Anda di halaman 1dari 79

FIVE ON A TREASURE ISLAND

by Enid Blyton

LIMA SEKAWAN
DI PULAU HARTA
alihbahasa: Agus Setiadi

Penerbit: PT Gramedia
Cetakan Kedua: November 1980

I

LIBURAN YANG TAK TERSANGKA

“BAGAIMANA, Bu, sudah ada kabar tentang liburan kita?” tanya Julian pada suatu pagi.
“Bisakah kita pergi lagi ke Polseath, seperti biasanya?”
“Kurasa tidak bisa,” jawab Ibu. “Semua penginapan di sana penuh kali ini.”
Ketiga anak yang sedang sarapan itu saling berpandangan. Mereka kecewa, karena
sebenarnya kepingin sekali ke Polseath. Mereka menyukai rumah yang biasa mereka sewa
dalam liburan. Pantai di Polseath sangat indah. Enak mandi-mandi di sana.
“Jangan sedih dong,” kata Ayah membujuk. “Kita pasti masih akan berhasil menemukan
tempat berlibur yang sama baiknya. O ya, aku dan Ibu kali ini tidak bisa ikut dengan
kalian. Ibu sudah bercerita mengenainya?”
“Belum,” sahut Anne. “Betul itu, Bu? Ibu tidak bisa ikut berlibur dengan kami? Selama
ini Ibu selalu bisa.”
“Kali ini Ayah mengajak ke Skotlandia,” ujar Ibu. “Cuma kami berdua saja! Kalian kan
sudah cukup besar. Sudah bisa mengurus diri sendiri. Karenanya kami rasa pasti akan
senang, bila sekali-sekali pergi berlibur tidak dengan orang tua. Tapi sekarang
ternyata kalian tidak bisa pergi ke Polseath. Ibu sekarang agak bingung, tak tahu ke
mana kalian bisa pergi dalam liburan nanti.”
“Bagaimana kalau mereka ke Paman Quentin?” kata Ayah tiba-tiba. Paman Quentin itu adik
Ayah, jadi paman anak-anak. Mereka baru sekali berjumpa dengan Paman Quentin. Mereka

agak takut padanya. Orangnya jangkung, tak pernah tersenyum. Apalagi tertawa! Dia
seorang sarjana yang sangat pintar. Ia boleh dibilang terus-menerus sibuk dengan
ilmunya saja. Paman Quentin tinggal di tepi laut. Cuma itulah yang diketahui anak-anak
tentang paman mereka itu.
“Quentin?” tanya Ibu agak heran. “Kenapa tiba-tiba teringat padanya? Kurasa dia takkan
senang jika ada anak-anak yang ribut bermain-main dalam rumahnya.”
“Soalnya begini,” kata Ayah menerangkan duduk perkara. “Baru-baru ini aku bertemu
dengan isterinya di kota, karena ada urusan sedikit. Kurasa keuangan mereka saat ini
agak sempit. Kata Fanny, dia akan senang sekali jika ada orang menginap di rumah
mereka, supaya ada tambahan penghasilan.” Fanny adalah isteri Paman Quentin, jadi bibi
anak-anak.
“Kau kan tahu, mereka tinggal di tepi laut,” kata Ayah melanjutkan keterangannya.
“Mungkin cocok sekali untuk tempat berlibur bagi anak-anak. Fanny ramah sekali. Pasti
anak-anak takkan mengalami kekurangan apa pun juga.”
“Ya, betul juga,” sambut Ibu. “Dan mereka kan juga punya seorang anak. Siapa lagi
namanya — masakan sampai bisa lupa. Nanti dulu, agak aneh kedengarannya — ah ya, aku
ingat lagi sekarang. Georgina. Berapa umurnya sekarang, ya? Kurasa kurang lebih sebelas
tahun.”
“Sama dengan aku,” kata Dick. “Bayangkan, kita punya saudara sepupu yang belum pernah
kita lihat. Tentunya dia sangat kesepian. Aku bisa bermain bersama-sama Julian dan
Anne. Tapi Georgina anak tunggal. Kurasa pasti dia akan gembira jika kita datang.”
“Ya, kata Bibi Fanny anaknya akan senang jika ada teman datang,” ujar Ayah. “Kurasa
kalau aku sekarang meneleponnya untuk mengurus kedatangan anak-anak ke sana,
persoalannya akan beres. Dengannya Fanny akan agak tertolong, sedang Georgina pasti
akan gembira karena ada teman-teman bermain selama liburan. Dan kita bisa tenang,
karena ketiga anak kita terurus baik.”
Anak-anak mulai merasa tertarik. Tentunya asyik, pergi ke suatu tempat yang belum
pernah didatangi, dan tinggal bersama seorang saudara sepupu yang belum mereka kenal.
“Di sana ada tebing yang tinggi? Ada batu-batu dan pasir?” tanya Anne bertubi-tubi.
“Tempatnya enak atau tidak?”
“Aku tak begitu ingat,” jawab Ayah. “Tapi aku merasa pasti, tempat itu mengasyikkan.
Pokoknya kalian akan senang di sana! Namanya Teluk Kirrin. Bibi Fanny dilahirkan di
sana, dan biar bagaimana takkan mau pergi dari sana.”
“Ayo dong, Yah — telepon Bibi Fanny, dan tanyakan apakah kami bisa ke sana!” seru Dick
tak sabar lagi. “Kurasa tempat itu cocok sekali bagi kami. Kedengarannya seperti banyak
petualangan yang bisa dialami di sana!”
“Ah, kau ini kan selalu begitu! Ke mana saja kau pergi, selalu kaukatakan tempat itu
banyak petualangannya,” ujar Ayah sambil tertawa. “Baiklah! Kutelepon saja dia
sekarang. Kita lihat nanti, barangkali kalian beruntung.”
Anak-anak sudah selesai sarapan. Mereka menunggu Ayah yang akan menelepon. Ayah pergi
ke ruang tengah. Kedengaran kesibukannya menelepon.
“Mudah-mudahan saja berhasil,” harap Julian. “Aku kepingin tahu, seperti apa saudara
sepupu kita yang bernama Georgina itu. Namanya aneh, ya? Seperti nama anak laki-laki.
Kata Ibu tadi umurnya kira-kira sebelas tahun. Setahun lebih muda dari aku. Seumur
dengan kau, Dick, dan satu tahun lebih tua dari Anne. Mestinya dia cocok dengan kita.
Pasti akan asyik kita bermain bersama-sama.”
Sesudah menelepon selama kurang lebih sepuluh menit, Ayah kembali. Melihat mukanya,
dengan segera anak-anak tahu bagaimana hasil pembicaraannya. Ayah tersenyum lebar.

“Beres,” ujarnya. “Bibi Fanny gembira mendengarnya. Katanya untung sekali jika Georgina
mendapat teman. Anak itu selalu seorang diri. Ke mana-mana tidak berteman. Bibi merasa
senang dititipi kalian. Hanya kalian harus hati-hati, jangan sampai Paman Quentin
terganggu. Dia sangat sibuk bekerja, dan cepat marah jika merasa terganggu.”
“Kami takkan ribut jika di dalam rumah,” kata Dick. “Sungguh, kami berjanji. Aduh,
asyik! Kapan kita pergi, Yah?”
“Minggu depan, jika Ibu bisa selesai saat itu,” kata Ayah. Ibu mengangguk.
“Bisa saja,” katanya. “Tak banyak yang harus dipersiapkan untuk mereka. Hanya pakaian
renang, baju kaos dan celana pendek. Cuma itu saja. Pakaian mereka sama semua.”
“Wah, enak! Kita bisa pakai celana pendek lagi,” seru Anne girang, sambil menandaknandak dalam kamar. “Aku bosan, terus-terusan memakai pakaian seragam sekolah. Aku
kepingin memakai celana pendek, atau baju renang. Aku kepingin berenang dan memanjatmanjat dengan Dick dan Julian.”
“Sebentar lagi semuanya bisa kaulakukan,” kata Ibu tergelak melihat kelakuan putrinya
itu. “Tapi jangan lupa menyiapkan alat permainan dan buku-buku yang ingin kalian bawa.
Jangan banyak-banyak, karena tempatnya tidak banyak untuk itu.”
“Tahun lalu Anne ingin membawa serta kelima belas bonekanya sekaligus,” ujar Dick.
“Masih ingat, Anne? Menggelikan sekali kau waktu itu, ya?”
“Tidak,” jawab Anne dengan ketus. Mukanya merah. “Aku sayang pada semua bonekaku.
Karena bingung memilih, kuputuskan untuk membawa semuanya saja. Itu sama sekali tidak
menggelikan.”
“Kau juga ingat satu tahun sebelumnya lagi? Anne kepingin membawa kuda goyangnya,” kata
Dick lagi sambil tertawa cekikikan. Kemudian Ibu mencampuri pembicaraan.
“Ya, dan Ibu ingat ada seorang anak laki-laki bernama Dick, yang pernah merengek-rengek
ingin membawa serta dua boneka hitam, satu beruang-beruangan, tiga anjing-anjingan dan
satu boneka monyet ke Polseath.”
Sekarang giliran Dick merasa malu. Cepat-cepat ia berganti pembicaraan.
“Dengan apa kita ke sana, Yah?” tanyanya pada Ayah. “Naik mobil, atau dengan kereta
api?”
“Naik mobil,” jawab Ayah. “Barang-barang kita masukkan semuanya ke tempat bagasi.
Bagaimana kalau kita berangkat hari Selasa?”
“Kurasa baik sekali,” kata Ibu. “Dengan begitu kita bisa mengantarkan anak-anak, lalu
kembali untuk berkemas dengan tenang. Kemudian hari Jum’at kita berangkat ke
Skotlandia. Baiklah kita persiapkan saja keberangkatan hari Selasa.”
Jadi hari Selasa mereka akan berangkat. Anak-anak sudah tak sabar lagi menghitunghitung hari.
Setiap malam Anne mencoret tanggal yang sudah berlalu di penanggalan. Lama sekali
rasanya berlalu waktu satu minggu. Tapi akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba juga.
Dick dan Julian yang tidur sekamar, bangun serempak pada suatu pagi. Keduanya memandang
ke luar jendela.
“Kelihatannya akan cerah hari ini. Horee!” seru Julian gembira sambil meloncat turun
dari tempat tidurnya. “Entah kenapa, tapi bagiku rasanya penting bahwa hari pertama
liburan harus cerah. Yuk, kita bangunkan Anne!”
Anne tidur di kamar sebelah. Julian masuk lalu menggoncang-goncang bahu adiknya.

jika bermain-main di alam yang suram? Anne terlompat bangun. aku gembira sekali! Tak sabar lagi rasanya. hujan. “Pukul berapa kita tiba nanti di rumah Bibi Fanny?” tanya Julian sambil mengunyah potongan rotinya yang terakhir. Mereka selalu bernyanyi. Tetapi ketika sudah di luar kota. Ketiga anak itu bersorak serempak. Semua roti sudah habis disikat oleh anak-anak. Mereka berpiknik di puncak sebuah bukit.“Ayo. siapa mau jalan-jalan sebentar? Untuk melemaskan kaki. hutan dan tanah pertanian silih berganti. “Tapi kau masih harus sabar dulu.” kata Ibu. Menurut perasaan Ibu. “Kita nanti berpiknik?” tanya Anne. Rasanya masih sanggup menyikat tiga potong lagi. Ayah melajukan jalan mobil.” jawab Ayah. “Akhirnya tiba juga hari yang ditunggu-tunggu selama ini!” serunya riang. Anne. tak mungkin masih ada yang kelupaan. Pelan sekali mobil mereka berjalan. Anne bersama kedua saudara laki-lakinya makan coklat dengan nikmat. termasuk yang disediakan untuk hidangan bersama teh nanti. Ibu di depan di samping Ayah. mereka masuk lagi ke dalam mobil. “Aku sudah kuatir. Atau kalau tidak. cukup tempat bagi mereka semua.” keluh Anne. Kata Ibu. Jadi mereka akan mampir saja ke sebuah restoran untuk minum teh. Mobil mereka meluncur ke atas sebuah bukit.” “Aduh. Akhirnya tiba juga saat minum teh. “Nah. Anak-anak bernyanyi-nyanyi.” Sehabis jalan-jalan sebentar. Tempat bagasi di belakang penuh dengan segala macam barang serta sebuah peti kecil. “Aku sudah bisa mencium baunya.” Ibu memberikan beberapa batang coklat. sekitar pukul enam. kenapa Julian begitu meributkan soal matahari bersinar atau tidak. pukul setengah lima nanti mereka tidak bisa piknik lagi. Untung Ayah mengusirnya. Sekarang kan baru pukul sebelas. Ia masih lapar. . Setengah satu nanti kita makan siang. Laut biru yang tenang berkilauan kena sinar matahari sore. jika bergembira. Tak lama kemudian sudah sampai di daerah luaran. Di Inggris. bangun! Sekarang hari Selasa. Ketiga anak itu banyak sekali makannya. Banyak restoran yang khusus menghidangkan teh serta kue-kue dan roti. Tetapi di Inggris. Kaki mereka diletakkan di atas dua buah koper. Tiba-tiba ia merasa lapar. “Pasti kita sudah dekat dengan laut. jangan-jangan hari Selasa takkan pernah tiba. “Yah. Dan tiba-tiba di depan mereka terbentang air yang sangat luas. dan matahari bersinar cerah!” Mungkin kalian akan heran. Di sana sering kali berkabut. sedang anak-anak duduk di belakang. Asyik juga mereka piknik di situ! Anne jengkel ketika ada seekor sapi besar berwarna coklat datang mendekat dan memandangnya dengan matanya yang besar. tidak setiap hari Sang Surya muncul untuk memanaskan bumi dengan sinarnya. Anak-anak mulai gelisah. sambil mengarahkan perhatian ke pemandangan yang dilewati. Ayah menjalankan kendaraan itu dengan laju. orang biasa makan roti pada saat minum teh sekitar pukul setengah lima sore. mobil bergerak lebih laju. ingin sekarang juga berangkat. “Kalau tak ada gangguan. Bukit.” Mereka berangkat sehabis sarapan. karena nanti kita akan lama duduk terus di mobil. Dan tidak enak bukan.” ujar Dick. Mobil mereka besar. Mereka melewati jalan-jalan kota London yang penuh dengan lalu lintas.” Betul juga katanya. Aduh. “Tak kuat aku menahan lapar sampai saat itu. Dipandangnya abangnya dengan wajah gembira. di tengah lapangan yang melandai ke arah sebuah lembah. Lembah itu nampak cerah kena sinar matahari.

“Aku kepingin ke sana. bagusnya. “Mana Georgina?” tanya Anne sambil memandang berkeliling. karena bangunannya sama sekali tidak kecil.” “Aku kepingin berenang sekarang ini juga!” “Tak sampai dua puluh menit lagi. sekarang sudah menghilang lagi. terbuat dari batu berwarna putih. Begitu melihat ada mobil berhenti di depan. Airnya biru sekali!” “Dan lihatlah pulau karang yang kecil itu. Seakan-akan menyimpan rahasia. Begitu melihat Bibi Fanny.” ujar Ayah menyabarkan. dan indah. kalian datang ke mari. Perlu kuperingatkan pada kalian. apa kabar! Senang sekali rasanya. di ujung teluk. ketiga anak itu sibuk mencari-cari teluk yang dikatakan oleh ayah mereka. dengan segera anak-anak menyukainya.” Sementara mobil mereka melaju di jalan yang menyusuri pantai. “Selamat datang di Kirrin!” serunya dari jauh. dia harus menunggu kedatangan kalian di kebun. ingin berkenalan. “Sekarang kita harus mencari rumah Bibi Fanny. Kemudian Julian berteriak gembira. “Nakal benar anak itu! Tadi sudah kubilang. penuh dengan bunga-bungaan. dan ada sebuah pulau aneh di ambangnya. bahwa mungkin kalian akan menganggap Georgina agak sulit . “Halo. bukan main — anak-anak sudah besar semuanya. Namanya Pondok Kirrin.” kata Bibi Fanny. “Ternyata perjalanan kita lancar.“Itu dia!” “Aduh.” ujar Ayah sambil menghentikan mobil. “Bangunannya sudah tua.” kata Ibu. Kebunnya kelihatan meriah. Dinding depannya dirambati tanaman mawar. “Tahu-tahu.” “Itu sudah tak perlu kaukatakan lagi.” Tak lama kemudian mereka sampai di Pondok Kirrin. “Itu dia! Pasti itu Teluk Kirrin. “Inilah dia. Mereka segera menyukai rumah itu. Besar dan tua. Pondok Kirrin. Perabotan di dalamnya juga tua. Lihatlah. Teluk Kirrin termasuk besar. Nama Pondok Kirrin agak menyesatkan. dengan segera ia berlari-lari ke luar. Terasa ketuaannya.” kata Dick. Sebentar lagi akan kelihatan teluknya. ketiga anak itu masuk ke dalam rumah. Wah. Dick — alangkah bagusnya. kita akan sampai di Teluk Kirrin. Ia mencari-cari saudara sepupunya itu. kabarnya sudah tiga ratus tahun! Mana Quentin? Nah — itu Fanny datang!” II SEPUPU YANG ANEH TERNYATA Bibi Fanny sudah menunggu-nunggu kedatangan mereka.” Sesudah bersalam-salaman. Letaknya di atas sebuah bukit rendah yang berada di tepi teluk.

supaya bisa berkenalan dengan ketiga sepupunya. “Sayang. tahu-tahu sudah menghilang. Karena itu sehabis makan malam dengan terburu-buru. Tapi yang muncul bukan Georgina alias George. Jadi mereka berpisah dari Julian. dengan bunga-bunga mawar yang wangi terangguk-angguk ditiup angin di depan jendela. apakah Paman hanya bergurau saja atau tidak. “Salam kami saja padanya.” jawab Bibi dengan kesal. Kalau dipanggil Georgina.” kata Ibu. Georgina seorang anak yang menarik perhatian.” “Memang betul.” Di Pondok Kirrin tidak ada tempat bagi Ayah dan Ibu. Paman Quentin. Bibi sangat ramah. Mereka merasa agak kesepian.” “Anak itu minta dipukul rupanya. di bawah atap rumah. Anak-anak memperhatikan mobil besar mereka menghilang di tikungan.” kata Paman. Dia meminta agar kami memanggilnya dengan nama George. supaya dia tidak aneh lagi. “Entahlah. Tetapi Bibi Fanny cepat-cepat mengajak mereka ke tingkat atas. Besoknya sehabis sarapan. Mudah-mudahan dia senang bermain dengan ketiga anak ini. untuk menunjukkan tempat mereka tidur. Anne dan Dick pada malam itu juga. Dia bandel sekali. Mudah-mudahan saja ketiga anak ini tak terlalu mengganggu kesibukanmu. Sedang Anne disuruh tidur bersama Georgina dalam sebuah kamar yang ukurannya agak kecilan. berambut hitam. selama ini dia selalu sendirian saja.” “Quentin sedang sibuk dengan sebuah buku yang sulit. Mereka sangat ingin bahwa dia datang. “Saya kepingin sekali bertemu dengannya. Dia sangat memerlukan teman bermain yang sebaya dengannya. Kelihatannya angker sekali. “Lama sekali Kita tak berjumpa. lalu menganggukkan kepala. Quentin!” ucap Ayah.” ujar Anne pada Bibi. Anak-anak menjadi agak takut melihatnya. “Kenapa Georgina tidak datang-datang juga. Kamar itu menyenangkan. Dari jendela kamar itu nampak tanah berpaya-paya yang terbentang luas di belakang rumah. Tetapi mukanya tetap cemberut. dia bekerja di tempat yang terpisah di rumah itu.” jawab Bibi.” Paman Quentin menatap ketiga kemenakannya. “Nah.” Menurut perasaan ketiga anak itu. seperti anak laki-laki. “Saya kira namanya Georgina. Syukurlah. melainkan Paman. “Padahal tadi sudah kukatakan agar menunggu di sini. Tapi jangan pedulikan! Nanti kan dia akan biasa lagi. Anne merasa senang diberi kamar itu. Kedua anak laki-laki itu senang sekali mendapat kamar yang demikian bagusnya. “Tapi George tak suka jadi anak perempuan. dengan dahi lebar yang berkerut. Dan barangkali saja kalian bisa mempengaruhi George. “Tapi untuknya sudah kusediakan sebuah kamar yang terpisah.” kata Bibi Fanny. Anak-anak — mudah-mudahan kalian bisa bersenangsenang di sini.” “Bibi menamakannya George?” tanya Anne heran. Dari situ teluk bisa dilihat dengan jelas. Dan mungkin saja mula-mula dia tak begitu suka kalian ada di sini. Georgina masih belum muncul juga. Maklumlah.” . pasti tak mau menyahut. “Mana George?” tanya Paman dengan suara berat. Anak-anak tak tahu pasti. mereka pergi menginap di sebuah hotel di kota yang terdekat. kami tidak bisa berjumpa dengan Georgina. sehingga tak lama kemudian ketiga anak itu sudah lupa akan kesedihan mereka. “Apa kabar.” Sesudah itu Ayah dan Ibu berangkat.diajak berteman. karena kalian bisa ke mari. mereka akan segera berangkat lagi ke London. Julian dan Dick disuruh Bibi tidur di sebuah kamar yang miring langit-langitnya. Jangkung. Kurasa dia takkan terganggu oleh anakanak. Tapi sebuah jendela samping menghadap ke arah laut. Aku merasa syukur bagi George.

tak mungkin diputuskan lagi olehnya. “Aneh benar dia itu. Ketika Anne membuka matanya. ketika akhirnya Georgina pergi tidur. Dick! Dan kau juga.” “Maaf deh. tentunya kau sudah sangat capek. Anne! Ayo. Tarikan mulutnya agak cemberut. Kalian harus tidur nyenyak malam ini. dan sampai sekarang belum pulang. “Kau kan sudah tahu pikiran orang-orang dewasa.” jawab anak itu ketus. “Aku hanya mau menjawab. Dan benar juga perkiraan mereka. masuk ke tempat tidur sekarang juga. ketika Bibi sudah ke luar. Aku benci jadi anak perempuan. Ditatapnya Anne dengan mata yang biru cerah. Entah pukul berapa dia masuk nanti. Ketiga anak itu sudah lama terlelap. Rambutnya keriting dipotong sangat pendek. “Kau ini memang benar-benar goblok. ketika dengan pelan membuka pintu kamar di mana Anne sudah nyenyak. Padahal aku tadi kepingin jalan-jalan sebentar ke pantai. apa yang akan terjadi berikutnya. Jika sudah sekali bersahabat. nah — sekarang kau sendiri juga menguap.” Tiba-tiba Anne menguap lebar-lebar. kau ini siapa?” “Namaku George. mereka sebenarnya sudah kepingin masuk ke tempat tidur dan memejamkan mata. Kakinya ditendang-tendangkan ke udara oleh karena kegirangan. “Bukan. Anak itu berbaring di tempat tidur yang kecil.“Anak itu agak aneh. capek sehabis naik mobil begitu lama. ketika Georgina merebahkan diri di atasnya.” kata anak itu. “Entah kenapa. Seorang anak berbaring di situ. jika dipanggil dengan nama George. sambil menatap langit-langit kamar yang miring. “Kadang-kadang sikapnya seperti kasar dan sombong. Paman Quentin. “Aku bukan Georgina.” Memang benar. lagipula setia.” kata Bibi. Tiba-tiba ia teringat kembali.” kata Anne menyesal. Kedua saudaranya memandangnya dengan kening berkerut. Diam-diam. sehingga tak mendengar apa-apa lagi. Padahal dia akan sekamar dengan aku. tak bisa kutahan lagi. Tapi sebenarnya dia sangat baik budi. Lain tidak. Mereka sudah sangat mengantuk. Aku tak mau! Aku tak senang berbuat seperti anak . Anak yang berbaring itu dengan seketika duduk. “He — kau Georgina?” sapanya.” Anne masuk ke kamarnya. Ketiga anak itu sudah begitu capek. Anne menunggu sampai anak yang sedang tidur itu kelihatan bangun. tidak mau menunggu untuk mengucapkan selamat datang. jika mereka melihat kita menguap. Mereka juga tak tahu lagi. Kemudian Anne memandang ke tempat tidur satu lagi. meringkuk di bawah selimut. Yang kelihatan cuma rambut yang keriting. Mukanya coklat terbakar sinar matahari. sedang keningnya berkerut. ketiganya menguap silih berganti. hampir sependek anak laki-laki. Diperhatikannya bunga-bunga mawar merah yang bergerak-gerak ditiup angin di depan jendela.” “Loh!” Anne berseru heran. “Kalau begitu.” kata Bibi Fanny. Tidak ikut makan malam. Tahutahu terjaga dibangunkan sinar matahari pagi. “Kasihan.” ujar Dick dengan kesal pada Anne. Julian. ketika anak itu berganti pakaian dan kemudian menggosok gigi. supaya besok pagi bangun dalam keadaan segar-bugar. Seperti Ayahnya. Tak kedengaran oleh mereka derak tempat tidur. Mereka sudah bisa mengira.” kata Anne sewaktu mengucapkan selamat tidur pada kedua abangnya. “Aku di Teluk Kirrin — dan sekarang saat berlibur!” katanya pada diri sendiri. Sayangnya dia sukar bisa berteman. mula-mula ia tak tahu di mana dia berada. yang ada dalam kamar itu. “Aku kepingin tahu di mana Georgina saat ini. Nah. Mereka tak mendengarnya. George selalu berkata sebenarnya.

aku tak bisa mengenakan gaun dan bermain dengan boneka. Dulu rambutku panjang. kalau diadu berperahu layar. Menurut pendapatku. Menurut perasaannya saat itu. Aku tak begitu senang pada nama Georgina. Lagipula. serta baju kaos merah. saudara sepupu yang baru dikenal ini aneh sekali. Bau telur dan daging goreng menambah selera makan.” katanya. “Soalnya. Lebih asyik kesibukan anak laki-laki. “Georgina ada di situ? Georgina. yang bisa membelamu. jika dipanggil dengan nama Georgina. pintu sudah digedor dari luar. Aku lebih cekatan memanjat daripada anak laki-laki. keluarlah! Kami kepingin bertemu. aku tak mau. “Apalagi boneka! Kau ini anak kecil.” “Biar saja! Kalau mereka jahil. Dia tadi bilang. Aku ditertawakannya! Sikapnya kasar. Ia terus berjalan dengan kepala terdongak. “Kan bukan aku yang memanggil kalian. kita turun saja.” “Betul?” kata George. “Ibu marah-marah ketika aku pulang dari tukang cukur dengan rambut dipotong pendek. George itu nama yang bagus.” tukas George sambil meloncat turun dari tempat tidurnya.” Julian merangkulkan lengannya ke bahu Anne. lalu ke luar dengan hidung terangkat tinggi-tinggi. sampai ke bahu. Aku mau sarapan. Mereka anak laki-laki sejati. karena cuma merepotkan saja. Yuk. “Kita kan masih ada. Kemudian George bertanya. Sekarang aku harus bergaul dengan anak perempuan konyol yang senang pada gaun dan boneka. Dan berenang pun lebih cepat dari mereka! Aku tak kalah cekatan dengan anak-anak nelayan di pesisir sini. jika kau berlagak tahu segala-galanya. Aku tak mau kalian datang.perempuan. Karena hanya akan merepotkannya saja. tak perlu sedih. Dengan segera dikenakannya celana jeannya yang kelabu.” bujuk Julian. lalu mengucapkan selamat pagi pada Bibi. “Baiklah! Aku tak ambil pusing. Dan sebagai anak laki-laki.” George membuka pintu dengan kasar. kau kelihatan seperti anak laki-laki. dia tidak menginginkan kita datang ke mari. “Lama benar kau berpakaian!” seru Julian dan Dick dari luar. Aku suka bermain dengan boneka. “Kurasa anak itu aneh sekali. Kau harus memanggil aku George. menuruni tangga menuju ke tingkat bawah. aku senang memakai gaun yang bagus. George juga memakai jean. Bergegas mereka menuruni tangga. nama mana yang harus kusebut. “Sikapmu tidak sopan. Baru aku mau ngomong denganmu. Abang-abangku takkan mau mempedulikan. Ketiga anak yang ditinggalkannya cuma bisa berpandang-pandangan saja. “Kau sendiri — tidak benci rasanya jadi anak perempuan?” “Tentu saja tidak!” jawab Anne.” kata Anne menerangkan duduk perkara. yang kelihatan agak muram. Jelek deh!” Sesaat lamanya kedua anak perempuan itu saling berpandangan. Kalau tidak.” Anne merasa tersinggung. “Dia tak mau menjawab. bukannya pura-pura seperti engkau. mereka takkan kupedulikan.” ujar George mencemoohkan. “Kaulihat saja nanti.” Mereka bertiga lapar sekali. tapi baju kaosnya yang biasa dipakai anak laki-laki.” “Uaah! Siapa mau peduli dengan gaun yang bagus. Aku sudah senang hidup sendirian. Tak dipedulikannya kedua anak laki-laki yang tercengang-cengang memandangnya. dan dua sepupu laki-laki yang goblok-goblok!” Anne merasa awal perkenalan itu tidak bisa disebut baik. Baru saja mereka selesai berganti pakaian.” “Wah!” kata Anne. “Sudahlah. Bibi Fanny . Sesaat lenyap kerutan dari dahinya. Ia tak mengatakan apa-apa lagi.

Antarkan saudara-saudara sepupumu ke pantai. Pasti akan menyenangkan. hanya karena mereka kebetulan saudara-saudara sepupuku. mungkin pada . Tunjukkan pada mereka tempattempat yang terbaik untuk berenang. Menurut pendapatnya George kasar dan tak tahu aturan. “Kalau kau mau memancing. Di ambangnya yang membuka ke laut nampak sebuah pulau kecil.” katanya. jika tidak mau. keempat anak itu bersiap-siap akan pergi ke pantai. konyol! Aku hanya mau berteman. George. “Kalau tidak. “Tempatnya asyik untuk didatangi. kami sendiri juga bisa pergi ke teluk. yang menatapnya dengan mata yang biru dan dengan mulut cemberut. Tetapi walau begitu dia merasa senang juga melihat anak perempuan berambut pendek yang kaku sikapnya itu. Menurut perasaannya. “Janganlah semasam itu mukamu. Mereka duduk dengan membisu. kami akan senang sekali bermain dengan engkau. lebih baik tidak pergi bersama George apabila dia sedang kesal. Ditatapnya ketiga anak itu dengan cemberut.” “Kami juga begitu. Mereka melewati sebuah jalan yang mudah ditempuh. “Aku tak mau berteman dengan anak-anak.” Jadi sehabis sarapan. Matanya yang memandang ke laut. dan berlari-lari dengan gembira menuju ke Teluk Kirrin. Pikir-pikir. sibuk mengoleskan mentega pada sepotong roti panggang.” ujar Anne dengan segera. jika anaknya kusenangi.” Anne menatap ke arah teluk yang biru airnya. “Kami takkan mengadukan pada Paman. kauajak saudara-saudara sepupumu pagi ini ke pantai.” ujar Anne ketika mereka sampai di pantai.” jawab George. pergilah.” ujar Julian bermurah hati. Kalau aku senang pada kalian.” larang Bibi. karena tidak tahu boleh atau tidak ngomong pada saat makan. tetapi Paman Quentin kelihatannya galak sekali. “Apa namanya. dengan muka yang sama masam seperti ayahnya. ya?” “Pulau Kirrin. Pulau karang. mendengar jawaban Julian itu.” katanya kemudian. banyak orang yang tak suka padaku.” jawab George singkat.” katanya. Seketika itu juga ayahnya mendongak dan memandangnya. “Sekali ini kau harus bersopan santun. “Kuharap kalian berempat sementara ini sudah saling berteman. Paman duduk di ujung meja sambil membaca koran. “George harus melakukan apa yang disuruhkan padanya. Kami tak mau mengganggu kebebasanmu. “Mungkin saja kalian tak suka padaku. bisa bermain bersama-sama. Ia menganggukkan kepala ke arah anak-anak. “Aneh benar pulau itu.” “Tapi kalau kau mau.” George melongo sejenak.” “Aku mau memancing. “Ya — tentu saja. sama birunya seperti air di situ.” kata Paman.sedang sibuk menghidangkan sarapan. Mengerti?” “Ya. Di rumah mereka sendiri boleh saja. Sinar matahari menghangatkan tubuh. “Mungkin saja kami tak suka padamu. George sudah duduk. Kau tak perlu menemani.” kata George. “Kulihat saja nanti. George. Kami sendiri bisa bermain bertiga. “Kalau George kepingin memancing. Bahkan George pun tidak lagi merengut. “Kau tidak boleh memancing. dia akan kumarahi. ketika melihat ombak laut yang biru berkilau-kilauan. dan di atasnya nampak sesuatu yang dari jauh kelihatannya seperti sebuah puri kuno yang sudah runtuh.” kata George. Kuanggap berteman dengan jalan begitu.” balas Julian.

Anak itu menyentakkan lengannya.” ujar Dick. “Aku keliru tadi. Satu-satunya jalan untuk bisa ke sana. Menurut pendapatku orang yang suka berkata tidak benar itu pengecut. biar sudah menjadi puing. maaf. Kalau kau tak mau mempercayai kataku. Jawaban George sama sekali tak disangka-sangka ketiga sepupunya. apakah aku mau berteman dengan kalian . karena begitu luar biasa. Di sisi sebelah sana ada burungburung kormoran yang besar-besar. Dan aku bukan seorang pengecut.” “Pulau Kirrin tidak aneh.” “Asyik kedengarannya. Aku seorang diri yang akan menjadi pemiliknya. George selalu berkata sebenarnya. Georgina?” George tidak menjawab. Kata Bibi.” katanya.” “Ayohlah George — ceritakanlah bagaimana pulau itu bisa sampai jadi milikmu. Maksudku hendak menyebut George — eh. “Wah. Ia diam saja. aku tak mau bilang apa-apa lagi.” katanya kemudian.” “Kepunyaan siapa pulau aneh itu?” tanya Julian. Di sana banyak kelinci. Mana mungkin dia mengatakan sebenarnya? “Tentu saja kami mempercayaimu. Aku bukan pembohong.suatu hari kalian akan kuajak pergi ke sana. “Pulauku indah. “Pulau itu kepunyaanku. George membalas pandangan mereka. Semuanya jinak-jinak. “Cuma kedengarannya sukar dipercayai. pada suatu hari nanti akan menjadi milikku. tahu-tahu yang keluar Georgina. “Apa maksudmu?” kata Dick akhirnya. dan juga tidak kecil.” jawab George. Purinya juga indah.” katanya ketus.” Julian teringat kata Bibi Fanny. “Tanya saja pada ibuku. dan berbagai jenis burung camar. “Bagaimana pulau itu bisa jadi kepunyaanmu. naik perahu. “Maksudku. “Aku belum tahu.” ujar Julian sambil menggandeng saudara sepupunya yang sedang merajuk.” “Aku tidak bohong.” kata Dick tergesa-gesa.” kata George dengan galak. “Jangan begitu. cuma melotot saja memandangnya. Tapi aku tak mau berjanji. Aku akan mempunyai sebuah puri. Kau cuma mau menyombong saja. Sungguh! Anak-anak tidak biasa memiliki pulau sendiri. Julian menggaruk-garuk kepala sambil memandang saudara sepupunya. “Tak mungkin Pulau Kirrin itu kepunyaanmu.” III KISAH ANEH — DAN TEMAN BARU KETIGA anak itu memandang George dengan tercengang. jika kau tak berbohong. Biar pulau kecil yang aneh seperti itu.

karena ketiga anak itu sangat tertarik mendengar ceritanya. yang karam di sisi sana Pulau Kirrin. karena semua sudah disingkirkan. ke arah pulau yang nampak di kejauhan. bagaimana Puri Kirrin bisa jadi milikku. “Kalau aku punya uang.” “Kapal karam!” seru Julian dengan mata bersinar-sinar. karena tak ada pembeli yang berminat. Ia sudah tidak sabar lagi. kalau tak hafal benar jalannya bisa membentur karang.” Sesaat semuanya diam. Pulau itu milikku sendiri! Tak kuperbolehkan siapa pun juga ke sana.” jawab George. dengan segera akan kubeli. Sinar matanya yang biru menjadi agak lembut. Dan kami tak mau menyebabkan dia mengira kami yang tak kepingin berteman. “Kau ini sungguh-sungguh bernasib baik. tak ada orang mau membeli pulau kecil sebagus itu!” seru Dick. “Kulihat saja nanti.” katanya membuka cerita. Aku tak senang pada mereka. Tapi kami senang pada ibumu. Dianggap tidak berharga. “Kapal itu kepunyaan salah seorang kakek moyangku. Karena itu dihadiahkannya saja padaku. “Tidak. hampir semua tanah di sekitar sini milik keluarga ibuku. atau jadi apa — kami tak peduli. jika aku sudah besar. hebat! Aku belum pernah melihat bangkai kapal tua. Pulau itu cuma kelihatannya saja dekat.atau tidak. Kita duduk saja di sudut sana.” katanya tegas. “Kecuali sebuah. Kami kepingin sekali ke sana. Kalau kita berdayung pada saat laut tenang dan memandang ke dalam air. “Kata Ibu. serta sebuah tempat pertanian yang letaknya tak seberapa jauh dari sini.” “Yah — mungkin saja kalian akan kuajak ke sana. Aku yang memilikinya sekarang. George memandang ke pulau kecil yang terdapat di ujung teluk. ya? Baiklah! Akan kuceritakan. karena jelas sekali anak perempuan itu menceritakan kebenaran. Tapi katanya sekarang pun dia sudah tak menghendakinya. Anak-anak dari sekitar sini sudah sering meminta-minta.” Keempat anak itu duduk di pasir. Dan di mana-mana ada beting karang. kalau tidak kuijinkan.” kata George. Apakah ada yang bisa dilihat?” “Sekarang tidak ada lagi. “Wah. Saat itu sedang pasang surut. Perairan di situ sangat dalam. pulau itu akan diwariskan padaku. satu-satunya cara ke sana adalah dengan perahu. punya pulau milik sendiri! Mereka merasa George sangat beruntung. di kaki tebing yang agak menjorok masuk. “Mau jadi musuh. yang tinggal hanyalah Pondok Kirrin tempat kediaman kami. Kemudian mereka jatuh miskin. Teluk ini dalam sekali airnya. Tapi pulau kecil itu tidak bisa dijual. seakan-akan bisa berjalan kaki sampai ke pulau. Mudah-mudahan saja kau mau berteman dengan kami. Bayangkan. “Wah. Senang hatinya. bisa kelihatan patahan tiangnya. Mereka mempercayai kata-kata George.” “Dari harta milik keluarga Ibu. lalu mau mengajak kami ke sana dalam waktu dekat. Air laut dangkal sekali kelihatannya. Georgina! Eh.” jawab George. “Soalnya begini. maksudku George!” kata Dick.” “Bayangkan. Aku tak . “Memang — ibuku baik. Berperahu di sini.” Ketiga anak itu memandangnya. Dan Pulau Kirrin. Tapi George menganggukkan kepala dengan pasti. jadi tak kuajak ke sana. supaya tak terdengar orang lain. Sudah banyak sekali kapal yang karam. sehingga terpaksa menjual hampir semua tanah yang dimiliki. Pulau itu bagus sekali kelihatannya.” Sekarang sudah sukar sekali bagi ketiga anak itu untuk masih bisa percaya. Kapal karam itu juga kepunyaanku. Dick menanyakan kemungkinan itu. tapi belum pernah ada yang kuajak.” kata George. Keempat anak itu memandang ke seberang teluk. Apalagi purinya sudah lama runtuh. “Dulu.” “Terserah!” balas Julian. Pesisir daerah ini berbahaya. betul. “Aku sudah bilang tadi.” “Kau senang pada ibuku?” kata George. “Ya.

” ujar George. kupingnya terlalu lancip. asyiik. dan sangat ramah. Tim jauh dari bagus. kalau dia tak ada.” seru Anne. buntutnya terlalu panjang.” kata Dick.” Lari mendaki jalan yang menuju ke atas tebing bukit.” katanya sesampai di bawah. “Tim itu siapa?” tanya Dick. “He George. bagaimana kalau kita berenang sekarang?” “Aku harus menjemput Tim dulu. “Kau bisa mempercayakannya pada kami.” Mereka merebahkan tubuh ke pasir yang halus. Anjing itu besar. “Ayoh. Kepalanya terlalu besar.” “Ayoh ceritalah — apa rahasianya?” tanya Julian. “Mana ada bangkai hidup. Tapi Ayah dan Ibu tak suka padanya. Matanya membesar. “Kurasa sudah dicuri orang.” “Aduh. jika air surut sedang serendah-rendahnya.” Ketiga-tiga anak itu cepat-cepat duduk. kedengarannya asyik sekali.” “Asyik. Aku pergi sebentar menjemputnya. nyaris sebulat jengkol. sambil menyalak dengan gembira. ikut. “Kau bisa menyimpan rahasia?” tanya George. . Pokoknya sewaktu karam di depan Pulau Kirrin. Tim! Ayo. “Aku kepingin sekali melihat bangkai kapal hidup-hidup!” Anak-anak tertawa mendengarnya. George anak perempuan teraneh yang pernah mereka kenal. Tapi emas tak berhasil mereka temukan. “Dia ini Tim. Moncongnya lebar. Bentuknya aneh sekali. “Tak ada yang tahu. ya?” Dinilai sebagai anjing. Mereka tak melihat anak nelayan.” kata George. yang tidak disukai orang tua George. tetapi seekor anjing keturunan campuran. Begitu bertemu dengan segera Julian beserta kedua adiknya merasa sayang pada Tim.” kata George. “Bagus sekali. Karena itu aku berteman dengannya secara sembunyi-sembunyi. “Kepingin sekali rasanya bisa melihat bangkai kapal itu. Mereka menunggu. Tapi dia kocak sekali. “Kurasa pasti seorang anak nelayan. apa yang terjadi dengan emasnya?” tanya Anne tercengang.” “Wah! Lalu.” “Yah — mungkin kita bisa ke sana sore ini. “Laut kelihatannya sangat tenang dan jernih hari ini. Tak lama kemudian terdengar suara George berseru-seru di atas bukit. Anak perempuan itu berlari-lari menuruni lereng bukit. “Orang di rumah tak boleh tahu. Tentu saja ada beberapa orang yang menyelam untuk memeriksa di situ. berbulu coklat dan berbuntut panjang sekali. jadi kita akan bisa melihatnya sedikit. Ketiga saudara sepupunya memperhatikan dari tempat mereka duduk. lalu menoleh ke belakang untuk melihat anak yang bernama Tim. Tak ada yang bisa mengatakan. “Siapa lagi anak yang bernama Tim itu?” tanya Julian dengan heran. Menurut perasaan mereka.” “Tim itu temanku yang paling baik.” kata George sambil berdiri. Anne. Kami ini bukan pengadu.” ucap Julian. kapalnya itu sedang mengangkut emas. Kelihatannya seperti sedang nyengir! Anjing itu meloncat-loncat mengelilingi George. “Aku merasa kesepian.tahu persis yang mana. Tim itu sebenarnya anjing jenis apa.

” ujar Dick sambil menepuk-nepuk kepala anjing itu. . “Aku tak berani berbuat kurang ajar terhadap ayahmu. topinya yang paling disenangi. Aku juga selalu berusaha agar jangan menangis.” “Apa yang diperbuatnya?” tanya Anne. aku belum pernah melihat anak laki-laki sedang menangis. sementara Tim merapatkan diri ke kakinya. dan sudah selalu ingin memelihara seekor. Karena itulah aku tak pernah punya uang untuk jajan. Tim gembira.“Manis benar kau ini!” seru Anne. “Aku kepingin punya anjing seperti ini.” kata Anne sambil memandang Dick. Tiga atau empat tahun yang lalu. “Aku sayang sekali padanya. Aku marah karenanya. Pokoknya barang-barang seperti itu tak pernah aman dari gigitannya. “Semua mesti digigiti olehnya. dan dia menepati janji.” Ketiga saudara sepupunya memandang Tim dengan kagum. abangnya itu cengeng.” George memandang ke tengah teluk. Untuk itu aku bersedia memberikan semua uang saku yang kuterima. “Wah George. Anak laki-laki tak pernah menangis. Semuanya habis untuk Tim. dan aku kepingin seperti anak laki-laki. sehingga Anne terdiam.” kata George. Katanya. Kelihatannya dia galak sekali. “Aku minta tolong padanya untuk memeliharakan Tim. Seketika itu juga air mukanya berubah menjadi manis dan cerah.” Anak perempuan itu tersenyum. kertas-kertas kerjanya. “Aku tak peduli terhadap hukuman yang kuterima. Mukanya sudah cemberut kembali. “Dia senang sekali menggigit-gigit. Dia itu kenalanku. “Tapi aku sedih sekali ketika Ayah mengatakan bahwa aku tak boleh lagi memelihara Tim. Permadani yang baru dibeli oleh Ibu. Sedikit-sedikit menangis. Alf mau. “Aku menemukannya setahun yang lalu di rawa belakang rumah. Tapi Tim menjadi nakal sekali ketika sudah agak besar. ketika dia masih kecil sekali. Remuk rasa hatiku melihatnya. Aku suka mendengarnya. Ia mendudukkan diri ke pasir. lalu meloncat-loncat mengelilingi mereka. seorang anak nelayan. Mereka belum pernah mendengar ada anjing yang bisa menangis.” kata George. sandal Ayah. Tim dipukulnya. “Maksudmu benar-benar menangis — sampai keluar air mata?” tanya Anne. Ibu sependapat dengan Ayah. Dia memang suka pada anjing. Dia kelihatannya banyak sekali makannya. “Dia memang bagus.” katanya berkeras. dia nyaris gila sebagai akibatnya. Dan Tim sering menyalak. Padahal aku biasanya tak pernah menangis. “Anak laki-laki tidak menangis. “Tidak sampai begitu. “Tim tidak sebegitu cengeng. bahwa aku tak mungkin bisa berpisah dengannya.” kata Julian. aku tak bisa menahan tangis. Berhari-hari aku menangis. anak laki-laki pernah juga menangis.” “Apa yang terjadi sesudah itu?” tanya Julian. Tim memang hebat. Mula-mula Ibu suka padanya. Seperti anak kecil! Tapi waktu Tim harus pergi.” “Kemudian kau dipukulnya?” tanya Anne. “Pokoknya. Saat itu kusadari. tapi Ayah tidak. George memandang Anne. Dick menyikutnya dengan keras.” “Ah. lalu berani membantahnya. Katanya Tim harus pergi. Kelihatannya memelas sekali.” ujar George.” jawab George. Tim juga ikut menangis. Dia menangis melolong-lolong. Tentu kau bangga memilikinya. “Aku mendatangi Alf.” katanya.

“Lihat — Tim ingin bermain. “Begini sajalah. Eskrim dan manis-manisan kalah hebat dengan barang-barang kepunyaanmu. “Aku tidak jajan.” katanya.Betul. Karenanya aku selalu menolak.” katanya.” “Tidak. Tim memandang Julian. Anak perempuan itu memandang eskrim yang di depan hidungnya. coklat dan manis-manisan.” kata George lagi. Tim?” Tim menggonggong sambil berguling-guling di pasir. Kemudian disodorkannya sebatang pada George. satu untuk Anne.” kata Julian sambil tertawa. Tak pantas menerima pemberian orang. jika ditawari. hampir seluruh uang sakunya habis untuk jajanan. “Bagaimana caranya jika kau kepingin membeli manis-manisan atau eskrim?” tanya Anne. “Tidak. Kau bahkan banyak memiliki barang-barang yang kami ingini. seperti coklat. “Tapi kau baik budi.” jawab George tegas. Tapi kan asyik jika kita saling berbagi.” Ia menatap Julian dengan matanya yang biru cerah. jika tidak bisa membalas biar sedikit. dia merasa senang pada Julian. yang semua senang sekali makan eskrim. Julian menggelitiknya. “Aku tak pernah mau. Kalau dia. Satu diberikannya pada Dick. sekali-sekali memberi manismanisan dan eskrim mereka padamu. jika sekali-sekali diajak ke sana. Kau juga mempunyai bangkai kapal tua. dan terimalah barang-barang pemberian kami. Akhirnya Julian tersenyum.” “Dari kami boleh saja. Dahi Julian berkerut. “Kau punya seekor anjing. Lalu kau memiliki sebuah pulau yang indah. terima kasih. dan karenanya aku juga tak bisa membagi esku dengan kalian. Anjing itu melonjak-lonjak dengan gembira. “Kami ingin bermainmain dengannya. supaya anak gadis yang keras kepala itu mau menerima eskrim yang disodorkannya. “Kami kan sepupumu. kita mempunyai tiga teman baru. George tak biasa membagi-bagi barang milik. Ia sedang mencari akal. Oleh sebab itu aku tak bisa menerima pemberianmu. Kelihatannya kepingin sekali. karena aku takkan pernah bisa memberi apa-apa pada mereka. Selama itu dia selalu anak tunggal. Beberapa detik kemudian ia sudah kembali dengan membawa empat batang eskrim. “Aku sudah bilang tadi — aku tak punya uang untuk membeli. Karena itu mereka memandang George dengan heran bercampur kasihan.” kata Julian sambil menepuk-nepuk Tim. apabila Kauperbolehkan. Kedengarannya berat sekali bagi ketiga saudara sepupunya. pada George. Selama itu dia belum pernah punya teman. Seorang anak kecil yang keras kepala dan pemarah. Misalnya saja eskrim ini. Dilihatnya anak itu menawarkan sesuatu yang enak. lalu melompat bangkit dan lari sambil mendencing-dencingkan uangnya.” Saat itu dari kejauhan terdengar denting lonceng tukang es. terima kasih.” kata Julian sambil mencoba meletakkan eskrim itu ke tangan George. Kau membaginya dengan kami.” kata Julian. yang kesepian.” kata George. “Kau memiliki sesuatu yang sangat kami ingini. Mau tak mau. Julian merogoh kantongnya. “Baginya akan lebih asyik. serta salah dimengerti. Setuju?” “Barang-barang apa saja kepunyaanku yang kalian ingini?” tanya George heran.” . Kami kepingin melihatnya. “Tapi mestinya anak-anak yang bermain-main di pantai.” George memandang mata coklat yang menatapnya dengan tenang. Tapi ia menggelengkan kepala. “Rasanya tidak adil. Kami akan bergembira sekali.

“Terima kasih.” katanya. Kami hendak dibawanya melihat bangkai kapal karam di sisi pulau sebelah sana. Wah. karena kalian datang ke mari. belum pernah aku merasakan yang seenak ini. Bahkan Tim ikut-ikut mengibaskan ekor. kau harus sungguh-sungguh berlatih! Kalau tidak. walau sudah cukup sering kusuruh. Julian. Anne. Anak-anak makan dengan lahap. Cepat-cepat mereka mendaki jalan ke atas bukit. perut mereka terasa lapar sekali. Karenanya disediakan makanan banyak-banyak. Tapi kalian harus berjanji.” “Tentu saja kami berjanji.” jawab George. Selama waktu makan.” ujar Julian. Diterimanya eskrim yang disodorkan.” ujar Julian kagum.” kata George sambil menggigit-gigit eskrimnya. “Kalian anak-anak yang baik. Asal saja Tim tidak tinggal di rumah mereka. Bagaimana. “Aku sekarang toh merasa senang.” Menjelang saat makan siang. Tim jadi milik kita bersama.” kata Anne. Ia terus makan puding. dan diberi sedikit oleh George. kemudian puding telur dan akhirnya keju.” George diam saja. Geraknya tangkas dan cepat sekali. “George mengajak kami berperahu di teluk.“Betul juga. Bibi heran mendengarnya. kau takkan pernah bisa ikut berenang bersama kami sampai jauh ke tengah. Ia bahkan pandai berenang di bawah air. sore ini kita berperahu ke pulauku untuk melihat kapal yang karam di sana?” “O ya!” seru ketiga sepupunya serempak. Tahan sekali ia menyelam. jangan bercerita di rumah bahwa Tim masih kupelihara. “Rasanya dingin sekali! Tahun ini aku belum pernah makan eskrim. “George mengajak kalian?” ucapnya tercengang. IV SUATU SORE YANG MENGASYIKKAN SEPAGIAN mereka asyik mandi-mandi di laut. “Walau tak bisa kubayangkan bahwa Ayah atau Ibumu akan berkeberatan. Dan harapan mereka itu terkabul! Bibi Fanny sudah menduga bahwa mereka pasti akan sangat lapar. Kemudian anak itu berpaling dan tersenyum pada ketiga saudara sepupunya. Bagaimana esnya — enak?” “Hmmm. tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Julian dan Dick terpaksa mengakui bahwa George lebih pandai berenang daripada mereka. karena Paman Quentin tidak makan bersama . Anak-anak merasa lega. Masakan daging dingin dengan selada. Seakanakan dia mengerti. “Apa rencana kalian siang ini?” tanya Bibi. George — mimpi apa kau tadi malam? Selama ini kau tak pernah mau mengajak siapa-siapa ke sana. Mudah-mudahan saja di rumah banyak makanan. “Pandai sekali kau berenang. “Sayang Anne tak begitu bisa. kenapa anak-anak bergembira. kue buah prem. SEDAAAP!” Tim meminta bagian. “Wah.

Tetapi sebelum nama itu disebut. “Kurasa George sekarang merajuk. ijinkanlah George masuk kembali.. Mereka hanya kuatir. “Kami senang sekali pada George. cepat habiskan makan kalian. dengan cepat Anne menyambar roti keju dari piring George dan membawanya ke kebun. Aku berjanji takkan lupa lagi. lalu duduk. Tetapi George cuma geleng kepala. “Mudah-mudahan saja mereka senang juga padamu!” “O ya!” seru Anne dengan segera. “Nyaris rahasiamu terbongkar. “Ayoh. “Dia tadi tak sengaja menendang kaki saya. “Syukurlah bahwa kau senang pada saudara-saudara sepupumu. karena aku mau sendiri.” Nyaris saja Anne mengatakan bahwa ia beserta kedua abangnya juga senang pada Tim..” kata Bibi dengan marah. Anne sudah terjerit kesakitan karena mata kakinya kena tendang. tinggalkan meja saat ini juga. Mereka tidak marah padanya. Begitu Bibi keluar dari kamar makan. Anne menyesal sekali. Maksudnya hendak membela saudara sepupunya yang aneh itu. Ketiga saudara sepupunya menatap makanan yang ditinggalkannya itu dengan kebingungan. “Aku melakukannya bukan karena disuruh. Paman makan siang di kamar kerjanya.mereka. “Anak totol!” . karena mau mencari George yang sedang merajuk.” ujarnya.” kata Bibi lagi.. kubawakan untukmu. untuk menanyakan apakah dia mau kue lagi. bahwa nama Tim tak boleh disebut-sebut. George berbaring menengadah di bawah sebuah pohon yang besar dalam kebun. Dia merasa tolol sekali.” George bangkit dari baringnya. George. Anne datang menghampiri.” katanya menyesal.” katanya ketus. “Bagusnya kau ini tak kuajak untuk melihat bangkai kapal karam. Aku tak suka melihat kelakuanmu. biar siapa pun takkan kuajak melihat kapal karamku. “Aku merasa senang bahwa kau mau berusaha mematuhi kata Ayah. Susah sekali adat anak itu!” Julian dan kedua adiknya sebetulnya tidak begitu peduli apabila George merajuk. aku tetap tak mau!” Ibunya tertawa. George memandangnya dengan mata melotot. Bibi pergi mendatangi Paman. Mereka merasa Anne berani. Sepotong roti beserta keju yang baru saja diambil. jangan-jangan George sekarang tidak mau lagi membawa mereka melihat bangkai kapal karam. Tetapi dia selalu berusaha memperbaiki kekeliruannya sesudah itu. “George! Mengapa Anne kautendang? Padahal dia kan mengatakan senang padamu. “Aku melakukannya. “Ayoh. Ini roti kejumu. lalu pergi ke kebun dengan tidak mengatakan apa-apa.” katanya pada ketiga anak itu.” George berdiri.” Tetapi Bibi masih tetap marah. ditinggalkannya begitu saja di atas piring.” katanya. Kalau aku tak senang orangnya.” pintanya pada Bibi Fanny. Bagaimana sampai bisa lupa bahwa ia tak boleh menyebut-nyebut nama Tim di depan orang tua George! “Bibi. Mereka tahu bahwa Anne sering terlanjur ngomong. Mereka menyelesaikan makan sambil membisu. Biar Ratu Inggris. “Maafkan aku tadi. dan kami juga senang pada Ti. Sampai terbersit air matanya. Kedua abangnya diam saja.

Inilah yang dikuatirkannya sedari tadi. Ia ditemani oleh Tim. Kalau sampai basah tersiram ombak. Umurnya kira-kira empat belas tahun. dan anak-anak gembira menikmati gerak perahu di atas air.” “He — kita sudah hampir sampai ke pulaumu. lalu kau kutendang.Hati Anne berdebar-debar. dia marah sekali. kau bisa saja tidak mengajakku. Di tengah pulau. seperti aku. “Kurasa dia mengerti apa kataku tadi. .” kata George sambil mendayung sekuat tenaga. Anne dipeluknya! Sesudah itu ia kelihatan sangat malu. Karena mereka tadi tidak melakukan sesuatu hal yang tolol. “Aku suka padanya.” “Senang rasanya membawa anjing bersama kita. Kalau tak tahu jalannya yang benar.” ujarnya sambil nyengir. karena menurut perasaannya anak laki-laki takkan berbuat seperti itu. “Ternyata lebih besar dari sangkaanku semula. “Baiklah.” kata Anne. Puri itu dulunya dibangun dari bongkah-bongkah batu putih yang besar-besar. “Kau tidak sedih. lalu menyalak sambil mengibas-kibaskan ekor. Setiap ombak yang datang disongsongnya dengan gonggongan.” Tiba-tiba George melakukan sesuatu yang tak tersangka-sangka. Anak itu tahu. “Sudahlah. “Tapi aku tak mau menyebabkan mereka tak jadi ikut. lalu memandang Anne. Sore itu sangat indah. Lihat saja sendiri! Biru mata kakiku sebagai akibatnya. walau aku sendiri tidak diajak. George sangat cekatan mendayung. Lima belas menit kemudian keempat anak itu berlari-lari menuruni bukit menuju ke pantai.” jawab George lalu menyuruh ketiga sepupunya masuk ke perahu. Master George. di atas sebuah bukit rendah terdapat puri yang disebut oleh Julian. Dia berusaha menarik hati George. Sedang dia selalu berusaha untuk bertindak-tanduk seperti anak laki-laki. lalu meloncat masuk. dan perahu itu meluncur di atas air teluk yang biru.” ujar Julian penuh gairah. takkan ada perahu atau kapal yang bisa merapat ke pulau cadas yang kecil itu. Tim sangat pandai berenang. agar anak itu melupakan kesalahannya tadi.” sambut George.” George mengamat-amati mata kaki.” katanya dengan ketus sambil mengambil roti keju yang disodorkan oleh Anne.” Anne bergegas masuk ke rumah. “Tapi kedua abangku kan boleh. “Tim juga sudah siap untuk ikut.” Tim menoleh ke arah Anne. bila aku hanya mengajak Julian dan Dick saja?” tanyanya.” “Terima kasih.” ujar Anne dengan gembira. Anak itu menyapa George dengan kata ‘Master’. Buntutnya dikibas-kibaskan kian ke mari dengan sibuk. terbakar sinar matahari. “Tentu saja. Kulitnya coklat. Jadi sudah impas. “Perahunya sudah siap.” katanya. “Anjingku kocak dan ribut. Ketiga anak kota itu melihat bahwa dalam air di sekelilingnya banyak sekali bertaburan batu-batu yang runcing. yang artinya ‘sinyo’ atau ‘tuan muda’. Puri itu tinggal reruntuhannya saja lagi. untuk bercerita pada kedua abangnya bahwa semua sudah beres kembali. George senang jika diperlakukan sebagai anak laki-laki. “Tim mengerti setiap kata orang. Di dekat sebuah perahu berdiri seorang anak nelayan. “Kau nyaris saja berbuat tolol. “Senangnya menggonggong kalau ada ombak besar datang. Tim berdiri tegak di haluan. Dan purinya — mengasyikkan sekali kelihatannya!” Perahu mendekat ke pulau. Tim juga ikut meloncat masuk.” ujar Anne. Tetapi yang tinggal dari bangunan yang pernah megah dan kokoh. Tentu saja sore ini kau boleh ikut. “Tentu saja aku sedih. George mendorong perahu masuk ke air. Lagipula aku tadi sudah kautendang keras-keras.

Sungguh. dan memandang puri dari sudut yang lain. Perahu didayungnya sampai agak jauh dari pulau. Masakan kau harus terus-terusan seorang diri. “Tidak. Tentunya akan sangat asyik jika kita menginap semalam dua malam di sini. maka kau kurang lebih sudah berada di atas bangkai kapal. “Sinilah. bukan?” “Pasti. Sudah itu kau yang mendayung. Coba saja kautanyakan. sampai tiba lagi di tempat yang gawat. Matanya bersinar-sinar. dipandang dari tempat mereka terapung.” Tak lama kemudian berganti George lagi yang mendayung. Sudah lama sekali. Julian cukup pintar mendayung. kubantu kau mendayung sebentar.” “Kaulihat menara gereja di daratan sana itu?” tanya George sambil menunjuk. Waktunya pas-pasan untuk berdayung ke sisi pulau sebelah sana dan kembali lagi ke pantai. Tapi bagi yang tahu jalannya. “Belum pernah pikiranku sampai ke situ! Benar katamu — pasti asyik jika kita menginap semalam di pulauku. batu-batu yang berserakan di teluk ini sangat berbahaya.” Ketiga saudara sepupunya melihat bahwa puncak bukit segaris. “Tapi sekali-sekali enak juga duduk beristirahat dalam perahu. jika keduanya sudah berada segaris di antara kedua menara puri Pulau Kirrin. kelihatannya lebih rusak lagi.” jawab George. Aku sendiri yang berhasil mengetahuinya. Begini sajalah! Aku terus mendayung sampai melewati tempat yang banyak batubatunya ini. Dilihat dari arah laut. melihat bangkai kapal yang .” “Aku sanggup.” George berhenti mendayung ketika mendengar ucapan Julian itu. Cuma kita berempat saja.” “Aku juga kepingin melihat bangkai kapalmu. “Kelihatannya seperti terselubung rahasia.” “Kita tidak bisa turun ke darat sore ini?” tanya Julian. menara-menara yang sudah mau rubuh dan tembok-tembok ambruk. Sekarang puing puri itu ditinggali oleh burung-burung yang sejenis dengan burung gagak. Menyiapkan makanan sendiri! Kita pura-pura hidup di sini. di situ ada tempat berlabuh yang baik dalam sebuah teluk kecil. “Kau kira — menurut perasaanmu. Tentu akan menyenangkan. tidak dengan ditemani orang lain. “Bagaimana kau bisa tahu bila sudah berada di atas bangkai kapalmu?” tanya Julian dengan heran. Ia bingung memilih antara Pulau Kirrin dan bangkai kapal. “Angin lebih kencang bertiup dari lautan terbuka.” sahut Dick sambil memandang dengan rasa kepingin ke arah pulau. George.hanya gerbang-gerbang lengkung yang sudah runtuh. Mereka mengitari Pulau Kirrin. ibumu akan mengijinkan?” “Entah. Kemudian ia berhenti. “Aku kepingin sekali turun ke darat dan melihat-lihat puri itu. “Mungkin saja. “Wah!” katanya dengan gembira. dua menara puri di Pulau Kirrin. kepingin diceritakan oleh saudara sepupu mereka. lalu memandang ke arah pantai. Perahu melaju teroleng-oleng pelan.” kata Julian. Dan puncak bukit dan menara gereja itu nampak di antara Dengan segera mereka menatap ke dalam air. Sedang burung-burung camar duduk bertengger di batu-batuan teratas. “Kita harus sudah kembali ke rumah pada saat minum teh.” Kemudian George berganti tempat dengan Julian.” kata George. di kejauhan dan menara gereja sudah seperti dikatakan oleh George. kecuali tumpukan batu-batu.” kata George menerangkan sebabnya. tetapi tidak sekuat George. “Aku pasti takkan mungkin tahu. “Dan kaulihat puncak bukit yang itu? Nah. “Di sebelah sini tak banyak lagi yang tersisa.” kata Julian. kalau kalian masih mau melihat bangkai kapal karam.” kata George.

Kalau kau mau. George. Aku sudah sering menyelam ke bawah. Di sini ada arus yang bisa menyeret perahu ke tengah laut. dan merasakan sinar matahari yang hangat di atas kepala. kalau kita berhasil menemukan peti-peti berisi emas!” “Mustahil. Asal Dick bisa menjaga agar perahu kita tetap berada di sekitar sini. dengan diiringi oleh Tim. Aku kepingin bisa menyelam sampai masuk ke kapal. “Asyik deh.” katanya dengan napas sengal. Ia merasa berbahagia bisa menghirup udara dalam-dalam.” kata Julian. aku kepingin menyelam ke bawah. hancur dengan perlahan-lahan.” Mereka bergegas-gegas mendayung ke arah pantai. hampir sampai ke tempat bangkai kapal. akan kudayung perahu kita sedikit ke kiri. mereka berhasil mengenali bayangan tubuh kapal yang gelap. pukul berapa sekarang? Kita pasti terlambat. Tim juga ikut memandang. sehingga tak bisa turun begitu jauh ke bawah. Pasti tak enak terbaring dengan tidak berdaya di dasar laut. Tetapi Julian bisa berenang dengan mata terbuka. Setelah memperhatikan sebentar. Julian naik ke perahu. Itu Dick. kau harus terus mendayung dengan pelan ke arah pantai. Nyaris saja dia jatuh ke air karena ribut menunjuknunjuk. “Aku bisa melihat tiangnya yang patah. George melompat masuk ke air dari ujung perahu. “Kelihatannya masih seperti biasa. lihatlah!” Keempat anak itu memandang ke dalam air dengan penuh perhatian. “Itu dia kapalnya!” seru Julian. Eh. “Wah. Dari tengah bayangan itu menonjol tiangnya yang patah. Permukaannya hampir tak berombak. .” Dengan cepat George membuka pakaiannya. bila tidak buru-buru pulang sekarang. Seolaholah tahu apa yang sedang dicari! Anak-anak tertawa melihat tingkahnya. “Kau kan memakai celana berenang. supaya jangan hanyut. aku kepingin bisa melihat-lihat kapal itu dengan seksama.” katanya. Sesudah beberapa saat George muncul lagi untuk mengambil napas. sedang telinganya meruncing ke atas. “Kasihan. Kelihatannya asing dan menyedihkan. Julian. Tetapi dia tak sepandai George berenang di bawah air. Tapi napasku terlalu pendek. Anak-anak yang lain memperhatikan betapa dia bergerak dengan cepat ke dasar laut. “Aku tadi menyelam. “Berbaringnya agak miring. karena menimbulkan perasaan sedih. Maksudku turun ke bawah geladaknya dan masuk ke dalam bilik-bilik untuk memeriksa. Tim juga ikut-ikut memandang ke bawah. Julian tak begitu senang melihatnya. Mereka berdiri berdampingan dengan pakaian renang. disusul oleh Julian. “Tunggu sebentar. dan hanya lima menit saja terlambat dari waktu yang ditetapkan. Kepalanya dimiringkan. Dick. Sekarang ganti kau yang menyelam. Bayangkan. Penuh dengan rumput laut dan bermacam-macam kerang. penyelam-penyelam sejati sudah pernah turun ke bawah.” “Kenapa tidak kaulakukan?” kata George. Saat tidur mereka sudah sangat mengantuk.” ujar George. Ia merasa syukur ketika sudah muncul kembali ke atas permukaan air.” Tiba-tiba Tim menggonggong sambil mengibas-kibaskan ekor. Saat itu juga ketiga anak itu melihat sesuatu yang letaknya jauh di bawah permukaan air. Aku kepingin memperhatikannya dari lebih dekat. Kelopak mata sudah mau tertutup saja.” kata George yang juga menatap ke bawah. “Sudah kukatakan. kapal tua itu. Karena itu ia masih sempat memperhatikan keadaan geladak kapal karam itu. Sehabis minum teh mereka jalan-jalan ke daerah rawa di belakang rumah.Air di situ jernih sekali. kutemani menyelam.” Julian terjun masuk ke air. “Kita belum persis berada di atasnya. langsung menyelam ke bawah. Tapi mereka tak menemukan apa-apa.

“Kami bertiga masuk asrama.” “Aku tak mau menceritakannya pada siapa pun kecuali kalian.” “Kalau kau mau mulai mengajari dan mengatakan apa yang baik untukku. Aku yakin dia tidak keberatan. “Aku selalu mengalami kericuhan di rumah. di mana mereka bisa berenang dan berperahu sepuas hati. “Aku tak mengerti. “Terang tidak enak berkumpul beramai-ramai. dengan anak-anak perempuan tertawa-tawa dan berteriak-teriak di sekelilingku. karena tak biasa bersikap ramah. Piknik itu menyenangkan. Tapi lama-kelamaan bosan juga. “Sehari ini kita senang sekali. Tetapi ibunya menyuruh ikut. Aku tahu. selalu dimarahi. Malam itu ia bermimpi rentang beratus-ratus kapal karam.” kata Anne. Bukan karena tidak suka piknik.” “Ah. Ia bisa menebak.” jawab George berkeras kepala. Aku tak bisa berpisah dengan Tim. Dan kalian pasti akan menyukai puri dan pulau kecilku!” “Terang. Ayah kepingin sekali memanjakan kami. Aku senang di sini.” jawab Anne. Mereka berangkat ke sebuah teluk kecil yang letaknya tak seberapa jauh. Kurasa yang salah memang aku sendiri. George sebetulnya tak mau ikut. Aku senang kalian datang ke mari.” kata Anne sambil merebahkan diri ke tempat tidurnya. Mereka sangat kepingin ke sana. Julian dan kedua adiknya lebih suka apabila bisa ke pulau kepunyaan George. dan George terpaksa tak bisa bermain-main sehari dengan Tim. “Sial!” kata Julian pada George. “Dan itu karena kalian. Kita pasti akan bisa bersenang-senang. aku nanti akan .” “Aku pun sehari ini senang sekali. kalau ibuku pasti takkan keberatan. melainkan karena Tim tidak bisa dibawa serta. Ia agak kikuk.” “Kau pasti senang jika bersekolah di internat. kapankah mereka akan diajak George ke pulaunya? V KE PULAU KEESOKAN harinya Bibi mengajak pergi piknik. Ayah ingin menyekolahkan aku ke internat yang baik.” kata George dengan suara agak ketus. Tapi ia tak punya uang untuk itu. Asyik deh di sana!” “Tidak. Aku pasti membencinya.” kata George. kenapa saudara sepupunya itu bermuka muram. karena engkau. “Itu semuanya kan asyik. jika Tim dipelihara orang lain untukmu. Ia ingin membeli barang yang mahal-mahal untuk Ibu dan aku.” kata Anne. Ah. karena penghasilannya tak seberapa sebagai pengarang buku-buku ilmu pengetahuan. kenapa tak kauceritakan saja tentang Tim kepada ibumu. Tapi tak bisa. George. George. puri dan pulau-pulau. tidak mungkin. Karena itulah dia selalu marahmarah. Tetapi dalam hati mereka. aku tidak senang. Kurasa ada baiknya jika kau juga bersekolah dalam asrama.“Selamat tidur. Syukurlah! Aku tak mau pergi bersekolah ke tempat lain.

sedang aku akan menengok Tim. Tunggu sebentar di sini.benci padamu. jika bisa dengan angkuh menolak untuk mengajak anak-anak lain ke Pulau Kirrin. sudahlah. “Aku tak memerlukan perangko. “Bisakah kau minta ijin sebentar pada ibuku — katakan saja ingin membeli perangko atau salah satu barang?” tanyanya. Dick dan Anne bisa membantu ibumu membawa barang-barang pulang ke rumah.” Mereka berpisah. Untuk kelima kalinya hari itu mereka masuk lagi ke dalam air. Tetapi entah bagaimana.” “George. kita menceritakannya kepada kedua adikku!” Keempat anak itu duduk di kebun sambil makan eskrim. Dan bolehkah George kuajak ikut?” “Kurasa dia takkan mau.” ujar Anne sambil berusaha mengikuti gerak saudara sepupunya. Jadi aku bisa menjenguk Tim sebentar. lalu lari cepat-cepat ke desa.” kata George. dia bisa menyalakan rokoknya pada nyala yang memancar-mancar dari matamu!” George tertawa mendengar kelakar Julian. Beberapa menit kemudian saudara sepupunya menyusul dari belakang. Bagaimana kalau kita besok pergi ke pulau?” “Astaga!” seru Julian dengan mata bersinar karena gembira. Air mukanya tiba-tiba kelihatan galak. “Wah. Anak perempuan yang masih kecil itu belum begitu tahu bagaimana caranya berenang dengan baik. George nyengir lalu lari mengejar. Julian pergi membeli empat eskrim.” ujar Julian sambil tertawa geli. Dengan segera Julian berhasil disusulnya.” katanya. Mukanya bersinar gembira. Memang susah merajuk terus. George mengajak Julian bicara. “Aku takkan pernah bisa berenang sebaik engkau — tapi aku kepingin menandingi abangabangku.” jawab Bibi. walau sebetulnya dia tak mau tertawa. “Tapi tanya saja sendiri. aku akan segera menanyakannya pada Bibi Fanny. “Terima kasih. lalu berjalan pulang. Loh. Sebelumnya dia selalu merasa dianggap penting. “Ya ampun. bukan main girangnya ketika melihat aku datang! Aku nyaris jatuh ditubruknya. ketika Anne akhirnya berhasil meluncur di air dengan gaya yang benar. “Bolehkah aku pergi membeli eskrim?” tanyanya. “Ayah dan Ibu selalu menyebut-nyebutkan hal-hal yang baik untukku — dan semuanya tak kusenangi. Mereka gembira sekali. “Sehari ini kami belum makan es. “Kau sekarang pergi saja membeli eskrim. aku mendapat eskrim lagi? Baik benar kau ini.” “Ya. “Aku sudah menengoknya.” Dalam perjalanan pulang.” “Setuju!” kata Julian. kenapa hari ini aku tak datang untuk mengajaknya jalan-jalan. . Aku mesti cepat-cepat membalas kebaikan budimu. “Terima kasih. kau ini cepat benar marah! Kurasa kalau saat ini ada orang mau merokok. “Dan aku ikut bersamamu. Tak lama kemudian mereka sudah asyik bercebur-ceburan air dengan gembira. George tersenyum gembira. “Kau sungguh-sungguh mau mengajak kami ke sana besok? Ayoh. rasanya lebih puas setelah setuju akan mengantarkan saudarasaudara sepupunya dengan perahu ke pulaunya. George merasa bangga. ayoh ikut aku!” seru Julian. George merasa senang. Aku takkan pergi lama-lama. Pasti dia sudah heran. Julian menceritakan ajakan George. jika menghadapi Julian yang periang. Julian. tapi kepingin makan eskrim.” kata George dengan keras.” Julian lari menghampiri bibinya. George bahkan sempat mengajar Anne berenang. Ia berjalan pelan-pelan sambil menunggu George.

George?” tanya Anne dengan kesal. kita takkan bisa bermain-main dengan Tim. “Kenapa?” seru Anne. “Aku sudah tidak sabar lagi. Bibi Fanny tersenyum mendengarnya. kau tak boleh takut seperti anak kecil. menurut pendapatku lebih baik kita tidak jadi pergi. Julian dan kedua adiknya cepat-cepat menjulurkan kepala ke luar jendela. kenapa George begitu. Matahari bersinar cerah.” ujar Bibi agak tersinggung.“Dulu aku selalu menyangka lebih senang jika melakukan segala-galanya seorang diri. “Aku harus mengurus kebun.” kata George mempertimbangkan. Ia kecewa mendengar kata sepupunya yang tak disangka-sangka itu. melainkan karena ia ingin mengajak Tim. Dia memang tak kuat menghadapi kekecewaan.” “Aduh George! Kami akan sangat menyesal. Tapi ingat — bila nanti ada angin ribut. Ketiga saudara sepupunya juga berdiam diri. ya?” kata Anne pada George sambil mengenakan pakaian. Udara bagus nampaknya.” katanya dalam hati sambil mengulum potongan eskrimnya yang terakhir. baik kecil maupun besar.” keluh Anne. ketika mendengar bahwa aku ikut piknik. Mereka disuruh membersihkan badan. aku tidak bisa ikut dengan kalian. “Kemarin pun kau kelihatan kesal. Dia cekatan sekali mendayung perahu. apabila sesudah itu mesti kembali lagi cepat-cepat. karena tak lama lagi akan makan malam. “Baiklah! Kita akan pergi. “Aku senang mendengar bahwa George mau membagi miliknya dengan kalian. Mereka hendak melihat keadaan cuaca. karena tak senang jika ibumu ikut.” Anak-anak dipanggil masuk. Mereka masuk sambil mengobrol dengan ramai tentang kunjungan mereka besok ke Pulau Kirrin. Dia jarang membantah apabila kena marah.” sambung Bibi Fanny. aku mendapat kesan bahwa kau tak ingin aku ikut. “Dan kau tak melihat itu — buih memutih di atas ombak yang berdebur dekat pulauku? Itu selalu merupakan pertanda cuaca buruk.” . Mereka tahu.” “Tapi angin bertiup dari arah buruk. Kau harus menikmatinya. George memandang ibunya.” kata George sambil memandang ke arah barat daya. Tidak! Aku tidak ikut besok. matahari bersinar cerah! Hampir tak nampak satu awan pun di langit. “Betul juga katamu. bibi Fanny — tentu saja kami akan senang jika diperbolehkan makan siang di sana!” seru Anne girang. “Lagipula kalau kita mendekam saja di rumah karena takut angin ribut. bila pergi bersama George. Kalian aman. Tapi tentunya saudara-saudara sepupumu menganggap kau ini aneh. “Dari caramu bertanya. ingin cepat-cepat ke pulau. “Lihat saja sendiri. bila tidak jadi pergi hari ini. “Kenapa kaukatakan begitu. “Ibu juga ikut?” tanyanya. “Pokoknya. “Bagus sekali hari ini. “Kurasa nanti akan ada angin ribut.” tambahnya untuk membujuk George.” “Terus terang saja. “Maukah kalian makan siang dan bermain-main seharian di sana? Kurasa sayang waktunya jika kalian berdayung dengan susah-payah ke sana.” “Wah.” Begitu bangun keesokan harinya.” jawab George.” ujar Bibi. “Tapi ternyata lebih asyik jika bersama-sama dengan Julian dan adik-adiknya.” George diam saja. Bukan karena tak suka ibunya ikut.” ujar George. dan jangan cengeng.

” George sendiri yang mendayung sampai ke pulau. Makanan ditaruh dalam dua buah keranjang. “Kalau dia seekor ‘greyhound’. Tim berpindah-pindah dari ujung ke ujung perahu. bila ada ombak bergulung ke arahnya.” seru George menjawab. Anak-anak sangat gembira. bilang selamat pagi!” Tim melompat dan menyambar tangan Julian sambil lari melewatinya. aku sebenarnya tak begitu suka pada angin ribut. Akhirnya mereka berangkat juga. Ia nyengir ketika melihat mereka datang. Kemudian dia tenang kembali. lalu melompat naik. untuk memetik buah-buahan yang akan dibawa.” katanya menyapa.” “Tentu saja dia tahu. “Selamat pagi. Tempatnya tersembunyi di sisi pulau sebelah timur. disusul dengan permintaan yang sama oleh ketiga saudaranya. Anak-anak menatap Pulau Kirrin yang semakin mendekat. “George. tapi aku sudah hafal sekali. Sambil sarapan George menanyakan kepada ibunya.” kata George sambil melepaskan ikatan. Terserah. Sehabis mengitari sederetan batu karang yang runcing.” serunya memperingatkan. “Tapi mungkin sebelum sampai ke mari. “Kau dan Anne bisa membantuku. kau tahu di mana harus mendarat?” tanya Julian. “Ya. karena dilihatnya George memandang dengan agak mencemoohkan.” ujar Julian dengan kagum. tiba-tiba nampaklah teluk yang .” kata Anne agak kuatir. Tetapi ia tak jadi meneruskan kata-katanya. Ia berlari kian ke mari dengan buntut lurus ke bawah dan kuping rapat ke kepala. Sedang George merasa gembira. sebentar lagi kita akan terbentur. Anak itu ada di rumah. Anak nelayan itu melambai-lambai dari darat. “Rupanya sudah merasa bahwa hari ini kau akan datang menjemputnya. menyiapkan roti. apa kesukaan kalian. “Tim! Sini Tim. Pasti menyenangkan. apakah mereka boleh membawa bekal makan siang seperti direncanakan semula.” “Aku suka limun jahe!” seru Julian. Begitu banyak debu mengepul.” jawab Bibi. ke marilah. Aku kuatir. Kelihatannya lebih mengasyikkan daripada kemarin. Ia ribut menggonggong. karena akan bisa bermain-main dengan Tim sepanjang hari.” ujar anak nelayan itu. kau tahu betul jalan di sela-sela batu seram yang berserakan di sini.” Dengan cekatan didayungnya perahu mengelakkan batu-batu yang tersembul di air.” “Aku akan mendarat di teluk kecil yang kuceritakan kemarin. sampai Tim nyaris tak nampak lagi. Kalau sudah. Mula-mula mereka pergi menjemput Tim. Ayoh. “Tak bisa kubayangkan. Tapi George sendiri tertawa senang. karena akan bisa mendatangi pulau kecil yang aneh itu. Tim melonjak-lonjak sambil lari-lari mengelilingi anak-anak. “Jalan ke situ cuma ada satu. Sekarang masih jauh sekali. setiap perlombaan pasti akan dimenangkan olehnya. “Dari tadi Tim sudah ramai menggonggong-gonggong. Mereka turun ke bawah. ‘Greyhound’ adalah jenis anjing yang biasa dipertandingkan dalam perlombaan-perlombaan lari. Sesampai di pantai. “Kalian jangan terlalu lama pergi. Anjing itu diikat dengan tali di halaman belakang rumah anak nelayan yang memeliharanya. dengan segera mereka masuk ke perahu.” “Aku tahu. Begitu terlepas. George mendorong sampai ke air. lalu berlari-lari di sisi George yang berjalan bersama ketiga saudara sepupunya menuju ke pantai. Julian dan Dick pergi ke kebun. kami sudah kembali. Master George. Ketiga saudara sepupu George merasa janggal sekali mendengar Georgina yang perempuan disapa dengan sebutan ‘Master’. Julian pergi ke desa untuk membeli limun beberapa botol. “Kelihatannya nanti akan ada angin ribut.“Wah.” kata George.

tapi dilarang oleh George. Tapi yang satu lagi masih lumayan. sebentar lagi akan ada angin ribut. Matanya juga bersinar-sinar. “Dan aku tak pernah menakut-nakuti mereka. perahu tak oleng lagi. Teluk itu merupakan pelabuhan alam. “Saat itu ombak akan bergulung-gulung melanda di sini. Ia sangat kepingin mengejar. “Menara yang satu sudah hampir runtuh sama sekali. Tetapi George menggelengkan kepala.” “Kan sudah kukatakan tadi. “Lihatlah — dulu itu jalan masuk ke dalam. yaitu untuk diburu. Anak-anak yang lain tertawa melihat keduanya. mengapa George melarangnya. seperti kemasukan setan.dimaksudkan oleh George. Begitu masuk. “Ayohlah!” Anak-anak yang lain menyusul naik. “Jinak sekali mereka. kita memeriksa juga ke sana? Aku kepingin melihatnya. Tim ikut melonjak-lonjak. Menara itu sudah hampir penuh dengan .” ujar George. George menarik perahu sampai jauh ke tengah pasir. “Tak ada orang lain yang pernah ke mari. “Itu dia puri!” kata Julian. Baru kali itulah ia mengajak orang lain ke pulaunya. Ia berjalan mendampingi anak-anak. enak di sini!” kata Julian dengan mata bersinar-sinar karena gembira. Di belakangnya nampak tangga batu yang sudah pecah-pecah. George menggeram untuk memperingatkannya. Lihatlah kelinci-kelinci yang masih kecil-kecil itu. Dengan serta merta Tim kembali dengan buntut terkulai. Di mana-mana ada kelinci berlompatan! Tetapi binatang-binatang itu tidak lari bersembunyi ketika melihat anak-anak datang. “Wah. Dia selalu menurut kata George. “Tapi mereka tidak mau. Tim! Kupukul engkau. Tim tak bisa mengerti. terlindung di balik beting karang yang tinggi. jika kelinci-kelinci itu kaukejar!” Tim memandang George dengan sedih. kecuali aku. kecuali kalau persoalannya mengenai kelinci. biru secerah air laut.” kata Julian. “Kita benar-benar sudah sampai di pulau!” seru Anne sambil menandak-nandak.” kata George. dengan dua buah menara.” kata George.” kata Julian dengan heran. “Puri ini dulunya berdinding kokoh.” ujar George. George memandangnya. Lucu ya?” Tim menyalak untuk menyatakan persetujuannya. “Sebentar lagi kan sudah pasang tinggi. kelinci itu cuma satu saja gunanya. sementara matanya mengikuti tingkah laku kelinci-kelinci yang berlompatan di sekitarnya. Tak mungkin air akan sampai di sini. Dan George merasa gembira karenanya. Air di situ tenang. bukan?” “Ayohlah! Kita periksa pulau ini. Untuk Tim. “Aku sudah pernah mencoba. Setiap tahun burung-burung gagak membuat sarang di dalamnya. lalu hendak mendekati. “Kenapa begini jauh?” tanya Julian sambil membantu.” seru Anne. Perahu mereka mendarat di pasir yang putih. menuju ke tengah puri. Anak itu mendaki tebing batu.” katanya. Dan kita tak kepingin kehilangan perahu. Sial! “Kurasa mereka pasti akan mau mengambil makanan dari tanganku.” “Ayohlah. Tempat itu benar-benar mengasyikkan. lewat gerbang yang sudah runtuh itu!” Anak-anak memandang ke arah gerbang besar yang sudah setengah runtuh. “Bagaimana. Tetapi Tim menahan diri. Perahu mereka masuk ke dalam teluk. dan sudah berdiri di atas pelabuhan alam itu.

dua ekor burung gagak terbang mengitari mereka sambil berkaok-kaok dengan ributnya.” Ketika anak-anak sudah dekat ke menara yang masih bisa dikatakan utuh. dan sampai di sebuah kamar. “Mereka sudah berhasil menangkap cukup banyak ikan untuk makan mereka. “Sayang semuanya sudah ambruk.” ujar Julian sambil berjalan ke luar.” kata Anne. Lihatlah! Sebagian dari sebuah kamar tingkat atas bisa kaulihat dari sini. yang berhadapan dengan laut. George?” “Tentu saja. Tim meloncat-loncat seolah-olah hendak menangkap. “Menurut perasaanku tempat ini indah sekali. Tapi kita tak bisa naik ke sana. Walau begitu tak ada yang bisa menemukan. dan masuk ke suatu tempat yang kelihatannya seperti pekarangan luas. Hanya kamar yang satu itu saja yang masih bisa ditempati. Mereka melewati ambang yang sudah nyaris runtuh.ranting-ranting. “Benar-benar indah. Masuk saja lewat pintu kecil itu.” ujar George. Loh! Mereka terbang. “Tapi kurasa mesti ada. Itu. tapi kalau bukan tak beratap lagi pasti salah satu dindingnya sudah lenyap. Lihatlah. Kamar-kamar lain juga masih ada. begitu pula tumbuh-tumbuhan lainnya.” jawab George. yang diduduki oleh burung-burung besar yang kelihatannya aneh itu?” Ketiga saudara sepupunya memandang ke arah yang ditunjuk oleh George. Kenapa mereka lari?” Segera sesudah itu ia juga tahu. “Aku tak tahu. Dulu di situ terdapat lantai batu. Mereka melihat beberapa buah batu tersembul di atas permukaan air. Ia senang karena Anne memuji purinya. Kalian lihat batu-batu besar di sana. Nyaris saja patah leherku karenanya. Tetapi sekarang sudah penuh dengan rumput serta tumbuhtumbuhan lain. berdinding dan berlangit-langit batu. Dari celah-celah batu bermunculan belukar yang lebat. “Rupanya angin ribut datang lebih cepat daripada yang kusangka semula.” “Begitu?” kata George. Nanti kalian lihat sendiri. karena tiba-tiba dari arah barat daya kedengaran bunyi guruh bergulung-gulung. Batu-batunya sudah rapuh. di sebelah sana masih ada yang cukup utuh. kita sekarang sudah berada di sisi satunya lagi dari pulauku. “Guruh!” kata George. tetapi burung-burung itu terbang terlalu tinggi.” ujar George. Di salah satu sisinya nampak sebuah tempat yang dulunya perapian. dan sekarang mereka duduk di situ untuk mencernakannya. “Ini dia bagian tengah puri.” Benar juga kata George itu. “Di sinilah penghuninya hidup di jaman dulu.” . Beberapa ekor burung besar berbulu hitam mengkilat duduk dengan sikap aneh di atasnya. karena semuanya sudah rimbun dengan tumbuh-tumbuhan. “Tapi tangga ke situ sudah tak ada lagi. Aku sudah mencobanya. Di sana sini tumbuh semak-semak pohon bes. dekat menara tempat burung-burung gagak bersarang.” jawab George. Kalian bisa melihat bekas ruangan-ruangannya.” “Di sini juga ada sel di bawah tanah?” tanya Dick. Ruangan itu dirasakan aneh dan penuh rahasia. “Itu burung-burung kormoran. Kedua gagak itu ribut mengejeknya. “Rupanya cuma kamar itu saja yang masih termasuk utuh. Di mana-mana tumbuh rumput besar.” Mereka berjalan beriringan melewati sebuah ambang pintu. Apakah puri ini ada tingkat atasnya. Kamar itu gelap. “Lihatlah.

“Kurasa lebih baik perahu kita tarik lebih tinggi lagi. Awan tebal yang menutupi.” kata Julian. “Di mana bisa kita dapatkan ranting-ranting yang kering?” Seolah-olah menjawab pertanyaan. Ombak makin lama makin membesar. sangat rendah nampaknya. sehingga Anne merasa ketakutan mendengarnya. Kadang-kadang badai di musim panas lebih hebat daripada di musim dingin. Mereka kelihatan menggigil. nanti kita basah kuyup. bergulung melampaui deretan batu karang. lalu melaju dengan suara keras menuju ke pantai.” “Ya.VI AKIBAT ANGIN RIBUT KEEMPAT anak itu menatap ke laut. Selama itu mereka begitu asyik melihat-lihat puri tua yang menarik itu sehingga tak ada yang sempat memperhatikan perubahan cuaca. Angin yang meniup menimbulkan suara melolong-lolong. “Sebaiknya kita cepat-cepat mencari perlindungan. Kedua anak itu menyeretnya hampir sampai ke puncak sebuah bukit batu yang rendah. Ternyata keduanya memang berlindung di situ. Setetes air yang besar membasahi tangannya yang diulurkan.” ujar George dengan agak ngeri. Astaga — seram benar kilat itu!” Ombak memang mulai meninggi. “Ya ampun. George menambatkannya ke pangkal sebuah semak kokoh yang tumbuh di situ. Kalian pernah melihat perubahan di langit seperti itu?” Sewaktu mereka berangkat. supaya suasana di sini agak enak?” kata Julian sambil memandang berkeliling. Dengan cepat George dan Julian sudah basah kuyup. karena cahaya hanya masuk dari dua jendela kecil dan dari lubang pintu sempit. Untung saja. “Kelihatannya badai yang akan mengamuk dahsyat sekali.” kata George. George lari ke tempat perahu mereka. Tetapi sekarang sudah kelabu gelap. sebentar lagi. langit masih berwarna biru cerah. “Mudah-mudahan Dick dan Anne ingat dan berlindung dalam kamar yang masih utuh dinding dan langit-langitnya. George! Kalau tidak. Itu sudah pasti Angin bertiup sangat kencang. “Bisakah kita menyalakan api. Sekali lagi terdengar bunyi guruh bergulung-gulung.” ujar George tiba-tiba. Badainya akan benar-benar dahsyat rupanya.” Bersama Julian. segerombolan burung gagak berteriak-teriak sambil . karena agak kedinginan dan ketakutan. Awan-awan itu seakan lari berkejar-kejaran. coba lihat betapa besar ombak yang datang bergulung-gulung itu. “Aduh. “Hujan sudah mulai turun. Tim membalas. Anak-anak tercengang melihat perubahan yang terjadi. “Kita takkan sempat kembali ke pantai. karena ombak yang besar-besar sudah mulai menyambar ke dekat perahu. Kamar itu gelap. Seolah-olah di atas langit ada seekor anjing besar yang sedang menggeram. Sementara itu hujan sudah turun seperti dicurahkan dari langit. kedengarannya seperti guruh berukuran kecil.” kata George. kita terjebak.

berapa lama waktu yang sudah lewat sejak ada orang-orang jaman dulu makan di sini.” kata Julian. Anjing itu duduk merapatkan diri pada George. Kamar sempit itu diterangi cahaya api yang menari-nari.” ujar Dick. Kertas pembungkus ditaruh paling bawah. “Kita berganti-ganti mengambil kayu kering. setelah menghabiskan bekal roti dan minuman. Di luar sudah gelap sekali.” kata Anne tiba-tiba. kita makan saja sekarang!” seru Dick. karena sebagai akibat angin yang bertiup sangat kencang. Tak perlu lagi mengharapkan kejadian seperti itu. Apalagi kilat dan petir menyambar-nyambar. Kita keluarkan saja rotinya. “Bagus!” kata George. Mereka terpaksa berteriak-teriak.” “Aku tidak mau. Setiap anak mendapat empat potong biskuit.” kata George. Di sana banyak ranting yang terjatuh. seperti biasanya.” kata George. seperti diburu dari belakang oleh angin yang bertiup menderu-deru. nyaris menyentuh ujung menara puri. karena ia pun merasa lapar. Nyalanya menghangatkan tubuh. Suaranya sama keras seperti deru ombak yang memecah di pantai pulau itu. karena kalah dengan bunyi angin dan ombak. sambil memandang berkeliling dengan agak takut-takut. Kupingnya tegak. tentu saja. aku punya. berpiknik mengelilingi api unggun di kamar yang gelap ini. untuk mengambil kayu di tengah hujan lebat. Ada yang punya kertas dan korek api untuk membakarnya. Api unggun menyala semakin besar ketika semakin banyak ranting-ranting yang terbakar. “Ya.” Mereka merasa lebih enak. Nyala membesar dan membakar rantingranting dengan segera. Tetapi Anne tak mau pergi seorang diri.” “Kalau korek api. Dia sudah merasa lapar. Kemudian mereka menghidupkan api unggun. “Belum pernah kudengar laut berbunyi begitu ribut. Tim juga tidak menyukai badai. Untunglah.” sambut Anne sambil melihat ke arah roti dengan rasa kepingin.” Anak-anak nyaris tak bisa mendengar suara mereka sendiri. Anak-anak mengumpaninya dengan potongan-potongan roti. Seolah-olah dia mengira akan ada orang-orang jaman dulu masuk dan ikut piknik bersama mereka. Namun ia tak sanggup keluar dari kamar yang hangat itu. “Maksudku di mana burung-burung itu bersarang.terbang berputar-putar di tengah badai. Rotinya disusun rapi di atas sekeping batu pecah. Aku kepingin bisa melihat mereka. Awan itu melayang dengan cepat ke arah timur laut. Tim makan dengan lahap.” “Ayohlah. Ia berusaha sedapat-dapatnya untuk tidak menampakkan rasa takutnya terhadap badai. “Ayoh.” Julian lari di tengah hujan. kita toh tak bisa berbuat apa-apa.” “Ada. . sesudah dibersihkan terlebih dulu. Ranting-ranting itu kering semuanya. lalu lari kembali ke tempat berteduh. “Kedengarannya seperti sedang berteriak sekuat-kuatnya. “Tapi tak ada yang membawa kertas. Di dasar menara banyak bertaburan ranting-ranting!” seru Julian. udara menjadi lebih dingin dari semula. setelah itu rantingranting diatur bersilang di atasnya. dan setiap kali terdengar bunyi guruh ia ikut menggeram. “Selama badai masih mengamuk. Aku kepingin tahu. Mereka lantas membuka bungkusan roti.” “Bagus idemu itu. “Asyik juga. “Dengannya kita bisa menyalakan api unggun. supaya kertas itu bisa kita pakai untuk menghidupkan api. “Hari ini sudah cukup aneh. Awan mendung sangat rendah. Senang sekali mereka ketika kertas mulai terbakar. Tak lama kemudian api unggun sudah menyala.” kata Anne. Dengan cepat diraupnya ranting-ranting yang ada di situ. “Roti kita dibungkus dalam kertas. menuju ke menara.

sementara air hujan membasahi kepalanya.” kata George. lalu surut kembali. Bunyinya juga mengagumkan. Di sela-sela bunyi petir dan guruh terdengar deru laut. Benda apakah itu? “Tak mungkin sebuah kapal. “Kita masing-masing memberikan sebuah padanya.” kata Julian. Ombak besar itu bergulung-gulung sampai ke pantai dan terbanting dengan keras di situ. Tim merebahkan diri. Seolah-olah di sekelilingnya ada gunung-gunung rubuh. Sesaat dikiranya ombak akan membanjiri Pulau Kirrin. itu kan sudah banyak. lalu menaiki bekas tembok yang dulu mengelilingi puri. sedang untuk kita masing-masing masih ada tiga buah. “Kalau percikannya saja bisa membasahi tubuhku di sini. Percikannya nampak putih kemilau di depan langit yang berwarna kelabu kelam. Anak-anak tak lupa memasukkan ranting-ranting kering ke api supaya jangan padam.” “Jangan. Anak-anak tertawa mendengarnya. Sedang kelihatannya ia sangat lapar. Kemudian tiba lagi giliran Julian untuk mengambil kayu bakar. Julian berdiri di atas runtuhan tembok. Tim. “Aku tak membawa biskuit makanannya. sehingga membasahi Julian yang sedang berdiri di tengah reruntuhan puri. Hatinya mulai berdebardebar keras. melanda batu-batu karang yang berhamparan sekeliling pulau. Tetapi mau tidak mau. memandang ke arah lautan. Benturannya begitu keras. kecuali ombak.” kata George. “Tapi kelihatannya mirip sekali seperti kapal. Mudah-mudahan saja bukan.” ujar Julian pada dirinya sendiri. Ombak laut kelihatan seperti tembok tinggi berwarna hijau tua bercampur kelabu. ia melihat sesuatu yang aneh. Ia berdiri sambil memandang berkeliling. hatinya agak gentar juga sekali itu. diiringi bunyi petir yang nyaringnya memekakkan telinga. Kemudian diambilnya keputusan untuk memberitahukan pada anak-anak. sementara ia memicingkan mata agar dapat melihat lebih jelas di sela hujan dan percikan ombak. Kilat menyambar. sehingga tembok tempat Julian berpijak tergetar sebagai akibatnya. Jadi Tim mendapat empat biskuit. Ia berdiri tercengang-cengang! Ia kagum melihat pemandangan di depannya. Julian takjub memandang laut yang sedang mengamuk. “Aku kepingin melihat wujud ombak di tengah angin ribut. lalu digelitik oleh Julian perutnya. Benda itu besar dan berwarna gelap. “Bagaimana pendapatmu. Lihat sajalah sendiri!” . tapi mustahil. Ia ke luar dan lari ke tengah hujan. Ada sesuatu benda di dekat batu-batu di depan pantai. Dengan bergegas ia kembali ke kamar yang diterangi cahaya api unggun. Percikan ombak terbang begitu tinggi. karena tak mungkin ada yang bisa diselamatkan dalam badai sedahsyat ini.“Punyaku akan kuberikan semua pada Tim. Untuk kita. Badai dahsyat sekali! Kilat sambar-menyambar. baikkah mereka ini?” Tim menyalak untuk menyatakan persetujuannya dengan kata-kata George. Rupanya saat itu badai sudah tepat berada di atas pulau. Kelihatannya seperti akan tersembul keluar dari air. diiringi bunyi petir pada saat bersamaan. Sementara sedang menatap ombak besar yang datang bergulung-gulung. Julian sebenarnya sama sekali tidak takut terhadap badai.” Julian berdiri sambil memandang ke arah benda gelap yang timbul tenggelam dalam laut. mestinya ombak itu besar sekali!” Julian berjalan keluar dari puri.” “Kau baik sekali. Tetapi ia tahu hal itu tak mungkin terjadi. “George! Dick! Di batu-batu depan pulau ini ada sesuatu benda aneh?” serunya sekuat tenaga. sambil makan-makan.” katanya pada diri sendiri. “Kelihatannya seperti kapal.

ketika dilihatnya benda gelap yang aneh terombang-ambing dipukul ombak yang besar-besar. Mereka semua menatap ke kapal yang terdampar di batu karang. “Julian — itu — Julian. “Perhatikanlah. Mereka melihat air berwarna hijau gelap bergejolak. Ia demikian gembira. Sinar matahari meneranginya. itu bangkai kapalku!” jerit George dengan suara melengking tinggi. Hujan sudah tidak lagi selebat tadi. Anak itu merasa kecil dan ketakutan.” Awan semakin tipis. di mana ia sebelumnya berdiri memandang ke laut. seperti ada benda yang pecah. Mudahmudahan semua sudah berhasil menyelamatkan diri dengan sekoci-sekoci ke darat. lalu memburu ke pulau seolah-olah hendak menerkam.” Sementara Julian sedang ngomong.” “Ada orang di dalamnya?” tanya Anne setengah menangis. Mudah-mudahan tak ada orang di dalamnya. Kapal itu terdampar ke batu-batu runcing yang terdapat di sebelah barat daya Pulau Kirrin. sedang kilat pun tidak begitu sering lagi menyambar. Anak-anak memperhatikan seperti terpaku di tempat mereka berdiri. George cepat-cepat mencampakkan beberapa potong ranting ke api supaya tidak padam. Badai sudah agak mereda. “Ada apa?” tanya Julian sambil memegang tangannya. “Lihatlah!” Saat ia sedang berkata begitu. sebuah kapal! Terdamparkah dia di situ? Itu kapal besar — bukan perahu layar atau sekoci nelayan. sesudah itu awan merapat kembali. Tim menggonggong dengan ribut. lalu membantingnya sehingga kandas di atas . “Ada sesuatu yang aneh pada kapal itu.” Mereka semua asyik memperhatikan.” kata Julian. Bunyi guruh agak menjauh. lalu lari bersama anakanak menyusul Julian yang sudah mendahului. sehingga nyaris tak bisa ngomong. sebentar lagi akan nampak sesuatu yang aneh. Tetapi hanya sebentar saja. Anne. Ombak besar-besar datang bergulung-gulung dan memecah di batu-batu. karena mata George bersinar-sinar gembira.” ujar Julian keras-keras. “Sebentar lagi matahari akan muncul. “Dia terdampar. Mula-mula tak ada yang kelihatan kecuali ombak yang membubung tinggi. Semua ikut memanjat dan menatap ke laut. Matahari memancarkan sinarnya agak lama. Tiba-tiba nampak oleh George benda yang dimaksudkan Julian. “Itu kapal! Betul. “Bagus!” kata Dick sambil menengadah. Julian lari mendahului ke tembok. Kemudian ia berpaling memandang ketiga saudara sepupunya. Mereka heran. Anne memegang lengan Julian erat-erat. “tak bisa bergerak lagi. awan yang sudah menjadi tipis merenggang sebentar dan melewatkan sinar matahari yang pucat.Anak-anak memandangnya keheranan. lalu meloncat bangkit.” kata Julian tiba-tiba. Tubuh kita bisa menjadi hangat kembali. Angin sudah tidak menderu-deru lagi.” George menatapnya dengan pandangan aneh.” serunya. Mudah-mudahan nanti kita bisa melihat. “Sebentar lagi pasti terbanting ke batu-batu itu. dan pakaian kita akan kering. kapal apa yang sial itu. dan kapal itu akan tetap tersangkut di situ. Aku belum pernah melihat kapal semacam itu. Terasa oleh anak-anak kehangatannya. Sebentar lagi laut akan surut sedikit. “Kau tak perlu takut.” kata Julian sambil berpikir-pikir. “Masakan kau tak bisa menebak apa yang telah terjadi tadi! Laut yang bergolak karena badai mengangkatnya dari dasar laut. “Ya Tuhan. terdengar bunyi berderak nyaring. “Sesuatu yang aneh sekali. Kapal itu didorong alun ke arah pantai.

“Mudah-mudahan kapal itu masih punyaku. Wah. George!” VII KEMBALI KE PONDOK KIRRIN KEEMPAT anak itu sangat tercengang dan tertarik. Itu memang bangkai kapal tua yang karam. lebih baik kita cepat-cepat memeriksanya dengan teliti. dari haluan sampai buritan. Tidak bisakah kita ke situ. dan berbentuk asing. Tapi bagaimanapun juga. apakah aku masih boleh memilikinya setelah terangkat ke atas?” “Kita jangan bercerita pada orang lain!” kata Dick. Itu bangkai kapalnya. “Sebelum ada orang lain yang tahu? Kurasa jika kita bisa paling dulu datang ke kapal itu. Karena ombak masih terlalu besar. karena mereka harus bekerja . “Aku tak tahu apakah bangkai-bangkai kapal menjadi milik Ratu. hebat ya?” katanya.” ujar George.” kata George. “Benar-benar luar biasa!” George masih membisu. “Janganlah setolol itu. “George! Kita sekarang bisa naik perahu ke kapal itu!” seru Julian. “Salah seorang nelayan pasti akan melihatnya. Kemudian dengan cepat akan tersebar beritanya. mungkin saja. Barangkali saja kita akan menemukan peti-peti yang penuh berisi emas. “Kita akan bisa memeriksanya dengan seksama. membayangkan segala macam yang mungkin akan ditemukan di dalamnya. Tapi sekarang belum. segala yang ada di situ akan bisa kita temukan!” “Ya. George benar. apabila ombak sudah agak mereda?” “Kita tak bisa jalan kaki ke batu-batu sana.” “Kalau begitu bagaimana kalau besok pagi-pagi!” tanya Julian. kapal itu dulu milik keluargaku. “Kataku para penyelam sudah pernah turun dan memeriksanya seseksama mungkin. sebelum didahului orang lain!” kata Dick bersemangat. seperti halnya harta terpendam. Tak ada yang mempedulikannya sewaktu terbenam di dasar laut. Pantas kelihatannya aneh! Karena itulah kelihatannya sangat tua dan gelap.” “Kalau begitu. sehingga lebih dari semenit mereka tak bisa berkata apa-apa lagi. Kemudian Julian memegang lengan George erat-erat. “Kalau dengan perahu mungkin bisa.” kata George. Itu bangkai kapalku!” Seketika itu juga ketiga saudara sepupunya melihat bahwa kata George benar. Matanya masih menatap bangkai kapal. setelah terlempar ke atas seperti itu. Mereka hanya melotot memandang bangkai kapal tua itu. Dan hari ini pasti belum akan reda.” ujarnya.batu karang itu. Bagaimana pendapatmu. Pikiran mereka penuh dengan angan-angan. jika itu yang kaumaksudkan. “Sekarang belum ada orang yang tahu. karena tiupan angin masih terlalu kencang. Kemudian ia berpaling ke Julian. sewaktu berangkat meninggalkan teluk. yang terangkat dari tempat peristirahatannya di dasar laut dan terbanting ke atas batu di depan pantai. kecuali kita. “Wah. Tapi itu sangat sukar. sementara dalam pikirannya terbayang bermacam-macam hal.

dengan sebuah teluk kecil di mana perahu mereka tertambat. dan kalau kita berangkat sekarang pakaian kita akan basah kuyup. Pantainya berbatu-batu. mereka menoleh ke belakang untuk melihat Pulau Kirrin. Mereka silih berganti memegang dayung. “Kapal itu kan tidak mengapa-apakan dirimu! Kau kira itu apa?” “Mungkin dikira ikan paus. karena sepagian sibuk terus. “Kurasa hujan masih akan turun lagi. Bahkan menjadi semakin asyik. George — ini hari yang paling mengasyikkan selama hidupku. Tetapi ternyata suasana tak rusak karena kehadiran Julian beserta kedua adiknya. Kulihat lambungnya masih terangkat sedikit. Hanya Tim saja yang ikut.” George merasa bahagia. Anjing itu kelihatannya tak menyenangi bangkai kapal yang tiba-tiba muncul. anak-anak kemudian berjalan-jalan mengitari Pulau Kirrin. Itulah yang akan terjadi jika kita mencoba juga sekarang. Tak banyak mereka berkatakata sewaktu berdayung pulang. “Sungguh! Ukurannya cukup kecil. Kita harus menunggu sampai besok. Aku senang pada pulau ini. “Aku sendiri juga kepingin. Bagus ide tadi. karena ia masih terlalu kecil. Bangkai kapal tak nampak oleh mereka karena letaknya di sisi yang lain. serta kelinci-kelinci yang berlompatan ke sana ke mari. tetapi selalu sendirian. Takkan kuat ia melawan arus pasang surut. Maksudku Inggris juga sebuah pulau. karena di mana pun kita berdiri tepinya yang satu lagi masih bisa kelihatan. “Aku senang pada pulau ini. Anne. rasanya seperti sedang mimpi. Nampak uap air mengepul dari pakaian mereka.” katanya. sehingga masih bisa kelihatan bentuk pulaunya. menghadap ke laut. selama pasang belum surut. Kurasa orang-orang dewasa banyak yang akan beranggapan bahwa urusan merekalah memeriksa kapalku itu. Hanya Anne saja yang tidak ikut mendayung.” kata Anne. Kita akan baru sampai di rumah saat minum teh. Lalu runtuhan puri dengan burung-burung sejenis gagak yang terbang berputar sambil berteriak-teriak ribut. aku juga tak kepingin perahuku hancur berkeping-keping terbentur batu. Tapi itu mustahil. karena dirasakannya hanya akan merusak suasana.” kata Julian. “Kau ini aneh. tetapi sangat menarik hati. Mungkin saja kita akan menemukan sesuatu yang tidak mereka lihat waktu itu. Sinar matahari yang hangat dengan cepat mengeringkan pakaian keempat anak itu yang tadinya basah kuyup. sehingga kesan yang timbul cuma sebagai daratan saja. Kalau ini rasanya benar-benar seperti pulau. Pulaunya tak begitu besar. karena berat mendayung melawan arus air surut. Sekarang masih berbahaya masuk ke situ.” kata Anne berkelakar. Ia tertawa. Dan selanjutnya. Sudah itu baru kita pulang. Ia sudah sering ke situ sebelumnya. Wah. Sambil bergerak ke arah pantai. Sukar kupercaya bahwa bangkai kapal tuaku muncul dari dasar laut!” Sementara itu awan gelap sudah menyingkir. “Wah. Tidak bisakah kita naik saja ke perahu sekarang dan mencoba datang ke kapal itu?” “Tidak bisa!” kata George. Dan dari bulu tubuh Tim juga nampak kebut halus naik ke udara. Pertama-tama kurasa kapal itu belum tetap letaknya di batu-batu. Ia masih akan tetap goyah.dalam air. Tapi tak ada orang yang hidup di situ akan tahu bahwa ia tinggal di sebuah pulau. “Kita tunggu dulu sampai ombak tak begitu tinggi lagi. karena ia menggeram dengan suara berat. “Untung saja letaknya di sebelah sana. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri takkan mengajak orang lain ke situ. setiap ada ombak yang sangat besar datang menamparnya. “Jadi tak ada orang lain yang bisa . Untuk pertama kalinya George menyadari bahwa kesenangan yang dibagi dengan orang lain merupakan kenikmatan yang berlipat ganda.” Keempat anak itu agak capek. Kebanyakan pulau terlalu besar. dan kita tercampak ke laut yang masih bergolak itu. Tim. kalau hal itu tidak dikatakan kepadanya.” Sesudah mengamat-amati bangkai kapal yang terdampar itu beberapa saat lagi.” ujar George sambil menepuk-nepuk anjingnya. untuk berangkat ke situ pagi-pagi.

” Tak lama kemudian keempat anak itu sudah duduk menghadapi hidangan teh. “O ya!” seru Anne bersemangat.” kata Anne. Tetapi mereka keliru sangka! Dan dia ditendang dengan tidak bersalah. mereka pasti mengira bahwa dia akan mengatakan ombak mengangkat kapal karam ke atas. karena kaki-kaki keempat anak itu semua berada di bawah meja. “Aku tak sengaja. pasti ia juga ikut menendang. Perutku juga sudah sangat lapar. tapi kalian kan belum!” “Tentu saja kami bisa bangun. “Kau ditendang.” Julian dan Dick serempak menendangnya. “Kaunaikkan perahu kita ke pantai. “Ada apa lagi ini!” kata Bibi. Syukurlah! Lenganku sudah pegal. “Betul Bi. Tetapi teriakannya dikalahkan oleh keributan anak-anak ngomong. Rasanya belum pernah mereka menikmati hidangan teh seenak itu.” “Wah. Rasanya semua makanan yang ada di rumah akan sanggup kusikat habis. Sayang?” “Ombak besar yang terangkat ke atas.” sambung Dick.. Besok kita berangkat sepagi perahu nelayan..” “Kakiku juga. Sebentar lagi aku akan sudah kembali. Julian masih sempat menendangkan kaki. “Aku harus memulangkan Tim ke rumah Alf. “Aduh!” teriak Anne.” kata Dick. Anne melotot ke arah kedua abangnya.. Julian.” kata George sambil meloncat keluar dari perahu.” Tim menggonggong untuk menyatakan persetujuannya. pagi sekali. “Aku tak setakut Ti.” jawab Julian. “Kau bisa bangun sepagi itu? Aku sudah biasa bangun subuh. “Nah — kita sudah sampai lagi di pantai. serta kue jahe dengan setrup kental berwarna hitam. pemandangan yang nampak dari pulau benar-benar mengagumkan.” . “Angin ribut tadi betul-betul hebat. Kapal itu baru akan kelihatan apabila ada perahu nelayan berangkat hendak menangkap ikan. Kuenya berwarna coklat tua dan agak lengket. Kuusulkan.” “Aku sebetulnya tak takut pada badai. “Maaf deh. George duduk agak jauh. kakiku tergelincir. Sampai terangkat. Ombak besar berkejar-kejaran masuk ke dalam teluk kecil yang ada di sana. kau tadi kutendang. Anak-anak memakannya sampai habis.” ujar Julian... “Kelinci di sana jinak-jinak. kita bangun subuh. “Asyik kalian sehari ini?” tanya Bibi. Bi. Seketika itu juga mereka ngomong dengan nyaring. Apa yang diangkat oleh ombak ke atas. agar suara anak perempuan kecil itu tak terdengar oleh Bibi.melihat dari pantai. berkaok-kaok tak henti-hentinya.” kata George. Kasihan Anne! Kakinya biru-biru nanti. Sampai perahu kami harus ditarik naik sampai hampir ke puncak bukit batu kecil. Ia tak melihat kejadian itu. dengan air mata berlinanglinang karena kesakitan..” kata Julian keras-keras. George juga ikut-ikut ngomong keraskeras. Dia tahu. Anne? Kalian tak boleh lagi tendang-menendang di bawah meja. “Kami melihat burung-burung kormoran. Kalau tidak. “Burung-burung gagak berisik sekali.” Anak-anak semuanya tahu bahwa Anne nyaris menyebutkan nama Tim. Bibi Fanny memanggang beberapa potong roti empuk yang biasa dihidangkan pada saat minum teh di Inggris.” kata Anne sambil memandang ketiga anak itu dengan sikap menantang.” “Wah.

“Ini kapalnya. karena akan datang suatu peristiwa yang mengasyikkan. ya?” kata Julian. Ternyata dia berhasil membawa beberapa buah. Tapi ingat. Paman.” ujar Anne dengan sedih. “Dengan begitu. Di ambangnya muncul muka seseorang yang merengut. “Kita harus bangun pagi-pagi benar. Ya George. besok harus tinggal di kamar semua. Paman Quentin! Marah sekali kelihatannya. Anne bangkit. “Kalau tidak.” “Memang.” Pintu tertutup kembali.” Anak-anak pergi mencuci tangan. “Kurasa lebih baik aku tidak ngomong saja pada saat makan. “Kita bermain kapal karam. Tetapi malam itu lain.“Kalian juga seperti burung gagak berisiknya. Tanganmu juga lengket! Aku tahu.” kata George. “Kau ini kurang hati-hati kalau ngomong.” kata Dick sambil menguap. jaga supaya saudara-saudara sepupumu tidak ribut. kalian sudah selesai makan? Kalau begitu lekas cuci tangan kalian yang lengket itu. dan kau makan tiga iris. “Kita cepat tidur saja malam ini. “Ayahmu galak sekali. Aku lupa. sambil memikirkan tentang kapal karam yang menarik itu. besok kita akan dihukumnya dan tak boleh keluar. “Aku lebih suka rahasia kapal karam yang kaubuka daripada rahasiaku tentang Tim. Diletakkannya boneka yang sedang . “Aku menyesal karena tadi berisik. jadi rasanya kepingin selalu bicara tentang dia. George.” Pintu kamar terbuka dengan keras. “Maaf. Aku senang sekali pada Tim. saya tadi lupa Paman sedang sibuk bekerja.” katanya. “Nah. besok akan cepat tiba.” “Lebih baik kita melakukan suatu permainan yang tenang. ngomong serempak seperti begini!” ujar Bibi Fanny geli. “Goblok!” tukas Julian pada Anne. kau juga harus cuci tangan.” kata Julian. jangan sampai mengganggu Ayah. “Suara apa yang ribut tadi?” tanyanya ketus. “Nyaris dua kali kau membongkar rahasia kita!” “Yang pertama kali.” Mereka pergi bermain-main ke kamar sebelah. karena akulah yang membuat kue jahe tadi.” Mereka ngeri membayangkan akan dikurung dalam rumah. George melanjutkan pekerjaan tangannya mengukir sebuah perahu kecil yang indah dari sepotong kayu. Padahal kita hendak memeriksa kapal karam.” katanya. George menyela pertengkaran itu. Aku capek mendayung tadi. Dick berbaring menelentang di bangku. Keempat anak berharap. Ia sibuk sekali.” “Kalau kalian masih berisik juga. Julian mengambil buku bacaan. Hujan masih turun terus.” Biasanya anak-anak itu tak ada yang senang cepat-cepat masuk ke tempat tidur. “Georgina. karena hari hujan. Kalian tak bisa ke luar.” ujar ayah George. Julian menggulingkan sebuah meja sehingga terbalik dengan suara keras. aku tak bermaksud mengatakan seperti yang kaukira!” jawab Anne dengan jengkel. semoga besok pagi sudah tidak hujan lagi. “George! Siapa yang membalikkan meja itu?” “Saya. hendak mengambil boneka-bonekanya. Sekarang kita akan memeriksa. Paman pergi meninggalkan anak-anak yang saling berpandangan. Sudah itu bermainlah dengan diam-diam di kamar sebelah.” kata Anne.

“Aku harus mengajak Tim. yang sebelumnya terbenam di dasar laut!” Pukul delapan malam anak-anak sudah masuk ke tempat tidur. Dan jangan batuk-batuk. Hati-hati di tangga. Tetapi sekali itu Anne bersungguh-sungguh. Anne dan nyengir memandang Julian. Sejenak Julian masih berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Pintu mereka tutup kembali. Mereka menyelinap turun tangga. Ia cepat-cepat duduk di tempat tidur. baju kaos dan sepatu karet. dan besok pagi-pagi siap menghadapi petualangan yang ramai. . sebab sebentar lagi akan Ia meloncat dari tempat tidur. “Tim harus kita ikut sertakan dalam petualangan ini!” VIII MEMERIKSA KAPAL TUA KEESOKAN harinya Julian bangun paling cepat. Tak banyak orang yang memperoleh kesempatan untuk memeriksa bangkai kapal yang tua sekali seperti itu. Tetapi sekonyong-konyong ia teringat kembali pada kejadian-kejadian yang dialami kemarin. Julian dan Dick segera menyusul terlelap. Ia merasa gembira. “Dick. Tak sedikit pun suara yang terdengar. bangunlah!” Dick bangun bertualang. Pintu tidur.ditimang-timangnya. Anne langsung tertidur. lalu berbisik senyaring mungkin. bangun! Kita akan mendatangi bangkai kapal yang terangkat dari dasar laut. Langit berwarna keemasan kena sinar matahari pagi. lalu membuka pintu depan. nanti saja kita tidur sehabis makan malam. celana jean. dan menyodok punggung Anne. Anne sibuk kian ke mari mengambil pakaian yang hendak dikenakan. Anne. Kita harus bergegas. Ia memikirkan pulaunya. “Sekarang kita ke bawah. Kita bilang saja capek karena berdayung. bangkai kapalnya — dan tentu saja ingatannya juga melayang ke anjingnya yang tersayang. jika kita langsung tidur sehabis minum teh?” kata George. lalu lari menyelinap ke kamar George dan dibukanya dengan hati-hati. Ia terjaga ketika matahari muncul di kaki langit sebelah timur. Ia juga berhati-hati. “Cepat!” bisik Dick. “Nanti dikira kita semua sakit. Dalam waktu beberapa menit saja mereka sudah siap. atau cekikikan!” ujar Julian memperingatkan ketika mereka berdiri di pangkal tangga sebelah atas. lalu duduk. Itu kan memang kenyataannya! Malam ini kita tidur nyenyak. seperti ketiga anak lainnya. Baju renang. Sampai heran Bibi Fanny melihatnya. Ayoh. Anne mudah meletus tertawanya. dan sudah sering kali rencana rahasia mereka ketahuan karena ia tiba-tiba cekikikan. “Sekarang saja kita tidur?” “Apa kata Ibu nanti. Besok kita memang akan bertualang. “Matahari baru saja terbit. Kedua anak perempuan itu terbangun. Sudah itu mereka menuju ke pintu pekarangan. Jangan. Dilihatnya kedua anak perempuan itu masih berbaring meringkuk dalam selimut. Tetapi George masih agak lama juga belum bisa tidur. Anne cepat-cepat berpakaian. Dick menggoncang-goncangkan tubuh George.” Dengan mata bersinar-sinar. jangan sampai berderik-derik terpijak.” pikirnya sesaat sebelum tidur.

” ujar Anne. Bukan main berisik bunyinya sewaktu terbanting ke batubatu itu kemarin. Tim langsung meloncat ke dalam dan berdiri di haluan.” katanya. “Ayoh. Kapal itu besar. Perahu didayung ke batu tempat kapal terdampar. Geladaknya juga berlubang-lubang. Ia mengenal pulau kecilnya. ikut aku!” Tim senang karena George datang pagi-pagi sekali. Mereka sampai di pulau itu.” “Memang. Tetapi mereka tahu. Alf saat itu sedang bersiap-siap hendak turun ke laut mengikuti ayahnya. nampak sangat menarik. “Kau juga mau memancing?” tanyanya. Kukira kau terjebak tak dapat pulang. lalu mengitarinya untuk menuju ke sisi seberangnya. Dengan gerakan tetap sudah sampai ke dekat batu-batu tempat kapal Anak-anak memperhatikan dari perahu. Begitu sampai di perahu. Tetapi menurut perasaan keempat anak yang sedang memperhatikannya. bekas benturan ke batu-batu. Jauh lebih besar daripada perkiraan mereka. apa yang dimaksudkan olehnya. Kedudukannya sudah kokoh.lewat jalan kebun. “Itu dia kapal kita. sekarang mestinya sudah lebih bobrok lagi dari sebelumnya. Hari itu memberikan kesan baru dan indah. Sisi kapal berlubang-lubang besar. karena laut tenang. “Kasihan.” “Bagaimana cara kita naik ke situ?” tanya menyeramkan yang bertaburan di sekeliling hampir setiap jengkal perairan di sekitar didayungnya perahu. Itu dia bangkai kapal tua. Mendayung perahu gampang sekarang. “Wah. Kapal itu kelihatan tua dan menyedihkan. Anak-anak tertawa mendengar kata-katanya itu. “Kelihatannya seperti baru kembali dari tukang cuci. Anne sambil memandang batu-batu runcing situ.” jawab George. Nyaris ia tersandung sebagai akibat tingkah Tim.” katanya. anak nelayan yang dimintai tolong memelihara Tim. tetapi sinarnya sudah memanaskan tubuh. “Bukan main ributnya anjing ini. nanti buntutmu copot. Oleh karena itu mereka keluar dengan jalan memanjatnya. heran melihat George muncul begitu pagi. George mengambil perahunya. Anjing itu melonjak-lonjak mengelilingi George yang lari menggabungkan diri kembali dengan ketiga saudara sepupunya. “Dan kemudian dengan mudah kita bisa naik ke geladak. Tetapi George tak gentar. Ia nyengir memandang George. Matahari belum tinggi. Ombak mengalun menyapunya. Langit nampak biru cerah. . tertengger di atas batu-batu runcing. dengan jalan memanjat sisi kapal. Mereka mencium bau aneh. sewaktu memandangnya ketika masih terbenam di dasar laut.” Mereka berangkat ke Pulau Kirrin. tidak terayun-ayun lagi kena ombak yang meluncur di bawahnya. Sesudah itu ia pergi menjemput Tim. sedang laut nampak begitu rata dan segar. Lidahnya terjulur ke luar. Awan merah muda di langit yang biru cerah. Lambungnya agak miring.Anne kadang-kadang kocak sekali omongannya. Julian! Lemparkan jerat tali ini ke . “Perahu kita tambatkan ke kapal itu. bukan main dahsyatnya angin ribut kemarin. dan tak lama kemudian tua itu terdampar. Tubuhnya penuh dengan sejenis kerang-kerangan. George memandang berkeliling. dan tiangnya yang patah mencong sedikit. Susah sekali membayangkan bahwa sehari sebelumnya air di situ bergejolak dengan ganas. “Awas Tim. Tim! Ayoh.” kata Julian bergairah. sehingga Anne mendapat kesan seolah-olah baru habis dicuci. Pintu itu selalu berderik sewaktu dibuka. sedang buntutnya dikibas-kibaskan. sementara Julian dan Dick menghela perahu ke air. sedang ganggang coklat dan hijau terjuntai di mana-mana. Alf.

selain air laut dan ikan. sambil tergelincir-gelincir di atas ganggang. Semuanya sudah berkarat dan diselaputi ganggang. Rupanya waktu kapal karam.” ujar George.” kata George. sehingga perahu tertambat erat.” Ia menunjuk ke sebuah lubang besar. Tetapi kelihatannya dalam kapal tak ada satu peti pun juga! Kemudian mereka sampai di sebuah kamar. Atau mungkin juga daging kering atau biskuit. Anak-anak berkeliling memeriksa perut kapal. Jerat itu dikencangkan. Sebuah tangga besi yang sudah berkarat masih terpasang di situ. Julian dan Dick menyusul. Kemudian George menaiki sisi kapal.” kata Julian. Dilihat dari dalam. melihat tempat-tempat baring yang pernah ditiduri kelasi-kelasi. Cahaya senter menampakkan pemandangan yang sangat aneh.potongan kayu patah yang menonjol dari sisi sebelah sana itu!” Julian mengikuti petunjuknya. lalu memandang ke bawah. Anne tak tahan menciumnya. Gerakannya sangat cekatan. “Aku turun paling dulu. “Nah.” Julian membawa senter. “Dan di sini ada piring tatakannya.” Ganjil sekali rasanya berkeliling dalam kapal tua yang sudah rusak itu. “Mestinya di sinilah peti-peti berisi emas itu ditaruhkan. Bau rumput laut yang mengering busuk sekali. lalu diberikannya pada George. Coba lihat kursi kayu itu! Bukan main. Di bawah tingkat di mana terdapat kamar-kamar. Anak-anak terdiam semuanya.” ujar Anne sambil mengambilnya. Aneh ya. Perasaan mereka tegang pada saat menatap ke dalam perut kapal besar itu. Tetapi dalam palka tak ada apa-apa. Rak-rak kayu yang kelihatan seperti dihiasi dengan ganggang hijau. mereka memeriksa ruang palka yang besar dengan bantuan cahaya senter. Perabot itu penuh dilapisi kerang yang berwarna kelabu. Dan lihat barang-barang yang tergantung pada sangkutan-sangkutan di sana itu. Anak-anak tak bisa turun ke bawah. “Pasti itu kamar nakhoda. Tetapi tong-tong itu sudah pecah. “Kurasa tangga itu masih cukup kuat. Di satu pojoknya ada sebuah tempat tidur. ini geladaknya. Di air terapung satu dua tong. nakhoda sedang duduk di sini . bergantungan lintang-pukang di dinding kamar. lalu mulai menuruni tangga. Tak lama kemudian keempat-empatnya sudah berdiri di atas geladak yang agak miring. George mengamatamatinya. Tetapi Anne harus dibantu naik. Tetapi bekas-bekasnya tak jelas. “Lebih baik kita pergi saja ke bagian yang ada kamar-kamarnya. Bagian kapal di bawah geladak berlangit-langit rendah. Lantai di situ licin karena dilapisi ganggang laut yang baunya menusuk hidung. Ketiga saudara sepupunya ikut dari belakang. Anak-anak menajamkan mata mereka. yang ukurannya agak lebih luas dari kamar-kamar selebihnya. “Kurasa tong-tong itu dulunya berisi Air. Seekor kepiting besar duduk di situ. “dan dari situ awak kapal keluar masuk. Anak-anak harus berjalan membungkuk di situ. “Ukurannya yang paling besar. ternyata tidak begitu besar ukurannya. Apakah yang akan mereka temukan di situ? George menyalakan senter. yang terbuat dari papan kayu tebal. Di dalamnya tak ada apa-apa. Lihatlah. Ada yang membawa senter? Di bawah kelihatannya sangat gelap. Berempat mereka ke situ. benda apakah itu di pojok?” “Sebuah cangkir tua. Tapi pasti dulunya semua itu adalah panci-panci untuk masak dan piring-piring. Kelihatannya beberapa tempat di bawah geladak itu dulunya kamarkamar. masih ada setelah bertahun-tahun terbenam dalam air.” katanya kemudian. tinggal sebelah. Sepotong perabot tua yang kelihatannya seperti meja berkaki dua tersandar pada tempat tidur. Di dalam gelap sekali.” kata Julian. karena genangan air di situ terlampau dalam. karena semuanya sudah rusak dan lapuk serta penuh dengan ganggang. mencari-cari peti yang mungkin berisi batang-batang emas. seperti seekor kera layaknya! George memang pintar memanjat.

“Kita pergi saja dari sini. “Kurasa itu huruf-huruf depan nama nakhodanya. Pintu terayun membuka. “Bukan.K. Aku tahu. Dicobanya mengumpil daun pintu dengan jari-jarinya supaya terbuka.” Kemungkinan itu menyebabkan anak-anak merasa agak seram. Julian melihat sesuatu benda yang tadi tak sempat diperhatikan. “Aku kurang senang di sini. Tetapi sia-sia. Lantainya lembab serta licin. Di dinding ada sebuah lemari. “He. tunggu dulu. Julian mengangkat peti untuk dibawa ke perahu. “Barangkali saja ada sesuatu di dalamnya. Julian menyoroti kamar itu untuk terakhir kali dengan cahaya senternya. “Aku sudah banyak sekali mendengar tentang dia. kunci itu sudah aus karena tuanya.” ujar Dick. Dikeluarkannya pisau sakunya yang besar dan kuat.” Mereka berpaling dan hendak melangkah ke luar. George mulai beranggapan bahwa kapal tua itu lebih menarik dan menyenangkan pada saat masih terbenam di dasar laut. karena peralatan mereka tak memadai. Mereka melihat semacam lemari kecil dalam dinding kamar.” katanya dengan suara bergairah.’ adalah huruf-huruf awal nama kakek dari kakekku!” seru George.J. “Kita buka saja di rumah nanti. Wah.K. lalu ikut mencoba.” Pada tutup peti tertera huruf-huruf H. ‘H.sambil minum teh. Anak-anak melihat sebuah peti kayu yang sudah mengembung kena air laut. Diarahkannya cahaya senter pada benda itu. lalu berseru memanggil anak-anak yang lain. Pokoknya peti ini harus terbuka. Kamar kecil itu gelap dan bau. barangkali ada isinya!” Kedua adiknya serta George datang kembali mendengar panggilannya. serta dua atau tiga benda aneh yang tak bisa dikenali lagi wujudnya karena sudah rusak sama sekali kena air laut. pasti sekarang sudah rusak. “Kita akan mempergunakan palu atau alat lain.” Dengan dibantu oleh Julian.” kata Julian. Tibatiba matanya bersinar-sinar.” kata Julian sambil mengambil benda yang dimaksudkannya. “Pintunya terkunci. Ia sudah hendak memadamkannya dan menyusul anakanak yang sudah berjalan lebih dulu. Di dalamnya nampak sebuah rak dengan beberapa buah benda. Mestinya ini peti milik pribadinya. Sekuat tenaga ditekankannya pisau ke samping. Kecuali itu masih ada pula sebuah gelas besar yang sudah retak. tetapi sia-sia belaka.” katanya dengan suara agak gemetar. Tetapi kuncinya tidak ada. Kita periksa sebentar. George — ini benar-benar penemuan namanya!” . Perhatian Julian tertarik pada lubang kunci. “Tak ada yang menarik kecuali peti ini.” kata George. “Tentu saja!” “Kurasa kuncinya sekarang pasti sudah aus. Pisau itu dibukanya dan diselipkan ke celah antara daun pintu dengan dinding kamar. Nama lengkapnya Henry John Kirrin. Wah! Peti ini harus kita buka. dan — tiba-tiba kunci jebol! Benarlah katanya.” katanya. di mana tersimpan surat-surat atau buku hariannya. Akhirnya mereka menyerah kalah. ketika ia tiba-tiba tertegun. “Kurasa apa pun isi di dalamnya. kapal tua ini mengasyikkan — tetapi juga agak menakutkan. tetapi tak keruan lagi rupanya karena busuk. Kapal ini kepunyaannya. George berusaha membuka kunci peti kayu tua itu secara paksa. Tapi tak ada salahnya jika peti ini kita buka.J. Lalu ada dua tiga benda yang kelihatannya seperti buku.

nampak oleh mereka bahwa sementara itu orang-orang lain juga telah menemukan bangkai kapal yang terangkat dari dasar laut itu. mereka akan kena marah. anak-anak yang terlambat pulang tak pantas diberi daging dan telur goreng. “Kemarin sewaktu badai terangkat ke atas!” “Jangan bilang apa-apa lagi. Dan isinya barangkali — yah. lalu berdayung pulang secepat-cepatnya. Sedih rasanya diomeli! Peti mereka sembunyikan di bawah tempat tidur dalam kamar yang dipakai oleh Julian dan Dick. Saat sarapan sudah lewat. Saat itu ia sedang berdiri dalam perahu ayahnya dan memandang kapal aneh yang terdampar di atas batu-batu karang. George marah sekali karenanya. Dan sebelum malam turun. Aku tak mau pelancong-pelancong datang berbondong-bondong ke mari!” Karenanya Julian tak mengatakan apa-apa lagi. Tetapi mereka tak peduli! Mereka sudah memeriksa bangkai kapal tua. kalau bukan emas berbatangbatang. Kata Paman Quentin. Keempat anak itu lekas-lekas masuk ke perahu mereka. “Kita akan mendapat banyak uang. Mereka juga tidak bisa sarapan sampai kenyang. Begitu nampak keempat anak di atas geladak kapal. karena Alf sudah turun ke laut untuk menangkap ikan bersama ayahnya.” katanya. Berisikah peti itu? Dan kalau berisi. Tim dikembalikan pada anak nelayan yang memeliharanya. Mereka naik ke geladak lewat tangga besi tua. Begitu sampai di atas. Tetapi mereka tak berani terlalu dekat. Tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. mereka berseru-seru dengan nyaring. Mereka harus merasa puas dengan roti bakar serta selai saja.Mereka semua merasa menemukan sesuatu benda yang terselubung rahasia. “Ini bangkai kapalku. siapa saja berhak untuk melihat! IX PETI HARTA . Karena seperti dikatakan oleh Julian. Bahkan mungkin pula mereka akan dikurung dalam kamar. sebatang emas yang kecil pun sudah lumayan! Sesampai di rumah.” kata George sambil mengerutkan dahi. “Ahoy!” Para nelayan itu menyapa seperti lazimnya pelaut-pelaut. mereka benar-benar kena marah. Para nelayan yang ada dalam perahu-perahu itu memandang kapal tua dengan tercengang-cengang. seperti yang telah diancamkan oleh Paman Quentin yang galak. Lebih tepat jika dikatakan bahwa anjing itu ditambatkan lagi di halaman belakang rumah anak itu. karena takut terhempas ke batu-batu runcing. “Kapal apa itu?” “Bangkai kapal yang terbenam di dasar laut!” seru Julian menjawab pertanyaan itu. sudah banyak sekali orang-orang yang tertarik melihat kapal tua itu dari geladak perahu-perahu motor dan kapal-kapal nelayan. “Astaga! Kelihatannya seperti setengah dari semua perahu nelayan yang ada di teluk sudah berkumpul di sini!” seru Julian sambil memandang perahu-perahu nelayan yang mengelilingi bangkai kapal tua. dan sekarang pulang dengan membawa sebuah peti. Mungkin sesampai di rumah. jika kita mengangkut para pelancong ke mari untuk melihat bangkai kapal tua ini. apa isinya? Mereka ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan membuka peti.

“Dari bangkai kapal tua. lalu membentur alas batu di tanah dengan suara nyaring. “Dari kapal tua!” kata Paman tercengang. Peti itu dibawa ke gudang tempat menyimpan alat-alat di kebun. Entah apa. “Maksudmu dari bangkai kapal yang terangkat dari dasar laut kemarin? Aku juga mendengar kabarnya.” kata Julian. “Kalian nakal. tetapi pokoknya harta! Julian mencari-cari alat yang bisa dipakai. Dicobanya kemudian berbagai alat lain.” Tetapi mereka tak melihat jalan lain lagi. “Aku tahu akal. “Cuma risikonya. lalu kita bantingkan dari jendela ke tanah. mengganggu kesibukanku! Berikan barang itu padaku. Mukanya menjadi merah. Seketika itu juga terbuka pintu serambi yang menghadap ke situ. “Aku bertanya tadi. “Ini — barang ini kepunyaan kami. sampai kaca matanya nyaris copot. kalau begitu kurampas saja. Barang yang tersimpan dalam peti tidak bisa rusak kena air laut. yang terletak di tanah?” Anak-anak memandang peti yang dilemparkan oleh Julian dari atas. Ia langsung mencobanya. Tutupnya terbuka. “Apa lagi yang kalian perbuat sekarang?” serunya marah. barang apa itu yang terletak di tanah?” teriak Paman sambil melangkah ke depan. Ia menemukan sebuah pahat. Mereka sudah kepingin sekali membukanya. barang yang ada di dalam bisa patah atau rusak sebagai akibatnya. Tetapi peti itu tetap saja tak bisa terbuka. Paman Quentin muncul seperti disengat lebah. Kesal anakanak dibuatnya.” ujar Anne akhirnya. “Kita bawa saja peti ini ke tingkat paling atas. “Dari mana kalian mengambilnya?” bentak Paman sambil melotot ke arah Anne yang berdiri paling dekat. Karenanya Julian membawa peti ke dalam rumah. George dan kedua adiknya berdiri sambil menunggu di bawah. Julian membantingkan peti sekuat tenaga ke bawah. dan di dalamnya nampak sebuah kotak dari timah yang kedap air.” ujar Dick.” kata Anne tergagap-gagap karena takut. Ia masuk ke dalam loteng dan membuka jendela yang ada di situ. Dari mana kalian mendapatnya?” Anak-anak tidak ada yang menjawab. “Nah. tetapi pahat tergelincir dan mengenai jari-jari tangannya. “Kalian kan tidak berlemparlemparan dari jendela? Barang apa lagi ini. Peti itu melayang di udara. lalu naik sampai ke tingkat teratas. Pasti pecah!” Saudara-saudaranya mempertimbangkan usul itu. Paman Quentin mengerutkan dahi. Jadi kalian masuk ke kapal itu?” . dengan segera anak-anak mengambil peti yang disembunyikan di bawah tempat tidur. dan tetap kering! Dick berlari untuk mengambil peti. Dalam hati. “Bisa saja kita mencobanya.” ujar Paman. Menurut perasaannya alat itu cocok sekali dipakai untuk membuka peti secara paksa.BEGITU selesai sarapan. mereka semua merasa yakin bahwa di dalamnya tersimpan harta. Peti itu terletak di batu yang merupakan alas serambi luar.

karena jangan-jangan terambil barang yang penting artinya. untuk melihat barangkali saja Ayah ke luar. Ayahmu pasti tak mau merepotkan diri dengan peti itu. lalu mengambil peti itu. atau pergi berenang?” tanyanya. “Tentu saja tidak. kenapa mereka berganti-ganti hadir dalam kebun! “Ayahmu tidak pernah ke luar ya?” tanyanya pada George. “Jangan salahkan aku karena mengatakan bahwa peti itu kita ambil dari bangkai kapal. “Aku tak rela! Biar bagaimanapun. Ia kelihatan marah sekali. dan melupakan soal peti kita. “Mungkin dalam peti ini ada barang penting.” kata Julian sambil merangkul Anne. Tiba-tiba ia merasa yakin. “Kami akan berjaga-jaga. “Tapi siang ini ia mungkin tertidur. karena sepanjang pagi Paman Quentin tak ke luar sama sekali dari kamar kerjanya. George. Dan sesudah membongkar muatan berharga itu. Tetapi dengan tidak mengatakan apa-apa lagi Paman berpaling dan masuk ke rumah.” Tetapi ia tak mengatakan. “Atau kalian bertengkar?” “Tidak.” katanya tersedu-sedu. kapal membentur karang sewaktu keluar dari teluk lalu karam. Peti yang sudah pecah tutupnya dikepit di bawah ketiak.” “Aduh Ayah. Biar aku dipukul kalau sampai ketahuan!” “Bagus. Jangan-jangan pamannya akan merampas peti yang akhirnya berhasil dibuka. Habis. Menurut perasaan kami isinya mungkin harta. bolehkah kami meminta peti itu. Ia sudah hampir menangis. seolaholah ia mengenal semua sarjana. Dik.“Ya.” Anak-anak silih berganti menjaga. “Kalian tak boleh mengacak-acak dalam bangkai kapal tua itu. Aku akan menunggu kesempatan baik untuk menyelinap masuk ke dalam kamar kerjanya.” katanya sambil mengambil peti yang ada di tangan Dick. Paman dianggapnya tidak adil. Paman melotot memandangku.” jawab Dick. dengan begitu hidupnya tidak sehat!” “Hidup para sarjana memang tak pernah sehat.” jawab Dick. peti itu harus kita ambil lagi dan kita periksa isinya. Saat itu Julian datang menggabungkan diri lagi. Barangkali saja sebatang emas!” “Sebatang emas!” kata ayahnya mencemoohkan.” jawab George dengan nada pasti. Anne menangis. . Jadi aku terpaksa mengatakan. berikanlah peti itu kepada kami. “Ayah. “Mengapa kalian tidak bersama-sama semuanya dan bermain-main ke pantai. Lebih mungkin isinya merupakan keterangan menyangkut emas berbatang-batang itu. “Kau ini memang anak kecil yang tak tahu apa-apa! Peti sekecil ini tak mungkin dipakai sebagai tempat menyimpan barang berharga seperti itu. Dan ternyata memang itulah yang terjadi.” kata George merengek-rengek. Tak lama kemudian perhatiannya tertarik oleh suatu bunyi aneh. Tetapi benar-benar mengesalkan. “Menurut perasaanku.” “Tapi itu kan kapal kepunyaanku. Ia kelihatan cemas. Kami baru saja berhasil membukanya. karena dengan begitu saja merampas peti. kalau kau mau begitu!” kata George. Bibi Fanny heran ketika melihat sepanjang pagi selalu ada satu atau dua orang anak dalam kebun. Dia pasti sudah mulai lagi menulis buku yang sedang dikarangnya. Aku sudah selalu berpendapat bahwa emas itu sudah diantar dengan selamat ke salah satu tempat.” kata George membantah. karena capek bekerja!” Siang itu giliran Julian menjaga dalam kebun. “Jangan salahkah aku. Dengan seketika ia tahu. Kadang-kadang hal itu terjadi. ketika anak itu datang untuk menggantinya berjaga.” “Sudahlah. bunyi apa itu. Ia duduk sambil membaca buku di bawah pohon. peti itu berisi surat-surat yang mungkin akan merupakan petunjuk tentang batang-batang emas yang diangkat oleh kapal yang bernasib sial itu.

Tiba-tiba sepotong kayu tutup peti yang pecah terjatuh ke lantai. Satu di antaranya terbuka sedikit. untuk menghilangkan karat. Julian bangkit. “Kelihatannya nyenyak sekali tidurnya. “Dan peti ada di belakangnya. Ia nyaris tak berani bernapas. “Betul. sudah terdengar lagi bunyi dengkurnya yang teratur.“Itu suara Paman Quentin mendengkur!” katanya. lalu membuka matanya. Sesudah sibuk selama tiga perempat jam. Tetapi George pantang menyerah! Tutup itu dikorek-koreknya dengan pisau saku. sementara ia menajamkan telinga untuk meyakinkan. Dengan hatihati diambilnya peti. Ayahmu terbangun karenanya!” “Ya ampun!” seru George.” Dengan tidak menimbulkan bunyi sedikit pun.” pikir Julian. Paman sudah tertidur! Kucoba saja sekarang.” Memang benar. Kalau sampai ketahuan. “Bunyi apa itu?” terdengar suara Paman bertanya pada diri sendiri. di atas meja. “Hore!” Kata Julian girang. Tetapi tentu saja hanya dalam hati. sedang matanya tertutup rapat. sampai hampir saja mereka tak berhasil membuka. Ia ingin selekas-lekasnya mendatangi anak-anak yang menunggu dan menunjukkan hasilnya! Ia berlari ke pantai. pasti aku akan dipukul. Kurasa ayahmu sama sekali tak mengapa-apakannya. Beberapa saat setelah itu. Mulutnya agak terbuka. Paman menggeliat. Peti dipegangnya erat-erat. Syarafnya menegang. akhirnya berhasil juga dibuka tutup itu. Paman masih mendengkur terus. Hati mereka berdebar-debar melihat peti yang ada di tangan Julian. “Ayahmu tertidur. dengan tidak bergerak sama sekali. “Kemudian aku lekas-lekas lari. Kotak timahnya masih utuh. Anak itu berjingkat-jingkat menuju ke meja yang letaknya di belakang kursi besar tempat Paman tidur. Sambil berjingkat-jingkat. menyelinap masuk lewat pintu serambi untuk mengambil peti!” Julian mengendap-endap ke pintu-pintu serambi. “Lalu. “Dia sudah pulas lagi. Ia tak bermaksud menyembunyikan peti itu.” ujar Julian. Paman tertidur! Terdengar bunyi dengkurnya setiap kali menarik napas. “He — aku berhasil! Aku berhasil!” Ketiga anak yang sedang berbaring di pantai duduk dengan serempak. Dengan penuh perhatian anak-anak memandang ke dalam. Sewaktu peti kuangkat. “Lalu aku menyelinap masuk. apa yang terjadi sesudah itu?” “Aku bersembunyi di balik kursinya. Paman merebahkan diri kembali ke sandaran kursi. ia ke luar lalu lari melewati jalan kebun.” katanya pada George. sampai ia tertidur kembali. Julian merebahkan diri ke pasir sambil tertawa meringis. sepotong kayu terjatuh ke lantai. Dilihatnya Paman duduk tersandar di sebuah kursi besar yang empuk. lalu memejamkan mata. Secepat kilat Julian bersembunyi di belakang kursi besar. Julian tetap merunduk. Sudahlah. “He!” serunya dari jauh. Mereka melihat sejumlah kertas tua . Sekarang kita periksa saja apa isi peti ini. Julian menguakkannya sehingga menganga lebih lebar lagi. apa boleh buat bila hal itu sampai terjadi!” Julian menyelinap masuk. Mereka tak ingat lagi pada orang-orang lain yang juga ada di situ. Tutupnya terpasang rapat sekali. walau sudah karatan karena bertahun-tahun terendam dalam air asin. di mana George dan kedua adiknya sedang berbaring di pasir sambil menjemur badan. Sebaiknya kucoba saja.

Mulutnya membuka dan menutup beberapa kali. kata-kata berhamburan ke luar. ditulis dengan huruf-huruf kuno. dan sudah kuning warnanya karena tua. Ia mengibas-kibaskan ekor dan mendatangi keempat anak itu satu per satu. kenapa kita .” katanya kemudian. “Coba kita bisa menemukannya!” katanya dengan suara berbisik. Kertas itu terbuat dari perkamen. “Tulisannya hampir-hampir tak dapat kubaca. “Apa artinya? Aku belum pernah mendengar kata itu. Di tempat yang ditunjuk oleh George tertera sepatah kata aneh. lalu duduk memperhatikan. maka kelihatannya kata itu di sini memang berarti emas batangan. “Ini buku catatan kakek dari kakekmu. Ia menatap anak-anak dengan mata bersinar-sinar. Ini peta Puri Kirrin.” kata Julian dengan heran.” Tetapi kedua abangnya tahu. lihatlah Tim. Kasihan dia!” kata George. Badannya gemetar karena menahan perasaan yang hendak meluap-luap. George menghamparkannya ke pasir.” jawab Julian. “Ingot berarti emas batangan. batang-batang emas akan berhasil kita temukan. ketika masih utuh. supaya bisa melihat lebih jelas. “Apa yang terjadi? Kau jadi bisu ya?!” George menggeleng. Wah! Bayangkan. “Julian! Kau tahu ini gambar apa? Ini peta puri tuaku. Tetapi tangan George yang memegang peta tiba-tiba gemetar. “Aduh. Nampaknya seperti sebuah peta.dan semacam buku bersampul hitam. Anak-anak mencondongkan tubuh mereka ke depan. “Masakan kau tak mengetahui artinya?! Bagaimana pelajaran bahasa Inggrismu. Kata itu adalah: INGOTS ”Ingots!” kata Anne heran. Cuma itu saja isinya.” kata Julian. Tak ada harta di dalamnya. Dan juga sudah penuh ditumbuhi semak belukar. Tetapi sekali itu tak ada yang sempat memperhatikannya. Tetapi mereka tak berhasil mengetahui maknanya. karena purimu sudah tinggal puing saja lagi. “Semuanya kering.” “Semua logam dalam bentuk batang disebut begitu. barangkali saja logam mulia itu masih tersembunyi di salah satu tempat di bawah runtuhan Puri Kirrin. “Coba kita berhasil menemukannya!” “Kita cari saja. George! Bayangkan saja — asyik kan?!” George mengangguk. Tim sama sekali tak mengerti. lalu dibukanya. Dan lihatlah! Coba kaubaca tulisan di pojok gambar ruang-ruang ini!” George menunjuk dengan jari gemetar ke salah satu bagian dalam peta itu. Sesudah beberapa saat ia lalu duduk agak jauh sambil membelakangi anak-anak. “Ada apa?” tanya Julian ingin tahu. Sama sekali tak ada batang emas. tetapi tak terdengar suaranya ke luar. Ketika sudah bisa bicara lagi. “Tapi karena kita mengetahui bahwa dalam kapal tua dulu ada emas. Dan dalamnya tertera ruang-ruang di bawah tanah. “Pasti pekerjaan itu akan sangat sukar.” Diambilnya buku bersampul hitam. “Ia tak bisa mengerti.” kata Julian membetulkan keterangan itu. Anak-anak merasa agak kecewa. Kupingnya terkulai. Begitu kecil dan aneh!” George memungut selembar kertas yang terletak dalam peti. Anne!” seru Dick. “Mungkin itu peta dari suatu tempat yang harus didatangi olehnya. Emas! Emas-emas!” Tim bingung melihat anak-anak ribut bersorak-sorak. Mukanya merah karena gembira. Ketiga saudaranya turut meneliti. tentang pelayaran kapalnya. Rupanya bungkus timah mengawetkan semuanya. Tetapi biar bagaimana. “Sama sekali tak terasa lembab.

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Julian. Tak lama kemudian ia kembali. Tapi jika peta ini kita bawa ke puri dan dipelajari lagi di sana. karena dulu merupakan sel-sel tempat mengurung orang. “Saat ini kelihatannya masih membingungkan bagi kita.” Anak-anak menyetujui usul itu. aku bisa menerima pukul enam. bagaimana caranya bisa masuk ke bawah tanah. “Barangkali ayahmu masih tidur. Pasti menyeramkan. Ia masuk ke kamar makan untuk minum teh bersama keluarga.” Julian menyimpan salinan peta dalam kantong celana jeannya. Tim. “Astaga! Peta ini tak boleh sampai sobek!” kata Julian. “Bagian yang ini menunjukkan ruangan-ruangan yang di bawah puri. “Rupa-rupanya bangkai kapal tua itu sangat menarik perhatian orang banyak. Julian dan Dick juga tidak banyak bicara. Maksudku. Anne sama sekali tidak membuka mulut untuk ngomong. Diletakkannya kaki depannya yang besar itu ke atas peta harta. dan membuka rahasia mereka. Setelah minta ijin. Bibi Fanny bangkit untuk menerimanya. karena tak ingin ada orang lain melihat.” “Supaya aman. “Dengan begitu peta aslinya bisa kita kembalikan. pasti ayah George akan merasa kehilangan.” Tetapi Paman Quentin sudah bangun. Mereka melakukannya dalam gudang peralatan. atau tentang peti harta. “Bagaimana kalau sekarang saja kita kembalikan?” katanya. Di bawah tanah terdapat ruangan-ruangan.” “Katakan pada mereka. kita mempunyai rahasia yang paling asyik!” Tim meloncat bangkit dengan buntut mengibas ke kanan kiri. Tiba-tiba telepon berdering. karena terbagi dalam tiga bagian. sini anjingku yang manis. “Yang ini merupakan denah lantai dasar — sedang yang ini merupakan bagian paling atas. Ia sangat kuatir akan terlanjur kata. Selama makan. Untung saja ia tak memperhatikan bahwa peti tidak ada lagi di tempatnya. dikejapkannya mata ke arah anak-anak. George.” “Peta ini harus kita pelajari dengan lebih seksama. dan tak kepingin kena marah olehnya. karena belum memeriksa.” Denah adalah gambar letak ruangan-ruangan dari sebuah bangunan. Semuanya takut pada Paman Quentin. Anak-anak saling berpandangan dengan perasaan kecut. ia cepat-cepat ke luar lalu mengembalikan peti ke meja di belakang kursi tempat Paman tidur tadi! Ketika ia kembali. Peta itu ganjil. Ia memandang ke arah rumah.begini gembira. Mudah-mudahan saja Paman tidak menunjukkan peti kepada para wartawan itu. Ia merasa senang.” kata Julian. Seketika itu juga anak-anak berseru-seru melarangnya. asyik benar tempat ini jaman dulu. Jadi kita harus mengembalikannya. Tim. Kau sama sekali tidak kena marah. Kemudian dipandangnya anak-anak dengan kening berkerut. Mereka kuatir rahasia emas yang tersembunyi akan terbongkar! . Ada beberapa wartawan dari London yang ingin menanyakan beberapa hal mengenainya padamu. lalu menjiplak peta dengan secermat-cermatnya. Mereka kembali ke Pondok Kirrin. “Dia kan tak mengetahui isi peti. “Bukan main. George. Ia bermaksud akan menyimpannya baik-baik. Wah. karena kembali mendapat perhatian.” “Bagaimana jika peta ini kita tahan?” kata Dick mengusulkan. Mereka merasa lega. Sedang yang lain-lainnya tak begitu penting — karena cuma catatan tua serta beberapa lembar surat. maka mungkin akan berhasil kita ketahui jalan untuk pergi ke ruangan-ruangan yang tersembunyi di bawah tanah. Baik tentang Tim. Sedang peta asli ditaruhkannya kembali ke dalam peti. Peta itu sangat berharga.” kata Paman. “Untukmu. bukan main! Kurasa tak ada anakanak lain yang bisa mengalami kejadian menarik seperti ini. kita salin saja peta ini. Quentin.” kata George. “Apa yang harus kita lakukan dengan peti itu.” kata Julian. Aku kepingin tahu. lalu peti ditaruh lagi ke tempat semula.” katanya pada Paman.

Ibu sendiri yang mengatakannya.” “Asal jangan ada orang yang mendahului. Lalu kita ke Puri Kirrin dan menemukan emas yang hilang. Para pelancong dari berbagai tempat berduyun-duyun datang untuk melihatnya. Puri Kirrin juga menjadi perhatian orang banyak. Anak-anak heran sekali. George menangis karena marah. George. karena sebelumnya sudah terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan! Paman Quentin menjual peti . Para nelayan berhasil menemukan teluk kecil yang tersembunyi. Kita menunggu dulu sampai kegemparan sudah mereda. Ia jengkel pada dirinya sendiri karena menangis. sebelum terlihat orang lain!” Tetapi ternyata Julian tidak mendapat kesempatan yang ditunggu-tunggunya itu. “Dan Pulau Kirrin kepunyaanku. Ibu sudah bilang dulu!” “Aku juga tahu.“Untung saja peta itu sempat kita jiplak. Ibu bilang. jika orang-orang berdatangan untuk melihatnya? Kau toh tak bisa menghalang-halangi mereka. “Pakailah otakmu. anakku yang manis. Beberapa dari wartawan itu bahkan berhasil pergi ke Pulau Kirrin dan membuat foto-foto puri tua di sana.” kata George sambil menyeka air mata. Janganjangan ada orang lain yang akan menebak rahasia kita!” X TAWARAN YANG MENGEJUTKAN KEESOKAN harinya surat kabar penuh dengan berita-berita tentang kapal tua itu. dan mendaratkan para pelancong di situ.” ujar George dengan wajah cemberut. George sangat marah karenanya. Para wartawan berhasil mengorek cerita dari Paman. “Aku yang memilikinya.” kata ibunya. “Itu puriku!” amuknya terhadap Bibi Fanny. “Bagaimana mereka bisa menemukannya?” kata Julian. karena sangat besar minat yang ditimbulkan oleh bangkai kapal yang terangkat oleh angin ribut itu. George! Belum ada orang yang mengetahui rahasia kita. “Tapi aku menyesal juga. Pulau itu takkan rusak karena didatangi orang. Julian berusaha membujuk.” ujar Bibi Fanny. Dan kapal tua itu kepunyaanku. “Selama ini belum ada orang yang melihat isi peti kita. “Tetapi kau tak boleh marahmarah seperti itu. yang terangkat dari dasar laut secara luar biasa. tentang kapal yang karam dan tentang batang-batang emas yang hilang. tetapi kenyataan itu tak mengurangi kemarahan George. aku boleh memilikinya.” Memang betul. dan puri juga takkan apa-apa jika dipotret. Apalah salahnya. Aku sekarang sedang menunggu-nunggu kesempatan baik. Dan karenanya. Tetapi sekali itu ia tak dapat menahan air matanya lagi.” kata Julian sesudah selesai makan dan minum.” “Tapi aku tak mengijinkan.” “Dulu kan aku tak tahu bahwa kapal itu akan terangkat ke atas. kenapa peta yang asli kita kembalikan ke dalam peti. “Dengarlah. George. Aku hendak mengeluarkan peta dari dalamnya.

sebelum orang lain mengetahui rahasia kita. “Wah. Aku yakin. Benar-benar beruntung aku kali ini! Hasilnya bahkan melebihi pembayaran yang mungkin kuterima dari hasil penjualan buku karanganku. Paman muncul dari kamar kerjanya dengan wajah berseri-seri. Namun rahasia itu begitu berharga dan sangat mengasyikkan! Mereka tak ingin ada orang lain ikut mengetahui. orang yang datang tadi adalah seorang pengumpul benda-benda aneh serupa itu. “Kau masih ingat pada peti tua berlapis timah yang diambil anak-anak dari bangkai kapal? Nah. kita menerima penawaran baik! Ada orang kepingin membeli Pulau Kirrin. dalam beberapa hari mendatang takkan ada lagi pelancong yang akan masih datang. Begitu orang itu melihat peta tua dan buku harian yang terdapat di dalamnya. Ia berniat memugar puri untuk dijadikan hotel. Nah. Kelihatannya sedang gembira. Mereka sudah mempertimbangkan. keempat anak itu sibuk membicarakan persoalan yang serius itu. apakah sebaiknya menceritakan rahasia mereka kepada Bibi Fanny. apakah mereka boleh menginap akhir pekan itu di puri. “Ada perlu apa?” “Kami ingin menanyakan sesuatu pada Bibi. begitu pula sebuah rakit untuk mereka. perasaan menjadi lebih enak. Begitu mereka mengadakan rencana untuk bertindak.” Anak-anak menatapnya dengan kaget. “Sekarang begini saja!” kata Julian pada akhirnya. karena tak ada yang diperbuat. Ketika mereka sudah sendiri. Bahkan mungkin orang yang membeli peti itu sama sekali tak mengira bahwa peta yang ada di dalamnya adalah gambar Puri Kirrin. Kalau diperbolehkan. sewaktu Paman sedang tidur. Peti itu dijual oleh Paman! Sekarang pasti ada orang yang akan meneliti peti itu.” katanya pada isterinya. “Kita meminta ijin pada Bibi Fanny agar diperbolehkannya pergi ke Pulau Kirrin dan menginap sehari dua hari di sana. Bolehkah kami menginap di Puri Kirrin akhir pekan ini? Kami ingin tinggal di sana sehari dua hari. dan berhasil menarik kesimpulan tentang arti kata ‘ingot’. bisa saja. Sebelumnya mereka lesu. Kami betul-betul sangat kepingin!” “Bagaimana pendapatmu. Pulau Kirrin hendak dijadikannya tempat berlibur. Sehari dua hari setelah kegemparan pecah tentang kapal tua. Quentin!” tanya Bibi sambil berpaling memandang suaminya. Mereka akan membawa bekal makanan sebanyak-banyaknya. Paman bahkan berjanji akan membeli jela baru untuk menangguk udang. cuaca hari ini sangat cerah.” Anak-anak menjadi agak gembira. dengan segera ia mengatakan mau memborong semuanya. Ketika mereka mendatangi Bibi Fanny untuk minta ijin. Dia mungkin akan marah-marah lagi jika mendengar bahwa Julian mengambil peti dan membukanya. “Kalau mereka kepingin. Peti itu dibelinya dengan harga mahal. Kisah tentang emas yang hilang sudah dibeberkan dalam semua surat kabar. Anak-anak tak berani menceritakan hal yang mereka ketahui kepada Paman Quentin. ada utusan!” kelakarnya. Tetapi sifat Paman cepat berubah-ubah. . jika mempelajarinya dengan cermat. dan acara mereka pasti akan menyenangkan. “Aku baru saja mujur. “Bibi. kita akan mendapat kesempatan barang sedikit untuk melihat-lihat dan berusaha menemukan emas itu. Cuaca sangat cerah. Memang.tua itu pada seseorang yang biasa membeli barang-barang antik. Barangkali saja kita akan berhasil menemukan jalan ke ruangan bawah tanah.” jawab Julian dengan sopan. Jadi takkan mungkin ada orang yang tak mengetahui makna peta itu. Anak-anak. Julian bahkan ditepuk-tepuk punggungnya sambil tersenyum-senyum. Mereka memutuskan untuk menanyakan pada Bibi Fanny besok.” kata Paman. “Dalam waktu dekat mereka toh tak bisa lagi. bagaimana pendapat kalian?” Keempat anak itu cuma bisa memandang Paman Quentin yang tak henti-hentinya tersenyum. kebetulan Paman Quentin ada di situ. sekarang dia tersenyum-senyum.

Mereka kaget sekali. Ibumu yang memilikinya. “Terapi keadaannya sekarang sudah lain. George tak memahami sifat orang-orang dewasa. ketika kusangka keduanya sama sekali tak ada harganya.” “Aku tak kepingin barang-barang bagus!” jerit George yang malang. “Pulau itu bukan benar-benar milikmu. bermacam-macam benda yang bagus-bagus akan bisa kaupunyai. “Janganlah setolol itu. Ibu kan tahu! Aku percaya pada kata Ibu waktu itu. “Ibu!” serunya marah.” kata ayahnya dengan marah. dan memugar puri untuk dijadikan hotel. Dan dengan sendirinya Ibu ingin menjualnya. Ayahmu mendapat penawaran harga yang sangat baik! Jauh lebih baik dari perhitungan kita. memang maksud Ibu waktu itu kau boleh memilikinya sebagai tempat bermain-main.” jawab Paman. Kalau pulau sudah terjual. Tetapi kurasa . Paman?” tanyanya tenang. Tak ada gunanya menentang mereka. George keluar dari kamar. Ada orang yang hendak membeli pulau mereka! Mungkinkah rahasia mereka telah terbongkar? Mungkinkah orang itu mau membeli puri karena telah melihat peta.” “George sayang. “Pulauku dan puriku merupakan milikku yang paling bagus. George terlalu sungguh-sungguh menghadapi segala hal. juga bisa! Tetapi Paman Quentin tak mengetahui bahwa di pulau itu mungkin tersimpan harta berupa emas berbatang-batang. sebaiknya cepat-cepat sajalah! Karena mungkin jika sudah dijual. Matanya menyala-nyala.” Dengan terhuyung-huyung. tindakan begitu tidak — tidak layak!” “Cukup. Apakah sebaiknya Paman diberitahukan? Tetapi akhirnya ia memutuskan untuk tidak melakukannya. “Aku sendiri juga agak heran mulanya. Ibumu dulu tidak sungguh-sungguh memberikannya padamu. mereka bisa saja! Bila hendak dijual. Tetapi kau juga tahu bahwa uang yang akan kita peroleh bisa ikut kaunikmati. bisa!” “Aku tak mau sedikit pun dari uang itu!” kata George dengan suara serak. kalau bisa! Kita sangat membutuhkan uang. Julian memandang pamannya sambil berpikir-pikir. Kau membeli apa saja yang kauingini. Kau sendiri juga mengetahuinya.” ujar Bibi dengan bingung. “Jadi jika kalian sungguh-sungguh ingin menginap sehari dua hari di sana. Georgina. apakah dia orang yang membeli peti tua?” tanya Julian lagi.” jawab Paman.” “Jadi pulau hanya Ibu berikan padaku ketika menyangka tak ada harganya sama sekali. “Betul. Menurut pendapat Julian. lantas diambil kembali. Ibu pernah bilang bahwa aku boleh memilikinya.” “Yang hendak membelinya. “Kalian tak bisa menjual pulauku! Kalian tak bisa menjual pulauku! Aku tak mau mengijinkannya!” Kening Paman berkerut. mungkin mereka berempat berhasil lebih cepat menemukan emas itu! “Kapan pulau itu akan dijual. “Kalian akan menyesal menjualnya. Itu kan jahat! Menurut pendapatku. Anak-anak yang lain merasa kasihan padanya. Kau masih anak kecil. Georgina. “Tetapi begitu ternyata berharga.” ujar George. Ibu! Ibu kan tahu sendiri. karena orang dewasa toh akan berbuat semau mereka. Siapa tahu. “Ibumu mengikuti nasihatku.” katanya. Ia cuma ingin menyenangkan hatimu saja. Mereka bisa membayangkan perasaannya. Jika mereka bermaksud hendak mengambil pulau dan puri milik George. dan tahu bahwa di situ tersembunyi emas sejumlah besar? Napas George tersentak. kalian tak diijinkan lagi datang ke sana oleh pemiliknya yang baru. Yang kuherankan adalah bahwa dia mendapat gagasan untuk membeli Pulau Kirrin. Jadi kita akan rugi jika tawaran itu sampai ditolak. “Surat jual belinya akan ditandatangani minggu depan. Mukanya pucat karena marah. karena kukira dia hanya membeli barang-barang antik saja.

dan ditemukannya dalam gudang peralatan. Aku sendiri bukan pengusaha. Air matanya mulai berlinang-linang. George tersenyum lebar. “Itu kan hanya karena perasaanmu sedang kacau. Dengan jengkel George mengejap-ngejapkan mata. Ayo. Kita akan berusaha keras untuk menemukan jalan turun ke ruangan di bawah tanah. Julian pergi mencari kedua adiknya. . “Menurut perasaanku. Sekali itu saudara sepupunya tak menepiskan lengannya. sebetulnya bukan begitu. dia pasti tahu. Katanya ia merasa tak enak badan. berusaha melenyapkan bukti tangisnya. Romantis rasanya tinggal di pulau kecil seperti itu. Ia masih marah terhadap orang tuanya. kejadian ini gawat sekali!” Julian mencari George.” George agak berkurang sedihnya. Mereka gembira melihat Julian beserta George. Tetapi perasaannya menjadi agak enak.” kata Julian. George merasa terhibur. “Tentu saja Tim!” kata Julian.” pikir Julian dalam hati sewaktu ke luar bersama Dick dan Anne. Dick dan Anne kelihatan bingung. Aku takkan mau menanamkan modal pada suatu tempat seperti Pulau Kirrin. jika mereka sangat membutuhkan uang maka bodohlah untuk tidak menjual sesuatu benda yang menurut perkiraan mereka tak ada harganya. aku tahu apa yang akan kuminta!” “Apa!” tanya George ingin tahu. Hanya Paman yang malang itu saja yang memandangnya luar biasa tinggi. Dan Tim akan diajak serta. orang tuaku tidak baik hati. Kalau aku jadi engkau. karena membayangkan akan menginap sehari dua hari di Pulau Kirrin. bergembiralah sedikit. serta menemukan emas yang hilang.” katanya.” “Ya. “Bagaimanapun juga. Mukanya pucat seperti tak berdarah. Wah. Untung peta itu sudah kita buat jiplakannya. Kita takkan pulang sebelum berhasil. “Ah. Orang itu sama sekali tak bermaksud hendak membangun sebuah hotel.mengusahakan hotel di situ akan mendatangkan untung besar. dan mencapai kesimpulan sama seperti kami. Mendengarnya. Tetapi kurasa dia tahu apa yang diperbuatnya. Dan lagi ayahmu kan sudah mengatakan bahwa kau boleh meminta apa saja yang kauingini.” ujar Julian. Ia mengejar harta yang tersembunyi! Kurasa penawaran yang diajukan pada Paman Quentin rendah sekali. “Kita tak boleh putus asa. Tamu pasti akan datang berbondong-bondong. George dirangkulnya. Dan dia berniat untuk mengambilnya. George!” ujar Julian. Ternyata mereka menunggu dalam kebun. “Besok kita ke Pulau Kirrin. “Dia sudah melihat peta. karena kami memerlukan bantuanmu merencanakan segala-galanya. Emas yang hilang tersimpan di salah satu tempat di pulau itu. lalu lari menyongsong. Dadanya terasa menjadi lapang seketika itu juga! XI BERANGKAT KE PULAU KIRRIN BERSAMA George.

Siapa tahu. “Kurasa aku akan lebih ramah. tentunya kita juga harus menggali.” “Wah!” ujar Anne. “Dalam ruangan bawah tanah pasti gelap.” kata Dick dengan segera.” “Dan lampu-lampu senter.” Julian menuliskannya. “Sekop. George. Sudah itu dipandangnya anakanak. “Aku sedih mengingat pulaumu dijual. mungkin akan diperlukan!” Setelah sibuk selama setengah jam. “Untuk apa?” tanyanya. “Selimut-selimut wol.” katanya.” katanya.” sambung George. “Mungkin kita akan memerlukannya. “Bahan makanan. dan tawar airnya.” kata Julian. Ketiga saudaranya memperhatikan. malam hari pasti dingin. Kita mulai saja sekarang.” pikir George sambil menatap kepala Julian yang sedang tunduk.Anne menggenggam tangan George erat-erat. jika tidak sendirian saja selama ini.” kata Julian sambil menulis.” ujar George. Ia tak bisa merajuk lama-lama jika sedang bersama mereka. takut bercampur senang membayangkan petualangan di tempat gelap. Tetapi ketiga saudara sepupunya begitu tenang dan berkepala dingin. Ia agak merinding. Aku senang sekali pada saudara-saudara .” “Jadi makanan — dan minuman. lalu menuliskan kata itu.” kata Dick. George mulai lupa akan kemarahan dan kekecewaannya. tersusun daftar yang panjang.” kata Dick menambahkan. “Di pulau tak ada air. karena kita pasti akan merasa lapar. “Banyak gunanya membicarakan persoalan yang dipikirkan dengan teman. “Kalau kita tidur dalam kamar yang kecil itu. “Aku juga.” Ia mengambil pensil dan sebuah buku catatan. “Kita juga akan membawa seperangkat perkakas. Anne memandangnya dengan heran. Kalau saat itu ia sendirian dan terus-menerus memikirkan kejadian yang baru lewat. “Aku tadi berbuat seperti anak perempuan.” ucapnya bersungguh-sungguh. Keempat anak itu merasa senang dan asyik. “Kita harus menyusun daftar barang-barang yang diperlukan di sana. Mereka tetap riang. “Memang dasar sedang sial!” George tersenyum malu. “Tali. “Kita berangkat besok pagi. “Kalau kita mencari jalan ke bawah menuju ruangan bawah tanah. “Harus banyak sekali.” katanya. Rasanya menjadi biasa dan lebih bisa dipikul.” “Minuman. “Mangkuk-mangkuk untuk minum. Dulu kabarnya ada sebuah sumur yang permukaannya lebih rendah dari permukaan laut.” katanya. Tapi aku tak pernah berhasil menemukannya. Dengan begitu persoalannya tak terasa sangat gawat lagi.” Julian menceritakan rencana yang telah dibuat kepada kedua adiknya.” kata Dick. maka pasti ia akan semakin marah dan merajuk. “Tapi aku sungguh-sungguh kaget.

“Bukan salahmu bahwa kau anak tunggal.” Sekali itu lama sekali George berpikir. Tim pandai berenang. Ibu baik budi. Aku senang. Menurut perasaanku. Aku kepingin seperti mereka. “Petanya kaubawa?” tanya Dick tiba-tiba. Aku senang bahwa mereka datang.” jawab George. Keempat anak itu berteriak kaget. Dengan cemas anak-anak memeriksa. Mukanya menjadi merah. Mereka selalu riang dan baik hati. dengan jalan membacakan daftar dan mencocokkannya dengan barang-barang yang terkumpul. Sebelumnya Julian masih memeriksa. Tim berenang kembali ke perahu. . “Aku memang berganti celana jean pagi ini. tambahan lagi kuat dan tangkas.” katanya. Ia juga mendengar dan memahami teriakan-teriakan kaget yang terlontar dari mulut keempat sahabatnya. Aku lain dengan saudara-saudara sepupuku. kita jemput Tim dan mengajaknya berjalan-jalan. Anak-anak kagum melihatnya! George menariknya naik ke perahu.” Sekali lagi muka George menjadi merah. Anak-anak sependapat dengannya.sepupuku. Karena mereka. Aku kepingin seperti kalian. Peta mereka yang berharga! “Cepat kejar!” seru George sambil memutar haluan perahu. sehingga anak-anak terciprat air. Ini dia!” Peta dikeluarkannya — dan langsung disambar angin! Peta itu jatuh ke laut dan terapungapung ditiup angin. “Ayoh. Tim dihadiahi sepotong biskuit atas jasanya menyelamatkan peta. ke mana saja kita hari ini.” ujar Julian. Tampangnya kelihatan serius.” Mereka pergi bersama-sama.” “Kau anak yang sangat baik. pemarah dan galak. lalu mengambil kertas peta yang ada dalam moncongnya. Keesokan harinya mereka sibuk sekali. sehingga George tercengang dibuatnya. walau kertas itu basah. “Tapi jangan kuatir. Tetapi masih ada lagi yang lebih cepat dari dia! Tim melihat kertas ditarik angin dari tangan Julian. Kemudian mereka pergi berjalan-jalan. Julian meletakkannya ke tempat duduk supaya kering. Dick disuruhnya memegang. “Pasti dia sudah heran. Ia merasa senang. “Ah.” ujarnya. Nyaris tak nampak bekas gigitan pada kertas itu. Mereka mudah bergaul. kau seorang anak yang sangat menarik. tidak apa-apa. Tim terjun ke laut dan berenang mengejar peta. Nampaknya tak ada yang kelupaan lagi. Aku tak lupa menaruhkan peta ke dalam kantong. Julian tersenyum. Tim mengibas-kibaskan bulunya yang basah. jangan sampai tertiup angin lagi! “Nyaris saja rencana kita gagal. Kau dan adikmu baik-baik semua. “Aku sedang berpikir-pikir mengenai kalian. Aku ini perajuk. Tetapi Julian menjiplak dengan menekankan pinsil kuat-kuat.” katanya. Aku tahu sekarang kenapa aku dikatakannya anak yang repot. Dengan segera peta sudah berada dalam moncongnya. Tim menyongsong kedatangan keempat anak itu dengan gonggongan nyaring. Anak-anak tunggal jika tak berhati-hati memang selalu agak aneh. apakah ada garis-garis yang hilang kena air. Julian mendongak sebentar dan menangkap pandangan mata George yang terarah kepadanya. Julian mengangguk. Akhirnya mereka berangkat dengan perahu. “Apa yang sedang kaupikirkan?” tanyanya. George mulai mendayung kembali ke arah Pulau Kirrin. watakku berubah mendekati seharusnya. Jadi gambarnya tetap utuh. karena mereka selalu ngomong dan tertawa-tawa. Tak heran Ayah kurang senang terhadapku dan sering memarahi. sedang semua perbekalan disusun rapi di ujung perahu. dan setiap orang senang pada mereka.

sedang yang satu lagi di bawah menara itu. Ketiga saudara sepupunya mengagumi kemampuannya mendayung perahu mereka di sela-sela batu yang berbahaya. Semuanya dimasukkan ke kamar dalam puri.” kata Julian pada George dan Anne. untuk mengambil selimut-selimut. “Di sana aman. kita berangkat! Kau yang membawa sekop. Kita mempunyai waktu satu minggu. Menurut perasaan Anne.” George kelihatannya tak suka disuruh berkumpul dengan Anne.” kata Julian sambil mengeluarkan peta dari dalam kantong. lalu buah-buah prem yang matang. biskuit. “Perhatikanlah. karena dengan begitu ia digolongkan sebagai anak perempuan. Mereka membawa beberapa batang roti. Dick! Aku dan George mengangkut makanan dan minuman. Beberapa kali mereka harus meletakkannya sebentar untuk beristirahat. Kita harus mencari jalan masuk ke ruangan bawah tanah Ke marilah semuanya. “Dan kami berdua di sini. menginap di situ akan sangat mengasyikkan. George. dengan tidak terbentur barang sekali pun. “Barang-barang ini sebaiknya kita bawa ke kamar yang kecil. Kalau demikian. Nampak jelas.” kata George. Tetapi Anne tak mau tidur sendirian. “Kurasa itu memang tangga. nampaknya ada dua jalan untuk turun ke ruangan-ruangan bawah tanah.” jawab George. Mudah-mudahan saja tak ada orang ke mari selama kita ada di sini. sebuah ceret untuk memasak teh. Ia tidak jadi menyatakan keberatannya. Julian?” . Selama itu pulau ini belum menjadi milik pembelinya. dan tidak basah jika hujan turun. Perahu mereka tarik jauh ke darat. mentega. Tangga yang satu kelihatannya terdapat tak jauh dari kamar kecil ini. Sesudah itu mereka mulai menurunkan muatan.George mendayung perahu dengan cekatan melewati batu-batu karang.” “Kalau begitu kita tidak perlu mengatur penjagaan untuk mengawasi kalau-kalau ada orang datang. selai. Kertasnya sudah tak basah lagi. “Ayoh. Sedang Anne mengurus barang yang kecil-kecil. Kita harus berusaha sebaik-baiknya untuk menemukan tempat itu. “Peta ini harus kita pelajari baik-baik. Sebetulnya ia merasa baik sekali apabila seorang dari mereka menjaga di teluk kecil. baru seminggu lagi akan ditandatangani surat-surat perjanjian jual beli. Pokoknya segala macam makanan dan minuman yang teringat oleh mereka! George dan Julian terhuyung-huyung mendaki bukit dengan membawa kotak besar itu. Selimut-selimut itu diatur di pojok-pojok kamar.” kata Julian. Menurut pendapat mereka. Dan ini — menurut pendapatmu apa ini.” kata Julian. beberapa botol air jahe.” ujar Julian sambil menunjuk ke gambar denah ruangan bawah tanah. Perahu sampai ke teluk kecil dengan selamat. Dan ini — lalu ini — dan tanda-tanda yang rupa-rupanya tempat jenjang atau tangga. Anak-anak berlompatan ke pasir.” “Betul.” “Kurasa takkan ada. George makin hari semakin ramah. agar jangan hanyut kalau pasang naik sampai tinggi sekali. Kita harus memutar otak — dan mendahului orang yang membeli pulau!” Keempat anak itu memperhatikan gambar peta yang dijiplak dari yang asli. beberapa kaleng buah-buahan. sehingga anak perempuan yang lebih besar itu tersenyum. “Ini kelihatannya semua berada di bawah puri. “Nah. “Kata Ayah. karena anak-anak tak mau menderita kelaparan selama berada di Pulau Kirrin. sekarang kita membicarakan tujuan kita datang ke mari. di jaman dulu puri itu tempat yang benar-benar mengasyikkan. “Kalian berdua bisa tidur di atas tumpukan selimut sebelah situ.” Makanan dan minuman ditaruh dalam sebuah kotak besar. Dipandangnya George dengan penuh harap. Sesudah itu mereka kembali lagi ke perahu. untuk memberitahukan pada teman-teman jika ada orang datang.

Mereka harus berhasil dalam waktu sehari dua hari. kurasa itu sumur yang kaumaksudkan. Wah. Tak lama kemudian bilik kecil itu penuh dengan bunyi anak-anak mengeruk tanaman dari lantai batu. “Nah — di mana kita akan memulainya?” kata Dick. “Entahlah. untuk bisa . Anak-anak berloncatan bangkit. Ternyata lantai terdiri dari batu-batu pipih. Pekerjaan itu tak begitu sulit. Tahu-tahu nanti batu pun ikut melayang kaucakar.” ujar Julian sambil mengambil sebuah sekop. sekarang aku bisa menduga gambar apa itu! Kau ingat bahwa kau pernah bercerita tentang sebuah sumur tua yang ada di sekitar sini? Nah. “Tanaman liar ini harus kita singkirkan dengan sekop. Selalu ikut dalam setiap hal!” XII PENEMUAN-PENEMUAN MENARIK TAK lama kemudian lantai kamar itu sudah bersih dari tanah. “Ah ya. Mereka berpandang-pandangan. barangkali ada yang bisa diangkat. Wah George — Tim memang hebat. Julian melipat peta dan memasukkannya ke dalam kantong. lihat — begini caranya — dan sudah itu setiap batu ubin kita periksa!” Anak-anak mengambil sekop sebuah seorang. “Kau terlalu rajin bekerja. Ia memikir sebentar. asyik ya pekerjaan ini?” Saudara-saudaranya sependapat dengannya.George bertanya sambil menunjuk ke sebuah lubang bundar. Satu per satu batu diteliti dengan senter. Mereka mencari-cari. “Apakah kita akan mencari jalan masuk yang kelihatannya terdapat di dekat-dekat sini? Mungkin saja ada sebuah batu besar. Keempat kakinya mencakar-cakar lantai. “Kita mulai saja sekarang. yang bila kita angkat akan membuka jalan menuju ke ruangan bawah!” Kemungkinan itu menggembirakan mereka.mendapat air tawar dari dasar laut. “Mungkin kita akan menemukan sebuah batu besar dengan gelang besi terpasang dalam lekukan. dan anak-anak bekerja dengan kemauan bulat.” kata Julian. Lubang itu tidak saja nampak dalam denah ruangan bawah tanah. pasir dan rumput liar. Ukurannya semua sama besar. sebelum mereka bisa melihat apakah ada salah satu batu ubinnya yang kelihatan seperti bisa diangkat. tetapi juga di bagian lantai dasar Puri Kirrin. Tanaman liar berhamburan ke udara kena cakarannya! “Tim!” seru Julian sambil menepiskan segumpal tanah yang melekat ke rambutnya. Tanaman itu harus disingkirkan terlebih dahulu. Tim yang paling ribut. Ada sesuatu yang harus mereka temukan. Tetapi dugaannya meleset. Kalau begitu lubangnya juga melewati ruangan bawah tanah. Tetapi walau begitu ia ikut dengan rajin. Benarbenar mengecewakan! . Lantai batu kamar mereka diselimuti tanaman merambat. Mestinya sangat dalam. lalu menyambung. dan bentuknya persegi empat.” jawab Julian. Ia memandang berkeliling. Mereka merasa gembira dan tertarik. Ia sama sekali tak tahu menahu tentang pekerjaan yang sedang dilakukan. Semua batu sama saja wujudnya. Harus dikeruk — nah.

lalu menghilang pula.” Keempat anak itu ke luar. anak-anak berhenti untuk makan. melainkan meloncat-loncat bagaikan bermain-main. karena belum pernah melihat kelinci-kelinci sejinak itu. Telinganya besar sekali. “Lihat. Anjing itu diam saja ketika melihat kedua kelinci yang pertama meloncat-loncat melintasi pekarangan dan kemudian menghilang dalam liang. “Memang mengecewakan — tapi menurut pendapatku tempatnya bukan di sini. Kelinci itu sama sekali tak melihat ke arah anakanak. Sudah itu muncul kelinci ketiga. Perut mereka lapar sekali. sedang buntutnya kecil dan berwarna putih. kalau-kalau ada yang bisa digerakkan.” kata Julian. Tetapi hal itu mustahil. dan tidak lagi terletak mendatar. Mula-mula telinga kanan yang ditarik ke bawah. letaknya tak jauh dari sumur ini. Dengan sia-sia mereka mencari salah satu tempat yang mungkin merupakan lubang sumur tua. Sumur digambarkan di kedua denah. Kalau kita berhasil menemukan sumurnya dulu.” Karenanya mereka lalu mengukur sebaik-baiknya. Kita bisa memperkirakan. “Lihat! Ada kelinci!” seru Dick.” “Idemu bagus sekali. lalu menghilang dalam sebuah liang yang terdapat di seberang.Julian mencoba menyelipkan sekopnya ke celah-celah yang ada di antara masing-masing ubin batu itu. “Kelihatannya jalan masuk ke ruangan bawah tanah. Seekor kelinci berwarna keputih-putihan meloncatloncat dengan tenang melintasi pekarangan. Mereka semua meyakini bahwa yang dicari benar-benar ada di salah suatu tempat di bawah kaki mereka. Batu-batu pipih yang dulu merupakan alas pekarangan luas itu sekarang sudah pecah-pecah. Kelinci itu kecil. Jarinya menunjuk lubang yang mereka perkirakan merupakan gambar sumur. Sesudah bekerja keras selama kira-kira tiga jam. ke pekarangan yang cerah diterangi sinar matahari. Kemudian muncul seekor kelinci lagi. Anak-anak sangat tertarik. adanya kemungkinan bahwa batang-batang emas yang dicari bukan tersimpan di bawah puri. Tak terpikir oleh siapa pun di antara keempat anak itu. sedang rumput dan semak-semak bertumbuhan di mana-mana. Harapan sudah tipis sekali. Mereka mengukur letak pertengahan pekarangan. Anak-anak gembira sekali ketika kelinci kecil itu mengangkat kaki depannya dan mulai membersihkan telinga. Masakan mereka harus memeriksa seluruh lantai Puri Kirrin! Pasti akan memakan waktu lama. letaknya pasti sekitar pusat pekarangan yang di luar itu. Karena menurut denah. Kita ukur saja peta itu. agar bisa mengetahui dengan tepat di mana kiranya tempat tangga yang menuju ke ruangan bawah tanah.” kata Julian memuji. Walau begitu kita bisa mencobanya. Ia hendak memeriksa. Barangkali dengan jalan demikian kita akan bisa mengetahui di mana sebenarnya letak tangga. sesudah itu kita bisa mencari-cari sekitarnya. “Kelihatannya jalan masuk ke ruangan bawah tanah toh tidak terdapat di bawah lantai kamar ini. benar-benar merupakan godaan yang keterlaluan untuk anjing yang mana saja. Kelinci itu duduk sebentar dan memandang anak-anak. Pasir bertumpuk tertiup angin dari pantai. Setelah terukur mereka berdiri di situ. Tapi tentu saja ada kemungkinan ukuranukuran pada peta tidak tepat! Jadi tak ada gunanya sama sekali. Mereka merasa penting dan bersungguh-sungguh. “Kita pergi saja sekarang ke tengah-tengah puri. Semuanya kelihatan terpasang di tanah yang padat. lalu lari melesat . di mana letak sumur tua itu. Mereka bersyukur karena banyak makanan tersedia. Tetapi seekor kelinci yang duduk diam-diam di depannya sambil membasuh kuping.” kata George dengan tiba-tiba. karena denah ketiga lantai kelihatannya dibuat berdasarkan skala yang berbeda-beda. Mereka berdiri di pekarangan yang dulu pernah merupakan pusat Puri Kirrin. Julian menatap peta dengan bingung. Kebanyakan dari batu-batu itu tertutup pasir atau rumput. Tim mendengking. Hebat rasanya mencari-cari batang-batang emas yang hilang. Semua tempat di situ penuh dengan tumbuh-tumbuhan. Letaknya kurang lebih di tengah puri. Sambil makan mereka membicarakan persoalan yang hendak mereka pecahkan. Tim tak tahan lagi. sudah itu menyusul yang kiri. Tetapi ternyata tidak.

ke luar!” Tetapi Tim tidak ke luar. Tim harus diselamatkan! “Aku tak bisa diam saja mendengar suara Tim melolong-lolong minta tolong. dan dalam waktu singkat saja sudah mulai kelihatan gundul. Tim mengejarnya. Anjing itu lenyap. Dengan heran George mengintip ke bawah semak. Tim bertekad hendak menangkap kelinci itu. Ia belum pernah ditakut-takuti atau dikejar sebelumnya. Julian merasa bersyukur. “Julian — Tim hilang. Karena itu ia tetap duduk sambil memandang anjing yang datang memburu dengan matanya yang besar.” seru George kebingungan. Bagaimana cara kita mengeluarkannya?” “Pertama-tama semak ini harus kita gali sampai tercabut. Kau tahu aku sudah melarang. Suaranya terdengar agak takut. “Tim. ada anjing yang benar-benar masuk ke dalam sebuah liang kelinci. Ia pergi mengambil kapak. ia terus mengorek-ngorek lubang yang makin lama semakin membesar. Julian melongo. Suara Tim tak terdengar lagi. Kalau perlu dia akan menggali Puri Kirrin sampai terbongkar semuanya.” Semak itu terlalu lebat dan banyak durinya. karena membawa berbagai macam alat. Tim — kau selamat?” . Ayoh. Kemudian ia terjatuh ke dalamnya!” “Ya Tuhan.ke arah kelinci. Ketika akhirnya rubuh juga. George menyusul. Dari suatu tempat di bawah terdengar samar suara mendengking. sehingga anak-anak tidak bisa merangkak ke bawahnya. Ia terus saja mengorek-ngorek dengan giatnya. Anjing itu mengorek-ngorek tanah dan pasir dengan kedua kaki depannya yang kuat. “Dia kan tak mungkin masuk ke dalam liang kelinci itu? Badannya terlalu besar!” Anak-anak mengerumuni semak. maksudnya hendak mengambil anjingnya yang nakal itu. Ternyata Tim sudah tak ada lagi di situ. “Kau tak boleh memburu kelinci di sini. Yang kelihatan cuma sebuah liang kelinci yang besar. “Aneh! Belum pernah kudengar selama ini. tiba-tiba tanah dan pasir tak berhamburan lagi.” ujar George. Mereka berbekal sebuah kapak kecil. dan ikut menghilang ke bawah semak. ke mari!” seru George. Kelinci itu menghilang di bawah sebuah semak yang letaknya tak jauh dari tempat anak-anak berdiri. Tetapi kemudian kelinci itu berpaling lalu lari secepatcepatnya. Dengan giat anakanak menebas daun-daun semak itu. Terdengar bunyi dengking ketakutan. Tetapi sewaktu ia sudah dekat ke semak. tergali pula olehnya tanah yang menimbuni lubang sumur. Tetapi menebangnya memakan waktu agak lama.” kata George tegas. Rupanya Tim berusaha mengejar kelinci ke dalam liangnya. Julian menyorotkan senternya ke dalam lubang. tangan keempat anak itu penuh goresan kena duri. Sewaktu Tim sedang sibuk mengorek-ngorek liang untuk melebarkannya. Liang kelinci berada di sisi sumur. Sudah itu sepi. seolah-olah tak mendengar suara George memanggil-manggilnya. Sesaat lamanya kelinci itu tak bergerak. Seketika itu juga ia berteriak kaget. Alat itu memadai untuk dipakai memotong tangkai-tangkai dan batang semak yang menghalangi-halangi. Pokoknya. “Tim ada dalam liang itu!” serunya. yang semakin diperbesar oleh Tim. Sekarang mereka bisa melihat lubang di situ dengan jelas. “Aku tahu apa yang terjadi tadi! Ini dia sumur tua yang kita cari-cari. Seperti kemasukan setan. Kau nakal sekali. “Tim! Tulikah engkau? Ayoh. Ia mendengking-dengking karena bergairah. Buntutnya yang putih terayun-ayun mengikuti gerak larinya. karena batangnya kokoh dan liat. Sesudah itu anak-anak melihat pasir dan tanah berhamburan.

Dan setelah itu tanah dan pasir yang diterbangkan angin serta semak yang tumbuh melenyapkan sumur itu dari pandangan. ya! Tapi di pihak lain kau sudah berjasa pada kami. di tengah batu ada sebuah gelang besi. Sudah itu barangkali kita bisa mengulurkan seutas tali ke bawah. di mana Tim?” Disorotkannya senter ke bawah. Jadi tentunya inilah batu yang menutupi jalan . Dengan segera Julian bekerja dengan sekopnya. Atau bisa juga begitu dalamnya. Julian mengambil sebutir batu dan menjatuhkannya. Sama sekali tidak sukar pekerjaan menggali lubang yang cuma tertutup akar-akar semak. Batu-batu yang menonjol ditarik ke luar. lalu duduk untuk beristirahat sebentar. Dengan segera ia sudah sampai ke tempat Tim jatuh. sehingga bunyi batu jatuh ke air tak tertangkap oleh mereka! “Kurasa sumur ini sangat dalam. Kayunya begitu lapuk. Ia tak peduli apakah tangga itu kuat atau tidak. Kemudian anak itu naik lagi dengan pelan-pelan. apa yang telah terjadi dengan dirinya tadi. Tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu benda yang keras dan dingin. Tim melonjak-lonjak mengelilingi anak-anak sambil menggonggong-gonggong. Ia berbaring menelungkup sambil mengorek-ngorek pasir di depannya. Benarlah. “Kalau begitu. Tetapi mereka tak mendengar apa-apa. “Di sini ada sebuah batu. Benar-benar mengasyikkan! Ternyata Anne yang berhasil menemukan jalan masuk dicari-cari. Dalamnya terpasang sebuah gelang besi!” seru Anne dengan ramai. Di bawahnya nampak tutup dari kayu yang sudah sangat lapuk. karena berhasil menemukan sumur. George berhasil mengangkat anjing kesayangannya ke pundak. Caranya dengan kebetulan belaka. Anak-anak saling berpandangan. Di sisi lubang terdapat sebuah tangga tua yang terbuat dari besi.” ujar Dick. Sekarang kita tinggal mencari lagi sebentar.Terdengar suara mendengking jauh di bawah. Rupanya ia pun merasa lega! “Nah. Julian menyingkirkan tutup itu. Ia duduk sambil menengadah dengan ketakutan. Anak-anak kemudian bisa melihat ke dalam lubang sumur. Ia merasa capek. sambil memegang Tim dengan tangan sebelah. Kelihatannya sangat dalam dan sangat gelap. Rupanya Tim ada di suatu tempat di bawah tanah. Begitu menginjak tanah yang aman. Tak lama kemudian seluruh permukaan batu itu sudah bersih dari pasir dan tanah. Itu dia Tim! Rupanya ada sebongkah tembok yang dulu jatuh ke dalam sumur dan tersangkut di tengah lubang. Rupa-rupanya dulu ada sebongkah tembok yang besar dari menara jatuh ke tanah dan menutupi sebagian dari lubang sumur.” Mereka mulai menggali dengan sekop. Tahu-tahu George sudah menuruni tangga itu. Keempat anak itu menggabungkan tenaga untuk mendorong bongkah tembok ke samping. Rupanya tutup itu di jaman dulu dipakai untuk melindungi air sumur dari kotoran. “Lain kali jangan suka memburu kelinci lagi. sebelum menemukan jalan masuk ke ruangan bawah tanah!” Mereka melanjutkan kesibukan mencari. “Kita mengambil sekop kita sekarang juga. Kalau begitu mungkin sumur itu sudah tak berair lagi. Semua semak disodok-sodok dengan sekop. batu-batu tembok yang runtuh dan batu-batu kecil serta tanah dan pasir. lalu menggali tanah yang menimbuni sumur ini sehingga lubangnya terbuka sama sekali. Ketiga saudara sepupunya membantu menariknya ke luar. Entah dengan cara bagaimana. Anjing itu sama sekali tak mengerti. Sedang gelang seperti itu hanya dipasang pada batu yang bisa diangkat. Dan Tim terjatuh ke atas bongkah itu.” kata Julian. Tim. lalu turun untuk mengambil Tim. Dasarnya sama sekali tak nampak dari atas. Dengan cepat disingkirkannya pasir yang menutupi — dan ia memandang sebuah gelang besi! Anne berseru sehingga anak-anak menoleh ke arahnya.” ujar Julian. Saudara-saudaranya berlarian menghampiri. Tanah di bawahnya digali dengan harapan tiba-tiba akan berhadapan dengan sebuah lubang menganga. sehingga ketika tertekan kaki Tim langsung jebol. “Yah! Hanya ada satu yang bisa kita kerjakan. Anak-anak menajamkan telinga untuk mendengar bunyinya tercemplung ke air.

Batu itu bergerak kembali. Muka mereka bersinar-sinar karena gembira. “Kita sudah menemukan jalan yang kita cari. Anak-anak merasa agak seram dibuatnya. Tim lari ke lubang yang terbuka. Ia tahu yang terdengar hanya gema belaka. Seketika itu juga pertanyaan menggema makin lama makin nyaring. Sekarang kita mendatangi ruangan bawah tanah!” Jenjang batu itu sangat licin. Tetapi kedengarannya persis seperti suara orang-orang yang bersembunyi dalam rongga-rongga bawah tanah itu! “Di mana kira-kiranya emas itu?” kata Dick. “Mudah-mudahan saja udara di bawah segar. Akhirnya batu itu bergerak juga. supaya kita bisa naik ke atas lagi sebelum terjadi apa-apa. diikuti oleh George dan sudah itu Dick dan Anne. Anak-anak tidak bisa mengetahui dengan pasti. Mereka terlalu ingin melihat ke bawah. Sekali lagi mereka menarik dengan sekuat tenaga. Julian mendesah sebagai tanda ketegangan perasaannya saat itu. “Ayohlah!” seru Julian sambil menyalakan senternya. Seolaholah semua kelinci di seluruh dunia tinggal dalam lubang itu! Julian dan George bergegas bangkit dan lari ke lubang yang tadinya tertutup batu. Sambil menjengukkan kepala ke dalam ia menggonggong dengan ribut. Seolah-olah dalam tempat yang gelap itu ada makhluk hidup yang meniru-nirukan mereka. Kemudian Julian menambatkan seutas tali ke gelang. sehingga anak-anak berpelantingan ke belakang dan saling tindih-menindih. tetapi tak seorang pun yang mengatakannya. “Sekali lagi —bersama-sama!” seru Julian. Arahnya menurun ke dalam gelap. Ruangan Puri Kirrin yang di bawah tanah rupanya digali di tengah-tengah batu dasar pulau itu sendiri. sehingga tak ada yang sempat meributkan rasa aneh. Tangga itu ternyata cukup tinggi. Mereka berhasil menemukan jalan masuk ke ruangan bawah tanah. Di bawah kaki mereka nampak jenjang batu yang dipahat dari dasar pulau itu sendiri. lalu menyorotkan senternya ke sana ke mari. Dengan seketika perkataannya menggema kembali. Tim yang paling dulu turun. Hati mereka berdebar-debar semua. Anne tak tahan mencium bau itu. Desahan itu terpantul pada dinding-dinding ruangan dan menggema bertalu-talu. apakah sebelumnya di situ memang sudah ada rongga-rongga gua.” Tetapi walau mungkin ada anak yang merasa dirinya agak aneh. gelap dan di manamana terpantul gema suara mereka. lalu terangkat. “EMAS ITU — MAS ITU — MAS ITU — ASITU—SITU—ITU—ITUITUITU—” . “Aneh ya?” kata George setengah berbisik. Tetapi pokoknya semua kelihatannya penuh rahasia.” kata Julian. tetapi akhirnya mereka sampai juga di dasarnya. “Kadang-kadang ruangan di bawah tanah bisa berbahaya. Batu itu terangkat ke atas. Anjing itu terpeleset lalu berguling-guling jatuh di tangga. Julian menyusul ke bawah. serta berbagai macam harta karun bertebaran di bawah! Tangga yang terjal itu gelap dan berbau pengap. Mereka sudah mengharapkan akan melihat emas bertumpuk-tumpuk. atau semuanya merupakan hasil penggalian oleh tangan manusia. Mereka menjadi semakin bersemangat. Tetapi batu tetap tak bergerak sedikit pun. Ia merasa takut.masuk ke ruangan bawah tanah! Anak-anak silih berganti mencoba untuk menarik gelang besi itu. Keempat anak itu menarik tali sekuat tenaga mereka. “Aneh ya? — ANEH YA? — ANEH YA? — NEH YA? HYA? — Ya? YA — YAYAYA —” Anne memegang tangan Dick erat-erat. Kalau ada yang merasa aneh lebih baik cepat-cepat mengatakannya. Di depannya nampak pemandangan yang menakjubkan. Julian menjejakkan kaki turun dari anak tangga terakhir. Mereka berdiri di situ sambil memandang ke bawah. terdengking-dengking ketakutan. Hal itu terasa jelas oleh anak-anak.

” seru Dick tiba-tiba. “Ayoh. “Barangkali saja bisa kita rusakkan kayu sekitar lubang kunci ini. tahu-tahu pintunya tidak bisa dibuka. Sialan! Mereka menyangka sudah hampir berhasil. “Mungkin gema di situ tak segawat sini. Pada daun pintu ada lubang kunci. tetapi sia-sia. botol-botol kosong dan macam-macam benda lain. Tetapi walau di situ diberi tanda dengan jelas di mana ruangan tempat penyimpanannya.” “SINI. Kita selama ini keluar masuk ruangan.Julian tertawa mendengarnya. bau dan penuh rahasia!” . lalu kita dobrak. melewati lorong-lorong yang semuanya persis serupa — gelap. lihat ini. di belakang pintu terdapat ruangan tempat penyimpanan barang-barang. Anak-anak mendorongnya sekuat tenaga. tetapi umumnya kolong-kolong itu dipakai untuk tempat menyimpan barang. sehingga mereka tersasar.” ujar Julian. Tetapi ruang-ruang di bawah tanah itu luas sekali dan bercabang-cabang.” kata Julian. “Benar-benar menjengkelkan!” kata Julian akhirnya. Begitu pula banyak di situ potongan-potongan kayu lapuk. Benar-benar ajaib! “Ayoh. “He. Pasti itulah ruangan yang kita cari-cari! Tanggung di dalamnya ada emas!” XIII DI BAWAH TANAH EMPAT buah senter disorotkan sekaligus ke pintu kayu.” “Setuju!” seru George bergembira. Tetapi anak kuncinya tidak ada! Anak-anak menatap pintu dengan kesal. Sebetulnya ruangan-ruangan itu hanya berupa kolong batu di bawah Puri Kirrin. menuju ke tangga. “SINI—SINISINISINI!” Anak-anak masuk dan memeriksa ruangan terdekat. Ia merasa pasti. ruangan mana yang dipakai sebagai tempat penyimpanan emas. “Aku kepingin tahu. serta diperkuat dengan paku-paku besi yang besar. Ia berhenti melangkah. Diperhatikannya peta itu dengan bantuan sinar senter. kita mengambilnya. Julian berseru kegirangan dan lari mendekati. “Di sini ada pintu yang menuju ke ruangan lain. Tetapi ternyata pintu itu tertutup rapat. Mungkin saja di jaman dulu ada tawanan-tawanan malang yang terkurung di situ. “Aku benar-benar tak tahu lagi. lalu mengeluarkan gambar peta dari kantong. “Kita ambil kapak.” Anak-anak berusaha kembali ke tempat semula. Pintu itu besar dan kokoh.” kata Julian. tetapi ia tak tahu arah mana yang harus diambilnya. ke arah mana kita harus menuju untuk bisa sampai ke tempat naik ke atas. dan suara tertawanya juga langsung menggema. Kaki mereka tersandung-sandung pada tong-tong tua yang sudah pecah dan berserakan di lantai. kita masuk saja ke dalam.” terdengar gema suaranya.

Nampak olehnya samar-samar sinar terang di sela bongkah batu yang tersangkut di tengah-tengah lubang sumur. “Betul. di depan mereka tegak tangga batu terjal. sesudah sekian lama berada dalam ruangan bawah tanah yang dingin dan pengap. sebaiknya kita makan sore dan malam dulu. Saat itu di Inggris sedang musim panas. Seorang anak bisa menyusupkan badan lewat lubang itu. sehingga dari tempat itu pun masih belum terlihat dasarnya. Dan benarlah. “Aku tahu!” seru George tiba-tiba. Lega rasanya ketika sudah bisa lagi merasakan kehangatan sinar matahari yang memancar di atas ubun-ubun. tetapi tak terdengar bunyinya tercemplung ke air.” Asyik rasanya memasak air dengan api yang dibuat dari ranting-ranting kering.” usul Dick. dibantu sinar senter yang disorotkan ke sana ke mari. dan tegak dari langit-langit sampai ke lantai. sambil menyorotkan senter ke atas dan ke bawah. Julian memandang berkeliling sebentar. karena bunyi gedebuk pun tak kedengaran. karena dari sini bisa kulihat remang-remang sinar matahari. Di sebelah sananya ada sebuah lubang kecil. Julian berseru kaget ketika melirik ke arlojinya. “Rasanya aku seperti tak makan berbulan-bulan. “Aku juga selapar engkau. Mungkinkah di sini ada lubang. Julian kembali menjatuhkan sebutir batu. Begitu pula dalam denah tingkat dasar puri.” “Padahal waktu makan siang tadi kau menelan dua kali lebih banyak dari yang lainlainnya. Tiba-tiba Anne terpekik girang. “Sebentar lagi kita akan berhasil menemukan jalan ke luar. supaya tahu jalan bila turun kembali nanti. Ke atas batu itulah Tim tadi terjatuh. dalam denah dari ruangan bawah tanah tertera gambarnya.” katanya. Ia memandang ke atas. inilah dia — dinding sumur itu. “Sudah setengah enam sore! Sekarang sudah setengah enam sore!” serunya. Enak . Sumur itu dalam sekali. Nah. Ia sama sekali tak merasa yakin akan bisa berhasil menemukan pintu kayu itu kembali! Mereka naik ke atas. “Itu dia jalan masuknya. kita makan saja dulu! George. Bahkan di pertengahan musim panas. supaya juga bisa mengambil air dari ruangan di bawah tanah?” Anak-anak memeriksa sekeliling dinding sumur itu.” kata Anne dengan murung. karena begitu lama berada di bawah tanah. “Ayohlah. Anak-anak silih berganti melakukannya. “Kita tak sempat makan sore dan minum teh tadi. Eh! Apa ini —” Anak-anak berhenti berjalan.” “Kalau begitu sebelum kita lanjutkan bekerja. “Pasti itu dia. Mereka tiba di suatu tempat yang kelihatannya seperti cerobong. Sambil bergandengan tangan mereka mencari-cari jalan dalam gelap. Ia heran melihatnya. Juga tidak bisa diketahui apakah mungkin sumur itu sudah kering. yang menuju ke atas. Julian menyorotkan senternya ke cerobong itu. “Tolol. “Sudah pasti ini dinding sumur! Kau masih ingat. ini sumur yang tadi. maka mestinya jalan masuk ke bawah sini tak jauh lagi!” Kenyataan itu menggembirakan mereka. Kemudian ia meringis.” katanya. Rupanya berjam-jam kita bekerja dan kemudian tersasar dalam ruangan-ruangan bawah tanah.” serunya. pukul setengah sepuluh matahari masih ada di langit! “Pantas aku merasa lapar.” Anak-anak melewati suatu tikungan.” katanya lagi. Cerobong itu dindingnya terbuat dari batu bata.” kata Julian kesal.“Jangan-jangan kita akan terkurung di sini seumur hidup. bagaimana bila kau memasak air untuk membikin minuman coklat? Badanku terasa dingin.” kata Dick sambil meraih tangan adiknya. jadi matahari masih bersinar sampai malam. “Aneh! Tapi karena sumur sudah kita temukan.

diikuti oleh Tim. Sedang Tim berbaring dekat ambang pintu. karena ada Tim yang menjaga. “Kau harus tidur. George merasa bahagia. ternyata mereka tidak bisa menemukan jalan yang menuju ke pintu kayu. Di kantongnya ada sepotong kapur putih. karena bisa memakan potongan-potongan roti dan kue yang diberikan anak-anak padanya. Anne!” ujar George sambil menolongnya bangkit. Mereka merasa aman. Tetapi pagi-pagi anjing itu melihat seekor kelinci lewat. seperti biasa. Dan semuanya menggonggong lebih nyaring dari dia! Sejak itu ia tak berani bersuara lagi. Ditambah lagi dengan ketegangan perasaan sewaktu tersasar! “Ayoh. George terjaga sebagai akibatnya. Anak kecil itu sudah hampir tertidur.” serunya. lalu bangkit hendak mengejar. Kemudian Julian mengambil kapak dan mengajak saudara-saudaranya turun ke bawah lewat tangga. sambil memakan roti keju. Kita akan berbaring berdekatan di atas selimut tebal di pojok kamar kita yang kecil. Tetapi sekarang ia sudah senang kembali. padahal di situ tak ada anjing lain kecuali dia sendiri. dan di luar sudah tak begitu hangat lagi. Tim ada bersama mereka. Ia pun ngeri mendengar bunyi gema yang datang dari segala penjuru. Julian dan Dick berbaring di satu pojok. sedang George dan Anne tidur di pojok lain. Dan tak lama lagi pasti akan sudah ditemukan emas yang dicari-cari. Diambilnya kapur itu. dengan ekor terkepit di sela kaki belakang. Anak-anak tidur dengan nyenyak sampai pagi. Dan apakah yang akan ditemukan di sebaliknya? Anak-anak sarapan. Ia terus membuntuti anak-anak ke mana pun mereka pergi. Belum pernah aku melihat rongga bawah tanah yang serumit tempat ini! Jangan-jangan nanti kita tak bisa kembali lagi ke tangga masuk.rasanya berbaring disinari matahari sore. bangun. George tertidur. Ia duduk sambil menggosok-gosok mata.” kata George putus asa. “Bagaimana pendapat kalian?” tanyanya. Bahkan dengkingan pelan pun tak kedengaran keluar dari kerongkongannya. Ia tadi tak begitu suka berada di bawah tanah.” Keempat anak itu pergi ke kamar batu mereka yang kecil. semua bangun! Hari sudah pagi. karena capek bekerja keras seharian. yang diam-diam sudah takut harus turun ke bawah malam-malam. George merasa yakin bahwa mereka akan berhasil. Dengan segera Julian teringat pada pintu kayu yang ada di bawah. “Bangun! Ayoh. “Ayoh. Matahari hampir terbenam.” Tetapi Julian tahu akal. Julian memandang saudara-saudaranya. Benar-benar menjengkelkan! “Kita akan tersasar lagi. Banyak sekali makan mereka. Anak-anak baru selesai makan dan berbenah ketika jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat sedikit. Tim juga makan sekenyang-kenyangnya. Biarpun di bawah ada pintu yang harus didobrak dengan kapak! Aku capek — dan aku pun tak kepingin tersasar di bawah pada waktu malam!” Anak-anak sependapat dengannya. Sesampai di bawah. Ia menginap di pulaunya sendiri. Gema yang menyusul setelah itu menyebabkan Tim mengira bahwa ruangan bawah tanah itu penuh dengan anjing. Kasihan! Tim tak bisa memahami timbulnya gema. Tetapi sebetulnya anjing itu tak begitu senang masuk ke tempat di mana terdengar suara gonggongan ramai. Anak-anak makan dengan nikmat. karena akan mendobrak pintu kayu. Sambil berpikir begitu. Tim ikut di belakang sambil mengibas-kibaskan ekor. rasanya segan turun ke bawah sekarang. Dan kita ada di pulau!” Ketiga saudara sepupunya terbangun. “Kalau aku. . Mereka bergembira pada saat duduk dan teringat kembali pada kejadian-kejadian kemarin. Dan besok pagi kita akan bangun dengan gembira. kue dan biskuit. “Ruangan-ruangan di bawah tanah ini benar-benar bersimpang siur. Ia merasa yakin akan berhasil mendobraknya dengan kapak. Sekali ia menggonggong. Apalagi Anne.

Dari tempat itu kalian bisa melihat bangkai kapal. Soalnya kini — ke arah mana kita harus berjalan dari sini? Sebaiknya kita mencari saja.” katanya pada anak itu. sehingga mata kapak hanya masuk sebanyak dua atau tiga sentimeter belaka. Untung kita membawa air bersih.” jawab George sambil menerima kapak yang disodorkan.” Tetapi Dick sendiri yang mencabutnya. lalu menempuh arah lain. Anne membawa sapu tangan yang masih bersih. Barangkali darah yang mengalir dari pipi yang luka bisa terhenti dengan cara begitu. “Nah — sekarang kalau kita nanti kembali ke sini. lalu mengarahkan cahaya senter ke pipi adiknya. Julian merasa senang.” “Aku ke atas dengan Dick. Bagaimana jika kau bersama Anne pergi ke batu sebelah atas sana. Julian mengangkat kapak. Julian mengayunkan kapak sekali lagi. kau bisa melanjutkan sebentar. Mukanya mengernyit kesakitan.” Idenya itu baik sekali. Sedang Julian mengajak Dick dan Anne ke atas. Kalau ternyata keliru. Dan sekali ini mereka berhasil menemukan pintu kayu! Anak-anak memandang pintu yang kokoh berpaku-paku besi yang sudah berkarat itu dengan perasaan senang. ditemani oleh Tim. Ayohlah! Kuantar kalian ke sana.” Setelah itu George mulai mengampak daun pintu. Keempat anak itu kembali ke sumur. “Kau tinggal saja di sini bersama George. Seserpih kayu terlontar dan mengenai pipi Dick. “Lebih baik kau naik sebentar ke atas.” larang Julian. Berbaring sajalah! Aku tahu itu cara yang baik untuk menghentikan hidung berdarah. “Lebih baik kau beristirahat sebentar. Tak lama kemudian Dick sudah merasa seperti biasa lagi. Diserahkannya kapak pada George. Kapak itu mengenai sebuah paku besar dan tergelincir agak ke samping. Banyak darah yang keluar.” “Baik. “Pipimu harus dicuci dan dihentikan perdarahannya. “Sementara aku ke atas. Tanda-tanda yang sudah kubuat kita hapuskan lagi. Setiap lorong yang dilewati dalam gelap di bawah tanah itu diberinya tanda. Ia kelihatan sangat pucat. Tak perlu kita semuanya naik ke atas.” kata Anne. tetapi lukanya sendiri sebenarnya tak berbahaya. sebelum pipimu berhenti berdarah. karena ternyata mereka salah jalan. Kita basahkan sapu tangan itu. setidak-tidaknya akan mudah ditemukan jalan kembali ke tangga. Pipi Dick berdarah! “Ada sesuatu terlempar dari daun pintu dan mengenai pipiku. “Tidak. Anne mencelupkan sapu tangannya ke ceret yang berisi air masak. Julian kaget lalu berpaling memandang adiknya. Tetapi kayunya kuat sekali.” Tetapi Julian ingin mengantar adiknya sampai ke atas dulu. Sebaiknya jangan bangun dulu. Kita ikuti saja tanda-tanda yang telah kubuat dengan kapur. “Kau harus menahan sakit sejenak. sebelum melanjutkan pekerjaan mendobrak pintu.” ujar anak yang malang itu. lalu mengelap pipi abangnya dengan hati-hati. Akan kububuhkan tanda-tanda sepanjang jalan yang kita lalui.” . kita kembali lagi ke mari. “Kurasa seserpih kayu. Akhirnya mereka sampai di sumur. Duduk atau berbaringlah barang setengah jam di situ. Kapak yang tajam memakan kayu sekitar lubang kunci. dan mulai dengan tanda-tanda baru pada jalan berikutnya. sementara aku mencabut serpih itu dari pipimu. Ia bahkan ingin turun lagi ke ruangan bawah tanah. Dinding di situ diberinya tanda. “Agak lama juga sebelum pintu setebal ini berhasil didobrak.” kata Julian. Sebentar lagi aku akan sudah kembali.lalu pergi kembali ke tangga.” “Astaga!” seru Julian. lalu mengayunkannya kuat-kuat. lalu lukamu dicuci dengannya. Anak itu menjerit kesakitan. “Kasihan Dick — mukamu pucat dan berlumuran darah. Luka di pipi memang selalu banyak darahnya.

lalu mengayunkannya kuatkuat ke daun pintu. Bangkai kapal tua masih tetap kandas di atas batu karang. Julian mengambil sebuah di antaranya. Anak itu merasa agak kuatir sebagai akibat kecelakaan kecil itu.” katanya dengan suara bergairah. Tim. Julian mengambil kapak dari tangan George. Aku tahu. wujudnya sama sekali tak seperti emas — tapi ini emas. Di sebelah belakang ruangan itu terdapat sebuah tumpukan yang tidak teratur. Dick berbaring menengadah sambil menatap ke langit. Ruangan itu sebenarnya sebuah gua batu. Sesudah itu ia kembali ke tangga dan menghilang ke bawah tanah. Hebat benar penemuan mereka itu! Tiba-tiba Tim menggonggong dengan nyaring. Walau sebetulnya ia juga tak mau ketinggalan. Dan semua milikmu! Kita berhasil menemukan harta yang hilang!” XIV TERJEBAK! GEORGE tidak bisa berkata apa-apa. Ribut sekali gonggongannya. Bukan tong-tong dan peti-peti tua seperti yang ditemukan dalam ruangan-ruangan lain. “George!” serunya. Besinya terlepas dan tergantung agak miring. Julian meletakkan kapaknya. George!” Kedua anak itu mendorong sekuat tenaga. Terdengar bunyi mendecit. terjadi sesuatu pada kunci.Julian mengantarkan kedua adiknya keluar dari pekarangan Puri Kirrin. “Ini dia emas yang kita cari-cari. Ia tak mau ketinggalan menghadapi saatsaat yang mendebarkan hati! Anne memegang tangan abangnya. Tetapi pintu masih tetap belum bisa dibuka. Tetapi dalamnya lain isinya. “Ayoh. Julian duduk menyertai mereka berdua selama beberapa menit. tetapi ia akan mendampingi Dick sampai abangnya itu merasa sudah agak enak. Hatinya berdebardebar. Ia berdiri membelakangi anak-anak. Tangannya yang satu memegang sebatang. Julian dan George masuk ke dalam. Sukar rasanya percaya. Diikutinya tanda-tanda kapur yang dibuatnya di tembok ruangan-ruangan. Kita dorong bersama-sama. Tak lama kemudian ia sudah sampai di tempat George yang sedang sibuk mengampak daun pintu. menuju ke batubatu yang terletak di sisi pulau yang menghadap ke laut. . “Kurasa pintu sudah bisa dibuka sekarang. minggir sebentar. George! Banyak sekali harta yang bertumpuk dalam ruangan ini. Batang-batang logam berbentuk batu bata dan berwarna kuning kecoklat-coklatan tertumpuk di sini. Ia berdiri sambil menatap emas berbatang-batang di depannya. Sesudah satu dua kali. Kayu sekeliling lubang kunci sudah banyak yang terkampak. Mudahmudahan saja darah di pipinya cepat terhenti. bahwa bendabenda aneh berbentuk seperti batu bata itu memang benar-benar emas. sambil mengarahkan cahaya senter mereka ke sana ke mari. Hidungnya mengarah ke pintu. dan pintu besar itu terbuka berderak-derak.

seolah-olah bunyi guruh yang jauh kedengarannya. dan takkan pernah menjadi milikmu. Kemudian terdengar suara orang lain. maju terus. karena kami telah berhasil menemukan batang-batang emas itu. “Siapa di sana? Ada orang di bawah?” George memeluk Julian dengan ketakutan.“Diam. Orang yang memegang senter berhenti melangkah. dan mengatakan bahwa emas sudah ditemukan? Mana emasnya?” “Jangan jawab. wah!” katanya. “Dick! Anne! Kaliankah itu? Cepatlah ke mari. Emasnya memang ada di sini. Sambil menjengukkan kepala ke lorong yang di luar. “Ada tamu rupanya. Ia sangat marah. Kalau aku pulang nanti. Kami menemukannya lebih dulu!” . “Masakan menggeram terhadap Dick dan Anne. Tetapi Tim tak bisa disuruh diam. ke marilah! Lihat ini!” katanya. Tim!” bisik George sambil memadamkan senternya. Tetapi ia lupa bahwa ruangan bawah tanah itu bergema. Dua orang anak datang ke puriku. makin lama makin nyaring. Ia mulai menggeram George memandangnya dengan heran. Tapi kau kalah cerdik dengan kami. Begitu pula dengan semua benda yang ada di sini. “Diam.” Setelah itu anak-anak terkejut bukan kepalang — karena tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki menggema dalam lorong. Detik berikutnya ia bersiul karena kaget dan gembira. Bulu kuduknya berdiri tegak. Sorotannya maju. “Kenapa dia?” tanyanya. Tim masih menggeram. Emas itu bukan kepunyaanmu. Rupanya ia kaget. “JANGAN JAWAB! JANGAN JAWAB!” “Jadi kau tak mau menjawab. Orang itu pergi ke pintu.” kata orang yang kedua. CEPATLAH SEDIKIT!” Sementara itu Tim tidak menggonggong lagi. karena berhasil mengetahui adanya emas di sini setelah melihat peta yang tersimpan dalam peti tua. “Jake.” kata George.” “Siapa bilang ini purimu!” seru George dengan marah. “Ternyata kau benar. penemuan kita kali ini bukan main hebatnya!” “Emas itu milikku. “Ini puriku. ia berteriak keras-keras. lalu menyorotkan senternya ke dalam ruangan. Kemudian anak-anak melihat ada cahaya senter yang terang-benderang datang dari balik tikungan lorong. sampai akhirnya menyinari mereka. Tim!” kata Julian. lalu bergerak mendekati anak-anak yang meringkuk ketakutan.” bisik Julian pada George. akan kuceritakan pada orang tuaku apa yang kami temukan di sini.” kata orang yang tak dikenal itu. Ia terus menggeram. Jadi jangan harap akan bisa membeli Puri atau Pulau Kirrin! Kau cerdik sekali. “Apa yang kalian perbuat di sini? Apa maksud kalian tadi sewaktu berteriak-teriak menyebut ‘Dick’ dan ‘Anne’. “Apa yang kaudengar tadi? Adik-adikku datang kembali?” Ia pergi ke pintu. Anjing itu menggeram sambil memperlihatkan taring-taring yang panjang dan runcing. Tetapi Tim tidak bisa digertak. Kita tinggal mengangkutnya saja. Bisikannya terpantul ke dinding dan menggema. Emas! Berbatang-batang! Wah. lebih kasar dari suara pertama. “Wah. “Pulau dari Puri Kirrin adalah kepunyaan ibuku. karena saat ini sedang diurus persoalan jual belinya. KAMI TELAH MENEMUKAN EMAS! AYOH. Emas itu dibawa dan disimpan oleh kakek dari kakekku di sini. sebelum kapalnya mengalami bencana dan karam.

Kami hendak mengambil kapal guna menjemput emas berbatang-batang yang ada di sini. karena emasnya telah kami temukan. Setelah itu seorang dari mereka tertawa. Suruh mereka turun untuk melihatnya. Ia merasa kedinginan karena ketakutan. lalu memeluk anjingnya. lalu suruh anjingmu ke atas membawanya ke teman-teman kalian. Sementara itu kedua orang yang hendak merampas emas itu saling berunding sambil berbisik-bisik. Katakan pada mereka bahwa kalian sudah berhasil menemukan emas yang dicari. “Kau mengira akan bisa menghalang-halangi kami? Kami akan membeli pulau ini beserta seluruh benda yang terdapat di sini.” katanya. “Dan suruh anjingmu yang galak itu supaya diam. Menurut perasaan kami tak ada gunanya lagi membeli pulau. “Jangan ribut! Tidak ada apa-apa. Selama itu kalian bisa bermain-main dengan batang-batang emas. Nak. George menjerit.” kata orang pertama dengan tiba-tiba. Tapi Tim jangan kautembak! Jangan kautembak dia!” . Diacungkannya pistol ke arah Tim yang malang. Akan kutulis surat itu. kami akan mencapai kemauan kami. kalian semua akan kami kurung dalam ruangan ini. cepat!” “Aku tidak mau. sementara kalian akan kami kurung dalam ruangan ini. “Kalau begitu. Pokoknya.” “Tidak!” pekik George sambil melangkah ke luar. emasnya toh akan kami ambil juga. Begitu surat perjanjian jual beli selesai ditandatangani. “Aku tak sanggup memanggil Dick Anne ke bawah. “Aku tak mau! Kalian tak bisa memaksaku. Dan emas yang baru saja kutemukan ini.Kedua orang itu mendengarkan George yang sedang marah-marah.” katanya. asal saja kalian menurut. emas akan kami ambil. ayoh tulis surat!” kata orang itu lagi sambil menyodorkan kertas beserta pensil. Mukanya merah karena marah. Kalau tidak.” sambung orang kedua. “Kalian takkan kami apa-apakan. “Diam.” kata salah seorang dari mereka setelah itu. Tim. takkan kuserahkan pada kalian. “Ayoh cepat! Kukatakan apa yang harus kautulis.” kata orang pertama.” Tetapi Tim tahu bahwa keadaan saat itu sama sekali tidak beres.” “Baiklah! Kutembak saja anjingmu. “Tidak! Jangan. Dipegangnya bahu George dan didorongnya masuk kembali ke ruangan.” “Dan kalian harus menulis surat pada teman-teman yang menunggu di atas. karena nanti dikurung oleh kalian. Tetapi kalau tetap membandel. Ia masih terus menggeram. Ayoh.” ujar George.” “Kalau kau tak mau menurut. Nah — ini pinsil. nanti menyesal! Kami akan pergi sebentar dengan perahu motor. “Aku akan pulang sekarang juga.” “Aku tak bisa!” kata George tersedu-sedu. “Jangan — jangan —” ratapnya dengan sedih. karena aku tahu mereka akan dikurung. Akan kuceritakan kata-katamu pada Ayah!” “Kau tidak bisa pulang.” kata orang itu dengan kejam. Cepat-cepat dipegangnya kalung leher Tim dan ditariknya anjing itu ke dekatnya. “Kau ini anak kecil. Aku tak mau memanggil Dick dan Anne ke mari. Akan kami sediakan makanan dan minuman secukupnya. Tulislah surat pada Dick dan Anne. sampai kami datang lagi. akan terpaksa kutembak!” George kaget dan takut melihat pistol di tangan orang itu. George menjadi lesu mendengarnya. anjingmu akan terpaksa kami tembak. Dan kalaupun Pulau Kirrin tidak bisa kami beli. “Kalian dengarkan baik-baik kataku ini. Semuanya beres. Tak sukar mendatangkan kapal ke mari dan mengangkut batang-batang emas ini dengan perahu ke kapal. “Kalau mereka sudah di sini.

” George menulis seperti yang dikatakan oleh orang itu. Aku ingin memeriksa. Mata anak perempuan itu sangat tajam. “Ayoh.” perintah George. “Kau menunggu di sini. George tak henti-hentinya memperingatkan agar jangan menggigit. ia tak senang menjadi anak perempuan dan memakai nama perempuan. karena sudah merasa segar kembali. Tim sangat pintar.” “Aneh. “Mereka sudah menemukannya.” . “Ada apa?” tanya Anne tak sabar. “Sekarang suruh dia pergi ke teman-temanmu. “Tim! Cari Dick dan Anne. Ia berhenti di pekarangan sambil mencium-cium tanah. Ia sudah tahu jalan sekarang. “He!” serunya heran ketika melihat Tim datang.” kata orang itu. lalu dibukanya. Tetapi George terus mendesak dengan sangat.” Tetapi Dick tetap duduk sambil menatap surat. memanggil kita supaya ke bawah. Sudah itu kautandatangani dengan namamu. Kurasa pasti dari Julian dan George.” “Wah!” seru Anne dengan mata bersinar-sinar karena girang.” kata Dick.” Tim sebenarnya tak mau meninggalkan George. “George menandatangani surat ini dengan ‘Georgina’. Aneh! Seolah-olah ia hendak memberitahukan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. lalu meloncat ke luar. “Ini Tim! Kau ke atas untuk menjenguk kami? Sudah bosan di bawah tanah yang gelap?” “Lihat. bisa disuruh mengantar surat!” Dick mengambil surat yang terselip di leher Tim. lalu lari ke luar lorong. Dengan segera ia melihat kertas yang terselip. kami telah berhasil menemukan emasnya. Dick duduk di situ. Tetapi bukan nama ‘George’ yang dituliskannya. Kau tahu. “Sekarang kau mulai menulis. Ia merasa yakin bahwa kedua saudara sepupunya yang ada di atas akan tahu pasti bahwa ia sendiri tak pernah mau memakai nama yang sebenarnya. Kau juga tahu. Sekarang dalam surat ini ia menandatangani dengan nama yang tidak disukainya itu. dia tak mau menjawab jika dipanggil dengan nama Georgina. Dick.Dengan tangan gemetar diambilnya kertas dan pinsil. Cepatcepat Tim menaiki tangga batu. “Kau tidak merasa ada sesuatu yang aneh?” ujar Dick sambil berpikir. “Dick dan Anne. Tim! Cari Dick dan Anne. lalu menyelipkannya ke kalung leher Tim. kalau-kalau ada orang datang.” “Ah! Kau ini ada-ada saja. kita cepat-cepat saja ke bawah. “Kami telah berhasil menemukan emasnya. Dick dan Anne! Berikan surat itu kepada mereka.” katanya sambil membaca. Kalau sudah. aku ingin melihat dulu ke teluk kecil. Di mana Dick dan Anne? Tim berhasil mencium jejak kaki mereka. “Dick dan Anne. “Surat rupanya. lalu lari dengan hidung didekatkan ke tanah. Dengan demikian diharapkannya kedua anak itu akan tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.” ujar Anne. Orang yang memegang pistol mengambil surat itu. Ia kelihatan heran. melainkan ‘Georgina’.” ujar orang itu. Cepat datang! Georgina. “Apa yang bisa tidak beres? Ayohlah kita ke bawah. Cepat datang. Tak lama kemudian kedua anak itu berhasil ditemukannya. Mereka masih ada di atas batu.” ujar Anne. Bagaimana Dick — kau sudah sehat kembali. Dick! Ada sesuatu terselip di kalungnya. lalu mendongak ke arah orang yang memegang pistol. Anjing itu masih terus menggeram. Pipinya sudah tak begitu berdarah lagi. Kemudian dibubuhkannya namanya di bawah surat. Anjing itu memandangnya.

Tetapi kemudian Anne mendapat ilham. Anjing itu menghilang ke bawah. kita juga tidak cukup kuat untuk mendayung sampai ke darat.” Kedua anak itu tidak sempat berlama-lama bingung. dan mulai mencari-cari Dick Dan Anne. Kita tidak boleh turun ke ruangan bawah tanah. Sepanjang jalan tak henti-hentinya ia mengomel. Dan aku yakin. karena tahu bahwa anak perempuan itu dalam bahaya. mereka melihat bahwa surat tak ada lagi di kalung leher anjing itu. “Aku bingung. “Aku tahu akal!” katanya. Kita mengambil bantuan!” “Kemungkinan itu juga sudah terpikir olehku tadi. Pasti dia telah mempelajari peta tua yang ada dalam peti. jangan-jangan orang yang datang kemudian ada di dekat-dekat mereka. Sewaktu Tim kembali. Dick dan Anne memandangnya dengan perasaan kecut.” katanya berbisik. Aduh! Bingung aku rasanya. Karenanya mereka tahu bahwa surat sudah diambil oleh kedua anak yang ada di . Ketika ia disuruh menulis surat ini. ia menandatanganinya dengan nama yang tak disukainya. Dan karenanya sekarang tahu bahwa di sini ada emas. lalu duduk di pojok. Dan sekarang Tim lari ke bawah! Mereka benar-benar tak tahu akal. Dick dikatakannya tolol. Kalau kita mencobanya juga. Ia tak mau kelihatan oleh orang itu.Tetapi Anne tidak mau ditinggal sendirian. Kita akan dikurung. Diajaknya Anne pergi ke kamar yang kecil tempat mereka menginap. Tetapi tiba-tiba ia lari ke luar dan menuju ke jalan masuk ke ruangan bawah tanah. “Mestinya orang yang datang itu memergoki Julian dan George sewaktu mereka sedang mendobrak pintu. Sebuah perahu motor! Rupanya ada orang lain di pulau! “Lihatlah!” kata Dick berbisik. “Ternyata memang ada orang datang. Tim bermaksud hendak kembali ke George. Jaraknya terlalu jauh. rasanya agak tenteram. Tapi George ternyata anak cerdik. karena pasti nanti akan tertangkap. pasti perahu akan rusak terbentur batu. Sekarang kita semua hendak dikumpulkannya dalam ruangan bawah tanah. Dan kurasa orang itulah yang mau membeli pulau ini. supaya ia bisa mencuri emas dengan aman. Selama anjing itu mendampingi mereka. Apa yang harus kita lakukan?” XV DICK BERAKSI DICK menarik tangan Anne.” kata Dick dengan murung. Kedua orang jahat yang memergoki Julian dan George keluar dari ruangan bawah tanah. tak tahu apa yang harus kita lakukan sekarang. Eh — Tim ke mana?” Selama beberapa saat anjing itu duduk dalam kamar menemani mereka. mereka melihat sebuah perahu lain di samping kepunyaan mereka. Lalu mereka memergoki George dan Julian di bawah. Dengan cara itu ia hendak memperingatkan kita! Sekarang kita harus mempertimbangkan masak-masak. Ia takut. Ia ikut berlari-lari menelusuri pantai bersama Dick. Tetapi begitu sampai di teluk kecil. dan mengajaknya cepat-cepat pergi dari teluk kecil itu. “Tapi kau sendiri juga tahu bahwa kita tak mengenal jalan keluar masuk di sela-sela batu karang yang berbahaya. “Kita naik perahu dan kembali ke darat.

atas. Kedua orang itu bingung, mengapa Dick dan Anne tidak turun ke bawah seperti
diminta oleh George dalam surat!
Dick mendengar suara kedua orang itu memanggil-manggil. Anne diperingatkannya agar
jangan bicara. Kemudian ia mengintip lewat ambang pintu yang sudah rusak. Nampak
olehnya bahwa kedua orang itu berjalan ke arah berlawanan dengan tempat mereka
bersembunyi.
“Anne! Aku tahu di mana kita bisa bersembunyi!” kata Dick. “Dalam sumur tua! Kita bisa
menuruni tangga besi dan bersembunyi di situ. Pasti mereka tidak akan mencari ke sana!”
Anne sebenarnya sama sekali tak kepingin masuk ke dalam sumur. Tetapi Dick menariknya
sehingga ia bangkit. Didorongnya adiknya itu ke tengah-tengah pekarangan. Kedua orang
yang tak dikenal saat itu sedang mencari mereka di bagian lain dari Puri Kirrin. Jadi
kedua anak itu mempunyai waktu untuk lari dan bersembunyi ke dalam sumur. Dick
menggeserkan tutup sumur yang terbuat dari kayu, lalu menolong Anne turun ke dalam.
Anak perempuan itu sangat ketakutan. Sudah itu Dick menyusul masuk dan menggeserkan
tutup kayu ke tempatnya semula.
Bongkah batu tempat Tim tersangkut sewaktu jatuh ke dalam sumur masih ada di tempat.
Dick menuruni tangga besi dan mencoba kekokohan letak batu. Ternyata kokoh sekali,
karena sama sekali tak bergerak ketika dipijaknya.
“Kau bisa duduk di sini Anne, apabila tak mau terus-menerus berdiri di tangga,”
bisiknya. Anne menuruti usulnya, dan duduk sambil gemetar di batu. Mereka menunggu
nasib. Apakah tempat persembunyian mereka akan ketahuan? Terdengar suara kedua orang
yang mencari-cari di luar. Kadang-kadang dekat, dan kemudian menjauh lagi. Kedua orang
itu berteriak-teriak.
“Dick! Anne! Kalian dipanggil oleh teman-teman yang di bawah! Di mana kalian? Ada kabar
menarik.”
“Kalau kata mereka benar, kenapa mereka tak membiarkan Julian dan George naik ke atas
untuk menceritakannya pada kita?” bisik Dick. “Pasti ada sesuatu yang tidak beres! Coba
kita bisa pergi ke tempat Julian dan George, untuk mengetahui hal yang telah terjadi.”
Kedua orang itu masuk ke pekarangan sebelah dalam. Terdengar suara mereka marah-marah.
“Ke mana kedua anak itu?” kata Jake. “Perahu mereka masih ada di teluk. Jadi tak
mungkin mereka sudah pergi. Mestinya bersembunyi di salah satu tempat. Kita tak bisa
menunggu seharian, sampai mereka muncul.”
“Kita antarkan saja makanan dan minuman untuk kedua anak yang terkurung di bawah,” kata
orang yang satu lagi. “Dalam kamar batu yang kecil itu banyak tersimpan makanan dan
minuman. Kurasa itu perbekalan yang dibawa anak-anak dari darat. Setengahnya kita
tinggalkan di situ, supaya kedua anak yang lain juga mendapat bagian. Kita pergi dan
membawa perahu mereka, sehingga anak-anak tidak bisa melarikan diri.”
“Betul,” jawab Jake. “Kita harus mengangkut emas itu secepat mungkin. Sedang anak-anak
harus tidak bisa pergi dari sini, sampai kita berhasil pergi membawa emas dengan aman.
Tak ada gunanya lagi membeli pulau. Kan gunanya hanya supaya kita bisa mendapatkan
batang-batang emas itu.”
“Ayohlah,” kata temannya. “Kita antarkan saja makanan dan minuman ke bawah. Kedua anak
yang masih di atas sini tak perlu kita pedulikan. Aku saja yang turun ke ruangan bawah
tanah. Kau tinggal di sini. Siapa tahu kedua anak itu muncul.”
Dick dan Anne mendengar percakapan kedua orang itu dengan napas tertahan. Mudah-mudahan
saja mereka tak melihat ke dalam sumur! Terdengar langkah-langkah orang menuju ke kamar
batu. Jelaslah bahwa ia hendak mengambil makanan dan minuman yang akan dibawa ke Julian
dan George yang terkurung di bawah. Orang yang satu lagi tetap berada di pekarangan
sambil bersiul-siul pelan.

Anak-anak merasa sudah lama sekali menunggu ketika akhirnya orang yang pertama datang
lagi Mereka ngomong sebentar, lalu pergi ke teluk. Dick mendengar suara mesin perahu
mereka dihidupkan.
“Sekarang kita sudah bisa ke luar, Anne,” katanya. “Di sini dingin. Lega rasanya, bisa
ke luar lagi dan kena sinar matahari.”
Mereka ke luar, lalu berjemur sebentar memanaskan badan di bawah pancaran sinar
matahari. Di kejauhan nampak perahu motor melaju ke arah daratan.
“Mereka sudah pergi untuk sesaat,” kata Dick. “Dan ternyata mereka tidak jadi membawa
perahu kita, seperti direncanakan tadi. Kalau saja Julian dan George bisa kita
selamatkan, maka kita akan bisa pergi meminta bantuan. George bisa mendayung perahu ke
daratan.”
“Kenapa kita tidak bisa menolong mereka?” seru Anne dengan mata berkilat-kilat penuh
semangat. “Kita kan bisa saja menuruni tangga batu, lalu membukakan pintu dari luar!”
“Tidak bisa,” jawab Dick. “Lihatlah!”
Anne memandang ke arah yang ditunjuknya. Di atas lubang tempat masuk ke ruangan bawah
tanah nampak tertumpuk bongkah-bongkah batu yang besar-besar. Rupanya kedua orang tadi
yang menaruhnya di sana. Bongkah-bongkah itu sangat besar, sehingga tak mungkin bisa
dipindahkan oleh Dick dan Anne.
“Kita tidak bisa ke bawah,” kata Dick. “Mereka sudah mengusahakan pencegahannya! Dan
kita tidak mengetahui jalan masuk yang satu lagi. Kita hanya tahu, tempatnya dekat
dengan menara.”
“Kita mencarinya saja sekarang,” usul Anne bergairah. Kedua anak itu pergi ke menara
yang terdapat di sebelah kanan Puri. Sesampai di sana, mereka menyadari bahwa kalaupun
jalan masuk itu ada di situ, pasti tak bisa dilewati lagi sekarang! Menara itu sudah
runtuh. Yang tinggal hanya batu-batu pecah bertumpuk-tumpuk. Tak mungkin mereka bisa
menyingkirkan puing sebanyak itu. Anak-anak berhenti mencari.
“Sialan!” umpat Dick. “Sedih rasanya mengingat Julian dan George yang malang, terkurung
di bawah tanah! Dan kita tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong mereka. Anne —
pakailah otakmu! Kau tidak tahu jalan?”
Anne duduk di atas sebongkah batu sambil memutar otak. Ia merasa cemas. Tetapi tak lama
kemudian nampak air mukanya menjadi cerah. Ia berpaling dan memandang Dick.
“Dick! Apakah kita tidak bisa — maksudku, mungkinkah kita bisa menuruni sumur?” katanya
setengah bertanya. “Kan lubangnya juga lewat ruangan bawah tanah. Dan di sana ada
lubang di dinding sumur. Masih ingatkah engkau — kita kan menjulurkan badan ke dalam
sumur dan bisa melihat ke luar! Bagaimana pendapatmu? Bisakah kita melewati celah yang
ada di sisi bongkah batu tempatku duduk tadi?”
Dick mempertimbangkan usul adiknya itu. Ia pergi ke sumur, lalu melihat ke dalam
lubang.
“Kurasa kau benar, Anne,” katanya kemudian. “Mungkin saja kita bisa menyusup lewat
celah sempit di bawah itu. Tapi aku tak tahu, sampai sejauh mana tangga besi ini
terpasang.”
“Kita mencobanya saja, Dick,” kata Anne mendesak. “Karena itu satu-satunya jalan untuk
menyelamatkan Julian dan George.”
“Baiklah, aku akan mencoba,” kata Dick. “Tapi kau jangan ikut, Anne. Aku tak mau kau
terjatuh ke dalam sumur. Mungkin saja tangga ini sudah patah di tengah. Macam-macam
yang bisa terjadi nanti. Kau menunggu saja di sini. Aku akan berusaha sebisa-bisaku.”

“Hati-hati,” kata Anne cemas. “Bawa tali. Siapa tahu kau nanti akan memerlukannya. Jadi
kau tak perlu naik lagi ke atas.”
“Bagus idemu itu,” kata Dick. Ia pergi ke kamar batu dan mengambil seutas tali yang
ditaruh di situ. Tali itu dililitkannya ke perutnya. Kemudian ia kembali ke sumur.
“Nah, kita coba saja sekarang,” katanya dengan gembira. “Kau tak perlu menguatirkan
diriku. Aku akan selamat.”
Muka Anne pucat. Ia takut sekali, Dick nanti terjatuh ke dasar sumur. Diperhatikannya
abangnya menuruni tangga batu, sampai ke bongkah batu yang tersangkut di tengah lubang.
Ia berusaha menyusupkan tubuh melewati celah antara batu dan dinding sumur.
Kelihatannya sukar sekali, karena celah itu sangat sempit. Tetapi akhirnya berhasil
juga! Sesudah itu Anne tak dapat melihatnya lagi. Tetapi suaranya masih terdengar,
karena ia terus memanggil-manggil.
“Sampai di sini tangganya masih utuh, Anne! Semuanya beres. Kau bisa mendengar?”
“Ya,” seru Anne ke dalam sumur. Terdengar gema suaranya memantul dari bawah. Aneh
kedengarannya! “Hati-hati, Dick. Mudah-mudahan tangga itu utuh sampai ke bawah.”
“Kurasa begitu!” terdengar suara Dick membalas. Tetapi tiba-tiba ia berseru nyaring.
“Sialan! Tangganya patah di sini. Atau mungkin juga memang hanya sampai di sini. Aku
terpaksa mempergunakan tali.”
Sesaat tak terdengar suaranya, sementara Dick membuka tali yang melilit pinggang. Ujung
tali itu diikatkannya erat-erat ke anak tangga besi nomor dua dari bawah, yang
dirasakannya cukup kokoh.
“Sekarang aku akan turun lewat tali!” serunya pada Anne. “Jangan cemas, aku tak apaapa. Aku turun sekarang!”
Sesudah itu Anne tak bisa lagi menangkap kata-kata Dick, karena gema menyebabkan
seruan-seruannya tak jelas lagi. Tetapi walau begitu, Anne masih merasa lega karena
suaranya masih terdengar. Ia berseru menjawab, dengan harapan semoga abangnya bisa
mendengarnya.
Dick meluncur ke bawah. Kedua belah tangannya memegang tali erat-erat, sedang kedua
kakinya juga dikepitkan dengan kuat. Dick merasa bersyukur bahwa dia pandai bersenam.
Ia ingin tahu, apakah saat itu ia sudah berada di dekat ruangan bawah tanah; rasanya
sudah jauh juga ia menuruni tali. Ia berhasil mengeluarkan senter dari dalam kantong,
lalu dinyatakannya. Senter dimasukkan ke mulut dan dijepitnya dengan gigi, supaya
tangannya bisa tetap bebas. Cahaya yang memancar dari senter menerangi dinding sumur
sekitarnya. Tetapi ia tetap tak tahu, apakah ia masih berada di atas ruang bawah tanah,
atau sudah melewatinya. Ia tak berniat turun sampai ke dasar sumur!
Menurut perasaannya, ia mestinya baru saja melewati lubang yang menuju ke rongga bawah
tanah. Tali dipanjatnya lagi. Ternyata dugaannya benar! Ia merasa lega ketika melihat
bahwa lubang itu berada agak di atas kepalanya. Dick meneruskan panjatannya sampai
lubang itu sama tinggi dengannya. Kemudian diayunkannya tubuh ke sisi sumur, ke arah
lubang. Ia berhasil memegang pinggir lubang, lalu berusaha masuk ke dalam ruangan bawah
tanah.
Lubang itu sangat sempit. Tetapi untunglah, badan Dick tidak terlalu besar. Akhirnya ia
berhasil melewati lubang. Dick menghela napas lega. Ia sudah berada dalam ruangan bawah
tanah! Sekarang ia bisa mengikuti tanda-tanda kapur yang ada di dinding, menuju ke
ruangan tempat emas tersimpan. Ia merasa yakin di situlah Julian dan George terkurung.
Disorotkannya cahaya senter ke dinding. Benarlah! Ia melihat tanda yang dibuat oleh
Julian dengan kapur di situ. Dick memasukkan kepalanya ke dalam lubang sumur, lalu
berseru keras-keras ke atas,

Disorotkannya senter ke anjing itu. Mestinya sedang bersembunyi. apa yang sedang mereka lakukan sekarang. tetapi sia-sia belaka. Setelah beberapa lama berjalan. Ia agak marah pada George. Mereka merasa capek dan marah. “Pokoknya Dick dan Anne tidak ke mari. Tim mengibas-kibaskan ekor! Pintu digedor dengan keras. Sudah itu terdengar suara Dick yang memanggil-manggil dengan riang. Tim ada di dalam bersama mereka. “Dick!” seru Julian dengan gembira. ia mendengar sesuatu. ketika melihat bahwa aku menandatanganinya dengan Georgina — dan tidak dengan George. “Cerdas juga kedua anak itu! Mereka dengan segera menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan suratku. Kemudian mereka duduk. Mereka tak bisa ke luar. jadi tidak bisa ikut dikurung. Ia sangat gembira. sambil memiringkan kepala. sehingga mereka terkejut setengah mati. Anjing itu berbaring di lantai dengan kepala ditaruh di antara kedua kaki depan. Tim langsung menggonggong-gonggong sambil menggaruk-garuk daun pintu. Padahal ia sudah kepingin sekali. ia sampai ke pintu ruangan yang dituju.” Tiba-tiba Tim menggeram. kalau kedua orang tadi datang kembali!” Kemudian ia berjalan mengikuti tanda-tanda kapur. “Nah!” katanya. Di dalam ada makanan dan minuman yang diantarkan orang yang mengurung mereka. Kedua anak yang terkurung di dalam menggedor-gedor pintu sekuat tenaga. pintu itu dikunci dari luar agar George dan Julian tidak bisa melarikan diri. Ia berdiri di situ. Kemudian ia memandang ke arah Tim dengan heran. Ia meloncat dan pergi ke pintu yang terkunci. “Mudah-mudahan saja kedua orang tadi belum kembali. Aku ingin tahu. Sudah jelas. buka pintu!” XVI NYARIS CELAKA! DICK membuka kunci sorong sebelah atas dan bawah. Hatinya berdebar keras. . “Bagaimana rasanya diselamatkan?” “Senang!” seru Julian. Ada dua buah kunci sorong di sebelah atas dan bawah pintu.” kata George.” kata George menghibur diri. “Cepat.“Anne. sementara Tim ribut mengelilingi mereka. Tetapi kedua anak itu tak mau menyentuhnya. Begitu pintu terbuka. aku sudah berada dalam ruangan bawah tanah! Hati-hati. “He! Julian! George! Kalian ada di dalam?” Mendengar suara anak itu. ia dengan segera berlari masuk dan menepuk-nepuk punggung George dan Julian. karena tak diijinkan menerkam kedua orang itu. Tetapi George kuatir bahwa Tim akan ditembak mati bila berani menggigit. Seperti sudah diperkirakannya.

” ujar Julian. Cepat! Sebentar lagi kedua orang itu akan sudah bisa datang lagi!” Mereka cepat-cepat lari ke teluk kecil. “Jahat sekali kedua orang itu! Mereka tahu. dari mana orang itu pergi. Aku sedang berpikir.” kata George. kemudian melarikan lama juga “Sedang kita sendiri tak bisa meninggalkan pulau ini untuk meminta bantuan. “Kita juga tak bisa memberi isyarat pada perahu-perahu nelayan. Ia kuatir. Perahu mereka masih ada di tempat semula. sampai kedua orang itu kembali. Ayohlah! Kita ke atas lewat lubang sumur. Mereka kuatir Dick dan Anne akan lari. Mereka tak mau repot-repot menyeret perahu.” Saudara-saudaranya menunggu dengan diam. Ia sedang memikirkan rencananya. karena mereka mengambil dayung perahu kita. “Kau ini hebat!” pujinya. Kita harus menanti sampai kedua orang itu datang lagi dan mengambil emasku! Kita tidak bisa menghalang-halangi mereka. kalau-kalau tangga itu tak kuat menahan beban tiga orang anak sekaligus. kita bisa berdayung kembali ke daratan secepat-cepatnya.” kata Julian sambil berpikir-pikir.George nyengir memandang Dick. dan karenanya mengambil dayung saja. Tetapi sampai di sana. Jadi kelihatannya kita akan terpaksa menunggu di sini dengan sabar. kita tak bisa pergi kalau tidak ada dayung. Dick menceritakan dengan singkat. Julian memutuskan untuk naik satu persatu. “Dengarkan baik-baik! Kita menunggu di sini. lalu pergi ke perahu. karena saat ini takkan ada satu pun yang lewat. anak-anak kaget.” kata George. Kemudian ia memandang anak-anak sambil tersenyum. “Tunggu dulu. apa yang akan mereka lakukan? Batu-batu yang bertumpuk di atas jalan masuk ke ruangan bawah tanah akan mereka singkirkan. Diceritakannya bagaimana ia menuruni lubang sumur. . “Bagaimana kau bisa sampai di sini?” tanyanya.” katanya. Dengan air mata berlinang-linang anak perempuan itu menyatakan kegembiraannya karena bisa melihat saudara-saudaranya lagi. Julian duduk dengan kening berkerut. “Dayung-dayungnya tak ada lagi!” seru George. Satu per satu menyusup ke dalam. “Kedua mungkin untuk mengambil kapal yang akan dipakai mengangkut emas dan diri. “Benar-benar hebat! Dan sekarang — apa yang harus kita lakukan selanjutnya?” “Kalau perahu kita mereka tinggalkan di sini. Anak-anak hampir menangis karena kecewa dan jengkel. Sekarang kita tidak bisa lari!” Benar-benar mengecewakan. Kemudian. “Kurasa rencanaku akan bisa berhasil. Kecuali kalau mereka sendiri punya kapal!” tempat. George dan Julian hanya bisa tercengang-cengang mendengarnya. Julian mengepit lengan adiknya. Ia duduk di suatu dengan segera akan nampak bila ada perahu atau kapal datang. Tetapi ternyata perkiraan mereka itu meleset! “Kita harus berpikir tenang-tenang. karena menyewa kapal agak urusannya.” Ketiga anak itu berlari ke lubang sumur. jangan mengganggu. Kurasa mereka takkan cepat kembali. Tak lama kemudian mereka sampai ke tangga besi. Mereka mengira segala-galanya akan beres setelah Dick berhasil menyelamatkan Julian dan George. “Sekarang kita harus bergegas!” kata George setelah itu. Tidak lama sesudah itu mereka sudah berada lagi di luar. lalu memanjat tali ke atas. Sekarang belum waktunya yang tepat. “Aku tak mau dekat-dekat dengan orang yang mengacungacungkan pistol. Dengan gembira mereka memeluk Anne. “Kita harus ke perahu.” “He — kurasa aku mendapat akal.

cepatlah sedikit!” Ketiganya bersembunyi di balik batu-batu yang keluar dari air pada waktu pasang surut itu. Nah! Sekarang. Julian berpaling pada George dan Anne. Kita ke daratan untuk mencari bantuan!” Menurut pendapat Anne. “Kurasa orang-orang itu sekarang sudah . “Ayoh. Dan mereka juga mendengar bunyi mesin sebuah perahu motor. bahwa memang itulah jalan sebaik-baiknya yang bisa dipikirkan.” kata George. Nah! Kalau dia tak berhasil mengunci pintu dan mengurung mereka di dalam. “Karena pasang sedang surut. Jangan-jangan anak yang bertugas menutup pintu kemudian tertangkap oleh mereka! Dan sesudah itu mereka naik lagi untuk mencari kita. Mereka mendengar bunyi mesin perahu motor yang memasuki teluk yang kecil itu. sebaiknya mereka makan dulu. dan bersembunyi sampai kau mendengar mereka sudah masuk ke dalam ruangan bawah tanah!” Dick lari dengan segera. Kurasa mereka takkan mencari Dick dan Anne — tapi siapa tahu! Ayoh. mereka masih akan terkurung di bawah tanah!” Anak-anak membicarakan rencana itu. atau dengan perahu kita sendiri jika dayung-dayungnya mereka bawa kembali. Kalau tak berhasil dan aku harus lari.” katanya. Kedua-duanya akan masuk ke dalam ruangan itu. Baiklah! Sementara mereka di bawah. “Itu kapal yang hendak dipakai untuk melarikan diri dengan mengangkut emas curian! Dan mereka sendiri kembali dengan perahu motor! Cepat. Kedua orang itu tak tahu-menahu tentang lubang kecil yang ada di dinding sumur. Dick yang harus turun ke bawah. Mereka sudah sangat lapar. kita bersembunyi saja di balik batu-batu yang nampak di sebelah sana itu. agar kedua orang itu terkurung dalam ruangan yang akan kukunci pintunya dari luar. Kedengarannya kali ini yang datang lebih dari dua orang. Mereka hendak berjaga-jaga terus. Kemudian George mengatakan. “Akulah yang akan bersembunyi di bawah. rencana itu sangat baik. Ia merasa yakin. Kemudian orang-orang itu meninggalkan teluk.” kata Julian sambil termenung. siap untuk mengunci pintu begitu mereka masuk? Sudah itu kita bisa pergi dengan perahu motor mereka. maka tentunya kedua orang itu akan naik ke atas lagi. Tetapi Dick dan George kurang yakin. Akhirnya mereka sepakat. Mereka mendaki bukit batu rendah. “Kalau begitu kita harus turun dan mengunci pintu kembali. “Sekarang kita harus bersembunyi. Jadi kalaupun mereka tak berhasil dikurung dalam kamar. Ia mengintip. karena ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan orang-orang yang baru datang. “Aku bisa naik ke atas lewat sumur lagi. Aku akan berusaha sebisa-bisaku. menunggu kembalinya kedua orang tadi. Jadi mereka tidak bisa ke luar!” “Bagaimana dengan Dick yang masih di bawah?” tanya Anne cemas.” “Betul juga.” kata Dick dengan bersemangat. aku akan naik lagi lewat lubang sumur. supaya kelihatannya seakanakan kita masih terkurung di dalam. “Lalu bagaimana jika anak yang bersembunyi di bawah ternyata tak berhasil mengurung kedua orang itu? Tidak mudah menutup pintu cepat-cepat dengan kunci sorong. Mereka pasti akan menyangka aku dan George masih ada di dalam. “Katakanlah. kita yang berada di atas cepat-cepat menumpukkan kembali bongkah-bongkah batu besar di atas jalan masuk. menuju Puri Kirrin. George!” kata Julian setengah berbisik. Mereka juga mendengar suara-suara orang yang saling memanggil. saat itu mereka sedang menyingkirkan batu-batu yang ditumpukkan di atas jalan masuk ke ruangan bawah tanah. karena perasaan kuatir dan tegang sudah lenyap! Mereka mengambil makanan dari kamar batu dan memakannya di teluk kecil. Julian merangkak keluar dari balik batu. Mereka akan pergi ke ruangan di mana kami tadi terkurung. Dick! Turun ke bawah lewat sumur. “Itu mereka!” seru Julian sambil bangkit. bagaimana jika salah seorang di antara kita bersembunyi di bawah. Dua jam kemudian mereka melihat sebuah perahu nelayan yang besar muncul di kejauhan.Sesudah itu mereka akan turun ke bawah.

“Anak-anak itu tak ada lagi di dalam!” katanya. Ia berseru kaget. Dick merasa bersyukur karena tak lupa menutup kembali kedua kunci sorong itu. Tetapi tenaga mereka tak sekuat orang dewasa. Cepat!” George. Dick mendengar langkah mereka lewat. “Ayohlah. Pasti mereka sudah turun ke bawah. Di situlah terdapat ruangan tempat emas tersimpan! “Di sinilah tempatnya. dan memasuki lorong lebar. Ternyata kedua orang yang kembali ke daratan. yang sudah bersiap-siap ke luar lewat lubang kecil apabila mereka sudah lalu. Sesudah itu menyusul yang sebelah bawah. Dengan tangan gemetar. Ternyata batu-batu yang menutupi jalan masuk sudah disingkirkan. Mereka tak tahu di balik dinding itu sedang bersembunyi seorang anak. Seketika itu juga ketiga orang itu lari memburunya. Tetapi ketika ketiga orang yang berada di dalam mendorong pintu secara serempak. Ia berjalan dengan hati-hati. Mereka berjalan melewati dinding sumur. Dick menyelinap lewat lorong-lorong pengap dengan hati berdebar-debar. Mereka tak berhasil mengembalikan batu-batu besar ke lubang yang merupakan jalan masuk. Akhirnya ketiga orang itu membelok. karena disingkirkan oleh Dick. Dick harus ke luar lewat sana. Ia keluar dari sumur. dan orang-orang itu sudah tak kelihatan lagi. lalu mengikuti orang-orang itu dari belakang.” Ia membuka kunci sorong sebelah atas. Karenanya mereka meletakkan tiga bongkah batu yang agak kecil di situ. datang lagi dengan ditemani seorang lagi. Susah sekali menariknya sampai tertutup. Mereka ingin sekali mengetahui apa yang sedang terjadi di bawah tanah. ketika mendengar pintu ditutup dengan keras. Ia bisa melihat cahaya terang. Anak-anak memandang ke bawah dari tepi sumur. Dan sementara itu ketiga orang yang ada di dalam juga tidak tinggal diam. Keduanya sudah kaku karena karatan. Dick berusaha menarik kunci-kunci sorong. Orang itu menyorotkan senter ke pintu besar. sedang yang ketiga menyusul. Apakah yang sedang dilakukan oleh Dick saat itu? Dari sumur mereka tak bisa mendengar apa-apa di bawah.menuruni tangga. karena tak bisa lagi melalui tangga batu. Tutupnya yang dari kayu tergeletak di tanah.” katanya. Dengan cepat mereka berpaling. Seorang dari mereka langsung mendorongnya dengan bahu. Pintu besar itu terbuka! Ia berbalik. Bayangkan. mudah-mudahan saja batu-batu itu akan sukar digeser dari bawah! “Mudah-mudahan Dick berhasil mengurung mereka dalam kamar emas. Kita harus mencoba mengembalikan batu-batu ke atas jalan masuk. yang berasal dari senter orang-orang yang berjalan di depan. Saat itu Dick hampir berhasil mengatupkan sebuah kunci sorong. Tentu saja mereka mengira Julian dan George serta anjingnya masih terkurung dalam kamar yang berisi emas. kita sekarang ke sumur.” Mereka pergi ke sumur. Mereka menunggu dengan harapharap cemas. “Aneh! Di mana mereka?” Saat itu dua orang sudah berada dalam ruangan. dan karenanya segera waspada! Orang yang memegang senter menyorotkannya ke dalam ruangan. Dick melejit ke pintu lalu membantingnya sehingga tertutup dengan suara menggelegar. Ketiga anak itu berusaha sekuat tenaga. kalau ia lupa tadi! Pasti orang-orang itu akan segera tahu bahwa Julian dan George berhasil melarikan diri. lalu lari ke lorong yang gelap. Julian dan Anne lari menyelinap ke pekarangan puri. Mereka bertiga turun ke ruangan bawah tanah. . Mereka menarik-narik bongkah-bongkah batu besar. “Emasnya ada di dalam — dan juga kedua anak itu.” terdengar seorang dari mereka berkata. Tak terdengar langkahnya menyelinap. Gemanya memantul ke mana-mana. Julian berharap. kunci itu terlepas lagi! Dick hanya bisa memandang dengan ngeri. Cahaya senter mengejarnya dari belakang dan menyinari tubuhnya.

Ia lari sambil membimbing tangan Anne. “Ayohlah! Hanya itu kesempatan kita untuk menyelamatkan diri. “Aku tak berhasil. Untung saja lubang kecil terdapat di sebelah sana. turunkan perahu kita ke air!” Julian dan Dick mengambil kedua dayung yang diacungkan oleh George. Mereka mendorong perahu air. “Tunggu. George. Mau dibetulkan juga tidak bisa. Begitu mereka melihat air muka Dick. Sudah itu mereka menyeret perahu ke air. Sesampai di situ mereka tertegun. Mereka bahkan sama sekali tak tahu bahwa di situ ada sumur. Dick heran melihat saudara sepupunya itu. Mereka lewat sambil berlari-lari.” Keempat anak itu lari melintasi pekarangan. Mungkin orang-orang itu akan berhasil menyingkirkan batu-batu yang menutupi jalan. ketika ia baru saja masuk ke lubang sumur. Ia kuatir kalau-kalau ketiga orang yang di bawah menemukan lubang kecil pada dinding sumur.Dick lari ke dinding sumur. mereka sudah mendobrak pintu lagi. “Gagal. Ketiga orang itu berlari ke perahu motor mereka. Ketiga saudaranya berdiri mengelilingi bibir sumur. Orang-orang itu sudah keluar!” seru Julian tiba-tiba. George meloncat keluar dari perahu motor. ke perahu!” seru Julian. Apakah yang sedang dilakukan oleh George di situ? “George! George! Ayoh. Perahu mereka masih ada di situ. Dengan segera George mengambil dayung dan mulai mendayung perahu dengan sekuat tenaga. George mampir sebentar ke kamar batu. Untung aku masih sempat menyelinap masuk lubang!” “Dan sekarang mereka berusaha ke luar lewat jalan masuk!” seru Anne tiba-tiba sambil menunjuk. Mereka heran mendengar bunyi berderak-derik dalam perahu motor. Perahu motor juga ada di situ. karena orang-orang itu tak banyak membawa peralatan. Sewaktu aku masih sibuk hendak mengunci. dengan segera mereka tahu bahwa anak itu gagal. Dick memanjat tali yang dibiarkannya tergantung dari anak tangga besi. karena ternyata perahu mereka rusak. lalu keluar lagi dengan membawa kapak. lalu lari ke saudara-saudara sepupunya yang tak sabar lagi menunggu. cepatlah sedikit. Ketiga-tiganya kaget dan marah. Tetapi sekarang tidak bisa lagi. “Ambillah. Mereka sampai di teluk kecil. dibukanya simpul tali. Mereka mengejarku. akan kubalas nanti!” “Aku akan menunggu!” teriak George membalas ancaman itu. karena tali sudah tidak ada lagi! Dick cepat-cepat menaiki tangga. Cepat. George bekerja tidak kepalang tanggung! Dengan kapak dirusaknya setiap bagian mesin yang bisa tercapai — dan sekarang perahu motor itu tidak bisa dihidupkan lagi mesinnya. Matanya berkilat-kilat karena . lalu berseru dengan gembira. Tim lari mengikuti mereka sambil menyalak-nyalak. Ia melihat ketiga orang itu berlari-lari menuju ke bukit batu di tepi teluk. tetapi dayungnya tidak ada. Dengan tubuh gemetar. “Anak nakal!” seru Jake sambil mengacung-acungkan tinju ke arah. karena kalau tidak sebentar lagi akan tertangkap oleh mereka!” “Cepat. Tak seorang pun dari mereka mengira bahwa anak yang dikejar berada dalam dinding sumur yang baru saja mereka lewati. sehingga ia bisa menyusup ke dalam dengan tidak kelihatan oleh orang-orang yang mengejar. Begitu sampai di tangga.” kata Dick dengan napas terengah-engah. lalu ikut naik lewat tali itu. “Cepat! Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita harus cepat-cepat mencari akal. lalu menyusupkan diri lewat celah sempit antara dinding sumur dan bongkah batu yang tersangkut. “Ini dia dayung-dayung kita!” serunya. Dengan cepat mereka menariknya ke atas. George meloncat ke dalam. Julian — aku masih ada perlu sedikit di sini.

Karenanya tak seorang pun dari mereka membalas pertanyaan orang itu. Beberapa kemudian nampak sebuah sekoci diturunkan dari perahu nelayan ke air. “Ketiga orang itu harus tetap di pulau.” kata Julian pada George. Sekarang mereka hendak ke pulau untuk menyelamatkan ketiga orang itu. apakah kalian datang dari Pulau Kirrin!” Anak-anak tetap tak menjawab. Mereka membuang muka. Mereka pura-pura tak mendengarnya. Mungkin ada yang tidak beres di sana! “Barangkali sebentar lagi ia akan menurunkan sekoci dan pergi ke pulau untuk melihat keadaan. Tim ikut menarik dengan ekor mengibas kian ke mari.” kata George sambil mendayung sekuat tenaga. menjauhi pantai. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. “AHOY!” jerit orang itu dengan marah. “Mereka curiga. Pasti mereka jengkel sekali sekarang!” Perahu mereka harus lewat dekat perahu nelayan besar. “Perahu nelayan besar yang menunggu di luar tidak bisa lewat di jalan masuk yang sempit itu. “Dan kau juga boleh menunggu di situ. maka ia mulai kuatir. karena perahu motor mereka sudah rusak. . Dan karena ia juga sudah mendengar cerita kawan-kawannya mengenai hal-hal yang terjadi di situ. Ia memandang dengan agak gelisah ke arah pulau di depannya. Di situ ada seorang laki-laki.” Julian menoleh ke belakang. Ia menyapa sewaktu mereka lewat dekatnya. Kalian tak bisa lagi meninggalkan pulauku!” XVII AKHIR PETUALANGAN YANG SERU KETIGA orang itu berdiri di pinggir laut sambil memandang perahu yang didayung dengan kuat oleh George. karena kita berhasil melarikan diri dan bisa melaporkan mereka. Orang yang di perahu nelayan berhenti memanggil-manggil. lalu lari dengan membawa beberapa batang emas! Tetapi kurasa mereka takkan berani mengangkut emas. “Ahoy! Kalian datang dari Pulau Kirrin?” “Jangan menjawab. sampai ada yang menjemput dengan perahu. Paling-paling menjemput orang-orang tadi. “Tulikah kalian? Aku bertanya tadi. “Apakah Tim harus kita antarkan pulang dulu ke Alf?” tanya Dick. Ia merasa yakin bahwa anak-anak itu datang dari sana. Ia senang sekali ikut-ikut melakukan segala kesibukan anak-anak. George menggeleng. “Dugaanmu benar.” kata George.” kata George.marah. Sayang!” Begitu haluan perahu mereka mencecah daratan. sementara George terus mendayung. “Tak banyak yang bisa dilakukannya. anak-anak berlompatan ke air yang dangkal dan menarik perahu ke pantai.

“Kukira kalian baru akan kembali besok atau lusa!” serunya. Paman. Dan George merusak perahu motor. “Bukan omong kosong. “Kita tak boleh membuang-buang waktu lagi. sedang pembelinya akan membubuhkan tanda tangannya besok. Sungguh!” Bibi Fanny memandang anak-anak yang berpakaian tak keruan itu dengan tercengang. sehingga mereka tak bisa melarikan diri!” . karena tahu bahwa emas yang hilang tersembunyi di sana.” “Omong kosong apa lagi yang kaukatakan itu?” tukas Paman. Tetapi setelah melihat wajah anak-anak yang begitu bersungguh-sungguh. “Paman kan belum menjualnya?” “Yah. Ia tercengang ketika melihat anak-anak datang tergesa-gesa. “Kenapa Paman Quentin tak mau percaya pada kami! Aduh. mana Paman?” tanya saudara-saudaranya.” ujar George menyela. “Kata Julian benar. dan Julian serta George dikurungnya dalam ruangan bawah tanah — dan Dick harus turun lewat sumur untuk menyelamatkan mereka.” katanya tersedu-sedu.” ujar Julian bersemangat. “Aku sudah menandatangani surat jual belinya. Tim akan kutambatkan ke pagar depan rumah. Kita harus cepat-cepat pulang dan menceritakan segala hal yang telah terjadi. Ia sama sekali tak percaya.” Ayah George kelihatan heran dan kesal sekaligus.” jawab Paman Quentin.” katanya. Segala ketegangan yang dialami sangat mempengaruhi ketenangannya. karena ia sedang sibuk bekerja. Bibi Fanny sedang sibuk bekerja di kebun. “Bibi Fanny.” Mereka bergegas lari menuju Pondok Kirrin. boleh dibilang sudah. Kemudian dengan tiba-tiba Anne menangis tersedu-sedu.” seru George dengan tersinggung. “Bibi Fanny. orang-orang itu takkan menandatanganinya besok. kenapa mereka ingin membeli Pulau Kirrin beserta purinya? Bukan karena mereka ingin membangun hotel. “Apakah yang telah terjadi di sana?” tanyanya. banyak sekali yang harus kami ceritakan pada Bibi. ini soal kecil. Bibi Fanny dengan segera menyadari bahwa benar-benar telah terjadi sesuatu yang sangat penting.” kata Julian. “Soalnya mengenai Pulau Kirrin. Dalam peta yang Ayah jual ada sebuah peta dari Puri Kirrin. Kemudian Bibi berpaling ke arah rumah sambil berseru-seru memanggil. Kenapa? Apa urusanmu menanyakannya?” “Paman. “Ada apa?” tanyanya. “Atau ada terjadi sesuatu? Ada apa dengan pipi Dick?” “Ah. tetapi Julian menyambung lagi. kami mengalami suatu kejadian seru di pulau. “Bibi. “Quentin! Quentin! Anak-anak sudah kembali! Ada sesuatu yang ingin mereka ceritakan padamu!” Paman Quentin ke luar. atau hal-hal serupa itu! Mereka hendak membelinya. Ia tak tahan melihat Paman tak mau mempercayai cerita saudara-saudaranya. yang kami ceritakan itu betul. “Ada sesuatu hal penting yang harus kami ceritakan padanya!” “Ibu.“Tidak. Dan di peta itu tertera di mana kakek dari kakek Ibu menyembunyikan emas yang berbatang-batang itu. Ayah. Kelihatannya agak marah. “Paman tahu. Bibi Fanny — orang itu membawa pistol.” jawab Dick.

senang rasanya melihat wajah mereka! Paman Quentin menelepon polisi. Mereka hanya memandangnya saja. Dengan segera ia bangkit. air muka Bibi semakin bertambah pucat. Kedua-duanya tidak kelihatan menarik apabila sedang merajuk dan merengut. Tak satu persoalan pun mereka lupakan. Aku harus mendengar ceritanya. Paman cepat marah dan tidak adil. Kita lihat saja. Tak mengherankan bahwa kau tak mau menjual pulau itu. Tetapi pandangannya tentang keempat anak yang berada di depannya saat itu berubah dengan segera. “Yah. “Anak-anak takut karena kegalakanmu.” Mereka berbondong-bondong masuk ke rumah. Jadi sekarang kau bisa mengambil tindakan! Anak-anak tidak bisa berbuat apaapa lagi. sambil mendengarkan George dan Julian bercerita. mereka tak mungkin bisa mengatakan hal-hal itu pada Paman. karena senang dan heran mendengar pujian yang tak tersangka-sangka itu. Tetapi sekarang mereka telah bercerita.” pujinya. “Untuk apa? Ayoh. dan patut diperiksa lebih jauh. Kedua. kami tidak yakin Paman akan mengambil langkah yang tepat. kami tidak menceritakannya — pertama karena Paman toh tak mau percaya. yang memeliharanya untukku. “Aku juga bangga terhadapmu. setelah ia mendengarkan cerita Julian. Apalagi ketika mendengar bagaimana Dick menuruni sumur. George memang sangat mirip dengan ayahnya. rewel dan konyol. “Kau bisa mati terjatuh. Kedua anak itu menceritakannya dengan baik. “Aku tadi tak sempat membawanya pulang ke Alf. di pulau kami merasa tenteram karena ada Tim. George memandang ke arah suara itu. seperti anak laki-laki!” “Wah. Mereka sibuk bercerita pada Bibi. Maaflah karena dia ribut menggonggong sekarang — tapi kurasa dia lapar.” Anak-anak tidak menjawab. George. Anne duduk di pangkuan Bibi Fanny. Bibi yang menjawabkan untuk mereka. Anak-anak duduk sambil makan kue dan biskuit. “Kau hebat. Kemudian diusap-usapnya rambut George yang pendek dan ikal. Dick! Berani benar engkau!” Paman Quentin mendengarkan dengan heran. Tetapi begitu mereka tertawa atau tersenyum. Sambil mendengarkan. Punggung Julian ditepuktepuknya. apa yang akan mereka lakukan!” “Betul. George tersenyum pada ayahnya.” katanya. “Quentin. “Merusak perahu motor!” katanya. Kenapa tidak langsung kauceritakan padaku. Ketika mereka sedang duduk-duduk sambil bercerita. karena mereka masih kecil. Ayah!” ujar George.” . Anak-anak melihat bahwa Paman berwajah ramah.Bibi dan pamannya tak bisa mengikuti ceritanya yang simpang siur itu. “Kalian sangat cerdik.” kata Paman. kita masuk ke dalam. Sukar rasanya bagiku untuk mempercayainya. Aku bangga pada kalian. Senyumnya itu dibalas. dan kurasa mereka segan datang menceritakannya padamu.” kata Paman Quentin. George. Ibu. Ya. Mukanya menjadi merah.” Memang. “Kenapa kalian tidak menjawab?” tanya Paman. tiba-tiba terdengar suara gonggongan nyaring dari arah pekarangan depan.” ujarnya sambil memandang ibunya dengan was-was. Kami takut! Dan ketiga. “Kalian semua telah bekerja dengan baik. Ia juga menelepon pengacara hukumnya. Selama itu ia tidak begitu suka pada anakanak. “Itu Tim. Kau tahu bahwa di sana ada emas yang tersembunyi. betul — aku bahkan sangat bangga. Mereka kan tak bisa mengatakan. jika tersenyum. “Dan juga sangat berani.” katanya. “Wah. dari awal sampai akhir. Apalagi kagum! Selama itu ia menganggap semua anak berisik.” ujar Bibi dengan suara lembut. Tetapi Paman Quentin tiba-tiba merasa bahwa persoalannya memang serius. Kau harus menelepon polisi dan melaporkan kejadian ini. yang mana pun juga.

Dan George — menurut pengacaraku. Aku sudah cukup keras bekerja demi kalian — tetapi pekerjaanku bukan pekerjaan yang menghasilkan uang bertimbun-timbun! Karena itulah aku menjadi cepat marah dan mudah tersinggung. Tak ada hadiah yang kuingini selain Tim. “Dia juga besar jasanya! Kita harus memberinya makan yang enak-enak. melebihi segala-galanya di dunia ini.” Saat itu di lorong menuju kamar itu terdengar bunyi langkah-langkah kaki berirama.” kata Paman. Sekarang kita mampu membuatkan kandang untuknya di luar. Julian nyengir memandang saudara sepupunya. “Loh. “Ia teman yang menghibur kami selama di pulau — dan ketika kami terancam.” Tim mengikuti Bibi masuk ke dapur.” ujar Paman. “Katakan saja. “Anjing manis. Ayah?” “Ya. beratus-ratus batang emas! Semuanya tertumpuk dalam ruangan bawah tanah itu. Tim!” “Ayah! Tim yang paling kuingini di dunia ini.” kata Paman sambil merangkul George. Mereka sama-sama setuju bahwa kalian sungguh-sungguh cerdik dan berani. seolah-olah sudah tersingkir beban berat yang selama itu harus . Ia kelihatan sangat lega. “Sungguh. Kita akan cukup kaya. “Polisi menganggap persoalan ini sangat serius. Menurut perasaan Anne. kalau bukan Tim! Paman Quentin memandang dengan terperanjat. kau akan mendapat segala-galanya yang kauingini!” “Sebenarnya semua yang kuingini sudah kupunyai. bawa dia ke mari. anjing itu dengan segera berlari ke dalam sambil mengibaskibaskan buntutnya yang panjang. sehingga kau dan ibumu akan mendapat segala benda yang sudah sejak bertahun-tahun ingin kubelikan. yang suka marah-marah. bila ia melihat Tim ada lagi di rumah.” kata Bibi dengan tidak disangka-sangka. Seketika itu juga Tim masuk ke kamar sambil mengibas-kibaskan ekor. Betul. Ayah! Aku ingin memeliharanya di sini. ia hendak menerkam dan berkelahi dengan orang-orang itu. Ia berdiri di depan Bibi dengan telinga diruncingkan ke atas. Tapi sekarang. “Ibumu baik sekali. Siapa lagi yang datang. Sebuah kepala besar dan berbulu tebal mendorong pintu sampai terbuka. lalu memandang semua yang hadir dengan pandangan bertanya. “Kita akan menjadi kaya.” George tersenyum girang. itu kan Tim!” serunya. Mukanya kelihatan serius.” kata Bibi sambil menepuk-nepuk kepala Tim. Anak itu sama sekali tak menyangka ayahnya akan seramah itu terhadapnya. Banyakkah yang tersimpan di sana? Ada Berapa batang?” “Ayah! Berapa batang? Beratus-ratus!” seru George. tapi tak bisa. Begitu tali pengikatnya dilepaskan. “Halo. Aku bisa mendapatnya dengan cuma-cuma!” “Ambil saja. Akan kujaga jangan sampai Ayah terganggu olehnya.” jawab George agak ragu-ragu. Anakku. kau boleh memilikinya. Bibi menepuk-nepuk kepala anjing itu! “Kuambilkan makanan untukmu.“Kalau begitu. ya?” “Ya — tapi aku tak tahu apa kata Ayah nanti.” kata George. Kelihatannya seakan-akan ia memahami seluruh pembicaraan mengenainya. “Tapi masih ada satu yang paling kuingini. “Begitu pula pendapat pengacaraku. Dan Ayah tak perlu membelikannya. Saat itu ayahnya masuk kembali ke ruang makan. apa barang itu! Biarpun mahal.” kata George sambil memijit lengan ayahnya. Dengan cepat ia lari ke luar. emas itu sudah jelas milik kita. Ia bahkan mengusapkan kepalanya ke tangan Paman. Wah! Akan kayakah kita. Sungguh!” “Tentu saja kau boleh mengambilnya. mendatangi Tim.” katanya. Tim benar-benar berani! Tetapi Paman Quentin sudah bukan paman mereka yang lama. “Coba lihat itu!” katanya pada George.

lalu bicara sebentar dengan Paman. Ternyata ketiga orang itu sudah tak ada lagi di sana. Dipeluknya leher ayahnya. karena diperbolehkan memelihara Tim di rumah. Kemudian seorang dari mereka mencatat laporan anak-anak dalam buku notesnya.” katanya. “Aku sudah berniat akan jahat sekali terhadap kalian. supaya tak ada orang bisa masuk sebelum Paman siap untuk menjemput emasnya. “Bayangkan. Jadi . “Wah. aku akan sendirian lagi. Bibi bisa memiliki segala benda indah yang sudah selalu ingin dihadiahkan Paman kepadanya.” kata Anne. Mereka berganti pakaian. “Kau bisa meminta agar disekolahkan di internat yang sama dengan aku. Sekoci yang diturunkan dari perahu nelayan menjemput mereka. George merasa sangat berbahagia. tetapi sekaligus juga sangat senang. Dan sekarang.” katanya. Paman nampak heran. “Internat itu bagus sekali! Dan kita diperbolehkan membawa binatang kesayangan. siap untuk menyambar setiap potong roti yang terjatuh ke lantai. Paman memandang berkeliling dengan wajah berseri-seri. Eh — polisi sudah datang?” Betul. Pintu ruangan bawah tanah ditutup rapat. dan kini baik perahu nelayan maupun sekoci lenyap! Tetapi perahu motor masih terdampar di pantai teluk. “Ia bekerja tak setengah-setengah! Tak mungkin ada orang yang bisa lari dengan perahu motor ini. mula-mula aku benci ketika mendengar kalian akan berlibur di sini. Dan Paman sendiri akan bisa melanjutkan pekerjaan yang dicintainya. Semuanya berlangsung dengan cermat serta melewati jalan yang seharusnya. Tapi aku tahu. Tapi ada juga saat-saatnya aku tak menyukainya! Apalagi ketika aku dan George terkurung dalam ruangan bawah tanah. “Bukan main! Benar-benar sangat senang hatiku. Rupanya ditinggalkan. karena tak bisa dipakai lagi.dipikul olehnya.” George menggigit-gigit kuenya dengan wajah gembira. sedang yang lain berangkat lagi mengambil perahu untuk pergi ke Pulau Kirrin.” Polisi membawa serta beberapa batang emas. Inspektur polisi memandang perahu motor itu sambil nyengir. wah. Tentu saja kalian akan pulang ke rumah apabila liburan sudah habis! Sesudah mendapat tiga teman baru dan mengalami kejadiankejadian yang mengasyikkan.” kata Anne tiba-tiba. Ia meringis memandang Julian.” “Kau tak perlu kesepian. Sesudah itu Julian dan Dick pergi ke kamar anak-anak perempuan. Kelihatannya sangat gembira. Aku ingin membuat kalian tak betah di sini. Menurut perasaan anak-anak. terlalu lamban! Mereka sudah berharap. Selama ini aku belum pernah merasa kesepian. untuk ditunjukkan pada Paman Quentin. semoga orang-orang itu tertangkap dan dimasukkan ke penjara — dan polisi membawa semua batangbatang emas sekaligus! Malam itu mereka capek sekali. “Kau bisa berbuat sesuatu. satu-satunya yang bisa menimbulkan kesedihanku adalah pikiran bahwa kalian akan pergi lagi dari sini. Untuk sekali itu diperbolehkan oleh Bibi. untuk makan malam bersama di situ.” “Berbuat apa?” tanya George marah. “Wah! Pengalaman kita benar-benar mengasyikkan. dengan tidak perlu merasa bersalah karena penghasilannya tidak mencukupi untuk hidup sentosa. Beberapa orang polisi datang. “Aku agak menyesal. Karenanya mereka sama sekali tidak membantah ketika disuruh cepat-cepat tidur oleh Bibi. Tim juga hadir. Kita harus menyeretnya ke pelabuhan. agar kau tak pernah lagi merasa kesepian. Mereka sekarang kaya! George akan bisa dikirim ke sebuah sekolah yang baik.” kata Julian sambil menguap lebarlebar. karena sekarang sudah selesai. “Galak benar Georgina.” katanya. Sudah lama ia tak pernah begitu lagi. Hih! Seram rasanya. jika kalian pergi aku akan merasa sepi.

. Dikais-kaiskannya kaki depannya ke selimut.” kata George berpura-pura kaget. “Pasti Julian dan Dick akan sangat senang mendengarnya. mendekati kaki Bibi Fanny. “Baiklah — sekali ini!” “Wah. bahwa pulau itu masih milikmu. sementara kepalanya ditengadahkan. George.” kata Anne dengan gembira.. seolah-olah meminta dengan sangat. Mereka bermimpi tentang emas berbatang-batang. Semuanya benar-benar menyenangkan! “Aku merasa senang karena Pulau Kirrin tidak jadi dijual. terima kasih banyak! Bagaimana Ibu bisa tahu. aku mau! Selama ini aku selalu tidak mau — tetapi sekarang aku mau. George juga ikut pulas.” Empat anak yang berbahagia berbaring di tempat tidur masing-masing. karena kusadari lebih baik dan senang jika hidup berteman daripada sendirian. apa yang kaukerjakan di situ?” Tim merangkak keluar dari bawah tempat tidur. “Kau kepingin tidur di kamar anak-anak perempuan malam ini?” tanya Bibi sambil tertawa. . Sedang pulau dan Puri Kirrin masih tetap menjadi miliknya pula.” kata Anne sambil menguap lebar-lebar. “Ya Ampun! Tim. Tetapi masih ada yang belum tidur. tentang ruangan-ruangan di bawah tanah dan tentang berbagai kejadian yang mengasyikkan. “Aku ikut senang. enak rasanya jika menikmati sesuatu bersama-sama. Dan karena Paman Quentin tidak miskin lagi. Ketika melihat George terlelap. Tim masih bangun. Bu. aku malam ini tak ingin berpisah dengan Tim! Aduh. Tim! Kita berlima akan mengalami kejadian-kejadian yang asyik lagi. “Pulau itu kepunyaanku — dan juga kepunyaanmu serta Julian dan Dick.” ujar Bibi Fanny yang saat itu muncul di pintu. “Aduh. Ibu!” seru George dengan sangat gembira. George akan bersekolah se-internat dengan Anne. George! Terima kasih. anjing itu mendekati tempat tidur.” kata George. Pengalaman mereka yang mengasyikkan berakhir dengan kebahagiaan. “Wah. kau tidur di atas permadani sana itu. sebelum menyelesaikan perkataannya itu. George — bukankah itu Tim yang berbaring di bawah tempat tidurmu?” “Wah — betul. Tim memandang Bibi Fanny. ya?” Betul! Tetapi itu cerita lain. “Kalau begitu.Tim bisa ikut!” “Wah! Betul katamu itu?” kata George dengan mata bersinar-sinar. karena telah mengalami hal-hal yang bisa kalian banggakan.” “Pulau Kirrin juga kepunyaan tiga orang lain. senang sekali hatiku! Tim. Aku merasa ba. Kedua anak laki-laki di kamar sebelah sudah terlelap pula.” Tetapi Anne sudah tertidur. ia bisa memberikan segala macam hadiah yang ingin diberikan olehnya. Pulau dan Puri Kirrin akan menjadi milik kita bersama!” “Wah. Aku sudah melihat. George membuka matanya sebentar. “Lihat saja — Dick sudah nyaris terguling karena mengantuk! Malam ini kalian pasti bermimpi bagus. Ia tetap duduk. Dan Tim boleh dipeliharanya lagi. Besok aku akan membuat surat akte — kurasa begitu namanya — dan dalamnya akan kutulis bahwa kalian bertiga akan kuhadiahi masing-masing seperempat bagian.. Masa libur masih panjang. Dan kalau aku juga boleh membawa Tim — wah! Hebat!” “Julian! Dick! Sebaiknya kalian kembali saja ke kamar kalian.

wordpress.lover (Pengeditan HANYA dengan metode pemeriksaan Spell & Grammar.com Konversi.com/epub.blogspot. bukan full-edited) . Edit. Spell & Grammar Check: clickers http://epublover.com http://facebook.Scan & DJVU: pelestaribuku http://pelestaribuku.