Anda di halaman 1dari 20

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)

SENAM OTAK PADA LANSIA


Topik

: Senam Otak Pada Lansia

Sasaran

: Lansia yang berada di Wisma Matahari di PSTW


Budi Sejahtera Martapura

Hari/Tanggal

: Kamis 04 Februari 2016

Jam

: 10.00 WITA s/d selesai

Tempat

: Ruang tamu Wisma Matahari

A. LATAR BELAKANG
Peningkatan

pelayanan

kesehatan

memberikan

dampak

terjadinya

penurunan angka kematian. Kondisi demikian memungkinkan penduduk untuk


menikmati usia lebih panjang sebagai akibat meningkatnya usia harapan hidup.
Ada proyeksi bahwa pada tahun 2020, angka lansia di Indonesia akan mencapai
besaran 11,34%. Dengan demikian akan muncul masalah lansia seperti
kemunduran fisik, mental, sosial, produktivitas kerja, dan komunikasi. Ini
merupakan potensi masalah yang harus diantisipasi sejak awal.
Saat ini penduduk yang berusia lanjut (di atas 60 tahun) di Indonesia terus
meningkat. Peningkatan itu seiring meningkatnya umur harapan hidup (UHH)
yaitu 67 tahun untuk perempuan dan 63 tahun untuk laki-laki. Hal ini
mencerminkan salah satu hasil dalam upaya pembangunan kesehatan di Indonesia.
Tetapi di sisi lain merupakan tantangan bagi kita semua untuk dapat
mempertahankan kesehatan dan kemandirian para lanjut usia agar tidak menjadi
beban bagi dirinya, keluarga maupun masyarakat.
Proses menua adalah suatu proses menghilangnya kemampuan jaringan
untuk memperbaiki atau mengganti diri dan mempertahankan struktur serta fungsi
normalnya, yang terjadi secara perlahan-lahan. Sehingga tidak dapat bertahan
terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita.
Proses tersebut menyebabkan manusia secara progresif akan kehilangan daya
tahan terhadap infeksi serta mengalami distorsi metabolik dan struktural yang
disebut sebagai penyakit degeneratif seperti penyakit kanker, jantung, reumatik,

osteoporosis, katarak. Penyakit yang biasanya muncul pada lansia seperti


demensia disamping penyakit degeneratif.
Klien lanjut usia yang tinggal di panti memiliki resiko yang lebih besar
mengalami demensia dibanding dengan klien lanjut usia yang tinggal di rumah,
klien lanjut usia yang tinggal di panti memiliki support system yang terbatas yang
memungkinkan keterbatasan mereka dalam hal stimulasi terhadap memori masa
lalu, tetapi keadaan ini tidak semuanya sama pada setiap lansia dan tidak ada
jaminan pula bahwa setiap lansia yang tinggal di rumah memiliki support system
yang lebih baik dari klien lansia yang tinggal di panti. Dari penelitian-penelitian
yang dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa terhadap klien lanjut usia yang
tinggal di rumah perawatan usia lanjut atau panti didapatkan ada 9% sampai
dengan 26% wanita dan 5% sampai dengan 12% pria mengalami demensia setiap
saat.
Kepikunan (demensia) merupakan fenomena yang sering terjadi pada lansia,
yang ditandai dengan gejala-gejala yang menunjukkan terganggunya fungsi-fungsi
memori (daya ingat), berbahasa, berpikir dan berperilaku. Demensia atau pikun
adalah salah satu penyakit yang ditandai gangguan daya pikir dan daya ingat yang
bersifat progresif disertai gangguan bahasa, perubahan kepribadian dan perilaku.
Sebagian besar demensia disebabkan oleh penyakit Alzheimer (60%). Semua
orang berusia lebih dari 65 tahun mempunyai risiko terkena penyakit Alzheimer.
Tidak ada perbedaan antara wanita dan laki-laki, etnis, dan kelas sosial ekonomi.
Demensia adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan
kerusakan fungsi kognitif global yang biasanya bersifat progresif dan
mempengaruhi aktivitas sosial dan okupasi yang normal juga aktivitas kehidupan
sehari-hari (AKS). Demensia biasanya dimulai secara perlahan dan makin lama
makin parah, sehingga keadaan ini pada mulanya tidak disadari. Penderita akan
mengalami penurunan dalam ingatan, kemampuan untuk mengingat waktu dan
kemampuan untuk mengenali orang, tempat dan benda. Penderita mengalami
kesulitan dalam menemukan dan menggunakan kata yang tepat dan dalam
pemikiran abstrak (misalnya dalam pemakaian angka). Pada akhirnya penderita
tidak mampu mengikuti suatu percakapan dan bisa kehilangan kemampuan
berbicara.

Berdasarkan hasil pengkajian pada hari Senin tanggal 01-02 Februari 2016,
didapatkan hasil umur lansia di Wisma Matahari yang berusia antara 6074 tahun
sebesar 40% (4 orang), sementara lansia yang berusia antara 75-90 tahun sebesar
60%% (6 orang) dan tidak ada lansia yang berusia >90 tahun atau 0%. Selain
umur lansia, dari 10 orang penghuni Wisma Matahari di PSTW Budi Sejahtera
Martapura, hanya 9 orang yang dapat dilakukan pengkajian SPMSQ dan kognitif
MMSE, 1 orang tidak dapat dilakukan pengkajian karena mengalami gangguan
penglihatan berat (buta total) dan gangguan pendengaran yang berat (tuli total),
hasil pengkajian SPMSQ menunjukkan bahwa dari ke 9 orang tersebut yang
mengalami kerusakan intelektual ringan sebesar 44,44% (4 orang), kerusakan
intelektual berat 11,11% (1 orang) dan hasil pengkajian MMSE menunjukkan
bahwa sebesar 44,44% (4 orang) mengalami gangguan kognitif berat dan
sebanyak 22,22% (2 orang) mengalami gangguan kognitif ringan.
Fungsi kognitif adalah kemampuan mental yang terdiri dari atensi,
kemampuan berbahasa, daya ingat, visiospasial, kemampuan membuat konsep dan
intelengensi. Kemampuan kognitif berubah secara bermakna bersamaan dengan
lajunya proses menua. Pada beberapa individu, proses penurunan fungsi kognitif
tersebut dapat berlanjut sedemikian hingga terjadi gangguan kognitif atau
demensia.
Beragam pengobatan dapat diterapkan pada pasien demensia ini. Mulai dari
terapi farmakologis dengan menggunakan obat-obatan sampai terapi non
farmakologis seperti rehabilitasi medik berupa fisioterapi, latihan kognitif, terapi
wicara dan terapi okupasi. Terapi non farmakologis perlu diterapkan pada pasien
demensia untuk menunda kemunduran kognitif dengan menerapkan perilaku sehat
dan melakukan stimulasi otak sedini mungkin dengan beragam terapi seperti
rekreasi, membaca, mendengarkan musik, mengingat waktu dan tempat, berdansa,
terapi seni dan senam otak untuk melatih kemampuan otak bekerja.
Kemunculan demensia dalam proses penuaan dapat diperlambat dengan cara
memperbanyak aktivitas yang berhubungan dengan fungsi otak, seperti olah raga,
berpikir, berkarya, dan sosialisasi. Senam otak (brain gym) dapat menjadi salah
satu aktivitas yang dapat digunakan untuk memperlambat demensia. Senam otak
adalah serangkaian gerak sederhana yang menyenangkan dan digunakan oleh para
murid di Educational Kinesiology (Edu-K) untuk meningkatkan kemampuan

belajar mereka dengan menggunakan keseluruhan otak. Hasil penelitian yang


dilakukan oleh Drabben-Thiemann, dkk (2002) telah menunjukkan bahwa
penderita Alzheimer secara spontan meningkat kemampuan mengingatnya setelah
diberikan latihan senam otak.
Otak sebagai sistem syaraf pusat berfungsi penting untuk tubuh karena otak
mengatur kegiatan yang membutuhkan daya pikir yang baik. Namun otak bisa
memiliki masalah karena kurangnya stimulus yang baik. Dibutuhkan gerakan
sederhana yang bisa dilakukan sehari-hari untuk memaksimalkan kerja otak.
Dalam buku Brain Gym karangan Dr. Paul E. Dennison, Ph.D. dan Gail E.
Dennison menyatakan senam otak sebagai pelatihan otak yang sudah
dikembangkan sejak tahun 1970. Senam otak dilakukan untuk meningkatkan
kemampuan otak yang terkadang tanpa disadari semakin berkurang seiring
berjalannya waktu. Usia semakin bertambah, maka otak juga mulai menua.
Berdasarkan latar belakang di atas, kami tertarik untuk melakukan terapi
aktivitas kelompok (TAK) senam otak sehubungan dengan adanya faktor risiko
demensia pada lansia yaitu usia dan aspek kognitif lansia.
B. TUJUAN
1. Tujuan umum
Setelah dilakukannya Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) senam otak
diharapkan dapat meningkatkan daya ingat dan konsentrasi lansia.
2. Tujuan khusus
a. Lansia mengetahui manfaat dari senam otak
b. Lansia mampu melakukan senam otak
c. Lansia mampu dan mau mengaplikasikan senam otak dalam
kehidupan sehari-hari

C. WAKTU DAN TEMPAT


Hari/Tanggal
: Kamis, 04 Februari 2016
Tempat
: Ruang tamu Wisma Matahari PSTW Budi Sejahtera
Waktu
: 10.00 WITA s/d selesai
D. SASARAN
Semua lansia yang tinggal menetap di Wisma Matahari PSTW Budi Sejahtera
E. MEDIA/ALAT
Poster Senam Otak
F. METODE

Ceramah, tanya jawab/diskusi


Demonstrasi

G. SETTING

Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran


Tempat tenang dan nyaman

4
1

4
2

3
4

Keterangan :
1 : Leader
2 : Observer
3 : Fasilitator
4 : Peserta
H. Petugas Pelaksana TAK
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8
9.

Nama Petugas
Indah Dwi Astuti, S.Kep
Nor Ella Dayani, S.Kep
Farida Raudah, S.kep
Grace Epyfania Simarmata, S.Kep
Alpianor, S.kep
Selvia Harum Sari, S.kep
Helma Rasyida, S.kep
Jannatur Rahmah, S.Kep
Ermawati Rohana, S.Kep

Penanggung Jawab
Leader
Observer
Fasilitator
Co-Leader
Fasilitator
Fasilitator
Observer
Fasilitator
Fasilitator

I. Pengorganisasian Dan Uraian Tugas


1) Leader :
a) Membacakan tujuan dan peraturan kegiatan TAK sebelum kegiatan
dimulai
b) Memotivasi anggota untuk ikut aktifitas dalam kelompok

c) Memimpin TAK dengan baik dan tertib


2) Co-leader :
a) Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader tentang aktivitas
klien
b) Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang
3) Fasilitator :
a) Memfasilitasi kebutuhan yang dibutuhkan dalam kegiatan
b) Memotivasi klien untuk mengikuti dari awal kegiatan sampai usai.
4) Observer :
a) Observasi jalannya proses kegiatan
b) Mencatat perilaku verbal dan non verbal selama kegiatan
c) Mengatur alur permainan
J. Strategi Pelaksanaan
Tahap
kegiatan
Pembukaan
(5 menit)

Aktivitas Mahasiswa
a

Mengucapkan

salam.
Menyebutkan nama

Aktivitas lansia
a

Lansia

membalas

salam.
Lansia

menerima

dan asal.
c
Penyampaian
materi
(10 menit)

Alat/
Media
-

Metode
Ceramah

kehadiran mahasiswa

Menjelaskan tujuan.

a. Menjelaskan tentang
pengertian

senam

otak
b. Menjelaskan
manfaat-manfaat
senam otak
c. Menjelaskan tentang

dengan baik.
Lansia
memahami

tujuan dengan baik.


a. Lansia mendengarkan
dan memperhatikan
b. Lansia mendengarkan

Poster

Ceramah dan

senam

Tanya jawab

otak

dan memperhatikan
- Lansia
mengajukan
pertanyaan

cara senam otak


- Memberi
kesempatan
pada

keluarga

untuk
menanyakan
hal-hal
Demonstrasi

yang

kurang jelas
a. Mendemonstrasikan

senam otak

cara senam otak


(10

a. Lansia melihat dan


memperhatikan

Poster
senam

Demonstrasi

Tahap
kegiatan

Aktivitas Mahasiswa

Memberikan

dengan baik
- lansia

Alat/
Media
otak

Metode

mengajukan

kesempatan
kepada

Aktivitas lansia

lansia

pertanyaan

untuk
menanyakan
hal-hal

yang

kurang jelas.
b. Meminta
lansia
untuk

melakukan

b. Lansia

melakukan

senam otak

senam otak secara


Penutup
(5 menit)

bergantian
a. Mengevaluasi

a. Lansia

respon

pertanyaan

subjektif/perasaan

mahasiswa

lansia

setelah

melakukan

senam

otak
b. Mengevaluasi tujuan
TAK

menjawab

b. Lansia

Ceramah dan
Tanya jawab

mampu

menjawab/menjelaskan kembali manfaat


senam otak
c. Lansia
membalas

c. Penutup,

memberi

salam.

salam

K. Evaluasi
1. Evaluasi Struktural
a. Persiapan

proposal senam otak satu

hari sebelum

TAK

dilaksanakan
b. Persiapan tempat, alat/media dilakukan satu hari sebelum TAK
dilaksanakan
c. Mahasiswa membuat kontrak dengan kelompok lansia dan
pengasuh wisma untuk pelaksanaan TAK.

2. Evaluasi Proses
a. Lansia aktif dalam kegiatan TAK, bertanya bila ada kesulitan dan
menjawab pertanyaan dengan baik.
b. Lansia mengikuti TAK dari awal sampai akhir dan mampu
melakukan senam otak dengan benar sesuai yang diajarkan oleh
Leader
3. Evaluasi Hasil
a. Lansia mengetahui dan memahami tentang manfaat senam otak
setelah pelaksanaan TAK
b. Lansia mampu melakukan senam otak setelah TAK
c. Lansia mampu mengaplikasikan senam otak dalam kehidupan
sehari-hari.
Lampiran materi
SENAM OTAK
Otak sebagai sistem syaraf pusat berfungsi penting untuk tubuh karena otak
mengatur kegiatan yang membutuhkan daya pikir yang baik. Namun otak bisa
memiliki masalah karena kurangnya stimulus yang baik. Dibutuhkan gerakan
sederhana yang bisa dilakukan sehari-hari untuk memaksimalkan kerja otak.
Dalam buku Brain Gym karangan Dr. Paul E. Dennison, Ph.D. dan Gail E.
Dennison menyatakan senam otak sebagai pelatihan otak yang sudah
dikembangkan sejak tahun 1970.
Senam otak atau lebih dikenal dengan brain gym sebenarnya adalah
serangkaian gerakan sederhana yang dilakukan untuk merangsang kerja dan
fungsi otak secara maksimal. Awalnya senam otak dimanfaatkan untuk anak yang
mengalami gangguan hiperaktif, kerusakan otak, sulit konsentrasi dan depresi.
Namun dalam perkembangannya setiap orang bisa memanfaatkannya untuk
beragam kegunaan. Saat ini, di Amerika dan Eropa senam otak sedang digemari.
Banyak orang yang merasa terbantu melepaskan stres, menjernihkan pikiran,
meningkatkan daya ingat, dan sebagainya (Gunadi, 2009).
Senam otak dilakukan untuk meningkatkan kemampuan otak yang
terkadang tanpa disadari semakin berkurang seiring berjalannya waktu. Usia
semakin bertambah, maka otak juga mulai menua. Proses menua adalah proses

alamiah yang akan dialami semua makhluk hidup. Fenomena menua juga terjadi
pada sel-sel otak, menurut bagian penyakit saraf Fakultas Kedokteran UNHAS,
dr. Jumraini Tammase SPS, menyatakan kemampuan otak tidak hanya bisa
berkurang karena faktor usia, namun kurangnya aktivitas otak yang memberikan
rangsangan terhadap kinerja otak, juga turut andil terhadap penurunan kondisi
kognitif otak.
Brain Gym atau senam otak tidak menyembuhkan suatu penyakit tetapi
dengan rutin melakukan senam otak, sel-sel tubuh akan bekerja optimal, sehingga
dapat mencegah datangnya penyakit. Untuk mengefektifkan manfaat senam otak,
dapat dilakukan pada pagi hari dalam kurun waktu 5 sampai 15 menit agar otak
siap dan seimbang untuk memulai aktivitas. Serangkaian latihan sederhana yang
disebut senam otak dapat membantu fungsi otak kita menjadi lebih baik dan
tajam, cerdas dan jauh lebih percaya diri.
Banyak orang yang merasa terbantu melepaskan stres, menjernihkan pikiran
dan meningkatkan daya ingat dengan melakukan senam otak. Senam otak berguna
untuk melatih otak. Latihan yang dapat meningkatkan potensi kerja otak yakni
meningkatkan kebugaran fisik secara umum dalam bentuk melakukan brain gym
yaitu

kegiatan

yang

merangsang

intelektual

yang

bertujuan

untuk

mempertahankan kesehatan otak dengan melakukan gerak badan (Markam, 2005).


Latihan otak akan membuat otak bekerjaatau aktif. Menurut penelitian, otak
seseorang yang aktif (suka berfikir) akan lebih sehat secara keseluruhan dari orang
yang tidak atau jarang menggunakan otaknya. Pada teorinya sesuatu organ yang
aktif akan memerlukan pasokan oksigen dan protein. Jika pasokan itu lancar maka
bisa dikatakan organ tersebut sehat (Yanuarita, 2012).
Menurut ahli senam otak sekaligus penemu senam otak, dari lembaga
Educational Kinesiology Amerika Serikat Paul E. Denisson Ph.D., meski
sederhana, senam otak mampu memudahkan kegiatan belajar dan melakukan
penyesuaian terhadap ketegangan, tantangan dan tuntutan hidup sehari-hari.
Selain itu senam otak juga bisa mengoptimalkan perkembangan dan potensi otak
serta meningkatkan kemampuan berbahasa dan daya ingat. Pada lansia, penurunan
kemampuan otak dan tubuh membuat tubuh mudah jatuh sakit, pikun dan frustasi.
Meski demikian, penurunan ini bisa diperbaiki dengan melakukan senam otak.

Senam otak tidak saja akan memperlancar aliran darah dan oksigen ke otak, tetapi
juga merangsang kedua belahan otak untuk bekerja (Yanuarita, 2012).
Manfaat senam otak antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Terhindar dari rasa stress


Merasa lebih awet muda
Mencegah kepikunan
Membantu pemulihan bagi penderita stroke
Dapat menyikapi permasalahan lebih tenang
Menajamkan daya ingat
Meningkatakan konsentrasi
Menyeimbangkan otak kiri dan kanan.
Saat otak kita dalam keadaan seimbang, seluruh tubuh merespon,
merevetalisasi mekanisme penyembuhan, memulihkan kesehatan dan harmoni

tubuh.
9. Meningkatkan kemampuan penglihatan dan kreativitas
10. Meningkatkan ketrampilan komunikasi sehingga membantu membuat
keputusan yang lebih baik dan memberi dorongan ketika menghadapi
penolakan atau kekecewaan.
Pelaksanaan senam otak juga sangat praktis, karena bisa dilakukan dimana
saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Porsi latihan yang tepat adalah sekitar 10-15
menit, sebanyak 2-3 kali dalam sehari (Andri 2013). Senam otak ini melatih otak
bekerja dengan melakukan gerakan pembaruan (repatteing) dan aktivitas brain
gym. Latihan ini membuka bagian-bagian otak yang sebelumnya tertutup atau
terhambat. Disamping itu, senam otak tidak hanya memperlancar aliran darah dan
oksigen ke otak juga merangsang kedua belah otak untuk bekerja sehingga
didapat keseimbangan aktivitas kedua belahan otak secara bersamaan (Denisson
2009).

Tahapan-tahapan Senam Otak


1. Lateralitas (sisi)
Cara melakukan gerakan dan
Gerakan

fungsinya
Cara melakukan gerakan :
Menggambar dengan kedua tangan
pada saat yang sama, ke dalam, ke luar,
ke atas dan ke bawah. Coretan ganda
dalam bentuk nyata seperti : lingkaran,
segitiga, bintang, hati, dsb.
Lakukan dengan kedua tangan.
Fungsi :
a. Kesadaran akan kiri dan kanan.
b. Memperbaiki penglihatan perifer
c. Kesadaran akan tubuh, koordinasi,
serta keterampilan khusus tangan
dan mata
d. Memperbaiki kemampuan olahraga
dan keterampilan gerakan.

Gambar 1. Coretan ganda (Double


doodle)

Cara melakukan gerakan :


Gerakan

dengan

membuat

angka

delapan tidur di udara, tangan mengepal


dan jari jempol ke atas, dimulai dengan
menggerakkan kepalan ke sebelah kiri
atas dan membentuk angka delapan
tidur. Diikuti dengan gerakan mata
melihat ke ujung jari jempol. Buatlah
angka 8 tidur 3 kali setiap tangan dan
dilanjutkan 3 kali dengan kedua tangan.
Fungsinya :
a. Melepaskan

ketegangan

mata,

tengkuk, dan bahu pada waktu


Gambar 2. Tidur (Lazy 8)

memusatkan

perhatian

dan

meningkatkan kedalaman persepsi


b. Meningkatkan

pemusatan,

keseimbangan dan koordinasi.


Otak kita terdiri dari dua bagian, masing-masing belahan otak mempunyai
tugas tertentu. Secara garis besar, otak bagian kiri berpikir logis dan rasional,
menganalisa, bicara, berorientasi pada waktu dan hal-hal terinci. Otak bagian
kanan intuitif, merasakan, musik, menari, kreatif, melihat keseluruhan dan
ekspresi badan. Otak belahan kiri mengatur badan bagian kanan, mata dan telinga
kanan. Otak belahan kanan mengontrol badan bagian kiri, mata dan telinga kiri.
Dua belahan otak disambung dengan corpus callosum yaitu simpul saraf
kompleks dimana terjadi transmisi informasi antara kedua belahan otak (Denisson
2009).

2. Fokus
Gerakan

Cara melakukan gerakan dan


Fungsinya
Cara melakukan gerakan :
Urutlah otot bahu kiri dan kanan.
Tarik napas saat kepala berada di
posisi tengah, kemudian hembuskan
napas ke samping atau ke otot yang
tegang sambil relaks. Ulangi gerakan
dengan tangan kiri.
Fungsinya :
a. Melepaskan ketegangan tengkuk
dan bahu yang timbul karena
stress.
b. Menyeimbangkan otot leher dan
tengkuk (Mengurangi sikap tubuh
yang terlalu condong ke depan)
c. Menegakkan kepala (Membantu

Gambar 3. Burung Hantu (The Owl)

mengurangi
memiringkan

kebiasaan
kepala

bersandar pada siku )

atau

Cara melakukan gerakan :


Luruskan satu tangan ke atas, tangan
yang

lain

ke

samping

kuping

memegang tangan yang ke atas.


Buang napas pelan, sementara otototot diaktifkan dengan mendorong
tangan

keempat

jurusan

(depan,

belakang, dalam dan luar), sementara


tangan yang satu menahan dorongan.
Fungsinya :
a. Peningkatan
konsentrasi

fokus
tanpa

dan
fokus

berlebihan
b. Pernafasan lebih lancar dan sikap
lebih santai
c. Peningkatan energi pada tangan
dan jari
Gambar 4. Mengaktifkan Tangan
(The Active Arm)
Fokus adalah kemampuan menyeberangi garis tengah partisipasi yang
memisahkan bagian belakang dan depan tubuh, dan juga bagaian belakang
(occipital) dan depan otak (frontal lobus). Perkembangan refleks antara otak
bagian belakang dan bagian depan yang mengalami fokus kurang (underfocused)
disebut kurang perhatian, kurang mengerti, terlambat bicara, atau hiperaktif. Pada
perkembangan refleks antara otak bagian depan dan belakang mengalami fokus
lebih (overfocused) dan berusaha terlalu keras (Denisson 2009).

3. Pemusatan
Gerakan

Cara melakukan gerakan dan


Fungsinya
Cara melakukan gerakan:
Air merupakan pembawa energi listrik
yang sangat baik. Dua per tiga tubuh
manusia terdiri dari air. Air dapat
mengaktifkan otak untuk hubungan
elektro kimiawi yang efisien antara
otak dan sistem saraf, menyimpan dan
menggunakan

kembali

informasi

secara efisien. Minum air yang cukup


sangat

bermanfaat

sebelum

menghadapi test atau kegiatan lain


yang menimbulkan stress. Kebutuhan
air adalah kira-kira 2 % dari berat
badan per hari.
Fungsinya :
Gambar 5. Air (Water)

a. Konsentrasi

meningkat

(mengurangi kelelahan mental)


b. Melepaskan stres, meningkatkan
konsentrasi

dan

keterampilan

sosial.
c. Kemampuan

bergerak

dan

berpartisipasi meningkat.
d. Koordinasi

mental

dan

fisik

meningkat (Mengurangi berbagai


kesulitan

yang

berhubungan

dengan perubahan neurologis.

Cara melakukan gerakan :

memegang pusar dengan satu tangan


sementara tangan yang lain memijat
sakelar otak (jaringan lunak di bawah
tulang selangka di kiri dan kanan
tulang dada), sambil mata melirik dari
kanan ke kiri dan sebaliknya. Gerakan
dilakukan selama 30 detik-1 menit
Fungsinya :
a. Keseimbangan tubuh kanan dan
kiri
b. Tingkat energi lebih baik
c. Memperbaiki kerjasama kedua
mata (bisa meringankan stres
visual, juling atau pandangan
Gambar 6. Sakelar Otak
(Brain Buttons)

yang terus-menerus)
d. Otot tengkuk dan bahu lebih
relaks
Cara melakukan gerakan :
Letakkan dua jari dibawah bibir dan
tangan yang lain di pusar dengan jari
menunjuk ke ba-wah. Ikutilah dengan
mata satu garis dari lantai ke loteng
dan kembali sambil bernapas dalamdalam. Napaskan energi ke atas, ke
tengah-tengah badan. Fungsinya :
a. Kesiagaan mental (Mengurangi
kelelahan mental)
b. Kepala

tegak

(tidak

membungkuk)
c. Pasang kuda-kuda dan koordinasi
Gambar 7. Tombol Bumi (Earth
Buttons)

seluruh tubuh
Cara melakukan gerakan :

Sentuhkan 2 jari ke belakang telinga,


di lekukan tulang bawah tengkorak
dan letakkan tangan satunya di pusar.
Kepala sebaiknya lurus ke depan,
sambil nafas dengan baik selama 1
menit. Kemudian sentuh belakang
kuping yang lain.
Fungsinya :
a. Perasaan enak dan nyaman
b. Mata, telinga dan kepala lebih
tegak lurus pada bahu
c. Mengurangi

fokus

berlebihan

pada sikap tubuh.

Gambar 8. Tombol imbang


(Balance Buttons)
Cara melakukan gerakan :
Letakkan 2 jari di atas bibir dan
tangan lain pada tulang ekor selama 1
menit, nafaskan energi ke arah atas
tulang punggung.
Fungsinya :
a. Kemampuan untuk relaks
b. Kemampuan untuk duduk dengan
nyaman
c. Lamanya perhatian meningkat

Gambar 9. Tombol Angkasa


(Space Buttons)
Cara melakukan gerakan :
Pijit daun telinga pelan-pelan, dari
atas sampai ke bawah 3x sampai
dengan 5x.
Fungsinya :
a. Energi dan nafas lebih baik
b. Otot wajah, lidah dan rahang
relaks.
c. Fokus perhatian meningkat
d. Keseimbangan lebih baik

Gambar 10. Pasang Telinga


(The Tinking Cap)

Pemusatan adalah kemampuan untuk menyeberangi garis pisah anatara


bagian atas dan bawah tubuh dan mengaitkan fungsi dari bagian atas dan bawah
otak. Ketidakmampuan untuk mempertahankan pemusatan ditandai dengan
ketakutan yang tak beralasan dan ketidakmampuan untuk menyatakan emosi
(Denisson 2009).

DAFTAR PUSTAKA
1. Constatinides. 2006. Teori proses menua, dalam R. Boedi-Darmojo
(Penyuting), Geriatri, Balai penerbit FKUI : Jakarta.
2. Paul, E. Dennison. 2010. Brain Gym. PT. Grasindo : Jakarta.
3. Anggriyana Tri Widianti, dan Atikah Proverawati. 2010. Senam Kesehatan:
Aplikasi Senam Untuk Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika
4. Boedhi Darmojo dan M. Hadi. 2010. Geriatri: Ilmu Kesehatan Usia Lanjut.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI
5. Dennison, P. E. 2002. Brain Gym. Jakarta: PT Grasindo.
6. Lilik Marifatul Azizah. 2011. Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: Graha
Ilmu

7. Pipit Festi. 2010. Pengaruh Brain Gym Terhadap Peningkatan Fungsi Kognitif
Lansia Di Karang Werdha Peneleh Surabaya. Manuskrip. Staf Pengajar FIK
UM Surabaya
8. Putri Widita Muharyani. Demensia dan Gangguan Aktivitas Kehidupan
Sehari-hari (Aks) Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Wargatama
Inderalaya. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. Volume 1, No.1, Maret,
2010: 20-27.
9. R. Siti Maryam, dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya.
Jakarta: Salemba Medika
10. Yayuk Sunarlin dan Raharjo Apriyatmoko. Pengaruh Senam Otak Terhadap
Kemampuan Kognitif Lanjut Usia. Jurnal Gizi Dan Kesehatan. Vol. 1, No. 2,
Agustus, 2009: 55-60.