Anda di halaman 1dari 12

Materi Kuliah Kesehatan Lingkungan

S1 Keperawatan FIKes UNMUH Jember
Semester
: VI (enam)
TM ke:7

KESELAMATAN & KESEHATAN KERJA
(K3)
1.PENGERTIAN
Keselamatan yang berkaitan dengan mesin, pesawat alat kerja, bahan dan proses
pengolahannya, tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan
pekerjaan.
Sarana utama untuk pencegahan kecelakaan, cacat, dan kematian sebagai akibat
dari kecelakaan kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk
menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga
kerja pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk
menuju masyarakat adil dan makmur.
Menurut Suma’mur (2001) keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untuk
menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang
bekerja di perusahaan yang bersangkutan.
Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah
mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya
kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga,
masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan
Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas kesehatan dan non kesehatan
kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik.
Tenaga kesehatan yang perlu kita perhatikan yaitu semua tenaga kesehatan yang
merupakan suatu institusi dengan jumlah petugas kesehatan dan non kesehatan
yang cukup besar. Kegiatan tenaga atau petugas kesehatan mempunyai risiko
berasal dari faktor fisik, kimia, ergonomi dan psikososial. Variasi, ukuran, tipe dan
kelengkapan sarana dan prasarana menentukan kesehatan dan keselamatan kerja.
Seiring dengan kemajuan IPTEK, khususnya kemajuan teknologi sarana dan
prasarana, maka risiko yang dihadapi petugas tenaga kesehatan semakin
meningkat.
Petugas atau tenaga kesehatan merupakan orang pertama yang terpajan terhadap
masalah kesehatan yang merupakan kendala yang dihadapi untuk setipa tahunnya.

MASALAH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA Kinerja (performen) setiap petugas kesehatan dan non kesehatan merupakan resultante dari tiga komponen kesehatan kerja yaitu kapasitas kerja. e) Agar meningkatkan kegairahan. Dari beberapa hasil penelitian didapat gambaran bahwa 30– 40% . Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya selektif mungkin. sosial. a) Kapasitas Kerja Status kesehatan masyarakat pekerja di Indonesia pada umumnya belum memuaskan. TUJUAN a) Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraanhidup dan meningkatkan produksi dan produktivitas nasional b) Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja tersebut c) Memeliharan sumber produksi agar dapat digunakan secara aman dan efisien Menurut Mangkunegara (2002) bahwa tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut: a) Agar setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik b) secara fisik. d) Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi pegawai. beban kerja dan lingkungan kerja yang dapat merupakan beban tambahan pada pekerja. Oleh karena itu penerapan budaya “aman dan sehat dalam bekerja” hendaknya dilaksanakan pada semua Institusi di Sektor / Aspek Kesehatan. berionisasi dan radiasi serta alat-alat elektronik dengan voltase yang mematikan. dan melakukan percobaan dengan penyakit yang dimasukan ke jaringan hewan percobaan. dan psikologis. Sebaliknya bila terdapat ketidak serasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja. dan partisipasi kerja. 2.Selain itu dalam pekerjaannya menggunakan alat – alat kesehatan. f) Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau kondisi kerja. c) Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya. keserasian kerja. Bila ketiga komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu derajat kesehatan kerja yang optimal dan peningkatan produktivitas. g) Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja 3.

30% menderita anemia gizi dan 35% kekurangan zat besi tanpa anemia. Keluhan dan Kesedihan 4. KERUGIAN AKIBAT KECELAKAAN KERJA (5K) 1. Faktor lain yang turut memperberat beban kerja antara lain tingkat gaji dan jaminan sosial bagi pekerja yang masih relatif rendah. Kekacauan Organisasi 3. b) Beban Kerja Sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan maupun yang bersifat teknis beroperasi 8 – 24 jam sehari. c) Lingkungan Kerja Lingkungan kerja bila tidak memenuhi persyaratan dapat mempengaruhi kesehatan kerja dapat menimbulkan Kecelakaan Kerja (Occupational Accident).masyarakat pekerja kurang kalori protein. 4. Beban psikis ini dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan stres. dengan demikian kegiatan pelayanan kesehatan pada laboratorium menuntut adanya pola kerja bergilirdan tugas/jaga malam. Kelaianan dan Cacat . Pola kerja yang berubah-ubah dapat menyebabkan kelelahan yang meningkat. Sabotase atau kriminal merupakan tindakan di luar lingkup kecelakaan yang sebenarnya B. Hal ini diperberat lagi dengan kenyataan bahwa angkatan kerja yang ada sebagian besar masih di isi oleh petugas kesehatan dan non kesehatan yang mempunyai banyak keterbatasan. Kondisi kesehatan seperti ini tidak memungkinkan bagi para pekerja untuk bekerja dengan produktivitas yang optimal. KECELAKAAN AKIBAT KERJA (KAK) A. akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama tubuh). Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Akibat Hubungan Kerja (Occupational Disease & Work Related Diseases). Kerusakan 2. baik material maupun penderitaan bagi yang mengalaminya. yang berdampak pekerja terpaksa melakukan kerja tambahan secara berlebihan. sehingga untuk dalam melakukan tugasnya mungkin sering mendapat kendala terutama menyangkut masalah PAHK dan kecelakaan kerja. DEFINISI Kecelakaan adalah kejadian yang tidak terduga (tidak ada unsur kesengajaan) dan tidak diharapkan karena mengakibatkan kerugian.

Bahan/zat erbahaya dan radiasi d. Memasang tanda-tanda peringatan 5. Menerapkan peraturan perundangan dengan penuh disiplin 2. Melakukan pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat E. Kematian C. keracunan mendadak. Alat angkut dan alat angkat c. dsb D. KLASIFIKASI KECELAKAAN 1) Menurut jenis kecelakaan  Terjatuh  Tertimpa benda jatuh  Tertumbuk atau terkena benda  Terjepit oleh benda  Gerakan yang melebihi kemampuan  Pengaruh suhu tinggi  Terkena sengatan arus listrik  Tersambar petir  Kontak dengan bahan-bahan berbahaya  Lain-lain 2) Menurut sumber atau Penyebab Kecelakaan a. Dari mesin b. Pipa-pipa dan slang untuk aliran air . PENANGGULANGAN KECELAKAAN 1) Penanggulangan Kebakaran  Jangan membuang puntung rokok yang masih menyala di tempat yang    mengandung bahan yang mudah terbakar Hindarkan sumber-sumber menyala di tempat terbuka Hindari awan debu yang mudah meledak Perlengkapan pemadam kebakaran Alat-alat pemadam kebakaran dan penanggulangan kebakaran terdiri dari dua jenis: a) Terpasang tetap di tempat 1. gegar otak. Pompa air 3. akibat cuaca. Menerapkan standarisasi kerja yang telah digunakan secara resmi 3. luka bakar. Lingkungan kerja 3) Menurut Sifat Luka atau Kelainan Patah tulang.5. memar. PENCEGAHAN KECELAKAAN Kecelakaan dapat dihindari dengan: 1. Pemancar air otomatis 2. Melakukan pengawasan dengan baik 4.

Alat pemadam kebakaran dengan bahan kering CO 2 atau busa Alat-alat pemadam kebakaran jenis 1-3 digunakan untuk penanggulangan kebakaran yang relatif kecil. lokasi kebakaran sulit dijangkau alat pemadam. Pemasangan alat hendaknya di tempat yang paling mungkin terjadi kebakaran. atau tidak terdapat sumber air yang cukup. tetapi tidak terlalu dekat dengan tempat kebakaran dan mudah dijangkau saat terjadi kebakaran. segera lapor ke Dinas Kebakaran atau kantor Polisi terdekat. atau terdapat instalasi atau peralatan listrik. dan tahanan  pentanahan secara berkala Gunakan instalasi penyalur petir sesuai standar 3) Penanggulangan Kecelakaan di dalam Lift  Pasang rambu-rambu dan petunjuk yang mudah dibaca oleh pengguna jika    terjadi keadaan darurat Jangan memberi muatan lift melebihi kapasitasnya Jangan membawa sumber api terbuka di dalam lift Jangan merokok dan membuang puntung rokok di dalam lift . b) Dapat bergerak atau dibawa Alat ini seharusnya tetap tersedia di setiap kantor bahkan rumah tangga. dan atau terdapat tempat penyimpanan cairan yang mudah terbakar.4. Setiap produk mempunyai urutan cara penggunaan yang berbeda-beda. terdapat sumber air di lokasi kebakaran dan lokasi dapat dijangkau oleh peralatan tersebut. Cara menggunakan alat-alat pemadam kebakaran tersebut dapat dilihat pada label yang terdapat pada setiap jenis alat. Bantulah petugas pemadam kebakaran dan polisi dengan membebaskan jalan sekitar lokasi kebakaran dari kerumunan orang atau kendaraan lais selain kendaraan petugas kebakaran dan atau polisi. Jika terjadi kebakaran di sekitar anda. Sedangkan alat jenis ke-4 digunakan jika kebakaran relatif besar. 2) Penanggulangan Kebakaran Akibat Instalasi Listrik dan Petir  Buat instalasi listrik sesuai dengan aturan yang berlaku  Gunakan sekering/MCB sesuai dengan ukuran yang diperlukan  Gunakan kabel yang berstandar keamanan yang baik  Ganti kabel yang telah usang atau acat pada instalasi atau peralatan listrik   lain Hindari percabangan sambungan antar rumah Lakukan pengukuran kontinuitas penghantar. tahanan isolasi.

bubuk. Contoh: garam logam yang dapat meledak karena oksidasi diri. Bahan ini seringkali akan menimbulkan gatal-gatal bahkan iritasi jika tersentuh kulit e) Bahan korosif Bahan ini meliputi asam-asam. Ini merupakan bahan yang paling berbahaya. Bahan ini bukan hanya bahan peledak. bisa berbau dan tidak berbau. penyimpanannya dan penggunaannya menimbulkan iritasi. atau bahan-bahan kuat lainnya yang dapat menyebabkan kebakaran pada kulit yang tersentuh f) Bahan-bahan radioaktif Bahan ini meliputi isotop-isotop radioaktif dan semua persenyawaan yang mengandung bahan radioaktif. tanpa pengaruh tertentu dari luar b) Bahan-bahan yang mengoksidasi Bahan ini kaya oksigen. mata dan sebagainya. Proses keracunan bisa terjadi karena tertelan. kekerasan atau gesekan akan mengakbatkan ledakan yang biasanya diikuti dengan kebakaran. matilemas. korosi. keracunan dan bahaya-bahaya lainnya terhadap gangguan kesehatan orang yang bersangkutan dengannya atau menyebabkan kerusakan benda atau harta kekayaan a) Bahan. maka lift akan berhenti di lantai terdekat dan pintu lift segera terbuka sesaat setelah berhenti. sehingga resiko kebakaran sangat tinggi. pengangkutan dan penyimpanan ketentuan dan aturan yang ada harus sesuai dengan . gas. Jika terjadi pemutusan aliran listrik. TINDAKAN PENCEGAHAN a) Pemasangan label dan tanda peringatan b) Pengolahan. ledakan. pengolahannya.bahan eksplosif Adalah bahan yang mudah meledak. pengangkutannya. Contoh: NaCl bahan yang digunakan dalam proses pembuatan PCB. tetapi juga semua bahan yang secara sendiri atau dalam campuran tertentu jika mengalami pemanasan. kebakaran. Contoh: cat bersinar F. kontak dengan kulit. Segera keluar dari lift dengan hati-hati 4) Penanggulangan Kecelakaan terhadap Zat Berbahaya Zat berbahaya adalah bahan-bahan yang selama pembuatannya. Makin rendah titik bakarnya makin berbahaya d) Bahan-bahan beracun Bahan ini bisa berupa cair. awan. alkali-alkali. terhirup. uap. c) Bahan-bahan yang mudah terbakar Tingkat bahaya bahan-bahan ini ditentukan oleh titik bakarnya.

Hal-hal yang perlu diperhitungkan antara lain: lokasi. misalnya sarung tangan untuk melindungi . tidak menempatkan barang di tempat yang digunakan untuk lalu lintas orang dan  jalur-jalur yang digunakan untuk penyelamatan darurat Menjaga kebersihan lingkungan dari bahan berbahaya. kantor. misalnya hindari tumpahan oli pada lantai atau jalur lalu lintas pejalan kaki c) Pakaian Kerja  Hindari pakaian yang terlalu longgar. Sepatu untuk pekerja kistrik harus berbahan non-  konduktor. benda pijar. perusahaan).Pillih sarung tangan dengan bahan yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang ditangani. tempat pengolahan.c) Simpanlah bahan-bahan berbahaya di tempat yang memenuhi syarat keamanan bagi penyimpanan bahan tersebut Pendekatan Keselamatan Lain a) Perencanaan Keselamatan kerja hendaknya sudah diperhitungkan sejak tahap erencanaan berdirinya organisasi (sekolah. fasilitas penyimpanan. penerangan dan sebagainya b) Ketatarumahtanggaan yang baik dan teratur:  Menempatkan barang-barang di tempat yang semestinya. baju berdasi. benda tajam. tanpa paku logam Sarung Tangan : Gunakan sarung tangan yang tidak menghalangi gerak jari dan tangan. misalnya untuk pekerjaan las diperlukan kacamata dengan kaca yang dapat menyaring sinar las. baju sobek.  mesin pintal Hindari pakaian dari bahan seluloid jika anda bekerja dengan bahan-bahan  yang mudah meledak atau mudah terbakar Hindari membawa atau menyimpan di kantong baju barang-barang yang runcing. industri. jika anda bekerja dengan barabg-barang yang berputar atau mesin-mesin yang bergerak misalnya mesin penggiling. bahan yang mudah meledak. kacamata renang digunakan untuk  melindungi mata dari air dan zat berbahaya yang terkandung di dalam air Sepatu : Gunakan sepatu yang dapat melindungi kaki dari berat yang menimpa kaki. pembuangan limbah. paku atau benda tajamlain. dan asam yang mungkin terinjak. banyak tali. kunci/ gelang berantai. dan atau cairan yang mudah terbakar d) Peralatan Perlindungan Diri  Kacamata : Gunakan kacamata yang sesuai dengan pekerjaan yang anda tangani.

diri dari tusukan atau sayata. gas beracun. material yang dipakai. dihasilkan definisi sebagai berikut: 1) Penayakit akibat kerja (Occupational disease) : Adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan. Definisi lain : .ergonomic or physicosocial factors in the work place.bangnya penykit yang mempunyai etiologi yang kompleks. percikan bahan berbahaya Alat Perlindungan Paru-paru : Untuk melindungi pekerja dari bahaya  polusi udara.chemical. Austria. peralatan kerja. proses produksi. cara kerja. 3) Penyakit yang mengenai populasi pekerja (Diaseses affecting working Population) : Penyakit ini yang terjadi pada populasi pekerja tanpa adanaya agen penyebab di tempat kerja. berbeda bahannya Helm Pengaman :Gunakan topi yang dapat melindungi kepala dar tertimpa  benda jatuh atau benda lain yang bergerak.Penyakit yang diderita karyawan dalam hubungan dengan kerja baik factor resiko karena kondisi tempat kerja . atau kemungkinan Alat perlindungan Lainnya : Seperti tali pengaman untuk melindungi pekerja dari kemungkinan terjatuh 5.limbah perusahaan dan hasil produksi. 2) Penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan (Work related diesease) : Adalah penyakit y ang mempunyai beberapa agen penyebab. bahan kimia berbahaya. yang pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang sudah diakui.(Harjono) Occupational diseases Occupur as the result of explosure to physical . (Occupational Medicine Practice . biological. . DEFINISI Pada simposium international penyakit akibat hubungan kerja yang diselenggarakan oleh ILO dai Linz. panas. PENYAKIT AKIBAT KERJA (PAK) A. tetapi tetap ringan Alat Perlindungan Telinga : Untuk melindungi pekerja dari kebisingan. namun dapat dipercepat oleh kondisi pekerjaan yang buruk bagi kesehatan Penyakit Akibat Kerja (PAK) ialah gangguan kesehatan baik jasmani maupun rohani yang ditimbulkan ataupun diperparah karena aktivitas kerja atau kondisi yang berhubungan dengan pekerjaan.  benda bergerak. dimana faktor pada pekerjaan memegang peranana bersama dengan faktor resiko lainnya dalam berkem.1991). sengatan  listrik atau radiasi tertentu.

Virus Jamur. dsb). B. PENYEBAB PENYAKIT AKIBAT KERJA Ratusan juta tenaga kerja di seluruh dunia saat bekerja pada kondisi yang tidak nyaman dan dapat mengakibatkan gangguan kesehatan. white finger syndrom (karena getaran mekanis pada alat kerja). Binatang. adanya fakta bahwa frekwensi kejadian penyakit pada populasi pekerja lebih tinggi dari pada masyarakat umum. Fisik (Tekanan. Tanaman) . Penyebab utama kematian adalah kanker. penyakit yang timbul karena hubungan kerja sebagai mana tercantum dalam lampiran keputusan presiden Beberapa contoh penyakit akibat kerja (PAK) antara lain : silicosis (karena paparan debu silica). penyakit yang timbul kareana hubungan kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja Pasal 4. Cahaya) . tentang penyakit yang timbul karena hubungan kerja Pasal 1. asbestosis (karena paparan debu asbes).1 juta kematian yang disebabkan oleh penyakit atau yang din sebabkan oleh pekerjaan. Beberapa faktor penyebab penyakit akibat kerja (PAK) antara lain : Biologi (Bakteri.22/1993. masalah kesehatan lain terutama adalah ketulian. low back pain (karena pengangkutan manual). Menurut International Labor Organization (ILO) setiap tahun terjadi 1. Kebisingan. Kimia (Bahan Beracun dan Berbahaya/Radioaktif) . dsb. Gerakan Berulang. Selain selain penyakit akibat hubungan yang menyebabkan kematian. gangguan reproduksi.000 kematian terjadi dari 250 juta kecelakaan dan sisanya adalah kematian karena penyakit akibat kerja dimana diperkirakan terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan pekerjaan baru setiap tahunnya. gangguan muskulosaltel. adanya hubungan antar pajanan yang spesifik dengan penyakit b. Ada dua elemen pokok dalam mengidentifikasi penyakit akibat kerja: a. Biomekanik (Postur. Psikologi (Stress. sedangkan kelompok penyebab lain adalah Pneumoconiosis penyakit neurogis dan penyakit ginjal. Suhu. Selain itu penyakit– penyakit tersebut dapat dicegah dengan melakukan tintakan – tindakan prepentif di tempat kerja . Sekitar 300. Pengangkutan Manual) .- Kepusan presiden Ri No.

menegakkan diaknosis penyakit akibat kerja memerlukan hal khusus dalam anamnesis dan pemeriksaannya. Diagnosa atau indentifiksi suatu penyakit akibat hubungan kerja yang terjadi pada suatu populasi pekerja dapat dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan. Spesifitas d. tidak sesuai dengan fisiologios dan anatomi manusia 5) Golongan psikososil : beban kerja terlalu besar. Tekanan dll 2) Golongan kimiawi : Ada lebih kurang 100. 4) Gangguan fisiologik : Disini gangguan kerja yang kurang ergonomis. Vibras. 3) Golongan biologik : bakteri. DIAGNOSA PENYAKIT AKIBAT KERJA Berbeda dengan cara menegakkan diaknosis penyakit umum. stres dan penyakit psikomatis yang menjadi penyebab meningkatnya penyakit akibat hubungan pekerjaan. yang menyebabkan ganggauan muskuloskeletal. Konsistensi c. Kekuatan asosiasi b. faktor–faktor fisik. Anamneseis. yaitu pendekatan epidemiologis dan pendekatan klinis 1) Pendekatan epidemiologis pendekatan ini terutama digunakan apabila ditemukan adanya gangguan kesehatan atau keluhan pada sekelompok pekerja. C. monotoni pekerjaan Dinegara maju. virus jamur parasit dll. baru dapat diindentifikasi 31 bahan sebagai penyebab.000 bahan kimia yang sudah digunakan dalam proses industri. Identifiksi tersebut mempertimbangkan: a. Pendekatan ini perlu utuk mengidentifikasi adanya hubungan kausal antar suatu pajanan dengan penyakit. yntuk bahan kimaia lainnya .Penyebab penyakit akibat hubungan kerja dapat di bagi atas 5 golongan yaitu: 1) Golongan fisik : Bising . baik pemeriksaan pisik maupun pemeriksaan yang menunjang yang pada prinsipnya ada kaitannya dengan pekerjaan Seperti lazimnya menegakkan diagnosa suatu penyakit maka pelaksanaan yang harus dilaksanakannya. sehingga dalam daftar ditambah 1 penyakit. Radiasi. sehingga gangguan kesehatan akibat faktor tersebut sudah sagat jauh berkurang. kimiawi dan biologik sudah dapat dikendalaikan. namun akhir akhir ini justru faktor argonomik dan gangguan psikososial. Suhu extrim. Adanya hubungan waktu dengan kejadian penyakit e. Sebagai hasil dari penelitian epidemologis main banyak berhasil diindentifiksi pajanan yang dapat menyebabkan penyakit. Hubungan dosis . namun dalm daftar penyakit ILO.

Pengenalan lingkungan kerja ini biasanya dilakukan dengan cara melihat dan mengenal (“walk through inspection”). Menentukan apakah ada hubungan antara pajanan dengan penyakit d. 3) Pengendalian lingkungan kerja Dimaksudkan untuk mengurangi atau menghilangkan pemajanan terhadap zat/bahan yang berbahaya dilingkungan kerja. atau perlindungan yang belum baik pada para pekerja Rumah sakit dengan kemungkinan terpajan melalui kontak langsung. Misalnya antara penyakit yang sudah jelas penularannya dapat melaui darah dan pemakaian jarum suntik yang berulang-ulang. pengenalan dan evaluasi. Menentukan diagnosis penyakit akibat hubungan kerja D. Penjelasan patofisiologis 2) Pendekatan klinis (induvidual) Pendekatan ini perlu dilakukan untuk menentukan apakah seseeorang menderita penyakit yang diakibatkan oleh pekerjaannya atau tidak Langkah – langkah yang dikukan yang dilakukan adalah : a. Menentukan apakah ada faktor-faktor induvidu yang berperan f. kemudian dilakukan pengendalian. sehingga bisa untuk menentukan prioritas dalam mengatasi permasalahan. Untuk mengantisipasi permasalahan ini maka langkah awal yang penting adalah pengenalan / identifikasi bahaya yang bisa timbul dan di Evaluasi. Untuk mengantisipasi dan mengetahui kemungkinan bahaya dilingkungan kerja ditempuh tiga langkah utama. Jadi hanya dapat dicapai dengan teknologi . yakni: 1) Pengenalan lingkungan kerja. Kedua tahapan sebelumnya. 2) Evaluasi lingkungan kerja Merupakan tahap penilaian karakteristik dan besarnya potensi-potensi bahaya yang mungkin timbul. Menentukan apakah ada faktor lain diluar pekerjaan g. Menentukan diagnosis klinis b. Dewasa ini terdapat kesenjangan antara pengetahuan ilmiah tentang bagaimana bahaya-bahaya kesehatan berperan dan usaha-usaha untuk mencegahnya. dan ini merupakan langkah dasar yang pertama-tama dilakukan dalam upaya kesehatan kerja. Panentukan pajanan yang dialami Induvidu tersebut dalam pekerjaan c. PENGENDALIAN PENYAKIT AKIBAT KERJA Penyakit akibat kerja dan atau berhubungan dengan pekerjaan dapat disebabkan oleh pemajanan dilingkungan kerja. tidak dapat menjamin sebuah lingkungan kerja yang sehat.f. Menentukan apakah pajanan cukup besar e.

terutama untuk para pekerja yang dalam pekerjaannya berhubungan dengan bahan kimia serta partikel lain.Pembatasan waktu selama pekerja terpajan terhadap zat tertentu yang berbahaya dapat menurunkan risiko terkenanya bahaya kesehatan di lingkungan kerja.pengendalian yang adekuat untuk mencegah efek kesehatan yang merugikan di kalangan para pekerja. Kebersihan perorangan dan pakaiannya. Penghilangan atau pengurangan bahan berbahaya pada sumbernya. Disain dan tata letak yang adekuat. merupakan hal yang penting. . Pengendalian lingkungan (Environmental Control Measures). Pengendalian perorangan (Personal Control Measures) Penggunaan alat pelindung perorangan merupakan alternatif lain untuk melindungi pekerja dari bahaya kesehatan. Namun alat pelindung perorangan harus sesuai dan adekuat .