Anda di halaman 1dari 31

PRATIKUM TRAUMA

“TERAPI BERMAIN PADA ANAK”

OLEH
KELOMPOK 2:

QORI HUSNUL MULQIAH

1311311002

SORAYA DWI AMANDA

1311311018

FARADINA HANIARAHMAH

1311311010

RAHMI KUMALA

1311311034

HAYATI UMAR

1311311026

ASTRI WULANDARI SITUMORANG

1311311044

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2016

Konsep Bermain
1. Definisi Bermain
Dunia anak adalah dunia bermain. Melalui kegiatan bermain, anak belajar
berbagai hal. Bermain merupakan bagian yang amat penting dalam tumbuh
kembang anak untuk menjadi manusia seutuhnya. Bermain bagi anak adalah salah
satu hak anak yang paling hakiki. Melalui kegiatan bermain ini, anak bisa
mencapai perkembangan fisik, intelektual, emosi, dan social (Prasetyono, 2007).
Masa

anak-anak

sangat

identik

dengan

masa

bermain,

karena

perkembangan anak mulai diasah sesuai kebutuhannya disaat tumbuh kembang.
Bermain merupakan suatu aktivitas dimana anak-anak dapat melakukan atau
mempraktikan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi
kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berperilaku dewasa (Aziz, 2005).
Aktivitas bermain yang dilakukan anak-anak merupakan cerminan
kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial. Bermain juga merupakan
media yang baik untuk belajar, karena dengan bermain anak-anak akan berkatakata (berkomunikasi), belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan
apa yang dapat dilakukannya, dan mengenal waktu, jarak, sertasuara (Wong,
2000).
Bagi anak-anak, bermain adalah “pekerjaan” mereka. Bermain membantu
anak memahami ketegangan dan tekanan, mengembangkan kapasitas mereka, dan
menguatkan pertahanan mereka, sehingga bermain tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan anak baik sehat maupun sakit (Potter & Perry,2005).
Bermain membantu anak menguasai kecemasan dan konflik sehingga
ketegangan mengendur dan anak tersebut dapat menghadapi masalah kehidupan.
Permainan memungkinkan anak menyalurkan kelebihan energi fisik dan
melepaskan emosi yang tertahan, yang meningkatkan kemampuan si anak untuk
menghadapi masalah (Santrock, 2007)
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa dunia anak adalah
dunia bermain dan bermain adalah hak anak yang paling hakiki. Melalui kegiatan
bermain ini, anak bisa mencapai perkembangan fisik, intelektual, emosi dan
sosial.

Perkembangan secara fisik dapat dilihat saat bermain, perkembangan
intelektual bisa dilihat dari kemampuannya menggunakan atau memanfaatkan
lingkungan, perkembangan emosi dapat dilihat ketika anak merasa senang, tidak
senang, marah, menang dan kalah dan perkembangan sosial bisa dilihat dari
hubungannya

dengan

teman

sebayanya,

menolong

dan

memperhatikan

kepentingan orang lain.
2. Fungsi Bermain
Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensorikmotorik, membantu perkembangan kognitif/intelektual, perkembangan sosial,
perkembangan kreativitas, perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral,
dan bermain sebagai terapi (Soetjiningsih, 1995).
a. Perkembangan Sensorik-Motorik
Pada saat melakukan permainan, aktivitas sensorikmotorik merupakan
komponen terbesar yang digunakan anak dan bermain aktif sangat penting untuk
perkembangan fungsi otot, sehingga kemampuan penginderaan anak mulai
meningkat dengan adanya stimulasi-stimulasi yang diterima anak seperti:
stimulasi visual (penglihatan), stimulasi audio (pendengaran), stimulasi taktil
(sentuhan) dan stimulasi kinetik.
b. Perkembangan Intelektual (Kognitif)
Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap
segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitar, terutama mengenal warna, bentuk,
ukuran, tekstur dan membedakan objek. Saat bermai, anak akan mencoba
melakukan komunikasi dengan bahasa anak, mampu memahami objek permainan
seperti dunia tempat tinggal, mampu membedakan khayalan dengan kenyataan
dan berbagai manfaat benda yang digunakan dalam permainan, sehingga fungsi
bermain pada model demikian akan meningkatkan perkembangan kongnitif
selanjutnya.
c. Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial ditandai dengan anak mampu berinteraksi dengan
lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan

Anak yang melakukan aktivitas bermain. belajar memecahkan masalah dari hubungan tersebut.menerima. Permainan adalah media yang efektif untuk mengembangkan nilai moral dibandingkan dengan memberikan nasihat. terutama dari orang tua dan guru. Bermain dengan orang lain akan membantu anak mengembangkan hubungan sosial. menjadi anak dan lain-lain. Anak juga akan belajar mengenali kemampuannya dan membandingkannya dengan orang lain dan menguji kemampuannya dengan mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah lakunya terhadap orang lain. akan mendapatkan kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga dapat diterima di lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri dengan aturan kelompok yang ada dalam lingkungannya. f. Perkembangan Kreativitas Bermain dapat meningkatkan kreativitas yaitu anak mulai menciptakan sesuatu dan mewujudkannya kedalam bentuk objek atau kegiatan yang dilakukannya. Contoh pada anak-anak usia todler yang bermain dengan teman sebayanya dan bentuk permainannya adalah bermain peran seperti menjadi guru. anak akan belajar dan mencoba untuk merealisasikan ide-idenya. d. misalnya dengan membongkar dan memasang satu alat permainan akan merangsang kreativitasnya untuk semakin berkembang. e. Oleh karena itu. penting bagi orang tua untuk mengawasi . Perkembangan Kesadaran Diri Anak yang bermain akan Mengembangkan kemampuannya dalam mengatur tingkah laku. Perkembangan Moral Anak mempelajari nilai benar dan salah dari lingkungannya. Melalui kegiatan bermain. belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah serta belajar bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukannya. Ini merupakan tahap awal bagi anak usia todler dan prasekolah untuk meluaskan aktivitas sosialnya diluar lingkungankeluarga. Bermain juga dapat membantu anak belajar mengenai nilai moral dan etika. menjadi ayah atau ibu.

cemas. Bermain Sebagai Terapi Bermain mempunyai nilai terapeutik. mengembangkan kapasitas mereka. Tentunya permainan anak usia bayi tidak lagi efektif untuk pertumbuhan dan perkembangan anak usia prasekolah.anak saat anak melakukan aktivitas bermain dengan mengajarkan nilai moral. Bermain dirumah sakit membuat normal sesuatu yang asing dan kadang kondisi lingkungan yang tidak ramah dan memberi jalan untuk menurunkan tekanan. karena pada dasarnya permainan adalah alat stimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak. mengingat bermain dapat menghibur diri anak terhadap dunianya. Status Kesehatan Anak Aktivitas bermain memerlukan energi. sedih dan nyeri. anak akanmengalami perasaan yang sangat tidak menyenangkan. Namun bukan berarti anak tidak perlu bermain pada saat sedang sakit. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: 1. seperti marah. Bermain membantu untuk memahami ketegangan dan tekanan. 2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain Ada lima faktor yang mempengaruhi aktivitas bermain pada anak (Supartini. Pada saat dirawat di rumah sakit. 3. Tahap Perkembangan Anak Aktivitas bermain yang tepat dilakukan anak yaitu sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangannya. 2004). bermain dapat menjadikan diri anak lebih senang dan nyaman sehingga adanya stres dan ketegangan dapat dihindarkan. danmenguatkan pertahanan mereka. Kebutuhan bermain pada anak sama halnya dengan kebutuhan bekerja pada orang dewasa. g. bahkan dirawat di rumah sakit. demikian juga sebaliknya. yang penting pada saat kondisi anak sedang menurun atau anak sedang terkena sakit. takut. benar atau salah. seperti baik atau buruk. Anak yang melakukan kegiatan bermain akan terlepas dari ketegangan dan stres yang dialaminya akibat dari efek dirawat di rumah sakit. orang tua dan perawat harus jeli memilihkan permainan yang dapat .

ditarik dan dimanipulasi akan mengajarkan anak untuk mengembangkan kemampuan koordinasi gerak. Keyakinan keluarga tentang moral dan budaya juga mempengaruhi bagaimana anak dididik melalui permainan. 3. imajinasi. Alat dan Jenis Permainan yang Cocok Alat dan jenis permainan dipilih yang sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak. sementara lingkungan fisik sekitar rumah lebih banyak mempengaruhi ruang gerak anak untuk melakukan aktivitas fisik dan motorik. Sifat demikian akan memberikan jenis permainan yang berbeda. Jenis Kelamin Anak Dalam melakukan aktivitas bermain tidak membedakan jenis kelamin lakilaki atau perempuan. Lingkungan yang Mendukung Fasilitas bermain lebih diutamakan yang dapat menstimulasi imajinasi dan kreativitas anak. kreativitas. semua alat permainan dapat digunakan oleh anak laki-laki atau anak perempuan untuk mengembangkan daya pikir. Hal ini dilatar belakangi oleh adanya alasan tuntutan perilaku yang berbeda antara lakilaki dan perempuan dan hal ini dipelajari melalui media permainan. dan kemampuan sosial anak. Klasifikasi Bermain Sifat bermain pada anak yang kita tahu ada dua yaitu bersifat aktif dan bersifat pasif. selalu memberikan rangsangan dan melaksanakannya.dilakukan anak sesuai dengan prinsip bermain pada anak yang sedang dirawat di rumah sakit. 4. sedangkan bermain pasif adalah . 5. 4. Label yang tertera pada mainan harus dibaca terlebih dahulu sebelum membelinya. Alat permainan yang harus didorong. apakah mainan tersebut aman dan sesuai dengan usia anak. dikatakan bermain aktif jika anak berperan aktif dalam permainan. Ada pendapat lain yang menyakini bahwa permainan adalah salah satu alat untuk membantu anak mengenal identitas diri sehingga sebagian alat permainan anak perempuan tidak dianjurkan untuk digunakan oleh anak lakilaki.

3) Skill Play (Bermain Keterampilan) Permainan ini akan meningkatkan keterampilan anak khususnya motorik kasar dan halus. sense pleasure play. misalnya dengan menggunakan pasir. 2) Sense of Pleasure Play (Bermain Bersenang-Senang) Bermain ini hanya memberikan kesenangan pada anak melalui objek yang ada. mengingat sifat dari bermain ini hanya memberikan kesenangan pada anak tanpa mempedulikan aspek kehadiran orang lain. unoccupied behavior dan dramatic play. terdapat jenis social onlooker play. Ada beberapa jenis permainan. 2005). games.anak memberikan respon secara pasif terhadap permainan dan orang atau lingkungan yang memberikan respon secara aktif. misalnya bayi akan terampil memegang benda-benda kecil. Berdasarkan isi permainan ada Social affective play. Sifat bermain ini adalah bergantung pada stimulasi yang diberikan pada anak. skill play. Bayi akan mencoba berespon terhadap tingkah laku orang tuanya dengan tersenyum. kita dapat mengenal macam-macamdari permainan. . Ditinjau dari karakter permainan. berbicara dan memberi tangan untuk digenggam oleh bayi sambil tersenyum/tertawa. Sifat dari bermain ini adalah orang lain yang berperan aktif dan anak hanya berespon terhadap stimulasi sehingga akan memberikan kesenangan dan kepuasan bagi anak. a. ditinjau dari isi permainan dan karakter sosialnya. tertawa atau mengecoh. Berdasarkan Isi Permainan 1) Social Affective Play (Bermain Afektif Sosial) Bermain ini menunjukkan adanya perasaan senang dalam berhubungan dengan orang lain. Melihat sifat tersebut. sehingga anak merasa senang dan bergembira tanpa adanya kehadiran orang lain. anak akan membuat gunung-gunung atau benda apa saja yang dapat dibentuknya dengan pasir. Permainan yang biasa dilakukan adalah “ciluk ba”. solitary play dan parallel play (Aziz.

Pada saat tertentu. Situasi dan objek disekelilingnya yang digunakan sebagai alat permainan. congklak. anak sering terlihat mondar-mandir. meja atau apa saja yang ada disekelilingnya. Keterampilan tersebut diperoleh dari pengulangan kegiatan permainan yang dilakukan. tersenyum. anak akan semakin terampil. dan anak akan terampil naik sepeda. tertawa. memainkan kursi. Anak tampak senang. dan asyik dengan situasi serta lingkungan tersebut. Sifat dari permainan Dramatic play ini adalah anak dituntut aktif dalam memerankan sesuatu. puzzle dan lain-lain. seorang ibu dan guru dalam kehidupan sehari-hari. . 5) Dramatic Play (Bermain Dramatik) Dramatic play dapat dilakukan anak dengan mencoba melakukan berpurapura dalam berperilaku seperti anak memperankan sebagai seorang dewasa. Permainan ini penting untuk proses identifikasi terhadap peran orang tertentu. 4) Games atau Permainan Games atau permainan adalah jenis permainan yang menggunakan alat tertentu yang menggunakan perhitungan atau skor. Banyak sekali jenis permainan ini mulai dari yang tradisional maupun yang modern misalnya ular tangga. Sifat permainan ini adalah bersifat aktif dimana anak selalu ingin mencoba kemampuan dalam keterampilan tertentu seperti bermain dalam bongkar pasang gambar.memindahkan benda dari satu tempat ketempat lain. 6) Unoccupied Behavior Unoccupied behavior bukanlah permainan yang umumnya kita pahami. Permainan dramatik ini dapat dilakukan apabila anak sudah mampu berkomunikasi dan mengenal kehidupan sosial. Permainan ini bisa dilakukan oleh anak sendiri atau dengan teman sebayanya. Semakin sering melakukan latihan. Jadi sebenarnya anak tidak memainkan alat permainan tertentu. gembira.

hujan-hujanan. tetapi antara satu anak dengan anak lain tidak terjadi kontak satu sama lain sehingga tidak ada sosialisasi satu sama lain. Sifat dari permainan ini adalah anak aktif secara mandiri tetapi masih dalam satu kelompok. parallel play. Pada permainan ini anak tampak berada dalam kelompok permainannya. anak dapat menggunakan alat permainan yang sama. dan alat permainan tersebut berbeda dengan alat permainan yang digunakan temannya. dan bermain masak-masakan. 4) Associative Play (Bermain Asosiatif) Associative play melibatkan interaksi sosial dengan sedikit atau tanpa pengaturan. akan tetapi belum dilatih dalam mengikuti paraturan dalam kelompok. Anak tersebut bersifat pasif. tetapi anak bermain sendiri dengan alat permainan yang dimilikinya. tetapi ada proses pengamatan terhadap permainan yang sedang dilakukan temannya. ada lima jenis permainan. Bermain ini akan menumbuhkan kreativitas anak karena stimulasi dari anak lain ada. 1) Onlooker play (Bermain Onlooker) Jenis permainan ini adalah dengan melihat apa yang dilakukan oleh anak lain yang sedang bermain tetapi tidak berusaha untuk bermain. tidak ada kerja sama ataupun komunikasi dengan teman sepermainannya. yaitu onlooker play. Contohnya bermain boneka-bonekaan. solitary play. Berdasarkan Karakter Sosial Berdasarkan karakter sosialnya. 2) Solitary Play (Bermain Soliter/Mandiri) Solitary play merupakan jenis permainan yang dilakukan secara mandiri dan berpusat pada permainannya sendiri tanpa mempedulikan orang lain. . 3) Parallel Play (Bermain Pararel) Pada permainan ini. associative play dan cooperative play.b. Tipe permainan ini adalah anak-anak kelihatan lebih tertarik pada satu sama lain dibanding pada permainan yang mereka mainkan.

dan mempelajari benda kecil. Tahapan Perkembangan Bermain Tahapan perkembangan bermain terdiri dari tahap eksplorasi. Usia antara 2 dan 3 tahun. anak akan selalu menumbuhkan kreativitasnya dan melatih anak pada peraturan kelompok sehingga anak dituntut selalu mengikuti peraturan. yaitu memenangkan permainan dengan memasukkan bola ke gawang lawan mainnya. 5. Contonhnya pada permainan sepak bola. mulai memperhatikan apa saja yang berada dalam jarak jangkauannya. tahap permainan. Anak semula hanya mengeksplorasi mainannya. Sifat dari bermain ini adalah aktif. 1999). tahap bermain dan tahap melamun (Hurlock. mereka membayangkan bahwa mainannya mempunyai sifat hidup dapat bergerak. memegang.5) Cooperative Play (Bermain Kooperatif) Cooperative play merupakan bermain secara bersama dengan adanya aturan yang jelas sehingga adanya perasaan dalam kebersamaan sehingga berbentuk hubungan pemimpin dan pengikut. 2. 1. Tahap Permainan Bermain barang mainan dimulai pada tahun pertama dan mencapai puncaknya pada usia antara 5 dan 6 tahun. berbicara dan merasakan. Tahap Eksplorasi Hingga bayi berusia sekitar 3 bulan. . setelah mereka dapat merangkak atau berjalan. dengan semakin berkembangnya kecerdasan anak. aturan main harus dijalankan oleh anak dan mereka harus dapat mencapai tujuan bersama. ada anak yang memimpin permainan. Bayi dapat mengendalikan tangan sehingga cukup memungkinkan bagi mereka untuk mengambil. permainan mereka terutama terdiri atas melihat orang dan benda serta melakukan usaha acak untuk menggapai benda yang diacungkan dihadapannya. mereka tidak lagi menganggap benda mati sebagai sesuatu yang hidup dan hal ini mengurangi minatnya pada barang mainan.

semula mereka meneruskan bermain dengan barang mainan. dagang-dagangan. . Tahapan usia masuk sekolah. menceritakan kisahnya. karena setiap waktunya diisi dengan kegiatan bermain. dan bermain bola. robot-robotan. 6. Permainan Untuk Anak Usia Prasekolah Usia anak prasekolah dapat dikatakan sebagai masa bermain. main sekolahsekolahan. Kegiatan bermain yang dimaksud disini adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan kebebasan batin untuk memperoleh kesenangan. perangperangan. c. mereka mulai kehilangan minat dalam permainan yang sebelumnya disenangi dan banyak menghabiskan waktunya dengan melamun. Permainan fungsi (permainan gerak) seperti meloncatloncat.Faktor lain yang mendorong penyusutan minat dengan barang mainan ini adalah bahwa permainan ini sifatnya menyendiri sedangkan mereka menginginkan teman. melihat gambar. tembaktembakan dan masak-masakan. dokter-dokteran. selain itu mereka merasa tertarik dengan permainan. Melamun yang merupakan ciri khas anak remaja adalah saat berkorban. Tahap Bermain Tahapan usia masuk sekolah. seperti menjadikan kursi seperti kuda. 4. b. olah raga. melihat orang melukis. saat mereka menganggap dirinya tidak diperlukan dengan baik dan tidak dimengerti oleh siapapun. bermain tali. berlari-larian. Tahap Melamun Mendekati masa puber. hobi dan bentuk permainan matang lainnya. jenis permainan mereka sangat beragam. Terdapat beberapa macam permainan anak usia prasekolah menurut Yusuf (2002:172) yaitu sebagai berikut: a. membaca buku cerita. terutama bila sendirian. seperti mendengarkan cerita atau dongeng. kebanyakan anakmenganggap bermain barang mainan sebagai “permainan bayi”. Permainan fiksi. Permainan reseptif atau apresiatif. 3. naik turun tangga.

Bermain Untuk Anak yang Dirawat Di Rumah Sakit Tujuan utama asuhan keperawatan bagi anak yang dirawat di rumah sakit adalah meminimalkan munculnya masalah pada perkembangan anak. Memberikan pengalihan dan menyebabkan relaksasi 2. seperti membuat kue dari tanah liat. puzzle.d. Membantu mengurangi stres akibat perpisahan dan perasaan rindu rumah 4. Membantu anak merasa lebih aman di lingkungan yang asing 3. e. Sebagai alat ekspresi ide-ide dan minat 7. Sebagai alat untuk mencapai tujuan terapeutik 8. Perawat yang member kesempatan pada anak untuk berpatisipasi dalam aktivitasaktivitas yang sesuai dengan tingkat perkembangan akan lebih menormalkan lingkungan anak. Permainan prestasi seperti sepak bola. membuat gerobak dari kulit jeruk. Permainan membentuk (konstruksi). membentuk bangunan rumah-rumahan dari potongan kayu-kayu. membuat gunung pasir. Menempatkan anak pada peran aktif dan member kesempatan pada anak untuk menentukan pilihan dan merasa mengendalikan. . bola voli. membuat kapal-kapalan dari kertas. tenis meja dan bola basket. Manfaat Bermain di Rumah Sakit Adapun manfaat bermain di rumah sakit menurut Wong (2009: 804) yaitu sebagai berikut: 1. Meningkatkan interaksi dan perkembangan sikap yang positif terhadap orang lain 6. Anak-anak perlu bermain untuk mengeluarkan rasa takut dan cemas yang mereka alami sebagai alat koping dalam menghadapi stres akibat sakit dan dirawat di rumah sakit. Alat untuk melepaskan ketegangan dan ungkapan perasaan 5. a. 7.

menggunakan alat permainan yang ada pada anak atau yang tersedia di ruangan. tidak tajam. termasuk dalam aktivitas bermain anaknya. melihat orang melukis dan permainan membentuk (konstruksi) seperti puzzle. Walaupun akan membuat suatu alat permainan. tidak merangsang anak untuk berlari-lari dan bergerak secara . Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang sedang dijalankan pada anak. Peneliti melihat bahwa macam permainan anak yang dapat dilakukan anak di rumah sakit menurut Yusuf adalah permainan fiksi seperti dokter-dokteran. Pilih jenis permainan yang tidak melelahkan anak. melihat gambar.b. Permainan harus mempertimbangkan keamanan anak. tembaktembakan. Apabila anak harus tirah baring. 3. Perawat hanya bertindak sebagai fasilitator sehingga apabila permainan diinisiasi oleh perawat. 4. Bentuk permainan ini dapat dilakukan oleh anak-anak yang sakit karena sesuai dengan keterbatasan fisiknya. Melibatkan orang tua saat anak bermain merupakan satu hal yang harus diingat. orang tua harus terlibat secara aktif dan mendampingi anak. Permainan reseptif atau apresiatif seperti mendengarkan cerita atau dongeng. Beberapa prinsip permainan pada anak dirumah sakit yaitu sebagai berikut: 1. Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi. Orang tua mempunyai kewajiban untuk tetap melangsungkan upaya stimulasi tumbuh-kembang pada anak walaupun sedang dirawat di rumah sakit. 2004). 2. Pilih alat permainan yang aman untuk anak. SATUAN ACARA PELAKSANAAN (SAP) TERAPI BERMAIN . Prinsip permainan pada anak dirumah sakit Terapi bermain yang dilaksanakan di rumah sakit tetap harus memperhatikan kondisi kesehatan anak (Supartini. dan anak tidak boleh diajak bermain dengan kelompoknya di tempat bermain khusus yang ada di ruang rawat. robot-robotan. harus dipilih permainan yang dapat dilakukan di tempat tidur. pilih yang sederhana supaya tidak melelahkan anak. singkat dan sederhana.

serta tujuan kegiatan Tahap Kerja 3 Ø Anak diminta mengambil kertas lipat Ø Kemudian bantu anak untuk melipat bentuk yang mudah Ø Bantu anak untuk melubangi hasil 15 menit Peralatan bermain . tempat.Pokok Bahasan : Terapi Bermain Sub Pokok Bahasan :Definisi.fungsi bermain. Strategi Pelaksanaan No 1 Kegiatan Persiapan Waktu 5 menit Media Peralatan bermain Ø Menyiapkan ruangan Ø Menyiapkan alat 2 Ø Menyiapkan peserta Orientasi 5 menit -Salam terapeutik Ø Beri salam pembuka Ø Memperkenalkan diri Ø -Evaluasi/validasi Menanyakan perasaan klien saat ini -Kontrak Ø Menjelaskan waktu/durasi.tujuan. 27 April 2016 Tempat : Ruang Gambir ( Kamar bermain ) RSAB Harapan Kita Pukul : 08.manfaat dan pelaksanaan terapi bermain menggunakan kertas origami Sasaran : Anak usia pra sekolah Tujuan :Mengoptimalkan tingkat perkembangan motorik anak Hari / tanggal : Rabu.00 WIB A.

Kita akan melakukannya di ruangan ini . kakak astri. kakak hayati . Orientasi a. kakak rahmi. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan 2. Setelah itu. kakak – kakak ini adalah mahasiswi Keperawatan UNAND yang sedang praktek di ruangan ini. Selamat pagi adik-adik! Perkenalkan. kakak faradina. Perkenalkan nama kakak. Kontrak “Adik-adik. Evaluasi/validasi “Bagaimana kabarnya pagi ini?” “Bagaimana tidurnya semalam? nyenyak atau tidak?” c. Membuat kontrak dengan klien yang ada b. nanti origaminya kita gantung di dekat tempat tidur adik-adik ya. Strategi Komunikasi 1.. Salam terapeutik “Assalamu’alaikum.lipatannya dengan jarum Ø Potong benang ±10 cm Ø Gantung hasil lipatan anak di tempat yang dapat dijangkau olehnya 4 Ø Terminasi 5 menit -Evaluasi o Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti Play therapy Memberi pujian atas keberhasilan anak -Tindak Lanjut Menganjurkan klien untuk membuat origami dengan bentuk yang lain Memberi salam penutup B. kakak qori . b. Persiapan a.sesuai janji kita kemaren bahwa hari ini kita akan membuat origami atau seni melipat kertas.

selama ± 40 menit. Tindak lanjut “Adik-adik. Apakah adik-adik setuju?” 3. bagaimana perasaan kalian setelah membuat origami tadi?” “Apakah semuanya senang?” “Baiklah... dan kakak berpesan bermain lah mainan yang dapat mengembangkan kreatifitas adik – adik semua. sekarang kakak disini mau keruangan perawat dulu ya.selamat beristirahat semuanya. setelah ini.” “Tepuk tangan buat semuanya…” b. sekarang. Tahap Kerja Terlampir 4. kita akan melakukan hal yang tidak kalah menyenangkan juga... Tujuan dari permainan ini adalah agar adik-adik bisa merasa senang dan cepat sembuh.besok kita ketemu lagi. “Baiklah adik-adik. Kontrak yang akan datang “Baiklah adik-adik sampai disini permainan kita kali ini..” c. yaitu mewarnai.” .. Jadi. Evaluasi “Nah. saat kita bertemu nanti kakak ingin lihat hasil origami adik-adik yang lainnya ya. Tahap Terminasi a. Selanjutnya. kalian semua sangat hebat karena bisa membuat origami yang cantik dan menggantungnya sehingga terlihat indah. adik-adik bisa membuat bentuk origami yang lain dan menggantungnya juga seperti yang kita lakukan tadi.

TAHAP KERJA Langkah – langkah Origami .

lipat secara diagonal 2. Lalu kamu harus melipat segitiga tadi. menjadi segitiga lagi dalam ukuran lebih kecil. 3. Maka akan terlihat seperti segitiga.1. . Makan akan terlihat seperti gambar di atas. buatlah posisi kertas tadi yang bertanda kuning ada di bagian atas seperti gambar di atas dengan cara dilipat secara terbalik. Siapkan sebuah kertas origami lalu.

Langkah selanjutnya kamu harus buka ujung segitiga sehingga terbentuklah garis kuning berada di sebelah kanan.4. 5. Selanjutnya kamu tekan ujung segitiga tadi hingga kertas tampak seperti gambar di atas .

lihat gambar di atas 7. Selanjutnya kamu harus melipat bagian yang terbuka bawahnya lalu dilipat pada bagian kiri dan kanannya. Langkah selanjutnya kamu harus melipat sisi kiri dan kanannya hingga menjadi seperti gambar di atas .6.

sehingga tampak kertas seperti gambar di atas. 9. . Setelah sisi kiri dan kanannya di lipat kepalanya juga harus dilipat seperti gambar di atas.8. Setelah semua sisinya di lipat.

begitu pula bagian kirinya. . Langkah berikutnya kamu haru membuka bagian yang terbuka lalu pada sisi kanan nya kamu harus memasukkan ujung sisi bagian kanan ke dalam. 11. Setelah kamu lipat kedalam maka akan terlihat seperti gambar di atas.10.

12. 13. . Maka jadilah seperti gambar di atas. Lalu kamu harus membuat lipat kecil lagi pada bagian sisi kiri dan kanannya.

Bukalah salah satu bagiannya lalu tarik ke luar hingga tampak seperti gambar di atas.14. . 15. Tarik ke atas untuk bagian runcingnnya bagian depan dan belakangnya. untuk membuat kepala dan ekornya.

Setelah ini kamu harus menarik bagian ujung depan untuk membuat kepalanya dan bagian belakang untuk bagian ekornya.16. origami burung bangaunya sudah jadi. Tada. 17. . untuk bagian kepala kamu harus melekukkannya kedepan.

. Perkembangan moral. Fungsi bermain bagi anak : 1. emosional. dan 8. Perkembangan intelektual / kognitif. Merupakan media sosialisasi anak. Terapi. Media kesadaran diri. 3. intelektual. 7. 2. Bermain merupakan cerminan kemampuan fisik. 5. Definisi Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk memperoleh kesenangan. Mengembangkan kreativitas anak. Sebagai alat komunikasi. Perkembangan sensori motorik. 6. B.MATERI PEMBAHASAN DALAM SAP A. 4. dan sosial.

Pada kelompok ini ( VI ) terapi bermain. dll. 2. karena pada saat bunda atau sorang guru menerangkan origami akan sering menggunakan istilah matematika geometri contohnya : garis. 3. Tujuan bermain : 1. perpotongan 2 buah garis. Agar anak dapat beradaptasi lebih efektif terhadap stress karena sakit.5 tahun ) Tanggal pelaksanaan : 27 April 2016 Lama / waktu bermain : 20 – 40 menit Alat-alat yang diperlukan 1. Dapat mengembangkan kreativitas melalui pengalaman bermain yang tepat. Dapat mengekspresikan keinginan.C. titik. 4. Jam / pengukur waktu : Ruang Gambir ( Kamar bermain ) Tempat RSAB Harapan Kita Manfaat bermain dengan melipat origami . Dapat melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal. . mengambil topik khusus dengan permainan untuk menstimulasi pergerakan motorik anak Judul / jenis permainan : Melipat kertas origami Jumlah anak : 4 – 6 orang Usia anak : Prasekolah ( 3. titik pusat. perasaan. Anak akan semakin akrab dengan konsep-konsep dan istilah-istilah Matematika geometri. dan fantasi. Kertas origami dengan berbagai warna 2. Hadiah sebagai reinforcement bagi anak 3. segitiga. 1.

membuat sebuah model origami tentu saja membutuhkan konsentrasi. Bermain origami akan meningkatkan keterampilan motorik halus anak. Saat bermain origami Anak akan terbiasa Belajar mengikuti instruksi yang runut dan sistematis. 3 atau lebih kertas. dengan syarat origaminya dilakukan secara kontinyu dan model yang diberikan bertahap dari yang paling mudah yang dapat dikerjakan oleh Anak lalu terus ditingkatkan sesuai kemampuanya. Meningkatkan persepsi visual dan spasial yang lebih kuat. Bermain origami secara konsisten juga merupakan latihan berkonsentrasi. 4. hal ini membuat Anak belajar mengenai ukuran dan bentuk yang diinginkan serta keakuratannya. karena bentuk origami yang dibuat dapat dililih oleh kita dengan bentuk-bentuk dan dapat dijadikan sebagai media pengenalan hewan dan lingkungan Anak.dan hal ini dapat dijadikan sebagai ajang latihan untuk memperpanjang rentang konsentrasi seorang anak. menekan kertas dengan ujung-ujung jari adalah latihan efektif untuk melatih motorik halus anak. Memperkuat ikatan emosi antara orang tua dan anak.2. bermain origami disertai komunikasi yang menyenangkan ini akan membangun ikatan yang sungguh baik antara anak dan orang tua atau guru pendidik dan anak didik. 5. 6. Meningkatkan dan memahami pentingnya akurasi. 9. Mengembangkan kemapuan berpikir logis dan analitis anak walaupun masih dalam tahap awal yang sederhana 7. . Mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak tentang hewan dan lingkungan mereka. 10. saat membuat model origami terkadang kita harus membagi 2. 8. Meningkatkan citra diri dan bakat Anak secara intens. 3.

Permainan bervariasi / tidak monoton. Anak merasa takut dengan lingkungan. Menimbulkan rasa kerjasama. Melibatkan perawat / petugas ruangan dan orang tua. 5. Meningkatkan kreativitas pada anak. 3. Saat bermain anak mendapat program pengobatan. Prinsip bermain yang dilakukan. Antisipasi untuk meminimalkan hambatan : 1. Melibatkan orang tua. Sosialisasi dengan teman sebaya / orang lain. Mempertimbangkan keamanan. 3. Kecemasan pada orang tua. 3. dan sederhana. Hambatan-hambatan yang mungkin terjadi : 1. 2. 6. 5. Tidak banyak mengeluarkan energi. adalah : 1. 4. 2. 6. singkat. 3. Konsultasi dengan pembimbing. Terlebih dahulu memberikan penjelasan pada anak dan orang tua.Tujuan khusus pada permainan ini : 1. Jadwal bermain disesuaikan  tidak pada waktu terapi. Membatasi waktu bermain. Membina tingkah laku positif. 5. Sebagai alat komunikasi antara perawat – klien. Meningkatkan hubungan perawat – klien. 2. Anak bosan. 4. Tidak bertentangan dengan pengobatan. Kelompok umur / usia klien sama. . 5. Anak lelah. 4. 4. 2.

Konseling dan Terapi dengan Anak dan Orang Tua. Sri Esti Wuryani.ac.usu. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia repository.06 wib . 2005.DAFTAR PUSTAKA Djiwandono.pdf di akses 26 april 2016 20.id/bitstream/123456789/20921/4/Chapter%20II.