Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK PENGUJIAN MUTU HASIL PERIKANAN
Uji QUANTITATIVE DESKRIPTIVE ANALYSIS (QDA)

Disusun oleh :
Nashirotus Sa’adah
13/346000/PN/13136
Golongan A

LABORATORIUM TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
DEPARTEMEN PERIKANAN
FAKUTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA 2016

Tujuannya untuk mendeskripsikan karakteristik sensori produk.PENDAHULUAN I.. quality control..Panelis yang digunakan harus dipilih secara hati-hati. Analisis deskriptif digunakan secara luas untuk pengembangan produk dan pengontrolan kualitas produk dalam riset pemasaran. Macam – macam uji deskripsi yang digunakan ada tiga yaitu metode flavor profile. et al. sehingga dapat menggambarkan sampel yang nantinya sangat penting untuk analisis kuantitatif. Analisis deskriptif juga dapat dilakukan menggunakan metode spectrum descriptive analysis method. Menurut Meilgard.Uji deskriptif dapat digunakan untuk pengembangan produk. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan dan mengembangkan bahasa. A. Analisis ini dapat dilakukan untuk semua parameter sensori dan beberapa aspek dalam penentuan profil cita rasa (flavor) atau profil tekstur (texture profiling). 1999). 1991). Tujuan . metode texture profile. dan time. kecuali free choice profiling... free choice profiling. dilatih dan dipertahankan kemampuannya di bawah pengawasan pengawas yang berpengalaman. Tinjauan Pustaka Analisis sensori deskriptif adalah metode analisis sensori dimana atribut sensori suatu produk atau bahan pangan diidentifikasi. Sedangkan metode kuantitatif untuk mendeskripsikan karakter sensori suatu produk dengan memberikan penilaian yang menggambarkan sampel dalam suatu skala interval.intensity descriptive analysis (Meilgard et al. 1999). semua metode analisis deskriptif menggunakan penilaian secara kualitatif maupun kuantitatif. et al (2004). dan metode quantitative descriptive analysis (QDA) (Poste et al. Keseluruhan analisis tersebut menggunakan panelis terlatih. 2010). dideskripsikan dan dikuantifikasi dengan menggunakan panelis yang dilatih khusus untuk tujuan ini. Metode dalam analisis deskriptif terus berkembang. dan monitor competition (Setyaningsih. B. dan menggunakan karakteristik tersebut untuk mengkuantitatifkan perbedaan sensori antara produk yang dimaksud (Lawless dan Heymann.

tanggal : Senin. 2.00 WIB Tempat : Laboratorium Teknologi Ikan. Mengetahui langkah-langkah pengujian QDA. C.30-15. 11 April 2016 Waktu : 13.1. Departemen Perikanan . Mengetahui hasil pengujian QDA pada produk hasil perikanan. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Hari.

Dipilih dan disepakati 3 dari 6 karakteristik aroma yang dominan yang medekati aroma sampel. 4. Panelis diminta untuk menilai intensitas atribut aroma dari ketiga sampel dibandingkan dengan kontrol. 2.II. Scoresheet 4. Alat tulis Bahan : 1. Label 3. 3. Cara Kerja 1. 3. Penyaji menyediakan 1 sampel tepung ikan sebagai kontrol dan 3 sampel yang memiliki karakteristik atribut aroma seperti yang sudah dipilih dari diskusi kelompok. Panelis diminta mendeskripsikan karakteristik atribut aroma pada sampel dengan melakukan diskusi kelompok (Focus Grup Discussion). Tepung tulang ikan Fermipan Agar-agar Rumput laut kering B. Alat dan Bahan Alat : 1. METODE PRAKTIKUM A. Data yang diperoleh diolah secara statistik dan hasilnya ditampilkan dalam bentuk grafik jaring laba-laba (spiderweb). 5. Gelas plastik 2. 4. . 2.

4 8. 18 1. 8 6. 8 1. Hasil No. 8 9 1. 92 Agar-agar 10 5 0 Fermipan Rumput laut Gambar 1. 6 4. 08 1. 8 5. 09 . 76 5. 36 6. 16 9. 36 0 1. 4 3 7. 28 7. 68 1. 96 2. 76 5. 04 7. 68 7. 84 2. 44 0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama Yo Floren Hera Rizal Asykar Zaki Lutfi Reni Ai Indah Fira Sara Hanif Isna Nadia Anis Afidah Ibnu Matius Nika Rata-rata Tabel Hasil Pengujian QDA Sampel Agar-agar Rumput laut 4. 04 7. Grafik Spiderweb Pengujian QDA B. 84 1. 52 6. 4 4. 52 11. 44 5. 84 8. 76 1. 6 9. Pembahasan Fermipan 4. 64 3. 44 2. 44 5.III. 28 9.6 1. 56 0. HASIL DAN PEMBAHASAN A. 56 0. 64 1. 04 6 2. 68 6. 8 5. 04 11. 72 4. 32 2. 84 9 0 11. 56 2. 56 4. 12 0 10. 28 3. 2 10. 24 4.

adanya instruksi dimana panelis diminta memberikan tanda pada garis sesuai dengan intensitas persepsi yang diterima. hasil pengujian dengan metode ini juga dapat diolah dengan Principal Component Analysis (PCA) (Setyaningsih 2010). Dengan nilai nol pada titik pusat untuk setiap atribut. analisa deskripsi dapat menolong penyelidikan penyebab perubahan atau ketidakseragaman dapat segera diketahui dan tindakan perbaikan dapat segera dilakukan. menilai pengaruh penanganan terhadap suatu produk atau terhadap beberapa perubahan dalam pengolahan. Salah satu metode uji deskripsi adalah metode Analisis Deskriptif Kuantitatif (Quantitaive Deskriptive Analysis). warna. Pengenalan dan penyeleksian panelis. Tahapan uji QDA adalah sebagai berikut : 1. Oleh sebab itu. pada uji ini banyak sifat yang sensorik yang dinilai dan dianalisis secara keseluruhan. dari pengolahan ke pengolahan.Uji Qualitatif Descriptive Analysis digunakan untuk menilai karakteristik atribut mutu sensori dalam bentuk angka-angka kuantitatif (Hui. untuk mengetahui mutu hasil pengolahan dan menentukan apakah mutu produk mengalami penyimpangan dari waktu ke waktu. 2006). . Sifat-sifat sensorik mutu ini disebut atribut mutu. terhadap mutu produk saingan. apakah karena mutu produk menurun atau sebab lainnya saat pasar suatu produk mundur. Metode QDA didasarkan pada kemampuan panelis dalam mengekpresikan persepsi produk dengan kata-kata menggunakan cara yang terpercaya. Data yang diperoleh dari uji dengan metode ini disajikan dalam bentuk grafik jaring laba-laba (spider web). untuk mendapatkan mutu produk yang seragam dari waktu-ke waktu. Dalam industri uji QDA ini bermanfaat antara lain untuk menilai mutu produk baru terhadap produk lama. serta panelis yang dilibatkan adalah panelis yang telah terseleksi melalui pengujian terlebih dahulu. Selain disajikan dalam spider web. Ciri khusus yang ditemukan pada metode QDA yaitu penggunaan baris yang tidak berstruktur. Misalnya ketengikan. bau dan lain-lain. untuk dilakukannya diagnosis penyebab kemunduran. Pengujian yang dalam praktikum ini dilakukan dengan beberapa tahapan uji QDA. Sifat-sifat sensorik yang dipilih adalah terutama yang paling relevan terhadap mutu atau yang paling peka terhadap perubahan mutu suatu komoditi. Uji deskripsi digunakan untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang karakteristik suatu produk.

2. Kemudian hasil dari 2 kelompok tersebut disatukan dan didiskusikan lagi untuk mendapatkan 3 sampel saja. Analisis data Hasil dari seluruh penilaian panelis selanjutnya direkapitulasi dan ditransformasikan kedalam kebentuk angka.Panelis yang digunakan dalam pengujian QDA yaitu panelis terlatih. 4. Semua praktikan golongan A sejumlah 19 orang dianggap sebagai panelis terlatih. sebagai sampel kontrol yaitu tepung tulang ikan dan 3 sampel lain didapatkan pada tahap FGD yaitu sampel agar-agar. Tipe pengujian skoring digunakan untuk menilai mutu bahan dan intensitas sifat tertentu (Kartika et al. 2004).benar mengetahui atribut yang dinilai. Uji skoring Uji skoring merupakan uji yang menggunakan panelis terlatih dan benar. Penilaian dilakukan dengan memberikan tanda silang (X) di garis pada scoresheet. 3. Tahap kedua yaitu Focus Group Discussion yang terbagi menjadi 2 kelompok untuk mempermudah dalam memberikan tanggapan mengenai atribut aroma dari sampel tepung tulang ikan. Tahap pertama pada praktikum uji QDA yaitu seleksi panelis. Jika tanda silang semakin mengarah ke kiri berarti atribut aroma dari sampel semakin lemah atau aroma tidak mendekati seperti kontrol. rumput laut kering dan fermipan. Uji skoring dilakukan dengan membandingkan ketiga sampel yang telah ditentukan pada tahap FGD dengan sampel control yaitu tepung tulang ikan. 1988). rumput laut kering dan fermipan. Uji pembedaan dapat dilakukan dengan uji triangle dan atau duo-trio. Focus Grup Discussion (FGD) Focus Group Discussion atau diskusi kelompok terarah adalah suatu proses pengumpulan informasi suatu masalah tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok (Irwanto. Tahap ketiga yaitu pengujian skoring. 1998). sedangkan jika tanda silang semakin mengarah ke kanan berarti atribut . panelis dapat diseleksi dengan uji pembedaan (Stone dan Sidel. Sampel yang digunakan ada 4.. Terhadap angka-angka hasil penilaian tersebut ditampilkan dalam bentuk grafis dengan spider web. Sampel yang disetujui saat tahap FGD yaitu agar-agar. Asisten bertugas sebagai pemimpin jalannya FGD.

Penilaian pada scoresheet diukur menggunakan penggaris untuk memperoleh angka pasti. garis yang mengarah semakin ke tepian berarti rata-rata sampel yang diuji aromanya semakin mendekati dengan sampel kontrol. rumput laut kemudian fermipan dengan nilai rata-rata dari masing-masing sebesar 5. Berdasarkan hasil praktikum yang didapatkan urutan sampel dari yang paling mendekati sampel kontrol berupa tepung tulang ikan yaitu dimulai dari agar-agar. .aroma dari sampel semakin kuat atau aroma mendekati seperti kontrol. Setiap pergantian sampel dilakukan istirahat selama 30 detik. Hasil penilaian terhadap atribut aroma sampel dapat dicantumkan pada scoresheet dengan cara memberikan garis dalam skala antara lemah hingga kuat. Pada grafik spiderweb. Data rata-rata yang diperoleh dari uji dengan metode ini disajikan dalam bentuk grafik jaring laba-laba (spider web). Penilaian terhadap atribut aroma dilakukan dengan mengidentifikasi skala kedekatan atribut aroma dari sampel dengan kontrol. 09. Istirahat dilakukan dengan tujuan menghindarkan pengaruh sampel sebelumnya terhadap sampel setelahnya yang dapat mengakibatkan terjadinya bias. Kemudian data dari semua panelis disatukan dan dihitung rata-rata setiap sampelnya. 92. Sehingga didapatkan kesimpulan bahwa sampel agar-agar adalah sampel yang aromanya paling mendekati dengan tepung tulang ikan. 4. 72. Uji skoring dilakukan dengan mencium bau sampel kontrol selama 5 detik. dan 4. kemudian dilanjutkan dengan mencium bau sampel lainnya selama 5 detik. Data yang didapatkan persebarannya luas dan hasil tersebut dipengaruhi oleh tidak adanya seleksi panelis sehingga mempengaruhi kesatuan pendapat saat tahap FGD. Tahap yang terakhir yaitu analisis data untuk mendapatkan hasil dari pengujian.

4. 2. Kesimpulan 1. Focus Grup Discussion (FGD). Berdasarkan hasil urutan sampel dari yang paling mendekati sampel kontrol berupa tepung tulang ikan yaitu dimulai dari agar-agar. PENUTUP A. Saran Sebaiknya parameter yang digunakan tidak hanya berdasarkan aromanya saja sehingga panelis juga dapat menilai sampel dengan parameter yang berbeda. 09. uji skoring dan analisis data. rumput laut kemudian fermipan dengan nilai rata-rata dari masing-masing sebesar 5. Sehingga didapatkan kesimpulan bahwa sampel agar-agar adalah sampel yang aromanya paling mendekati dengan tepung tulang ikan. Pengujian analisis deskriptif kuantitatif (QDA) dilakukan melalui beberapa tahap meliputi pengenalan dan penyeleksian panelis. 72.. 92. . B.IV. dan 4.

Sidel. New York. 2004. G. PAU Pangan dan Gizi. Laboratory Method for Sensory Analysis of Food. Pusat kajian Pembangunan masyarakat. Apriyantono dan M.. M. dan Carr. Kartika. Florida.D. B.. . Civille. G. Sensory Evaluation Practices. Florida. Lawless. Sensory Evaluation Techniques. Setyaningsih. Jakarta.T. and. Butler. 1988.L.V. Poste.. Civille. Analisis Sensori untuk Industri Pangan dan Agro. CRC. Meilgard. Canada.. Irwanto. 2010. T. Elsevier Academic Press. dan Larmond. San Diego.DAFTAR PUSTAKA Hui. E. Pedoman Uji Inderawi Bahan Pangan. dan Heymann. M. UGM. D.. dan Supartono. Third edition. Handbook of Food Science. 1998. Yogyakarta. Press LLC.. Y. H. Sensory Evaluation Techniques. L. 2004.. IPB Press. Technology. Third edition. dan Carr. J. USA. G.P. H. B. Press LLC. A. Engineering Volume I. Sensory Evaluation of Food Principles and Practices. Kluwer Academic Plenum Publishers. Stone. CRC. 2006. 1999. Bogor. M. B. Universitas Katolik Atma Jaya. Hastuti. Meilgard. H. B. Sari..V..1991. Focus Group Discusion (FGD)... A. Mackie.. CRC Press. Research Branch Agriculture Canada Publication. 1998. Sebuah Pengantar Praktis.T. H.