Anda di halaman 1dari 35

INFEKSI SALURAN NAFAS

BAG. BAWAH

INFEKSI SALURAN NAFAS BAGIAN BAWAH
Virus sebagai penyebab infeksi saluran
nafas bagian bawah (terutama bayi dan
anak-anak)
Wabah Coronavirus sbg penyebab severe
acute respiratory syndrome (SARS) dan
human metapneumovirus (virus baru)
Insiden pada anak < 1 tahun (3%) terjadi
infeksi sedang hingga berat

Virus sistem respirasi: syncytial virus,
influenza virus, parainfluenza virus,
rhinovirus, adenovirus
Antibodi thd respiratory syncytial virus ada
pada anak (usia 3 tahun)
Diperkirakan 75% bronchiolitis pada anak
(<5 th) akibat respiratory syncytial virus

Human metapneumovirus baru diidentifikasi dan diklasifikasikan dalam paramyxovirus (diisolasi dari sekret nasofaring) Corona virus penyebab SARS ternyata berbeda dgn Human coronavirus (bayi dan anak bukan kelompok yg beresiko dan mempunyai gejala lebih ringan) .

Patogenesa Infeksi saluran nafas bawah → penyebaran organisme dari infeksi saluran nafas atas Virus influenzae dan Adenovirus menyebabkan kerusakan epitel mukosa Rhinovirus menyebabkan disfungsi epitel mukosa Perubahan pada epitel mukosa dan kekebalan memudahkan adhesi bakteri .

bronchiolitis dan pneumonia sulit dibedakan (kecuali pada bayi brochiolitis dan pneumonia disebabkan oleh virus) . tracheitis.Infeksi virus mrpk predisposisi adanya “bacterial superinfection” Infeksi keduanya (mixed infection) pada anak sebanyak 40% kasus (berdasarkan deteksi antigen atau serologi) HIV positif pada anak mempunyai resiko 4x terhadap pneumonia oleh virus ( brochiolitis oleh infeksi sekunder) Secara klinis penyebab bronchitis.

Imunoserologi 3. Kultur 2.Diagnosa Infeksi virus dibedakan dgn infeksi oportunis → gejala. tanda klinis dan pemeriksaan rontgen (interstitial / lobar pneumoniae) Diagnosa definitif → 1. Tehnik PCR .

Tehnik pengambilan spesimen Throat swab (menggunakan calsium alginate swab) langsung ke media transport untuk infeksi virus Sputum yg adekwat untuk infeksi bakteri (hindari kontaminasi dari flora normal orofaring) → Sputum pagi hari gosok gigi atau berkumur sebelumnya .

Kolonisasi bakteri sistem respirasi bag. Respiratory therapy 3.aspirasi sekret saluran nafas atas saat tidur . Obat imunosupresif Mekanisme pertahanan U/ tetap steril terhadap: .Transmisi penyakit melalui “droplet infection” . atas .Pneumonia Insidens pneumonia nosokomial dan pneumonia oportunistik meningkat pada: 1. COPD 2.

jamur dan Legionella pneumophila Transmisi infeksi melalui droplet (percikan) virus (H5N1) Transmisi melalui kontak langsung antar manusia Mycoplasma dan C.Transmisi infeksi melalui inhalasi aerosol virus. pneumoniae Kontak langsung dengan burung Chlamydophila / chlamydia (C. psittaci) . Mycobacterium tuberculosis.

Keduanya sering menyebabkan nekrosis parenkim paru ( pembentukan kavitas dan Absces) Respon inflamasi oleh Streptococcus pneumoniae atau Haemophilus influenzae → “Lobar consolidation” . Staphylococcus dan batang Gram negatif Transmisi hematogen → Staphylococcus.Transmisi melalui aspirasi dari organisme nasofaring Pneumococcus (merupakan penyebab terbanyak). Batang Gram negatif (berasal dari komplikasi endokarditis. thrombophlebitis atau bakteriemia / sepsis).

Pneumonia komunitas Insidens pasien memerlukan perawatan sebanyak 13.6 % dan perlu perawatan ICU 36.5 % Faktor resiko: penderita neoplasma.7 %. Neurologi. peny. dijumpai bakteriemia pada 19. alkoholism dan Usia lanjut (resiko tinggi dan gejala sering kurang jelas) .

H. azotemia. aspirasi. Staphylococcus dan Batang Gram negatif . hyponatremia dan hypophosphatemia Postobstructive. gram-negative dan staphylococcal → angka mortalitas tinggi Etiologi → Pneumococcus (30% .60%). acidosis. influenzae.Pasien dgn efusi pleura bilateral beresiko karena disertai: hypoxia.

perokok.Batang Gram negatif dijumpai pada → pasca dirawat dan terapi antibiotik. COPD dan pasien imunosupresif Hampir 50 % penyebabnya tak teridentifikasi Respiratory tract virus sbg penyebab pada semua usia .

Diagnosa Community pneumoniae Pemeriksaan Gram dan kultur sputum → tergantung kwalitas sputum Kultur darah punya keterbatasan (kecuali telah terjadi bakteriemia atau jika transmisi hematogen sebagai penyebab) .

Nosocomial pneumoniae 15 % dari infeksi oleh rumah sakit 2. . pasien dengan pengobatan imunosupresi. balita dan manula > 65 tahun). Penyebab ke 2 infeksi nosokomial (setelah infeksi traktus urinarius) Faktor resiko → Usia (bayi.Nosocomial Pneumoniae (NP) Surveilans oleh CDC (Emori et al)→ 1. depresi sensorium dan pasca operasi thoraco-abdomen.

pasien ICU dan pengguna ventilator Dilaporkan angka mortalitas → .Selain itu juga pasien aspirasi (pasien dgn ggn kesadaran/injuri kepala). tindakan bronchoscopy . pemasangan nasogastric tube.54% pasien pneumonia nosokomial dgn ventilator . COPD atau penyakit kronik lain.27 % pasien non pneumonia dgn ventilator Faktor resiko untuk tindakan : Intubasi endotracheal.

Resiko meningkat dari 9% menjadi 24% jika dilakukan intubasi > 48 jam The 2005 guidelines of the American Thoracic Society and the Infectious Diseases Society of America: Pneumonia pada petugas kesehatan dianggap pneumonia nosokomial National Nosocomial Infection Surveillance (NNIS) System telah melakukan stratifikasi insiden NP oleh karena penggunaan ventilator dan tipe perawatan intensivenya (ICU. PICU dan NICU) .

Patofisiologi → aspirasi koloni bakteri orofaring / saluran cerna atas Intubasi dan ventilasi mekanik (mengganggu pertahanan mucosa saluran pernafasan) .

Patogenesa .

Menurunkan kejadian aspirasi 2.Tindakan pencegahan → 1. Sterilisasi peralatan terapi sistim pernafasan 5. Desinfektan yang tepat 4. Vaksinasi ( terhadap pneumococcus) 6. Pelatihan terhadap pasien maupun petugas rumah sakit . Kontaminasi silang atau kolonisasi melalui tangan 3.

Bahan sputum dan aspirasi tracheal terhadap pasien pneumonia selama tahun 1986-1989 di Michigan → Bakteri aerob (73%) Jamur (4%) Bakteri anaerob sangat sedikit Virus (0%) Hasil yang sama dijumpai pada bahan dari cairan bronchus pasien pneumonia dengan ventilator .

Batang Gram negatif 47% (a.Staphylococcus aureus 26%.l: Pseudomonas.Bakteri anaerobe 35% . . Klebsiella dan Escherichia coli) .Dilaporkan bakteri pada Pneumonia nosokomial sering polimikrobial dengan bakteri → .

batuk. COPD. 4. emphysema dan bronchiectasis . 3. hypersensitivity pneumonitis. sputum yang 2. Adanya demam.Diagnosa nosocomial pneumoniae 1.  purulen infiltrat pada paru (radiologis) yang progresif Kecurigaan pada pewarnaan Gram Kultur pada sputum/aspirasi trachea/cairan pleura/ darah Diagnosa banding (non infectious): Asthmatic bronchitis.

Bacterial pneumonia → Produksi sputum copious Demam tinggi Efusi pleura (parapneumonic effusion) polymorphonuclear leukocytosis kultur sputum / aspirasi trachea cukup sensitif tetapi tidak spesifik (terutama pada pasien dengan ventilator) Kultur darah atau cairan pleura sensitivitasnya rendah .

Pemeriksaan dan kultur sputum → tergantung kwalitas sputum Pewarnaan Gram thd sputum pasien pneumonia → bakteri sering tak dijumpai respon selular tak jelas Respon sel mononuklear (MN) pada mycoplasmal pneumonia .

Pengambilan sampel saat tindakan bronchoscopy .Penyulit → Lamanya rawat inap Pemberian antibiotik Terapi ventilator (terjadi kontaminasi sputum) Bronchoalveolar lavage (BAL) → .Tehnik yg efektif untuk identifikasi penyebab .

Mycoplasma spp dan mycobacterial spp Pemeriksaan Antigen pada urin→ Legionella dan pneumococcus .Tehnik PCR pada sputum→ Legionella spp.

S. pneumoniae dan diikuti Haemophilus influenzae .infeksi < 5 hari pasca intubasi mempunyai prognosa lebih baik .Pada pasien dengan ventilator → .infeksi > 5 hari angka kematian mencapai 10-65% karena bakteri multi resisten (MDR) Bakteri penyebab pasien dengan ventilator (terjadi pneumonia 48-96 jam pasca intubasi) → Staphylococcus aureus (terutama MRSA).

100%) .Ada konsensus untuk standardisasi metode dalam mendiagnosa pneumoniae yang berhubungan dengan ventilator yaitu melalui tehnik bronchoscopy yaitu kultur PSB. BAL (bronchoalveolar lavage) dan Protected BAL Metoda-metoda tersebut hasilnya bervariasi sehingga sensitivitasnya tergantung pemeriksaan maupun kriteria diagnosa (70% .100%) dan spesifisitasnya (60% .

kultur dan sensitiviti Bakteri penyebab cenderung berspektrum luas dan bersifat resisten terhadap berbagai macam antibiotik (MDR) yaitu P. pneumoniae. perdarahan atau aritmia jantung Penanganan pneumonia nosokomial dgn antibiotik spektrum luas saat menunggu hasil pewarnaan Gram. aeruginosa. ESBL K. A.Semua metode bersifat invasif dan dapat menimbulkan komplikasi seperti hypoxemia. baumanii dan MRSA .

Prevalensi bakteri yg resisten dari rumah sakit atau ICU untuk mengarahkan terapi awal. Misalnya → Methicillin-resistant staphylococci (vancomycin sebagai pengganti) Multidrug-resistant Klebsiella (meropenem atau imipenem-cilastatin) Data epidemiologi bakteri MDR endemik sebagai dasar pengobatan empirik yang tepat dan untuk strategi pengendalian infeksi .

Lain-lain 9 12. α-haemolyticus 2 2. Enterobacter spp 2 2. S.2 4.4 3. A. Klebsiella spp 12 16. P.3 2. S. aeruginosa 6 8. β-haemolyticus 3 4.5 Total 73 100% . P.1 5.7 7. Pseudomonas spp 36 49.7 8.Pola kuman dan sensitiviti terhadap antibiotik pada spesimen cairan bronchus (BAL) periode April – Oktober 2007 di RSUP H. fluorescens 3 4. Malik Medan No Bakteri Patogen Jumlah Persentase 1.1 6.

aeruginosa 100 0 0 100 0 No Bakteri spp E % 0 FEP % 0 K % TE % 0 50 .Sensitiviti antibiotik terhadap 3 (tiga) bakteri penyebab terbanyak AK % AMP % AML % CIP % CT M % 1. P. Pseudomonas 75 4 4 69 0 14 74 11 50 2. Klebsiella spp 67 0 8 83 0 25 83 30 57 3.