingiva atau marginal gingiva) Unattached gingiva atau yang dikenal sebagai marginal gingiva merupakan bagian gingiva yang tidak melekat erat pada gigi.bintik atau lekukan kecil seperti lesung pipi yang disebut stipling. Pada marginal gingiva terdapat sulkus gingiva yang merupakan ruang atau celah yang dibatasi oleh gigi dan gingiva bebas. Probe dapat dimasukkan ke dalam sulkus gingiva dengan jalan meregangkan gingiva secara hati. Marginal gingiva bentuknya agak condong ke arah gigi dan ujung tepinya tipis serta membulat.8 mm. 2. kedalamannya berkisar antara 0-6 mm dengan rata.rata 1. Pada bagian permukaan gingiva cekat terdapat bintik. Stipling ini mengakibatkan permukaan 45 . mengelilingi daerah leher gigi. celah ini ke arah mesial dibatasi oleh permukaan gigi dan ke arah lateral dibatasi oleh epitelium marginal gingiva sebelah dalam. Gingiva cekat Gingiva cekat merupakan lanjutan marginal gingiva yang meluas dari free gingival groove sampai ke pertautan mukogingival.

Col merupakan lembah yang menurun dalam bagian gingiva interdental dan letaknya langsung dari arah akar ke titik kontak. 3.3. Selain itu juga berfungsi melindungi lepasnya gingiva bebas pada saat ada tekanan yang menuju ke mukosa alveolar. Gingiva cekat paling sempit dijumpai pada regio premolar satu rahang bawah yaitu berkisar 1. Col tidak dijumpai jika tidak ada 46 . sedangkan lebar di daerah palatal tidak mungkin diukur karena sulit membedakan antara batas akhir gingiva cekat dan permulaan dari mukosa bagian palatal.9 mm dan pada rahang atas berkisar 3.54. Lebar gingiva cekat pada rahang bawah berkisar antara 3. Fungsi dari gingiva cekat adalah menahan jika ada tekanan mekanik yang terjadi selama pengunyahan. juga antara satu gigi dengan gigi yang lain di dalam mulut yang sama. bicara. Keadaan ini sering dihubungkan dengan perlekatan otot maupun frenulum yang ada pada daerah tersebut.3. dan sikat gigi. Umumnya gingiva cekat yang paling lebar dijumpai pada regio anterior dan semakin menyempit ke arah regio posterior. Lebar gingiva cekat bervariasi dari satu individu ke individu yang lain. Bagian samping menunjukkan batas yang dibentuk oleh gingiva bebas dari dua gigi yang berdekatan dan bagian tengah dari papila interdental dibentuk oleh gingiva cekat.8 mm dan pada rahang atas berkisar 1. Gingiva interdental terdiri atas bagian lingual dan bagian fasial.serat kolagen pada jaringan gingiva cekat ke sementum atau tulang.9 mm. Stipling disebabkan oleh adanya tarikan serat.gingiva cekat terlihat seperti kulit jeruk.5 mm. Papila interdental Papila interdental atau gingiva interdental merupakan bagian gingiva yang mengisi ruangan interdental yaitu ruangan diantara dua gigi yang letaknya berdekatan dari daerah akar sampai titik kontak.

sementum juga berperan dalam mengikat gigi ke tulang alveolar yaitu dengan adanya serat utama ligamentum periodontal yang tertanam di dalam sementum (serat sharpey). Sementum ini tipis pada daerah dekat perbatasannya dengan email dan makin menebal ke arah apeks gigi. sementum seluler kurang terkalsifikasi dan hanya mengandung sedikit serat sharpey. menutup kurang lebih sepertiga servikal atau hingga setengah panjang akar. Dibandingkan dengan sementum aseluler.dua gigi yang berdekatan atau tidak ada titik kontak maupun gingiva yang menyusut. 2. Sementum dibentuk sebelum gigi. Serat sharpey merupakan struktur utama dimana perannya adalah mendukung gigi. ketebalannya berkisar 30.2. Gingiva interdental berfungsi mencegah terjadinya penumpukan makanan di antara dua gigi selama pengunyahan. Kandungan zat anorganik dalam sementum adalah sekitar 40-50%.5 Sementum seluler terbentuk setelah gigi mencapai bidang oklusal. Sementum 47 . Sementum Sementum adalah struktur terkalsifikasi yang menutupi akar anatomis gigi dan terdiri atas matriks terkalsifikasi yang mengandung serabut kolagen.lakuna) yang berhubungan satu sama lain melalui anastomosis kanalikuli.geligi mencapai bidang oklusal. Selain melapisi akar gigi. Berdasarkan morfologinya.sel.230µm. bentuknya kurang teratur (ireguler) dan mengandung sel. sementum dibagi menjadi dua tipe yaitu sementum aseluler (sementum primer) dan sementum seluler (sementum sekunder).sel sementosit pada rongga yang terpisah.11.5 Sementum seluler adalah sementum yang pertama kali terbentuk. dan tidak mengandung sel.pisah (lakuna.

11. seperti membran periodontal.menerus 3. Ligamentum periodontal Ligamentum periodontal merupakan jaringan pengikat yang mengisi ruang antara permukaan gigi dengan dinding soket. Jaringan ini disebut membran walaupun sebenarnya jaringan ini tidak sama dengan membran fibrous seperti fascia dan kapsul organ periosteum. perisementum.3.5 Banyak sekali istilah yang diberikan pada jaringan ini. dental periosteum.menerus 2. Menahan gigi pada soket tulang dengan perantara serabut prinsipal ligamen periodonsium 2. Istilah periodontal berasal dari bahasa Yunani yaitu peri yang artinya sekeliling dan oudous yang berarti gigi. dan alveole dental membrane.aseluler maupun seluler tersusun membentuk lamela. Kebanyakan penyakit yang mengenai ligamentum periodontal jika tidak dilakukan perawatan dengan baik akhirnya akan menyebabkan hilangnya gigi. Memungkinkan penyusunan kembali serabut ligamen periodonsium secara terus. Memudahkan terjadinya pergeseran mesial fisiologis 4.24 Adapun beberapa fungsi dari sementum yaitu23 : 1. mengelilingi akar gigi bagian koronal. dan turut serta mendukung gingiva. Struktur dan fungsinya memang mirip dengan jaringan tersebut akan tetapi 48 . Mengompensasi keausan struktur gigi karena pemakaian dengan cara pembentukan terus.lamela yang dipisahkan oleh garis inkremental yang berjalan pararel dengan sumbu panjang gigi.

Tulang alveolar membentuk soket yang mendukung dan melindungi akar gigi. Menghantarkan tekanan taktil dan sensasi nyeri melalui jalur trigeminal lalu diteruskan melalui ujung saraf proprioseptif. secara anatomis tidak ada batas yang jelas antara tulang alveolar dengan maksila maupun mandibula.21 Adapun fungsi dari ligamen periodonsium yaitu23 : 1. Tulang alveolar 49 . Mensuplai nutrisi serta membersihkan produk sisa melalui aliran darah dan pembuluh limfe 3. tulang ini disebut juga sebagai lamina dura atau plat kribriform. Bagian tulang alveolar yang membentuk dinding soket gigi disebut alveolar proprium. Memelihara relasi gigi terhadap jaringan keras dan lunak 4. 2.11. yang pertama yaitu alveolar proprium yang merupakan lapisan tipis tulang yang mengelilingi akar dan memberikan tempat perlekatan bagi ligamentum periodonsium. Bagian kedua yaitu tulang alveolar pendukung yang merupakan bagian prosesus alveolar yang mengelilingi tulang alveolar proprium dan memberi dukungan terhadap soket. Alveolar proprium didukung oleh bagian tulang alveolar lainnya yang dikenal dengan nama tulang alveolar pendukung.4.sebenarnya berbeda karena jaringan ini selain berperan sebagai periosteum gigi atau periosteum tulang alveolar juga berfungsi sebagai pendukung gigi.5 Secara anatomis tulang alveolar dibagi menjadi dua bagian. Tulang alveolar Tulang alveolar merupakan bagian maksila dan bagian mandibula yang membentuk dan mendukung soket gigi. Memelihara aktifitas biologik sementum dan tulang 2.

Takei HH.24 2.25 : Gambar 2.12. besar gingiva. Untuk menentukan gambaran klinis dari gingiva yang sehat dapat dilakukan dengan melihat beberapa bagian pada gingiva.22 Untuk mengetahui adanya suatu kelainan pada jaringan periodonsium dapat diketahui dari perubahan yang terjadi pada gingiva. Klokkevold PR. kontur gingiva.11. Carranza FA. diantaranya yaitu22. Carranza’s Clinical Periodontology 11th ed. Gingiva normal (Sumber: Newman MG. Missouri : Saunders .24. 2012) 50 .faktor yang menyebabkan penyakit misalnya plak.pendukung terdiri dari dua bagian yaitu tulang kompakta yang terdapat pada bagian vestibular dan oral presesus alveolar serta tulang kanselus (tulang spongiosa) yang terletak di antara tulang alveolar proprium dan tulang kortikal. Gingiva merupakan jaringan periodonsium yang paling umum digunakan dalam mengukur tingkatan suatu penyakit periodonsium karena gingiva merupakan jaringan terluar yang paling rentan berkontak langsung dengan faktor. Gambaran klinis gingiva normal Gambaran klinis gingiva sangat diperlukan sebagai dasar untuk mengetahui perubahan patologis yang terjadi pada gingiva yang terjangkit penyakit. konsistensi. hingga kecenderungan perdarahan pada saat dilakukan palpasi maupun probing pada soket gingiva. tekstur. perubahan ini diantaranya seperti perubahan pada warna gingiva. kalkulus. dan faktor lainnya.

dan derajat lapisan keratin epitelium serta sel. Kontur gingiva Kontur dan besar gingiva sangat bervariasi. kontur gingiva juga tergantung dari kontur sementoenamel junction gigi. lokasi. Selain itu. Ketebalan dari gingiva rata.0. Pigmentasi pada gingiva cekat berkisar dari cokelat sampai hitam. interseluler dan pasokan darah. diantaranya karena didukung oleh adanya susunan lamina propia secara alami 51 . Konsistensi Konsistensi pada gingiva normal adalah padat dan kenyal serta melekat erat pada tulang alveolar. Warna ini bervariasi untuk setiap orang dan erat hubungannya dengan pigmentasi kutaneous.5 mm. Warna pigmentasi pada mukosa alveolar lebih merah karena mukosa alveolar tidak mempunyai lapisan keratin dan epitelnya tipis. Pigmentasi pada gingiva biasanya terjadi pada individu berkulit gelap.sel pigmen. tebal.1. Apabila terdapat perubahan pada ukuran dari gingiva maka menunjukkan adanya penyakit periodontal. Hal ini disebabkan oleh adanya pasokan darah. hal ini terjadi karena kontur gingiva melekat pada permukaan gigi individu sehingga bentuknya tergantung pada bentuk dan kesejajaran dalam lengkung gigi. 2. 3. Besar gingiva Besar gingiva ditentukan oleh jumlah elemen seluler. Warna gingiva Warna gingiva normal umumnya merah jambu (pink coral). 4. Ukuran dari gingiva menunjukkan jumlah total dari elemen seluler dan intraseluler yang dimiliki serta suplai vaskularnya.25.rata sekitar 0. dan bentuk pada daerah kontak promksimal serta luas embrasure gingiva sebelah fasial dan lingual. Adanya kepadatan pada bagian gingiva disebabkan oleh berbagai hal.

dan epitelium jungsional. atau bila gingiva bebas dipalpasi dengan jari.hati. kepadatannya disebabkan karena adanya serat. anatomi gingiva dibangun oleh stratified squamous epithelium seperti halnya epitelium kulit. Epitelium sulkus diibaratkan sebuah membran semipermeabel yang dapat dilalui bakteri dan produk metabolitnya yang berbahaya dapat memasuki jaringan gingiva sehingga cairan sulkus gingiva merembes masuk ke dalam sulkus. Kecenderungan pendarahan pada palpasi dan probing pada tekanan lembut Gingiva yang sehat tidak akan berdarah pada saat sonde/ probe periodontal dimasukkan ke dalam sulkus dengan hati. Gambaran mikroskopik gingiva Pada gambaran mikroskopik. Epitelium oral adalah epitelium yang menutupi permukaan luar dari gingival (gingiva bebas dan cekat) dan meluas dari gingival margin sampai pertautan mukogingival. Pada bagian marginal gingiva.13. Sulkus gingiva dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tidak berkeratin. Pada awal masa erupsi gigi permanen. 52 . 5. Tekstur Tekstur dari permukaan gingiva menyerupai kulit jeruk yang lembut dan tampak tidak beraturan yang umumnya disebut dengan istilah stipling.dan hubungannya dengan mucoperiosteum tulang alveolar. Stipling ini merupakan bentuk spesialisasi atau penguatan adaptif terhadap fungsi gingiva. stipling akan berbentuk seperti bergerombol. Apabila didapati stipling pada gingiva yang telah menghilang atau berkurang maka hal tersebut berkaitan dengan adanya penyakit gingiva.serat kolagen. Dasar sulkus terbentuk dari perlekatan koronal dari epitelium jungsional. 2. 6. epitelium sulkular. Epitelium gingiva dibagi menjadi tiga bagian yaitu epitelium oral.

sel dendrit seperti sel langerhans dan melanosit.23 Marginal gingiva membentuk dinding jaringan lunak sulkus gingiva dan terhubung dengan gigi pada dasar sulkus melalui epithelial attachment.kadang dijumpai sel plasma dari leukosit polimorfonuklear.Permukaan luar dari epitel ini ditutupi oleh keratin. Melanosit akan membentuk granulo melanin yang dikirim ke sel basal sehingga mengakibatkan sel basal mengalami pigmentasi. serta dijumpai adanya rete pegs.22 Jaringan pengikat gingiva merupakan jaringan pengikat padat yang terdiri atas serat kolagen dan sedikit serat elastik. dan stratum basale. kadang. Epitelium pada sulkus gingiva tidak mengandung keratin serta tidak sampai ke batas koronal epitelial attachment. Epitelium memiliki bagian yang menonjol ke bagian jaringan pengikat yang disebut papila.sel lain yang terdapat dalam epitelium adalah limfosit. Epitelium ini sifatnya permeabel sehingga produk 53 . bagian luar marginal gingiva terdiri atas tratified epithelium yang mengandung keratin. dengan adanya jaringan pengikat ini maka bagian epitelium yang tidak mempunyai sistem pembuluh darah dapat memperoleh pasokan darah yang lebih banyak dari jaringan pengikat yang ada di bawahnya. Serat. Lapisan lamina propianya akan langsung melekat pada periosteum tulang alveolar.serat retikuler beramifikiasi diantara serat kolagen dan meneruskan diri dengan retikular pada dinding pembuluh darah. Selain itu terdapat sel. stanum spinosum.23 Seperti halnya gingiva. Epitelium ini terdiri atas stratum korneum.22 Sel. Permukaan luar epitelium ini akan melanjutkan diri dengan epitelium gingiva cekat sedangkan pada bagian dalamnya tidak mengandung keratin. stratum granulosum. parakeratin.

anak yang berusia 5 tahun.22 2. demikian pula cairan gingiva dapat merembes ke sulkus gingiva. Epitelium jungsional tidak mengandung keratin sehingga kurang efektif dalam fungsi perlindungan.23 Penyakit periodontal pada anak. bentuk parahnya seperti agresif periodontitis yang menyebabkan kerusakan periodonsium selama masa kanak.35 mm. Gingivitis merupakan kejadian umum pada anak. Penyakit periodontal terjadi pada usia berapapun dan 54 .14.30 sel pada daerah mahkota dan 4-5 sel ke arah apikal. Panjang epitelium jungsional berkisar antara 0. Pada daerah ini bakteri atau produk bakteri mudah masuk ke dalam jaringan gingiva.kanak.5 Epitelium jungsional dimulai dari dasar sulkus dan menghubungkan gingiva ke arah permukaan gigi.71. ketebalannya terdiri atas 15. bakteri.21 Periodontitis biasanya disertai dengan gingivitis dan mengakibatkan kerusakan ireversibel pada jaringan pendukung di sekitar gigi termasuk tulang alveolar. terutama terjadi sekitar usia remaja yang mempengaruhi lebih dari 80% anak muda sementara populasi tersebut hampir seluruhnya mempunyai pengalaman gingivitis.mikroorganisme dapat menembus ke gingiva. atau kalkulus pada supragingiva.1.anak dan remaja dapat terbatas pada jaringan gingiva atau berupa rusaknya jaringan periodonsium dan dalam beberapa kasus dapat menyebabkan hilangnya gigi. Pada umumnya penyakit periodontal bermula sebagai gingivitis dan hanya pada beberapa individu akan berlanjut menjadi periodontitis. Klasifikasi penyakit jaringan periodonsium pada anak Penyakit periodontal dapat diklasifikasikan sebagai gingivitis maupun periodontitis yang terjadi sebagai akibat adanya plak.

prosesnya terjadi secara lambat. obat berlebih yang dapat mempengaruhi keadaan pada gingiva. Temuan awal klinis pada gingivitis mencakup kemerahan dan pembengkakan pada bagian marginal gingiva dan biasanya mengalami perdarahan. selain itu ada juga gingivitis yang terjadi karena karies dan loose teeth.anak yang saat ini digunakan. hormon steroid terkait gingivitis.21. Ada banyak klasifikasi gingivitis kronis pada anak. diantaranya yaitu gingivitis marginalis kronis yaitu peradangan gusi pada daerah margin gingiva. Setelah dilakukan pemeriksaan. Tahap awal umumnya terjadi pada usia remaja. Gingivitis Kronis Gingivitis kronis adalah infeksi periodontal yang paling umum pada anak.26 : 1.anak dan remaja. kondisi tersebut terus berlangsung dan jaringan yang awalnya edematous dapat menjadi lebih fibrois. Kedalaman probing dapat terjadi dan betambah jika hipertrofi atau hiperplasia terjadi secara signifikan. Ada berbagai macam bentuk penyakit jaringan periodonsium yang dapat ditemukan pada anak. serta beberapa faktor lainnya. Gingivitis kronis dapat disebabkan oleh induksi plak.anak. diantaranya yaitu12. eruption gingivitis yang merupakan gingivitis pada sekitar gigi yang sedang erupsi. gingivitis karena maloklusi dan malposisi. Agresif Periodontitis Gambaran utama dari agresif periodontitis adalah hilangnya perlekatan gingiva yang cepat dan kehilangan tulang secara agresif. Agrsif periodontitis dapat berupa 55 . oleh sebab itu sangat penting untuk mengenali masalah periodontal serta memperhatikan kesehatan gigi dan mulut anak untuk mencapai keadaan mulut yang sehat dimasa dewasa. 2. serta gingivitis yang terjadi karena resesi gusi akibat sikat gigi dan alat ortodontik.23. gingivitis karena alergi.

Periodontitis kronis paling umum terjadi pada orang dewasa namun tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak.anak dan remaja tanpa bukti klinis penyakit sistemik dan ditandai oleh hilangnya tulang alveolar yang parah disekitar gigi permanen. ligamentum periodontal. terjadi pembentukan poket periodontal. pasien mengalami kehilangan perlekatan interproksimal pada kurang lebih dua gigi geraham pertama permanen dan gigi seri dengan kehilangan perlekatan tidak lebih dari dua gigi selain gigi geraham pertama dan gigi seri. Periodontitis Kronis Periodontitis kronis merupakan penyakit peradangan pada jaringan periodonsium yang disebabkan terutama oleh bakteri spesifik pada subgingiva yang dapat menimbulkan respon inflamasi gingiva dan berlanjut ke struktur jaringan penyangga gigi yaitu sementum.15%. Pada localized agresif periodontitis. dan kegoyangan gigi yang mengakibatkan tanggalnya gigi.localized ataupun generalized. Hal ini dapat berupa 56 . kerusakan tulang alveolar yang dalam. Bakteri yang sangat virulen dan menjadi etiologi terhadap terjadinya agresif periodontitis adalah Actinobacillus actinomycetemcomitans berkombinasi dengan spesies Bacteroides. 3. gambaran klinis pasien menunjukkan gambaran umum seperti kehilangan perlekatan interproksimal kurang lebih tiga gigi dan tidak menutup kemungkinan terjadi pada geraham pertama dan gigi seri. Perkiraan prevalensi terjadinya localized agresif periodontitis pada populasi remaja kondisinya beragam berkisar dari 0.1% . Localized agresif periodontitis dapat terjadi pada anak. Keadaan ini mengakibatkan hilangnya perlekatan gingiva. dan tulang alveolar. sedangkan pada generalized agresif periodontitis.anak dan remaja.

Dalam bentuk localized bagian yang terkena menunjukkan kehilangan tulang yang cepat dan inflamasi minimal pada gingiva. dan berat bila lebih 5 mm kehilangan perlekatan serta keadaan klinis tampak parah. Peningkatan patogen yang diduga terjadi terdiri dari 57 . sedang apabila 3-4 mm kehilangan perlekatan klinis. tingkat keparahan penyakit dapat bersifat ringan yaitu 1-2 mm kehilangan perlekatan klinis. sindrom papillon. Acrodynia.localized yaitu kurang dari 30% dari gigi yang terkena ataupun generalized yaitu lebih besar dari 30% gigi yang terkena dan ditandai oleh laju perkembangan dari lambat sampai sedang yang mungkin termasuk periode kehancuran tulang alveolar yang cepat. Selain itu. Leukimia. Periodontitis sebagai manifestasi penyakit sistemik pada anak adalah penyakit langka yang sering dimulai antara waktu gigi primer erupsi sampai dengan usia 4 atau 5 tahun. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). sedangkan dalam bentuk generalized ada kehilangan tulang yang cepat sekitar hampir semua gigi dan ditandai dengan inflamasi gingiva. Neuropenia. Area subgingival terdapat bakteri Actinobacillus actinomycetemcomitans dan Capnocytophaga sp. Sindrom Down. Hystiocytosis X. 4. Sindrom Chediak-Higashi. Periodontitis terjadi dalam bentuk localized dan generalized. Hypophosphatasia. Pada anak.anak yang menderita AIDS dapat terserang dalam bentuk Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG) namun tidak ada laporan pasien anak prepubertal yang menderita AIDS dengan kehilangan tulang alveolar. dan defisiensi adhesi leukosit. Periodontitis sebagai manifestasi penyakit sistemik Periodontitis sebagai manifestasi penyakit sistemik dapat mempengaruhi penderita diabetes melitus yang bergantung pada hormon insulin (Insulin Dependent Mellitus/IDDM).

anak. Etiologi penyakit periodonsium Infeksi endodontal dan periodontal berhubungan dengan mikroflora kompleks dimana kira.15. dan berbagai penyakit sisitemik.Actinobacillus actinomycetemcomitans. Pengobatan melibatkan debridemen mekanik.kira terdapat 200 spesies di bagian apikal penyakit periodontitis dan lebih dari 500 spesies di bagian marginal penyakit periodontitis yang telah ditemukan.faktor yang mempengaruhi terjadinya NDP adalah infeksi virus (HIV). antibiotik dapat menjadi tambahan penting terhadap terapi. malnutrisi. dimana level bakteri dapat menjangkau hingga lebih dari 10 mikroorganisme per mg terhadap plak gigi. kurang tidur. instruksi kebersihan mulut. dan Capnocytophaga sputigena. 5. Jika pasien demam. Antibiotik yang diberikan dapat berupa metronidazole dan penisilin yang telah dianjurkan sebagai obat pilihan. Pasien dengan NDP sering terjadi demam. faktor. 2. Debridemen dengan ultrasonik telah terbukti sangat efektif dan berhasil menyebabkan penurunan gejala penyakit. dan terdapat 10 spesies yang teridentifikasi bersifat patogen pada 58 . Periodontitis disebabkan oleh bakteri yang ditemukan di plak gigi. stres emosional. dimana invasi jaringan oleh Spirochetes telah terbukti terjadi. Pada anak. Prevotellaintermedia. dan tindakan perawatan lanjutan. NDP menghasilkan bakteri dengan level tinggi seperti Spirochetes dan Prevotella intermedia. Eikenella corrodens. Infeksi ini didominasi oleh bakteri anaerob dan paling banyak bakteri gram negatif. Necrotizing Periodontal Disease Dua temuan yang paling signifikan dalam mendiagnosis Necrotizing Periodontal Disease (NDP) adalah adanya nekrosis pada interproksimal dan ulserasi dengan perkembangan yang cepat seperti nyeri pada gingiva.

Faktor lokal penyebab penyakit periodontal ini bekerja dengan mempengaruhi secara langsung jaringan periodonsium yang ada. Plak bakteri Plak bakteri merupakan suatu massa hasil pertumbuhan mikroba yang melekat erat pada permukaan gigi serta gingiva dan terjadi apabila seseorang mengabaikan kebersihan mulut.23 2.12 Faktor penyabab penyakit periodontal dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor lokal (eksintrik) dan faktor sistemik (insintrik). dan Bacteroides forsythus.penyakit periodontitis seperti bakteri gram negatif. Kerusakan tulang dalam penyakit periodontal disebabkan oleh faktor lokal yaitu inflamasi gingiva dan trauma dari oklusi atau gabungan keduanya.23 : 1. Beberapa bakteri gram negatif yang terdapat pada periodontitis yaitu Actinobacillus actinomycetemcomitans. Prophyromonas gingivalis. Faktor lokal merupakan faktor penyebab yang berada di lingkungan sekitar gigi sedangkan faktor sistemik dihubungkan dengan metabolisme dan kesehatan umum. plak dibagi menjadi dua bagian yaitu supra gingival yang berada disekitar tepi gingival dan plak sub gingiva yang berada pada bagian apikal dari dasar gingival. sedangkan trauma dari oklusi menyebabkan hilangnya tulang alveolar pada sisi permukaan akar. Bakteri yang terkandung dalam plak di daerah 59 . Berdasarkan letaknya. Kerusakan yang disebabkan oleh inflamasi gingiva mengakibatkan pengurangan ketinggian tulang alveolar.22. Beberapa faktor lokal penyebab terjadinya penyakit periodonsium yaitu5.1 Faktor lokal penyakit periodonsium Faktor lokal adalah faktor yang berakibat langsung pada jaringan periodonsium dimana penyakit periodontal diakibatkan oleh faktor ekstrinsik yang tidak berkaitan dengan sistem kerja organ tubuh.15.

dan terjadi rasa sakit yang tidak menentu. dan menggerakkan proses immuno patologi. 4.sulkus gingiva mempermudah terjadinya kerusakan jaringan. Bakteri dapat menyebabkan penyakit periodontal secara tidak langsung dengan jalan meniadakan mekanisme pertahanan tubuh. Faktor penyebab timbulnya gingivitis adalah plak bakteri yang tidak bermineral serta melekat pada permukaan kalkulus dan mempengaruhi gingiva secara tidak langsung. Kalkulus merupakan pendukung penyabab terjadinya gingivitis dan dapat dilihat bahwa inflamasi terjadi karena penumpukan sisa makanan yang berlebihan.tanda yang berhubungan dengan terjadinya impaksi makanan yaitu perasaan tertekan pada daerah proksimal. 2. mengurangi pertahanan jaringan tubuh.anak. Kalkulus Kalkulus terdiri dari plak bakteri dan merupakan suatu massa yang mengalami pengapuran serta terbentuk pada permukaan gigi secara alamiah. 3. Tanda. Hampir semua penyakit periodontal berhubungan dengan plak bakteri dan telah terbukti bahwa plak bakteri bersifat toksik. Gigi yang berjejal atau miring merupakan tempat penumpukan sisa makanan dan juga tempat terbentuknya plak. Bernafas lewat mulut Kebiasaan bernafas lewat mulut merupakan salah satu kebiasaan buruk yang sering dilakukan oleh anak. sedangkan gigi dengan oklusi yang baik mempunyai daya self cleansing yang tinggi. adanya inflamasi pada daerah yang terlibat serta sering berbau. Impaksi makanan Impaksi makanan terjadi akibat tekanan penumpukan makanan dan merupakan keadaan awal yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit periodontal. hal ini sering dijumpai secara permanen atau sementara. Dikatakan permanen apabila anak mengalami kelainan saluran 60 .

pernafasan. Makanan yang baik untuk gigi adalah yang mempunyai sifat self cleansing dan berserat. Semua keadaan tersebut menyebabkan visikositas (kekentalan) saliva dan akan bertambah pada permukaan gingiva maupun permukaan gigi.hati dan teliti sewaktu melakukan perawatan pada gigi dan jaringan sekitarnya sehingga mengakibatkan kerusakan pada jaringan sekitar gigi misalnya ketika melakukan preparasi klas II amalgam.buahan. 61 . rahang. Sifat fisik makanan Sifat fisik makanan merupakan hal yang penting karena makanan yang bersifat lunak seperti bubur atau campuran semiliquid membutuhkan sedikit pengunyahan dan menyababkan debris mudah melekat disekitar gigi dan bisa berfungsi sebagai sarang bakteri serta memudahkan pembentukan kalkulus. Makanan yang demikian tidak dikunyah secara biasa melainkan dikulum di dalam mulut sampai lunak dan bercampur dengan saliva atau makanan cair. hal ini juga terjadi pada penderita pilek dan beberapa anak dengan gigi depan atas protrusi sehingga mengalami kesulitan menutup bibir. bibir. populasi bakteri bertambah banyak. aliran saliva menjadi berkurang. dan ikan yang sifatnya tidak melekat pada permukaan gigi. 5. Makanan yang mempunyai tekstur keras dan kaku dapat menjadi massa yang sangat lengket bila bercampur dengan saliva. buah. preparasi bagian proksimal. Iatrogenik dentistry Iatrogenik dentistry merupakan iritasi yang ditimbulkan karena pekerjaan dokter gigi yang tidak hati. yaitu makanan yang dapat membersihkan gigi dan jaringan mulut secara lebih efektif misalnya sayuran mentah yang segar. dan juga karena kebiasaan membuka mulut terlalu lama. lidah dan palatum menjadi kering dan akhirnya memudahkan terjadinya penyakit periodonsium. 6.

23 : 62 . Trauma dari oklusi Trauma dari oklusi dapat menyebabkan kerusakan jaringan periodonsium.mineral seperti hormon. pencabutan gigi yang tidak diganti. 2. Bila keseimbangan material ini terganggu maka dapat mengakibatkan gangguan lokal yang berat. 7. rangsangan kimia. hal. Gangguan keseimbangan dapat berupa kurangnya materi yang dibutuhkan oleh sel. Penyingkiran kalkulus baik menggunakan alat manual maupun eletrik juga harus berhati.hati karena dapat menimbulkan kerusakan jaringan gingiva.hati dalam pengerjaannya.hal tersebut dapat menyababkan kerusakan jaringan periodontal bila tidak berhati. nutrisi.sel untuk penyembuhan. Tekanan oklusal yang menyebabkan kerusakan jaringan disebut traumatik oklusi. Trauma dari oklusi dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu perubahan tekanan oklusal misalnya adanya gigi yang elongasi.15. Metabolisme jaringan membutuhkan mineral. kebiasaan buruk seperti bruxism. Adapun beberapa faktor sistemik yang berperan dalam menyebabkan penyakit pada jaringan periodonsium yaitu12. dan berkurangnya kapasitas periodonsium untuk menahan tekanan oklusi serta kombinasi keduanya.2. serta fisik dapat diperberat oleh keadaan sistemik. dan oksigen. Adanya gangguan keseimbangan tersebut dapat memperberat atau menyebabkan kerusakan jaringan periodontal. Adaptasi atau kontak yang salah juga dapat menyababkan terjadi penyakit periodontal.dan juga kesalahan pemasangan alat fungsional seperti space maintainer. vitamin. Faktor sistemik Respon jaringan terhadap bakteri.

hal ini kebanyakan ditemukan pada wanita dibanding pria.obatan dapat menyebabkan hiperplasia. vitamin C sangat berpengaruh pada jaringan periodontal karena fungsinya dalam pembentukan serat jaringan ikat. Defisiensi vitamin C sebenarnya tidak menyebabkan penyakit periodontal tetapi adanya iritasi lokal menyebabkan jaringan kurang dapat mempertahankan kesehatan jaringan tersebut sehingga terjadi reaksi inflamasi. hal ini sering terjadi pada anakanak yang menderita epilepsi yang mengkonsumsi obat anti kejang. Defisiensi vitamin Diantara banyak penyakit.anak sering terjadi penyakit periodontal selama menderita demam tinggi misalnya disebabkan oleh influenza atau batuk yang parah. Hormonal Faktor hormonal dapat menyebabkan penyakit periodontal. Pada wanita hamil.1. Drugs atau obat. gusi menjadi lebih sensitif disebabkan oleh fluktuasi kadar hormon yang meningkatkan aliran darah ke gusi. hal ini karena anak yang sakit tidak dapat membersihkan rongga mulutnya secara optimal dan makanan yang diberikan biasanya berbentuk cair. Pada keadaan ini saliva serta debris berkumpul pada mulut dan menyebabkan mudahnya terbentuk plak yang menyebabkan terjadinya penyakit periodontal.obatan Obat. 3. Dilatin bukan penyabab langsung penyakit jaringan periodontal akan tetapi hiperplasia gingiva memudahkan terjadinya penyakit bila dikonsumsi secara rutin dan dalam waktu yang lama. 4. yaitu phenytoin (dilatin). 63 . 2. Demam tinggi Pada anak.

Hubungan antara perawatan dan penyakit periodontal mungkin terjadi jika komponen alat memberi kontribusi pada akumulasi plak dan kesulitan pembersihan plak subgingiva. sedangkan peneliti lain meyakini perawatan dengan alat fungsional kemungkinan menyebabkan kerusakan periodontal pada tahap gingivitis kronis.16. namun pada pasien pemakai piranti cekat keadaannya menjadi berbeda. loop. Alat-alat yang terdapat dalam rongga mulut. selain itu tekanan pada gigi ke arah apikal dapat mengakibatkan dislokasi plak supragingiva dan meningkatkan resiko penyakit periodontal. Pengaruh alat fungsional terhadap kesehatan gingiva Perawatan dengan alat fungsional umumnya dilakukan selama masa anak.19 Pada penderita gingivitis yang menggunakan piranti cekat sangat penting untuk menjaga dan meningkatkan kebersihan gigi dan mulut. dan plat akrilik menyebabkan bakteri lebih mudah berkembang biak. Adanya bakteri dalam rongga mulut merupakan flora normal dalam keadaan seimbang pada pasien yang tidak menggunakan alat fungsional. seperti band. Klinisi membagi opini mengenai hubungan perawatan alat fungsional dengan kondisi periodontal. Bakteri akan bertambah banyak apabila penderita kurang merawat kebersihan gigi dan mulut.anak. peningkatan hormon estrogen dan progesteron selama masa remaja dapat memperparah inflamasi margin gingiva bila ada faktor lokal seperti plak yang menjadi pemicu timbulnya penyakit periodontal. 2. mengingat komponenkomponen piranti yang melekat pada gigi memudahkan terbentuknya akumulasi plak pada daerah tersebut.4 64 .Selain itu. archwire. Beberapa peneliti menyatakan tidak terdapat kerusakan periodontal permanen akibat dari perawatan piranti dengan alat yang dipasang secara cekat.

warna gingiva. Gingival indeks digunakan untuk mengevaluasi kasus gingivitis berdasarkan inspeksi visual dari gingiva dengan melihat adanya pembengkakan. Anak.19 2.Penggunaan piranti space maintainer cekat menyebabkan peningkatan mikroorganisme pada daerah sekitar band dan loop. 2. mesial.kira kurang lebih 1-2 mm dari 65 . keempat area gusi pada masing. apabila seseorang mengalami gingivitis maupun periodontis maka kedalaman sulkus bertambah dan membentuk poket. Papilla Bleeding Index (PBI). Indeks pengukuran Indeks pengukuran dibutuhkan untuk mengevaluasi suatu kelainan pada jaringan periodonsium.1. dan tanda yang paling penting adalah perdarahan.17.masing gigi (fasial.anak merupakan pasien yang lebih sering mengalami gingivitis lebih parah selama jalannya perawatan. Dokter gigi melakukan pemeriksaan pada gusi atau jaringan periodontal dengan menggunakan alat yang disebut probe periodontal. distal. Hampir seluruh pasien piranti cekat akan mengalami gingivitis selama perawatan. Alat ini digunakan untuk mengukur kedalaman sulkus gusi. Kedalaman sulkus gusi yang normal berkisar antara 0-3 mm. dan lingual) dinilai tingkat peradangannya dan diberi skor 0 sampai 3.5 Perdarahan dinilai dengan cara menelusuri dinding margin gusi pada bagian dalam saku gusi dengan probe periodontal kira.5 Beberapa indeks sederhana yang biasa digunakan peneliti untuk mengukur status periodontal seseorang yaitu indeks gingiva oleh Loe and Silness (GI). dan Periodontal Disease Index (PDI).17. Indeks Gingiva Indeks gingiva oleh Loe and Silness digunakan untuk memeriksa keparahan gingivitis. Menurut metode ini.

gingiva mengkilap.12. Skor 2 : inflamasi sedang. Skor 1 : inflamasi ringan. Untuk lebih mempermudah penilaian. dan akan menjadi skor gingival untuk gigi yang bersangkutan. Gingiva normal.margin gingiva. warna kemerahan. Skor 3 : inflamasi parah. Skor keempat area selanjutnya dijumlahkan dan dibagi empat. perdarahan sewaktu dilakukan probing. Gambar 2. tidak terjadi perdarahan sewaktu dilakukan probing. Carranza FA. sedikit perubahan warna. b. Carranza’s Clinical Periodontology 11th ed. Takei HH. bengkak dan hipertrofi. Missouri : Saunders . kecenderungan berdarah spontan. Adapun kriteria penilaian indeks gingiva menurut Loe and Silness yaitu5 : Skor 0 : tidak terdapat inflamasi/ gingiva normal. warna kemerahan dan hipertrofi yang tampak jelas. Dengan menjumlahkan seluruh skor gigi dan dibagi dengan jumlah gigi yang diperiksa maka akan didapat skor gingival indeks seseorang. Klokkevold PR. Loe and Sillness membagi kriteria penilaian gingivitis berdasarkan skor. Gingivitis (Sumber: Newman MG. 2012) 66 . Hasil probing menunjukan a.

namun hanya enam gigi terpilih yang termasuk Ramfjord Teeth yang 67 . pada kuadran pertama yang diperiksa hanya di bagian palatal.22 Probing dilakukan pada keempat kuadran. Jumlah seluruh skor menunjukkan jumlah perdarahan. Pemeriksaan dilakukan dengan jalan menelusuri sulkus menggunakan probe yang tidak tajam dengan tekanan jari ringan mulai dari dasar papila hingga ke puncaknya dari distal ke mesial. Segera setelah probing darah mengalir ke arah interdental dan menutupi bagian gigi atau gusi. Indeks ini merupakan indikator yang sensitif untuk mengetahui keparahan peradangan gusi seseorang.17. Adapun nilai skor perdarahan pada pemeriksaan Papilla Bleeding Index yaitu22 : Skor 1 : Jika ditemukan perdarahan pada satu titik setelah dilakukan probing Skor 2 : Jika ditemukan garis perdarahan atau beberapa titik perdarahan pada beberapa tempat Skor 3 : Segitiga papila menjadi berdarah setelah probing Skor 4 : Terlihat perdarahan yang nyata. Pengukuran PBI tidak memerlukan waktu lama karena hanya mengukur daerah papila pada gigi. pada kuadran ketiga diperiksa bagian lingal. 2. tidak semua gigi dilakukan pengukuran.2.17. Papilla Bleeding Index (PBI) Papilla Bleeding Indeks (PBI) dikembangkan untuk digunakan di klinik pribadi dan tidak untuk penelitian epidemiologis. pada kuadran kedua yang diperiksa bagian fasial/bukal. Saat satu kuadran telah lengkap dilakukan probing selanjutnya intensitas perdarahannya dinilai dalam skor baru kemudian dicatat dalam chart PBI. dan pada kuadran keempat diperiksa bagian fasial/bukal.2. Periodontal Disease Index (PDI) Pada pengukuran Periodontal Disease Index. PBI dihitung dengan cara membagi jumlah perdarahan dengan total papila yang diperiksa.3.

Adapun kriteria dari PDI yaitu5 : Skor 0 Tidak ada peradangan. Ada dua aspek pada pengukuran ini yang sering digunakan yaitu pemilihan gigi indeks menurut Ramfjord dan pengukuran hilangnya perlekatan serat periodontal. dan 3 ulserasi Kondisi periodontal 4 Hilangnya perlekatan lebih dari 3 mm. misalnya pada anak. Untuk periodontitis dengan skor 4. 5. 36. tidak ada perubahan pada gingiva Kondisi gingiva 1 Gingivitis ringan sampai sedang pada beberapa lokasi margin gusi 2 Gingivitis ringan sampai sedang menyeluruh pada margin gusi Gingivitis berat ditandai dengan warna gusi merah terang. 21. 24. Periodontal Disease Index seseorang adalah jumlah seluruh skor gigi dibagi dengan jumlah gigi yang diperiksa. perdarahan. dan 6 tidak ditentukan dengan mengukur kedalaman poket tetapi yang diukur adalah hilangnya perlekatan dari pertautan sementoemail hingga ke dasar poket. Keenam gigi tersebut yaitu gigi 16. dan 44. Jika salah satu gigi indeks tersebut tidak ada. 41. diukur dari pertautan sementoemail 5 Hilangnya perlekatan antara 3-6 mm 6 Hilangnya perlekatan lebih dari 6 mm 68 .5 Periontal Disease Index menilai gingivitis dan hilangnya perlekatan jaringan periodonsium.masing dikategorikan dalam tiga tingkatan. masing.dianggap dapat mewakili keseluruhan gigi dalam rongga mulut.anak yang gigi premolarnya belum erupsi maka dilakukan penggantian dengan cara menentukan gigi tetangga yang lebih ke distal.

selain itu penanganan sejak dini diharapkan dapat menahan penyakit periodontal terhadap kerusakan yang terjadi diusia dewasa. Jika penyakit jaringan periodonsium sudah terjadi maka banyak langkah penanganan yang dapat dilakukan yang berfungsi memperlambat proses kerusakan jaringan maupun mengembalikan kondisi dari jaringan periodonsium. Tindakan awal dari terapi ini yaitu menginformasikan pada pasien tentang penyakit periodontal dan pengobatannya. Setiap pasien harus menjalani fase terapi awal yang biasanya memiliki prosedur klinis sederhana serta seringkali menjadi satu-satunya pengobatan yang diperlukan untuk mengatasi penyakit gingivitis ataupun periodontitis. Tindakan skeling. Penanganan penyakit periodontal pada anak Dasar dari perawatan penyakit periodontal adalah untuk menghilangkan penyakit yang sudah ada dan mencegah kembalinya penyakit tersebut dengan menggunakan berbagai cara perawatan yang sesuai. Adapun berbagai penanganan penyakit periodontal yang dapat dilakukan yaitu11. namun pada beberapa pasien walaupun telah dilakukan perawatan dengan baik serta pembersihan rongga mulut.2.21. root planing. Pada pasien anak semua informasi dapat 69 . Terapi Awal Istilah terapi awal merupakan gambaran berbagai prosedur yang digunakan untuk mencapai kesehatan jaringan periodonsium.18. masih tetap terlihat adanya sisa poket yang akan mengalami perdarahan saat probing. serta tindakan pembersihan rongga mulut dengan baik dapat memperbaiki keadaan peradangan dan poket periodontal.23 : 1.23 Tujuan utama dari penanganan penyakit periodontal pada anak adalah untuk membantu dalam melestarikan kondisi kesehatan serta fungsi normal dari rongga mulut dan jaringan di sekitarnya.

Motivasi yang diberikan pada pasien dapat diterima tergantung dari beberapa faktor termasuk status sosial ekonomi. ataupun kerabat pasien anak. hal ini dapat dilakukan dengan kerja sama yang baik terhadap pendamping pasien anak seperti saudara.disampaikan ke orangtua atau kerabat terdekatnya. penilaian pasien sendiri. Selain itu juga dapat dilakukan kuretase plak dan kalkulus pada bagian sub gingival serta terakhir dapat diresepkan obat. lebih penting lagi keberhasilan yang dicapai akan berlangsung sementara. Persyaratan yang paling penting untuk motivasi pasien adalah hubungan saling percaya antara pasien dan dokter gigi. Tanpa melanjutkan perawatan di rumah oleh pasien. Aspek penting dari perawatan di rumah pasien adalah pengurangan jumlah plak pada margin gingiva.obatan khusus misalnya tetracycline atau metronidazole. Pasien harus tertarik dalam menjaga kesehatan rongga mulutnya dan harus mengetahui perlunya suatu pengobatan. pola perilaku. Home care oleh pasien Kontrol plak oleh pasien tetap menjadi tindakan penting dari pencegahan dan pengobatan penyakit periodontal. kepribadian. termasuk penggunaan sikat gigi atau alat bantu lainnya untuk membersihkan interdental gigi. Selanjutnya intruksikan mengenai kebersihan mulut. 2. Pijatan pada gingiva yang terjadi selama menyikat gigi adalah kepentingan sekunder tetapi dapat bermanfaat dari 70 . orangtua. serta kesehatan tubuh. namun tujuan ini hanya akan tercapai jika melalui upaya kerja sama yang baik antara dokter gigi dan pasien. 3. semua upaya praktisi dan tambahan dalam pengobatan periodontitis akan menjadi tidak maksimal. Informasi dan Motivasi Pemeliharaan dan pemulihan kesehatan periodontal dapat dilakukan.

Tidak ada sikat gigi yang ideal dalam hal bentuk dan ukuran tetapi dalam pengobatan penyakit periodontal sikat gigi manual dengan kepala pendek.anak 15-24 mm x 8 mm. Pada kasus.kasus gigi berjejal maupun gingivitis. dan untuk anak balita 18 mm x 7 mm.benar efektif. Jika molar kedua sudah erupsi maksimal besarnya 20 mm x 7 mm. perawatan di rumah oleh pasien dapat didukung melalui penggunaan anti plak larutan kumur chlorhexidin untuk jangka waktu yang terbatas. lurus. Jika daerah interdental terbuka. pegangan sikat harus lebar dan cukup tebal. Kontrol plak dengan chlorhexidine Penghilangan plak oleh pasien atau dokter gigi dengan menggunakan cara mekanis tidak pernah benar. 5. Selain itu. tangkai sikat harus nyaman dipegang dan stabil.sudut pandang physiotherapeutic. kepala sikat jangan terlalu besar dalam hal ini untuk anak. misalnya setelah selesai terapi periodontal. Karies juga lebih sering terjadi pada permukaan interproksimal dari pada permukaan fasial gigi. Dalam beberapa kasus khusus. penggunaan benang gigi (dental floss) harus diajarkan dan dipraktekkan. dan bulu lembut sangat baik untuk digunakan karena teksturnya tidak merusak jaringan lunak maupun jaringan keras. karena itu selama beberapa dekade tujuan 71 . 4. penggunaan sikat interdental cocok untuk digunakan dengan syarat ukurannya harus sesuai dengan ukuran ruang interdental yang ada. 6. Kebersihan interdental gigi Gingivitis dan periodontitis umumnya lebih parah di daerah interdental dibandingkan pada permukaan fasial rongga mulut. Sikat gigi Sikat gigi digunakan untuk menghilangkan plak dan sisa makanan dari permukaan gigi baik bagian oklusal maupun fasial rongga mulut.

dari penelitian gigi telah menemukan solusi pembilasan yang akan menghambat pembentukan plak. stain. agen kemoterapi topikal tersedia menjadi pengendalian plak secara kimia. Poles dari bagian mahkota hingga permukaan gingiva. Penggunaan Chlorhexidine harus dilakukan hanya dalam jangka waktu yang singkat. serta root planing penting untuk dilakukan. 72 . Untuk debridement supragingiva dapat digunakan instrumen seperti scaler dengan berbagai macam blade. Profesional care seperti penghapusan kalkulus. Dengan diperkenalkannya chlorhexidine oleh Davies. Profesional care Pasien tidak dapat meningkatkan kebersihan mulutnya apabila persyaratan untuk kebersihan yang baik tidak diciptakan. Kuret juga harus digunakan selama prosedur. terutama di daerah bicuspid gigi molar dan saat pengangkatan kalkulus pada bagian sub gingiva. selanjutnya dilakukan tindakan pemolesan menggunakan pasta profilaksis.hati dan bagian sulkus gingiva harus terkena menyeluruh saat diirigasi. Setelah pengangkatan kalkulus. deposit plak. 7. lakukan dengan hati.

BAB III KERANGKA KONSEP 3.1. Kerangka konsep penelitian Spece Maintainer Kesehatan Jaringan Periodonsium SM Cekat Faktor Lokal Faktor Sistemik Faktor Primer Faktor Sekunder Plak Bakteri Bad Habbit Debris SM Lepasan Kalkulus Iatrogenik Keadaan Jaringan Periodonsium Pengguna Space Maintainer : Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti 73 .

Ruang lingkup penelitian : Lapangan b. Tempat dan waktu penelitian 4. Perlakuan : Observasional 4.2. Substansi : Dasar d. Desain penelitian Desain penelitian ini adalah cross sectional study.2.1. Tempat penelitian Klinik Ilmu Kedokteran Gigi Anak RSGMP Universitas Hasanuddin.3. Jenis penelitian Jenis penelitian berdasarkan : a. Hubungan antar variabel : Analitik e.1.BAB IV METODE PENELITIAN 4.3.3. 4. Waktu penelitian Penelitian ini dilakukan pada tanggal 20 Februari.20 Juni 2015 74 . Waktu penelitian : Transversal c. 4.

4. Space maintainer cekat yang dimaksud pada penelitian ini adalah alat yang berfungsi mempertahankan ruang bagi tempat tumbuhnya gigi permanen yang bersifat cekat dan tidak dapat dilepas. Definisi operasional variabel 1. Variabel akibat : Keadaan jaringan periodonsium 3.5. penyakit sistemik. distal shoe. alat ini bisa berbentuk band and loop. bisa berbentuk plat akrilik dengan klamer maupun plat akrilik dengan pontik. 3. Variabel sebab : Penggunaan space maintainer cekat dan lepasan 2. nance appliance. ligamentum periodontal. Variabel kendali : Tempat penelitian 5. dan tulang alveolar. Space maintainer lepasan yang dimaksud pada penelitian ini adalah alat yang berfungsi mempertahankan ruang bagi tempat tumbuhnya gigi permanen yang bersifat lepasan. sementum. Variabel penghubung : Proses terjadinya kelainan jaringan periodonsium 4. Jaringan periodonsium merupakan jaringan pendukung gigi yang terdiri dari beberapa jaringan yaitu gingiva. frekuensi skeling.lepas. dan lingual arch. Variabel penelitian Variabel menurut fungsinya : 1. crown and loop. Variabel perancu : frekuensi menyikat gigi. 4. 75 . 2.4.

Kriteria inklusi 1.7.12 tahun dan menggunakan alat space maintainer baik cekat maupun lepasan di giginya.12 tahun. 3. Penyakit periodontal adalah penyakit yang mengenai jaringan pendukung gigi yaitu gusi serta jaringan periodontal yang dapat diukur menggunakan indeks gingiva Loe and Sillnes. Gigi permanen diarea space maintainer belum erupsi sempurna. 4. 4. 76 . Usia 6. 6.masing menggambarkan tingkat keparahan jaringan periodonsium.1. 5. Pengguna space maintainer adalah anak yang berusia 6. Populasi dan sampel penelitian Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien anak di Klinik Ilmu Kedokteran Gigi Anak RSGMP Universitas Hasanuddin dan sampel dalam penelitian ini adalah pasien anak yang menggunakan space maintainer cekat ataupun lepasan yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria sampel 4. Pasien menggunakan space maintainer cekat atau lepasan 2.4.7.6. Indeks gingiva Loe and Silness adalah indeks yang digunakan untuk mengukur keadaan jaringan periodonsium dengan menggunakan probe WHO dan terdiri dari skor 0-3 yang masing.

9.10. Kemudian peneliti melihat terdapat atau tidaknya kelainan jaringan periodonsium di sekitar alat space maintainer 5. 77 . Mencatat hasil penelitian pada kartu status. Kriteria eksklusi 1.7. dimana sampel tersebut terdiri dari pasien space maintainer cekat dan lepasan. 6. 4. Prosedur penelitian 1. 4.8. Pasien sudah melepas alat space maintainer 2. Peneliti menjelaskan kepada calon partisipan mengenai penelitian ini. 2. Jumlah sampel Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 27 sampel yang ditentukan berdasarkan purposive sampling dengan pertimbangan tertentu. Peneliti mengisi informed consent yang berisi data diri pasien.2. Peneliti melakukan pemeriksaan klinis kepada partisipan yang terpilih dan bersedia menjadi sampel penelitian. Tiba-tiba partisipan menolak menjadi subjek penelitian saat proses penelitian sedang berlangsung 4. 4.4. Metode pengambilan sampel Metode pangambilan sampel penelitian ini adalah purposive sampling. Jika partisipan menderita kelainan jaringan periodonsium maka dilanjutkan dengan menentukan tingkat keparahannya mulai dari skor 0 sampai 3. 3.

kemudian diambil skor tertinggi dari keempat area gigi yang diperiksa. bengkak. 8.). luka. dan tidak ada perdarahan). Tingkat keparahan jaringan periodonsium dapat ditentukan berdasarkan 4 skor. Alat ukur dan pengukuran Alat ukur pada penelitian ini adalah indeks gingiva Loe and Silness. Tingkat keparahan jaringan periodonsium dalam hal ini gingiva ditentukan dengan menggunakan probe periodontal WHO. bengkak.5.5 mm. tidak berdarah saat probing atau terkena benda asing seperti tusuk gigi/ sikat gigi. Kalibrasi pada probe WHO adalah 0. berdarah saat probing atau terkena benda asing. Selanjutnya mengisi kuesioner mengenai kebiasaan membersihkan rongga mulut serta riwayat yang dialami setelah pemakaian space maintainer. Skor 1 (Inflamasi ringan. yaitu Skor 0 (Tidak ada peradangan gingiva. dan 11. dan berdarah spontan). Skor 2 (Inflamasi sedang. tidak ada perubahan warna. 3.5.11.). dan skor tersebut akan menjadi skor gingival untuk gigi yang bersangkutan. 4. kemerahan.5.5.7. pink coral. gingiva berwarna merah terang. Dalam penelitian ini gigi yang diperiksa merupakan gigi yang berada disekitar alat space maintainer dan kemudian hasil skor gingival indeks sampel dapat dihitung dengan menjumlahkan total seluruh skor gigi dibagi dengan banyaknya gigi yang diperiksa. Skor 3 (Inflamasi berat. Rumus yang digunakan dalam penghitungan skor gingiva yaitu : 78 . terdapat pembengkakan. Perdarahan dinilai dengan cara menelusuri dinding margin gingiva pada bagian dalam saku gingiva dengan probe periodontal WHO. 5.

Penilaian jawaban sering bernilai 2. frekuensi kesulitan saat mengunyah makanan.3. kadang-kadang dan tidak pernah.0 Peradangan sedang 1. frekuensi gusi bengkak saat memakai space maintainer. kuesioner ini menggunakan pilihan jawaban sering. 79 . Pengukuran variabel didasarkan pada skala ordinal berdasarkan pertanyaan yang diajukan. Responden diminta memberikan jawaban sesuai dengan kebiasaan responden.1.keluhan yang dialami pasien selama memakai space maintainer. dan tidak pernah bernilai 0.1.Kriteria penilaian indeks gingiva sebagai berikut : Kriteria Skor Sehat 0 Peradangan ringan 0.0 Pengukuran variabel independen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari indeks Oral Hygiene Impact Profile 14 (OHIP-14). Untuk frekuensi rasa sakit saat mengunyah..0 Peradangan berat 2. menyikat gigi. Kuesioner penelitian ini berisi pertanyaan tentang frekuensi kebiasaan membersihkan rongga mulut serta keluhan.2. serta kunjungan ke dokter gigi. frekuensi membersihkan gigi.1. kadang-kadang bernilai 1.1. frekuensi gusi memerah atau berdarah saat sikat gigi.

Baik. Alat penelitian 1. Alat dan bahan penelitian 4.12. jika responden memperoleh nilai < median 4. Tissue 4. Provine iodine 2. jika responden memperoleh nilai ≥ median 2. Kurang.Hasil penilaian jawaban responden kemudian dikategorikan menjadi : 1. Kuesioner 4.2. Bahan penelitian 1. Alat tulis 8. Gelas kumur 6. Informed consent 9. Tampon 80 . Masker 3.12.12. Alkohol 70% 5. Air 3.1. Handskun 2. Senter 7. Probe periodontal WHO 4. Kaca mulut 5.

4. Analisis data 4. Pengolahan data Pengolahan data penelitian ini menggunakan program IBM SPSS 18.13.2. 4.13.1.13. Jenis data Jenis data penelitian ini adalah data primer dan data skunder berupa kartu status pasien.4.0.13. Uji statistik Penelitian ini menggunakan uji statistik Mann Whitney U Test 81 .3.

Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain studi cross-sectional. Gigi yang diperiksa adalah gigi yang menggunakan space maintainer. Selanjutnya seluruh hasil penelitian dikumpulkan dan dilakukan analisis data dengan menggunakan program SPSS 18. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-Juni 2015. IL. Hasil penelitian ditampilkan dalam tabel distribusi sebagai berikut. Skor gingiva selanjutnya diakumulasikan dan dikonversikan dalam kategori peradangan gingiva. Pada penelitian ini keadaan jaringan periodonsium dinilai dari kondisi jaringan gingivanya dengan menggunakan indeks gingival. yang terdiri dari 12 pengguna cekat dan 15 pengguna lepasan. 82 . Penilaian indeks ini menggunakan probe periodontal WHO dan didasarkan pada empat area gigi dan skor tertinggi dari salah satu area gingiva pada gigi tersebut adalah skor representatif untuk kondisi jaringan periodontal. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 27 orang.BAB V HASIL PENELITIAN Telah dilakukan penelitian mengenai perbedaan keadaan jaringan periodonsium antara anak pengguna space maintainer cekat dan lepasan. Adapun sampel penelitian merupakan pasien anak-anak yang menggunakan space maintainer cekat dan lepasan yang memenuhi kriteria inklusi. kondisi jaringan periodontal dinilai dengan menggunakan indeks gingiva. Chicago. USA). Pada penelitian ini.0 (SPSS Inc..

dan kondisi jaringan gingiva.5 19 8 70.6 4 8 15 0 27 14. usia.5 18.1. Distribusi sampel berdasarkan karakteristiknya Karakteristik sampel penelitian Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia 7 tahun 8 tahun 9 tahun 10 tahun Jenis Space Maintainer Space Maintainer Cekat Space Maintainer Lepasan Lama Pemakaian Space Maintainer < 1 tahun 1 – 2 tahun Rutinitas Pemakaian SM Rutin Sering dilepas Letak Space Maintainer Unilateral kiri Unilateral kanan Bilateral Kondisi Jaringan Gingiva Sehat Peradangan ringan Peradangan sedang Peradangan berat Total Frekuensi (n) Persen (%) 9 18 33.9 11.6 55.8 29.3%).4%) yang menggunakan space maintainer 83 . jumlah sampel yang paling banyak berusia 8 tahun. Dalam penelitian ini diperoleh 12 sampel (44.1.1 12 15 44. lama pemakaian space maintainer.4%).3 11.Tabel 5. rutinitas pemakaian space maintainer.4 55.6 22 5 81. letak space maintainer. yaitu sejumlah 12 orang (44.3 66. jumlah sampel mencapai 27 orang (100%) dengan jumlah perempuan mencapai 18 orang (66. Secara keseluruhan. sedangkan jumlah sampel yang paling sedikit berusia 10 tahun.3 29.7 9 3 15 33.5 44.1 55.7 5 12 7 3 18.7%) dan laki-laki mencapai 9 orang (33.6 0 100 Tabel 5. jenis space maintainer. Berdasarkan usia.4 25. menunjukkan distribusi sampel penelitian berdasarkan jenis kelamin.

2.7%) yang sering melepas alat space maintainernya.3%) 6 (40%) 0 (0%) 15 (55.6%) 0 (0%) 27 (100%) Tabel 5.3%) 2 (13. Tabel 5.3%) 4 (33.5%) 0 (0%) 3 (25%) 9 (75%) 0 (0%) 12 (44. Sebanyak 5 orang (18. Selain itu.3%) 1 (6.7%) 4 (33.7%) 5 (33.7%) 3 (25%) 4 (33. usia.3%) 5 (18.5%) 12 (44.3%) 1 (8. dan lama pemakaian space maintainer berdasarkan jenis space maintainernya. berdasarkan letak space maintainer kebanyakan dalam posisi bilateral. dan Lama Pemakaian Space Maintainer Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia 7 tahun 8 tahun 9 tahun 10 tahun Lama Pemakaian Space Maintainer < 1 tahun 1 – 2 tahun Kondisi Jaringan Gingiva Sehat Peradangan ringan Peradangan sedang Peradangan berat Total Jenis Space Maintainer Cekat Lepasan n(%) n(%) Total n(%) 5 (41. adapun yang letaknya unilateral kiri ada 9 orang dan unilateral kanan hanya sebanyak 3 orang.6%) 15 (55.7%) 7 (58. Usia. Berdasarkan kategori jaringan gingiva. Dari total keseluruhan pasien terdapat 8 orang (29. jenis space maintainer. Jenis Kelamin.2. dan lama pemakaian space maintainer berdasarkan jenis space maintainernya.5%) 5 (18.4%) 7 (25. yaitu sebanyak 15 orang (55. memperlihatkan distribusi jenis kelamin.7%) 11 (73.6%).cekat dan 15 sampel (55. jenis space maintainer.8%) 8 (29.3%) 14 (93.9%) 3 (11.6%) yang menggunakan space maintainer lepasan.3%) 3 (20%) 2 (13.3%) 9 (33. Distribusi jenis kelamin.7%) 22 (81. paling banyak sampel memiliki kondisi gingiva dengan peradangan sedang.6%) 4 (14.4%) 4 (26. Hasil 84 .5%) dari 27 sampel telah menggunakan space maintainer lebih dari satu tahun. usia. sementara 19 orang lainnya rutin menggunakan alat tersebut.3%) 18 (66.1%) 8 (66.3%) 4 (26.3%) 8 (53.

3%) 8 (66. Distribusi keluhan yang dialami sampel selama pemakaian space maintainer berdasarkan jenis space maintainernya. Berdasarkan usia. yaitu 33.3%) 2 (13.7%) 2 (13.3%) 12 (44.3% dari total sampel yang menggunakan lepasan.3%) 9 (60%) 4 (26. sampel paling banyak masih menggunakan space maintainer dibawah satu tahun.3.7%) 0 (0%) 6 (40%) 6 (40%) 3 (20%) 13 (48. baik cekat maupun lepasan.3% dari total sampel cekat. Terlihat pula pada tabel. sebaliknya jenis kelamin perempuan lebih banyak menggunakan space maintainer lepasan. sebanyak 75% dari total sampel atau 9 orang yang menggunakan alat cekat menderita peradangan gingiva derajat sedang.penelitian memperlihatkan bahwa jenis kelamin laki-laki lebih banyak menggunakan space maintainer cekat dibandingkan lepasan.3%) 14 (51.6%) 0 (0%) 7 (58. Selain itu. Adapun pada kelompok space maintainer lepasan. Tabel 5.1%) 85 .1%) 4 (33.9%) 10 (37%) 3 (11.1%) 2 (7. hanya 40% sampel yang menderita peradangan gingiva derajat sedang. Keluhan yang Dialami Selama Pemakaian Space Maintainer (SM) Rasa sakit atau ngilu saat mengunyah Tidak pernah Kadang-kadang Sering Gusi memerah / berdarah saat sikat gigi Tidak pernah Kadang-kadang Sering Gusi bengkak setelah menggunakan SM Tidak pernah Kadang-kadang Sering Kesulitan mengunyah saat menggunakan SM Tidak pernah Kadang-kadang Sering Jenis Space Maintainer Cekat Lepasan n(%) n(%) Total n(%) 5 (41.3%) 5 (41.7%) 0 (0%) 8 (53.4%) 13 (48.7%) 6 (50%) 1 (8. Tidak ada seorang pun sampel yang menderita peradangan derajat berat.7%) 3 (11. sampel paling banyak berusia 8 tahun yaitu 53.3%) 5 (33.4%) 3 (25%) 9 (75%) 0 (0%) 9 (60%) 6 (40%) 0 (0%) 12 (44. terlihat sampel yang menggunakan space maintainer cekat terbanyak adalah pada usia 8 dan 9 tahun.4%) 15 (55.1%) 11 (40. sedangkan pada alat lepasan.

7%) 0 (0%) 14 (93.6%) 9 (33.Mengunyah menggunakan sisi yang terdapat SM Tidak pernah Kadang-kadang Sering Makanan sering tersangkut pada alat SM Tidak pernah Kadang-kadang Sering Total 1 (8. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kelompok sampel yang menggunakan space maintainer lepasan lebih banyak yang tidak pernah mengeluhkan rasa sakit atau ngilu saat mengunyah dibandingkan yang menggunakan alat cekat.3%) 17 (63%) 1 (3.7%) 0 (0%) 12 (44.7%) 1 (3.7%) 15 (55.7%) 23 (85. sedangkan tidak ada seorang pun sampel pengguna alat cekat yang sering mengeluhkan keluhan 86 .7%) 27 (100%) Tabel 5.4%) 8 (53. sebanyak 60% dari total sampel yang menggunakan alat lepasan tidak pernah mengeluhkan rasa sakit atau ngilu saat mengunyah.3%) 9 (75%) 2 (16.3%) 6 (40%) 1 (6.3. Adapun keluhan kesulitan mengunyah saat menggunakan alat space maintainer paling banyak dikeluhkan pada kelompok yang menggunakan alat lepasan dibandingkan yang cekat.7% yang tidak pernah mengeluhkan keluhan tersebut. memperlihatkan distribusi keluhan yang dialami sampel selama pemakaian space maintainer berdasarkan jenis space maintainernya.1%) 1 (8. dimana kelompok sampel yang menggunakan space maintainer lepasan lebih banyak tidak pernah mengeluhkan keluhan-keluhan tersebut dibandingkan yang menggunakan space maintainer cekat. sedangkan pada space maintainer cekat jumlah sampel hanya mencapai 41.3%) 1 (6. Terlihat pada tabel.3%) 11 (91.2%) 3 (11. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 20% sampel pengguna alat lepasan yang sering mengeluhkan kesulitan mengunyah. Hal yang sejalan juga ditemukan pada keluhan gusi memerah / berdarah saat sikat gigi dan bengkak setelah menggunakan space maintainer.

6%) 10 (37%) 2 (7. Walaupun demikian.7%) 1 (8.7% sampel pengguna space maintainer cekat yang kadang-kadang mengeluhkan keluhan sulit mengunyah.9%) 10 (37%) 3 (11.3%) 9 (60%) 4 (26. Distribusi perawatan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan sampel selama pemakaian space maintainer berdasarkan jenis space maintainernya.4. terdapat 41. Tabel 5.7%) 6 (50%) 1 (8.7%) 6 (40%) 2 (13. Kedua keluhan ini lebih sedikit ditemukan pada kelompok yang menggunakan alat space maintainer cekat daripada space maintainer lepasan.4.1%) 27 (100%) Tabel 5.1%) 8 (66.2%) 3 (11. Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut Selama Pemakaian Space Maintainer (SM) Frekuensi menyikat gigi dalam sehari Satu kali Dua kali Tiga kali Menyikat daerah di sekitar SM Tidak pernah Kadang-kadang Sering Membersihkan karang gigi setelah pemakaian SM Tidak pernah Kadang-kadang Sering Kunjungan ke dokter gigi setelah pemakaian SM Tidak pernah Kadang-kadang Sering Total Jenis Space Maintainer Cekat Lepasan n(%) n(%) Total n(%) 3 (25%) 8 (66.3%) 5 (18. Hal yang sejalan ditemukan pada keluhan mengunyah menggunakan sisi yang terdapat alat space maintainer dan seringnya tersangkut makanan pada alat.2%) 16 (59. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa baik pada kelompok space maintainer cekat dan lepasan.3%) 3 (20%) 8 (53.7%) 3 (20%) 15 (55.7%) 13 (48.3%) 15 (55.3%) 7 (46.4%) 5 (33.7%) 4 (33.5%) 5 (41.3%) 4 (26.7%) 2 (13.3%) 0 (0%) 7 (46.4%) 6 (50%) 6 (50%) 0 (0%) 12 (44.7%) 6 (22.tersebut.3%) 14 (51.6%) 11 (40. keduanya memiliki jumlah sampel yang mayoritas 87 . menunjukkan distribusi perawatan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan sampel selama pemakaian space maintainer berdasarkan jenis space maintainernya.

Tabel 5.1%) 0 (0%) 4 (100%) 0 (0%) 0 (0%) 6 (75%) 2 (25%) 0 (0%) 13 (86.6%) 9 (33.7%) 23 (85.6%) 4 (26.7%) 1 (6.5%) 1 (12.5%) 2 (25%) 1 (12.7%) 27 (100%) 88 . Walaupun demikian.7%) 13 (48.3%) 17 (63%) 1 (3.4%) 13 (48.1%) 2 (7.3%) 7 (46.4%) 3 (75%) 1 (25%) 0 (0%) 2 (25%) 6 (75%) 0 (0%) 7 (46. 60% total sampel tidak pernah menyikat di daerah alat tersebut.3%) 0 (0%) 12 (44.7%) 8 (53.7%) 3 (11.7%) 1 (3.menyikat gigi dua kali sehari.2%) 3 (11.7%) 3 (20%) 14 (51.5. kedua kelompok memiliki jumlah sampel terbanyak yang kadang-kadang melakukan kunjungan ke dokter gigi.3%) 12 (44. hanya 50% sampel pada kelompok cekat yang kadang-kadang menyikat di daerah space maintainer dan pada kelompok alat lepasan.8%) 2 (25%) 5 (62.6%) 0 (0%) 1 (25%) 2 (50%) 1 (25%) 5 (62.3%) 0 (0%) 15 (55.5%) 8 (29.5%) 3 (37.5%) 7 (46.7%) 11 (73. Distribusi keluhan yang dialami sampel selama pemakaian space maintainer berdasarkan kondisi jaringan gingivanya Keluhan yang Dialami Selama Pemakaian Space Maintainer (SM) Rasa sakit atau ngilu saat mengunyah Tidak pernah Kadang-kadang Sering Gusi memerah / berdarah saat sikat gigi Tidak pernah Kadang-kadang Sering Gusi bengkak setelah menggunakan SM Tidak pernah Kadang-kadang Sering Kesulitan mengunyah saat menggunakan SM Tidak pernah Kadang-kadang Sering Mengunyah menggunakan sisi yang terdapat SM Tidak pernah Kadang-kadang Sering Makanan sering tersangkut pada alat SM Tidak pernah Kadang-kadang Sering Total Kondisi Peradangan Jaringan Gingiva Sehat Ringan Sedang n(%) n(%) n (%) Total n(%) 4 (100%) 0 (0%) 0 (0%) 5 (62. Namun.1%) 3 (75%) 1 (25%) 0 (0%) 4 (14.7%) 1 (6.1%) 4 (100%) 0 (0%) 0 (0%) 4 (50%) 4 (50%) 0 (0%) 4 (26.5%) 0 (0%) 5 (33.4%) 15 (55.7%) 7 (46.1%) 11 (40. Mayoritas sampel pada kedua kelompok alat juga tidak pernah membersihkan karang gigi setelah pemakaian space maintainer.7%) 9 (60%) 2 (13.9%) 10 (37%) 3 (11.

2%) 16 (59.5%) 4 (50%) 1 (12.3%) 14 (51. sampel yang sering mengeluhkan keluhan tersebut memiliki kondisi peradangan ringan.1%) 89 .Tabel 5. sampel dengan kondisi jaringan gingiva peradangan sedang.5%) 8 (53. Distribusi perawatan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan sampel selama pemakaian space maintainer berdasarkan kondisi peradangan jaringan gingiva Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut Selama Pemakaian Space Maintainer (SM) Frekuensi menyikat gigi dalam sehari Satu kali Dua kali Tiga kali Menyikat daerah di sekitar SM Tidak pernah Kadang-kadang Sering Kondisi Peradangan Jaringan Gingiva Sehat Ringan Sedang n(%) n(%) n(%) Total n(%) 0 (0%) 3 (75%) 1 (25%) 0 (0%) 4 (50%) 4 (50%) 6 (40%) 9 (60%) 0 (0%) 6 (22.6.5%) 3 (75%) 1 (25%) 0 (0%) 3 (37. Demikian pun dengan yang tidak pernah mengeluh gusinya memerah / berdarah saat sikat gigi. dari 12 orang. Sampel yang kadang-kadang mengeluhkan kesulitan mengunyah saat menggunakan space maintainer dan mengunyah menggunakan sisi yang terdapat alat memiliki kondisi peradangan gingiva mayoritas derajat sedang. sisanya tidak pernah mengeluh. Terdapat lima orang yang kondisi peradangannya ringan dan sedang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel yang tidak pernah mengeluh rasa sakit saat mengunyah ternyata tidak seluruhnya memiliki kondisi jaringan gingiva yang sehat. Adapun.3%) 2 (13.5. sebanyak 53. hanya empat sampel yang benar memiliki kondisi jaringan gingiva yang sehat.3%) 5 (18.3%) 5 (33.3% mengeluhkan kadang-kadang keluhan gusi bengkak setelah menggunakan space maintainer. Demikian pula dengan keluhan makanan sering tersangkut pada space maintainer.9%) 10 (37%) 3 (11. Tabel 5. memperlihatkan distribusi keluhan yang dialami sampel selama pemakaian space maintainer berdasarkan kondisi jaringan gingivanya.

Membersihkan karang gigi setelah pemakaian SM Tidak pernah Kadang-kadang Sering Kunjungan ke dokter gigi setelah pemakaian SM Tidak pernah Kadang-kadang Sering Total 2 (50%) 2 (50%) 0 (0%) 2 (25%) 4 (50%) 2 (25%) 11 (73. memperlihatkan distribusi perawatan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan sampel selama pemakaian space maintainer berdasarkan kondisi peradangan jaringan gingiva.3% sampel yang sering menyikat daerah di sekitar space maintainer yang mengalami peradangan sedang. Adapun kelompok sampel yang sering ke dokter gigi setelah pemakaian space maintainer hanya 6.1%) 27 (100%) Tabel 5. sampel yang tidak pernah menyikat di daerah sekitar space maintainer cenderung mengalami peradangan gingiva hingga derajat sedang dan hanya 13.3%) 4 (26.6.8%) 3 (37. sedangkan yang tidak pernah membersihkan karang gigi mengalami peradangan gingiva sedang hingga 73.3% dari total sampel.6%) 8 (53.6%) 11 (40.7%) 0 (0%) 15 (55. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sampel yang menyikat gigi tiga kali sehari tidak mengalami peradangan jaringan gingiva derajat sedang.3%) 6 (40%) 1 (6. Setelah pemakaian space maintainer.7%) 13 (48. sebaliknya sebanyak 53.5%) 8 (29.3% atau delapan orang dari 15 orang yang mengalami kondisi peradangan gingiva sedang tidak pernah melakukan kunjungan ke dokter gigi setelah pemakaian space maintainer.7% sampel yang mengalami kondisi peradangan gingiva derajat sedang. 90 . Selain itu.5%) 4 (50%) 1 (12.6%) 10 (37%) 2 (7.7%) 15 (55.1%) 3 (11. sampel yang sering membersihkan karang giginya tidak ada yang mengalami peradangan gingiva derajat sedang.4%) 0 (0%) 3 (75%) 1 (25%) 4 (14.

yaitu 1.3%) 18 (66.00 1.Tabel 5.33 ± 1.669 1.00.41 ± 0. di mana nilai GI tertinggi ditemukan pada usia 7 tahun dengan nilai 2. nilai GI kelompok sampel yang telah menggunakan space maintainernya 1 – 2 tahun lebih tinggi daripada kelompok sampel yang baru menggunakan space maintainernya kurang dari 1 tahun.00.44 pada perempuan dan 1.747 Tabel 5. Adapun.33 ± 0. Distribusi rata-rata nilai GI berdasarkan jenis kelamin.5%) 12 (44. Perlu diketahui bahwa semakin tinggi nilai GI menunjukkan bahwa semakin parah peradangan kondisi jaringan gingiva tersebut. yaitu sebesar 1.00 pada kelompok yang telah menggunakan selama 1 – 2 tahun.9%) 3 (11.27 ± 0. usia.00 1.00 ± 0. menunjukkan distribusi rata-rata nilai GI berdasarkan jenis kelamin. yaitu 1.15 22 (81. usia. Berdasarkan lama pemakaian space maintainer.866 1. terlihat pula nilai GI berdasarkan kategori usia. nilai GI terendah ditemukan pada usia 9 tahun.33 pada laki-laki.42 ± 0. dan lama pemakaian space maintainer.00 ± 0.00 ± 0.44 ± 0. Selain itu. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa nilai GI kelompok sampel perempuan lebih tinggi daripada kelompok sampel laki-laki.1%) 2.27 pada kelompok kurang dari 1 tahun pemakaian dan 2.7%) 1.7.5%) 5 (18.7. 91 . Usia.767 2. dan lama pemakaian space maintainer Jenis Kelamin.816 1.5%) 27 (100%) 1. Lama Pemakaian Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia 7 tahun 8 tahun 9 tahun 10 tahun Lama Pemakaian Space Maintainer < 1 tahun 1 – 2 tahun Total n (%) Nilai GI Mean ± SD 9 (33.705 5 (18.4%) 7 (25.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. p<0.617. Perbedaan keadaan jaringan periodonsium berdasarkan nilai gingival indeks (GI) antara pengguna space maintainer cekat dan lepasan Nilai GI Pemakaian Space Maintainer (SM) SM Cekat 1. Terlihat nilai GI pengguna space maintainer cekat mencapai 1.13 ± 0. menurut hasil penelitian.138.8.75 ± 0. Rentang nilai positif menunjukkan bahwa nilai GI pengguna space maintainer cekat lebih besar daripada lepasan. Hasil penelitian juga memperlihatkan rentang nilai 95% confidence interval (CI) yaitu sebesar 0.Tabel 5.095 . Hal ini menunjukkan bahwa keadaan jaringan periodonsium space maintainer cekat lebih buruk daripada pengguna space maintainer lepasan. significant Tabel 5.138. distribusi data tidak normal *Mann Whitney U test: p<0.8. memperlihatkan perbedaan keadaan jaringan periodonsium berdasarkan nilai gingival indeks (GI) antara pengguna space maintainer cekat dan lepasan.617 0. sedangkan space maintainer lepasan hanya 1.1.13.095 hingga 1.834a Mean ± SD Selisih (Mean Difference) 95% CI (Min – Max) p-value 0. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa nilai GI kelompok sampel yang menggunakan space maintainer cekat lebih tinggi daripada yang menggunakan space maintainer lepasan. maka kondisi peradangan jaringan gingiva semakin parah.75. rentang tersebut juga berarti bahwa bila pengukuran dilakukan pada populasi. akan terdapat selisih atau perbedaan antara pengguna space maintainer cekat dan lepasan sebesar 0. Selain itu.05. Terdapat selisih sebesar 0.041* a Uji normalitas data: Shapiro-Wilk test. semakin tinggi nilai GI.095 – 1. setiap saat nilai GI pengguna cekat akan lebih tinggi daripada lepasan dengan perbedaan nilai berkisar 92 .138 0.05.452a SM Lepasan 1. Dengan demikian.

yang berarti bahwa terdapat perbedaan keadaan jaringan periodonsium yang signifikan antara pengguna space maintainer cekat dan lepasan berdasarkan nilai GI.0.095 hingga 1. yang menunjukkan nilai p:0.05).041 (p<0. 93 . Mann Whitney U test. yaitu distribusi data tidak normal pada kedua kelompok data. Penelitian ini menggunakan uji non-parametrik karena syarat uji parametrik (independent sample t-test) tidak terpenuhi dalam penelitian ini.138. Hal ini juga didukung dengan hasil uji statistik.

sedangkan jumlah sampel yang paling sedikit berusia 10 tahun. letak space maintainer dan kondisi jaringan gingiva. usia. sedangkan yang menggunakan space maintainer lepasan sebanyak 15 orang (55.7%) yang sering melepas alat space maintainernya.3%).7%) dan laki-laki mencapai 9 orang (33. Dari observasi yang dilakukan. Dari total keseluruhan pasien terdapat 8 orang (29. Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin.4%).6%).4%). Secara keseluruhan.BAB VI PEMBAHASAN Tabel 5. Pada usia 8 tahun merupakan usia optimal pemasangan space maintainer pada anak karena pada usia ini kebanyakan terjadi premature lose dan sangat diindikasikan untuk mempertahankan lengkung ruang yang ada agar pergerakan gigi molar pertama permanen tidak bergerak ke mesial dan memperkecil ruang yang diperlukan untuk erupsi gigi premolar yang akan erupsi.1. jenis space maintainer. pasien yang sering 94 . rutinitas pemakaian space maintainer. Berdasarkan usia. lama penggunaan space maintainer. untuk itu pemasangan space maintainer harus dilaksanakan segera sebelum gigi premolar permanen erupsi. jumlah sampel yang paling banyak berusia 8 tahun.6 Dalam penelitian ini sampel yang menggunakan space maintainer cekat berjumlah 12 orang (44. jumlah sampel yang menggunakan space maintainer cekat dan lepasan berjumlah 27 orang dengan jumlah perempuan mencapai 18 orang (66. yaitu sejumlah 12 orang (44. sementara 19 orang lainnya rutin menggunakan alat tersebut.

apabila retensi dan stabilitas space maintainer dirasa kurang sebaiknya diberi perluasan sayap lingual dibagian posterior ke arah retromylohyoid sehingga dihasilkan retensi yang baik. jika terjadi hal seperti ini yang harus dilakukan yaitu meberi motivasi pada anak dan orangtuanya dan 95 . Sebaiknya ukuran diameter molar band harus seimbang dengan besarnya diameter gigi molar yang menjadi abutment. letak klamer retainer pada gigi yang dijadikan abutment harus pada posisi yang benar agar tidak terjadi rotasi. hal ini dilakukan untuk menghindari penggunaan dental cement berlebih yang lama kelamaan cenderung mudah larut dan mengakibatkan retensi menjadi tidak stabil.16 Alasan lain space maintainer jarang digunakan yaitu karena anak merasa tidak nyaman memakai space maintainer karena belum terbiasa dan cenderung malas menggunakan alat tersebut. perlu diperhatikan juga kondisi jaringan lunak dan tulang alveolar yang mendukung alat space maintainer saat berfungsi. yaitu band dan loop. dan tekanan kunyah bisa disalurkan secara merata ke seluruh area space maintainer agar tidak memberi tekanan berlebih pada jaringan dibawahnya.melepas alat space maintainernya mempunyai masalah terhadap kondisi alat space maintainer di dalam mulut. letak loop sebaiknya berada diatas sepertiga tengah band dan tidak menyentuh jaringan lunak. kemudian ujung dari loop harus bersandar dengan baik pada bagian distal gigi tetangga. Selain itu. sebaiknya dalam mendesain space maintainer perlu diperhatikan beberapa faktor. beberapa diantaranya yaitu alat yang tidak terpasang dengan baik pada posisinya sehingga terasa longgar saat mengunyah makanan. Pada space maintainer cekat. ada dua komponen yang perlu diperhatikan. Pada space maintainer lepasan sebaiknya perhatikan ketepatan kontak antara basis gigi tiruan dengan mukosa mulut. Selain itu.

6%).11 Berdasarkan letak. Berdasaarkan kategori jaringan gingiva. sedangkan sampel yang memiliki kondisi gingiva normal hanya 4 orang (14. Pada space maintainer lepasan. Pada space maintainer cekat sebaiknya ujung loop yang menempel pada band harus dipolis sebaik mungkin agar tidak ada permukaan klamer yang tajam. Selain itu perlu juga diberitahukan bahwa alat tersebut bisa saja mengalami penyusutan jika jarang digunakan. paling banyak sampel memiliki kondisi gingiva dengan peradangan sedang. Pada dasarnya peradangan gingiva 96 . kemudian yang mengalami peradangan ringan sebanyak 8 orang (29.6%). dimana ditemukan bahwa tidak hanya klamer retentif tetapi juga band yang dapat mempengaruhi kesehatan periodontal. hal ini terjadi karena kesalahan desain serta kesalahan saat pembuatan dan pemasangan alat. Untuk menghindari hal ini diperlukan ketelitian khusus pada proses polishing dan finishing. kemudian loop tidak boleh bersandar pada ruang kosong tempat erupsi gigi permanen. adapun yang letaknya unilateral kiri sebanyak 9 orang dan unilateral kanan hanya 3 orang.memberikan edukasi bahwa diperlukan penyesuaian terlebih dahulu agar kondisi jaringan dapat menyesuaikan diri dengan adanya space maintainer. Kasus lainnya yang menyebabkan anak tidak mau menggunakan space maintainer yaitu karena alat tersebut mengiritasi jaringan mukosa. space maintainer kebanyakan dalam posisi bilateral. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ristik dkk. yaitu sebanyak 15 orang (55. plat akrilik tidak boleh ada sudut yang tajam serta tidak boleh ada permukaan yang menonjol pada dasar basis agar tidak menekan jaringan.8%). yaitu terdapat peningkatan yang nyata baik pada parameter mikrobiologis maupun klinis pada waktu 3 bulan setelah pemasangan alat fungsional.

usia. jenis space maintainer. Faktor primer merupakan iritasi bakteri pada plak dan faktor sekunder terdiri dari faktor lokal dan faktor sistemik.menurut etiologi disebabkan oleh 2 faktor. 97 . dan hormonal.2. oral hygiene yang buruk. faktor iatrogenik atau kesalahan saat mendesain dan pemasangan alat. sebaliknya jenis kelamin perempuan lebih banyak menggunakan space maintainer lepasan (73. dan lama pemakaian space maintainer berdasarkan jenis space maintainernya. yaitu faktor primer dan faktor sekunder. Faktor lokal pada lingkungan gingiva merupakan predisposisi dari akumulasi deposit plak pada pemakaian alat space maintainer. sehingga pemberian space maintainer cekat lebih cocok pada anak lakilaki karena dipasang secara cekat dan tidak dapat diubah posisinya di dalam mulut. nutrisional. apakah unilateral atau bilateral. adanya perdarahan pada gusi karena kesalahan saat menyikat gigi. Adapun pertimbangan pemilihan space maintainer berdasarkan jenis kelamin berhubungan dengan tingkat kooperatif anak dalam menerima perawatan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa jenis kelamin laki-laki lebih banyak menggunakan space maintainer cekat dibandingkan lepasan. adanya karies.3%). maupun karena bad habbit seperti mendorong area alat space maintainer dengan lidah.12 Tabel 5. obat. tetapi dilihat dari kondisi kehilangan giginya.obatan. Pada kasus kehilangan gigi bilateral. Pemilihan jenis space maintainer tidak selamanya berkaitan dengan jenis kelamin. Distribusi jenis kelamin. perawatan space maintainer yang dianjurkan yaitu dengan space maintainer lepasan karena dapat mengakses dua regio sekaligus.laki cenderung susah untuk menerima instruksi yang diberikan dibandingkan anak perempuan. pada anak laki. Sedangkan faktor sistemik adalah faktor yang mempengaruhi tubuh secara keseluruhan meliputi genetik.

seperti menyikat gigi. sedangkan pada alat lepasan. interleukin 6 (IL-6) 98 . dan instruksi lainnya. membersihkan alat space maintainer.11 Hasil lain yang ditemukan yaitu sebanyak 75% dari total sampel atau 9 orang yang menggunakan alat cekat menderita peradangan gingiva derajat sedang.Pemilihan space maintainer lepasan lebih banyak dilakukan pada anak perempuan karena mereka dapat mendengar instruksi yang diberikan dengan baik dan dapat melaksanakan instruksi tersebut dengan rutin. Tidak ada seorang pun sampel yang menderita peradangan derajat berat.22 Berhubungan dengan peradangan gingiva yang terjadi. hanya 40% sampel yang menderita peradangan gingiva derajat sedang. namun resiko terjadinya peradangan masih lebih rendah dibandingkan pada pengguna cekat karena alat ini mudah dilepas dan mudah diakses untuk dibersihkan. Situasi ini menyebabkan perubahan pada ekosistem sub-gingiva. melepaskan alat sebelum tidur. hal ini juga dapat ditemukan pada pengguna space maintainer lepasan. Hasil ini sejalan dengan penelitian Naranjo dkk. yang mengatakan bahwa pemasangan band dan loop pada space maintainer cekat akan mengganggu lingkungan ekologis dengan adanya akumulasi biofilm pada daerah retentif. studi memperlihatkan bahwa pemasangan alat fungsional seperti space maintainer dapat meningkatkan jumlah plak yang menyebabkan hyperplasia gingiva dan terbentuknya pseudopocket. Terdapat perubahan yang nyata pada indeks plak dan gingival pada kelompok eksperimen penelitiannya yang memperlihatkan terjadinya peningkatan perdarahan dan inflamasi yang memperburuk kondisi periodontal. dan memudahkan terjadinya peningkatan level pathogen pada jaringan periodontal dengan mempercepat faktor virulensi yang menstimulasi sel untuk melepaskan beberapa tipe cytokine inflamasi seperti interleukin 1β (IL-1β).

7% yang tidak pernah mengeluhkan keluhan tersebut.27 Tabel 5. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kelompok sampel yang menggunakan space maintainer lepasan kebanyakan tidak pernah mengeluhkan rasa sakit atau ngilu saat mengunyah dibandingkan yang menggunakan alat cekat. sedangkan pada space maintainer cekat jumlah sampel hanya mencapai 41. sebanyak 60% dari total sampel yang menggunakan alat lepasan tidak pernah mengeluhkan rasa sakit atau ngilu saat mengunyah.22 99 . selain itu pada space maintainer lepasan menggunakan dukungan tooth dan tissue bone sehingga tekanan oklusal saat mengunyah tidak pada satu sisi saja melainkan disalurkan ke seluruh jaringan pendukung. hal ini dapat meminimalisir rasa sakit saat mengunyah. selain itu bisa dipengaruhi oleh kondisi jaringan pendukung yang sensitif. Pada pengguna space maintainer lepasan keluhan sakit pada saat mengunyah lebih sedikit ditemukan. memperlihatkan distribusi keluhan yang dialami sampel selama pemakaian space maintainer berdasarkan jenis space maintainernya. Keluhan rasa sakit pada saat mengunyah bisa terjadi akibat kesalahan letak maupun kesalahan desain dari space maintainer. Penempatan posisi band serta loop harus diposisi yang benar agar tercipta retensi dan stabilisasi yang baik sehingga saat proses mengunyah tidak menekan jaringan disekitarnya.3. hal ini berkaitan dengan desain dari space maintainer lepasan yang cenderung lebih simpel. Terlihat pada tabel.dan interleukin 8 (IL-8). begitu juga dengan sisi alat yang kasar harus dipolis dengan baik agar tidak mengiritasi. serta Tumor Growth Factor (TGF) yang mengatur reaksi inflamasi pada jaringan periodontal.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 20% sampel pengguna alat lepasan yang sering mengeluhkan kesulitan mengunyah. dimana kelompok sampel yang menggunakan space maintainer lepasan lebih banyak tidak pernah mengeluhkan keluhan-keluhan tersebut dibandingkan yang menggunakan space maintainer cekat. Keluhan ini pada 100 .5 Adapun keluhan kesulitan mengunyah saat menggunakan alat space maintainer paling banyak dikeluhkan pada kelompok yang menggunakan alat lepasan dibandingkan yang cekat. Plak gigi merupakan faktor resiko dari pathogenesis penyakit gingivitis dan periodontitis. terdapat 41.Hal yang sejalan juga ditemukan pada keluhan gusi memerah/ berdarah saat sikat gigi dan bengkak setelah menggunakan space maintainer. Daerah gigi yang tertutup oleh komponen cekat akan lebih sulit dibersihkan dibandingkan pada area space maintainer lepasan. Keluhan gusi memerah atau berdarah yang tinggi pada pengguna space maintainer cekat berkaitan dengan akumulasi plak pada komponen alat space maintainer yang menyebabkan destruksi jaringan periodontal. Walaupun demikian.7% sampel pengguna space maintainer cekat yang kadang-kadang mengeluhkan keluhan sulit mengunyah. selain itu beberapa pasien tidak terlalu mengetahui bagaimana menjaga standar kebersihan yang baik yang sebenarnya sangat berpengaruh terhadap keberhasilan perawatan. dan perkembangan penyakit periodontal tergantung dari keseimbangan antara biofilm mikroba. Penyikatan gigi yang benar sangat berpengaruh positif terhadap kesehatan gingiva. selain itu kontrol rutin ke dokter gigi diperlukan agar tindakan preventif seperti skeling dan pemberian topikal floride dapat dilakukan. dan reaksi inflamasi. sistem imun. sedangkan tidak ada seorang pun sampel pengguna alat cekat yang sering mengeluhkan keluhan tersebut.

baik cekat maupun lepasan diawal pemakaian.16 Hal yang sejalan ditemukan pada keluhan mengunyah menggunakan sisi yang terdapat alat space maintainer dan seringnya tersangkut makanan pada alat. sehingga bisa saja mengakibatkan akumulasi plak dan menyebabkan gingivitis. Keluhan seringnya makanan tersangkut pada alat space maintainer cekat maupun lepasan disebabkan karena bentuk dari kawat retensi yang mengakibatkan terjebaknya sisa makanan di sekitar alat tersebut. band. untuk itu ada baiknya pada awal penggunaan pasien harus mengkonsumsi makanan yang lunak sampai proses adaptasi berjalan baik. apalagi bila retainer tidak berada pada posisi yang tepat. dan loop dengan menggunakan sikat gigi khusus dengan bulu yang halus agar 101 . untuk itu dibutuhkan ketelitian seorang dokter dalam mendesain alat space maintainer agar tercipta retensi dan stabilisasi yang baik sehingga tidak mengganggu proses mastikasi dan artikulasi. untuk itu perlu dilakukan beberapa trik khusus pada pengguna space maintainer. diantaranya selalu bersihkan gigi setelah selesai makan terutama pada bagian disekitar basis. Kedua keluhan ini lebih sedikit ditemukan pada kelompok yang menggunakan alat space maintainer cekat daripada space maintainer lepasan.dasarnya sering dijumpai pada pengguna space maintainer. klamer. Pada dasarnya. Selain itu biasa terjadi luka di mulut dan radang gusi karena space maintainer menekan gusi. Alat space maintainer kadang bergeser sedikit ketika digunakan untuk mengunyah. pada pengguna space maintainer terutama tipe cekat mengalami penurunan tekanan kunyah sehingga sulit mengunyah makanan dengan tekstur padat dan mulut terasa penuh. selain itu pengguna alat space maintainer sulit menjangkau sisa makanan yang terjebak disekitar alat dengan menggunakan sikat gigi.

tidak mengganggu komponen alat. jika plak ini tidak dibersihkan maka akan meningkatkan kerentanan terhadap karies dan infeksi periodontal. namun hanya 50% sampel pada kelompok cekat yang kadang-kadang menyikat di daerah space maintainer dan pada kelompok alat lepasan 60% total sampel tidak pernah menyikat di sekitar area alat tersebut.kecil semua makanan yang masuk dan kunyah secara perlahan. aman. dan efektif dalam mengontrol plak. 102 . daging. Distribusi perawatan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan sampel selama pemakaian space maintainer berdasarkan jenis space maintainernya.4.4 Tabel 5. padahal tindakan skeling sangat diperlukan untuk mengangkat plak maupun kalkulus yang terperangkap dibagian subgingiva yang tidak dapat dijangkau oleh sikat gigi. kerupuk. serta makanan bertekstur keras lainnya.5 Selain itu. Menyikat gigi merupakan metode yang paling sederhana.6%) pada kedua kelompok pengguna space maintainer juga tidak pernah membersihkan karang gigi setelah pemakaian space maintainer. terutama pada bagian yang terdapat komponen alat karena umumnya makanan akan banyak tertahan disekitar komponen alat tersebut. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa baik pada kelompok space maintainer cekat dan lepasan. keduanya memiliki jumlah sampel yang mayoritas menyikat gigi dua kali sehari. Pada pengguna space maintainer disarankan untuk selalu menyikat gigi sehabis makan. selain itu iris kecil. seperti pada kawat klamer yang menjadi retensi maupun disekitar molar band. mayoritas sampel (56.lahan. Frekuensi dan ketepatan metode sikat gigi juga sangat berpengaruh. kemudian hindari memakan permen karet.

padahal tanda dari kerusakan jaringan sudah mulai nampak seperti gusi memerah bahkan berdarah. halitosis. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian dari American Academy of Periodontology yang mengungkapkan bahwa banyak kasus tahap awal dari penyakit gusi dan periodontal seringkali tanpa gejala rasa sakit. serta resesi gingiva. hanya empat sampel yang benar. dan sisanya tidak pernah mengeluhkan gusi bengkak. gusi sering bengkak. dari 12 orang yang tidak pernah mengeluhkan keluhan tersebut.Tabel 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel yang tidak pernah mengeluhkan rasa sakit saat mengunyah ternyata tidak seluruhnya memiliki kondisi jaringan gingiva yang sehat. banyak orang yang menderita penyakit periodontal tetapi mereka tidak menyadarinya. terdapat lima orang yang kondisi peradangannya ringan dan sedang. Demikian pula dengan yang tidak pernah mengeluh gusinya memerah/ berdarah saat sikat gigi.5. Kejadian seperti ini dinamakan silent desease dimana kebanyakan pasien tidak menyadari ketika mereka sedang mengalami permasalahan gusi atau periodontal.22 Hasil penelitian lainnya ditemukan sampel dengan kondisi jaringan gingiva peradangan sedang sebanyak 8 orang (53. Distribusi keluhan yang dialami sampel selama pemakaian space maintainer berdasarkan kondisi jaringan gingivanya. sedangkan yang kondisi jaringan gingivanya sehat hanya empat orang. Terdapat hubungan erat antara jumlah bakteri di dalam plak dengan besarnya potensi patologis plak tersebut dan juga antara kecepatan pembentukan plak yang terjadi pada alat space maintainer dengan peradangan 103 .benar memiliki kondisi jaringan gingiva yang sehat.3%) mengeluhkan kadang-kadang gusi bengkak setelah menggunakan space maintainer. Dari 14 orang yang tidak pernah mengeluhkan rasa sakit.

Distribusi perawatan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan sampel selama pemakaian space maintainer berdasarkan kondisi peradangan jaringan gingiva.kadang mengeluhkan keluhan tersebut memiliki kondisi peradangan sedang (73.3%). Bakteri di dalam plak dapat menyebabkan inflamasi pada gingiva karena adanya enzim yang mampu menghidrolisis komponen interseluler dari epitel gingiva dan jaringan ikat dibawahnya. kemudian endotoksin yang dihasilkan oleh bakteri tersebut merangsang terjadinya reaksi antigen-antibodi yang abnormal sebagai respon tubuh terhadap bakteri.5 Tabel 5. 11 orang sampel yang kadang.23 Sampel yang kadang-kadang mengeluhkan kesulitan mengunyah saat menggunakan space maintainer dan sampel yang mengunyah menggunakan sisi yang terdapat alat space maintainer memiliki kondisi peradangan gingiva mayoritas derajat sedang. Oleh karena itu dalam penelitian ini pasien yang kadang mengeluhkan makanan sering tersangkut pada alat space maintainer kebanyakan mengalami peradangan gingiva tingkat sedang.gingiva yang diakibatkannya. Selain 104 .6. Kebanyakan debris makanan akan bersih setelah 5-30 menit setelah makan oleh karena proses self cleansing saliva. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sampel yang menyikat gigi tiga kali sehari tidak mengalami peradangan jaringan gingiva derajat sedang. apalagi pada makanan yang lengket seperti roti. Demikian pula dengan keluhan makanan sering tersangkut pada space maintainer. Untuk itu selama perawatan space maintainer selalu ditekankan untuk mejaga oral hygiene sebaik mungkin agar reaksi inflamasi gingiva dapat dihindari. dan permen legit. namun pada pengguna space maintainer kebanyakan debris makanan akan terperangkap disekitar alat dan bisa menyebabkan peradangan. karamel.

3% dari total sampel. apabila masih terdapat peradangan maka diperlukan perawatan lebih lanjut pada jaringan periodonsium. sampel yang sering membersihkan karang giginya tidak ada yang mengalami peradangan gingiva derajat sedang.7% sampel yang mengalami kondisi peradangan gingiva derajat sedang. Hasil ini sejalan dengan laporan percobaan mengenai hubungan antara frekuensi penyikatan gigi dengan keadaan oral hygiene yang dilakukan oleh Loe dkk.23 Pada kelompok sampel yang sering ke dokter gigi setelah pemakaian space maintainer.3% sampel yang sering menyikat daerah di sekitar space maintainer yang mengalami peradangan sedang.5 Setelah pemakaian space maintainer. sedangkan yang tidak pernah membersihkan karang gigi mengalami peradangan gingiva sedang hingga 73. Perlu diketahui bahwa pencegahan utama terjadinya gingivitis adalah dengan menghilangkan faktor penyebabnya.itu. dan ternyata dengan frekuensi penyikatan gigi dua kali sehari gingival akan tetap sehat. yaitu dengan mengangkat plak atau kalkulus di bagian supragingival maupun subgingival. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa dengan melakukan kunjungan ke dokter gigi kondisi kerusakan jaringan 105 . sampel yang tidak pernah menyikat area di sekitar space maintainer cenderung mengalami peradangan gingiva hingga derajat sedang dan hanya 13. sebaliknya sebanyak 53. hanya 6. Dalam penelitian tersebut membuktikan bahwa timbulnya gingivitis mempunyai hubungan erat dengan umur plak. dievaluasi kembali apakah peradangan gingiva sudah membaik.3% atau delapan orang dari 15 orang yang mengalami kondisi peradangan gingiva sedang tidak pernah melakukan kunjungan ke dokter gigi setelah pemakaian space maintainer. Biasanya setelah satu minggu pasca pembersihan karang gigi.

0 peradangan gingiva sedang. dan apabila skor mencapai 2. Perlu diketahui bahwa semakin tinggi nilai GI menunjukkan bahwa semakin parah peradangan kondisi jaringan gingiva tersebut. Distribusi rata-rata nilai GI berdasarkan jenis kelamin. sedangkan pada skor 0. keadaan ini dapat menimbulkan jaringan gingiva yang mengubah respons terhadap produk.periodonsium karena pemakaian alat space maintainer dapat diminimalisir. Dari hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa nilai GI kelompok sampel perempuan lebih tinggi daripada kelompok sampel laki-laki.7.23 Tabel 5.33 pada laki-laki. usia. maupun instruksi berkumur dengan chlorhexidine untuk mencegah plak dan menghambat pembentukan bakteri. pembersihan karang gigi. Apabila skor indeks gingival 0 berarti keadaan gingiva tersebut normal. yaitu 1. berwarna merah terang.1-2. dan lama pemakaian space maintainer. dan terlihat adanya peningkatan eksudat gingiva dan mobilitas gigi. pada pengguna space maintainer terutama perempuan harus bisa menyingkirkan plak secara sempurna dan perlu tetap 106 . skor 1.0 menunjukkan peradangan ringan.1-3. mudah berdarah secara spontan. Dengan kontrol ke dokter gigi maka deteksi dini terhadap timbulnya penyakit pada jaringan dapat dilakukan segera seperti pemberian topikal fluoride.44 pada perempuan dan 1.produk plak yang terdapat pada alat space maintainer. Oleh karena itu.1-1. Pada masa pubertas insidensi gingivitis bisa mencapai puncaknya sehingga dapat menyebabkan inflamasi gingiva dan menjadi bengkak.0 menunjukkan hasil peradangan gingiva yang berat22. Hal ini berkaitan dengan perubahan hormon seksual yang berlangsung pada masa pubertas dimana lebih cepat dialami oleh perempuan. sensitif.

ditekankan untuk membersihkan sulcus gingiva sebagai kontrol terhadap penyakit
periodontal.28
Selain itu, terlihat pula nilai GI berdasarkan kategori usia, dimana nilai GI
tertinggi ditemukan pada usia 7 tahun dengan nilai 2.00. Adapun nilai GI terendah
ditemukan pada usia 9 tahun, yaitu sebesar 1.00. Pada dasarnya tingginya nilai GI
pada anak usia 7 tahun terjadi oleh karena beberapa faktor, yang paling umum yaitu
disebabkan oleh plak dan kalkulus. Gigi desidui yang mulai berlubang juga bisa
menyebabkan penimbunan plak dan menyebabkan gingivitis, karena itu gigi desidui
yang berlubang harus segara ditambal. Hal lain yang juga mengakibatkan tingginya
skor GI pada anak usia 7 tahun adalah adanya eruption gingivitis, yaitu peradangan
yang disebabkan oleh akumulasi plak disekitar gigi yang akan erupsi terutama pada
gigi geraham. Eruption gingivitis ini tidak memerlukan perawatan, cukup dengan
meningkatkan kebersihan mulut sehingga jaringan yang terinflamasi akan menjadi
normal dan diikuti dengan pertumbuhan gigi yang sempurna.22 Berdasarkan lama
pemakaian space maintainer, nilai GI kelompok sampel yang telah menggunakan
space maintainernya 1 – 2 tahun lebih tinggi daripada kelompok sampel yang baru
menggunakan space maintainernya kurang dari 1 tahun, yaitu 1.27 pada kelompok
kurang dari 1 tahun pemakaian dan 2.00 pada kelompok yang telah menggunakan
selama 1 – 2 tahun. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Departemen Ortodontik di Islamic International Dental Hospital, dalam penelitiannya
yang bertujuan untuk mengukur kesehatan periodontal pada 50 pasien yang
melakukan perawatan ortodontik mulai dari awal perawatan (pre-otho), 6 bulan
setelah dimulainya perawatan (intra-ortho), dan setelah akhir perawatan (18

107

bulan/post ortho). Hasil penelitian tersebut menunjukkan kerusakan penyakit
periodontal meningkat pada pasien mulai dari dimulainya perawatan ortodontik
hingga akhir perawatan, ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan
antara perjalanan penyakit periodontal dengan lamanya perawatan ortodontik. Untuk
mengantisipasi hal ini, selama perawatan space maintainer perlu dilakukan upaya
preventif agar tercipta oral hygiene yang baik. Program oral hygiene ini menjadi
tanggung jawab dokter gigi, pasien, serta orangtua pasien. Setiap dokter gigi ataupun
stafnya harus memotivasi dan bila perlu menginstruksikan kembali pasien untuk
melakukan perawatan kesehatan gigi di rumah.23
Tabel 5.8, Perbedaan kondisi jaringan periodonsium berdasarkan nilai gingival
indeks (GI) antara pengguna space maintainer cekat dan lepasan. Seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya, semakin tinggi nilai GI maka kondisi peradangan jaringan
gingiva semakin parah. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa nilai GI kelompok
sampel yang menggunakan space maintainer cekat lebih tinggi daripada yang
menggunakan space maintainer lepasan. Terlihat nilai GI pengguna space
maintainer cekat mencapai 1.75, sedangkan space maintainer lepasan hanya 1.13.
Terdapat selisih sebesar 0.617. Hal ini menunjukkan bahwa keadaan jaringan
periodonsium space maintainer cekat lebih buruk daripada pengguna space
maintainer lepasan. Tingginya skor gingival indeks pada pengguna space maintainer
cekat bisa saja terjadi karena rumitnya desain, serta terdiri dari banyak komponen
seperti molar band, crown, loop, shoe, dan archwire. Hal ini akan mempermudah
melekatnya plak lebih lama dan dapat meningkatkan resiko karies, gingivitis, dan
kemungkinan terjadinya penyakit periodontal. Adanya piranti space maintainer cekat

108

yang menempel pada gigi- gigi terutama pada gigi molar akan sulit untuk
dibersihkan sehingga cenderung terjadi penumpukan plak gigi disekitar komponen
alat, hal ini sangat berbeda dengan space maintainer lepasan, dimana pembersihan
gigi bisa dilakukan dengan mudah karena alat dapat dilepas terlebih dahulu. Space
maintainer cekat harus didesain sebaik mungkin agar tidak terjadi akumulasi plak
atau menghalangi proses pembersihan alatnya, salain itu pasien space maintainer
cekat harus giat dalam menjaga kebersihan mulutnya. Metode oral hygiene yang
tepat seharusnya diajarkan dan ditekankan pada pasien saat pemasangan space
maintainer, supaya dapat mencegah kemungkinan terjadinya gingivitis maupun
kelainan jaringan periodontal lainnya. Salah satu usaha pencegahan yang dapat
dilakukan dalam hubungan plak dan karies ialah kontrol plak. Diantara bermacammacam kontrol plak, metode yang paling sederhana, aman, dan efektif adalah
menyikat gigi. Pada pengguna space maintainer dianjurkan untuk memakai sikat gigi
khusus, sikat gigi khusus ini dipakai karena mampu membersihkan kotoran yang
menempel disela-sela gigi dan kawat yang tidak bisa dijangkau oleh sikat gigi biasa.5
Hasil penelitian juga memperlihatkan rentang nilai 95% confidence interval (CI)
yaitu sebesar 0.095 – 1.138. Rentang nilai positif menunjukkan bahwa nilai GI
pengguna space maintainer cekat lebih besar daripada lepasan. Selain itu, rentang
tersebut juga berarti bahwa bila pengukuran dilakukan pada populasi, akan terdapat
selisih atau perbedaan antara pengguna space maintainer cekat dan lepasan sebesar
0.095 hingga 1.138. Dengan demikian, menurut hasil penelitian setiap saat nilai GI
pengguna cekat akan lebih tinggi daripada lepasan dengan perbedaan nilai berkisar
0.095 hingga 1.138. Hal ini juga didukung dengan hasil uji statistik, Mann Whitney

109

Penelitian ini menggunakan uji non-parametrik karena syarat uji parametrik (independent sample t-test) tidak terpenuhi dalam penelitian ini.05). yang berarti bahwa terdapat perbedaan kondisi jaringan periodonsium yang signifikan antara pengguna space maintainer cekat dan lepasan berdasarkan nilai gingival indeks.U test. yang menunjukkan nilai p:0.041 (p<0. 110 . yaitu distribusi data tidak normal pada kedua kelompok data.

dapat disimpulkan: 1. yang berarti bahwa kondisi peradangan pada jaringan periodonsium masih ringan. serta seringnya makanan tersangkut kadang.1 Kesimpulan Dari pembahasan hasil penelitian. gusi bengkak. Keluhan seperti rasa sakit saat mengunyah. dan 4 orang dengan kondisi jaringan periodonsium yang sehat.kadang dikeluhkan oleh sebagian besar sampel space maintainer cekat. 2.13. peradangan ringan sebanyak 5 orang. gusi bengkak. Pengguna space maintainer lepasan dengan kondisi jaringan periodonsium peradangan sedang sebanyak 6 orang.rata nilai gingival indeks pada space maintainer lepasan sebesar 1. Rata. gusi berdarah.BAB VII PENUTUP 7. hal ini disebabkan karena desain alat yang simpel dan mudah dikontrol. serta keluhan makanan tersangkut pada alat space maintainer. Kebanyakan pengguna space maintainer ini jarang mengeluhkan keluhan seperti rasa sakit saat mengunyah makanan. Kondisi peradangan jaringan periodonsium pada tipe cekat sangat tinggi yaitu 9 orang dengan peradangan sedang. Keluhan ini disebabkan oleh desain yang rumit dari alat cekat serta banyaknya komponen alat yang mempermudah melekatnya plak lebih lama. gusi berdarah. Nilai rata-rata gingival indeks 111 . dan 3 orang dengan peradangan ringan.

Rentang nilai positif menunjukkan bahwa nilai GI pengguna space maintainer cekat lebih besar daripada lepasan dan hasilnya akan tetap sama bila dilakukan pada suatu populasi.tipe cekat sebesar 1.2 Saran Hal yang dapat penulis sarankan setelah melakukan penelitian ini yaitu: 1.0951. 3.05) yang berarti bahwa terdapat perbedaan keadaan jaringan periodonsium yang signifikan antara pengguna space maintainer cekat dan lepasan berdasarkan nilai gingival indeks.041 (p<0. Kedepannya perlu dilakukan penelitian sejenis dan lebih lanjut mengenai hubungan terjadinya kelainan jaringan periodonsium pada pengguna space 112 . Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih mempunyai keterbatasan.617. Hal ini juga didukung dengan hasil uji statistik Mann Whitney U Test yang menunjukkan nilai p:0.75 sedangkan space maintainer lepasan hanya 1. perbandingan jenis space maintainer dengan bentuk yang beraneka ragam.75. rentang nilai 95% convidence interval (CI) sebesar 0.138. nilai ini lebih tinggi dari pengguna lepasan dan menunjukkan keadaan jaringan periodonsium dengan peradangan sedang. Selain itu. Hasil penelitian memperlihatkan nilai gingival indeks kelompok sampel yang menggunakan space maintainer cekat lebih tinggi daripada yang menggunakan space maintainer lepasan.13. Terlihat nilai GI tipe cekat mencapai 1. Penulis mengharapkan pada penelitian selanjutnya dapat menggunakan variabel yang lebih luas. 2. 7. serta jumlah sampel yang lebih banyak agar hasil analisis dari penelitian yang didapatkan akan lebih akurat. Terdapat selisih sebesar 0.

serta rutin melakukan kunjungan ke dokter gigi agar kerusakan jaringan periodonsium pada saat menggunakan space maintainer dapat dihindari. 3. peralatan penelitian yang memiliki tingkat keakuratan dan ketelitian yang lebih tinggi. serta sampel yang lebih banyak sehingga efek negatif dari penggunaan space maintainer pada jaringan periodonsium dapat dicegah maupun diminimalisir keparahannya pada generasi berikutnya. melakukan kontrol plak seperti pembersihan karang gigi. Bagi pengguna space maintainer. sebaiknya selalu diberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan rongga mulut selama menggunakan space maintainer.maintainer dengan waktu pengamatan yang lebih lama. 113 . diantaranya dengan melakukan sikat gigi secara rutin terutama pada area disekitar alat.

32: 717-23 5.DAFTAR PUSTAKA 1. Anatomi gigi. Christou P. 39-45. Sebbar M. 415. Contemporary orthodontics 5 ed. Subekti A. Foster TD. 34-5. 2013. et al. The orthodontic periodontic interrelationship in integrated treatment challenges a systematic review. Bentahar Z. Peedikayil FC. 494-6 3. 2011. Laslami N. 38-42. 2013. 628. St Louis : Elsever Mosby. 635-42 13. Dean JA. 2007.28. Herijuliati E. 2015. Hal.2007. The use of crown (SSC) and loop as space maintainer in premature loss of mandibular second primary molar on children aged 5 years. Fields HW. 53-7. 2010. 2004. Intech open science journal. Topouzelis N. 82-5 8. 2009. 85-91. P. 429-33. Nasir N.Hal 4-8. 631-2. 1(4): 81-84 10. UK: Mosby. 99. Runkat J. Buku ajar ortodonsi ed 3. 196-7 6. 73-5. 2012: 189-191 114 . 12-3. P. Jakarta: EGC. Periodontal helath and orthodontics. Kuswandari S. Avery DR. Abidine Z. 2012. 313-5 7. 549-51. New Delhi: Jaypee Brothers. Putri MH. Texbook of orthodontics 2 ed. Ilmu pencegahan penyakit jaringan keras dan jaringan pendukung gigi. Clarice S. Horax S. P. Prosiding PIN IDGAI V. McDonald RE. Jakarta: EGC. The Indonesians journal of dental research. Management of premature loss of primary first molar case with simple fixed space maintainer. Hal. Singh G. 101. 2010. Proffit WR. Management of premature primary tooth loss in the child patient. Treatment planning in dentistry. Journal of oral rehabilitation. Sarver DM. Canada : Elsever. 26-30. Pemeliharaan ruangan dan bentuk lengkung akibat premature loss dengan space maintainer cekat. 8(1): 22-4 14.41-5. 155-8 12. 214-5 11. Eletronic journal of dentistry. Delayed tooth eruption. 195-200. Dentistry for the child and adolescent 8 ed. 425-7. P. Jakarta: EGC. Barsley RE. 2011: 491-2. 37: 113 4. Harshanur IW. Fithriyah RE. 2007. Journal dentofacial. 26-8. 679 9. Nurjana N. 41(8): 612-6 2. 226-8. CDA Journal.

2012. 13-20. Contemporary clinical dentistry journal. 2003. Pakistan Oral & Dental Journal. 34-8. 2012. 16-26. Takei H. P. Effect of orthodontic treatment on periodontal health. Nasir. Dental press journal of orthodontic. Jurnal kedokteran gigi mahasiswa. Christou P. Journal of orthodontics. 2005. Missouri : Saunders. Fedi PF. Munshi AK. 2011: Hal. Mealey B. 1-3. 2013. Clinical problem solving in orthodontics and pediatric dentistry. 4. nance appliance and transpalatal arch space maintainers: a three dimentional finite element analysis. Carranza’s clinical periodontology 11th ed. 2010. 8.12-3. 2004. Gkantidis N. 712-6 17. Topouzelis N. Sangani I. 22-8. Yuwono L. Pradopo S. Yeluri R. Jakarta: EGC. 31(1): 13-15 115 . Tal E. Rose L. 245-9 25. 23-7 28. Nuraini P. Pediatri dentistry journal.17(5): 191-2. 30-7. 2012. Jakarta : EGC. Patil PG. 161-62 21. 2012.15. Vernino AR. Newman M. surgery and implants. Fiber reinforced composite loop space maintainer: an alternative to the conventional band and loop. Silabus periodonti edisi 4.alat ortodonsi cekat : prinsip dan praktik. Dentistry journal. Evaluation of the deformation on the jaw bone due to a band and loop. Pilihan perawatan kehilangan prematur molar kedua sulung dengan distal shoe appliance. 2011. Cross D. Gingivitis pada anak dan pencegahannya. Costapinto RA. Welbury R. Adinda C. Susetyo B. 32-3. Hal. 6. Watt E. Nooman. Millett D. Journal of oral rehabilitation. 40 : 77-80 27. Prosiding PIN IDGAI V. Kupietzky A. Necrotizing ulcerative gingivitis and the orthodontic patient : a case series. St Louis : Elsevier Mosby. 220-1 24. Uddanwadiker R. 197-8 26. P. 1(3): 109-112 22. 2013. The transpalatal arch: an alternative to the nance appliance for space maintainer. Adnyasari SM. Klokkevold P. Gray JL. 3(3): 1-4 19. P. Araujo TM. 2013. Hal. London: Elsevier. Carranza F. 2012. 77-83 23. Periodontics medicine. Alat. 3(1): 26-8 18. 101(1): 2-3 16. Gingival esthetic : an orthodontic and periodontal approach. 383-4 20. 37: 379-81. Seixas MR. The orthodontic periodontic interrelationship in integrated treatment challenges : a systematic review. Astuti NP.

LAMPIRAN 116 .