Anda di halaman 1dari 12

Makalah Responsi

Hari/Tanggal : Jumat, 14 Maret 2016

Pendidikan Pancasila dan

Dosen

: Faranita Ratih, SH, MH

Kewarganegaraan

PENGARUH LGBT TERHADAP DEGRADASI MORAL


BANGSA INDONESIA
Kelompok 4/ BP2

Septiany Ayuning Tyas

J3E114012

Lilis Siti Nur P

J3E114050

Royaldo Gia Pratama

J3E114068

Risa Aprilia

J3E114073

Diane Friska G

J3E214095

Julivia Safarina

J3E214135

SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini, fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender atau
dikenal dengan LGBT telah semakin ramai di perbincangkan. Seperti kita ketahui
Lesbian yang berarti menggambarkan hubungan atau suka sesama perempuan.
Gay yang berarti menggambarkan hubungan atau suka sesama laki-laki atau
sering kita dengar Homoseks. Biseksual yang berarti seseorang yang tak hanya
tertarik dengan laki-laki tapi juga tertarik dengan perempuan. Sedangkan
Transgender ialah seorang yang terlahir sebagai laki-laki atau perempuan namun
memiliki kepribadian sebaliknya, biasanya diikuti dengan menggati jenis kelamin
mereka.
Fenomena LGBT ini sebenarnya sudah lama hadir, namun akhir-akhir ini
mulai diangkat kembali. LGBT sendiri hadir di Indonesia sekitar tahun 1968.
Namun baru pada tanggal 1 Maret 1982 LGBT mendirikan suatu organisasi
terbuka yang bernama Lambda. Lambda sendiri memiliki sekertariat di Solo
(Sinyo, 2014). Sampai saat ini sebaran LGBT sampai tahun 2015 sebesar 37.998
yang tersebar di 34 Provinsi di Indonesia (Kemensos, 2015).
Sudah sekian lama LGBT hadir di Indonesia. Ada yang menyatakan
mereka hadir membawa suatu orientasi atau tujuan tertentu. Tapi yang jelas,
beberapa media seperti (Republika, 19 Februari 2016), mereka mensinyalir LGBT
ini sudah vokal dalam mengkampanyekan disahkannya Undang-Undang Nomor 1
tahun 1974 tentang Perkawinan. Disana, mereka mendorong pemerintah untuk
melegalkan perkawinan atau pernikahan sesama jenis.
1.2 Tujuan
1. Mengidentifikasi Pergerakan LGBT di Indonesia
2. Mengetahui Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya LGBT
3. Mengetahui Dampak yang Diakibatkan oleh Kelompok LGBT
4. Mengidentifikasi Agenda Besar yang Dibuat Kelompok LGBT di Indonesia
5. Mengetahui Propaganda LGBT untuk Merusak Moral Bangsa Indonesia
6. Mengidentifikasi Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya LGBT

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian LGBT
Seperti kita ketahui Lesbian yang berarti menggambarkan hubungan atau
suka sesama perempuan. Gay yang berarti menggambarkan hubungan atau suka
sesama laki-laki atau sering kita dengar Homoseks. Biseksual yang berarti
seseorang yang tak hanya tertarik dengan laki-laki tapi juga tertarik dengan
perempuan. Sedangkan Transgender ialah seorang yang terlahir sebagai laki-laki
atau perempuan namun memiliki kepribadian sebaliknya, biasanya diikuti dengan
menggati jenis kelamin mereka.
2.2 Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya LGBT
Dari berbagai rentetan yang telah diuraikan maka timbul pertanyaan, apa
yang melatar belakangi munculnya perilaku LGBT? Apakah LGBT muncul secara
lahiriah atau bukan? Dalam hal ini, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
kenapa seseorang berperilaku LGBT, diantaranya yaitu faktor lingkungan. Karena
bagaimana pun faktor lingkungan sangat mempengaruhi pola pikir serta perilaku
seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Lesbian dan Gay misalnya. Kebanyakan seseorang menjadi Lesbian atau
Gay, karena adanya faktor psikologi yang membuat mereka takut untuk
melakukan hubungan intim dengan lain jenis. Contohnya adalah: Diperkosa ketika
masih kecil, berulang kali pacaran tapi malah disakiti hatinya oleh pasangan lain
jenis, dan terakhir adalah melihat pasangan kedua orang tua yang tidak akur
sehingga takut untuk memiliki suami/istri yang lain jenis dengan dirinya.
Untuk Bisexual, sebenarnya kaum Bisexual berasal dari kaum Lesbian
atau Gay yang mencoba untuk melakukan hubungan kembali dengan pasangan
lain jenis. Walau ada kaum gay atau lesbian ada yang berhasil menjadi orang yang
normal menurut pendapat orang banyak, tapi tidak sedikit juga yang akhirnya
menyukai lain jenis dan juga pasangan sesama jenis dan akhirnya sering disebut
sebagai Kaum Bisexual dan bukan kaum Gay atau Lesbi.
Untuk Transgender, mungkin ini juga adalah salah satu gangguan
psikologi dan juga gangguan hormon pada tubuh manusia. Bila seseorang

melakukan transgender karena gangguan psikologi, mungkin dia melakukannya


karena merasa aneh dengan bagian tubuhnya dan merasa ada yang kurang
sehingga memilih untuk mengganti kelaminnya. Untuk gangguan hormon, saya
beri satu contoh ada seorang wanita dimana dia merasa ada yang aneh pada
pertumbuhannya hingga usia 12 tahun dia belum merasakan adanya tanda tanda
puber. Setelah diperiksa ke dokter ternyata sang wanita itu malah memiliki
hormon testosteron, Hormon yang seharusnya dimiliki oleh laki-laki. Mengapa
terjadi demikian, mungkin saat di rahim terjadi pembelahan yang tidak sempurna.
Nah karena kejanggalan itulah sang wanita pun memilih untuk menjadi seseorang
Pria.
2.5 Dampak yang Dihasilkan dalam Berkembangya LGBT di Indonesia
Fenomena LGBT yang telah merabah dikalangan masyarakat saat ini
memiliki tanggapan yang beragam, entah dalam bentuk pro maupun kontra, tetapi
secara garis besar yang dimaksud kontra disini salah satunya mengenai dampak
negatif yang ditumbulkan dari LGBT tersebut. Dampak negatif yang ditimbulkan
oleh fenomena LGBT tersebut tidak hanya merusak sisi kesehatan seseorang,
tetapi mengikis dan menggugat keharmonisan hidup bermasyarakat serta merusak
moral suatu bangsa. Dari sudut sosiologi seseorang yang sudah terkena LGBT
dapat menyebabkan peningkatan gejala sosial dan maksiat hingga tidak dapat
dikendalikan. Gejala ini juga bisa merusakkan institusi keluarga dan membunuh
keturunan. Keluarga adalah unit dasar suatu masyarakat dan selanjutnya
pembentukan sebuah bangsa dan negara. Namun dengan fenomena Lesbian, gay,
biseksual dan transgender (LGBT) yang menular ke seluruh masyarakat dunia,
termasuk negara kita, ia memberi berbagai efek kepada institusi keluarga yang
tradisi sifatnya.
Prof. DR. Abdul Hamid El-Qudah, spesialis penyakit kelamin menular dan
AIDS di asosiasi kedokteran Islam dunia (FIMA) di dalam bukunya Kaum Luth
Masa Kini (hal. 65-71) menjelaskan dampak-dampak yang ditimbulkan sebagai
berikut:
Dampak Kesehatan

Dampak-dampak kesehatan yang dapat merusak pelaku LGBT di


antaranya sebagai berikut:
a. 78% pelaku homo seksual terjangkit penyakit kelamin menular (Rueda, E.
The Homosexual Network. Old Greenwich, Conn., The Devin Adair
Company, 1982, p. 53).
b. Rata-rata usia kaum gay adalah 42 tahun dan menurun menjadi 39 tahun
jika korban AIDS dari golongan gay dimasukkan ke dalamnya. Sedangkan
rata-rata usia lelaki yang menikah dan normal adalah 75 tahun. Rata-rata
usia Kaum lesbian adalah 45 tahun sedangkan rata-rata wanita yang
bersuami dan normal 79 tahun (Fields, DR. E. Is Homosexual Activity
Normal? Marietta, GA).
c. Menyebabkan rusaknya organ-organ peranakan (reproduksi) dan dapat

melemahkan sumber-sumber utama pengeluaran mani dan membunuh


sperma sehingga akan menyebabkan kemandulan.
Dampak Sosial
Beberapa dampak sosial yang ditimbulkan adalah sebagai berikut:
a. Penelitian menyatakan seorang gay mempunyai pasangan antara 20-106
orang per tahunnya. Sedangkan pasangan zina seseorang tidak lebih dari 8
orang seumur hidupnya. (Corey, L. And Holmes, K. Sexual
Transmissions of Hepatitis A in Homosexual Men. New England J. Med.,
1980, pp 435-438).
b. 43% dari golongan kaum gay yang berhasil didata dan diteliti menyatakan
bahwasanya selama hidupnya mereka melakukan homo seksual dengan
lebih dari 500 org. 28% melakukannya dengan lebih dari 1000 orang. 79%
dari mereka mengatakan bahwa pasangan homonya tersebut berasal dari
orang yang tidak dikenalinya sama sekali. 70% dari mereka hanya
merupakan pasangan kencan satu malam atau beberapa menit saja (Bell,
A. and Weinberg, M.Homosexualities: a Study of Diversity Among Men
and Women. New York: Simon & Schuster, 1978).
Dampak Pendidikan
Adapun dampak pendidikan di antaranya yaitu siswa ataupun siswi yang
menganggap dirinya sebagai homo menghadapi permasalahan putus sekolah 5 kali

lebih besar daripada siswa normal karena mereka merasakan ketidakamanan. Dan
28% dari mereka dipaksa meninggalkan sekolah (National Gay and Lesbian Task
Force, Anti-Gay/Lesbian Victimization, New York, 1984).
Dampak Keamanan
Dampak keamanan yang ditimbulkan lebih mencengangkan lagi yaitu:
a. Kaum homo seksual menyebabkan 33% pelecehan seksual pada anak-anak
di Amerika Serikat; padahal populasi mereka hanyalah 2% dari
keseluruhan penduduk Amerika. Hal ini berarti 1 dari 20 kasus homo
seksual merupakan pelecehan seksual pada anak-anak, sedangkan dari 490
kasus perzinaan 1 di antaranya merupakan pelecehan seksual pada anakanak (Psychological Report, 1986, 58 pp. 327-337).
b. Meskipun penelitian saat ini menyatakan bahwa persentase sebenarnya
kaum homo seksual antara 1-2% dari populasi Amerika, namun mereka
menyatakan bahwa populasi mereka 10% dengan tujuan agar masyarakat
beranggapan bahwa jumlah mereka banyak dan berpengaruh pada
perpolitikan dan perundang-undangan masyarakat (Science Magazine, 18
July 1993, p. 322).
2.6 Agenda Besar Kelompok LGBT di Indonesia
Sampai saat ini masalah pelegalan LGBT di negeri ini masih menuai
banyak kontoversi di banyak kalangan, tentu ada pihak yang pro dan dibalik itu
ada pula pihak yang kontra, yang barang tentu menolak keras akan hadirnya
golongan abu-abu ini. Sejumlah pihak mencoba angkat bicara dalam kasus ini,
mulai dari pemuka agama, politisi, aktivis HAM dan lain sebagainya (Husaini,
2015).
Bagi kaum yang pro tehadap golongan ini tentu ada alasan kuat kenapa
mereka dengan semangatnya memperjuangakan keberadaan kaum ini, mereka
tentu ingin menyama-ratakan posisi kaum ini sama seperti masyarakat lain serta
mereka ingin memberikan kesadaran kepada masyarakat awam, bahwa mereka
yang berada didalam golongan ini juga mansuia biasa, yang mempunyai hak yang

sama sebagai warga negara sama seperti masyarakat lainnya dan mereka ingin
mengangkat derajat kaum ini yang mungkin selama ini terpinggirkan dari mata
publik serta dianggap sebagai suatu penyakit mental yang menjijikkan. Aktivis
yang pro kaum ini adalah mereka yang menginginkan tidak ada lagi diskriminasi
dan kriminalisasi terhadap kaum LGBT ini, sebagai bentuk dari persamaan hak
dan menjunjung tinggi nilai HAM.
Sedangkan bagaimana pula reaksi dari golongan yang kontra dan menolak
keras keberadaan kaum ini?, mungkin dari sudut pandang yang berbeda mereka
yang menilai kaum ini, mungkin saja dari kacamata agama dan kepercayaan yang
dianut dinegeri ini, tentu saja keberadaan kaum ini sangat bertentangan dengan
nilai-nilai agama dan sangat dianggap tidak sesuai dengan adab kebiasaan orangorang yang mempunyai adat-istiadat yang kental dinegeri ini, serta diperkuat
dengan semakin maraknya penularan penyakit-penyakit sex yang mematikan,
makanya keberadaan kaum ini dianggap sebagai kaum yang abnormal, yang tidak
memiliki akal sehat.
Namun, mungkin inilah indikasi yang diakibatkan oleh era reformis 98.
Era reformasi tahun 98 adalah era dimana pemimpin diktator ditumbangkan, yang
diperjuangkan pada saat itu adalah kebebasan setiap warga negara, dalam artian
demokrasi. Memang konteks daripada perjuangan era 98 itu adalah demokrasi
politik. Namun dampaknya saat sekarang ini adalah merambat kesegala aspek,
dengan maraknya orang bicara soal HAM, kebebasan, aspirasi, suara rakyat dan
kebebasan pribadi.
Mungkin juga, inilah dampak dari demokrasi yang kita anut, kita terlalu
manut terhadap demokrasi barat, kita terlalu berkiblat kebarat, mungkin para
golongan yang pro pada kaum ini, selalu punya dalih, kenapa dibarat mereka bisa
diterima, kenapa dinegeri ini tidak? Padahal sama-sama menganut sistem
demokrasi? Apapun itu alasannya tidak ada yang bisa disalahkan, demokrasi dan
ideologi negara tidak bisa disalahkan, semua sudah memilki dampak positif dan
negatif masing-masing.
2.7 Propaganda LGBT dan Rusaknya Moral Bangsa Indonesia

Tapi, hal yang paling disoroti adalah bagaimana dampak apabila


keberadaan kaum LGBT ini dilegalkan? Indikasinya bukan saja semakin
maraknya pergaulan bebas, penyebaran penyakit menular dan juga peredaran
narkoba, namun akan diikuti pula oleh peningkatan krisis moral anak muda
bangsa ini. Kalau sudah masuk dalam masalah krisis moral anak muda, mau
dibawa kemana arah bangsa ini? Siapa lagi yang akan melanjutkan estafet
kepemimpinan bangsa ini, kalau bukan anak muda saat ini? Kalau potret pemuda
kita

saat

sekarang

ini

dasarnya

saja

sudah

salah,

bagaimana

bisa

membuat kemajuan dan memimpin bangsa ini kedepannya?


Jadi, masalah LBGT memang urusan pribadi, tapi akan menjadi masalah
publik jika terlalu menuntut kebebasan hak dan akan menjadi masalah ummat jika
berurusan dengan moral anak bangsa, menolak keberadaan LGBT adalah sikap
terbaik sebagai warga negara yang baik, karena nantinya LGBT akan melahirkan
generasi abu-abu yang tidak tau arah masa depan bangsa, tentu kita tidak ingin hal
ini terjadi
2.7 Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya LGBT
Penyelesaian masalah LGBT dalam lingkup yang lebih luas seperti yang
terjadi di masyarakat, dapat dilakukan dengan menerapkan usulan DR. Adian
Husaini dalam bukunya LGBT di Indonesia: Perkembangan dan solusinya (hal
117-120). Ia menjelaskan strategi-strategi dalam menghadapi masalah LGBT di
Indonesia yaitu:
1.

Dalam jangka pendek, perlu dilakukan peninjauan kembali


peraturan perundang-undangan yang memberikan kebebasan melakukan
praktik hubungan seksual sejenis. Perlu ada perbaikan dalam pasal 292
KUHP, misalnya, agar pasal itu juga mencakup perbuatan hubungan seksual
sejenis dengan orang yang sama-sama dewasa. Pemerintah dan DPR perlu
segera menyepakati untuk mencegah menularnya legalisasi LGBT itu dari AS
dan negara-negara lain, dengan cara memperketat peraturan perundangundangan. Bisa juga sebagian warga masyarakat Indonesia yang sadar dan
peduli untuk mengajukan gugatan judicial review terhadap pasal-pasal KUHP
yang memberikan jalan terjadinya tindak kejahatan di bidang seksual.

2.

Dalam jangka pendek pula, sebaiknya ada Perguruan Tinggi


yang secara resmi mendirikan Pusat Kajian dan Penanggulangan LGBT.
Pusat kajian ini bersifat komprehensif dan integratif serta lintas bidang studi.
Aktivitasnya

adalah

melakukan

penelitian-penelitian

serta

konsultasi

psikologi dan pengobatan bagi pengidap LGBT.


3.

Masih dalam jangka pendek, sebaiknya juga masjid atau gereja


besar membuka klinik LGBT, yang memberikan bimbingan dan penyuluhan
keagamaan kepada penderita LGBT, baik secara langsung maupun
melalui media online, bahkan juga pengobatan-pengobatan terhadap penderita
LGBT. Bisa dipadukan terapi modern dengan beberapa bentuk pengobatan
seperti bekam, ruqyah syariyyah, dan sebagainya.

4.

Pemerintah bersama masyarakat perlu segera melakukan


kampanye besar-besaran untuk memberikan penyuluhan tentang bahaya
LGBT-termasuk membatasi kampanye-kampanye hitam kaum liberalis yang
memberikan dukungan kepada legalisasi LGBT.

5.

Masyarakat khususnya, perlu memberikan pendekatan yang


integral dalam memandang kedudukan LGBT di tengah masyarakat.
Bagaimana pun LGBT adalah bagian dari umat manusia yang harus diberikan
hak-haknya sesuai dengan prinsip kemanusiaan, sambil terus disadarkan akan
kekeliruan tindakan mereka. Dalam hal ini, perlu segera dilakukan pendidikan
khusus untuk mencetak tenaga-tenaga dai bidang LGBT. Lebih bagus jika
program ini diintegrasikan dalam suatu prodi di Perguruan Tinggi dalam
bentuk Konsentrasi Program studi.

6.

Para pemimpin dan tokoh-tokoh perlu banyak melakukan


pendekatan kepada para pemimpin di media massa, khususnya media televisi,
agar mencegah dijadikannya media massa sebagai ajang kampanye bebas
penyebaran paham dan praktik LGBT ini.

7.

Lembaga-lembaga atau yayasan perlu memberikan beasiswa


secara khusus kepada calon-calon doktor yang bersedia menulis disertasi dan
bersungguh-sungguh untuk menekuni serta terjun dalam arena dakwah
khusus penyadaran pengidap LGBT.

8.

Media-media massa perlu menampilkan sebanyak mungkin


kisah-kisah pertobatan orang-orang LGBT dan mengajak mereka untuk aktif
menyuarakan pendapat mereka, agar masyarakat semakin optimis, bahwa
penyakit LGBT bisa disembuhkan.

9.

Orang-orang yang sadar dari LGBT perlu didukung dengan


sarana dan prasarana yang memadai-khususnya oleh pemerintah-agar mereka
dapat berhimpun dan memperdayakan dirinya dalam menjalani aktivitas
kehidupan sehari-hari dan melaksanakan aktivitas penyadaran kepada para
LGBT yang belum sadar akan kekeliruannya.

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Pergerakan LGBT di Indonesia sudah mulai vocal di Indonesia, ancaman
UU tentang Perkawinan yang menuntut legalitas pernikahan sesama jenis. Faktor
hadirnya LGBT bersumber pada kondisi lahiriah dan kondisi lingkungan.
Kemudian, propaganda yang di bawa oleh pelaku LGBT ini harus menjadi konsen
kita, anak-anak usia dini menjadi incaran utama mereka dalam mempengaruhi.
Dengan kondisi ini menimbulkan dampak negative dari berbagai aspek seperti
aspek kesehatan, social, pendidikan, dan keamanan. Oleh karena itu, perlu adanya
pencegagahan dan penanggulangan yang harus dilakukan diantaranya melakukan
penyadaran oleh para pelaku LGBT, menuntut pemerintah agar tidak merubah
peraturan yang mengatur legalitas kelompok LGBT, penyadaran pelaku LGBT
dengan psikiater, psikologi, dan pendekatan agama.
3.2 Saran
Pengaruh LGBT ini sudah sangat vokal di Indonesia. Tidak boleh lagi kita
sepelekan begitu saja, melihat dampak yang dihasilkannya. Kita harus jaga moral
bangsa Indonesia dari degradasi, terkhusus pada anak-anak di bawah umur.
Mereka sangat rentan terhadap perkembangan perilaku mereka. Kemudian,
walaupun LGBT ini ialah perilaku menyimpang dari aspek agama, budaya, etika,
dsb. Namun, jangan sampai mereka dikucilkan atau di diskriminasi. Ingat!
Mereka menghidap penyakit, dan penyakit dapat disembuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2016. Undang-Undang Perkawinan Jadi Target. Replubika. 19


Februari, hlm. 5 kolom 4-6.
El-Qudah, Abdul Hamid. 2014. Kaum Luth Masa Kini. Jakarta: Yayasan Islah
Bina Umat
El-Qudah, Abdul Hamid. 2015 Penyakit Menular Seksual Hukuman Ilahi. Jakarta:
Yayasan Islah Bina Umat
Husaini, Adian. 2015. LGBT di Indonesia. Jakarta: INSISTS
[Kemensos] Kementerian

Sosisal.

2015. Sebaran LGBT di

Indonesia.

http://www.kemensos.go.id (2015 Februari 20).


Sinyo. 2014. Perkembangan LGBT di Berbagai Negara [Skripsi]. Yogyakarta:
Fakultas Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta