Anda di halaman 1dari 34
NILAI-NILAI DALAM PERJUANGAN MENCAPAI KEMERDEKAAN INDONESIA Nilai-Nilai ini yang menjadi inspirator utama dalam pembentukan Pancasila Penjajahan dan Penderitaan • Rakyat Nusantara dijajah selama 350 tahun. Dimulai dengan datangnya badan dagang Belanda yang disebut VOC 1605. • VOC berdagang sambil menaklukan wilayah perdagangannya dibawah kekuasaannya. Ia berdagang dan menguasai. Daerah perdagangan menjadi wilayah jajahan. • VOC menyerahkan wilayah kekuasaannya di nusantara kepada pemerintah Belanda, 1799. Karena 1799 VOC bankrut. Selanjutnya nusantara menjadi wilayah jajahan Belanda. Rakyat Nusantara Mengalami Penindasan • Selama masa penjajahan, rakyat nusantara mengalami banyak penindasan di bidang: ekonomi, politik, sosial, dan agama. • Rakyat dikerahkan kerja paksa buat pemerintah Belanda. • Rakyat dipaksa menanam tanaman perdagangan milik pemerintah dan menjualnya kepada pemerintah degan harga yang sangat murah. Rakyat tidak boleh menam berlebihan agar harganya tidak jatuh. • Petani tidak bebas memanfaatkan tanahnya untuk menanam tanaman kebutuhannya. Karena tanah diharuskan menanam tanaman perdagangan Belanda. Lanjut: Penindasan • Jadi, tanah petani dirampas, tenaganya diperas, harga hasil buminya dengan licik dirampok. • Akibatnya, terjadi kelaparan dan kemiskinan yang mengerikan. Kesaksian orang Belanda yang dikutip Soekarno, dalam Indonesia Menggugat: • ...telah bertindak dengan kekedjaman jang meloear batas kemanoesiaan...(Colenbrander) • ...pemerasan oleh orang jang tidak poenja apa-apa oleh orang jang memegang kapital jakni kekoeasaan. (Brooshoft). • Sipenanam kopi mendapat 4 atau 5 sen sehari, sedang ia memeloekan 30 sen oentuk hidoep...poekoelan dengan pentoeng dan labrakan dengan camboek terdjadi sehari-hari dan di banyak ladang nila biasa sadja orang melihat tiang-tiang oentoek menyiksa orang. Di sini kita melihat soeatu bangsa yang tidak secara oendang-oendang hidoep dalam perboedakan tetapi secara kenjataan. (Stokvis) Lanjut: Penindasan • Soekarno mengutip surat kabar masa itu sebagai berikut: • ...ada satu keloearga beranak 3 hanja hidoep dari daoen-daoenan hoetan berniat untuk menjoeal anaknja... • ada orang laki-laki jang mati gantoeng diri karena poetoes asa melihat isteri anaknja menderita kelaparan. • Di kota ada orang jang minta masoek pendjara sadja. Sebab di pendjara orang masih kenjang makan, sedang di loear beloem tentu dapat makan sekali sehari. Lanjut: Penindasan • Terjadi diskriminasi dalam bidang pendidikan. Rakyat biasa tidak boleh bersekolah di sekolah yang dikhususkan untuk orang Belanda dan para bangsawan. Kantor pemerintah mengutamakan tamatan orang Belanda ketimbang warga pribumi. • Diskriminasi di bidang hukum: Hukum Perdata dan Hukum Dagang Belanda hanya berlaku untuk orang Belanda. Pribumi hanya berlaku hukum adat. • Diskriminasi Agama: Agama Islam dan Agama Suku dipandang lebih rendah dari pada agama Kristen. Perjuangan Mencapai Kemerdekaan • Mengalami dan menghadapi derita penindasan, masyarakat pribumi berusaha membebaskan dirinya. • Modal perjuangannya: • Terbentuk persahabatan lintas suku dan agama, terutama di kalangan kaum terpelajar. • Secara bertahap lahir solidaritas sosial lintas suku dan agama di bumi nusantara. • Warga bumiputra yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi secara lebih sistimatis dan filosofis berjuang membebaskan rakyat nusantara. • Dikalangan mahasiswa terbentuk berbagai studi club, di kalangan pemuda terbentuk berbagai persekutuan pemuda. Sementara di kalangan masyarakat luas terbentuk berbagai organisasi sosial untuk memajukan kehidupan bumiputra yang dalam perkembangannya menjadi partai politik untuk memperjuangkan kemerdekaan bagi rakyat nusantara. Organisasi Sosial dan Partai Politik • Boedi Oetomo adalah organisasi sosial yang pertama. Didirikan 20 Mei 1908 atas prakarsa dr. Wahidin dibantu para siswa STOVIA Jakarta. Semual terbatas pada suku Jawa. Dalam perkembangan selanjutnya meluas menjadi organisasi gerakan nasionalisme. • Tujuan awalnya: memajukan kemampuan intelektual dan kultural bumiputra. • Dalam kongresnya, 3-5 Oktober 1908, tujuannya menjadi: 1)Mengusahakan sistem pemerintahan parlementer; 2) Nebgusahakan perundang-undangan yang menjamin persamaan bagi semua warga masyarakat; 3) Mengusahakan kesempatan yang terbuka bagi perkembangan semua golongan. Lanjut: Organisasi Sosial ... • Indische Vereeniging yang kemudian diubah menjadi Perhimpunan Indonesia (PI), didirikan oleh para mahasiswa bumiputra yang belajar di Belanda, 25 Oktober 1908. Keanggotaannya lintas etnis dan agama. • 1923, PI menegaskan bahwa organisasinya bersifat politik. Pernyataan politiknya: 1) Pemerintah pada masa yang akan datang harus menganut sistem kedaulatan rakyat; 2) Percaya pada kemampuan sendiri untuk mengelola pemerintahan Indonesia; 3) Menggalang persekutuan untuk mencapai tujuan bersama. Lanjut: Organisasi Sosial... • Serikat Dagang Islam yang kemudian menjadi Serikat Islam (SI didirikan 1909. Pendirinya: Tirto Adhi Soerjo (Batavia), Raden Mas Oemar Said Tjokroaminoto (Bandung). • Tujuan awalya untuk membangun persatuan Islam guna menyumbang bagi kemajuan masyarakat Hindia Belanda. Tetapi kemudian SI juga menjadi gerakan orang pribumi mencari keadilan karena ketidak-adilan kolonialisme. Lanjut: Organisasi Sosial... • Partai Komunis Indonesia (PKI), dibentuk 23 Mei 1920, berjanji untuk membebaskan rakyat Indonesia yang menderita dari berbagai bentuk penindasan melalui merebut kemerdekaan bagi bagi pribumi dari penjajah dan mengadakan redistribusi sumber-sumber penghidupan rakyat, antara lain tanah. • Perserikatan Nasional Indonesia, yang kemudian menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI), didirikan pada 4 Junli 1927, diketuai Soekarno. Program kerjanya, a.l.: Memperkuat perasaan kebangsaan dan persatuan Indonesia, Memperbaiki derajad kaum perempuan, menghapus hambatan bagi kemerdekaan bergerak, kemerdekaan pers, kemerdekaan berserikat dan kemerdekaan berkumpul, Memajukan inter-Indonesiche emigratie, Memajukan kehidupan yang berkebebasan, Memajukan perekonomian rakyat, Memerangi perkawinan anakanak dan perkawinan satu isteri. Cita-Cita Politik Soekarno • Soekarno yang lebih populer dipanggil Bung Karno, mengemukakan bahwa kemerdekaan adalah syarat utama bagi rakyat Indonesia mengatur kehidupannya sendiri dimana rakyat jelata bisa bernaung danenyimpan dan memakan buah-buah kerezekian dan kekulturan sendiri, dimana tidak ada kepapasengsaraan. • Soekarno mengagas konsep sosio nasionalisme dan sosio demokrasi. Sosio nasionalisme adalalah nasionalisme yang memampukan bangsa Indonesia menjadi perkakas Tuhan untuk membangun kesejahteraan bagi segenap bangsa Indonesia. • Sosio demokrasi berarti demokrasi untuk kepentingan rakyat dibidang politik dan ekonom. • Cita-Cita politik Bung Karno lanjutnya dimuat dalam pidatonya dalam pada 1 Juni 1945, yang terkenal dengan pidato Lahirnya PancasilaSidang BPUPKI. Sidang BPUPKI Jakarta 29/5-1/6 dan 10/7-17/7 -1945 • Pengantar • Pada 1 September 1939, Hitler menyerbu Polandia dan mulai ber-kobarlah Perang Dunia II di Eropa. Belanda dikepung dan ditaklukkan Jerman pada 10 Mei 1940. Pada 1940 terbentuk persekutuan Jepang-Jerman-Italia. Perancis dikalahkan oleh Jerman pada bulan Juni 1940. Pada bulan September 1940, atas ijin Jerman dan Prancis, Jepang mem-bangun pangkalan militer di Indocina jajahan Prancis. Pada saat itu, pemimpin-pemimpin Jepang mulai membicarakan secara terang-terang-an tentang ‘pembebasan’ Indonesia, karena sudah sejak 1930 Jepang membuka usaha di Indonesia dan memandang Indonesia merupakan wilayah usaha yang menjanjikan. Lanjut: Pengantar • Pada tanggal 8 Desember 1941 (7 Desember di Hawai) Jepang menyerang Pearl Harbour, Hongkong, Filipina, dan Malaysia. Belanda bereaksi dan menyatakan perang terhadap Jepang. Tanggal 10 Januari 1942, Jepang memulai penyerbuannya ke Indonesia. Pangkalan Inggris di Singapura, yang menurut dugaan tidak mungkin terkalahkan, menye-rah pada 15 Februari 1942. Pada akhir bulan itu, tentara Jepang meng-hancurkan armada gabungan Belanda, Inggris, Australia, dan Amerika dalam pertempuran di laut Jawa. Pada 8 Maret 1942, Belanda di Jawa menyerah dan Gubernur Jenderal van Stackenborgh ditawan oleh Jepang. Berakhirlah kekuasaan Belanda di Nusantara. Lanjut: Pengantar •Dengan demikian, maka Indonesia dibawah kekuasaan Jepang. Masyarakat bumiputra sangat menderita karena dipaksa dan dikuras untuk kepentingan peperangan Jepang. Karena itu terjadi perlawan yang bersifat lokal yang ditumpas Jepang di berbagai wilayah Indone-sia. Namun demikian, melalui kegiatan tertentu, antara lain, pendi-dikan, mempekerjakan orang-orang pribumi para berbagai posisi admi-nistratif pemerintahan, mempercayai dan memberi kebebasan kepada para pemimpin masyarakat Indonesia untuk mengkampanyekan nasio-nalisme dan kemerdekaan Indonesia. Para pemimpin masyarakat proto bangsa Indonesia memperlihatkan sikap kerjasama terhadap Jepang. Di balik sikap kerjasama ini tersembunyi rencana memanfaatkan Jepang untuk membebaskan diri sepenuhnya dari penjajahan Belanda. Apalagi pemerintah Jepang terang-terangan menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Penderitaan Rakyat Nusantara Masa Jepang • Syahrir menggambarkan penderitaan rakyat sebagai berikut: “Selama tiga setengah tahun penjajahan Jepang, sendi-sendi masyarakat di desa di obrak-abrik dan diruntuhkan dengan kerja paksa, dengan penculikan orang desa dijadi-kan romusha jauh dari tempat tinggalnya, dijadikan serdadu, dengan penyerah-an hasil bumi secara paksa, dengan penanaman hasil bumi secara paksa, dengan sewenang-wenang yang tiada batasnya • Hampir semua Kyai tidak sudi dijadikan alat tujuan Jepang. Mereka merasa dihina Jepang, karena memaksa rakyat bersujud kearah Tokyo dan menyembah kaisar Jepang. Mereka sangat jengkel dan marah terhadap Jepang. Lanjut: Pengantar • Pada Februari 1944, pasukan Amerika berhasil mengusir Jepang dari Kwajalein di Kepulauan Marshal. Pada bulan yang sama Jepang dilumpuhkan dalam pertempuran di Laut Filipina. Pada bulan Juli Jepang kehilangan angkatan laut mereka di Saipan (Kepulauan Mariana). Pada 7 Sptember 1944, Perdama Menteri Koiso menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Tetapi tidak ditentukan tanggal kemerdekaan itu. • Laksamana Madya Maeda, perwira angkatan laut Jepang, yang menangani kantor penghubung angkatan laut – angkatan darat Jepang di Jakarta, dengan diam-diam mempersiapkan jalan menuju kemerdekaan Indonesia. Ia dengan dibantu oleh sesama perwira angkatan laut mendirikan sekolah-sekolah kursus dua bulanan yang mempersiapkan para pemuda Indonesia secara ideologis untuk menyongsong kemerdekaan Indonesia. Ia menggunakan dana angkatan lautnya membiayai Soekarno dan Hatta untuk berkekeliling mengkampanyekan nasionalisme dan kemerdekaan Indonesia. Ia mendirikan Asrama Indonesia Merdeka di Jakarta untuk melatih para pemimpin muda Indonesia Lanjut: Pengantar • Pada bulan Oktober 1944 pertahanan militer Jepang yang masih tersisa nyaris tersapu bersih di Teluk Leyte. Pada bulan Februari 1945 Manila direbut Amerika. Pemerintah Jepang, pada akhirnya mulai mera-sa tak berdaya menghadapi Amerika. Karena itu Jepang dengan cepat dan serius mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Lanjut: Pengantar. • Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dibentuk Jepang, 1 Maret 1945. Anggotanya 59 orang berasal dari hampir semua kelompok sosial dan kelompok etnis masyarakat Indonesia ditambah tujuh orang Jepang, diketuai dokter Radjiman Wediodiningrat. • BPUPKI bersidang selama 2 masa Nilai-Nilai yang Mencuat Dalam Sidang BPUPKI • Kekeluargaan • Yamin mengemukakan dalam pidatonya, 19 Mei 1945, bahwa: “Negara baru yang akan kita bentuk, adalah suatu negara ke-bangsaan Indonesia atau suatu nationale staat atau suatu Etat Nasional yang sewajar dengan peradaban kita dan menurut susunan dunia seke-luarga di atas dasar kebangsaan dan ketuhanan.” Yamin, memang, tidak secara eksplisit menyebut kekeluargaan sebagai asas. Akan tetapi dalam ungkapan “sewajar dengan peradaban kita dan menurut susunan dunia sekeluarga,” implisit terdapat asas kekeluargaan. Bila untuk relasi antar bangsa saja berlaku prinsip “sekeluarga,” terlebih dalam negara Indonesia harus berlaku asas kekeluargaan, sebab asas kekeluargaan merupakan nilai kultural masyarakat Indonesia. Lanjut: Nilai-Nilai Dalam BPUPKI KEKELUARGAAN • Soepomo, dalam pidatonya, 31 Mei 1945, mengemukakan bahwa dari antara asas kenegaraan yang menganut paham individualisme, paham golongan, dan integralistik atau nasional sosialis, yang paling cocok dengan budaya politik Indonesia adalah asas integralistik. “Tuan-tuan yang terhormat, dari aliran pikiran nasional sosialis, ialah prinsip persatuan antara pimpinan dan rakyat dan prinsip persatuan dalam negara dengan seluruhnya cocok dengan pikiran ketimuran...Dasar persatuan dan kekeluargaan ini sangat sesuai pula dengan corak masyarakat Indonesia. Lanjut: Soepomo • Soepomo menjelaskan lebih lanjut bahwa dalam asas kekeluargaan pemimpin negara besatu-jiwa dengan rakyatnya. “Dalam suasana persa-tuan antara rakyat dan pimpinannya, antara golongangolongan rakyat satu sama lain, segala golongan diliputi oleh semangat gotong-royong, semangat kekeluargaan... Negara harus bersifat “badan penyelenggara,” badan pencipta hukum yang timbul dari sanubari rakyat seluruhnya. Asas negara integralistik sama sekali tidak mengabaikan adanya golongan-golongan sebagai golongan dan setiap warga negara sebagai individu. Negara integralistik tetap memperhatikan kepentingan golongan dan individu, tetapi dalam hal ini bukan golongan dan individu pada dirinya sendiri saja, melainkan dalam hubungan dengan kepentingan masyarakat seutuhnya. Setiap golongan dan individu adalah bagian organik dari masyarakat. Sebab itu setiap golongan dan individu berkewajiban memelihara dan memperkuat persatuan masyarakat. Lanjut: Kekeluargaan • Negara yang berasaskan persatuan dan kekeluargaan tidak mempersatukan dirinya dengan golongan yang terbesar ataupun golongan yang paling kuat dalam masyarakat; akan tetapi berada di atas semua kepentingan golongan dan perorangan dan bersatu dengan segenap warga masyarakat seutuhnya. Soepomo sungguh-sungguh menolak asas individualisme atau perorangan, karena bertentangan dengan asas kekeluargaan sebagai nilai kultural masyarakat Indonesia. • Selanjutnya, dalam pembahasan tentang Hukum Dasar atau Undangundang Dasar, Soepomo mengemukakan bahwa asas kekeluar-gaan yang telah tercantum dalam pembukaan, dalam hal ini Piagam Jakarta, menjadi asas yang menjiwai segenap Undang-undang Dasar. Karena itu, undang-undang dasar (UUD) harus mengandung sistem ke-keluargaan dan tidak boleh memasukkan konsep-konsep yang berten-tangan dengan asas kekeluargaan. Asas kekeluargaan menjamin bahwa negara melindungi segenap bangsa Indonesia berdasar atas persatuan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Soekarno • Kekeluargaan dalam pidato Soekarno, 1 Juni 1945, merupakan intisari dari Pancasila yang ia usulkan sebagai dasar negara. Setelah mengemukakan semua sila Pancasila, Soekarno mengatakan: “Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan gotong rotong. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong-royong.” Menurut Soekarno, ia lebih memilih kata gotong-royong karena gotong-royong lebih dinamis dari pada kekeluargaan. Dalam hal ini, menurut saya, kekeluargaan adalah asas kebersamaan dalam Persatuan Indonesia, sementara gotong-royong adalah aksinya. • Dalam kata gotong-royong terkandung makna kerjasama dalam perjuangan dan kerja keras segenap warga masyarakat untuk mencapai tujuan bersama. Dalam ungkapan Soekarno: “semua untuk semua.” Soekarno juga mendasarkan relasi internasional negara Indonesia yang akan dibentuk pada asas kekeluargaan Kekeluargaan • Soepomo dan Soekarno sependapat bahwa asas kekeluargaan ber-tentangan dengan asas liberalisme dan individualisme, sebab kedua asas ini menimbulkan konflik dan ketidak-adilan sosial, karena yang kuat menindas yang lemah. “Keadilan sosial inilah protes kita yang maha hebat kepada dasar individualisme... Maka karena itu, jikalau kita betul-betul hendak mendasarkankan negara kita kepada faham kekeluargaan, faham tolongmenolong, faham gotong-royong dan keadilan sosial, enyah-kanlah tiap-tiap pikiran, tiap-tiap faham individualisme dan liberalisme daripadanya. Relasi Negara dan Agama •Soepomo mendukung pandangan Hatta tentang pe-misahan urusan negara dan urusan agama. Karena itu negara Indonesia yang akan dibangun adalah negara persatuan nasional yang memisah-kan urusan negara dan urusan agama. Artinya, negara Indonesia bukan negara Islam, karena negara Islam selalu berarti urusan negara dan agama Islam tidak dipisahkan. Bila negara Islam yang didirikan maka dengan sendirinya bukan negara persatuan nasional, sebab, menurut Soepomo, dalam negara Islam: •“...negara mempersatukan dirinya dengan golongan terbesar, yaitu golongan Islam... Meskipun negara Islam akan menja-min dengan sebaik-baiknya kepentingan golongan-golongan lain itu, akan tetapi golongan-golongan agama kecil itu tentu tidak bisa mempersatukan dirinya dengan negara. Oleh karena itu cita-cita negara Islam tidak sesuai dengan cita-cita negara persatuan yang telah diidam-idamkan oleh kita se-muanya....” Akan tetapi negara persatuan nasional tidak besifat “a-religieus,” melainkan dalam negara persatuan nasional tetap dipelihara nilai-nilai luhur dan cita-cita moral. Artinya, dalam negara persatuan nasional Indonesia tetap dipelihara nilai-nillai moral dari agama Islam. Lanjut: Relasi Negara dan Agama • Implikasi dari uraian Soepomo tentang konsep pemisahan urusan negara dan agama ini adalah bahwa semua agama dalam negara Indone-sia mempunyai kedudukan yang sederajat. Dalam negara Indonesia, tidak boleh ada diskriminasi antar agama. Negara bersikap netral terha-dap semua agama. Netral tidak dalam arti tidak peduli, tetapi dalam arti tidak memihak kepentingan salah satu agama. Diskriminasi agama dengan sendirinya menghasilkan diskriminasi antar sesama warga nega-ra berdasarkan agama yang dipeluknya. Hal ini jelas mengancam eksis-tensi negara Indonesia yang bermasyarakat pluralistis (agama dan suku). Hak Istimewa Komunitas Islam • Para peserta sidang BPUPKI dan PPKI, terdiri atas dua golongan aspirasi, yaitu golongan ideologi Islam dan golongan ideologi Kebangsa-an. Golongan Islam mengehendaki agar negara Indonesia yang akan di-bentuk harus berdasar pada agama Islam. Sementara golongan Kebang-saan menghendaki negara Indonesia berdasar pada persatuan segenap warga masyarakat Indonesia. • Golongan Islam menghendaki negara berdasar pada agama Islam, dengan alasan bahwa Islam mengandung ideologi negara. Sebab itu ne-gara dan Islam tidak dapat dipisahkan. Alasan berikutnya adalah bahwa pemeluk agama Islam merupakan mayoritas dalam negara Indonesia yang akan dibentuk. Lanjut: Hak Istimewa... • Berdasarkan pandangan Soekiman, sebenarnya ada alasan yang ketiga, yaitu umat Islam belum yakin bahwa negara yang akan dibentuk dapat melindungi hak keberagamaan umat Islam, bila negara berdasar pada asas netralitas terhadap agama, sebab dari penga-laman masa Belanda, ada aturan bahwa negara menjamin kemerdekaan beragama setiap penduduk Hindia Belanda, tetapi umat Islam tidak diperlakukan sesuai dengan aturan itu. Lanjut: Hak Istimewa... • Soekiman mengungkapkan dengan tulus perasaan umat Islam karena mendapat perlakuan tidak adil, sebagai berikut: • “...kalau kita amat-amati dan mengikuti pembicaraan-pembicaraan dalam sidang Volksraad marhum, menyolok mata umat Islam, sehingga umat Islam masih saja bercuriga dan bersyak-wasangka terhadap kalimat kenetralan dalam hal agama, sebagai aturan ketentuan bentuk negara Indonesia”. Lanjut: Hak Istimewa... • Perjuangan golongan ideologi Islam menghasilkan kompromi dengan golongan Kebangsaan yang di dalamnya komunitas Islam mem-peroleh hak istimewa yang dijamin dalam UUD kesepakatan BPUPKI dalam sidang 16 Juli 1945, dalam hal urusan agama Islam, yaitu ke-wajiban menjalankan syari’at Islam, dan pimpinan negara, yaitu presi-den harus bergama Islam. Dalam hal ini warga negara Indonesia yang beragama Islam secara konstitusional mempunyai hak istimewa dalam hal keberagamaan dan kekuasaan negara (politik). Lanjut: Hak Istimewa... • Perjuangan golongan ideologi Islam menghasilkan kompromi dengan golongan Kebangsaan yang di dalamnya komunitas Islam mem-peroleh hak istimewa yang dijamin dalam UUD kesepakatan BPUPKI dalam sidang 16 Juli 1945, dalam hal urusan agama Islam, yaitu ke-wajiban menjalankan syari’at Islam, dan pimpinan negara, yaitu presiden harus bergama Islam. Dalam hal ini warga negara Indonesia yang beragama Islam secara konstitusional mempunyai hak istimewa dalam hal keberagamaan dan kekuasaan negara (politik). • Akan tetapi pada 18 Agustus 1945 atas usul dari wakil –wakil Indonesia Timur agar hak istimewa komunitas Islam dihapus saja. Bila tidak dihapus, berarti mengkonstitusi diskriminasi dan ketidak-adilan dalam NKRI. Atas negosiasi Hata dengan wakilwakil Islam, hak istimewa komunitas Islam dihapus dari pembukaan dan pasal 29 UUD 1945. Hak Dasar Warga Negara • Meskipun hak-hak dasar rakyat tidak secara rinci di-muat dalam UUD, tetapi para pendiri NKRI, akhirnya, sepakat mengakui hak rakyat berdasarkan martabatnya sebagai manusia, dalam Pembukaan UUD 1945, alinea pertama: “Bahwa sesungguhnya kemerde-kaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanu-siaan dan perikeadilan.” Dalam pernyataan ini, perikemanusiaan dan perikeadilan, lebih dikaitkan dengan eksistensi bangsa dari pada indi-vidu. Hal ini untuk menghindari faham individualisme dan memperta-hankan asas kekeluargaan. Akan tetapi, dengan dicantumkan perikema-nusiaan maka dengan sendirinya penghargaan terhadap eksistensi bangsa harus didasarkan pada penghargaan terhadap eksistensi indi-vidu sebagai manusia. Meskipun eksistensi individu dalam hal ini tidak boleh dilepaskan dari eksistensi masyarakatnya (bangsanya). Dengan demikian maka perikeadilan yang dimaksud di sini tidak sekedar keadilan antar bangsa, tetapi keadilan antar individu dalam ikatan kebangsaannya. Nilai-Nilai Utama Yang Melatardasari Pancasila • Mempelajari sejarah penderitaan dan perjuangan bangsa Indonesasia mencapai kemerdekaannya, tujuan berbagai partai politik, dan konsep-konsep perjuangan para pemikir pejuang, terutama Soekarno, maka disimpulkan 4 nilai utama yang melatardasari dan mengilhami kandungan nilai Pancasila: Persatuan, Kekeluargaan, Kebebasan, dan Kesederajatan (kesetaraan).