Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

CERVICAL ROOT SYNDROME

Pembimbing:
dr. Eka Poerwanto, Sp.KFR
Oleh :
Daylan Oscar

2010.04.0.0022

BAGIAN ILMU KESEHATAN FISIK DAN REHABILITASI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HANGTUAH SURABAYA
RSAL DR. RAMELAN SURABAYA
2016

LEMBAR PENGESAHAN
REFERAT ILMU KESEHATAN FISIK DAN REHABILITASI
CERVICAL ROOT SYNDROME
Referat Ilmu Kesehatan fisik dan rehabilitasi ini telah diperiksa dan
disetujui sebagai salah satu tugas kepaniteraan klinik di bagian Ilmu
Kesehatan fisik dan rehabilitasi di RSAL Dr. Ramelan Fakultas
Kedokteran Universitas Hang tuah Surabaya.
Surabaya,

Januari 2016
Mengesahkan

Dosen Pembimbing

dr. Eka Poerwanto, Sp.KFR

TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi vertebra cervikalis
Anatomi vertebrae Cervical berbeda dengan vertebrae thoracal dan
juga lumbal. Ini semua berkaitan dengan fungsinya yang memang
berbeda. Vertebrae cervical relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan
vertebrae lumbal, begitu juga dengan discus intervertebralenya yang
memiliki ukuran lebih kecil. Vertebra Cervical yang pertama dan kedua
(C1 dan C2) memilki susunan anatomi yang berbeda dengan yang
lainnya.1
Leher merupakan bagian spina/tulang belakang yang paling
bergerak (mobile), mempunyai tiga fungsi utama, yaitu:1,2
1. menopang dan memberi stabilitas pada kepala;
2. memungkinkan kepala bergerak di semua bidang gerak;
3. melindungi struktur yang melewati spina, terutama medula spinalis,
akar saraf, dan arteri vertebra.
Spina servikal menopang kepala, memungkinkan gerakan dan
posisi yang tepat. Semua pusat saraf vital berada di kepala
memungkinkan pengendalian penglihatan (vision), keseimbangan
vestibular, arahan pendengaran (auditory) dan saraf penciuman; secara
esensial mengendalikan semua fungsi neuromuskular yang sadar. Untuk
itu maka kepala harus ditopang oleh spina servikal pada posisi yang tepat
agar memungkinkan gerakan spesifik untuk menyelesaikan semua fungsi
tersebut.
Kolumna servikal dibentuk oleh tujuh tulang vertebra. Spina
servikal, C1-C7, terlihat dari lateral membentuk lengkung lordosis dan
kepala pada tingkat oksipitoservikal membentuk sudut yang tajam agar
kepala berada di bidang horizontal. Apabila dilihat dari anteroposterior
maka spina servikal sedikit mengangkat (tilt) kepala ke satu sisi. Hal
tersebut dapat dijelaskan oleh faset pada oksiput, atlas (C1) dan aksis
(C2) yang sedikit asimetrik.

Spina servikal merupakan persatuan unit fungsional yang saling


tumpang-tindih (superimposed), masing-masing terdiri atas 2 badan, yang
dipisahkan oleh diskus intervertebra mulai di bawah aksis (C2). Unit
fungsional spina servikal dibagi atas dua kolumna, yaitu kolumna anterior
yang terdiri atas vertebra, ligamen longitudinal dan diskus di antaranya,
serta kolumna posterior yang meliputi kanal oseus neural, ligamen
posterior, sendi zygapophyseal, dan otot erektor spina. Secara anatomis,
foramen intervertebralis terletak di antara kedua kolumna tersebut.
Sebenarnya, otot servikal bagian anterior yaitu fleksor merupakan bagian
dari kolumna anterior. Untuk mengevaluasi secara fungsional maka spina
servikal dibagi menjadi segmen servikal atas (diatas C3) dan segmen
servikal bawah (C3-C7). Setiap segmen itu berfungsi berbeda.

Gambar 1. Gerakan Leher/Cervival

Gambar 2. Vertebra, pandangan lateral dan posterior


1. Vertebra cervical 1 (Atlas) :
4

a) Tidak mempunyai corpus, hanya berupa arcus anterior.


b) Processus transversus tanpa foramina dan tidak ada processus
spinosus.
c) Di sisi atas mempunyai 2 facet konkaf untuk menopang condylus
occipitalis

Gambar 3. Vertebra servikalis 1 (tulang atlas)


2. Vertebra cervical 2 (Axis) :
a) Mempunyai processus odontoid atau dens yang menonjol ke atas
dari corpusnya, bersendi dengan arcus dari atlas anterior dan diikat
kuat oleh ligament.
b) Di bawah C2 terdapat discus di antara tiap vertebrae.

Gambar 4. Vertebra servikalis 2 (axis/epistropheus)


3. Vertebra Cervical 3, 4, 5. :
Mempunyai processus spinosus yang bercabang.

Gambar 5. Vertebra servikalis 3-6 (vertebra servikalis tipikal)


4. Vertebra Cervical 6 dan 7 :
a) Processus spinosus tidak bercabang dan lebih panjang.
b) Merupakan transisional vertebra, mirip dengan vertebrae thoracal.
c) Permukaan superior konkaf, terdapat processus uncinatus pada tiap
sisi, sendinya disebut uncovertebral von Luschka.

Gambar 6. Vertebra servikalis 7 (vertebra prominens)


B. Diskus intervertebralis
1) Pada vertebrae cervical lebih kecil.
2) Terdiri dari nucleus pulposus, annulus fibrosus, dan 2 cartilaginous
end plate.
3) Lebih tertutup tulang bila dibandingkan dengan vertebra yang lain.
C. Articulatio
Persendian antara kepala dan vertebra Cervical atas :
1) Articulatio atlantooccipitalis
2) Articulatio atlantoepistrphica
Persendian tiap vertebra Cervical, mempunyai 5 buah facies articularis :

1) Satu articulation corpus vertebra yang dipisahkan oelh discus


intervertebralis.
2) Dua sendi uncovertebralis von Luschka yang bersiga sendi palsu dan
tidak dibatasi membrana synovia.
3) Dua articulation facet yang terletak di belakang corpus
Oleh karena bentuk persendian pada cervical seperti Sadel
sehingga terjadi gerakan yaitu : fleksi-ekstensi, lateral-bending, dan
rotasi.
D. Persarafan
Saraf yang keluar dari vertebrae Cervical berjumlah 8, dimulai dari
C1 sampai dengan C8. Pada daerah cervical sendiri terdapat dua plexus
yakni plexus cervicalis (C1-C4) dan plexus brachialis (C4-T1).
E. Biomekanik leher
Vertebrae cervical mempunyai fungsi sebagai penopang kepala
dan mempertahankan posisi kepala dan untuk stabilitas dan mobilitas.
Gerakan fleksi ekstensi terjadi pada articulatio atlantooccipitalis, juga bisa
terjadi di antara C1 dan C2. Semua itu dikendalikan oleh otot-otot
suboccipital dan ligamentum atlantooccipital. Gerakan fleksi-ekstensi dan
pembatasan lateral fleksi disebabkan oleh uncovertebral. Bentuk dari
corpus yang lebih lebar pada arah lateral memungkinkan pergerakan
fleksi-ekstensi dibanding dengan lateral-fleksi.
Pergerakan rotasi pada persendian atlantoaxial seperti fenomena
kursi putar, dengan stabilisasi dan kontrol oleh ligamentum yan g
membentuk kapsul persendian atlantoaxial yang bersifat diarthrosis.
Bentuk corpus dari C3-C7 yang seperti pelana memungkinkan untuk
gerakan miring dan rotasi. Posisi dari persendian posterior hampir tegak
lurus pada bidang sagittal sehingga memungkinkan rotasi pada bidang
horizontal dan lateral bending. Pada spatium intervertebral C5-C6 terjadi
range of motion yang besar pada gerak fleksi-ekstensi dan kemungkinan
menjadi faktor penyebab dalam terjadinya spondylosis pada bagian ini.

Range of Motion (R.O.M.) adalah luas gerak yang bisa dilakukan


oleh suatu sendi dengan seluruh kekuatan. Tiap sendi memiliki R.O.M.
yang berbeda-beda yang diukur menggunakan goniometer. Pada bagian
cervical R.O.M normal
pada fleksi adalah 70. Pada ekstensi 40. Pada lateral bending 60. Dan
pada rotasi 90.
CERVICAL ROOT SYNDROME
F. Definisi
Kumpulan gejala dan tanda yang disebabkan oleh iritasi atau penekanan
akar saraf servikal.1
G. Gejala2
-

Nyeri leher yang menyebar ke bahu, lengan atas atau lengan


bawah.
Timbulnya nyeri terjadi secara perlahan-lahan terkadang juga bisa
mendadak. Nyeri bersifat kronik.
Nyeri yang berasal dari akar serviks keempat (C4) terlokalisir di
leher dan daerah supraskapular. Nyeri dari akar serviks kelima (C5)
menjalar ke lengan bawah, sedangkan nyeri dari akar keenam dan
ketujuh (C6 dan C7) meluas ke leher, lengan bahu, dan tangan.
Nyeri juga bisa menjalar ke daerah cervical atas yang menimbulkan
nyeri occipital.

Gambar 7. Gambaran nyeri radikuler


Kaku leher (stiffness)
Kaku leher dimulai pada pagi hari dan makin bertambah dengan
adanya aktivitas, gerakan leher terbatas dan terkadang disertai

dengan krepitasi dan nyeri.


Paresthesia
Tergantung pada radiks saraf yang terkena oleh spur atau iritasi
saraf dan biasanya bersifat unilateral.
Kelemahan atau spasme otot
Parese terjadi bila adanya penekanan hebat pada radiks saraf.
Gejala lain
Nyeri kepala, vertigo dan tinnitus.

H.Faktor predisposisi2
1. Umur
Proses degenerasi pada vertebrae dan diskus intervertebral.
Spondilosis cervicalis biasanya mulai ditemukan setelah usia 40
tahun dan sering didapatkan pada penderita yang berusia lebih dari
55 tahun.
2. Trauma
Trauma akibatt kecelakaan, proses wear and tear, yaitu proses
penggunaan sendi terus menerus yang akan menyebabkan
degenerasi sendi.
3. Pekerjaan (postur tubuh)
Pekerjaan dengan postur tubuh yang kurang baik seringkali
menyebabkan peningkatan beban tubuh ke bagian cervical.
Sebagai contohnya, mengangkat beban berat pada kuli, gerakan

berlebihan pada penari profesional, menggunakan komputer atau


menjahit pakaian dalam waktu yang cukup lama.
I. Penyebab
Cervical root syndrome sendiri bisa diakibatkan oleh beberapa sebab,
antara lain:
1. Spondilosis cervicalis/Spondiloarthrosis cervical 2,3
Ini merupakan proses degeneratif pada vertebra cervical
yang sering terjadi pada orang berusia lebih dari 55 tahun.
Perubahan degeneraif mula-mula pada diskus intervertebralis, dan
kemudian pada sendi intervertebral posterior (facet) dan bisa terjadi
pada uncovertebral joint of von Luschka, penyempitan diskus
intervertebralis dan pembentukan spur (osteofit) pada tepi
persendian. Pada diskus intervertebralis akan terjadi destruksi dan
menipisnya kartilago vertebra. Sklerosis dan rusaknya lapisan
tulang dibawah kartilago menyebabkan ruang intervertebralis
menyempit. Selain itu akan terjadi reaksi pada pinggir persendian
yang mengakibatkan pembentukan osteofit (spur). Karena
kombinasi antara mobilitas pada weight bearing dan adanya
ketidakstabilan, maka sering didapatkan strain pada daerah ini.
Sehingga proses degenerasi pada daerah cervical tidak dapat
dihindari akibat proses wear and tear. Pada daerah cervical, yang
sering terjadi adalah pada tiga bagian terbawah, dengan C5 dan C6
yang memiliki insidensi tertinggi.
Terdapat dua pendapat mengenai pembentukan osteofit,
dimana menurut Collins osteofit terbentuk karena tekanan internal
discus yang menyebabkan lig. longitudinal longgar. Tekanan ini
akan mengakibatkan material discus keluar mengisi ruang diantara
corpus vertebra dan lig. longitudinal dan terjadi ossifikasi. Studi
lebih lanjut tidak mendukung teori ini karena secara mikroskopis
tidak terdapat pembentukan tulang sub periosteal yang baru.
Menurut Vernon-Robert dan Pirie terjadi penulangan endochordal
10

dengan annulus dimana annulus fibrosus melekat pada


cartilaginous endplate. Karena adanya uncovertebral joint of von
Luschka maka osteofitosis sering terjadi pada bagian cervical bila
dibandingkan dengan lumbal. Oleh karena uncovertebral joint
adalah pseudojoint yang tidak memiliki kartilago di antaranya, maka
sering terjadi osteoarthritis oleh karena pergeseran, penekanan dan
gesekan antar sendi.
Osteofit biasanya menonjol pada foramina intervertebral
sehingga mengurangi ruangan di mana dilewati n.cervicalis. Bila
ruangan menyempit dan ditambah adanya oedema traumatik dari
jaringan lunak maka manifestasi penekanan saraf akan terjadi.
Pada vertebrae Cervical bawah memiliki foramen kecil dan serabut
saraf besar, maka pada bagian cervical bawah biasanya terjadi
penekanan yang bermanifestasi pada gejala radikuler. Keadaan
yang jarang terjadi adalah adalah konstriksi canalis spinalis akibat
penonjolan osteofit yang mengakibatkan penekanan medulla
spinalis yang bisa menyebabkan myelopati.2
Diskus intervertebralis kehilangan hidrasi dan elastisitas saat
menua, sehingga retak dan fisura. Selanjutnya diskus kolaps
karena inkompetensi biomekanik, menyebabkan annulus menonjol
keluar. Ligamen sekitar juga kehilangan sifat elastis dan
membentuk spur akibat tarikan. Pembentukan spur uncovertebral
terjadi akibat proses degeneratif di mana sendi faset kehilangan
tulang rawan menjadi sklerotik dan membentuk osteofit. Stenosis
servikal didapat (acquired) lebih sering akibat perubahan
degeneratif seperti pembentukan osteofit, protrusion diskus,
hipertrofi ligamen atau hipertrofi sendi faset. Sekuele neurologik
akibat stenosis kanalis sentralis terjadi apabila diameter kanal
kurang dari 12 mm pada bidang sagital dan stenosis absolut
dinyatakan apabila diameter kanal kurang dari 10 mm. Stenosis
spinal dengan gejala mielopati dapat mencakup disfungsi kandung

11

kemih dan bowel neurogenik, gangguan pola jalan (gait), impotensi,


dan perubahan fungsi seksual. Kelemahan tungkai dan spastisitas
juga dapat terjadi.
Pemeriksaan fisik secara khas menunjukkan penurunan
ROM spina servikal, terutama ekstensi leher. Tes diagnostik
termasuk pencitraan polos untuk melihat sendi uncovertebral, sendi
faset, foramen dan sela diskus intervertebra. MRI mengevaluasi
kanalis spinalis dan foramen dalam hubungannya dengan medulla
spinalis, thecal sac, dan akar saraf. Respons sensory evoked
potential (SEP) terlambat atau beramplitudo rendah dengan adanya
mielopati, dan dapat dilakukan berkala untuk mengevaluasi status
perkembangan mielopati. EMG jarum dapat mengkonfirmasi
keterlibatan akar saraf pada gejala radikuler. CT scan dan
mielografi merupakan pencitraan pilihan untuk mendokumentasi
stenosis spinal dan foramen.
Tatalaksana nyeri spondilosis servikal dengan atau tanpa
gejala radikuler dimulai dengan pemberian NSAID. Modalitas terapi
fisik dapat dicoba pemberian traksi dengan hati-hati. Terapi panas
yang dalam seperti ultrasound diathermy dapat menurunkan nyeri
dan selanjutnya gerak sendi dapat ditingkatkan. TENS dan
massage bermanfaat mengurangi nyeri dan spasme otot daerah
servikal. Mobilisasi seperti teknik energi otot juga bermanfaat, akan
tetapi harus diawasi dengan ketat karena mobilisasi berlebihan
dapat menyebabkan mielopati. Program latihan termasuk
fleksibilitas, penguatan, stabilisasi dan kondisi aerobik. Rujukan
bedah dilakukan segera apabila evaluasi klinis dan tes
neurodiagnostik positif untuk mielopati.

12

Gambar 8.Perbandingan vertebra servikalis antara yang


normal dengan spondilosis servikalis
J. Diagnosis
1. Anamnesa1
Anamnesa adalah hal-hal yang menjadi sejarah kasus
pasien, juga berguna untuk menentukan diagnosa, karena misalnya
dengan pendekatan psikiatri terhadap depresinya yang kadang
merupakan faktor dasar nyeri bahu ini.
Gejala-gejala yang mungkin nampak pada inspeksi dan palpasi,
misalnya :
a. Nyeri kaku pada leher
b. Rasa nyeri dan tebal dirambatkan ke ibu jari dan sisi radial
tangan
c. Dijumpai kelemahan pada biceps atau triceps
d. Berkurangnya reflex biceps
e. Dijumpai nyeri menjalar (referred pain) di bahu yang samar,
dimana nyeri bahu hanya dirasa bertahan di daerah deltoideus
bagian lateral dan infrascapula atas.
2. Pemeriksaan fisik2

13

Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan untuk penegakan diagnosis


antara lain :
a. Terdapat tenderness pada daerah cervical, pada beberapa
keadaan akan terlokalisir pada sebelah lateral sendi yang
mengalami peradangan.
b. Spasme pada otot-otot leher.
c. Pemeriksaan R.O.M leher terbatas dan nyeri terutama pada
gerakan s
lateral bending dan rotasi.
d. Pada extremitas atas bisa menunjukkan defisit sensoris dan
hiporeflexia. Parese dan atrofi otot merupakan kondisi lanjutan
yang jarang ditemukan.
e. Leher tampak agak kyphotic sehingga postur terlihat kepala jatuh
ke depan yang menyebabkan center of gravity jatuh ke depan.
Leher akan bertambah lordosis sebagai usaha mempertahankan
keseimbangan dan akan mempersempit foramen intervertebrale
dan menambah tekanan ke sendi zygapophyseal.
f. Pemeriksaan darah normal, penyempitan celah sendi karena
degradasi kartilago artikuler dan memungkinkan permukaan tulang
mendekat satu sama lain dan terdapat osteofit marginalis.
Tes-tes khusus yang dapat dilakukan, antara lain:
a. Tes Provokasi1
Tes Spurling atau tes Kompresi Foraminal, dilakukan dengan
cara posisi leher diekstensikan dan kepala dirotasikan ke salah
satu sisi, kemudian berikan tekanan ke bawah pada puncak kepala.
Hasil positif bila terdapat nyeri radikuler ke arah ekstremitas
ipsilateral sesuai arah rotasi kepala. Pemeriksaan ini sangat
spesifik namun tidak sensitif guna mendeteksi adanya radikulopati
servikal. Pada pasien yang datang ketika dalam keadaan nyeri,
dapat dilakukan distraksi servikal secara manual dengan cara
pasien dalam posisi supinasi kemudian dilakukan distraksi leher
secara perlahan. Hasil dinyatakan positif apabila nyeri servikal
berkurang.

14

b. Tes distraksi kepala1


Distraksi kepala akan menghilangkan nyeri yang diakibatkan
oleh kompresi terhadap radiks syaraf. Hal ini dapat diperlihatkan
bila kecurigaan iritasi radiks syaraf lebih memberikan gejala dengan
tes kompresi kepala walaupun penyebab lain belum dapat
disingkirkan.

c. Tes valsava1
Dengan tes ini tekanan intratekal dinaikkan, bila terdapat
proses desak ruang di kanalis vertebralis bagian cervical, maka
dengan di naikkannya tekanan intratekal akan membangkitkan
nyeri radikuler. Nyeri syaraf ini sesuai dengan tingkat proses
patologis dikanalis vertebralis bagian cervical. Cara meningkatkan
tekanan intratekal menurut Valsava ini adalah pasien disuruh

15

mengejan sewaktu ia menahan nafasnya. Hasil positif bila timbul


nyeri radikuler yang berpangkal di leher menjalar ke lengan.

3. Pemeriksaan Penunjang2
Pemeriksaan radiologis masih menjadi standar yang paling
baik untuk penegakan diagnosis sampai sekarang. Pada foto
rontgen akan didapatkan :
1) Pembentukan osteofit dan sklerosis pada sendi-sendi apofiseal
intervertebrae.
2) Penyempitan pada discus intervertebralis akibat erosi kartilago.
3) Pembentukan tulang baru (spurring) antar vertebra yang
berdekatan dan dapat menyebabkan kompresi akar saraf.

16

Gambar .Foto rontgen AP spondilosis servikalis


Selain menggunakan foto rontgen, dapat juga digunakan
MRI dan CT (Computerized Tomography) untuk penegakan
diagnosis.
K. Penatalaksanaan
a. Medikamentosa1,2
Pemberian obat AINS (Anti Inflamasi Non Steroid) dan
muscle relaxant untuk menghilangkan rasa nyeri. Obat penghilang
nyeri atau relaksan otot dapat diberikan pada fase akut. Obatobatan ini biasanya diberikan selama 7-10 hari. Bila terdapat gejala
radikuler bisa disertai dengan pemberian kortikosteroid oral. Bila
nyeri dirasa sangat mengganggu bisa ditambahkan opioid dengan
beberapa ketentuan.
b. Fisioterapi1
Tujuan utama penatalaksanaan adalah reduksi dan resolusi
nyeri, perbaikan atau resolusi defisit neurologis dan mencegah
komplikasi atau keterlibatan medulla spinalis lebih lanjut.
1. Traksi
Tindakan ini dilakukan apabila dengan istirahat keluhan nyeri
tidak berkurang atau pada pasien dengan gejala yang berat dan
mencerminkan adanya kompresi radiks saraf. Traksi dapat
dilakukan secara terus-menerus atau intermiten.

17

2. Cervical collar
Pemakaian cervical collar lebih ditujukan untuk proses
imobilisasi serta mengurangi kompresi pada radiks saraf, walaupun
belum terdapat satu jenis collar yang benar-benar mencegah
mobilisasi leher. Salah satu jenis collar yang banyak digunakan
adalah SOMI Brace (Sternal Occipital Mandibular Immobilizer).
Collar digunakan selama 1 minggu secara terus-menerus
siang dan malam dan diubah secara intermiten pada minggu II atau
bila

mengendarai

kendaraan.

Harus

diingat

bahwa

tujuan

imobilisasi ini bersifat sementara dan harus dihindari akibatnya


yaitu diantaranya berupa atrofi otot serta kontraktur. Jangka waktu
1-2 minggu ini biasanya cukup untuk mengatasi nyeri pada nyeri
servikal non spesifik. Apabila disertai dengan iritasi radiks saraf,
adakalanya diperlukan waktu 2-3 bulan. Hilangnya nyeri, hilangnya
tanda spurling dan perbaikan defisit motorik dapat dijadikan indikasi
pelepasan collar.

3.Thermoterapi

18

Thermoterapi dapat juga digunakan untuk membantu


menghilangkan nyeri. Modalitas terapi ini dapat digunakan sebelum
atau pada saat traksi servikal untuk relaksasi otot. Kompres dingin
dapat diberikan sebanyak 1-4 kali sehari selama 15-30 menit, atau
kompres panas/pemanasan selama 30 menit 2-3 kali sehari jika
dengan kompres dingin tidak dicapai hasil yang memuaskan.
Pilihan antara modalitas panas atau dingin sangatlah pragmatik
tergantung persepsi pasien terhadap pengurangan nyeri.

4. Latihan1
Berbagai modalitas dapat diberikan pada penanganan nyeri
leher. Latihan bisa dimulai pada akhir minggu I. Latihan mobilisasi
leher kearah anterior, latihan mengangkat bahu atau penguatan
otot banyak membantu proses penyembuhan nyeri. Hindari
gerakan

ekstensi

diakibatkan

oleh

maupun
spasme

flexi.
otot

Pengurangan
dapat

nyeri

ditanggulangi

dapat
dengan

melakukan pijatan.
c. Terapi Latihan2
Pada penderita Cervical Root Syndrome akan didapatkan
nyeri, kekakuan dan keterbatasan ruang sendi akibat dari
penekanan radix saraf. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya

19

kelemahan otot yang berujung pada postur yang buruk. Postur


yang buruk akan memperberat perjalanan penyakit ini.
Terapi latihan bertujuan untuk :
a. Mengurangi rasa nyeri
b. Mengurangi lordosis cervical
c. Memperbaiki kekuatan otot
d. Meningkatkan postur pada ADL
e. Mempertahankan fleksibilitas atau rentang sendi (R.O.M)
Terapi Latihan juga akan membantu proses pengurangan
rasa nyeri selain fungsinya yang mengembalikan keadaan pasien
ke kondisi normalnya. Pada keadaan nyeri, pasien akan cenderung
untuk tidak menggerakan kepala. Hal ini bisa menyebabkan
spasme otot leher yang lama-kelamaan akan menyebabkan atrofi
otot. Atrofi otot akan menambah rasa nyeri pada pasien karena otot
leher akan mengalami penurunan fungsinya dalam
mempertahankan posisi kepala.
Terapi Latihan dapat berupa :
a) Latihan penguatan otot leher
Latihan penguatan otot dilakukan secara isotmetrik, yakni
melawan tahanan yang tidak bergerak atau dengan
mempertahankan leher pada posisi statik. Latihan isometrik cervical
ini dilakukan secara self resistance pada posisi duduk.
(1) Fleksi
Pasien meletakkan ke dua tangan dan menekan dahi dengan
telapak tangan, kemudian kepala melakukan gerakan fleksi
(mengangguk) tetapi ditahan dengan tangan agar tidak terjadi
gerakan.
(2) Lateral Bending
Pasien menekan dengan tangan pada sisi lateral kepala dan
mencoba untuk lateral fleksi kepala, tahanan diberikan pada
telinga dan bahu, di usahakan tidak terjadi gerakan.

20

(3) Ekstensi axial


Pasien menekan belakang kepala dengan kedua tangan
dimana tahanan diberikan pada belakang kepala dekat
puncak kepala.

(4) Rotasi
Pasien menekan dengan satu tangan menahan pada daerah
atas dan lateral dari mata dan mencoba memutar kepala (rotasi)
tetapi tetap ditahan agar tidak terjadi gerakan.
Preskripsi untuk latihan kekuatan sebagai berikut
a) Intensitas (beban) : 100% dari kontraksi maksimum
b) Durasi : 5 detik tiap kontraksi
c) Repetisi : 5-10 kontraksi
d) Frekuensi : 5 hari tiap minggu
e) Lama program : 4 minggu atau lebih
Kerugian latihan ini adalah terjadinya peningkatan tekanan
darah,
disebabkan peningkatan denyut jantung tanpa perubahan perifer
umum.
Pada penderita penyakit jantung, latihan isometrik dapat
menyebabkan
timbulnya disaritmia ventrikel.
b) Latihan fleksibilitas / stretching otot leher
Bila terdapat rasa tidak enak akibat postur yang buruk atau
adanya spasme otot, maka R.O.M aktif akan membantu
menghilangkan stress pada struktur leher, memperbaiki sirkulasi.
Tujuan dari latihan stretching pada otot leher adalah menambah
fleksibilitas dalam fleksi, ekstensi, rotasi dan lateral fleksi secara
aktif. Semua gerakan dilakukan perlahan sampai full R.O.M dan
dilakukan beberapa kali. Posisi pasien duduk dengan leher

21

tergantung secara rileks pada kursi atau berdiri rileks. Setelah itu
pasien di minta untuk :
(1) Menekuk leher ke depan dan belakang (gerakan ekstensi tidak
boleh dilakukan bila terdapat penekanan saraf).
(2) Menekuk kepala ke lateral kanan dan kiri, merotasikan kepala
pada masing-masing sisi.
(3) Putar bahu, elevasi, retraksi, kemudian relaks dari scapula.
(4) Putar secara melingkar lengan mengelilingi bahu. Dikerjakan
dengan siku fleksi dan ekstensi, menggunkan gerakan sirkuler yang
luas maupun kecil. Posisi lengan ke depan atau agak menyamping.
Gerakan searah maupun berlawanan jarum jam harus digerakkan
karena membantu dalam latihan postur yang benar. Sendi harus
digerakkan secara penuh setidaknya 2-3 kali sehari.
c) Latihan postur
Postur yang buruk akan menambah lordosis cervical dan
penambahan beban yang berlebih pada leher. Postur yang
dimaksud salah satunya adalah forward-head posture. Postur yang
tidak tepat ini juga berpengaruh pada penekanan annulus fibrosus
dan menyebabkan penyempitan foramen intervertebrale sehingga
terjadi iritasi pada saraf bagian cervical.
Latihan postur sangat membutuhkan kesadaran dalam
melakukan latihan yang teratur. Yang dilakukan adalah melakukan
teknik relaksasi otot dan stretching untuk mengembalikan ROM
normal. Pada ADL juga harus dievaluasi untuk mencegah posisi
yang memperburuk kondisi cervical serta dilakukan edukasi :
(1) Cara mengangkat barang dengan lutut fleksi.
(2) Hindari hiperekstensi leher dan forward-head posture yang
terlalu lama dan berlebihan.
(3) Perbaiki lingkungan pekerjaan penderita seperti kursi dan meja
yang kurang sesuai ukuran tingginya, lingkungan tidur seperti

22

bantal yang sesuai tingginya dan matras untuk membantu relaksasi


otot.
d. Terapi Modalitas2
Terapi modalitas adalah terapi yang melibatkan perlakuan
terhadap fisik pasien, seperti pemberian elektroterapi, kemoterapi,
krioterapi dan tindakan pembedahan. Terapi modalitas digunakan
untuk mengurangi rasa
nyeri, memperbaiki vaskularisasi dan meningkatkan metabolisme
jaringan. Terapi modalitas sebaiknya tidak diberikan tersendiri pada
suatu penatalaksanaan penyakit, dan sebaiknya diberikan
tambahan terapi baik
dalam bentuk terapi latihan maupun intervensi farmakologis.
Terapi modalitas yang banyak digunakan pada penderita
antara lain :
a. SWD (Short Wave Diathermy)
SWD (Short Wave Diathermy) adalah elektroterapi yang
menaikan temperatur pada jaringan dengan pemberian gelombang
frekuensi tinggi. Frekuensinya 27,12 MHz dan panjang
gelombangnya 11 meter. SWD memiliki beberapa fungsi antara lain
meningkatkan metabolisme, meningkatkan sirkulasi darah,
menurunkan kontraksi otot. SWD juga akan
menurunkan rasa nyeri, meningkatkan elastisitas dan oksigenasi
jaringan. Terdapat dua macam SWD dimana yang pertama adalah
tipe kontinu dimana akan didapatkan pemberian panas secara
terus menerus dari alat, dan kedua yakni pulsed mode yang
memberikan jeda dalam tiap pemanasan. Cara yang kedua akan
meningkatkan efek non-thermal. Pemberian SWD akan
mengembalikan potensial membran ke tingkat semula, dimana
pada inflamasi potensial membran suatu sel akan turun sehingga
fungsinya terganggu. Selain itu juga SWD akan mengembalikan
keseimbangan dan transpor ion di membran sel. Terdapat dua teori

23

mekanisme pemberian SWD, yang pertama adalah mekanisme


transpor ion secara langsung atau aktivasi dari pompa natrium dan
kalium.
SWD diberikan pada inflamasi kronik, dan biasanya mulai
diberikan terapi maksimal satu minggu setelah mulainya proses
peradangan. Indikasi diberikannya SWD adalah inflamasi dan juga
proses degenarasi, baik pada spondylosis cervical, osteoarthritis
lutut, sprain ligament pada tumit, dan juga pada sinusitis.
Kontraindikasi SWD seperti tumor ganas, inflamasi akut,
penggunaan pacu jantung, perdarahan dan demam tinggi. Lama
pemberian SWD 5-30 menit tergantung derajat penyakitnya.
b. TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation)
TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation) adalah
terapi
modalitas yang tidak invasif dan tidak adiktif. TENS adalah salah
satu elektroterapi yang paling sering digunakan sebagai analgesia
atau penghilang rasa sakit. Metode yang dilakukan pada TENS
adalah pemberian arus listrik ke saraf dan menghasilkan panas
untuk mengurangi kekakuan, meningkatkan mobilitas dan
menghilangkan nyeri. Peralatan TENS terdiri dari stimulator yang
bertenagakan baterai dan elektroda yang ditempelkan pada bagian
yang akan diberikan terapi. Selain itu TENS bisa
dikombinasikan dengan steroid topikal untuk pengobatan rasa nyeri
yang
dinamakan dengan Iontoforesis.
Mekanisme kerja dari TENS adalah dengan pengaturan
neuromodulasi seperti penghambatan pre sinaps pada medulla
spinalis, pelepasan endorfin yang merupakan analgesia alami
dalam tubuh dan penghambatan langsung pada saraf yang
terangsang secara abnormal. Mekanisme analgesia TENS adalah
stimulasi elektrik akan mengurangi nyeri dengan penghambatan

24

nosiseptif pada pre sinaps. Stimulasi elektrik akan mengaktifkan


serabut saraf bermyelin yang akan menahan perambatan nosisepsi
pada serabut C tak bermyelin ke sel T yang berada di substansia
gelatinosa pada cornu posterior yang akan diteruskan ke cortex
cerebri dan talamus. Pada pemberian TENS juga akan terjadi
peningkatan beta endorphin dan met-enkephalin yang
memperlihatkan efek antinosiseptif. Indikasi dilakukan TENS
adalah rasa nyeri tidak berat, dismenore dan inkontinensia.
Kontraindikasinya antara lain pasien penggunan pacu jantung,
defisit neurologis dan pada pasien yang mengandung.
L. Edukasi1
Untuk

mencapai

kondisi

pemulihan

pasien

sehingga

bisa

secepatnya kembali bekerja adalah kesadaran tentang pentingnya


kesehatan dan lingkungan kerja yang baik. Untuk mencegah terjadinya
nyeri tengkuk ada beberapa nasehat yang bermanfaat:
-

Sikap tubuh yang baik dimana tubuh tegak, dada terangkat, bahu
santai, dagu masuk, leher merasa kuat, longgar dan santai.

Tidur dengan bantal.

Memelihara sendi otot yang fleksibel dan kuat dengan latihan yang
benar.

Pencegahan nyeri cervical ulangan yaitu dengan memperhatikan


posisi saat duduk, mengendarai kendaraan, dan posisi leher yang
berkaitan dengan berbagai pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.

Menghindari bekerja dengan kepala terlalu turun atau satu posisi


dalam waktu yang lama, pegangan dan posisi yang sering
berulang.

25

DAFTAR PUSTAKA
1. Sanjaya P. Cervical Root Syndrome. Bagian Penyakit Saraf RSU
Unit Swadana Pare-Kediri. 2012.
2. Susilo WA. Pengaruh terapi modalitas dan terapi latihan terhadap
penurunan rasa nyeri pada pasien cervical root syndrome di RSUD.
DR. Moewardi Surakarta. Skripsi. FK Universitas Sebelas Maret.
Surakarta. 2010.
3. Tulaar AB. Nyeri Leher dan Punggung. Studi Tinjauan Pustaka.
Departemen

Kedoktteran

Fisik

dan

Rehabilitasi.

Majalah

Kedokteran Indonesia. 5 (5); Mei. 2008.

26