Anda di halaman 1dari 14

SETIAP SAAT BERSAMA ALLAH

Oleh : M. Anis Matta

BAB I
MENGAPA KITA HARUS BERDOA?

APA ARTINYA BERDOA?

Ketika Nabi Muhammad saw. datang dengan membawa Islam, beliau mendapati manusia,
baik di Jazirah Arab maupun di pusat-pusat peradaban besar─seperti Romawi dan
Persia─sedang berada dalam potongan sejarahnya yang paling kelam. Manusia-manusia
zaman itu kehilangan arah dan tersesat di belantara kehidupan. Mereka tidak lagi memahami
makna dan hakikat kehidupan, dan ke muara mana bahtera kehidupan sedang menuju.

Saat beliau melihat itu semua, segeralah beliau menjelaskan misi kehidupan manusia dengan
membacakan firman Allah SWT :”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz-Dzariyat [51] : 56).
Ibadah. Inilah misi kehidupan kita. Ibadah, secara harfiah, adalah ketundukan dan penyerahan
diri sepenuhnya kepada Allah. Maka, makna yang paling hakiki dari ibadah adalah
menjadikan semua gerak kita, baik gerak fisik maupun gerak jiwa dan pikiran, senantiasa
mengarah kepada apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah SWT.

Kemudian, dalam makna itu, ibadah mencakup seluruh gerak kita, dalam segenap ruang dan
waktu kehidupan kita. Hasilnya, seluruh pikiran, seluruh perasan, seluruh ucapan, dan seluruh
tindakan kita, baik ketika kita hanya berhubungan dengan Allah (ibadah mahdhah) maupun
ketika kita berhubungan dengan sesama manusia dan lingkungan (ibadah ghairu mahdhah),
semuanya hanya bergerak menuju satu titik : Allah SWT. Begitulah akhirnya, kita berikrar
dengan sadar :”Katakanlah, ‘Sesungguhnya, shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku
hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam.” (QS Al-An’am [6] : 162).

Ibadah dalam makna itu tentulah hanya mungkin lahir dari keyakinan bahwa kita adalah
ciptaan Allah; bahwa kita adalah milik-Nya; bahwa dengan begitu, selamanya, kita ini
bukanlah apa-apa. Selamanya, kita ini hanyalah seorang makhluk yang tiada berdaya.
Selamanya, kita butuh kepada-Nya. Maka, datanglah kita bersimpuh di haribaan-Nya, dengan
dorongan rasa butuh yang sangat kepada-Nya, rasa harap yang kuat akan rahmat-Nya, dan
rasa takut yang dalam akan kemungkinan tertolak dari wilayah rahmat-Nya serta terdampar
dalam wilayah siksa-Nya.

Jadi, kebutuhanlah yang mendorong kita melangkahkan kaki ke haribaan-Nya, datang dengan
menyerahkan segenap jiwa dan raga kita kepada-Nya. Maka dasar dari ibadah kita adalah
berikut ini :
“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang
Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.”
(QS Fathir [35] : 15).

Sesungguhnya, rasa butuh yang sangat itulah yang terwakili dengan sempurna saat kita
berdosa; saat kita duduk bersimpuh dengan khusyu’, menghadap kiblat, menengadahkan
wajah dan jiwa ke langit, mengangkat dengan penuh harap kedua tangan kita sambil
melantunkan puji-pujian untuk-Nya, berdoa untuk Nabi-Nya, Muhammad saw, kemudian
memohonkan segalanya kepada-Nya. Tiada yang dapat mewakili dan mengungkap perasaan
butuh, seperti tampilan seorang hamba yang sedang berdoa dengan penuh haru-biru.

Maka, ketika seorang sahabat selalu langsung meninggalkan masjid setelah shalat tanpa
berdoa, Nabi pun menegurnya dengan pertanyaan, “Apakah kamu sama sekali tidak punya
kebutuhan kepada Allah?” Sahabat itu pun terperanjat dan mulai memahami arti doa.
Maka, ia pun terus berdoa. “Bahkan,” katanya di kemudian hari, “garam pun
kuminta kepada Allah SWT.

Demikianlah, akhirnya kita memahami mengapa Nabi kita, Muhammad saw menyatakan
bahwa : “Doa itu adalah ibadah.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Hadits hasan
shahih).

DOA ITU KEKUATAN

Jangan! Jangan pernah percaya kepada mereka yang mengatakan bahwa doa itu adalah
sebentuk ketidakberdayaan. Oleh sebab itu, tidak ada yang dapat mengubah ketidakberdayaan
menjadi kekuatan baru, seperti yang dapat dilakukan oleh doa. Coba simak sabda Nabi kita,
Muhammad saw : “Doa itu senjata seorang mukmin, tiang agama, serta cahaya langit dan
bumi.” (HR Al-Hakim, dari Ali bin Abi Thalib).
Alhasil, dengan senjata doa itulah kita membangun perisai diri dari segenap musibah. Ibnu
Qayyim berkata, “Jika perisai doamu lebih kuat dari musibah, ia akan menolaknya. Tetapi,
jika musibah lebih kuat dari perisai doamu, maka ia akan menimpamu. Namun, doa itu
sedikitnya tetap akan mengurangi efeknya. Adapun jika perisai doamu seimbang dengan
kekuatan musibah, maka keduanya akan bertarung.”

Rasulullah saw pun bersabda :


“Tidak ada gunanya waspada menghadapi takdir, namun doa bermanfaat menghadapi
takdir, sebelum dan sesudah ia turun. Dan sesungguhnya, ketika musibah itu ditakdirkan
turun (dari langit), maka ia segera disambut oleh doa (dari bumi), lalu keduanya bertarung
sampai hari kiamat.” (HR Ahmad, Al-Hakim, Al-Bazar dan Ath-Thabrani)

Jika doa memiliki kekuatan yang membuatnya, seperti kata Ibnu Qayyim, menjadi “musuh
musibah”, maka bagaimana pula doa menciptakan kekuatan dalam diri manusia? Inilah
rahasianya.
“Ketika engkau terhimpit dan terlilit oleh problematika kehidupan, sesungguhnya, yang
dapat membuatmu bertahan adalah harapanmu, dan sebaliknya, yang akan membuatmu kalah
atau bahkan mematikan daya dan energi hidupmu, adalah saat di mana engkau kehilangan
harapan. Maka, ketika engkau berdoa kepada Allah SWT, sesungguhnya engkau sedang
mendekati sumber dari semua kekuatan, dan apa yang segera terbangun dalam jiwamu adalah
harapan. Harapan itulah yang kelak akan membangunkan kemauan yang tertidur dalam
dirimu. Jika kemauanmu menguat menjadi azam (tekad), itulah saatnya engkau melihat
gelombang tenaga jiwa yang dahsyat.

Gelombang yang akan memberimu daya dan energi kehidupan serta menggerakan segenap
ragamu untuk bertindak. Dan, apa yang engkau butuhkan saat itu hanyalah : mempertemukan
kehendakmu dengan kehendak Allah melalui doa dan tawakal.”
“Maka, disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah menyukai
orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS Ali-Imran [3] : 159).

Begitulah doa mempertemukan dua kehendak : kehendak Allah dan kehendak manusia. Itulah
kekuatan mahadahsyat : rahim yang senantiasa melahirkan semua peristiwa kehidupan
sepanjang sejarah umat manusia, yakni takdirmu. Itulah makna dari sabda Rasulullah saw:
“Barangsiapa yang ingin menjadi manusia terkuat, hendaklah ia bertawakal kepada
Allah...” (HR Ibnu Abi Hatim).

Apakah yang dapat dilakukan oleh seorang Nabi Yunus ketika ia tertelan dan terhimpit dalam
perut ikan paus? Dari manakah ia dapat mengharapkan cahaya untuk sekedar menerangi
gelap dalam perut ikan? Dari manakah ia dapat menemukan kembali harapan hidupnya?
Sesungguhnya, gelap, kesedihan, kegundahan, dan keputusasaan dalam jiwanya jauh lebih
gelap dari gelap yang menyelimutinya dalam perut ikan itu. Tetapi, dengarlah doanya :
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia
menyangkal bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru
dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain
Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”
(QS Al-Anbiyaa’ [21] : 87).

Lalu, dengarlah jawaban Rabbnya : “Maka, Kami telah memperkenankan doanya dan
menyelamatkannya dari duka. Dan, demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang
beriman.” (QS Al-Anbiyaa’ [21] : 88).

DOA DAN KESEHATAN MENTAL

Doa yang membangun kekuatan jiwa seperti itu, jelas akan berpengaruh terhadap kesehatan
mental kita. Hal itu disebabkan tidak akan ada problematika kehidupan yang mampu
melebihi kemampuan jiwa kita dalam mewadahinya.

Dalam doa, kita menemukan keseimbangan jiwa karena harapan akan penerimaan dan
kecemasan akan penolakan senantiasa akan menjadi dua sayap jiwa yang akan membuat kita
terbang mengarungi angkasa kehidupan. Dalam doa, kita menemukan kebutuhan jiwa dan
pikiran. Keutuhan yang akan menyatukan semua instrumen kepribadian kita dalam seluruh
lakon kehidupan yang kita jalani. Dalam doa, kita menemukan ketenangan jiwa karena
keyakinan terhadap Allah SWT yang memberi kita keberanian untuk menghadapi semua
kemungkinan dalam hidup. Dalam doa, kita menemukan keberkahan hidup karena semua
peristiwa kehidupan yang kita hadapi hanyalah merupakan pertemuan yang indah, antara
kehendak Allah dengan kehendak kita.

Masih adakah tempat bagi kesedihan dalam jiwa seperti itu? Masih adakah ruang bagi
ketakutan dalam jiwa seperti itu? Masih adakah celah bagi keputusasaan untuk masuk dalam
jiwa seperti itu? Bukankah kesedihan, katakutan dan keputusaasaanlah yang selama ini
memorakporandakan jiwa manusia, mencabik-cabiknya, membuatnya retak dan hancur
berkeping-keping?

Maka, jiwa sang mukmin pun mendengar seruan Rabbnya : “Dan Tuhanmu berfirman :
‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya, orang-orang
yang menyombongkan diri dari menyembag-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan
hina-dina.” (QS Al-Mu’min [40] : 60).

Maka, guncangan hidup berhenti di hadapannya, dan jiwanya berlayar lagi. Berlayar sampai
jauh. Berlayar dengan tenang mengarungi lautan kehidupan menuju pantai keabadian.
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d
[13] : 28)

BAB II
SENIBERDOA

BERDOA ITU ADA SENINYA

Begitulah akhirnya, kita memahami makna dan hakikat doa serta alasan yang mendorong kita
untuk terus berdoa.Doa dengan makna sedalam itu, tentulah memiliki seni tersendiri, dan
dengan seninya itulah doa seharusnya kita lakoni. Seni, sebagaimana agama ini
mengajarkannya kepada kita, adalah saat di mana kebeneran dan keindahan menyatu serta
bersemai dalam jiwa.

Maka, ajaran doa yang kita terima dari Nabi kita tercinta, Muhammad saw, sesungguhnya,
merupakan ajaran tentang bagaimana menjalani hidup dengan khusyu’. Ajaran tentang
bagaimana mepertautkan jiwa kita dengan Allah SWT dalam segenap ruang, waktu, dan
peristiwa kehidupan kita. Apa yang kita lakukan saat kita berdoa, sesungguhnya, hanyalah
upaya yang terus-menerus untuk dapat menyerap cahaya Allah ke dalam jiwa dan pikiran
agar kita dapat melihat panorama
kehidupan ini dengan mata hati yang terang bercahaya.

Bercahaya dengan cahaya Allah SWT, sebagaimana firman Allah :


“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah
seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam
kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan
dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohonzaitun yang tumbuh tidak
disebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja)
hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-
lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah
memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu.” (QS An-Nur [24]:35)

“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya
ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; grlap gulita yang tindih-menindih, apabila dia
mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi
cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS An-Nur
[24] : 40)

PERJALANAN KATA MENUJU LANGIT

Doa adalah kata-kata yang baik. Ketika kita mengucapkannya, sesungguhnya, kita telah
melepaskannya dari mulut kita agar ia berjalan menuju langit. Jika kata itu memiliki wacana
penyangga yang kuat, ia akan segra melampaui cakrawala, menembus angkasa, dan mencapai
langit.

Adapun wacana penyangga itu adalah amal shalih. Dengarlah firman Allah SWT :
“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu
semuanya. Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalil
dinaikkan-Nya. Dan, orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang
keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.” (QS Fathir [35] : 10)

Itu sebabnya, Rasulullah saw menganjurkan kita beramal sebelum berdoa. Misalnya,
bersedekah dan melakukan kebaikan-kebaikan lainnya.

SUJUD SANG JIWA

Kata dalam doa adalah surat dari sang jiwa kepada Rabbnya. Maka, jika engkau ingin surat
itu sampai kepada-Nya, tulislah ia saat jiwamu benar-benar sedang bersujud kepada-Nya.
“Ya Allah, jika pasukan ini binasa, tidak akan pernah ada lagi di bumi ini yang akan
menyembah-Mu, selamanya.”
Rasulullah saw terus melantunkan doa itu sebelum dimulainya Perang Badar, hingga
selendangnya terjatuh, sampai-sampai Abu Bakar datang menghampirinya dan mengatakan,
“Cukuplah, ya Rasulullah! Allah pasti akan menolongmu.”

Tidakkah engkau lihat bagaimana Rasul yang mulia itu merengek-rengek di depan Tuhannya,
Tuhan yang mengutusnya menyampaikan risalah ini dan berjanji akan menolongnya?
Bukankah yang diucapkan itu telah melampaui batas permohonan menjadi sebuah tuntutan?
Siapakah yang dapat menjamin bahwa tidak akan ada lagi yang menyembah Allah jika
pasukan itu binasa? Apakah Allah tidak sanggup menciptakan makhluk lain yang akan
menyembah-Nya? Tidak! Tidak! Tetapi, begitulah kejujuran dalam berharap melahirkan
kalimat yang kuat, penuh keyakinan, yang hampir-hampir tidak dapat dibedakan dari
tuntutan.

Maka, dengarlah jawaban bagi jiwa yang bersujud itu. Kemudian, Allah SWT mengabulkan
doanya dengan mengutus Jibril untuk mengatakan kepadanya :
“Ambillah segenggam tanah, lalu taburkanlah ke wajah mereka.” Lalu, beliau pun
melakukannya. Dengan segenggam tanah itu, tidak seorang pun dari pasukan musyrik,
melainkan tanah itu pasti mengenai mata mereka, kedua lubang hidung mereka, dan mulut
mereka. Maka, mereka pun lari tunggang-langgang.” (HR Muslim, Tirmidzi, dan Ahmad).

RAGA PUN MENYERTAINYA

Apa yang dilakukan oleh sang jiwa saat ia bersujud, haruslah terlihat dalam wacana raga kita.
Demikianlah Rasulullah saw menganjurkan kita agar mengekspresikan sujud sang jiwa itu
dalam gerak raga kita.

Maka, beliau menganjurkan kita bersuci sebelum berdoa. Beliau juga menganjurkan kita
menghadap ke kiblat saat berdoa. Akhirnya, beliau juga menganjurkan mengangkat kedua
tangan kita saat berdoa.

Hal tersebut disebabkan jiwa yang bersujud haruslah suci, sehingga raga yang menyertainya
sebaiknya suci pula. Walaupun ilmu Allah SWT ada di segenap penjuru alam, Dia jugalah
yang menetapkan Kab’bah sebagai kiblat kaum muslimin. Adapun mengangkat kedua
tangan merupakan ekspresi paling sempurna dari permohonan dan rasa butuh, dan bahwa :
“Allah itu Maha Pemula lagi Mulia, dan merasa malu menolak, ketika seseorang
mengangkat kedua tangannya ke langit dan mengembalikannya dalam keadaan kosong dan
kecewa.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi).

SANTUN DALAM BERHARAP

Jika engkau telah melakukan semua itu, maka rangkailah kata-katamu dalam doa dengan
susunan yang baik, sopan dan indah. Karena engkau sedang meminta, maka mulailah
permohonan itu dengan pujian-pujian yang baik kepada siapa engkau memohon. Lalu,
haturkanlah shalawat dan salam kepada Rasulullah saw karena : “Itu akan dibalas dengan
sepuluh shalawat dari Allah.” (HR Muslim).

“Rasulullah saw pernah mendengar seorang laki-laki berdoa tanpa memuji Allah dan
menghaturkan shalawat baginya. Maka, beliau pun mengatakan, ‘Orang ini terlalu tergesa-
gesa’.” (HR Abu Dawud, dan Tirmidzi).

Kemudian, bertobatlah dan mohon ampunlah (istighfar) atas dosa-dosa yang telah kau
lakukan; karena dosa-dosa itu akan menjadi hijab yang menghalangi doa sampai ke langit.
Hanya tobat dan istighfar itulah yang akan mengangkat hijab itu.

Panggillah Allah dengan nama yang maknanya sesuai dengan makna permohonanmu, karena
: “Rasulullah saw pernah mendengar seorang laki-laki berdoa dengan mengucapkan,
‘Ya Allah, sesungguhnya, aku memohon kepada-Mu dengan kesaksianku bahwa Engkau
adalah Allah, tiada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Esa, Tempat Bergantung, Yang tidak
beranak dan tidak diperanakkan, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya.’ Maka, Rasulullah saw
pun bersabda, ‘Sungguh, ia telah memohon kepada Allah dengan sebuah nama yang jika
Dia diminta dengan nama itu, Dia pasti memberi, dan yang jika Dia dipanggil dengan nama
itu, Dia pasti menjawab.’” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Ibnu
Hibban).

Tutuplah doa itu dengan penuh keyakinan akan terkabul, sambil menghaturkan pujian-pujian
kepada Allah SWT : “Doa mereka di dalamnya ialah, ‘Subhanakallahumma’, dan
salam penghormatan mereka ialah, ‘Salam’ Dan penutup doa mereka ialah,
‘Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamin.” (QS Yunus [10] : 10)

MEMILIH WAKTU, TEMPAT DAN MOMENTUM YANG TEPAT

Diantara ajaran Rasulullah saw tentang doa adalah perlunya memperhatikan waktu, tempat,
dan momentum tertentu, di mana Allah berkenan menerima dan mengabulkan doa hamba-
hamba-Nya dan tidak menolaknya. Adapun waktu-waktu itu adalah sebagai berikut :
1. Sepertiga terakhir dari waktu malam.
2. Ketika azan sedang berkumandang.
3. Antara azan dan iqamat.
4. Setelah sholat wajib lima waktu.
5. Ketika imam naik ke mimbar di waktu shalat jum’at sampai selesai shalat.
6. Saat-saat terakhir setelah ashar di hari jum’at itu.
Adapun tempat-tempat tertentu itu adalah sebagai berikut :
1. Ketika melihat Ka’bah.
2. Ketika melihat mesjid Rasulullah saw.
3. Ketika melakukan thawaf di Baitullah.
4. Ketika berada di Multazam.
5. Ketika berada di belakang Maqam Ibrahim.
6. Ketika berada di sisi sumur Zamzam.
7. Ketika berada di atas bukit Shafa dan Marwah.
8. Ketika berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
9. Ketika berada di sisi Jamarat (tempat melontar jumrah) yang ula dan wustha.
10. Ketika berada di mesjid.

Adapun momentum yang tepat itu adalah sebagai berikut :


1. Ketika turun hujan.
2. Ketika menghadapi barisan musuh dalam perang.
3. Ketika sujud dalam shalat.
4. Ketika sedang terzalimi.
5. Ketika berada dalam perjalanan.
6. Ketika hendak berbuka puasa.

HIJAB ANTARA LANGIT DAN BUMI

Boleh jadi Anda telah memenuhi semua syarat doa diatas, tetapi Anda melihat bahwa tidak
ada tanda-tanda doa Anda terkabul. Jika Anda menyaksikan situasi itu, segeralah tengok diri
Anda dan berusahalah menemukan apakah ada hijab yang menghalangi doa Anda sampai ke
langit.

Dosa. Itulah salah satu hijab doa. Dosa memang harus dibalas dengan hukuman, dan
hukumannya adalah penolakan. Sebutlah misalnya, mengkonsumsi makanan atau minuman
atau pakaian yang haram. Itulah yang disebut oleh Rasulullah saw dalam sabdanya :
“Tentang seseorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut masai,
wajahnya berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit, sembari berseru, ‘Ya,
Tuhan, ya Tuhan...’ tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram,
dan diberi makan yang haram, bagaimana mungkin doanya akan terkabul?” (HR Muslim
dari Abu Hurairah).

Berdoa untuk sebuah dosa. Ini juga merupakan hijab yang menghalangi doa sampai ke langit.
Terlalu tergesa-gesa mengharap jawaban. Ini juga merupakan faktor yang menyebabkan doa
tertolak. Misalnya, ketika engkau mengatakan, “Aku telah berdoa, tetapi tidak dikabulkan.
Jadi, aku berhenti saja berdoa. Percuma.”

Memutuskan tali silaturahmi. Inilah faktor lain yang juga menghalangi doa sampai kelangit.
Tiga terakhir ini kita temukan dalam sabda Rasulullah saw : “Doa seorang hamba selalu
akan terkabul, selama ia tidak berdoa untuk sebuah dosa, memutuskan tali silaturahmi, dan
tidak tergesa-gesa.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

KEBAIKAN YANG TERTUNDA

Jika Anda telah memenuhi semua syarat itu, dan merasa tidak melakukan dosa-dosa yang
akan menghalangi doa Anda sampai ke langit, bahkan juga senantiasa bertobat dan memohon
ampunan-Nya, namun doa yang Anda sampaikan kepada Allah SWT belum juga
memperlihatkan hasil, itulah saatnya Anda harus melakukan nasihat Ibnul Jauzi berikut ini.
“Teruslah berdoa dan jangan pernah bosan melakukannya, karena mungkin, penundaan
jawaban lebih baik bagimu. Atau bahkan, penerimaan itu sama sekali bukan maslahat
bagimu. Tapi, kamu pasti diberi pahala, dan doamu dikabulkan dengan cara yang lebih
bermanfaat bagimu. Dan boleh jadi, di antara manfaat itu bahwa permintaanmu tidak
dikabulkan, tapi diganti dengan sesuatu yang lain.

Dan jika Iblis datang padamu lalu berkata, ‘Berapa banyak sudah kamu berdoa, namun
tidak juga ada yang terkabul.’ Maka, katakanlah kepadanya, “Aku justru beribadah
dengan doa itu. Dan aku percaya bahwa jawaban doaku jelas ada. Tapi, mungkin ia ditunda
untuk maslahat yang lain, dan jawaban itu akan datang pada waktu yang tepat. Dan andai pun
jawaban itu tidak juga kunjung datang, yang pasti aku telah beribadah dan mendapat
pahala.’

Maka, janganlah pernah memohon sesuatu tanpa menyertainya dengan permintaan bahwa
jawaban itu baik bagimu. Sebab, boleh jadi ada bagian dari dunia yang kamu minta, yang
jawabannya justru akan menghancurkanmu. Dan jika untuk urusan dunia kamu diperintahkan
bermusyawarah dan meminta pendapat sahabatmu dalam berbagai masalah yang kamu tidak
sanggup menyelesaikannya, dan melihat bahwa apa yang terjadi padamu itu tidak
bermanfaat, maka mengapa kamu tidak menanyakan Tuhan-mu tentang apakah yang kamu
minta itu bermanfaat bagimu atau tidak? Bukankah Tuhanmu yangMaha Mengetahui semua
maslahat? Demikianlah istikharah itu merupakan bagian dari cara bermusyawarah yang
cerdas.”

SENI MENGGUNAKAN PEDANG

Demikianlah Anda melihat bahwa seni berdoa sangat mirip dengan seni menggunakan
pedang. Pedang yang tajam itu jelas penting. Akan tetapi, yang jauh lebih penting adalah
orang yang memegang pedang itu. Maka, pedang yang tajam, yang tergenggam kuat dalam
tangan dingin seorang pemberani, yang digunakan pada waktu dan sasaran yang tepat, itulah
yang akan mematikan musuh. Namun, jika ada salah satu dari unsur itu yang tidak efektif,
maka selamanya, doa itu tidak akan menghasilkan pengaruh apa pun.

Sekarang, sudahkah Anda menguasai seni menggunakan pedang yang bernama doa?

BAB III
BERSAMA ALLAH SEPANJANG HARI

SIKLUS MUNAJAT DALAN KESEHARIAN

Begitulah, Nabi yang membawa agama ini menghendakimu melalui hari-harimu, sejak
engkau terbangun dari tidurmu sampai engkau tertidur kembali. Tiada bagian dari
keseharianmu yang lepas dari pesannya; agar engkau senantiasa terpaut dengan Allah; agar
hatimu penuh dengan iman yang menyadarkan; agar akalmu penuh dengan pikiran yang
menyegarkan; agar jangan ada perilakumu yang lepas dari kontrol kesadaranmu akan
kehadiran Allah SWT.

Jangan! Jangan pernah ada jeda yang kosong dalam keseharianmu. Jangan pernah ada jenak
yang lepas dari ingatanmu kepada-Nya. Nabi kita menghendaki engkau senantiasa terarah,
senantiasa sadar, dan senantiasa siap menemui-Nya. Maka, lihatlah bagaimana ia
mengajarimu berdoa dalam semua jenak keseharianmu.

LEPASKANLAH BELENGGU ITU DARI LEHERMU

Tahukah engkau, apa yang dilakukan setan kepadamu ketika engkau tertidur? Abu Hurairah
telah memberitakan itu dari Rasulullah saw :
“Rasulullah saw bersabda, ‘Setan mengikat tiga belenggu di atas kepala seorang dari
kamu ketika ia tidur. Dalam setiap belenggu ditulis, “Engkau memiliki malam yang
panjang maka tidurlah terus.’” Jika ia terbangun dan mengingat Allah, maka lepaslah
satu belenggu. Jika ia berwudhu lepaslah belenggu yang kedua, dan jika ia shalat, maka
lepaslah ketiga belenggu tersebut. Maka, di pagi hari, ia pun menjadi gesit dan bersih
jiwanya. Kalau tidak, ia menjadi malas dan kotor jiwanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari
Abu Hurairah).

Bila engkau terjaga dari tidurmu, segeralah mengingat Allah agar terlepas dari belenggu setan
yang pertama. Lanjutkanlah dengan berwudhu karena dengan berwudhu akan membersihkan
raga dan jiwamu. Dan Shalat Subuhlah.

Begitulah, engkau telah memulai harimu dengan baik, dan cahaya langit telah menyinari
segenap jiwamu. Engkau pun menemukan gairah kehidupan yang begitu menggelora, yang
telah membuatmu siap memasuki hari baru yang indah itu.
Tetapi, Nabi ini memahami bahwa sesungguhnya, engkau menginginkan tambahan cahaya
yang lebih dari itu. Ia tahu bahwa engkau membutuhkan energi kehidupan yang lebih dari itu.
Maka, ia pun mengajarkan doa-doa khusus yang sebaiknya engkau baca di waktu pagi,
setelah subuh hingga matahari naik sepenggalan. Doa ini dapat engkau baca di mesjid, dalam
perjalanan kerumah atau dalam perjalanan kekantor. Doa-doa ini terkumpul dalam Doa Al-
ma’tsurat (doa dan dzikir Rasulullah pagi dan petang.) Sempurnakanlah doa-doa tersebut
dengan membaca beberapa ayat dari Al-Quran sebanyak yang engkau mampu.

Selain itu, jika nanti engkau masih diberi umur untuk memasuki sore hari, bacalah doa-doa
tersebut, sejak setelah shalat ashar sampai shalat isya.

Bacalah doa setiap engkau melakukan aktifitasmu. Bahwakan saat engkau hendak tidur.
Sebagaimana Nabi mengajarkan, tidur adalah saudara kematian karena saat itu ruh kita
dikembalikan ke dalam genggaman Allah SWT. Maka, bersiap untuk tidur harus dilakukan
sekan kita bersiap-siap hendak mati. Rasulullah saw pun menganjurkan kita melakukan
beberapa persiapan: mulailah dengan berwudhu, lalu shalat witir sebanyak 1 atau 3 rakaat.
Naiklah kepembaringan. Hadapkan wajahmu ke kiblat dan bacalah doa-doa mau tidur.

MEMULAI DAN MENGAKHIRI HARI DENGAN DOA

Demikianlah, hari-harimu akan berlalu dengan indah saat jiwamu senantiasa terpaut dengan
langit. Engkau mulai harimu dengan doa dan mengakhirinya dengan doa pula.
BAB IV
PADA SETIAP PERISTIWA KEHIDUPAN, KUSEBUT NAMA-MU!

KARENA KITA PUNYA HATI

Bukan hanya ada satu warna dalam hati kita. Di sana ada sangat banyak warna. Karenanya,
perasaan kita juga tidak pernah satu. Selalu ada banyak perasaan yang berkecamuk dalam hati
kita.

Perasaan-perasaan itu saling berhadapan. Maka, ada cinta di depan benci. Ada harap di depan
cemas. Ada berani di depan takut. Ada derma di depan kikir. Begitu seterusnya.
Maka, warna peristiwa kehidupan yang kita hadapi pun tidak pernah satu. Ada saatnya
engkau gembira, sama seperti ada saatnya engkau bersedih. Ada saatnya engkau tenang dan
ada pula saatnya engkau marah.

Diluar manusia, ada alam yang juga senantiasa menghadirkan banyak wajah. Sekali waktu
ada hujan. Jika kadar hujan yang turun sesuai dengan kebutuhan bumi, maka bumi segera
bernyanyi dalam musim semi. Tetapi, jika kadarnya lebih, bumi pun tenggelam dalam banjir.
Lalu, waktu jua turun, dan tanah bumi pun retak serta kering oleh kemarau panjang. Sekali
waktu langit tampak cerah, tetapi pada lain waktu engkau dikagetkan oleh suara dan kilatan
petir.

Namun, Nabi kita menghendaki agar engkau menjadi makhluk yang hatinya senantiasa
terpaut dengan Tuhanmu dalam semua jenis perasaanmu; bahwa engkau senantiasa terhubung
dengan langit dalam semua peristiwa kehidupanmu; bahwa pada setiap peristiwa alam
engkau senantiasa menyebut nama Tuhanmu.

BAB V
DI SINI, KUTUMPAHKAN SEMUA HARAPANKU PADAMU, YA ALLAH!

DOA SARAT MAKNA

Rasulullah saw menyukai doa-doa yang ringkas, namun sarat makna. Sepertinya, beliau
mengetahui bahwa itu bukan saja memudahkan banyak orang untuk mengingatnya,
melainkan juga lebih mewakili seluruh harapan dan keinginan kita.

Maka, tercatatlah dalam riwayat beliau, doa-doa yang mencakup semua keinginan dan
harapan utama yang kita dambakan dalam kehidupan kita. Setelah membawa riwayat-riwayat
itu, yakinlah kami bahwa kita juga membutuhkannya. Kita semua ingin bahagia di dunia,
selamat di akhirat, kaya dan bertakwa. Berilmu, namun rendah hati dan berkuasa, namun adil.

Kebaikan-kebaikan jiwa itu tentu harus kita upayakan melalui usaha yang sadar secara terus-
menerus. Adapun diantara usaha itu adalah mempertahankan keinginan yang kuat untuk
meraihnya. Di sinilah letak fungsi doa itu : membantu kita memperkuat dan mempertahankan
kehendak baik kita.
Berikut beberapa doa yang sarat makna :

“ Ya, Allah, sesungguhnya, aku memohon kepada-Mu seluruh kebaikan yang ada, untuk
bisa melakukan segala kebaikan itu, meninggalkan segala kemungkaran, mencintai orang-
orang miskin, dan terimalah tobatku, ampunilah aku serta kasihanilah aku. Ya, Allah aku
memohon kepada-Mu untuk mampu mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-
Mu dan mencintai amal yang menghantarkanku untuk bisa mencintai-mu.” (HR Al Hakim
dari Muadz).

“Ya, Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat. Dan jagalah kami dari siksa api
neraka.” (Hadist ini disepakati oleh Bukhari Muslim).

“Ya, Allah, sesungguhnya, aku memohon kepada-mu seluruh kebaikan yang telah ada
maupun yang akan ada. Kebaikan yang telah kuketahui dan kebaikan yang belum kuketahui.
Dan aku berlindung kepada-mu dari seluruh keburukan yang telah datang maupun yang akan
datang. Keburukan yang telah kuketahui dan yang belum kuketahui. Dan, aku memohon
surga-Mu dan apa-apa yang bisa mendekatkan kepadanya, baik dari ucapan maupun
perbuatan. Aku berlindung kepada-Mu dari api neraka dan apa-apa yang mendekatkan
kepadanya, baik dari ucapan maupun perbuatan.” (HR Al Hakim dari Aisyah).

“Ya, Allah, sesungguhnya, aku memohon kepada-mu kesehatan iman, keimanan yang
melekat dalam akhlak yang baik, keberhasilan yang mewariskan kebahagiaan, kasih sayang
dari-Mu, kesejahteraan, serta ampunan dan ridha-Mu.” (HR Al Hakim dari Abu Hurairah).

“Ya, Allah dengan ilmu-Mu tentang yang ghaib dan kuasa-Mu untuk mencipta,
hidupkanlah aku selama Engkau mengetahui kehidupan ini baik untukku. Ya, Allah, aku
memohon kepada-Mu rasa takut pada-Mu, baik waktu sepi maupun ramai. Dan aku
memohon kepada-mu kalimat yang benar pada waktu marah maupun suka. Dan aku
memohon kepada-Mu (agar bisa) hemat dalam keadaan miskin maupun kaya, dan aku
memohon kepada-Mu kenikmatan yang tak pernah berhenti, kesejukan mata yang tak akan
pernah putus, keridhaan setelah menerima takdir. Aku memohon kepada-Mu ketenteraman
setelah mati, kenikmatan memandang wajah-Mu, kerinduan untuk bertemu dengan-Mu, tanpa
ada kesulitan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. Ya, Allah, hiasilah (hidup)
kami dengan perhiasan iman dan jadikanlah kami orang-orang yang senantiasa menunjuki
orang lain dan jadikanlah kamu termasuk orang yang mendapat petunjuk.” (HR Ahmad, Al
Hakim dari Ammar bin Yasin).

“Ya, Allah, sesungguhnya, aku memohon kepada-Mu akan hidayah, ketakwaan,


keshalihan, dan kekayaan.” (HR Muslim dari Ibnu Mas’ud).

“Ya, Allah, sesungguhnya, aku berlindung kepada-Mu dari dahsyatnya musibah, lilitan
kesengsaraan, buruknya keputusan, dan kegembiraan musuh-musuh.” (Hadist ini telah
disepakati oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

“Ya, Allah, sesungguhnya, aku memohon kepada-mu akan hal-hal yang menyebabkan
turunnya rahmat-Mu, dorongan yang mendatangkan ampunan-Mu, keselamatan dari segala
noda dosa, keuntungan dari segala kebaikan, keberuntungan akan surga-Mu dan keselamatan
dari api neraka.” (HR Al Hakim dari Ibnu Mas’ud)

“Ya, Allah, sesungguhnya, aku berlindung kepada-Mu dari kelaparan karena kelaparan
adalah seburuk-buruk teman tidur. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari pengkhianatan
karena ia adalah seburuk-buruknya teman dekat.” (HR Abu Dawud dengan sanad sahih
dari Abu Hurairah).

“Ya, Allah, berikanlah ketakwaan atas jiwaku ini dan sucikanlah ia. Engkaulah sebaik-baik
yang menyucikannya. Engkaulah Kekasih dan Penolongnya. Ya Allah sesungguhnya, aku
berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang khusyu’, dari jiwa
yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak pernah dikabulkan.” (HR Muslim dari
Zaid bin Arqam).

“Ya, Allah, perbaikilah agamaku yang menjadi perisai segala urusanku, perbaikilah
duniaku yang menjadi tempat hidupku, dan akhiratku yang menjadi tempat kembaliku.
Jadikanlah kehidupanku ini sebagai nilai tambah untuk melakukan segala kebaikan, dan
kematianku sebagai tempat peristirahatan dari segala kejahatan.” (HR Muslim dari Abu
Hurairah).

“Ya, Allah, sesungguhnya, aku berlindung kepada-Mu dari sirnanya nikmat-Mu,


berubahnya kebaikan-Mu, siksaan-Mu yang tiba-tiba muncul dan semua kemurkaan-Mu.”
(HR Muslim dari Ibnu Umar).

“Ya, Allah, Tuhan yang Mengendalikan hati, kendalikanlah hati-hati kami untuk berbakti
kepada-Mu.” (HR Muslim dari Abdullah bin Amru bin Ash).

“Ya, Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukilah aku, sejahterakanlah aku, dan
berikanlah aku rezeki.” (HR Muslim dari Thariq bin Asysyim).

“Ya Allah, sesungguhnya, aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan atau
kejahatan amal yang lalu maupun yang akan datang.” (HR Muslim dari Aisyah).

BAB VI
BEGINILAH MENJALANI HIDUP DENGAN KHUSYU’

TEGURAN BAGI SANG MUSAFIR

Kita semua adalah musafir. Sekarang kita sedang berada di sini, dalam gerbong kereta waktu
yang membawa kita melaju dalam perjalanan hidup. Adapun stasiun tempat kelak kereta
waktu berhenti adalah liang kubur. Maka, ketika kereta waktumu berhenti, lalu engkau keluar
dari gerbong, engkau hanyalah berpindah ke gerbong yang lain dari kereta waktu yang akan
mengantarmu ke padang pertanggungjawaban.

Dengarlah Nabimu yang telah membacakan firman Tuhanmu, wahai sang Musafir :
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah
kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qashash [28] : 77).

Sesungguhnya, yang dapat membuatmu lurus dalam hidup adalah jika engkau senantiasa
mengingat perhentian terakhir dari perjalanan hidup ini. Ketika kesadaran itu lepas dari
ingatan batinmu, niscaya engkau akan menemukan bahwa semua dorongan liar ber-kecambah
dalam jiwamu, merasuk ke dalam pikiranmu, dan itulah saat dimana musuh abadi yang
mengalir dalam darahmu─setan─menjadi masinis yang membawa lokomotif kereta
kehidupanmu.

Teruslah berlari, dan..., jangan! Jangan pernah menengok ke belakang, walaupun hanya
sekejap, walaupun kakimu sakit tertusuk duri. Dengarlah, sekali lagi, wahai Musafir, Nabimu
telah membacakan firman Tuhanmu :
“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya, aku seorang pemberi
peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS Adz Dzariyat [51] : 50)

Ketika Nabi yang membawa risalah samawi terakhir ini memasuki tahun keempat dari usia
kenabiannya, beliau menemukan bahwa ingatan akan penghentian terakhir itu belum merasuk
dengan kuat ke dalam benak para sahabatnya. Mereka masih tampak lekat dengan bumi, dan
senang berleha-leha di dalamnya. Tiba-tiba saja, teguran langit turun ke bumi, menghentak
kesadaran mereka, membelalakkan mata mereka, dan menyatakan bahwa tidak begitu
seharusnya mereka menjalani hidup. Oh, hidup bukanlah permainan, wahai Musafir! Dan
Nabi pun membaca teguran langit itu kepada para sahabatnya.

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka
mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah
mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya,
kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan
kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Hadid [57] :16).

Tidak! Teguran itu bukanlah kemarahan dari langit. Tetapi, Allah hanya ingin agar mereka
menjalani hidup dengan cara yang lain. Allah hanya ingin agar kaki mereka berjalan di bumi,
namun hati mereka senantiasa terpaut pada langit. Maka, turunlah dari langit kisah ini. Kisah
yang akan menggoda mereka menjadi sesuatu yang lain.

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan
disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak
dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari)
mendirikan shalat, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari
itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS An-Nur [24] : 36-37).

MUNAJAT YANG TAK PERNAH PUTUS

Beginilah sang musafir, bila mulai terbangun dari tidur panjangnya. Ia mulai membersihkan
wajahnya dengan wudhu dan menjalani hari-harinya dengan munajat yang tak pernah putus.
Hatinya telah terbang tinggi ke langit dan terpaut di sana.

Sementara kakinya beranjak dari satu tempat ke tempat lain dalam bumi, hatinya
bercengkrama di ketinggian langit.
Kini, sang Musafir telah menyadari bahwa doa bukanlah pekerjaan sederhana. Doa bukanlah
kumpulan kata yang kering. Doa bukanlah harapan yang dingin. Doa bukanlah sekedar
menengadahkan kedua tangan ke langit.

Tidak! Kini, sang musafir menyesali mengapa ia terlambat memahami makna dan hakikat
doa. Ternyata doa adalah “surat” dari sang jiwa yang senantiasa terpaut pada langit. Doa
adalah rindu kepada Allah yang tak pernah selesai. Maka, setiap kata dalam doa adalah
gelombang jiwa yang getarannya niscaya terdengar ke semua lapisan langit. Di sini, tiada
tempat bagi kepura-puraan. Di sini, tak ada ruang bagi kebohongan.

Begitulah jiwa sang musafir, terus berlari ke perhentian terakhir, ketika raganya masih berada
dalam gerbong kereta waktu. Dengarlah munajat sang musafir : “Ya Allah, bantulah aku
untuk senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan menyembah-Mu dengan cara yang
baik.” (HR Abu Dawud dari Muadz bin Jabal).