Anda di halaman 1dari 41

D3 ARSITEKTUR UNDIP

PERANCANGAN KOTA

BAB I

1.2

Rumusan Permasalahan
Secara makro dengan pembangunan Kabupaten Jepara

PENDAHULUAN

yang pesat dan

secara mikro meningkatnya aktivitas publik di alun – alun Kota Jepara,
diperlukan
1.1

adanya

kajian

bagi

kondisi

eksisting

alun

alun

Kota

Jepara menurut 8 elemen kota Hamid Shirvani dalam bukunya The Urban

Latar Belakang
Kota merupakan sebuah area urban yang berbeda dari desa ataupun

Design Process (1985) guna mengetahui kekuatan (strength), kelemahan

kampung berdasarkan ukurannya, kepadatan penduduk, kepentingan, atau

(weakness), peluang (opportunity) dan solusi (treatment) dari alun –

status hukum. Kota juga merupakan pusat permukiman, suatu hasil dari

alun

proses kehidupan komunitas, serta suatu ruang / wadah yang di dalamnya

diharapkan dapat meningkatkan kualitas fisik dari alun – alun Kota

terkait manusia dengan kehidupannya. Proses yang dialami suatu kota

Jepara.

sangatlah

1.3

panjang,

perjalanan

sejarah

kehidupan

sosial

budaya,

Kota

Jepara

dan

pada

akhirnya

memberikan

sumbangan

yang

Tujuan dan Sasaran

politik, ekonomi, menerangkan catatan sendiri dalam memori kota. Suatu

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengidentifikasi visual

produk sejarah kota (artefak) seharusnya diperhatikan keberadaannya

dan fungsi eksisting alun – alun Kota Jepara sebagai urban space

agar kota yang terus

menurut 8 elemen kota Hamid Shirvani dalam bukunya The Urban Design

berkembang

tidak kehilangan karakter

khasnya

(identitas kota), yang jika dipadukan dengan sosial budaya masyarakat

Process (1985).

sekaligus merupakan spirit kota. Spirit kota memiliki peranan penting
Sasaran

untuk menjaga image kota agar bisa terus bertahan dalam menjalani

dari

(strength),

perubahan waktu.

penulisan

kelemahan

ini

(weakness),

adalah

peluang

mengetahui

(opportunity)

kekuatan
dan

solusi

(treatment) dari alun – alun kota Jepara, elemen - elemen ruang kota
Salah satu unsur yang penting dalam suatu kota adalah dengan

yang

berada

pada

kawasan

memberikan

sumbangan

yang

fisik

alun

alun-alun

Jepara

dan

pada

akhirnya

meningkatkan

kualitas

adanya ruang terbuka atau open space. Ruang terbuka hijau merupakan
suatu kawasan yang dimanfaatkan sebagai unsur keseimbangan ekosistem
perkotaan. Pada lingkup perkotaan di Kota Jepara, ruang terbuka hijau

Shirvani dalam bukunya The Urban Design Process (1985).

dari

alun

diharapkan

kota

Jepara

dapat
menurut

8

elemen

kota

Hamid

direncanakan berupa taman-taman kota, lapangan olahraga, tempat-tempat
1.4

bermain anak, dan sebagai tempat upacara.

Lingkup Permasalahan
Secara substansial, ruang lingkup penulisan membahas sebuah urban

Alun – alun yang berada pada pusat-pusat kota diarahkan sebagai
“landmark” kota yang memberikan dukungan terhadap terbentuknya citra

space, yang berupa alun – alun, menurut 8 elemen kota Hamid Shirvani
dalam bukunya The Urban Design Process (1985).

Kota Jepara. Dalam hal ini alun-alun kota Jepara direncanakan untuk
menjadi “public space” yang mengakomodasi berbagai kegiatan sosial
kemasyarakatan,

seperti

senam,

olahraga,

upacara,

tempat

keramaian

Secara spasial, ruang lingkup penulisan membahas kawasan alun –
alun Kota Jepara.

dsb.

1
ALUN ALUN KOTA JEPARA

D3 ARSITEKTUR UNDIP

PERANCANGAN KOTA

1.5

Metodologi Pembahasan
Metode

pembahasan

Bab

yang

digunakan

adalah

deskriptif

analitis,

sebagai berikut :
1.

ini

berisi

tentang

data

umum

kota

Jepara

dan

mengidentifikasi eksisting dan deskripsi obyek yang terdapat pada
kawasan dan sekitarnya

Survey dan pengumpulan data – data primer (data lapangan

dan observasi langsung alun – alun Kota Jepara) maupun data –

Bab IV Analisa Alun – alun Kabupaten Jepara Menurut 8 Elemen Kota
Hamid Shirvani

data sekunder (studi literatur 8 elemen kota Hamid Shirvani
Bab ini berisi analisa terhadap data eksisting alun – alun
dalam bukunya The Urban Design Process (1985)).
Kota
2.

Jepara

menurut

8

elemen

kota

Hamid

Shirvani

untuk

Menyusun, mengelompokkan dan menyeleksi data alun – alun
menguraikan keadaan kawasan alun-alun Kota Jepara.

Kota Jepara yang relevan dengan permasalahan yang akan dibahas.
3.

Menganalisa data alun – alun kota Jepara dengan menggunakan

teori

8

elemen

kota

Hamid

Shirvani

sebagai

acuan

Bab V Redesain

dasar
Bab ini berisi redesain alun – alun kota Jepara.

pembahasan.
4.

Kesimpulan dari analisa dan rekomendasi yang berisi usulan

yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas

alun – alun

Kota Jepara.

1.6

Sistematika Pembahasan
Bab I Pendahuluan
Bab ini membahas tentang latar belakang masalah, penjelasan
studi,

perumusan

masalah,

metodologi

pembahasan,

tujuan

dan

sasaran studi serta sistematika pembahasan mengenai kajian alun –
alun kota Jepara.
Bab II Tinjauan Pustaka
Bab ini berisi studi literatur relevan yang menjadi alat
mengkaji

bagi

obyek

penulisan.

Dalam

penulisan

ini,

tinjauan

pustaka berisi teori 8 elemen kota Hamid Shirvani dalam bukunya
The Urban Design Process (1985).
Bab III Data Alun – alun Kota Jepara

2
ALUN ALUN KOTA JEPARA

D3 ARSITEKTUR UNDIP

PERANCANGAN KOTA

BAB II

keputusan

untuk

menggunakan

lahan

bagi

maksud

tertentu

sesuai

dengan peruntukannya.

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam peruntukkan lahan terdapat pembagian penggunaan lahan
menjadi
2.1. Tinjauan Teori Perancangan Kota

kelompok-kelompok

sesuai

dengan

interaksi

antara

unsur

aktivitas, manusia, dan lokasi pertama menghasilkan Land Use Plan
dengan pengelompokan aktivitas, fungsi dan karakter tertentu, kedua

Perancangan

Kota

(Urban

Design)

merupakan

suatu

perpaduan

kegiatan antara profesi perencana kota, arsitektur, lansekap, rekayasa
sipil, dan transportasi dalam wujud fisik. Perancangan kota lazimnya
lebih memperhatikan pada bentuk fisik kota. Perancangan kota dapat
mewujudkan dirinya dalam bentuk tampak depan bangunan, desain sebuah
jalan,

atau

sebuah

rencana

kota

atau

dapat

dikatakan

pula

bahwa

perancangan kota berkaitan dengan bentuk wilayah perkotaan. Ruangruang terbuka berbentuk jalan, taman, dan akhirnya ruang yang lebih
besar,

dirancang

bersamaan

dengan

perancangan

fisik

bangunannya,

menghasilkan
pembagian
datang,

Mixed

Land

penggunaan

lahan

kebijaksanaan

kehidupan

24

jam,

Use
yang

Mixed

dengan

Plan

sebagai

terbatas.

Use

jalan

alternative

Untuk

digunakan

masa

ubtuk

memperbaiki

dalam

yang

akan

meningkatkan

sirkulasi

melalui

fasilitas pejalan kaki dan penggunaan yang lebih baik dari sistemsistem

infrastruktur,

perbaikan atau

analisa-analisa

dasar

lingkungan

alam

dan

peningkatan sistem infrastruktur dengan rencana-

rencana serta operasi pemeliharaan.

sehingga kota tersebut merupakan proses dan produk dari perancangan

Dalam

intensitas

pembangunan

seorang

developer

akan

kota. Produk perancangan kota tersebut dapat dikategorikan dalam dua

mendapatkan ijin membangun hingga FAR maksimum, sebagai bonus dari

bentuk umum yang disebut Ruang Kota (Urban Space) dan Ruang Terbuka

kompensasi

(Open Space).

kepentingan umum. Aturan zoning memperhatikan aspek fisik bangunan

Teori perancangan kota dalam aspek perancangan kualitas ruang
kota diperlukan sebagai arahan perancangan kawasan kota. Teori ini

atas

kesediaannya

membangun

fasilitas

tambahan

bagi

yang mengatur ketinggian, pemunduran (setback) , dan lantai dasar
yang diperlukan untuk menunjang public space.

lebih menekankan pada integrasi elemen-elemen pembentuk kota, yaitu

Kesalahan di masa lalu

dalam peraturan tata guna lahan,

integrasi antar bangunan (arsitektur) dalam kesatuan ruang kota dan

antara lain kurangnya keanekaragaman penggunaan lahan dalam suatu

integrasi terhadap pengguna atau manusianya.

area

dan

kesalahan

dalam

memperhitungkan

fisik alamiah. Oleh karena itu,

faktor

lingkungan

dan

hal yang harus diperhatikan untuk

tata guna lahan di masa mendatang adalah mixing use dalam suatu
2.1.1. Teori Elemen Pembentuk Kota Menurut Hamid Shirvani (1986)

urban area, untuk meningkatkan kehidupan 24 jam dengan memperbaiki
sirkulasi melalui fasilitas pedestrian dan penggunaan infrastruktur

a. Tata Guna Lahan
Merupakan elemen pokok dalam urban design yang menentukan
dasar perencanaan dalam dua dimensi, bagi terlaksananya ruang tiga
dimensi.

Tata

guna

lahan

merupakan

pengaturan

suatu

lahan

dan

yang lebih baik, analisis yang berdasarkan lingkungan alami dan
perbaikan

sistem

infrastruktur

serta

rencana

perawatan

yang

diperlukan.

3
ALUN ALUN KOTA JEPARA

D3 ARSITEKTUR UNDIP

PERANCANGAN KOTA

Kebijaksanaan Tata Guna Lahan mempertimbangkan hal-hal berikut :

Sebagai simbol kota
Sebagai indeks sosial

Tipe penggunaan lahan yang diizinkan

Hubungan fungsional yang terjadi antara area yang berbeda

Jumlah maksimum floor area yang ditampung dalam suatu area

Sebagai alat orientasi
Sebagai perangkat estetis

tata guna lahan.

Sebagai perangkat ritual
b. Kepejalan Bangunan

Skala pembangunan baru

Pengertian

Tipe intensif pembangunan yang sesuai untuk dikembangkan pada

konteks kota. Kepejalan suatu gedung ditentukan oleh tinggi,

area dengan karakteristik tertentu.

luas-lebar-panjang,

dari

kepejalan

adalah

olahan

penampilan

massanya

dan

gedung

variasi

dalam

penggunaan

material.
Dalam hal ini yang termasuk dalam penggunaan lahan pada elemen
c. Koefisien Lantai Bangunan (KLB)
perancangan kota antara lain :
Koefisien Lantai Bangunan adalah perbandingan maksimum yang
a. Tipe penggunaan dalam suatu area

diperkenankan antara jumlah luas lantai suatu bangunan dengan

b. Spesifikasi fungsi dan keterkaitan antar fungsi dalam pusat

luas

kota

pekarangannya

(luas

tapak).

Koefisien

Lantai

Bangunan

dipengaruhi oleh daya dukung tanah, daya dukung lingkungan,

c. Ketinggian bangunan

nilai

d. Skala fungsi.

dengan peraturan atau kepercayaan daerah setempat.

harga

tanah

dan

faktor-faktor

khusus

tertentu

sesuai

d. Koefisien Dasar Bangunan ( Building Coverage )
b. Bentuk dan Massa Bangunan (Building Form and Massing)

Adalah perbandingan maksimum yang diperkenankan antara luas

Bentuk dan massa bangunan berkaitan erat dengan ketinggian
bangunan,

Koefisien

Lantai

Bangunan,

Koefisien

Dasar

lantai dasar suatu bangunan dengan luas pekarangannya (luas

Bangunan,

tapak). Koefisien Dasar Bangunan dimaksudkan untuk menyediakan

Garis Sempadan Bangunan, style, skala, bahan bangunan, tekstur dan

area

warna bangunan.

keseluruhan

terbuka

yang

cukup

tapak

diisi

di

kawasan

dengan

perkotaan

bangunan

agar

tidak

sehingga

daur

minimum

yang

lingkungan menjadi terhambat.
Building

form

and

massing

dapat

meliputi

kualitas

yang

berkaitan dengan penampilan bangunan, yaitu :
a. Ketinggian bangunan

e.

Garis Sempadan Bangunan (GSB)
Garis

Sempadan

Bangunan

merupakan

Ketinggian bangunan berkaitan dengan jarak pandang pemerhati,

diperkenankan

berdirinya

suatu

baik yang berada dalam bangunan maupun yang berada pada jalur

jalan.

ini

penting

pejalan kaki. Ketinggian bangunan pada suatu kawasan membentuk

bangunan di tepi jalan kota.

Garis

sangat

jarak

bangunan,
dalam

terhitung

mengatur

dari

as

keteraturan

skyline. Skyline dalam skala kota mempunyai makna :

4
ALUN ALUN KOTA JEPARA

Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menentukan bentuk dan massa bangunan adalah dengan cara mengidentifikasi prinsip-prinsip dan penalaran dibalik bentuk fisik kota. g. kesatuan dan ekspresi dasar Perancangan Kota menurut Spreiregen (1965). permukaan tanah. 5 ALUN ALUN KOTA JEPARA . Dengan adanya warna (kepadatan warna. objek-objek yang membentuk ruang kota dan pola aktivitas. sirkulasi. Ruang kota. Skala. Material Peran material berkenaan dengan komposisi visual dalam 2. yang merupakan elemen dasar data perencanaan Warna Massa kota (urban mass). Langgam Langgam atau gaya dapat diartikan sebagai suatu kumpulan karakteristik bangunan dimana struktur. meliputi : digabungkan di dalam satu periode atau wilayah tertentu. bangunan sekitarnya dan ukuran kawasan. yang didalamnya meliputi bangunan. Tekstur Dalam sebuah komposisi yang lebih besar (skala urban) sesuatu yang dilihat dari jarak tertentu maka elemen yang lebih besar dapat menimbulkan efek-efek tekstur. dari langgam ini dalam skala urban jika direncanakan dengan baik dapat menjadi guideline yang mempunyai kekuatan untuk menyatukan fragmen-fragmen kota. mensintesa berbagai hal penting berkaitan dengan bentuk dan massa bangunan. h. 32). Skala Skala Rasa akan skala dan perubahan-perubahan dalam ketinggian ruang atau bangunan kontras visual dapat yang memainkan dapat peranan membangkitkan dalam daya Sumber: Spreiregen.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA Prinsip f.1965 menciptakan hidup dan dalam hubungannya dengan sudut pandang manusia (Data Arsitek hal kedinamisan. dapat memperluas kemungkinan ragam komposisi yang dihasilkan. sense of enclosure dan tipe urban space. 3. Komposisi yang dimaksud diwujudkan oleh hubungan kota yang harus memperhatikan bentuk (urban form). skala. antar elemen visual. kejernihan warna). j. i. Peran 1. perancangan.

Sirkulasi sebagi sebuah penekanan material  Kelangsungan aktivitas komersial. Sirkulasi sebagai pertimbangan desain Jika kita mengangap sirkulasi merupakan pertimbangan dalam Beberapa penyelesaian parkir yang mengurangiruang parkir dikota desain adalah: bentuk.  Tempat parkir yang ada kualitasnya rendah. dan lain sebagainya. lokasinya tidak Hal ini merupakan pandangan umum semua orang mengenai suatu tepat. dan kurang perawatan. dan Membuat perencanaan paket parkir. tempat Sirkulasi dalam elemen perancangan kota yang secara langsung dapat aktivitas.  maka 4. mengarahkan. misal bagian dasar parkir digunakan untuk tempat pedagang eceran. Sirkulasi dan Parkir (Parking and Circulation)  Membuat Sirkulasi dalam kota merupakan salah satu alat sangat kuat daerah parkir yang diusahakan developer melalui progam urban edge parking untuk menstrukturkan lingkungan perkotaan. Menyatukan tempat parkir dalam satu fungsi bangunan. Dalam proses perancangan sebuah pola sirkulasi perlu diperhatikan beberapa anggapan mengenai sirkulasi yaitu :  Kurangnya fasilitas transportasi umum. lingkungan. Pembuatan material yang senada ataupun sejenis dapat merupakan  Pengaruh visual yang penting pada bentuk fisik dan susunan sebuah kota. membentuk dengan Latar belakang perencanaan sirkulasi dan parkir didaerah perkotaan adalah:  Bertambahnya dan keberadaan mengontrol sistem pola kegiatan transportasi kota. Selain itu sirkulasi juga dapat membentuk karakter suatu daerah. dan mengendalikan pola aktivitas suatu kota. dan skala dari suatu jalan atau jalur bagi   kita harus mepertimbangkan masalah kegunaan pembentukan pola sirkulasi. karna dapat membentuk. mengakibatkan sejumlah pusat kota tampak kotor dan kumuh. satu berkesinambungan kesatuan dengan sehingga hasil membentuk rancangan suatu sehingga sistem yang menimbulkan kesan desain yang menarik. 3. karena faktor efesiensi. dan tempat-tempat transit yang saling berhubungan akan membentuk suatu pergeakan (suatu kegiatan). keamanan. Suatu sistem yang berpola dan tertata rapi menjadi dengan karyawan banyak disediakan sebuah distrik parkir. dalam Suatu pola sirkulasi merupakan suatu pola yang berkelanjutan waktu yang berbeda pula. pedesterian way. bermotor. yaitu: 2. misal dalam suatu kantor tertata.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA c. dari sebagaimana jalan publik. penanda sirkulasi. Sirkulasi sebagai sebuah mata rantai dan sistem visual Membagi tempat parkir dalam dua kegiatan yang berbeda. 6 ALUN ALUN KOTA JEPARA . Kegagalan untuk penyediaan arena merespon parkir pengaturan yang menarik kendaraan dan memadai. dan atau Jalur sebuah yang penekanan jelas akibat dalam penekanan suatu pada pola bahan material mempermudah sistem sirkulasi suatu kawasan. penggunaan sepeda motor. Sirkulasi sebagai sebuah pergerakan dua efek langsung pada kualitas tempat ketempat yang lainnya. sirkulasi yaitu sebuah pergerakan atau perpindahan dari suatu Elemen ruang parkir memiliki 1.

dengan  Lebar jalan tidak kurang dari 7 meter.75 – 3 meter (standar dirjen bina marga)  Tidak terputus walaupun melalui desa. Jalan Kolektor sekunder  Kapasitas lebih besar daripada volume lalu lintas rata-rata.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA 5.  Persyaratan teknik jalan masuk ditetapkan oleh Menteri. Kapasitas sama atau lebih besar daripada volume lalu lintas Persimpangan dengan pengaturan tertentu tidak mengurangi kecepatan rencana dan kapasitas jalan.  Tidak terputus walaupun melalui kota. tempat yang lain.3. lalu lintas lokal dan kegiatan lokal.3 meter (standar dirjen bina Dalam perencanan suatu sebuah sirkulasi jalan yang tentulah tidak menghubungkan satu terlepas tempat marga) sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam undang-undang no. 3. jenis-jenis jalan di bagi menjadi Kapasitas sama dengan atau lebih besar Jalan masuk dibatasi. Sirkulasi sebagai perbedaan waktu rata-rata. system  transportasi di kota klaten. Jalan Lokal Primer  Kecepatan rencana minimal 20 km/jam.  Jalan persimpangan dengan pengaturan Tidak terputus walaupun melalui kota.5 meter (standar dirjen bina Perbedaan dengan antara suatu kondisi ruang yang disini dan berbeda disana yang menimbulkan dibedakan suatu pembentuknya.5 meter (standar dirjen bina  Kecepatan rencana minimal 20 km/jam. sirkulasi. Dalam suatu proses sirkulasi.  Lebar badan jalan tidak kurang dari 6 meter. 13 tahun 1380 tentang tentang jalan jalan dan yang peraturan berkaitan pemerintah dengan no. sirkulasi tersendiri dengan pola keruangan sebagai aspek utama  Lebar lajur jalan antara 3 . marga)  6. direncanakan sehingga tidak mengurangi kecepatan rencana dan kapasitas jalan. mengembangkan dimensi jalan dengan ukuran minimal  Lebar bahu jalan antara 3 – 3. Jalan Arteri Sekunder  Kecepatan rencana minimal 20 km/jam. Jalan Arteri Primer   Kecepatan rencana minimal 80 km/jam.5 meter (standar dirjen bina 4.terdapat perbedaan waktu dalam mencapai tempat yang merupakan tujuan akhir dari alur  Lalu lintas cepat tidak boleh terganggu oleh lalu lintas lambat. 26 tahun pengembangan 1985  dari pada volume lalu lintas rata-rata. tertentu mengurangi kecepatan rencana dan kapasitas jalan.3.  Lebar lajur jalan antara 3 . 5. tidak marga)  Lebar badan jalan minimal 7 meter. 7 ALUN ALUN KOTA JEPARA . 1. Sirkulasi sebagai perbedaan keruangan 2. Hal ini diakibatkan karena adanya proses pencapaian  dalam sebuah kegiatan sirkulasi.  Lalu lintas jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulang alik.  Lebar lajur jalan antara 2.3.  Jalan masuk dibatasi secara efisien. marga)  Lebar lajur jalan antara 3 .  Lebar badan jalan tidak kurang dari 8 meter. sistem  Lebar badan jalan tidak kurang dari 8 meter. Jalan Kolektor Primer JALAN dari  kecepatan rencana minimal 40 km/jam.

bahu memiliki jalur jalan 2x0. bahu jalan 2x1. antara 37 – 41 meter jalan 2x0. Dimensi  Lebar badan jalan tidak kurang dari 5 meter.5 meter. 2x1m. trotoir 2x3. (damija) secara sesuai umum dengan pengembangan pengembangan  Jalan lokal sekunder pembagi (lingkungan).  Berdasarkan UU No.5m. antara 5 – 7 meter Dimensi fungsinya adalah sebagai berikut:  tersebut maksimal jalan minimal 3.5m dan Dimensi tersebut dipertimbangkan minimal memiliki median 3m.5m dan saluran Menghubungkan kota / wilayah (simpul / distribusi) di tingkat nasional / regional. diatas. bahu jalan 2x2.75m dan jalan.5 – 13 meter Dimensi lokal Berdasarkan tersebut 3m tersebut dan dipertimbangkan bahu jalan 2x1m. antara 11 – 17 meter  Kecepatan rencana minimal 10 km/jam.  Sistem jaringan jalan sekunder  Jalan kolektor sekunder.5m. harus mempunyai lebar badan dimensi jaringan pertimbangan jalan minimal memiliki jalur 5m. antara 18 – 22 meter Dimensi tersebut dipertimbangkan minimal Menghubungkan zona-zona/kawasan pada suatu kota / wilayah. jalan 6m.5m. jalur lambat 2x4m. dipertimbangkan Jalan lokal sekunder. Jalan dikelompokkan menjadi 6 ( UU No. jalur hijau dan jalur jalan 2x7. bahu jalan. minimal saluran memiliki jalan jalur Jalan arteri primer.5m dan saluran 2x1m. antara 8. antara 28 – 36 meter Dimensi tersebut dipertimbangkan minimal memiliki jalur perhubungan dalam bentuk apapun meliputi segala bagian jalan jalan 15m. bahu saluran jalan.  Jalan sekkunder yang tidak diperuntukkan bagi jalan kendaraan roda tiga atau lebih. 8 ALUN ALUN KOTA JEPARA .5m termasuk bangunan pelengkap yang diperuntukkan bagi lalu lintas. saluran jalan 2x1m dan maksimal  Lebar lajur jalan antara 2. jalur hijau 2x1. bahu dipertimbangkan jalan memiliki 2x1m. median 2x3m. jalur lambat 2x4m. median 2x3m. jalur minimal saluran jalan. jalur hijau.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA  6. trotoir dan marga) saluran jalan. trotoir dan saluran jalan. dan saluran 2x1m (tertutup). jalan adalah suatu prasarana Jalan arteri sekunder.5m. dan saluran 2x1. jalur hijau 2x1. Jaringan jalan berdasarkan sistem (penghubung)  Jalan kolektor primer.75 – 3 meter (standar dirjen bina memiliki jalur jalan. memiliki jalur jalan 7m. jalan 2x1. antara 17 – 21 meter Dimensi tersebut dipertimbangkan minimal  Sistem jaringan jalan primer memiliki jalur jalan 7m.  Persyaratan teknik diperuntukkan bagi kendaraan beroda tiga  atau lebih. maksimal memiliki jalur jalan. 13 / 1980 ) antara lain : a.5m. Jalan Lokal Sekunder Jalan lokal primer. bahu jalan 2x2. bahu jalan. 13 / 1980.5m.

hendaknya memenuhi strukturnya tidak mengganggu aktivitas di sekitar kawasan  pendekatan program penggunaan berganda  Kendaraan dengan lebar maksimal 2. Jaringan jalan berdasar status pembinaan :  Jalan Nasional / Negara  Jarak jauh  Jalan Propinsi  Kecepatan tinggi  Jalan Kabupaten / Kota  Jalan masuk dibatasi  Jalan Desa / Kampung  Kolektor :  Jarak sedang  Kecepatan sedang  Jalan masuk dibatasi  Lokal : PARKIR Tempat Jarak pendek  Kecepatan rendah  Jalan masuk tidak dibatasi mempunyai pengaruh langsung pada suatu lingkungan yaitu pada kegiatan komersial di daerah perkotaan dan mempunyai  parkir pengaruh visual pada beberapa daerah perkotaan. Pengaruh visual yang penting pada bentuk fisik dan susunan kota Jalan inspeksi saluran  Jalan perkebunan persyaratan sebagai berikut :  Jalan pertambangan  keberadaan  Jalan kelas I : efek lingkungan  d.  Jaringan jalan harus merupakan ruang terbuka yang mendukung citra kawasan dan aktivitas pada kawasan. untuk lalu lintas umum  Jalan Khusus. Jaringan jalan berdasar peranan / fungsi  Arteri e. tidak untuk umum. Elemen ruang parkir memiliki langsung pada kualitas 1. sebagai contoh : yang merupakan suatu usaha yang sukses dalam perancangan kota. Jaringan jalan berdasar klasifikasi teknis dua Dalam merencanakan tempat parkir yang benar. Jaringan jalan berdasarkan peruntukkan  Jalan umum.5 m  Kendaraan dengan panjang 18 m  Kendaraan dengan muatan maksimal 10 ton  Di jalan arteri. 9 ALUN ALUN KOTA JEPARA . 2. memperhatikan:  Jalan kelas II :  Kendaraan dengan lebar maksimal 2.5 m  tempat parkir khusus  Kendaraan dengan panjang maksimal 18 m  tempat parkir di pinggiran kota  Kendaraan dengan muatan lebih dari 10 ton Dalam perencanaan untuk jaringan sirkulasi dan parkir harus selalu  Di jalan arteri.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA b.  Jaringan jalan harus memberi orientasi pada penggunan dan membuat lingkungan yang legible. Kelangsungan aktivitas komersial.  Kerjasama dari sektor kepemilikan dan privat dan publik dalam mewujudkan tujuan dari kawasan. Penyediaan ruang parkir yang paling sedikit memberi efek visual c.

Blok tunggal: bersifat agak individual 2. Blok medan: memiliki berbagai macam massa dan bentuk orang untuk melakukan berbagai macam kegiatan. karena dibangun secara fisik (dengan bahan massa) Terdiri dari 3 elemen yaitu. Elemen sistem terbuka yang linier : berkesan terbuka dengan daerah tersebut untuk berkembang. panjang untuk linier. 10 ALUN ALUN KOTA JEPARA . dan ruang-ruang rekreasi. yaitu: ruang terbuka yaitu: a. lansekap. Berbentuk Memanjang. yaitu ruang terbuka yang mengandung unsurunsur kegiatan di dalamnya. langkah-langkah perencanaan ruang terbuka:  Survey pada daerah yang direncanakan untuk menentukan kemampuan Rencana jangka  sistem terbuka yang sentral : terbuka namun tampak masih terfokus. adalah suatu bentuk dasar dari ruang terbuka bangunan dan dapat digunakan semua yang mendefinisi: Berfungsi sebagai pembatas secara linier 3. Blok d. 2. Ruang terbuka berdasarkan kegiatan yang terbagi sebagai berikut : Void : Elemen yang bersifat abstrak atau kosong (spesial) karena sukar untuk dilihat. pedestrian. sesuai. Dalam penelitian akan penyediaan parkir perancangan kota.  3.: 1. Elemen ruang terbuka kota meliputi. pedestarian. 1. tetapi kesannya tertutup. Elemen sistem yang memusat : berkesan tertutup dan terfokus.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA Sedangkan dalam masalah parkir harus diperhatikan antara parkir Perencanaan open space harus merupakan bagian yang intergal dengan individu dan parkir umum. taman Terdiri dari 4 elemen. yaitu ruang terbuka yang hanya memiliki Pemanfaatan potensi alami kawasan dengan menyediakan sarana yang batas-batas disisi-sisinya misalnya jalan.  bersifat linier. yaitu ruang terbuka yang di dalamnya tidak mengundang kegiatan manusia. Studi mengenai circulation) ruang mengarah terbuka pada untuk kebutuhan stirkulasi akan (open pemanfaatan space yang manusiawi. Elemen 4. sungai. jalan. dan lain-lain. Berikut adalah. Elemen sistem tertutup yang linier : memperhatikan ruang yang  Ruang Terbuka Pasif.  Ruang Terbuka Aktif. yaitu:  Karakter pengguna  Kegiatan dan kebiasaan dari operasi usaha  Biaya  Peraturan pemerintah Solid : merupakan elemen konkret. Menurut Rob Krier dalam buku Urban Space (1979) ada dua bentuk mengoptimalkan potensi alami (natural) kawasan sebagai ruang publik.. perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: Elemen-elemen Open space terbagi dalam dua kelompok. Ruang Terbuka (Open Space) Ruang terbuka menurut Rustam Hakim (1897).

dapat dimanfaatkan secara umum untuk generasi sosial. mengimbangi dan meningkatkan penggunaan arus yang jalan pejalan kaki nyaman bagi sekaligus menjadi bagian dari bangunan tersebut yang dibatasi rasio kota elemen pejalan Perubahan-perubahan pusat ketentuan Ruang terbuka yang berada dalam suatu lingkup bangunan yang oleh kepemilikan. Masalah pokok dalam perencanaan jalan pada pejalan kaki adalah pada  Privat Domain kebutuhan untuk keseimbangan menciptakan antara dinikmati serta pembagian dari akses-akses pelayanan umum lainnya. Berdasarkan letak dan macam kegiatannya. The Architecture of Town and Cities” (1965). dan sebagainya. seperti toko. guna pusat Pendukung elemen aktivitas kota perbelanjaan. lampu. Misalnya Ruang plaza. terhadap i. yang tidak dapat taman hanya berupa membangkitkan rekreasi. Street furniture berupa pohon-pohon. adanya sarana komersial ii. restoran. tingkat sangat berkaitan enclosure Berkaitan dengan yang ruang dengan derajat berpengaruh terbuka. karena aktivitas dan ruang fisik saling melengkapi   H=D. kaki akan raya untuk yang dapat dapat dilakukan dengan memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut : Suatu ruang keterlingkupan makna suatu tebuka atau tempat. satu-satunya alat untuk memenuhi kebutuhan kantong yang berfungsi sebagai ruang-ruang akumulasi aktivitas interaksi tatap muka yang ada dalam kehidupan aktivitas kehidupan kegiatan. Aktivitas Pendukung (Activity Support) ditentukan oleh perbandingan H:D (dengan H=tinggi dan D=lebar) yang Meliputi segala fungsi dan aktivitas yang memperkuat ruang meliputi : terbuka publik. terdapat dua macam ruang Elemen pejalan kaki harus dibantu interaksinya pada elementerbuka : elemen dasar desain tata kota dan harus berkaitan dengan lingkungan  Publik Domain Ruang terbuka kota dan pola-pola aktivitas sesuai dengan rencana perubahan atau yang berada diluar lingkup bangunan sehingga pembangunan fisik bagi kota di masa mendatang. Area Pedestrian (Pedestrian Ways) b. 11 ALUN ALUN KOTA JEPARA . mengemukakan. membentuk sudut 30º Masih terasa terlingkupi (treshold enclosure) sama fungsi seperti dan lain. kota. membentuk sudut 45º satu Rasa keterlingkupan tinggi (full enclosure) pendukung pedestrian way atau plaza tetapi juga pertimbangan antar H=D.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA e. Adapun kualitas enclosure f. Berbentuk Cluster. Spreiregen dalam bukunya ”Urban Design. square. cafe.ada empat macam kualitas enclosure yang Pendukung aktivitas di sepanjang jalan. terbuka bentuk lapangan ini . dan lain-lain. sarana aktivitas alun-alun dan sebagainya.. berpengaruh terhadap makna suatu tempat. . tempat duduk. yaitu ruang terbuka yang memilki batas-batas disekelilingnya. rambu-rambu.. bundaran membentuk kantong- Menurut John Fruin (1979) berjalan kaki adalah salah satu alat penggerak kota..

Adanya Tanda jenis ini merupakan tanda petunjuk arah. Informasi c. suatu ruang tertentu 6. Adapun negatif.lokasi kegiatan keragaman intensitas kegiatan yang dihadirkan dalam tertentu yang mempunyai keterangan jarak. aktivitas komersialnya. Bentuk kegiatan memperhatikan aspek kontekstual Berfungsi untuk menginformasikan kegiatan di suatu lokasi. Petunjuk ke lokasi dan fasilitas lain dirancang b. 1. Komersial support adalah : Tanda jenis ini adalah reklame dan iklan. 2. Tanda-tanda (Signases) Kehidupan kota sangat bergantung pada  Penggunaan papan iklan harus merefleksikan karakter kawasan  Jarak dan ukuran harus memadahi dan diatur sedemikian rupa agar menjamin jarak penglihatan dan menghindari kepadatan. pemunculan. akibatnya penandaan atau petunjuk mempunyai pengaruh  lokasi penting pada desain tata kota. Petunjuk Sirkulasi Biasanya disebut sebagai rambu-rambu lalu lintas yang berfungsi untuk mengatur dan mengarahkan pengendara atau pejalan kaki dalam sirkulasi. d. 3. menyangkut ukuran. petunjuk Dan sebaiknya tidak tidak mengganggu menimbulkan tanda-tanda lalu Penggunaan harus harmonis dengan bangunan arsitektur di sekitar  Pembatasan penggunaan lampu hias kecuali penggunaan khusus untuk teater dan tempat pertunjukkan. bentuk dan lokasi dan fasilitas yang menampung activity support yang bertitik tolak Dalam pemasangan papan iklan harus memperhatikan pedoman teknis sebagai berikut: dari skala manusia g. Tanda-tanda yang mempunyai bentuk khusus dan skala yang besar dapat dijadikan landmark. Pengadaan fasilitas lingkungan e. Sesuatu yang terukur. a. dan lokasi pemasangan pengaruh papan-papan visual lintas. Adanya koordinasi antara kegiatan dengan lingkungan binaan yang 5. Pengaturan.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA Hal – hal yang harus diperhatikan dalam penerapan desain activity 4. Identitas Tanda digunakan untuk pengenalan kegiatan pada lingkungan / lokasi tertentu. Nama Bangunan Dipakai sebagai nama bangunan yang biasanya dilengkapi dengan petunjuk jenis kegiatan yang ada didalamnya. 12 ALUN ALUN KOTA JEPARA . Pembatasan papan iklan yang berukuran besar yang mendominir jenis tanda-tanda (sign ) dibedakan menjadi: di lokasi pemandangan kota.

Yaitu pola yang dibentuk oleh gubahan massa bangunan ditambhakan yang menutupi tanah. dimana pendekatan ini didasarkan pada pola-pola penutupan tanah relatif oleh bangunan.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA h. antara lain : Group Form 1. sejarah dan konteks alam. membantu Fumihiko Menurut Maki (1964). Preservasi dan Konservasi (Preservation and Conservation) Dalam urban keberadaan Linkage artinya garis semu yang menghubungkan antara elemen bangunan yang sudah ada. Manfaat dari adanya preservasi antara lain: dan sebagai sehingga  Peningkatan nilai lahan  Peningkatan nilai lingkungan  Menghindarkan dari pengalihan bentuk dan fungsi karena aspek linkage berbagai merupakan aktivitas suatu dan bentuk fisik karakteristik yang kota. Bentuk bangunan dan elemen-elemen (vocal point) tidak hanya b. nodes satu dengan yang lain atau baru distrik satu dengan yang lainnya. sehingga masyarakat dapat menerima nilai-nilai sosio-kultural tersebut. tetapi merupakan bentuk-bentuk yang cocok dengan potensi masyarakat. Bentuk utama dari pemunculan strategi yang satu dengan elemen lainnya. 13 ALUN ALUN KOTA JEPARA . Ada beberapa tipe intregasi arsitektur. sebagai pengikat atau mata rantai dari bagian-bagian wilayah kota. Solid Figure Teori ini merupakan kombinasi dari kedua teori sebelumnya. terpenting dalam ruang kota. dan terbagi menjadi dua : 2. open space. tetapi (street). linkage dapat berfungsi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi. Void Figure hanya dengan taman. Kehadiran suatu bangunan pada suatu tempat sangat penting untuk emosi dan aktivitas manusia. Peningkatan pendapatan dari pajak dan retribusi Mega Form Susunannya 2. lokal. adalah design penekanan pada juga harus elemen diperhatikan 2. Teori Elemen Kota Menurut Roger Trancik (1986) dihubungkan ke sebuah kerangka berbentuk garis sepanjang ruang lurus. juga meliputi jalan sebagai enclosure. Void tidak sekedar komponen budaya. Figure Ground Theory Berupa Adalah penganalisaan hubungan antara massa bangunan dengan akumulasi tambahan struktur pada struktur.2.1. square dan koridor. Linkage dibedakan menjadi 3 tipe sbb: Compotition Form Merupakan ruang linkage yang terjadi karena komposisis massa komersial  penyatu bangunan yang nampak dalam dua dimensi. Dengan demikian place theory memberikan perwujudan bentuk-bentuk Meruapakan ruang terbuka pada lingkup kawasan perkotaan yang terbentuk diantara blok-blok bangunan.1. dapat membangun pribadi serta kehidupan sosial budaya mereka. Linkage Theory sejarah untuk memperhatikan karakter unik kawasan. menciptakan arti sebuah wilayah.3. Place Theory a.

makam. Urban design merupakan dinding bagian dari proses perencanaan dalam bentuk rancangan yang berkaitan bangunan sekitar). Mempunyai lantai (misalnya jalan dan taman). lapangan terbang. space). agar dapat hidup dan layak dihuni. yang utama. Perancangan kota merupakan proses transformasi kota yang Mennurut Roger Trancik. yaitu kehidupan masyarakat sosial / publik dan kehidupan yang yang dapat digunakan oleh public (semua orang) dan memberi kesempatan bersifat pribadi (privat). dimana terjadi inter-relasi terdapat istilah ruang terbuka untuk pertemuan umum (civic space) antar masyarakat. Bentukan fisik kota merupakan space berbentuk taman (park) dan kebun (garden). terbuka dan ruang-ruang kota yang besar. Finding Lost Space. misalnya fasade lingkungan. 14 ALUN ALUN KOTA JEPARA . Contohnya: jalan. pedestrian. Hard space adalah sesuatu yang secara prinsip harus kaidah-kaidah arsitektur. duduk dengan Sedangkan untuk kehidupan privat memiliki kecenderungan bersifat tertutup (enclosure) sehingga ruang terbuka bukan merupakan kebutuhan santai. ruang umum (public untuk bermacam-macam kegiatan.ruang massa dan sistem sirkulasi (sistem bersama untuk kegiatan sosial. kualitas fisik dan spasial dari suatu kawasan kota atau (elemen kualitas yang pengolahan berfungsi detail. aspek urban design banyak berpengaruh didalamnya. dan lapangan olah raga. Jalan umum.yang sesuatu yang didominasi oleh lingkungan alam.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA Urban space merupakan pusat kegiatan formal suatu kota.1985) Menurut Rustam Hakim. adalah bentuk dasar dari ruang terbuka kota di luar bangunan kontras. melepas lelah. atau kadang-kadang tempat perdagangan. serta tempat-tempat umum yang lain merupakan tempat-tempat plaza. yang Pada menonjol dasarnya Urban space kualitas yang aktivitas yang seperti Pemuda ini. dan dengan memiliki fungsi sebagai penampung segala aktivitas masyarakat kota. yang (green ways) yang dapat memberikan kesempatan kedada masyarakat untuk menghasilkan keunikan (karakter) pola dan bentuk kota (Roger Trancik. sebagai serta dinding. design merupakan jembatan antara perencanaan kota dan arsitektur yang berlangsung didalamnya. Urban space terbagi menjadi hard space berhubungan dengan filosofi sosial yang banyak dibentuk ke dalam dan soft space. berlangsungnya kehidupan publik. Urban space secara ideal harus dilengkapi oleh perhatian utamnaya adalah bentuk fisik kota. Pada setting kota soft selalu berubah dari waktu ke waktu. Kebutuhan dari urban space adalah penutup fisik sesungguhnya atau penyesuian 2. misalnya untuk kegiatan jalan-jalan. saling bertemu serta berkomunikasi satu sama lain yaitu ruang luar yang digunakan untuk kegiatan penduduk kota seharidalam ruang sosialnya. dan bias juga digunakan untuk kampanye. Urban melingkupinya. taman. berekreasi meski secara spontan.yang biasanya terjadi pada ruang-ruang Sedangkan menurut Fedderick Gibbert dalam bukunya Civic space. serta jalur hijau hasil dari interaksi kekuatan-kekuatan material dan spiritual. dibatasi oleh dinding arsitektular dan biasanya dipakai sebagai tempat Kota secara fisik merupakan suatu sistem yang terdiri dari daerah aktivitas. hari. Urban Dalam kehidupan perkotaan terdapat dua tipe kehidupan Open Space sebagai ruang terbuka yang kota. Sedangkan soft space adalah segala linkage). karena keduanya merupakan elemen yang saling terkait dalam lingkungan perkotaan. upacara-upacara resmi. taman kota.2 TinjauanTeori Urban Space yang Dalam perencanaan dan perancangan kawasan perdagangan di Jalan kuat dibedakan dengan oleh bentuk-bentuk karakteristik kota. kotaharus memperhatikan kedua tipe aktivitas tersebut.

persilangan. Urban Open Space tidak hanya 2. Karakteristik fasade bangunan. dan semua ruang komunal. Sehingga dapat dikatakan bahwa Urban desain merupakan jembatan  Radial antara arsitek bangunan sebagai perencana kota dan ruang-ruang publik yang dapat menampung kegiatan masyarakat. rancangan bentuknya. Dalam hal ini Perencana kota memegang peranan penting dalam pembentukan ruang-ruang kota. struktur kota yang terbentuk antara overlap. Path merupakan struktur kota. aspal. Path (Jalan) Urban space direncanakan dengan maksud untuk memperlihatkan linkage yang menonjolkan sebuah bangunan dalam ruang. tidak berhubungan dengan ruang-ruang didekatnya.3 Teori Citra Kota Kevin Lynch seperti yang telah disampaikan diatas.Bagi arsitek. atau menunjukkan Pengertian Path adalah jaringan dimana manusia akan bergerak dari arah sirkulasi utama. kualitas geometriknya. adalah: Pengelompokan ini disesuaikan dengan pola geometrik dari Aktivitas khusus sepanjang jalan. (water Sedangkan untuk memperjelas image atau citra suatu daerah agar fronts). Sehingga dengan demikian Arsitek menempati posisi ideal dalam turut serta bertanggung jawab  Grid terhadap pertumbuhan secara keindahan bentuk kotanya. penggabungan.: misal paving block. bagian. atau mungkin harus diperkuat dengan menggunakan terapan teori elemen pembentuk citra kota yang dikemukakan Kevin Lynch dalam Image of The City. atau pemutarbalikan. maupun yang tidak teratur. sebagaimana ruang dalam arsitektur. a. fasade bangunan gedung-gedung kaca. sehingga skala urban space juga berhungan dengan perkantoran. tetapi juga muka air. tindakan sederhana dengan meletakkan banguanan dalam suatu lingkup perkotaan merupakan suatu tindakan urban desain. dapat berdiri sendiri. dihubungkan dengan ruang-ruang lain yang yang dapat dinikmati dengan Elemen-elemen pembentuk citra kota tersebut adalah: bergerak dari ruang satu ke ruang lainnya. 15 ALUN ALUN KOTA JEPARA . puncak atap. Bentuk-bentuk urban space tersebut dipengaruhi oleh beberapa Tampilan Path itu sendiri.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA Bahkan menurut Cooper-Hewitt. misalnya perdagangan. satu tempat ke tempat lain. misal : fasade bangunan kuno. factor seperti ketepatan sudut. Yang membentuk karakter Path. elemen-elemen sehingga lain adalah dapat dihasilkan bentuk geometrikal yang berfariatif baik yang teratur. Urban space yang  Linear terbentuk tersebut tidak terlepas dari bagaimana ruang-ruang tersebut dibuat dan direncanakan. penambahan. dapat menjadi suatu orientasi baru maka citra dari daerah tersebut Urban space.

Edge bersifat menerus dan tidak teras tajam. Dari aspek jarak Distant landmark Local Landmark 16 ALUN ALUN KOTA JEPARA . Edge (Batas) Batasan elemen-elemen linear. meskipun kenyataanya sulit a. sebenarnya merupakan pengakhiran Macam landmark dapat dibedakan : dari suatu Distrik/kawasan tertentu. Distrik dapat terbagi atas suatu kegiatan fungisional atau campuran dari berbagai macam kegiatan fungisional. kota. tingkat perawatan. harus dikenali pada suatu jarak. detail. space. - Identifiable. - Nilai lebih dibanding histories dan estetis. Berupa kawasan / urban space yang memanjang maupun cluster. melihat batasan yang jelas antar kawasan dengan fungsi yang Dibentuk oleh suatu elemen atau bangunan berbeda. yang bukan merupakan Path. tipe gedung. hutan) d. simbol. Edge tersebut biasanya (tidak selalu) batas untara dua daerah. - Elemen visual diprkuat dengan suara dan bau. - Bentuk yang jelas atau nyata (clear from). topografi. Tiga unsur penting Landmark : dasarnya sebuah kota merupakan intregasi dari berbagai kegiatan fungsional. Informasi yang memberikan gambaran yang tepat dan pasti. Dapat diartikan Batasan. Dinegara maju batasannya Dari aspek bentuk jelas seperti bangunan sangat tinggi. yang biasanya memusat pada kawasan tertentu dalam Tanda fisik. Adapun kriteria Landmark: - Unique memorable. Jarak. from. berupa elemen fisual. use. gunung. Landmark Merupakan Bagian wilayah kota yang bisa dirasakan keberadaanya saat kita berada di dalamnya dan memiliki karakter tertentu. - Memiliki hirarki fisik secara visual. District (Kawasan) Batasan dapat berupa: Fungsional Alam (sungai.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA b. c. pemukiman. aktivitas. Komponen- komponen yang menentukan karakteristik fisik distrik: tekstur. instetitas b. Pada tanda fisik yang dapat memberikan info bagi pengamat dari suatu jarak. dalam kawasan perdagangan.

Node adalah titik pusat kegiatan fungsional suatu kota. keseluruhan pusat distrik pada tingkat yang luas. stasiun kereta kesadaran tentang urban design. berfungsi sebagai core. misalnya stasiun bawah tanah. dan simbol sebuah wilayah penting. Junction and Concentration. fokus. api utama. Secara realistis berupa square skala besar. Pengertiannya kadang dikaitkan dengan suatu landmark karena memang keduanya merupakan ciri kota yang menonjol dan dapat menjadi orientasi penduduk serta para pendatang ke suatu kota. e. secara konseptual berupa titik kecil dalam membuat kontras. Misalnya pasar sebagai pusat perdagangan yang meampung aktivitas jual beli.pertemuan beberapa ruas jalan . Node (Simpul) Kualitas node dibagi menjadi dua. yaitu Introvert node yang memberikan Salah aktivitas satu atau bentuk landmark kegiatan. dsb. Sebuah adalah node node. 17 ALUN ALUN KOTA JEPARA . dapat yaitu menampung sedikit kesan mengarahkan dan Ekstrovert node yang pusat berbagai menerangkan arah-arah umum. bentuk linier.pusat kegiatan . orientasi lingkungan. square di pusat kota yang menjadi tempat masyarakat kota melakukan aktivitas budaya dan rekreatif. Perwujudan node. aktivitas atau suatu aktivitas unik yang menjadi ciri keberadaan node tersebut. dan meletakkan landmark pada suatu tempat yang kota.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA Proses pembentukan landmark yaitu memperluas arah pandang. Ciri-ciri node : .tempat pergantian alat transportasi. dan pendekatan terlihat datang dari sisi tertentu. Yang membedakan adalah kegiatan fungsional di dalamnya atau sekitarnya. Secara terencana yaitu melalui Junction node. memiliki hirarki visual secara strategis atau istimewa. secara tidak di rencana yaitu seperti Tipe node : yang terjadi pada kota-kota kuno. Fungsi landmark yaitu sebagai sarana informasi dan sebagai Thematic consentration. Kedudukan landmark. penghubung yang jelas ke berbagai distrik.

D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA BAB III Batas administrasi Kabupaten Jepara : DATA ALUN–ALUN KOTA JEPARA 3. 18 ALUN ALUN KOTA JEPARA .1 Data Umum Kota Jepara  Utara : Laut Jawa  Selatan : Kabupaten Demak  Barat : Laut Jawa  Timur : Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pati 3. Ditinjau dari letaknya kabupaten Jepara merupakan daerah perlintasan arus lalu lintas yang ramai (pantura).2 Data Existing Alun-Alun Alun Kota Jepara Peta Kabupaten Jepara berdasarkan Struktur Pemanfaatan Ruang Kota Alun-Alun Kota Jepara terletak pada BWK I Peta Kabupaten Jepara berdasarkan Pembagian BWK Kabupaten Jepara Kabupaten Jepara terletak pada Bujur Timur 1130 23 ‘ 20 “ – 1140 9 ‘ 35 “ – Lintang Selatan 50 43’ 30 “ – 60 47’ 44”.

Ujung Batu. transportasi dan permukiman. Prioritas pengembangannya adalah untuk perdagangan dan jasa. Situasi Alun-Alun Jepara Citra Satelit Situasi Alun-Alun Kota Jepara 19 ALUN ALUN KOTA JEPARA . Kauman dan Bulu. perikanan. sebagian Pingkol. perkantoran. BWK ini berbatasan langsung dengan perairan Laut Jawa. Wilayah BWK ini berada di bagian utara. pendidikan. industry. meliputi Kelurahan Jobokuto.PERANCANGAN KOTA D3 ARSITEKTUR UNDIP Alun-alun kota Jepara terletak pada wilayah BWK I (pusat kota). peribadatan.897 ha. dengan luas 438. Fungsi BWK ini adalah sebagai pusat pelayanan pemerintahan bagi skala kota dan kabupaten. Panggang.

Lingkar Timur dan Komplek Setda dan Pendopo Sebelah Selatan : Jl. Pribadi Komando Distrik Militer Sumber:Dokumen Pribadi Sumber : Dok. Lingkar Selatan dan Komplek Pertokoan Alun – alun Kota Jepara sebagai pusat kota dan landmark kota mengalami dalamnya peningkatan sekaligus disekitarnya. Lingkar Barat dan Taman Barat Alun-Alun Sebelah Utara : Jl. Pribadi Sumber : Dok. MASJID AGUNG JEPARA Sumber : Dok. Lingkar Utara dan Masjid Agung Jepara Sebelah Timur : Jl. mengalami pembangunan mempengaruhi Sehingga pembangunan peningkatan pengembangan baru-baru yang dan ini selesai dan alun-alun pada aktivitas penggunaan kota tahun di telah 2008 lalu.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA Batas wilayah perencanaan Alun-Alun Kota Jepara: Sebelah Barat : Jl. Pribadi lahan Jepara KANTOR BUPATI JEPARA Museum Kartini JEPARA SHOPPING CENTER KAWASAN PERTOKOAN DIPONEGORO Sumber:Dokumen Pribadi Sumber:Dokumen Pribadi KAWASAN PKL PASAR Sumber:Dokumen Pribadi Sumber:Dokumen Pribadi 20 ALUN ALUN KOTA JEPARA .

PERANCANGAN KOTA D3 ARSITEKTUR UNDIP SHOPPING CENTER KAWASAN PUBLIK COMERCIAL DISTRICT KAWASAN PEMERINTAHAN KAWASAN PERIBADATAN TUGU PANCASILA 21 ALUN ALUN KOTA JEPARA .

1 Tata Guna Lahan Alun–Alun Kota Jepara Rencana peruntukkan lahan ini 3. fasilitas umum dan fasilitas sosial. BWK I dengan luas lahan 438. Terutama pada kawasan yang berada ‘di dalam’ pusat kota. khususnya kegiatan olahraga (rekreasi). Alun-alun Jepara merupakan pusat dari kegiatan masyarakat Kota Jepara. dan Ujungbatu.897 ha. memang diarahkan sebagai tempat pengembangan dan permukiman menengah atas yang Peta Kabupaten Jepara berdasarkan Ketinggian Bangunan modern. penyedia jasa. Kauman. Dimana lokasinya berdekatan dengan landmark kota Jepara. Jobokuto.2. Kanal.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA 3. bangunan komersial (sebagai pusat ekonomi). Untuk bangunan yang tidak sesuai dengan peruntukkannya (lambiran pantai dan sungai) diarahkan untuk relokasi dan ditertibkan sesuai ketentuan yaitu sepanjang pantai Demaan. perkantoran.2. Karangkebagusan. serta sepanjang sungai Gandu. memilki multi fungsi dengan memperhatikan aspek lingkungan. disekitar pusat kota. Wiso dan Cumbring. Sebagai kawasan yang terletak pada BWK I. 22 ALUN ALUN KOTA JEPARA . yang diharapkan dapat memacu perkembangan lingkungan di Kota Jepara secara merata. dengan tujuan untuk mengintegrasikan struktur Kota Jepara yang masih ‘terpisah’ dengan memanfaatkan potensi lahan kota dan potensi-potensi perkembangan yang ada serta untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan akan wujud. Bulu. sesuai dengan kecenderungan perkembangan lingkungannya yang relative dipengaruhi oleh keberadaan pusat pemerintahan dan perdagangan & jasa. pengaruh lingkungan tersebut maka pembangunan perumahan permukiman di arahkan pada pemanfaatan lahan yang optimal (lahan terbangun 80%).2 Bentuk dan Massa Bangunan Alun–Alun Kota Jepara dirumuskan berdasarkan hasil analisis-analisis sebelumnya. terdapat masjid (sebagai pusat peribadatan). kawasan di sekitar alun–alun kota Jepara tergolong ke dalam tata guna lahan campuran.

Sedangkan untuk sekitar kawasan alun-alun sendiri tidak memilki perbedaan yang Penambahan cukup berarti. Pribadi. 2010 alihkan sepenuhnya untuk kegiatan olahraga. untuk perukiman kelas dengan menengah). Sebelumnya alun-alun ini hanya tanah kosong seperti lapangan berfungsi seperti sepak sebagai festival bola tempat ataupun yang dikelilingi berkumpul pasar bilamana malam. berupa lapangan yang sebagian digunakan sebagai ruang terbuka hijau dan biasa digunakan bilamana ada acara besar termasuk upacara 17an. yaitu antara 1 – 2 lantai.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA Aktifitas-aktifitas struktur ruang yang adalah berperan aktifitas besar dalam perekonomian penentuan da aktifitas permukiman penduduk baik yang memiliki kepadatan rendah (permukiman untuk kelas (permukiman tinggi). wilayah pusat kota Jepara adalah 7 lantai. oleh ada Kemudian jalan acara pada yang khusus tahun 2006 dalam pemugarannya. Bangunan Gereja yang identik dengan ketinggian cukup menonjol pun tidak mengganggu keserasian keseluruhan bangunan karena tertutup oleh vegetasi sehingga skyline yang tercipta cukup harmonis. Rata – rata bangunan memiliki 1 – 2 ketinggian terdiri dari dua luar yang bersebelahan langsung dengan jalan. SKYLINE Namun kekurangan Sumber:dokumen pribadi karena baik dari dirasakan segi masih banyak fungsional maupun estetis maka pada tahun 2008 alun-alun ini di Gambar redesain oleh pemkot setempat dan fungsinya di Perbedaan ketinggian Sesuai dengan peta di atas ketinggian bangunan maksimal di Sumber : Dok. untuk perumahan antara 30-50 % dan bangunan sosial antara 20-30 %. palem yang mengitarinya. Dari lokasi zona aktifitas-aktifitas tersebut. struktur ruang suatu kota akan dapat SKYLINE diketahui. 23 ALUN ALUN KOTA JEPARA . Antara bagian luar dan bagian dalam dibatasi oleh perbedaan lantai. bangunan perdagangan memiliki KDB yang paling tinggi. area pejalan kaki untuk mengelilingi bagian yaitu bagian berfungsi sebagai alun-alun. yaitu antara 60-80 %. Sumber:dokumen pribadi Pemugaran alun-alun dilakukan secara bertahap. yaitu pada tahun 2006 dan 2008. Bagian dalam. permukaan (paving dan rumput) juga dibatasi dengan sederetan pohon Berdasarkan kecenderungan yang terjadi di Kota Jepara. alun-alun ini ditinggikan hingga 50 centimeter dan dibatasi oleh paving block. kepadatan maupun menengah permukiman dengan kepadatan tinggi (permukiman untuk kelas rendah). Bangunan di kawasan alun – alun Kota Jepara dibangun berdasarkan atas skala manusia.

D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA Pada kawasan terdapat dua jenis massa bangunan. Misalnya tempat parkir. dari massa pertokoan. fasos. serta Deretan pohon palem Sumber : Dok. Pribadi ALUN-ALUN JEPARA SEBELUM RENOVASI permukiman warga. plaza. Massa bangunan yang pertama bangunan padat adalah massa adalah dalam bangunan padat. bentuk bangunan Contoh masjid. Massa bangunan ini adalah tidak dikelilingi tembok. fasum. Sedangkan untuk massa bangunan yang kedua adalah massa bangunan kosong. PARKIR ALUN-ALUN KOMPLEK KIOS SUMBER:DOKUMEN PRIBADI SUMBER:DOKUMEN PRIBADI bangunan yang jalan dan jalur pejalan kaki (pedestrian) JALUR PEDESTRIAN SUMBER:DOKUMEN PRIBADI 24 ALUN ALUN KOTA JEPARA .

 Jalan tidak terputus walaupun memasuki desa. 4) Lokal Sekunder  Didesain berdasarkan kecepatan paling rendah 10 km/jam dan dengan lebar badan jalan tidak kurang dari 5 m.  Jumlah jalan masuk tidak dibatasi.  Jumlah jalan masuk dibatasi.  Jumlah jalan masuk tidak dibatasi. 3) Lokal Primer 25 ALUN ALUN KOTA JEPARA .D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA  Didesain berdasarkan kecepatan paling rendah 20 km/jam dengan lebar badan jalan tidak kurang dari 6 m.  Jumlah jalan masuk dibatasi.2.3 Sirkulasi dan Parkir Alun–Alun Kota Jepara a.  Jalan tidak terputus walaupun memasuki kota Pencapaian Alun-Alun Kota Jepara 2) Kolektor Sekunder  Didesain berdasarkan kecepatan paling rendah 20 km/jam dan lebar badan jalan tidak kurang dari 7 m. Area Sirkulasi Klasifikasi Jaringan Jalan Kota Jepara berdasarkan Fungsi Jalan: 1) Kolektor Primer  Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 40 km/jam dengan lebar badan jalan tidak kurang dari 10 m. ALUN-ALUN JEPARA SESUDAH RENOVASI 3.  Mempunyai kapasitas yang sama atau lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata.

Pengguna jalan dikawasan alun-alun diutamakan menggunakan sepeda. 2. taman sudut alun–alun. Penutup jalan pada alun – alun selatan ini terbagi menjadi dua macam. alun-alun karena adalah becak. Jalan ini memiliki lebar ± 2. yang meliputi area lingkar alunalun. Aspal Jalan dengan elemen penutup berupa aspal adalah jalan utama dan jalan yang berada di sekitar alun–alun. dan taman di sebelah barat alunalun. masih Keadaan sangat baik mengingat alun-alun Jepara ini baru saja di redesain.4m. yaitu berupa kendaraan pribadi dan bus khusus wisata karena terdapat Museum Kartini pejalan kaki di sebelah disediakan utara alun-alun. Paving block Material paving block digunakan sebagai elemen penutup pada pedestrian disertai dengan pola lantai mozaik dari bebatuan sebagai detail estetis pada alun–alun kota Jepara ini. Lingkar Selatan 1. cukup banyak becak kontur jalan yang ada relatif datar. Keadaan jalan ini sangat baik. Jalan utama memiliki lebar masing-masing ± 8m sedangkan jalan di sekitar alun-alun memilki lebar ± 5m. Area Parkir 26 ALUN ALUN KOTA JEPARA .D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA Semua jalan di sekitar alun-alun merupakan jalan dengan jalur dua arah. sepeda motor dan kendaraan roda 4. paving dan pedestrian block di ruas di sebelah jalan ini utara juga alun-alun. yaitu : Jl. pedestrian di Sedangkan bagian bagi pinggir dan diseberang jalan di sekitar alun-alun. b. Untuk Meskipun terdapat kendaraan beroda menggunakan di kawasan 3 tenaga yang melintas manusia.

Lapangan ditutupi oleh rumput hijau yang kondisinya masih baik dan sebagian darinya diberi 27 ALUN ALUN KOTA JEPARA . kurang kendaraan Namun mencukupi.mobil sesuai pribadi. sehingga pengguna lain dapat kekurangannya. Pada siang hari tidak banyak kendaraan yang parkir karena memang tidak ada kegiatan yang berarti di area alun-alun. Selain itu parkir menggunakan sisi kendaraan depan pedestrian roda jalan dua bagian utara (Jl. Penataannya tidak menggunaan sistem on street parking. Namun karena lahan parkir tidak terpakai (kosong) para PKL terkadang menjajakan dagangannya di sana mengingat bahwa parkir motor tambahan berada di depan bangunan public (perkantoran). Lingkar Utara). 3.2. Lingkar Selatan) membuat PARKIR ALUN-ALUN sirkulasi jalan pada SUMBER:DOKUMEN PRIBADI sekitar alun-alun tetap aman dan pejalan kaki ataupun alun-alun baik merasakan kenyamanan parkir dirasakan di teratur dalamnya. Area parkir biasanya ramai pada saat ada acara khusus maupun pada saat weekend (Sabtu malam). khusus yang terdapat memang sebagai lokasi disediakan tempat parkir.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA Untuk parkir.4 Ruang Terbuka Alun–Alun Kota Jepara walaupun seperti sekedar jogging untuk dan Ruang terbuka di alun–alun Kabupaten Jepara yang paling nyata adalah lapangan dari alun–alun itu sendiri. lahan Karena area lahan parkir yang kurang luas maka lahan parkir yang ada digunakan untuk berbagai tanpa macam kendaraan penggolongan area (bus. Perletakkannya yang jauh dari jalan utama (Jl. Pada sore hari masyarakat rekreasi berkumpul keluarga di atau alun-alun berolahraga sepakbola. kendaraan sepeda yang motor) akan parkir juga dapat sehingga memberikan kesan tidak teratur / semrawut. Area parkir memanfaatkan area tepian jalan pedestrian alun-alun.

D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA paving block sebagai tempat untuk menempatkan bendera. Pribadi Area sitting group Sumber : Dok. Ruang alun. Apabila kita berdiri di tengah alun – alun. maka akan tercipta sebuah ruang semu. Dengan adanya alun-alun maka akan memungkinkan terjadi aktivitas di dalam maupun di sekitarnya. perbedaan ketinggian yang mencolok dari lingkungan sekitar cukup untuk membuat persepsi ruang. Ruang dalam ini biasanya digunakan sebagai tempat berolahraga. Walaupun tidak ada tembok dibagian pinggir. bermain anakanak .dengan terbuka yang keberadaan lain adalah sitting group pada bagian sehingga barat alun- memungkinkan masyarakat untuk bercengkrama dengan nyaman tanpa tehalang terik matahari. Pribadi 28 ALUN ALUN KOTA JEPARA . Area sitting group Sumber : Dok.

PERANCANGAN KOTA D3 ARSITEKTUR UNDIP 3. Pertama pada bagian tepi yang mengelilingi alun-alun. Jalur pedestrian lainnya terdapat di bagian utara dan barat alunalun. 29 ALUN ALUN KOTA JEPARA . jalur yaitu pedestrian keramik yang pada alun-alun biasa digunakan untuk di luar ruangan (outdoor) dan mozaik batu hias yang membentuk suatu pola estetis pada jarak-jarak tertentu di jalur pedestrian serta keseluruhan jalan pedestrian pada taman sudut alun-alun. Pribadi Jalur Pedestrian pada Alun-Alun Jepara Elemen-elemen menggunakan penurup pendukung lantai.4 meter dan terbuat dari paving block. Jalur pejalan kaki di taman sudut alun-alun Sumber : Dok. Kedua di sepenggalan taman di sudut alun-alun.5 Jalur Pejalan Kaki Alun–Alun Kota Jepara (Pedestrian Ways) Jalur pejalan kaki di kawasan alun – alun Kota Jepara terdapat 3 macam. Jalur pejalan kaki ini memiliki lebar sebesar 2.2.

 sitting area dilengkapi dengan hot spot area. Sitting area pada kawasan ini terdapat di taman kecil di sekitar alun alun dan digunakan untuk fasilitas hot spot.  pot tanaman. Lampu sebagai elemen pedestrian ways pada alun –alun ini memiliki desain yang masih menampilkan kesan kuno dan kolonial. Pribadi Tiang bendera untuk upacara Sumber : Dok. Pot tanaman yang terdapat di sekitar alun-alun Sumber : Dok. Pribadi dan Untuk tempat tanaman dibagi menjadi 4. digunakan untuk Tiang bendera terdapat fasilitas upacara pada pada alun hari-hari alun besar. yang terletak di sudut-sudut alunalun sebagai taman kecil yang terawatt dengan baik. Dan juga terdapat pot-pot tanaman di sekeliling area lapangan alun-alun yang merupakan vegetasi sebagai penambah estetis suatu alun-alun. Pribadi 30 ALUN ALUN KOTA JEPARA .  tiang bendera.  tempat sampah. dsb. Gambar Tempat Sampah disekitar alun alun Sumber : Dok. Dalam artian lampu ini dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Kondisi lampu penerangan cukup baik.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA Street furniture yang melengkapi alun-alun ini antara lain:  lampu penerangan (lighting).

ketika akan memasuki kawasan alun – alun tedapat ring road dengan patung kartini yang juga merupakan identitas kota Jepara.6 Kegiatan Pendukung Alun–Alun Kota Jepara Kegiatan pendukung di alun – alun kabupaten Jepara ialah sebagai tempat upacara. Tugu Pancasila Sumber : Dok. Setelah itu tepat di depan alun Sitting Group sekaligus hot spot area Sumber : Dok. hiburan. Pribadi – alun terdapat tugu dengan bentuk garuda pancasila di atasnya. Pribadi 3. dan rekreasi.2.7 Penandaan Alun–Alun Kota Jepara (Signage)  Nama Bangunan 31 ALUN ALUN KOTA JEPARA . Pribadi Tugu Kartini Sumber : Dok. Pribadi AREA UNTUK PKL Sumber : Dok.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA Penandaan yang dapat ditemui di kawasan alun – alun Jepara ialah:  Identitas Identitas dari alun-alun ini cukup jelas. PKL pada kawasan ini disediakan lokasi khusus agar tidak terjadi kesemerawutan. Pribadi Alun-alun sebagai tempat bermain anak-anak Sumber : Dok. 3.2.

Tanda jenis ini adalah reklame dan iklan. Kartini Sumber : Dok. Kartini yang juga merupakan salah satu ciri khas Kota Jepara. Pribadi  Komersial 3. Pribadi   Petunjuk Sirkulasi Biasanya disebut sebagai rambu – rambu lalu lintas kaki dalam sirkulasi. lokasi kegiatan tertentu yang mempunyai keterangan jarak.2. Penandaan sebagai petunjuk komersial Sumber : Dok. Banyak terdapat di luar kawasan alun-alun yang merupakan area perdagangan dan berisis deretan pertokoan.A. Pribadi Penandaan sebagai petunjuk sirkulasi Sumber : Dok.8. Penandaan sebagai petunjuk lokasi kegiatan Sumber : Dok. Museum ini juga digunakan sebagai gedung kesenian. Pribadi Museum R. terdapat beberapa petunjuk sirkulasi dan larangan. Utilitas Alun-Alun Jepara 32 ALUN ALUN KOTA JEPARA . Di alun-alun selatan Tanda yang berfungsi untuk mengatur dan mengarahkan pengendara kendaraan atau pejalan Petunjuk Ke Lokasi dan Fasilitas Lain jenis ini merupakan petunjuk arah.A.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA Pada salah satu sisi alun – alun terdapat bangunan Museum R.

Jenis drainase menggunakan system drainase tertutup.PERANCANGAN KOTA  D3 ARSITEKTUR UNDIP Drainase Arah pembuangan air hujan dan air kotor diarahkan ke sungai yang terletak di sebelah barat alun-alun. Hal tersebut dapat dilihat dari selokan-selokan disekitar alun-alun yang ditutup oleh dak beton. SUNGAI TEMPAT PEMBUANGAN AIR KOTOR DENAH DRAINASE ALUN-ALUN JEPARA  Titik lampu 33 ALUN ALUN KOTA JEPARA .

D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA Lampu pada kawasan alun-alun jepara terdiri dari lampu penerangan jalan juga lampu hias di beberapa titik.  Bak sampah Perletakan bak-bak sampah sudah cukup memenuhi pada kawasan sekitar alun-alun jepara ini. Jenis sampahnya juga telah dibagi menjadi 2. LAMPU HIAS DI SUDUT ALUN-ALUN BAK SAMPAH KERING (ORANYE) dan BASAH (BIRU) BAK SAMPAH KERING (KUNING) dan BASAH (HIJAU) LAMPU SOROT DI SUDUT ALUN-ALUN BAB IV 34 ALUN ALUN KOTA JEPARA . yakni sampah kering dan sampah basah. Di sudut sebelah utara terdapat 2 buah lampu sorot yang biasanya digunakan ketika ada event tertentu saja.

Sarana peribadatan diwakili oleh adanya masjid di sebelah Bagi kendaraan roda 4 dan bus memang telah ada parker khusus (di depan museum R.A. Jalur utama (jalan lingkar selatan dan jalan Tata guna lahan di kawasan alun-alun jepara dan sekitarnya lingkar timur). Ketinggian bangunan di deretan sekitar alun-alun jepara berkisar antara 1 sampai 2 lantai dimanfaatkan saja. menjadi permasalahan.3. Sebenarnya tidak menjadi Pembagian blok-blok berdasarkan fungsi dari tiap bangunan persoalan yang berarti karena jalan masih cukup lebar untuk sudah sirkulasi kendaraan lain. mungkin Sedangkan maksimal ketinggian sebenarnya bisa mencapai 7 juga pohon sebagai yang luas baik. bersifat Perbandingan massa solid dan massa void yang aktif jika dilengkapi dengan magnet-magnet yang terjadi juga telah terjaga dengan baik.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA ANALISA ALUN – ALUN JEPARA 4. 4.1. yaitu massa void pada pengunjung. Analisa sirkulasi dan parkir MENURUT 8 ELEMEN KOTA HAMID SHIRVANI alun-alun jepara Sirkulasi pengguna jalan terlihat baik dan teratur. menyebabkan skyline kebebasan. kawasan ini didominasi oleh bangunan bersifat komersiil. Oleh sebab itu. Analisa ruang terbuka alun-alun jepara 4. juga terlihat masih dalam kategori teratur. dan tempat singgah guna melepas penat. Suasana seperti taman di sisi barat 35 ALUN ALUN KOTA JEPARA . dan kesejukan. meskipun jalan di sekeliling alun-alun menggunakan konsep jalur 2 arah. segi aksesibilitas maupun pencapaian ke tiap-tiap bangunan. saja tanpa ada marka jalan. Hanya saja mungkin bisa ditata terlihat cukup jelas. bersebelahan dengan lantai. berolahraga.2. berinteraksi rekreasi rumput yang keleluasaan. yang area Penambahan street furniture berupa tempat duduk di beberapa komersiil/pertokoan.A. bisa saja merusak perbandingan yang minat baik tadi. kondisi di sekitar alun-alun jepara bisa dikatakan cukup teratur baik dengan lebih rapi.Kartini. berupa mixed-used area yang berisi bermacam-macam bangunan dengan fungsi yang berbeda-beda. dan gereja di sebelah barat dari alun-alun. tidak saling mengalahkan maupun merusak pencitraan bangunan Ruang terbuka dapat menjadi sebuah ruang komunal dan lebih lainnya. Hanya saja mungkin dapat menarik minat masyarakat untuk dating ke alun-alun. yang untuk tempat dengan memberikan menghijau kesan pula. sehingga hanya diletakkan di tepian jalan selatan. baiknya juga dibawa masuk ke kawasan alun-alun.4. Bagi kendaraan roda 2 terlihat tidak ada parker khusus.Kartini). Ditambah pula dengan batas berupa yang tercipta menjadi cukup harmonis. Selain pusat pemerintahan. Runag oleh karena hijau terbuka ini masyarakat. Dengan banyaknya aktifitas manusia dan titik di sekeliling alun-alun dapat diterapkan guna menarik kendaraan di dalamnya. Analisa tata guna lahan alun-alun jepara cukup lebar. Pencitraan dari masing-masing bangunan juga terlihat museum R. namun ada baiknya diperluas jika memungkinkan. tidak menimbulkan kesemrawutan dikarenakan jarak yang 4. Analisa bentuk dan massa bangunan alun-alun jepara Lapangan alun-alun Dengan tidak adanya bangunan yang sangat menonjol dari segi terawat dengan ketinnggian di sekitar alun-alun jepara.

alun-alun memudahkan sudah pengguna jalur Sedangkan penandaan yang bersifat pengumuman maupun pejalan kaki dengan lapangan memang tidak sepenuhnya bisa komersiil (reklame dan iklan) yang berupa billboard ataupun memberikan keteduhan. Analisa kegiatan pendukung alun-alun jepara Area PKL yang letaknya cukup jauh dari membuat suasana di sekitar alun-alun menjadi cukup tertib. kaki Pohon untuk palem sekedar yang berjalan membatasi penandaan Ditinjau di dari sekitar segi kawasan fungsi. barat Street yang lebih furniture lengkap yang baik segi street juga dapat alun-alun memang menambah kualitas visual dari suatu kawasan. Baliho yang telah Jalur pejalan kaki selain sebagai estetika kota juga berfungsi sebagai wadah manusia untuk melakukan pergerakan kadaluwarsa sebaiknya segera diturunkan agar tidak memberikan informasi yang salah kepada masyarakat. bukan menjadi visualisasi yang negatif. 36 ALUN ALUN KOTA JEPARA . memadai. dikarenakan lebarnya dirasa cukup.6. Analisa preservasi dan konservasi alun-alun jepara Tidak ada bangunan yang merupakan konservasi di sekitar kawasan alun-alun ini. namun mampu menimbulkan kesan estetis baliho sebaiknya ditata agar menjadi daya tarik visual. dari satu tempat ke tempat lainnya. Begitu juga dengan fasilitas bermain anak-anak juga tersedia di sudut alun-alun. yakni taman di sisi sebelah furniture-nya. Namun pengunjung alun-alun masih bisa menikmati pedangang keliling yang biasa lewat di sekitar alun-alun. Kurangnya sitting group. 4. Analisa jalur pejalan kaki alun-alun jepara 4.7. membuat masyarakat jarang menggunakan fasilitas pedestrian di alun-alun. Area perdagangan berupa pertokoan lebih mudah dijangkau oleh pengunjung alun-alun. Mereka yang dating biasanya menuju tempat yang lebih teduh.D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA 4. Analisa penandaan alun-alun jepara Jalur pejalan kaki yang disediakan di sekeliling lapangan Keberadaan alun-alun terasa nyaman.8.5. 4. pada alun-alun. Begitu pula pengunjung alunalun akan kesulitan menemui PKL di sekitar alun-alun. tarik mengitari bagi pejalan alun-alun. Namun efeknya penggunjung di area PKL sulit untuk menikmati suasana di sekitar alun-alun. Penggunaan paving blok yang berwarna dan berkontur menjadi kawasan untuk memahami makna-makna dan simbol-simbol yang daya dimaksudkan oleh masing-masing penandaan.

Akhir dari perjalanan air kotor ini adalah sungai yang merupakan tempat pembuangan air kotor kota. Drainase berupa pembuangan air kotor menggunakan sistem tertutup sehingga terlihat lebih rapi. dan kenyamanan Semua ini pengguna dan dilakukan untuk penggunjung di kawasan alun-alun tersebut. BAB V REDESAIN ALUN-ALUN JEPARA 37 ALUN ALUN KOTA JEPARA . tinggal bagaimana kesadaran masyarakat untuk benar-benar kebersihan mematuhinya. Mengenai bak sampah. Begitu juga dengan lampu hias yang ada menambah semarak kawasan di sekitarnya. pemerintah setempat telah menyediakan 2 jenis bak sampah yaitu warna oranye (sampah kering) dan biru (sampah basah).D3 ARSITEKTUR UNDIP PERANCANGAN KOTA Analisa utilitas alun-alun jepara Jumlah titik lampu sudah cukup menerangi kawasan alun-alun pada malam hari.

PERANCANGAN KOTA D3 ARSITEKTUR UNDIP 38 ALUN ALUN KOTA JEPARA .

PERANCANGAN KOTA D3 ARSITEKTUR UNDIP Tempat parkir Pot tanaman 39 ALUN ALUN KOTA JEPARA .

PERANCANGAN KOTA D3 ARSITEKTUR UNDIP Tempat sampah Lampu taman 40 ALUN ALUN KOTA JEPARA .

PERANCANGAN KOTA D3 ARSITEKTUR UNDIP Sitting area Pedestrian ways 41 ALUN ALUN KOTA JEPARA .