Anda di halaman 1dari 33

MAKALH KAJIAN PUISI-BUNYI DALAM SAJAK

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Sastra merupakan cabang seni yang mengalami proses
pertumbuhan sejalan dengan perputaran waktu dan perkembangan
pikiran masyarakat. Demikian pula sastra Indonesia terus berkembang
sesuai dengan tuntutan zaman, karena sastra adalah produk
(sastrawan) yang lahir dengan fenomena-fenomena yang ada dalam
kehidupan masyarakat.
Salah satu jenis karya sastra adalah puisi. Puisi merupakan karya
sastra hasil perenungan seorang penyair atas suatu keadaan atau
peristiwa yang diamati, dihayati, atau dialaminya. Cetusan ide atau
hasil perenungan tersebut dikemas dalam bahasa yang padat dan
indah. Sebagai salah satu karya sastra, puisi mempunyai dunia
sendiri, yang dibangun oleh unsur-unsur yang memiliki perpaduan
seperti tema, irama dan rima, diksi atau pilihan kata, baris dan bait,
dan gaya bahasa, yang selanjutnya disebut dengan unsur intrinsik.
Karya sastra (puisi) selain menghibur dengan cara menyajikan
keindahan, juga memberikan suatu yang bermakna bagi kehidupan.
Puisi juga tidak pernah lepas dengan bahasa. Puisi menggunakan
bahasa dalam setiap sajak. Bahasa dalam sajak pada hakikatnya
adalah bunyi, yaitu bunyi yang dirangkai dengan menggunakan pola
tertentu. Jika sebuah sajak dibacakan maka pertama-tama yang
tertangkap oleh telinga kita sesungguhnya adalah rangkaian bunyi.
Hanya karena bunyi itu dirangkai dengan mengikuti konvensi bahasa,
maka bunyi itu sekaligus mengandung makna. Bunyi di dalam sajak
memegang peranan penting. Tanpa bunyi yang ditata secara serasi
dan apik, unsur kepuitisan di dalam sajak tidak mungkin dapat
dibangun. Dengan demikian, bunyi di dalam sajak memiliki peran
ganda. Jika di dalam prosa fiksi bunyi berperan menentukan makna
maka di dalam sajak bunyi tidak hanya sekedar menentukan makna
melainkan ikut menentukan nilai estetis sajak. Peran ganda unsur
bunyi di dalam sajak menempatkan bunyi pada kedudukan yang
penting. Bunyi begitu fungsional dan mendasar di dalam penciptaan
sajak. Sebelum samapai kepada unsur-unsur lain, maka lapis bunyi
berperan lebih dahulu. Jika unsur bunyi di dalam sajak tidak
dimanfaatkan secara baik oleh penyair, maka tidak dapat diharapkan
timbulnya suatu suasana dan pengaruh pada diri pembaca atau
penikmat sajak ketika berhadapan dengan sajak yang diciptakannya.

Dengan demikian, sugesti dalam diri pembaca dan penikmat sajak juga
tidak akan muncul.
Bunyi memang dapat menciptakan efek dan kesan. Bunyi mampu
memberikan penekanan, dan dapat pula menimbulkan suasana
tertentu. Mendengar bunyi jangkerik malam hari akan menimbulkan
efek semakin terasa sepinya malam, suatu keheningan. Mendengar
suara kicau burung yang bersahut-sahutan di pagi hari, akan
membangkitkan suasana riang, sedangkan mendengar suara lolongan
anjing di tengah malam akan menciptakan suasana mencekam yang
membangkitkan bulu roma. Bunyi-bunyi yang berasal dari hewan
tersebut secara konvensi bahasa manusia tidak dapat dipahami
maknanya, tetapi dari suasana yang diciptakan dapat dirasakan
kesannya. Dengan demikian, bunyi di samping sebagai hiasan yang
dapat membangkitkan keindahan dan kepuitisan, juga ikut berperan
membentuk suasana yang mempertajam makna. Bunyi sekaligus
menimbulkan daya saran yang efektif dan memancing sugestif.
Bunyi erat hubungannya dengan unsur musikalitas. Bunyi vokal
dan konsonan jika dirangkai dan disusun sedemikian rupa akan mampu
menimbulkan bunyi yang menarik dan berirama. Bunyi berirama ini
menimbulkan tekanan tempo dan dinamik tertentu seperti layaknya
bunyi musik dan melodi.
Raoul schrott adalah seorang penyair berpandangan luas di
jajaran penyair muda Austria. Ia menangani berbagai bidang
diantaranya sebagai penyair, ahli puisi, penterjemah, penyunting dan
penerbit, serta peneliti gerakan dadaisme. Karya-karyanya dianggap
mengagetkan, menguatkan kesadaran, penghayatan dan menuntun
kita ke derajat keakraban dari keberadaan benda-benda. Raoul
schrott membuat benda-benda mampu berbicara. Lebih dari itu, puisi
tak sanggup melakukannya.
Dalam kaitannya dengan pembelajaran sastra di sekolah,
penelitian ini mengenai bunyi di dalam sajak puisi dengan standar
kompetensi menganalisis puisi. Dengan demikian, pembelajaran
diharapkan dapat memberikan siswa pengetahuan yang luas dan
memiliki sikap positif terhadap karya sastra pada umumnya dan puisi
pada khususnya. Serta dapat membantu siswa dalam memahami lebih
dalam tentang analisis bunyi di dalam sajak puisi.
1.2

Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang, maka yang menjadi masalah dalam
penelitian ini adalah bagaimanakah bunyi di dalam sajak dalam
kumpulan puisi karya Raoul Schrott ?
1.3

Tujuan penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bunyi di dalam
sajak dalam kumpulan puisi karya Raoul Schrott.

1.4

Manfaat

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Sumbangan pemikiran dalam peningkatan pengajaran sastra pada
umumnya dan puisi pada khususnya.
2. Bahan acuan bagi peneliti selanjutnya yang bermaksud mengadakan
penelitian yang lebih luas dan mendalam tentang sastra pada
umumnya dan puisi pada khususnya.
3. Memberi gambaran bahwa analisis bunyi di dalam sajak puisi
merupakan sesuatu yang bermanfaat di mana kita dapat mengetahui
kelebihan dan kekurangan, serta kepuitisan sebuah puisi.

BAB II
KAJIAN TEORI
2.1

Pengertian Sastra

Merumuskan pengertian sastra secara sempurna tidak semudah
merumuskan ilmu eksakta, namun demikian untuk mempelajari suatu
cabang ilmu pengetahuan secara teliti orang selalu berusaha
menemukan defenisi guna mengetahui pembahasan tentang
permasalahan ilmu yang bersangkutan (Lakota, 2003:9).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sastra atau kesusastraan
adalah hasil karya manusia berupa pengolahan bahasa yang indah,
berbentuk lisan atau tulisan. Jadi, karya seseorang dapat dianggap
sebagai hasil sastra jika memiliki bahasa yang indah dan menimbulkan
kesan yang mendalam.
Zulfahnur, dkk. (1996:2), mengemukakan bahwa sastra sebagai
cabang dari seni, yang keduanya mengandung unsur integral dan
kebudayaan, usianya sudah cukup tua.
Kehadirannya hampir
bersamaan dengan adanya manusia, karena ia diciptakan dan
dinikmati manusia. Sastra telah menjadi bagian dari pengalaman
hidupnya maupun aspek penciptaannya, yang mengekspresikan
pengalaman batinnya ke dalam karya sastra.
Di dalam karya sastra dilukiskan keadaan dan kehidupan sosial
atau masyarakat, peristiwa-peristiwa, ide dan gagasan, dan lain-lain,

Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sastra adalah hasil karya seni manusia yang berupa pengolahan bahasa yang indah dan berkaitan dengan unsur kebudayan yang bersifat integral. Sehingga. puisi tetap berpijak pada kenyataan sosial dan politik. meskipun menggunakan daya ilusi dan imajinasi sebagai kekuatan penciptaannya. Sastra tidak hanya diapresiasikan masyarakat untuk memperhalus budi dan memperkaya spiritual serta hiburan. yaitu perasaan yang direkakan.yang diamanatkan lewat pencipta. Puisi diartikan ‘membuat dan pembuatan’. Seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna yang menggambarkan gagasan pelukisnya. Dari berbagai pendapat di atas. atau poeisis. Sastra mempersoalkan manusia dalam berbagai aspek kehidupannya.2 Pengertian Puisi Secara etimologi. kebudayaan dan zaman. dan tokoh cerita. Puisi menggunakan daya ilusi dan imajinasi untuk mengungkapakan kenyataan yang terjadi dalam masyarakat. yang artinya pembuatan dan dalam bahasa Inggris poem atau poetry. poeima yang artinya membuat. kata puisi berasal dari bahasa Yunani. Dunia itu mungkin berisi pesan atau suasana-suasana tertentu. sehingga karya sastra berguna untuk mengenal manusia. Pengongkretan intuisi melalui kata-kata itu dilakukan dengan prinsip seefisien dan seefektif mungkin. Pada zaman modern ini kedudukan sastra semakin penting. melainkan juga telah masuk ke dalam kurikulum sekolah sebagai pengetahuan budaya. baik fisik maupun nonfisik. puisi merupakan salah satu sarananya. . 2. Perasaan dan pikiran penyair yang masih abstrak dikonkretkan. karena lewat puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan dunia sendiri. 2012:3) puisi merupakan bentu karya sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaiannya untuk membuahkan ilusi dan imajinasi. Untuk mengonkretkan peristiwa-peristiwa yang telah direkam di dalam pikiran dan perasaan penyair. Ilusi dan imajinasi yang membangun puisi merupakan kenyataan. Menurut Caulay (dalam Samsuddin. Menurut Samsuddin (2012:5) puisi merupakan pernyataan perasaan yang imajinatif. Fakta sosial dan politik yang terjadi dalam kurun waktu dan budaya tertentu. dapat ditarik kesimpulan bahwa puisi merupakan ungkapan jiwa dan pikiran manusia dengan menggunakan kata-kata yang indah dan kaya akan makna.

Kesan ini tercermin dari keseluruhan sajak dan tertangkap dari keseluruhan sajak melalui suasana yang melingkupinya. Menurut Semi (dalam Samsuddin. Metrum adalah irama yang tetap. 2. sedangkan ritme adalah irama yang disebabkan pertentangan-pertentangan atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur. irama terbagi dua. Secara teoritis. asonansi. 2. masalah irama belum ada yang tahan uji di dalam bahasa Indonesia.3. /p/. Karena menggambarkan perasaan yang demikian. tapi tidak merupakan jumlah suku kata yang tetap dan hanya menjadi gema dendang penyair.1 Irama Membicarakan masalah irama. /s/. Kakafoni adalah pemanfaatan bunyi sedemikian rupa sehingga bunyi yang dirangkaikan di dalam sajak menimbulkan kesan yang cerah serta sebaliknya. Berbeda dengan bahasa Inggris yang mempunyai tekanan pada bagian-bagian suku katanya. terpola. bahkan yang memuakkan.3 Bentuk-bentuk Bunyi dalam Sajak Bentuk-bentuk yang membangun bunyi dalam sajak meliputi irama. kakafoni. menimbulkan variasi bunyi. dapat disimpulkan bahawa irama merupakan bunyi atau suara yang teratur dalam setia baris sajak yang dibentuk oleh pergantian tekanan panjang pendek.3. tetapi lebih dari itu irama merupakan bunyi yang teratur. 2012:28). kesan buram timbul karena bunyi yang dirangkaikan berasal dari konsonan tak bersuara seperti /k/. 2012:28). 2012:28). terpola menurut pola tertentu. onomatope. meskipun irama erat hubungannya dengan musik. efoni. aliterasi.2 Kakafoni Menurut Samsuddin (2012: 34). akibatnya yang muncul adalah kesan . irama tidak identik dengan bunyi itu sendiri. 2012:28). yaitu ritme danmetrum. Hal ini disebabkan karena bahasa Indonesia tidak mempunyai aturan dalam persoalan tekanan kata. Irama bukan hanya sekedar bunyi belaka. pada hakikatnya membicarakan permasalahan musik juga. gelisah. kuat lemah dan tinggi rendahnya suara. Dari berbagai pendapat di atas. Manurut Teuw (dalam Samsuddin. Soalanya. sehingga dapat menimbulkan suasana (Samsuddin. /t/.2. dan epifora (Samsuddin. anaphora. suatu kesan keburaman. Penggunaan bunyi konsonan tersebut menciptakan perasaan jiwa yang tertekan.

maka “klenenng genta”. adalah onomatope. “desau angin”. erat hubungannya dengan suasana yang tidak menyenangkan dan untuk menciptakan suasana yang buram.3 Efoni Pemanfaatan unsur bunyi mampu menghasilkan kesan keburaman. Pemanfaatan unsur bunyi yang memunculkan efek semacam hal ini disebut dengan istilah kakafoni (ca-caphony). “cicit”. atau orang. Kesan suasana cerah muncul karena bunyi-bunyi yang dirangkaikan berasal dari bunyi vokal serta konsonan bersuara. “kotek”. “gemercik air pancuran”.3. “kukuruyuk”.suasana buram. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kakafoni adalah bunyi yang muncul karena permainan bunyi konsonan tak bersuara. 2. atau “auuumm”. 2. “ngiaau”. yaitu kesan suasana cerah. sering ditemukan di dalam sajak. dapat disimpulkan bahwa efoni adalah bunyi yang muncul karena permainan bunyi vokal dan konsonan bersuara. Penggunaan tiruan bunyi seperti hal di atas. Penggunaan tiruan bunyi dimaksudkan untuk mengkonkretkan suasana menjadi lebih lugas. gerak. Kebalikan dari keburaman. Kesan yang membangkitkan kegembiraan dan rasa riang serta aman. Istilah onomatope menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman. Terasa bentuk kedua lebih mengundang imaji daripada bentuk pertama. Bandingkan kata “ngeri” dengan “lolong anjing di malam buta”. Terkadang tiruan bunyi di dalam sebuah sajak lebih mengena dalam menggambarkan sesuatu dibanding kata itu sendiri.3. “derap langkah kuda”. 1984: 54) adalah penggunaan kata yang mirip dengan bunyi atau suara yang dihasilkan oleh barang. . Kesan ini juga dapat dihadirkan dengan memanfaatakn bunyi sengau yang dirangkai sedemikian rupa.4 Onomatope Salah satu pemanfaatan unsur bunyi yang cukup dominan di dalam sajak adalah onomatope. erat hubungannya dengan suasana yang menyenangkan dan berhubungan dengan kebahagiaan. Bunyi sengau tersebut ditata sehingga menimbulkan kesan merdu dan enak didengar. Unsur bunyi juga dapat dipergunakan untuk memunculkan kesan suasana sebaliknya. Istilah lain dari onomatope ini adalah tiruan bunyi. Seperti diungkapkan di atas. Dari penjelasan tersebut. peniruan bunyi itu dapat dilakukan atau dihasilkan oleh barang.

Pengulangan bunyi itu berupa pengulangan bunyi yang sama.7 Anafora dan Epifora Satu lagi cara memanfaatkan bunyi di dalam sajak guna menimbulkan unsur kepuitisan disebut anafora dan epifora. pada asonansi pun tidak semua pengulangan bunyi vokal dapat disebut juga asonansi. Sebagaimana pada aliterasi.Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa onomatope adalah bunyi yang muncul karena tiruan suara.6 Asonansi Asonansi merupakan pemanfaatan unsur bunyi vokal secara berulang-ulang dalam satu baris sajak. Membawa apda suatu keadaan berkontemplasi.5 Aliterasi Pemanfaatan bunyi dengan cara lain dapat pula dilakukan.3.3. sedangkan yang disebut epifora adalah pengulangan bunyi dalam bentuk kata yang sama pada akhir larik-larik sajak.3. 2. Cara yang dipergunakan untuk teknik anafora dan epifora ini adalah dengan menggunakan unsur bunyi yang berulang-ulang dalam bentuk kata atau bentukan linguistik pada awal atau akhir tiap-tiap larik (baris) sajak. Efek yang diharapkan muncul dari pemanfaatan bunyi vokal secara berulang ini adalah kemerduan bunyi. Pengulangan bunyi dalam bentuk kata yang sama pada awal larik disebut anafora. 2. Pengulangan bunyi yang dapat dikategorikan pada bunyi aliterasi adalah pengulangan bunyi secara dominan. dapat menimbulkan kesan sugestif pada sebuah sajak. Hanya pengulangan bunyi yang sama secara dominan (di dalam sajak) yang dapat dikategorikan sebagai asonansi. Pengulangan bunyi konsonan yang sama disebut aliterasi. Karena ada persamaan bentukan yang diulang. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa asonansi adalah bunyi yang muncul karena pengulangan bunyi vokal yang sama dan dominan dalam satu baris sajak. Kesan sugestif ini diharapkan dapat membujuk pembaca untuk melebur dengan sajak yang sedang dinikmati. yaitu dengan cara mengulang pemakaian bunyi. . Halnya sama dengan aliterasi. hanya pengulangan di sini merupakan pengulangan bunyi-bunyi vokal. Pengulangan kata yang sama. 2. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa aliterasi adalah bunyi yang muncul karena pengulangan bunyi konsonan yang sama dan dominan dalam satu baris sajak. sehingga menimbulkan perulangan bunyi yang sama beberapa kali. maka sekaligus pengulangan itu menyangkut pengulangan bunyi yang sama.

Dunia sebuah sajak. Penggunaan itu mungkin terpisah-pisah. unsur bunyi diramu dan ditata oleh para penyair di dalam mengantarkan pembaca menemukan sebuah dunia. Metode deskriptif diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diteliti dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian dalam hal ini bunyi di dalam sajak. 3. sedangkan yang disebut epifora adalah pengulangan bunyi dalam bentuk kata yang sama pada akhir larik-larik sajak. mungkin pula dipergunakan secara bersamaan pada sebuah sajak. Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa anafora adalah pengulangan bunyi dalam bentuk kata yang sama pada awal larik.Cara memanfaatkan bunyi di dalam sajak cukup bervariasi. Tidak tertutup kemungkinan seorang penyair menggunakan semua sarana pemanfaatan unsur bunyi itu sekaligus. yakni sumber data dari pustaka dengan jalan mengadakan studi lewat bahan bacaan yang relevan serta mendukung penelitian ini. 3.4 Data dan Sumber Data Data dalam penelitian ini adalah data tertulis berupa puisi yang berhubungan dengan bunyi di dalam sajak yang terdapat dalam . sehingga bunyi yang dihasilkan serta merta menggoda telinga. Caracara seperti telah diuraikan di atas dapat dipergunakan oleh penyair. Sebuah dunia yang dapat memberikan kepuasan dan kenikmatan batin bagi para penikmat sajak.1 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. karena bunyi yang menarik untuk disimak lebih jauh. Hal yang dapat disimpulkan.2 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Untuk memanfaatkan unsur bunyi ini diperlukan kecermatan serta keahlian penyair. BAB III METODE PENELITIAN 3.

3. Menyusun laporan hasil penelitian. pendekatan objektif adalah pendekatan yang membatasi diri pada penelaahan karya sastra itu sendiri. aliterasi.5 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik baca dan catat. aliterasi. kakafoni. Data dikelompokan atau diklasifikasi berdasarkan masalah penelitian. Mendeskripsikan bunyi di dalam sajak (irama. Membuat kesimpulan tentang bunyi di dalam sajak (irama. kemudian dianalisis berdasarkan masalah penelitian. aliterasi. 3. asonansi. asonansi. Menurut wahid (dalam Saupa. terlepas dari soal pembaca dan pengarang. kakafoni. asonansi. yaitu berdasarkan bunyi di dalam sajak (irama. Adapun pendekatan karya sastra secara objektif yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah mengacu dalam diri karya sastra yaitu bunyi di dalam sajak. kemudian data diklasifikasikan. asonansi. Menganalisis bunyi di dalam sajak (irama. 3. Sumber data dalam penelitian ini adalah kumpulan puisi karya Raoul Schrott. 2012:28). tekknik anlisis data adalah sebagai berikut : 1. aliterasi. Data dikumpulkan dengan cara membaca keseluruhan karya sastra (puisi) kemudian mencatat bagian-bagian yang perlu diteliti. 5. . anafora dan epifora). efoni. kakafoni. onomatope. 4. Secara rinci. onomatope. Setelah data terkumpul secara keseluruhan.kumpulan puisi karya Raoul Schrott. kakafoni. Artinya karya sastra (puisi) dianalisis berdasarkan strukturnya yang otonom. 6. anafora dan epifora). onomatope. efoni. anafora dan epifora). onomatope. efoni. efoni. anafora dan epifora).6 Teknik Analisis Data Data penelitian ini dianalisis berdasarkan pendekatan objektif. 2. Menyusun hasil analisis atau hasil penelitian.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. mereka menguliti langit menjadi lapisan bagaikan apel 1996 Korollarien II serigala adalah sepotong bara yang dihembuskan sang angin melalui gandum ke dalam musim kemarau Korollarien III bulan legam Puisi di dalam .1 Hasil Penelitian Data hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut : Korollarien I gerak spiral burung-burung Sperling dengan tepi sayapnya.

bibirmu bikin tegang aroma kayu lembab dan pada sunyi itulah kemejaku terkulai di bahu kiri . hijau yang tertelan sepenuhnya . bersama angin lengkung sayap biruhitam menutup dan membuka cahaya bumi . di lantai beranda malam membeku bagai serangga yang bertopang pada kaki-kakinya hanya sungutnya saja yang bergetar . kita santap buah jeruk dalam kegelapan Sebuah Cerita Tentang Tulisan III di mana sungai mengalir melalui lempengan karang menggumpalkan putih gelembung ke dalam busa warna oker . jurai rambut terkulai di tengkuk mata bagai bayang dedaunan eucalyptus yang luruh pada sebuah kursi di tembok sana dan kening menyala di kedua tangan . sang pagi seolah tiba melalui puncak bukit menjauh dan tak bisa dicegah pada merah kesumba . dan kepalamu terlahir dari kegelapan dipukul tangan mungil perkasa .* serak bulbul pada rak kicaunya pengacau Lahir Senja batu pualam sang awan . dan tak lagi ada yang menyentuhnya kini . empat jari terentang hingga di cakrawala tergolek selapis senja .

langit melantunkan kehausannya ia bersabda kalimat demi kalimat dan lading garapan para petani mematuhi diktum ini : lapar mengolah bahasanya sendiri agar panen pertama bisa tuntas dituai hutan harus dibumihanguskan api selangkah lagi dari jalan dan aliran anak-anak sungai melubangi tanah garapan ke dalam kehitaman . 4.2 Pembahasan Korollarien I gerak spiral burung-burung Sperling dengan . memanggang padang rumput berlempung menggumpal dari laterit api memulasi akar rumput merah membata membilas tepian pantai larut ke laut hingga pecahan gerabah yang terbakar hujan mencatat dengan bahasa sanskritnya dan dalam ketakberaturan rima sang angin membalas dengan satu baris saja agar yang lain bangkit dari abu : longsoran tanah merah bumi . panasanya merambah wilayah mereka . lidah-lidah awan melengkung pada langit-langit jurang dan menjilati bonggol-bonggol pepohonan . dari ketinggian mudah dikenali huruf-huruf kasar itu bagaikan rajah pada telapak tangan. biru sepotong mangga terkunyah bunga-bunga api .saat air berada tepat di pojok ladang menghalau pepadian ke dalam asap yang berpindah dan semak belukar yang terbakar pada siang ahri datanglah sang prahara melepuh pada pokok-pokok eucalyptus .

Ketiga huruf konsonan ini masingmasing berjumlah lima. juga mengandung makna yang berhubungan dengan suasana yang menyenangkan. Dan pada larik “lapisan bagaikan . mereka menguliti langit menjadi lapisan bagaikan apel  Irama Seluruh sajak diatas mempunyai irama.  Aliterasi Aliterasi yang terdapat pada larik “gerak spiral burung-burung Sperling dengan” adalah /g/.  Efoni Semua larik dalam puisi tersebut termasuk bunyi efoni. mereka menguliti langit menjadi”. sedangkan dilihat dari maknanya. karena pada hakikatnya semua puisi tidak pernah lepas dari irama setelah puisi itu dibacakan. Pada larik “tepi sayapnya.  Kakafoni Bunyi kakafoni pada puisi tersebut secara teoritis tidak ditemukan. Bunyi /n/ lebih dominan dan berjumlah empat. /p/. /n/.tepi sayapnya. Sedangkan pada larik “lapisan bagaikan apel”. Bunyi /u/ lebih dominan dan berjumlah empat. /r/. Ketiga bunyi ini lebih dominan dan masing-masing berjumlah tiga. mereka menguliti langit menjadi”.  Onomatope Dalam puisi tersebut tidak ditemukan bunyi onomatope. baik yang dihasilkan oleh benda. /s/. /n/. /p/. gerak. manusia. Pada larik “tepi sayapnya.  Asonansi Bunyi asonansi yang terdapat pada larik “gerak spiral burungburung Sperling dengan” adalah /u/. yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/. yang termasuk aliterasi adalah /l/. juga tidak ditemukan bunyi kakafoni karena dalam puisi tersebut juga tidak ditemukan makna yang berhubungan dengan suasana yang tidak menyenangkan atau suasana yang buram. /t/. maupun makhluk lain. karena tak ada bunyi yang berakhir dengan huruf konsonan tak bersuara seperti /k/. karena selain berakhir dengan konsonan bersuara. Bunyi /a/ lebih dominan dan berjumlah empat. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /n/. karena tidak terdapat bunyi tiruan suara.

/p/. . yang termasuk bunyi kakafoni yaitu “ke dalam musim kemarau”.  Kakafoni Bunyi kakafoni pada puisi tersebut secara teoritis tidak ditemukan. yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/. /t/. juga mengandung makna yang yang berhubungan dengan suasana yang menyenangkan. dan “serigala adalah sepotong bara yang”. dan “serigala adalah sepotong bara yang”. /s/. Sedangkan jika dilihat dari maknanya.  Efoni Secara teoritis semua larik dalam puisi tersebut termasuk bunyi efoni. karena pada hakikatnya semua puisi tidak pernah lepas dari irama setelah puisi itu dibacakan. Korollarien II serigala adalah sepotong bara yang dihembuskan sang angin melalui gandum ke dalam musim kemarau  Irama Seluruh sajak diatas mempunyai irama. karena tak ada bunyi yang dominan berakhir dengan huruf konsonan tak bersuara seperti /k/.apel”. karena selain berakhir dengan konsonan bersuara. dominan dan berjumlah enam. maknanya bukan termasuk bunyi efoni. kecuali pada larik “ke dalam musim kemarau”. karena dalam larik tersebut ditemukan makna yang berhubungan dengan suasana yang tidak menyenangkan atau suasana yang buram.  Bunyi /a/ ini lebih Anafora dan Epifora Dalam puisi tersebut tidak ditemukan anafora maupun epifora karena tidak ada pengulangan bunyi dalam bentuk kata yang terletak di awal maupun akhir sajak.

yang termasuk asonansiadalah /a/. karena tidak terdapat bunyi tiruan suara. Korollarien III bulan legam Puisi di dalam * serak .  Aliterasi Aliterasi yang terdapat pada larik “serigala adalah sepotong bara yang” adalah /g/. bunyi /a/ lebih dominan dan berjumlah delapan.  Asonansi Asonansi yang terdapat pada larik “serigala adalah sepotong bara yang” adalah /a/. maupun makhluk lain. Pada larik “dihembuskan sang angin melalui gandum”. gerak. Sedangkan pada larik “ke dalam musim kemarau”. yang termasuk aliterasi adalah /m/. Bunyi /a/ lebih dominan dan berjumlah lima. Sedangkan pada larik “ke dalam musim kemarau”. Bunyi /n/ lebih dominan dan berjumlah lima. Pada larik “dihembuskan sang angin melalui gandum”. bunyi /g/ lebih dominan dan berjumlah tiga. Onomatope Dalam puisi tersebut tidak ditemukan bunyi onomatope. bunyi ini lebih dominan dan berjumlah empat. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /n/. yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/. baik yang dihasilkan oleh benda. manusia.  Anafora dan Epifora Dalam puisi tersebut tidak ditemukan anafora maupun epifora karena tidak ada pengulangan bunyi dalam bentuk kata yang terletak di awal maupun akhir sajak. bunyi ini lebih dominan dan berjumlah empat.

masing-masing berjumlah satu. /m/. berjumlah satu. /l/. /s/.  Kakafoni Bunyi kakafoni secara teoritis terdapat pada kata “serak”. karena pada hakikatnya semua puisi tidak pernah lepas dari irama setelah puisi itu dibacakan. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /g/. dan “pada rak” karena dalam larik tersebut berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. yang termasuk aliterasi adalah /p/. Pada bait tersebut ditemukan makna yang berhubungan dengan suasana yang tidak menyenangkan atau suasana yang buram. gerak. manusia. bunyi /b/. kecuali pada larik “serak”.  Aliterasi Aliterasi yang terdapat pada larik “bulan” adalah /b/.  Efoni Secara teoritis semua larik dalam puisi tersebut termasuk bunyi efoni. yang termasuk aliterasi adalah /d/. Pada larik “dalam”. karena tidak terdapat bunyi tiruan suara. /l/. bunyi kakafoni terlihat pada bait “serak”. /n/. baik yang dihasilkan oleh benda. Pada larik “di”. dan “rak”. juga mengandung makna yang berhubungan dengan suasana yang menyenangkan. Sedangkan dilihat dari maknanya.  Onomatope Dalam puisi tersebut tidak ditemukan bunyi onomatope. dan puisi tersebut banyak terdiri dari satu kata dalam satu larik. yang termasuk aliterasi adalah .bulbul pada rak kicaunya pengacau  Irama Seluruh sajak diatas mempunyai irama. /n/ masing-masing berjumlah satu. /l/. masingmasing berjumlah satu. Pada larik “puisi”. Pada larik “legam”. maknanya bukan termasuk bunyi efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. maupun makhluk lain. kecuali pada kata “serak”.

Pada larik “bulbul”. Pada larik “serak”. masing-masing berjumlah dua. masing-masing berjumlah satu. Pada larik “puisi”. yang termasuk asonansi adalah /a/. /l/. yang termasuk asonansi adalah /a/. masingmasing berjumlah dua. yang termasuk aliterasi adalah /c/. yang termasuk asonansi adalah /a/. yang berjumlah dua. yang termasuk asonansi adalah /u/. Pada larik “pada rak”. yang termasuk aliterasi adalah /k/. /l/. /k/. masing-masing berjumlah satu. jurai rambut terkulai di tengkuk mata bagai bayang dedaunan eucalyptus yang luruh pada sebuah kursi di tembok sana dan kening menyala di kedua tangan . Puisi tersebut kebanyakan terdiri dari satu kata dalam satu larik sehingga tidak memungkinkan adanyaanafora maupun epifora. /u/.  Asonansi Asonansi yang terdapat pada larik “bulan” adalah /a/. dan kepalamu terlahir dari kegelapan dipukul tangan mungil perkasa . masing-masing berjumlah satu. yang termasuk aliterasi adalah /b/. Pada larik “legam”. berjumlah tiga. yang termasuk asonansi adalah /i/. berjumlah dua. Pada larik “di”. Pada larik “dalam”. /m/./d/. masing-masing berjumlah satu. dan puisi tersebut banyak terdiri dari satu kata dalam satu larik. masing-masing berjumlah satu. berjumlah satu. /p/. Lahir Senja batu pualam sang awan . berjumlah dua. Pada larik “bulbul”. masing-masing berjumlah satu. yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/. di lantai beranda malam membeku bagai serangga yang bertopang pada kaki-kakinya hanya sungutnya . berjumlah empat. yang termasuk aliterasi adalah /d/. /r/. /r/. /n/. /e/. Pada larik “kicaunya pengacau”.  Anafora dan Epifora Dalam puisi tersebut tidak ditemukan anafora maupun epifora karena tidak ada pengulangan bunyi dalam bentuk kata yang terletak di awal maupun akhir sajak. /e/. Pada larik “pada rak”. yang termasukasonansi adalah /i/. Pada larik “kicaunya pengacau”. yang termasuk asonansi adalah /a/. Pada larik “serak”. /s/.

sedangkan maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. sang pagi seolah tiba melalui puncak bukit menjauh dan tak bisa dicegah pada merah kesumba . Pada larik tersebut berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Pada larik tersebut tidak ada yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. sedangkan maknanya tidak termasuk kakafoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. “eucalyptus”. pada larik “luruh pada sebuah kursi di tembok sana dan” ditemukan bunyi kakafoni pada larik “tembok”. kita santap buah jeruk dalam kegelapan  Irama Seluruh sajak diatas mempunyai irama. Pada larik tersebut tidak ada yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. sedangkan . dan maknanya tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada larik “terlahir dari kegelapan dipukul tangan mungil” tidak ditemukan bunyi kakafoni. dan tak lagi ada yang menyentuhnya kini . jurai rambut terkulai di tengkuk” ditemukan bunyi kakafoni pada larik “rambut”. bersama angin lengkung sayap biruhitam menutup dan membuka cahaya bumi . bibirmu bikin tegang aroma kayu lembab dan pada sunyi itulah kemejaku terkulai di bahu kiri .  Kakafoni Bunyi kakafoni pada larik “batu pualam sang awan . karena pada hakikatnya semua puisi tidak pernah lepas dari irama setelah puisi itu dibacakan.saja yang bergetar . sedangkan maknanya tidak termasukkakafoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada larik tersebut berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. dan “tengkuk”. empat jari terentang hingga di cakrawala tergolek selapis senja . Pada larik “perkasa . Bunyi kakafoni tidak dominan dalam larik ini. dan “yang”. Pada larik “mata bagai bayang dedaunan eucalyptus yang” ditemukan bunyi kakafoni pada larik “bayang”. dan kepalamu” tidak ditemukan. Pada larik tersebut yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara.

empat jari terentang hingga ” ditemukan bunyi kakafoni pada kata “empat”. Pada larik tersebut tidak ada yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Pada kata tersebut berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Pada larik “angin lengkung sayap biruhitam menutup dan” ditemukan bunyi kakafoni pada kata “sayap”. Pada larik tersebut tersebut . maknanya pun termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. maknanya pun tidak termasuk kakafoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. dan tak lagi ada” ditemukan bunyi kakafoni pada kata “tak”. dan “menutup”. Pada larik tersebut tidak ada yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Pada larik “itulah kemejaku terkulai di bahu kiri . Pada kata tersebut berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. pada larik “kening menyala di kedua tangan . maknanya pun tidak termasuk kakafoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. bibirmu bikin” tidak ditemukan bunyikakafoni. sang ” tidak ditemukan bunyi kakafoni. di lantai ” tidak ditemukan bunyi kakafoni. Pada kata tersebut berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. sedangkan maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada larik “beranda malam membeku bagai serangga yang” tidak ditemukan bunyi kakafoni. Pada larik tersebut tersebut tidak ada kata yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. sedangkan maknanya tidak termasuk kakafoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. maknanya pun tidak termasuk kakafoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. sedangkan maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. dan “selapis”. Pada larik “bertopang pada kaki-kakinya hanya sungutnya” tidak ditemukan bunyikakafoni. Pada larik “yang menyentuhnya kini . bersama ” ditemukan bunyi kakafoni pada kata “tergolek”.maknanya tidak termasuk kakafoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. maknanya pun tidak termasuk kakafoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada larik “yang menyentuhnya kini . Pada larik tersebut tidak ada yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Pada larik “saja yang bergetar . Pada larik “di cakrawala tergolek selapis senja . sedangkan maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada larik “tegang aroma kayu lembab dan pada sunyi” tidak ditemukan bunyi kakafoni. Pada larik tersebut tersebut tidak ada kata yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. pada larik “membuka cahaya bumi. Pada kata tersebut berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. sedanghkan maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada larik tersebut tersebut tidak ada kata yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. bibirmu bikin” tidak ditemukan bunyi kakafoni.

” ditemukan bunyi kakafoni pada kata “santap” dan “jeruk”.” ditemukan bunyi kakafoni pada kata “tak”. Pada larik “mata bagai bayang dedaunan eucalyptus yang” termasuk bunyi efoni kecuali pada larik “eucalyptus”. maknanya pun termasuk efoni karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Pada larik tersebut banyak yang berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. sedangkan maknanya tidak termasukefoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. dan maknanya termasuk efoni berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Pada larik tersebut semuanya berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. Pada larik tersebut semuanya berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. Pada larik “beranda malam membeku bagai serangga yang” semuanya termasuk bunyi efoni. Pada kata tersebut tersebut berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Pada larik “kita santap buah jeruk dalam kegelapan.  Efoni Pada larik “batu pualam sang awan . Pada kata tersebut tersebut berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Bunyi efoni dominan dalam larik ini. dan “bukit”. Pada larik tersebut semuanya berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. maknanya pun termasukkakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada kata tersebut tersebut berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. sedangkan maknanya tidak termasuk kakafoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. dan kepalamu” semuanya termasuk bunyiefoni. jurai rambut terkulai di tengkuk” termasuk bunyi efoni kecuali pada kata “rambut”. Pada larik “luruh pada sebuah kursi di tembok sana dan” semuanya termasuk bunyi efoni kecuali pada kata “tembok”. maknanya pun tidak termasuk kakafoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. maknanya pun termasuk efoni karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. pada larik “terlahir dari kegelapan dipukul tangan mungil” semuanya termasuk bunyi efoni. dan “tengkuk”. maknanya pun termasuk efoni karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. maknanyapun tidak termasukkakafoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada larik “kening menyala di kedua tangan .tidak ada kata yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Pada larik tersebut lebih banyak berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. Pada larik “pagi seolah tiba melalui puncak bukit menjauh” ditemukan bunyi kakafoni pada kata “puncak”. sedangkan . Pada larik “dan tak bisa dicegah pada merah kesumba . di lantai ” semuanya termasuk bunyi efoni. Pada larik tersebut semuanya berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. Pada larik tersebut kebanyakan berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. Pada larik “perkasa . maknanya pun termasuk efoni karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan.

Pada larik “yang menyentuhnya kini . Pada larik “angin lengkung sayap biruhitam menutup dan” semuanya termasuk bunyi efoni kecuali pada kata “sayap”. bibirmu bikin” semuanya termasuk bunyi efoni. Pada kata tersebut berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Pada kata tersebut tersebut berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara maknanya pun termasuk efoni karena berhubungan dengan . Pada larik “membuka cahaya bumi . Pada larik tersebut semua kata berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. maknanya pun termasuk efoni karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Pada kata tersebut berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Pada larik “pagi seolah tiba melalui puncak bukit menjauh” termasuk bunyi efoni kecuali pada kata “puncak”. dan tak lagi ada” semuanya termasuk bunyi efoni kecuali pada kata “tak”. Pada kata tersebut tersebut berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Pada kata tersebut berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Pada larik tersebut semuanya berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. Pada larik tersebut lebih banyak berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. dan “bukit”. maknanya pun tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Pada larik “bertopang pada kakikakinya hanya sungutnya” semuanya termasuk bunyi efoni.maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. sedangkan maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Pada larik “di cakrawala tergolek selapis senja . sedangkan maknanya tidak termasuk efonikarena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. empat jari terentang hingga ” termasuk bunyi efoni kecuali pada kata “empat”. Pada larik tersebut semuanya berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. sang ” semuanya termasuk bunyi efoni. Pada larik tersebut semua kata berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. maknanya pun termasuk efoni karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. maknanya pun termasukefoni karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Pada larik “yang menyentuhnya kini . Maknanya pun termasuk efoni karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. sedangkan maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Pada larik “itulah kemejaku terkulai di bahu kiri . Pada larik “tegang aroma kayu lembab dan pada sunyi” semuanya termasuk bunyi efoni. maknanya pun termasuk efoni karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. sedangkan maknanya termasuk bunyi efoni karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan.” termasuk bunyi efoni kecuali pada kata “tak”. dan “selapis”. Pada larik tersebut semuanya berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. dan “menutup”. bibirmu bikin” semuanya termasuk bunyi efoni. bersama ” termasuk bunyi efoni kecuali pada kata “tergolek”. Pada larik “dan tak bisa dicegah pada merah kesumba . Pada larik “saja yang bergetar .

/m/. dan tak lagi ada”.” termasuk bunyi efoni kecuali pada kata “santap” dan “jeruk”. karena tidak terdapat bunyi tiruan suara. /k/. /h/. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /k/. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /b/. yang berjumlah empat. yang berjumlah empat. yang berjumlah tiga. Pada larik “angin lengkung sayap biruhitam menutup dan”. yang berjumlah enam. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /m/. Pada larik “bertopang pada kaki-kakinya hanya sungutnya”. dan /s/. Pada larik “perkasa . yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /n/.  Aliterasi Bunyi aliterasi pada larik “batu pualam sang awan . Pada larik “terlahir dari kegelapan dipukul tangan mungil” yang termasuk alitersai yaitu /n/. jurai rambut terkulai di tengkuk” yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /k/. Pada larik “luruh pada sebuah kursi di tembok sana dan”. Pada larik “kita santap buah jeruk dalam kegelapan. Pada larik “saja yang bergetar . Pada larik “mata bagai bayang dedaunan eucalyptus yang”. Pada larik “membuka cahaya bumi . yang termasuk aliterasi adalah bunyi /m/. Pada larik “yang menyentuhnya kini . yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /n/. bersama ”. Pada kata tersebut tersebut berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Pada larik “di cakrawala tergolek selapis senja . Pada larik “dan tak bisa dicegah pada merah kesumba . yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /n/. Pada larik “kening menyala di kedua tangan . Pada larik tersebut bunyi /n/ lebih dominan dan berjumlah empat.”. manusia. yang berjumlah empat. yang berjumlah lima. Pada larik “itulah kemejaku terkulai di bahu kiri . yang berjumlah lima. Maknanya tidak termasukefoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Pada larik “pagi seolah tiba melalui puncak bukit menjauh”. sang ”. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /l/. dan kepalamu” yaitu /n/. dan /r/. maupun makhluk lain. yang masing-masing . yang termasuk aliterasi yaitu /n/.sesuatu yang menyenangkan. yang termasuk aliterasi yaitu /g/. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /n/. baik yang dihasilkan oleh benda. /d/. yang berjumlah enam. yang berjumlah tiga. yang berjumlah tiga. empat jari terentang hingga ”. yang masingmasing berjumlah empat. /n/. yang termasuk bunyi aliterasi adalah /s/. gerak.  Onomatope Dalam puisi tersebut tidak ditemukan bunyi onomatope. yang berjumlah enam. yang termasuk bunyi alitersai adalah /s/. yang berjumlah tiga. Pada larik “tegang aroma kayu lembab dan pada sunyi”. bibirmu bikin”. yang berjumlah empat. dan /l/ yang masing-masing berjumlah empat. Pada larik “beranda malam membeku bagai serangga yang”. di lantai ”.

dan tak lagi ada”. yang berjumlah enam. yang termasukasonansi yaitu /a/. di lantai ”. yang termasuk bunyi asonansi yaitu /i/. yang termasuk bunyi asonansi adalah /a/.  Asonansi Bunyi asonansi pada larik “batu pualam sang awan . yang berjumlah delapan. yang berjumlah delapan. yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/. jurai rambut terkulai di tengkuk” yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/. yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/.”. bersama ”. Pada larik “mata bagai bayang dedaunan eucalyptus yang”. yang berjumlah tujuh.”. Pada larik “terlahir dari kegelapan dipukul tangan mungil” yang termasuk asonansi yaitu /a/. yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/. yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/.  Anafora dan Epifora . Pada larik “pagi seolah tiba melalui puncak bukit menjauh”. yang berjumlah enam. Pada larik “tegang aroma kayu lembab dan pada sunyi”. yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/. yang berjumlah lima. dan kepalamu” yaitu /a/. empat jari terentang hingga ”. yang tarmasuk asonansi adalah /a/. yang berjumlah delapan. yang berjumlah tujuh. yang berjumlah enam. yang termasuk asonansi adalah bunyi /a/. Pada larik “bertopang pada kaki-kakinya hanya sungutnya”. Pada larik “di cakrawala tergolek selapis senja . Pada larik “dan tak bisa dicegah pada merah kesumba . bibirmu bikin”.berjumlah dua. Pada larik “membuka cahaya bumi . Pada larik “saja yang bergetar . yang berjumlah lima. yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/. yang berjumlah sembilan. yang berjumlah delapan. yang berjumlah sepuluh.”. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /k/. Pada larik “kita santap buah jeruk dalam kegelapan. yang termasuk asonansi yaitu /a/. pada larik “yang menyentuhnya kini . yang masing-masing berjumlah lima. Pada larik tersebut bunyi /a/ lebih dominan dan berjumlah Sembilan. yang berjumlah delapan. sang ”. yang termasuk bunyi asonansi adalah /a/. Pada larik “beranda malam membeku bagai serangga yang”. Pada larik “angin lengkung sayap biruhitam menutup dan”. dan /i/. yang berjumlah sembilan. yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/. yang berjumlah enam. Pada larik “luruh pada sebuah kursi di tembok sana dan”. Pada larik “itulah kemejaku terkulai di bahu kiri . Pada larik “perkasa . yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/. Pada larik “kening menyala di kedua tangan . yang berjumlah tiga. Pada larik “kita santap buah jeruk dalam kegelapan.

Dalam puisi tersebut tidak ditemukan anafora maupun epifora karena tidak ada pengulangan bunyi dalam bentuk kata yang terletak di awal maupun akhir sajak. hijau yang tertelan sepenuhnya saat air berada tepat di pojok ladang menghalau pepadian ke dalam asap yang berpindah dan semak belukar yang terbakar pada siang hari datanglah sang prahara melepuh pada pokok-pokok eucalyptus . memanggang padang rumput berlempung menggumpal dari laterit api memulasi akar rumput merah membata membilas tepian pantai larut ke laut hingga pecahan gerabah yang terbakar hujan mencatat dengan bahasa sanskritnya dan dalam ketakberaturan rima sang angin membalas dengan satu baris saja agar yang lain bangkit dari abu : longsoran tanah merah bumi . biru sepotong mangga terkunyah bunga-bunga api . lidah-lidah awan melengkung pada langit-langit jurang dan menjilati bonggol-bonggol pepohonan . Sebuah Cerita Tentang Tulisan III di mana sungai mengalir melalui lempengan karang menggumpalkan putih gelembung ke dalam busa warna oker . panasanya merambah wilayah mereka . langit melantunkan kehausannya ia bersabda kalimat demi kalimat dan lading garapan para petani mematuhi diktum ini : lapar mengolah bahasanya sendiri agar panen pertama . Puisi tersebut kebanyakan terdiri dari satu kata dalam satu larik sehingga tidak memungkinkan adanya anafora maupun epifora.

Pada larik tersebut yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara kurang dominan. Pada larik “saat air berada tepat di pojok lading menghalau” ditemukan bunyi kakafoni pada larik “saat”. dan maknanya tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. hijau yang tertelan sepenuhnya. Pada larik tersebut tidak ada kata yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Pada larik tersebut tidak ada yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Pada larik “pepadian ke dalam asap yang berpindah”. Pada larik “warna oker . “tepat”.  Kakafoni Bunyi kakafoni pada larik “di mana sungai mengalir melalui lempengan karang” tidak ditemukan. Pada larik tersebut tidak ada yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. maknanya pun tidak termasukkakafoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Maknanya termasukkakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada larik “dan semak belukar yang terbakar” ditemukan bunyikakafoni pada kata “semak” namun bunyi kakafoni tidak dominan. Pada larik “menggumpalkan putih gelembung ke dalam busa” tidak ditemukan bunyi kakafoni.bisa tuntas dituai hutan harus dibumihanguskan api selangkah lagi dari jalan dan aliran anak-anak sungai melubangi tanah garapan ke dalam kehitaman . Pada larik “pada siang hari datanglah sang prahara” tidak ditemukan bunyi kakafoni. sedangkan maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. dari ketinggian mudah dikenali huruf-huruf kasar itu bagaikan rajah pada telapak tangan. Pada larik tersebut tidak ada yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Pada larik tersebut tidak ada yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara.  Irama Seluruh sajak diatas mempunyai irama. Pada larik tersebut. Pada larik “melepuh pada pokok-pokok eucalyptus . dan “pojok” . tidak ditemukan bunyi kakafoni. karena pada hakikatnya semua puisi tidak pernah lepas dari irama setelah puisi itu dibacakan. dan maknanya tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. dan “eucalyptus”. panasanya” ditemukan bunyi kakafoni pada kata “pokokpokok”. sedangkan maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. dan maknanya tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan.” tidak ditemukan bunyi kakafoni. bunyi kakafoni tidak .

ditemukan bunyi kakafoni pada kata “membalas”. Pada larik “merambah wilayah mereka . sedangkan maknanya termasukkakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada larik “bumi . Pada larik “rumput berlempung menggumpal dari laterit api” ditemukan bunyi kakafoni pada kata “rumput”. Pada larik “memulasi akar rumput merah membata” ditemukan bunyi kakafoni pada kata “rumput”. tidak ditemukan bunyi kakafoni. Maknanya pun termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. “larut”. dan “laut”. biru sepotong mangga terkunyah” tidak ditemukan . Pada kata tersebut. Maknanya tidak termasuk kakafoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. namun kakafoni dalam larik ini tidak dominan. Pada larik “pepohonan . Pada larik tersebut semuanya berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. Sedangkan maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada larik tersebut tersebut tidak ada kata yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Pada larik “pada langit-langit jurang dan menjilati bonggol-bonggol” ditemukan bunyi kakafoni pada kata “langit-langit”. Pada larik tersebut kakafonitidak dominan. sedanghkan maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. sedangkan maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. namun bunyikakafoni tidak dominan. Maknanya pun tidak termasuk kakafoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada larik “sang angin membalas dengan satu baris saja”. namun kakafoni tidak dominan. Pada larik “hingga pecahan gerabah yang terbakar hujan” tidak ditemukan bunyi kakafoni. sedangkan maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. namun kakafoni tidak dominan. sedangkan maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan.dominan. dan “laterit”. Pada larik “agar yang lain bangkit dari abu : longsoran tanah merah” ditemukan bunyi kakafoni pada kata “bangkit”. Pada larik “dan dalam ketakberaturan rima” tidak ditemukan bunyikakafoni. sedangkan maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Maknanya pun termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. lidah-lidah awan melengkung” tidak ditemukan bunyi kakafoni. namun kakafoni tidak dominan. namun kakafoni tidak dominan. Pada larik “membilas tepian pantai larut ke laut” ditemukan bunyi kakafoni pada kata “membilas”. memanggang padang”. tak ada kata yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada larik tersebut tersebut tidak ada kata yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. Pada larik “mencatat dengan bahasa sanskritnya” ditemukan bunyi kakafoni pada kata “mencatat”.

 Efoni Pada larik “di mana sungai mengalir melalui lempengan karang”. namun kakafoni tidak dominan. langit melantunkan kehausannya” . Maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. sedangkan maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. dan maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan suasana yang . pada larik “api selangkah lagi dari jalan dan aliran anak-anak sungai” tidak ditemukan bunyi kakafoni. sedangkan maknanya termasukkakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada larik “bisa tuntas dituai hutan harus dibumihanguskan” ditemukan bunyi kakafoni pada kata “tuntas”. namun tidak dominan. Pada larik tersebut semuanya berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. ditemukan bunyi kakafoni pada kata “langit”. Pada larik “bunga-bunga api . Pada larik “melubangi tanah garapan ke dalam kehitaman . Pada larik “bagaikan rajah pada telapak tangan”. Pada larik “ia bersabda kalimat demi kalimat dan ladang garapan” ditemukan bunyi kakafoni pada dua kata “kalimat”. Pada larik tersebut semuanya berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. dan maknanya pun termasuk efoni karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. ditemukan bunyi kakafoni pada kata “telapak”. sedangkan maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. tidak ditemukan bunyi kakafoni.bunyi kakafoni. Pada larik “mengolah bahasanya sendiri agar panen pertama” tidak ditemukan bunyi kakafoni. Pada larik “menggumpalkan putih gelembung ke dalam busa” semuanya termasuk bunyi efoni. sedangkan maknanya tidak termasuk kakafonikarena tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada kata tersebut. Pada larik “para petani mematuhi diktum ini : lapar”. Maknanya termasuk kakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada larik “mudah dikenali huruf-huruf kasar itu” tidak ditemukan bunyi kakafoni. dan “harus” namun kakafoni dalam larik ini tidak dominan. semuanya termasuk bunyi efoni. namun kakafoni tidak dominan. Maknanya termasukkakafoni karena berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada larik tersebut tersebut tidak ada kata yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara. dari ketinggian” tidak ditemukan bunyi kakafoni. Sedangkan maknanya tidak termasuk kakafoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. tak ada kata yang berakhir dengan bunyi konsonan tak bersuara.

Pada larik “merambah wilayah mereka . Pada larik “warna oker . Pada larik “rumput berlempung menggumpal dari laterit api”. semuanya termasuk bunyi efoni. bunyi efoni lebih dominan. Pada larik tersebut semuanya berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. Maknanya juga termasuk efoni karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. semuanya termasuk bunyiefoni. bunyi efoni lebih dominan. Pada larik “pada siang hari datanglah sang prahara”. Pada larik “agar yang lain bangkit dari abu : . sedangkan maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. maknanyapun termasuk efoni karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. sedanghkan maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. semua kata berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. maknanya pun termasuk efoni karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. semuanya termasuk bunyi efoni. hijau yang tertelan sepenuhnya. Pada larik “saat air berada tepat di pojok lading menghalau”. Pada larik “hingga pecahan gerabah yang terbakar hujan”. sedangkan maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Pada larik “memulasi akar rumput merah membata”. dan maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. sedangkan maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. bunyi efoni lebih dominan. Pada larik “sang angin membalas dengan satu baris saja”.” semuanya termasuk bunyi efoni. bunyiefoni lebih dominan. Pada larik “melepuh pada pokok-pokok eucalyptus . Pada larik tersebut. dan maknanya tidak termasuk bunyi efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. sedangkan maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Pada larik tersebut semua kata berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. sedangkan maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. semuanya termasuk bunyi efoni. bunyiefoni lebih dominan. Pada larik “dan semak belukar yang terbakar” bunyiefoni lebih dominan.menyenangkan. Pada larik “membilas tepian pantai larut ke laut”. Pada larik “pepadian ke dalam asap yang berpindah”. Pada larik tersebut semua kata berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. Pada larik tersebut semuanya berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. Pada larik tersebut semua kata berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. memanggang padang”. panasanya”. Pada larik “dan dalam ketakberaturan rima”. sedangkan maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. semuanya termasuk bunyi efoni. Pada larik “mencatat dengan bahasa sanskritnya” bunyi efoni lebih dominan. bunyi efoni lebih dominan.

bunyi efoni lebih dominan. Pada larik tersebut semuanya berakhir dengan bunyi konsonan bersuara. Pada larik “mudah dikenali huruf-huruf kasar itu”. lidah-lidah awan melengkung”. Pada larik “bisa tuntas dituai hutan harus dibumihanguskan”. Maknanya termasuk efoni karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Pada larik “mengolah bahasanya sendiri agar panen pertama” semuanya termasuk bunyi efoni. sedangkan maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan.  Aliterasi . semuanya termasuk bunyi efoni. Maknanya tidak termasukefoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. bunyi efoni lebih dominan. baik yang dihasilkan oleh benda. Maknanya juga termasuk efoni karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. semuanya termasuk bunyi efoni. bunyi efoni lebih dominan. Pada larik “bumi . Sedangkan maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Pada larik “pepohonan . dari ketinggian”. Pada larik “bagaikan rajah pada telapak tangan”. sedangkan maknanya tidak termasuk efonikarena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. semuanya termasuk bunyi efoni. Pada larik “api selangkah lagi dari jalan dan aliran anak-anak sungai”. Maknanya tidak termasuk efonikarena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. langit melantunkan kehausannya” . biru sepotong mangga terkunyah”. Maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Pada larik “pada langit-langit jurang dan menjilati bonggol-bonggol”. Maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan.longsoran tanah merah”. manusia. maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. pada larik “ia bersabda kalimat demi kalimat dan ladang garapan”. bunyi efoni lebih dominan.  Onomatope Dalam puisi tersebut tidak ditemukan bunyi onomatope. semuanya termasuk bunyi efoni. Pada larik “melubangi tanah garapan ke dalam kehitaman . Pada larik “para petani mematuhi diktum ini : lapar”. bunyi efoni lebih dominan. Pada larik “bunga-bunga api . karena tidak terdapat bunyi tiruan suara. maupun makhluk lain. semuanya termasuk bunyi efoni. sedangkan maknanya tidak termasuk efoni karena tidak berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. gerak. bunyi efonilebih dominan. semuanya termasuk bunyi efoni.

yang berjumlah empat. Pada larik “warna oker . Pada larik “mengolah bahasanya sendiri agar panen pertama” yang termasuk aliterasi yaitu /n/ yang berjumlah lima. yang berjumlah tujuh. yang termasuk aliterasi yaitu /t/. Pada larik “dan semak belukar yang terbakar”. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /n/. yang termasuk aliterasi yaitu /m/. yang berjumlah empat. yang berjumlah lima. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /n/ yang berjumlah lima.Bunyi aliterasi pada larik “di mana sungai mengalir melalui lempengan karang” yaitu /n/. yang berjumlah tiga. Pada larik “bisa tuntas dituai hutan harus dibumihanguskan” yang termasuk aliterasi yaitu /s/ yang berjumlah . yang berjumlah lima. Pada larik “dan dalam ketakberaturan rima”. yang masing-masing berjumlah empat. Pada larik “pepohonan . yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /l/ dan /n/. Pada larik “hingga pecahan gerabah yang terbakar hujan”. Pada larik “memulasi akar rumput merah membata”. Pada larik “mencatat dengan bahasa sanskritnya”. Pada larik “pepadian ke dalam asap yang berpindah”. yang berjumlah enam. Pada larik “ia bersabda kalimat demi kalimat dan lading garapan” yang termasuk aliterasi yaitu /d/ yang berjumlah empat. Pada larik “melepuh pada pokok-pokok eucalyptus . yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /t/. yang berjumlah tiga. hijau yang tertelan sepenuhnya” yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /n/. langit melantunkan kehausannya” yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /n/ yang berjumlah tujuh. memanggang padang”. yang berjumlah enam. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /m/. yang masing-masing berjumlah empat. yang berjumlah tiga. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /r/. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /p/. yang termasuk bunyi alitersai adalah /p/. Pada larik “merambah wilayah mereka . biru sepotong mangga terkunyah”. Pada larik “agar yang lain bangkit dari abu : longsoran tanah merah”. yang masing-masing berjumlah tiga. Pada larik “pada langit-langit jurang dan menjilati bonggol-bonggol” yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /g/. Pada larik “pada siang hari datanglah sang prahara”. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /h/. Pada larik “bumi . yang termasuk aliterasi adalah bunyi /n/ dan /h/ yang masing-masing berjumlah tiga. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /r/. yang berjumlah tiga. yang berjumlah empat. Pada larik tersebut bunyi /n/ lebih dominan dan berjumlah enam. yang termasuk bunyi aliterasi adalah /m/ dan /p/. Pada larik “para petani mematuhi diktum ini : lapar”. Pada larik “bunga-bunga api . panasanya”. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /s/ dan /n/. Pada larik “sang angin membalas dengan satu baris saja”. Pada larik “menggumpalkan putih gelembung ke dalam busa” yang termasuk aliterasi yaitu /m/. yang berjumlah enam. yang termasuk bunyi aliterasi yaitu /n/. Pada larik “rumput berlempung menggumpal dari laterit api”. Pada larik “membilas tepian pantai larut ke laut”. Pada larik “saat air berada tepat di pojok ladang menghalau”. lidah-lidah awan melengkung”. yang berjumlah empat. yang termasuk aliterasi yaitu /m/ dan /t/ yang masing-masing berjumlah tiga.

Pada larik “melepuh pada pokok-pokok eucalyptus . yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/. yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/ yang berjumlah sembilan. Pada larik tersebut bunyi /a/ lebih dominan dan berjumlah delapan. yang termasuk asonansi yaitu /a/. yang termasuk bunyi asonansiyaitu /a/ yang berjumlah sebelas. Pada larik “membilas tepian pantai larut ke laut”. Pada larik “dan dalam ketakberaturan rima”. Pada larik “pada siang hari datanglah sang prahara”. yang berjumlah delapan. Pada larik “menggumpalkan putih gelembung ke dalam busa” yang termasuk asonansi yaitu /a/. Pada larik “pepadian ke dalam asap yang berpindah”. yang termasuk bunyiasonansi yaitu /a/ yang berjumlah enam. yang berjumlah sembilan. Pada larik “pepohonan . Pada larik “merambah wilayah mereka . Pada larik “dan semak belukar yang terbakar”. Pada larik “warna oker . Pada larik “agar yang lain bangkit dari abu : longsoran tanah merah”. Pada larik “hingga pecahan gerabah yang terbakar hujan”. yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/. yang termasuk bunyiasonansi yaitu /a/. panasnya”. lidah-lidah awan melengkung”. yang termasuk aliterasiyaitu /n/ yang berjumlah tiga. yang berjumlah sepuluh. yang termasuk aliterasi yaitu /r/ yang berjumlah tiga. Pada larik “melubangi tanah garapan ke dalam kehitaman . Pada larik “pada langit-langit jurang dan menjilati bonggol-bonggol” yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/ yang berjumlah tujuh. yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/yang berjumlah sembilan. Pada larik “sang angin membalas dengan satu baris saja”. yang berjumlah lima. yang berjumlah tujuh. yang termasuk asonansi yaitu /a/. Pada larik “api selangkah lagi dari jalan dan aliran anak-anak sungai”. yang berjumlah delapan. Pada larik “rumput berlempung menggumpal dari laterit api”. yang termasuk asonansi yaitu /a/. yang termasuk bunyi asonansi adalah /a/. yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/ yang berjumlah empat. biru sepotong mangga terkunyah”. yang berjumlah enam. yang termasuk bunyi asonansi adalah /a/. Pada larik “bagaikan rajah pada telapak tangan. Pada larik “mencatat dengan bahasa sanskritnya”. Pada larik “mudah dikenali huruf-huruf kasar itu”. hijau yang tertelan sepenuhnya” yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/.”. Pada larik “saat air berada tepat di pojok ladang menghalau”.empat. yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/ yang berjumlah enam. Pada larik “bumi . dari ketinggian”. yang berjumlah enam. yang termasuk asonansi adalah bunyi /a/ yang berjumlah sebelas. Pada larik “memulasi akar rumput merah membata”. yang berjumlah empat. yang termasuk . memanggang padang”.  Asonansi Bunyi asonansi pada larik “di mana sungai mengalir melalui lempengan karang” yaitu /a/. yang termasuk aliterasi yaitu /n/ yang berjumlah tujuh. yang berjumlah lima. yang termasuk aliterasi yaitu /n/ yang berjumlah enam.

anafora dan epifora.”. Pengarang sengaja melakukankontradiksi pada puisinya agar tidak tercipta suasana seram. Pada larik “api selangkah lagi dari jalan dan aliran anak-anak sungai”.bunyi asonansi yaitu /o/ dan /a/ yang masing-masing berjumlah empat. Pada larik “bunga-bunga api . 4.  Anafora dan Epifora Dalam puisi tersebut tidak ditemukan anafora maupun epifora karena tidak ada pengulangan bunyi dalam bentuk kata yang terletak di awal maupun akhir sajak. Pada larik “mengolah bahasanya sendiri agar panen pertama” yang termasuk asonansi yaitu /a/ yang berjumlah sepuluh. yang termasuk asonansi yaitu /a/ yang berjumlah dua belas. Sehingga kumpulan puisi tersebut kontradiksi. Puisi tersebut kebanyakan terdiri dari satu kata dalam satu larik sehingga tidak memungkinkan adanya anafora maupun epifora. dari ketinggian”. Pada larik “melubangi tanah garapan ke dalam kehitaman .Efoni lebih dominan dari kakafoni namun jika dilihat dari maknanya kakafoni lebih dominan dari pada efoni. Pada larik “ia bersabda kalimat demi kalimat dan lading garapan” yang termasuk asonansi yaitu /a/ yang berjumlah dua belas. yang termasuk asonansi yaitu /a/ yang berjumlah lima belas. Pada larik “mudah dikenali huruf-huruf kasar itu”. BAB V PENUTUP 5. Dalam kumpulan puisi tersebut tidak terdapat onomatope. langit melantunkan kehausannya” yang termasuk bunyi asonansi yaitu /a/ yang berjumlah sembilan. Pada larik “bagaikan rajah pada telapak tangan. yang termasuk asonansi yaitu /u/ yang berjumlah lima. yang termasuk asonansi yaitu /a/ yang berjumlah enam.3 Interpretasi Penelitian Dalam kumpulan puisi Raoul Schrott bunyi dalam sajak yang paling dominan yaituasonansi. yang termasuk asonansi yaitu /a/ yang berjumlah sebelas. Pada larik “para petani mematuhi diktum ini : lapar”. Pada larik “bisa tuntas dituai hutan harus dibumihanguskan” yang termasuk asonansi yaitu /a/ yang berjumlah tujuh.1 Kesimpulan .

aliterasi dan asonansi serta anafora dan epifora. Dalam kumpulan puisi tersebut tidak terdapat onomatope.2 Saran Saran yang dapat penulis sampaikan dalam makalah ini yaitu agar pengarang puisi selanjutnya diharapkan dapat memuat semua unsur bunyi di dalam sajak dalam puisinya. . maka dapat disimpulkan bahwa dalam kumpulan puisi Raoul Schrott bunyi dalam sajak yang paling dominan yaituasonansi. 5. efoni dan kakafoni. Pengarang sengaja melakukankontradiksi pada puisinya agar tidak tercipta suasana seram.Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya dalam kumpulan puisi karya Raoul Schrott yang berupa irama. anafora dan epifora. onomatope.Efoni lebih dominan dari kakafoni namun jika dilihat dari maknanya kakafoni lebih dominan dari pada efoni. Sehingga kumpulan puisi tersebut kontradiksi.